Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2013

GA240 yang nerangkat 14:25, mendarat di bandara Ahmad Yani, Semarangpada jam 16:00. Menggunakan taksi bandara, toyota limo putih, seharga Rp. 415.000, siap berangkat menuju Pekalongan yang berjarak 102 Km. Keluar bandara sedikit padat di jalan utama hingga kira-kira meter 500. Ramai kendaraan pribadi, juga truk penuh muatan di jalan tambal-sulam bergelombang, cukup berbahaya bila kecepatan tinggi. Jalan dua arah dg pembatas berm selebar 0,5-1 m beeriang listrik di tengahnya, masing-masing cukup dua lajur tanpa garis putih pembatas di antaranya. Masih ada tanah terbuka selebar kira-kira dua meter di pinggir jalan cukup untuk truk parkir. Pohon cukup rindang di pinggir jalan sehingga melindungi terik matahari menembus jendela mobil.

Perjalanan ke arah barat disore hari ternyata tidak nyaman, apalagi pada bulan Desember, saat matahari berada di lintang selatan 23•30′, sehingga sinarnya tepat masuk dari jendela kiri mobil. Persawahan terlihat di kanan-kiri jalan di sela-sela bangunan rumah di antara Mangkang-Kendal. Sepertinya sedang mulai ‘tandur’ atau masa tanam karena terlihat bongkahan tanah segar persawahan bekas dibajak. Plat nomor jendaraan yang lalu-lalang sangat bervariasi, H, G, AD, B, E, mungkin karena ini jalan utama pantai utara Jawa, Sby-Jkt sekaligus musim liburan akhir tahun.

Jam 17:15 Alas Roban masih cukup rindang walaupun lebih terbuka dibanding 25 tahun yang lalu, dengan banyak warung kecil jual kelapa hijau dan truk parkir di sepanjang jalan. Mungkin kalau diatur dengan serius, bersih, rapi dan aman, pasti akan menarik dan nyaman untuk istirahat dalam perjalanan jauh.

Setelah keluar dari hutan Alas Roban, kemudian melewati pasar Subah, maka kira-kira 10 menit berikutnya, akan tetlihat jelas dari jarak 100 m, di Km 24 ke Pkl, baliho besar berwarna kuning yang sangat menyolok disebelah kiri jalan, ‘Sate Kambing Subali’. Cocok bagi para penggemar sate kambing.

Tepat menjelang Magrib 17:45, taksi masuk hotel Sahid Mandarin di kawasan rekreasi Dupan, sebelum masuk kota Pekalongan, dan lebih dekat ke kota Batang. Lokasi hotel Sahid yang digambarkan oleh Google Map berada dalam kota Pekalongan, ternyata salah. Jadi bila anda menginginkan hotel yang berada dalam kota Pekalongan, sebaiknya pilih yang lain, salah satunya hotel Horison, yang berada dekat setasiun kereta api.

Read Full Post »

Manusia Normal

Normal sering juga disamakan dengan ‘kebanyakan’, artinya hanya masalah distribusi sample, atau bukan soal baik/buruk apalagi betul/salah. Mengingat kodrat manusia itu berbeda, unik, atau tidak ada kembar identik 100%, maka pasti ada manusia yang berada diatas/dibawah garis normal, bahkan tanpa batas varian. Jadi, mengapa harus memaksakan diri menjadi normal?

Read Full Post »

Bengis

Uuuhh … begitu semangatnya kalian menuduh memaki menghina mengutuk dia yang terhukum, bahkan seolah ingin membasmi dan meluluh-lantakkan keluarga dan kelompoknya. Tak pernahkah terlintas atau terpikir bahwa tautan politik atau ketidak-cerdikan manusia mgk saja terlibat didalamnya?

Lalu, kenapa sekarang menista para hakim ketika junjunganmu mendapat vonis berat karena kejahatan yang sama,  korupsi? ‘Pengadilan tidak adil, dholim, politik uang..’ teriakmu, dengan mata melotot dan tangan terkepal. Bengis.

Kejahatan jelas harus dihukum, apalagi dilakukan oleh pejabat pemerintah, sebagai pimpinan rakyat yang semestinya tahu norma hukum. Namun, tak perlulah sampai mencaci-maki hanya karena beda kelompok, keyakinan atau ideologi.

Read Full Post »

image

Makan malam di resto Chef Chan yang berada di dalam sayap kanan gedung Museum Nasional Singapura, santai dan mengesankan.

Bangunan tua museum berwarna putih kokoh dikelilingi lapangan rumput luas itu tampak bersih rapi dan penuh sinar kuning terang, tercurah dari lampu sorot ribuan watt di taman, juga dari lampu gantung kristal dalam gedung yang menerobos jendela besar tertata rapi, memanjakan mata bagi yang suka bangunan tua. Mengingatkan Pintu Seribu di Semarang dan Kota Tua Jakarta. Sayang, keindahan cahaya kuning gedung sedikit terganggu dengan cahaya putih neonsign board berlogo Chan’s Chef di depan tangga masuk resto.

Menurut kawan yang menemani, museum ini dulu penuh dengan benda-benda bersejarah dari berbagai negeri tetangga, sekarang benda berharga tersebut telah banyak dikembalikan ke negara masing-masing sehingga terasa lengang, ruang tersisa. Bagian depan gedung utama juga ditempati sebuah restoran, terlihat rak di dinding penuh wine terlihat dari taman luar jendala, rapi. Nuansa klasik sangat terasa dalam gedung tua ini. Nyaman.

Malam itu kami dijamu berbagai makanan Kanton yang lezat, yang dihidangkan secara berurutan oleh para pelayan resto berkostum China. Terhidang di atas alas putih meja kotak berkursi delapan, masing-masing enam mangkok kecil berisi beberapa sambal, saos, cabai merah kecil, cabai merah besar, abon teri, kecap asin, juga cangkir kecil berisi teh tawar panas siap menyambut hidangan.

Pertama muncul satu mangkok sup bening panas bermacam jamur, disusul dengan menu kedua, sup ikan Cod segar putih tebal dengan kuah bening dan potongan daun bawang kecoklatan yang makin nikmat dengan tambahan kecap asin dan potongan cabe merah kecil. Tak lupa teh hangat melarutkan rasa di lidah. Dengan sigap pelayan resto menarik mangkok kosong dan meninggalkan sendok di meja serta menggantinya dengan hidangan ketiga berupa piring kecil berisi Sauteed Beef bersaus black pepper. Daging manis empuk tanpa lemak dan mudah dipotong, jadi menu andalan resto ini. Super lezat. Begitu habis, langsung digantikan menu keempat dengan mangkok kecil berisi satu daging gempal kepiting Srilanka, berkuah kuning dengan serpihan lembut daging kepiting. Uhh nikmat… Sambil ngobrol disela resapan teh tawar hangat isi-ulang, muncul santapan kelima, yaitu piring kecil berisi daging ayam empuk berkulit kering mudah lepas dan berkecap manis gurih, Crispy Roasted Chicken. Menu andalan kedua yang hampir mirip menu bebek panggang di resto Duck King Jakarta. Super lezat lagi.. Piring ditarik, muncul menu keenam, hidangan berat dalam mangkok kecil berisi nasi goreng Singapore, kuning pucat lepas (tidak pulen).. gurih enak tapi perut mulai full.. dan terakhir adalah penghibur lidah ketujuh berupa mangkok kecil berisi puding manis bertabur potongan kecil strawberry dan mangga mengkal asam. Wuihhh… full…

Karya seni penggores lidah.. sambil mengangkan tangan kanan dan menutupkan telunjuk ke jempol serta mengangkat tiga jari sisanya di depan bibir… Lazisss…

Read Full Post »

10 Ciri Pejabat Kita

1. Datang selalu telat, bahkan diacara tidak resmi sekalipun
2. Menebar senyum di depan publik tetapi angkuh terhadap bawahan
3. Kalau ngobrol sambil berdiri dg kolega tak perduli liyan, walapun bikin macet pintu masuk
4. Handphone di tangan, kacamata dan tas di asisten yang jalan di belakang
5. Bicara hanya normatif dan selalu marah bila diingatkan hal detail
6. Fungsi koordinasi sll ditekankan dan keputusan didelegasikan
7. Sukses adalah pimpinan, gagal adalah bawahan
8. Menarik sumbangan dari pengusaha disetiap acara resmi ataupun personal
9. Ada yang menarikkan mundur kursi saat mau duduk
10. Jalan depan mobil pejabat harus dikosongkan dg bantuan mobil/moge polantas yg bersirine

Read Full Post »

Pongah

Nilai Kekuasaan dan Uang sejak dulu kala memang begitu tingginya di mata sebagian banyak orang. Bedanya, bila jaman Romawi dulu hanya kaum bangsawan dan pedagang yang mengagungkan kedua nilai tersebut, maka saat ini masyarakat terdidik kota atau kelas menengah atas yang seharusnya mampu berpikir dan bersikap kritis justru turut terjerumus mengagungkan kedua nilai tersebut. MengAGUNGkan dalam hal ini berarti merendahkan nilai-nilai lainnya, seperti sosial, budaya, moral, bahkan agama sekalipun. Menyedihkan…

Read Full Post »

Gak ngerti ttg kebijakan pangan.. Knp justru Indonesia tdk berpihak ke India, yg menentang pembatasan subsidi utk kepentingan keamanan produksi pangan rakyatnya? India menuntut peningkatan subsidi pangan dari 10% ke 15% dalam jangka waktu yang tidak terbatas demi ketahanan pangan bangsanya, sementara Indonesia sudah cukip puas dengan mendapat kesempatan memberi subsidi pangan selama 4 tahun. Loh.. setelah itu kl harga pangan mahal krn produksi pangan domestik tidak mencukupi kebutuhan… gimana??

Apa Negeri kita tdk bakal kebanjiran impor pangan, kl subsidi nt dihentikan? Beras, jagung, kedelai bakal impor semua…ada yg bisa bantu jelasin?

Tariff Rate Quota (TRQ) dan Export Competition mungkin dianggap kompensasi yg menguntungkan buat Indonesia sbg konsekuensi diterimanya pembatasan produksi pangan dan lamanya waktu subsidi.

Petani bakal megap-megap dan harga pangan terbang tinggi… dompet bocor, perut menjerit… kerusuhan lagi… hadeuh..

Read Full Post »