Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, diberi nama PP Tunas, telah diteken pada Kamis, 27 Maret 2025. Pembahasan khusus tentang hal tersebut, dimuat dalam majalah Tempo edisi Minggu, 18 Mei 2025.
Seiring dengan peristiwa diatas, khalayak ramai pun banyak berwacana tentang polah-tingkah kelompok remaja-dewasa yang dikategorikan sebagai Gen-Z. Generasi yang dilahirkan antara 1995-2012 dan saat ini memasuki usia 13-30 tahun. Masa remaja hingga dewasa muda. Atau masa sekolah hingga pekerja muda.
Keprihatinan terhadap banyak pihak yang cenderung menyalahkan sikap dan perilaku Gen-Z, memancing tanya, berharap bisa memahami persoalannya. Salahkah mereka? Atau kita, yang dari generasi sebelumnya, tak mampu lagi mengikuti budaya dan pola pikir mereka yang tumbuh dalam era internet?
Sering terbaca dalam medsos maupun pembicaraan informal, tentang sikap pekerja muda, Gen-Z khususnya, yang dianggap ‘berani’ melawan atasan karena merasa hak-haknya untuk beristirahat telah dilanggar oleh atasan, dengan cara memaksanya untuk tetap bekerja dihari libur, atau lebih sering terlihat pasif tak berinisiatif dalam dunia kerja, dll. Betulkah?
Seolah Gen-Z adalah Penyebab ’kegaduhan’. Padahal, bisa jadi Gen-Z adalah korban, yang justru perlu pertolongan akibat perkembangan teknologi komunikasi di masanya. Buku “The Anxious Generation“, karya social psychologist di Stern School of Business, New York University, Jonathan Haidt, dan “Generations” karya Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, bisa menjadi rujukan untuk mendapatkan penjelasan ilmiah, berbasis data dan analisis, tentang Gen-Z
The great irony of social media: the more you immerse yourself in it, the more lonely and depressed you become.
…
Gelombang Perubahan
Diketahui bahwa banyak penyebab terjadinya gangguan mental (mental illness), termasuk didalamnya adalah genetik, pengalaman masa kecil dan faktor-faktor sosiologis lainnya. Dan buku ini lebih fokus membahas faktor sosiologis, dimana perubahan teknologi komunikasi mempunyai andil besar terhadapnya.
Gen Z adalah generasi pertama yang di masa pubernya melekat aplikasigadget yang selalu memisahkannya dengan liyan dan masuk dalam dunia alternatif yang dirasakannya nyaman, adiktif dan labil. Banyak aplikasi Smartphone yang sebetulnya tidak cocok bagi mereka yang masih anak-anak dan remaja. Mereka menghabiskan sangat sedikit waktu untuk bermain, berbicara, bahkan kontak mata dengan para sahabat dan keluarga, karenanya. Sehingga banyak mengurangi kesempatan bersosialisasi, yang seharusnya menjadi kebutuhan esensial untuk kesuksesan pertumbuhan relasi kemanusiaan. Haidth menyebutnya masa the Great Rewiring of Childhood.
The Great Rewiring bukan hanya tentang perubahan teknologi komunikasi yang terus membentuk karakter keseharian anak dan pola pikirnya, namun juga menyebabkan sikap overprotecting orangtua terhadap anak, yang banyak membatasi ruang gerak mereka di dunia nyata.
Terjadi perubahan dari “play-based childhood” ke “phone-based childhood”. Atau dari overprotection di dunia nyata ke underprotection di dunia maya.
…
Hubungan Sosial
Ketika teknologi komunikasi jarak jauh seperti telepon atau telegram masih belum terjangkau di abad yang lalu, Surat melalui transportasi darat/air adalah pilihan satu-satunya. Dan itu pun masih bisa menjaga hubungan sosial pertemanan dan kekerabatan. Menurut Haidt, kuncinya adalah komitmen untuk membina hubungan sosial.
Kini, ketika teknologi komunikasi jarak jauh semakin maju, banyak pihak mulai menggunakan istilah The World is Flat, justru hubungan sosial itu semakin renggang. Dan banyak pemilik akun media sosial pun bahkan menggunakan nama samaran untuk menjauhkan diri dari koneksitas. Atau, menjauhkan diri dari komitmen hubungan sosial. Keterasingan, kesepian dan hilangnya keakraban karena kekerabatan semu melalui media sosial, menjadi gaya hidup masyarakat internet saat ini. Semu, karena pertemanan dalam media sosial menjadi terlihat mudah dibuat dan diputuskan hanya melalui satu kali klik saja.
Haidt, sebagai profesor psikologi sosial di Universitas New York, menemukan dua hal positif terkait Gen Z, yaitu:
Meskipun dalam kesulitan, mereka mempunyai kekuatan dan kegigihan sebagai bekal untuk melakukan perubahan sistemik ke arah dunia yang lebih baik
Mereka ingin terlibat dalam membuat perubahan menuju dunia yang lebih baik. Tentu dengan menggunakan media sosial sebagai alat pengorganisasian yang mereka kuasai. Banyak bukti organisasi bisnis dan sosial yang digerakkan oleh para Gen Z.
…
Yang Terjadi
In 2010 there was little sign of a mental health crisis. Now it’s all around us.
Tanda-tanda munculnya gangguan mental pada remaja mulai terlihat di tahun 2000an. Kemudian meningkat pesat mulai tahun 2010.
Fokus Haidt pada penulisan buku ini adalah mengangkat isu:
Mengapa tingkat penyakit mental Generasi-Z terus meningkat antara tahun 2010-2015? Sementara generasi sebelumnya tidak cukup terdampak.
Mengapa secara umum terjadi peningkatan gangguan kecemasan dan depresi pada remaja di berbagai belahan dunia?
Penelitian tahunan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap para remaja, disajikan dalam grafik berikut ini. Terjadi peningkatan jumlah kasus “major depressive episode”.
Percent of U.S. teens (ages 12–17) who had at least one major depressive episode in the past year, by self-report based on a symptom checklist. Now updated with data beyond 2016. (Source: U.S. National Survey on Drug Use and Health)
Hasil survey diatas diperoleh dari beberapa pertanyaan yang diberikan terhadap remaja, seperti: “apakah anda mengalami perasaan sedih, kosong, depresi, dalam jangka panjang?” Atau, “apakah anda mengalami kebosanan dalam periode yang lama terhadap hal-hal yang sebelumnya anda sukai?”, dll. Haidt menyebut tahun 2010-2015 adalah periode “The Great Rewiring”.
Percent of U.S. high school seniors who agreed or mostly agreed with the statement “People like me don’t have much of a chance at a successful life.” (Source: Monitoring the Future.)
Kondisi semakin buruk di masa Covid. Satu dari empat remaja perempuan AS mengalami depresi. Dan semakin buruk pada tahun 2021. Namun sebenarnya peningkatan pesat sudah dimulai sebelum terjadinya pandemi Covid.
Mental Illness Among College Students
Percent of U.S. undergraduates with each of several mental illnesses. Rates of diagnosis of various mental illnesses increased in the 2010s among college students, especially for anxiety and depression. (Source: American College Health Association)
Grafik diatas menunjukkan bahwa Gangguan Mental terbanyak pada remaja AS adalah tipe Anxiety, dengan urutan selanjutnya adalah tipe Depresi.
Lalu, who is suffering from what, beginning when? Hal tersebut yang menjadi perhatian Haidt supaya dapat diidentifikasi berbagai penyebab gelombang ekstrim pada grafik tersebut, untuk selanjutnya dapat disikapi untuk mengembalikannya ke posisi normal.
Dari berbagai data yang tersedia tentang kesehatan mental remaja, yang disajikan Haidt, diketahui beberapa petunjuk awal, bahwa:
Gangguan Mental yang banyak ditemukan di kampus-kampus tahun 2010an, dapat dikategorikan sebagai internalizing disorders. Penderita merasa khawatir, takut, sedih. Simtom inwardly, menarik/menutup diri dari lingkungan sosial. Sangat tertekan. Sementara gejala externalizing disorder, sering ditemukan pada laki-laki, meskipun tidak sebanyak penderita internalizing disorders. Respon externalizing disorder adalah outwardly, yaitu perilaku kacau, kesulitan pengendalian kemarahan, cenderung berbuat kekerasan dan berisiko tinggi.
Sebelum tahun 2012, tidak terlihat adanya kecenderungan peningkatan Gangguan Mental. Namun justru terjadi kenaikan pesat setelahnya.pada Generasi Z (Gen-Z), yang diikuti oleh Generasi Milenial (Gen-Y). Sementara dua grafik Generasi yang lebih tua menunjukkan garis landai di kurun waktu yang sama.
…
WHAT IS ANXIETY?
Anxiety is related to fear, but is not the same thing. Fear as “the emotional response to real or perceived imminent threat, whereas anxiety is anticipation of future threat.” Mungkin bisa diterjemahkan sebagai Khawatir?
Kesimpulan sementara, Anxiety adalah Gangguan Mental terbanyak yang diderita oleh anak muda pada saat ini.
Studi tahun 2022 terhadap lebih dari 37.000 siswa SMU di Wisconsin, ditemukan fakta adanya peningkatan penderita Anxiety dari 34% di tahun 2012 ke 44% di tahun 2018. Yang umumnya adalah perempuan (from 26.13% in 2010 to 40.03% in 2021) dan remaja juga LGBTQ.
Hasil survei tahun 2023 terhadap tingkat keseringan Gangguan Mental tipe Depresi dirasakan oleh siswa SMU di AS (college) adalah,
16% : “always” or “most of the time,”
24% : “about half the time,” dan
60% : “less than half the time” or “never.”
Only one-third of college students said they feel Anxiety less than half the time or never.
Fear adalah respon cepat terhadap munculnya ancaman, akan memicu Otak mamalia untuk segera melakukan tindakan. Bahkan sebelum penglihatan mata sempat memberikan perintah pada pusat visual otak bagian belakang untuk melakukan analisa sepenuhnya.
Fear is an alarm bell connected to a rapid response system.
Fear akan segera memicu sepenuhnya terhadap sistem respon dalam situasi berbahaya (Takut), sedangkan Anxiety hanya akan memicu sebagian sistem yang sama apabila ancaman mungkin bisa terjadi (Khawatir).
Anxiety masih bisa dianggap sehat/normal apabila situasi berbahaya memang potensial terjadi. Namun bila hal-hal kecil yang bisa dianggap wajar, tetap memicu munculnya Anxiety, maka temporary anxiety bisa berubah menjadi anxiety disorder.
Beberapa dampak buruk Anxiety adalah:
Fisik, terasa tegang dan sesak pada bagian perut dan dada
Emosi, terasa takut, khawatir dan lelah
Kognitif, sering merasa sulit fokus atau berpikir jernih, terbenam dalam pemikiran berlebihan (deep thought) yang tidak produktif; cognitive distortion. Biasa menjadi objek cognitive behavioral therapy (CBT) seperti catastrophizing, overgeneralizing, and black-and-white thinking.
…
Medsos lebih berdampak buruk terhadap perempuan
Sketsa gadis 12 tahun di akun Instagramnya
Penderita depresi dan anorexia yang sebelumnya tertarik dengan konten Gym, kemudian berubah pecinta fashion dan berujung pro-anorexia. Tergiring arus algoritma instagram dan teralienasi di lingkungan sosial sekolah karena budaya popular yang terbentuk oleh media sosial.
Berbagai studi acak yang dilakukan Twenge menunjukkan kesimpulan yang tak beda dengan Haidt, bahwa, “Social media use is a cause of anxiety, depression, and other ailments, not just a correlate”.
Bila di tahun 2010an para remaja lelaki suka menggunakan internet untuk menonton video di Youtube dan bermain Game Online, maka para gadis lebih senang menggunakannya untuk bermain aplikasi berbasis visual seperti Instagram, Snapchat, Pinterest dan Tumblr.
Tahun 2017, studi yang dilakukan terhadap remaja UK, menunjukkan bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang paling menyebabkan dampak buruk pada penggunanya, yang diantaranya adalah kecemasan, kesepian, anorexia dan kesulitan tidur.
…
Yang diharapkan
Collective action problems atau Social Dilemma terjadi ketika anak-anak usia Sekolah Dasar mulai merengek minta smartphone dengan alasan teman-teman di sekolah juga memilikinya. Bahkan mereka pun sudah memiliki akun media sosial seperti Instagram dll. Orangtua sadar bahwa smartphone belum waktunya untuk dimiliki oleh anak-anak tersebut. Namun rasa terasing di lingkungan sekolah karena tidak mempunyai smartphone, juga menjadi persoalan penting bagi orangtua. Ujung cerita bisa diduga, anak-anak tersebut akhirnya sibuk bermain smartphone. Berakhirlah masa the play-based childhood, dan digantikan oleh phone-based childhood.
Collective responses sangat diperlukan untuk mencegah dampak lebih buruk yang akan terjadi akibat penggunaan teknologi maju bagi para pengguna yang masih muda tersebut. Haidt menyarankan,
Voluntary coordination. Misal, melakukan kerjasama sukarela para orangtua untuk secara bersama-sama tidak memberi smartphone bagi anak-anak, setidaknya hingga kelas 8. Gerakan Wait Until 8th.
Social norms and moralization. Pendekatan normatif atau moral untuk melarang penggunaan smartphone pada usia dini. Seperti halnya pelarangan mengemudi mobil saat mengkonsumsi minuman beralkohol.
Technological solutions. Misal hanya mengijinkan anak-anak menggunakan smartphone untuk telepon saja
Laws and rules. Ada syarat minimal usia untuk diperbolehkan menggunakan aplikasi media sosial oleh perusahaan penyedia layanan. Dan perusahaan tersebut mampu memverifikasi usia penggunanya. Atau sekolah menyediakan locker untuk menyimpan smartphone para muridnya
Peran Pemerintah dan Perusahaan Teknologi
Dalam Proses Bisnis media sosial (Facebook, Instagram, TikTok, dll.), Pengguna aplikasi yang seharusnya sebagai Users, akan diubah menjadi Produk. Customer sesungguhnya adalah mereka (Pengguna Berbayar) yang membutuhkan Produk, sesuai kategori yang tersaring melalui view, like atau comment terhadap Unggahan yang yang dijajakan oleh perusahaan aplikasi. Oleh karenanya, perusahaan aplikasi perlu selalu perbaiki aplikasinya supaya semakin banyak Produknya sehingga menarik hati Customer untuk membelinya.
Perlu diketahui bahwa bisnis model aplikasi media sosial yang perolehan Revenue nya berasal dari penjualan Produk (Users), ada 3 upaya penting yang menjadi prioritas untuk dilakukannya, yaitu:
Perbanyak Users
Upayakan users untuk lebih lama menggunakan aplikasi
Upayakan Users supaya lebih sering unggah content yang mampu menarik lebih banyak Users, untuk menggunakan aplikasi tersebut
Jelas bahwa dari ketiga upaya aplikasi diatas, mempunyai tujuan antara untuk membuat Users menjadi ketagihan (addicted). Tentu tujuan akhirnya adalah keuntungan finansial belaka. Tak peduli bahwa ketagihan bermain gawai akan berdampak buruk pada pengguna dan lingkungan sosialnya.
Dengan gencarnya serbuan teknologi komunikasi yang berbahaya tersebut, diharapkan supaya para pihak, termasuk Pemerintah untuk segera bisa melakukan intervensi sehingga media sosial tidak lagi atau setidaknya mampu mengurangi dampak buruk terhadap remaja serta dewasa muda. Dan para orangtua pun mempunyai kebebasan untuk memilih cara mendidik dan lebih menjaga putra-putrinya dari serangan teknologi komunikasi.
Bagaikan “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, kuman di seberang lautan nampak”. Semoga PP Tunas atau PP 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, segera terasakan faedahnya. Silahkan regulator sibuk berdiskusi dan mempersiapkan tindakan nyata tentang pendidikan dan lingkungannya yang sehat, sehingga dapat segera mengamankan anak murid dari paparan dampak teknologi komunikasi. Maka langkah prioritas sebaiknya segera dikerjakan, yaitu Sekolah Bebas Handphone dan Banyak Bermaindi dunia nyata. The play-based childhood.
Cerita tentang Kopi selalu menarik. Terbayang langsung aroma panas kopi mengepul, nikmat. Teringat kawan serumah di tahun 1993, si peminum kopi, alm. Ondos. Dia sudah berharap punya kafe kecil yang hanya menjual minuman kopi panas. Entah darimana dia bisa punya ide itu. Starbucks baru ada di Indonesia tahun 1996. Plaza Indonesia tempatnya. Belum puas kita ngopi bersamanya, YME pun telah lebih dulu memanggilnya di tahun 2012. RIP Ondos, tulisan ini untukmu kawan.
Tahun 2011 terbit buku “Onward”, karya Howard Schultz. Oleh penerbit John Wiley & Sons Ltd, UK. Buku lama dalam format ebook Kindle ini, baru saat ini sempat dibuatkan catatannya.
Suka atau tidak, Starbucks memang menjadi trend setter dalam pengusahaan Kafe Kopi sehingga menginspirasi banyak pihak untuk juga membangun bisnis yang sama. Meskipun Schultz membantahnya, “Starbucks never set out to be cool. We set out to be relevant!”.
Ini cerita tentang perjuangan dan kesuksesan bisnis penyedia minuman Kopi yang telah mendunia.
Tentang Kopi sendiri, ada buku bagus yang pada saatnya nanti akan dibuatkan sedikit tulisan tentangnya, dalam blog ini juga. Judul bukunya adalah “The World Atlas of COFFEE”, karya James Hoffmann.
Yet the only reason our partners can make our customers feel good is because of how our partners feel about the company. Proud. Inspired. Appreciated. Cared for. Respected. Connected. -Bab 14-
Sesuai dengan judul buku, ada beberapa jargon penyemangat dalam kata “Onward” menurut Schultz, namun satu yang terlihat militan adalah,
“Onward” meant fighting with not just heart and hope, but also intelligence and operational rigor, constantly striving to balance benevolence with accountability.
…
Kronologi
Howard Schultz, berasal dari Brooklyn, New York, mulai bekerja di Starbucks tahun 1982 sebagai direktur Marketing di Pike Place Market, New Seattle. Cikal-bakal Kafe Starbucks dimulai oleh ide Schultz, yang menjual minuman kopi di tahun 1984. Sebelumnya hanya menjual biji kopi dan peralatannya, yang dibuka pertama kalinya tahun 1971.
Schultz keluar dari Starbucks pada tahun 1985 setelah ada perbedaan visi dengan pendiri Starbucks, Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker. Schultz kemudian membuka kafe miliknya sendiri yang bernama Il Giornale pada tahun 1986. Konsep Il Giornale mirip dengan visi Schultz untuk mengubah Starbucks menjadi kafe yang menyajikan kopi siap saji.
Pada 1987, Schultz membeli Starbucks dari para pendirinya dan menggabungkan Il Giornale dengan Starbucks, menjadikan Starbucks Coffee Company, sebagai kafe dengan konsep yang lebih luas dan global. Dua espresso bar dibukanya. Satu di Seattle dan lainnya di Vancouver, Canada. Akhir 1987, sudah memiliki 11 toko dengan total 100 pekerja.
Saat buku ini ditulis, 2011, Starbucks telah mempunyai Pendapatan tahunan lebih dari $10 milyar, dengan Net Income sebesar $1.245,7 Juta (Annual Report 2011). Melayani hampir 60 juta konsumen per minggu dari 16,000 gerai di 54 negara bagian. Lebih dari 200,000 orang yang kemudian disebutnya sebagai partner atau karyawan Starbucks.
Tahun 2000, Schultz mengundurkan diri sebagai CEO, untuk menjadi Chairman yang lebih fokus pada Global Strategy dan pengembangan bisnis.
Tahun 2007, Starbucks mengalami penurunan capaian. Kondisi ekonomi global dan persaingan bisnis yang semakin ketat serta kinerja yang tidak bagus mendorong Schultz untuk kembali sebagai CEO di tahun 2008.
Selasa sore, Feb 2008, Starbucks menutup semua gerai di AS, dengan catatan di 7.100 pintunya:
“We’re taking time to perfect our espresso.
Great espresso requires practice.
That’s why we’re dedicating ourselves to honing our craft.”
Training barista sebanyak 135.000 orang, untuk menyeduh espresso secara sempurna, perlu dilakukan ulang. “Pouring espresso is an art”, dan merupakan bagian dari kualitas beverage. Begitu tinggi Starbucks menghargai Barista.
Starbucks has always been about so much more than coffee. But without great coffee, we have no reason to exist.
Kualitas Kopi dan Pelayanan adalah prioritas utama, dan Profit akan dengan sendirinya mengikuti. Betulkah? Mungkin sebagai jargon pembungkus atau penyemangat kerja bisa jadi benar adanya. Namun sebagai entitas bisnis, tentu Profit adalah tujuan utamanya. Setidaknya, diharapkan Profit akan diperoleh dengan landasan etika bisnis yang benar. Seperti tertulis pada sampul depan bukunya, “How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul”.
…
Inspirasi Milan
Setelah setahun bekerja di Starbucks yang mempunyai empat gerai, sebagai Head of Marketing, Schultz melakukan kunjungan bisnis ke Milan, Italia pada tahun 1983. Ini adalah kunjungan yang menurutnya menjadi benih kesuksesan, dan berkembang menjadi Starbucks Coffee Company hingga saat ini.
Kunjungan ke Milan, dalam event pameran perdagangan kopi, saat itu dirasakannya sungguh berkesan dan menginspirasi. Seorang penyedia minuman kopi, dikenal dengan sebutan Barista, menyapanya ramah, seolah sudah lama saling kenal. Serasa lentur lincah dan anggun menari ketika menggerus biji kopi, memanaskan susu, dan menuangkan espresso untuk membuat cappucino. Sambil bercengkrama renyah dengan pelanggan dari balik bar. Setiap pengunjung serasa saling kenal. Akrab komunikasinya dan nikmat kopinya. Sangat mengesankan.
This is not his job, I thought, it’s his passion. This was so much more than a coffee break; this was theater. An experience in and of itself.
Ada satu kesamaan dalam event besar pameran tersebut, yaitu semua gerai kopi di dalamnya selalu menunjukkan Barista yang berpengalaman dalam membuat espresso, cappucino dan menu kopi lainnya, serta nuansa hangat dan akrab pada pengunjungnya. Bukan lagi pelanggan, namun pertemanan saja layaknya.
Penyatuan yang kental antara kefasihan dalam penyediaan kopi yang dipadukan dengan kehangatan hubungan kemanusiaan, serta aroma kental harumnya kopi sungguh melambungkan rasa kenikmatan.
Pengalaman di atas sangat menginspirasi Howard untuk bisa merealisasikan mimpinya melalui kepemilikan Starbucks, yang tidak hanya menyediakan biji dan bubuk kopi, namun juga menyediakan minuman kopi. Untuk itu,
Work should be personal. Yes, love what you do, but your company should love you back.
But like crafting the perfect cup of coffee, creating an engaging, respectful, trusting workplace culture is not the result of any one thing. It’s a combination of intent, process, and heart, a trio that must constantly be fine-tuned.
Tahun 2000, dari 2.600 gerai Starbucks di 13 negara, telah menghasilkan pendapatan $2 milyar. Pertumbuhan tahunan sejak 1992 mencapai 49%. Dan menjadi
… purveyors of the world’s highest-quality coffees.
Tahun 1992, Starbucks mulai melantai di bursa saham. Saat itu nilai valuasinya $250 juta. Tahun 2011, saat terbitnya buku ini, valuasinya sudah mencapai $24 milyar. Per minggunya, gerai Starbucks dikunjungi 45 juta konsumen.
…
Peran CEO
Schultz kembalin sebagai CEO di tahun 2008. Dua komitmen penting utk diri sendiri:
Tidak akan sibuk mengungkit peran CEO masa lalu. Yg lebih penting adalah perbaikan dan inovatif,
Tidak akan sibuk mencari-cari kesalahan masa lalu
Kekuatiran sempat muncul dari partner (karyawan) Starbucks, berhubung The Wall Street Journal memuat artikel bahwa McD mulai memasuki pasar kopi. Saat itu di AS hanya ada 800 gerai McD yang menyediakan minuman mix espresso dengan milk, yang dibuat oleh mesin kopi otomatis. Dan segera berkembang di 14.000 gerai McD di AS. Guyuran $100 juta dilakukan untuk belanja iklan. McD juga menyediakan kapital sebesar $ 1 miliar untuk renovasi gerainya menjadi McCafes.
Namun keterpurukan Starbucks saat itu bukan karena kompetisi dengan McD atau Dunkin Donut, melainkan karena kondisi ekonomi global yang terpuruk, sehingga membuat belanja masyarakat tertekan.
Starbucks berkeyakinan tinggi terhadap kualitas kopi seduh dan minuman espressonya, karena biji kopi berasal dari perkebunan kopi pilihan sendiri dan dimasak (roasting) di pabrik sendiri. Sementara McD dan Dunkin Donut mendapatkan biji kopi bukan hasil kebun sendiri dan juga dimasak oleh produsen lain.
Untuk kompetisi di pasar, penting untuk tidak memberi peluang pesaing dapat merebut pelanggan Starbucks.
…
Langkah Baru
Langkah pertama yang dilakukan Schultz sekembalinya sebagai CEO lagi, adalah mengangkat Chief of Staff, yang bisa selalu melekat dan bekerjasama dengan dirinya, serta berpegang pada visi jangka panjangnya, Transformation Agenda. Pekerja keras, smart, creative leader. Dia adalah pimpinan strategis yang mengangkat minuman Frappuccino menjadi bernilai $2 milyar di tahun 1990. Michelle Gass, telah bekerja di Starbucks 12 tahun. Mampu mengejawantahkan budaya kerja dan nila-nilai Starbucks. Serta tidak segan untuk berbeda pendapat dengan Schultz.
Coffee will never lose its romance. It will always bring people together and be part of conversations in every language, even as the conversations change. Coffee will forever connect.
…
Kualitas Kopi
Kondisi cuaca yang buruk atau ekstrim, dapat menghasilkan biji kopi berkualitas bagus namun tak banyak jumlah biji kopi yang dihasilkan untuk setiap pohonnya. Ini yang menyebabkan Kopi Arabika menjadi mahal harganya. Lebih mahal daripada Kopi Robusta.
In its almost 40-year history, Starbucks Coffee has never used a single pound of robusta beans in our products.
Menurut Schultz, hanya 3% biji kopi Arabika berkualitas tinggi di dunia yang dianggap baik dan bisa dipergunakan di Starbucks.
Filosofi Starbucks dalam memanggang (roasting) kopi adalah menyangrai setiap biji kopi dengan cara mengekstraksi potensi maksimalnya, hingga tercapai puncak kenikmatan rasa kopinya. Starbucks biasa menyebut metode roasting seperti itu sebagai Full City roast. Sehingga mampu mengangkat semua kekayaan cita rasa kopi, keasaman dan keseimbangan rasa yang rumit, namun tetap menyegarkan tanpa mengurangi nuansa asli dari biji kopi.
Untuk kepentingan diatas, Starbucks terus mengembangkan software dan hardwarenya sehingga membantu pengendalian dan mereplikasinya untuk dapat dipergunakan di semua gerainya. Hal seperti ini yang belum mampu dilakukan oleh para kompetitornya.
Tahun 2007, rasa kopi Starbucks yang digemari konsumen adalah dark roast dan original blend. Banyak yang tidak menyadari bahwa Starbucks melakukan brewing (penyeduhan) setiap hari, sehingga sangat mungkin terjadi perbedaan rasa setiap harinya. Ini berakibat muncul kesan rasa kopi Starbucks tidak konsisten.
Saat itu, banyak penggemar kopi seduh di AS menganggap bahwa produk Starbucks lebih terasa “burnt” daripada “bold”. Maksudnya,
Burnt (Gosong)
Rasa kopi “burnt” atau terbakar muncul akibat proses penyangraian (roasting) biji kopi yang terlalu lama atau terlalu panas. Biji kopi yang terlalu lama disangrai akan kehilangan rasa aslinya dan menghasilkan rasa pahit yang kuat, gosong, dan tidak sedap seperti arang. Rasa “burnt” ini sangat tidak diinginkan dalam secangkir kopi karena menutupi rasa kopi yang seharusnya nikmat.
Bold (Kuat)
Rasa kopi “bold” atau kuat menggambarkan kopi yang memiliki intensitas rasa yang tinggi dan kuat. Rasa “bold” ini tidak selalu berarti pahit, tetapi lebih kepada rasa yang kaya dan kompleks. Kopi dengan rasa “bold” seringkali memiliki body yang tebal dan aroma yang kuat. Rasa “bold” ini bisa ditemukan pada kopi yang menggunakan biji kopi robusta atau campuran robusta dan arabika.
Rasa Bold juga bisa diperoleh dari biji kopi Arabika, bila disangrai hingga tingkat yang lebih gelap (dark roast).
Dan keunggulan yang diharapkan bisa menjadi signature Starbucks adalah bold experience. Namun yang membuat jengah, adalah di tahun 2007, dari uji kualitas oleh para penggemar kopi, Consumer Reports menyatakan bahwa kualitas kopi Starbucks justru berada di belakang McDonald.
Informasi tidak resmi dari publik menunjukkan bahwa penggemar kopi seduh berharap Starbucks bisa menyediakan kopi seduh yang memberi rasa konsisten dan balanced setiap harinya. Partner (Starbucks menyebut ‘karyawan’ dengan istilah Partner) meyakini bisa menyediakannya tanpa harus berkompromi dengan mengorbankan jatidiri Starbucks.
Pengalaman menarik yang diceritakan Schultz adalah tentang penyeduhan kopi. Menurutnya, pengalaman selama 25 tahun sebagai penikmat kopi, metode penyeduhan French Press (bubuk kopi tetap terendam dalam air panas di dasar gelas) lebih menghasilkan rasa kopi yang nikmat dibanding hasil metode Dripping (Larutan kopi sudah lolos dari bubuk kopi di atas kertas).
French Press
Dripping
Clover adalah mesin brewing yang kemudian dipergunakan Starbucks di berbagai gerainya. Alih-alih menggunakan tekanan dari atas (French Press), Clover menghisap air panas dari bawah kopi untuk mengalirkannya meresap ke dalam kopi dan menetes ke bawah.
Pengujian roasting biji kopi Starbucks untuk mendapatkan hasil yang balanced dan kaya rasa, dilakukan pada Januari 2008. Metode roasting terbaik yang kemudian menjadi unggulan Starbucks dinamai Pike Place Roast. Biji kopi yang digunakan berasal dari Colombia, Guatemala, dan Sumatra. Roasting dilakukan dengan berbagai kombinasi temperatur hingga menghasilkan perpaduan yang tepat, antara suhu dan waktu. Ditunjukkan dalam kurva Roast. Kemudian dilanjutkan dengan blending dan cupping.
Pike Place had to come out of the gate screaming not only that it was a new brew, but also that Starbucks was back and dead serious about recapturing our coffee authority.
Pike Place Roast and Clover, were our answers to reinventing brewed coffee.
“We will transform the company internally by being true to our coffee core and by doing what will be best for customers, not what will boost comps”.
Mastrena
Tahun 2000, mesin espresso La Marzocco yang sempat menjadi andalan Starbucks digantikan oleh Verismo 801 produk Thermoplan, Swiss. Selanjutnya tahun 2008, digantikan oleh Mastrena, dari produsen yang sama, yang lebih canggih, mahal dan memberi hasil kopi yang konsisten.
…
Seven Big Moves
Starbucks, yang 70% pendapatan totalnya diperoleh dari gerai di AS, menyebut Visi strategisnya sebagai Seven Big Moves, yaitu:
Be the undisputed coffee authority
Engage and inspire our partners
Ignite the emotional attachment with our customers
Expand our global presence—while making each store the heart of the local neighborhood
Be a leader in ethical sourcing and environmental impact
Create innovative growth platforms worthy of our coffee
Deliver a sustainable economic model
Untuk mengamankan dan mengembangkan gerai-gerai tersebut, dibutuhkan keahlian juga kedisiplinan, yang mampu mengejawantahkan serta mengeksekusi strategi baru, sebagai turunan dari Visi diatas, yang lebih fokus pada kopi dan pelanggan.
If we had any hope of reigniting their emotional attachment, we had to replace our comps-at-any-cost mind-set with a customer-centric one.
…
Masa sulit
Akhir 2008, 30% gerai Starbucks di AS sudah menggunakan mesin espresso buatan Swiss, Mastrena. Dan di 2010, mayoritas Starbucks di AS sudah menggunakannya. Schultz sangat membanggakan mesin ini,
“It’s an unbelievable tool that will provide us with the highest-quality consistent shot of espresso that will be second to none and will transform the espresso experience in our stores.”
Di masa sulit tahun 2007, penjualan menurun drastis. Namun, survey menunjukkan bahwa pelanggan tidak sepenuhnya meninggalkan Starbucks. Mereka hanya mengurangi frekuensi belanja di gerai Starbucks, karena kondisi ekonomi global yang memang sedang sulit.
Kondisi ekonomi AS yang semakin buruk, memicu turunnya harga saham Starbucks dari $18.34 menjadi $17.50, dalam satu hari. Biaya tenagakerja menjadi mahal, demikian juga dengan komoditi produk dairy. Sehingga menggerus margin keuntungan.
Ada suatu keyakinan dalam kultur Starbucks yang didengungkan oleh Schultz, bahwa Transformasi dalam situasi ekonomi yang sulit, tidak cukup hanya “mengetatkan ikat pinggang”. Namun ada juga Nilai disana yang perlu dirasakan dan diyakini oleh para karyawan bahwa bisnis Starbucks adalah merekatkan hubungan antar manusia, the business of human connection. Di lingkungan perkebunan, kantor, gerai dan komunitas yang terkait dengan Starbucks.
Our customers were hurting, and we needed to find ways to offer value without damaging the brand through price cuts.
Untuk itu, selama 11 minggu telah dilakukan berbagai kegiatan seperti brainstorming summit, retreat untuk 200 pimpinan tertinggi, forum terbuka, memo, belanja masalah terkait agenda Transformasi, membuat misi baru, Dan dilakukan pertemuan tahunan.
Survei internal memang menunjukkan bahwa penurunan Penjualan bukan disebabkan oleh kesalahan aksi korporasi. Melainkan karena kondisi krisis ekonomi global.
…
Kepemimpinan Gerai
Menurut Schultz, yang dianggap sebagai Manajer Gerai (store manager) terbaik Starbucks, adalah mereka yang diharapkan mampu berperan ganda dalam banyak hal, seperti sebagai pelatih, pimpinan, marketer, pengusaha, akuntan, duta komunitas, juga pedagang. Mereka cerdas, selalu optimis dan penuh semangat, serta kreatif, analitis, juga problem solver dalam mengelola loyalitas karyawan, pelanggan dan tentu juga perhatian terhadap Pendapatan. Manager Gerai adalah peran yang sangat penting dalam pengusahaan Starbucks.
Musim panas 2008, Cliff Burrows, pimpinan Starbucks Eropa, Middle East, dan Africa, diangkat menjadi Kepala Starbucks AS. Banyak hal yang mesti dibenahi.
Laporan regular dari Manager menunjukkan Gerai selalu dalam situasi bagus, namun Revenue selalu rendah. Kurang karyawan, inventori bermasalah, kopi banyak terbuang, gerai kotor dan pelanggan banyak menunggu kopi terhidang. Intinya, karyawan sibuk, namun kopi selalu lambat datang.
Schultz meyakini bahwa itu semua bukan kesalahan karyawan, atau partner menurut istilah Starbucks. Karyawan sudah bekerja benar, menurut perintah yang diberikan dan sesuai dengan pelatihan yang didapatkannya.
Starbucks membutuhkan sistem operasi yang lebih mudah, jelas dan terukur untuk dijalankan karyawan sehingga mampu memaksimalkan Pendapatan yang diharapkan.
Starbucks may have started a coffee revolution, but when it came to the technology revolution, we missed the boat.
…
Evaluasi Diri
Juli 2008 adalah 26 tahun Schultz bersama Starbucks. Krisis ekonomi global dan lemahnya manajemen yang mengakibatkan merosotnya Pendapatan, menghasilkan keputusan 1 Juli 2008, ditutupnya 600 gerai di AS atau representasi 8% jumlah gerai di AS. Itu berarti menutup 12.000 posisi atau merumahkan 7% dari total tenagakerja Starbucks di dunia. Juga write-off aset sebesar $200 juta dan menanggung sewa gerai sebesar $130 juta.
Sebanyak 70% dari seluruh gerai yang harus ditutup, baru dibuka tiga tahun sebelumnya. Atau 20% dari 2.300 gerai yang baru dibuka saat itu. Ironis.
Dari seluruh gerai yang ditutup, sebanyak 70% karyawannya dipindahkan ke gerai lainnya.
Kritik Schultz terhadap diri sendiri, We thought all we had to do was show up to be successful.
Dengan pengalaman tersebut, Schultz berpendapat bahwa: Success is not sustainable if it’s defined by how big you become.
Large numbers that once captivated me—40,000 stores!—are not what matter. The only number that matters is “one.” One cup. One customer. One partner. One experience at a time. We had to get back to what mattered most.
Media Christian Science Monitor menyajikan kritik berjudul “Why Starbucks Lost Its Mojo”. Menurutnya, Starbucks salah asumsi bahwa gaya hidup “cool” yang dijajakannya adalah gaya kelas menengah Amerika. Dan Schultz pun membantahnya, “Starbucks never set out to be cool. We set out to be relevant!”
…
Kreatifitas
IG: @visionaryyminds
Juli 2008, satu juta pelanggan telah menggunakan Starbucks Card untuk menyimpan uangnya senilai $150 juta. Dan di tahun 2022, menyimpan $1,6 Milyar.
ChatGPT memberi komentar tentang angka tersebut sbb.: Pada tahun 2022, saldo yang mengendap di Starbucks Card secara global mencapai sekitar $1,723 miliar. Dengan asumsi saldo rata-rata per kartu adalah $50, jumlah kartu yang beredar dapat diperkirakan sekitar 34,46 juta. Namun, tanpa data spesifik mengenai saldo rata-rata per kartu, angka ini hanya perkiraan kasar.
Produk lain untuk meningkatkan penjualan pada sore hari adalah Treat Receipt. Yaitu pelanggan yang berbelanja di Starbucks pada pagi hari, bisa datang lagi pada sore harinya, setelah jam 14.00, untuk mendapatkan minuman dingin ukuran grande hanya dengan membayar $2.
Pilpres AS akan dilakukan pada 4 November 2008. Kandidat Demokrat adalah Obama/Bidden dan kandidat Republik adalah John McCain/Sarah Palin. Starbucks akan memberikan secangkir kopi bagi mereka yang telah melakukan pencoblosan.
Iklan muncul di layar bis kota,
IF YOU CARE ENOUGH TO VOTE,
WE CARE ENOUGH TO GIVE YOU
A FREE CUP OF COFFEE.
COME INTO STARBUCKS ON NOV. 4TH
TELL US YOU VOTED,
AND WE’LL PROUDLY GIVE YOU
A TALL CUP OF BREWED COFFEE ON US.
Iklan juga mulai muncul di Facebook, Twitter dan Youtube.
…
VIA sachet
Pengalaman dengan produk VIA, kopi Starbucks dalam sachet yang mulai diproduksi tahun 2009. Setelah 10 bulan di pasar, penjualan VIA di AS mencapai $100 juta pada tahun 2010. Prestasi yang luar biasa, Menurut SymphonyIRI Group, konsultan survei, hanya 0,3% produk retail mampu mencapai penjualan sebesar $100 juta dalam satu tahun.
VIA tidak lagi hanya sebuah produk, melainkan sudah menjadi brand platform. September 2010, Starbucks memproduksi VIA decaf, iced coffee, dan VIA rasa vanilla, mocha, caramel, serta cinnamon.
Oktober 2010, Howard mencicipi coffee blend baru, untuk memperingati 40 tahun Starbucks, yang berisikan kopi Sumatra (rasa cedar dan pedas), Colombian, Ethiopia (aroma berry) dan Papua New Guinea.
“The coffee hit my tongue with a beautiful aged cedar note that gave way to a robust fruitiness and ended with a balanced acidity. We named it,Tribute Blend”.
…
Penghematan
Pemborosan adalah salah satu penyebab kerugian besar Starbucks. Belanja ratusan ribu dollar untuk hal-hal yang tidak seharusnya dibutuhkan. Seperti, pengapalan bahan mentah dari AS ke Eropa, yang seharusnya bisa dicukupi dari lokal Eropa. Selain itu, sering diterima keluhan pelanggan karena ketiadaan beberapa jenis minuman yang biasa tersedia.
Schultz mengakui adanya kesalahan selama ini. Ahli Supply Change Organization (SCO) menjadi kebutuhan Starbucks.
Peter Gibbons sebagai pimpinan SCO mempunyai tiga kata kunci strategi transformasi: “Service. Cost. People.” Dan tiga goal SCO adalah:
Berikan layanan prima terhadap pelanggan
Biaya serendah mungkin
Terus kembangkan kemampuan karyawan dan rekrut ahli transportasi, logistik, engineering dan quality control.
Pemotongan permanen biaya total Operasi Starbucks sebesar $400 juta pun dilakukan. Diantaranya, pemotongan biaya di manufacturing, logistic, procurement, sisa makanan dan labor cost (efisiensi, bukan pemecatan). Juga penutupan beberapa gerai.
Komunikasi publik menjadi isu penting bagi Starbucks untuk mencegah kesalahan informasi yang berpengaruh terhadap penjualan. Untuk itu media sosial menjadi penting untuk dipergunakan.
Facebook, Twitter dan web menjadi alat Starbucks untuk mendengar dan menyampaikan pesan dari/ke pelanggan. Serta untuk mengembangkan bisnis.
…
Bangkit
Di kuartal ke-3 2009, Starbucks mengalami kenaikan fiskal. Keuntungan per lembar saham mencapai $5 cent. Perusahaan mendapatkan keuntungan $152 juta. Setelah mengalami kerugian hampir $7 juta di tahun sebelumnya.
Penurunan Comps (comparative what store sales) cenderung berbalik ke arah positif sejak Desember 2008. Fixed cost menurun drastis, terutama di AS. Margin operasi menjadi 13.4%. Naik 8,8% dari tahun sebelumnya. Itu karena perbaikan operasional yang menerus. Iklan di berbagai media resmi dan media sosial semakin agresif.
Kepemimpinan Schultz dan team semakin membaik dengan peningkatan efektifitas keseimbangan antara visi pengusahaan dengan kesabaran eksekusi. Melalui pemberian perhatian yang juga seimbang antara back end dan front end.
The transformation of Starbucks Coffee Company is well under way. The Transformation Agenda we laid out 16 months ago has helped us focus on the most important success factors for our company, while also enabling us to continue nurturing and building our brand.
Kuartal ke-4, 2009 menunjukkan kenaikan Revenue, juga Comps (comparative what store sales).
…
CHINA
I’ve come to think that I am at my best as a leader when Starbucks is being challenged or fighting for survival.
Starbucks mulai muncul di China, di kota Beijing, tahun 1999. Saat ini (2011) jumlah Starbucks di China mencapai hampir 700 gerai. Masih sedikit dibanding potensi pasar disana.
Di China, Starbucks tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati kopi, tapi juga tempat untuk bersosialisasi dan alternatif tempat kerja.
Making Starbucks locally relevant without diluting the brand is an ongoing issue that we have to address to a degree that we did not have to in the past.
Survey di China menunjukkan bahwa pelanggan Starbucks tidak menginginkan penyajian makanan mie.
Saat kunjungan Howard di Shanghai, disajikan menu makanan sharing. Ide menarik. Di kota-kota Asia yang padat penduduk, dimana sangat terbatas ketersediaan ruang personal untuk bersosialisasi, maka ruang publik yang nyaman seperti Starbucks, menjadi pilihan.
September 2009, saham Starbucks mencapai $20. Naik dari $7,17 di tahun sebelumnya.
“… we have to maintain balance on many fronts. Balance between the emotional and the disciplined. Between instinct and information. Between global and local. The personal and the professional, and, of course, between profit and humanity“.
Tanggal-tanggal penting:
19 Jul 1953: kelahiran Howard
26 Jun 1992: Starbukcs go public
28 Mar 1998: Gerai pertama di Taiwan
4 Mei 2000: Gerai pertama di Shanghai
…
RWANDA
The entire store was built to be Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) certified—meaning that it meets stringent standards to reduce its environmental impact.
Tahun 2004, Starbucks mulai menggunakan kopi dari Afrika. Rwanda salah satu sumbernya. Hampir semua dari puluhan ribu perkebunan kopi pemasok Starbucks di lebih dari 30 negara adalah keluarga petani kecil yang hanya memiliki beberapa acre lahan saja. Sulit sekali bisnis perkebunan mereka, bahan jauh sebelum bekerjasama dengan Starbucks.
Persoalan para petani kopi sering kali disebabkan oleh:
Perkebunan kopi membutuhkan keahlian khusus yang seringkali berasal turun-temurun. Semacam keahlian seni
Harga dari Buyer yang tidak sepadan. Produk kopi dihargai terlalu murah.
Pengakuan Howard, kerjasama Starbucks dengan para petani kopi terus berkembang ke arah yang lebih baik hingga mampu saling menguntungkan. Kualitas kopi dari petani pun semakin bagus sehingga masuk dalam kategori produk premium sesuai standar tinggi yang diharapkan oleh Starbucks. Sehingga nilai jual pun dari petani semakin tinggi. Dan pinjaman Starbucks untuk petani kopi semakin meningkat dari $12,5 juta menjadi $20 juta di tahun 2015.
“One thing we want to try and do with the coffee here in Rwanda is help you become more efficient in how it is being grown.”
Meskipun Starbucks bukanlah pengusaha perkebunan kopi, tapi pengusaha roaster kopi, namun punya relasi kerjasama bisnis dengan banyak petani kopi di berbagai belahan dunia. Masukan Starbucks terhadap pengusahaan kopi adalah perlunya kemampuan meningkatkan efisiensi, menghasilkan produk berkualitas premium, berkelanjutan dan mampu memotong biaya hingga 80% serta meningkatkan pendapatan hingga 20-30%.
Yang mengejutkan adalah mimpi para petani kopi perempuan Rwanda, yaitu berharap untuk mampu memproduksi kopi mereka sendiri, tanpa harus mendapat dukungan dari para laki-laki. Kesetaraan gender. Beribu-ribu perempuan Rwanda harus berjuang untuk hidupnya dan membesarkan sendiri buah hatinya akibat petaka brutalitas genosida.
Melalui NGO Heifer International, Starbucks memberi donasi untuk mengirim sapi Friesian, penghasil susu, ke Rwanda. Termasuk juga memperhatikan kompleksitas pembelian, pengiriman, dan pemeliharaan ternak, juga memberi pelatihan dalam beternak yang benar dan menerus.
Terkait dengan sub-judul Conscience diatas, Starbucks telah mengalokasikan biaya asuransi kesehatan karyawannya, total sebesar $250 juta di tahun 2009, 50% lebih tinggi dari tahun 2000.
…
CAFE
IG: @visionaryyminds
Starbucks melaksanakan CAFE practices dalam pembelian kopi. Sebesar 81% di tahun 2009 dari pembelian kopi Starbucks mengikuti standar CAFE. Naik dari 77% di tahun 2008.
C.A.F.E. practices adalah seperangkat prinsip atau pedoman yang diterapkan dalam industri kopi untuk memastikan praktik yang berkelanjutan, adil, dan bertanggung jawab dalam proses produksi kopi. C.A.F.E. adalah singkatan dari Community, Accountability, Fairness, dan Environment, yang merujuk pada empat area utama yang diperhatikan dalam standar ini:
Community (Komunitas): Memastikan kesejahteraan petani kopi dan pekerja, serta memperhatikan kondisi sosial di sekitar perkebunan kopi.
Accountability (Akuntabilitas): Menjaga transparansi dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam produksi kopi bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Fairness (Keadilan): Menjamin harga yang adil bagi petani kopi dan pekerja, serta memastikan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi.
Environment (Lingkungan): Mengutamakan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan bijak dan pengurangan dampak negatif terhadap ekosistem.
C.A.F.E. practices ini dikembangkan oleh Starbucks untuk mempromosikan keberlanjutan dalam rantai pasokan kopi mereka. Dengan menerapkan pedoman ini, Starbucks dan para mitranya berupaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan, sambil meningkatkan kualitas kopi.
Serving Our Communities
Karyawan (partners) dan pelanggan Starbucks telah terlibat dalam 186.000 jam pelayanan di lingkungannya, di berbagai belahan dunia pada tahun 2009. Target 1 juta jam pelayanan dalam 1 tahun.
Environmental Impact
Gerai Starbucks dapat melakukan recycle terhadap cangkir kertas, kardus, kertas, gelas, plastic. Target di tahun 2015 adalah 100% cangkir Starbucks bisa dipergunakan ulang (reusable) atau recycle.
Hingga 2011, lebih dari 200 gerai Starbucks telah teregister dalam standar LEED (Leadership in Energy and Environmental Design). Target Tahun 2015, penggunaan air dan energi akan berkurang 25%.
Starbucks has drastically improved how we operate our business by reducing costs, building a world-class supply chain, and creating a culture that drives quality and speed and manages expenses on an ongoing basis.
Cost Reductions
Tahun 2008, reduction cost sebesar $400 juta. Dan 2009 diharapkan tumbuh menjadi $580 juta.
Supply Chain
Tahun 2011, 9 dari 10 order ke 16.500 gerai Starbucks dapat dipenuhi dengan tepat waktu tanpa error. Mampu saving sebanyak $400 juta dalam dua tahun terakhir.
Net Earning
2024: $3.760,9 Juta dengan 40.199 Gerai di seluruh dunia.
2011: $1.245,7 Juta dengan 16.858 Gerai di seluruh dunia.
…
Komentar
Buku bagus sebagai inspirator pengusahaan retail Kafe Kopi. Banyak kasus bisnis retail di dalamnya yang bisa dijadikan pelajaran untuk menjaga konsistensi kualitas produk dan pelayanan prima bagi pelanggan. Juga kiat-kiat teknik komunikasi publik untuk kepentingan manajemen internal dan peningkatan pelayanan atau penjualan.
Kata kunci Starbucks yang menjadi semangat bisnisnya adalah “merekatkan hubungan antar manusia, the business of human connection“.
Sudah banyak pengusaha muda Kafe Kopi yang juga menjadi eksportir Kopi. Contoh sukses tersebut adalah Blanco Coffee Indonesia yang memiliki Kafe Kopi di Yogyakarta dan Jakarta. Kerja sama dengan para koperasi petani kopi, seperti yang dilakukan Starbucks, dan permodalan memang masih sering menjadi isu untuk mengembangkan sayap pengusahaan lebih jauh lagi.
Semoga sukses untuk para pihak yang terlibat dalam pengembangan bisnis Kopi.
Berikut ini adalah catatan dari kutipan buku berjudul Transisi Energi, Baru & Terbarukan. Terbitan Juni 2024, setebal 350 halaman. Sebuah buku kompilasi pemikiran para praktisi, akademisi, pelaku bisnis dan regulator di bidang Energi Baru Terbarukan negeri ini. Terimakasih rekan kerja saya, Bu Nita Dotulong, atas pemberian buku bagus ini.
Beragam topik tulisan tentang Transisi Energi disajikan dalam buku ini. Mulai dari Perubahan Iklim, alasan perlunya Transisi Energi, Kebijakan Pemerintah, pilihan Energi Hijau, pelaksanaan hingga pengusahaan Energi Terbarukan. Banyak tumpang-tindih informasi dari berbagai tulisan tersebut, karena menggunakan data dari ketentuan atau kebijakan pemerintah atau badan dunia yang sama.
Amelia Farina Salim, Ketua Yayasan Emil Salim Institute, menyampaikan dalam Kata Sambutan di halaman depan, bahwa terbitnya buku ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan Prof. Emil Salim terhadap fenomena Perubahan Iklim yang mengancam generasi masa depan. Undangan pun dilayangkan kepada para jawara Energi Terbarukan untuk saling urun-rembug menyikapi Perubahan Iklim dan dampaknya tersebut. Dan terbitlah buku ini sebagai kompilasi diskusi.
Kemudian dalam artikel pembuka buku ini yang berjudul “Tracee Pembangunan Indonesia Berkelanjutan 2025-2045”, Prof. Emil Salim menyatakan bahwa saat ini Indonesia menghadapi 3 tantangan utama, yaitu:
Terperangkap dalam pendapatan rendah (low income trap) yang dimulai sejak 1989. Kemudian memasuki tahap pendapatan menengah tingkat rendah di tahun 90-an. Sejak saat itu, Indonesia berada dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), hingga sekarang.
Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2050.
Indonesia masih menderita tingkat pendidikan yang rendah, di bawah rata-rata negara-negara ASEAN lainnya, khususnya Singapore. Perlu meningkatkan kualitas pendidikan sebagai syarat untuk bisa lepas landas menuju Indonesia Emas, yaitu pada tahun 2045.
Tak lupa beliau juga menyebutkan bahwa Indonesia masih kalah dengan Singapura dan RRT dalam hal literasi membaca, matematika dan sains.
Jelas bahwa Prof. Emil Salim menuliskan, “Dengan mengembangkan kemampuan pendidikan anak sebagai bonus demografi, kita harus meningkatkan kemampuan bangsa dalam menghadapi tantangan dan dampak dari Perubahan Iklim pada kehidupan bangsa yang mengancam Indonesia pada tahun-tahun yang akan datang”.
Maka, dalam rangka menyikapi dampak Perubahan Iklim itulah, akhirnya buku ini tercipta.
Masih banyak artikel dalam buku ini yang perlu dipelajari, namun cuplikan berikut ini adalah beberapa hal yang telah ditemukan dan dirasa perlu mendapat perhatian khusus dan menjadi catatan penting, karena memperkaya pengetahuan penulis terkait Energi Transisi.
Tentang arah kebijakan Pemerintah dan implementasinya terkait Transisi Energi dan Energi Terbarukan, Dr. Ir. Ego Syahrial MSc., Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Strategi Percepatan Penerapan Energi Transisi dan Pengembangan Infrastruktur Energi, menyampaikan bahwa Pemerintah telah:
mencanangkan target emisi nol bersih (Net Zero Emission, NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Menetapkan pengurangan emisi NZE, yaitu 93% dari BaU (atau 1.927,4 juta ton CO2) melalui optimalisasi suplai dengan EBT dan demand dengan menerapkan efisiensi energi.
menetapkan Enhanced-Nationally Determined Contribution (E-NDC), dengan peningkatan target pengurangan emisi karbon dari 29% atau 835 juta ton CO2 menjadi 32% atau 915 juta ton CO2 pada tahun 2030.
Saat ini, emisi per kapita Indonesia masih di bawah rata-rata emisi CO2 per kapita dunia (di bawah 3 ton per orang). Sementara Intensitas penurunan emisi CO2 di Indonesia adalah sebesar 0,445 ton CO2 per kapita.
Yang menarik dari informasi beliau ini adalah bahwa total potensi energi terbarukan mencapai 3.687 gigawatt (GW). Dan dari total tersebut, energi surya menjadi potensi terbesar, yaitu mencapai 3.294 GW.
Dalam artikelnya, Syahrial juga menuliskan rencana pengembangan PLT EBT pada green RUPTL PLN 2021-2030 dalam mendukung transisi energi yang dikelompokkan dalam beberapa PLT.
Menurutnya, pengembangan EBT ini akan menghasilkan total investasi sekitar USD 55,18 Miliar, membuka 281.566 lapangan kerja baru, dan mengurangi emisi GRK sebesar 89 juta ton CO₂e.
Sementara itu, tantangan dalam pengembangan EBT yang perlu disikapi, menurutnya adalah:
keekonomian dan teknologi dapat mendukung keandalan sistem tenaga listrik dan terciptanya harga yang kompetitif,
kesiapan industri dalam negeri melalui pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN),
keseimbangan supply dan pertumbuhan demand dengan harga terjangkau, dan
kemudahan perizinan dan penyiapan lahan serta debottlenecking dalam pelaksanaan proyek EBT.
Sinergi dan kolaborasi dalam mendorong transisi energi perlu diperkuat guna mencapai realisasi bauran energi sebesar 23% di tahun 2025.
Seperti dinyatakan oleh Jisman P Hutajulu, Plt. Direktur Jenderal EBTKE, bahwa berdasarkan target Paris Agreement, dunia telah sepakat untuk:
Menjaga kenaikan temperatur global tidak melebihi 2°C, dan mengupayakan menjadi 1,5°C.
Mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 314-446 juta ton CO2 pada tahun 2030, melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan efisiensi energi dan konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih.
Komitmen tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Ratifikasi Perjanjian Paris untuk UNFCCC. Target pengurangan emisi GRK sebesar 29% tanpa syarat di bawah business-as-usual (BAU) dan 41% dengan syarat, yaitu dengan dukungan internasional yang memadai pada tahun 2030.
TerkaitEnergy Transition Index (ETI), Boby Wahyu Hernawan S.E, M.Kom, Ph.D, Kepala Pusat Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu menyebutkan bahwa Indonesia mendapatkan nilai sebesar 55,8 pada 2022, sedikit di bawah rata-rata global yang mencapai 56,3. Rank 12 di antara negara G20. Sementara, jika dikaitkan dengan negara-negara sekawasan, kinerja transisi energi Indonesia masih kalah dibanding Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Hal ini tercatat dalam laporan World Economic Forum (WEF) yang bertajuk Fostering Effective Energy Transition 2023. WEF menilai kinerja transisi energi di 120 negara berdasarkan belasan indikator, di antaranya tingkat penggunaan energi bersih, pengurangan emisi karbon, kesiapan infrastruktur, sampai kerangka regulasi dan kemampuan finansial setiap negara untuk mendorong transisi energi.
Tripling Renewables by 2023
Tentang target Renewable Energy, dalam buku ini, Fabby Tumiwa (Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia, AESI) menyatakan bahwa salah satu hal yang disepakati dalam Cop Dubai 2023 adalah tripling renewables by 2023. Dunia membatasi kenaikan temperatur mencapai 1,5°C. Salah satu hal yang menjadi perdebatan di pertemuan Cop 2023 tersebut adalah perihal fish out call dan fish out fossil fuel. Energi yang digunakan tidak lagi bergantung pada fossil fuel. Salah satu hal yang didorong adalah penurunan emisi pada tahun 2030 sehingga target renewable energy dinaikkan menjadi 3 kali lipat. Target awalnya adalah 4.000 giga watt, kemudian target kapasitas renewable pada tahun 2030 dinaikkan menjadi 11.000-12.000 giga watt. Selain itu, juga perlu dilakukan akselerasi pemanfaatan sistem penyimpanan, efisiensi energi, elektrifikasi sektor pengguna akhir energi (end-use), dan pemanfaatan bahan bakar terbarukan (renewable fuels).
Ketenagalistrikan
Subsektor penting yang berkaitan dengan transisi energi adalah Ketanagalistrikan. Menurut Ir. Wanhar (Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, EBTKE), target konsumsi listrik pada skenario rendah adalah 4.000 kWh per kapita dan skenario tinggi adalah 5.000 kWh per kapita. Sementara target pertumbuhan demand listrik untuk skenario tinggi hanya sebesar 4,2%.
Dalam tulisannya yang berjudul “Rencana Transisi Energi Sub-Sektor Ketenagalistrikan”, Wanhar menyatakan bahwa simulasi Daya mampu netto pada tahun 2060 adalah 427 giga watt, dimana 51%-nya berasal dari renewable energy yang dilengkapi dengan storage sebesar 61 giga watt. Sementara yang 49%-nya adalahdispatchable, berupa PLTA dan PLT panas bumi.
Perlu juga diketahui bahwa Perpres nomor 112, sudah mengamanahkan untuk TIDAK lagi membangun PLTU. Kecuali untuk keperluan PLTU yang terintegrasi dengan industri smelter, yang diharapkan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan PLTU ini masih diperbolehkan dengan persyaratan bahwa selama 10 tahun ke depan, harus mengurangi emisi karbon sebesar 35%.
Ketentuan tentang PLTU ini hanya akan berlaku sampai tahun 2050. Dan setelahnya, TIDAK ada lagi Pembangkit Listrik yang diizinkan menggunakan bahan bakar batubara.
Bauran Energi
Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada 2025 akan direvisi menjadi sekitar 17-19%. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan target sebelumnya yang ditetapkan sebesar 23%. Lebih lengkapnya, rencana Bauran Energi masing-masing pada:
2030: 25-26%,
2040: 38-41%,
2060: 70-72%.
Dalam catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bauran EBT sampai pada akhir tahun 2023 baru mencapai 13,1%.
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk bertransisi energi ini sekitar USD 471,5 miliar dengan kapasitas pembangkit adalah 427 giga watt.
Rencana bauran energi (porsi EBT terhadap bahan bakar tenaga fosil) Indonesia masih tetap akan menggunakan bahan bakar fosil, yaitu batu bara, sekitar 10%. Namun demikian, pembangkit tersebut dilengkapi dengan teknologi carbon capture storage dan bahan bakar gas sebesar 2%. Selebihnya, yang 88% diharapkan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).
Dalam karyanya yang berjudul “Tantangan dan Peluang PLN dalam Usaha Melaksanakan Transisi Energi”, Warsono ST, SMn, M.Phil, IPU (EVP Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PT PLN) menyatakan bahwa seperti halnya PLN, semua perusahaan energi di seluruh dunia, yang menyediakan tenaga listrik, menghadapi sejumlah tantangan dalam bisnis dan operasionalnya, yaitu:
keamanan energi (energy security). Keamanan energi berarti memiliki energi yang cukup untuk memenuhi permintaan serta memiliki sistem dan infrastruktur tenaga listrik yang terlindungi dari ancaman fisik dan dunia maya. Keamanan energi berintikan dua hal, yaitu keandalan (reliability) dari penyedia (dalam hal ini) tenaga listrik. Keandalan sangat memerlukan infrastruktur yang tidak mudah dibangun, apalagi bagi Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan.
energy equity. Hal ini terkait dengan kemudahan (accessibility) kepada seluruh masyarakat untuk mendapatkan pelayanan listrik dan keterjangkauan (affordability) atau penyediaan listrik dengan harga/tarif yang murah.
keberlanjutan lingkungan hidup (environmental sustainability), terutama terkait dengan terjadinya gas rumah kaca (GRK).
Trilema Energi
Sistem energi yang sehat adalah sistem yang aman, adil, dan ramah lingkungan; menunjukkan Trilema seimbang yang dikelola secara cermat antara tiga dimensi.
Kerangka kerja Trilema Energi Dunia, yang dikembangkan oleh komunitas Dewan Energi Dunia di lebih dari 100 negara, diakui sebagai alat yang dapat dipercaya dan praktis untuk memandu dan mempertahankan kemajuan transisi energi secara global.
Pengukuran tahunan kinerja sistem energi nasional ini dilakukan pada tiga dimensi trilema, seperti yang ditampilkan pada gambar berikut ini.
Trilema energi. Meliputi energy security, energy equity, dan environmental sustainability
Indeks Trilema Energi Dunia melacak dan mengukur sistem energi terintegrasi kinerja di lebih dari 120 negara.
Kini memasuki tahun ke-15, Kerangka Trilema Energi Dunia diakui sebagai alat yang berharga untuk menavigasi dan mempercepat transisi energi di seluruh dunia.
Laporan Trilema Energi Dunia 2024 mengidentifikasi tren-tren yang muncul yang mempengaruhi keamanan, kesetaraan, dan keberlanjutan energi; meletakkan dasar bagi evolusi kerangka kerja Trilema dan dimensi-dimensinya, memperluas penggunaannya, dan memungkinkan penerapan real-time melalui data yang dapat diakses, metrik baru, dan diperluas.
Kebutuhan Investasi
Berdasar kajian awal, PLN membutuhkan investasi lebih dari 700 miliar dollar AS untuk mencapai net zero emission pada 2060.
Beberapa pembiayaan yang telah diperoleh PLN dalam rangka mendukung transisi energi antara lain adalah:
MIGA-covered facility sebesar 500 juta USD,
pendanaan program Sustainable and Reliable Energy Access Program dari Asian Development Bank (ADB) sebesar 600 juta dollar AS dan
KfW sebesar 63,9 juta EUR.
pinjaman sebesar 610 juta dollar AS dari World Bank dan AllB untuk proyek pumped storage PLTA sebesar 1.040 MW. Proyek ini merupakan pilot project PLN dalam pengembangan PLTA pumped storage di Indonesia.
Dari lembaga keuangan yang dipimpin oleh World Bank sebesar 581 juta USD untuk pembiayaan program Indonesia Sustainable Lease Cost Electrification.
Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS). Topik menarik yang perlu dipelajari.
Artikel pertama karya Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. (Komisaris Independen PLN, Mantan Wakil Menteri ESDM) membahas tentang berbagai alasan Transisi Energi di berbagai negara maju dan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS). Menarik, sehingga hampir seluruh materi artikelnya disadur ke dalam blog ini.
Artikel kedua berjudul “Implementasi Carbon Capture and Storage di Indonesia”,ditulis oleh Dr. Belladonna Troxylon Maulianda, P.Eng,, Diofanny Swandrina Putri, ST MSc, Michelle Imada, ST, Rizky Muhammad Kahfie, ST dari Indonesia CCS Center (ICCSC)
Tulisan tentang CCS di bawah ini sepenuhnya disadur dari kedua artikel tersebut.
Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO₂ ke atmosfer. Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan (capture) CO₂ dari sumber emisi gas buang (flue gas), pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan (transportation), dan penyimpanan ke tempat yang aman (storage).
Menurut Arcandra, salah satu cara pemenuhan komitmen net zero emission di tahun 2060 adalah dengan melakukan transisi energi dari energi fosil ke Energi Baru dan Terbarukan. Dan salah satu teknologi untuk menangkap karbon tersebut adalah dengan menggunakan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS).
Perlu diketahui bahwa ada beberapa jenis gas hasil kegiatan manusia, yang menjadi penyebab utama dari pemanasan global, yaitu:
gas karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi di sektor kelistrikan, transportasi, pertambangan terutama smelter, serta industri semen dan baja.
gas methane (CH4) yang dihasilkan dari sektor pertanian dan peternakan, juga dari gas alam yang dibuang ke udara (gas venting) di sektor minyak dan gas bumi. Di sektor peternakan, kotoran hewan ternak, seperti sapi, kerbau, dan kuda merupakan penyumbang gas methane yang cukup signifikan. Tanaman padi termasuk penyumbang terbesar di sektor pertanian.
gas nitrous oxide (N2O) yang dihasilkan dari pengolahan tanah yang diberi pupuk di sektor pertanian.
Transisi energi berarti ada yang perlu kita ubah dari apa yang kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan energi kita saat ini ke energi lain yang lebih bersih, terjangkau, andal, dan terbarukan.
Seluruh Afrika baru memanfaatkan batubara sebesar 190 juta setahun. Bandingkan dengan China yang membutuhkan batu bara sekitar 4,200 juta ton setahun. Jepang yang merupakan negara maju dan sangat peduli dengan lingkungan masih menggunakan sekitar 175 juta ton batubara setahun. Sebagai pembanding, Indonesia menggunakan batu bara sekitar 125 juta ton setahun. Sementara dunia mengkonsumsi batubara sekitar 8.000 juta ton setahun.
Memahami Transisi Energi di Negara Maju
Bagi Jerman, transisi energi berarti tidak lagi menggunakan energi listrik yang berasal dari nuklir, tapi menggunakan gas alam (27%) yang lebih banyak, sementara minyak bumi (34%), dan batu bara (16%) tetap ada. Energi terbarukan (18%) belum bisa menggantikan energi fosil secara andal dan terjangkau sehingga transisi energi di Jerman masih mengandalkan energi fosil.
Sebaliknya, bagi Perancis, transisi energi dimaknai dengan tetap menggunakan energi listrik dari nuklir (sekitar 42%) dan sisanya berasal dari minyak bumi (29%), gas alam (16%), dan energi terbarukan (12%). Batu bara hanya sekitar 2% dari total energy mix. Inilah strategi yang ditempuh Perancis dalam masa transisi energi untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Bagaimana dengan China yang merupakan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia dalam memaknai transisi energi? Pada tahun 2022, bauran energi terbarukan China yang berasal dari angin, matahari, air, dan nuklir sebesar 17,5%. Penambahan energi dari angin dan matahari sangat masif di China, bahkan terbesar di dunia.
Di sinilah China memaknai transisi energi dengan tetap membangun PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang sangat besar sebagai base load sehingga dapat mem-back-up energi angin dan matahari yang tidak andal. Lebih dari 60% bauran energi China berasal dari batubara. Dapat ditarik kesimpulan bahwa China akan berusaha meningkatkan penggunaan energi terbarukan, tapi TIDAK akan meninggalkan batubara sebagai base load-nya dalam masa transisi.
Mereka sangat realistis memaknai transisi energi dan sangat sadar bahwa tidak mungkin ekonomi bisa tumbuh kalau hanya mengandalkan PLTB dan PLTS tanpa back up dari energi murah dan andal.
Sekitar 79% dari bauran energi di AS berasal dari energi fosil yang terdiri dari BBM (36%), gas alam (32%), dan batu bara (11%). Energi terbarukan menyumbang sebesar 13% dan nuklir sekitar 8%.
Dan sekarang shale gas sudah dijadikan LNG yang bisa diekspor ke negara lain. Dengan strategi ini, pemerintah AS secara tak langsung mengatakan bahwa kami akan tetap berbisnis di energi fosil dan berusaha untuk mengurangi emisi karbon lewat penggunaan gas alam yang lebih banyak
Strategi yang Tidak Bergantung pada Mineral Strategis
Menurutnya, ada beberapa strategi yang sedang dan akan dilakukan oleh negara maju untuk mengimbangi dominasi China dalam penguasaan mineral strategis. Yaitu:
Menciptakan teknologi baterai yang tidak terlalu bergantung kepada mineral strategis. Lithium ion baterai jenis NMC 811 atau NMC 411 yang menggunakan Nikel, Manganese, dan Cobalt merupakan jenis baterai yang paling efisien saat ini. Baterai LFP tidak menggunakan mineral strategis, seperti NMC, tapi baterai ini juga mempunyai beberapa keunggulan. Salah satunya adalah siklus hidup (cycle life) yang lebih lama. Cycle life untuk baterai LFP bisa mencapai 3000 cycles, sementara baterai NMC hanya berkisar antara 1000 sampai 2300 cycles.
Mencari sumber mineral strategis lainnya di negara lain. Misalnya, deep sea mining (tambang laut dalam) di lautan Pasifik yang terletak di antara Hawai, Mexico dan New Zealand.
Tidak menggunakan mineral strategis sama sekali. Di sinilah muncul berbagai macam usaha untuk mengembangkan teknologi lain, seperti hidrogen, yang digunakan sebagai fuel cell untuk kendaraan listrik atau bahan bakar di mesin mobil (internal combustion engine).
Teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS)
Salah satu usaha agar CO2 tidak menumpuk di lapisan atmosfer, dikembangkan suatu teknologi penangkapan CO2 dan kemudian disimpan di perut bumi (reservoir). Kalau boleh dibuat perumpamaan, CO2 itu sebagai penjahat yang ditangkap oleh polisi, kemudian ditahan dalam penjara. Kalau sampai proses penahanan saja maka aktivitasnya disebut dengan CCS. Bila penjahat yang sudah ditangkap ini kemudian dibina jadi orang baik dan dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna maka aktivitasnya disebut dengan CCUS.
Dalam kadar tertentu, CO₂ justru menjadi gas yang sangat berguna untuk kehidupan manusia, seperti proses fotosintesis yang menghasilkan buah-buahan. Gas ini berubah menjadi jahat kalau jumlahnya sudah tidak bisa dikendalikan.
CO₂ yang sudah dipisahkan atau diproses kemudian dialirkan (injeksi) kembali ke dalam reservoir untuk disimpan. Sampai tahap ini, prosesnya disebut dengan CCS.
Namun demikian, untuk reservoir tertentu, injeksi CO2 bisa menaikkan produksi gas utama dan juga minyak mentah atau disebut juga dengan Enhanced Oil Recovery (EOR). Karena CO₂ dimanfaatkan untuk menambah produksi maka prosesnya disebut dengan CCUS.
Beberapa step yang harus dilalui dari mulai menangkap sampai tersimpan di reservoir adalah sbb.:
menangkap CO2 dari pipa buang atau cerobong asap. Beberapa perusahaan sedang melakukan R&D agar proses penangkapan bisa lebih efektif dan efisien. Kami berkesempatan berdiskusi tentang teknologi ini dengan Baker Hughes sewaktu berlangsungnya COP28 di Dubai bulan Desember 2023. Mereka sedang melakukan pilot test di Norwegia.
memampatkan (compress) COz yang sudah ditangkap agar mudah untuk dialirkan ke dalam pipa. Biasanya dimampatkan sampai fasa supercritical dengan memberi tekanan sekitar 74 Bar dan suhu 31 C. Di fasa ini, CO₂z akan lebih padat (density naik).
membuang uap air (moisture) yang masih tersisa lewat proses dehydration. Proses menjadi sangat penting karena kalau ada moisture bersama dengan gas CO₂ maka pipa baja (carbon steel) bisa berkarat dengan mudah. Jadi, jika ada jaringan pipeline yang sudah terbangun dengan material carbon steel maka proses dehydration adalah sebuah keharusan.
mengalirkan CO2 lewat pipa. Untuk jaringan pipa yang baru, bisa disarankan menggunakan material CRA (corrosion resistance alloy) yang mahal sekali atau non carbon steel, seperti polymer material atau composite. Dalam beberapa kajian, menggunakan material CRA membuat keekonomian proyek bisa negatif. Ini salah satu tantangan terbesar CCS dan CCUS. Kalau jarak antara lokasi penangkapan CO2 dengan sumur injeksi jauh maka penggunaan pipa akan mahal sekali. Untuk itu, solusi lain adalah dengan mengangkut CO2 dalam fasa cair. Kemudian, diinjeksikan ke dalam reservoir dalam bentuk gas lagi. Mengubah CO₂ dari fase gas menjadi fase cair memerlukan biaya yang tidak sedikit.
menginjeksikan CO₂ ke dalam reservoir lewat sumur injeksi. Sumur-sumur gas yang sudah tidak berproduksi bisa digunakan sebagai sumur injeksi sehingga bisa mengurangi biaya. Namun demikian, apabila sumur injeksi belum ada maka dibuatlah sumur baru agar CO2 bisa disimpan di sana. Ini adalah biaya tambahan dalam melakukan CCS.
Apakah bisa referensi biaya CCS untuk LNG plant dipakai untuk PLTU? Sepertinya bisa karena CO2 ditangkap pada saluran buang hasil pembakaran. Dengan emisi CO2 yang dihasilkan PLTU sekitar 0.96 Kg/kWh maka biaya CCS per kWh berada dalam range USD 4 cent – USD 7 cent. Hampir sama dengan biaya pembangkit PLTU mulut tambang.
Bagaimana dengan biaya pengangkutan CO2 dari sumber penangkapannya yang kemudian dicairkan agar bisa diangkut dengan kapal ke lokasi sumur injeksi? Range biayanya sekitar USD10-50 per ton per 1000 km tergantung volume CO2 yang diangkut. Masih mahal.
Sementara itu, beberapa hal yang disampaikan oleh Belladonna dkk. terkait CCS adalah:
Pentingnya CCS
Emisi COz akan terus meningkat, baik di tingkat global maupun di Indonesia. Di Indonesia, annual emission-nya telah mencapai sekitar 600 juta ton CO2 per tahun, dan akan mencapai peak pada tahun 2030 atau mencapai 1,2 giga ton per tahun.
Target Indonesia sendiri untuk menuju net zero emission akan dicapai maksimal pada tahun 2060. Untuk mencapai target tersebut, Indonesia akan melakukan fishing out (pensiun) batubara pada PLTU. Selain itu, Indonesia juga akan melakukan fishing down (mereduksi) emisi metana (gas CH4) yang merupakan majority gas di natural gas.
Peran Penting CCS
Carbon capture and storage (CCS) telah terbukti berperan vital dalam mereduksi emisi CO2, yang juga tercerminkan dalam kenaikan minat dan investasi global.
Semua skenario untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 akan membutuhkan CCS. Karena, CCS merupakan solusi untuk mereduksi emisi yang paling visible dan paling proven dalam hal volimetrik (volume) dan juga dilihat dari sisi teknologi. Teknologi CCS telah dilakukan oleh negara lain, seperti Norwegia, United States (US), United Kingdom (UK), dan Kanada untuk sekitar 50 tahun. Investasinya sekitar 2,4 triliun US dollar dan kondisi ini terus berkembang.
Proses penangkapan CO2
Secara statistik, sumber emisi di tingkat global dan di Indonesia paling besar adalah berturut-turut pembangkit listrik, industri, transportasi, building, dan fosil fuel.
Setelah CO2 ditangkap, CO₂ akan diproses sehingga bisa di liquified atau likuifaksi, diubah dari gas menjadi cairan, lalu bisa dimampatkan atau ditingkatkan pressure-nya agar lebih mudah dalam hal pengangkutan.
Indonesia memiliki sumber tempat penyimpanan CO2 di bawah tanah yang sangat besar. Berdasarkan data dari Lemigas bahwa Indonesia memiliki storage capacity up to 600 giga ton. Jika emisi karbon di Indonesia adalah 600 juta ton maka Indonesia memiliki storage capacity600 giga ton. Perhitungannya sebagai berikut. Lama waktu dan kapasitas storage di dalam tanah untuk menyimpan domestik emisi Indonesia adalah 600 giga ton dibagi 600 juta ton. Jadi, lama penyimpanan CO2 di bawah tanah adalah sekitar 1.000 tahun.
Namun demikian, penyimpanan CO₂ harus lebih diperhatikan karena jika CO2 bercampur dengan air akan menjadi korosif.
Teknologi CCS Aman
Kemampuan penyimpanan CO2 oleh sumur bekas minyak dan gas serta lapisan saline aquifer bergantung erat pada kapasitas penyimpanan, struktur geometri, serta integritas struktur lapisan tersebut.
Zona injeksi CO2 di bawah tanah dilindungi oleh lapisan pembatas (confining layer) yang memisahkan zona penyimpanan CO2 dari lapisan air tanah.
Benchmark dengan Negara Lain
Menurut laporan ReforMiner Institute, sejumlah negara tercatat telah lebih menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) di sektor hulu migas.
Beberapa proyek CCS/CCUS telah dilaksanakan di sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Norwegia, dan Kanada.
Amerika Serikat telah melakukan CCS dari tahun 1972, Norwegia dari tahun 1996, dan Kanada telah melakukan CCS dari tahun 2009. Negara-negara tersebut telah melakukan cross country CCS. Misalkan, Amerika Serikat mentransportasikan CO2 ke Kanada, lalu disimpan di Kanada. CO2 dari Prancis dikirim ke Norwegia. Demikian juga dengan Denmark dan Belgia. Dengan demikian, transportasi CO2 antar-negara sudah sangat ramai.
Berikut ini adalah success story dari Kanada. Proyek ini adalah salah satu proyek yang sangat sukses di Kanada dari tahun 2014 dengan menangkap 1 juta ton CO2 per tahun.
Peluang dan Tantangan CCS di Indonesia
ICCSC dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenko Marves) telah membuat maping potensi-potensi CCS hub di Indonesia.
Proyek CCS Hub tidak cocok jika dijalankan secara proyek satuan atau stand-alone project karena jika dijalankan secara proyek satuan tidak masuk dalam skala ekonomis.
Hal ini disebabkan karena perekonomian di Indonesia belum mendorong ke arah proyek CCS satuan. Indonesia belum memiliki peraturan mengenai carbon tax dan carbon insentive yang jika di bisnis karbon disebut carrot and stick. Sementara Singapura sudah mempunyai aturan tentang carbon tax dan Malaysia sudah mempunyai carbon insentive.
Namun demikian, Indonesia mempunyai peluang bisnis CCS yang besar karena Indonesia diberkahi dengan tempat penyimpanan CO2 yang besar di bawah tanah.
Pasar CCS
Berdasarkan hasil rapat tahunan PBB untuk membahas isu iklim (COP 28 di Dubai), Indonesia termasuk negara yang sangat maju terkait peraturan, storage capacity, dan sebagainya. Oleh karenanya, Indonesia bisa menjadi pemimpin CCS hub di regional South East Asia. CCS hub Indonesia akan menjadi CCS hub pertama dengan konsep market-driven, di mana dorongan pasar akan berasal dari kondisi regional, oleh karena beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:
Lokasi Indonesia yang strategis mempermudah CCS lintas negara dibandingkan dengan Australia yang cukup jauh dari negara-negara yang lain. Singapura, Malaysia, dan negara ASEAN lain sangat dekat dengan Indonesia Barat; sedangkan Jepang, Korea Selatan, dan Australia dekat dengan Indonesia Timur.
Negara tetangga telah memiliki sistem carbon pricing atau carbon tax, seperti Singapura, Jepang, South Korea, dan Taiwan yang dapat menjadi pendorong untuk memasuki CCS hub Indonesia.
Infrastruktur transportasi LNG yang sudah ada dapat digunakan/repurpose untuk transportasi CO2, berupa piping system dan shipping. Sekarang sudah ada advance technology shipping.
Misalkan, kapal bisa mengangkut LNG untuk diekspor ke negara lain, tapi kapal tersebut juga bisa digunakan untuk membawa CO₂ ke Indonesia dari negara tersebut. Pengangkutan seperti ini disebut dualcarrier shipping.
Beberapa negara telah melakukan CCS yang bisa menjadi contoh dorongan bagi kemajuan pasar CCS di Indonesia. Misalnya, pajak karbon di Singapura mencapai 5 SGD/tCO2 (3.7 USD/tCO2). Nilai ini direncanakan akan mengalami peningkatan hingga 50 – 80 SGD/tCO2 pada tahun 2030. Hal serupa juga terjadi di Jepang.
Bahkan, nilai pajak karbon di Jepang lebih signifikan, mencapai 289 JPY/tCO2 (2.16 USD/tCO2 pada tahun 2023). Selain itu, Jepang juga sudah menjalankan sistem ETS voluntary mulai tahun 2023 dan akan diwajibkan mulai tahun 2026.
Peluang kerjasama investasi internasional
Beberapa program kerja yang disorot dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dan Amerika adalah sebagai berikut:
Investasi sektor swasta AS di Indonesia. Exxon Mobil akan berinvestasi 15.000 dolar AS di Indonesia untuk mengembangkan industri Petrokimia yang bersih. Artinya, pabrik tersebut terintegrasi dengan fasilitas CCS. Rencananya, proyek ini akan menjadi fasilitas Petrokimia yang bersih pertama di dunia. Saat ini, belum ada di negara-negara lain yang telah menerapkan sistem ini. Exxon Mobil dalam memutuskan investasinya di Indonesia atau di negara lain memiliki kriteria utama, yaitu proyek tersebut harus bisa diintegrasikan dengan CCS. Kriteria tersebut menjadi kriteria utama, di samping juga kriteria terkait margin atau return modal.
Mengembangkan carbon capture and storage CLDP AS dan Indonesia CCS Center telah bekerja sama secara bilateral untuk merumuskan kebijakan dan legislasi pengembangan sektor CCS di Indonesia.
Keunggulan Indonesia dalam Pengembangan CCS
Selain kesiapan regulasi, Indonesia juga memiliki berbagai keunggulan lain yang mendukung pengembangan CCS, yaitu sebagai berikut:
Indonesia adalah satu-satunya negara di regional yang memiliki asosiasi CCS,
Mendorong institusi pemerintah yang sudah ada sebagai akselerator dan regulator CCS (Kemenko Marves, ESDM, SKK Migas).
Indonesia sedang melakukan finalisasi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kegiatan CCS pada bulan Oktober 2023.
Indonesia telah meluncurkan carbon exchange IDXCarbon pada bulan September 2023 sebagai bursa karbon nasional.
Berdasarkan Global CCS Institute Report 2023 bahwa Indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia (ke-22) sehingga Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang siap untuk regulatory framework di bidang CCS sehingga Indonesia sangat leading dalam regulatory framework.
Tantangan Pengembangan CCS
Meskipun Indonesia memiliki berbagai keunggulan untuk pengembangan CCS, tetapi industri CCS di Indonesia masih sangatlah baru. Oleh karenanya, dibutuhkan serangkaian strategi pengembangan untuk dapat menerapkan CCS secara komersial, yaitu sebagai berikut ini.
Indonesia perlu melakukan up skilling karena CCS adalah new business model di Indonesia. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan SDM tentang teknologi dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengembangkan CCS.
Perlu menyamakan persepsi (alignment) dari semua stakeholder karena value chain season-nya cukup besar. Alignment mengenai CCS di sini termasuk di dalamnya tentang potensi dan liabilitas CCS.
Indonesia perlu membuat model bisnis terkait CCS. Perlu dilakukan inovasi menggunakan model bisnis yang mana yang akan memberikan economies of scale, menghasilkan profit, dan menghindari risiko komersil.
Indonesia perlu membangun kerja sama dengan pihak swasta/pelaksana CCS untuk memastikan pendanaan yang cukup dan kepatuhan hukum. Dengan demikian, akan tercipta partnership to make it faster.
Pengembangan CCS akan memberikan beberapa lapangan pekerjaan baru yang membutuhkan keahlian net-zero. Beberapa keahlian di bidang CCS antara lain penangkapan CO2, inventarisasi emisi, standar emisi, pasar karbon, pemantauan emisi, dan keahlian lainnya.
Meningkatkan kesadaran mengenai CCS lewat publikasi media. ICCS sudah bekerja sama dengan beberapa media, seperti kata data dan narasi.
Untuk dapat mengembangkan CCS hub, Indonesia perlu memetakan potensi perusahaan emitter yang dekat dengan masing-masing situs penyimpanan CO2, untuk dapat mengembangkan model bisnis yang sesuai.
Multiplayer effect dari Pengembangan CCS
Pengembangan CCS hub tidak hanya penting untuk pelaksanaan dekarbonisasi, tetapi juga dapat menghasilkan multiplier effect yang
menguntungkan bagi Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut ini.
Indonesia memiliki potensi untuk menyimpan CO2 sekitar 200 tahun ke depan berdasarkan updated storage capacity dari SKK migas. Kapasitas ini telah mencakup emisi CO2 Indonesia yang digabung dengan emisi CO2 dari negara sekitar.
Berdasarkan benchmark dengan UK CCS project, rantai nilai CCS hub di Indonesia berpeluang menghasilkan sekitar 170.000 pekerjaan setiap tahunnya.
Indonesia berpeluang mendapatkan investasi baru senilai 30.9 triliun rupiah. Salah satu buktinya adalah sudah adanya investasi dari Exxon Mobil sehingga Indonesia bisa menjadi regional CCS hub. Saat ini, sedang dilakukan evaluasi oleh Pertamina dan Exxon Mobil untuk pengembangan 2 fasilitas CCS di Laut Jawa, melengkapi proyek petrokimia hijau dan CCS senilai Rp. 231.5 triliun dan 15 proyek lain yang telah berjalan.
Hadirnya CCS di Indonesia akan membuat geopolitik Indonesia menjadi lebih kuat. Indonesia akan menjadi pusat CCS Asia. Indonesia memiliki letak geografis yang strategis dan mendukung kegiatan menjalin kolaborasi dekarbonisasi antarnegara.
Energi Surya
Berpuluh tahun yang lalu sudah sering kita lihat lembaran sel surya yang terpasang di atap rumah. Yang mengherankan, tak terlihat pertumbuhan penggunaan sel surya tersebut di negeri ini. Mengapa?
Fabby Tumiwa (Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia, AESI) menjelaskan tentang pilihan Energi Terbarukan tersebut dalam tulisannya berjudul “Peluang dan Tantangan Pengembangan Energi Surya di Indonesia”.
Menurutnya,AESI telah melakukan kajian potensial untuk potensial PLTS atap rumah. Berdasarkan data BPS tahun 2019, potensi PLTS atap berkisar 194-655 Giga Watt.
Program sejuta rumah untuk warga miskin sebenarnya bisa dipasang PLTS atap untuk 1 kilo watt peak. Jika dalam program ini ada 1 juta rumah, berarti jika satu juta rumah tersebut dipasang 1 kilo watt peak maka akan menghasilkan 3,5-4 kWh per hari.
Rumah tangga miskin di Indonesia mengkonsumsi listrik antara 1,5-2,5 kWh.
Potensi pengembangan energi surya semakin terbuka karena dari sisi harga teknologinya yang mengalami tren penurunan. Jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, harga teknologi energi surya ini telah mengalami penurunan hampir 90%.
Hambatan Pengembangan Energi Surya
Ada beberapa hambatan yang menyebabkan perkembangan penggunaan Energi Surya tersendat, yaitu:
Out put listriknya berubah-ubah. Ini disebabkan oleh intensitas radiasi matahari dalam satu hari berubah-ubah. Sementara, teknologi penyimpanan energi saat ini masih mahal.
Indonesia belum memiliki industri PLTS terintegrasi. Total industri modul surya di Indonesia mencapai 1,6 giga watt. Namun demikian, teknologi dan kualitas modul surya produksi Indonesia tidak sebagus modul surya yang diimpor dari Tiongkok.
Utilitas. Saat ini, sistem kelistrikan Indonesia bersifat vertikal dengan single offtaker. Karenanya, pengembangan energi surya sangat bergantung pada utilitas dan komitmen yang dibuat. Listrik yang dihasilkan oleh PLTS bersifat intermiten dan keluaran listriknya tidak stabil. Jika listrik tersebut ke jaringan listrik PLN, harus ada yang menjamin kestabilan pasokan listrik tersebut. Jaminan kestabilan pasokan listrik ini membutuhkan biaya yang tinggi di pihak PLN.
Saat ini, Tiongkok memproduksi sekitar 80% modul surya global.
Teknologi sel surya berkembang dengan cepat dalam hal menaikkan efisiensinya. Hal ini membuat siklus teknologi sel surya di bawah 5 tahun. Dengan demikian, setiap 4-5 tahun harus menambah investasi untuk mengganti alat karena teknologinya sudah ganti untuk mendapatkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi lagi.
Saat ini, efisiensi modul surya di pasaran berkisar antara 21-24%. Sementara efisiensi modul surya buatan Indonesia hanya berkisar 15-16%.
Ketika perusahaan listrik, seperti PLN, akan membuat proyek PLTS, kira-kira modul surya mana yang akan digunakan? Tentu saja modul surya impor karena efisiensinya lebih tinggi, out put listriknya lebih besar. Tingkat efisiensi tersebut yang menjadi faktor dalam menentukan jumlah sinar matahari yang bisa dikonversi menjadi listrik.
Industri modul surya di Indonesia tidak berkembang dengan baik. Teknologinya tidak mendapat dukungan yang baik dari pemerintah. Riset and development Indonesia di bidang modul surya tertinggal jauh dengan negara lain. Padahal, Indonesia lebih dulu mengembangkan energi surya dibandingkan dengan India dan China.
Harga tarif listrik di Indonesia dikendalikan oleh pemerintah dengan harga yang relatif murah sehingga reliability charge-nya tidak bisa dimasukkan ke dalam komponen harga listrik tersebut.
Pengembangan PLTS
Berikut ini adalah pokok-pokok strategi pengembangan PLTS untuk mendukung transisi energi di Indonesia menurut Fabby Tumiwa:
Tetapkan national target sesuai dengan peta jalan transisi energi.
Perbanyak pengembangan utility scale solar (Floating PV) skala besar.
Bangun industri manufaktur sel, modul surya dan produksi silicon.
Berikan keleluasaan kepada konsumen untuk ikut membangun PLTS Atap.
Sediakan pendanaan khusus untuk PLTS Atap skala kecil.
Pengembangan Bioenergi
Tentanghal ini, Jisman P Hutajulu, Plt. Direktur Jenderal EBTKE menyatakan bahwa implementasi Mandatori Biodiesel telah dilakukan mulai dari tahun 2008. Pada waktu itu, jenis biodiesel yang dikembangkan adalah B2,5. Artinya, bahan bakar tersebut merupakan campuran dari 2,5% Biodiesel dengan 97,5% bahan bakar minyak jenis solar.
Seiring berjalannya waktu, komposisi biodiesel terus bertambah. Tahun 2021-2022 dilakukan studi penggunaan B35 dan B40. Dan di tahun 2023 mulai implementasi B35.
Program co-firing juga telah berjalan pada tahun 2023. Sepanjang tahun 2023, telah terlaksana program co-firing di 44 lokasi serta menghasilkan dekarbonisasi 321.000 ton CO2, biomassa 306.000 ton, dan green energy 831,64 GWh. Dari sisi implementasi, realisasinya di atas rencana tahun 2023, yaitu 42 lokasi, tetapi dari sisi produksi biomassa dan green energy, masih di bawah target, dimana target tahun 2023 adalah biomassa 2,2 juta ton dan green energy 2.740 GWh. Sementara berdasarkan road map co-firing biomassa, terjadi lonjakan pada tahun 2024, yaitu 10,20 juta ton. Jumlah ini perlahan cenderung menurun pada tahun berikutnya, hingga pada tahun 2029, jumlah co-firing biomassa adalah 8,91 juta ton.
Pertamina bersama dengan ITB telah melakukan uji coba co-processing dengan bahan baku RBDPKO & kerosene. Pada tanggal 9 Oktober 2021, telah dilakukan uji terbang perdana dengan Pesawat
CN235-200 FTB milik PT Dirgantara Indonesia dengan rute Bandung-Jakarta-Bandung dengan bahan bakar bioavtur J2,4 berbasis sawit.
Selain itu, pada tanggal 27 Oktober 2023 juga dilakukan inisiasi commercial flight menggunakan Sustainable Aviation Fuels (SAF)- J2,4 berbasis kelapa sawit dengan rute Jakarta – Solo – Jakarta dengan pesawat Boeing 737-800 dengan kode registrasi PK-GFX.
Peluang Bisnis Biomassa di Indonesia
Menurut Ir. Widi Pancono, Wakil Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Ketua Koperasi Energi Terbarukan Indonesia, potensi biomassa di Indonesia cukup besar. Penggunaan biomassa menjadi bahan bakar memberikan keuntungan tersendiri. Selain meningkatkan efisiensi energi dan menghemat biaya, penggunaan biomassa juga dapat mengurangi jumlah limbah yang terdapat di lingkungan.
Energi biomassa sendiri terdiri atas tiga jenis, yakni biogas, etanol, dan biodiesel.
Jenis biomassa pertama adalah biogas, yaitu:
Biogas, gas metana yang muncul akibat terjadinya fermentasi tanpa udara dari bakteri methan.
etanol, merupakan bahan bakar alkohol yang terbuat dari gula. Gula ini diambil dari tanaman jagung, gandum, tebu, dan kentang.
biodiesel, merupakan bahan bakar yang dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel.
Secara umum biomassa merupakan bahan yang dapat diperoleh dari tanaman, baik Biomassa disebut juga sebagai “fitomassa” dan seringkali diterjemahkan sebagai bioresource atau sumber daya yang diperoleh dari hayati. Basis sumber daya meliputi ratusan dan ribuan spesies tanaman, daratan dan lautan, berbagai sumber pertanian, perhutanan, dan limbah residu dan proses industri, limbah dan kotoran hewan.
Biomassa sangat beragam dan klasifikasinya, namun secara spesifik merujuk pada limbah pertanian, seperti jerami, sekam padi, limbah perhutanan seperti serbuk gergaji, MSW, tinja, kotoran hewan, sampah dapur, lumpur kubangan, dan sebagainya.
Dalam kategori jenis tanaman, yang termasuk biomassa adalah kayu putih, popular hybrid, kelapa sawit, tebu, rumput, rumput laut, dan lain-lain.
Potensi Biomasa untuk Cofiring dan PLTBM
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai bagian dari sektor energi yang menyumbang emisi terbesar ikut mendukung komitmen pemerintah dengan empat strategi yang diandalkan PLN untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, yaitu
pengembangan energi baru dan terbarukan,
pengalihan bahan bakar dan pemanfaatan gas buang,
pemanfaatan bahan bakar berbasis biomassa sebagai sumber energi, dan
penggunaan teknologi rendah karbon dan efisien untuk pembangkit baru.
Bagi PLN, biomassa adalah peluang emas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sub sektor pembangkitan energi secara instan dan murah. Caranya dengan teknologi Co-firing atau pembakaran bersama biomassa dengan batu bara pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berumur tua maupun yang masih dalam tahap rencana.
Pada 2024, diperkirakan kapasitas total co-firing pada PLTU PLN mencapai 18 GW. Rencana co-firing ditujukan untuk mendukung pengembangan EBT di Indonesia.
Melalui pemanfaatan biomassa dalam teknologi Co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), PLN berhasil mereduksi emisi hingga 1,05 juta ton CO2e dan memproduksi energi bersih sebesar 1,04 terawatt hour (TWh) sepanjang 2023.
Pencapaian ini kiranya menjadi kabar yang menggembirakan mengingat selaras dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), dimana didalamnya tertuang rencana PLN untuk mengimplementasikan co-firing pada 52 unit PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dengan target sebesar 10,2 juta ton CO₂e di tahun 2025.
Dalam skenario NZE Indonesia yang akan dicapai pada 2060, diskenariokan kontribusi PLT Bioenergi (Biomass Power Plant, Biogas Power Plant, Biodiesel Power Plant and Waste Power Plant) sebesar 60 GW.
Sekarang ini terdapat sekitar 600 MW rencana proyek PLTBio dilebih 100 lokasi dalam RUPTL 2021-2030, peluangnya jauh diatas angka 600 MW, karena berdasar Kebijakan Energi Nasional, pengembangan PLT Bio bisa sampai 5,5 GW, sementara kapasitas terpasang sekarang baru 1,92 GW.
Peluang lain yang terbuka adalah suplai biomassa untuk Co-firing PLTU sebesar 10,2 juta ton/tahun mulai tahun 2025 (sekarang baru sekitar 500 ribu ton).
Data ESDM-EBTKE 2021 menunjukkan bahwa kapasitas pembangkit listrik bioenergi Indonesia pada akhir 2021 sebesar 1,92 GW, hanya sekitar 80 MW dalam bentuk IPP yang terdiri dari 7 IPP PLTBm dengan total kapasitas 35 MW dari total 104 PLTBm dan 8 IPP PLTBg dengan total kapasitas 15 MW dari total 58 unit PLTBg.
Di samping itu, terdapat 1 IPP Biodiesel Power Plant 5 MW. Indonesia juga mempunyai beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dengan total kapasitas 28 MW.
Data terbaru pemerintah menyebut bahwa potensi biomassa Indonesia setara 57 GW berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, dan limbah peternakan.
Di samping itu, Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah yang bisa dijadikan RDF dan SRF.
Tantangan Pemanfaatan Biomassa dan Risikonya
lokasi yang tepat agar kelancaran proses produksi terjaga berkat suplai bahan baku yang berkualitas, jumlahnya sesuai dengan kebutuhan, dan dipasok secara berkelanjutan.
harga jual produk biomasa. Tidak seperti energi terbarukan yang lain, Biomasa memiliki harga keekonomiannya. Jadi, tidak gratis.
lingkungan dan lain-lain. Biomasa merupakan salah satu jenis energi terbarukan yang masih mendapat tantangan dari beberapa ahli karena dianggap “tidak hijau” dikarenakan memiliki jejak karbon yang besar.
Harga jual produk biomassa, seperti listrik dan BBM alternatif mengikuti harga listrik yang ditetapkan pemerintah. Harga listrik mengikuti Perpres 112 tahun 2022, dimana harga PLTBm, dan PLTBg menjadi tidak menarik dikarenakan adanya staging harga, dimana pada tahun ke-11 hingga ke-25 harga turun sangat murah, sedangkan untuk harga BBM apabila bersaing dengan harga subsidi menjadi kurang menarik. Harga jual biomassa untuk Co-Firing ditetapkan sebesar harga batubara sampai di lokasi PLTU.
Kenaikan harga biomasa untuk Co-Firing diperlukan guna mendorong pelaku usaha untuk mau memasok hasil produksinya ke PLN. Perbaikan tarif PLTBM dan PLTBg di Perpres 112 mutlak harus dilakukan, dengan cara menyamakan tarif di tahun 11-25 dengan tarif tahun 1-10.
CATATAN
Buku ini sangat mencerahkan. Baik mengenai teknologi, perundangan, pengusahaan hingga berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya.
Bagi pembaca yang tak ‘bermain’ di bidang Energi Terbarukan, buku ini sangat memperkaya pengetahuan
Alur narasi, secara umum disajikan baik oleh penulis/editor sehingga mudah dipahami. Jelas bahwa untuk memahami lebih lanjut perlu menambah bahan bacaan lain
Sangat disarankan untuk membaca buku aslinya, karena penulisan dalam blog ini hanyalah merupakan catatan umum, sehingga perlu pemahaman lebih lanjut dari mempelajari buku aslinya
Terimakasih untuk Prof. Emil Salim yang telah menginspirasi pembuatan buku ini untuk pencerdasan bangsa. Semoga beliau selalu dalam lindunganNya. Amin
Much of what every human touches every single day comes from the ground—typically through a mine or a farm.
Konflik kepentingan selalu muncul saat harus memilih untuk mengamankan ekologi atau memanfaatkan sumberdaya mineral di bawahnya melalui penambangan, demi kepentingan pasokan Energi Hijau. Oleh karenanya, jargon “pembangunan berwawasan lingkungan” menjadi penyemangat sinkronisasi dan keberlanjutan.
AS berpenduduk kurang dari 5% populasi dunia, namun mengkonsumsi hampir 17% energi dunia. Sementara China yang berpenduduk 18% populasi dunia, membutuhkan energi sebesar 25% yang tersedia di bumi ini. Isu keadilan.
Ketersediaan dan penggunaan Lithium, Nickel dan mineral lainnya sebagai bahan dasar baterai untuk mobil listrik
Harapan adanya pemikiran atau solusi baru tentang persoalan lama, yaitu tentang konflik antara ekologi dan pertambangan untuk energi hijau
Buku setebal 377 halaman (saya membacanya dalam format ebook Kindle) ini menyajikan kebutuhan pasar global dan resistensi masyarakat. Antara pertambangan mineral untuk kebutuhan mobil listrik dan penggiat lingkungan di beberapa wilayah dan negara.
Mengingat pentingnya informasi yang disajikan Ernest Scheyder, maka hal-hal penting di setiap bab dalam buku ini akan disajikan semua ringkasannya. Demi keseimbangan informasi bagi penentang dan pendukung Pertambangan. Cerita lama pertentangan antara para Antroposentris vs pendukung Keanekaragaman Hayati (biodiversity).
Selain itu, tulisan panjang ini akan digunakan Penulis sebagai catatan pengetahuan penting tentang pilihan Kebijakan terkait Pertambangan, Lingkungan dan Perubahan Iklim.
Pertambangan Lithium, Copper, Cobalt menjadi pokok bahasan. Sayang sekali, Scheyder tidak membahas Nickel di Indonesia, yang sekarang sedang menjadi isu primadona global untuk bahan dasar baterai mobil listrik tipe NMC (Nickel-Mangan-Cobalt).
… PENDAHULUAN
The UN Climate Change Conference (COP21) atau biasa disebut Paris Agreement di Paris, Perancis, 12 Desember 2015 dihadiri 196 negara. Satu tahun kemudian, 4 November 1916, kembali ditegaskan dua hal penting, yaitu:
Membatasi kenaikan temperatur bumi sebesar 2°C
Mencapai Net Zero Global Emission tahun 2050
Dalam rangka mencapai target tersebut, disepakati perlunya upaya untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Dengan demikian dibutuhkan Storage System atau baterai yang dapat menyimpan energi tersebut, seperti energi surya atau angin. Untuk itu kebutuhan mineral Lithium, Nickel, Cobalt, Besi (Fe) dan mineral logam lainnya, diperkirakan akan meningkat pesat.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan kenaikan kebutuhan Lithium mencapai 40% di tahun 2040, sebagai komponen baterai mobil listrik. Demikian juga halnya dengan mineral lainnya seperti Cobalt dan Nickel. Menurut IEA, antara tahun 2022 dan 2030, akan dibangun di AS, 50 tambang Lithium baru, 60 tambang Nickel baru dan sedikitnya 17 tambang Cobalt baru.
Baterai tipe ini ditemukan pertama kalinya oleh Stanley Whittingham, di tahun 1977, ketika bekerja di laboratorium Exxon, New Jersey. Penghargaan Nobel Kimia 2019 diterimanya untuk penemuannya tersebut.
Pada awal produksi baterai Li-ion, masih ditemukan terjadi gejala peledakan atau kebakaran tiba-tiba, yang disebut “thermal runaway”. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia mineral Lithium.
Mineral Cobalt menjadi komponen tambahan untuk mencegah terjadinya kebakaran baterai Lithium. Sony, Jepang, mematenkannya dan mulai memproduksi baterai Li-Co untuk digunakan sebagai baterai rechargeablecamcorder.
Selanjutnya berkembanglah penggunaan baterai rechargeable tersebut untuk laptop, handphone dan perangkat elektronik portable lainnya.
Martin Eberhard, pendiri Tesla Motors, 2003. Pada saat itu Lithium-ion battery masih menjadi percobaan industri mobil seperti Ford, Chrysler, dll. Elon Musk bergabung di Tesla setahun kemudian, dan mulai memproduksi EV Battery (Mobil Listrik) yang pertama, yaitu “the Roadster” tahun 2008. Tentang EV Battery ini, Tesla bekerjasama dengan Daimler, Jerman dan Toyota, Jepang.
Struktur Lithium-ion battery terdiri dari: Anoda, Katoda, Elektrolit dan Separator. Komponen terbesar Anode adalah Graphite. Komponen Katoda (bergantung desain) terdiri dari Lithium (Li), Nickel (Ni), Cobalt (Co), Manganese (Mn), Aluminium (Al). Elektrolit banyak terbuat dari Lithium, dan separator berbahan plastik. Belum lagi ribuan meter kabel Tembaga (Copper/Cu) dibutuhkan dalam EV Battery.
Mobil Listrik Tesla Model-3 tahun 2021, mempunyai kapasitas baterai 55,4 kWh. Yang berarti mampu menyalurkan daya sebesar 55,4 kilowatt selama 1 jam. Setidaknya membutuhkan 0.11 kilograms Lithium per kWh. Jadi, kapasitas baterai Tesla sebesar 55,4 kWh akan membutuhkan kira-kira 6 kg Lithium.
Menurut ahli Kimia Shabbir Ahmed, PhD. dari Argonne National Laboratory, baterai dengan kapasitas sejenisnya, akan membutuhkan kira-kira 42 kg Nickel, 8 kg Cobalt, 8 kg Aluminum, 55 kg Graphite, dan 17 kg Tembaga, dan masih dibutuhkan tambahan Aluminum and Tembaga untuk keperluan lainnya dalam mobil.
Ketahanan Energi Nasional suatu negara selama ini selalu diasosiasikan dengan Minyak Mentah dan Gas Alam. Saat ini, bertambah dengan keberadaan Lithium, Nickel, Tembaga dan mineral lain untuk keperluan EV Battery. Beberapa hal penting terkait pasokan mineral penting tersebut adalah:
Chile dan Australia adalah produsen Lithium terbesar dunia di tahun 2023. Namun masih bergantung pada China untuk pengolahannya hingga menjadi bahan dasar EV Battery.
China adalah konsumen tertinggi dunia untuk komoditi mineral Tembaga (Copper) dari Chile, Peru dan negara lainnya. Produksi Tembaga AS turun 5% selama tahun 2017-2021. Meskipun AS mampu memasok Tembaga lebih banyak daripada China.
Indonesia mempunyai cadangan Nikel terbesar dunia. Namun memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan mentah (bijih/ore) Nikel. Karena akan mengolah dan memurnikan bijih Nikel tersebut di dalam negeri.
Congo, mempunyai cadangan terbesar dunia, Cobalt. AS pada tahun 2021 telah mengimpor Cobalt 14 kali lebih banyak daripada hasil tambang dalam negerinya. Dan Elon Musk menyatakan di tahun 2018 bahwa tidak akan menggunakan baterai berbahan mineral Cobalt, karena isu penggunaan tenagakerja pertambangan Congo dibawah umur. Walaupun hingga saat ini tetap belum bisa menghindari kebutuhan Cobalt tersebut.
AS mulai membangun industri Mineral Jarang (Rare Earth Elements). Namun industri tersebut mulai banyak dikuasai China dalam hal penambangan dan pengolahannya.
Setelah beberapa puluh tahun, hingga saat ini AS belum ada tambang penghasil bahan EV Battery telah dibuka. Kecuali hanya satu tambang Tembaga kecil. Telah direncanakan untuk membuka tambang Tembaga di AS untuk keperluan produksi 6 juta Mobil Listrik, tambang Lithium untuk 2 juta Mobil Listrik dan tambang Nikel untuk 60 ribu Mobil Listrik.
Tahun 2019, di AS terjual 250 ribu mobil listrik, 400 ribu tahun 2021 dan 807 ribu tahun 2022.
Meningkatnya kebutuhan Mobil Listrik di AS mesti dibarengi dengan kecukupan pasokan Lithium dan mineral logam lainnya.
Pada April 2022, Elon Musk menyatakan, “So right now, we think mining and refining lithium appears to be a limiting factor, and it certainly is responsible for quite a bit of cost growth in the sales …”.
Banyaknya rencana pembukaan pertambangan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri baterai, menjadi dilemma lingkungan bagi pengambil kebijakan pemerintah AS. Upaya peningkatan energi hijau tersebut, melalui pengalihan Combustion Engine ke EV Battery, banyak menghadapi penolakan dari para aktivis lingkungan.
Di tahun 2021, China telah membangun 148 pabrik Lithium-ion battery dari 200 pabrik super besar yang direncanakan. Di Eropa ada 21 pabrik, Amerika Utara 11 pabrik. Tahun 2029, diharapkan 101 pabrik Lithium-ion battery dari rencana 136 pabrik, akan dibangun di China.
Untuk mencapai target Perubahan Iklim dalam Paris Agreement, kebutuhan global terhadap Lithium dan Graphite untuk pembuatan EV Battery, akan naik 4.000% di tahun 2040. Bahkan Presiden Joe Biden menjanjikan untuk mengkonversi seluruh kendaraan dinas pemerintah AS (kira-kira 640 ribu mobil) menjadi Mobil Listrik. Hal ini akan meningkatkan produksi Lithium di AS sebanyak 12 kali lipat di tahun 2030.
“You can’t have green energy without mining,” kata Mark Senti, Chief Executive dari perusahaan magnet logam-jarang di Florida, Advanced Magnet Lab Inc.
Wall Street memperkirakan kebutuhan Lithium akan meningkat tinggi di tahun 2030, namun meragukan ketersediaan pasokannya. Dan masih menjadi isu kebijakan pemerintah AS saat ini.
Sementara China telah keliling dunia dalam 20 tahun terakhir ini untuk mencari cobalt, lithium, copper dan mineral lainnya. China telah mengalokasikan miliaran dollar di Congo untuk membeli Cobalt. Dan di Argentina, China sudah investasi untuk enam proyek besar tambang Lithium. Bahkan setelah AS keluar dari Afganistan 2021, China mulai negosiasi dengan Taliban untuk mengelola deposit tembaga Mes Aynak, yang hanya berjarak sekitar dua jam dari Kabul.
Uni Eropa menargetkan 2050 sudah bebas karbon. Ini berarti kebutuhan tinggi terhadap pasokan mineral logam. Suatu perburuan mineral logam yang sudah berlangsung ribuan tahun.
Paul Julius Reuter, pendiri media Reuter berkebangsaan Jerman, telah berkontrak dengan Shah Persia 1872, untuk mengelola tambang besi, tembaga dan mineral lainnya di wilayah yang sekarang disebut sebagai Iran.
Paradok pun muncul saat ini, ketika kegiatan pertambangan untuk memproduksi logam kebutuhan teknologi energi hijau, menjadi musuh para penggiat lingkungan. Dan perang dagang pun mulai terjadi ketika China mengancam untuk tidak mengekspor Logam Jarang untuk keperluan Mobil Listrik.
Ernest Scheyderdalam menggambarkan masalah Krisis Iklim saat ini (eksploitasi produksi Batubara, Minyak Mentah, Gas Alam)menggunakan The Nutmeg’s Curse, buku karya Amitav Ghosh, yang bercerita tentang penjajahan Belanda di Kepulauan Banda di tahun 1600an untuk eksploitasi buah Pala melalui proyek Tanam Paksa.
Menurut Amos Hochstein, Penasihat Energi untuk Obama and Biden,
“We throw around these words ‘energy transition’ and ‘the future of energy’ and ‘climate action,’ but basically what we’re doing right now—this generation—is having a massive overhaul of the entire global energy system while at the same time we are electrifying everything”.
Dan perburuan pun bergeser dari Fossil Fuel menjadi eksploitasi nickel, magnesium, graphite, cobalt, lithium dan mineral logam-jarang lainnya. Fenomena The Nutmeg’s Curse kembali terjadi.
Untuk menghadapi situasi Geopolitik global yang cenderung menuju energi hijau, di tahun 2030, AS hanya berencana produksi Lithium sebanyak 3% dari kebutuhan tahunan global. Walaupun diduga mempunyai cadangan Lithium sebesar 24% cadangan global. Hemat bahan baku dan antisipasi krisis lingkungan.
“One of the ways we address climate change is to produce more EVs, and that needs more copper. That copper mine has to be somewhere, and some will support that mine, others will oppose it,” kata Scot Anderson, Pengacara yang membantu banyak perusahaan tambang untuk mengurus proses perizinan penambangan di AS.
… Lithium di Orocobre, Argentina dan Rhyolite Ridge, Nevada
JAMES CALAWAY (1931-2018), sosok penting dalam buku ini, menjadi acuan awal Scheyder (Penulis) tentang Lithium di tahun 2018. Lulusan ekonomi dari universitas Texas, Austin. Berada dalam lingkungan bisnis perminyakan pada awalnya, kemudian bergeser mendalami energi hijau hingga tertarik pada Lithium sebagai bahan dasar EV Battery.
Tahun 2016, Calaway mendapatkan penawaran untuk membuka pertambangan Lithium di Nevada. Tak yakin bisa mendapatkan ijin, karena AS sudah tidak lagi membuka pertambangan hard rock sejak 1970an.
Tahun 2007, ketika berada dalam forum bisnis perminyakan di Aspen, Calaway mendapatkan kesempatan mengikuti sesi diskusi tentang EV Battery. Diketahuilah bahwa General Motor telah memasarkan mobil listrik EV1 di tahun 1916, diikuti Toyota memasarkan model Prius Hybrid di tahun berikutnya. Ternyata saat itu produksi mobil listrik GM hanya berumur 3 tahun. Tidak menguntungkan. Discontinued.
Nora Walker (Sally Field) dalam film Brothers & Sisters (2006-2011), menggunakan Toyota Prius Hybrid, dan sering bicara tentang Perubahan Iklim. Namun Walker tak memahami bahwa Lithium sebagai bahan baterai mobilnya diperoleh dari Amerika Selatan, diolah di China dan diproduksi sebagai katode baterai di Jepang. Dalam kesempatan diskusi di Aspen itulah Calaway memahami awal rantai pasok EV Battery. Selanjutnya Calaway, juga Scheyder sebagai jurnalis Reuters, banyak menghadiri konferensi tentang baterai.
Akronim-akronim asing berikut ini semakin familiar bagi mereka, NCA (nickel, cobalt, and aluminum), LCE (Lithium carbonate equivalent), NCM (nickel, cobalt, manganese), dan BEV (Battery Electric Vehicle) menjadi sering muncul dalam pembicaraan tentang baterai. Dan unsur logam Lithium ( Li) semakin popular dalam pembicaraan tersebut.
Lithium bernomor atom 3, berada pada Group 1 dan Periode 2 dalam Tabel Periodik. Tergolong dalam Metal Alkali. Li adalah metal ringan yang bagus untuk menyimpan arus listrik, sehingga menjadi bagian penting dalam baterai Li-ion.
Disinilah Calaway mulai menyadari pentingnya untuk mendapatkan Lithium. Dari manapun sumbernya di dunia ini.
Unsur Lithium ada dalam mineral Spodumene di China, Lepidolite di Australia, atau dalam air laut (brine) di Amerika Selatan.
Lithium banyak digunakan sebagai bahan dasar pelumas untuk kendaraan perang WWII. Kemudian sebagai bahan pembuat bom hidrogen. Buzz Aldrin (Apollo 11) menyatakan bahwa elemen Lithium berguna untuk membuat bahan penyerap karbon dioksida dalam pesawat luar angkasa. Dalam dunia kesehatan, Lithium menjadi unsur penting dalam obat untuk pengendalian emosi, depresi atau bipolar disorder.
Karena Lithium, dalam tabel periodik, berukuran kecil dan ringan, maka elektron di dalamnya dapat bergerak sangat cepat, hingga sangat tepat digunakan sebagai bahan baterai, dibandingkan dengan unsur logam lainnya. Maka menemukan Lithium menjadi obsesi baru bagi para investor.
Tahun 2009, geologist dari Calaway menemukan deposit Lithium dalam endapan air laut (brine) yang dikelola oleh perusahaan tambang Orocobre, di padang garam North Argentina. Kerjasama dengan Orocobre, Calaway membangun perusahaan Lithium terbesar di dunia. Tahun 2015, valuasi Orocobre sudah meningkat hingga dua kali lipat. Mendapatkan kontrak untuk memasok Lithium ke Jepang, bagi kebutuhan pabrik mobil Toyota dll.
Mulai muncul berita bahwa pabrik mobil listrik Tesla sedang mencari berbagai bahan baterai berupa Lithium, Nickel, Tembaga dan mineral logam lainnya di berbagai pelosok dunia.
Bernard Rowe, investor dari Australia mengendus adanya cadangan Lithium di padang pasir Nevada, AS yang belum dieksploitasi. Penjajakan kerjasama Rowe dan Calaway pun dimulai untuk mengajukan proposal penambangan Lithium di Rhyolite Ridge, Nevada. Rhyolite Ridge hanya berjarak tidak lebih dari 100 mile dari pabrik mobil Tesla.
Meskipun proyek Lithium, Rhyolite Ridge ini untuk kepentingan dukungan terhadap energi hijau di bagian hilir industrinya, namun aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan ioneer, yang didirikan oleh Calaway, tetap menjadi subyek kritik dari para penggiat lingkungan.
Tahun 2016, Trump memunculkan wacana untuk keluar dari kesepakatan Paris Agreement. Namun industri mobil dan pemasoknya tetap semangat untuk mensukseskan keberadaan mobil listrik. Walaupun Washington tidak menganggapnya itu penting.
Dan akhir musim panas 2020, ditemukan matinya ribuan bunga Thiem, yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia, berjarak 225 mile di sebelah utara Rhyolite Ridge.
… Tembaga dan Suku Apache di Oak Flat, Arizona
President Ulysses S. Grant pada tahun 1871 memberi status perlindungan terhadap area suku Apache di San Carlos, yaitu San Carlos Apache Reservation. Meliputi area seluas 1,8 juta acre. Wilayah Oak Flat, Arizona. Sebelah timur Phoenix.
Tahun 1859, perwakilan suku Indian, Diego Archuleta, menyatakan ke harian The New York Times bahwa suku Apache dianggap pemerintah sebagai penghalang dilaksanakannya pertambangan di area tersebut.
Di dekat area San Carlos Apache Reservation, adalah area yang disebut “Copper Corridor”. Tahun 1912, ketika Arizona menjadi negara bagian ke-42, area ini dinyatakan sebagai wilayah penting pertambangan Tembaga. Khususnya di wilayah Superior, yang wilayah pertambangannya disebut sebagai, Magma Mine.
Magma Mine, Arizona
Tahun 1995, sumberdaya Tembaga diperkirakan sebesar 40 milyar pound (18,2 Milyar Kg) disekitar area Magma Mine dan di bawah Oak Flat. Salah satu deposit tembaga terbesar di dunia, dengan kadar 1,5% Cu. Dua kali lebih besar daripada cadangan tembaga di wilayah Arizona lainnya.
BHP mengakuisisi Magma Mine, Januari 1996, namun tak lama kemudian tutup. Habis cadangan.
Target ambisius Kesepakatan Paris untuk perubahan iklim tidak mungkin tercapai, bila Tembaga sebagai salah satu elemen peralatan energi hijau tidak tercukupi. Dan hanya pertambanganlah yang memungkinkan ketersediaannya.
Tembaga, adalah salah satu konduktor listrik terbaik. Mudah dibentuk, cukup plastis, tahan terhadap korosi dan mudah dicampur dengan logam lain. Perak mungkin bisa menjadi konduktor yang lebih bagus, namun mahal.
Rata-rata Boeing 747 menggunakan kabel tembaga sepanjang total 135 mile (217 km). Rumahtangga keluarga AS, membutuhkan rata-rata 400 pound kabel dan pipa.
Tahun 2022, konsumsi Tembaga dunia sebesar 25 juta ton. Dan diperkirakan kebutuhan tembaga pada tahun 2050 mencapai 53 ton.
Untuk mencapai target “net zero” di tahun 2050 seperti diamanatkan dalam Paris Agreement, akan diperlukan lagi penambangan Tembaga. Dan Yergin, ahli sejarah energi pemenang Pulitzer, mengatakan,
“Without some give, you’re not going to be able to achieve those climate goals”.
Perang Minyak terjadi di abad 20. Dan bila ketersediaan Tembaga tak mencukupi kebutuhan dunia, maka perang pun mungkin terjadi untuk memperebutkannya. Sepert analisa konsultan S&P Global. Kecenderungan sudah menunjukkan gejalanya ketika AS akan meningkatkan impor Tembaga dari 44% total pasokan global 2022, menjadi 67% pada tahun 2035.
Tanpa kecukupan pasokan Tembaga, akan berpotensi terjadinya Perang Dunia, untuk memperebutkan komoditi ini.
AS terpaksa meningkatkan impor Tembaga yang semula 44% dari total pasokan di tahun 2022, menjadi 67% di tahun 2035. Kecuali memproduksi dari cadangan sendiri.
… Tiffany & Co. dan IRMA
Produk Tiffany & Co.
“We wanted to do the right thing. But we were a retailer and a manufacturer, not a miner. What is a commonly accepted definition of responsible mining? There wasn’t a clear answer anywhere,”Kowalski said.
Diatas adalah kutipan pendapat Michael J. Kowalski, pewaris kejayaan Tiffany & Co., perusahaan retail perhiasan berkelas dunia, berbahan intan, emas dan perak, seperti jam tangan, kalung, gelang, cincin, dll. Hampir semua perhiasan yang dijual Tiffany adalah buatan sendiri. Oleh karenanya Tiffany harus bertanggungjawab terhadap Kualitas Produk, Keselamatan Kerja dan Keadilan Tenagakerja. Dengan semakin sensitifnya persoalan global dalam hal ESG (Environmental, Social and Governance), maka Tiffany perlu juga melakukan pengawasan terhadap sumber perolehan mineral logam yang dipergunakannya sebagai bahan mentah. Rantai Pasok sejak penambangan hingga mineral diterima oleh Tiffany, menjadi subyek penilaian kelayakan jual produknya. Ini merupakan Risiko Reputasi perusahaan.
Pada tahun 2002, Tiffany melarang penjualan perhiasan yang terbuat dari koral karena isu lingkungan. Sikap yang kemudian banyak dianut oleh bisnis sejenis.
Februari 2004, organisasi penggiat lingkungan Oxfam America dan Earthworks berkampanye “No Dirty Gold” untuk mengkritisi Tiffany & Co. supaya tidak menerima pasokan mineral emas dan perak dari sumber yang diragukan kelayakan lingkungannya.
Maret 2004, Tiffany & Co. menyebarluaskan isi surat yang ditujukan pada Dale Bosworth, pimpinan Kehutanan AS, untuk tidak mengijinkan Rock Creek Mine yang akan menambang Perak dan Tembaga di sebelah timur Montana. Dengan alasan, pertambangan tersebut akan mengalirkan jutaan gallon tailing/polutan ke sungai Clark Fork, yang berujung di danau Pend Oreille, Idaho. Hingga terbitnya buku ini, Rock Creek Mine masih belum mendapatkan ijin operasi.
Tiffany & Co. pun mengalami kesulitan sendiri setelah menolak pasokan mineral emas dari Rock Creek Mine (2004) dan Pebble project (2011). Sementara acuan atau standard penambangan yang dianggap mampu memenuhi kelayakan lingkungan dan diakui oleh pihak-pihak terkait, belum tersedia.
Tahun 2006, Tiffany dan Earthworks bekerjasama untuk membuat semacam Good Mining Practices Standard, yaitu Initiative for Responsible Mining Assurance atau IRMA. Yang menurut Scheyder sudah melibatkan perusahaan tambang; pelanggannya, perusahaan perhiasan, perusahaan mobil, organisasi lingkungan, organisasi non-pemerintah, komunitas lokal, masyarakat adat dan serikat pekerja. Aktivis Earthworks, Aimee Boulanger sebagai Ketua.
Mereka telah menyepakati beberapa kategori yang bisa dipergunakan sebagai acuan kelayakan, termasuk water quality, worker health and safety, Indigenous consent, emergency preparedness, dan air quality.
Namun kepesertaan yang tidak representatif mengakibatkan standar yang diharapkan menjadi tidak credible. Industri pertambangan tidak bisa menerima satu standar kualitas air yang dipergunakan untuk menilai semua kualitas air tanpa memperhatikan parameter geografi maupun geologi. Contoh, menurut Jon Samuel, anggota IRMA dan eksekutif perusahaan tambang Anglo American,
“Sometimes you get salts running off mine sites and into water streams. Now, if that’s going into a saltwater environment, it may not matter. If it’s going into a freshwater environment, it may matter a great deal. So that’s a simple example of how context actually does make quite a big difference,”
Menurut Boulanger,
“Our purpose is not to fail a mine. Our goal is to create financial value and incentive for you to do better.”
IRMA was designed to spread sunlight throughout the entire supply chain for EV minerals, not block a mine.
Namun IRMA bukanlah standar kelayakan penambangan yang menjadi acuan Pemerintah untuk memberi ijin operasi. Sehingga perusahaan pertambangan bisa menolak untuk diaudit oleh IRMA. Calaway, pemilik ioneer, yang akan menambang Lithium di AS, menolak IRMA dan memilih Mining Association of Canada sebagai auditor, yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan pertambangan. “We felt the Canadian standards were better for us,” kata Calaway. Dan Ford yang akan membeli produknya pun setuju.
… Tembaga di Boundary Waters, Minnesota
BECKY ROM lahir dan lama tinggal di Ely, Minnesota. Berkarir sebagai jaksa di wilayah Minneapolis, dan telah berkampanye selama 50 tahun untuk menentang rencana keberadaan tambang bawah tanah Copper, Cobalt, dan Nickel milik perusahaan Chile di Minnesota.
“Northern Minnesota is no place for a copper mine”, begitulah kampanye Rom.
“We don’t deny the reality of the green energy transition. But we would have to sacrifice everything we hold dear to have a mine here”, lanjutnya.
Tahun 1989, Presiden Reagan memperbarui ijin penggunaan lahan selama 10 tahun, kepada International Nickel Co., untuk melakukan penambangan Copper (Tembaga) di lahan yang berdekatan dengan Boundary Waters. Dilanjutkan dengan ijin perpanjangan selama 10 tahun oleh presiden Bush pada tahun 2004.
Duluth Metals Ltd. pada tahun 2010 membentuk Twin Metals Ltd., bekerjasama dengan Antofagasta untuk mengakuisisi proyek pertambangan tembaga diatas di tahun 2014.
Kekhawatiran Rom adalah tailing (mine waste) yang akan menjadi polutan di area Boundary Water, seluas jutaan acre.
Kota Ely tenar sejak abad 19. Sejak 1865 kota ini terkenal dengan pertambangan Besi, kemudian semakin ramai dengan penambang setelah isu ditemukannya emas. Namun tak banyak emas diperoleh.
Lima tambang besi telah dibuka disana, untuk mengangkut 80 juta ton bijih besi. Tambang Terbuka dan Tambang Bawah Tanah telah dioperasikan disana. Pioneer Mine adalah tambang terakhir yang kemudian ditutup pada 1 April 1967. Sebanyak 450 karyawan kemudian menganggur. Kota Ely yang di tahun 1930 berpopulasi 6200, kemudian menyusut menjadi 3200 di tahun 2022.
Kelima tambang tersebut membentuk satu danau yang kini disebut sebagai Miners Lake. Dan sejarah pertambangan Ely kemudian diabadikan dalam museum Pioneer Mine.
Tahun 2016, Presiden Obama tidak lagi memperpanjang ijin sewa lahan untuk pertambangan di area Boundary Waters (Ely), Minnesota. Hanya satu bulan sebelum Trump terpilih. Bahkan Obama berencana untuk menutup area dari aktifitas pertambangan selama 20 tahun.
“The Boundary Waters is a natural treasure, special to the 150,000 who canoe, fish, and recreate there each year, and is the economic life blood to local businesses that depend on a pristine natural resource”, menurut Tom Vilsack, menteri Pertanian di era pemerintahan Obama.
Trump membatalkan rencana Obama. Dan Menteri Dalam Negeri Trump mengatakan bahwa perbaikan kebijakan telah dilakukan untuk “a flawed decision rushed out the door by Obama officials”.
Isu yang menarik dari mereka yang tidak menginginkan keberadaan tambang, adalah:
A senior member of the family that controlled Antofagasta bought a $5.5 million mansion in Washington, D.C., and rented it out to Trump’s daughter Ivanka and her husband, Jared Kushner.26 At the same time, his administration had begun reconsidering the leases. By June 2019, Trump’s administration had renewed the leases for Twin Metals.
Perbedaan pendapat di tahun 2022 tentang perlunya menambang mineral sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasokan baterai industri Mobil Listrik atau mengandalkan impor dari China atau negara lain, banyak terjadi di forum Dewan Perwakilan Rakyat pada masa Biden. Selain itu, isu peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal dan potensi pengangguran juga menjadi pertimbangan ekonomi-politik Biden.
Dan Biden cenderung memilih untuk mendukung pertambangan.
“We need to end our long-term reliance on China and other countries for inputs that will power the future,” Biden said.
… Deposit Besi di Eveleth, Minnesota
Eveleth, kota kecil di Minnesota sebelah utara, mendekati Canada, adalah wilayah deposit Besi. Ekonomi kota ini tercukupi dari pendapatan pertambangan tersebut, yang produknya digunakan sebagai pasokan industri Baja AS, seperti Cliffs-Cleveland dan lainnya.
Twin Metals adalah perusahaan pertambangan yang sedang beroperasi disana pada tahun 2022, dalam tahapan eksplorasi. Geologist Twin Metals yaitu Nicole Hoffman dan Kevin Boerst menjelaskan bahwa tidak benar bila dikatakan Twin Metals tidak peduli lingkungan terkait dengan lahan dan air di wilayah Minnesota. Karena merekalah yang memahami kondisi geologi bawah permukaan bumi.
“It’s not true,” she rejoined. “Antofagasta (Chilean owner of Twin Metals) depends on us to tell them what’s important here and what’s not.”
Dean DeBeltz, atasan Nicole Hoffman,
“If we can’t prove that this mine can be developed safely, then we shouldn’t build it,” menurutnya. “Regulators should follow the science”.
Eksplorasi mereka sudah mencapai 496 lubang bor di tahun 2022 dan 1,8 juta meter inti bor (core samples).
DeBeltz merekomendasikan buku bagus karya Jim Bowyer, The Irresponsible Pursuit of Paradise. Tentang ketidakadilan negara kaya yang berkeinginan untuk menambang mineral dari negara miskin untuk memenuhi kebutuhannya. Para penggiat Lingkungan semestinya mempertanyakan,
Why should the United States rely on other countries to procure the building blocks of carbon-reducing technologies?
Molycorp rare-earth mine and processing facilities – Mountain Pass, California, USA
Rare Earth adalah sekelompok elemen/unsur kimia dalam Tabel Periodik, terdiri dari 17 logam yang mahal, sulit serta berbahaya secara lingkungan untuk diproduksi, yaitu: lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, lutetium, scandium, dan yttrium.
Meskipun keberadaannya relatif banyak (jumlah Cerium diperkirakan sebanyak Copper di kerak bumi), namun keberadaannya acak atau spotted dan sering berada sebagai bagian dari mineral ikutan pada suatu batuan yang susah dipisahkan. Jarang ditemukan sebagai mineral yang berdiri sendiri sebagai suatu deposit. Oleh karenanya dinamai Rare Earth Element (Logam Tanah Jarang).
Elemen ini banyak dibutuhkan, dalam jumlah kecil, sebagai bagian dari peralatan elektronik seperti televisi, komputer, teknologi gadget dan teknologi persenjataan. Turbin Kincir Angin memerlukan sedikitnya dua ton magnet dari Rare Earth. Setiap pesawat tempur F-35 produksi Lockheed membutuhkan 417 kg rare earth, yang semuanya dari China.
Sebagian dari 17 Logam Tanah Jarang ditemukan dalam jumlah besar di Mountain Pass, sebelah selatan Las Vegas. Dekat perbatasan California. Tambang Molycorp memproduksi rare earth di Mountain Pass untuk keperluan militer dan produk elektronik. Tahun 1980, Molycorp memasok 70% kebutuhan rare earth dunia dari tambang Mountain Pass.
China secara perlahan mulai mengembangkan industri tanah jarangnya sendiri pada paruh kedua abad ke-20, dan mendorong industri manufaktur, termasuk perusahaan internasional yang berada di China, untuk menggunakan rare earth produksi China.
Bagi Beijing, peran Rare Earth meningkat menjadi senjata ekonomi.
… Produksi Rare Earth di AS
Tahun 1880, ahli kimia Austria, Carl Auer von Welsbach, pertama kali menemukan campuran Thorium dan Rare Earth sebagai bahan filamen untuk lampu bertenaga gas. Perusahaan Amerika “Lindsay Light“, memperbaiki penemuan diatas, sebelum popular digunakannya bola lampu, dengan menggunakan Rare Earth dari deposit Monazite di India.
Rare Earth kemudian banyak diambil dari deposit Monazite dan Bastnaesite. Monazite banyak ditemukan di India, Madagascar, Australia dan AS sebelah tenggara. Rare Earth juga bisa diperoleh dari deposit Thorium, namun karena sifat radioaktifnya, maka menjadi mahal dan berbahaya untuk memproduksinya. Sementara sumberdaya terbesar Bastnaesite terdapat di AS dan China. Bastnaesite mengandung lebih sedikit radioaktif dibanding Thorium.
Tahun 1949, Herbert S. Woodward menemukan singkapan vein mengandung radioaktif dan berkonsentrasi tinggi Rare Earth, Bastnaesite, di Mojave Desert.
Tanggal 19 November 1949, pemerintah AS mengumumkan bahwa Woodward menemukan deposit Rare Earth besar dan berada dekat dengan permukaan bumi, di wilayah yang kemudian disebut sebagai Birthday Claim. Lokasinya berada diantara Las Vegas dan Los Angeles.
Tahun 1951, Molycorp mendapatkan hak penambangan di Birthday Claim, dan 1952 mulai beroperasi di Mountain Pass. Diperkirakan perusahaan akan membeli Rare Earths sebanyak 3 juta pon.
Molycorp atau Molybdenum Corporation of America awalnya adalah perusahaan tambang Molybdenum di Questa, New Mexico, pada tahun 1919.
Tahun 1977, Unocal membeli Molycorp seharga $240 juta ($1.25 billion in 2023 dollars)
… Produksi Rare Earth di China
Tahun 1951, Xu Guangxian, Phd kimia dari universitas Columbia meneliti Rare Earth untuk elemen Praseodymium dan Rubidium.
Tahun 1985, the China Rare Earth Information Center melakukan penelitian tentang Rare Earths di Ames Lab., Iowa AS. Pusat produksi rare earth nya di Bayan Obo, Inner Mongolia. Disana deposit Besi ditemukan bersama kandungan deposit Rare Earth, Bastnaesite.
Biaya produksi Rare Earth yang sangat ekonomis, karena sekaligus dengan menambang Besi. Produksi rare earth meningkat 40% setiap tahunnya, sejak 1978 hingga 1989. Perusahaan AS, Canada dan Jepang mengirim teknologinya ke China untuk membantu ekstraksi Rare Earth.
Deng Xiaoping di tahun 1980an memacu bangsanya untuk terus mengeksploitasi lebih jauh kemajuan ekonominya melalui Rare Earth. Menurutnya, “The Middle East has oil. China has rare earths”.
Seperti Halnya dengan Deng Xiaoping, tahun 1999, penggantinya, Jiang Zemin juga mengatakan,
“Improve the development and application of rare earths and change the resource advantage into economic superiority”.
Sementara China semakin serius melakukan penelitian tentang Rare Earths, AS justru mengurangi alokasi dana penelitiannya untuk hal yang sama. Bahkan di tahun 1990an, laboratorium Ames menghentikan pengajaran mata kuliah tentang Rare Earth bagi mahasiswa universitas Iowa.
Maret 2010, Mark Smith, CEO Molycorp komplain ke kongres AS bahwa 17 ilmuwannya harus berkompetisi dengan enam ribuan peneliti Rare Earth dari China. Saat itu, Molycorp sudah tidak lagi menambang Rare Earth di Mountain Pass, karena situasi pasar yang buruk.
Mark Smith pun berujar di depan Komite Sains dan Teknologi, DPR AS,
“I can’t find any students from any university in the United States that have any rare earths experience”.
Di kesempatan yang sama, Karl Gschneidner, professor lab. Fames menyatakan kekhawatirannya tentang semakin berkurangnya jumlah ahli Rare Earth di AS, hingga menyebutnya sebagai gejala terjadinya “intellectual vacuum”.
Di tahun yang sama, National Defense Stockpile AS menjual semua bijih Rare Earth. Dan pemerintah AS menyatakan bahwa Rare Earth bukan lagi cadangan logam strategis.
… Isu Lingkungan Tambang Rare Earth di Bayan Obo, Cina dan Mountain Pass, AS
BBC melaporkan hasil kunjungannya di Bayan Obo, China tahun 2015,
“Hidden in an unknown corner of Inner Mongolia is a toxic, nightmarish lake created by the world’s thirst for smartphones, consumer gadgets, and green tech”.
Tahun 2010, lebih dari 9,1 juta ton limbah cair pertambangan dialirkan ke wilayah Bayan Obo, setiap tahunnya. Hingga masyarakat setempat tidak berani mengkonsumsi ikan yang bersumber dari sungai di sekitar sungai Yellow River. Sungai utama di China.
Di luar wilayah Bayan Obo, banyak penambang Rare Earth tanpa ijin (liar), di sekitar pemukiman. Melakukan transaksi penjualan hasil tambang di pasar gelap.
Di AS, sejak dibentuknya Environmental Protection Agency (EPA) di tahun 1970, tekanan ke pemerintah untuk melindungi lingkungan semakin kuat. Isu lingkungan seperti kolam endapan tailing di Bayan Obo, China, tidak akan pernah diijinkan di Mountain Pass.
Tahun 1996, pemerintah AS menemukan keretakan pipa tailing yang menyebabkan kebocoran air limbah ber radioaktif sebanyak 380.000 gallon, yang mengalir masuk ke dalam Mojave Desert. Tempat banyak kura-kura bersemayam. Tahun 1997, tambang ditutup sementara dan Molycorp dihukum denda sebesar $410.000.
Sejak tahun 1984, akibat kebocoran pipa, Molycorp telah mencemari lingkungan dengan air limbah ber radioaktif sebanyak hampir jutaan galon. Merusak reputasi perusahaan dalam upaya memproduksi Rare Earth untuk Energi Hijau.
Tahun 1990, Pusat Keragaman Hayati AS (Center for Biological Diversity) sudah memperingatkan tentang potensi risiko penggunaan pipa air limbah Molycorp.
Setelah Molycorp berjanji menutup pipa limbah dan melakukan langkah-langkah remediasi, isu lingkungan pun mereda. Tahun 1999, Molycorp berjanji untuk mengurangi penggunaan air sebanyak 62% dan mengurangi air limbah sebanyak 50%. Juga berjanji untuk tidak lagi menggunakan pipa untuk mengalirkan limbah dan memastikan kebersihan air di lokasi.
Fluktuasi harga pasar Rare Earth membuat tambang Mountain Pass tidak lagi ekonomis. Dan tahun 2002 aktivitas tambang berhenti.
Karena berhentinya pertambangan Mountain Pass, tahun 2005-2009 tidak ada produksi Rare Earth oleh AS. Dan China membatasi ekspor Rare Earthnya, supaya negara lain membeli produknya dari China dengan harga tinggi.
Tahun 2005, Unocal, pemilik Mountain Pass, dibeli oleh Chevron $ 18 milyar. Chevron menjual Mountain Pass ke konsorsium, yang salah satu anggotanya adalah Goldman Sach, seharga $80 juta.
Juli 2010, harga Molycorp di bursa saham menjadi $394 Juta dengan branding image sebagai pesaing utama tambang Rare Earth China.
… Perjalanan Molycorp
Deposit Rare Earth juga terdapat di Australia Barat, ada di tambang Mount Weld. Tahun 2010 telah mampu melakukan ekspor produknya ke Jepang.
September 2010, China menghentikan akses Jepang untuk mendapatkan Rare Earth dari Cina. Harga melonjak, dan Molycorp pun turut menikmati keuntungannya. Harga saham Molycorp melonjak dua kali lipat, sejak IPO.
Di tengah melonjaknya harga Rare Earth, Sumitomo, Jepang melakukan investasi di Molycorp sebesar $130 juta. Dan Hitachi Metal sebagai rekanan Molycorp menjamin pasokan Rare Earth nya. Ekspansi Molycorp melalui proyek Phoenix, dilakukan dengan investasi sebesar $1,55 Milyar. Tahun 2012 Molycorp bermaksud memproduksi 20% kebutuhan Rare Earth dunia. Namun gagal mencapai target produksi dari tambang besar di Mountain Pass.
Tahun 2012, EPA menemukan adanya kebocoran di lingkungan fasilitas tambang Mountain Pass. Polutan Timbal dan Besi berada di dalamnya. Dikhawatirkan bisa masuk dan menyebar bersama limpahan air hujan. Perusahaan dikenai denda oleh pemerintah sebesar $27.300. Kecil.
Tahun 2013 rugi $197,2 juta, Tahun 2014, Molycorp memperbaiki banyak peralatannya dan berharap cash flow positif di akhir 2015. Namun akibat China menghentikan pemblokiran ekspor, Rare Earth membanjiri pasar global, dan menyebabkan jatuhnya harga yang berdampak buruk pada neraca keuangan Molycorp.
Juni 2015, Molycorp mengajukan perlindungan kebangkrutan. Aset perusahaan $2.49 Milyar, dengan utang sebesar $1,79 Milyar ke lebih dari seribu kreditor. Termasuk utang terhadap Wells Fargo, sebesar $750 Juta.
Melalui lelang, akhirnya tambang Rare Earth besar, Mountain Pass, California, yang dioperasikan oleh MP Mine Operations LLC., akhirnya dimiliki oleh konsorsium, yang dipimpin oleh Chicago Hedge Fund “JHL”, investment fund “QVT Financial” dan perusahaan tambang China, “Shenghe Resources Holding Co. Ltd”.
Dari konsorsium tersebut, hanya Shenghe yang punya keahlian menambang. Dan Shenghe termasuk dalam salah satu perusahaan Rare Earth terbesar dunia.
Tahun 2020, MP Materials, nama baru dari MP Mine Operations, mulai menambang dan memurnikan bijih Rare Earth. Kedalaman bottom pit mencapai 500 feet dari permukaan tanah. Konsentrat Rare Earth oksida yang dihasilkan, dijual ke Shenghe, China.
Menurut Jim Litinsky, pimpinan konsorsium MP, ada kesalahan eksekusi pada manajemen lama (sejak dimiliki oleh Molybdenum Corp., Unocal dan Chevron, sebelum diambil alih oleh Konsorsium) sehingga peralatan terpasang di Project Phoenix tidak berfungsi seperti seharusnya. Bukan karena isu pencemaran lingkungan.
Scheyder meragukan kebenaran alasan Litinsky diatas. Karena Rare Earth sedikit-banyak mengandung radioaktif, juga fluoride yang bersifat toxic bila dalam jumlah besar.
Sebelumnya MP telah menjual sampah Fluoride ke China sebagai kesalahan aspek Lingkungan masa lalu. Namun, MP tetap berpendapat bahwa memproduksi Rare Earth sendiri, jauh lebih baik daripada impor. Dan AS akan memimpin industri Rare Earth di masa depan.
Tahun 2017, MP menandatangani perjanjian untuk memasok konsentrat Rare Earth ke Shenghe. Dan perjanjian ini telah diperbarui pada tahun 2022, untuk mengekspor 40.000 ton Rare Earth dari California ke China, setiap tahunnya. Selain itu, keuntungan MP tetap akan diambil Shenghe, hingga nilai investasi awal sebesar $50 Juta kembali ke Shenghe. Di tahun 2020, Washington memastikan tetap memberi bantuan finansial kepada MP, untuk keperluan penelitian pengembangan Rare Earth lebih lanjut.
… Rusia dan China
Akhir 2020, pemerintah Rusia mengumumkan akan investasi sebesar $1,5 milyar untuk keperluan sebelas proyek Rare Earth. Untuk mengurangi ketergantungan impor logam strategis hingga 2025. Dan Moscow berambisi untuk menjadi pemasok Rare Earth terbesar ke-2 dunia, dengan mengeksploitasi cadangannya sebanyak 12 juta ton untuk memenuhi 10% kebutuhan pasar global.
Persaingan perdagangan Rare Earth semakin panas dengan pernyataan China bahwa akan menutup ekspor Rare Earthnya ke AS, supaya Lockheed dan kontraktor pertahanan AS berhenti memproduksi senjata atau pesawat tempur untuk Pentagon.
Tahun 2022, Litinsky justru diterima di Gedung Putih. Bahkan mendapat dukungan dan bantuan finansial untuk pengembangan MP. Demi energi hijau di masa depan. Walaupun, oleh beberapa pihak, khususnya para penggiat Lingkungan, dianggap telah merugikan AS dalam kesepakatannya dengan China melalui MP.
China telah menguasai kendali rantai pasok Energi Hijau global. Litinsky menyebutnya sebagai “a single point of failure”. AS harus mengambil alih lagi kendali. Untuk itu, Washington mesti mendukung pertambangan dan langkah-langkah produksi lain yang diperlukan untuk mengubah batuan menjadi berbagai produk gadget.
1975, Chevron mulai melakukan eksplorasi di lembah Nevada Utara, antara pegunungan tua the Double H Mountains dan Pegunungan Montana, untuk mendapatkan Uranium dalam batuan sedimen lempung.
Menurut USGS (US Geological Survey), karena adanya batuan pegunungan vulkanik tua, diharapkan lokasi tersebut juga mengandung konsentrasi tinggi yang tak lazim dari Lithium di dalamnya. Sehingga Chevron melanjutkan eksplorasinya pada 1980-1987, dengan target menemukan cadangan Lithium di dalam lapisan lempung. SUKSES.
Ditemukan cadangan besar Lithium di area tersebut. Karena harga Lithium saat itu kurang menarik, Chevron menjualnya pada tahun 1991.
Tahun 2007, Western Lithium USA Corp., mulai drilling dengan target deposit Lithium, di dekat perbatasan Nevada-Oregon. Cadangan terbesar Lithium di AS, ditemukan. Cukup untuk memasok Lithium selama 50 tahun.
Juni 2015, Western Lithium USA Corp. perlu membeli Lithium Americas Corp. seharga $65 Juta, yang telah membangun Proyek Lithium di Argentina. Dan tahun 2016, Western Lithium USA Corp. mulai menggunakanLithium Americasuntuk branding image nya. Proyek Argentina ini penting karena menyangkut pengalaman menambang deposit brine Lithium (dari air laut).
Maret 2018, Lithium Americas mulai berupaya untuk mendapatkan ijin penambangan di Thacker Pass. Proses yang perlu melewati kelayakan 40 studi Lingkungan, termasuk aspek kebisingan, kelayakan air, udara dan berbagai hal yang berpotensi akan berubah karena aktivitas tambang.
Januari 2020, ketika ekonomi Argentina sedang bermasalah dan utang Lithium Americas semakin menumpuk, perusahaan menjual kepemilikan mayoritasnya di proyek Argentina ke China’s Ganfeng Lithium Co. Fokus untuk proyek Nevada.
Saham Lithium Americas meroket dan berencana mulai konstruksi di Thacker Pass pada tahun 2021. Akan berhenti operasi 41 tahun kemudian, dilanjutkan dengan fase Reklamasi.
Ken Loda, geologist dari Bureau of Land Management (BLM) Winnemucca, Nevada, kantor pemerintah yang memberi izin kelayakan proposal penambangan, memberi pernyataan, “We have concluded that an amendment… is unnecessary”. Berbagai temuan di tahun 2019 yang menyatakan ketidaklayakan proposal proyek penambangan Thacker Pass dianggap TIDAK ADA.
Lima hari sebelum meninggalkan kantornya (selesai masa pemerintahan Trump, 20 Januari 2020), Presiden Trump menyetujui Rencana Lithium Americas untuk menambang Thacker Pass. Sebanyak 66 juta ton Lithium akan diproduksi per tahun.
Kritik para penggiat Lingkungan dan masyarakat setempat adalah:
Proyek ini akan mengimpor 308.666 ton sulfur setiap tahun, untuk keperluan leaching logam Lithium
Hampir 300 juta ton tailing akan ditempatkan di sekitar gunung pada ketinggian 350 kaki
Akan dibutuhkan air sebanyak 5.200 acre-feet (6.400.000 m3) per tahun, dengan ijin dari pemerintah hanya sebanyak 15,5 acre-feet (919.000 m3) saat awal proyek
Ada keanekaragaman geologic dan hayati, habitat alam liar dan potensi wisata yang akan terganggu dengan keberadaan proyek pertambangan
Glenn Miller, professor emeritus and environmental chemist dari University of Nevada, Reno, tidak setuju dengan pendapat para aktivis diatas dengan menyatakan,
“Everyone is deeply concerned about climate change. It’s a question about values, and I go with the need for lithium”.
Scheyder menulis (tanpa menyebutkan sumbernya) tentang geologi Thacker Pass sbb.:
Thacker Pass is part of the vast McDermitt volcanic formation, an extinct supervolcano with four large calderas of rhyolitic rock infused with lithium. Water would mix with the rock and leach out lithium before pooling inside the calderas’ basin over hundreds of thousands of years to form a lake that also eventually filled with clays and other sedimentary rocks. Today, there’s a 160-meter-thick layer of lithium-rich clay throughout much of the Thacker Pass formation.
Perbedaan filosofis diantara para penggiat lingkungan terhadap fenomena transgender, menyebabkan perpecahan dalam memperjuangkan sikap untuk menentang pertambangan. Ternyata dalam filosofi masyarakat adat Amerika, Indian, dikenal adanya gender ketiga, selain lelaki dan perempuan, yaitu “two spirit”. Sementara Wilbert dan Deep Green Resistance sangat keras menentang adanya transgender dan menganggap dirinya beraliran “radical feminist” atau hanya bisa memahami keberadaan gender lelaki dan perempuan.
Pemikiran Wilbert dan Deep Green Resistance cukup menarik,
“people who “want to violate the basic boundaries of women” were akin to those who have “violated the boundaries of forests and rivers and prairies.”
The modern climate movement is a “toxic mimic of environmentalism” the way sexual assault is a “toxic mimic of real, authentic sexuality and connection with another human being.”
Wilbert membandingkan proyek Thacker Pass seperti halnya era neokolonial, karena proyek pertambangan dimiliki oleh perusahaan Kanada untuk mengambil mineral di wilayah miskin AS.
Climate change advocates are “sociopaths” who take advantage of others without sacrificing themselves.
Contoh dari pernyataan diatas menurut Wilbert adalah seperti halnya sikap bangsa Jerman saat WWII yang tidak mempertanyakan, apalagi mengkritik, perilaku pemerintahan Hitler. Demikian juga dengan sikap para penggiat Lingkungan saat ini yang tidak mempertanyakan tentang Bagaimana atau Darimana kebutuhan mineral logam untuk keperluan Teknologi Hijau bisa dipenuhi.
Lithium Americas berhasil mengalahkan para penggiat Lingkungan untuk lanjut konstruksi penambangan dan pembangunan pabrik pemurnian Lithium.
Tahun 2023. General Motors akan membantu Lithium Americas untuk mengembangkan tambang Thacker Pass dan berperan sebagai Off Taker produknya, untuk kepentingan industri mobil listrik. GM juga akan membeli saham Lithium Americas sebanyak $650 Juta, untuk menggantikan kepemilikan Ganfeng, China sebagai pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.
… Antimony (Sb) di Idaho
Antimony
Antimony adalah unsur kimia yang sedikit keberadaannya di alam ini. Juga terdapat dalam beberapa mineral logam. Dibutuhkan untuk keperluan mesin mobil berbahan bakar minyak (fossil fuel) atau internal combustion engine (ICE). Bahkan presiden Franklin Roosevelt membuat keputusan resmi di tahun 1939, bahwa Antimony menjadi bagian mineral strategis yang perlu dijamin pasokannya untuk menambah kekerasan berbagai alat persenjataan. Selain itu, Antimony bisa digunakan sebagai campuran bahan tahan api.
Kota kecil Yellow Pin dan Stibnite, Idaho menjadi penting ketika membahas tentang Antimony, juga Emas, di AS.
China dikenal sebagai penghasil Antimony sejak awal abad 20. Pertambangan Antimony di Xikuangshan, propinsi Hunan, China mempunyai cadangan sebesar 2 juta ton. Penghasil Antimony lainnya adalah AS (Nevada) dan Bolivia.
Kebutuhan terhadap Antimony semakin besar ketika baterai Lead (Pb/Timbal)-acid juga membutuhkannya. Timbal bersama Antimony akan lebih meningkatkan daya tahan terhadap keberadaan asam di dalam baterai.
Tahun 1943, tambang bawah tanah Bradley Mining Co., mulai memproduksi Antimony dan Tungsten. Tungsten juga dibutuhkan untuk peralatan perang.
Akhir WWII, tahun 1945, Bradley Mining Co. telah menambang habis Tungsten, juga 10.000 ton Antimony atau 90% keperluan perang.
Thanu 1952, Tambang Terbuka (open pit) di Stibnite tersebut mulai berhenti operasi. Kegiatan stockpiling dan proses penutupan masih berlangsung, dan berhenti total tahun 1958.
Cerita tentang Lingkungan pun mulai muncul.
Lebih dari 10 juta ton limbah tidak ditempatkan dengan benar dan telah melarutkan bahan kimia ke dalam saluran air. Sebagian dari batuan sisa tersebut sebenarnya berada di sungai, dibuang di sana beberapa dekade sebelum U.S. Environmental Protection Agency terbentuk, dan perlahan-lahan melepaskan arsenik dan racun lainnya ke alam liar Idaho. Peralatan pertambangan lama, termasuk pabrik peleburan, terkubur di bawah tanah. Banyak kebakaran hutan telah menyebabkan erosi besar-besaran yang telah menarik sedimen dari dataran tinggi, menghalangi saluran air yang telah lama digunakan oleh ikan salmon untuk bertelur.
Antimony termasuk bahan kimia yang berbahaya. Standar WHO menyatakan bahwa konsentrasi Antimony sebesar 20 ppb (part per billion), masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.
Studi tahun 2011 menemukan bahwa konsentrasi Antimony dalam air minum di area pertambangan Xikuangshan, China sebesar 8,1-152 ppb.
Pencemaran lingkungan di Stibnite perlu penanganan khusus, mengingat potensi risiko kesehatan yang besar akibat rembesan Antimony. Midas Gold, yang kemudian berubah nama menjadi di tahun 2021, tertarik untuk masuk dan membersihkannya. Namun dengan mendapatkan hak untuk menambang dan menjual Antimony dan Gold yang masih banyak keberadaannya disana.
Perpetua Resource pun mengkampanyekan misinya, “the critical resources our country needs for a more secure and sustainable future”.
Dan Scheyder pun menanggapinya dengan sinis, “Berlindung pada misi Biden untuk transformasi menuju Energi Hijau, Perpetua mengkampanyekan misi konservasi dan keberlanjutan sumberdaya alam melalui penambangan Antimony sebagai bahan baterai, yang sebetulnya untuk menutupi misi utama penambangan Emas”.
The company likely would never receive permission to mine just gold in that quiet corner of Idaho; it was the antimony that made all the difference.
Biaya untuk memperbaiki lingkungan, diperkirakan sebesar $100 juta. Dan biaya total untuk proyek penambangan Gold dan Antimony ini sekitar $1,3 Milyar. Dengan cadangan Emas yang bisa ditambang sebesar 6 Juta Oz, atau senilai $11,4 Milyar dan 189 Juta pond Antimony senilai $990 Juta (dengan nilai $ tahun 2023).
Masyarakat Adat juga menjadi isu dalam penambangan ini. Suku Indian, Nez Perce, merasa sudah banyak mengalah untuk tanah mereka yang semakin menyusut sejak Peraturan Pemerintah Washington diberlakukan di tahun 1855 dan 1863. Sejarah kelam mempengaruhi Nez Perce untuk tidak percaya terhadap janji Perpetua untuk melakukan pembersihan pertambangan dari polutan sisa operasi tambang masa lalu. Dan Nez Perce pun mengaku bahwa mereka telah banyak investasi dalam pengamanan lingkungan hidup untuk ikan Salmon.
“Salmon saved us. When he saved us, he also said that he would give himself to us, and when he gave himself to us, he would lose his voice. And so then we would have to be his voice,” said a Nez Perce tribal leader.
Komentar Mckinsey Lyon, staff Perpetua Resources Corp., “… If you want to change the climate, industry has to be part of the solution”.
Maret 2020, John Paulson, investor finansial, telah mendanai Midas (Perpetua) untuk proyek Antimony (dengan kandungan Emas di dalamnya yang sangat menguntungkan) di Idaho ini, sebesar total $60 Juta, sejak 2016.
Tahun 2022, Pentagon mendukung Perpetua untuk segera memproduksi Antimony di Idaho dan membantu finansial sebesar $25 Juta untuk keperluan penyelesaian proses perijinan. Logam Antimony sangat dibutuhkan untuk keperluan peralatan pertahanan yang akan digunakan di Ukraina.
Alaska adalah Negara Bagian terbesar AS, yang sangat kaya dengan sumberdaya alam. Cadangan minyak, gas alam, Tembaga, Emas dan mineral lainnya.
Proyek Pebble Mining di sekitar wilayah Anchorage, kaya dengan cadangan Tembaga dan Molybdenum, yang sangat dibutuhkan untuk transformasi ke Energi Hijau. Juga menjadi area penangkapan ikan, Bristol Bay.
Berbeda dengan Perpetua, Pebble Mining berada di daerah pedalaman yang dikhawatirkan akan tercemar oleh rembesan larutan kimia akibat keberadaan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral.
Deposit Pebble Mining ini ditemukan 1987, yang kemudian dilanjutkan eksplorasi detail oleh perusahaan Canada, Northern Dynasty Minerals Ltd. di tahun 2001. Dan tahun 2007 masuk investasi besar dari Rio Tinto dan Anglo American. Saat itu harga Tembaga sedang sangat bagus di pasar dunia.
Isu sosial masyarakat setempat adalah masalah Perikanan di Bristol Bay. Tahun 2019, Perikanan menyumbang Pendapatan Daerah sebesar $310 Juta melalui penjualan Ikan Salmon. Dikhawatirkan penambangan dan pengolahan Tembaga akan menyebabkan pencemaran lingkungan yang menyebabkan terancamnya perikanan salmon.
Selain itu, masyarakat khawatir akan adanya gempa yang sering terjadi, dapat mengakibatkan kerusakan atau kebocoran bendungan, tempat menyimpan tailing, hingga mencemari Bristol Bay.
Sarah Palin, Gubernur Alaska, dari partai Republik, mendukung Pertambangan secara diam-diam. Namun tidak semua anggota partai Republik setuju terhadap pertambangan tersebut. Senator Ted Stevens, Republikan, tidak setuju terhadap rencana pertambangan, yang akan menggali batuan untuk desain Open Pit selebar 3,2 km dan kedalaman 0,5 km. Pipa gas alam dan pembangkit listrik juga akan dibangun.
Belum lagi, adanya temuan Environmental Protection Agency (EPA) di tahun 2012, yang menyatakan bahwa rencana proyek Pebble Mine akan merusak sungai sedikitnya sepanjang 88,5 km dan area seluas 10 km persegi.
Juli 2020, pemerintahan Trump menyatakan menyetujui pertambangan, mengingat pentingnya kebutuhan produksi Tembaga. Meskipun menyadari potensi bahaya lingkungan yang mungkin terjadi, diharapkan perusahaan dapat memitigasinya hingga sekecil mungkin potensi risiko yang terjadi.
Desakan penggiat lingkungan, bahkan juga beberapa kaum republikan di Senat, juga media televisi Republikan, FoxNews, menentang rencana pertambangan Pebble Mine. Bahkan banyak pihak penentang pertambangan mulai membeli lahan disekitar wilayah tambang dengan maksud menghalangi kegiatan penambangan. Dan, Trump juga kandidat presiden 2020 lainnya pun menentangnya.
Akhirnya, deposit Tembaga untuk kepentingan transisi energi hijau itupun DIHENTIKAN kegiatannya.
… Lithium dan Bunga Tiehm
Patrick Donnelly, bersama Center for Biological Diversity pada tanggal 12 September, 2020, menemukan matinya banyak tanaman Bunga Thiem (Tiehm’s buckwheat) di Rhyolite Ridge, akibat aktivitas penambangan. Diperkirakan sebanyak 18.646 bunga. Calaway dari proyek pertambangan ioneer, membantahnya. Memang ditemukan banyak kerusakan, tapi bukan karena pertambangan.
Dicurigai bahwa aktifitas penambangan Lithium dan Boron oleh perusahaan Australia di Rhyolite Ridge, pedalaman Silver Peak Range, dekat perbatasan Nevada-California, menjadi penyebab matinya banyak bunga Tiehm di wilayah tersebut. Dan aparat pemerintah pun memberikan kesaksian bahwa matinya banyak bunga Thiem bukan karena kegiatan manusia.
Peneliti dari universitas Nevada, Reno, menduga bahwa kekeringan di negara bagian tersebut lah penyebab kematian ladang bunga tersebut. Selain itu, hama hewan pengerat juga menjadi penyebab matinya tanaman Bunga Thiem tersebut.
“It’s one hundred percent clear that this wasn’t done by anybody running out there with shovels because, first of all, why would anybody do that?” Calaway said.
Sepertinya, bunga Thiem ini memang “menyukai” tanah berkandungan Lithium.
Dan, pemilik perusahaan tambang ioneer, Calaway, pun berjanji, “We are prepared to do whatever is necessary to make this mine coexist with Tiehm’s buckwheat”.
“We’re not going to touch the buckwheat,” lanjutnya.
Tahun 2019, Center for Biological Diversity melapor ke Pengadilan bahwa pemerintahan Trump telah mengabaikan perlindungan terhadap tumbuhan langka, Bunga Thiem, yang banyak mati, diduga akibat aktivitas eksplorasi drilling perusahaan tambang ioneer dari Australia, milik Calaway, untuk menemukan deposit Lithium sebagai bahan baterai dalam upaya transisi menuju Energi Hijau.
“It’s wrong for the BLM to allow mining companies to destroy its habitat while other agencies are deciding whether to list the flower as endangered. We won’t let it be erased from the planet for a quick buck”.
April 2020, ioneer perusahaan pertambangan yang dipimpin oleh Calaway, mengeluarkan Feasibility Study bahwa proyek Lithium di Rhyolite Ridge akan sangat menguntungkan. Biaya ioneer untuk produksi Lithium $2,510 per ton, di bawah biaya produksi rata-rata industri Lithium saat itu $7,000 per ton. Akhir tahun 2022, harga Lithium per ton melonjak hingga $62,500 per ton.
Cadangan Lithium di Rhyolite Ridge cukup untuk memenuhi kebutuhan industri 400,000 mobil listrik per tahun, selama sedikitnya 30 tahun.
Biden berharap untuk mengganti kendaraan pemerintah sebanyak 640.000 mobil dengan mobil listrik. Ini berarti akan membutuhkan produksi lithium AS 12 kali lipat lebih banyak di tahun 2030.
Industri mobil Ford berencana untuk produksi 2 juta mobil listrik setiap tahun mulai 2026. Calaway berharap Ford akan mengkonsumsi Lithium dari ioneer. Dan sebagian produk Lithium lainnya akan dikonsumsi perusahaan Korea.
Ioneer telah menginvestasikan jutaan dollar untuk keperluan merekrut para ahli botani, pengadaan green house dan studi komposisi tanah, dalam upaya mengamankan bunga buckwheat.
Sejumlah 24,174 bunga Buckwheat berusaha diamankan oleh ioneer dengan cara membuat pagar mengelilinginya sehingga terlindung dari debu dan kebisingan proses penambangan.
“We are prepared to do whatever is necessary to make this mine coexist with Tiehm’s buckwheat,” Calaway said.
“The biodiversity crisis presents a longer-term threat to the viability of the human species,” said the climate scientist Katharine Hayhoe.
Akhir Summer 2022, Brian Menell, head of the mining investment firm Techmet, menyatakan,
“… We are going to develop this mine, even if we destroy the habitat of a wildflower, which everybody would regret. It’s better than destroying the world with climate change”.
Proyek Rhyolite Ridge membutuhkan lahan seluas 29 km2, untuk keperluan penambangan dan pengolahan Lithium dan Boron. Elemen Boron berguna untuk bahan pembuat deterjen.
… Spodumene (LiAlSi2O6) di Piedmont, Texas
Industri mobil listrik Tesla, yang selama ini bergantung pada China untuk pasokan Lithium, berencana membeli konsentrat mineral Spodumene (LiAlSi2O6) dari tambang Piedmont, Texas. Lithium disini adalah produk pemurnian mineral Spodumene, hasil tambang Piedmont. Kontrak disetujui para pihak bahwa Tambang Piedmont akan memasok Lithium untuk Tesla, diperkirakan mulai antara Juli 2022 – Juli 2023.
Penolakan masyarakat terjadi ketika Piedmont mulai mengajukan perijinan penambangan dan pengolahan Spodumene. Dan protes masyarakat mulai mengemuka melalui aksi demo di Gaston County Courthouse, 20 Juli 2021, menolak keberadaan tambang Piedmont Lithium.
Ancaman pun mulai terjadi. Keluhan masyarakat, “He told us if we refused to sell, they would mine around us”.
Bila Piedmont berencana produksi 30.000 ton Lithium per tahun, sejatinya itu hanya 1% dari target pemerintah AS yang total sebesar 3 juta ton. Dianggap tak layak mengorbankan lingkungan hidup masyarakat Gaston County.
“There’s so many other ways to save the environment without EVs,” menurut pendapat masyarakat setempat. Betul juga. Mengapa alternatif harus EV ya?
… Lithium di pertambangan Albemarle dan Piedmont
Perusahaan pertambangan Albemarle, mendapat izin membuka tambang Lithium di Cleveland County, North Carolina. Bahkan mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah dan White House. Pertengahan 2022, tambang Albemarle berjanji untuk membangun fasilitas yang mampu mengolah 100.000 ton Lithium per tahun. Ini adalah jumlah yang sangat besar, bahkan melebihi jumlah total pabrik pengolahan di China, Chile dan Australia. Ini akan menjadi pabrik pengolahan Lithium terbesar di AS. Di tahun 2030, Albemarle akan memproduksi 600.000 ton Lithium, dari jumlah produksi total Lithium dunia sebesar 3,7 Juta ton (16%).
Setelah PD2, North Carolina memang dikenal sebagai penghasil Lithium terbesar dunia. Pabrik video camera Sony, menggunakan produk Lithium dari wilayah ini.
Tahun 2017, WCP Resource Limited, perusahaan tambang emas Australia, mencoba investasi eksplorasi Nickel di North Carolina. Sebelah barat Charlotte. Mengganti nama perusahaan menjadi Piedmont Lithium. Nickel hasil pengolahan dan pemurnian mineral Spodumene (LiAlSi2O6) akan banyak diperoleh dari tambang Piedmont ini. Lithium hydroxide yang dibutuhkan oleh pabrik mobil listrik Tesla dan BMW akan mudah dipasok dari tambang ini.
Piedmont Lithium telah membeli lahan seluas 1.800 acre. Dan secara bertahap akan diperluas mencapai 3.000 acre (12 km2). Dan telah menginvestasikan $58 Juta untuk proyek ini.
Masalah muncul ketika Piedmont Lithium ternyata belum mensosialisasikan rencana perusahaan ke Dewan Kota atau masyarakat setempat. Terlalu percaya diri bahwa pertengahan 2021, perijinan untuk menambang akan diperoleh.
Neither Phillips (Piedmont’s CEO) nor any other Piedmont official had made any presentation of the company’s plans to the county board, fueling an information vacuum that frustrated many.
Melalui Dewan Kota Gaston County, masyarakat menolak keberadaan pertambangan. Dan Tesla membatalkan kontrak dengan Piedmont Lithium.
Piedmont Lithium mulai lagi proses pengajuan perijinan dari awal, namun hingga 2023 tetap belum juga memperolehnya.
Sebaliknya, kompetitor Piedmont Lithium, yaitu Abermale, justru telah mendapatkan ijin dari White House dan pemerintah lokal, untuk melakukan penambangan Lithium. Direncanakan pada pertengahan 2022 akan membangun fasilitas pengolahan Lithium sebesar 100.000 ton per tahun.
… Copper (Tembaga) di tambang Morenci, Michigan
Copper (Tembaga) masih menjadi kebutuhan vital, khususnya terkait dengan kelistrikan.
Phelps Dodge adalah perusahaan tambang Tembaga besar di AS, yang didirikan oleh William Earl Dodge dan Anson Green Phelps (Mertua William E. Dodge). Tahun 1834, Phelp Dodge adalah perusahaan dagang. Kemudian berangsur-angsur bergeser menjadi perusahaan pertambangan Tembaga. Bahkan menjadi perusahaan tambang Tembaga terbesar dunia.
Isu Lingkungan dari Tambang Morenci, Michigan adalah air. Kebutuhan air dari proyek Morenci ini diperoleh dari cadangan air dari wilayah suku San Carlos Apache.
Tahun 1992, suku Apache San Carlos diberi hak kelola air yang mengalir ke wilayah mereka seluas 1,8 juta acre, oleh Kongres AS, yang disetujui oleh Presiden H. W. Bush, “Reclamation Projects Authorization and Adjustment Act”. Keputusan ini berarti memberi hak pengelolaan bantuan dana sebesar $41 Juta, termasuk hak untuk menjual cadangan air tanah dan air permukaan yang mengalir di wilayahnya.
Dengan Hak Jual Air tersebut, Apache San Carlos membuat kesepakatan dengan tambang Phelps Dodge untuk memasok air selama 50 tahun. Phelps Dodge menggunakan air tersebut untuk keperluan tambang Morenci. Problem Lingkungan dengan masyarakat adat terselesaikan.
… Freeport-McMoRan, Morenci Mine
Morenci Mine
Tambang Morenci milik Phelps, Dodge & Co. menjadi cadangan Tembaga andalan AS. Tahun 2007, tambang yang berlokasi di Phoenix tersebut, dibeli oleh Freeport-McMoRan (pemilik Freeport Indonesia, bersama Mind ID dan Pemda Papua), yang berbasis di New Orleans, seharga $29,6 Milyar. Setelahnya, Freeport menjadi perusahaan tambang terbesar kedua dunia untuk produksi Tembaga, dan terbesar pertama dunia untuk produksi Emas. Dan kantor pusat Freeport pun pindah ke Phoenix. Mendekati Morenci dan tambang-tambang lainnya di Arizona.
Bila cadangan Tembaga Freeport (exPhelps Dodge) di AS berkadar rendah, maka cadangan Tembaga Freeport di Indonesia berkadar tinggi.
Pada awalnya, Adkerson, CEO Freeport, bermaksud menjual Freeport ke Phelps Dodges, namun yang terjadi justru Freeport yang mengakuisisi Phelps Dodge.
Setiap hari, 154 truk tambang hilir-mudik memindahkan 815.000 ton batuan. Sebanyak 3.600 karyawan bekerja dalam pertmbangan ini. Deposit Morenci masuk dalam kategori Tembaga kadar rendah, 0,23%-0,5%.
Akhir tahun 2021, Morenci masih menyisakan cadangan Tembaga dalam tanah sebanyak lebih dari 15 Milyar pound (7,5 Juta ton).
Sejak dibangunnya tambang tembaga Morenci tahun 1880an, wilayah ini telah berkembang hingga 100 mile persegi. Kota Morenci dihuni oleh 1.500 warga, yang semuanya terkait dengan aktivitas tambang Freeport-McMoRan tersebut. Ini merupakan tambang mineral logam terbesar di Amerika Utara, yang telah menghasilkan 900 juta pound (400.000 ton) Tembaga di tahun 2022.
Hampir semua Tembaga produk Morenci dikirim ke El Paso Rod Mill, El Paso, Texas, untuk diolah dan diproduksi menjadi berbagai jenis kabel Tembaga.
Isu lingkungan untuk tambang Tembaga-Emas di Papua, Indonesia adalah penempatan tailing di hilir sungai Ajkwa, yang dianggap merusak keanekaragaman hayati oleh para pemerhati Lingkungan.
Mei 2016, Freeport menjual kepemilikan mayoritasnya di tambang Tembaga dan Cobalt di Tenke, Congo ke perusahaan China, “China Molybdenum”, seharga $2,65 Milyar.
Tahun 2020, 15 dari 19 tambang Cobalt di Congo, telah dimiliki oleh perusahaan-perusahaan China.
… Cobalt di Congo
Cobalt dibutuhkan dalam pembuatan EV Battery NMC (Nickel, Manganese, Cobalt) untuk mencegah overheat dan kebakaran, serta memperpanjang umur baterai.
Isu Lingkungan pertambangan Cobalt yang dikuasai oleh China Molybdenum ini adalah tentang tenagakerja. Tambang Cobalt tersebut banyak dioperasikan oleh Pertambangan Rakyat yang kurang peduli tentang Lingkungan. Dengan teknologi sederhana yang berrisiko tinggi untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Cobalt mudah mengiritasi kulit dan merusak paru-paru.
Apple, Microsoft, Tesla dan perusahaan-perusahaan besar dunia pengguna Cobalt cenderung tidak peduli terhadap rantai-pasok industri Cobalt di Congo tersebut.
Alih-alih Washington menentang, Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken justru mendukung investasi untuk pertambangan Cobalt dan Tembaga di Congo dan Zambia, yang mempekerjakan anak-anak sebagai buruh tambang. Kebutuhan EV Battery sebagai energi hijau adalah alasannya.
Ironis. Energi Hijau untuk mencegah Perubahan Iklim untuk kemanusiaan, dengan mengorbankan sisi kemanusiaan anak-anak.
… Daur-Ulang Baterai Bekas
Top-Down: Rest of World – Europe – USA – China
April 2017 terjadi kecelakaan kereta api Union Pacific yang melayani rute dari pantai barat ke pantai timur AS dan sebaliknya. Gerbong pengangkut baterai Lithium-ion dalam rangkaian kereta tsb. meledak di wilayah Houston,Texas. Menggetarkan banyak jendela rumah warga Houston. Tidak ada korban meninggal. Kebakaran tiba-tiba yang dikenal dalam terminologi baterai sebagai “thermal runaway” bisa terjadi bila baterai mengalami overcharge, arus-pendek atau panas berlebihan.
Cerita ini hanya mau menegaskan bahwa niat baik untuk mencegah Perubahan Iklim melalui peningkatan produksi Lithium battery bisa berakibat tragis bila hanya didukung kepentingan bisnis dan tidak didukung tata kelola holistik yang melibatkan banyak pihak.
Statistik menunjukkan bahwa tahun 2013 hanya terjadi dua kali kebakaran terkait baterai Lithium-ion di AS, namun meningkat pesat di tahun 2020. Terjadi 65 kali.
Secara teknis, larutan elektrolit yang menghubungkan anoda-katoda, sengaja dibuat sangat mudah mengalirkan energi atau high energy density. Bila baterai Lithium-ion rusak atau overheates, maka larutan akan mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Awal tahun 2022, kapal kargo pengangkut 4.000 mobil listrik, terbakar dan tenggelam di pantai Portugal. Pihak otoritas pengawas kecelakaan Portugal menduga bahwa kebakaran dipicu oleh lompatan api dalam baterai Lithium-ion mobil listrik yang diangkutnya.
Perusahaan penerbangan Jerman, Lufthansa telah melarang pengangkutan baterai Lithium-ion sejak 2015. Dan pemerintah AS mulai melarang pengangkutan baterai Lithium-ion melalui penerbangan penumpang komersial sejak 2019. Pelarangan tersebut dipicu oleh temuan adanya kebakaran baterai lithium-ion dalam penerbangan Boeing 787 Dreamliner beberapa tahun sebelumnya.
Sensitivitas terhadap kebakaran menyebabkan pengangkutan baterai ion-Lithium semakin terkendala. Berbeda dengan bahan bakar fosil, yang bisa terbakar habis, ion-Lithium masih bisa dipergunakan ulang (reused) bila baterai telah rusak. Lithium doesn’t lose its ability to hold a charge just because it’s been sitting in a battery for twenty years.
PBB memperkirakan bahwa 53,6 juta ton sampah elektronik telah dihasilkan dunia melalui baterai mobil, handphone dan energy storage lainnya, di tahun 2019. Hanya 17,4% darinya yang di daur ulang. Sisanya adalah sampah. Artinya $54,7 milyar adalah sampah tembaga dan logam lainnya.
Mengingat cadangan mineral Lithium terbatas keberadaannya, dan termasuk kategori material tak terbarukan, maka daur-ulang baterai lithium-ion menjadi tantangan masa depan pertambangan Lithium.
Diperkirakan, setiap tahun dihasilkan 50 juta ton sampah elektronik di dunia, yang hanya 20% nya mampu didaur-ulang. Tanpa adanya intervensi, diperkirakan terjadi lompatan jumlah sampah elektronik di tahun 2050, menjadi 120 juta ton per tahunnya.
Di tahun 2019, dari seluruh kendaraan listrik yang beredar, dihasilkan sampah baterai sebanyak 500.000 ton. Diperkirakan akan tumbuh eksponensial menjadi 8 juta ton di tahun 2040.
Persaingan desain baterai kendaraan listrik mulai mengemuka di tahun 2020. Baterai NiCad (Nickel Cadmium) memimpin persaingan ini, apabila energy density menjadi prioritas. Sementara LFP battery (Lithium Ferro Phosphate) dianggap lebih menguntungkan bila harga menjadi acuan, murah.
Kecenderungan meningkatnya produk baterai daur-ulang sudah terbukti dengan penggunaan baterai Timbal (Lead-acid batteries). Akhir tahun 2020an, di AS dilarang untuk membuang sampah baterai Timbal (Pb) sembarangan. Di Indonesia sampah baterai masuk dalam kategori limbah B3. Dengan demikian, sebagian besar baterai Timbal hanya bisa diperoleh dari produk daur-ulang. Oleh karenanya, model bisnis baterai Timbal di AS saat ini dilakukan dengan cara sewa, tidak lagi dengan cara jual-beli.
China adalah pemegang mayoritas pasar baterai Lithium-ion daur-ulang. Bahkan mencapai 3x lebih banyak daripada AS. Dan China juga lebih banyak melakukan penelitian daur-ulang baterai, daripada Jepang, Korea Selatan dan AS.
Pernyataan menarik dari buku ini adalah,
And while the greenhouse gas emissions to produce an EV are higher than those to produce an internal combustion engine, an EV’s battery can be recycled over and over—a plus for the environment.
Hanya perlu dipastikan bahwa energy density baterai daur-ulang tetaplah tinggi. Karena jangkauan jarak tempuh mobil listrik sangat bergantung padanya.
Tahun 2017, industri komputer dan gadget Apple menyatakan akan melakukan inovasi produksi untuk menghasilkan produk berbahan mentah hasil daur-ulang atau closed-loop manufacturer. Artinya, bahan mentah akan dicukupi dari hasil daur-ulang produk Apple yang sudah tidak terpakai. Sesuai dengan prinsip “circular economy” yang menjadi visi perusahaan.
Apple menyatakan bahwa melalui penggunaan robot, dalam setahun mampu memisahkan 1,2 juta komponen handphone. Dan di tahun 2021, hampir 20% komponen komputer dan produk Apple lainnya dibangun dari material daur-ulang.
Kelebihan penggunaan baterai daur-ulang adalah dalam hal waktu ketersediaannya. Komponen baterai yang diperoleh dari proses penambangan, membutuhkan waktu ketersediaan yang jauh lebih lama. Mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian.
Li-Cycle, berdiri akhir 2016, adalah perusahaan daur-ulang yang fokus pada pengambilan logam dari baterai yang tidak lagi terpakai. Penggerak utamanya adalah Ajay Kochhar dan Tim Johnston, keduanya berasal dari Hatch, konsultan engineering. Proyek pertama mereka adalah melakukan daur-ulang baterai Lithium-ion dengan lebih dulu mengambil Lithiumnya.
Sementara JB Straubel, yang bekerja untuk Tesla, mendirikan Redwood Materials, yang juga bergerak di bidang daur-ulang baterai Lithium, namun lebih fokus pada pembuatan katode untuk baterai mobil listrik.
Li-Cycle dan Redwood Materials sama-sama berkepentingan terhadap baterai yang telah dihancurkan, dikenal dengan istilah Black Mass, sisa baterai yang telah dihancurkan, berisi Nickel, Lithium dan Cobalt.
Redwood dan beberapa perusahaan daur-ulang di China menggunakan proses pyrometallurgical recycling. Proses ini membutuhkan energi besar untuk memanaskan dan melelehkan material, hingga 1.482°C. Menghasilkan bubuk logam yang diproses lebih lanjut dengan larutan kimia hingga menyisakan Cobalt dan beberapa logam lainnya.
Hydrometallurgy
Sementara Li-Cycle menggunakan proses hydrometallurgical recycling, yang lebih irit energi. Namun membutuhkan asam dan bahan kimia lainnya dalam jumlah besar. Li-Cycle juga menghasilkan Black Mass dengan cara berbeda, yaitu menggunakan larutan kimia untuk mencegah terjadinya ledakan, sehingga lebihaman. Asam dan bahan kimia lainnya digunakan untuk melindih nikel sulfat, cobalt sulfate dan lithium carbonate. Li-Cycle bisa memperoleh 95% nickel, cobalt dan lithium dari baterai yang tak lagi terpakai.
Pyrometallurgy
Tahun 2021, Li-Cycle memperoleh investasi dari Glencore (perusahaan tambang besar dunia), LG Chem (pabrik pembuat bahan baterai) dan konglomerat Koch Industries.
Mengingat bahwa biaya logistik pengangkutan baterai bekas bisa mencapai 70% dari keseluruhan biaya proses daur-ulang, maka Li-Cycle lebih suka dengan “hub and spoke” business model, yaitu membuat banyak fasilitas kecil, mendekati fasilitas pabrik mobil listrik, di berbagai titik di AS dan Kanada, sebagai tempat pengumpulan baterai bekas. Kemudian menghancurkannya menjadi Black Mass, dan mengirimkannya ke pusat pemrosesan di Rochester, New York untuk dihasilkan Lithium.
Tahun 2024, pabrik di Rochester ini diharapkan mampu memproduksi Lithium sebanyak 8.500 ton Lithium Carbonate. Sementara saat ini, tambang Lithium di AS hanya mampu memproduksi sebanyak 5.000 ton. Artinya, mayoritas Lithium yang dihasilkan di AS, berasal dari daur-ulang baterai bekas. Bukan lagi dari produksi pertambangan.
Nilai pasar baterai Lithium-ion di tahun 2020 sebesar $1,33 Milyar. Dan tahun 2030 diperkirakan akan menjadi $38,21 Milyar.
… Metode Direct lithium extraction (DLE)
Tahun 2020, dalam kampanye Pilpres di AS, Joe Biden menyampaikan rencananya untuk transformasi energi dari fossil fuel ke green energy. Namun tidak disebutkan, bagaimana memperoleh sumber mineral untuk mencapai green energy tersebut.
“Does your clean energy plan require more mining?”, pertanyaan penting penulis buku ini, Ernest Scheyder kepada Biden. Namun tak dihiraukannya.
Pertengahan Agustus 2021, Biden menyatakan bahwa setengah dari penjualan mobil penumpang dan truk kecil di tahun 2030, harus sudah menggunakan energi listrik. Untuk itu diperlukan bahan mentah baterai berupa mineral logam seperti Nickel, Cobalt atau Lithium. Bergantung jenis baterai yang digunakan. Lithium Ferro Phosphate (LFP), NMC (Nickel Manganese Cobalt) atau NCA (Nickel Cobalt Aluminium).
Air garam panas di Salton Sea mengendapkan banyak material yang mengandung Lithium, Kalsium dan mineral lain, jauh di dasar laut, bersuhu 371°C. Kandungan Lithium dalam air garam tersebut cukup memenuhi harapan Presiden Biden untuk keperluan industri mobil listrik berpuluh tahun di AS.
Direct lithium extraction (DLE) adalah teknologi baru yang diharapkan mampu untuk menyaring Lithium yang ada dalam air garam. Sayangnya, masih pada tahap uji coba dalam skala laboratorium. Dan, air garam panas dari Salton Sea bersifat asam dan korosif, hingga sering menyebabkan penyumbatan pipa. Selain itu, kandungan silika tinggi dalam air garam panas menyebabkan pembentukan gelas saat air garam didinginkan. Penyumbatan pipa pun terjadi lagi. Kesimpulan sementara, tidak ekonomis dan belum terbukti di dunia nyata.
The promise of a cutting-edge technology to produce lithium without the mess of open-pit mines or water-wasting evaporation ponds had not yet been met.
Lithium ini menjadi penting untuk baterai mobil listrik, salah satunya karena bobotnya yang ringan. Logam teringan dalam Sistem Periodik.
… Perak dan Lithium di Bolivia
Sejak awal abad ke-17, kota kecil Potosi, Bolivia di ketinggian 14.000 feet adalah penghasil Perak, yang diekspor ke Spanyol, China dan beberapa negara lain di penjuru dunia.
Pada abad ke-18, cadangan Perak di Potosi mulai berkurang. Dan Spanyol pun mengalihkan eksplorasinya ke tambang Perak lainnya di Mexico. Bolivia tak pernah turut menikmati masa kejayaan tambang Perak Potosi di negerinya. Spanyol yang menikmatinya. Apakah ini yang disebut The natural resource curse? Lebih tragis lagi, Bolivia adalah salah satu negara termiskin di dunia Barat pada abad ke-21.
Cerro Rico, pegunungan yang mengandung deposit Perak, ambruk secara perlahan. Penambang Liar pun mengais sisa bijih Perak dari ribuan terowongan dalam deposit tua tersebut. Hanya untuk kebutuhan dasar, makan.
… Danau Garam Salar de Uyuni, Bolivia
Diapit oleh pegunungan Andes, danau garam terhampar luas di Bolivia bagian barat daya, dekat dengan perbatasan Chile. Hampir seluas 11.000 km2, di ketinggian 3.663 meter. Proses evaporasi ribuan tahun menghasilkan endapan kaya mineral. Berada di bawah air garam, terhampar endapan kaya Magnesium, Potash dan Lithium. Seperti halnya dengan Chile dan Argentina, Bolivia juga kaya akan sumberdaya Lithium. Sehingga ketiganya biasa disebut sebagai “Lithium Triangle”.
Berbagai upaya telah ditempuh dan bermacam perusahaan ternama luar negeri telah terlibat, untuk mengekstrak Lithium dari endapan larutan garam dari salar de yuni, dengan cara ramah lingkungan, namun masih gagal terwujud.
Evo Moralez, Presiden Bolivia, menggelontorkan $400 Juta untuk pembangunan sarana ekstraksi Lithium di salar de yuni, tahun 2013. Mangkrak. Salah satu alasan adalah kesulitan teknis ekstraksi Lithium karena tingginya kandungan Magnesium dan mineral lainnya. Dibutuhkan air yang sangat banyak di wilayah yang relatif kering. Sehingga tidak tercapai keekonomiannya.
The lack of lithium know-how, the remote location, and the high magnesium content of the brine all complicated Evo’s vision.
… Tiehm’s buckwheat (bunga Tiehm)
Bunga Tiehm
Eriogonum tiehmii, dikenal sebagai Tiehm’s buckwheat (bunga Tiehm), spesies perkebunan bunga endemik di Silver Peak Range, Esmeralda County, Nevada, AS. Populasinya dikhawatirkan akan kritis karena kerusakan lingkungan yang terjadi bila disetujui proposal dari perusahaan tambang Australia, ioneer, untuk menambang Lithium disana.
Bernard Rowe, CEO Ioneer, pada tahun 2020 mencoba membuktikan bahwa bunga Thiem (Eriogonum tiehmii) dapat tetap tumbuh subur dengan memindahkan perkebunan ke lokasi lain, yang konsentrasi tanahnya tidak banyak mengandung Lithium dan Boron. Gagal. Mati karena kekurangan air dan diserang hama mamalia.
Hasil berbagai penelitian dan percobaan dilakukan oleh Ioneer untuk mengamankan populasi Bunga Thiem, namun masih gagal. Berujung pada pernyataan Pemerintah AS pada Desember 2022, bahwa Eriogonum tiehmii membutuhkan tanah dengan semua spesifikasi yang ada di Rhyolith Ridge.
Setelah berbagai upaya dilakukan oleh Ioneer, akhirnya U.S. Bureau of Land Management yang berwenang terhadap area Rhyolite Ridge mengeluarkan Notice of Intent, yang isinya kurang-lebih proses akhir perizinan penambangan Lithium bisa mulai dilakukan. Dan tahun 2024 ini diharapkan penambangan Lithium sudah dimulai. Kecuali AS membuka tambang sendiri.
Tahun 1955, Presiden Dwight Eisenhower melarang aktivitas pertambangan di wilayah Oak Flat. Namun di tahun 1971, Presiden Nixon melonggarkannya untuk aktivitas eksplorasi Tembaga, hingga ditemukannya deposit Resolution Copper di tahun 1990an. Dan BHP serta Rio Tinto, melakukan ratusan drilling di wilayah tersebut untuk mengetahui geologi deposit dan jumlah cadangannya.
Sumur (mine shaft) dibangun sedalam 7.000 feet untuk memetakan geologi dari deposit yang diperkirakan cukup untuk memasok Tembaga sebanyak seperempat kebutuhan AS setiap tahunnya.
Rio Tinto dan BHP sangat memahami bahwa Mobil Listrik membutuhkan Tembaga dua kali lebih banyak daripada kebutuhan mobil biasa (internal combustion engine). Dan industri mobil listrik Nikola Corp. dan Lucid Group Inc. sudah membangun pabriknya tak lebih dari 50 mile dari area pertambangan di Superior, Oak Flat.
Karena lokasi deposit yang terletak jauh di bawah permukaan tanah, maka penambangan direncanakan menggunakan underground mining, sistem Block Caving, yaitu sistem ambrukan di dalam tanah.
Diperkirakan, akan terjadi cekungan karena ambrukan batuan seluas 2 mile dan sedalam 1.000 feet. Betulkah? Bahkan Ernest menggambarkannya seolah runtuhnya St. Peter’s Basilica bagi umat Katolik Roma atau al-Masjid al-Ḥarām bagi kaum Muslim. Hemmmm … kampanye lingkungan dengan cara menarik simpati kaum religius?
Tambang tersebut akan berdampak pada penggunaan air sebanyak 192 milyar gallon selama umur tambang. Atau ekivalen dengan penggunaan 5 gallon air untuk produksi setiap pound Tembaga. Atau sebanyak kebutuhan air dari 168.000 rumah selama 40 tahun.
Tumpukan tailing atau waste rock yang dihasilkan akan setinggi 500 feet dan seluas 6 mile persegi. Atau lima kali lebih luas dari New York Central Park.
… EPILOG
Di tahun 2023 itu, Jigar Shah, direktur Pembiayaan, di Departemen Energi, yang membawahi urusan energi bersih, mewakili pemerintah AS sepakat untuk memberi pinjaman ke perusahaan Ioneer sebesar $700 juta untuk pendanaan proyek Lithium di Rhyolite Ridge.
Menurut US Energy Department, Rhyolite Ridge akan memproduksi Lithium yang cukup untuk kebutuhan 370.000 mobil listrik. Dan mampu mencegah 1,3 juta ton CO2. Tercapai target AS untuk Perubahan Iklim Kesepakatan Paris.
Menurut Jigar Shah, “Ioneer was very well prepared and very organized”.
Calaway, CEO Ioneer mengaku sudah menghabiskan ratusan juta dollar untuk membuat Studi Kelayakan, hingga bisa meyakinkan bahwa penambangan Lithium di Rhyolite Ridge akan aman bagi lingkungan.
Pembuat mobil Ford setuju untuk membeli baterai Lithium produk Ioneer dari Rhyolite Ridge. Ford berpartner dengan CATL, akan membangun pabrik baterai senilai $3,5 Milyar di Michigan. CATL adalah pembuat baterai terbesar dunia asal China, yang pernah gagal membangun pabrik di Bolivia.
Paradox Energi Hijau pun semakin sulit terhindarkan ketika kementerian Dalam Negeri AS mengeluarkan larangan penambangan selama dua dekade kedepan seluas 225.504 acre (912,5 km2) di wilayah Minnesota Utara. Termasuk proposal dari Twin Metals untuk penambangan Tembaga, Nickel dan Cobalt.
Aparat Biden di pemerintahan meragukan efektifitas larangan proyek Twin Metals tersebut, mengingat target transisi Energi Hijau yang membutuhkan ketersediaan bahan mentah dari hasil tambang.
Bahkan Pete Stauber, anggota DPR dari Minnesota dengan keras menyatakan,
“If Democrats were serious about developing renewable energy sources and breaking China’s stranglehold on the global market, they would be flinging open the doors to responsible mineral development here in the U.S.”.
Dan Wall Street pun kebingungan, hingga Credit Suisse berkomentar,
“[I]f the U.S. intends to proceed with decarbonization, it will need copper, and blocking all domestic mine developments while expecting sufficient copper to be available may not be sensible. The U.S. may have to approve some projects”.
Di sisi lain, masyarakat adat menentang pertambangan Lithium, Thacker Pass di Nevada. Mereka menuntut supaya General Motors menghentikan pembelian material kelengkapan baterai dari pertambangan tersebut.
Pertambangan Piedmont Lithium pun tak yakin proyeknya untuk mengembangkan tambang terbuka Lithium di North Carolina akan bisa berjalan, bahkan hingga akhir dekade ini.
Dari sisi positif, perlawanan terhadap pertambangan untuk kepentingan EV Battery memicu inovasi terhadap teknologi pemurnian Lithium. Tahun 1979, ahli kimia John Burba, pHd. dkk. bermaksud membuat peralatan pemurnian Lithium, DLE portable (direct lithium extraction). Teknologi pemurnian Lithium melalui pengolahan air yang diperoleh dari ekstraksi bersama minyak dan gas.
Muncul perusahaan kecil Metals Co. di Vancouver, British Columbia, yang menyatakan mampu mengekstraksi Lithium dan Tembaga untuk keperluan transisi energi hijau, tanpa menambang dari daratan. Melainkan dengan teknologi menghisap (vacuum) mineral berukuran kentang dari lantai dasar Samudera Pasifik. Belum terbukti kebenarannya, namun sudah mendapatkan perlawanan dari Greenpeace dan penggiat lingkungan lainnya. Mengganggu kehidupan ikan paus.
Marco Lambertini, international director general of the World Wildlife Fund, menyatakan,
“I share that grave sense of urgency. But we must not, once again, try to solve a problem while ignoring predicted consequences that could make the original problem even bigger. It is the very gravity of our current circumstances that requires us to act with utmost care for our planet’s life-support system: nature”.
Juni 2023, Albemarle Corporation (perusahaan besar pemurnian Lithium di AS) adalah perusahaan pengolahan Lithium pertama di dunia, untuk wilayah operasi di Chile, yang lolos dari audit IRMA. Pujian diberikan oleh direktur eksekutif IRMA, Aimee Boulanger, karena komitmennya untuk lebih peduli terhadap keterbukaan dan kepentingan masyarakat.
Bunga Tiehm (Tiehm’s buckwheat) menjadi simbol dilema antara pertambangan dan revolusi energi hijau, dalam upaya mengatasi krisis iklim. Dan Penulis, Ernest Scheyder, mengakhiri buku ini dengan pernyataan Jerry Tiehm,
“If you find interesting habitats, you’ll find interesting plants”.
… Komentar
Narasi dramatik yang ditulis Scheyder di bawah ini lazim disampaikan para penggiat Lingkungan untuk menentang Pertambangan dimanapun,
The wind whispered through the air. A coyote howled in the distance. Birds fluttered from nearby nests. It was idyllic in the truest sense of the word. It was hard to imagine North America’s largest lithium mine one day being at that spot.
Ironisnya, keindahan diatas dinikmati semuanya melalui peralatan yang tentu saja berasal dari material logam atau gelas yang berasal dari produk pertambangan. Dan sangat tidak adil bila pemenuhan bahan logam semua itu harus dicukupi dari negara lain.
Perlu diingat bahwa Ernest Scheyder, penulis buku ini, adalah jurnalis. Bukan ahli Lingkungan ataupun ahli Pertambangan. Hanya, tersirat jelas dari narasinya bahwa Scheyder cenderung bersikap sebagai seorang Pecinta Lingkungan, anti Tambang.
Dari banyak inisiatif atau praktek pertambangan yang disajikan, ada yang tetap berjalan dengan dukungan Pemerintah dan ada pula yang berhenti karena protes masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap Pertambangan pun, beberapa mampu dilalui setelah persoalan diselesaikan melalui upaya teknis, bantuan finansial, kerjasama bisnis maupun politis (kekuasaan) atas nama kepentingan Energi Hijau atau kemandirian bangsa AS.
MAO AND MARKETS. The Communist Roots of Chinese Enterprise
Dalam pidatonya pada perayaan 100 tahun Partai Komunis China (China Communist Party) tanggal 1 Juli 2021 di Beijing, presiden Xi Jinping mengutip pernyataan Mao Zedong,
“Only socialism can save China, only socialism can develop China.”
Presiden Joe Biden pernah menampik target China kedepan menjadi negara terdepan di dunia, negara terkaya di dunia dan negara terkuat di dunia,
“That’s not going to happen on my watch because the United States is going to continue to grow and expand.”
Sayang sekali, menurut Marquis, pengetahuan Barat tentang China dan khususnya Komunis, sangat terbatas.
Buku “MAO AND MARKETS” yang masuk dalam Financial Times “Best Book of 2022” ini adalah karya Christopher Marquis (pengajar manajemen China di Cambridge university dan Harvard university) dan Kunyuan Qiao (Georgetown McDonough School of Business), yang diterbitkan oleh Yale University Press books, tahun 2022.
Sejarah dimaksud mulai dari pemerintahan Mao Zedong dengan pembentukan Partai Komunis China (China Communist Party/CCP), jargon Lompatan Jauh Kedepan (the Great Leap Forward), Revolusi Kebudayaan (Culture Revolution) dan the Third Front Construction. Kemudian berlanjut dengan kepemimpinan Deng Xiaoping hingga masa kini dibawah Xi Jinping.
Disajikan dalam 4 bagian besar dengan 12 bab di dalamnya, buku ini menjelaskan bayak hal tentang sejarah ekonomi politik China sejak Mao Zedong, Deng Xiaoping hingga Xi Jinping. Beberapa catatan kecil bisa disampaikan sbb:
Sebagai pembuka dari buku ini, Marquis menyajikan data, bahwa Rerata Pertumbuhan GDP China antara 1978 (ketika China memulai reformasi ekonomi) hingga 2019 adalah 9,45%. Sedangkan pertumbuhan GDP per kapita naik pesat 60 kali lipat. Bahkan di masa pandemi Covid-19 dan perang dagang dengan AS, China masih mampu tumbuh 2,3% di tahun 2020. Dan mencapai pertumbuhan 8,1% di tahun 2021. Tertinggi sejak 2011 dan mencapai surplus perdagangan tertinggi sebesar $687,5 milyar. Luar biasa.
Banyak ahli strategi ekonomi Barat, termasuk White House berpendapat bahwa Xi Jinping akan melakukan reformasi ekonomi melalui privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN China ketika mulai menjabat sebagai Presiden 2012. Mengejutkan, Xi justru dianggap berbalik arah, menuju era sebelum tahun 2000an ketika Mao Zedong berkuasa.
Dalam perayaan 100 tahun PKC tahun 2021, Xi Jinping kembali menegaskan,
“any attempt to separate . . . the CCP from the Chinese people will never succeed!”
Perayaan 100 tahun PKC
Banyak pihak berprasangka bahwa Komunisme di China akan runtuh seperti halnya Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur, tiga dekade yang lalu. Para pengamat tersebut terlalu berharap bahwa kekuatan liberalisasi pasar dan ekonomi AS-Eropa Barat akan sangat mempengaruhi kebijakan domestik dan luar negeri China.
Marquis berpendapat bahwa Barat atau AS khususnya, salah mencermati ekonomi-politik China. Tak cukup pengetahuan mengantisipasi perubahan disana, menurutnya. Xi ternyata tetap berkomitmen untuk membangun sistem ekonomi-politik China yang independen dari pengaruh Barat. Untuk itu Marquis menyarankan supaya White House mulai mengevaluasi pemahamannya tentang China dengan lebih akurat dan obyektif. Bukan hanya didasari atas politik dan harapan semu. Untuk itu, pemahaman perlu lebih dalam mengacu pada sejarah dan ideologi China.
…
MAO ZEDONG DAN PKC (CCP)
Mao Zedong adalah pendiri RRC yang sangat digdaya, meninggalkan jejak abadi bagi individu, masyarakat dan berbagai institusi. Bahkan hingga kini sangat berpengaruh terhadap pembentukan jatidiri ekonomi-politik China. Dan Xi, berulang kali mengingatkan,
“To understand China today, one must learn about the foundation of the CCP.”
Setelah berlangsung lama berinteraksi dengan China, Barat berasumsi bahwa dengan liberalisasi ekonomi, akan berujung pada demokratisasi politik. Oleh karenanya, AS membuka jalan bagi China untuk masuk ke dalam WTO 2001, dengan asumsi bahwa semakin terintegrasi dengan ekonomi global makan akan semakin cepat demokratisasi terjadi secara natural.
“By joining the WTO,” President Clinton declared in 2000, “China is not simply agreeing to import more of our products, it is agreeing to import one of democracy’s most cherished values: economic freedom. When individuals have the power . . . to realize their dreams, they will demand a greater say.”
Salah. Bahkan internet yang semula diharapkan Barat sebagai media demokratisasi bottom-up, justru sebaliknya menjadi alat yang efektif bagi China untuk kendalikan rakyatnya secara top-down. Termasuk keberhasilan penggunaan internet sebagai alat kontrol dan monitor penanggulangan penyebaran virus Covid-19 melalui lockdown,.
Banyak bangsa di dunia juga keliru ketika beranggapan bahwa aktivitas ekonomi di China hanya disokong oleh perusahaan milik negara atau BUMN (state own company). Perlu diketahui bahwa sejak 2020, mesin utama pertumbuhan ekonomi China adalah perusahaan-perusahaan swasta (private companies).
Statistik menunjukkan bahwa 20 juta perusahaan di China adalah perusahaan swasta, yang dijalankan lebih dari 15 juta pengusaha. Dan perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan lebih dari 50% pendapatan pajak (tax revenue), 60% GDP, 70% inovasi dan 80% tenagakerja. Bahkan banyak dari para pengusaha tersebut telah masuk dalam kategori konglomerat dunia.
Buku ini menjelaskan bahwa meskipun China melakukan “blending” antara politik pemerintahan komunis dengan pasar kapitalistik, namun tidak berarti terjadi dikotomi komunis-kapitalis seperti yang dibayangkan oleh Marx-Angels, “entrepreneurs and capitalists in general as class enemies”.
…
HUAWEI & “BLENDING” KOMUNISME-KAPITALISME
Banyak contoh kesuksesan praktek “blending” komunisme-kapitalisme ini disajikan Marquis dalam buku ini. Salah satunya tentang Ren Zhengfei, pendiri perusahaan teknologi raksasa Huawei. Lahir dari keluarga miskin di provinsi Guizhou, 1944. Kedua orangtuanya adalah guru. Anak tertua dari tujuh bersaudara. Setiap bulan, orangtuanya harus meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Khususnya dimasa kelaparan akut (thegreat famine) akibat Revolusi Kebudayaan (the Cultural Revolution) dan situasi politik yang menakutkan, 1959-1961, hingga memakan korban 30 juta orang. Kesulitan hidup saat itu, menjadi pengalaman untuk bisa hidup sederhana, sehingga membentuknya, juga keluarganya, tumbuh hidup bersahaja.
Lulus sebagai insinyur dari universitas Chongqing. Tahun 1974 Ren masuk militer. Banyak mendapat penghargaan karena penguasaannya dalam ideologi Maoisme, khususnya tentang Quotations of Chairman Mao dan Selected Works of Mao Zedong. Di era itu, “being “red” (that is, loyal to Mao and proficient in his ideas) was more important than being expert in one’s profession. Tahun 1978 bergabung dengan PKC (CCP) dan pensiun dari militer 1983.
Tahun 1987, Ren mendirikan Huawei, dengan modal awal 21.000 RMB ($5.680). Menerima berbagai penghargaan nasional dalam teknologi komunikasi. Tahun 1993 menjadi kaya karena menjual network switch. Mendominasi pasar telekomunikasi China.
Banyak pimpinan politik PKC, termasuk Wakil Presiden Hu Jintao, membawanya dan memperkenalkan bisnisnya ke berbagai negara lain. Saat ini, Huawei menjadi salah satu perusahaan teknologi yang inovatif di dunia.
In 2021 it ranked fifth worldwide in patent holding, and it has the second-largest research and development outlay ($20 billion). It earned the equivalent of $140 billion in revenue in 2020 and $99.43 billion in 2021 despite sanctions initiated by former US president Trump.
Dedikasi komunisme yang tinggi sehingga nilai-nilai PKC memberikan semangat terhadap Huawei. Menurut Ren,
“I would still keep my word when joining the CCP as the Communist Manifesto is to serve all human beings . . . and Huawei was getting at this. . . . Our effort was effective and thus fulfilled the mission of the CCP.”
Bahkan bila terjadi konflik antara PKC dan Huawei, maka Ren akan,
“choose the CCP whose interest is to serve the people and all human beings, and he could not betray the principles of serving all human beings.”
Ren berjanji,
“be loyal to CCP, fight for communism for his whole life, sacrifice himself for the interest of people and the CCP, and never betray the CCP.”
Seiring tumbuhnya Huawei, Ren semakin sering menekankan nilai-nilai Mao kedalam manajemen perusahaan hingga menjadi budaya kerja,
“Maoism is the guiding principle (and soul) of Huawei,” and Huawei’s “management philosophy and strategy are commercial applications of Maoism.”
Pernyataan Ren yang menarik adalah bahwa “negara asing hanya butuh mengambil rejeki dari China. Dan membeli teknologi darinya justru tidak akan membuat China menjadi independen”. Oleh karenanya, Ren meminta Huawei untuk membelanjakan sedikitnya 10% dari Pendapatan (Sales Revenue) untuk keperluan Research & Development.
Ren dan banyak pengusaha China juga menerapkan Strategi Militer Mao yang dikenal dengan “surrounding cities from the countryside” (dari desa kepung kota). Yaitu, revolusi dimulai dari pinggiran (desa) untuk mendapat dukungan dari para Petani, dan setelah kuat akan bergerak ke dalam kota dengan memobilisasi kaum pekerja.
Tahun 1992, Huawei menghadapi kompetitor tangguh Alcatel, Lucent, dan Nortel Networks. Huawei melawan dengan mulai menyasar target pasar berpendapatan rendah dan berada di area terpencil. Penjualan bergerak dari desa ke desa di wilayah belum berkembang. Secara perlahan mulai masuk ke kota, provinsi dan menyebar seantero negeri.
Ren has made it very clear he is committed to the CCP, and his ideology and strategies are not uncommon among entrepreneurs in China.
Demikian juga dengan Jack Ma, Pendiri dan CEO dari group Alibaba. Mereka berdua Jack Ma dan Ren, adalah Pengusaha Komunis (communist entrepreneurs), yang mengelola bisnis privat dan sekaligus anggota PKC. Masih banyak contoh lain pengusaha seperti mereka ini di China.
Bagaimana mereka menyatukan dua ideologi yang sepertinya berlawanan, namun justru bisa bersatu untuk pertumbuhan ekonomi, adalah kunci untuk memahami ekonomi pasar China.
Persentase Pengusaha Anggota PKC
Dari grafik, terlihat bahwa beberapa tahun terakhir rerata Persentase Pengusaha dari anggota PKC adalah 30-35%. Dan mulai meningkat pesat sejak 2001, ketika Presiden Jiang Zemin menghapuskan larangan Pengusaha Privat menjadi anggota PKC. Estimasi, saat ini sudah ada 3 juta Pengusaha Komunis (anggota PKC).
…
PENGUSAHA KOMUNIS
Pidato Presiden Xi Jinping di depan anggota politbiro PKC, 23 November 2015 menyatakan bahwa:
“We are developing a market economy under the major premise of the leadership of the CCP and the socialist system. We must never forget the attribute ‘socialism.’ The reason for saying that it is a socialist market economy is to uphold the superiority of our system and effectively prevent the drawbacks of the capitalist market economy.”
Pernyataan diatas adalah penegasan Xi bahwa market economy adalah subordinat dari socialist system. Sehingga bisa diartikan sebagai “market economy within the Chinese socialist system.”
Marquis berpendapat ada dua warisan utama yang diberikan oleh Mao, yaitu nilai-nilai yang berpengaruh pada:
Individu. Tumbuh pada masa depresi membuat pengusaha cenderung menghindari risiko, lebih percaya pada keberuntungan daripada prestasi, dan lebih konservatif dalam bisnis dan pengambilan keputusan keuangan. Namun Pengusaha privat Komunis lebih nyaman dan percaya diri untuk komunikasi dengan Pemerintah, dibanding Pengusaha privat non-komunis.
Masyarakat dan ekonomi. Legitimasi PKC masih tetap perlu mengacu pada Maoisme. Pemikiran Xi Jinping dalam Socialism with Chinese Characteristics for a New Era, menggarisbawahi pentingnya sosialisme dan pemerintahan komunis pada kepemimpinan PKC. Dan sebelumnya, Deng Xiaoping Theory juga menegaskan dalam empat prinsip dasar, yaitu:
Tetap pada jalan Sosialisme
Diktator proletariat
Kepemimpinan PKC
Idealisme Marxist–Mao Zedong.
Kenyataan bahwa Pengusaha Komunis mampu menyatukan Maoisme dan Pasar memang membingungkan Barat. Namun sebenarnya budaya Timur mempunyai dasar filosofinya, yaitu Yin-Yang. Gaya yang berlawanan bisa saling memperkuat, mengikat, dan saling membutuhkan. Berbeda dengan tradisi intelektual Barat (Yunani/Aristotelian) yang beranggapan bahwa berbeda/kontradiksi adalah melemahkan.
Thus, Eastern intellectual traditions are more comfortable with paradox and ambiguity than Western empiricism and take a more holistic view.
Berbagai studi psikologi sosial menunjukkan bahwa dalam interaksi sosial, Barat cenderung fokus pada Obyek, sedangkan bangsa Asia lebih fokus pada Relasi Sosial. Terkait dengan hal tersebut, masyarakat Barat cenderung memahami idea dengan cara memecahnya menjadi satuan individu yang masuk dalam kategori-kategori yang telah ditentukan (mengkotak-kotakkan masalah). Contoh, meletakkan “state” dan “market” menjadi bagian terpisah, bahkan dikotomi. Sebaliknya pendekatan China (PKC) justru menggabungkan keduanya. Seperti pernyataan Deng,
“A little more plan or a little more market is not the fundamental difference between socialism and capitalism—the plan and the market are both economic tools.”
Ideologi Marx dan Engels, meletakkan Kontradiksi menjadi elemen penting. Demikian juga dengan Maoisme. Perjuangan Kelas (Class Struggle), pertentangan antar kelas ekonomi, menjadi jargon untuk memahami perilaku politik masyarakat.
Setelah Reformasi 1970an, PKC mendefinisikan ulang tentang Perjuangan Kelas tersebut menjadi Kontradiksi antara tumbuhnya harapan hidup rakyat yang lebih baik dengan realitas menurunnya tingkat ekonomi. Dan tahun 1981, Kontradiksi resmi dinyatakan Pemerintah sebagai,
“the ever-growing material and cultural needs of the people versus backward social production.”
Di tahun 2017, Presiden Xi Jinping menambahkan secara resmi isu Kesenjangan sosial sebagai hal yang penting untuk segera diatasi,
“contradiction between unbalanced and inadequate development and the people’s ever-growing needs for a better life,”
Menurut Max Weber, dalam sejarahnya, pemerintahan China adalah sistem monarki, yang berisikan masyarakat berketergantungan tinggi terhadap kepemimpinan (sentralisasi), dan pemerintah yang mampu menyatukan, mengelola dan menjamin perbedaan geografi dan budaya (desentralisasi). Dan sejak Dinasti Qin (221 BC) legitimasi pemerintahan China sudah terbukti mampu menyatukan banyak provinsi dengan berbagai perbedaannya. Dan tetap memberi otoritas pengembangan ekonomi masing-masing di wilayah lokal.
Weber berpendapat bahwa Kelas sosial baru telah muncul, yaitu Shidafu, Kelas Sarjana-Pejabat, yang mampu menyelesaikan masalah Kontradiksi. Kelas yang loyal terhadap Pemerintah, dan saat yang sama mampu memimpin komunitas dan keluarganya untuk menyeimbangkannya. Kepentingan sentralisasi dan desentralisasi.
Pengusaha Komunis bersikap seperti halnya Shidafu, bergantung pada pemerintahan PKC namun independen sebagai pengusaha individual.
Yang menarik adalah, semakin banyak pengusaha komunis, semakin besar dukungan dan semakin berkurang resistensi terhadap pemerintah PKC. Dan potensi ancaman Kapitalisme akan terserap langsung oleh PKC. Pemerintah PKC akan mendorong semakin banyak anggota PKC menjadi Pengusaha juga sebaliknya.
…
MITHOS
Ray Dalio, pendiri perusahaan hedge fund terbesar di dunia “Bridgewater” mengatakan,
“A communist country can be so capitalist that they have the second largest capital market in the world, produce billionaires, and simultaneously be Marxist.”
Dan lanjutnya,
“if you don’t know how to answer that riddle, then you must not understand China.”
Terkait dengan pernyataan Ray Dalio diatas, beredar mithos di berbagai belahan dunia, khususnya Barat, tentang China yang mulai terbuka, yaitu:
With Globalization and Economic Development, China Will Democratize
Seperti dijelaskan Francis Fukuyama dalam bukunya, “The End of History and the Last Man”, bahwa sejarah bergerak ke arah pemerintahan demokratis, sebagai keniscayaan modernisasi pemerintahan dan perkembangan ekonomi. Berlatar belakang runtuhnya Uni Soviet, Fukuyama memperkirakan Demokrasi Liberal akan menjadi bentuk final pemerintahan di seluruh dunia.
Mitos yang salah diatas, semakin dipercaya Barat dengan populasi China yang didominasi usia lanjut akibat kebijakan Satu Anak dimasa lalu, hutang semakin tinggi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kerusakan lingkungan dan tantangan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
China Can Be Understood through a Soviet Lens
China berbeda dengan Soviet. Seperti dijelaskan diatas bahwa dengan luasnya wilayah geografi dan beraneka budayanya, China memberi otoritas lokal untuk mengembangkan ekonominya (desentralisasi), meskipun kekuasaan politik bersifat sentral.
The Chinese (Communist) Government Is Flexible
Sikap pragmatis PKC pada masa awal Keterbukaan China sering disikapi para penulis Barat secara berlebihan. Benar bahwa memang ada pergeseran kebijakan ekonomi China, tapi bukan berarti kemudian bergerak ke arah demokratisasi.
Marquis menyarankan, daripada menunggu dan berharap Maoisme segera runtuh, para praktisi bisnis dan politikus Barat lebih baik melihat fakta yang ada, kemudian melakukan “coexist,” “cooperate,” dan “compete” dengan Komunis dalam jangka panjang. Tiga kata kunci yang sering diucapkan oleh Antony Blinken, Menlu AS.
…
SENTRALISASI POLITIK
Kendali atas-bawah (top-down) adalah karakter dasar dari partai Leninist dengan hirarki terpusat yang kuat dalam kepemimpinan politik.
Di China, para pemimpin Partai di tingkat provinsi (termasuk aparat pengurusnya) dipilih dan bertanggungjawab kepada otoritas Pusat. Selanjutnya, pemimpin partai provinsi menentukan pengurus di wilayah distrik atau wilayah di bawahnya. Berbeda dengan Barat, para pemimpin Daerah hingga Pusat ditentukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Dan tidak ada pertanggungjawaban politik atasan-bawahan antara Pimpinan Pusat dan Daerah.
…
DESENTRALISASI EKONOMI
Manajemen ekonomi China mengikuti aturan desentralisasi. Daerah akan saling berkompetisi untuk kemajuan ekonominya. Prestasi dalam ekonomi daerah akan dipertimbangkan oleh otoritas pusat sebagai pertimbangan kenaikan jabatan politik pemimpinnya dalam struktur partai PKC. Pemerintah daerah akan bertanggung jawab terhadap kendali ekonomi untuk semua industri di wilayahnya.
Berbeda dengan China, di Uni Soviet, urusan ekonomi nasional dilakukan secara terpusat. Dengan kendali vertikal yang berbeda untuk masing-masing industri.
Politisi China saat ini cenderung pro-bisnis. Mengingat sikap politik Xi yang semakin kuat kearah Maoisme, maka kelenturan para politisi tersebut terhadap bisnis, perlu disandingkan dengan loyalitas ajaran Maoisme. Ini menjadi rujukan penting bagi para pengusaha asing untuk memilih partner di China.
…
EKONOMI SOSIALIS & PERUSAHAAN PRIVAT
Kekuatan ekonomi China ditopang oleh tiga faktor utama, yaitu:
BUMN (State Owned Companies),
Ekonomi Terencana (Planned Economy)
Program Intervensi Strategis (Repelita, dll.)
Pemerintah cenderung untuk terus memberi subsidi kepada SOEs. Ini yang menjadi pokok permasalahan Perang Dagang dengan AS, di era Trump dan Biden.
Tahun 1976 Mao meninggal. Dan sejak 1978, dibawah Deng Xiaoping, pemerintah China mulai mendorong Ekonomi Pasar. Setelah 1992, pemerintahan PKC banyak melakukan transformasi Private Economies menjadi perusahaan privat. Atau transformasi menjadi collective-owned enterprise (COE), yaitu badan usaha yang statusnya berada diantara SOE dan Perusahaan Privat.
Pemikiran Xi Jinping, Thought on Socialism with Chinese Characteristics for a New Era, menegaskan bahwa,
“tanpa landasan penting yang telah diletakkan lama oleh SOEs untuk pembangunan China, tanpa inovasi besar dan teknologi kunci utama yang dicapai SOEs, dan tanpa komitmen jangka panjang SOEs terhadap tanggungjawab sosial yang besar, tidak akan ada kemandirian dan ketahanan ekonomi nasional China, tidak akan ada keberlangsungan perbaikan kehidupan menerus bagi rakyat, dan tidak akan berdiri tegak sosialisme China di belahan dunia Timur”.
Seiring pemikiran Xi diatas, tahun 2018, 2019 dan 2020, pemerintah China telah menasionalisasi beberapa perusahaan privat, total senilai $100 Milyar. Tahun 2019,pemerintah PKC telah mengakuisisi saham group Alibaba dan $40 Milyar saham Geely (pemilik group Volvo dan Daimler). Kemudian juga saham Anbang Insurance ($200 Milyar) dan Hainan Airlines Group ($140 Milyar). Lalu mengambil kepemilikan 1% ByteDance (pemilik TikTok/Douyin) dengan hak menempatkan Direksi. Hal yang sama, 1% kepemilikan dari Sina Weibo (microblogging website).
Ada positif negatif menjadi perusahaan dibawah kendali pemerintah. Keduanya mempunyai prioritas dan asumsi fundamental yang berbeda. Yang bisa berpotensi konflik diantara keduanya.
Kepemilikan negara berarti standard birokrasi pemerintah yang berperan utama. Dan keuntungan bukan menjadi kepentingan utama. Penerimaan karyawan bisa jadi untuk kepentingan pengurangan pengangguran, bukan karena kebutuhan tenaga-kerja untuk efektifitas dan efisiensi bisnis.
Di sisi lain, kepemilikan negara bisa juga menguntungkan bagi perusahaan privat. Lebih mudah mendapatkan bantuan kredit perbankan, menyelesaikan masalah lingkungan dan tenagakerja. Dan banyak hal dalam urusan dengan pemerintah lainnya, termasuk perlindungan politik oleh PKC. Saat krisis ekonomi global 2009, pemerintah China menggelontorkan hingga trilyun dollar untuk penyelamatan ekonominya, SOEs maupun perusahaan privat.
-Mao05-
Pengusaha privat pernah menyatakan betapa mudahnya mendapatkan kredit dari pemerintah, bila ada kerjasama dengan SOE. “Kerugian finansial pun masih dimungkinkan, asalkan aset Pemerintah tetap aman. Pemerintah juga menyediakan sumberdaya dan kapital”.
Adanya kepemilikan Pemerintah di dalam perusahaan privat akan sangat meringankan aspek finansial.
Bunga 14,8% akan dikenakan terhadap pinjaman perusahaan privat dengan kehadiran kepemilikan Pemerintah. Bunga 19,9% bagi perusahaan privat tanpa kepemilikan Pemerintah.
Bagi perusahaan privat murni, akan dikenakan biaya kolateral 50,5 % dari total pinjaman, sedangkan kehadiran kepemilikan Pemerintah hanya disyaratkan kolateral 40,7%
… CABANG PKC DI PERUSAHAAN PRIVAT
Pemerintah China semakin banyak menempatkan cabang atau sel PKC ke dalam perusahaan privat. Saat ini sudah mencapai lebih dari setengah total perusahaan privat. Cabang PKC tersebut berperan untuk mensosialisasikan kebijakan pemerintah yang dapat membantu kelancaran proses bisnis, kepada anggota baru dan pimpinan perusahaan. Tiga orang anggota PKC adalah jumlah minimum untuk bisa dibentuk Cabang/Sel PKC dalam perusahaan.
Di Huawei terdapat lebih dari 300 cabang PKC dengan puluhan ribuan anggota. Bahkan Jack Ma menyatakan bahwa manajemen SDM Alibaba miliknya, didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Mao, “building party branches on the company [military unit] level.”
Mengingat nilai-nilai Barat mulai merembes masuk ke dalam perusahaan China, maka pemerintahan PKC merasa perlu untuk memperkuat pengaruhnya dalam menjaga kendali politik dan memastikan tercapainya jargon “the Party leads everything”. Ini adalah bagian dari upaya keras PKC untuk mengendalikan ekonomi, masyarakat dan aktivitas politik di China.
Bahkan sel-sel PKC ini juga sudah masuk ke dalam perusahaan Barat yang ada di China. Tentu sebagai konsekuensi menjalankan bisnis disana.
Dan Jack Ma pun tak ketinggalan mengumumkan pada konferensi PKC di Alibaba pada 10 Juni 2010, bahwa tujuannya adalah
“make Alibaba’s party branch the best and most advanced one in China,” kemudian mempertegas bahwa “95 percent of CCP-member employees are scoring ‘good’ in their performance,” dan tambahnya “CCP-member employees are the backbone of the enterprise”.
Secara umum, perusahaan privat dengan cabang PKC di dalamnya, akan berkinerja finansial lebih bagus. Keuntungan 12,6% lebih tinggi daripada perusahaan privat tanpa cabang PKC di dalamnya.
Tiga industri internet terbesar di China, yaitu Alibaba, Baidu dan Tencent mempunyai cabang PKC di dalamnya.
Hal terpenting yang disarankan Marquis adalah bahwa pengamat asing sebaiknya tidak memandang sistem politik dan ekonomi China melalui kacamata ideologis atau menyimpulkan yang terlihat tidak lazim di luar konteks. Untuk memahami lingkungan bisnis di China, harus menerimanya sebagai suatu sistem yang utuh dan unik, untuk memahami peran semua elemen yang berbeda.
Dan penting juga digarisbawahi bahwa meskipun kepemilikan perusahaan privat oleh pemerintah berpotensi konflik dan menjadi rumit, namun kenyataannya banyak keuntungan bisa dinikmati olehnya. Pendampingan oleh Pemerintah, banyak mempermudah perusahaan privat untuk mendapatkan bantuan finansial dan menyelesaikan persoalan regulasi pemerintah.
Mengingat 95 juta orang adalah anggota PKC, maka sangat mungkin bahwa dalam satu dekade kedepan atau lebih, semua perusahaan privat di China akan berisi cabang PKC. Dan ini pasti membuat Barat merasa tidak nyaman. Alih-alih berusaha menentangnya, Barat sebaiknya berusaha menerima dan mulai bisa menerima situasi tersebut bila berharap untuk bisa tetap berbisnis disana.
… DAMPAK PROGRAM BESAR MAO
THE GREAT LEAP FORWARD (1958-1961)
Contoh pengusaha sukses yang hidup di masa The Great Leap Forward banyak disampaikan dalam buku ini. Analisis statistik terhadap database pengusaha sukses yang dapat bertahan hidup di masa kelaparan akut (Great Famine), cenderung mempunyai pola pikir sangat efisien dalam mengelola sumberdayanya.
Contoh, Wang Shi, pemilik China Vanke, pengembang properti terbesar di China. Menurutnya, “I need to leverage whatever resources I have for my businesses, and it is critical to use resources efficiently”.
Mengetatkan ikat pinggang untuk dapat memberi makan keluarganya. Dan selalu mengupayakan daur ulang, penggunaan kembali, atau adaptasi barang-barang bekas. Hemat menjadi gaya hidup selanjutnya.
Dua aspek penting dalam The Great Leap Forward adalah: produksi pertanian dan industri baja.
… Produksi Pertanian
Untuk meningkatkan produksi pertanian, Mao memerintahkan dilaksanakannya sistem pertanian kolektif melalui pembentukan Masyarakat Komunal. Semua petani menyerahkan asetnya (lahan, rumah dan isinya, ternak dan hasilnya). Tinggal dan makan bersama di tempat serta makanan yang disediakan oleh pemerintah. Untuk melakukan aktivitas pertanian bersama. Upah diberikan secara seragam per komunal atas dasar total hasil panen yang dihasilkan bersama. Sama rata, sama rasa.
Merasa tidak adil, banyak petani lebih rela membunuh ternaknya daripada berbagi dengan yang lain. Konsumsi makanan di ruang bersama pun menjadi berlebihan. Produksi pertanian menurun. Namun laporan fiktif atas tingginya hasil panen terus terjadi. Hanya untuk menyenangkan Mao. Kelaparan mulai terjadi.
… Industri Baja
Karena kerja kolektif menghasilkan tingginya hasil pertanian (Mao belum menyadari banyaknya Laporan Palsu), Mao mulai melakukan hal yang sama dengan mengerahkan tenagakerja pedesaan untuk meningkatkan produksi baja dua kali lipat dalam satu tahun.
Industri Baja menjadi proyek prioritas China. Sembilan puluh juta tenagakerja dikerahkan untuk maksud tersebut. Jutaan tungku dibangun oleh rakyat untuk melebur besi, dengan maksud diproses lebih lanjut menjadi baja. Rakyat banyak menyumbang peralatan rumahtangga dari besi untuk dilebur. Demi peningkatan produksi baja.
Ternyata tungku pengolahan besi tidak cukup proses untuk bisa memproduksi baja. Gagal.
Lebih buruk lagi, karena banyaknya tenagakerja yang seharusnya bertani, dipekerjakan sebagai buruh pabrik baja, maka produk pertanian semakin menurun tajam. Hanya 90% hasil pertanian bisa dipanen.
Ketersediaan makanan per kapita per hari menurun tajam (1500 kalori), dibawah kebutuhan rata-rata per hari (2200 kalori). Puluhan juta tewas kelaparan, puncaknya di tahun 1960. Hampir 200.000 orang mengungsi ke Hongkong secara ilegal.
-Grafik-
Belajar dari pengalaman kelaparan akut (Great Famine), munculah ideologi untuk berhemat “the Great Leap Forward” yang dicanangkan oleh Mao, “working hard and saving” dan “building socialism quickly and economically”.
Para pengusaha sukses China saat ini, yang mengalami hidup di masa Kelaparan Akut cenderung berpendapat kurang-lebih sama, yaitu
“I have been poor and I am afraid of being poor, so I dare not do high-risk things but save every penny.”
Mereka rata-rata mampu memperoleh pendapatan 55.1% lebih banyak, dari total biaya perusahaan, daripada mereka yang tidak mengalami peristiwa buruk tersebut.
–Grafik Costs, Personal Expenses, and Entrepreneurs’ Great Leap Forward Experience
… THE CULTURAL REVOLUTION (1966-1976)
Program Cultural Revolution ini dicanangkan oleh Mao pada tanggal 16 Mei 1966. Ada 5 tipe yang dianggap Musuh Rakyat di masa Revolusi Kebudayaan, yaitu:
Tuan tanah
Petani kaya
Kontra revolusi (counterrevolutionaries)
Yang berpengaruh buruk (bad influencers)
Simpatisan Kapitalis
Ada 3 fokus utama, yaitu:
Penggantian Komite PKC dan aparat Pemerintah dengan mereka yang loyal terhadap Mao
Persekusi, siksaan dan pembunuhan terhadap musuh Kelas oleh Red Guards
Pemantapan program the send-down movement, yaitu pengiriman jutaan pemuda ke wilayah miskin untuk pendidikan kerja keras pertanian. Xi Jinping termasuk yang terkena program ini.
Menurut Beijing Daily, 20 Desember 1980, antara Agustus-September 1966, 1.772 orang dibunuh oleh Red Guards di Beijing, termasuk para guru dan Kepala Sekolah, 33.695 rumahtangga mengalami penyitaan barang-barang, dan 85.196 keluarga dipaksa meninggalkan rumahnya. Lebih dari 10.000 orang tewas karena persekusi di Provinsi Guangxi.
Pada umumnya, CEO yang pernah mengalami Revolusi Kebudayaan, akan lebih berpotensi melakukan salah kelola perusahaan atau melakukan tindak kriminal, korupsi atau penyuapan (2,7%) dibanding mereka yang tidak mengalaminya. Pengusaha korup, seringkali didahului oleh pengalaman aktivitasnya yang kurang ethis di era Revolusi Kebudayaan. Beberapa nama sebagai contoh disampaikan dalam buku ini. Song Yongyi dari California State University, Los Angeles, menyatakan “Cultural Revolution turned people into beasts, and some people cannibalized others.” dan “Cultural Revolution made us demons.”
Liu Chuanzhi, pendiri multinational technology company Lenovo, menyatakan bahwa banyak koleganya yang mengalami Revolusi Kebudayaan, telah meninggalkan China. Banyak dari mereka sudah mempunyai paspor AS, Canada atau Australia. Termasuk Yao Anna (Annabel Yao), putri dari pemilik Huawei (Ren Zhengfei), telah mempunyai paspor AS.
Likelihood of financial misconduct
Namun dari sisi yang berbeda, banyak juga yang memujinya.
“In the past, our lives were bitter, but everyone was on the same level and people were spiritually satisfied. Today, the gap between the rich and poor is widening. The rich are getting richer, and people without money find it more difficult to live.”
“The people who participated in the send-down movement devoted significant effort to the construction of China. I really want to thank that generation very much. If there is no dedication from the next generation, the speed of China’s development will not be so fast”.
Pelajaran dari Cultural Revolution bagi mereka yang akan bekerjasama dalam bisnis dengan China, menurut Marquis adalah,
“Some of the entrepreneurs who experienced its chaos are extremely cynical about the law. Thus, it is necessary to do careful background checks of potential customers, clients, suppliers, and partners”.
“Foreign businesses must tread carefully in China’s increasingly nationalistic and authoritarian environment”.
… THE THIRD FRONT CONSTRUCTION
Ini adalah konsep besar geo-militer Mao yang fokus pada pengembangan industri berskala besar pertahanan nasional, sains dan teknologi, pembangkit listrik dan infrastruktur transportasi, serta industri lainnya, untuk menyikapi kemungkinan terjadinya perang dan kelaparan di masa depan.
The Third Front telah membantu meletakkan dasar kepengusahaan privat dan pengembangan pasar di China.
Proyek pengembangan industri militer ini dilakukan di berbagai wilayah. Akhirnya banyak diambil alih dan dikembangkan oleh perusahaan privat.
Proyek ini banyak mengalokasikan tenaga kerja
Dalam pidatonya Mei 1964, Mao mengatakan,
“Our first front is coastal regions, second front is the line that cuts from Baotou to Lanzhou, and southwest is the third front. . . . In the period of the atomic bomb, we need a strategic rear for retreat, and we should be prepared to go into mountains [to become guerilla]. We need a place like this”.
Cities Involved in the Third Front Construction (in dark shade)
Pemilihan lokasi mengikuti prinsip “dekat dengan pegunungan, tersebar, dan tersembunyi”.
Karena lokasi yang terpencil dan sulit aksesnya, sehingga berbiaya tinggi. Konstruksi proyek menjadi mahal, hingga mencapai $25 Milyar. Lebih dari ⅓ total belanja China selama 15 tahun. Banyak proyek-proyek tersebut berujung tutup, dibekukan, dikerjasamakan, transformasi atau dipindahkan. Dan sejarah suksesnya perusahaan privat pun banyak dimulai dari sini.
Jialing Motors, adalah pabrik mobil yang sebelumnya merupakan pabrik pembuat kendaraan lapis baja pada era Third Construction.. Juga Changhong Group adalah pabrik pembuat televisi yang sebelumnya adalah pabrik peralatan elektronik dan nirkabel. Shaanxi Auto Gear General Works didirikan pada era Third Construction di lembah Pegunungan Qin, provinsi Shaanxi, 1968. Shaanxi akhirnya menjadi produsen pembuat transmisi otomotif terbesar dunia dengan pendapatan per tahun mencapai $10 Miliar.
Para pekerja berbakat di masanya dan hubungan sosial yang baik di antara para pekerja menjadi modal kesuksesan transformasi. Hal ini sesuai dengan penelitian bahwa modal penting kewirausahaan adalah human capital, financial capital, and social capital.
Beberapa implikasi dari Third Construction untuk berbisnis di China adalah,
Investor asing saat ini banyak terkonsentrasi di wilayah pantai, seperti Beijing, Shanghai dan wilayah sebelah tenggara China (Guangdong), yang sebenarnya sudah overdeveloped dan overpopulated.
Karena rencana awal perindustrian dan kekhususan lokasi geografi,Guiding Opinion menyarankan bahwa Chengdu, Chongqing, dan Xi’an sepertinya bisa menjadi kota-kota metropolitan international gateway hubs seperti Beijing dan Shanghai.
Perusahaan yang bergerak di bidang ecotourism bisa dikembangkan di kota Liupanshui dan Shizuishan.
…. PENUTUP
Berlangsungnya kombinasi antara ideologi Komunis dan sistem politik di satu sisi dengan ekonomi kapitalistik di sisi lainnya di China, selalu menjadi pertanyaan para analis Barat. Alih-alih komunisme China akan runtuh sesuai perkiraan Barat, di bawah Xi Jinping justru semakin kuat bobot komunisnya.
Menurut Marquis,
Rather than anticipating a more liberal, Westernized Chinese society and economy, we should be prepared to deal with a more Maoist, communist China.
Konklusi disampaikan Marquis dengan menunjukkan adanya Lima Prinsip untuk menjalankan bisnis di China dan Lima Prinsip Tatakelola untuk dapat memahami pemerintahan China, dengan tambahan perspektif umum terhadap kondisi sosioekonomi dan politik China saat ini dan di masa depan.
… Lima Prinsip Bisnis
Country over Capital
Partai Komunis (PKC) sebagai representasi Pemerintah. Berada diatas untuk mengawasi dan mengelola aktivitas ekonomi negara dan politik. Berbeda dengan Barat yang berwenang pada urusan politik, tapi tidak terhadap aktivitas ekonomi (pasar).
Resource Consciousness
Mao menegaskan bahwa Prinsip Kesederhanaan adalah elemen penting dari budaya China yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam implementasinya, “cost cutting” menjadi prinsip utama bagi para pengusaha China.
Context Consciousness
Para analis Barat sering memahami China di luar kontek. Mengabaikan akar Maoisme dan faktor-faktor lainnya. Berbeda dengan Uni Soviet, Mao telah mengembangkan ekonomi sistem sosialis dengan karakter China (socialism with Chinese characteristics).
Norms over Rules
Sangat lazim di negara-negara Asia Timur, norma sosial banyak mengatur perilaku masyarakat lebih dari keberadaan hukum dan peraturan resmi. Para pengusaha China banyak menerapkan guanxi (sistem sosial tentang hubungan dan perikatan dalam bisnis dan kesepakatan lainnya). Pengusaha China dan Jepang lebih nyaman melakukan negosiasi informal atau pendekatan personal dan menghindari litigasi.
Persistence
Mao selalu menegaskan perlunya kegigihan, ketabahan, kesabaran, etos kerja yang kuat serta ketekunan dalam memperjuangkan bisnis.ini adalah doktrin penting dari nilai budaya China.
… Lima Prinsip Tatakelola
Politics at the Center
China mempunyai sejarah kuat dalam melaksanakan pemerintahan sentralisasi dengan kontrol kuat dari atas ke bawah dan pusat ke daerah. Berbeda dengan negara demokrasi yang tidak ada hubungan atasan-bawahan antara pemerintahan pusat dengan daerah.
Economic Decentralization
Desentralisasi ekonomi di China, memberi diskresi pemerintah daerah untuk menjalankan kewenangannya dalam mengembangkan ekonomi. Sejauh tidak melampaui kewenangan ideologi politik pemerintah pusat.
Ideological Pragmatism
Pernyataan klasik Mao dalam artikel “On Practice” yang juga telah diajarkan dalam sekolah partai di Uni Soviet, yaitu “seeking truth from facts”. Ini adalah ide bahwa teori harus sesuai dengan kenyataan. Bila salah, maka teori harus diubah. Dan dengan landasan ide ini, Deng Xiaoping melakukan reformasi ekonomi.
Historical Existentialism
Berbeda dengan historical nihilism yang mengkritisi dan menafsirkan sejarah PKC dan pemimpinnya secara salah. Mao dan Historical Existentialism bermaksud memberikan spirit rakyatnya untuk berdiri tegak menghadapi hinaan ratusan tahun sejak the Opium Wars. Dan Xi Jinping pun menggelorakan hal yang sama dengan “the Chinese Dream”, atau “make China great again”.
Moderatism
Moderation, harmony, dan modesty, yang diturunkan dari ajaran Confucian “the Doctrine of the Mean,” bermakna untuk tidak berlawanan secara ekstrim, menjaga untuk selalu seimbang harmoni, waspada dan lembut, serta tidak merendahkan bawahan.
… KRITIK & SARAN
My review on amazon.com
Seperti disebutkan di awal tulisan ini bahwa buku karya Marquis ini menarik karena mengkritisi pertumbuhan ekonomi dan praktek kewirausahaan di China berdasar pada sejarah politiknya.
Menggunakan analisis dan pola pikir ekonomi-politik Barat sebagai dasar investasi di China sangat tidak memadai. Bahkan cenderung akan membuat kesalahan prediksi.
Pengetahuan tentang sejarah politik dan budaya China sejak kepemimpinan Mao Zedong menjadi syarat penting untuk bisa bernegosiasi dan survive bekerjasama hingga sukses dalam bisnis di China.
Meskipun banyak pengulangan informasi dan kalimat dalam buku ini, namun masih tetap layak dan perlu untuk dipelajari, mengingat langkanya buku semacam ini.
Politics karya David Runciman, Professor of Politics at Cambridge University.
Buku ini diterbitkan oleh Penerbit PROFILE BOOKS LTD, London, 2014 ini kutemukan muncul sebagai acuan di artikel berjudul Parthenon, dalam buku Kredensial karya Trias Kuncahyono (2018). Sejak itu selalu menggoda untuk mempelajarinya.
Satu paragraf tertulis di sampul belakang buku, menjadi pemancing tanya dan pokok bahasan dalam buku ini:
‘Societies that fail to adapt to challenges eventually fall apart. The planet is littered with monuments to finished political systems. The Parthenon in Athens stands as a testament to the passing glory of ancient Athenian democracy. Lenin’s tomb in Moscow once stood as the focal point for global communism; now his mausoleum is just another tourist trap. Are liberal democracies destined to go the same way? Will the Capitol in Washington sooner or later join the list of magnificent ruins?’
Sebagai Pendahuluan, Runciman menyajikan ilustrasi perbandingan antara kehidupan di Suriah dan di Denmark. Suriah dikenal sebagai negara Bulan Sabit Subur (the fertile crescent), tempat lahirnya peradaban. Sebaliknya, Denmark adalah negara dengan sumberdaya alam terbatas. Namun semua tahu kondisi kedua negara tersebut saat ini. Politiklah yang membedakannya.
Penjelasan tentang perbedaan nasib suatu bangsa dari sisi yang sedikit berbeda, bisa dibaca dalam buku Why Nations Fail, karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, atau Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond. Yang resensi keduanya ada dalam blog ini juga. Berbeda dengan keduanya, Runciman lebih fokus membahas Politik sebagai sebuah sistem bernegara dan dampak keberadaan serta keberlanjutannya bagi umat manusia, negara dan dunia.
Politik sangat menentukan warna suatu bangsa, meskipun tidak bisa dianggap sepenuhnya bertanggung jawab tentangnya. Tidak membentuk suatu bangsa menjadi pembenci atau penyayang. Tidak juga menyebabkan terjadinya bencana alam atau bencana ekonomi. Namun jelas mampu mempengaruhi suatu bangsa, untuk menjadi lebih baik atau semakin buruk.
Saat ini Denmark sedang menikmati situasi politik yang stabil dan nyaman. Tidak terlihat adanya masalah kebangsaan yang sampai memicu perpecahan bangsa. Berbeda dengan Suriah yang memendam bara pertengkaran etnik dan budaya di dalamnya. Denmark sejuk damai. Meskipun, 500 tahun yang lalu, Denmark menjadi tempat yang rapuh, penuh gejolak, penuh dengan konflik agama dan perselisihan pendapat dengan kekerasan. Menjadi limpahan konflik bangsa-bangsa Skandinavia, juga menjadi wilayah persimpangan perang di Eropa.
Politik telah berjalan baik di Jerman, dan membentuk tingginya sikap toleransi anak bangsa. Sebaliknya, sikap toleran ini yang justru membangun Politik yang baik disana. Ada Politik sebagai produk institusi yang sudah mapan. Sebaliknya, bisa juga stabilitas institusi sebagai produk Politik. Semua perdebatan yang terjadi pada kedua sebab-akibat tersebut bisa terjadi untuk tujuan yang sama. Perdamaian.
Hampir sama dengan pendapat Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail, bahwa nasib bangsa ditentukan oleh pilihan-pilihan mereka sendiri. Demikian juga dengan pendapat Runciman, bahwa Politik adalah tentang pilihan kolektif yang mengikat berbagai kelompok orang untuk hidup dengan cara tertentu. Hal ini juga merupakan ikatan kolektif yang memberi masyarakat pilihan cara hidup. Dan tanpa pilihan cara hidup yang nyata, tidak ada politik.
Namun Runciman mengingatkan juga bahwa
“Political institutions are still shaped by human choices, and human beings always retain the capacity to screw them up”.
Nothing is automatic in politics. Everything depends on the contingent interplay between choice and constraint: constraint under conditions of choice; choice under conditions of constraint.
Dari sedikit penjelasan diatas, Runciman berkesimpulan bahwa perbedaan nasib Denmark dan Suriah ditentukan oleh pilihan Politiknya. Selanjutnya akan dijelaskan terkait 3 hal dalam pilihan Politik yang membedakannya, yaitu tentang:
Bagaimana Politik bisa mempunyai dampak yang berbeda, seperti Denmark yang modern dan aman, serta Suriah yang kacau dan menyedihkan?
Bagaimana Politik bisa bekerja dan membawa dampak suatu bangsa seiring waktu yang berlangsung cepat dalam perkembangan teknologi?
Bila Politik adalah penentu nasib suatu bangsa, mengapa bisa terjadi negara maju dan negara miskin?
Pada penyajiannya, bab Pertama Runciman menjelaskan Arti Politik. Kemudian di bab Kedua menjelaskan tentang Pentingnya Politik. Selanjutnya di bab Ketiga menjelaskan arti Politik di Era Teknologi informasi. Dan akhirnya pada bagian Penutup menjelaskan tentang Dampak dan Harapan keberadaan Politik.
…
1. KEKERASAN
Kata kunci dari pengertian Politik adalah Pengendalian (Control). Politik adalah bagaimana mengendalikan Kekerasan (violence),
Control through violence. We behave law-abidingly because of the implicit threat of what would happen to us if we didn’t. Kita berperilaku taat hukum karena adanya ancaman yang tersirat di dalamnya tentang hal buruk yang mungkin terjadi jika kita tidak mentaatinya.
The control of violence. We behave law-abidingly because we accept that lawmakers and law-enforcers have the right to tell us what to do. Kita mentaati hukum karena menyadari adanya hak dan kewajiban hukum.
Politik adalah tentang Pilihan dibawah kondisi keterbatasan, dan keterbatasan dalam berbagai pilihan. Seiring berjalannya waktu, menjadi lebih penting lagi adalah menjaga hubungan antara Kesepakatan dan Paksaan. Politik mengandaikan Kesepakatan bersama tentang penggunaan Kekuatan. Karena ada Kesepakatan, maka kekerasan tidak selalu diperlukan. Dan karena tersedia Kekuatan, maka Kesepakatan tidaklah selalu cukup. Oleh karenanya, Politik membutuhkan keduanya.
Melalui Politiklah benang merah Suriah dan Denmark terhubung. Meskipun Denmark dikenal sebagai negara yang teratur dan cenderung membosankan (consensual society), namun tetaplah membutuhkan tentara, polisi dan aparat penegak hukum supaya masyarakat terjamin hak dan kewajibannya. Demikian sebaliknya dengan Suriah, meskipun militeristik dan penuh dengan tekanan (coercive society), tetap membutuhkan kekuatan untuk menjamin berjalannya institusi Politik sehingga negara bisa berjalan semestinya.
Societies in which violence is under an agreed system of political control are better places to live in than those in which it is not.
…
Thomas Hobbes
Filsuf yang selalu menempatkan persoalan Pengendalian Kekerasan sebagai hal penting dalam pemikiran tentang Politik adalah Thomas Hobbes. Bangsa Inggris di abad ke-17 (1588-1679).
Di era Hobbes, pengendalian kekerasan selalu berada diluar kemampuan kekuasaan. Revolusi Inggris, dikenal sebagai the Glorious Revolution, terjadi pada tahun 1688. Menandai dimulainya awal pemerintahan parlementarian. Dan era kegelapan yang lebih buruk terjadi di Eropa dengan The Thirty War Years, yang terjadi pada tahun 1618-1648.
Dalam pemahaman Hobbes, sifat dasar manusia adalah kompetitif. Selalu berharap lebih baik, lebih kuat dan lebih berkuasa atas sesamanya. Namun, sifat sebenarnya secara natural adalah lemah. Dan Kekuatan akan memangsa Kelemahan. Inilah ‘state of nature’ menurut Hobbes. Oleh karenanya manusia perlu selalu waspada atau berada dalam status siaga perang. Dan dunia tanpa Politik, akan menjadi arena peperangan tak berkesudahan. Politics is meant to preserve the Peace.
Setelah disepakati perlu adanya Politik, maka selanjutnya perlu menentukan a single decision-maker, yang mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan kekerasan. Hobbes menyebutnya the sovereign (penguasa yang berdaulat). Tak mesti individu tunggal, yang penting bisa bersuara tunggal (perwakilan). Meskipun Hobbes lebih menyukai Monarki sebagai bentuk pemerintahan, sehingga jelas siapa yang berdaulat. Menurutnya, Parlementer akan membutuhkan banyak perdebatan untuk menentukan satu keputusan bersama.
Tugas penguasa adalah memutuskan secara efektif, siapa atau apa yang menjadi ancaman bagi perdamaian. Hobbes optimis bahwa kehidupan politik yang stabil akan menjauhkan kekerasan pada masyarakatnya.
Pada akhirnya, manusia akan berusaha untuk membina hubungan dengan sesamanya berlandaskan kepercayaan dan saling menguntungkan. Meskipun Hobbes menyebutnya sebagai hubungan artifisial, bukan natural. Tapi nyata. Karena menurutnya, sifat natural manusia sejatinya saling ‘memangsa’. Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya).
Ada tiga hal penting dari pemikiran Thomas Hobbes yang bisa menjadi dasar transformasi politik dari pre-modern ke modern, yaitu:
Politik hanya akan langgeng berkuasa bila memang terbukti bermanfaat untuk masyarakatnya.
Perlunya keberadaan politik adalah supaya masyarakat mampu menjalani hidupnya, tanpa terbebani oleh perselisihan politik yang tiada habisnya.
Politik didasarkan pada kesepakatan antar individu untuk membiarkan penguasa mengambil keputusan untuk mereka. Yang dikenal dalam politik modern sebagai: ‘representasi’.
Dua hal sulit bagi Penguasa menurut Hobbes adalah,
Menggunakan kekuatan untuk memadamkan kekerasan yang mengancam perdamaian
Menyusun landasan terciptanya perdamaian
Runciman menambahkan,
“The power you have is made up of the power they would have if they hadn’t handed it over to you”.
“You will be judged not by who you are but by what you do, but you can only do what you do because of who you are”.
Tentang Politik, Runciman juga mengacu pada The Prince, karya Machiavelli, 1513. Berbeda dengan Hobbes yang memaknai Politik dari sisi masyarakat dimana kekuasaan digunakan untuk membebaskan masyarakat dari segala kekerasan demi kedamaian, maka Machiavelli melihatnya dari sisi Penguasa. Yaitu bagaimana upaya mendapatkan kekuasaan dengan cara licik dan tak bermoral. Dan menurutnya, tugas Penguasa adalah mempertahankan Kekuasaan. Bukan hanya untuk bertahan hidup; melainkan juga untuk kemuliaan. Untuk itu, dikenal luas jargon sikap dasar seorang Machiavellis, yaitu:
“it is better to be feared than to be loved. If you can manage to appear lovable while still being feared, that is even better”.
Perilaku ini juga menjadi standar kebajikan politik penganut Machiavellis. Karena menurutnya, politik mempunyai aturan moral yang berbeda dengan perilaku kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Ini berarti, seseorang bisa saja dianggap tak bermoral menurut aturan moral biasa, namun tak ada masalah dengan moral politik.
Permainan untuk memenangkan kompetisi ada di berbagai bidang, seperti olahraga, bisnis, akademis dll. Tapi politik adalah kompetisi yang berbeda. It’s a fight to reach the top and stay there. Bahkan di Denmark, dimana perbedaan tak harus disertai dengan pembunuhan, namun yang tak bersalah pun tetap bisa menjadi korban. Si miskin bisa menjadi korban kebijakan politik yang memangkas dana pensiun, misalnya.
Kemenangan dalam tindak politik bukanlah bersifat material, namun Kekuasaan. Supaya bisa mengatur dan menguasai pihak lain. Tujuan kemenangan seperti inilah yang menggoda seorang politisi untuk lebih berpegang pada moralitas Machiavellian, dan mengabaikan etika moralitas masyarakat umum.
Pernyataan Machiavelli yang cukup popular dan dituliskan dalam karyanya The Prince, adalah:
‘ALL STATES, all powers that have held and hold rule over men have been and are either republics or principalities’.
Kekuasaan bisa dipegang oleh individu tunggal seperti monarki atau perwakilan dari sekelompok individu atau parlemen.
Namun dalam praktek sistem demokrasi perwakilan modern, perbedaan antara kedua hal diatas cukup kabur. Menurut Runciman, Hobbes pun mengabaikannya. Bahkan di AS yang mengaku sebagai negara Republik, terlihat juga beberapa aspek, presiden bertindak seperti layaknya seorang raja atau penguasa tunggal.
Di era politik modern, justru terjadi penumpukan kekuasaan melalui kombinasi politik kekuasaan tunggal dengan institusional, yang bersifat impersonal. Hal ini akan membentuk dinamika moral dan psikologis yang kekuatannya jauh melebihi ciri politisi Machiavellian. Lebih tepat disebut Weberian. Dari sosiologis Jerman awal abad ke-20, Max Weber (1864–1920). Pernyataannya yang cukup dikenal tentang negara adalah,
‘That entity which successfully claims a monopoly of the legitimate use of violence’.
Bayangkan … monopoli untuk melakukan kekerasan. Artinya, kekerasan yang legitimated. Dan perlawanan terhadapnya adalah menyalahi hukum. Luar biasa. Jadi, bila ada suatu tindak politik yang dirasakan menyalahi norma masyarakat tapi sah menurut hukum yang berlaku, maka disinilah bukti Weberian itu berlaku. Bahkan inilah sejatinya arti negara menurut Hobbes. Penguasa mengelola Kekerasan dengan cara membangun institusi, birokratisasi dan merasionalisasikannya.
Yang dikhawatirkan oleh Weber adalah bila Penguasa tidak bertanggungjawab terhadap pengelolaan Kekerasan. Ada dua bentuk ‘tak bertanggungjawab’ yang dimaksud Weber tersebut, yakni:
Menjauhi kemungkinan adanya kekerasan sama sekali. Abai atau berharap politik dapat menjalankan kekuasaan tanpa perlu adanya kekerasan. Dengan meyakini bahwa tindak politik adalah sangat beralasan (reasonable), teratur (rule-governed) dan secara moral dapat diterima. Naif.
Terlalu terlibat dalam kekerasan, dengan alasan bahwa Penguasa tidak sendiri dalam melakukan kekerasan. It is their decision but it’s not their violence, because the machinery of the state does all the dirty work.
Inilah yang dimaksud Weber dengan dilemma ‘dirty hands’. Politik tak mungkin menghindarinya. Hanya bisa berharap bahwa siapapun yang menjadi Penguasa, mesti siap menghadapi kesulitan etika. Siap menjadi Buruk untuk bisa berbuat Baik. Dan dalam saat yang sama, bisa meyakini bahwa Kebaikan akan membebaskannya dari Keburukan. Weber menyebut fenomena ini ‘dealing with the devil’.
…
Perdamaian
Benjamin Constant(1767–1830), berkebangsaan French-Swiss, novelist, ahli teori konstitusi dan politisi. Telah menikmati kehidupan modern dan kebebasan di era Revolusi Perancis, juga masa keterpurukan setelahnya. If everyone is busy following his or her heart, no one is keeping an eye on what the politicians are doing.
Untuk keperluan kestabilan politik, Constant meyakini perlunya pembagian kekuasaan secara konstitusional dalam pemerintahan, yaitu: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dengan cara ini, politikus bisa saling mengawasi. Dan ini ide yang mendasari bentuk baru Republik AS di akhir abad 18.
Meskipun demikian, Constant mengamati dua potensi risiko yang masih mungkin terjadi dengan pengawasan antar kekuasaan tersebut, yaitu:
Para politisi akan membentuk jaringan kekuasaan politis untuk kepentingan sendiri. Kepentingan kekayaan, keistimewaan atau kenyamanan lainnya.
Masyarakat akan menyadari kepentingan politiknya dan bangkit untuk melawan kekuasaan.
Politik modern adalah tentang menjaga keseimbangan dalam banyak hal. Masyarakat perlu memahami kondisi politik. Namun berharap terlalu berlebihan terhadap partisipasi politik masyarakat, juga tidak mungkin. Dan terlalu rendahnya partisipasi masyarakat, akan menyebabkan jurang perbedaan pemahaman dengan pemerintah menjadi semakin lebar. Bad government would be the inevitable result of the public’s inattention. Sebaliknya, menjauhi politik justru bisa menjadi rentan tergilas olehnya, bahkan tanpa peringatan awal.
Memang sudah bukan jamannya lagi era revolusi, namun distraksi sosial kekerasan karena kegagalan pemerintahan, masih banyak terjadi di berbagai negara demokratis modern. Contoh, Occupy Wall Street, gerakan Tea Party, kerusuhan rasial di UK 2011, dll. Dan masyarakat modern yang terdistraksi, mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapi kekerasan.
Data empiris menunjukkan bahwa bila GDP per capita sudah berada diatas $6.000 maka kecil kemungkinan akan muncul kekerasan yang menyebabkan chaos. Krisis ekonomi terjadi di Yunani 2008 (GDP per capita $21.000), dan UK di tahun 1970an, namun tak terjadi kerusuhan dengan kekerasan.
Masa depan stabilitas sosial politik di abad 21 akan susah diduga. Memang tidak ada bukti sejarah menunjukkan negara maju, sejahtera, aman, sukses finansial yang bisa tiba-tiba runtuh. Namun, tetap saja itu mungkin terjadi.
…
2. TEKNOLOGI
Transisi awal dari negara yang tidak aman, menuju negara aman, seringkali menggunakan kekerasan sebagai cara untuk merealisasikannya. Rezim-rezim gagal, tidak akan mudah menyerah untuk terus bertarung meraih Kekuasaan. Bahkan melalui kekerasan.
The Glorious Revolution of 1688 (England), the American Revolution of 1776, the French Revolution of 1789 dan yang terakhir the Arab Spring of 2011, adalah kerusuhan politik untuk perebutan kekuasaan.
Namun berbeda dengan revolusi diatas, yang dianggap meruntuhkan ketidak-adilan di masanya, Revolusi besar komunis di abad ke-20 adalah sejarah mahal peradaban dunia. Kerusakan dan korban besar manusia telah terjadi, akibat sejarah transformatif Revolusi Rusia 1917 dan Tiongkok 1949.
Runtuhnya rezim komunis di Eropa Timur tahun 1989, bukanlah berarti revolusi politik di dunia telah berakhir. Potensi masih mungkin muncul di berbagai belahan dunia.
Revolusi yang berbeda, telah muncul di abad ke-21 ini, yaitu Revolusi Teknologi. Dengan dampak transformatifnya yang telah terjadi diberbagai sektor kehidupan dimana-mana.
Lahirnya sistem jaringan (www), teknologi pemboran oil fracking, perkembangan teknologi chip dan berbagai peralatan yang semakin efisien, serta semakin mudahnya akses ke berbagai teknologi komunikasi tersebut, telah mengubah cara komunikasi masyarakat menjadi lebih baik.
Inovasi teknologi yang ramah lingkungan, tak sepenuhnya dipicu oleh kebutuhan pasar. Para investor tak akan mudah berinvestasi teknologi hijau yang mempunyai risiko finansial tinggi. Hanya dengan ‘dorongan’ pemerintahlah transformasi terjadi.
Kemajuan Teknologi membuat kesan bahwa politik sudah ketinggalan jaman. Kecepatan kemajuannya menyebabkan politik terkesan lamban dan tidak lincah menanggapi perubahan.
Technology isn’t seen as a way of doing politics better. It’s seen as a way of bypassing politics altogether.
Bahkan, dalam situasi tertentu, teknologi mampu menjadi problem solver melampaui kebijakan politik yang ada. Teknologi memungkinkan masyarakat miskin terpinggirkan di daerah terisolasi, tetap mampu berkomunikasi dan berkarya di luar lingkungannya. Penguasa sulit mengatasinya.
Tentu, teknologi bukanlah segalanya. Pemerintah bersama parlemen adalah pemegang otoritas tertinggi dalam membuat perundang-undangan. Teknologi mampu meredam atau mengurangi masalah sosial, seperti persoalan konflik horizontal atau perang sipil, namun tidak untuk menghilangkannya. Untuk hal tersebut, hanya elit politik, dengan kemampuan kendali kekerasan, yang mampu menyelesaikannya.
…
Kekuasaan Teknologi
Cita-cita ideal sejak abad 18 tentang perlunya Perdagangan Internasional diatas kepentingan politik nasional, sejak berlangsungnya ekonomi pasar global, hanyalah ilusi belaka. Yang ada adalah, masing-masing berkepentingan untuk memproteksi bangsanya.
Perilaku pemerintahan dimanapun berada, sejatinya selalu berupaya untuk membatasi globalisasi. Namun banyak ekonom justru berpendapat bahwa Proteksionisme akan merugikan dalam jangka panjang. Resesi 1930 dipicu oleh tingginya proteksi perdagangan yang berujung Perang Dunia.
Pada akhirnya keseimbangan antara pasar bebas vs keterlibatan pemerintah, perlu dilakukan. Dan pasar tak mungkin bisa melakukan sendiri. Perlu upaya politik Pemerintah. Krisis finansial 2008 membuktikan bahwa Pemerintah dimanapun saat itu, terpaksa melibatkan diri dalam sektor perbankan, untuk mengatasinya. Buku dan Film semi dokumenter “Too big to fail” karya Andrew Ross Sorkin, bagus sekali dalam menjelaskan situasi krisis tersebut. Atau buku The End of Normal karya James K. Galbraith yang ada dalam blog ini, juga bisa sedikit membantu.
Dalam kondisi krisis, Pemerintah terpaksa menggunakan kekuasaannya untuk menyelesaikan kasusnya. Dalam hal ini, teknologi menjadi turun prioritasnya. Dalam hal Pemerintah menggunakan monopoli kekuasaannya untuk manipulasi Google adalah suatu hal yang buruk. Namun, bila Google sebagai representasi teknologi, menggunakan kemampuannya untuk manipulasi pemerintah, jelas lebih buruk.
…
Teknokrasi
Wouldn’t it be better to be ruled by politicians who actually understand the technology they are trying to control? Shouldn’t they have some expertise in those fields it is their job to regulate? If we can’t have techies doing politics, let’s at least have some politicians who can do tech.
Runciman berpendapat bahwa seperti layaknya para profesional di bidang apapun, maka politikus profesional pun akan lebih fokus di bidangnya sehingga banyak keahlian lain yang terabaikan, termasuk bidang teknologi informasi. Sehingga diperlukan keterlibatan para ahli, yang memahami proses bekerjanya sebuah sistem, dalam membuat berbagai Peraturan. Teknokrasi.
James Burnham, dalam bukunya The Managerial Revolution (1941), memperkirakan bahwa di masa yang akan datang, kekuasaan bukan lagi di tangan pemilik alat produksi (seperti perkiraan Karl Marx), melainkan berada dalam kekuasaan mereka yang mampu memahami dan mengelola rekayasa suatu proses produksi. Jadi, Politik masa depan berada ditangan kelas Teknokrat yang memahami bekerjanya proses rekayasa industrial.
Waktu berjalan, dan kekuasaan pun bergeser. Pada sepertiga akhir abad ke-20, Banker di Barat mulai terlihat peran pentingnya dalam Politik. Kekuasaan bukan lagi dimiliki oleh siapa yang memiliki atau mengelola suatu pabrik, melainkan siapa yang mampu membiayai pengusahaan proses produksi atau jasa. Power came to reside with the people who managed the instruments of debt. Muncul penguasa baru yang independen dari berbagai kepentingan politik. Banker.
When central bankers speak, or even when they don’t say anything at all, markets tremble. When markets tremble, politicians quail.
Tugasnya adalah mengendalikan inflasi dan sirkulasi ekonomi. Banker, ahli keuangan dan ekonom, mulai banyak menggantikan peran politisi. Diantaranya adalah ekonom Mario Monti (Perdana Menteri Italia 2011), ekonom Lucas Papademos (Perdana Menteri Yunani 2011) dan investment banker Emmanuel Macron (Presiden Perancis).
Namun mereka pun gagal mengendalikan ekonomi di tahun 2008, sehingga terjadi krisis global. Dan menyerahkan kembali ke tangan politisi.
Menurut Runciman, para teknokrat ini memang sangat menguasai bidang keahliannya, namun ada kelemahan dalam mencari peluang penyelesaian persoalan dari sisi di luar keahliannya. Hal ini karena relasi sosial dengan banyak bidang, tidak terbina dengan baik.
Finance di tingkat elit adalah persoalan yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. Bukan hanya persoalan keahlian teknis finansial semata. Untuk itu, dibutuhkan kemampuan komunikasi, negosiasi dan trust yang tinggi diantara para pihak. Dan disinilah kegagalan para Teknokrat yang sering terjadi. Sehingga akhirnya banyak pihak sepakat bahwa ini adalah keahlian para Politikus, bukan lagi Teknokrat.
Sebagai Teknokrat, meskipun lebih berpengetahuan dibandingkan orang lain, tidak menjamin legitimasi politik. Dalam Politik, ketika keputusan sudah ditentukan maka seorang politisi harus juga bisa meyakinkan publik tentang kebenaran pilihan keputusan tersebut. Menurut Weber, “Legitimacy is, a claim to power, and everything depends on whether people buy that claim”. Legitimasi ditentukan oleh Pemilihan Umum. Dan Keahlian Khusus (akademisi) bukanlah hal yang mudah ‘dijual’ dalam Pemilihan Umum.
Akademisi biasa berasumsi bahwa pendapat yang paling baik, akan memenangkan kompetisi. Sementara dalam politik, tidak ada garansi bahwa pendapat yang paling baik, akan menang. Sukses dalam politik perlu toleransi tinggi terhadap ketidakpastian.
Weber berpendapat bahwa Politisi terbiasa mampu menerima kekalahan dalam argumentasi, dan siap bertarung ulang di waktu yang berbeda. Bisa hidup-mati berulangkali. Politik mengajarkan tentang kegagalan.
Runciman juga berpendapat bahwa Politisi yang bagus adalah bila mempunyai karakter tangguh, tidak ‘baper’an, dan bersedia belajar dari kekalahan. Serta bisa menikmati kemenangan tanpa harus berpuas diri.
…
China
Di China sedikit berbeda. Elit politik sejak 1989 banyak dikuasai oleh insinyur. Tiga pemimpin China terakhir adalah insinyur, yaitu Jiang Zemin, Hu Jintao dan Xi Jinping. Banyak anggota politbiro adalah insinyur, bahkan lulusan AS. Prioritas ekonomi China hingga saat ini adalah industri, bukan keuangan.
Teknokrasi China saat ini merupakan jawaban dari kakunya ideologi dan kekejaman diktator di era Mao Zedong yang menghilangkan nyawa 40 juta orang. Deng Xiaoping muncul 1978 sebagai reformis setelah menaklukkan para loyalis Mao, yang dikenal dengan sebutan the Whateverists. ‘Q: What should we do? A: ‘Whatever Mao would have wanted’.
Di era politik China kontemporer, sikap kultus individu diatas telah berubah menjadi pragmatis. The new Whateverism – ‘Q: What should we do? A: Whatever works.’
Mengingat China bukanlah negara demokrasi, maka tak ada pelajaran yang bisa diperoleh tentang kekalahan dalam argumentasi politis. Menurut Weber, Demokrasi menyebabkan politisi mudah mengantisipasi terjadinya konsekuensi yang tidak diharapkan.
Akan semakin berbahaya bila Teknokrat berkuasa dengan gaya autokrat (autokrat teknokratis), maka mereka akan memperlakukan politik seolah mesin yang bisa dikendalikan. Mereka meyakini bahwa semua kegagalan adalah masalah teknis yang bisa diperbaiki. Alih-alih menerima bahwa kehidupan politik adalah tidak menentu, malahan menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak. Dan bila kekacauan itu ternyata tidak bisa dikendalikan, maka risiko chaos bisa terjadi.
Hingga kini, China masih bisa mengendalikan Teknologi Informasi. Internet belum mampu menjadi salah satu penyebab demokratisasi di China. Sebaliknya justru pemerintah China yang menggunakan internet sebagai pagar pembatas untuk mencegah terjadinya demokratisasi.
…
Aristokrasi Baru
Setelah teknokrasi punya peran penting dalam pemerintahan, para elit pengusaha teknologi di Barat pun mulai tertarik untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan. Tentu yang sejalan dengan kepentingan bisnisnya. They’d like to try to do some good. Disadari bahwa perlu adanya dukungan dari politisi untuk mempermudah pencapaian.
Namun, yang terjadi justru mereka berharap untuk bisa terlibat langsung dalam pekerjaan politisi. Melakukan lobby, pembiayaan dan kampanye sendiri. Bukan membiayai politisi. Dan Jeff Bezos pun, pemilik Amazon dari Silicon Valley, telah membeli Washington Post. Media berita harian kondang di AS, yang sedang kesulitan finansial. Tentu dengan harapan bisa mempengaruhi kebijakan. Beberapa sudah mulai terlibat dan mulai mempengaruhi pemerintah di Washington.
Runciman berpendapat bahwa banyak yang tertarik dengan dunia politik, namun tak banyak yang berharap menjadi Politisi. Di dunia yang banyak potensi kemungkinan bisnis, mereka yang merasa punya banyak bekal keahlian teknis, akan cenderung memilih berada di sektor privat. Lebih menguntungkan secara finansial.
Kehidupan Politisi akan selalu ditelisik oleh masyarakat untuk dijadikan bukti kegagalan moralnya, sebagai sandera kepentingan politik pihak lain. Terlebih di era media sosial yang sangat mudah untuk menyebarkan informasi. Politisi harus bekerja keras di lingkungan sosial yang rawan gugatan. Namun tak banyak penghargaan diperolehnya.
Di Inggris, lingkungan politisi banyak terbentuk sejak berada di Perguruan Tinggi. Elit politik Inggris banyak dari universitas Oxford dan Eton (David Cameron, Boris Johnson). Para elit politik dari kedua universitas tersebut, lebih berkesan sebagai bangsawan politik, atau Aristokrat daripada Teknokrat.
Sementara Aristokrasi di Perancis, banyak diasosiasikan dengan Ecole Normale Superieure. Perguruan Tinggi elit dengan mahasiswa yang sudah sangat terseleksi.
Lingkungan politisi seperti diatas ini seperti kembali mengacu pada akhir abad ke-18, dimana menganggap revolusi akan berkualitas bila dipimpin oleh mereka yang dikategorikan sebagai bibit unggul yang tercerahkan.
Intinya adalah, politisi perlu berasal dari mereka yang lolos merit system, sehingga bisa menggantikan Aristokrasi tradisional. Dan, merit system ini tidak hanya diasosiasikan dengan universitas ternama, tapi sekarang sudah bergeser menjadi keturunan keluarga ternama. Kualitas Politis seseorang seolah bersifat genetis. Mulai terjadi di berbagai belahan dunia.
Jika Inggris dikenal pasangan keluarga politisi Ed Balls/Yvette Cooper vs dinasti keluarga Ed Miliband, maka di AS dikenal dinasti Clinton vs Bush. Di Indonesia? Anak cucu para elit politik tersebut, sepertinya juga akan menjadi politikus yang bagus seperti para orangtuanya. Inilah para aristokrasi baru.
Kecenderungan dinasti politik seperti diatas akan berbahaya terhadap pemerintahan. Karena sensitivitas terhadap fenomena sosial akan semakin terbatas, hanya sesuai pandangan keluarga. Terjadi kesenjangan pendapat antara dinasti dengan publik. Kegagalan elit politik dalam mengantisipasi krisis keuangan global 2008, adalah bukti mudahnya kelompok tertutup kehilangan pandangan politik dari sisi yang berbeda (blind spot). Aristokrasi, lama maupun baru, punya potensi political blind spot.
Belajar politik yang terbaik adalah selalu terlibat dalam proses politik, dalam keadaan baik maupun buruk, tanpa meninggalkan jeda sama sekali. Jeda waktu keterlibatan akan sangat berisiko, karena politisi profesional punya kemampuan untuk mengamankan atau mengambil alih kepentingan.
…
3. KEADILAN
Pada bab ini, Runciman memberi gambaran tentang adanya negara-negara yang seolah ditakdirkan sebagai negara miskin, khaos dan penuh kekerasan. Tak terlihat perhatian dunia untuk turut membantu mendamaikannya. Tidakkah ada kewajiban moral bagi negara-negara sejahtera untuk membantunya?
Congo menjadi contoh. Saat ini perang saudara masih berlanjut disana. Dan kekejaman sungguh terjadi ketika Belgia masih menguasainya di akhir abad 19. Sumberdaya alam karet dikeruknya, dan rakyat dipaksa memanennya untuk kepentingan penjajah, Belgia.
Congo tetap menjadi negara miskin, terbelah. Populasi 80 juta orang. Kurang-lebih sama dengan Jerman. Harapan hidup hanya sampai 45 tahun. Tak lebih tinggi daripada Inggris di era Hobbes. GDP per kapita $3.000 per tahun. Sepuluh kali lebih rendah daripada Syria, dan 100 kali lebih rendah daripada Denmark. Jumlah rakyat Afrika yang hidup dengan pendapatan $1.25 per hari, kurang-lebih sama dengan jumlah rakyat di Eropa Barat.
Jelas, ini bukan takdir. Bukan pula karena perbedaan ras. Tapi ini bencana akibat ulah manusia. Ini tidak adil. Hanya karena lahir di Congo, Afrika, seseorang harus hidup menderita akibat dari perbuatan yang tidak dilakukannya. Satu planet, dua dunia.
Mengapa dunia yang katanya saling-terhubung, tak tergerak untuk terlibat memperbaikinya? Lalu, apa maksudnya politik Inklusif?
Denmark sering dianggap sebagai model sistem politik yang ideal yang bisa membangun kesejahteraan warganya. Namun model politik suatu negara tidak bisa sepenuhnya diterapkan pada negara lain.
Rezim Denmark sebagai model negara Kesejahteraan, atau Suriah (sebelum perang saudara), tidak bisa sepenuhnya dipakai sebagai acuan untuk memperbaiki politik Congo. Banyak parameter yang mesti disikapi untuk bisa menggunakan model negara lain. Rejim ‘hybrid’ dengan menggunakan beberapa elemen dari berbagai rejim, mungkin bisa digunakan. Misalnya, gabungan dari rezim demokratis dengan sedikit elemen dari otoritarian.
Abad ke-18 muncul ide cemerlang dari Bapak modern comparative politics,Charles-Louis de Secondat, Baron de Montesquieu, dalam karyanya ‘The Spirit of the Laws’, 1748, yang menganjurkan perlunya pembagian kekuasaan, “Trias Politica”.
Inggris, dalam the Glorious Revolution 1688 menghasilkan perubahan konstitusi, menjadi dua sistem kekuasaan, yaitu Raja dan Parlemen. Parlemen sendiri dibagi menjadi dua kamar (bikameral), Majelis Tinggi (kaum bangsawan) dan Majelis Rendah ( rakyat).
Namun tidak semua negara bisa menerapkan model Inggris begitu saja, karena dua hal:
Setiap sistem politik suatu negara adalah produk dari kekhususan karakter bangsanya, seperti budaya, geografi, sejarah, iklim dll.
Kompleksitas Inggris berbeda dengan negara lain, sehingga ‘constitutional monarchy’ menjadi pilihan yang paling tepat.
Menyusun konstitusi bukanlah hal mudah. Montesquieu menganggap konstitusi Turki kurang tepat, sehingga rakyatnya menderita karena tertekan. Kekuasaan tunggal di tangan Sultan. Italia pun menghadapi persoalan yang sama, ketika kekuasaan tunggal ditangan Republikan. Sementara AS, yang konstitusinya juga sudah mengadopsi pemikiran Montesquieu selama dua ratus tahun, masih terus-menerus mengevaluasi secara kritis konstitusinya. Dan tetap merasa belum selesai.
Demokratisasi konstitusi telah banyak dilakukan di berbagai negara, tanpa mundur lagi ke era politik yang kejam dan menakutkan. Demokratisasi konstitusi yang terjadi, meliputi penggantian kepala pemerintahan dari Raja/Ratu, kecuali di Inggris dan negara-negara Scandinavia.
Di AS, warga Inggris Katolik, Yahudi, dan pekerja pria mendapatkan hak penentuan suara di abad ke-19. Hak suara bagi perempuan diperoleh pada abad ke-20. Dan usia pemilih turun dari 20 tahun ke 18 tahun di tahun 1968. Bahkan sekarang sedang diupayakan turun menjadi usia 16 tahun.
Perancis memberi hak suara bagi perempuan di tahun 1945. Sementara Swiss baru memberikan hanya di tahun 1971. The European Court of Human Rights sedang mengupayakan para tahanan di penjara bisa mendapatkan hak suara dalam pemilu. Inggris masih berkeberatan. Jepang dan Polandia juga berkembang cepat dalam melakukan demokratisasi konstitusi. Demikian juga terjadi di negara-negara lainnya.
Masyarakat di era demokrasi saat ini semakin sadar untuk menuntut supaya hak-haknya dijamin oleh konstitusi. Diskriminasi terhadap ras, agama, gender, orientasi seksual, mulai sering dituntut untuk dihapuskan. Atau setidaknya dibatasi atau dikurangi. Perkembangan luar biasa terjadi dalam demokratisasi politik sejak era Montesquieu.
Sepakat dengan pendapat ahli ekonomi politik Daron Acemoglu dan James Robinson dalam bukunya “Why Nations Fail” bahwa kunci untuk mencapai kesejahteraan yang stabil dan berkelanjutan adalah bila ada perubahan dari rejim ekstraktif ke rejim inklusif.
Politics works when it is ‘inclusive’: i.e., when people with power still have good reasons to take account of what others want.
Politics does not work when it is ‘extractive’: i.e., when people with power see it as an opportunity to take what they can get while they have the chance.
Kutipan dari novel Anna Karenina karya Leo Tolstoy, yang filmnya bisa dinikmati di Netflix:
“All happy families are alike, whereas every unhappy family is unhappy in its own particular way”.
Menurut Runciman, ini berbeda dengan kategori bahagia dalam politik. Ketidak-bahagiaan rakyat di suatu negara adalah relatif sama, akibat eksploitasi. Sementara kebahagiaan, bisa diperoleh dalam bentuk yang berbeda-beda.
Namun sejarah menunjukkan bahwa negara Inklusif cenderung berkembang menjadi Eksklusif. Negara-negara inklusif, sejahtera dan relatif stabil, cenderung ekspansif, menguasai mereka yang terpuruk, eksklusif di Afrika, Timur Jauh, dll.. Sejarah kolonialisme negara-negara Eropa menunjukkan hal tersebut.
…
Francis Fukuyama
Runtuhnya era komunis dan totalitarianism di Eropa Timur terjadi di 1989. Dan Demokrasi Liberal menjadi pemenang. Setidaknya demikianlah anggapan Francis Fukuyama dalam bukunya ‘The End of History and The Last Man’.
Namun, menurut Runciman, ada kekhawatiran Fukuyama bahwa tanpa alternatif ideologi yang setara, kebangkitan Demokrasi ini akan mudah menjadi lemah juga.
Demokrasi muncul bukan karena banyaknya kebaikan, melainkan lebih karena kurangnya keburukan, dalam dirinya. Bahkan Churchill pernah berkomentar tentang Demokrasi ini di tahun 1947, ‘the worst system of government apart from all the others that have been tried from time to time’.
Demokrasi modern menjadi akar dari “politik pengekangan” (a politics of restraint). Bagus untuk mencegah persoalan politik menjadi lebih buruk.
Fukuyama berpendapat bahwa memahami kekecewaan individu merupakan kunci untuk memenuhi kepuasan rakyat, dalam Demokrasi.
Democracy lets people let off steam, which stops them boiling over.
Yang terjadi setelah Fukuyama menerbitkan The end of history adalah “politik pengekangan” tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Kesenjangan sosial sejak berakhirnya Perang Dingin, justru semakin lebar dan tidak bisa diselesaikan dengan Demokrasi.
Kelompok orang terkaya di AS, 0,01%, sebanyak 16.000 keluarga, menguasai hampir 5% total kekayaan Amerika (masing-masing $23 juta). Golongan terendah (miskin) tidak menjadi lebih baik sejak satu generasi yang lalu. Dan golongan menengah justru semakin menderita. Wages have stagnated while investment income has boomed.
“Politik Pengekangan” (a politics of restraint) juga mencegah para politisi untuk menyalahgunakan kekuasaan. Namun sayangnya, justru tidak memperkuat politisi untuk bisa melindungi rakyat dari ketidakadilan ekonomi. Akibatnya, Demokrasi Liberal justru memperbesar kesenjangan ekonomi.
Masyarakat Demokrasi modern punya banyak kesempatan untuk melawan persoalan politik, namun sering kekurangan sumberdaya untuk mengubah ketidakpuasan menjadi aksi kolektif. Dan perubahan struktural yang terjadi, biasanya sedikit menyebabkan guncangan politik.
Guncangan setelah Great Depression, di AS menyebabkan sedikit perubahan ke arah welfare state. Sedangkan guncangan politik di Eropa setelah kekelaman PDII, menyebabkan pergeseran ke arah egalitarian welfare state.
Tanpa guncangan dan kekacauan, hanya akan menyebabkan Demokrasi Liberal terseret ke arah ketidakadilan. Lalu bagaimana? Disini Runciman sedikit ‘mengipas’ pembaca, yaitu:
… to hope for a fresh disaster to shake up the system.
The crash of 2008 was bad, but so far not bad enough to bring about structural change. So we would need something worse. Something worse than 2008 would have to be very bad indeed.
Perlu ada alternatif lain.
Dua alternatif penyelesaian Kesenjangan, ditawarkan buku ini melalui:
John Rawls. Penyediaan sistem asuransi nasional untuk melindungi (protection) warga dari kemiskinan. Tentu dibutuhkan biaya.
Penguatan kalangan bawah sehingga mempunyai kekuatan politik (power), untuk melawan eksploitasi dari kalangan atas/kaya. Ide dasar classical republicanism adalah rakyat membutuhkan Kekuasaan (Power), bukan hanya Perlindungan (Protection).
Politik Keadilan Netral tidaklah cukup untuk menangkal kesenjangan. Dan meskipun Machiavelli dianggap sebagai pemikir pre-modern, namun ide Republikan masih relevan di era modern untuk menanggapi persoalan Dominasi satu pihak ke pihak lain (perempuan oleh laki-laki, miskin oleh kaya, anak-anak oleh dewasa). Sehingga dibutuhkan adanya bekal kekuatan politik untuk melawannya.
Kekuatan politik tersebut tidak cukup hanya Rights to Vote. Melainkan juga akses terhadap informasi, komunikasi, pendidikan, dan keterwakilan. Termasuk di dalamnya adalah keberadaan institusi sosial seperti Serikat Pekerja dan perangkat kesejahteraan, seperti Jaminan Kesehatan dan Perlindungan Anak-anak, gratis.
Ide Anti Dominasi ini sebetulnya adalah politik Konfrontasi, turunan dari Republicanism Machiavelli. Lebih bagus daripada ide Demokrasi Liberal yang cenderung meninggalkan yang kalah. Bahkan lebih bagus daripada ide Rawls, karena tingginya tuntutan dan partisipasi politik. Dan Republicanism cenderung tidak cocok di negara-negara Demokrasi modern.
Dalam upaya mengatasi kecenderungan meningkatnya kesenjangan sosial, muncul Demokrasi Populis sebagai alternatif.
Venezuela, di akhir hayat kepemimpinan Hugo Chavez 2012, menjadi negara dengan angka kesenjangan terendah di Amerika Latin. Namun, banyak hal harus dikorbankan untuk ‘memoles kekumuhan’. Perebutan kekuasaan, penyalahgunaan konstitusi, dan provokasi kemarahan rakyat. Pemborosan anggaran melebihi pendapatan dari kekayaan minyak yang dihasilkan. Venezuela menjadi negara yang lebih setara, namun dengan kekuasaan yang lebih sewenang-wenang.
“One sort of justice the redistributive kind at the expense of the other sort the procedural kind”. Dua hal yang sulit dilaksanakan dalam Demokrasi Populis bergaya Chavez.
Dari sisi yang berbeda, demokrasi India telah berlangsung lama, sejak 1947, dengan konstitusi yang banyak terinspirasi dari negara-negara Barat. Konstitusi yang rumit dan banyak tumpang-tindih yurisdiksi. Antara politik pusat vs lokal, politisi vs birokrat, demokrasi populis vs rule of law. Alhasil, menyebabkan politik yang tidak efisien dan represif. Namun India tetap menjalankan Demokrasi Konstitusional tersebut hingga mampu mengakhiri kelaparan nasional akut. Namun gagal mencegah terjadinya Kesenjangan Sosial.
Ekonomi India tumbuh tidak proporsional. Kelas Menengah tumbuh cepat, dan kekayaan nasional banyak dikuasai kelompok kecil. Sementara mayoritas penduduk dilanda kemiskinan. Demokrasi India belum mampu mengatasi kesenjangan keadilan struktural.
Menurut Amartya Sen dan Martha Nussbaum, Demokrasi Liberal konvensional tetap dibutuhkan namun perlu ditambah dengan fungsi-fungsi politis lainnya (teori Capabilities) seperti akses pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender.
Sayangnya, sampai saat ini ide Neo-Republicanism hingga Teori Capabilities Sen-Nussbaum belum berhasil. Dan masih hanya menjadi teori belaka.
Dari perjalanan sejarah perkembangan berbagai model politik Demokrasi, ada satu hal penting yang bisa dijadikan acuan baru, yaitu teori ‘Democratic Peace’. Ini adalah ide bahwa dimanapun Demokrasi berada, tidak ada perang. Karena Demokrasi memang tidak menginginkan adanya peperangan.
Immanuel Kant, filsuf Jerman akhir abad 18, menyatakan bahwa jalan kedamaian abadi, tanpa peperangan, berada pada pada landasan politik Republican, yaitu “politics of constitutional restraint” (politik pengekangan konstitusional). Bila rakyat, sebagai pembayar pajak, mampu menahan nafsu pemerintahnya untuk berperang, maka Kedamaian akan tercapai.
Kant mengakui bahwa jalan menuju perdamaian memang tidak mudah, namun tetap harus ditempuh melalui jalan Demokrasi. Dan di awal abad 21, AS dibawah Presiden George W. Bush melakukan aneksasi bersenjata ke negara lain untuk menyebarkan demokratisasi.
Logika yang dipergunakan adalah bahwa bila Demokrasi berarti ketiadaan perang, maka mengekspor Demokrasi dengan kekuatan bersenjata, akan melipatgandakan keuntungan. Maka perang untuk menyebarkan Demokrasi dapat dilihat sebagai investasi perdamaian untuk masa depan.
Dengan dua tujuan sekaligus, yaitu memerangi terorisme, dan menanam benih Demokrasi, Afghanistan dan Iraq menjadi target aneksasi bersenjata AS untuk dua kepentingan tersebut. Gagal. Benih Demokrasi yang sudah menyebar dimana-mana, ternyata tidak mampu memerangi terorisme.
Menurut Runciman, negara besar dan kuat dalam era politik modern, tidak memiliki intensi untuk berperang. Dan semakin kuat mereka, semakin kecil hasrat berperang yang mereka miliki.
AS adalah negara besar dengan kekuatan peralatan perang modern yang juga sangat besar. Jejak kekejian brutal sejarah peperangan AS telah banyak membuktikan. Demokrasi memang tidak menghendaki peperangan, namun bila harus terjadi, negara-negara demokratis besar tersebut akan sulit dikalahkan. Mungkin alasan tersebutlah yang membuat demokrasi enggan berperang satu sama lain. Kehancuran yang menakutkan.
Sehingga, “The democratic peace may not be proof of how nice democracies are. It may be evidence of how nasty they can be”. Beginilah contoh keburukan (negative) dari democratic peace theory.
Ada hal-hal positif dari Demokrasi Liberal ini yang bisa ditawarkan, yaitu: free trade (perdagangan bebas) dan pergerakan barang dan orang di antara mereka. Namun tak sepenuhnya terbukti. Turki tetap gagal untuk bisa bergabung dengan EU. Dan Perdagangan Bebas seringkali belum memberikan keuntungan yang seimbang bagi para pihak.
Demokrasi yang melakukan pergerakan barang dan orang secara bebas diantara mereka, akan menyebabkan perlakuan yang tidak baik pada pihak lainnya. Sangat mungkin ini terjadi di Eropa Barat.
…
Berbagi
Setelah melihat adanya berbagai kesulitan untuk mencapai kesetaraan melalui politik, muncul ide untuk mengupayakannya langsung tanpa Politik, dengan alasan:
Praktis. Tanpa mesti melalui politik
Kesenjangan global merupakan kegagalan moral dan juga kegagalan politik.
Pembiaran adanya banyak kesenjangan dan penderitaan, sementara ada pihak-pihak yang memiliki sumberdaya berlebih, dapat dipandang sebagai bentuk kejahatan. Persoalan pun muncul ketika trust rendah dari penyumbang terhadap pihak yang terlibat dalam distribusi bantuan. Pemenuhan tuntutan moral yang digagalkan oleh persoalan politik.
Bantuan langsung dari suatu negara ke negara lain sering diragukan keberhasilannya. Terlebih apabila negara berada dalam instabilitas politik dan korupsi tinggi. Kombinasi dari ketidakpedulian negara kaya dan instabilitas negara miskin bagaikan neraka bagi bangsa yang sedang terpuruk.
Runciman berpendapat bahwa negara-negara kaya tidak banyak bertindak untuk keperluan negara miskin dengan alasan:
Negara dengan sumberdaya berlebih, tidak berada dalam risiko tinggi keterpurukan
Negara kaya tidak percaya bahwa donasi akan diterima sepenuhnya oleh mereka yang membutuhkan
Ancaman masa depan (climate change) dianggap tidak nyata. Menurut The Economics of Climate Change: The Stern Review, 2006, dibutuhkan alokasi 1% per tahun dari GDP negara-negara kaya untuk membiayai Perubahan Iklim.
The time horizons of successful democracies tend to be as shrunken as their geographical ones.
…
Pemerintahan Global
Alih-alih mengesampingkan Politik, Runciman justru memancing diskusi dengan menawarkan alternatif politik Satu Negara Global (world state). Satu negara besar dan kuat, diharapkan bisa menguasai dan membuat kesepakatan dengan banyak pihak. Ide satu negara besar ini memang sudah ada sejak terjadinya banyak pertikaian antar negara di planet ini.
Immanuel Kant di akhir abad 18, pernah mempertimbangkan ide World State ini. Namun menurutnya terlalu besar, rumit dan terlalu sulit akses ke warganya bila berada jauh dari pusat pemerintahan. Kant juga berpendapat bahwa bagaimanapun canggihnya suatu jaringan komunikasi dan perdagangan terbentuk antar negara, tetap masih banyak perbedaan besar antar negara yang bisa diakomodasi dalam satu model struktur politik. World government remains a bad idea.
Ide World State ini seperti mengakomodir hukum Hobbes tentang “the state of nature” sebagai pandangan politik. Mengasumsikan suatu negara sebagai individu manusia, dimana untuk mencapai perdamaian, pihak yang lemah akan menyerahkan haknya. Pengandaian yang tidak tepat. States are not like natural human beings. Negara tidak akan mudah menyerah.
Harapan Runciman akan tercapainya perdamaian di berbagai belahan dunia dinyatakan dengan ungkapan sbb.,
Peace promotes easy options. Easy options encourage bad politics. Bad politics threatens disaster. Disaster invites political salvation. It is a precarious business. Given time, and luck, we may get there without anything too terrible happening. …
PENUTUP
Societies that fail to adapt to the challenges they face eventually fall apart.
Francis Fukuyama menyatakan bahwa Demokrasi Liberal adalah bentuk akhir dari sejarah peradaban. Benarkah? Atau nasibnya tak berbeda dengan reruntuhan Parthenon sebagai peninggalan kejayaan Yunani? Atau runtuhnya patung Lenin di Moscow.
Runciman optimis bahwa Demokrasi sekarang ini akan berbeda dengan kejayaan kekuasaan masa lampau yang rapuh, karena:
Negara-negara sukses saat ini, mempunyai akses terhadap sumberdaya yang tidak sepenuhnya diperoleh oleh negara-negara gagal tersebut. Lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih banyak informasi, lebih sehat dan lebih panjang umur. Perubahan dan penemuan baru pun cepat terjadi.
Demokrasi modern per definisi berlangsung adaptif. Politics of restraint. Bila Demokrasi membuat kesalahan, maka sistem dengan sendirinya akan memperbaiki dirinya dengan keseimbangan baru. “The politics of restraint has proved good at correcting for the most serious errors of judgement that politicians can make”.
Namun demikian, kelemahan pun tetap ada, karena:
Di era masyarakat jaringan, nasib negara Demokrasi pun tergantung pada kondisi politik negara-negara lain. Artinya, kesalahan di satu negara akan berdampak pada negara lainnya.
Sejarah kesuksesan suatu negara di masa lalu, bukan jaminan keselamatan di masa depan. Karena tantangan selalu berbeda. Formula penyelamatan krisis finansial di masa lalu, belum tentu tepat untuk penyelesaian kasus yang sama di masa kini.
Berbagai kesuksesan tersebut bisa membuat para politisi terlena, berpuas diri bahkan arogan, karena terlalu percaya diri bahwa sistem Demokrasi akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan politik dengan sendirinya. Kelenturan sistem Demokrasi yang adaptif memang terbukti mampu menghadapi berbagai tantangan. Selamat dari Great Depression, Fasisme dan Komunisme. Bahkan mampu memberikan hak warga untuk memilih pemimpinnya.
Di akhir bukunya, Runciman berpesan untuk selalu waspada, karena hal-hal buruk masih bisa terjadi. Perlu disadari masih adanya risiko yang mungkin timbul akibat interkonektivitas global, berbagai konsekuensi jangka panjang akibat tindakan kita saat ini, serta semakin besarnya rasa puas diri terhadap apa yang sudah dicapai oleh politik.
Memanfaatkan sebaik-baiknya lembaga-lembaga perwakilan negara modern, menjadi alternatif bagus untuk menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, institusi-institusi negara juga harus semakin diberdayakan keberadaannya.
Tidak ada yang mudah dalam hal ini. Dan kutipan kalimat terakhir dalam buku ini adalah,
“Politics still matters”. …
KOMENTAR
Sebagai insan awam politik, buku ini sangat mencerahkan. Meningkatkan sikap kritis untuk mempelajari lebih lanjut. Khususnya pendapat para Pemikir klasik yang disebut dalam buku ini, seperti Hobbes, Machiavelli, Weber, Rawl, Kant, dll. Juga memancing tanya tentang kaitan dari banyak hal diatas dengan situasi politik tanah air saat ini, seperti isu Dinasti Politik, legalisasi kekerasan moral (baca How Democracies Die karya Levitsky dan Ziblatt), dll.
Tentu tak cukup hanya satu buku ini yang bisa digunakan sebagai pisau bedah situasi politik nasional. Namun setidaknya bisa menjadi pengantar untuk mengkritisi situasi tersebut. Tanpa mesti menyetujuinya.
Last but not least, film seri “Borgen” di Netflix, direkomendasikan oleh Runciman. Film tentang praktek politik seorang Ketua Partai dan Perdana Menteri perempuan Denmark. Upaya menuju puncak kekuasaan dan mempertahankannya. Bagus untuk dinikmati.
It is less dramatic but equally destructive. Democracies may die at the hands not of generals but of elected leaders. (Levitsky dan Ziblatt, 2018)
Buku ini menjadi tenar di tahun 2020, ketika beredar foto Anies Baswedan, yang kemudian menjadi Kandidat Presiden RI, yang sedang membacanya. Sebuah upaya sindiran halus terhadap pemerintahan Jokowi saat itu. Menjadi buku rujukan bagi para mahasiswa kritis.
Sejarah runtuhnya Demokrasi di berbagai negara di dunia menunjukkan perubahan modus. Bila Chili, Venezuela, Mesir, Turki, Thailand, Filipina pernah mengalami kudeta militer, maka di abad 21 ini tak lagi banyak alih kekuasaan kepemimpinan nasional diwarnai korban jiwa atau kudeta bersenjata. Namun esensinya tetap tidak berubah, yaitu perebutan kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan dengan cara tidak demokratis.
Tak lagi muncul kudeta militer, atau kediktatoran brutal. Namun Demokrasi tetap bisa runtuh walaupun konstitusi yang diharapkan sebagai pengaman demokrasi telah tersedia. Bahkan lembaga-lembaga negara yang diperlukan keberadaannya dalam negara demokratis (trias politika) untuk Check and Balances seperti Dewan Perwakilan/Senat (legislatif) dan lembaga Hukum (yudikatif), masih berkegiatan. Proses-proses demokratis pun seperti Pemilihan Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat, tetap dilaksanakan. Dan masyarakat pun juga turut memilih dalam Pemilu. Kudeta ternyata bisa terjadi dengan “legal”.
Citra yang ingin dibangun oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya adalah “legal” atau tidak melanggar aturan. Seolah disetujui oleh Legislatif dan dapat dipertanggungjawabkan secara Hukum.
Bahkan AS yang dikenal sebagai negara demokratis adidaya, dengan bekal Konstitusi yang dirasakan bangsanya sudah sempurna, bebas merdeka dan setara, kelas menengah tersukses dalam sejarah, GDP tertinggi dengan pendidikan berkualitas terbaik, serta memiliki sektor privat yang sangat besar; tetap saja bisa mengalami keruntuhan demokrasi. Donald Trump telah meruntuhkannya di tahun 2016.
Kemenangan mengejutkan Donald Trump bukan hanya dipicu oleh kekecewaan publik terhadap pemerintah sebelumnya, melainkan juga karena kegagalan Partai Republik AS mencegah terpilihnya demagog ekstremis menjadi Calon Presiden.
…
Sejarah Alih Kuasa Sejarah kelam kudeta militer pernah terjadi di Santiago, Chile. Tanggal 11 September 1973, pesawat pembom Hawker Hunter buatan Inggris telah menjatuhkan bom di atas istana kepresidenan megah La Moneda. Di tengah kota Santiago. Istana terbakar. Presiden Salvador Allende yang sudah memerintah selama 3 tahun, terkurung di dalamnya. Tewas. Kudeta bersenjata terjadi. Dan runtuhlah demokrasi Chile oleh Jendral Augusto Pinochet.
Adolf Hitler, mulai dikenal dunia sejak melakukan makar di Bavaria, Munich, 8-9 November 1923. Melibatkan 2.000 massa Nazi dan menelan korban tewas 16 Nazi dan 4 aparat keamanan. Kudeta oleh partai Nazi yang dikenal sebagai Beer Hall Putsch atau Munich Putsch. Gagal. Hitler mendekam 9 bulan dipenjara. Dan kisah tersebut ditulisnya sendiri dalam buku Mein Kampf.
Demokrasi di Argentina, Brasil, Dominika, Ghana, Yunani, Guatemala, Nigeria, Uruguay, Peru, Pakistan, Turkey dan Thailand, runtuh dengan cara yang sama. Kudeta. Yang terakhir adalah Presiden Mesir Mohamed Morsi (2013) dan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra (2014).
Modus perebutan kekuasaan telah berubah. Dan runtuhnya Demokrasi terjadi dengan cara yang berbeda. Para perusak demokrasi tersebut justru menggunakan lembaga-lembaga demokrasi itu sendiri, secara perlahan, halus, bahkan “legal”, untuk meruntuhkannya. Rakyat tak serta-merta menyadari apa yang terjadi. Erosi demokrasi itu hampir tak terasa bagi banyak orang. Bucin, bahasa gaul anak muda jaman now, telah melenakannya.
Dan karena tidak terasa dengan jelas, adanya tindak penguasa authoritarian yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, maka kesadaran publik pun tak terusik. Oleh karenanya, bagi mereka yang terus mencela tindakan pemerintah akan dianggap sebagai berlebihan.
Timbul kebingungan publik. Mulai muncul kritik sosial masyarakat terhadap perilaku pemerintah. Dan intimidasi melalui kebijakan pajak serta tindak hukum lainnya pun mulai diberlakukan. Keras terhadap mereka yang terus mengkritisi pemerintah. Kekuasaan pun bukan lagi demi Keadilan dan Kemakmuran. Namun demi penaklukan oposan. Penyanderaan kebebasan dilakukan.
Beberapa pemimpin terpilih lainnya juga telah membajak lembaga-lembaga demokrasi dengan cara baru tersebut. Terjadi di Georgia, Hungaria, Nikaragua, Peru, Filipina, Polandia, Rusia, Sri Lanka, Turki, dan Ukraina.
…
Uji Potensi Autokrat
Berbekal pengalaman runtuhnya Demokrasi di berbagai negara tersebut, AS memberlakukan Uji Litmus. Sebuah sistem alat uji untuk mengidentifikasi potensi seorang kandidat pemimpin untuk menjadi autokrat bila berkuasa.
Uji Litmus ini menjadi bekal bagi para pejabat politisi atau pimpinan partai untuk mencegah dan tidak memberi kesempatan atau merekomendasikan mereka yang berpotensi menjadi autokrat, bila berada di posisi strategis atau pimpinan. Kesalahan perhitungan dalam merekomendasikan jabatan, bisa menyebabkan demokrasi dalam posisi kritis.
Mengingat bahwa negara yang dianggap demokratis pun bisa terpeleset, maka ada dua ujian yang perlu dilakukan:
Apakah pemimpin politik, dan terutama partai politik, telah bekerja untuk mencegah para demagog meraih kekuasaan? Salah satunya dengan Uji Litmus diatas.
Akankah si pemimpin autokratik membajak lembaga-lembaga demokrasi, ataukah sebaliknya dibatasi aktivitas kekuasaannya oleh lembaga-lembaga itu?
Lembaga pemerintah saja tak cukup untuk dapat mengendalikan autokrat terpilih. Konstitusi mesti dijaga keberlangsungannya oleh partai politik dan organisasi massa, juga oleh norma-norma demokratik. Tanpa norma-norma kuat, Check and Balances konstitusional tidak akan mampu menjadi benteng demokrasi. Lembaga-lembaga negara menjadi senjata politik, digunakan oleh penguasa, otokrat terpilih, untuk menghantam para oposan.
Begitulah cara autokrat terpilih membajak demokrasi, menjadikan pengadilan dan badan netral lainnya sebagai “senjata”, menguasai atau mengintimidasi media dan sektor swasta, serta mengubah aturan politik agar keseimbangan kekuatan berubah merugikan lawan.
Paradoks tragis jalan menuju kerusakan Demokrasi adalah melalui Pemilu. Para demagog pembunuh demokrasi tersebut menggunakan lembaga-lembaga demokrasi itu sendiri, secara pelan-pelan, halus, bahkan legal.
…
Modus Legal
Fenomena di dunia menunjukkan bahwa modus penghancuran Demokrasi, setelah era Kudeta Bersenjata, dilakukan oleh penguasa baru yang berperilaku demokratis pada awal kekuasaannya. Sukses menarik simpatisan. Dan kemudian berubah menjadi authoritarian untuk melanggengkan kekuasaannya.
Ironisnya, penguasa otokrat berwajah populis tersebut justru mendapatkan kekuasaan atas rekomendasi penguasa demokratis yang menjabat sebelumnya.
Mussolini di Italia, Hitler di Jerman, Getúlio Vargas di Brazil, Alberto Fujimori di Peru dan Hugo Chávez di Venezuela, meraih kekuasaan dengan jalan yang sama: rekomendasi dari incumbent, melalui pemilihan umum atau persekutuan dengan tokoh-tokoh politik berkuasa.
Di setiap contoh diatas, para elite politik penguasa percaya akan mampu mengelola siapapun yang diundang masuk ke dalam kekuasaan. Namun, rencana bisa menjadi senjata makan tuan. Dan kesalahan perhitungan bisa menyebabkan kekeliruan fatal. Menyerahkan kunci kekuasaan kepada calon autokrat.
Hitler mendekam di penjara selama sembilan bulan (Mein Kampf), karena gagal dalam kudeta bersenjata pada tahun 1923, menjadi populer dan memiliki cukup banyak pengikut. Kebuntuan parlemen dalam memilih Kanselir, berujung pada kesepakatan legal untuk membuat ‘undangan’ kepada Hitler untuk memasuki kekuasaan di Jerman sebagai Kepala Pemerintahan, Kanselir, 1933. Rasa percaya diri berlebihan para elit politik bahwa akan mampu mengendalikan Adolf Hitler, berujung pada runtuhnya Demokrasi di Jerman.
Sejarah yang sama terjadi dengan munculnya Chavez sebagai Presiden Venezuela. Dibukakan pintu istana oleh Presiden sebelumnya, Caldera. Senjata makan tuan. Tanggal 6 Desember 1998, Chavez memenangkan pemilihan presiden.
Hugo Chávez di Venezuela yang terpilih 1998. Populis saat awal pemerintahannya. Kemudian berubah menjadi authoritarian di tahun 2003, setelah selamat upaya kudeta militer 2002. Semakin represif di tahun 2006 ketika memaksakan untuk tetap duduk di kursi kekuasaan melewati masa jabatan yang ditetapkan peraturan yang sah. Kekuasaan berlanjut hingga terpilih kembali tahun 2012. Sakit dan wafat tahun 2013. Digantikan oleh Nicolás Maduro dengan proses pemilihan abal-abal. Free but not fair. Media dan mesin pemenangan Maduro, dikuasai dan digunakan oleh penguasa. Para pemimpin oposisi dipenjarakan. Runtuh sudah demokrasi di Venezuela. Dan selanjutnya dikenal sebagai negara autokrasi.
Di Italia awal 1920-an, tatanan liberal lama sedang ambruk di tengah pemogokan dan keresahan sosial. Kegagalan partai-partai tradisional membentuk mayoritas parlementer yang solid membuat perdana menteri tua yang telah menjabat lima kali, Giovanni Giolitti, putus asa, dan dia mengabaikan para penasihatnya lalu mengadakan pemilu lebih awal pada Mei 1921. Dengan niat memanfaatkan daya tarik massa Fasis, Giolitti memutuskan untuk menawarkan tempat kepada gerakan baru Mussolini di “blok borjuis” Nasionalis, Fasis, dan Liberal-nya.
Strategi itu gagal, blok borjuis meraih di bawah 20 persen suara, sehingga Giolitti mengundurkan diri. Namun posisi Mussolini membuat kelompoknya mendapat legitimasi sehingga bisa menanjak dalam politik.
Meski ketiganya amat berbeda, namun Hitler, Mussolini, dan Chávez menempuh jalan menuju kekuasaan yang sama. Mereka semua adalah orang luar yang mahir merebut perhatian publik, tapi semuanya meraih kekuasaan karena para tokoh politik mengabaikan tanda-tanda peringatan, sehingga menyerahkan kekuasaan kepada mereka (Hitler dan Mussolini) atau membuka pintu untuk mereka (Chávez).
Pengalihan tanggungjawab politis oleh pemimpin yang sedang berkuasa sering menandai langkah pertama suatu negara menuju otoriterianisme.
Bila pemimpin karismatik yang dipersepsikan sebagai Orang Baik tersebut muncul, dan elit politik atau partai politik besar tak cukup punya figur kandidat Pemimpin Pemerintahan, maka bisa tergoda untuk mengundangnya memasuki kekuasaan. Dan kesepakatan yang terjadi, bisa berubah merugikan bagi pengundang, karena Orang Baik yang cukup punya dukungan, menjadi calon peraih kekuasaan yang sah. …
Menumbangkan Demokrasi
Erosi demokrasi terjadi selangkah demi selangkah, kadang amat kecil langkahnya. Tiap langkah kecil tampak tak penting, tak ada yang kelihatan benar-benar mengancam demokrasi.
Langkah pemerintah menumbangkan demokrasi memang sering berkesan legal: disetujui parlemen atau dianggap konstitusional oleh mahkamah agung. Banyak yang diterapkan dengan dalih demi satu tujuan publik yang sah, bahkan terpuji, seperti melawan korupsi, “membersihkan” pemilu, memperbaiki mutu demokrasi, atau meningkatkan keamanan nasional.
Bila lembaga-lembaga itu dikendalikan oleh mereka yang setia kepada pemerintah otoritarian, tentu mereka dapat melindungi pemerintah dari penyelidikan dan penuntutan pidana yang dapat menggulingkannya. Presiden menjadi bisa melanggar hukum, mengancam hak rakyat, bahkan melanggar konstitusi tanpa harus khawatir semua itu akan diselidiki atau dikecam.
The Authoritarian Report Card After One Year
Referees: Aparat Penegak Hukum
Dengan aparat penegak hukum yang sudah dikuasai, pemerintah bisa bebas bertindak, tanpa dihalangi. Bagaikan membekali senjata yang kuat, sehingga memungkinkan pemerintah untuk menegakkan hukum secara tebang-pilih. Menghukum lawan sambil melindungi kawan. Aparat pajak bisa digunakan untuk mengincar politikus, bisnis, atau saluran media rival. Polisi bisa membubarkan unjuk rasa oposisi sambil membiarkan tindak kekerasan oleh pendukung pemerintah. Badan intelijen bisa digunakan untuk memata-matai pengkritik dan mencari bahan untuk pemerasan.
Modus untuk mengamankan kekuasaannya dengan topeng Demokrasi, pemerintahan Peron di Argentina, Rafael Correa di Ekuador, Orbán, di Hungaria, Chávez di Venezuela dan Fujimori di Peru, adalah menguasai lembaga hukum dan aparatnya. Yang digunakan sebagai perisai untuk berlindung dari tantangan konstitusional dan sebagai senjata kuat dan “legal”, untuk memukul para oposan dan meminggirkan media.
Para pemain yang tak bisa dibeli mesti dilemahkan dengan cara lain. Diktator gaya lama sering memenjarakan, mengasingkan, atau bahkan membunuh lawannya, sementara autokrat zaman sekarang cenderung menyembunyikan tindakan represif di balik kedok legalitas. Itulah sebabnya menguasai lembaga hukum menjadi penting.
Terakhir, autokrat hasil pemilu sering mencoba membungkam tokoh-tokoh budaya-seniman, intelektual, bintang pop, atlet, yang ketenaran atau posisi moralnya membuat mereka jadi ancaman potensial.
Namun biasanya pemerintah lebih suka merangkul tokoh budaya terkenal atau mencapai kesepakatan bersama dengan mereka, membiarkan mereka melanjutkan pekerjaan asalkan tidak ikut-ikut berpolitik.
Pembungkaman tersamar terhadap suara-suara ‘miring’, baik dengan dengan kooptasi atau ancaman, akan berpengaruh buruk bagi oposisi. Ketika pebisnis besar dipenjara atau dijatuhkan secara ekonomi, seperti kasus Khodorkovsky di Rusia, pengusaha lain akan merasa lebih bijak untuk tidak terlibat politik sama sekali.
Dan ketika politikus oposisi ditahan atau diasingkan, seperti di Venezuela, politikus lain memutuskan untuk menyerah dan pensiun. Banyak pembangkang memutuskan untuk tetap di rumah ketimbang masuk politik, dan yang masih aktif jadi patah semangat. Itulah yang dituju pemerintah. Kalau para pemain utama oposisi, media, dan bisnis dibeli atau dipinggirkan, oposisi gembos. Pemerintah “menang” tanpa harus melanggar aturan.
Namun untuk memperkokoh kekuasaan, pemerintah mesti berbuat lebih banyak, pemerintah mesti mengubah aturan permainan juga. Tokoh otoriter yang ingin melakukan konsolidasi kekuasaan sering mengubah konstitusi, sistem pemilihan umum, dan lembaga-lembaga lain agar melemahkan atau memberatkan oposisi, membuat arena menjadi merugikan lawan.
Perubahan itu sering dilaksanakan dengan alasan demi kepentingan umum, padahal sebenarnya menguntungkan petahana. Dan karena melibatkan perubahan legal atau bahkan konstitusional, perubahan sistem bisa memungkinkan autokrat unggul selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Melalui aparat penegak hukum (APH), yang berperan sebagai wasit, dan dikuasai oleh pemerintah, akan bisa mengubah aturan permainan, sehingga mampu memenangkan pemilu. Karena langkah-langkah itu dilaksanakan sedikit demi sedikit dan dengan terkesan legal, pergeseran ke otoritarianisme tak selalu membuat alarm berbunyi. Warga sering terlambat menyadari bahwa demokrasi sedang dipreteli-bahkan bila itu terjadi di depan mata mereka.
…
Krisis
Salah satu ironi besar terkait bagaimana demokrasi mati adalah bahwa pembelaan terhadap demokrasi itu sendiri sering dijadikan alasan untuk menumbangkannya. Para calon autokrat sering menggunakan krisis ekonomi, bencana alam, dan terutama ancaman keamanan-perang, perlawanan bersenjata, atau serangan teroris-untuk membenarkan langkah-langkah antidemokrasi.
Krisis sulit diprediksi, namun jelas konsekuensi politiknya. Krisis sangat membantu konsentrasi dan, bahkan seringkali menjadi pemicu penyalahgunaan kekuasaan.
Perang dan serangan teroris di AS menyebabkan tingginya dukungan masyarakat terhadap pemerintah. Setelah peristiwa 11 September 2001, Presiden George W. Bush mendapat kenaikan angka dukungan dari 53% menjadi 90%, angka tertinggi yang pernah dicatat lembaga jajak pendapat Gallup. (Rekor tertinggi sebelumnya-89 persen-telah dicapai ayah George W. Bush, George H.W. Bush, sesudah Perang Teluk Persia 1991.) Karena hanya sedikit politikus yang bersedia menantang presiden dengan dukungan 90 persen ditengah krisis keamanan nasional, maka presiden jadi tak terhalang. USA PATRIOT Act, yang ditandatangani oleh George W. Bush pada Oktober 2001, tak bakal disahkan andai serangan 11 September tak terjadi pada bulan sebelumnya.
Rakyat juga lebih mungkin menoleransi, bahkan mendukung cara-cara otoriter selama krisis keamanan, terutama bila mereka mengkhawatirkan keselamatan sendiri. Bahkan sesudah 9/11, penelitian menunjukkan 55% bangsa Amerika Serikat mengaku bahwa beberapa kebebasan sipil perlu dibatasi untuk melawan terorisme.
Demikian juga, penahanan orang-orang Jepang-Amerika oleh pemerintah Roosevelt kiranya tak terpikirkan tanpa adanya rasa takut masyarakat akibat serangan ke Pearl Harbor. Survey juga menunjukkan bahwa sesudah Pearl Harbor, 60% lebih bangsa Amerika mendukung pengusiran orang-orang Jepang-Amerika dari Amerika Serikat, dan setahun kemudian, penahanan orang-orang Jepang-Amerika masih mendapat dukungan masyarakat cukup besar.
Sebagian besar konstitusi memperbolehkan perluasan kekuasaan eksekutif selama krisis. Alhasil, presiden yang terpilih secara demokratis pun bisa mengonsentrasikan kekuasaan dan mengancam kebebasan sipil selama perang. Di tangan calon pemimpin otoriter, kekuasaan terkonsentrasi itu jauh lebih berbahaya. Bagi demagog yang merasa terkepung kritik dan terikat lembaga-lembaga demokrasi, kondisi krisis bisa membuka jendela kesempatan untuk membungkam kritik dan melemahkan pesaing. Memang, autokrat terpilih sering butuh krisis, ancaman dari luar yang menawarkan kesempatan bagi mereka untuk membebaskan diri dengan cepat dan sering kali “legal”.
Kombinasi calon Pemimpin Otoriter dan Krisis Besar bisa mematikan bagi demokrasi. Beberapa pemimpin mulai menjabat setelah menghadapi krisis.
Bahkan Pemimpin lain, justru menciptakan krisis. Baik krisis nyata atau bukan, para calon pemimpin otoriter siap memanfaatkan krisis untuk membenarkan perebutan kekuasaan.
Bagi demagog yang dikungkung batas-batas konstitusional, krisis merupakan kesempatan untuk mulai membongkar pengawasan dan perimbangan dalam politik demokrasi yang merepotkan dan kadang mengancam. Krisis memperkenankan autokrat memperluas ruang gerak untuk bermanuver dan melindungi diri dari musuh. Lalu: apakah lembaga-lembaga demokrasi bisa semudah itu tidak berfungsi sebagaimana seharusnya?
…
Pagar Demokrasi
Survei tahun 1999 menunjukkan bahwa 85% bangsa Amerika Serikat meyakini bahwa Konstitusi AS adalah alasan utama “Amerika telah sukses selama abad ini” dan berhasil menjaga demokrasi.
Namun sejatinya, konstitusi yang dirancang dengan baik pun kadang gagal menjaga Demokrasi.
Konstitusi Weimar 1919, Jerman, dirancang oleh beberapa pemikir hukum terhebat di negara itu. Namun, ambruk dengan cepat sesudah Adolf Hitler meraih kekuasaan pada 1933.
Pengalaman Amerika Latin pascakolonial. Banyak republik yang baru merdeka, menulis konstitusi yang hampir mirip Konstitusi AS. Namun hampir semua republik muda di kawasan itu terjerumus perang saudara dan kediktatoran.
Argentina amat mirip dengan Konstitusi AS: dua pertiga teksnya diambil langsung dari Konstitusi AS. Namun, tatanan konstitusional itu tak bisa mencegah pemilu curang pada akhir abad ke-19, kudeta militer pada 1930 dan 1943, dan juga otokrasi populis Perón.
Filipina telah dijabarkan sebagai “salinan persis Konstitusi AS.” Konstitusi yang ditulis di bawah pengawasan kolonial AS dan disetujui Kongres AS itu “menyediakan contoh khas demokrasi liberal”, dengan pemisahan kekuasaan, pengakuan atas hak asasi manusia, dan pembatasan masa jabatan presiden dua kali. Namun Presiden Ferdinand Marcos, yang tidak mau turun sesudah masa jabatan keduanya berakhir, menghapuskan ketentuan itu dengan mudah sesudah mengumumkan berlakunya hukum perang pada 1972.
Bahkan konstitusi yang dirumuskan dengan baik pun, tidak dengan sendirinya dapat menjamin tegaknya demokrasi.
Memang, konstitusi selalu tidak lengkap. Sebagaimana halnya perangkat peraturan lainnya, konstitusi memiliki kesenjangan dan ambiguitas tak terbilang. Tidak ada petunjuk pelaksanaan yang bisa mengantisipasi semua keadaan yang mungkin terjadi. Aturan-aturan konstitusional juga selalu punya banyak penafsiran, sehingga memungkinkan untuk digunakan dengan cara-cara yang tak terduga oleh para penciptanya.
Karena ada kesenjangan dan ambiguitas di dalam semua sistem hukum, maka tak bisa hanya mengandalkan pada konstitusi saja untuk menjaga demokrasi dari para calon pemimpin otoriter. …
Aturan tak tertulis
Pengalaman AS menunjukkan bahwa Demokrasi akan bekerja baik dan bisa bertahan lama bila tersedia penguatan konstitusi melalui norma-norma demokratik tak tertulis.
Aturan-aturan tak tertulis tersebut, ada di mana-mana dalam perpolitikan Amerika, mulai dari cara kerja Senat dan Electoral College hingga format konferensi pers Presiden. Namun, ada dua norma yang menonjol serta fundamental demi berfungsinya demokrasi, yaitu:
saling toleransi (mutual toleration) atau pemahaman bahwa partai-partai yang bersaing menerima lawannya sebagai rival sah; dan
sikap menahan diri secara kelembagaan (institutional forbearance) untuk tidak menggunakan hak khusus kelembagaannya.
Dua norma itu mendasari demokrasi Amerika Serikat hampir selama abad ke-20. Para pemimpin kedua partai besar bisa menerima sesamanya sebagai kompetitor dan menolak godaan untuk menggunakan hak pengendalian atas lembaga pemerintah untuk kepentingan partisan sebesar-besarnya. Aturan atau norma itu berperan sebagai pagar lembut demokrasi, mencegah persaingan politik harian merosot menjadi konflik tanpa aturan.
Norma tidak cukup hanya mengandalkan pada sifat baik pemimpin politik, melainkan berupa kode etik bersama yang telah menjadi pengetahuan umum dalam satu komunitas atau masyarakat, diterima, dihormati, dan ditegakkan para anggotanya.
Bila norma berlaku cukup kuat, pelanggaran terhadapnya akan memicu ekspresi penolakan, cemoohan, kritik publik hingga pengucilan terang-terangan. Dan politikus yang melanggarnya tentu akan rugi.
Saling toleransi (mutual toleration) merujuk ke gagasan bahwa selama para kompetitor bermain sesuai aturan konstitusional, maka bisa diterima bahwa mereka punya hak hidup, bersaing berebut kekuasaan, dan memerintah, yang setara. Artinya, harus diakui bahwa dalam politik, para kompetitor adalah warga negara yang baik, patriotis, taat hukum-mereka cinta negara dan menghormati Konstitusi. Artinya, walaupun tidak bisa mempercayai kebenaran gagasan-gagasan lawan, tetap tak bisa memberlakukan mereka sebagai ancaman. Juga tak perlu memperlakukan mereka sebagai pengkhianat, subversif, atau lain-lainnya. Dengan kata lain, saling toleransi adalah kesediaan bersama para politikus untuk sepakat tak bersepakat.
Ketika norma Saling Toleransi lemah, demokrasi menjadi sulit dikelola. Bila menganggap kompetitor sebagai ancaman berbahaya, maka muncul reaksi untuk menggunakan segala cara supaya mengalahkan mereka. Dan terjadilah cara-cara otoriter. Politikus yang dianggap kriminal atau subversif akan dipenjara; dan pemerintahan yang dianggap mengancam negara dan bangsa, bisa digulingkan.
Di hampir semua kasus kerusakan demokrasi yang terjadi, para calon pemimpin otoriter, sejak Franco, Hitler, dan Mussolini di Eropa antara dua perang dunia, lalu Marcos, Castro, dan Pinochet selama Perang Dingin hingga Putin, Chávez, dan Erdoğan baru-baru ini, membenarkan konsolidasi kekuasaan dengan menganggap lawan sebagai ancaman eksistensial.
Norma kedua yang penting bagi kelangsungan demokrasi adalah sikap menahan diri secara kelembagaan (institutional forbearance). “Sikap menahan diri” berarti “pengendalian diri yang sabar; legawa dan toleran”, atau “tindakan untuk tidak menggunakan suatu hak legal”.
Pemerintahan Inggris bisa menjadi contoh perilaku Menahan Diri secara kelembagaan dalam demokrasi. Menurut Keith Whittington (ahli konstitusi dan penulis), pemilihan Perdana Menteri Inggris “adalah hak Raja atau Ratu. Secara formal, pemegang takhta dapat memilih siapapun untuk jabatan tersebut dan membentuk pemerintahan.” Dalam praktiknya, Perdana Menteri ialah anggota Parlemen yang memimpin fraksi mayoritas di House of Commons, biasanya ketua partai terbesar di parlemen. Saat ini sistem tersebut dianggap wajar, tapi selama berabad-abad, raja atau ratu Inggris mengikutinya secara sukarela. Tidak ada aturan konstitusionalnya.
Contoh lain adalah penentuan batas masa jabatan presiden. Selama sejarah Amerika Serikat, batas dua kali masa jabatan bukan hukum tertulis, melainkan norma Menahan Diri. Sebelum ratifikasi Amandemen ke-21 pada 1951, tidak ada pasal dalam Konstitusi AS yang mewajibkan presiden berhenti menjabat sesudah dua masa jabatan. Namun, berhentinya George Washington sesudah dua masa jabatan pada 1797 menjadi preseden kuat. Seperti diamati Thomas Jefferson, presiden pertama yang mengikuti norma tersebut.
Bila penghentian masa bakti [Presiden] tak ditetapkan Konstitusi, atau dilakukan dalam praktik, maka masa jabatannya, yang semestinya empat tahun, bisa berlangsung seumur hidup….
Sesudah ditetapkan demikian, batas informal dua masa jabatan terbukti cukup kuat. Bahkan presiden-presiden ambisius dan populer seperti Jefferson, Andrew Jackson, dan Ulysses S. Grant tidak mau melanggarnya. Ketika teman-teman Grant mendorong dia maju lagi untuk masa jabatan ketiga, terjadi kehebohan, dan Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan resolusi yang menyatakan:
… menjabat sesudah masa jabatan kedua telah menjadi … suatu bagian sistem Republik kita…. Penyimpangan apa pun dari kebiasaan yang dihargai selama ini kiranya tak bijak, tak patriotis, dan membahayakan lembaga-lembaga bebas kita.
Kekuasaan Presiden yang tak dibatasi, bisa menguasai Mahkamah Agung atau melangkahi Badan Legislatif dengan menggunakan Dekrit Presiden. Sementara Badan Legislatif yang tak dibatasi bisa menghentikan semua langkah Presiden atau mengacaukan Negara dengan alasan apapun.
Bila Saling Toleransi hilang, maka para politikus makin tergoda untuk tidak lagi menahan diri dan mencoba menang dengan segala cara. Ini berpotensi untuk mendorong kebangkitan kelompok-kelompok anti-sistem, yang sekaligus menolak aturan demokrasi. Runtuhlah Demokrasi.
…
Menyelamatkan Demokrasi
Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya “How democracy dies”, mengingatkan bahwa demokrasi Amerika tak sehebat kelihatannya. Tak ada isi Konstitusi atau budaya AS yang membuatnya kebal terhadap kerusakan demokrasi. Amerika Serikat pernah mengalami bencana politik, ketika permusuhan antar daerah dan partisan membelah negara sehingga memicu perang saudara.
Walau kondisi internasional menjadi makin tak baik bagi demokrasi pada awal abad ke-21, negara-negara demokrasi yang ada telah terbukti kuat menghadapi tantangan tersebut. Jumlah negara demokrasi di dunia tak turun, malah tetap sejak memuncak sekitar tahun 2005.
Saling Toleransi dan Menahan Diri secara kelembagaan adalah prinsip prosedural, yang mengingatkan para politikus AS, bagaimana harus berperilaku di luar batas hukum, untuk menjalankan fungsi lembaga-lembaga negara. Yang tanpanya demokrasi AS tak bakal berjalan.
…
Bagaimana dengan negeri kita?
Dua hal bagus yang bisa dipetik dari buku ini, untuk kepentingan Demokrasi kita, yaitu tentang:
Uji Potensi Otokratis terhadap para Bakal Calon Presiden-Wakil Presiden, dan
Penggunaan Norma Sosial dan Toleransi untuk tidak mudah menggunakan Hak-Hak politiknya
Sudah terlalu banyak opini di media massa dalam dan luar negeri tentang Pemilihan Presiden RI yang baru saja berlangsung. Lalu, amankah Demokrasi di negeri kita? Entahlah.. Coba gunakan buku ini sebagai acuan untuk mengkritisinya. Dan bila dibutuhkan tambahan pisau analisis, bisa gunakan buku “Politics”, karya David Runciman, 2014.
Selamat membaca.
Montesquieu:
“There is no greater tyranny than that which is perpetrated under the shield of the law and in the name of justice”.
Buku Psychology of Money, karya Morgan Housel ini rasanya sangat populer hingga sering tampak terpajang di rak terdepan dalam toko buku asing di Jakarta.
Ini adalah rekomendasi buku kedua untuk kubaca dari keponkanku, Dhilla, yang baru saja menyelesaikan studi S2 nya di Columbia University. Buku pertama adalah “Educated” karya Tara Westover.
Prasangka yang muncul ketika melihat judul buku ini, “ah pasti tentang upaya untuk tidak mendewakan Uang”. Oleh karenanya, ketika muncul rekomendasi untuk mambacanya, kutawarkan juga kepadanya untuk membaca What money can’t buy, karya Michael J. Sandel yang kurang lebih sama isinya dengan prasangkaku diatas. Salah prasangka ternyata.
Percaya bahwa setiap buku selalu ada sisi positif yang mencerahkan. Dan buku ini memang mencerahkan dan mengajarkan kebajikan. Apalagi bagi kita yang seringkali mendewakan sisi rasional, buku ini menjadi lebih menarik lagi karena ada ungkapan bagus di dalamnya, “Our goal isn’t to be coldly rational; just psychologically reasonable.”
Mohon maaf bila masih banyak kutipan dalam bahasa aslinya, pada tulisan kali ini. Ini karena sedang tidak fokus dalam penulisan, bahkan membutuhkan waktu yang panjang untuk membacanya. Supaya tidak salah dalam memaknainya, lebih baik copy paste saja kalimatnya. Harap maklum, sedang terburu-buru.
Premis dari buku ini, menurut Housel dalam bab Pendahuluannya, adalah bahwa pengelolaan finansial yang baik, tidak mengutamakan pada kecerdasan seseorang, namun perilakunya lah yang sangat menentukan. Sehingga, bila seorang genius tidak mampu mengendalikan emosi dalam mengelola keuangannya, maka akan menjadi bencana baginya.
Untuk memperkuat premisnya, Housel merasa perlu menyajikan kisah tentang Ronald James Read. Seorang yang bekerja di bengkel mobil selama 25 tahun dan sebagai janitor selama 17 tahun. Membeli rumah dengan dua kamar tidur saat usia 38 tahun, seharga $12.000. Ditinggalinya hingga akhir hayatnya. Meninggal tahun 2014, dalam usia 92 tahun.
Tahun 2014, warga AS meninggal sebanyak 2.813.503 orang. Kurang dari 4.000 darinya yang mampu memiliki uang sebanyak $ 8 juta. Ronald Read adalah salah satunya. Boom … Menjadi berita utama di berbagai media berita dunia.
Darimana uang Read diperoleh? Ini ternyata resepnya:
Read saved what little he could and invested it in blue chip stocks. Then he waited, for decades on end, as tiny savings compounded into more than $8 million.
Sebaliknya, kisah tragis dari hartawan Richard Fuscone, lulusan MBA Harvard, eksekutif Merrill Lynch. Menjadi milyarder di usia 40 tahunanDi masa suksesnya, tahun 2000an, melalui hutang, dia membeli rumah 8.000 ft persegi di Greenwich, Connecticut. Dengan 11 kamar mandi, 2 elevator, 2 kolam renang, 7 garasi mobil. Berbiaya perawatan $90.000 per bulan. Krisis ekonomi terjadi 2008. Bangkrut.
Ronald Read sangat sabar. Richard Fuscone rakus.
Ada dua hal menurut Housel, yang bisa menjelaskan fenomena diatas:
Hasil dari pengelolaan finansial adalah semata keberuntungan. Bukan karena kecerdasan atau upaya keras.
Sukses finansial, bukanlah ilmu canggih. Namun lebih karena perilaku atau kebajikan (soft skill). Housel menyebutnya “the psychology of money”.
Memang selama ini finansial dipelajari sebagai persoalan fisika atau matematika (rumus dan hukum), bukan tentang psikologi (emosi dan perilaku). Oleh karenanya, krisis finansial, perlu dipelajari melalui lensa psikologi dan sejarah, bukan semata finansial.
Dan Voltaire mengatakan, “History never repeats itself; man always does”. Demikian juga dengan perilaku terhadap pengelolaan finansial.
Untuk memahami isinya, disarankan untuk membaca langsung bukunya. Setiap bab, disertai contoh fakta yang mencerahkan. Berikut ini adalah 20 ringkasan faktor the psychology of money:
1. No One’s Crazy
Pengalaman hidup seseorang, sangat mempengaruhi pemahamannya terhadap suatu fenomena finansial yang terjadi disekitarnya. Banyak hal dalam hidup ini perlu dialami, sebelum bisa dipahami (Michael Batnick, investor).
Gambar chart
Kita, membuat keputusan berdasarkan pengalaman uniknya masing-masing, yang kita anggap masuk akal pada saat itu. No One’s Crazy.
2. Luck & Risk
Robert Shiller, pemenang nobel bidang ekonomi mengatakan bahwa Keberuntungan adalah faktor penting yang menentukan suksesnya pengelolaan finansial. Banyak pihak mengabaikan faktor penting ini.
“Not all success is due to hard work, and not all poverty is due to laziness. Keep this in mind when judging people, including yourself”.
Seperti halnya Keberuntungan (luck) yang membahagiakan dan tak terduga kejadiannya, maka Kegagalan (risk) demikian juga adanya. Maka ruang maaf bagi diri sendiri terhadap Kegagalan mesti harus dipersiapkan. Dan tak sampai menyebabkan patah arang dalam permainan. Hingga Keberuntungan pun terjadi.
3. Never Enough
Contoh menarik ditampilkan Housel dalam bab ini. Rajat Gupta. Lahir di Kolkata, India. Usia 40 tahunan, sudah menjadi CEO di konsultan bisnis McKinsey. Pensiun 2007, lanjut di PBB dan World Economic Forum. Berpartner dengan Bill Gates sebagai filantropis. Tahun 2008 sudah menghasilkan pendapatan $1 juta.
Terus menanjak karirnya, menjadi bagian direksi Goldman Sachs.
Tahun 2008, krisis ekonomi dunia melanda. Warren Buffet bermaksud membantu Goldman Sachs dengan investasi sebesar $5 milyar. Gupta bermain mata dengan hedge fund manager, Raj Rajaratnam. Membeli Goldman Sachs sebanyak 175.000 saham sebelum transaksi dengan Warren Buffet diumumkan ke publik. Satu jam setelah Goldman-Buffet dealed, Rajaratnam mendapat keuntungan $1 juta dan Gupta $17 juta. Insider trading terbukti. Berakhir keduanya dipenjara. Karir dan reputasi hancur. Tragis karena Never Enough.
Tidak ada alasan untuk mempertaruhkan apa yang Anda miliki dan butuhkan untuk sesuatu yang tidak Anda miliki dan perlukan.
… life isn’t any fun without a Sense of Enough. Happiness, as it’s said, is just Results minus Expectations.
4. Confounding – Compounding
Bila penumpukan kepemilikan mengalami Percepatan Pertumbuhan yang terus bertambah, maka bisa diduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Fenomena percepatan pertumbuhan ini terjadi dengan kekayaan Warren Buffet. Dia memang investor handal, yang telah memulai aktivitasnya sebagai investor sejak usia 10 tahun.
Di usia 30 tahunan sudah mengumpulkan kekayaan $1 juta (nilai saat ini $9,3 juta). Kekayaannya saat ini mencapai $84,5 milyar. $82,5 milyar darinya terakumulasi setelah usia 50 tahun.
Good investing isn’t necessarily about earning the highest returns, because the highest returns tend to be one-off hits that can’t be repeated. It’s about earning pretty good returns that you can stick with and which can be repeated for the longest period of time.
5. Getting Wealthy vs Staying Wealthy
There’s only one way to stay wealthy: some combination of frugality and paranoia.
Getting money dan Keeping money adalah dua keahlian yang berbeda.
Getting money membutuhkan keberanian mengambil risiko dan optimistik. Sedangkan Keeping money, membutuhkan kesederhanaan, kesahajaan, kesabaran dan rasa takut terhadap kemungkinan cepatnya kehilangan.
Housel menyebut survival sebagai kata yang tepat untuk mendefinisikan sukses finansial. Mentalitas survival ini penting untuk menghadapi fluktuasi yang tak terduga.
Menjalankan Survival Mindset ini perlu mengingat 3 hal:
More than I want big returns, I want to be financially unbreakable. And if I’m unbreakable I actually think I’ll get the biggest returns, because I’ll be able to stick around long enough for compounding to work wonders.
Planning is important, but the most important part of every plan is to plan on the plan not going according to plan.
A barbelled personality—optimistic about the future, but paranoid about what will prevent you from getting to the future—is vital.
6. Tails, You Win
Dalam bisnis, perlu memperhatikan hasil di ujung akhir sebuah proses bisnis. Sering terjadi banyak kerugian di awal proses bisnis, akan tertutupi keuntungan total di ujung akhir proses bisnis.
“It’s not whether you’re right or wrong that’s important,” George Soros once said, “but how much money you make when you’re right and how much you lose when you’re wrong.” You can be wrong half the time and still make a fortune.
7. Freedom
The ability to do what you want, when you want, with who you want, for as long as you want, is priceless. It is the highest dividend money pays.
Mampu mengelola waktu sesuai keinginan adalah kebahagiaan yang sangat berharga. Bahkan lebih tinggi nilainya daripada kekayaan finansial.
8. Man in the Car Paradox
Mengapa ingin kaya dengan tampil bermobil mewah, bertas mewah atau rumah mewah? Alasan bawah-sadar adalah keinginan untuk dihormati, dipuji dan mendapatkan pengakuan.
Namun sejatinya, orang tidak merasa begitu penting melihat siapa yang menampilkan kemewahan, melainkan lebih membayangkan dengan harapan apabila dirinyalah yang berada dalam kemewahan tersebut.
Oleh karenanya, bila penghormatan dan pengakuan adalah target yang ingin dicapai, maka aktivitas yang menunjukkan rasa kemanusiaan, empati atau kebaikan seharusnya menjadi lebih penting untuk dilakukan daripada menampilkan kekayaan material.
9. Wealth is What You Don’t See
Ada anggapan bahwa kekayaan seseorang itu ditunjukkan dengan barang-barang yang dipergunakannya. Salah.
Wealth is financial assets that haven’t yet been converted into the stuff you see. Wealth is What You Don’t See.
Dan, “there is no faster way to feel rich than to spend lots of money on really nice things.”
10. Save Money
The first idea—simple, but easy to overlook—is that building wealth has little to do with your income or investment returns, and lots to do with your savings rate.
More importantly, the value of wealth is relative to what you need.
Past a certain level of income, what you need is just what sits below your ego.
So people’s ability to save is more in their control than they might think.
And you don’t need a specific reason to save.
That flexibility and control over your time is an unseen return on wealth.
And that hidden return is becoming more important.
11. Reasonable > Rational
Reasonable is more realistic and you have a better chance of sticking with it for the long run, which is what matters most when managing money.
12. Surprise !!
History helps us calibrate our expectations, study where people tend to go wrong, and offers a rough guide of what tends to work. But it is not, in any way, a map of the future.
Two dangerous things happen when you rely too heavily on investment history as a guide to what’s going to happen next.
You’ll likely miss the outlier events that move the needle the most.
History can be a misleading guide to the future of the economy and stock market because it doesn’t account for structural changes that are relevant to today’s world.
The average time between recessions has grown from about two years in the late 1800s to five years in the early 20th century to eight years over the last half-century.
There are plenty of theories on why recessions have become less frequent.
One is that the Fed is better at managing the business cycle, or at least extending it.
Another is that heavy industry is more prone to boom-and-bust overproduction than the service industries that dominated the last 50 years.
The pessimistic view is that we now have fewer recessions, but when they occur they are more powerful than before.
But specific trends, specific trades, specific sectors, specific causal relationships about markets, and what people should do with their money are always an example of evolution in progress. Historians are not prophets.
13. Room for Error
Nasihat Rousel dalam investasi, “You have to give yourself room for error. You have to plan on your plan not going according to plan”.
Mempersiapkan Room for Error adalah sikap yang bijaksana untuk menghadapi ketidakpastian, keacakan (randomness) dan peristiwa tak terduga, yang sangat lazim terjadi dalam hidup kita.
Bill Gate menggunakan Room for Error ketika mengelola Microsoft disaat awal beroperasinya. Juga Warren Buffet.
14. You’ll Change
There are two things to keep in mind when making what you think are long-term decisions.
We should avoid the extreme ends of financial planning.
We should also come to accept the reality of changing our minds.
15. Nothing’s Free
Everything has a price. The problem is that the price of a lot of things is not obvious until you’ve experienced them firsthand, when the bill is overdue.
Setiap pekerjaan sering terlihat mudah bagi mereka yang tidak sedang menjalankannya. Karena kesulitan yang ada, sering tak terlihat dari bangku penonton. Dan memang, banyak hal terasa sulit dalam praktek dibanding dalam teori. Mungkin karena percaya diri berlebihan sebelum menjalankannya, atau tak faham betul berapa ‘biaya’ yang memang harus disiapkan untuk membayar kesuksesannya.
Successful investing demands a price. But its currency is not dollars and cents. It’s volatility, fear, doubt, uncertainty, and regret—all of which are easy to overlook until you’re dealing with them in real time.
16. You & Me
Bubbles ekonomi terjadi bila banyak pemain long-term menarik uangnya, dan pasar bergeser ke short-term. Dan harga saham akhirnya dikontrol oleh permainan short-term. Ini adalah pertimbangan rasional dan lazim terjadi bagi para pemain pasar saham untuk berpindah lapangan dari long-term ke short-term. Mengejar profit.
Contoh menarik disajikan Housel dengan kejadian naik tingginya harga saham Cisco sebesar 300%, menjadi $60. Para pemain long-term menganggap pertumbuhan tinggi tersebut akan menaikkan kinerja perusahaan dan berujung pada kenaikan lebih lanjut harga sahamnya. Salah. Karena kenaikan harga saham tersebut di drive oleh pemain short-term yang harapannya untuk segera dijual dalam waktu 1-2 hari saja ketika harga sedikit naik. Selanjutnya harga akan dropped. Pemain long-term tertipu oleh permainan short-term.
Ini semua karena “people are greedy, and greed is an indelible feature of human nature”. Investors often innocently take cues from other investors who are playing a different game than they are.
17. The Seduction of Pessimism
Real optimists don’t believe that everything will be great. Seorang ahli statistik, Hans Rosling mengatakan bahwa: “I am not an optimist. I am a very serious possibilist.”
Pesimisme lebih punya sensitivitas untuk ditanggapi saat berhubungan dengan masalah uang, karena:
Keberadaan uang di segala lapisan masyarakat, maka hal buruk yang berkaitan dengannya, akan menarik perhatian dan berdampak pada masyarakat luas. Contoh, turunnya harga saham di pasar saham lebih berdampak psikis bagi masyarakat AS, daripada badai Katarina.
Sikap pesimis cenderung membesar-besarkan permasalahan tanpa melihat respon pasar. Contoh kebutuhan minyak China yang dikhawatirkan tak akan terpenuhi oleh cadangan global.
Kemajuan selalu terlihat lambat, sedangkan kemerosotan akan terlihat cepat. Contoh, proses penemuan pesawat terbang dan dampak kecelakaan pesawat terbang.
Penjelasan tiga hal diatas yang berkaitan dengan pesimisme, cukup bagus disampaikan Housel dalam buku ini.
18. When You’ll Believe Anything
There are two things to keep in mind about a story-driven world when managing your money.
The more you want something to be true, the more likely you are to believe a story that overestimates the odds of it being true.
Everyone has an incomplete view of the world. But we form a complete narrative to fill in the gaps.
Cenderung mempercayai peristiwa yang diinginkan terjadi.
There are many things in life that we think are true because we desperately want them to be true.
Dan akan menjadi berbahaya dalam dunia investasi bila investor begitu sangat mengharapkan suatu peristiwa yang menguntungkan akan terjadi, namun prediksi menunjukkan kecenderungan arah yang berbeda.
Kita semua menginginkan bahwa persoalan yang rumit di dunia ini bisa difahami. Untuk itu, kita mencoba menjelaskan kekosongan informasi yang sebetulnya tidak kita mengerti (blind spot). Di dunia finansial, hal seperti ini akan sangat berbahaya.
Psychologist Philip Tetlock mengatakan:
“We need to believe we live in a predictable, controllable world, so we turn to authoritative-sounding people who promise to satisfy that need.”
19. All Together Now
A few short recommendations that can help you make better decisions with your money:
Go out of your way to find humility when things are going right and forgiveness/compassion when they go wrong.
Less ego, more wealth.
Manage your money in a way that helps you sleep at night.
If you want to do better as an investor, the single most powerful thing you can do is increase your time horizon.
Become OK with a lot of things going wrong. You can be wrong half the time and still make a fortune
Use money to gain control over your time,
Be nicer and less flashy.
Save. Just save. You don’t need a specific reason to save.
Define the cost of success and be ready to pay it.
Worship room for error.
Avoid the extreme ends of financial decisions.
You should like risk because it pays off over time.
Define the game you’re playing
Respect the mess.
20. Confession
Menurut Morningstar, setengah dari seluruh manajer portofolio saham di AS tidak menginvestasikan satu sen pun uang mereka ke dalam manajemen pengelolaan dana di perusahaan mereka sendiri.
Persis sama dengan fenomena diatas adalah cerita dari Ken Murray, professor of medicine at USC, yang bejudul “How Doctors Die”, that showed the degree to which doctors choose different end-of-life treatments for themselves than they recommend for their patients.
Lazim, dan bukan hal yang salah bila seseorang menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang berbeda dengan apa yang dilakukannya sendiri, untuk persoalan yang sama. Karena, ada prinsip umum, bahwa keputusan tentang persoalan finansial atau pengobatan yang penting seringkali lebih tepat diselesaikan di meja makan, daripada diatas spreadsheet. Melalui musyawarah keluarga. Proses keputusan tidakdimaksudkan untuk memaksimalkan pendapatan, namun lebih untuk kepentingan meminimalkan kekecewaan keluarga. Dan alasan tersebut bisa berbeda-beda bagi masing-masing keluarga. Sangat subyektif.
Satu pernyataan menarik diberikan oleh Charlie Munger, rekan kerja Warren Buffet, “I did not intend to get rich. I just wanted to get independent.”
Comfortably living below what you can afford, without much desire for more, removes a tremendous amount of social pressure that many people in the modern first world subject themselves to.
Our goal isn’t to be coldly rational; just psychologically reasonable.
Kerenn …
Catatan Tambahan dari Housel di akhir bukunya:
A Brief History of Why the US Consumer Thinks the Way They Do
What happened in America since the end of World War II is the story of the American consumer. It’s a story that helps explain why people think about money the way they do today.
August, 1945. World War II ends.
Low interest rates and the intentional birth of the American consumer
Pent-up demand for stuff fed by a credit boom and a hidden 1930s productivity boom led to an economic boom.
Gains are shared more equally than ever before.
Debt rose tremendously. But so did incomes, so the impact wasn’t a big deal.
Things start cracking.
The boom resumes, but it’s different than before.
The big stretch.
Once a paradigm is in place it is very hard to turn it around.
The Tea Party, Occupy Wall Street, Brexit, and Donald Trump each represents a group shouting, “Stop the ride, I want off.”
Selalu menarik mengamati pertumbuhan ekonomi China. Di dunia pertambangan, sangat terasa perubahan ini. Awal tahun 1990an, pertambangan besar di Indonesia banyak dikuasai AS, Australia dan Canada. Emas dan batubara menjadi komoditi mineral yang ramai aktifitas eksplorasinya. Nickel, bertahun-tahun hanya dimiliki oleh Inco (Vale sekarang) dan Aneka Tambang. Seiring dengan mulai tumbuhnya industri baterai untuk keperluan komunikasi dan transportasi di 2010an, kebutuhan dunia terhadap Nickel sebagai bahan dasar baterai (Ni-Cad, Ni-Mn, dll.) meningkat pesat. Didorong oleh program hilirisasi pemerintah, yang melarang ekspor nickel ore (bahan mentah nickel), investasi pembangunan smelter Nickel di Indonesia pun menjadi ramai. Dan China merajainya. Dunia pun terbangun, menyadari bahwa industri mobil listrik dan baterai ternyata banyak dikuasai China. Setelah infrastruktur, kini China dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, banyak menguasai sektor pertambangan.
Tahun 1978, kemiskinan sedang merebak. Dan reformasi ekonomi berada di punggung Deng Xiaoping yang sedang naik tahta. Namun saat ini China sudah menduduki posisi ke-2 sebagai negara dengan GDP terbesar dunia. Bagaimana bisa terjadi? Keyu Jin, PhD. melalui bukunya “The New China Playbook”, yang terbit 2023, mencoba menjawabnya.
Ini adalah ulasan buku ke-3 tentang China, setelah Banking on Beijing karya Axel Dreher, dkk. dan Has China won? karya Kishore Mahbubani, sekaligus sebagai catatan pribadi, yang mungkin juga berguna untuk pembaca sekalian.
Keyu Jin, PhD. lulusan Harvard University, AS. Lahir dan besar di Beijing, China. Berdomisili di Beijing dan London. Pengajar ekonomi di London School of Economics and Political Science. Pernah bekerja di China Banking dan Insurance Regulatory Commission, World Bank, dan IMF.
Ada 10 bab disajikan Jin dalam buku ini, berturut-turut:
The China Puzzle
China’s Economic Miracle
China’s Consumers and the New Generation
Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms
The State and the Mayor Economy
The Financial System
The Technology Race
China’s Role in Global Trade
On the World’s Financial Stage
Toward a New Paradigm
Berikut ini adalah sedikit ringkasan penting yang bisa dibuat. Banyak informasi, data dan penjelasan lebih lengkap bisa diperoleh dengan membaca langsung bukunya.
…
1. The China Puzzle
Pengalaman hidup Jin ketika pindah domisili untuk sekolah, dari negara komunis China, memasuki dunia baru demokrasi AS, cukup mengejutkan. Ternyata banyak ketidak tahuan publik AS tentang kondisi ekonomi-politik China saat ini. Pertanyaan yang sering muncul, bahkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, juga para politisi, adalah:
When will China become a democracy?
Do you feel oppressed?
How do you wake up in the morning knowing that you can’t elect your own president?
When will the Chinese economy stop growing?
Menurutnya, mereka tidak memahami bahwa perubahan besar mulai terjadi sejak 1997. Saat itu rakyat China sudah mulai berdebat tentang Reformasi Ekonomi, penyelenggara Olimpiade, bergabung WTO, privatisasi BUMN dan adopsi teknologi Barat untuk infrastruktur, mobil dan model bisnis.
Buku-buku rujukan politik pun terus berkembang. Pikiran-pikiran Marx mulai tergantikan dengan ide ‘sosialis berkarakter China’. Masyarakat China menjalani hidup yang lebih baik, dibanding generasi-generasi sebelumnya.
Gedung-gedung mercusuar banyak tumbuh dimana-mana. Sebanyak 20 juta perusahaan swasta telah tumbuh bagai jamur, bahkan ketika 30 tahun yang lalu tidak mampu beraktivitas secara normal dan legal. Saat ini, sektor swasta telah menjadi penyumbang 60% pendapatan nasional, 70% kekayaan nasional dan 80% tenagakerja.
Tahun 2019, China adalah negara dengan jumlah perusahaan ‘unicorn’ terbanyak di dunia. Bahkan, telah menjadi negara terkaya ke-2 di dunia. Namun, tetap saja masih banyak muncul pertanyaan yang membandingkan China dengan negara-negara komunis masa lalu yang otokratis dan represif.
Survey World Values Survey (2017–2020), menunjukkan bahwa 95% warga China mempercayai pemerintahnya, sementara warga AS hanya 33%, dan warga dunia lainnya hanya 45% yang mempercayai pemerintahnya. Data tahun 2022 tidak berubah banyak.
World Values Survey juga menunjukkan bahwa di China, 93% (AS, 28%) masyarakatnya lebih mengutamakan Keamanan (Safety) daripada Kebebasan (Freedom). Sejarah dan Budaya menjadi faktor penentunya. Artinya, bangsa China justru berharap bahwa pemerintahnya perlu campur-tangan menyelesaikan isu-isu sosial ekonomi. Hal tersebut tidaklah berarti melanggar kebebasan warganya.
Namun dunia masih juga meragukan pertumbuhan ekonomi China dengan dugaan bahwa model ekonomi China tak bertahan lama, negara telah memperdaya sektor privat dan mempersulit inovasi serta sektor finansial akan segera runtuh. Banyak yang percaya bahwa keruntuhan sistem ekonomi China akan terjadi bila tidak diubah dengan nilai-nilai AS. Dan, kalaupun ada yang melihat kesuksesan ekonomi China saat ini, maka mereka akan menganggapnya sebagai ancaman terhadap ekonomi global.
Pada situasi bias perspektif tersebut, Jin yang hidup di dua dunia, China dan AS, merasa berkepentingan untuk mencoba menemukan puzzle-puzzle yang hilang dan merangkainya menjadi gambar China yang lengkap melalui buku ini.
Antara China dan Barat ada banyak area perbedaan nilai, perspektif dan berbagai pendekatan politik, yang seringkali menjadi kendala suksesnya berbagai kebijakan ekonomi.
Ada tiga perbedaan kontras antara model Ekonomi Pasar Bebas Barat vs Model Ekonomi Politik China, yaitu:
Di Barat, pemerintah mempengaruhi pasar melalui kebijakan fiscal, finansial dan moneter. Sementara China perlu juga menambahkan keterlibatannya dalam kebijakan industrial dan manajemen BUMN. Pemerintah China sangat aktif melibatkan diri untuk kepentingan ekonomi hibridanya.
Sentralisasi politik China, berdampingan dengan desentralisasi ekonomi. Perkawinan unik antara pemerintah lokal dengan sektor swasta telah mempercepat terjadinya reformasi, industrialisasi, urbanisasi dan inovasi. Kombinasi dari kebijakan pemerintah pusat dan mekanisme pasar di tingkat mikro, adalah penyebab meroketnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi China.
Model pertumbuhan China dalam berbagai aspek ekonomi relatif masih muda. Institusi, hukum, peraturan, kontrak dll. masih lemah. China has strong state capacity and weak institutions, whereas advanced countries like the United States have strong formal institutions but state capacity is gradually eroding.
Sedangkan perbedaan besar Kapitalisme terhadap Sosialisme adalah Dynamic Innovation. Yaitu keunggulan nilai ekonomi-politik kapitalisme, yang ditandai dengan mekanisme kebebasan berkompetisi dan perlindungan terhadap hak cipta (property right). Sosialisme lemah dalam hal ini. Di China, inovasi dan kewirausahaan sudah menjadi bagian dari ekonomi itu sendiri. Perusahaan milik pemerintah dan privat, saling bekerjasama dalam menggunakan sumberdaya.
Banyak pihak menduga bahwa suksesnya ekonomi China saat ini adalah karena munculnya Pasar Bebas. Atau, dugaan lainnya adalah karena menguatnya kontrol rezim Komunis, sehingga semua hal bisa dikendalikan dengan mudah. Ternyata yang benar adalah kesuksesan ekonomi terjadi karena China berjalan di antara keduanya. Deng Xiaoping pernah meminta rakyatnya untuk menghentikan perdebatan tentang superioritas antara ideologi Kapitalisme atau Sosialisme. Dan berujung pada jargon tenar beliau, “it does not matter whether a cat is black or white, so long as it catches mice”.
The New Playbook
Model baru memang lebih lamban, namun lebih sistematis tertata dan terawasi dalam mengejar pertumbuhan.
Pendekatan model lama pembangunan China berorientasi cepat dalam jangka pendek, yang didukung oleh ekosistem regulasi dengan standar kualitas yang buruk dan dengan mengabaikan peraturan juga kesepakatan, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, telah berlalu. Kini saatnya era baru pembangunan China (new playbook), didasarkan pada inovasi dan kemandirian serta penguasaan teknologi.
Jumlah masyarakat berpenghasilan menengah yang terus meningkat, termasuk didalamnya adalah konsumen generasi baru, akan menuntut standar hidup yang lebih baik. Dan percepatan pertumbuhan ekonomi China mulai digantikan dengan penekanan pada perkembangan pembangunan yang lebih ramah, yaitu lingkungan yang lebih bersih, ketahanan pangan yang lebih baik, dan kualitas hidup yang lebih tinggi.
China di era baru ini, akan berjuang untuk membangun bangsanya lebih daripada cita-cita Sosialisme, yang sering dicirikan dengan banyaknya “kekurangan”. Juga lebih daripada Kapitalisme yang dikenal dengan lebarnya Kesenjangan.
Era baru ini muncul pada generasi muda yang dilahirkan pada tahun 1980an, 1990an dan 2000an. Yang sudah lepas dari trauma Revolusi Kebudayaan. Namun, mereka ini adalah generasi hasil kebijakan China’s one-child policy. Mereka adalah generasi yang mempunyai kemampuan dan perilaku berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam hal spending/saving, inovasi, kompetisi dan soft skill.
Generasi baru ini punya kecenderungan tinggi dalam hal belanja, kredit dan fashion. Total, mereka bisa menghabiskan trilyun dollar untuk berwisata ke luar negeri, belanja fashion dan produk kesenian. Dan mereka berpikiran-terbuka (open minded) juga berkesadaran-sosial tinggi, dibanding generasi sebelumnya.
Meskipun eksposure cukup tinggi dan familiar terhadap Barat, namun mereka tetap merasa kurang nyaman dengan gaya demokrasi Barat. Tradisi Konfusius, yang sangat mengutamakan komunal, kepentingan sosial dan menghargai kebijakan pemerintah, telah berlangsung 2.000 tahun dalam masyarakat China. Deep down, China’s people are steeped in their own culture, bound by their own traditions, and rooted in their own communities.
Ini adalah generasi China dalam era liberalisasi ekonomi tanpa liberalisasi politik. Dapat diharapkan bahwa dengan pengetahuannya yang sudah mendunia, mereka nantinya bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan, bila terjadi perbedaan pandangan terhadap nilai-nilai dunia lainnya.
…
2.CHINA’S ECONOMIC MIRACLE
Pertumbuhan ekonomi mencapai puncaknya 1978-2005, ketika sumberdaya manusia sebanyak kurang-lebih 400 juta orang dipindahkan dari kantong ekonomi rendah produktivitas ke kantong tinggi produktivitas, yaitu migrasi dari:
sektor pertanian ke sektor industri. Turun dari 70% ke 30%
sektor pemerintah (state sector) ke sektor swasta (private sector). Turun dari 52% ke 13%.
Seleksi alam terjadi, perusahaan berkinerja buruk akan mati. Dan sumberdaya akan banyak bermigrasi ke perusahaan yang berkinerja bagus. Efisiensi terjadi dan pertumbuhan produktivitas naik 75% kali di sektor manufaktur.
The Perils of Rapid Industrialization
Komposisi kekayaan Rumah Tangga dalam GDP China terus menurun, 1978-2008. Dari 70% menjadi di bawah 60%. Sementara kekayaan Rumah Tangga AS dan negara-negara maju mencapai 80%.
Modernisasi adalah industrialisasi, bagi negara yang pernah mengalami penderitaan ekonomi ratusan tahun. Untuk itu, percepatan industrialisasi menjadi fokus pertumbuhan ekonomi. China mengalaminya. Berlebihan subsidi di sektor industri. Berakibat over-supply di industri baja, sel-surya dan pertambangan. Bunga tabungan rendah, dan kredit rumah tak terjangkau. Kredit murah akhirnya menjadi obat yang memabukkan.
Pilihan strategi industrialisasi dan percepatan pembangunan ini memakan biaya yang sangat besar. Bunga bank yang rendah sebagai subsidi industrialisasi, tidak merefleksikan pertumbuhan produktivitas. Pinjaman berbunga rendah juga menyebabkan rendahnya hasil simpanan rumah-tangga. Selanjutnya, berakibat pada ekonomi rendah konsumsi, investasi tidak tepat sasaran dan ekspor berbiaya tinggi.
Bunga rendah juga menyebabkan tingginya harga perumahan dan pasar modal, serta meningkatnya pinjaman di waktu yang bersamaan. Ini bisa mengakibatkan ancaman bagi kestabilan finansial.
Saran Keyu Jin, supaya model pertumbuhan berbasis Industrialisasi diubah ke Inovasi dengan peningkatan produktivitas.
The Case for Future Growth
Berdasar pada prinsip-prinsip kemapanan ekonomi, sulit dibayangkan bahwa ekonomi China bisa berada pada kondisi prima seperti saat ini. Dari sisi rule of law, tahun 2018 China berada pada urutan 82 dari 126 negara. Berdasar ease of doing business, China berada di urutan 78, dibawah Azerbaijan dan Rwanda. Sedangkan berdasar corporate governance, China berada di urutan 72 dari 141 negara.
Tahun 2009an, middle income trap sempat terjadi di China. Demikian juga dengan negara-negara Amerika Latin seperti Peru dan Mexico. Juga di Asean seperti Indonesia, Thailand, Malaysia. Mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, namun tak pernah sampai menjadi negara-negara berpendapatan tinggi. Banyak faktor yang bisa jadi penyebab terhambatnya pertumbuhan tersebut. Misalnya, korupsi, instabilitas politik, infrastruktur yang buruk, dan rendahnya R&D.
Bila pertumbuhan ekonomi China tetap di 5%, dan AS tetap di 1,5%, maka ekonomi China kemungkinan akan melampaui AS pada tahun 2030.
Selain faktor siklus pengulangan seperti masalah kejutan-kejutan ekonomi global, rantai pasokan, Covid-19; maka distorsi yang berkepanjangan akan menjadi beban ekonomi yang berat untuk China. Sehingga banyak yang meragukan pertumbuhan 5%.
Masih ada 870 juta penduduk berpenghasilan kurang dari RMB 2.000 ($300) per bulan. Kategori kelas menengah di China, sebanyak 400 juta orang, berpenghasilan RMB2.000–5.000. Kelas menengah inilah yang diharapkan sebagai mesin penggerak ekonomi melalui konsumsi.
Proporsi tenagakerja ahli atau berpendidikan tinggi juga masih sangat kecil, dibanding AS. Bahkan masih lebih kecil dibanding Afrika Selatan atau Brasil.
Dengan kebijakan ekonomi pintu terbuka di China, persaingan usaha di sektor jasa semakin kuat. Termasuk di ranah hiburan, kesehatan dan pendidikan. Saat ini sektor Jasa masih berkisar 50% dari PDB. Masih kalah dengan di berbagai negara industrialis lainnya, yang bisa mencapai 70-80%.
Reformasi sebagai unsur penting penggerak ekonomi, yang mampu mengurangi distorsi dan meningkatkan efisiensi, masih belum selesai. Masih banyak ruang untuk mengejar negara maju lainnya, seperti:
Peningkatan sektor Finansial. Meningkatkan alokasi kapital dan menyediakan pembiayaan berjangka panjang untuk inovasi.
Reformasi sistem Hukou (sistem pencatatan rumah tangga). Menciptakan kesempatan kerja di wilayahnya sendiri.
Reformasi Fiskal. Untuk menyelesaikan masalah hutang pemerintah daerah.
Lompatan besar China pertama selama empat dekade ini adalah dari pendapatan per kapita sebesar $380 menjadi $10.000. Selanjutnya, untuk mencapai Lompatan Besar kedua adalah bila tercapai lompatan pendapatan per kapita dari $10.000 ke $30.000. Bahkan, “influencer economy” di China mampu meningkat dua kali lipat per tahunnya hingga mendekati $1 trilyun. Dan konsumer China juga membelanjakan uangnya lintas negara untuk keperluan pembiayaan pendidikan keluarganya di berbagai belahan dunia, belanja properti di Sydney dan membantu peningkatan harga Bordeaux Wine.
…
3. China’s Consumers and the New Generation
Tanggal 11 November 2021, saat perayaan hari Singles Day di China (perayaan dicanangkannya one-child policy tahun 1970an), Alibaba dan JD.com mampu menjual barang secara daring sejumlah $140 Milyar. Ini jauh melebihi total penjualan di AS saat perayaan Black Friday, Thanksgiving, dan Cyber Monday.
Seperti diketahui, tiga faktor utama dalam penguatan perekonomian adalah: Konsumer, Perusahaan dan Negara.
Konsumer China sebanyak 1,4 milyar menjadi faktor penting ekonomi. Apple mampu menjual sebesar $100 Milyar per hari di China. Lebih dari dua kalinya penjualan di AS. Seperlima dari total pendapatan Starbucks di dunia, diperoleh dari China. Tesla berinvestasi besar di China untuk membangun mobil listrik. Nike dan Estée Lauder sukses melakukan penjualan daring di China melalui WeChat dengan 1 milyar pengguna aktif per bulan.
Sistem pemerintahan China, memudahkan untuk pengendalian pola belanja konsumen. Kebijakan “Eight rules” yang diinisiasi oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2012, membuktikan hal tersebut. Eight Rules adalah kebijakan yang oleh beberapa pihak dianggap kebijakan “gila”, karena menghambat akses pendidikan di luar sekolah. Namun sebenarnya kebijakan ini dimaksudkan pemerintah China untuk mencegah tindak korupsi. Lihat Tautan di bawah. Begitu kebijakan tersebut dilaksanakan, maka penjualan jam tangan mewah dan wine yang mahal, langsung jatuh dalam sekejap.
Dampak kebijakan One-Child Policy
Dalam dua dekade ini, persentase rata-rata jumlah tabungan setiap keluarga di China mencapai 30% dari total pendapatannya. Sementara di 37 negara OECD, pada umumnya hanya bisa menabung kurang dari 10% dari total pendapatannya. Bahkan di beberapa negara OECD, hanya 5%.
Bila penduduk China bisa mengurangi jumlah simpanan dan dialihkan untuk keperluan konsumsi, maka akan banyak perusahaan global bisa turut menikmati keuntungannya. Juga, untuk keperluan pertumbuhan ekonominya, China bisa sedikit mengurangi investasi dan ekspor, untuk mencegah terjadinya ketidak-seimbangan neraca perdagangan yang menyebabkan perselisihan dagang antar negara.
Ajaran moral Konfusius bahwa banyak anak adalah berkah keluarga. Dan anak-anak akan bertanggungjawab untuk membantu keluarga, bahkan ketika masih muda sekalipun. Anak-anak juga berkewajiban membantu orangtua dalam hal finansial maupun tempat tinggal, di masa tuanya. Semakin banyak anak, diharapkan semakin ringan beban finansial untuk membantu keluarga. Maka, ketika One Child policy dicanangkan, keluarga merasa harus mempersiapkan ketahanan finansial untuk masa tuanya. Meningkatkan tabungan adalah solusinya.
Pensiun juga menjadi isu penting. Para pensiunan saat ini menerima uang pensiun sangat sedikit. Ini disebabkan oleh institusi tempat mereka bekerja sebelumnya, tidak cukup banyak membayar premi asuransi pensiun. Sistem Jaring Pengaman Sosial untuk pekerja di masa tua, belum cukup tertata bagus di China. Bagi generasi lanjut usia saat ini, dana pensiun tidak bisa menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.
Data terkait rumahtangga menunjukkan bahwa dimasa One Child Policy, tingkat tabungan keluarga beranak tunggal, lebih banyak 9% dibanding yang beranak kembar. Bila keluarga beranak tunggal mampu menabung 30% dari pendapatannya, maka keluarga beranak kembar hanya mampu menyimpan 21% saja. Dan bagi keluarga dengan anak kembar yang sudah dewasa, lebih boros pengeluaran (rendah tabungan) dibanding dengan keluarga beranak tunggal. Maka kebijakan One Child memang lebih signifikan dalam mensejahterakan rakyatnya, dibanding keluarga beranak banyak.
Pendidikan
Hal menarik mengenai pendidikan di China, disajikan buku ini pada analisis hasil survey tentang “bagaimana keluarga mengatasi persoalan pendidikan untuk anak yang lahir pada tahun 1980 hingga 2010? Lihat grafik “The One-Child Policy and Household Saving”.
Dari grafik tersebut terlihat bahwa ada suatu masa (usia 20 tahun?) dimana biaya pendidikan anak tunggal bisa hampir dua kali lebih besar dari anak kembar.
Belanja pendidikan per tahun dalam satu keluarga di China mencapai 25% dari total pendapatan. Sementara di AS, belanja pendidikan untuk satu anak, hanya diperlukan 5% dari total pendapatan saja.
Data tahun 2002-2009 menunjukkan bahwa kurang dari 40% siswa dari keluarga beranak kembar yang mampu melanjutkan ke SMU untuk selanjutnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan 30% dari keluarga anak kembar cenderung melanjutkan ke sekolah vokasi atau kejuruan.
Harapan orangtua supaya anak-anak tidak kalah dalam kompetisi kepandaian, menyebabkan ditambahkannya pendidikan tambahan (les privat) di luar waktu sekolah. Belanja pendidikan semakin tinggi. Survey menunjukkan bahwa 88,7% pelajar sekolah dasar dari keluarga mampu, mendapatkan les privat di luar sekolah.
Minat pendidikan yang semakin tinggi, memicu tumbuhnya sekolah-sekolah unggulan. Bahkan sekolah-sekolah dari Inggris dan AS mulai membuka cabang di China.
Sisi gelap dari persaingan pendidikan ini adalah semakin mahalnya biaya sekolah. Dan berujung pada rendahnya minat mempunyai anak.
Ketika pemerintah China mulai mengurangi tekanan pada One Child Policy, tidak serta merta berakibat pada bertambahnya angka kelahiran. Bahkan tahun 2021 menunjukkan rendahnya angka kelahiran, yang tidak memacu kecenderungan kenaikan.
Kesimpulan sementara adalah:
The one-child policy led to a noteworthy increase in human capital investment, which hiked the cost of education, and in turned weakened the inclination to have more children.
Isu mahalnya pendidikan ini bahkan menjadi sajian sehari-hari dalam drama serial televisi yang menjadi hiburan keluarga di rumah. Tingginya biaya pendidikan dan perumahan menjadi hambatan kesejahteraan terbesar rakyat China, meskipun One Child policy mulai dilonggarkan. Presiden Xi Jinping pun menanggapi serius akan hal ini dengan agenda “maximising inclusive prosperity”.
Perempuan
Antara tahun 1980-2010, telah gagal dilahirkan 25 juta bayi perempuan. Ini terkait dengan budaya China saat itu yang lebih menyukai kelahiran bayi laki-laki. Dengan harapan lebih mampu menjaga orangtuanya dan membantu pekerjaan, daripada perempuan. Bahkan, bila anak pertama dan kedua adalah perempuan, tetap berusaha mendapatkan laki-laki pada kelahiran anak ketiga.
Demi pilihan favorit kelahiran bayi laki-laki, teknologi ultrasound diimplementasikan pada tahun 1980an untuk kontrol populasi. Digunakan untuk seleksi jenis kelamin embrio. Tindakan ini sekarang dianggap ilegal.
Di era one child policy, akses ke pendidikan pun, perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Tidak prioritas.
Sekarang, anak-anak perempuan bahkan banyak mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari laki-laki. Tahun 1978, 24,2% mahasiswa adalah perempuan. Tahun 2009, setengah jumlah mahasiswa adalah perempuan.
Karena kultur China yang mewajibkan laki-laki bertanggungjawab untuk menyediakan apartemen dan memimpin rumahtangganya, maka para orangtua lebih suka investasi pendidikan diberikan ke anak perempuan. Sehingga bisa bekerja sendiri dan membantu orangtuanya lebih lama.
Statistik di China tahun 2017 menunjukkan bahwa eksekutif perempuan di perusahaan publik yang lahir tahun 1950an sebanyak 12%, lahir 970an 23%, lahir 1980an 35% dan lahir 1990an 42%. Jumlah eksekutif perempuan cenderung naik.
Bahkan dibidang politik, lebih banyak perempuan memiliki pendidikan tinggi daripada laki-laki. Perempuan 75%, laki-laki 56%.
“It is a truth acknowledged in China that a single man in want of a wife must be in possession of a property and a car.”
One child policy berakibat kelahiran bayi laki-laki lebih disukai. Dan budaya China sangat mengagungkan keberlanjutan keturunan keluarga. Ketiadaan cucu adalah aib bagi sebuah keluarga. Untuk itu, orangtua sangat mengutamakan bantuan finansial bagi anak laki-lakinya. Sehingga mampu menabung untuk mulai membina rumahtangga. Kekayaan finansial menjadi faktor penting bagi laki-laki siap kawin.
Jumlah perempuan usia kawin di China tidak sebanyak dengan jumlah laki-laki. Dan ketimpangan gender terjadi saat ini.
Tabungan
One child policy dengan ketakutan finansial di masa pensiun dan biaya mahal untuk mulai berumahtangga, menjadi alasan utama meningkatnya jumlah tabungan nasional.
Jepang dan Korea juga banyak diwarnai oleh budaya Konfucius, namun tabungan mereka antara 2-6% dari pendapatannya. Tidak seperti China yang sampai 30%. Total simpanan rumahtangga di China terus meningkat sejak 1990 hingga 2009 dan menduduki posisi ke-3. Sama dengan total simpanan korporasi.
Demografi
Menurut survey populasi PBB, di China ada 50% populasi dibawah usia 20, sebelum tahun 1980. Menurun di tahun 2015 menjadi 24%. Dan pada tahun 2050, lebih dari ⅓ populasi China adalah usia diatas 60 tahun. Ini adalah kecenderungan transformasi demografi di negara yang sedang tumbuh kekayaan ekonominya, dengan sedikit jumlah anak.
Risiko ekonomi di negara dengan populasi usia-lanjut yang tinggi adalah tingginya beban fiskal akibat kebutuhan dana pensiun dan menurunnya jumlah tenagakerja.
Problem tenagakerja China saat ini bukanlah tentang jumlah, tetapi lebih pada ketidakcocokan antara kebutuhan dan keahlian yang tersedia. Lulusan universitas tidak banyak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, dan korporasi lebih membutuhkan tenagakerja terampil lulusan sekolah vokasi. Sementara Teknologi Otomatisasi dan Artificial Intelligence akan menjadi ancaman baru pada pola industri di masa depan.
Penyumbang utama pertumbuhan ekonomi China adalah keterbukaan pasar, keuntungan produksi, efisiensi penggunaan asset dan tenagakerja, serta kemajuan teknologi. Sedangkan faktor penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi adalah koreksi berlebihan terhadap kebijakan ekonomi dan situasi panik menghadapi perkembangan agresif sektor privat. Atau bahkan akan lebih buruk lagi bila reformasi dihentikan. Demografi bukan lagi pengaruh penting.
Sepakat dengan pernyataan menarik Penulis dalam bab ini adalah:
“Every generation distinguishes itself in terms productivity, consumption and saving patterns, appetite for risk, life-work balance, and political preferences, which we turn to next”.
Alibaba dan AliPay sudah mengubah budaya anak muda China sekarang untuk rajin belanja. Menggantikan budaya menabung orang tua mereka. “Just spend” menjadi perintah populer dalam budaya baru. Surplus akan berubah menjadi Defisit dikemudian hari.
Visi Baru
One child policy, tanpa diduga telah banyak mengubah banyak hal. Termasuk ekonomi, ketimpangan gender, tenagakerja, simpanan keluarga dan budaya keluarga. Dampak pemerintahan Deng Xiaoping yang efektif dimulai 1978 bisa dirasakan saat ini. Eksistensi generasi dengan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya, dalam hal perilaku, ethos, aspirasi dan ways of life.
Generasi baru ini tidak pernah merasakan penderitaan karena Kemiskinan dan situasi Depresif, seperti yang dialami orangtuanya. Mereka tumbuh dalam kesejahteraan dari hasil kerja keras orangtuanya, dan dengan perhatian penuh dari para gurunya. Bahkan tak perlu mereka bersusah-payah menyiapkan diri untuk situasi emergency. Tak ada persaingan dalam keluarga, karena One Child Policy. Juga tak perlu partner untuk berbagi beban dan tanggungjawab. Perlengkapan modern dan keahlian telah tersedia semua. Bahkan telah dibekali pengetahuan dan cara berpikir Barat untuk menghadapi masa depan.
Mimpi buruk akut tentang depresi ekonomi di benak orangtua, tak ada sedikitpun dalam kesadaran para generasi baru ini. “American dream” sudah bukan lagi menjadi tujuan, karena mereka sudah hidup dalam era kesejahteraan yang dirasa sama dengan masyarakat negara maju lainnya.
Mereka mempunyai tujuan, arah dan perilaku kerja-keras, tidak lagi untuk tujuan kekayaan, tapi untuk kebahagiaan. Mereka bangga dengan negerinya yang powerful dan berpengaruh kuat di dunia. Rasa percaya diri generasi muda China ini akan sangat berpengaruh untuk negerinya di masa depan. …
4. Paradise and Jungle, the Story of Chinese Firms
Adalah fenomena ekonomi yang mencengangkan, ketika hanya dalam waktu 30 tahun, telah muncul lebih dari 20 juta perusahaan swasta di negara anti-kapitalis.
Investor asing mulai masuk China di akhir tahun 1970an. Panasonic masuk China 1978. Coca Cola dan IBM mulai masuk, 1979.
Seperti halnya di negeri kita, sektor korporasi China mempunyai dua jenis perusahaan, yaitu: state-owned enterprises (SOEs) atau BUMN dan sektor swasta.
Tahun 1990, sektor swasta menyumbang pendapatan (GDP) sangat kecil. Namun sekarang, walaupun harus melewati birokrasi yang sangat sulit berliku, mampu menghasilkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Sumbangan sektor swasta terhadap penerimaan pajak mencapai 50%, GDP 60%, inovasi 70% dan lapangan kerja 80%.
Generasi Baru
Di era kompetisi global yang sangat intens dalam memperebutkan pasar, diperlukan keahlian untuk mencapai sukses, yaitu kecepatan, keluwesan, kearifan lokal, percaya-diri, kerendahan hati, dan kemampuan beradaptasi.
Saat ini suap, siasat licik dan mengakali peraturan, tidak bisa lagi menjadi katalis utama untuk ekspansi bisnis. Bahkan sejak menjadi Presiden China, 2013, Xi Jinping terus mengkampanyekan pentingnya “Anti Korupsi”. Maka generasi pengusaha baru harus dilengkapi dengan visi yang lebih jelas dan keterampilan canggih, serta didorong dengan motivasi yang lebih tinggi.
Mereka perlu didorong oleh semangat dan kemauan untuk sukses—bukan dengan mengambil jalan pintas, namun dengan menghasilkan produk atau layanan yang lebih baik melalui kecerdikan dan tata kelola yang baik.
Para pengusaha generasi muda China sangat mengandalkan pada kegigihan, inovasi dan keuletan, untuk menghadapi tingginya intensitas kompetisi dan lingkungan regulasi yang ketat, dibanding era sebelumnya.
Environmental, social, and corporate governance (ESG) adalah acuan baru berstandar tinggi dari setiap perusahaan di dunia yang berharap sukses ditengah pasar yang berreputasi dan terkelola sangat baik.
Setiap generasi dari para pengusaha China, perlu punya sensitifitas terhadap garis batas antara kepentingan bisnis dan kepentingan negara dalam menjaga stabilitas sosial. Mereka perlu memberikan respon yang lentur terhadap perubahan mendadak dari kebijakan dan kepemimpinan.
Untuk setiap milyarder yang kecewa terhadap intervensi negara, akan selalu ada banyak kaum milenial yang percaya bahwa akan menjadi jutawan atau bahkan milyarder berhubung sudah terbukanya kesempatan untuk turut bermain dan berkompetisi.
…
5. The State and the Mayor Economy
Beberapa tahun terakhir ini, telah dibangun lebih dari 150 kawasan pembangunan hi-tech di berbagai kota di seantero negeri. Dengan tujuan mengembangkan sentra-sentra penghubung komersial untuk pembangunan produk elektrik, biomedicine dan energi bersih. Kawasan Ekonomi.
Di tahun 2019 saja, telah diselenggarakan lebih dari 3.000 pameran, menyajikan teknologi lingkungan terbaru atau produk kecantikan baru atau desain terobosan pengemasan barang.
Dalam Kawasan Ekonomi, pemerintah lokal sangat mendukung pengusahaan dan menjanjikan untuk meminimalkan berbagai hambatan birokrasi demi berkembangnya inovasi.
Ada tiga karakter yang menguntungkan dari pemerintahan China:
Mempunyai sumberdaya dan kemampuan administratif untuk memobilisasi dengan cepat aksi kolektif untuk mencapai target-target nasional
Sentralisasi struktur politik, yang disandingkan dengan desentralisasi ekonomi. Ini memungkinkan munculnya kreativitas bisnis lokal yang disupervisi dari Pusat.
Adaptif. Mudah beradaptasi terhadap perubahan cepat situasi sosial.
Fenomena pertumbuhan China ini membantah teori Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail, yang mengatakan bahwa negara dengan kekuasaan yang terpusat hanya pada sedikit orang, cenderung menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap rakyatnya. Dan biasanya tak peduli terhadap pertumbuhan ekonomi, teknologi baru, pendidikan dan investasi. Namun itu tak terjadi dengan China. Sebaliknya, justru tumbuh menjamur dua puluhan juta perusahaan swasta baru. Alih-alih menghambat perkembangan teknologi, China justru berupaya menjadi pionir teknologi baru dengan penggelontoran triliunan dollar untuk mendukung berbagai pengusahaan, pusat penelitian, universitas dan zona hi-tech.
Sinergi Pemerintah dan Partai Politik
Konsentrasi kekuatan politik China kembali mirip dengan era kerajaan, ketika raja memegang supremasi kekuasaan. Puncak kepemimpinan Partai Komunis adalah pemegang kekuasaan tertinggi.
Realitas keseharian yang terjadi, adalah kekuatan roda ekonomi berada di tingkat pemerintahan lokal atau tengah. Merekalah yang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai target, melaksanakan reformasi dan memasukkan investor asing.
Salah satu faktor besar dalam keberhasilan perekonomian Tiongkok adalah kemampuannya untuk bisa menerima perubahan, inovasi, dan risiko — hal-hal yang lazimnya tidak terkait dengan rezim politik terpusat.
Model konsentrasi kekuasaan politik yang dikawinkan dengan desentralisasi adalah khas ekonomi-politik China. Pemerintah pusat mengurusi politik domestik dan internasional serta menyusun semua kebijakan ekonomi. Sementara pemerintah lokal bertugas mengimplementasikan kebijakan ekonomi tersebut.
China Baru
Achieving high growth can be impressive, but the key question is, at what cost?
China telah berubah. Sebelumnya, tuntutan terhadap tingginya Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth), telah banyak mengorbankan sektor lingkungan. Dan paradigma pembangunan baru, telah menyadarkan China akan pentingnya kualitas pertumbuhan. Sehingga selanjutnya pembangunan fisik juga diiringi dengan pembangunan infrastruktur lunak, seperti Pendidikan, Kesehatan dan Pelayanan Publik lainya.
Kongres Partai Komunis ke-20, 2022, tidak lagi menempatkan Pertumbuhan Ekonomi sebagai satu-satunya agenda prioritas. Kualitas Pertumbuhan (bukan Kuantitas) menjadi hal utama, seperti halnya Keamanan dan Kemakmuran.Kurva Lingkungan Kuznet menjadi acuan penting.
Pada awalnya, masyarakat banyak mengabaikan Lingkungan demi percepatan pertumbuhan ekonomi. Namun setelah kelayakan Pendapatan tercapai, maka mereka lebih membutuhkan Lingkungan yang lebih baik. Meskipun dibutuhkan biaya lebih besar. Ketika kesejahteraan telah dirasa semakin tinggi, maka tuntutan akan Kesehatan dan Lingkungan yang lebih baik pun juga menjadi tinggi.
Kini, tuntutan terhadap GDP setinggi mungkin, telah bergeser. Menjadi tuntutan meningkatnya Kualitas Hidup yang lebih baik.
Meskipun tumbuhnya kelas menengah China tidak serta-merta dibarengi dengan bertambahnya peran partisipasi politik, namun tetap menjadi tekanan politik yang perlu diperhitungkan. Bila institusi politik gagal menyikapi berkembangnya sosio-ekonomi, akan menyebabkan kekecewaan publik. Dan keberhasilan pemerintah China menyikapinya, berakibat fenomena Arab Spring tidak terjadi disana. Terkenal semboyan partai Komunis China, “yu shi ju jin”, terus maju bersama waktu.
Legitimasi Kekuasaan
Legitimasi Partai Komunis seringkali menjadi gunjingan di berbagai negara Demokrasi. Namun realitasnya, rasa Aman dan Kemakmuran materiil memang sudah dirasakan masyarakatnya. Dan yang lebih memuaskan lagi adalah dirasakannya tanggapan cepat Pemerintah terhadap keluhan-keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan publik.
Pranab Bardhan, ekonom, berpendapat bahwa sistem pemerintahan sentralisasi cocok untuk program jangka-panjang, namun mempunyai kelemahan dalam hal akuntabilitas dan keluwesan.
Demikian juga dengan sistem politik pluralisme, akan menguntungkan dalam isu keterwakilan dari populasi yang beragam. Namun, akan sangat mahal untuk keperluan aksi kolektif (collective action). Demikian juga, musyawarah dalam alam demokrasi akan berperan penting pada legitimasi sosial. Namun, kompetisi antar partai juga akan terus menurun hingga di tingkat akar-rumput.
Alih-alih memenuhi kewajibannya untuk melayani keperluan masyarakat yang beragam, Demokrasi justru seringkali dibelokkan menggunakan kekuasaan uang dan lobbying.
Markus K. Brunnermeier, ekonom Princeton University, berpendapat bahwa ekonomi politik China memang sedang jaya, namun meragukan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai goncangan.
Model Pertumbuhan ekonomi China yang gemerlap tersebut, tidaklah cukup lentur. Kredit tetap perlu disuntikkan untuk memutar roda ekonomi. Intervensi terhadap harga properti dan harga saham perlu selalu dilakukan. Dan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, tetaplah membutuhkan biaya mahal. Entah untuk mencegah keruntuhan finansial ataupun mengawal kebijakan Zero Covid (saat pandemi).
Menurut Brunnermeier, “an economy, or a system, is most sustainable when it can be more like a reed than an oak, that “bends often but does not break”. That would be a worthy goal for China’s new playbook”.
…
6. The Financial System
Menurut Penulis, sistem finansial China belum cukup berkembang. Kredit bank di China pada tahun 2019 mencapai 165% dari GDP. Sementara AS hanya membutuhkan kredit sebesar 52% dari GDPnya.
Di AS, nilai saham yang beredar di bursa saham sebanyak 150% dari GDP. Dan jumlah Bond yang beredar mencapai 205% dari GDP. Sementara di China, total saham di pasar hanya 60% GDP dan pasar Bond (2020) sebanyak 113% GDP.
Asset yang dikelola Investment Fund di China tidak lebih dari 12% GDP (lebih 100% di AS).
The Financial System as a Tool
Bank-bank Pemerintah lebih suka memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan milik negara, yang diarahkan untuk keperluan di bidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Sesuai program pemerintah.
Ada 5 bank pemerintah, yang menguasai 40% total deposit perbankan. BUMN lebih banyak menerima kredit untuk keperluan proyek-proyek Pemerintah, umumnya dibidang infrastruktur, teknologi, dan industri. Alih-alih diberikan pada masyarakat atau sektor swasta, banyak kredit justru diberikan pada Perusahaan Pemerintah yang susah untuk dijual. Sangat beresiko.
Non Performing Loan (NPL) pada Bank-bank Pemerintah China mencapai 20% total kredit di tahun 2000an. Bahkan di puncak krisis 2009, NPL bank di AS hanya mencapai tidak lebih dari 5%.
Ketika Bursa Saham kembali dibuka 1990, di Shanghai dan Shenzen, mayoritas pesertanya adalah perusahaan Pemerintah. Tujuan Deng Xiaoping saat itu bukanlah meningkatkan dana perusahaan privat. Melainkan, untuk menyehatkan perusahaan pemerintah dan mampu melantai di bursa saham.
Tahun 2000, 70% dari perusahaan yang melantai di bursa saham, adalah BUMN. Dan tahun 2018 komposisi BUMN turun menjadi 30% karena makin banyaknya perusahaan privat yang turut bermain di bursa saham.
Pertumbuhan dan Bursa Saham
Pertumbuhan ekonomi China (2000-2014) jauh melewati Brazil, India, Jepang dan AS.
Korelasi positif antara Pertumbuhan GDP dan pendapatan rata-rata Bursa Saham dalam waktu lima tahun, bisa mencapai 50% di UK dan Jerman serta 30% di AS. Namun itu tidak terjadi di China, atau korelasi 0%. Atau tidak ada korelasi antara pertumbuhan GDP dengan pendapatan Bursa Saham.
Ini berarti masyarakat tidak turut serta menikmati buah pertumbuhan ekonomi melalui Pasar Modal. Yang juga berarti bahwa kinerja perusahaan di Pasar Modal tidak selalu menunjukkan fundamental value.
Return on assets, return on equity, dan net income growth suatu perusahaan listed tidak menunjukkan margin yang lebih bagus daripada perusahaan unlisted.
Ditengarai, ada dua faktor penyebab buruknya kinerja perusahaan listed, yaitu:
Proses seleksi untuk menjadi perusahaan listed. Di China mesuknya perusahaan ke lantai bursa didasarkan pada Persetujuan Pemerintah, yaitu China Securities Regulatory Commission (CSRC). Tidak seperti lazimnya persyaratan masuk bursa saham di negara lain, dibutuhkan Laporan Finansial secara terbuka (published) dan kemudian mendaftarkan diri untuk melakukan IPO.
Perilaku buruk perusahaan, setelah masuk ke dalam bursa saham. Di China, return on assets rerata 50% setelah satu tahun IPO, sedangkan di AS hanya turun tak lebih dari 10%.
Syarat wajib untung selama 3 tahun hingga IPO, membuat banyak perusahaan China tidak bisa listing di negerinya. Dan memilih listing di luar negeri. JD.com perusahaan terbesar kedua setelah Alibaba, tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut, karena dua tahun sebelum IPO, 2014, menunjukkan adanya kerugian dalam Laporan Keuangannya. Bursa saham Nasdaq kemudian menjadi pilihan JD.com, dengan market capitalization sebesar $115 milyar.
…
Banyak pengamat membedakan Pasar Equity China dengan AS. Pasar Saham China lebih melihat ke masa lalu, sedangkan Pasar Saham AS melihat potensi perusahaan ke masa depan.
Tahun 2000 hingga 2018, perusahaan China yang melantai di bursa saham luar negeri meningkat hingga empat kali. Bahkan di pertengahan 2021, bursa saham AS mengelola perusahaan China senilai $2,1 Triliun.
Di China, Return on Assets (ROA) berkurang hingga 50% dalam tahun yang sama setelah IPO. Di AS, ROA hanya berkurang tidak lebih 10% dalam kurun waktu yang sama.
Kinerja buruk perusahaan China biasanya terjadi karena terlalu ekspansif investasi di bidang yang bukan kompetensi utamanya. Bisnis properti merosot tajam di tahun 2021 hingga hampir mengganggu stabilitas finansial, karena ekspansi bisnis di bidang peternakan babi, air kemasan, klub sepakbola dan mobil elektrik. Yang semua ekspansi bisnis tersebut berada di luar kompetensinya.
Bursa saham China sangat bergejolak. Tahun 2008, Bursa Saham China sempat merosot hingga 70%, hanya beberapa bulan setelah Shanghai Stock Exchange (SSE) mencatat komposit index puncak tertingginya. Di tahun 2015, nilai saham di SSE merosot ⅓ nya hanya dalam satu bulan, setelah meningkat 150% pada bulan sebelumnya.
Di China, retail investors menguasai 80% bursa saham. Sementara di New York Stock Exchange, 85% bursa saham dikuasai oleh investor institusi.
The Great Housing Rush
Harga perumahan di China rata-rata naik pesat 4 kali lipat dari tahun 2003 hingga 2013. Harga rumah di Beijing dan Shanghai sama dengan di Boston, $550/feet2. Dan harga di Shenzen hampir mengejar harga di San Fransisco. Namun, pendapatan per kapita di Beijing, Shenzen dan Shanghai hanya sebesar $7.500. Berbeda jauh dengan pendapatan di Boston $40.000. Bahkan di San Fransisco mencapai $50.000.
Shadow banking merujuk pada institusi yang berperilaku semacam bank untuk melakukan bisnis pembiayaan namun bukanlah bank resmi. Bank resmi maupun pemerintah lokal China, juga melakukan Shadow banking. Resesi dunia 2008, juga disebabkan oleh Shadow banking oleh bank-bank resmi di AS. Biasanya mulai dijalankan bank-bank konservatif ketika mereka mulai menyiasati aturan resmi pemerintahnya. Atau menjalankan skema off-balance sheet.
Shadow banking mulai menjadi medium finansial menarik di China, mulai 2005. Wealth management products (WMPs) menjadi produk andalan perbankan. Sejenis deposit yang tidak dibatasi oleh bunga bank (interest rate) atau fixed-rate. Off-balance sheet tentunya.
Dari kurang 2,6% GDP di tahun 2008, WMP ini meningkat menjadi 40% GDP di tahun 2016. Sejumlah RMB 3,1T WMP terjual. Dan di akhir 2017, tumbuh menjadi 22,2T ($3,36T).
Bank kemudian menyalurkannya kepada perusahaan terpercaya untuk digunakan berinvestasi di pasar bond, instrumen kredit atau investasi di suatu perusahaan atau proyek.
Antara 2010-2015 aset dari perusahaan terpercaya tersebut meningkat dari 6% menjadi 24% GDP. …
Peran Pemerintah Lokal
Kebijakan Anggaran China yang diundangkan sejak 1994 adalah bahwa Pemerintah Lokal tidak diperkenankan Defisit. Hal ini menjadi kesulitan saat resesi ekonomi terjadi pada tahun 2008. Untuk intu, pemerintah lokal mensiasatinya dengan membentuk Local Government Financing Vehicle (LGFV). Institusi bisnis non-pemerintah, yang sebenarnya dimiliki oleh pemerintah lokal. Dari institusi inilah pemerintah lokal bisa meminjam uang dari bank atau Shadow Bank dengan akutansi off-balance sheet. Dan hutang tersebut akan diperlakukan sebagai hutang korporasi, bukan hutang pemerintah.
Tahun 2009, hanya ada 3.800 LGFV. Tahun 2013 tumbuh menjadi 7.170. Dan 30 pemerintah lokal (dari total 36) sudah memilikinya. Hutang yang digelontorkan dari LGFV ini di tahun 2009 sebesar RMB 6T, dan meningkat menjadi RMB 45T enam tahun kemudian. Beberapa tahun yang lalu, LGFV telah mendanai pembangunan Shanghai Tower sebesar $2,4 Milyar, gedung tertinggi ke-2 di dunia.
Menteri Keuangan mendorong Pemerintah Lokal untuk memberdayakan LGFV untuk meminjam uang. Sementara regulator Bank Sentral menyarankan bank pemerintah untuk meminjami LGFV. Sinergi terjadi. Pinjaman sebesar RMB 4,7T di tahun 2009, setengahnya untuk keperluan LGFV. Bila biasanya Pinjaman sebesar 15% GDP, maka di tahun 2009 menjadi 27,5%. Dan hutang diberikan untuk pembiayaan proyek Pemerintah Lokal.
Selanjutnya, LGFV menerbitkan Chengtou Bond. Bond korporasi untuk pembangunan infrastruktur dan investasi, yang dijamin oleh Pemerintah Lokal. Jumlah bond yang terbit tahun 2008 sebanyak 79, kemudian tumbuh hingga 1.704 di tahun 2014. Sumber dana utama bond ini adalah dari Shadow Banking yang dipermudah prosesnya oleh Pemerintah Lokal.
Setiap Pemerintah Lokal kini menggunakan LGFV untuk menerbitkan Chengtou Bond. Akhir 2014, total outstanding Chengtou bond mencapai RMB 4.95T. Sumber pembiayaan primer bagi Pemerintah Lokal.
Enam tahun setelah Resesi 2008, ekonomi China tumbuh double dari $4,5T ke $9T di tahun 2014. Namun, hutang China juga tumbuh menjadi 230% GDP. Yang mayoritas melalui skema Shadow Banking.
Perbankan di China vs US
Tim Geithner, menteri Keuangan AS tahun 2008, dalam bukunya Stress Test: Reflections of Financial Crises menyatakan bahwa setiap kejadian krisis finansial, sejatinya adalah Krisis Kepercayaan Diri. Bila masyarakat tidak lagi percaya bahwa pemerintah mampu mengamankan bank, pasar saham atau institusi keuangan tempat mereka menyimpan uangnya, maka disinilah krisis keuangan dimulai.
Berbeda dengan di AS, yang mungkin saja tidak akan menyelamatkan bank (Lehman Brothers), pemerintah China tidak akan menghalangi penyelamatan sistem finansial dari keruntuhan.
Pemerintah tidak hanya sebagai regulator terhadap perbankan, tapi juga sebagai pemilik saham mayoritas. Dan sebaliknya, bank mempunyai piutang Pemerintah Daerah. Sehingga, rasanya tidak mungkin Pemerintah membiarkan runtuhnya perbankan. Seperti halnya dengan Lehman Brothers.
Buntut dari Resesi Ekonomi 2008, Utang China terhadap GDP (Debt to GDP ratio) mencapai 275% di tahun 2022.
Asset Pemerintah Lokal di akhir tahun 2017 diperkirakan mencapai RMB 126T ($17,28T). Dan utangnya RMB 29T (2022 menjadi sebesar RMB 61,3T). Hutang rumahtangga yang utamanya untuk kredit perumahan, cukup aman. Jauh lebih aman daripada AS, Jepang atau Spanyol. Terselamatkan karena tingginya tingkat simpanan mereka.
Interest Rate dan Growth Rate menjadi faktor penentu Debt Sustainability. Bila Interest Rate < Growth Rate maka Debt to GDP semakin kecil. Sehingga Debt Sustainability akan aman. Negara Sedang berkembang, umumnya sedang menikmati Growth Rate yang lebih tinggi daripada Negara Maju.
Jumlah Simpanan China sudah mampu mencukupi untuk menutupi kebutuhan investasi domestik. Sehingga tidak membutuhkan investasi asing. Dengan kata lain, sistem finansial China dalam kondisi stabil, namun tidak cukup efisien. …
7. The Technology Race
Pertama kali dalam sejarah, negara sedang berkembang dengan tingkat kualitas hidup masyarakat yang hanya ¼ kalinya negara industrialis, namun telah mampu membangun dan memiliki teknologi super canggih.
Tahun 1999, majalah Times dalam edisi “Beyond 2000” masih meremehkan China dengan pernyataan: “China cannot grow into an industrial giant in the 21st century. Its population is too large and its gross domestic product too small.”
…
Inovasi
Pengertian umum, ada dua jenis inovasi teknologi:
Fundamental breakthroughs. Penciptaan teknologi baru. Revolusioner (0 to 1)
Creative adaptations. Adaptasi dan pengembangan teknologi. Evolusioner (1 to N)
Inovasi China cenderung masuk dalam kategori Creative Adaptations. Menciptakan aplikasi baru berdasar teknologi yang sudah ada. Menjadi lebih baik dan lebih murah. Highly innovative nation.
Persaingan usaha di China cenderung keras. Bahkan brutal. Perang harga, saling melakukan tuntutan pidana, menggagalkan sistem pembayaran, merusak software kompetitor, dll. adalah bagian dari pertempuran tersebut. Positifnya adalah ‘memaksa’ peningkatan kualitas produk, pemotongan biaya produksi secara agresif dan terus berusaha mencari cara monetisasi yang baru.
…
8. China’s Role in Global Trade
Peran China dalam memperoleh pertumbuhan keuntungan perdagangan global, bisa ditunjukkan dari contoh produksi Iphone. Tahun 2009, dari produksi iphone senilai $100, pemasukan China sebesar $1,30. Pada tahun 2018, dengan harga barang yang sama, pemasukan China menjadi $10,40. Artinya, China telah masuk semakin ke tengah dalam proses Global Supply Changes, mengambil alih peran industri sebelumnya di negara lain.
Tahun 2000 China mulai berperan dalam supply change industri tekstil. Dan di tahun 2017, China sudah mengambil peran utama dalam supply change industri tersebut. Demikian juga dengan sektor information and communication technology (ICT). China telah mengambil alih peran dominan dari Jepang.
The Rise of Economic Nationalism
Globalisasi memang sudah menjadi semangat semua pihak. Namun, kebijakan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan kecenderungan ekosistem rantai pasokan (supply change) lebih mengarah pada nasionalisasi ekonomi. Di China, ini muncul dalam konsep “dual circulation”, sebagai bagian dari komponen inti dalam Rencana Lima Tahunan China yang ke-14. Dua mesin penggerak ekonomi, yaitu sikap terbuka (international circulation), dan sikap yang lebih mengutamakan pasar domestik (domestic circulation). Kedua penggerak tersebut mesti saling menguatkan.
China telah bergabung dalam Blok Perdagangan 15 Negara Asia (the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di awal tahun 2022, dan berjanji untuk membuka sepenuhnya, sedikitnya 65% di sektor jasa.
FDI terus mencapai puncaknya, meskipun telah terjadi perang dagang dengan AS. Dunia dan China, tetap saling membutuhkan. “Cold politics but hot economics.”
Global supply chains dan global interdependency akan tetap menjadi hal penting, dan China tak tergantikan.
China telah menjadi bagian kontributor terbesar untuk PBB, WHO, IMF. Dan terus membantu pendanaan World Bank, the Asian Development Bank (ADB), dan mekanisme kerjasama ekonomi multilateral lainnya. Berusaha untuk bisa mandiri, namun tak berharap untuk mendominasi lainnya. Terkenal dengan jargonnya yang MENOLAK semboyan “great powers must be hegemonic” (guo qiang bi ba).
China meyakini akan tetap dapat hidup damai berdampingan dengan bangsa lain yang berbeda nilai, sistem politik, agama dan model ekonomi, meskipun bukan penganut nilai-nilai demokrasi AS.
Memahami bahwa Climate change, environmental degradation, global pandemics, terrorism, dan cybersecurity memerlukan kerjasama dengan banyak pihak, China telah menjadi investor global terbesar ke-3 dalam penelitian untuk Energi Terbarukan. Setiap tahun, China mengalokasikan lebih dari $50 Milyar untuk R&D Energi Bersih. Dan China berjanji akan mencapai Carbon Netral di tahun 2060.
Perlu diketahui bahwa gabungan antara China dan AS saja sudah mencapai 40% konsumsi energi dan emisi global. Juga 50% konsumsi batubara dunia. Maka kedua negara tersebut menjadi penentu dalam kesuksesan Green Initiatives.
…
9. On the World’s Financial Stage
Kekhawatiran muncul bila terjadi guncangan di Tiongkok, baik dalam bentuk inflasi, pembatasan terhadap sektor properti, atau kegagalan perusahaan, akan berakibat fatal pada pasar global, karena tingkat integrasi keuangan Tiongkok tertinggal jauh dibandingkan dengan AS. Oleh karenanya, perbaikan terhadap sistem finansial dan moneter China menjadi sangat penting.
China’s Opportunity
Di akhir PDII, 44 perwakilan negara-negara Sekutu mengadakan pertemuan di Bretton Woods, New Hampshire, untuk membahas tentang international monetary system. Disepakati bahwa US$ digunakan sebagai mata uang global yang dijamin dengan emas oleh pemerintah AS. Namun, di tahun 1960an, Robert Triffin, ekonom AS, mengkritisinya. Dikenali sebagai Triffin Dilemma. Yaitu prediksi akan gagalnya sistem Bretton Woods karena ketidakmampuan menjaga likuiditas dan tingkat kepercayaan.
…
Karena tingginya permintaan global, menyebabkan total US$ beredar semakin jauh melebihi nilai emas yang tersedia. Tahun 1971, presiden Nixon terpaksa menghentikan konversi dollar terhadap emas. Dollar AS berubah menjadi “fiat money”, tidak lagi ditanggung oleh komoditi apapun, termasuk emas. Sistem Bretton Woods gagal, sesuai prediksi Triffin.
…
Matauang US$ yang dipergunakan sebagai cadangan internasional tentu diharapkan mempunyai nilai yang stabil. Kekayaan AS mencapai 25% GDP global, sedangkan permintaan matauang US$ melampaui 60% total cadangan global. Mengingat kondisi ekonomi AS saat ini (buku ini terbit) yang menurun, maka akan semakin sulit untuk dapat diharapkan mampu menjaga kestabilan nilai US$ tersebut.
Bila global kehilangan trust terhadap kemampuan AS untuk membayar hutang-hutangnya, akibat semakin tingginya defisit, maka nilai US$ akan merosot tajam. Untuk itulah dibutuhkan matauang lain selain $.
Great Recession memberi pelajaran buruk pada semua pihak. Bank-bank ternama mengalami kesulitan likuiditas. IMF pun memberi penawaran yang buruk kepada negara-negara sedang berkembang.
Pada titik inilah, Bank Central China mengambil peran dengan memberi tawaran menarik kepada negara-negara yang sedang kesulitan likuiditas, berbasis Renminbi. Dan alternatif China semacam inilah yang menyebabkan sistem moneter internasional semakin aman dan efisien.
Namun, Renminbi masih belum cukup populer sebagai matauang perdagangan dan pembiayaan. Bahkan belum masuk dalam 5 besar matauang yang dipergunakan dalam perdagangan global.
Matauang yang diakui dunia mesti memenuhi kriteria:
Dipergunakan sebagai cadangan dalam bank-bank sentral
Dipergunakan untuk tagihan (invoice) perdagangan internasional
Dipergunakan sebagai denominasi matauang untuk korporasi, bond pemerintah dan pinjaman bank
Renminbi hanya dipergunakan sebanyak 2.66% dari total foreign reserves pada tahun 2021. Sementara US$ dipergunakan sebanyak 59%. Sebagai alat pembayaran global, Renmimbi hanya dipergunakan sebanyak 4%. US$ 39%, Euro € 33% dan £ 7%.
…
10. Toward a New Paradigm
Kekuatan sistem pemerintahan China berakar pada struktur birokrasi kuno, yaitu Tiao Tiao Kuaikuai (garis dan kotak). Bisa diartikan sebagai sistem administrasi yang memungkinkan berjalannya perintah dan pengawasan dari otoritas tertinggi ke struktur terendah birokrasi.
Bangsa Tiongkok yang terus berupaya untuk mendapatkan posisi teratas di kancah global adalah salah satu kenyataan yang harus diakui dan diterima oleh negara-negara lain.
China: Toward the Future
Meskipun sistem ekonomi-politik China cukup kuat, namun ada lima hal penting yang akan mempengaruhi bentuk wajah China di masa depan, yaitu:
Masalah sosial
Perlu diantisipasi persoalan semakin besarnya middle-income group dan perlindungan konsumer
Terjadi meluas di dunia saat ini, porsi pekerja dalam GDP semakin kecil, dan porsi modal semakin besar: daya tawar pekerja semakin kecil, semakin kehilangan kekayaan yang diakibatkan oleh modal yang dikenakan pajak ringan.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi mulai menggantikan peran pekerjaan, kesempatan kerja semakin kecil bagi mereka yang berpendidikan rendah.
Ketegangan sosial, frustasi dan kemarahan mulai terjadi dimana-mana karena kesenjangan ekonomi.
China dibawah bayang-bayang status sebagai bangsa dengan sejarah ekonomi yang masih muda.
Masa depan China sangat dipengaruhi dua capaian penting:
Menjadi negara dengan keunggulan ekonomi (GDP).
Bisa terjadi bila China mampu membuat hubungan baik dengan ekonomi global. Pada saat yang sama juga mampu menunjukkan independensi dan kepemimpinan teknologi dan pasokan energi.
Perlu berbagi dengan AS secara damai dan kooperatif di kedua belah pihak.
China tidak akan mengubah dirinya menjadi demokrasi ala Barat, namun rakyatnya akan semakin menyadari akan pentingnya lingkungan sosial yang melindungi hak-haknya.
Di tahun 1960an, 1970an, banyak warga China mendapat kesempatan belajar di AS. Kehidupan lebih baik, kebutuhan sehari-hari banyak tersedia, dan pendapatan bisa 10 kali lipat daripada di China. Keinginan tinggal disana, menjadi tujuan hidup. Tahun 2000an mulai banyak pemuda China mencari bersekolah tidak jauh dari China. Masih di kota kosmopolitan, Singapore dan Hongkong. Dan mulai 2013, China sudah menjadi pilihan utama sebagai tujuan pendidikan. Bahkan semakin banyak warga asing yang bersekolah di China.
…
Deng Xiaoping pernah memberi kesempatan supaya pelajar China yang sudah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, tetap tinggal dan bekerja disana untuk membantu China. Namun ternyata keinginan ‘pulang kampung’ justru jauh lebih besar. Menurut Menteri Pendidikan Cina, ada 5 juta pelajar yang telah lulus dari pendidikan di luar negeri antara tahun 2000-2019, sudah kembali ke China sebanyak 86%.
Hidup di Amerika, Eropa atau Australia, sudah bukan impian lagi bagi para pelajar China. Karena impian tersebut kini bisa diwujudkan dinegerinya sendiri, Cina.
Di awal pemerintahannya, Deng Xiaoping mempunyai ide untuk mengijinkan beberapa orang menjadi kaya supaya bisa mengangkat atau menyelamatkan banyak pihak lainnya dari kemiskinan. Seolah sekoci penyelamat penumpang dari kapal besar yang sedang tenggelam. Berhasil. Beberapa sudah menjadi kaya. Bahkan sangat kaya. Sehingga terjadi kesenjangan kekayaan yang sangat lebar.
Setengah bagian bawah dari distribusi kekayaan di China, sama dengan yang dimiliki oleh 15% bagian teratas. Sebagai pembanding, di AS dimiliki oleh 12% dan 22% di Perancis. Potensi masalah sosial yang perlu diantisipasi.
Tradisi China yang menempatkan kepentingan komunitas lebih tinggi daripada kepentingan individu, adalah hal penting untuk kemajuan bersama. Budaya inilah yang menjadi perbedaan utama modal sosial China dengan AS.
Bagi siapapun yang masih percaya bahwa gaya demokrasi Barat dengan kapitalismenya adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan, maka pertumbuhan ekonomi China di kancah global menjadi paradox yang membingungkan.
Ini buku yang sangat menarik bagi banyak pihak yang ingin mengetahui wajah ekonomi China. Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tinggi, dibarengi dengan budaya komunal dengan penuh rasa cinta tanah air. Tak bosan membacanya berulang kali.
Namun demikian, prasangka buruk Penulis, Keyu Jin, tentang kemungkinan terjadinya korupsi dalam proses masuknya perusahaan ke dalam bursa saham, lagi-lagi menunjukkan berperannya ‘kacamata Barat’ dalam membaca fenomena China. Sangat subyektif.
Contoh lain penggunaan ‘kacamata Barat’ yang sepertinya tidak disadari Keyu Jin adalah pernyataan berikut:
The financial system in China is faced with a perennial dilemma: because it is not yet mature, the state feels the need to constantly intervene and preserve its stability. But the more it intervenes, the more distortions are created, and the slower it is to mature.
Kedewasaan ekonomi-politik suatu bangsa, diukur dari seberapa jauh keterlibatan negara. Pandangan yang sangat khas Barat. Sistem ekonomi liberal menjadi acuan dalam menilai sistem ekonomi sosialis China. Tentu akan sangat bias.
“Unfortunately the Biden doctrine fails to rebut the narrative of American decline and so has not resolved the tension between the country’s toxic politics and its role as the linchpin of a liberal order”. Komentar semacam ini banyak ditemukan di berbagai media Barat.
They fret that ruling elites in many developing countries are starting to prefer dealing with China, which offers more stability, more roads and bridges, and fewer lectures. In Japan’s estimation, American preaching about democracy has been especially ineffective. “Liberal democracy has proved a poor rallying cry,” says one Japanese official.
Intinya adalah, adanya penyangkalan bahwa AS sudah bukan lagi yang No. 1. Ini sikap banyak elite politik AS di pemerintahan, yang menyusun strategi politik, ekonomi dan pertahanan. Sikap AS yang seperti ini menjadi hal penting untuk dikritisi dalam buku “Has China won?”, karya Kishore Mahbubani. Terbit pertama kali di tahun 2020. Mantan pimpinan Badan Keamanan PBB, sekaligus mantan Duta Besar Singapura untuk PBB. Selain itu, Mahbubanijuga memetakan kelebihan dan kekurangan strategi geopolitik dari AS dan China. Termasuk mencari celah di antaranya, supaya muncul strategi yang mengarah pada perdamaian global.
…
Pembuka
Aplikasi digital pembaca ebook, Kindle, mempunyai kemampuan otomatis untuk menampilkan tanda garis di bawah kalimat yang dibuat oleh banyak pembaca buku yang sama. Untuk buku ini, salah satu garis tersebut muncul di bawah penggalan paragraf berikut ini:
In 1950, in PPP (purchasing power parity) terms, America had 27.3 percent of the world’s GDP, while China had only 4.5 percent. At the end of the Cold War, in 1990, a triumphant moment, America had 20.6 percent and China had 3.86 percent. As of 2018, it has 15 percent, less than China’s (18.6 percent). In one crucial respect, America has already become number two. Few Americans are aware of this; fewer still have considered what it means.
Dari pengalaman para pakar geopolitik Singapore, yaitu Lee Kuan Yew, Goh Keng Swee, dan S. Rajaratnam; Mahbubani belajar bahwa langkah pertama untuk merumuskan strategi jangka panjang yang baik adalah dimulai dengan membuat daftar “think the unthinkable”. Mahbubani menuliskan 10 pertanyaan penting yang patut menjadi perhatian para pemikir strategis AS dalam rangka berhadapan dengan China, yaitu:
Perubahan strategi apakah yang perlu AS lakukan, bila tidak lagi menjadi Penguasa ekonomi global?
Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama Amerika? Meningkatkan kehidupan 330 juta warganya atau mempertahankan keunggulannya dalam sistem internasional?
Belanja apakah yang sebaiknya dilakukan AS? Mengurangi anggaran belanja senjata untuk pertahanan dan perang ekspansinya, atau meningkatkan investasi untuk pelayanan sosial dan pembangunan infrastruktur? Apakah China lebih menyukai peningkatan atau penurunan anggaran belanja Pertahanan AS?
Apakah Amerika mampu membangun koalisi global yang solid untuk mengimbangi China? Apakah keputusan Amerika untuk meninggalkan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) merupakan keuntungan geopolitik bagi China? Apakah Belt and Road Initiative (BRI), yang merupakan kemitraan ekonomi baru China dengan tetangganya, merupakan ancaman bagi Barat?
Apakah menggunakan matauang US$ sebagai senjata untuk tujuan sepihak merupakan pilihan strategi geopolitik yang bijak bagi AS? Saat ini, belum ada alternatif praktis untuk menggantikan dolar AS. Akankah US$ tak tergantikan?
Setelah berbagai pelanggaran HAM di berbagai negara lain, sejak “9/11”, apakah bangsa Amerika siap untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan demi meningkatkan soft power (kekuatan spiritual) Amerika? Mampukah Amerika memenangkan pertempuran ideologis melawan China, yang masih dianggap sebagai negara “normal”, bukan negara “adidaya”?
Apakah pemikir strategis Amerika mampu mengembangkan kerangka analitis baru untuk menangkap esensi persaingan dengan China? China tidak bermaksud ekspansi dan dua negara demokrasi besar di Asia (India dan Indonesia) tidak merasa terancam dengan ideologi China.
Dengan mengendapnya isu “yellow peril” dalam emosi bawah sadar elit politik AS, apakah masih mungkin rasionalitas bisa diandalkan dalam perencanaan strategis berkaitan dengan China?
Meskipun China dan Rusia adalah negara komunis, namun ideologi China bukanlah Marxism-Leninism, tapi lebih pada peningkatan peradaban bangsa China. Seberapa banyakkah rakyat AS memahami hal tersebut?
Wei Qi adalah permainan catur China, yang mengandalkan penguasaan aset untuk mengalahkan lawan, dalam tempo permainan yang lamban dan panjang. Berbeda dengan permainan catur Barat yang mengutamakan target menangkap atau membunuh raja. Dengan analogi permainan tersebut, apakah para pemikir strategis AS sudah mempersiapkan sumber daya yang cukup untuk persaingan panjang melawan China?
…
Kesalahan Besar Strategi China
Bab 2, buku ini menjelaskan tentang kesalahan fatal China yang telah memperlakukan dengan buruk terhadap sebagian besar mitra bisnis AS. Meskipun ada sebagian kecil yang diuntungkan. Sehingga ketika Presiden Trump mengumandangkan permusuhannya dengan China, tak satupun para pengusaha AS yang berbisnis dengan China, terlihat berkeberatan atau berusaha mencegahnya.
Tahun 1990an, banyak pengusaha AS-China memprotes upaya Washington untuk mencabut status China sebagai most-favored-nation (MFN). Namun ada sedikit yang diuntungkan. Tiga perusahaan raksasa AS ini diantaranya yang diuntungkan berbisnis dengan China. Boeing, General Motor dan Ford.
Boeing. Lebih dari 2.000 pesawat Boeing terjual di China. Mengeruk Pendapatan US$ 1,2 Milyar tahun 1993 dan meningkat 10 kali lipat di tahun 2017 menjadi $11,9 milyar. Dari 5,7% menjadi 21% dari total pendapatan Boeing. Bahkan tahun 2018, Boeing telah mengumumkan bahwa China akan membutuhkan penambahan pesawat sebanyak 7.690, senilai US$ 1,2 trilyun, di tahun 2038. Keuntungan finansial dan penyerapan tenagakerja.
General Motor (GM). Bahkan di negaranya, pasar penjualan mobil dikuasai oleh mobil produksi Jepang. Oleh karenanya, Presiden Reagan pernah meminta pemerintah Jepang untuk membatasi jumlah ekspor mobilnya ke AS. Untuk menyelamatkan produksi dalam negerinya. Mobil yang tidak kompetitif di negeri sendiri ini, ternyata sukses di pasar China. Bagaimana bisa?
GM menjual 3,64 juta mobil di China tahun 2018. Rahasia kesuksesan ini karena GM bermitra dengan perusahaan lokal yang punya ‘kedekatan’ dengan Partai Komunis China, Shanghai Automotive Industry.
Laporan CNN, Februari 2017 menyatakan bahwa China menjadi pasar terbesar penjualan mobil GM. Operating Profit 2016 mencapai $ 12,5 milyar. Meningkat 16% dari tahun sebelumnya. Industri pabrikan AS ini mengalami kebangkrutan 7 tahun sebelumnya, sehingga perlu mendapat “bailout” dari pemerintah federal AS. China telah menyelamatkannya.
GM dan Ford laris manis di China karena mendapatkan perlindungan atau proteksi dari pemerintah. Kebijakan ini dilakukan China untuk membatasi banjirnya produk Eropa di pasar mobil China.
Namun, banyak produk lain AS yang mengalami hambatan di pasar dalam negeri China. Ada sedikitnya tiga hambatan utama dalam kelancaran perdagangan AS-China, yaitu:
Otonomi daerah. Menyebabkan tak terawasinya oleh Beijing, perilaku yang tak semestinya terhadap produk AS di berbagai propinsi dan kota besar. Misalnya, pemaksaan transfer teknologi, pencurian hak cipta, pengenaaan tarif, dll.
Pengalaman buruk resesi finansial global 2008 yang menyebabkan kekacauan ekonomi sehingga muncul resistensi terhadap produk asing.
Kelemahan strategi ekonomi kepemimpinan pusat di tahun 2000 an. Pertumbuhan pesat ekonomi China (10,29%) tahun 2000 an, banyak disumbang oleh perilaku ‘perang dagang’ dengan AS..
Dalam pidatonya Singapura, November 2018, Hank Paulson, Menteri Keuangan AS, mengatakan bahwa:
“17 years after China entered the WTO, China still has not opened its economy to foreign competition in so many areas. It retains joint venture requirements and ownership limits. And it uses technical standards, subsidies, licensing procedures, and regulation as non-tariff barriers to trade and investment. Nearly 20 years after entering the WTO, this is simply unacceptable. It is why the Trump Administration has argued that the WTO system needs to be modernized and changed. And I agree”.
Selanjutnya,
“Meanwhile, Chinese firms are permitted to operate in other countries in ways that foreign firms cannot act in China itself”.
Peraturan dagang WTO memang “mewajibkan” negara berkembang supaya memberikan insentif untuk melakukan transfer teknologi terhadap perusahaannya, yang bekerjasama dengan mitra usaha di negara kurang berkembang. Persoalan muncul ketika Barat merasa keuntungan finansial yang diperoleh, tidak berimbang setelah pemenuhan berbagai persyaratan yang dipersyaratkan. Larry Summers, mantan Menteri Keuangan di era Obama, berpendapat,
“the reality is that there is no credible calculation that suggests that U.S. GDP would be more than one percent higher even if China had acceded to every American economic request.”
China semestinya bisa belajar dari sejarahnya sendiri. Ketika Tembok China dibangun dan menutup diri dari dunia luar, kemunduran pun terjadi. Dan ketika Deng Xiaoping mulai membukanya, pertumbuhan ekonomi pun bergerak naik. Sudah saatnya mentalitas ‘tertutup’ era kekaisaran yang sudah berlangsung 2.000an tahun mulai diakhiri. Dan mulai terbuka membina jejaring sosio-ekonomi dengan banyak negara lain. Termasuk dengan AS.
Terbukti, laporan Mckinsey Juli 2019 menunjukkan capaian ekonomi China yang berkembang pesat. China menjadi dikenal global sebagai pasar, pemasok dan investor yang penting. Untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan di China, dibutuhkan lingkungan pengusahaan yang nyaman bagi mitra asing.
Anehnya, justru AS (Trump) yang mulai menutup diri dari iklim multilateral menjadi bilateral, bahkan uni-lateral. Maka bisa diduga bahwa kemunduranlah yang akan terjadi di AS.
…
Kesalahan Besar Strategi AS
Ketika Perang Dingin AS – Uni Soviet berlangsung, AS berinisiatif memimpin geopolitik multilateral global dengan membentuk sistem Bretton Wood, Marshall Plan dan NATO. Kini, China justru pemimpin inisiatif multilateral baru, dengan membentuk Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan the Belt and Road Initiative (BRI). Keanggotaan terus berkembang. Inggris, Jerman, India dan Vietnam menjadi anggota pendiri AIIB. Dan AS sebagai oposisi. Bahkan cenderung kearah bilateral, dengan mengancam akan keluar PBB.
Defisit Fiskal dan Defisit Perdagangan AS dengan China, tidak disebabkan oleh ketidakadilan China. Melainkan karena tingginya pengeluaran AS yang melebihi pemasukannya. Persoalan domestik tentang strategi makoekonomi. Menurut professor Harvard Marty Feldstein:
“foreign import barriers and exports subsidies are not the reason for the US trade deficit… the real reason is that Americans are spending more than they produce… blaming others won’t alter that fact.”*
Penerbitan Obligasi atau Treasury Bill terpaksa dilakukan oleh AS untuk meningkatkan kepemilikan Dollar, yang diperoleh dari negara-negara lain. Karena tetap tingginya kekurangan Dollar, terpaksa AS membanjiri pasar dengan melakukan pencetakan Dollar.
Bila keberatan Trump adalah tentang defisit neraca perdagangan antara AS-China, mungkin China akan bersedia memperbaikinya. Masalahnya, untuk mengatasi defisit fiskal dan perdagangan, Trump memilih mengenakan sistem tarif terhadap masuknya barang-barang dari luar negeri, yang dicanangkan Juli 2018. Dan celakanya, Tarif tersebut dikenakan terhadap banyak negara lain, baik kawan maupun lawan. Termasuk EU, Canada, Jepang, Mexico dan tentu saja China. Strategi Tarif ini justru mempersulit diri sendiri. Myron Brilliant, executive vice president dari the US Chamber of Commerce, berkomentar, “Trump may be frustrated with China, but the answer isn’t for US companies to ignore a market with 1.4 billion consumers.”
Sikap Trump semakin mempersulit banyak pihak. Bahkan, Trump mulai menggunakan matauang Dollar AS sebagai senjata untuk mengancam negara lain (weaponization). Isolasi Iran contohnya. Tahun 2012, Standard Cartered bank, Inggris, terkena denda oleh pemerintah AS sebesar US$ 340 juta karena membantu transaksi perdagangan dengan Iran, MENGGUNAKAN matauang US$. Beberapa bank asing juga terkena denda karena terlibat transaksi dengan Iran, Cuba atau Sudan. BNP Paribas SA juga terkena denda $8,9 milyar di tahun 2015. Oleh sebab yang sama. Dilema memegang US$ mulai dirasakan banyak negara lain, serasa “a double-edged sword, cutting the fingers of whoever holds it”. Ini memicu tindakan banyak pihak untuk meninggalkan US$ dalam transaksi perdagangan.
Untuk mengatasi dilema tersebut, Perancis, Jerman dan Inggris membentuk
Instrument in Support of Trade Exchanges (INSTEX), sebuah upaya alternatif untuk ‘mensiasati’ perdagangan dengan Iran tanpa menggunakan US$ sehingga tidak terkena sangsi oleh AS. Inisiatif tersebut menjadi modus yang semakin banyak dilakukan negara lain. Bukan hanya karena kekhawatiran atas hukuman dari AS, tapi juga karena mulai turunnya tingkat kepercayaan terhadap stabilitas nilai matauang US$. Akibat berantai dari trust terhadap US$ yang menurun, akan memicu negara lain untuk mengurangi kebutuhan adanya cadangan matauang US$. Kebutuhan permintaan US$ yang semakin kecil, akan menyebabkan turunnya nilai US$. Bila US Dollar tidak lagi dominan sebagai cadangan matauang global, maka institusi finansial AS yang pertama menjadi korban, karena Pendapatan dan Keuntungan mereka diperoleh dari transaksi US$. Menjadi masalah ekonomi AS.
…
Apakah China berwatak ekspansionis?
Genghis Khan (1162-1227)
Mantan Duta Besar AS untuk China, Stapleton Roy mengatakan bahwa dalam konferensi pers bersama Obama pada 25 September 2015, Xi Jinping telah mengajukan proposal tentang Laut China Selatan, dan mendukung penuh kesepakatan dan implementasi dari the 2002 Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea, yang ditandatangani bersama 10 negara Asia Tenggara. Isinya adalah, China tidak berminat (no intention) untuk melakukan militerisasi di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan. Sayangnya, AS, negara yang berjarak ribuan kilometer dari Spratly, justru yang aktif berpatroli di wilayah tersebut. Provokasi ini memancing China untuk menanggapinya dengan aksi militer di area yang sama. Intinya adalah, Xi Jinping tidak melanggar janji. Dan AS lah yang menolak proposalnya.
Mahbubani menjelaskan bahwa lebih dari 2.000 tahun kekaisaran China menjadi negara terkuat di wilayah Eurasian. Sehingga, bila China memang berwatak militeristik, maka pasti sudah banyak negara taklukannya. Seperti halnya ketika bangsa Eropa menjadi penjajah di berbagai belahan dunia.
Professor Wang Gungwu dari National University of Singapore, kultur bangsa Han adalah petani. Mereka menyebar ke berbagai wilayah China hanya untuk mendapatkan tanah subur untuk pertanian. Bila hanya stepa (padang tandus) atau pegunungan terjal yang ditemui, maka berhentilah pencarian mereka. Pulang. Peperangan atau penaklukan bangsa Han terjadi dalam wilayah China. Menurutnya bangsa yang ekspansif teritorial di wilayah China adalah bangsa Mongol (Genghis Khan, Kublai Khan).
…
Apakah masih mungkin AS berubah sikap terhadap China?
Elite AS banyak yang meyakini bahwa AS akan mengalahkan China karena 5 hal:
Telah memenangkan perang melawan Jerman, Jepang, dan Uni Soviet dalam perang dingin.
Tak meyakini kekuatan ekonomi komunis China
AS mempunyai sumberdaya
AS meyakini bahwa secara fundamental sudah mantap secara sosial dan aturan hukum
Meyakini bahwa banyak negara di dunia lebih berpihak pada AS
Menurut Mahbubani, keyakinan diatas adalah ilusi belaka, karena:
AS sedang berhadapan dengan bangsa berperadaban matang dan terkuat di dunia
Kualitas sumberdaya manusia China sekarang sedang sangat tinggi
Persaingan global sekarang tidak dalam bentuk fisik, namun kualitas intelektual. Dan belanja China untuk R&D jauh melebihi AS sejak tahun 2000
Rakyat AS tidak lagi menentukan nasibnya sendiri
Sejak berakhirnya WW2, AS telah kehilangan keteladanan dalam hal disiplin strategis maupun moral.
Dan AS tetap tidak dapat menerima bahwa dirinya bukan lagi nomor 1.
…
Apakah China mesti berubah menjadi demokratis?
Kongres PKC 11 Maret 208 memutuskan untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden China. Media Barat, para pengamat China dan elit politiknya pun mulai ribut meresponnya. Kepemimpinan brutal, kemunduran budaya politik, kesewenang-wenangan, pre-modern, menjadi kata-kata ungkapan kekesalan media Barat, menanggapi hasil kongres tersebut. Bahkan para pengamat China dari AS, menyamakan Xi Jinping dengan Mao Zedong yang mengorbankan puluhan juta rakyatnya dalam Revolusi Kebudayaan dan Lompatan Jauh Kedepan. Dan semakin membingungkan, ketika elite politik AS terus meyakini bahwa upaya pendekatan terhadap China akan menyebabkan secara perlahan terjadinya keterbukaan sistem politik dan mengikuti arus utama proses liberalisasi Barat. Barat telah memaksakan ukuran sepatunya, untuk dikenakan oleh bangsa China.
China mempunyai sejarah kultur politik dan tradisi yang panjang. Bahkan sepuluh kali lebih panjang dari usia kemerdekaan AS. Tumbuh dan runtuhnya kekaisaran China telah terjadi berkali-kali, sejak penyatuan China oleh Kaisar Qin Shi Huang di tahun 221 SM. Dan Chaos menjadi pengalaman politik masyarakat yang buruk dan sangat ditakutinya. Pengalaman penderitaan sejak Perang Candu, 1842 hingga terbentuknya RRC, 1949, telah mengajarkan bangsanya untuk cenderung lebih memilih kepemimpinan terpusat yang kuat daripada kompetisi politis yang berpotensi chaos.
Sejarah panjang dan kultur politik China inilah yang mungkin menjadi alasan Xi Jinping untuk tidak lagi membatasi masa jabatan Presiden. Juga turut memperkuat keputusan tersebut adalah munculnya dua faksi PKC yang dipimpin Bo Xilai dan Zhou Yongkang, yang memicu perpecahan, dan meningkatnya kasus korupsi.
…
Klaim Kebajikan
Menarik pendapat Mahbubani bahwa penyebab kesulitan memperbaiki hubungan China-AS adalah karena adanya konstruksi mental yang kuat dalam alam bawah sadar bangsa AS bahwa mereka memiliki keistimewaan kebajikan yang tidak dimiliki bangsa lain. Lihat saja bagaimana mereka mengukur dirinya seperti disebutkan Stephen Walt, professor Hubungan Internasional Universitas Harvard : ‘empire of liberty,’ a ‘shining city on a hill,’ the ‘last best hope of Earth,’ the ‘leader of the free world,’ atau the ‘indispensable nation”.
Klaim berlebihan atas karakter bangsa yang istimewa tersebut berimplikasi pada keyakinan bahwa AS telah memberikan kualitas hidup terbaik bagi bangsanya, dibandingkan negara lain. Atau, dengan kata lain, AS adalah bangsa terbaik di dunia yang sukses dalam mengembangkan kehidupan bangsanya.
Tabel Average Income of an Individual in the Bottom 50% of the Nation or Region
(Sumber: Prof. Danny Quah of the National University of Singapore)
…
Data tersebut menunjukkan bahwa bangsa AS yang berpendapatan di bawah rerata 50%, mengalami penderitaan karena penurunan tajam pendapatannya. Yang tidak dialami oleh negara lain.
Tabel Ratio of avg. income in the top 1% to avg. income in the bottom 50%
…
Terlihat bahwa Kesenjangan telah terjadi di banyak negara di dunia. Di China, persentase Kesenjangan naik 4x lipat dari tahun 1980 hingga 2015. Di Asia, naik hampir 2x lipat. Namun angka persentase kesenjangan di AS, adalah 138 di tahun 2010 (bukan 2015). Sungguh luar biasa,
Belum lagi studi dari Princeton University economists, Anne Case and Angus Deaton yang menyatakan betapa menyedihkan masa depan AS:
“compounds over time through family dysfunction, social isolation, addiction, obesity and other pathologies.”
Ray Dalio, seorang pengusaha hedge fund terkemuka di AS, menyatakan bahwa kelompok 60% populasi AS masuk dalam kategori miskin. Bahkan semakin buruk, 25% terendah dari kategori miskin tersebut, selama 10 tahun tetap tidak mampu untuk naik ke tingkat lebih tinggi. Tetap miskin. Dan persentase kenaikan tingkat semakin kecil. Turun dari 23% di tahun 1990, menjadi hanya 14% di tahun 2011. Makin terpuruk.
Ini mematahkan klaim bahwa “America is a society where hard work brings rewards”. Mengapa tidak banyak bangsa AS menyadarinya? Bahkan masih keukeuh menganggap “America is truly an “exceptional” nation in this area”?
Dua profesor dari Princeton University, Martin Gilens dan Benjamin Page, melakukan studi tentang pengaruh masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Hasilnya adalah, elit ekonomi dan kelompok bisnis mempunyai pengaruh kuat terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya masyarakat kebanyakan hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil atau bahkan tidak punya pengaruh. Kesimpulan selanjutnya adalah, asas mayoritas dalam masyarakat bukanlah pengaruh penting dalam pembuatan kebijakan publik. Plutokrasi sedang terjadi di AS dan demokrasi terancam krisis.
Dan Mahbubani pun sampai pada kesimpulan bahwa: Bila pertandingan dilakukan antara Amerika dan China dengan pilihan Demokrasi yang sehat dan lentur versus sistem Komunis yang kaku dan rigid, maka Amerikalah yang menang. Tapi bila pilihannya adalah antara plutokrasi yang rigid dan kaku dengan sistem meritokrasi yang lentur, maka China lah pemenangnya. …
Sikap dunia terhadap perselisihan dagang AS-China
Sebagian besar negara-negara di dunia melihat perang dagang AS-China, yang dimulai dengan mundurnya AS, dibawah Trump, dari Kesepakatan Perdagangan Bebas (Free Trade Agreements), akan memberi dampak buruk bagi mereka.
Saat mengunjungi China pada September 2019, Angela Merkel mengungkapkan kekhawatirannya,
“we hope that there will be a solution in the trade dispute with the United States since it affects everybody”.
Demikian pula dengan Perdana Menteri Singapore, Lee Hsien Loong, pada kesempatan Shangri-La Dialogue, May 31, 2019, mengungkapkan keprihatinannya dan berharap bahwa inisiatif AS-China, seperti the Belt and Road Initiative (BRI) dan kerjasama Indo-Pacific,
“should strengthen existing cooperation arrangements centered on ASEAN… not undermine them, create rival blocs, deepen fault lines or force countries to take sides. They should help bring countries together, rather than split them apart”.
Perselisihan AS-China ternyata tidak menyebabkan dunia untuk terpaksa memilih diantara keduanya. Namun justru memperkuat diri masing-masing dan melanjutkan kerjasama multilateral untuk kepentingan jangka-panjang. Misalnya, the Trans-Pacific Partnership (TPP), yang ditinggalkan AS, tetap melanjutkan diri dengan nama baru the Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Negara-negara Afrika justru membentuk African Continental Free Trade Agreement (AfCFTA) pada 30 Mei 2019. Bahkan, kemudian terbentuk kesepakatan perdagangan terbesar (jumlah populasi dan total GDP) yang beranggotakan 10 negara ASEAN, Australia, China, Jepang, Selandia Baru dan Korea di tahun 2020. Yaitu the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). India akan bergabung belakangan.
Ini adalah kegagalan Gedung Putih di era Trump, yang mencoba ‘menyerang’ China. Yang ternyata justru berakibat buruk bagi AS. Tidak hanya terpisah dari China, namun juga tertinggal dari kesempatan pertumbuhan ekonomi bersama 15 negara RCEP.
…
Kesimpulan Mahbubani
Mahbubani menganggap adanya paradox dalam hubungan China-AS. Yaitu, perselisihan yang tak terhindarkan, namun sekaligus juga potensi untuk bisa dihindarinya perselisihan China-AS.
Yang menarik dari kesimpulan adalah bahwa ketika China bermaksud untuk meningkatkan kualitas peradabannya, teriring sikap di dalamnya tidak adanya niatan untuk ekspansi atau menyebarkan ideologi komunisnya. China akan berkembang dan merambah ke negara lain dengan sendirinya, selaras dengan tumbuhnya komunitas perdagangan antar negara dan kerjasama luar negeri, serta meningkatnya ekonomi domestik. Di sisi lain, AS selalu beranggapan bahwa China adalah ancaman yang memungkinkan runtuhnya AS, yang selama ini dirasakannya sebagai negara adidaya, serta penguasa dunia, dalam kekuatan pertahanan dan ekonominya.
Keputusan geopolitis, sangat dipengaruhi para personal di dalamnya, yang terus berganti, baik China maupung AS. Meskipun secara teori, kepentingan nasional yang menjadi agenda utama, namun dalam prakteknya personalitas sangat menentukan hasilnya.
Richard Nixon dan Henry Kissinger, serta Mao Zedong dan Zhou Enlai menjadi penentu kesepakatan kerjasama yang baik antara China-AS di era 1970an. Demikian pula dengan George H. W. Bush dan Deng Xiaoping setelah berlalunya peristiwa Tiananmen, 1989. Namun, hubungan menjadi sedikit renggang di era George W. Bush dan Hu Jintao. Juga tidak harmonis ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, 2009-2012. Dan semakin buruk hubungan kedua negara ketika Wakil Presiden Mike Pence, di masa pemerintahan Trump, memberikan pidato yang menyerang China, 4 Oktober 2018.
Menurut Mahbubani, itu adalah sebuah Pidato yang tak mungkin disampaikan oleh elit Washington di era sebelumnya. Wakil presiden semestinya lebih tenang dan hati-hati. Ternyata Pidato sejenis justru diulang oleh Wakil Presiden Mike Pence pada tanggal 24 Oktober 2019,
“… many of Beijing’s policies most harmful to America’s interests and values, from China’s debt diplomacy and military expansionism; its repression of people of faith; construction of a surveillance state; and, of course, to China’s arsenal of policies inconsistent with free and fair trade, including tariffs, quotas, currency manipulation, forced technology transfer, and industrial subsidies”.
Nine-Dash Line
Pemerintah China juga membuat masalah yang tidak perlu terjadi. Dalam paspornya, China menambahkan gambar batas wilayah negaranya dengan tambahan wilayah yang menjorok ke laut China Selatan hingga perairan Natuna, dengan batas sembilan garis putus-putus (Nine-Dash Line). Indonesia telah melakukan protes. Hal ini juga memancing munculnya sikap keras Presiden George H. W. Bush, untuk turut mendukung kebijakan menjual senjata ke Taiwan.
Mahbubani meyakini bahwa mithos Yellow-peril telah mengendap lama dalam bawah-sadar bangsa AS. Alam bawah sadar ini sering kali muncul dan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berbagai hal yang melibatkan bangsa Asia. China khususnya. Mengalahkan rasional. Napoleon pernah mengingatkan, “Let China sleep; when she awakes she will shake the world”. Sejarah kekuasaan Mongol sangat mengganggu bawah sadar mereka.
Bangsa Barat cenderung bersikap hitam-putih atau benar-salah. Bangsa China bisa menganggap hitam dan putih adalah benar. Ada kesaling-tergantungan antara keduanya. Komposisi yang saling melengkapi.
Memahami adanya dua pandangan berbeda tersebut, Mahbubani menyajikan lima hal fundamental yang Tidak Kontradiktif antara China-AS:
AS dan China mempunyai kepentingan nasional yang sama untuk meningkatkan kualitas hidup bangsanya
AS dan China perlu untuk memperlambat kecepatan Perubahan Iklim
Tantangan nyata kedepan bagi AS dan China adalah keberhasilan serta kemampuan daya saing ekonomi dan masyarakatnya
Tidak ada benturan peradaban AS-China seperti dituliskan Samuel Huntington dalam artikelnya di Foreign Affairs, “The Clash of Civilizations?”.
Dunia ini adalah tempat yang aman untuk perbedaan bagi AS-China
Akhirnya, satu hal yang bisa dianggap sebagai Kontradiksi mendasar antara AS dan Cina adalah nilai politik (political values).
Bangsa AS memegang prinsip kebebasan berbicara, pers, berkumpul, dan beragama. Dan meyakini bahwa setiap manusia berhak atas hak asasi manusia yang sama.
Bangsa Cina percaya bahwa kebutuhan sosial dan keharmonisan sosial lebih penting daripada kebutuhan dan hak individu. Untuk itu perlu dicegah terjadinya kekacauan sosial.
Singkatnya, Amerika dan China jelas percaya pada dua perangkat nilai politik yang berbeda. Namun, kontradiksi mendasar hanya akan muncul bila China mencoba mengekspor nilainya ke Amerika. Dan sebaliknya, bila Amerika mencoba mengekspor nilainya ke China.
Mahbubani mengalihkan hal kontradiktif bagi keduanya dengan menciptakan musuh bersama, yaitu Terorisme yang disponsori kelompok Islam Radikal. Ini sebuah lompatan kesimpulan yang sepertinya membutuhkan studi khusus lebih dahulu. Bahwa Amerika dan China masing-masing mengalami gangguan oleh kelompok radikal Islam memang benar adanya, seperti dituliskan dalam bab akhir buku ini, namun penyebab dasar dan pihak-pihak yang terlibat bisa jadi berbeda atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Perlu pembahasan khusus karenanya.
At the end of the day, this is what the six billion people of the rest of the world expect America and China to do: to focus on saving the planet and improving the living conditions of humanity, including those of their own peoples. The final question will therefore not be whether America or China has won. It will be whether humanity has won.
…
Rekomendasi
Buku yang bagus sekali untuk lebih memahami kultur politik China. Individualisme dan demokrasi, yang selalu diunggulkan dalam kultur Barat, bukanlah satu-satunya acuan yang tepat untuk menilai keunggulan peradaban suatu bangsa.
Blog ini berisi tumpahan kegelisahan yang mengganggu olah pikir dan kesejukan rasa. Senang sekali bila bisa bermanfaat untuk sahabat sekalian. Selamat membaca.