Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2008

Membebaskan Yang Tertindas

esackJudul buku : Al-Quran, Liberalisme, Pluralisme

Membebaskan Yang Tertindas

Judul Asli : Qur’an, Liberation and Pluralism

An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Opression

Pengarang : Farid Esack

Tebal buku : 358 halaman

Penerbit : Mizan

Tahun : 2000

 

Farid Esack dibesarkan di Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats, Afrika Selatan, karena dipaksa pindah oleh Akta Wilayah Kelompok (Group Areas Act), bersaudarakan enam orang, tiga diantaranya adalah saudara tiri, yang ditinggal ayahnya ketika masih berusia tiga tahun.. Hukum apartheid tersebut, diperlakukan 1952, menyisihkan tanah paling tandus di negeri itu bagi orang kulit hitam, keturunan India dan kulit berwarna. Masa kecilnya berada pada situasi kemelaratan struktural akut, dimana harus berkeliling mengetuk pintu tanpa sepatu di tanah bersalju untuk meminta sepotong roti atau mengaduk-aduk tempat sampah demi mendapatkan sisa makanan.

 

Jika kaum Kristen Afrika Selatan yang berkomitmen pada keadilan mengambil acuan dari Teologi Pembebasan yang lahir di Amerika Selatan, maka kaum muslim di sana terinspirasi dari Teologi Pemberontakan menentang neokolonialisme dan kediktatoran di Iran. Kedua kelompok progresif ini bekerjasama meruntuhkan rejim apartheid di Afrika Selatan.

 

Ada empat hal yang hendak dicapai Farid Esack dari buku ini, yaitu:

–  adalah mungkin untuk hidup dan berjuang bersama dengan kaum non-muslim untuk pembentukan masyarakat yang lebih manusiawi

–  menggunakan hemeneutika Al-Quran untuk mengembangkan pluralisme teologi Islam

–  mempelajari ulang Al-Quran dalam memperlakukan golongan yang berbeda untuk memberi ruang bagi kebenaran dan keadilan pihak lain dalam teologi pluralisme demi pembebasan

–  menggali hubungan antara eksklusivisme keagamaan dan konservatisme politik (pendukung apartheid) di satu sisi, dengan inklusivisme keagamaan dan politik progresif (pendukung kebebasan) berdasarkan Al-Quran.

 

Di awal buku, Esack bercerita tentang sejarah masuknya kaum Islam dari Timur (Malaysia, Indonesia) di Cape Town, yang selanjutnya menjadi area bahasan, yang biasa disebut sebagai Melayu, di tahun 1652. Pemerintahan rasialis dan represif Afrika Selatan dimulai sejak CMA (Asosiasi Melayu Cape) dibentuk pada tahun 1923an. Wujud penindasan politik yang paling terasa adalah ketika terjadi pembunuhan Imam Abdullah Haron oleh polisi keamanan pada 1969, setelah empat bulan dalam tahanan. Kebungkaman para ulama mengenai soal kematian Haron memunculkan rasa pengkhianatan dan kecewa yang mendalam di kalangan pemuda Muslim. Baru setelah pendeta Anglikan melakukan mogok makan untuk memprotes pemerintah atas kematian Haron, para pemuda Muslim mulai terinspirasi. Selanjutnya, pasca 1970an menjadi perhatian utama penulis, ketika penolakan terhadap apatheid secara berangsur mendapat dukungan luas. Dalam atmosfer inilah tumbuh solidaritas antariman dan munculnya masalah-masalah krusial tentang hermeneutika Al-Quran ditempatkan dalam konteks ini.

 

Pengalaman hidupnya dilingkungan sosial yang rasis dan penuh penindasan di Afrika Selatan serta Islam eksklusif dan penuh bias gender di Pakistan membentuk Esack menjadi pribadi yang sangat sensitif terhadap ketidakadilan.

Bersama tiga temannya, Esack membentuk Call of Islam, pada tahun 1984. Organisasi ini merupakan afiliasi dari Front Demokrasi bersatu (UDF) yang didirikan setahun sebelumnya. UDF adalah pergerakan Muslim yang paling aktif memobilisasi aktivitas nasional menentang apartheid, diskriminasi gender, dan pencemaran lingkungan, serta menggalang usaha antar-iman.

 

Tentang teks dan konteksnya dalam pencarian makna yang membebaskan, Esack menulis bahwa ada basis teologis dan historis untuk membenarkan pendekatan kontekstual terhadap Al-Quran. Pendekatan ini telah memungkinkan banyak kaum Islamis progresif di Afrika Selatan untuk melawan rezim apartheid dan bersolidaritas dengan orang beragama lain secara bermakna.. “Para penafsir adalah manusia, yang tak mungkin bisa lepas dari keadaan lingkungan tempat ia berada”, menurutnya. Hermeneutika mangasumsikan bahwa setiap orang mendatangi teks dengan membawa persoalan dan harapannya sendiri, serta tidak masuk akal untuk menuntut penafsir menyisihkan subyektivitas dirinya dan menafsirkan teks tanpa pemahaman.

 

Esack menjelaskan cukup dalam tentang masing-masing kunci hermeneutika yang dipergunakan pada teologi Pembebasan Al-Quran dalam konteks masyarakat yang diwarnai oleh ketidakadilan, perpecahan dan ekploitasi, yaitu: takwa (integritas dan kesadaran akan kehadiran Tuhan), tauhid (keesaan Tuhan), al-nas (manusia), al-mustadh’afuna fi al-ardh (yang tertindas di dunia), ‘adl dan qisth (keseimbangan dan keadilan, serta jihad (perjuangan dan praksis).

 

Makna kata Iman, Islam dan Kufr adalah tiga hal penting yang dibahas dalam rangka mendefinisikan ulang diri sendiri dan orang lain untuk tujuan pembebasan.

 

Sikap Pluralisme Esack didasari atas keyakinan bahwa Al-Quran mengakui keabsahan ‘ de jure’ semua agama wahyu dalam dua hal: Ia menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal, menghormati hukum-hukum, norma-norma sosial, dan praktik-praktik keagaman mereka; serta juga menerima pandangan bahwa para pemeluk setia agama-agama ini juga akan mendapatkan keselamatan (QS 2:62).

 

Di bagian kesimpulan, Esack kembali menegaskan bahwa di Afrika Selatan, renungan tentang pandangan Al-Quran mengenai hubungan dengan penganut agama lain, kerjasama antar agama, dan kesetaraan gender membentuk dimensi yang sadar dan dinamis dalam kerangka praksis liberatif. Dalam situasi ketidakadilan yang nyata, kebungkaman politis sama artinya dengan berkolaborasi dengan ketidakadilan.

 

Farid Esack adalah pemikir Islam yang menyandang gelar Doktor di bidang tafsir Al-Quran, staf pengajar di Universitas Western Cape, Afrika Selatan, dan tokoh senior dalam World Conference on Religion and Peace. Buku ini sangat lengkap isinya berhubung dengan kelengkapannya, seperti Daftar Singkatan, Glosarium, Daftar Pustaka, Index dan Lampiran.

Read Full Post »

The Audacity of Hope

obama1

Judul Buku : MENERJANG HARAPAN

Dari Jakarta menuju Gedung Putih

Judul Asli : The Audacity of Hope;

Thoughts On Reclaiming The American Dream

Penulis : Barack Obama

Tahun : 2007

Penerbit : UFUK PRESS

Tebal buku : 528 halaman

Buku ini mulai beredar tahun 2007 di Indonesia, ketika Barack Obama, yang berkulit hitam, mulai muncul sebagai calon presiden pada pemilu pendahuluan partai Demokrat, yan bersaing dengan mantan ibu negara, Hilary Clinton.

Obama menuliskan pengalaman hidupnya, keyakinan, pandangan politik dan sosialnya dalam 11 bab, termasuk Pendahuluan yang diterbitkan pertama kali di tahun 2006. Menurutnya, ini adalah buku ke-2 setelah bukunya yang pertama, ‘Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance’, yang diterbitkan 11 tahun sebelumnya.

Cerita tentang masa kecilnya selama tiga tahun di Indonesia ditulisnya secara panjang-lebar sebanyak 10 halaman, di bab awal buku ini. Pengalaman masa kecil dari bangsa Amerika yang berayah-tirikan orang Indonesia dan beribukan bangsa AS, Kansas, namun hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan tanpa tv dan mobil, adalah sungguh aneh bila dibandingkan kehidupan bangsa barat yang hidup di Indonesia saat ini. Hidupnya di Indonesia dimulai ketika berusia 6 tahun, pada tahun 1967, di tahun yang sama ketika Soeharto memangku jabatan Presiden RI ke-2. Pertama-tama dia bersekolah di lingkungan Katolik dan kemudian di sekolah yang dominan beragama Islam. Tulisan tentang kultur, sejarah dan politik di Indonesia saat itu tampak dikuasainya.

Pemahaman sejarah Amerika mulai dari kebijakan ekspansif AS di masa awal kemerdekaan, utk menjaga pasar dan kelancaran transportasi perdagangan, Great Depression, perang Vietnam hingga perang Irak serta biografi orang-orang besar AS sepertinya sangat dikuasai, hingga banyak sekali kutipan kata-kata Presiden AS berceceran di dalamnya mulai G. Washington, John. Adams, T. Jefferson, Roosevelt, Woodrow Wilson, Kennedy, Reagan, Carter, Clinton dan tak ketinggalan G.W. Bush.

Ada satu cita-cita terbersit di hatinya ketika mengutip Quincy Adams, “ Amerika sebaiknya mengabdi kepada kepentingan kemerdekaan dengan berkonsentrasi pada pengembangannya sendiri, menjadi sebuah mercusuar harapan bagi bangsa-bangsa lain dan penduduk di seluruh dunia”, (hal. 46).

Sikap politik luar negerinya yang ‘aktif’ didasari keyakinannya bahwa ‘jika kita ingin membuat Amerika lebih aman, maka harus membantu membuat dunia menjadi lebih aman’, (hal 78). Lalu, ‘kita memiliki hak untuk melakukan tindakan militer unilateral untuk menghapuskan sebuah ancaman yang akan terjadi terhadap keamanan kita’, (hal 83). Selain sikap aktif yang militeristik, Obama juga berpendapat, ‘… membantu mengurangi masalah-masalah ketidak-amanan, kemiskinan, dan kekejaman di seluruh dunia, serta turut andil dalam tatanan global …’, (hal 92). Keyakinan politiknya yang juga pluralis, memberikan konsekwensi untuk mempercayai bahwa politik, bergantung pada kemampuan untuk merangkul semua pihak berkaitan dengan tujuan bersama yang didasarkan atas realitas bersama. Namun berbeda dengan sains, politik melibatkan kompromi dan seni kemungkinan (the art of the possible),

Pengalamannya di Senat, memberinya pandangan bahwa Demokrat dan Republik memiliki lebih banyak persamaan daripada apa yeng terlihat dari sudut pandang publik. Politik mungkin saja berbeda; para pemilih menginginkan sesuatu yang berbeda; dan mereka sudah lelah dengan distorsi, saling mengejek, dan solusi-solusi sesaat untuk persoalan yang rumit.

Dalam hal perang Iraq, seperti halnya sikap partai Demokrat, Obama sangat berbeda dengan Bush, bahkan turut berdemo di tahun 2002 untuk mempertanyakan bukti pemerintah AS atas kepemilikan senjata pemusnah massal Iraq serta ketidak-setujuannya atas invasi AS ke Iraq.

Dalam hal ideologi ekonomi, sudah sewajarnya Obama, sebagai bangsa Amerika, baik Demokrat maupun Republik, akan berseberangan dengan Hugo Chavez, atau para pemimpin negara Amerika Latin lainnya yang berpandangan sosialis, bahkan menganggapnya sebagai tokoh-tokoh populis, “.. saya percaya para pengeritik itu salah kalau mengira bahwa negara-negara miskin akan meraih keuntungan dengan menolak cita-cita pasar bebas dan demokrasi liberal”, (hal 93).

Sistem pasar bebas dan demokrasi liberal diakuinya masih terus mengalami perubahan dan perbaikan, namun tetap bersikukuh bahwa sistem inilah yang bisa menjamin kehidupan orang menjadi lebih baik, sehinga tantangan bangsa AS adalah memastikan semua kebijakan AS akan menggerakkan sistem internasional ke arah persamaan, keadilan dan kemakmuran yang lebih besar.

Tentang Nilai-Nilai, dalam buku ini, disinggung sedikit tentang perkawinan sejenis, aborsi, dan hukuman mati. Obama tidak cukup tegas mendukung sikap partainya yang pro prochoice. “ … saya khawatir jika (ada) larangan terhadap aborsi, akan memaksa kaum perempuan untuk mencari cara-cara aborsi yang tidak aman …” (hal 149), dan secara politis mendukung upaya mengurangi jumlah perempuan yang merasa harus melakukan aborsi sebagai pilihan utama. Sedangkan Hukuman mati, dianggapnya hanya melakukan sedikit untuk mengurangi kejahatan, namun juga dipercaya bahwa untuk kasus-kasus kejahatan yang bengis, hukuman mati dapat dibenarkan. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh ada orang tak bersalah diakhiri hidupnya di kursi kematian dan tidak ada orang yang melakukan pelanggaran berat, terbebas dari hukuman.

Pendidikan anak, korupsi dalam pemerintahan dan bisnis, serta keserakahan dan materialisme adalah tiga tantangan moral besar bagi bangsa AS. Sedangkan sebagai Demokrat, nilai komunal, rasa tanggungjawab bersama dan solidaritas harus mewarnai pemerintahan AS.

Obama adalah pemeluk kristen yang ‘cair’, pluralis dan pada masa kecilnya banyak mendapatkan pendidikan etika dari ibunya, seperti nilai kejujuran, empati, disiplin, kebahagiaan yang tertunda dan kerja keras. Menurutnya, “Agama formal tidak memonopoli kebajikan, dan kita tidak harus menjadi religius untuk membuat klaim-klaim moral atau menyerukan kebajikan bersama”, (hal 172). Juga, “Yang sungguh-sungguh dituntut oleh demokrasi deliberatif dan pluralistik adalah bahwa orang-orang yang termotivasi secara religius seharusnya menerjemahkan semua keprihatinannya menjadi nilai-nilai universal, alih-alih nilai-nilai agama yang spesifik” (hal 178).

Tentang Ras, Obama mengingatkan, saat buku ini ditulis, bahwa dalam Senat AS, hanya ada tiga orang anggota Latin dan dua orang Asia (dari Hawaii) serta satu orang Afro-American (Obama). Dalam 40 tahun terakhir, rata-rata gaji orang kulit hitam adalah 75% dari rata-rata gaji orang kulit putih, sedangkan gaji rata-rata orang Latin adalah 71%nya. Nilai tengah pendapatan bersih orang kulit hitam kira-kira AS$ 6.000 dan orang Latin AS$ 8.000, dibandingkan dengan orang kulit putih, AS$ 88.000. Pengangguran kulit berwarna lebih banyak disebabkan oleh kurangnya ketrampilan dan pengalaman kerja. Kesenjangan ekonomi, sosial, pendidikan masih banyak terlihat karena menurutnya pelaksanaan undang-undang hak sipil oleh pemerintahan Republik belum sepenuhnya berjalan (hal. 215). Isu besar tentang imigran ilegal dari selatan juga belum terselesaikan.

Dalam hal ketenagakerjaan, Obama, sebagai anggota senat, mengusulkan UU yang mewajibkan agar setiap lapangan pekerjaan pertama-tama harus ditawarkan kepada pekerja AS, dan agar majikan tidak memotong gaji dengan membayar buruh tamu kurang dari apa yang mereka bayarkan kepada pekerja AS. Idenya adalah bahwa semua bisnis hanya diberikan kepada pekerja asing untuk sementara waktu, ketika terjadi kelanggkaan buruh.

Di akhir bukunya, Obama juga banyak menyoroti tentang pendidikan di AS. Kesenjangan pendidikan warga kulit hitam terlihat di daerah selatan Chicago, dimana pada tahun 2005, sekolah di sistrik ini tidak dapat memberi gaji untuk mempekerjakan guru harian (full day school), sehingga waktu sekolah hanya bisa berlangsung sampai pukul 13:30 saja. Saat ini, AS memiliki salah satu tingkat putus sekolah tertinggi di sekolah menengah atas. Hal ini memberi inspirasi Obama untuk memulai investasi yang dapat menjadikan AS lebih kompetitif dalam ekonomi global, yaitu: investasi dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi, serta kemandirian energi.

Kesimpulan umum yang bisa diambil dari bukunya adalah, Obama memang bersahaja, cerdas, peduli keadilan dan kesetaraan, sangat diametrikal dengan McCain atau warga partai Republik pada umumnya. Tapi, betulkah? Tertulis juga di bukunya bahwa menyerang pihak lain untuk alasan keamanan adalah sah. Ideologi ekonominya, seperti warga USA pada umumnya, juga masih Ekonomi Pasar Bebas, tidak bergeser ketengah sedikitpun seperti Jerman atau Eropa yang menganut Ekonomi Pasar Sosial (Social Market Economy).

Read Full Post »

KESETIAKAWANAN SOSIAL

Kata di atas ini sedemikian familiar di media massa kita beberapa tahun yang lalu. Media cetak dan elektronik sedemikian gencar menampilkannya, hingga seperti barang eceran yang tidak lagi menarik perhatian ketika dijajakan di pasar informasi. Pencarian kata ‘Kesetiakawanan Sosial’ di internet menghasikan halaman sambutan hari Kesetiakawanan Sosial oleh presiden SBY beberapa tahun lalu di Bumi Perkemahan Cibubur .

Globalisasi, kesenjangan sosial dan individualisme adalah beberapa hal yang menjadi sorotan beliau untuk menggugah spirit Kesetiakawanan Sosial, saat itu, meskipun ada sedikit keluhan darinya berhubung sangat kurangnya praksis sosial dari jargon tersebut. Kesetiakawanan sosial seringkali diasosiasikan dengan ‘sumbangan’ terhadap pihak yang tidak mampu karena bencana alam, dari pihak yang dianggap mampu secara financial. Mungkin gotong-royong lebih tepat dijadikan padan katanya daripada pemberian bantuan yang memberi kesan arogan karena ‘tangan di atas, tangan di bawah’. Konsep Gotong-royong mengandaikan kesetaraan dalam perbuatan untuk meningkatkan kebaikan bersama, seperti kata Bung Karno: “Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantus-binantu bersama. Amal semua BUAT kepentingan semua, keringat semua BUAT kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-Baris BUAT kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”.

Kesetiakawanan sosial atau Gotong Royong seharusnya menjadi spirit dalam membangun bangsa ini seperti apa yang dikatakan Bung Karno bahwa seandainya Pancasila bisa diperas, maka Gotong-Royong adalah spirit satu-satunya. Semangat satu keluarga yang berkeadilan seharusnya menjadi bagian landasan dari segala bentuk kegiatan dalam menjalankan roda pemerintahan ini, tidak hanya diperlukan pada saat terjadi bencana alam dengan cara membagi-bagikan segala kebutuhan korbannya, apalagi hanya berwujud gerak jalan bersama di minggu pagi. Apakah membangun rumah megah di sekitar rumah kumuh berlantai tanah dan berdinding bambu, supermarket di sebelah pasar tradisional yang menjual barang sejenis dan berharga sama, spekulasi valas dengan nilai ratusan juta atau menjual saham saat ekonomi terpuruk hingga berakibat kepanikan pasar (short selling) dan berbagai contoh lainnya yang cukup membuat kita mengelus dada, adalah bagian dari ciri perilaku yang menjunjung Kesetiakawan Sosial?

Kesetiakawanan Sosial semestinya berada di awal suatu tindakan yang menyebabkan peningkatan kualitas kehidupan sesama, bukan berada di belakang suatu kejadian ketidak-sejahteraan.

Read Full Post »