Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Film’ Category

Say Nothing

Irlandia Utara
Tahun 1970an, harian Kompas sering mengangkat berita tentang kerusuhan Irlandia Utara, “Bloody Sunday”. Bahkan masih teringat foto tentara IRA berseragam hijau loreng berbaret hitam dan bermasker hitam, mengusung peti jenazah Bobby Sands, yang wafat setelah mogok makan. Ingatan itu begitu mendalam hingga buku berbahasa Inggris pertama yang terbeli di Perth, Australia, tahun 1994 adalah tentang Irlandia Utara, “The Fight for Peace”, karya Eamonn Mallie . Hanya karena tingginya keingintahuan tentangnya.

Dalam buku tersebut, Gerry Adams, Republikan, dicitrakan sebagai “pahlawan” politik yang gencar bernegosiasi dengan pihak unionis UK. Sebagian Republikan menganggapnya sukses dalam mendamaikan konflik Irlandia Utara kecuali sebagian kelompok garis keras IRA (Irish Republican Army). Dan film “Say Nothing” produksi 2024 yang tayang di channel Disney, telah mengganggu citra tersebut. Hmmm …

Persoalan yang berulang kali muncul sejak 800 tahun yll. Penghuni pulau kecil yang merasa dirampas tanah leluhurnya oleh Inggris. Tak cukup kuat untuk mengusirnya. Dan mulailah IRA mengibarkan pertempuran berdarah untuk kembali menyatukan bangsa dan negaranya yang terrampas tsb.

Belfast Project

Belfast Project adalah program penulisan sejarah Irlandia Utara tentang peristiwa yang terjadi pada era The Troubles. Yaitu era ketika aksi kekerasan berdarah mulai sering terjadi. Kontak senjata antara IRA/republikan dengan kelompok loyalis (unionis) Inggris Raya, penculikan dan pembunuhan aktivis yang dianggap berkhianat, bahkan peledakan bom mobil di area publik. Para aktivis pembebasan Irlandia Utara, yang biasa disebut “Republikan” mulai mengorganisasi dirinya sebagai sayap militer IRA.

Teknik penulisan sejarah tersebut dimulai dengan wawancara oleh mantan anggota paramiliter IRA (Anthony McIntyre) dan Ulster Volunteer Force (UVF) atau unionis lainnya ((Wilson McArthur)), terhadap beberapa republikan dan unionis, yang terlibat aktif dalam melakukan tindak kekerasan awal tahun 1970an hingga 1990an. Tape hasil rekaman wawancara disepakati untuk disimpan di Boston College Library dan HANYA akan dipublikasikan bila sumber berita sudah meninggal. Diperoleh wawancara sebanyak 50 sumber, dilakukan antara tahun 2001-2006, dengan total panjang rekaman selama 200 jam.

Garis Besar Cerita

Garis besar film semi-dokumenter ini bercerita tentang dua hal dalam kurun waktu yang sama, yaitu awal 1970an hingga 1990an, ketika IRA sangat aktif melakukan perlawanan berdarah untuk mengejar misinya membebaskan Irlandia Utara dari kekuasaan Inggris Raya. Peristiwa pertama tentang diculiknya seorang ibu dari anak-anaknya yang berjumlah 10 orang dan yang kedua adalah keterlibatan dua gadis kakak-beradik militan dalam organisasi IRA. Dolours Price dan Marian Price, warga Katolik Irlandia Utara. Dalam film ini, IRA digambarkan sebagai organisasi yang kejam. 

Alur cerita film ini selalu berlompatan waktu, antara situasi wawancara dengan waktu terjadinya peristiwa di masa lalu, sesuai yang disampaikan oleh sumber berita. Demikian seterusnya akan berulang seperti diatas, hingga akhir film. Wawancara di sebuah rumah, kemudian waktu melompat ke masa peristiwa terjadi dan kembali lagi ke wawancara. Sumber berita bisa berganti-ganti.

Adegan film “Say Nothing”

Film dimulai pada situasi tahun 1972. Wawancara Belfast Project menggunakan peralatan tape recorder kecil, antara pewawancara Macker (mantan anggota IRA) dengan sumber berita Dolours (mantan unit khusus IRA) yang sudah cukup lanjut usia, dalam sebuah rumah. Situasi digambarkan cukup santai, meskipun proses perekaman dilakukan sangat rahasia. Publikasi hasil rekaman HANYA akan dilakukan bila sumber berita sudah meninggal.

Lompatan waktu. Sekelompok orang berpengaruh kuat, beberapa bermasker dengan senjata otomatis di tangan, memasuki apartemen keluarga, Flat Divis, yang dihuni oleh seorang ibu bersama 10 anaknya, Jean McCoville, tanpa seorang ayah. Menarik paksa sang ibu dari kamar mandinya. Dimasukkan ke dalam mobil. Penculikan. Hanya karena memberi bantal untuk sandaran kepala seorang tentara Inggris yang tergeletak di lantai bersimbah darah. Tertembak dan menemui ajal di depan unit apartemennya. Sejak itu tak pernah lagi terdengar kabar beritanya. Hilang.

Irish Republican Army (IRA)

Digambarkan dalam film ini, di usia 16 tahun, Dolours Price berpikir bahwa keluarganya tidak dalam kondisi yang bagus. Lingkungan sosial politik yang tidak kondusif untuk berkembang. Mereka adalah Katolik yang tinggal di West Belfast. Wilayah kumuh. Pilihan hidup warga Katolik hanyalah menjadi warga kelas dua, atau pergi. Pada tahun 1957, orangtua Dolours dan Marian adalah anggota Tentara Republikan militan. Ayah mereka, Albert Price adalah anggota aktif IRA dan ibunya adalah anggota Cumann na mBan, organisasi perempuan pendukung Republik Irlandia. Bahkan bibi mereka, yang selalu ditampilkan buta adalah korban cedera saat menangani bahan peledak IRA.

Ketidakadilan mulai dirasa oleh mereka yang beragama Katolik. Penduduk Protestan banyak mendapatkan “kelebihan”. Aksi protes hak-hak sipil mulai dilakukan oleh masyarakat Katolik. Kakeknya pernah dipenjara 8 tahun dan neneknya pun pernah menjalaninya beberapa hari. Kedua orangtua Price bersaudara sangat mendukung aktivitas politik kedua putrinya yang sudah dewasa. Meskipun tak yakin dengan hasil dari gerakan damai. “Kecuali gerakan bersenjata”, menurut ayahnya.

Aksi damai pejuang Katolik ternyata disambut tindak kekerasan oleh kaum Protestan. Luka-luka dan darah pun mulai mengalir. Namun komentar sang ibu dari Price bersaudara sungguh mengagetkan, “Kenapa kalian tidak melawan?”. Masalah sosial terjadi di Belfast. Kerusuhan pun meluas ke Irlandia Utara. Dan penangkapan dengan kekerasan mulai terjadi. 

Price berdua untuk pertama kalinya berada dalam kerumunan, mendukung dan menikmati aksi massa kelompok Katolik. Dalam aksi tersebut, Dolours dan Marsian mulai mengenal Gerry Adams, sang pemimpin aksi. Diperankan oleh sosok langsing, berambut pendek bergelombang dan berkacamata tebal dengan kerangka hitam. Di lapangan sibuk mengatur teknik pembuatan bom molotov supaya bisa memberi hasil yang efektif. Gerry bergabung dengan IRA sejak usia 16 tahun. Seusia dengan kedua gadis tersebut ketika mulai bergabung. Anak dari orangtua Katolik,  Republikan. Kelompok yang ingin bersatunya Irlandia dan memisahkan diri dari Kerajaan Inggris.

Aktivitas politik Price bersaudara semakin meningkat risiko keamanannya. Mulai terlibat bersama Gerry dalam aksi perampokan beberapa bank. Ibu mereka, yang sudah terlibat aktif lebih dari 20 tahun di “bawah tanah” pun mulai mengingatkan risiko keterlibatan mereka. Namun tak sepenuhnya melarang. Ayah Dolours terlibat pemboman di Coventry, UK ketika mereka berusia 6 tahun. 

Tentara Inggris (UK) berbaret hijau mulai sering menggerebek rumah-rumah penduduk untuk menawan para aktivis. Ayah mereka pun dicari dengan cara kasar memasuki rumah. Namun sudah melarikan diri ke wilayah selatan. Menyeberang perbatasan, dimana sudah bukan lagi wilayah hukum UK. Aman.

Price bersaudara, Dolours Price (kakak) dan Marian Price (adik), mulai menawarkan diri ke kelompok aktivis untuk bisa terlibat lebih aktif dalam aksi perlawanan. Keputusan Big Lad (Pemimpin Besar) IRA, Gerry Adams, menjadi acuan para aktivis. Dan akhirnya mereka pun disumpah sebagai anggota IRA. Brendan Hughes adalah pimpinan kompi yang membawahi Price bersaudara.

Dolours (kiri) dan Marian (kanan)

Aksi bersenjata berikutnya yang melibatkan Dolours dan Marian adalah pembebasan anggota IRA, tawanan Inggris, dari rumah sakit. Melibatkan juga Gerry Adams di belakang layar dan Brendan Hughes sebagai pimpinan lapangan. Terjadi beberapa korban jiwa aparat rumah sakit. Price bersaudara pun mulai menjadi target penangkapan aparat keamanan Inggris. Terkenal. 

Tingkat kepercayaan pimpinan IRA terhadap Price bersaudara pun semakin meningkat. Gerry membentuk unit khusus rahasia “The Unknown”, yang mempekerjakan Price bersaudara. Dipimpin oleh Pat. Orang kepercayaan Gerry. Tugasnya adalah mengantar mereka yang dianggap pengkhianat, menyeberangi perbatasan Irlandia Utara untuk dihukum mati oleh petugas IRA lainnya.

Pengkhianatan atau mata-mata untuk kepentingan Inggris semakin sering terjadi. Termasuk Kevin McKee (Beaky) dan Seamus Wright dari Unit Brendan yang terpaksa juga harus dieksekusi mati. Tragis. Salah satu korban eksekusi adalah seorang ibu, Jean McCoville.

Dolours dan Marian mulai bosan dan merasa kurang berkontribusi dengan aktivitas membawa target eksekusi mati. Dan berinisiatif untuk melakukan pemboman gedung pemerintahan. Disambut positif oleh Gerry dan Brendan. Penyelundupan bahan peledak mulai dibawa masuk ke Belfast oleh mereka berdua. Terlibat aktif dalam pemboman sebagai pelaku utama.

Dolours dengan wakilnya, Marian, memimpin misi pemboman di empat lokasi di London. Menggunakan bom mobil. Setiap mobil berisikan 90 kg amonium nitrat. 

Kembali pengkhianatan terjadi. Rencana bom mobil pun bocor ke kepolisian London. Dua bom mobil meledak dari empat bom terpasang. Price bersaudara ditangkap di bandara ketika akan pulang ke Belfast.

IRA memasang 150 bom pada tahun 1970. Total terpasang hingga 1972 sebanyak 1.000 bom, dengan tujuan untuk membunuh tentara dan polisi Inggris sebanyak mungkin. Tahun 1972 menjadi tahun penuh kekerasan. Gerry seharusnya bertanggungjawab penuh terhadap seluruh wilayah West Belfast (dalam film ini), karena dia selalu mengatakan bahwa banyaknya korban jiwa akan semakin mendekatkan kesuksesan misi IRA.

Jawaban menarik Dolours ketika turun dari mobil tahanan dan ditanya wartawan tentang penyesalannya atas tindakan pemboman, “Apakah pasukan kalian (IRA) menyesali anak-anak yang mati ditembak pada saat Bloody Sunday?”. “Apakah pemerintah kalian menyesali teror penjajahan 800 tahun?”. Mereka dipenjarakan di Timah Tanam Brixton. 

Dalam penjara, mogok makan dilakukan oleh Price bersaudara. Gagal. Karena makanan cair selalu dimasukkan secara paksa oleh petugas kesehatan, melalui pipa yang masuk ke tenggorokan.

Usia 30 tahun, Dolours, juga adiknya, Marian, dipindahkan ke Penjara Wanita Armagh, Irlandia.

Setelah 8 tahun dipenjara dan bebas, mereka merasa sudah saatnya mengekang diri untuk melakukan perjuangan di garis depan. 

Mulai mendapatkan permintaan bantuan dari IRA untuk menyelundupkan bahan peledak di pelabuhan, Semtex.

Mulai tahun 1982 hingga 1993, kasus kekerasan bersenjata banyak terjadi. Dolours manikah dengan Stephen, aktor theater. 

Keteguhan sikap Marians terhadap pilihan tindakan yang telah diambil, dinyatakan saat berdialog dengan Dolours, “I’ve confidence in my sense of judgement”. Justru saat Dolours terkesan meragukan sikap sendiri.

Gerry Adams

Banyak terpasang poster Gerry Adams di berbagai tempat, menjadi target penangkapan oleh tentara Inggris. Namun karena Irlandia Utara sebelah barat adalah wilayah penduduk Katolik simpatisan IRA, maka Gerry aman dalam lindungan penduduk disana. Situasi sosial politik di wilayah ini digambarkan dalam film ini begitu mencekam bagi warga setempat. Namun, kesediaan warga untuk melindungi para pejuang begitu tinggi. Dengan cara senyap tentunya.

Pernah di suatu kesempatan, Gerry tertangkap sedang berada di rumahnya. Namun dilepaskan karena adanya perintah Menteri Dalam Negeri Inggris untuk keperluan negosiasi politik Inggris dengan IRA. Dan gencatan senjata pun diberlakukan. 

Beberapa hari kemudian, terjadi negosiasi perdamaian antara 6 orang Dewan Pimpinan IRA dengan pemerintah Inggris yang diwakili Mendagri dan beberapa aparatnya di London Tengah. Permusuhan telah terjadi sejak 1921. Kepala staf IRA, Sean McStiofain yang juga turut hadir dalam negosiasi meyakini bahwa acara tersebut adalah sebuah jebakan. Dalam pernyataannya di forum tersebut, Sean dengan tegas meminta supaya Inggris: 

  1. menarik seluruh pasukannya dari negara terjajah, Irlandia, dan 
  2. memohon maaf kepada warga Irlandia sebelum Senin, 10 Juli 1972. 

Negosiasi gagal. Korban kekerasan pun semakin bertambah.

Tahun 1981, Gerry mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen. “Politik dan perjuangan bersenjata jalan bersama”, ucap Gerry ke Dolours.

Wawancara dalam rangka pemilihan anggota parlemen dengan stasiun televisi, Gerry Adams menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak pernah menjadi anggota IRA. Pernyataan yang membuat kecewa para anggota IRA. Termasuk Brendan, yang pernah merasakan penjara bersama Gerry dalam kasus pemboman.

Ucapan Gerry kepada Brendan untuk membenarkan pernyataannya yang mengingkari dirinya sebagai anggota IRA, “.. everything I do, I’m doing to win the war”. Khas politikus.

Gerry menyangkal keterlibatan dirinya dalam penculikan Jean McCoville. Ibu dari 10 orang anak, yang ditinggal ayahnya.

Saat bertemu pastor di persembunyian, Gerry mengatakan, “some of the lRA think my willingness to negotiate is tantamount to treason”. Menurut pastor, IRA belum meraih kesuksesan seperti yang diperkirakannya. Lanjut pastor, “Peace doesn’t come without cost”.

Menurut Dolours, Gerry menitipkan konsep perdamaian yang rapuh, melalui pastor (Gereja) untuk rival politiknya. 

Gerry sempat diinterogasi di kepolisian berdasar rekaman Project Belfast. Konsisten menolak sebagai anggota IRA. Lolos tanpa tuduhan karena sumber berita dianggap beropini tanpa bisa memberikan bukti dan konfirmasi. Berhubung semua sumber berita yang ada dalam tape sudah meninggal semua, sesuai perjanjian untuk publikasi cerita.

Tanggal 10 April 1998 terjadi kesepakatan antara Irlandia dengan Inggris, dikenal sebagai The Good Friday Agreement atau Belfast Agreement. Kesepakatan yang menghentikan konflik The Troubles di Irlandia Utara sejak 1960an.

Wawancara peristiwa 1994

Dolours kembali ke Dublin. Perkawinannya runtuh. Dan ketagihan obat penenang. 

Ketika berada di Belfast, Dolours dan Marian melihat berita tv bahwa telah disepakati penghentian operasi bersenjata. Dan Inggris menganggap Sinn Fein sebagai Partai Politik yang sah. Penarikan sebagian pasukan Inggris dan penonaktifan angkatan bersenjata IRA. “Fuckin surrender .. Inggris harus menarik keluar semua pasukannya. Ini kembali ke titik nol, 30 tahun yll”, menurut pendukung IRA. Gerry mesti bertanggungjawab. Menurut Brendan, “He (Gerry) sold us out”. Dolours pun mengeluh kepada Marians, “Do you ever get the feeling it was all for nothing?”.

Pernyataan Dollours ketika menafsirkan tujuan politik Gerry, ke pewawancara, “If Ireland is ever to be at peace, there’s a price to be paid. Our silence”

“.. talking gets us nowhere”, ucapan Marians menyemangati kakaknya untuk “beroperasi” kembali.

Marian ditangkap di rumahnya dan ditahan di penjara Maghaberry. Dituduh terlibat membantu pengadaan handphone untuk keperluan rencana penembakan aparat pemerintah. Namun gagal dan terjadi korban sampingan, kurir Domino.

Dolours ditemukan tewas di tempat tidur oleh anaknya. Karena over dosis obat penenang.

Jean McConville

Wawancara radio terhadap Helen McConville tentang penculikan ibunya 7 Desember 1972, 25 tahun yll. oleh 10 orang anggota IRA. Wawancara ini memicu beruntun munculnya pengakuan hilangnya 9 anggota keluarga. Diduga, IRA pelakunya.

Gerry menemui Helen untuk menjanjikan investigasi dan upaya penemuan jasad ibunya, Jean McConville. Ditemukan di Dundalk, pantai Co Louth, Irlandia tahun 2003. Dolours dan Marian yang membawanya melintasi perbatasan, tahun 1972. Atas perintah pimpinan Unit Khusus, Pat.orang kepercayaan Gerry Adams.

Film ini menyajikan tuduhan bahwa penembak Jean McConville adalah Marian. Betulkah? Bukankah Dolours sudah meminta pewawancara untuk off the record?

Dalam wawancaranya dengan wartawan, Dolours memastikan bahwa Jean McConville adalah mata-mata Inggris. Betulkah?

Tahun 1999 Inggris dan Irlandia membentuk komisi untuk menemukan dan mengambil jasad mereka yang dibunuh selama peristiwa The Troubles (masa konflik Irlandia Utara). Apakah ditemukan?

Pertanyaan-pertanyaan diatas akan terjawab di akhir film. Selamat menikmatinya.

Komentar dan Rekomendasi

Ini film bagus untuk melihat perjuangan IRA dalam membebaskan Irlandia Utara dari Inggris Raya. Meskipun gagal menurut anggapan anggota IRA militan. Tetap ada kemajuan capaian walaupun tak sesuai dengan harapan untuk membebaskan Irlandia Utara. Good Friday agreement memungkinkan “pembagian kekuasaan” antara unionis dan loyalis, dalam mengelola Irlandia Utara. Namun melihat keseluruhan film, sebagai hasil wawancara terhadap mantan pejuang IRA, bisa disimpulkan bahwa Say Nothing sebetulnya dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap citra kepahlawanan Gerry Adams.

Puluhan tahun IRA berjuang dengan senjata dibawah pimpinan Gerry Adams dari “bawah tanah”, tiba-tiba misi perjuangan berbelok untuk mencapai perdamaian. Alias kembali ke “titik nol” menurut para militan IRA. Lalu, untuk apa semua korban jiwa dan cedera itu semua? Perjuangan dengan jalan kekerasan dan upaya perdamaian, keduanya dibawah kepemimpinan orang yang sama, Gerry Adams. Kegagalan itu lazim terjadi. Yang tak lazim adalah pengingkaran Gerry Adams bahwa dirinya tak pernah menjadi anggota IRA. Bahkan dalam filmnya, kalimat dibawah ini selalu muncul di setiap penutup episode: Gerry Adams has always denied being a member of the IRA or participating in any IRA-related violence.

Bisa dimaklumi betapa kesalnya mereka yang sudah berjuang menjual nyawa di bawah kepemimpinannya. Ternyata, perjuangan itu ada titik batas untuk berhenti. Dan berbelok arah tujuan, sangat mungkin terjadi. Oleh karenanya, mitigasi kekecewaan massa, perlu kiranya dipersiapkan sejak awal. Barangkali …

Tautan

  1. Funeral of Jean McConville’s son Billy takes place in west Belfast
  2. The Irish Story
  3. Belfast Project
  4. Where is Marian Price now?
  5. Adams had reputation of being in IRA Army Council, ex-attorney general says
  6. Bobby Sands died 35 years ago today: how The Irish Times covered the news

Read Full Post »

Banshees

The Banshees of Inisherin

Berselancar di aplikasi IMDB, sebuah film bernilai 7.7, memancing diri untuk menikmatinya. Tak banyak film mendapatkan nilai sebegitu tinggi. “The Banshees of Inisherin” ditemukan di layanan sebuah video streaming. Sebuah film drama berlatarbelakang tahun 1923, di Irlandia. 

Produksi 2022 dengan sutradara/penulis berkebangsaan Inggris, Martin McDonagh. Terbayang kan, setting pegunungan hijau berbatu terjal dengan laut tak jauh darinya. Alam biru bersih segar .. menarik.

Tiga tokoh utama dalam film ini adalah Padraic (Collin Farel), Colm (Brendan Gleeson), Dominic (Barry Keoghan) dan Siobhan (Kerry Condon). Semuanya berkelahiran Irlandia.

Kisah tentang frustrasi sosial di lingkungan yang lengang dan sepi penduduk. Belum ada listrik dan kurang sarana transportasi. Jarak antar rumah pun berjauhan. Gerobak yang ditarik keledai menjadi alat angkut penumpang dan barang. Padang rumput berbukit, tebing terjal seolah dinding batu layaknya dan laut lepas sejauh mata memandang. Kafe temaram yang tak cukup ramai menjadi sarana pertemuan warga. Semua yang terjadi di kawasan ini akan mudah sekali didengar dan menjadi gosip warganya.

Padraic yang polos naif, tinggal berdua dengan adik perempuannya yang pintar, Siobhan. Rumah batu tak bertetangga, berpenerangan lilin dan lentera. Beberapa keledai menjadi piaraan mereka, yang biasa juga berkeliaran di dalam rumah. Sementara Colm yang gemar bermain biola, tinggal sendiri dalam satu rumah batu dua lantai. Topeng dan boneka kecil bergelantungan di dalam rumah. Asesoris? Suram.

Persahabatan antara Padraic dan Colm yang terbina dalam kurun waktu lama, tiba-tiba runtuh karena hal yang sepertinya tidak cukup penting. Yaitu, karena bosan. Bosan karena obrolan yang tidak berarti dalam setiap pertemuan. Begitu kira-kira alasan Colm untuk memutuskan hubungan persahabatannya dengan Padraic. Kebosanan sebagai penggerak film berdurasi dua jam. Aneh bukan? Bisa ya, bisa tidak. 

Alasan seperti ini sering juga kita dengar dalam pembicaraan di era sekarang ini. “Ngapain sih buang waktu ngobrol gak jelas?”. Biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan “ada uangnya gak?”. Tak ada uang, tak bermanfaat. Tak produktif. Hmmm … Gaya relasi sosial yang dapat meningkatkan trust dan mempererat persaudaraan, hanya diperlakukan sebagai alat untuk mendapatkan benefit atau keuntungan material. Tak ada lagi silaturahmi. Tak ada lagi “bercengkerama”.

Tentu Padraic kaget. Persahabatan yang lama. Biasa berpedati bersama, untuk minum bir di kafe yang sama. Juga bersama. Tiba-tiba memutuskan persahabatan. Bahkan duduk satu meja pun tak hendak. Keduanya tampak di usia 40 an. Bahkan, Colm mengancam untuk memotong satu jarinya sendiri setiap kali Padraic memaksanya untuk berbicara. Absurd. Sebegitu kritikalkah alasan putus persahabatan? Dan Colm memang konsisten dengan sikapnya. Potong jari.

Peristiwa tragis beberapa kali masih terjadi mengikuti alur putusnya persahabatan ini. Dilihat dari kacamata sekarang, Irlandia saat itu menjadi terasa kelam mencekam. Komunitas tertutup di kepulauan tanpa akses berita menjadikan kehidupan serasa asing. Sepi. Depresi sosial bisa terpicu untuk membuat keputusan tindakan yang absurd. Film suryalis yang layak dinikmati untuk perenungan.

Read Full Post »

Sutradara: Kenneth Branagh

Ada yang memilih pergi

Ada yang memilih tinggal

Ada yang tersesat dalam pilihan

Demikian kalimat akhir dalam film BELFAST.

Film hitam-putih berjudul Belfast, yang bisa dinikmati di Netflix ini memenangkan satu Oscar untuk kategori Best Original Screenplay. Juga memenangkan penghargaan BAFTA untuk kategori Outstanding British Film of The Year. Aplikasi IMDB mencatatnya telah memenangkan 51 award dan 237 nominasi. Capaian luar biasa. Film produksi 2021 ini ditulis dan disutradarai oleh Kenneth Branagh, berkebangsaan Irlandia Utara, tang lahir di Belfast. Para aktor dan aktris pun dominan berasal dari Irlandia Utara. Jude Hill, bintang ciliknya yang menawan aktingnya, Caitriona Balfe yang berperan sebagai Ibu, Jamie Dornan sebagai Ayah dan bintang kawakan Ciaran Hinds sebagai Kakek.

Entah mengapa, film berlatar-belakang Irlandia Utara selalu mengundangku untuk menontonnya. Apapun genrenya. Mungkin karena  masa kecil saat senang-senangnya membaca koran, selalu disuguhi berita luar negeri tentang kerusuhan disana. Sinn Fein, partai politik di Irlandia Utara dan IRA sayap militernya, Bobby Sands, anggota IRA yang bunuh-diri serta Gerry Adams pimpinan IRA, menjadi pengingat kerusuhan di Irlandia Utara saat itu. 

Karena film Belfast ini, buku lama tentang proses perdamaian di Irlandia Utara, The Fight for Peace (dibeli di Perth 1994), karya Mallie & McKittrick, yang selama ini menjadi rujukan pengetahuanku tentang konflik kekuasan Irlandia Utara, kembali mengundangku untuk membaca ulang.

Film ini dibuka dengan kerusuhan aksi massa kelompok Protestan terhadap kelompok Katolik. Terjadi penyerangan fisik dan perusakan properti. Teriakan para demonstran serta jeritan ibu dan anak mengiringi brutalitas tindakan massa. Gambar hitam putih bergerak cepat. Dramatik. Chaos. 

Kamera beralih fokus pada aktifitas seorang ibu yang sibuk tungganglanggang keluar-masuk rumah, mengamankan anak-anaknya. Sembunyi di bawah meja. Hingga kerusuhan mereda. 

Cerita beralih pelan dari jalanan ke ruang privat. Dialog terjadi dalam keluarga. Krisis ekonomi mulai terasa. Dan film mulai menyajikan konflik rumahtangga yang gamang terhadap pilihan domisili yang dikhawatirkan berdampak keterasingan politik dan tercabutnya akar budaya.

Tak lelah mengikuti alur cerita hingga film berakhir. Melihatnya seperti film dokumenter. Natural, tak berlebihan namun sangat terasakan konfliknya. Serasa tak berjarak antara layar dan penontonnya. Perang dan brutalitas konflik sosial selalu depresif bagi rakyatnya. 

Bagaimana akhir cerita? Selamat menonton. Kereen…

Read Full Post »

The Two Popes
imagesSepertinya baru 1 minggu ini film The Two Popes muncul di deretan film Netflix. Di antara berbagai cover film yang menampilkan wajah2 cantik, ganteng, sangar, namun ada yang mencolok mata berupa dua pria tua berjubah dengan topi kecil yang menempel di kepalanya, gambaran petinggi gereja katolik yang membuatku berhenti menggulung layar mencari film yang menarik utk dinikmati. Betul, itu film baru produksi Netflix yang dibintangi dua pria tua, Anthony Hopkin dan Jonathan Pryce. Sebuah karya film sejarah tentang dialog antara Paus Benedict XVI dan penggantinya Paus Francis.
Film akhir tahun yang sangat mengesankan. Selama hampir 2 jam penuh film ini diisi dialog filosofis antara mereka berdua, Paus Benedict (Jerman) yang konservatif dan Paus Francis (Argentina) yang liberal (theologi pembebasan?). Dengan lokasi pengambilan gambar  berpindah-pindah, dari Gereja Vatikan, taman, kediaman Paus dan sudut pengambilan gambar yang bagus, terlihat keindahan lokasi yang sunyi bersih. Kontras warna antara jubah mereka dengan lingkungan taman yang hijau tertata rapi, sangat indah.
Akting Anthony Hopkin sungguh enak dilihat, serasa mimik wajah asli seorang Paus yang sejuk bersahaja. Tua renta bertongkat, jalan tertatih dengan guratan wajah dalam, sering hanya memicingkan sebelah mata dan kernyit dahi terlihat, tanpa perubahan gerak otot wajah. Namun kadang menghadirkan sorot mata tajam, tegas mempertahankan tradisi ratusan tahun yang menurutnya bagian dari ritual gereja. Demikian juga akting Jonathan Pryce sebagai Kardinal Bergoglio, sangat bisa menggambarkan sosok panutan pejuang kemanusiaan yang rela tidak popular di negerinya, Argentina, ketika sedang terjadi gejolak politik karena kediktatoran rejim militer. Pilihan jalan perjuangan yang berlawanan dengan rekan-rekan pimpinan gereja membuatnya dijauhi jemaat dan rekan-rekannya, bahkan dianggapnya sebagai pengkhianat.

Sikap keukeuh Paus Benedict mempertahankan tradisi gereja yang menjaga jarak dengan paktek politik represif menjadi dialog yang menarik, tak membosankan meskipun hanya antara mereka berdua saja. Contoh sikap konservatif diceritakan sang sopir bahwa Benedict lebih suka menerima tamunya dengan menggunakan pakaian kebesaran Paus dan sang tamu mengenakan jubah kardinalnya. Berbeda dgnnya, Bergoglio lebih membumi sederhana, bahkan tak bersedia menempati rumah dinasnya yang menurutnya mewah, ditunjukkan dengan hobbynya bersenandung lagu-lagu pop dan kecintaannya pada sepakbola yang tak perlu disembunyikannya. Sikapnya yang pro-poor terungkap dalam ucapannya ketika berdialog dengan kolega kardinal lainnya, “Reforms need a politician” dan “Being pope is like being a martyr”. Menurutnya, pemilihan Paus saat itu (yang dimenangkan oleh Paus Benedict) hanya akan memperlambat reformasi gereja, sehingga membuatnya bermaksud mengundurkan diri sebagai Kardinal, “I can do more good as a simple parish priest”.

Film ini dimulai dengan wafatnya Paus Yohanes II, lalu proses pemilihan Paus dan kedatangan kardinal Bergoglio di Vatikan karena Surat Pengunduran Dirinya yang dilayangkan ke Paus Benidicte. Dialog perbedaan visi dan rencana tindakan gereja terhadap perubahan jaman seperti masalah perkawinan pastor, kehidupan selibat, homoseksual, pemberian komini pada yang bercerai, dll. yang beberapa kali diselingi adegan masa lalu Bergoglio dalam warna hitam-putih, ketika Argentina masih dalam kekuasaan rezim represif, menjadi isu utama film ini. Perbedaan penafsiran terhadap fenomena sosial ini perlu “… build bridges, not walls”, menurut Bergoglio. Sangat menarik, hingga diakhiri dengan munculnya Bergoglio sebagai Paus baru, hingga saat ini (2019). Bagaimana ujung dialog dan munculnya Paus baru? Silahkan menikmatinya di Netflix. Saya sendiri sudah dua kali menontonnya.
Tautan:
  1. Pope Francis – A Man of His Word

Read Full Post »

Screenshot_20191125-000628Sore itu, 23 Nov. 2019 tanpa sengaja dan sedikit telat, film Free Solo tayang lagi di Nat Geo channel. Film dokumenter tentang Alex Honnold (33 tahun) yang memanjat dinding tebing El Capitan, Taman Nasional Yosemite, AS tanpa bantuan tali pengaman (Free Climbing), 3 Juni 2017. Ini film yg memang sudah diiklankan lama di NatGeo dan juga sudah aku tunggu lama.
Film sejenis yang aku nikmati setelah film ini adalah The Dawn Wall. Berbeda dengan Free Solo, film The Dawn Wall, yang bisa dinikmati di Netflix, tentang dokumentasi panjat tebing El Capitan yang dilakukan oleh Tommy Caldwell, ditemani oleh Kevin Jorgeson, dengan bantuan tali pengaman pada 14 Januari 2015. Panjat tebing ini dilakukan selams 19 hari, dan selama pendakian mereka tinggal dalam tenda yang digantung pada dinding tebing di ketinggian kira-kira 1.500 feet.
Screenshot_20191125-230156Selanjutnya lebih menarik untuk cerita tentang Free Solo berhubung tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan menegangkan karena tanpa menggunakan tali pengaman. Walaupun The Dawn Wall juga layak dinikmati.
Sangat mengagumkan melihat Honnold memanjat dinding granit yang terlihat menjulang tegak-lurus setinggi 3.000 feet. Seringkali terlihat hanya ujung jari masuk rekahan atau tonjolan batu dan ujung sepatu yang tak sepenuhnya menginjak dinding atau hanya mengandalkan kasarnya permukaan batu granit. Mendebarkan .. bahkan kameramen seringkali tampak memalingkan muka dari layar kamera Canon di atas tripod yang fokus merekam gerak sang maestro, Honnold. Mengerikan, karena tanpa bantuan tali pengaman dengan tingkat kesulitan pendakian yang sangat tinggi dapat berakibat fatal.
Screenshot_20191125-221818Sedikit bisa melepas napas melihatnya ketika sebagian tubuh Honnold bisa masuk di rekahan batu (crack)  memanjang keatas namun terlihat menguras tenaga karena tak ada pijakan kaki dan jari tangan yang kokoh untuk mendorongnya keatas, hanya pelukan yang kuat pada sudut rekahan dan mendorong tubuhnya keatas prelahan seolah memanjat pohon saja layaknya. Berkali-kali ujung jari tangan menjadi tumpuan untuk mengangkatnya terus ke atas, sementara kaki berperan sebagai penyeimbang saja dan dasar tebing terlihat gelap ratusan meter jauh di bawahnya. Menegangkan.
Tak terlihat panik ketika menghadapi bolder, batuan besar yang menonjol keluar tebing, atau dinding terbuka rata tanpa pijakan seolah jalan buntu sehingga sulit untuk melewatinya, Honnold dengan sabar dan hati-hati terus bergerak kesamping atau lakukan gerakan ‘karate kick’, yaitu posisi kaki yang membentang lebar, bahkan kadang harus turun beberapa langkah dan kemudian menarik tubuhnya keatas lagi hingga mampu Screenshot_20191125-212900melewatinya. Luar biasa hebat kemampuan fisik, nyali dan kejelian memilih titik-titik aman untuk pijakan kaki dan jari-jari tangannya. Tak ada ruang untuk kesalahan.
Empat jam, dimulai dari jam 5 pagi, pemanjatan dinding tebing granit tanpa pengaman yang menegangkan itu akhirnya sukses sampai di puncak. Luar biasa.
Dalam film ini juga disajikan kisah cinta Honnold dengan perempuan pemanjat tebing, Sanni McCandless, yang kelak menjadi istrinya, tentang mobil yang menjadi tempat tinggal mereka berdua ketika persiapan pemanjatan, dan juga sedikit kisah masa kecilnya ketika belajar panjat tebing. Film produksi 2018 ini mendapat beberapa penghargaan, seperti Piala Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik 2019, dan Emmy Award untuk Sutradara Terbaik Film Dokumenter.
Tautan Berita:
  1. ‘It’s sort of the extreme’: Free Solo’s Alex Honnold on rock-climbing without ropes
  2. Climbing duo on Dawn Wall success and the power of pep talks

Tautan Video:

  1. How I climbed a 3,000-foot vertical cliff — without ropes | Alex Honnold
  2. How They Filmed the First El Capitan Climb With No Ropes in “Free Solo” | Vanity Fair
  3. What if He Falls? The Terrifying Reality Behind Filming “Free Solo” | Op-Docs
  4. The Dawn Wall (2018) | Official Trailer HD
  5. Behind The Scenes Of The Dawn Wall Film

Read Full Post »

20191117_182129Baru saja selesai nonton The Last Czars, film serial drama-sejarah produksi Netflix, Juli 2019, tentang kisah tumbangnya Tsar Nicholas II, dinasti Romanov yang sudah berlangsung 300 tahunan ditangan Bolshevik pimpinan Lenin 1918.

Film sejarah Rusia yang sangat layak tonton setelah film Stalin (Robert Duvall, produksi HBO, 1992), yang saya nikmati beberapa kali di HBO. Detail cerita The Last Czars sangat mungkin penuh adegan asesoris penyedap rasa, bahkan cenderung ‘lebay’ atau berlebihan, namun dari ‘gambar besar’nya film berdurasi 6 episode ini bisa menjelaskan sejarah runtuhnya kekaisaran Romanov, yang tak banyak literatur bisa dibaca, khususnya yang berbahasa Indonesia. Setidaknya, bisa memancing tanya untuk mencari tau lebih banyak tentangnya. Gambar, kostum, acting enak dilihat, menghibur.
Selain Tsar Nicholas II dari dinasti Romanov, Rasputin, spiritual mistis asal Siberia, adalah aktor yang sangat penting andilnya dalam mempercepat keruntuhan dinasti Romanov. Tokoh spiritual yang beraliran Sex Bebas ini menjadi tempat bergantungnya keluarga istana untuk menjaga kesehatan putera raja, Alexei yang menderita haemophilia. Persekongkolan Rasputin dan Alexandra, istri Nicholas, dalam manajemen otokrasi atas nama Tsar, yang tidak berada di istana untuk memimpin perang melawan Jepang dalam Perang Dunia I, menyebabkan kekacauan pemerintahan yang sedang menghadapi kerusuhan massal karena kelaparan.
20191117_182339Berselancar di Netflix, setelah selesai menikmati The Last Czars, akhirnya tersesat di film Trotsky. Film serial drama sejarah 8 episode biografi Rusia tentang Leon Trotsky, tokoh yang pasti familiar bagi aktivis mahasiswa, seperti halnya para tokoh ‘kiri’ lainnya, disutradarai oleh Alexander Kott dan Konstantin Statsky, yang tayang pertama kali di Channel One, Rusia pada 6 November 2017 untuk peringatan 100 tahun Revolusi Rusia.
Di film Trotsky ini, berbahasa Rusia dengan subtitle bahasa Inggris, sangat menonjol upaya penggambaran Trotsky sebagai tokoh sentral yang cerdas, pemikir, ideologis, sekaligus penggerak massa atau leader demonstrasi bahkan perencana strategis maupun taktis dalam perang melawan Jerman di beberapa area. Namun juga terlihat sisi gelap kekejamannya dengan menghalalkan pembunuhan bagi yang menentangnya dengan alasan menyelamatkan Revolusi. Dengan alasan ideologis ‘tak ada milik pribadi’, Trotsky juga melakukan sex bebas dan bahkan merelakan sang istri berhubungan gelap dengan orang lain. Hal inipun masih dilakukannya ketika berada di Mexico, negara terakhir tempat Tritsky berdomisili hingga akhir hayatnya yang tragis.
imagePerselisihan Lenin-Trotsky-Stalin ditampilkan juga dalam film ini, walaupun seringkali ide-ide Trotsky banyak didukung oleh mereka berdua, termasuk ide menghukum mati bagi mereka yang dianggap membahayakan Revolusi. Persaingan terjadi antara Lenin-Trotsky terlihat tajam bahkan hingga penentuan waktu aksi massa tak sepakat antara keduanya. Dan Trotsky melakukan 2 hari lebih cepat dari ketentuan Lenin. Akhirnya Trotsky mendukung Lenin sebagai pemimpin Partai Komunis karena menyadari kelemahannya bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, yang sangat kecil untuk mendapat dukungan masyarakat. Digambarkan bahwa kemenangan Stalin atas Trotsky adalah posisi Stalin berada di Moscow yang tentunya berdekatan dengan Lenin yang saat itu sedang sakit, sedangkan Trotsky lebih sering berada di front depan medan perang atau di luar negeri hingga kedekatan dan popularitas Stalin lebih bisa dirasakan kaum bolshevik dan angkatan perangnya. Trotsky tidak popular dan dirasa kejam terhadap angkatan perang. Kelemahan fatal.
Tiga film yang sangat membantu menjelaskan sejarah Rusia. Tentu, pikiran kritis diperlukan untuk memahami kebenaran sepihak dari film-film tersebut.
Tautan:
  1. Tentang Kehancuran Monarki hingga Kegilaan Rasputin
  2. ‘Trotsky’ is an Icepick to the Heart of Soviet History

Read Full Post »

20191012_212555

Dua kali sudah nonton film Joker, meskipun bukan penggemar film Batman, bahkan cenderung gak suka karena selalu gelap dan muram settingnya. Kali pertama nonton Joker hanya sambil lalu saja, suka, namun banyak terlewat detilnya. Dikesempatan kedua, perhatian serius tumpah di setiap detail aksi dan kata si Joker. Luar biasa pesan yang disampaikan film ini ..

Tak semangat pada awalnya, lalu sedikit kening berkernyit ketika sang aktor mulai tertawa depan kaca, sekaligus menangis hingga lukisan wajah sedikit luntur menetes. Sangat teatrikal, acting yang luar biasa dari Joaquin Phoenix. Jadi teringat Robert Deniro di film Taxi  (1976) ketika acting berlaga di depan cermin sambil memegang pistol … Adegan berlaga ini  diulang lagi pada saat Joker menjelang tampil di acara  tvshow Murray Franklin, yang beraksi seolah  di atas panggung dan memberi salam ke Murray dan penonton ..  Indah …

Film dibuka dengan suara televisi yang memberitakan kotornya kota, dengan sampah menumpuk dimana – mana, tak terurus, yang memberi pesan penting betapa amburadulnya penguasa mengurus  rakyatnya. Wajah  muram masyarakat direpresentasikan oleh kehidupan Joker yang tinggal berdua di apartemen sederhana bersama ibunya yang sudah tidak mampu lagi beraktifitas. Joker mengais rejeki dengan berprofesi sebagai badut  jalanan untuk kepentingan periklanan dan penghiburan di rumahsakit anak-anak. Dia juga mesti konsultasi rutin ke jasa pelayanan konsultasi psikologi dari Dept. Sosial dan Kesehatan karena perilakunya yang dianggap aneh. Himpitan finansial, penghinaan dan tekanan sosial yang kuat dan menerus, dirasakan berujung pada hilangnya eksistensi diri, hingga menjadi pemantik ledakan mental yang berujud kebuasan, namun sepertinya dirasakan sebagai ‘kepuasan’. Absurd.

Kerumitan karakter Joker memicu  keingintahuan tentang fenomena kejiwaan yang dialaminya. Pengamat psikologi, H. Eric Bender, M.D., menganggap Joker mengalami kelainan mental (mental disorder), yang dikategorikan sebagai psikopat, yaitu karakter dan perilaku yang sebab dasarnya lebih banyak dibentuk oleh hilangnya empati. Sementara psikolog lainnya berpendapat bahwa Joker berkarakter  psikotik, dengan simtom mengalami halunisasi seperti mendengar suara, halunisasi visual atau delusi pemikiran.

Konflik dalam film ini bukan lagi persoalan personal namun sudah menjadi fenomena sosial dimana Joker sebagai  representasi masyarakat kelas bawah, yang menurutnya “tidak eksis dan tak pernah bahagia selama hidupnya”, bahkan ditinggal tak terurus oleh penguasa; versus masyarakat kelas atas, kaya, berkuasa yang direpresentasikan oleh Murray Franklin (host tvshow) dan Thomas Wayne (ayah, pengusaha dan kandidat walikota Gotham City).


Tingginya pengangguran, kumuhnya kota dan ketidak-pedulian penguasa yang ditunjukkan dengan pemotongan budget Departemen Sosial dan Kesehatan yang dibutuhkan untuk mengurus rakyatnya, telah menyebabkan frustrasi sosial yang semakin tinggi, hingga kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah semakin rendah, dan bisa diduga akan berujung pada kecemburuan sosial. Anarki pada puncaknya ..

Bagaimana ujung kekusutan masalah sosial ini? Silahkan menikmatinya dalam gedung pertunjukan yang masih memutar filmnya..


Bagi yang mencari hiburan ringan, rasanya Joker bukan film tepat untuk ditonton,  namun bila ingin tahu potret sosial  dunia saat ini, Joker mampu  menjelaskannya. Sudah dua kali nonton, namun masih kurang  rasanya 😉

Kaitan lainnya:

Read Full Post »

20190919_121938Film dokumenter bagus produksi Netflix 2019  “The Great Hack” sudah bisa dinikmati di Netflix, tayang mulai 2 bulan lalu (latepost). Film ini diproduksi oleh pasangan suami-istri Jehane Noujaim dan Karim Amer,  yang juga membuat film The Square, film dokumenter nominasi Oscar tentang Arab spring.
Tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai catatan pribadi untuk mengingat dua kasus besar tentang Trump pada Pilpres AS dan Referendum Brexit dalam kaitannya dengan media sosial sebagai alat kampanye dan Cambridge Analytica (CA) sebagai perusahaan Big Data yang mengolah data personal pengguna Facebook untuk kepentingan kedua kampanye  pemenangan tersebut. Tiga tokoh utama pengungkap kasus ini adalah Carole Cadwalladr, Christopher Wylie dan Brittany Kaiser.
Carole Cadwalladr, seorang jurnalis The Observer (sebelumnya The Daily Telegraph) yg tertarik dengan teknologi untuk kampanye ini menjadi terkenal di dunia pada tahun 2018 ketika mengekspose skandal data Facebook-Cambridge Analytica di The Observer dan The Guardian. Film ini bisa dianggap sebagai resume dari berbagai pendapat yang sebetulnya belum sepenuhnya bisa menjelaskan secara detail persoalan Cambridge Analytica terkait dengan dukungan pemenangan Trump pada Pilpres AS dan kampanye pemenangan Brexit dalam referendum di Inggris. Banyak hal perlu penjelasan dari sumber-sumber lain untuk lebih jelasnya, misalnya: apa yang dilakukan CA terhadap data yang diambilnya, siapa obyek data, apa yang dimaksud 5.000 data poin yang diklaim oleh CA, melalui iklan seperti apa pengambilan datanya, dimana target lokasi; namun terlepas dari itu semua, yang pasti adalah adanya keterkaitan antara CA, Facebook, Trump dan Brexit, sehingga  setidaknya film ini bisa menjadi pembuka Kotak Pandora kasus rumit tersebut.
CA adalah perusahaan data analisis, yang bekerja sama dengan tim kampanye pemenangan Brexit dan tim pemenangan Trump untuk presiden AS, yang melakukan pengambilan jutaan data profil akun pengguna Facebook dari para pemilih AS, dan digunakan untuk membangun perangkat lunak yang sangat digdaya sehingga mampu memprediksi dan mempengaruhi pemilih untuk menentukan pilihan kandidat presiden dalam kotak suara.
Akhirnya munculah whistleblower di harian The Observer tentang bagaimana CA, perusahaan yang dimiliki oleh Robert Mercer dan saat itu dipimpin oleh Steve Banon, penasihat utama Trump, menggunakan informasi personal yang diambil tanpa otorisasi pemilik akun pada awal 2014 untuk membangun sistem yang mampu membuat profil pemilih di AS, ditujukan khusus secara personal pada target pemilih AS melalui iklan politik. Dalam narasinya, Carole menjelaskan bhw CA sdh terlibat dlm kampanye di berbagai belahan dunia, khususnya di negara2 sedang bekembang seperti Irak, Afghanistan, Kenya, Malaysia dll. sebelum diaplikasikan di Inggris dan AS.
Christopher Wylie, Computer Programmer di CA dan mhs hukum di  Universitas  Cambridge, yang juga membantu setup CA, menjadi whisteblower dengan menyatakan secara detail tentang besarnya data yang dikoleksi dari pengguna Facebook, jenis informasi, para politisi yang menggunakan jasa Cambridge Analytica utk mempengaruhi pemilih, dan data komunikasi antara Facebook dengan CA. Kepada The Observer Wylie mangatakan bahwa telah mengambil jutaan data profil akun Facebook dan mengolahnya sehingga mampu dijadikan target pemenangan.
Di depan anggota Parlemen Inggris, Wylie mengatakan “You shouldn’t win by cheating. If we allow cheating in our democratic process, what about next time after that?”.  Pada kesempatan tsb., Wiley merekomendasikan Britney Kaiser untuk diberi kesempatan menjelaskan ttg CA.
Benang merah keterkaitan strategi pemenangan Trump dan CA melalui pengolahan Big Data, tak lepas dari peran Steve Bannon (Penasihat Trump).
Steve Bannon editor Breitbart, mengikuti doktrin Breitbart yaitu:
bila bermaksud mengubah masyarakat secara fundamental maka pertama-tama harus memecah masyarakat tsb, kemudian menyusunnya embali sesuai visi yang diinginkan
Subyek penting lainnya dalam film dokumenter ini adalah Brittany Kaiser (BK), seorang ahli hukum lulusan Universitas Edinburgh, Skotlandia, saat itu menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di Cambridge Analytica. Dia berperan sbg Whistle-Blower untuk perusahaan tempat dia bekerja karena dianggapnya telah melakukan praktek bisnis yang tidak beretika, menggunakan data personal dari para pengguna Facebook untuk kepentingan bisnisnya, dalam rangka Pilpres AS dan Brexit.
Dalam film ini, Kaiser, di Thailand, mengungkapkan bahwa kampanye Trump dalam Pilpres AS dan kampanye Brexit telah dilakukan dengan cara-cara ilegal. Data personal para Pemilih menjadi sangat penting untuk strategi pemenangan dalam kedua proses Penilihan tersebut. BK juga mengatakan bahwa, “perusahaan terkaya saat ini adalah perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, Amazon atau Tesla. Perusahaan-perusahaan tersebut menjadi digdaya karena nilai (value) Data yang dikelolanya sudah melebihi nilai komoditi Minyak. Sekarang, Data menjadi asset yang paling berharga di muka bumi, dan perusahaan ini (CA) telah menjadi sangat berharga karena menguasai dan mengeksploitasi aset banyak orang”.
Paul Hilder (writer/political technologist) mewawancarai BK. Nov 2015 dgn Alexander Nix (Presiden Direktur CA) mememui Corey Lewandowski (Trump Campaign Manager). Ide perusahaan adalah melakukan analisis skala besar thd populasi, dan kemudian identifikasi thd hal2 yg bisa menyebabkan pergerakan arah pemilihan dari satu situasi ke situasi yg lain. Ini satu hal menantang mengingat adanya masalah otonomi dan kebebasan individu dalam  demokrasi. Menurut BK, mestinya perlu edukasi masyarakat akan adanya beberapa pilihan dan menyerahkan keputusan pada mereka utk bebas memilih apapun/siapapun.
BK mjd bagian tim pemenangan Obama 2007, yg mengelola FB Obama. Disini dia menemukan cara menggunakan sosial media sbg alat komunikasi dgn Pemilih. Selanjutnya, BK bekerja di organisasi dunia HAM, hingga bertemu Alexander Nix, yg tertarik mempelajari pengalaman BK bekerja dgn Partai Demokrat. 2014 Nix menawari BK pekerjaan. BK merasa bahwa di AS, masyarakatnya sangat terpolarisasi, sulit memahami satu dengan lainnya, shg sulit utk bekerjasama utk menyelesaikan berbagai persoalan bersama-sama.
Bantuan pertanyaan utk Senat AS thd Mark Zuckerberg (MZ):
Brp banyak revenue FB yg diperoleh langsung dari monetisasi data personal para pengguna FB?  Menurut Hilder, FB adalah the best platform on which to run experiments. Menurit BK, banyak belanja dipergunakan utk membiayai iklan di FB.
Target operasi adalah mereka yg potensial utk berubah, disebut “the persuadables”, kemudian titik2 akun FBnya dipetakan secara spasial shg bisa dipisahkan secara geographic berbasis negara bagian dan diperkecil lagi berdasar wilayah yg lebih kecil (precinct). Lalu tim Kreatif membuat content menggunakan blog, video, website, artikel, iklan, dll yg sesuai dgn karakter the persuadables yg sudah dikelompokkan dan mulai diarahkan utk memilih kandidat presiden tertentu. Seperti layaknya Bumerang, CA menyebarkan data, menganalisanya hingga masuk dalam kelompok OCEAN Personality (Opennes, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Neuroticism) dan dijdkan target pesan2 kampanye utk mengubah perilaku (behaviour).
Dalam artikelnya di Financial Times 9 April 2018, BK menulis bahwa FB harus membayar ganti rugi thd 2 milyar penggunanya, yang telah diambil dan dipergunakan datanya tanpa otorisasi, utk kepentingan bisnis politik.
Sesi dengar pendapat MZ dgn Komite Peradilan, Perdagangan dan Transporrasi juga sempat ditampilkan dalam film ini. Disitu MZ menyatakan bhw prioritas utama adl misi sosial connecting people, building community dan bringing the world closer together. Menurutnya CA mengaku telah menghapus data tsb sebilan sblmnya. Ternyata tidak dilakukan. MZ jg menyatakan bhw FB tidak terlibat dalam Project Alamo utk memenangkan Trump. BK dan Hilder tertawa sinis saat melihat siaran langsung dengar pendapat ini melalui televisi.
Apakah CA merasa telah membajak demokrasi? Nix menjwb bhw dengan menyedialan jasa utk kepentonhan pemenangan pada salah satu kandidat yg terpilih secara resmi, sbg wakol dari Republikana AS, merasa bukan suatu lesalahan.
David Carroll, seorang profesor pengajar Digital Media dan Developing Applictions, New York, yang berjuang melalui sistem hukum Inggris, menuntut dikembalikan semua data personalnya yang telah diambil dan dikelola Cambridge Analytica. Dia juga berharap supaya CA bersikap terbuka, menjelaskan dari mana mendapatkan data personal, bagaimana mengolahnya, dan kepada siapa CA menyebarkan data. Pernyataannya yang menarik adalah “Digital traces of ourselves are being mined into trillion dollar a year”. Kita, pengguna media sosial, sekarang adalah komoditi.
Maret 2018, Mark Zuckerberg menyatakan penyesalannya di berbagai media, serta mengakui kesalahannya bahwa selama ini Facebook tidak cukup aman, serta berjanji akan memperbaikinya “That goes for fake news, foreign interference in elections and hate speech… It was my mistake, and I’m sorry. I started Facebook, I run it, and I’m responsible for what happens here.”
Menarik sekali film dokumenter ini hingga membuat penasaran untuk tahu lebih rinci dan menelusurinya via Google. Beberapa tautan di bawah ini bisa membantu lebih jauh untuk memahami kasus dan peran masing-masing tokoh di atas:

7. New Evidence Emerges of Steve Bannon and Cambridge Analytica’s Role in Brexit

Read Full Post »

DilanFilm Dilan 1990, diambil dari novel karya Pidi Baiq (1972), yang terasa meriah promosinya ini membuat kami keluarga bertujuh dengan usia beragam, dari 20 tahun hingga 55 tahun, terpancing untuk menontonnya. Bayangkan, hanya dalam 10 hari, film ini telah mampu menarik lebih dari 3 juta penonton. Kalau per tiketnya Rp. 25 ribu saja, sudah Rp. 75 milyar pemasukan. Luar biasa.
Setting cerita anak2 SMA tahun 1990 dengan lokasi di Bandung. Cowoknya selengekan jagoan dengan motor Honda CB100 (agak ketuaan), sedangkan ceweknya lembut ayu setia. Keduanya berasal dari keluarga menengah-atas. Tak perlu kening berkerut utk menontonnya, karena sepertinya memang dimaksudkan sebagai film ringan menghibur dan mewakili anak muda jaman now. Bahasa sering tak terduga, licin, lebay memancing tawa. Misalnya, “Aku rindu”, kata Milea dalam telponnya. “Jangan, berat, kamu takkan kuat. Biar aku saja”, jawab Dilan. Hebat Pidi Baiq sebagai novelisnya.
Terbayang film akhir 70an, dari novelis roman Ashadi Siregar, Marga T. dengan film Ali Topan, Cintaku Di Kampus Biru, Badai Pasti Berlalu, Karmila, dll. yang menghasilkan bintang-bintang stereotype laki-laki selengekan dan jagoan bermotor trail dengan pasangan perempuan ayu setia, seperti Roy Marten, Widyawati, Yetty Octavia, Yeny Rachman dll. Demikian juga dengan era selanjutnya yang didominasi Rano Karno dan Yessy Gusman.
Setting 1990 ini menjadi penting karena saat itu belum beredar handphone sehingga komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan via surat atau telepon kabel. Pola komunikasi menjadi sentral kekuatan cerita ini. Tawa penonton sering muncul saat komunikasi telepon atau pesan surat pendek terjadi.
Bagi kaum milenial, film Dilan 1990 ini bisa mewakili mereka dijaman now, bahkan eBook Dilan 1991 sudah mulai laris terjual katanya, dan bagi kami di era Ali Topan bisa sedikit mengingatkan film jaman old. Selamat menonton, mumpung masih beredar.

Read Full Post »

Screenshot_20171119-135318Baru tahu ada aplikasi HOOQ di First Media televisi berbayar dan kebetulan masih promo Rp. 20.000 per bulan, langsung tangkap.. Kebetulan juga, sudah lama pengin nonton film Indonesia, yang bukan horor pastinya. Kenapa ya serasa mereka ingin berlomba memenangkan festival film horor? Mungkin ada statistik perfilman kita, yang menyajikan persentase jumlah produksi film horor per tahun? Perlu dibandingkan dengan produksi film dengan kategori sejenis di negara-negara lain. Gak jelas juga misi apa yang mau disampaikan dengan film horor ini. Ah gak usahlah ngomongin berpanjang-panjang dengan film horor.. Ngeri..
Sabtu kemarin, empat film Indonesia aku tonton menggunakan aplikasi HOOQ, yaitu: Soekarno, Critical Eleven, Melbourne Rewind, Winter in Tokyo. Satu film politik Screenshot_20171119-135414dan tiga film drama. Aku bukan kritikus film, hanya penikmat film. Artinya parameter apa saja yang perlu digunakan sebagai alat penilai sebuah film, tidak aku pahami. Lebih tepatnya, belum berusaha untuk mempelajarinya. Yang ada selama ini hanya “suka” atau “tidak suka”, itu saja. Soekarno aku pilih karena ingin refreshing sejarah yang  sudah puluhan tahun yang lalu kupelajari. Masa SMA lah, sejarah perjuangan banyak terekam dalam otakku. Tiga film drama lainnya kupilih karena menurut sinopsisnya berlatarbelakang tinggal di luar negeri dan diadaptasi dari novel yang laris di negeri ini. Baru tahu juga bahwa dalam rumahku pun ada novel Winter in Tokyo, bacaan istriku.. 🙂 Novel bagus katanya, karya Ilana Tan. Aku selalu kagum dengan para penulis bagus.
 …
54423-winter-in-tokyo-cerita-cinta-yang-bikin-baperSelesai nonton Soekarno, aku merasa bahwa film ini perlu juga ditonton oleh para anak kita, yang sudah berjarak jauh dengan sejarah para pendiri bangsanya. Tidak mesti sepakat dengan tafsir sejarah dan visualisasinya, tapi setidaknya bisa memancing daya kritis berpikir dialektis untuk mencari tahu kebenaran sejarah. Dari sisi ini, aku merasa film G30S PKI menjadi layak tonton, untuk dijadikan pemicu berpikir kritis generasi milenial, dan tidak dipaksakan sebagai satu-satunya tafsir kebenaran sejarah. Kembali dengan film Soekarno, urutan peristiwa sejarah sejak Soekarno kecil hingga Proklamasi Kemerdekaan sangat membantu ingatan. Yang sebelumnya hanya keping-keping puzzle peristiwa yang berserakan, seolah bisa tersambung runtut dalam cerita yang utuh dalam film ini. Visualisasi kekejaman Belanda dalam kerjapaksa dijaman Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, kemudian Romusha Jepang, juga pelecehan perempuan untuk memenuhi syahwat para tentara Jepang, kemiskinan dan kelaparan, mampu melengkapi kebutuhan suasana emosi atau situasi psikologis masyarakat saat itu. Film ini juga mencoba menjawab atas keraguan berbagai pihak tentang status Kemerdekaan RI, apakah hasil perjuangan para pendiri bangsa ataunpemberian Jepang. Silahkan tonton filmnya sebagai karya seni, kebebasan anda menilainya.
 …
CsifPVMUsAESXUWTiga drama lainnya adalah adaptasi dari novel karya penulis negeri ini. Di toko-toko buku off-line maupun on-line sekarang ini banyak sekali berjajar novel karya penulis muda negeri ini. Cerita berlatar-belakang kehidupan luar negeripun juga banyak ditemui. Hebat. Kekagumanku terhadap para penulis novel ini, berujung pada pilihan nonton flim Critical Eleven dari novel terlaris karya Ika Natassa, Melbourne Rewind dari novel Winna Efendi dan Winter in Tokyo dari novel karya Ilana Tan. Menghibur, filosofis dan kreatif dalam hal tema dan jauh beda dengan dengan film-film drama adaptasi tahun 70-80an yang melihat problem kehidupan begitu sederhana. Film-film menarik yang mewakili jamannya. Sedikit kritik untuk Winter in Tokyo, dialog berbahasa Jepang terlihat jelas teknis dubbingnya, mengganggu. Silahkan menonton filmnya, nikmati sesuai jamannya. Santai … 🙂

Read Full Post »

Older Posts »