Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2011

Karyawan lulus ?

Baru saja ‘farewell party’ dilakukan secara meriah untuk dua karyawan yang akan mengundurkan diri dan pindah kerja di tempat baru, yang tentunya lebih ‘baik’ menurutnya.

Ada hal yang ‘mengganggu’ menurutku karena dalam acara semacam ini, ‘pengunduran diri’ karyawan selalu dimaknai sebagai ‘kelulusan’ oleh sebagian pihak manajemen, entah ini dimaksudkan sebagai ‘guyonan’ atau hal serius, seolah perusahaan telah sukses mendidik karyawannya sehingga siap bekerja di perusahaan lain. Ironis.

Sejak Januari 2011, sudah 10 karyawan staff mengundurkan diri dan dari sisi persentase, jumlah tersebut termasuk paling besar dibanding dengan divisi lainnya dalam perusahaan. Bila ini adalah institusi pendidikan maka divisi ini masuk dalam kategori berprestasi, sayangnya ini adalah institusi industri yang tentunya jelas mengejar laba, maka tingginya angka keluar-masuk karyawan bukanlah hal yang patut dibanggakan alias perlu dipertanyakan karena jelas akan mengganggu rantai produksi. Banyak pelatihan perlu dilakukan pada karyawan baru yang berimplikasi pada biaya, waktu dan tenaga. Dan yang lebih berat adalah dampak psikis bagi karyawan lainnya, yang seolah penyebab tingginya ‘turn-over’ bukanlah hal yang perlu diperhatikan karena karyawan mudah tergantikan dan kinerja yang baik bukanlah hal yang patut dipertahankan, alih-alih ditingkatkan.

Coba kita bayangkan, seandainya pemilik perusahaan ini mengetahui bahwa biaya yang telah dikeluarkan untuk pelatihan ternyata justru lebih banyak me’lulus’kan karyawan dan bukan meningkatkan kinerja perusahaan atau keuntungan, apa kira-kira reaksinya?

Penyebab tingginya ‘keluar-masuk’ karyawan perlu dievaluasi lebih dalam, bahkan alasan tingginya harga penawaran di luar pun semestinya tidak menjadi alasan memudahkan ‘lulus’nya karyawan karena karyawan terlatih yang sudah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan memang seharusnya perlu dipertahankan.

Ah ini cuma membayangkan apa yang perlu dilakukan seandainya perusahaanku nanti terjadi ‘brain drain’.

Read Full Post »

Tinggikanlah Kejujuran

Akrobat norma sedang terjadi pada bangsa ini, kejujuran sebagai nilai luhur yang dijunjung tinggi ajaran spiritual manapun, kini telah longsor dikalahkan oleh kehendak kekinian masyarakat yang lebih mengutamakan kebutuhan wadag/material sesaat daripada keluhuran budi yang disadarinya sejak dulu kala.

Satu keluarga telah diusir dari kampungnya di Surabaya karena membuka kecurangan ujian nasional di sekolah anaknya. Tragis. A’am, anak kelas enam SD yang pintar di Surabaya, dipaksa oleh gurunya untuk mengedarkan ‘contekan’ ke teman-temannya supaya mendongkrak jumlah kelulusan di sekolahnya. Dengan alasan dilematis yang dipaksakan sang guru, ‘niat baik membantu teman-teman’ membuat sang A’am terpaksa melakukan kehendak jahat sang guru. Ajaran keluarga dan beberapa guru lainnya untuk selalu bersikap jujur telah membuatnya mengalami Rasa Bersalah dan berujung cerita pada sang Ibu. Sontak, marah dan kecewa menguras emosi sang Ibu, mendengar cerita buah hatinya, yang merasa sudah memberikan bekal moral luhur pada sang anak telah dihancurkan oleh pihak yang selama ini telah dipercaya untuk memberikan pendidikan yang lebih baik, sekolah.

Pengungkapan ironi ini oleh sang Ibu ke publik menyebabkan keluarga A’am diusir oleh lingkungannya karena rasa khawatir atas nasib kelulusan anak-anak mereka. Absurd …

Jujur, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lurus hati, bersih, tidak bohong, tidak curang, benar. Semua keterangan mengenai Jujur bernilai positif bahkan jadi ajaran dasar/basic yang ditanamkan orangtua sejak kita semua masih belia. Lalu mengapa nilai luhur ini bisa demikian mudah dikhianati?

Tekanan sosial dan perilaku para pemangku ‘kebijakan’ yang tidak bisa dijadikan panutan mungkin jadi penyebab luruhnya nilai luhur ini, selain alasan teknis sistem pendidikan yang menyebabkan ekses sistematis tindak ke’tidak-jujur’an terjadi dalam ujian nasional.

Rasa tidak percaya diri orangtua akan kemampuan sang anak (karena memang tak pernah mengujinya), rasa kekurangan akan frekuensi belajar di rumah dan kelengkapan ajar (buku dan akses belajar lainnya), serta tidak adanya pelajaran tambahan atau les menjelang ujian seperti yang dilakukan pada keluarga ‘berpunya’; juga ketakutan gagal ujian yang berarti perlu ekstra penanganan psikis terhadap anak dan keluarga menghadapi bayang-bayang tekanan sosial , serta kondisi ekonomi domestik yang pas-pasan hingga semakin menambah beban kelelahan psikis keluarga, menyebabkan para orangtua mengambil jalan pintas ‘penyelamatan’ anak dari kegagalan ujian dengan cara cepat, sepakat dan murah, nyontek massal.

Para pemangku kebijakan, yang di mata kaum ‘pinggiran’ masih dianggap sebagai kaum cerdik-pandai yang sering kali tampil di depan umum dengan berbagai solah-tingkahnya membawa ‘kabar’ kebajikan, ternyata .. banyak tersangkut masalah hukum, baik kejahatan keuangan maupun tindak asusila .. obrolan pinggir jalanpun mengatakan ‘loh kalau yang sudah kaya aja menganggap korupsi adalah hal kecil, kok nyontek yg ‘membantu’ murid dan guru dan gak korupsi kok gak boleh”. Jadi ya LANJUTKAN nyonteknya …

Peringkat kelulusan dari suatu sekolah ternyata linier dengan anggaran, artinya sekolah dengan peringkat tinggi, apalagi masuk kategori sistem SBI (sekolah berbasis internasional) karena jumlah kelulusan yang tinggi akan mendapat kocoran anggaran pendidikan dari depdikbud lebih banyak daripada sekolah yang biasa-biasa saja, ini berakibat upaya ‘apa saja’ perlu dilakukan untuk mempertahankan peringkat. Rektor Universitas ternama, dalam wawancara dengan tv swasta pernah mengatakan bahwa beberapa sekolah di suatu daerah telah melakukan kerjasama yang tidak benar dalam melakukan pengawasan ujian nasional demi kepentingan menjaga peringkat kelulusan sekolah masing-masing.

Dengan paparan di atas, saya berharap para pimpinan negeri ini supaya menghentikan segala polah tingkah ‘memoles wajah’ dan jadilah panutan yang sejujurnya dan pimpinlah rakyatmu ini untuk menjunjung nilai luhur bangsamu, JUJUR.

Read Full Post »

Film karya Darren Aronofsky, pemenang Aktris Terbaik, Academy Award 2010.

Rasanya sudah lama sekali tidak menemukan film yang ‘mengganggu’ seperti ini, bahkan sambil jalan pun masih terusik tanya. ‘Black Swan’ karya Darren Aronofsky dan dibintangi oleh Natalie Portman, Vincent Cassel, and Mila Kunis telah memenangkan kategori aktris terbaik 2010, Natalie Portman, seorang sarjana psikologi yang fasih bertutur bahasa Ibrani, Inggris, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Nina (Natalie Portman) adalah tokoh utama dalam film ini sebagai penari ballet profesional yang tumbuh besar dalam asuhan ‘single mother’, yang juga seorang ballerina namun gagal di usia muda karena hamil. Obsesi sang ibu akan pencapaian maestro ballet memberikan andil besar dalam membentuk ‘kekacauan’ kejiwaan Nina (kawan2 psikolog mungkin bisa menjelaskannya), selain proses kreatif dalam totalitas peran yang harus dilakoninya.

Peran ganda yang harus dilakoni Nina dalam produksi ballet adalah White Swan, yang berkarakter kurang-lebih sama dengan dirinya dan Black Swan yang berkarakter jahat. Peran Black Swan inilah yang sulit baginya mengingat kehidupan sehari-harinya yang cenderung puritan dan tertutup. Obsesi keberhasilan sebagai tokoh utama dalam peran ganda tersebut menyebabkan terbelahnya pribadi Nina.

Portman sungguh bagus sekali dalam memerankan Nina, gadis ‘lurus’, diam bersuara pelan, yang kesehariannya hanya mengenal studio ballet dan rumah, merepresi diri dari kecenderungan pergaulan bebas namun mulai muncul tindak perilaku menyimpang dengan menyakiti diri tanpa disadarinya.

Darren Aronofsky sungguh cemerlang menampilkan Nina yang begitu obsesif untuk memenangkan peran ganda tersebut dari Lily yang akan menggantikannya untuk peran Black Swan, dengan adegan-adegan halunisasi yang nyata. Perubahan watak Nina dari White Swan menjadi Black Swan di atas pentas, dengan adegan mata yang berubah merah dan bulu-bulu yang muncul di tangan Black Swan sungguh mencekam.

Read Full Post »