Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2016

Getir

poster_sinet-23Sambil nunggu siaran langsung badminton, olimpiade Rio 2016 di stasiun tv swasta, coba-coba lihat saluran-saluran tetangga. Ehh … ikutan nonton sinetron produksi lokal. Gak apa-apa, sekaligus pengin tahu berhubung sudah lama gak menontonnya.

Aktrisnya cantik-cantik, aktornya ganteng-ganteng, baik yang muda maupun yang tua. Cerita tentang eksekutif muda. Pria muda gagah berdasi keluar dari ruang kantornya, tak lupa memberikan perintah ini-itu ke sekretarisnya. Memberi kesan sebagai pejabat tinggi di perusahaan tersebut. Masuk ke ruang dirut pershn yang ternyata bapaknya sendiri, chitchat sebentar lalu anak muda itu pamit keluar kantor, bermobil sport, menjemput perempuan muda cantik di rumah mewahnya, untuk makan siang di sebuah resto. Cerita berikutnya ya cuma hahahihi saja dan berujung keperkawinan mewah dengan warisan sebuah perusahaan besar karena sang bapak mau menikmati pensiun. Hadeuh … ini cerita apa sebetulnya ?? Raam Punjabi pernah berujar bahwa thema seperti ini adalah “memberi harapan”, bukan mimpi.

Jadi ingat obrolan ringan 30 tahun yang lalu dengan kawan di Bandung tentang persinetronan kita yang secara thematik tidak ada perubahan hingga sekkarang. Umumnya cerita dimulai dengan kisah kecil dimanja, muda kaya-raya, tua bahagia, mungkin mati juga masuk surga. Nikmat apalagi yang kau nantikan? Kalaupun ada sedikit modifikasi cerita, biasanya diawali dengan kisah duka dan berakhir kaya raya. Nikmat juga.. Itu perbincangan ringan kami saat itu, lalu berkembang dengan obrolan kisah nyata di ibu-kota. Sering terlihat di perempatan, anak-anak usia sekolah dasar minta-minta di sebelah mobil, yang dewasa maksa bersihin kaca depan, yang tua bersimpuh di pembatas jakan dengan kaki dikerubuti lalat dan tangan menadah. Juga tersebar di medsos, kisa pak tua yang sakit dan tergeletak di gerobak pinggir jalan. Kecil susah, hingga mati tua pun sengsara … nyata. Siapa yang akan membuatkan filmya??? Ironis ..

Read Full Post »

IMG-20160802-WA0004Sambil buka facebook saat berangkat kantor kemarin, saya menemukan penawaran buku baru “Suluk Tambangraras”, karya Damar Shashangka. Saya suka buku-buku tentang budaya Jawa lama. Langsung transfer uang via internet banking wuzzz … Kenikmatan teknologi yang mudah meloloskan uang ..hemm serem .. Eh dapat balasan pesan “Kami catat dan akan dikirim bukunya setelah terbit Agustus nanti”. Halah, ternyata belum tersedia bukunya. Akhirnya keluar di pintu tol Semanggi dan masuklah ke Plaza Semanggi untuk cari buku lainnya.

Dapat lima buku, novel “Orang-orang Bloomington” karya Budi Darma, “Orang aneh” karya Albert Camus, yang ternyata sudah punya versi asingnya “the Stranger” dan saya tulis resumenya di blog beberapa tahun yang lalu, “Filsafat Kebudayaan” karya Jannes Uhi, kumpulan tulisan “Cinta yang kuberi” karya Erizeli Bandaro. Bung Erizeli ini ‘teman’ di Facebook, sering mengunggah tulisan ringan inspiratif, yang berhubungan dengan aktifitas atau kejadian sehari-hari. Yang terakhir, “Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global”, karya Ade Armando, sebuah modifikasi dari disertasi doktoral beliau di jurusan Komunikasi UI sehingga lebih mudah dibaca oleh khalayak umum. Sebetulnya kurang suka dengan judulnya yang ‘menjual’ sekali dengan kata ‘kapitalisme’nya, tapi keingintahuan tentang pertelevisian membuat saya mengambilnya.

Keingintahuan, itulah kata kunci yang paling tepat setelah lama saya berpikir tentang alasan untuk selalu ingin membaca. Pop culture atau hal-hal yang berbau perubahan atau perkembangan budaya sering menjadi pilihan bacaan. Novel atau cerpen koran  minggu yang sering menguji rasa dan pemikiran kritis, jarang terlewatkan.

“Televisi Indonesia” yang belum selesai saya baca ini sangat menarik dan mampu menjawab keingintahuan tentang pertelevisian di negeri ini. Pasti teman sekalian sudah sadar benar dan faham bahwa televisi bagaikan pisau bermata dua, dimana nilai positif  berada pada fungsinya sebagai sarana untuk berbagi informasi dan pendidikan; namun di sisi yang lain berfungsi sebagai sarana intervensi budaya asing, propaganda politik atau kepentingan bisnis semata. Buku ini mampu menjelaskannya dengan runtut, rapi dan didukung oleh banyak data termasuk di dalamnya adalah sejarah perkembangan teknologi dan model bisnis penyiaran televisi di Indonesia. Hormat dan terimakasih untuk bung Ade Armando.

Read Full Post »