Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2026

Panggung Teater

Rumah Sakit Jiwa

Suasana Kamis sore 30 Juli 2026 di lobi gedung Graha Bakti Budaya, TIM, menjelang pementasan teater itu, selalu sama kurasakan sejak akhir 90an. Unik santai bebas egaliter. Rambut gondrong para pria muda ber tas ransel tergantung di sisi pundaknya, berceloteh riang bersama karibnya. Mahasiswa IKJ? Kostum penonton pun banyak terlihat santai unik. Beberapa terlihat pria dan perempuan bersarung indah. Motif tenun atau lurik pun banyak terlihat. Tentu dengan sneaker kekinian di ujung bawah tubuhnya. Tak ketinggalan, setumpuk gelang antik berbagai motif dan warna, melingkari pergelangan tangannya. Seperti lompatan waktu dalam berpakaian. Tetap enak dipandang. “Nyeni” istilah warga Yogya di masa sekolahku dulu.

Suara lolongan panjang berganti-ganti orang di lantai atas, terdengar oleh para penonton di lobi. Para mahasiswa seni sedang berlatih olah vokal sepertinya. Penonton wira-wiri sambil menikmati jajanan sederhana, yang dijual UMKM, murah tak seperti yang dijual di gedung bioskop itu. Atau selfi di photo booth Teater Koma, dengan judul di atasnya “Rumah Sakit Gila”. 

Bersama Emanuel Handoyo

Entah apa yang membedakan dengan suasana lobi CGV, XXI atau konser musik sekalipun. Yang jelas, terasa akrab nyaman lepas bebas tak berjarak. Suasana berkesenian nir kemegahan disana.

Kain panjang berjajar menggantung di bagian atas lobi. Dengan latar belakang warna gelap, bergambar foto diri beberapa pemain utama. Seolah mempersiapkan penonton untuk terbiasa melihat wajah-wajah tersebut di atas panggung nantinya. Enak dipandang.

Sudah banyak media utama menyebarluaskan kesuksesan penyampaian pesan serta kepiawaian tata panggung dan keunggulan para pelakon Teater Koma di depan pirsawan. Selalu prima. Meskipun sang maestro N. Riantiarno tak lagi memimpin, namun sang putra, Rangga sang Sutradara, ternyata tak kalah pamor dengan ayahandanya. Sang Ibu, selain sebagai Produser, pun masih tetap lantang di atas panggung. Sayang, hanya sedikit adegan diperankannya.

Panggung bersusun dua lantai, tempat para pelakon beralih adegan itupun terus membelenggu pirsawan di tempat duduknya. Tak ingin beralih tempat hingga jeda waktu yang disediakan. Kadang terdengar komentar kecil pirsawan, tawa, bahkan turut secara pelan membacakan puisi yang diucapkan pelakon secara bersama. Puisi-puisi tersebut tertulis dalam sinopsis yang dibagikan ke pirsawan sebelum memasuki ruang pentas.

Ini sebagian pementasan teater yang sempat kunikmati dan kutulis dalam blog ini. Selain produksi Happy Salma “Bunga Penutup Abad” dan “Gandari” sebuah Opera Tari karya Goenawan Mohamad. Hormat untuk para Pelakon, Pemusik, Penata Panggung dll yang dengan istimewa menyajikan lakon “Rumah Sakit Jiwa”. Terimakasih Teater Koma. Bersyukur bisa menikmatinya. 

Terasa selalu ada pesan bagus tersimpan tiap kali meninggalkan ruang pemirsa panggung Teater. Semoga semakin sering pementasan teater di Jakarta, dan dapat dinikmati segala lapisan masyarakatnya.

Tautan

  1. Rumah Sakit Jiwa, Tafsir Baru Teater Koma
Pemirsa

Read Full Post »