Suasana Kamis sore 30 Juli 2026 di lobi gedung Graha Bakti Budaya, TIM, menjelang pementasan teater itu, selalu sama kurasakan sejak akhir 90an. Unik santai bebas egaliter. Rambut gondrong para pria muda ber tas ransel tergantung di sisi pundaknya, berceloteh riang bersama karibnya. Mahasiswa IKJ? Kostum penonton pun banyak terlihat santai unik. Beberapa terlihat pria dan perempuan bersarung indah. Motif tenun atau lurik pun banyak terlihat. Tentu dengan sneaker kekinian di ujung bawah tubuhnya. Tak ketinggalan, setumpuk gelang antik berbagai motif dan warna, melingkari pergelangan tangannya. Seperti lompatan waktu dalam berpakaian. Tetap enak dipandang. “Nyeni” istilah warga Yogya di masa sekolahku dulu.
Suara lolongan panjang berganti-ganti orang di lantai atas, terdengar oleh para penonton di lobi. Para mahasiswa seni sedang berlatih olah vokal sepertinya. Penonton wira-wiri sambil menikmati jajanan sederhana, yang dijual UMKM, murah tak seperti yang dijual di gedung bioskop itu. Atau selfi di photo booth Teater Koma, dengan judul di atasnya “Rumah Sakit Gila”.
Bersama Emanuel Handoyo
Entah apa yang membedakan dengan suasana lobi CGV, XXI atau konser musik sekalipun. Yang jelas, terasa akrab nyaman lepas bebas tak berjarak. Suasana berkesenian nir kemegahan disana.
Kain panjang berjajar menggantung di bagian atas lobi. Dengan latar belakang warna gelap, bergambar foto diri beberapa pemain utama. Seolah mempersiapkan penonton untuk terbiasa melihat wajah-wajah tersebut di atas panggung nantinya. Enak dipandang.
Sudah banyak media utama menyebarluaskan kesuksesan penyampaian pesan serta kepiawaian tata panggung dan keunggulan para pelakon Teater Koma di depan pirsawan. Selalu prima. Meskipun sang maestro N. Riantiarno tak lagi memimpin, namun sang putra, Rangga sang Sutradara, ternyata tak kalah pamor dengan ayahandanya. Sang Ibu, selain sebagai Produser, pun masih tetap lantang di atas panggung. Sayang, hanya sedikit adegan diperankannya.
Panggung bersusun dua lantai, tempat para pelakon beralih adegan itupun terus membelenggu pirsawan di tempat duduknya. Tak ingin beralih tempat hingga jeda waktu yang disediakan. Kadang terdengar komentar kecil pirsawan, tawa, bahkan turut secara pelan membacakan puisi yang diucapkan pelakon secara bersama. Puisi-puisi tersebut tertulis dalam sinopsis yang dibagikan ke pirsawan sebelum memasuki ruang pentas.
Ini sebagian pementasan teater yang sempat kunikmati dan kutulis dalam blog ini. Selain produksi Happy Salma “Bunga Penutup Abad” dan “Gandari” sebuah Opera Tari karya Goenawan Mohamad. Hormat untuk para Pelakon, Pemusik, Penata Panggung dll yang dengan istimewa menyajikan lakon “Rumah Sakit Jiwa”. Terimakasih Teater Koma. Bersyukur bisa menikmatinya.
Terasa selalu ada pesan bagus tersimpan tiap kali meninggalkan ruang pemirsa panggung Teater. Semoga semakin sering pementasan teater di Jakarta, dan dapat dinikmati segala lapisan masyarakatnya.
Setelah “Metamorphosis”, satu cerita pendek Franz Kafka, dari buku kumpulan tulisannya, kubaca pagi ini. Berjudul “Berita tentang pembangunan tembok: Fragmen”.
Tak lebih dari dua halaman. Betul-betul pendek. Tak ada kalimat dialog disana. Tak ada tanda petik, tanda tanya atau tanda seru, hanya ada titik koma dan berderet abjad. Hanya kalimat berita. Seakan koran pagi saja layaknya. Untung hanya dua halaman. Tak lelah membacanya.
Cerita tentang Ayah dan Anak yang sedang duduk di pinggir sungai, di seberang Istana Kaisar. Lalu mendekatlah sebuah perahu dengan seorang pendayung di dalamnya. Menyampaikan berita seraya berbisik kepada sang Ayah. Bahwa tembok istana segera dibangun sebagai pelindung serangan panah dari kaum pembenci Kaisar.
Tersenyum membacanya. Meskipun Kafka menulisnya lebih dari 100 tahun yang lalu (1917). Usia 34 tahun saat itu. Persepsi langsung melayang ke negeri Konoha. Berita yang tak jauh beda pun telah banyak didengar warga. Sama, tembok tinggi telah dibangun, bak benteng tebal gagah menghadang. Tentu bukan tuk menghadang anak panah, melainkan penyaring kabar berita. Banyak kabar telah terbendung, tak sampai ke telinga Kaisar, gosipnya. Sistem telah menjauhkannya. Benar belaka cerita Kafka. Cerita abadi rupanya. Hahaha …
Cerita pendek. Padat. Berisi. Senang membacanya. Bahkan berulang-kali .. 🙂
Januari 2011, awal kunjungan ke China, meliputi Hongkong, Macau, Shenzhen, Guangzhou. Shenzhen masih awal berkembang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Infrastruktur sudah tertata rapi, hijau sejuk segar. Tenang lengang tak banyak kesibukan lalulintas dengan gedung yang lega berjarak. Nyaman.
Akhir April 2026 kembali ke Shenzhen, provinsi Guangdong, via Hongkong menggunakan kapal feri. Masih dalam kawasan bandara (SkyPier) langsung transit ke kapal feri tujuan Shenzhen. Kapal berlayar tak jauh dari pulau Hongkong menuju China daratan. Jembatan yang menghubungkan Hongkong – Shenzhen pun terlihat dari kapal. Dalam 45 menit kapal berlabuh di pelabuhan Shekou cruise, Shenzhen. Pelabuhan besar bersih nyaman.
Salah satu tujuan kunjungan kali ini adalah melihat wilayah reklamasi di Shenzhen, yaitu Qianhai. Reklamasi intensif dilakukan 2010-2015 dengan persiapan dilakukan mulai 2008. Total area wilayah daratan Qianhai saat ini adalah 15 Km2, dengan area reklamasi di dalamnya seluas 10 Km2.
Shenzhen adalah kota besar dengan populasi tak kurang dari 18 juta jiwa. Seperti umumnya kota-kota besar di China, demikian juga Shenzhen, tersedia jalan protokol yang lebar, dengan 5-6 lajur per jalurnya. Yang mengagumkan adalah tidak berisik. Mobil listrik cukup dominan. Bus kota pun bertenaga listrik. Tidak terlihat satupun sepeda motor berbahan bakar bensin lalu-lalang di jalanan. Semua motor berenergi listrik/baterai. Memang perlu juga kritik karena banyak motor listrik ini justru ikut menggunakan jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki (kakilima). Bahkan ikut menggunakan jembatan penyeberang (JPO). Berbahaya bagi pejalan kaki karena motor tidak terdengar. Bisa keseruduk.
Kawasan Qianhai tertata rapi dengan jalan raya dan kakilima yang lebar. Leluasa bagi penggunanya. Gedung perkantoran dan apartemen selalu ada dalam setiap blok yang dikelilingi jalan raya. Memang kurang estetis karena jemuran di masing-masing unit apartemen terlihat bergelantungan di sekitar keteraturan gedung perkantoran yang megah, infrastruktur dan taman kota yang indah. Konsep MUD (Mixed-Use Development) ini memang dimaksudkan untuk mengurangi kesibukan transportasi. Mendekatkan orang dengan lokasi kerja. Tak terlihat “rumah tapak” (landed house). Infonya adalah kelas menengah-bawah justru diprioritaskan untuk bisa tinggal tengah kota, dekat kawasan bisnis sehingga mengurangi biaya transportasi dan energi.
Memang masih ada sedikit wilayah yang padat penduduk di Shenzhen, namun tetap bersih dan tidak kumuh. Secara keseluruhan, wajah Shenzhen adalah gedung perkantoran, apartemen, taman kota serta jalan raya dan kakilima yang lebar dan nyaman.
Atap gedung Shenzhen Rail Property
Beberapa hari di Shenzhen, sempat berkunjung ke Shenzhen Rail Property Building di Shennan Avenue, Shenzhen City. Ini perusahaan negara yang mengelola semua kereta listrik di Shenzhen. Luas wilayah 1.997 Km2 dengan populasi 13 juta orang. Konsep TOD (Transit-Oriented Development) dan R+P (Rail plus Property) menjadi solusi mobilitas urban dan keuntungan finansial yang terkait dengannya. Sehingga pengadaan transportasi publik berbasis kereta listrik lebih dilihat sebagai persoalan properti di kawasan luas yang berhubungan dengan rel dan stasiun kereta, bukan tentang perkeretaapian semata.
MIXC mall yang terdiri dari tiga gedung, menjadi pusat kunjungan warga Shenzhen. Toko yang menjual barang-barang bermerk tersohor, lengkap tersedia di dalamnya. Juga cafe dan resto banyak tersebar. Sempat ngopi di cafe Ralph & Lauren yang menyatu dengan toko pakaiannya.
Untuk mengenal kemajuan industri teknologi AI, sempat mengunjungi Shenzhen Artificial Intelligence Industry Association (SAIIA) di Nanshan district, Shenzhen. SAIIA yang didirikan tahun 2017 ini berada di lingkungan gedung perkantoran yag cukup tenang. Tepat di depan gedung TikTok. SAIIA menghimpun lebih dari 800 perusahaan AI. Shenzhen adalah pusat aktivitas AI terbesar kedua di China, setelah Beijing. Tak banyak produk AI yang dipamerkan di kantor ini, kecuali robot-robot kecil dan poster-poster berbahasa China. Sepertinya produk AI China masih untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga tidak cukup gencar melakukan marketing. Termasuk penggunaan bahasa dalam poster-posternya, hanya menggunakan bahasa China.
Selalu menarik mempelajari kemajuan China di banyak sektor. Rasanya belum lama mendengar kabar jutaan korban jiwa karena kelaparan di era Revolusi Budaya, Mao Tse-tung. Dan sekarang sudah demikian melesat tinggi dalam kancah ekonomi, teknologi, pariwisata, pertahanan, dll. Berharap melakukan kunjungan lagi ke China untuk melihat lebih banyak lagi perubahan positif disana.
Irlandia Utara Tahun 1970an, harian Kompas sering mengangkat berita tentang kerusuhan Irlandia Utara, “Bloody Sunday”. Bahkan masih teringat foto tentara IRA berseragam hijau loreng berbaret hitam dan bermasker hitam, mengusung peti jenazah Bobby Sands, yang wafat setelah mogok makan. Ingatan itu begitu mendalam hingga buku berbahasa Inggris pertama yang terbeli di Perth, Australia, tahun 1994 adalah tentang Irlandia Utara, “The Fight for Peace”, karya Eamonn Mallie . Hanya karena tingginya keingintahuan tentangnya.
Dalam buku tersebut, Gerry Adams, Republikan, dicitrakan sebagai “pahlawan” politik yang gencar bernegosiasi dengan pihak unionis UK. Sebagian Republikan menganggapnya sukses dalam mendamaikan konflik Irlandia Utara kecuali sebagian kelompok garis keras IRA (Irish Republican Army). Dan film “Say Nothing” produksi 2024 yang tayang di channel Disney, telah mengganggu citra tersebut. Hmmm …
Persoalan yang berulang kali muncul sejak 800 tahun yll. Penghuni pulau kecil yang merasa dirampas tanah leluhurnya oleh Inggris. Tak cukup kuat untuk mengusirnya. Dan mulailah IRA mengibarkan pertempuran berdarah untuk kembali menyatukan bangsa dan negaranya yang terrampas tsb.
Belfast Project
Belfast Project adalah program penulisan sejarah Irlandia Utara tentang peristiwa yang terjadi pada era The Troubles. Yaitu era ketika aksi kekerasan berdarah mulai sering terjadi. Kontak senjata antara IRA/republikan dengan kelompok loyalis (unionis) Inggris Raya, penculikan dan pembunuhan aktivis yang dianggap berkhianat, bahkan peledakan bom mobil di area publik. Para aktivis pembebasan Irlandia Utara, yang biasa disebut “Republikan” mulai mengorganisasi dirinya sebagai sayap militer IRA.
Teknik penulisan sejarah tersebut dimulai dengan wawancara oleh mantan anggota paramiliter IRA (Anthony McIntyre) dan Ulster Volunteer Force (UVF) atau unionis lainnya ((Wilson McArthur)), terhadap beberapa republikan dan unionis, yang terlibat aktif dalam melakukan tindak kekerasan awal tahun 1970an hingga 1990an. Tape hasil rekaman wawancara disepakati untuk disimpan di Boston College Library dan HANYA akan dipublikasikan bila sumber berita sudah meninggal. Diperoleh wawancara sebanyak 50 sumber, dilakukan antara tahun 2001-2006, dengan total panjang rekaman selama 200 jam.
Garis Besar Cerita
Garis besar film semi-dokumenter ini bercerita tentang dua hal dalam kurun waktu yang sama, yaitu awal 1970an hingga 1990an, ketika IRA sangat aktif melakukan perlawanan berdarah untuk mengejar misinya membebaskan Irlandia Utara dari kekuasaan Inggris Raya. Peristiwa pertama tentang diculiknya seorang ibu dari anak-anaknya yang berjumlah 10 orang dan yang kedua adalah keterlibatan dua gadis kakak-beradik militan dalam organisasi IRA. Dolours Price dan Marian Price, warga Katolik Irlandia Utara. Dalam film ini, IRA digambarkan sebagai organisasi yang kejam.
Alur cerita film ini selalu berlompatan waktu, antara situasi wawancara dengan waktu terjadinya peristiwa di masa lalu, sesuai yang disampaikan oleh sumber berita. Demikian seterusnya akan berulang seperti diatas, hingga akhir film. Wawancara di sebuah rumah, kemudian waktu melompat ke masa peristiwa terjadi dan kembali lagi ke wawancara. Sumber berita bisa berganti-ganti.
Adegan film “Say Nothing”
Film dimulai pada situasi tahun 1972. Wawancara Belfast Project menggunakan peralatan tape recorder kecil, antara pewawancara Macker (mantan anggota IRA) dengan sumber berita Dolours (mantan unit khusus IRA) yang sudah cukup lanjut usia, dalam sebuah rumah. Situasi digambarkan cukup santai, meskipun proses perekaman dilakukan sangat rahasia. Publikasi hasil rekaman HANYA akan dilakukan bila sumber berita sudah meninggal.
Lompatan waktu. Sekelompok orang berpengaruh kuat, beberapa bermasker dengan senjata otomatis di tangan, memasuki apartemen keluarga, Flat Divis, yang dihuni oleh seorang ibu bersama 10 anaknya, Jean McCoville, tanpa seorang ayah. Menarik paksa sang ibu dari kamar mandinya. Dimasukkan ke dalam mobil. Penculikan. Hanya karena memberi bantal untuk sandaran kepala seorang tentara Inggris yang tergeletak di lantai bersimbah darah. Tertembak dan menemui ajal di depan unit apartemennya. Sejak itu tak pernah lagi terdengar kabar beritanya. Hilang.
Irish Republican Army (IRA)
Digambarkan dalam film ini, di usia 16 tahun, Dolours Price berpikir bahwa keluarganya tidak dalam kondisi yang bagus. Lingkungan sosial politik yang tidak kondusif untuk berkembang. Mereka adalah Katolik yang tinggal di West Belfast. Wilayah kumuh. Pilihan hidup warga Katolik hanyalah menjadi warga kelas dua, atau pergi. Pada tahun 1957, orangtua Dolours dan Marian adalah anggota Tentara Republikan militan. Ayah mereka, Albert Price adalah anggota aktif IRA dan ibunya adalah anggota Cumann na mBan, organisasi perempuan pendukung Republik Irlandia. Bahkan bibi mereka, yang selalu ditampilkan buta adalah korban cedera saat menangani bahan peledak IRA.
Ketidakadilan mulai dirasa oleh mereka yang beragama Katolik. Penduduk Protestan banyak mendapatkan “kelebihan”. Aksi protes hak-hak sipil mulai dilakukan oleh masyarakat Katolik. Kakeknya pernah dipenjara 8 tahun dan neneknya pun pernah menjalaninya beberapa hari. Kedua orangtua Price bersaudara sangat mendukung aktivitas politik kedua putrinya yang sudah dewasa. Meskipun tak yakin dengan hasil dari gerakan damai. “Kecuali gerakan bersenjata”, menurut ayahnya.
Aksi damai pejuang Katolik ternyata disambut tindak kekerasan oleh kaum Protestan. Luka-luka dan darah pun mulai mengalir. Namun komentar sang ibu dari Price bersaudara sungguh mengagetkan, “Kenapa kalian tidak melawan?”. Masalah sosial terjadi di Belfast. Kerusuhan pun meluas ke Irlandia Utara. Dan penangkapan dengan kekerasan mulai terjadi.
Price berdua untuk pertama kalinya berada dalam kerumunan, mendukung dan menikmati aksi massa kelompok Katolik. Dalam aksi tersebut, Dolours dan Marsian mulai mengenal Gerry Adams, sang pemimpin aksi. Diperankan oleh sosok langsing, berambut pendek bergelombang dan berkacamata tebal dengan kerangka hitam. Di lapangan sibuk mengatur teknik pembuatan bom molotov supaya bisa memberi hasil yang efektif. Gerry bergabung dengan IRA sejak usia 16 tahun. Seusia dengan kedua gadis tersebut ketika mulai bergabung. Anak dari orangtua Katolik, Republikan. Kelompok yang ingin bersatunya Irlandia dan memisahkan diri dari Kerajaan Inggris.
Aktivitas politik Price bersaudara semakin meningkat risiko keamanannya. Mulai terlibat bersama Gerry dalam aksi perampokan beberapa bank. Ibu mereka, yang sudah terlibat aktif lebih dari 20 tahun di “bawah tanah” pun mulai mengingatkan risiko keterlibatan mereka. Namun tak sepenuhnya melarang. Ayah Dolours terlibat pemboman di Coventry, UK ketika mereka berusia 6 tahun.
Tentara Inggris (UK) berbaret hijau mulai sering menggerebek rumah-rumah penduduk untuk menawan para aktivis. Ayah mereka pun dicari dengan cara kasar memasuki rumah. Namun sudah melarikan diri ke wilayah selatan. Menyeberang perbatasan, dimana sudah bukan lagi wilayah hukum UK. Aman.
Price bersaudara, Dolours Price (kakak) dan Marian Price (adik), mulai menawarkan diri ke kelompok aktivis untuk bisa terlibat lebih aktif dalam aksi perlawanan. Keputusan Big Lad (Pemimpin Besar) IRA, Gerry Adams, menjadi acuan para aktivis. Dan akhirnya mereka pun disumpah sebagai anggota IRA. Brendan Hughes adalah pimpinan kompi yang membawahi Price bersaudara.
Dolours (kiri) dan Marian (kanan)
Aksi bersenjata berikutnya yang melibatkan Dolours dan Marian adalah pembebasan anggota IRA, tawanan Inggris, dari rumah sakit. Melibatkan juga Gerry Adams di belakang layar dan Brendan Hughes sebagai pimpinan lapangan. Terjadi beberapa korban jiwa aparat rumah sakit. Price bersaudara pun mulai menjadi target penangkapan aparat keamanan Inggris. Terkenal.
Tingkat kepercayaan pimpinan IRA terhadap Price bersaudara pun semakin meningkat. Gerry membentuk unit khusus rahasia “The Unknown”, yang mempekerjakan Price bersaudara. Dipimpin oleh Pat. Orang kepercayaan Gerry. Tugasnya adalah mengantar mereka yang dianggap pengkhianat, menyeberangi perbatasan Irlandia Utara untuk dihukum mati oleh petugas IRA lainnya.
Pengkhianatan atau mata-mata untuk kepentingan Inggris semakin sering terjadi. Termasuk Kevin McKee (Beaky) dan Seamus Wright dari Unit Brendan yang terpaksa juga harus dieksekusi mati. Tragis. Salah satu korban eksekusi adalah seorang ibu, Jean McCoville.
Dolours dan Marian mulai bosan dan merasa kurang berkontribusi dengan aktivitas membawa target eksekusi mati. Dan berinisiatif untuk melakukan pemboman gedung pemerintahan. Disambut positif oleh Gerry dan Brendan. Penyelundupan bahan peledak mulai dibawa masuk ke Belfast oleh mereka berdua. Terlibat aktif dalam pemboman sebagai pelaku utama.
Dolours dengan wakilnya, Marian, memimpin misi pemboman di empat lokasi di London. Menggunakan bom mobil. Setiap mobil berisikan 90 kg amonium nitrat.
Kembali pengkhianatan terjadi. Rencana bom mobil pun bocor ke kepolisian London. Dua bom mobil meledak dari empat bom terpasang. Price bersaudara ditangkap di bandara ketika akan pulang ke Belfast.
IRA memasang 150 bom pada tahun 1970. Total terpasang hingga 1972 sebanyak 1.000 bom, dengan tujuan untuk membunuh tentara dan polisi Inggris sebanyak mungkin. Tahun 1972 menjadi tahun penuh kekerasan. Gerry seharusnya bertanggungjawab penuh terhadap seluruh wilayah West Belfast (dalam film ini), karena dia selalu mengatakan bahwa banyaknya korban jiwa akan semakin mendekatkan kesuksesan misi IRA.
Jawaban menarik Dolours ketika turun dari mobil tahanan dan ditanya wartawan tentang penyesalannya atas tindakan pemboman, “Apakah pasukan kalian (IRA) menyesali anak-anak yang mati ditembak pada saat Bloody Sunday?”. “Apakah pemerintah kalian menyesali teror penjajahan 800 tahun?”. Mereka dipenjarakan di Timah Tanam Brixton.
Dalam penjara, mogok makan dilakukan oleh Price bersaudara. Gagal. Karena makanan cair selalu dimasukkan secara paksa oleh petugas kesehatan, melalui pipa yang masuk ke tenggorokan.
Usia 30 tahun, Dolours, juga adiknya, Marian, dipindahkan ke Penjara Wanita Armagh, Irlandia.
Setelah 8 tahun dipenjara dan bebas, mereka merasa sudah saatnya mengekang diri untuk melakukan perjuangan di garis depan.
Mulai mendapatkan permintaan bantuan dari IRA untuk menyelundupkan bahan peledak di pelabuhan, Semtex.
Mulai tahun 1982 hingga 1993, kasus kekerasan bersenjata banyak terjadi. Dolours manikah dengan Stephen, aktor theater.
Keteguhan sikap Marians terhadap pilihan tindakan yang telah diambil, dinyatakan saat berdialog dengan Dolours, “I’ve confidence in my sense of judgement”. Justru saat Dolours terkesan meragukan sikap sendiri.
Gerry Adams
Banyak terpasang posterGerry Adams di berbagai tempat, menjadi target penangkapan oleh tentara Inggris. Namun karena Irlandia Utara sebelah barat adalah wilayah penduduk Katolik simpatisan IRA, maka Gerry aman dalam lindungan penduduk disana. Situasi sosial politik di wilayah ini digambarkan dalam film ini begitu mencekam bagi warga setempat. Namun, kesediaan warga untuk melindungi para pejuang begitu tinggi. Dengan cara senyap tentunya.
Pernah di suatu kesempatan, Gerry tertangkap sedang berada di rumahnya. Namun dilepaskan karena adanya perintah Menteri Dalam Negeri Inggris untuk keperluan negosiasi politik Inggris dengan IRA. Dan gencatan senjata pun diberlakukan.
Beberapa hari kemudian, terjadi negosiasi perdamaian antara 6 orang Dewan Pimpinan IRA dengan pemerintah Inggris yang diwakili Mendagri dan beberapa aparatnya di London Tengah. Permusuhan telah terjadi sejak 1921. Kepala staf IRA, Sean McStiofain yang juga turut hadir dalam negosiasi meyakini bahwa acara tersebut adalah sebuah jebakan. Dalam pernyataannya di forum tersebut, Sean dengan tegas meminta supaya Inggris:
menarik seluruh pasukannya dari negara terjajah, Irlandia, dan
memohon maaf kepada warga Irlandia sebelum Senin, 10 Juli 1972.
Negosiasi gagal. Korban kekerasan pun semakin bertambah.
Tahun 1981, Gerry mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen. “Politik dan perjuangan bersenjata jalan bersama”, ucap Gerry ke Dolours.
Wawancara dalam rangka pemilihan anggota parlemen dengan stasiun televisi, Gerry Adams menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak pernah menjadi anggota IRA. Pernyataan yang membuat kecewa para anggota IRA. Termasuk Brendan, yang pernah merasakan penjara bersama Gerry dalam kasus pemboman.
Ucapan Gerry kepada Brendan untuk membenarkan pernyataannya yang mengingkari dirinya sebagai anggota IRA, “.. everything I do, I’m doing to win the war”. Khas politikus.
Gerry menyangkal keterlibatan dirinya dalam penculikan Jean McCoville. Ibu dari 10 orang anak, yang ditinggal ayahnya.
Saat bertemu pastor di persembunyian, Gerry mengatakan, “some of the lRA think my willingness to negotiate is tantamount to treason”. Menurut pastor, IRA belum meraih kesuksesan seperti yang diperkirakannya. Lanjut pastor, “Peace doesn’t come without cost”.
Menurut Dolours, Gerry menitipkan konsep perdamaian yang rapuh, melalui pastor (Gereja) untuk rival politiknya.
Gerry sempat diinterogasi di kepolisian berdasar rekaman Project Belfast. Konsisten menolak sebagai anggota IRA. Lolos tanpa tuduhan karena sumber berita dianggap beropini tanpa bisa memberikan bukti dan konfirmasi. Berhubung semua sumber berita yang ada dalam tape sudah meninggal semua, sesuai perjanjian untuk publikasi cerita.
Tanggal 10 April 1998 terjadi kesepakatan antara Irlandia dengan Inggris, dikenal sebagai The Good Friday Agreement atau Belfast Agreement. Kesepakatan yang menghentikan konflik The Troubles di Irlandia Utara sejak 1960an.
Wawancara peristiwa 1994
Dolours kembali ke Dublin. Perkawinannya runtuh. Dan ketagihan obat penenang.
Ketika berada di Belfast, Dolours dan Marian melihat berita tv bahwa telah disepakati penghentian operasi bersenjata. Dan Inggris menganggap Sinn Fein sebagai Partai Politik yang sah. Penarikan sebagian pasukan Inggris dan penonaktifan angkatan bersenjata IRA. “Fuckin surrender .. Inggris harus menarik keluar semua pasukannya. Ini kembali ke titik nol, 30 tahun yll”, menurut pendukung IRA. Gerry mesti bertanggungjawab. Menurut Brendan, “He (Gerry) sold us out”. Dolours pun mengeluh kepada Marians, “Do you ever get the feeling it was all for nothing?”.
Pernyataan Dollours ketika menafsirkan tujuan politik Gerry, ke pewawancara, “If Ireland is ever to be at peace, there’s a price to be paid. Our silence”.
“.. talking gets us nowhere”, ucapan Marians menyemangati kakaknya untuk “beroperasi” kembali.
Marian ditangkap di rumahnya dan ditahan di penjara Maghaberry. Dituduh terlibat membantu pengadaan handphone untuk keperluan rencana penembakan aparat pemerintah. Namun gagal dan terjadi korban sampingan, kurir Domino.
Dolours ditemukan tewas di tempat tidur oleh anaknya. Karena over dosis obat penenang.
Jean McConville
Wawancara radio terhadap Helen McConville tentang penculikan ibunya 7 Desember 1972, 25 tahun yll. oleh 10 orang anggota IRA. Wawancara ini memicu beruntun munculnya pengakuan hilangnya 9 anggota keluarga. Diduga, IRA pelakunya.
Gerry menemui Helen untuk menjanjikan investigasi dan upaya penemuan jasad ibunya, Jean McConville. Ditemukan di Dundalk, pantai Co Louth, Irlandia tahun 2003. Dolours dan Marian yang membawanya melintasi perbatasan, tahun 1972. Atas perintah pimpinan Unit Khusus, Pat.orang kepercayaan Gerry Adams.
Film ini menyajikan tuduhan bahwa penembak Jean McConville adalah Marian. Betulkah? Bukankah Dolours sudah meminta pewawancara untuk off the record?
Dalam wawancaranya dengan wartawan, Dolours memastikan bahwa Jean McConville adalah mata-mata Inggris. Betulkah?
Tahun 1999 Inggris dan Irlandia membentuk komisi untuk menemukan dan mengambil jasad mereka yang dibunuh selama peristiwa The Troubles (masa konflik Irlandia Utara). Apakah ditemukan?
Pertanyaan-pertanyaan diatas akan terjawab di akhir film. Selamat menikmatinya.
Komentar dan Rekomendasi
Ini film bagus untuk melihat perjuangan IRA dalam membebaskan Irlandia Utara dari Inggris Raya. Meskipun gagal menurut anggapan anggota IRA militan. Tetap ada kemajuan capaian walaupun tak sesuai dengan harapan untuk membebaskan Irlandia Utara. Good Friday agreement memungkinkan “pembagian kekuasaan” antara unionis dan loyalis, dalam mengelola Irlandia Utara. Namun melihat keseluruhan film, sebagai hasil wawancara terhadap mantan pejuang IRA, bisa disimpulkan bahwa Say Nothing sebetulnya dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap citra kepahlawanan Gerry Adams.
Puluhan tahun IRA berjuang dengan senjata dibawah pimpinan Gerry Adams dari “bawah tanah”, tiba-tiba misi perjuangan berbelok untuk mencapai perdamaian. Alias kembali ke “titik nol” menurut para militan IRA. Lalu, untuk apa semua korban jiwa dan cedera itu semua? Perjuangan dengan jalan kekerasan dan upaya perdamaian, keduanya dibawah kepemimpinan orang yang sama, Gerry Adams. Kegagalan itu lazim terjadi. Yang tak lazim adalah pengingkaran Gerry Adams bahwa dirinya tak pernah menjadi anggota IRA. Bahkan dalam filmnya, kalimat dibawah ini selalu muncul di setiap penutup episode: Gerry Adams has always denied being a member of the IRA or participating in any IRA-related violence.
Bisa dimaklumi betapa kesalnya mereka yang sudah berjuang menjual nyawa di bawah kepemimpinannya. Ternyata, perjuangan itu ada titik batas untuk berhenti. Dan berbelok arah tujuan, sangat mungkin terjadi. Oleh karenanya, mitigasi kekecewaan massa, perlu kiranya dipersiapkan sejak awal. Barangkali …
Berselancar di aplikasi IMDB, sebuah film bernilai 7.7, memancing diri untuk menikmatinya. Tak banyak film mendapatkan nilai sebegitu tinggi. “The Banshees of Inisherin” ditemukan di layanan sebuah video streaming. Sebuah film drama berlatarbelakang tahun 1923, di Irlandia.
Produksi 2022 dengan sutradara/penulis berkebangsaan Inggris, Martin McDonagh. Terbayang kan, setting pegunungan hijau berbatu terjal dengan laut tak jauh darinya. Alam biru bersih segar .. menarik.
Tiga tokoh utama dalam film ini adalah Padraic (Collin Farel), Colm (Brendan Gleeson), Dominic (Barry Keoghan) dan Siobhan (Kerry Condon). Semuanya berkelahiran Irlandia.
Kisah tentang frustrasi sosial di lingkungan yang lengang dan sepi penduduk. Belum ada listrik dan kurang sarana transportasi. Jarak antar rumah pun berjauhan. Gerobak yang ditarik keledai menjadi alat angkut penumpang dan barang. Padang rumput berbukit, tebing terjal seolah dinding batu layaknya dan laut lepas sejauh mata memandang. Kafe temaram yang tak cukup ramai menjadi sarana pertemuan warga. Semua yang terjadi di kawasan ini akan mudah sekali didengar dan menjadi gosip warganya.
Padraic yang polos naif, tinggal berdua dengan adik perempuannya yang pintar, Siobhan. Rumah batu tak bertetangga, berpenerangan lilin dan lentera. Beberapa keledai menjadi piaraan mereka, yang biasa juga berkeliaran di dalam rumah. Sementara Colm yang gemar bermain biola, tinggal sendiri dalam satu rumah batu dua lantai. Topeng dan boneka kecil bergelantungan di dalam rumah. Asesoris? Suram.
Persahabatan antara Padraic dan Colm yang terbina dalam kurun waktu lama, tiba-tiba runtuh karena hal yang sepertinya tidak cukup penting. Yaitu, karena bosan. Bosan karena obrolan yang tidak berarti dalam setiap pertemuan. Begitu kira-kira alasan Colm untuk memutuskan hubungan persahabatannya dengan Padraic. Kebosanan sebagai penggerak film berdurasi dua jam. Aneh bukan? Bisa ya, bisa tidak.
Alasan seperti ini sering juga kita dengar dalam pembicaraan di era sekarang ini. “Ngapain sih buang waktu ngobrol gak jelas?”. Biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan “ada uangnya gak?”. Tak ada uang, tak bermanfaat. Tak produktif. Hmmm … Gaya relasi sosial yang dapat meningkatkan trust dan mempererat persaudaraan, hanya diperlakukan sebagai alat untuk mendapatkan benefit atau keuntungan material. Tak ada lagi silaturahmi. Tak ada lagi “bercengkerama”.
Tentu Padraic kaget. Persahabatan yang lama. Biasa berpedati bersama, untuk minum bir di kafe yang sama. Juga bersama. Tiba-tiba memutuskan persahabatan. Bahkan duduk satu meja pun tak hendak. Keduanya tampak di usia 40 an. Bahkan, Colm mengancam untuk memotong satu jarinya sendiri setiap kali Padraic memaksanya untuk berbicara. Absurd. Sebegitu kritikalkah alasan putus persahabatan? Dan Colm memang konsisten dengan sikapnya. Potong jari.
Peristiwa tragis beberapa kali masih terjadi mengikuti alur putusnya persahabatan ini. Dilihat dari kacamata sekarang, Irlandia saat itu menjadi terasa kelam mencekam. Komunitas tertutup di kepulauan tanpa akses berita menjadikan kehidupan serasa asing. Sepi. Depresi sosial bisa terpicu untuk membuat keputusan tindakan yang absurd. Film suryalis yang layak dinikmati untuk perenungan.
Nama Raden Saleh (RS) selalu muncul dalam ingatan, setiap kali membaca atau bicara tentang Pangeran Dipanegara. Ingatan itu muncul berbayang dalam bentuk karya lukisnya tentang penangkapan Dipanegara oleh pasukan Belanda. Entah sejak kapan dan dimana lukisan itu mulai terrekam dalam ingatan. Tak pernah mengulik di internet untuk mencari tahu tentangnya.
Setiap hari di bulan Februari-Maret 2025 yang lalu, selalu melewati jalan Raden Saleh, Cikini ketika pulang dari RSCM. Ingat samar-samar bahwa rasanya dulu ada penunjuk jalan tertulis “Kebun Binatang” atau “Rumah Raden Saleh” di jalan itu. Lupa, entahlah .. Ternyata rumah lama Raden Saleh itu sekarang tertutupi oleh RS. PGI Cikini. Masih ada beberapa rusa di taman hutan depan rumah, menurut satpam disana.
Mulailah berselancar di media sosial mencari info tentang sejarah dan karya-karya Raden Saleh, tiba-tiba muncul di instagram penawaran buku hardcopy bersampul gambar “mencolok mata”, “Pangeran Dari Timur” karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, terbitan Bentang Pustaka, 2020. Novel sejarah tentang Raden Saleh. Yessss … langsung beli.
Ternyata tersedia juga versi ebooknya di Play Books. Buku setebal 605 halaman itu selesai sudah kubaca tak lebih dari empat hari. Puas mengawali keingintahuan tentang Raden Saleh.
…
Penulis
Semakin tertarik untuk membacanya, setelah tahu bahwa kedua penulisnya berasal dari disiplin ilmu seni rupa, fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Sehingga terpercaya dan terasa nyaman ketika mendapatkan penjelasan tentang teknik sapuan kuas diatas kanvas serta berbagai sejarah, gaya lukisan dan para pelukisnya. Termasuk juga dijelaskannya tentang gaya Klasik, Realis, Barok, Impresionis dan gaya lukisan Raden Saleh (Romantik). Menyenangkan mendapatkan sedikit pencerahan tentang gaya lukisan Rembrandt (era Barok), Delacroix (era akhir Romantik), dll.
Tertulis di halaman terakhir bukunya, tentang Penulis. Iksaka Banu, kelahiran Yogyakarta, 1964. Aktif menulis sejak kecil. Tulisan fiksinya banyak dimuat di berbagai media utama. Juga banyak mendapatkan penghargaan.
Sementara Kurnia Effendi banyak aktif di dunia sastra sejak tahun 80an. Sebagai penulis, instruktur, juri maupun kurator karya sastra. Tiga puluh penghargaan sastra diraihnya, termasuk di dalamnya 8 penghargaan sebagai juara pertama. Mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud untuk penelitian tentang Raden Saleh di Belanda.
…
Gerakan Seni Rupa
Sedikit kutipan dari novel ini, sebagai pengetahuan, terkait gaya seni rupa,
Rembrandt pelukis berbakat pada awal abad ke-16. … dia sangat menguasai nuansa gelap terang pada sosok-sosok yang digambarnya… Rembrandt hidup di masa ketika gaya Barok berjaya. Barok adalah pembaruan dari aliran Klasik. Untuk memudahkan mengenali aliran itu, dapat dilihat dari gelap terang yang sangat kontras dalam komposisi lukisannya dan dari kostum para manusia yang dilukis. Umumnya, Barok menampilkan postur seseorang atau beberapa orang yang berdandan berlebihan.
The Night Watch by Rembrandt 1642
Delacroix. Dia salah seorang seniman Prancis pengikut aliran Romantik. … Ciri khasnya adalah goresan kuas liar, penuh warna cemerlang yang saling bertabrakan, serta enggan menjaga ketertiban batas garis bentuk. Bisa saja warna kulit dan warna baju saling tumpang tindih. Kelak, gaya sapuan kuas semacam ini menjadi fondasi aliran Impresionis, aliran yang datang tak lama setelah Romantik meredup. Jadi, sesungguhnya Delacroix … adalah generasi pamungkas gerakan Romantik.
“Liberty Leading the People” by Eugéne Delacroix, 1830
Gaya dialogis cukup nyaman digunakan Penulis yang alumni Seni Rupa ITB itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang gaya lukisan Romantik,
“Gerakan Romantik sesungguhnya adalah ― sebut saja untuk mudahnya – jawaban atas kejenuhan masyarakat seni di Eropa terhadap aliran Neoklasik.”
Aliran itu juga tidak pernah membuat pembaruan yang berarti. Hanya ada perubahan kecil di sana sini dari aliran Klasik, pendahulunya. Orang sudah bosan dan terlalu hafal kisah dewa-dewi Yunani atau pahlawan Romawi. Lihat saja lukisan Jacques Louis David pada awal kariernya. Begitu mudah ditebak. Lukisan “Mars Kontra Minerva”, “Paris Menculik Helena”, “Leonidas di Thermopylae”, “Jenderal Belisarius Menjadi Pengemis”, danseterusnya.
Semua terungkap begitu gamblang dalam sekali lihat. Simetris, bersih, tertib, dan bila mereka menggambar wajah atau gerak tubuh manusia, biasanya terlihat anggun. Tak ada kejutan.
Leonidas at Thermopylae, 1814, by Jacques-Louis David
… pemantik lain aliran Romantik, yaitu kehadiran Revolusi Industri. Revolusi besar itu dianggap telah menghilangkan banyak nilai kekerabatan manusia. Keluarga yang pada masa sebelumnya bisa berkumpul jam lima sore setelah selesai menggarap ladang, kini terpaksa bekerja hingga larut malam di pabrik-pabrik dengan gaji rendah sehingga satu keluarga perlu dikerahkan untuk memburu penghasilan. Keadaan itu membuat banyak orang menjadi melankolis. Mereka disergap kerinduan, mengingat masa lalu yang romantis.”
Intinya, lukisan Romantik berusaha menggambarkan manusia pada tatanan sosial sebelum ada mesin-mesin, yang mengatur hidup secara mekanis. Lukisan gaya Romantik bermain dengan horor, teror, darah, gerak tubuh penuh semangat, serangan mendadak, perkelahian binatang, bencana besar, kecelakaan, atau manusia dikoyak hewan buas.
…
Gaya Penulisan
Buah dari riset penulis di Belanda sangat terasa dalam novel ini. Kekayaan penulisan sejarah dan budaya yang rinci atas berbagai peristiwa kunjungan, kegiatan dan banyaknya relasi Raden Saleh dengan para pejabat dan pesohor seni rupa di negara-negara Eropa tentu didasarkan pada kelengkapan kepustakaan. Sudah jamak kita dengar bahwa kepustakaan tentang sejarah Hindia Timur lebih banyak bisa diperoleh di Belanda.
Ketika mulai membaca novel ini, sedikit kaget, bosan dan bingung. Karena urutan waktu yang terasa melompat-lompat. Cerita dimulai pada awal abad 20 di bab 1, tiba-tiba lompat mundur ke awal abad 19 pada bab berikutnya. Kemudian kembali lagi ke abad 19. Demikian seterusnya. Unik.
Ternyata, lompatan waktu tersebut terjadi karena novel ini bercerita tentang dua peristiwa yang berbeda. Bukan cerita tentang dua peristiwa sebab-akibat. Tokoh, latar-belakang, juga waktu yang berbeda. Yang sama adalah keduanya bercerita tentang seni rupa, penjajahan dan semangat perjuangan.
Cerita Pertama tentang sejarah kehidupan Raden Saleh, yang diawali pada masa kecilnya di tahun 1820. Cerita Kedua tentang kehidupan masyarakat pecinta lukisan di Bandung yang berujung pada perjuangan masyarakat umum dan partai politik, menentang kolonialisme Belanda di abad 20.
Perilaku, gestur, tutur kata dalam dialog dan gaya berpakaian serta situasi lingkungan seringkali digambarkan secara rinci, dengan gaya bahasa yang enak mengalir tak membosankan. Nama-nama jalan pun banyak disebutkan dalam bahasa lama, seperti Nijlandweg (Cipaganti), Buitenzorg (Bogor), Berg en Dalseweg (jalan Ciumbuleuit), Bronbeekweg (jalan Sukajadi), Schoolweg (jalan Merdeka), dll. Membangkitkan imajinasi suasana budaya feodal kolonial abad 19.
…
Cerita Pertama
“Penangkapan Dipanegara” oleh Raden Saleh
Sejarah Raden Saleh dimulai dengan ngèngèr, menumpang hidup dalam perlindungan dan didikan pamannya, Raden Aria Adipati Sura Adi Menggala V, Bupati Semarang. Tahun 1819, ketika Saleh masih sangat muda, sang paman mengijinkan dirinya diboyong ke Cianjur oleh dua orang Belanda, Capellen dan Reinwardt. Untuk sekolah misionaris, supaya bisa belajar melukis dibawah bimbingan pelukis handal, Adrianus Bik. Tinggal di rumah Bupati Cianjur, sepupu dari sang paman.
Belum sampai usia 10 tahun, Saleh sudah mesti pindah lagi ke Buitenzorg (Bogor) untuk lebih serius belajar melukis dibawah bimbingan Joseph Payen. Dan tinggal di rumah sang guru tersebut. Dari sini dimulai kehidupan karir Raden Syarif Saleh Bustaman. Relasi dengan pejabat Hindia semakin banyak, hingga mendapatkan beasiswa dari kerajaan untuk sekolah seni rupa di Belanda.
Tahun 1830, sampai di Amsterdam, Belanda, Raden Saleh belajar melukis di sekolah milik Cornelis Kruseman. Seorang ahli lukis potret. Juga berkesempatan belajar melukis dari seorang maestro lukisan pemandangan Andreas Schelfhout.
Raden Saleh semakin tenar karena mendapat pesanan untuk melukis potret para selebriti politik Belanda. Pergaulan di tingkat elite pun semakin meluas. Kota ‘s Gravenhage menjadi kota kenangan indah yang seringkali disebut dalam novel ini. Kota di Belanda, tempat Raden Saleh mulai berkarir profesional sebagai pelukis dunia.
Dalam bab “Arah Angin”, diceritakan tentang ditangkapnya Pangeran Dipanegara oleh jenderal de Kock, Belanda. Termasuk di dalamnya kisah tentang pengkhianatan panglima perang, Alibasyah Sentot.
Kisah tragis ini mengilhami Raden Saleh untuk menuangkan kekesalannya, sebagai sikap politis, terhadap kolonialisme Belanda, ke atas kanvas di tahun 1856-1857. Menjadi karya lukis yang sangat tenar “Penangkapan Dipanegara”. Lukisan ini dibuat, sebagai respon atas lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Paneman, yang merendahkan perjuangan Dipanegara, berjudul “Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock”.
“Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock” oleh Nicolaas Paneman
Atas upaya gurunya, Cornelis Kruseman, Raden Saleh mendapat perpanjangan kontrak untuk terus belajar seni lukis di Belanda. Bahkan mendapat kesempatan belajar dan berpameran lukisan di Jerman, Italia dan Perancis.
Berkenalan dengan lukisan dan beberapa pelukis kaliber dunia, membuat kualitas karya Raden Saleh semakin tumbuh dinamis, tak lagi hanya lukisan potret,
“… Aku ingin menjadi seorang artis, yang ikut terlibat dalam suatu gerakan pembaruan kesenian. Aku ingin melukis sesuatu yang bergerak dinamis. Sesuatu yang berteriak, melompat, mencabik-cabik, bukan wajah-wajah kaku yang duduk dalam posisi tiga perempat badan menghadap depan dengan latar gelap sambil mengatupkan mulut dan menyilangkan kaki seperti ini”
Dari lukisan potret, Raden Saleh mulai bergerak ke lukisan yang lebih dinamis, kejam namun tetap dalam gaya Romantik. Tema pergulatan antara singa dengan kerbau, berburu singa, diterkam singa, badai laut, kapal karam, dll. menjadi warna baru.
Tahun 1840, Raden Saleh mulai keliling Eropa untuk pameran lukisan dan belajar lebih banyak tentang gaya Romantik dari para pelukisnya. Mulai dari kota-kota di Jerman, seperti Dusseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Maxen dan Coburg.
Seperti banyak terlihat dalam foto-fotonya, Penulis menceritakan bahwa sejak tinggal di Dresden, Raden Saleh mulai gemar membalut tubuhnya dengan pakaian adat Jawa: blangkon, surjan, kain. Namun, sering pula dia menggabungkan pakaian Jawa tadi dengan turban, salwar Turki, atau jubah penuh sulaman emas hasil rancangannya sendiri.
Setelah 5 tahun di Jerman, tahun 1845, Raden Saleh menginjakkan kakinya di Paris, Perancis dalam usia 32 tahun. Di kota Tournai, bertemu sahabat lama Joseph Payen. Pelukis Maestro Romantik, Horace Vernet dan Delacroix menjadi alasan utama Raden Saleh berkunjung ke Paris. Untuk belajar darinya. Raja Louis-Philippe pun sempat menerimanya di Paris.
Tahun 1847, lukisan Raden Saleh berjudul “Berburu Rusa” terpampang di dinding pameran di event Pameran Salon Paris, Louvre. Bersama pelukis dunia lainnya seperti Eugene Delacroix, Ziegler, Horace Vernet, dll. Dan era gaya Romantik pun memasuki masa akhirnya.
Khalayak umum seringkali mempertanyakan sikap Raden Saleh terkait dengan kedekatannya pada kolonialis Hindia Belanda saat itu. Penulis sebenarnya telah menafsirkan sikap Raden Saleh tersebut dengan jelas melalui dialog yang disampaikan pada bab “Kembali ke Jawa”. Untuk lebih jelasnya silahkan membacanya sendiri pada bab tersebut diatas.
“Berburu Rusa” oleh Raden Saleh, 1846. Museum Mesdag. The Hague
November 1851 Raden Saleh berangkat dari Rotterdam, pulang ke Hindia via Colombo menggunakan kapal uap Macassar. Berbobot 350 ton dengan panjang tak lebih dari 100 meter dan berkecepatan 9 knot per jam.
Diperkirakan kapal sandar di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia pada bulan Feb/Mar 1852. Di pelabuhan itu juga, Raden Saleh pertama kali bertemu dengan Constancia Winkelhagen, yang kelak menjadi istrinya. Cerita romantis pun terselip dalam kisahnya, ketika tahun 1854 dia melamar Constancia, janda pengusaha batik dan parfum di hotel Rotterdam dengan memasangkan cincin di jari manisnya.
Tahun 1857 Raden Saleh mulai membangun rumah besar di Cikini. Constancia, sang istri yang sangat mencintainya, membiayai sepenuhnya, dan menamai rumah itu Tanzhaus (Rumah Dansa). Mereka berharap nanti akan tersedia ruang untuk berdansa di dalam rumah tersebut. Rencana rumah besar mewah dengan kebun binatang di depannya. Persis seperti apa yang dicita-citakan mereka berdua sebelumnya.
Rumah Raden Saleh, Cikini. 26 Agt 2025
Drama domestik pun menjadi persoalan serius. Constancia terpaksa berpisah dengan Raden Saleh, karena tak mampu lagi mengelola tekanan budaya rasis kolonial. Isu Belanda vs Pribumi sudah sangat mengganggu kebahagiaan mereka. Dan tahun 1867, Rumah Cikini pun akhirnya dijual oleh pemiliknya, Constancia.
Budaya rasis di Hindia Timur ini memang dirasakannya semakin menyiksanya. Bahkan perlakuan rasis ini tak sedemikian besar dirasakannya ketika tinggal di Eropa. Disana ia justru mendapatkan perlakuan istimewa karena keahlian melukisnya dan kedekatannya dengan para pejabat.
Sesungguhnya Raden Saleh memang lebih merasakan kedekatan emosional dengan Dresden, Jerman daripada Belanda, seperti dikatakannya dalam buku ini,
“Namun, dari lingkungan Jerman-lah aku merasakan ikatan cinta kasih, rasa persaudaraan yang tulus, kesetaraan, dan pengakuan atas keberadaan diriku apa adanya. Itulah masa terindah dalam hidupku, meskipun hanya empat tahun lamanya.”
Raden Saleh masih sempat kembali ke Eropa bersama istri, Raden Ayu Danudireja dan putri tunggal angkatnya, Sarinah, untuk menemui kolega lamanya, atas undangan Adipati Agung Saxen-Coburg-Gotha. Cukup banyak cerita menarik disampaikan Penulis pada kesempatan kunjungan selama 3 tahun tersebut.
Raden Saleh dan Raden Ayu Danudireja
Novel sejarah ini ditutup dengan cerita wafatnya Raden Saleh. Kapan dan bagaimana proses wafatnya, serta bagaimana selanjutnya dengan nasib sang istri Raden Ayu Danudireja dan putri tunggalnya, Sarinah? Silahkan membacanya. Menarik dan tak akan bosan menikmatinya hingga halaman terakhir.
…
Cerita Kedua
Bila Cerita Pertama tentang Raden Saleh dimulai pada tahun 1820, maka Cerita Kedua ini dimulai di tahun 1924.
Ini cerita tentang kehidupan masyarakat di kota Bandung di zaman pergerakan seperti Boedi Oetomo, Cokroaminoto, Syarikat Islam dan partai-partai politik. Tentu di masa penjajahan kolonial Belanda. Tak ada kesetaraan. Masyarakat pun dibuatnya berkelas. Perlakuan yang merendahkan sangat dirasakan oleh kelas bawah. Bahkan untuk masuk ke dalam restoran saja, mereka yang di kelas bawah tersebut tak diperkenankan. Banyak papan pengumuman larangan bagi pribumi seperti ini terpasang di berbagai area, “Verboden voor Honden en Inlander”. Rasis.
Dimulai dengan kisah perkenalan antara Ratna Juwita -gadis asli pribumi, putri seorang janda yang kawin lagi dengan Thadeus van Geelman, jurnalis Belanda-Perancis-, dengan arsitek yang juga penggemar lukisan Latief Syamsudin Harja Adisurya. Kelak mereka menjadi suami-istri. Syamsudin adalah konservatif yang berpandangan bahwa “Bumiputra belum saatnya mengambil alih pemerintahan. Perlu lebih banyak yang mampu menguasai berbagai pekerjaan lebih dahulu”. Bukan anggota Pergerakan, meskipun mendukungnya.
Ratna (20 tahun) adalah pengagum Rembrandt, yang beraliran Barok, pelukis awal abad 16. Penjelasan tentang aliran Rembrandt ini disampaikan penulis dalam bab “Malam Tahun Baru”. Saat itu Ratna punya minat besar terhadap lukisan beraliran Romantik dan Delacroix. Aliran lukisan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan dengan Cerita Pertama tentang Raden Saleh.
Pertemanan Ratna semakin berkembang, hingga berkenalan dengan Syafei, karyawan Syamsudin. Terjadi hubungan romantis dengannya. Secara rahasia, dia adalah anggota partai PKI.
Cerita berlanjut dengan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan bangsa mulai tumbuh. Perjuangan fisik tak terhindarkan. Dan pergerakan bersenjata PKI pun mulai terjadi. Berujung ditangkapnya Syafei dan di”buang” Belanda ke Digul, Irian Jaya.
Bumbu romantisme hubungan Ratna, Syafei dan Syamsudin serta pergerakan bawah tanah PKI melawan Belanda, hingga diasingkannya para pejuang ke Digul, cukup menarik untuk dinikmati.
…
Relasi kedua cerita
Keduanya bercerita tentang perjuangan. Dalam cerita utama, Penulis menyajikan Raden Saleh sebagai seniman pelukis profesional. Karyanya, Penangkapan Pangeran Dipanegara mengesankan kemarahan Raden Saleh terhadap kesewenang-wenangan Belanda. Rasa kebangsaan pun tergambarkan disana. Pangeran Dipanegara berdiri sama tinggi dengan wajah tegak menatap penangkapnya, jenderal De Kock. Perjuangan Raden Saleh dilakukan melalui sapuan kuas. Lukisan
Berbeda dengan zaman Raden Saleh di abad 19, cerita ke-2 terjadi pada abad ke 20, perjuangan fisik memang sudah memasuki masanya. Jepang. Inggris dan kembali Belanda memasuki negeri ini, dengan kekejaman bersenjata.
Keduanya dalam semangat perjuangan, dengan media yang berbeda.
Sabtu malam itu, 31 Agustus 2025, mendapat kesempatan yang membahagiakan, bisa turut menikmati persembahan teater Titimangsa yang ke-88 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Nonton bersama istri, Budhe dan keponakan berdua. Maturnuwuntiketnya pakdhe.
Lama sudah tak menikmati teater, sejak penampilan Butet Kertaredjasa di tempat yang sama, beberapa tahun lalu.
“Bunga Penutup Abad” (BPA) sudah pernah ditampilkan tujuh tahun lalu oleh sutradara handal yang sama, Wawan Sofwan.
Menurut sang sutradara, penampilan kali ini sudah ada kebaruan naskah, dengan harapan memperkuat struktur dramatiknya. Hal ini disampaikannya dalam buku pengantar yang dibagikan kepada penonton sebelum penampilan dimulai.
Penampilan BPA 29-31 Agustus 2025 yang lalu disajikan oleh teater Titimangsa dengan Happy Salma sebagai Produser, serta dukungan banyak pihak, termasuk Bakti Budaya Djarum Foundation.
BPA sejatinya adalah alih wahana refleksi sosial-politik di masa kolonial dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, yang dimulai dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) hingga yang terakhir Rumah Kaca (1988).
Para pemain
Nyai Ontosoroh dan Annelies
Reza Rahardian sebagai Minke
Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh
Chelsea Islan sebagai Annelies
Andrew Trigg sebagai Jean Marais
Sajani Arifin sebagai May Marais
..
Tata Panggung
Begitu layar dibuka, terlihatlah tata panggung yang menarik. Panggung Putar yang dibagi menjadi empat ruang. Ruang Tamu dengan 2 meja dan 5 kursi, Kamar Tidur dengan tempat tidur, 1 meja kecil dan 1 kursi, Beranda dengan satu tempat duduk dan Studio Lukis Marais dengan lukisan wajah Annelies terpasang di kuda-kuda. Perubahan setting panggung dapat dilakukan memutarnya secara manual dengan mudah dan cepat.
Cahaya sangat cukup menerangi panggung dan lampu sorot dari atas juga tepat mengenai obyek. Indah.
Kostum semua pemain sangat indah mewakili jamannya. Kebaya Nyi Ontosoroh dan Annelies, beskap dan kain Minke, juga gaun putih Annelies sangat indah dan nyaman dilihat.
Sound system bagus dan clear terdengar. Sempat terdengar satu kata tersendat dan diulang oleh Happy Salma. Sangat minor dan bisa dimaklumi, karena panjangnya dialog dengan intonasi tinggi dan cepat, antara Nyai Ontosoroh dan Minke.
Musik indah. Suara biola jelas terdengar. Bagiku, akan lebih dramatik bila permainan musik terlihat live di panggung sebelah.
Pemeran
Minke dan Annelies
Bagi kami yang awam dalam seni teater, rasanya semua pemain sangat fasih diatas panggung. Kualitas prima. Gerak, gestur serta penguasaan panggung mereka, sangat enak dinikmati. Tak terlihat sedikitpun ada kecanggungan. Bahkan penampilan si gadis kecil, Sajani Arifin sebagai May Marais terlihat luwes gerak-geriknya danpercaya diri dengan ucapan yang lantang. Kerenn …
Dari dialog Minke dan Nyai Ontosoroh, terlihat jelas wajah dan gesture mereka menyajikan kegundahan atas kabar buruk Annelies via surat, yang dibacakan Minke. Kemarahan Nyai Ontosoroh pun disajikan dengan bagus sekali oleh Happy Salma saat berdialog tentang hilangnya semua hak yang dimilikinya, karena tidak diakui perkawinan dirinya oleh hukum kolonial. Hukum rasis kolonial.
Sinopsis
Berikut ini adalah Sinopsis yang disajikan dalam Buku Pengantar.
Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani ke mana pun Annelies pergi bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh.
Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.
Catatan
Bagi pembaca tetralogi Bumi Manusia, sangat diuntungkan. Bisa lebih mudah mengikuti jalannya cerita BPA. Serasa refreshing, membaca ulang situasi kekejaman kolonialisme Belanda. Bagi yang belum membacanya, kemungkinan akan lebih sulit mencerna pesan dari cerita.
Berbeda dengan teater Koma atau teaternya Butek K., alih wahana tetralogi Bumi Manusia dalam BPA ini disajikan dengan serius, tanpa jeda. Dan minim tawa. Sehingga tak terlihat komunikasi panggung dan penonton. Sedikit melelahkan. Untungnya, para pemain adalah para jagoan panggung di negeri ini. Enak dinikmati hingga akhir pementasan.
Semoga Jakarta menjadi tempat yang bersahabat untuk tampilnya para seniman panggung teater dan cukup terjangkau bagi masyarakat luas untuk bisa menikmatinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, diberi nama PP Tunas, telah diteken pada Kamis, 27 Maret 2025. Pembahasan khusus tentang hal tersebut, dimuat dalam majalah Tempo edisi Minggu, 18 Mei 2025.
Seiring dengan peristiwa diatas, khalayak ramai pun banyak berwacana tentang polah-tingkah kelompok remaja-dewasa yang dikategorikan sebagai Gen-Z. Generasi yang dilahirkan antara 1995-2012 dan saat ini memasuki usia 13-30 tahun. Masa remaja hingga dewasa muda. Atau masa sekolah hingga pekerja muda.
Keprihatinan terhadap banyak pihak yang cenderung menyalahkan sikap dan perilaku Gen-Z, memancing tanya, berharap bisa memahami persoalannya. Salahkah mereka? Atau kita, yang dari generasi sebelumnya, tak mampu lagi mengikuti budaya dan pola pikir mereka yang tumbuh dalam era internet?
Sering terbaca dalam medsos maupun pembicaraan informal, tentang sikap pekerja muda, Gen-Z khususnya, yang dianggap ‘berani’ melawan atasan karena merasa hak-haknya untuk beristirahat telah dilanggar oleh atasan, dengan cara memaksanya untuk tetap bekerja dihari libur, atau lebih sering terlihat pasif tak berinisiatif dalam dunia kerja, dll. Betulkah?
Seolah Gen-Z adalah Penyebab ’kegaduhan’. Padahal, bisa jadi Gen-Z adalah korban, yang justru perlu pertolongan akibat perkembangan teknologi komunikasi di masanya. Buku “The Anxious Generation“, karya social psychologist di Stern School of Business, New York University, Jonathan Haidt, dan “Generations” karya Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, bisa menjadi rujukan untuk mendapatkan penjelasan ilmiah, berbasis data dan analisis, tentang Gen-Z
The great irony of social media: the more you immerse yourself in it, the more lonely and depressed you become.
…
Gelombang Perubahan
Diketahui bahwa banyak penyebab terjadinya gangguan mental (mental illness), termasuk didalamnya adalah genetik, pengalaman masa kecil dan faktor-faktor sosiologis lainnya. Dan buku ini lebih fokus membahas faktor sosiologis, dimana perubahan teknologi komunikasi mempunyai andil besar terhadapnya.
Gen Z adalah generasi pertama yang di masa pubernya melekat aplikasigadget yang selalu memisahkannya dengan liyan dan masuk dalam dunia alternatif yang dirasakannya nyaman, adiktif dan labil. Banyak aplikasi Smartphone yang sebetulnya tidak cocok bagi mereka yang masih anak-anak dan remaja. Mereka menghabiskan sangat sedikit waktu untuk bermain, berbicara, bahkan kontak mata dengan para sahabat dan keluarga, karenanya. Sehingga banyak mengurangi kesempatan bersosialisasi, yang seharusnya menjadi kebutuhan esensial untuk kesuksesan pertumbuhan relasi kemanusiaan. Haidth menyebutnya masa the Great Rewiring of Childhood.
The Great Rewiring bukan hanya tentang perubahan teknologi komunikasi yang terus membentuk karakter keseharian anak dan pola pikirnya, namun juga menyebabkan sikap overprotecting orangtua terhadap anak, yang banyak membatasi ruang gerak mereka di dunia nyata.
Terjadi perubahan dari “play-based childhood” ke “phone-based childhood”. Atau dari overprotection di dunia nyata ke underprotection di dunia maya.
…
Hubungan Sosial
Ketika teknologi komunikasi jarak jauh seperti telepon atau telegram masih belum terjangkau di abad yang lalu, Surat melalui transportasi darat/air adalah pilihan satu-satunya. Dan itu pun masih bisa menjaga hubungan sosial pertemanan dan kekerabatan. Menurut Haidt, kuncinya adalah komitmen untuk membina hubungan sosial.
Kini, ketika teknologi komunikasi jarak jauh semakin maju, banyak pihak mulai menggunakan istilah The World is Flat, justru hubungan sosial itu semakin renggang. Dan banyak pemilik akun media sosial pun bahkan menggunakan nama samaran untuk menjauhkan diri dari koneksitas. Atau, menjauhkan diri dari komitmen hubungan sosial. Keterasingan, kesepian dan hilangnya keakraban karena kekerabatan semu melalui media sosial, menjadi gaya hidup masyarakat internet saat ini. Semu, karena pertemanan dalam media sosial menjadi terlihat mudah dibuat dan diputuskan hanya melalui satu kali klik saja.
Haidt, sebagai profesor psikologi sosial di Universitas New York, menemukan dua hal positif terkait Gen Z, yaitu:
Meskipun dalam kesulitan, mereka mempunyai kekuatan dan kegigihan sebagai bekal untuk melakukan perubahan sistemik ke arah dunia yang lebih baik
Mereka ingin terlibat dalam membuat perubahan menuju dunia yang lebih baik. Tentu dengan menggunakan media sosial sebagai alat pengorganisasian yang mereka kuasai. Banyak bukti organisasi bisnis dan sosial yang digerakkan oleh para Gen Z.
…
Yang Terjadi
In 2010 there was little sign of a mental health crisis. Now it’s all around us.
Tanda-tanda munculnya gangguan mental pada remaja mulai terlihat di tahun 2000an. Kemudian meningkat pesat mulai tahun 2010.
Fokus Haidt pada penulisan buku ini adalah mengangkat isu:
Mengapa tingkat penyakit mental Generasi-Z terus meningkat antara tahun 2010-2015? Sementara generasi sebelumnya tidak cukup terdampak.
Mengapa secara umum terjadi peningkatan gangguan kecemasan dan depresi pada remaja di berbagai belahan dunia?
Penelitian tahunan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap para remaja, disajikan dalam grafik berikut ini. Terjadi peningkatan jumlah kasus “major depressive episode”.
Percent of U.S. teens (ages 12–17) who had at least one major depressive episode in the past year, by self-report based on a symptom checklist. Now updated with data beyond 2016. (Source: U.S. National Survey on Drug Use and Health)
Hasil survey diatas diperoleh dari beberapa pertanyaan yang diberikan terhadap remaja, seperti: “apakah anda mengalami perasaan sedih, kosong, depresi, dalam jangka panjang?” Atau, “apakah anda mengalami kebosanan dalam periode yang lama terhadap hal-hal yang sebelumnya anda sukai?”, dll. Haidt menyebut tahun 2010-2015 adalah periode “The Great Rewiring”.
Percent of U.S. high school seniors who agreed or mostly agreed with the statement “People like me don’t have much of a chance at a successful life.” (Source: Monitoring the Future.)
Kondisi semakin buruk di masa Covid. Satu dari empat remaja perempuan AS mengalami depresi. Dan semakin buruk pada tahun 2021. Namun sebenarnya peningkatan pesat sudah dimulai sebelum terjadinya pandemi Covid.
Mental Illness Among College Students
Percent of U.S. undergraduates with each of several mental illnesses. Rates of diagnosis of various mental illnesses increased in the 2010s among college students, especially for anxiety and depression. (Source: American College Health Association)
Grafik diatas menunjukkan bahwa Gangguan Mental terbanyak pada remaja AS adalah tipe Anxiety, dengan urutan selanjutnya adalah tipe Depresi.
Lalu, who is suffering from what, beginning when? Hal tersebut yang menjadi perhatian Haidt supaya dapat diidentifikasi berbagai penyebab gelombang ekstrim pada grafik tersebut, untuk selanjutnya dapat disikapi untuk mengembalikannya ke posisi normal.
Dari berbagai data yang tersedia tentang kesehatan mental remaja, yang disajikan Haidt, diketahui beberapa petunjuk awal, bahwa:
Gangguan Mental yang banyak ditemukan di kampus-kampus tahun 2010an, dapat dikategorikan sebagai internalizing disorders. Penderita merasa khawatir, takut, sedih. Simtom inwardly, menarik/menutup diri dari lingkungan sosial. Sangat tertekan. Sementara gejala externalizing disorder, sering ditemukan pada laki-laki, meskipun tidak sebanyak penderita internalizing disorders. Respon externalizing disorder adalah outwardly, yaitu perilaku kacau, kesulitan pengendalian kemarahan, cenderung berbuat kekerasan dan berisiko tinggi.
Sebelum tahun 2012, tidak terlihat adanya kecenderungan peningkatan Gangguan Mental. Namun justru terjadi kenaikan pesat setelahnya.pada Generasi Z (Gen-Z), yang diikuti oleh Generasi Milenial (Gen-Y). Sementara dua grafik Generasi yang lebih tua menunjukkan garis landai di kurun waktu yang sama.
…
WHAT IS ANXIETY?
Anxiety is related to fear, but is not the same thing. Fear as “the emotional response to real or perceived imminent threat, whereas anxiety is anticipation of future threat.” Mungkin bisa diterjemahkan sebagai Khawatir?
Kesimpulan sementara, Anxiety adalah Gangguan Mental terbanyak yang diderita oleh anak muda pada saat ini.
Studi tahun 2022 terhadap lebih dari 37.000 siswa SMU di Wisconsin, ditemukan fakta adanya peningkatan penderita Anxiety dari 34% di tahun 2012 ke 44% di tahun 2018. Yang umumnya adalah perempuan (from 26.13% in 2010 to 40.03% in 2021) dan remaja juga LGBTQ.
Hasil survei tahun 2023 terhadap tingkat keseringan Gangguan Mental tipe Depresi dirasakan oleh siswa SMU di AS (college) adalah,
16% : “always” or “most of the time,”
24% : “about half the time,” dan
60% : “less than half the time” or “never.”
Only one-third of college students said they feel Anxiety less than half the time or never.
Fear adalah respon cepat terhadap munculnya ancaman, akan memicu Otak mamalia untuk segera melakukan tindakan. Bahkan sebelum penglihatan mata sempat memberikan perintah pada pusat visual otak bagian belakang untuk melakukan analisa sepenuhnya.
Fear is an alarm bell connected to a rapid response system.
Fear akan segera memicu sepenuhnya terhadap sistem respon dalam situasi berbahaya (Takut), sedangkan Anxiety hanya akan memicu sebagian sistem yang sama apabila ancaman mungkin bisa terjadi (Khawatir).
Anxiety masih bisa dianggap sehat/normal apabila situasi berbahaya memang potensial terjadi. Namun bila hal-hal kecil yang bisa dianggap wajar, tetap memicu munculnya Anxiety, maka temporary anxiety bisa berubah menjadi anxiety disorder.
Beberapa dampak buruk Anxiety adalah:
Fisik, terasa tegang dan sesak pada bagian perut dan dada
Emosi, terasa takut, khawatir dan lelah
Kognitif, sering merasa sulit fokus atau berpikir jernih, terbenam dalam pemikiran berlebihan (deep thought) yang tidak produktif; cognitive distortion. Biasa menjadi objek cognitive behavioral therapy (CBT) seperti catastrophizing, overgeneralizing, and black-and-white thinking.
…
Medsos lebih berdampak buruk terhadap perempuan
Sketsa gadis 12 tahun di akun Instagramnya
Penderita depresi dan anorexia yang sebelumnya tertarik dengan konten Gym, kemudian berubah pecinta fashion dan berujung pro-anorexia. Tergiring arus algoritma instagram dan teralienasi di lingkungan sosial sekolah karena budaya popular yang terbentuk oleh media sosial.
Berbagai studi acak yang dilakukan Twenge menunjukkan kesimpulan yang tak beda dengan Haidt, bahwa, “Social media use is a cause of anxiety, depression, and other ailments, not just a correlate”.
Bila di tahun 2010an para remaja lelaki suka menggunakan internet untuk menonton video di Youtube dan bermain Game Online, maka para gadis lebih senang menggunakannya untuk bermain aplikasi berbasis visual seperti Instagram, Snapchat, Pinterest dan Tumblr.
Tahun 2017, studi yang dilakukan terhadap remaja UK, menunjukkan bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang paling menyebabkan dampak buruk pada penggunanya, yang diantaranya adalah kecemasan, kesepian, anorexia dan kesulitan tidur.
…
Yang diharapkan
Collective action problems atau Social Dilemma terjadi ketika anak-anak usia Sekolah Dasar mulai merengek minta smartphone dengan alasan teman-teman di sekolah juga memilikinya. Bahkan mereka pun sudah memiliki akun media sosial seperti Instagram dll. Orangtua sadar bahwa smartphone belum waktunya untuk dimiliki oleh anak-anak tersebut. Namun rasa terasing di lingkungan sekolah karena tidak mempunyai smartphone, juga menjadi persoalan penting bagi orangtua. Ujung cerita bisa diduga, anak-anak tersebut akhirnya sibuk bermain smartphone. Berakhirlah masa the play-based childhood, dan digantikan oleh phone-based childhood.
Collective responses sangat diperlukan untuk mencegah dampak lebih buruk yang akan terjadi akibat penggunaan teknologi maju bagi para pengguna yang masih muda tersebut. Haidt menyarankan,
Voluntary coordination. Misal, melakukan kerjasama sukarela para orangtua untuk secara bersama-sama tidak memberi smartphone bagi anak-anak, setidaknya hingga kelas 8. Gerakan Wait Until 8th.
Social norms and moralization. Pendekatan normatif atau moral untuk melarang penggunaan smartphone pada usia dini. Seperti halnya pelarangan mengemudi mobil saat mengkonsumsi minuman beralkohol.
Technological solutions. Misal hanya mengijinkan anak-anak menggunakan smartphone untuk telepon saja
Laws and rules. Ada syarat minimal usia untuk diperbolehkan menggunakan aplikasi media sosial oleh perusahaan penyedia layanan. Dan perusahaan tersebut mampu memverifikasi usia penggunanya. Atau sekolah menyediakan locker untuk menyimpan smartphone para muridnya
Peran Pemerintah dan Perusahaan Teknologi
Dalam Proses Bisnis media sosial (Facebook, Instagram, TikTok, dll.), Pengguna aplikasi yang seharusnya sebagai Users, akan diubah menjadi Produk. Customer sesungguhnya adalah mereka (Pengguna Berbayar) yang membutuhkan Produk, sesuai kategori yang tersaring melalui view, like atau comment terhadap Unggahan yang yang dijajakan oleh perusahaan aplikasi. Oleh karenanya, perusahaan aplikasi perlu selalu perbaiki aplikasinya supaya semakin banyak Produknya sehingga menarik hati Customer untuk membelinya.
Perlu diketahui bahwa bisnis model aplikasi media sosial yang perolehan Revenue nya berasal dari penjualan Produk (Users), ada 3 upaya penting yang menjadi prioritas untuk dilakukannya, yaitu:
Perbanyak Users
Upayakan users untuk lebih lama menggunakan aplikasi
Upayakan Users supaya lebih sering unggah content yang mampu menarik lebih banyak Users, untuk menggunakan aplikasi tersebut
Jelas bahwa dari ketiga upaya aplikasi diatas, mempunyai tujuan antara untuk membuat Users menjadi ketagihan (addicted). Tentu tujuan akhirnya adalah keuntungan finansial belaka. Tak peduli bahwa ketagihan bermain gawai akan berdampak buruk pada pengguna dan lingkungan sosialnya.
Dengan gencarnya serbuan teknologi komunikasi yang berbahaya tersebut, diharapkan supaya para pihak, termasuk Pemerintah untuk segera bisa melakukan intervensi sehingga media sosial tidak lagi atau setidaknya mampu mengurangi dampak buruk terhadap remaja serta dewasa muda. Dan para orangtua pun mempunyai kebebasan untuk memilih cara mendidik dan lebih menjaga putra-putrinya dari serangan teknologi komunikasi.
Bagaikan “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, kuman di seberang lautan nampak”. Semoga PP Tunas atau PP 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, segera terasakan faedahnya. Silahkan regulator sibuk berdiskusi dan mempersiapkan tindakan nyata tentang pendidikan dan lingkungannya yang sehat, sehingga dapat segera mengamankan anak murid dari paparan dampak teknologi komunikasi. Maka langkah prioritas sebaiknya segera dikerjakan, yaitu Sekolah Bebas Handphone dan Banyak Bermaindi dunia nyata. The play-based childhood.
Terganggu penelusuranku akan buku-buku bagus di tengah toko buku tenar itu, ketika mencuat di sudut mata, tumpukan buku tertata rapi. Tebal berwarna sama. Menantang untuk mendekatinya. “Pulang”, karya Leila S. Chudori. Sebuah novel tebal, 461 halaman. Familiar dengan penulisnya. Langsung ku beli bukunya, dalam format digital.
Novel lama terbitan 2012, namun telah diterbitkan ulang untuk yang ke-18 kalinya di tahun 2021. Beda cover.
Teringat akan penulisnya. Dia biasa menyajikan artikel di harian Kompas, dalam kolom psikologi di awal tahun 80an. Kalau tak salah, menggantikan kolom yang biasa diisi oleh M.A.W. Brouwer. Kolom yang aku sukai di masa itu.
Pertengahan tahun 2000an, pernah kubaca di internet tentang kehidupan Sobron Aidit yang membuat resto masakan Indonesia di Paris bersama teman-temannya, sesama ‘eksil’. Nama restonya adalah Restaurant Indonesia, beralamatkan di 12 Rue de Vaugirard, Paris. Alamat tersebut persis sama dengan lokasi restoran yang tertulis dalam novel Pulang. Sepertinya, Leila menggunakan kisah Sobron Aidit sebagai inspirasi penulisan novelnya. ‘Eksil’ adalah kata yang pertama kali ku dengar ketika kasus G30S menyeruak di ruang publik melalui diskusi, film, buku, media berita atau media sosial lainnya. Yaitu, mereka yang terasingkan di luar negeri dan tak bisa pulang ke negeri sendiri karena alasan politik.
Garis besar cerita, secara singkat disajikan pada Sampul Belakang buku, yang isinya kira-kira sbb.:
Pulang bercerita tentang perjalanan panjang seorang eksil politik Indonesia, Dimas Suryo, pada tahun 1965. Saat itu terjadi pergolakan politik besar di Indonesia, yang kita kenal sebagai G30S/PKI. Dimas adalah seorang koresponden kantor berita di Paris, tiba-tiba dicabut paspornya. Ia dan tiga kawannya, yaitu Tjai, Risjaf, dan Slamet, terjebak di pengasingan dan tidak bisa kembali ke tanah air yang mereka cintai.
Ditengah kepahitan dan kerinduan akan Indonesia, mereka bertahan hidup dengan mendirikan restoran Indonesia “Tanah Air” di Paris. Restoran ini menjadi simbol perjuangan, tempat berkumpulnya sesama eksil, sekaligus menjadi penanda identitas mereka di negeri orang. Di sinilah Dimas bertemu Vivienne Deveraux, seorang perempuan Perancis, mahasiswa Sorbonne yang kemudian menjadi istrinya dan melahirkan anak mereka, Lintang Utara.
Cerita berlanjut dengan kunjungan Lintang ke Jakarta di era Reformasi 1998. Tersurat cerita tentang adanya brutalitas kemanusiaan massal di Jakarta saat chaos tersebut, Leila menulisnya di halaman 449,
Melalui siaran televisi, dengan tega mereka menyiarkan korban yang terbakar. Bertumpuk dan dimasukkan begitu saja ke dalam kantong hitam. Dan aku tak bisa lagi menyebutkan kisah-kisah tentang penyerangan dan perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa. Ceritanya begitu simpang siur dan terlalu grotesque sehingga kepalaku terasa digedor-gedor.
Lintang merasakan kerinduan akan sebuah “rumah” yang tak pernah ia kunjungi, Indonesia. Sebuah warisan sejarah kelam yang menentukan identitas dirinya serta membayangi hidup ayahnya.
Turunnya Presiden Soeharto menjadi euphora kesuksesan perjuangan Reformasi mahasiswa saat itu, yang disajikan Leila dengan tulisan Di halaman 443,
Tanggal 21 Mei, ketika Presiden Soeharto mengucapkan pidato pengunduran dirinya, kami semua menjerit. Restoran Tanah Air hampir meledak karena teriakan kami terlalu keras. Om Nug dan Om Risjaf yang tengil itu berteriak mau mencari kambing untuk disembelih. …
Pulang adalah kisah keluarga yang mengharukan tentang kekejaman ideologis, cinta, dan kerinduan yang mendalam akan tanah air.
Komentar
Pulang adalah novel sejarah semi-dokumenter politik negeri ini. Membacanya serasa melakukan lompatan waktu jauh ke masa lalu. Bapakku ketika itu begitu khawatir hingga perlu membakar atau menyembunyikan koleksi bukunya di atas plafon kamar tidur. Tak jelas benar buku apa itu semua. Tapi aku yakin pasti terkait dengan sosial-politik. Karena beliau adalah wartawan freelance untuk koran daerah saat itu.
Dampak politik G30S/PKI senyatanya memang mencekam. Akhir 1980an pun masih terasa. Kami yang lulus kuliah dimasa itu, masih harus bisa menunjukkan bukti Bersih Lingkungan.
Terpancing keingintahuan lebih jauh ketika sedang membaca novel ini. Tautan internet terkait dengan kisah para eksil bisa dilihat dan dibaca dalam daftar Tautan di bawah ini. Tentu masih banyak lagi berserakan informasinya yang tak tercatat disana.
Leila sukses menyajikan keteguhan sikap dalam memperjuangkan serta mempertahankan jatidiri.
Menarik dan sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai pengingat akan bahayanya konflik politik yang tak terkendali. Atau justru bagian dari pengendalian politik? Ah entahlah …
Berikut ini adalah catatan perjalanan ke Seoul yang menyenangkan. Berdelapan dengan para sahabat (Penulis/TA, OO/TW, OF/TR, OM/TL) dari lingkungan perumahan yang sama, dalam rangka menghadiri undangan perkawinan putri kawan kami. Dari 18 s/d 23 April 2025.
….
19 Apr2025
Jam 6.50 pagi, waktu Seoul, pesawat Asiana OZ 762, yang mengangkut kami berenam di dalamnya (penulis/TA, OF/TR, OM/TL), mendarat di bandara Incheon, Korea, untuk memenuhi undangan mas Wahyu menghadiri pesta Perkawinan putri tercintanya, Astrid Rahadjo. OO/TW telah dua hari berada di Seoul lebih dulu.
Mercedes Sprinter Limousine membawa kami berenam ke hotel Pacific, di Myeongdong. Mobil ini akan melayani rombongan kami selama berada di Seoul. Ditemani oleh Leo Siahaan, mahasiswa Indonesia asal Medan, yang sedang kuliah S2, Pendidikan Bahasa Korea di Seoul. Cuaca muram, sejuk dengan gerimis kecil.
Welcome Lunch bagi para tamu undangan dari Indonesia yang akan menghadiri Perkawinan Geonu Bae & Astrid Rahadjo, diadakan di Chaeum Korean Traditional Resto. Dekat sekali dengan hotel Pacific, tempat kami berdelapan, tinggal selama di Seoul. Hanya 5 menit jalan kaki.
Welcome Lunch
Makan Siang berkelompok, masing-masing 4-5 orang, di depan Meja Bundar beralaskan kain putih bersih. Penuh sajian makanan lezat di atas meja. Menu Korea yang sangat enak dan cocok dengan lidah Indonesia. Tak lupa, Tanda Mata spesial yang indah juga dibagikan mas Wahyu/mbak Ria untuk para undangan. Terimakasih.
Sore hari berlanjut acara santai ke daerah Insadong. Toko besar cinderamata Insa Korea, di jalan Insadong, menjadi sasaran pertama kunjungan. Banyak pernak-pernik buah tangan ditawarkan, seperti ginseng, keramik, sendok-garpu, topi dll.
Insadong
Gerimis kecil masih berlangsung. Di bawah payung, lanjut jalan pelan ke utara, masuk ke Traditional Tea Cafe, Jidaebang, Insadong-gil. Lantai 2. Cukup ramai.
Teh Jahe dan teh Sitrun banyak peminat di rombongan ini. Selain Coklat panas pesanan TR. Bubur kacang hitam hangat, yang disajikan dalam mangkok kecil, menjadi andalan. Sedap. Tersedia juga cemilan lain seperti mochi, kue beras kering, dll. Enak. Pilihan menu yang tepat saat dingin gerimis.
Tea cafe “Jidaebang”, Insadong
Pulang ke hotel untuk istirahat sejenak. Lanjut makan malam di Myeongdong. Seberang jalan Toegye-ro dari hotel Pacific. Resto Halal Busanjib, Korean BBQ, di Myeongdong 8-gil. Resto penuh pengunjung. Menyajikan menu ramen beef, ayam goreng, dll. Ada pramusaji dari Indo juga. Enak ramen dan telor dadarnya.
….
20 Apr2025
Sejuk pagi jalan berdua dengan TA ke area belakang hotel Pacific. Ambil foto sedikit. Ada beberapa resto kecil, kios penjual French Toast, juga cafe kopi kecil, d’Asti. Mampir ngopi cappuccino. Hanya tersedia satu meja panjang dan 4 kursi saja. Namun bersih dan order minuman bisa dilakukan melalui layar digital yang terpasang di dinding. Pembayaran pun bisa menggunakan kartu kredit/debit. Namun cash payment juga bisa diterima.
Lanjut menyeberang jalan Toegye-ro, ngopi pagi dan menikmati Pretzel hangat bersama OM/TL di Breadypost Coffee & Pretzel Shop, Myeongdong. Antri untuk masuk. Nikmattt .. Pretzel dan kopinya.
Pesta perkawinan diselenggarakan outdoor di Sunwoongak Cafe. Old hanok style house. Beralamat di 223 Samyang-ro 173-gil, Ui-dong, Gangbuk-gu, Seoul. Konon dimiliki oleh keluarga Hyundai. Di lingkungan alam perbukitan. Cuaca cerah dan sejuk segar udaranya.
GeonuBae & Astrid Rahadjo
Suasana bahagia terpancar dari semua pihak yang ada disana. Tenda-tenda menaungi sajian makanan lezat terhampar di banyak meja. Beef, sushi, sashimi, salad dan banyak lagi lainnya, siap dinikmati. Tentu, hanya yang ber “gelang biru” (terdaftar sebagai peserta pesta atau Undangan) bisa menikmatinya. Terimakasih mas Wahyu sekeluarga. atas Undangan dan jamuan makan yang luar biasa memuaskan. Tak lupa juga doa kami haturkan bagi Pengantin berdua, Geonu Bae & Astrid Rahadjo, semoga langgeng bahagia selamanya. Amin.
Pulang dari pesta Perkawinan, lanjut kunjungan ke Gyeongbokgung Palace. Ramai. Pasangan pengunjung berkostum Hanbok berlalu-lalang. Kami pun turut meramaikan dengan berfoto-foto di sekitar istana. Mampir sebentar di toko cenderamata, yang menjual produk eksklusif. Artinya, barang-barang tersebut tidak dijual dimanapun, di luar kawasan istana.
Gyeongbokgung Palace
Ngopi di Cafe De Fessonia, Dongdaemun Design Plaza (gedung pameran). Es Americano menjadi pilihan untuk dinikmati. Ok juga .. Pernah mengunjungi gedung ini saat Pacific Water Conference (2017?).
Mall di seberang jalan, menjadi obyek kunjungan setelahnya. Padat kios dan banyak jenis barang produk Korea. Sepatu, pakaian, topi, kopor, dll. Semuanya ada … Mirip-mirip Thamrin City. Terimakasih OM/TL dengan oleh-oleh kue kering dari beras ‘rengginang’ dan ‘semprong’ enak, yang selalu jadi cemilan dalam mobil.
Dongdaemun Design Plaza
Makan malam setelah sedikit lelah adalah Ayam Ginseng, Tosokchon Samgyetang, Seoul. Antrian panjang hingga keluar resto. Pesan tempat hanya diperbolehkan dua minggu sebelumnya.
Ayam Ginseng Samgyetang
Pernah dikunjungi Presiden Korea. Menu andalan adalah Ayam rebus berkuah panas, dimasak dengan campuran ginseng. Empuk nikmat dan membuat hangat tubuh. Selain itu juga tersedia ayam panggang. Enak juga Pajeon nya. Terimakasih OF/TR, sudah mentraktir kami semua. Kembali bersemangat ..
….
21 Apr2025
Summer Lane Resto
Sarapan bersama dengan menu western di Summer Lane, Itaewon. Resto sedikit ngumpet, interior minimalis, bersih, indah dan terang. Masakan lezat. Sarapan kali ini, pesan egg benedicts with smoked salmon. Cappuccino nya juga sedapp .. Sangat direkomendasikan untuk dicoba.
Meskipun temperatur sudah mulai memanas 11°C-23°C, konon Sakura masih belum sepenuhnya berguguran di Seoul. Untuk itu, kami coba mengunjungi Cherry Blossom, Gangbyeon Seojae – National Assembly Book & Bakery Café. Sakura mulai gugur di beberapa pohon. Taman berada di lingkungan Assembly. Taman luas dengan pohon Sakura di dalamnya. Kafe kopi ada di puncak bukit kecil, bagus untuk melihat pemandangan sungai Han dan rimbunnya pepohonan mengelilingi rumah bergaya Hanok. Indah sejuk segar.
Cherry Blossom, National Assembly
Lanjut untuk mampir ke toko kecil di lingkungan perumahan, “Tir Tir”. Menyediakan keperluan make up produk Korea yang sudah terkenal. Berlokasi di Jandari-ro 3an-gil, Mapo-gu, Seoul.
Starfield Library COEX, Gangnam. Ini adalah bangunan perpustakaan besar di bagian tengah pada lantai bawah tanah dari COEX Mall. Menjadi obyek kunjungan wisata.
Terbayang seandainya Jakarta tidak lagi membangun pusat-pusat perbelanjaan, melainkan membangunnya di bawah tanah dari gedung-gedung perkantoran di jalan Sudirman – Thamrin, maka ruang hijau kota bisa lebih banyak tersedia.
COEX Library
Makan siang dengan TA di dekat Starfield Library, Resto Korea kecil yang menyajikan ikan Mackerel besar. Enak ..
Jam 4 sore janji ngopi dengan mas Wahyu di Cafe Onion Anguk, Gyedong-gil, Jongno-gu, Seoul. Perlu antri panjang untuk bisa menikmatinya. Suasana rumah tradisional hanok yang dimodernisasi. Bagus dan nyaman. Bagi tamu yang duduk di halaman cafe, banyak burung merpati, bebas menghampiri. Menu andalannya adalah “Paengi”, yaitu roti berbentuk bawang sebesar bola tenis, yang disajikan dengan taburan gula diatasnya. Lezat. Dan kopinya pun nikmat.
Terimakasih mas Wahyu sekeluarga, yang telah mentraktir kami.
Onion Cafe, Anguk
Pulang ke hotel, janjian dengan TL dan TW, untuk mBakso di belakang hotel Pacific. Resto Baso Bejo yang beberapa kali kita lewati di pagi hari, membuat penasaran untuk mencobanya. Masakan Indonesia, dimasak dan disajikan oleh orang-orang Jawa Timur. Menunya adalah Baso Kuah, Mie Ayam Baso, Nasi Goreng, Pecel Lele, Ayam Geprek dll. Tak ketinggalan, juga tersedia sambal botol cap Belibis. Lelenya pun diimpor dari Sidoarjo, Jatim.
Baso Bejo & N (Namsan) Seoul Tower
Pulang mBakso, TA, TL OO/TW menyeberang jalan Toegye-ro melalui terowongan bawah tanah, menuju Myeongdong Night Market (Pasar Malam).
Ngintip kios-kios jajanan. Egg Bread (Gyeranppang), kue ikan berisi kacang merah (Bungeoppang), tteokbokki, chestnut, ubi, jagung, udang bakar, lobster bakar, Toppoki, jus lemon, stroberi, dll.
TA membawa pulang Egg Bread (Gyeranppang). Terimakasih TA.
Night Market, Myeongdong
….
22 Apr
Jam 7 pagi, jalan ke belakang hotel Pacific, mampir beli French Scramble Egg with Cheese, di kios kecil Isaac Toast. Berlokasi tepat di sebelah d’Asti Cafe. Seharga KRW 4.000 won per bungkusnya. Enak, hangat mengenyangkan. Cukup kalori untuk bekal beraktifitas hari itu.
Mercy Limousine membawa kami bersepuluh, termasuk supir, meluncur menuju Yeoju Premium Outlet. Penuh semangat dan ceria .. Kenapa ya?? Kawasan pertokoan barang mewah yang menjajakan brand ternama dunia. Lelah berkeliling ngintip kiri-kanan, berujung ngopi Cappucino di “Halff Coffee” dalam food court. Suasana sejuk gerimis.
Gangnam Style, COEX
Pesan makan siang ramen dengan udang goreng tepung dari kios Korea. Panas nikmat mengenyangkan.
Masih dalam suasana hujan, kami beralih kunjungan ke Shinsegae Department Store. Ngintip lagi kiri-kanan, lalu ngopi di Brautor Cafe. Pesan Cappuccino, seperti biasa. Sepertinya, kopi Korea terasa enak semua. Terimakasih OF, traktiran kopinya.
Samwon Garden Resto
Makan malam di resto yang indah, “Samwon Garden” di Gangnam. Menu utama adalah daging panggang. Tersedia juga menu lainnya seperti daging rebus, bibimbap dll. Lezat sekali dengan pelayanan ramah dan cepat. Terimakasih OO/TW sudah mentraktir kami semua.
….
23 Apr
Seperti kemarin, pagi ini sarapan French Scramble Egg with Cheese, dari kios kecil Isaac Toast.
Jam 10.30 berangkat ke bandara Incheon, Pulang dengan pesawat Asiana OZ 761. Take off 14.50, mendarat di CGK 20.00.
….
Kesan
Menyenangkan rasanya perjalanan berdelapan ini. Penuh canda dimanapun berada, dalam mobil sekalipun. Dan selalu BERSEMANGAT, bahkan saat TR tak sempat tidur dalam perjalanan dan OM pun tetap puasa makan ayam dalam resto Samgyetang.
Terimakasih para Ibu yang sudah menyiapkan kebutuhan perjalanan, mulai dari Visa, Tiket, Hotel, Guide, Itinerary, Mobil dll. Sudah bisa bikin Travel Agent sendiri nih …
Terimakasih juga untuk Leo yang sudah menemani kita sejak kedatangan hari pertama di Incheon. Dan aktif menawarkan dan mengatur tempat terbaik untuk dikunjungi, sesuai dengan situasinya. Juga aktif berinisiatif untuk mengambil gambar. Juga, untuk pak Sopir, yang selalu tepat waktu dan membawa kita kemanapun dengan nyaman.
….
Pesan
Namsangol Hanok Village
Perlu datang ulang ke Seoul karena masih banyak obyek wisata dan kuliner yang perlu dinikmati, seperti area Namsangol Hanok Village atau Ikseon-dong Hanok Village (kawasan yang memadukan rumah Hanok dengan cafe dan kios-kios cendera mata), Bukchon Hanok Village (perkampungan rumah Hanok dan aktifitas budaya), sungai Cheonggyecheon (sungai dengan lingkungan indah, yang dulunya berada di bawah jalan layang), N (Namsan) Seoul Tower di puncak Gunung Namsan di Seoul Selatan, Lotte World Tower (Menara tertinggi di Seoul) dengan observatorium Seoul Sky, atau ke Busan (pantai selatan) menggunakan Kereta Cepat dan wisata kuliner makanan laut, serta masih banyak lagi lainnya.
Blog ini berisi tumpahan kegelisahan yang mengganggu olah pikir dan kesejukan rasa. Senang sekali bila bisa bermanfaat untuk sahabat sekalian. Selamat membaca.