Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli 27th, 2025

“Pulang”, oleh Leila S. Chudori

Terganggu penelusuranku akan buku-buku bagus di tengah toko buku tenar itu, ketika mencuat di sudut mata, tumpukan buku tertata rapi. Tebal berwarna sama. Menantang untuk mendekatinya. “Pulang”, karya Leila S. Chudori. Sebuah novel tebal, 461 halaman. Familiar dengan penulisnya. Langsung ku beli bukunya, dalam format digital.

Novel lama terbitan 2012, namun telah diterbitkan ulang untuk yang ke-18 kalinya di tahun 2021. Beda cover.

Teringat akan penulisnya. Dia biasa menyajikan artikel di harian Kompas, dalam kolom psikologi di awal tahun 80an. Kalau tak salah, menggantikan kolom yang biasa diisi oleh M.A.W. Brouwer. Kolom yang aku sukai di masa itu.

Pertengahan tahun 2000an, pernah kubaca di internet tentang kehidupan Sobron Aidit yang membuat resto masakan Indonesia di Paris bersama teman-temannya, sesama ‘eksil’. Nama restonya adalah Restaurant Indonesia, beralamatkan di 12 Rue de Vaugirard, Paris. Alamat tersebut persis sama dengan lokasi restoran yang tertulis dalam novel Pulang. Sepertinya, Leila menggunakan kisah Sobron Aidit sebagai inspirasi penulisan novelnya. ‘Eksil’ adalah kata yang pertama kali ku dengar ketika kasus G30S menyeruak di ruang publik melalui diskusi, film, buku, media berita atau media sosial lainnya. Yaitu, mereka yang terasingkan di luar negeri dan tak bisa pulang ke negeri sendiri karena alasan politik.

Sinopsis

Garis besar cerita, secara singkat disajikan pada Sampul Belakang buku, yang isinya kira-kira sbb.:

Pulang bercerita tentang perjalanan panjang seorang eksil politik Indonesia, Dimas Suryo, pada tahun 1965. Saat itu terjadi pergolakan politik besar di Indonesia, yang kita kenal sebagai G30S/PKI. Dimas adalah seorang koresponden kantor berita di Paris, tiba-tiba dicabut paspornya. Ia dan tiga kawannya, yaitu Tjai, Risjaf, dan Slamet, terjebak di pengasingan dan tidak bisa kembali ke tanah air yang mereka cintai.

Ditengah kepahitan dan kerinduan akan Indonesia, mereka bertahan hidup dengan mendirikan restoran Indonesia “Tanah Air” di Paris. Restoran ini menjadi simbol perjuangan, tempat berkumpulnya sesama eksil, sekaligus menjadi penanda identitas mereka di negeri orang. Di sinilah Dimas bertemu Vivienne Deveraux, seorang perempuan Perancis, mahasiswa Sorbonne yang kemudian menjadi istrinya dan melahirkan anak mereka, Lintang Utara.

Cerita berlanjut dengan kunjungan Lintang ke Jakarta di era Reformasi 1998. Tersurat cerita tentang adanya brutalitas kemanusiaan massal di Jakarta saat chaos tersebut, Leila menulisnya di halaman 449,

Melalui siaran televisi, dengan tega mereka menyiarkan korban yang terbakar. Bertumpuk dan dimasukkan begitu saja ke dalam kantong hitam. Dan aku tak bisa lagi menyebutkan kisah-kisah tentang penyerangan dan perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa. Ceritanya begitu simpang siur dan terlalu grotesque sehingga kepalaku terasa digedor-gedor.

Lintang merasakan kerinduan akan sebuah “rumah” yang tak pernah ia kunjungi, Indonesia. Sebuah warisan sejarah kelam yang menentukan identitas dirinya serta membayangi hidup ayahnya.

Turunnya Presiden Soeharto menjadi euphora kesuksesan perjuangan Reformasi mahasiswa saat itu, yang disajikan Leila dengan tulisan Di halaman 443,

Tanggal 21 Mei, ketika Presiden Soeharto mengucapkan pidato pengunduran dirinya, kami semua menjerit. Restoran Tanah Air hampir meledak karena teriakan kami terlalu keras. Om Nug dan Om Risjaf yang tengil itu berteriak mau mencari kambing untuk disembelih. …

Pulang adalah kisah keluarga yang mengharukan tentang kekejaman ideologis, cinta, dan kerinduan yang mendalam akan tanah air. 

Komentar

Pulang adalah novel sejarah semi-dokumenter politik negeri ini. Membacanya serasa melakukan lompatan waktu jauh ke masa lalu. Bapakku ketika itu begitu khawatir hingga perlu membakar atau menyembunyikan koleksi bukunya di atas plafon kamar tidur. Tak jelas benar buku apa itu semua. Tapi aku yakin pasti terkait dengan sosial-politik. Karena beliau adalah wartawan freelance untuk koran daerah saat itu.

Dampak politik G30S/PKI senyatanya memang mencekam. Akhir 1980an pun masih terasa. Kami yang lulus kuliah dimasa itu, masih harus bisa menunjukkan bukti Bersih Lingkungan. 

Terpancing keingintahuan lebih jauh ketika sedang membaca novel ini. Tautan internet terkait dengan kisah para eksil bisa dilihat dan dibaca dalam daftar Tautan di bawah ini. Tentu masih banyak lagi berserakan informasinya yang tak tercatat disana.

Leila sukses menyajikan keteguhan sikap dalam memperjuangkan serta mempertahankan jatidiri. 

Menarik dan sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai pengingat akan bahayanya konflik politik yang tak terkendali. Atau justru bagian dari pengendalian politik? Ah entahlah …

Tautan Jaringan Internet

  1. 40 Tahun Restoran Indonesia di Paris
  2. Kisah Dua Restoran Indonesia di Paris Yang Didirikan oleh Para Eksil ‘1965’
  3. Cerita Restoran Indonesia di Paris, Cerita tentang Anita Sobron Aidit
  4. Sobron Aidit – TEMPO, 5 Maret 2000
  5. Cerita Dari Tanah Pengasingan, Intel, Razzia Agustus Hingga Cerita Sekitar Resto
  6. Pulang
  7. Buku yang Dipenjarakan
  8. An Indonesian Tragedy – 1965 Genocide
  9. Impian Terakhir eksil 1965 di usia senja
  10.  The story of Soegeng Soejono
  11.  Eksil, mereka yang terasingkan

Read Full Post »