Setelah “Metamorphosis”, satu cerita pendek Franz Kafka, dari buku kumpulan tulisannya, kubaca pagi ini. Berjudul “Berita tentang pembangunan tembok: Fragmen”.
Tak lebih dari dua halaman. Betul-betul pendek. Tak ada kalimat dialog disana. Tak ada tanda petik, tanda tanya atau tanda seru, hanya ada titik koma dan berderet abjad. Hanya kalimat berita. Seakan koran pagi saja layaknya. Untung hanya dua halaman. Tak lelah membacanya.
Cerita tentang Ayah dan Anak yang sedang duduk di pinggir sungai, di seberang Istana Kaisar. Lalu mendekatlah sebuah perahu dengan seorang pendayung di dalamnya. Menyampaikan berita seraya berbisik kepada sang Ayah. Bahwa tembok istana segera dibangun sebagai pelindung serangan panah dari kaum pembenci Kaisar.
Tersenyum membacanya. Meskipun Kafka menulisnya lebih dari 100 tahun yang lalu (1917). Usia 34 tahun saat itu. Persepsi langsung melayang ke negeri Konoha. Berita yang tak jauh beda pun telah banyak didengar warga. Sama, tembok tinggi telah dibangun, bak benteng tebal gagah menghadang. Tentu bukan tuk menghadang anak panah, melainkan penyaring kabar berita. Banyak kabar telah terbendung, tak sampai ke telinga Kaisar, gosipnya. Sistem telah menjauhkannya. Benar belaka cerita Kafka. Cerita abadi rupanya. Hahaha …
Cerita pendek. Padat. Berisi. Senang membacanya. Bahkan berulang-kali .. 🙂
Nama Raden Saleh (RS) selalu muncul dalam ingatan, setiap kali membaca atau bicara tentang Pangeran Dipanegara. Ingatan itu muncul berbayang dalam bentuk karya lukisnya tentang penangkapan Dipanegara oleh pasukan Belanda. Entah sejak kapan dan dimana lukisan itu mulai terrekam dalam ingatan. Tak pernah mengulik di internet untuk mencari tahu tentangnya.
Setiap hari di bulan Februari-Maret 2025 yang lalu, selalu melewati jalan Raden Saleh, Cikini ketika pulang dari RSCM. Ingat samar-samar bahwa rasanya dulu ada penunjuk jalan tertulis “Kebun Binatang” atau “Rumah Raden Saleh” di jalan itu. Lupa, entahlah .. Ternyata rumah lama Raden Saleh itu sekarang tertutupi oleh RS. PGI Cikini. Masih ada beberapa rusa di taman hutan depan rumah, menurut satpam disana.
Mulailah berselancar di media sosial mencari info tentang sejarah dan karya-karya Raden Saleh, tiba-tiba muncul di instagram penawaran buku hardcopy bersampul gambar “mencolok mata”, “Pangeran Dari Timur” karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, terbitan Bentang Pustaka, 2020. Novel sejarah tentang Raden Saleh. Yessss … langsung beli.
Ternyata tersedia juga versi ebooknya di Play Books. Buku setebal 605 halaman itu selesai sudah kubaca tak lebih dari empat hari. Puas mengawali keingintahuan tentang Raden Saleh.
…
Penulis
Semakin tertarik untuk membacanya, setelah tahu bahwa kedua penulisnya berasal dari disiplin ilmu seni rupa, fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Sehingga terpercaya dan terasa nyaman ketika mendapatkan penjelasan tentang teknik sapuan kuas diatas kanvas serta berbagai sejarah, gaya lukisan dan para pelukisnya. Termasuk juga dijelaskannya tentang gaya Klasik, Realis, Barok, Impresionis dan gaya lukisan Raden Saleh (Romantik). Menyenangkan mendapatkan sedikit pencerahan tentang gaya lukisan Rembrandt (era Barok), Delacroix (era akhir Romantik), dll.
Tertulis di halaman terakhir bukunya, tentang Penulis. Iksaka Banu, kelahiran Yogyakarta, 1964. Aktif menulis sejak kecil. Tulisan fiksinya banyak dimuat di berbagai media utama. Juga banyak mendapatkan penghargaan.
Sementara Kurnia Effendi banyak aktif di dunia sastra sejak tahun 80an. Sebagai penulis, instruktur, juri maupun kurator karya sastra. Tiga puluh penghargaan sastra diraihnya, termasuk di dalamnya 8 penghargaan sebagai juara pertama. Mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud untuk penelitian tentang Raden Saleh di Belanda.
…
Gerakan Seni Rupa
Sedikit kutipan dari novel ini, sebagai pengetahuan, terkait gaya seni rupa,
Rembrandt pelukis berbakat pada awal abad ke-16. … dia sangat menguasai nuansa gelap terang pada sosok-sosok yang digambarnya… Rembrandt hidup di masa ketika gaya Barok berjaya. Barok adalah pembaruan dari aliran Klasik. Untuk memudahkan mengenali aliran itu, dapat dilihat dari gelap terang yang sangat kontras dalam komposisi lukisannya dan dari kostum para manusia yang dilukis. Umumnya, Barok menampilkan postur seseorang atau beberapa orang yang berdandan berlebihan.
The Night Watch by Rembrandt 1642
Delacroix. Dia salah seorang seniman Prancis pengikut aliran Romantik. … Ciri khasnya adalah goresan kuas liar, penuh warna cemerlang yang saling bertabrakan, serta enggan menjaga ketertiban batas garis bentuk. Bisa saja warna kulit dan warna baju saling tumpang tindih. Kelak, gaya sapuan kuas semacam ini menjadi fondasi aliran Impresionis, aliran yang datang tak lama setelah Romantik meredup. Jadi, sesungguhnya Delacroix … adalah generasi pamungkas gerakan Romantik.
“Liberty Leading the People” by Eugéne Delacroix, 1830
Gaya dialogis cukup nyaman digunakan Penulis yang alumni Seni Rupa ITB itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang gaya lukisan Romantik,
“Gerakan Romantik sesungguhnya adalah ― sebut saja untuk mudahnya – jawaban atas kejenuhan masyarakat seni di Eropa terhadap aliran Neoklasik.”
Aliran itu juga tidak pernah membuat pembaruan yang berarti. Hanya ada perubahan kecil di sana sini dari aliran Klasik, pendahulunya. Orang sudah bosan dan terlalu hafal kisah dewa-dewi Yunani atau pahlawan Romawi. Lihat saja lukisan Jacques Louis David pada awal kariernya. Begitu mudah ditebak. Lukisan “Mars Kontra Minerva”, “Paris Menculik Helena”, “Leonidas di Thermopylae”, “Jenderal Belisarius Menjadi Pengemis”, danseterusnya.
Semua terungkap begitu gamblang dalam sekali lihat. Simetris, bersih, tertib, dan bila mereka menggambar wajah atau gerak tubuh manusia, biasanya terlihat anggun. Tak ada kejutan.
Leonidas at Thermopylae, 1814, by Jacques-Louis David
… pemantik lain aliran Romantik, yaitu kehadiran Revolusi Industri. Revolusi besar itu dianggap telah menghilangkan banyak nilai kekerabatan manusia. Keluarga yang pada masa sebelumnya bisa berkumpul jam lima sore setelah selesai menggarap ladang, kini terpaksa bekerja hingga larut malam di pabrik-pabrik dengan gaji rendah sehingga satu keluarga perlu dikerahkan untuk memburu penghasilan. Keadaan itu membuat banyak orang menjadi melankolis. Mereka disergap kerinduan, mengingat masa lalu yang romantis.”
Intinya, lukisan Romantik berusaha menggambarkan manusia pada tatanan sosial sebelum ada mesin-mesin, yang mengatur hidup secara mekanis. Lukisan gaya Romantik bermain dengan horor, teror, darah, gerak tubuh penuh semangat, serangan mendadak, perkelahian binatang, bencana besar, kecelakaan, atau manusia dikoyak hewan buas.
…
Gaya Penulisan
Buah dari riset penulis di Belanda sangat terasa dalam novel ini. Kekayaan penulisan sejarah dan budaya yang rinci atas berbagai peristiwa kunjungan, kegiatan dan banyaknya relasi Raden Saleh dengan para pejabat dan pesohor seni rupa di negara-negara Eropa tentu didasarkan pada kelengkapan kepustakaan. Sudah jamak kita dengar bahwa kepustakaan tentang sejarah Hindia Timur lebih banyak bisa diperoleh di Belanda.
Ketika mulai membaca novel ini, sedikit kaget, bosan dan bingung. Karena urutan waktu yang terasa melompat-lompat. Cerita dimulai pada awal abad 20 di bab 1, tiba-tiba lompat mundur ke awal abad 19 pada bab berikutnya. Kemudian kembali lagi ke abad 19. Demikian seterusnya. Unik.
Ternyata, lompatan waktu tersebut terjadi karena novel ini bercerita tentang dua peristiwa yang berbeda. Bukan cerita tentang dua peristiwa sebab-akibat. Tokoh, latar-belakang, juga waktu yang berbeda. Yang sama adalah keduanya bercerita tentang seni rupa, penjajahan dan semangat perjuangan.
Cerita Pertama tentang sejarah kehidupan Raden Saleh, yang diawali pada masa kecilnya di tahun 1820. Cerita Kedua tentang kehidupan masyarakat pecinta lukisan di Bandung yang berujung pada perjuangan masyarakat umum dan partai politik, menentang kolonialisme Belanda di abad 20.
Perilaku, gestur, tutur kata dalam dialog dan gaya berpakaian serta situasi lingkungan seringkali digambarkan secara rinci, dengan gaya bahasa yang enak mengalir tak membosankan. Nama-nama jalan pun banyak disebutkan dalam bahasa lama, seperti Nijlandweg (Cipaganti), Buitenzorg (Bogor), Berg en Dalseweg (jalan Ciumbuleuit), Bronbeekweg (jalan Sukajadi), Schoolweg (jalan Merdeka), dll. Membangkitkan imajinasi suasana budaya feodal kolonial abad 19.
…
Cerita Pertama
“Penangkapan Dipanegara” oleh Raden Saleh
Sejarah Raden Saleh dimulai dengan ngèngèr, menumpang hidup dalam perlindungan dan didikan pamannya, Raden Aria Adipati Sura Adi Menggala V, Bupati Semarang. Tahun 1819, ketika Saleh masih sangat muda, sang paman mengijinkan dirinya diboyong ke Cianjur oleh dua orang Belanda, Capellen dan Reinwardt. Untuk sekolah misionaris, supaya bisa belajar melukis dibawah bimbingan pelukis handal, Adrianus Bik. Tinggal di rumah Bupati Cianjur, sepupu dari sang paman.
Belum sampai usia 10 tahun, Saleh sudah mesti pindah lagi ke Buitenzorg (Bogor) untuk lebih serius belajar melukis dibawah bimbingan Joseph Payen. Dan tinggal di rumah sang guru tersebut. Dari sini dimulai kehidupan karir Raden Syarif Saleh Bustaman. Relasi dengan pejabat Hindia semakin banyak, hingga mendapatkan beasiswa dari kerajaan untuk sekolah seni rupa di Belanda.
Tahun 1830, sampai di Amsterdam, Belanda, Raden Saleh belajar melukis di sekolah milik Cornelis Kruseman. Seorang ahli lukis potret. Juga berkesempatan belajar melukis dari seorang maestro lukisan pemandangan Andreas Schelfhout.
Raden Saleh semakin tenar karena mendapat pesanan untuk melukis potret para selebriti politik Belanda. Pergaulan di tingkat elite pun semakin meluas. Kota ‘s Gravenhage menjadi kota kenangan indah yang seringkali disebut dalam novel ini. Kota di Belanda, tempat Raden Saleh mulai berkarir profesional sebagai pelukis dunia.
Dalam bab “Arah Angin”, diceritakan tentang ditangkapnya Pangeran Dipanegara oleh jenderal de Kock, Belanda. Termasuk di dalamnya kisah tentang pengkhianatan panglima perang, Alibasyah Sentot.
Kisah tragis ini mengilhami Raden Saleh untuk menuangkan kekesalannya, sebagai sikap politis, terhadap kolonialisme Belanda, ke atas kanvas di tahun 1856-1857. Menjadi karya lukis yang sangat tenar “Penangkapan Dipanegara”. Lukisan ini dibuat, sebagai respon atas lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Paneman, yang merendahkan perjuangan Dipanegara, berjudul “Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock”.
“Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock” oleh Nicolaas Paneman
Atas upaya gurunya, Cornelis Kruseman, Raden Saleh mendapat perpanjangan kontrak untuk terus belajar seni lukis di Belanda. Bahkan mendapat kesempatan belajar dan berpameran lukisan di Jerman, Italia dan Perancis.
Berkenalan dengan lukisan dan beberapa pelukis kaliber dunia, membuat kualitas karya Raden Saleh semakin tumbuh dinamis, tak lagi hanya lukisan potret,
“… Aku ingin menjadi seorang artis, yang ikut terlibat dalam suatu gerakan pembaruan kesenian. Aku ingin melukis sesuatu yang bergerak dinamis. Sesuatu yang berteriak, melompat, mencabik-cabik, bukan wajah-wajah kaku yang duduk dalam posisi tiga perempat badan menghadap depan dengan latar gelap sambil mengatupkan mulut dan menyilangkan kaki seperti ini”
Dari lukisan potret, Raden Saleh mulai bergerak ke lukisan yang lebih dinamis, kejam namun tetap dalam gaya Romantik. Tema pergulatan antara singa dengan kerbau, berburu singa, diterkam singa, badai laut, kapal karam, dll. menjadi warna baru.
Tahun 1840, Raden Saleh mulai keliling Eropa untuk pameran lukisan dan belajar lebih banyak tentang gaya Romantik dari para pelukisnya. Mulai dari kota-kota di Jerman, seperti Dusseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Maxen dan Coburg.
Seperti banyak terlihat dalam foto-fotonya, Penulis menceritakan bahwa sejak tinggal di Dresden, Raden Saleh mulai gemar membalut tubuhnya dengan pakaian adat Jawa: blangkon, surjan, kain. Namun, sering pula dia menggabungkan pakaian Jawa tadi dengan turban, salwar Turki, atau jubah penuh sulaman emas hasil rancangannya sendiri.
Setelah 5 tahun di Jerman, tahun 1845, Raden Saleh menginjakkan kakinya di Paris, Perancis dalam usia 32 tahun. Di kota Tournai, bertemu sahabat lama Joseph Payen. Pelukis Maestro Romantik, Horace Vernet dan Delacroix menjadi alasan utama Raden Saleh berkunjung ke Paris. Untuk belajar darinya. Raja Louis-Philippe pun sempat menerimanya di Paris.
Tahun 1847, lukisan Raden Saleh berjudul “Berburu Rusa” terpampang di dinding pameran di event Pameran Salon Paris, Louvre. Bersama pelukis dunia lainnya seperti Eugene Delacroix, Ziegler, Horace Vernet, dll. Dan era gaya Romantik pun memasuki masa akhirnya.
Khalayak umum seringkali mempertanyakan sikap Raden Saleh terkait dengan kedekatannya pada kolonialis Hindia Belanda saat itu. Penulis sebenarnya telah menafsirkan sikap Raden Saleh tersebut dengan jelas melalui dialog yang disampaikan pada bab “Kembali ke Jawa”. Untuk lebih jelasnya silahkan membacanya sendiri pada bab tersebut diatas.
“Berburu Rusa” oleh Raden Saleh, 1846. Museum Mesdag. The Hague
November 1851 Raden Saleh berangkat dari Rotterdam, pulang ke Hindia via Colombo menggunakan kapal uap Macassar. Berbobot 350 ton dengan panjang tak lebih dari 100 meter dan berkecepatan 9 knot per jam.
Diperkirakan kapal sandar di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia pada bulan Feb/Mar 1852. Di pelabuhan itu juga, Raden Saleh pertama kali bertemu dengan Constancia Winkelhagen, yang kelak menjadi istrinya. Cerita romantis pun terselip dalam kisahnya, ketika tahun 1854 dia melamar Constancia, janda pengusaha batik dan parfum di hotel Rotterdam dengan memasangkan cincin di jari manisnya.
Tahun 1857 Raden Saleh mulai membangun rumah besar di Cikini. Constancia, sang istri yang sangat mencintainya, membiayai sepenuhnya, dan menamai rumah itu Tanzhaus (Rumah Dansa). Mereka berharap nanti akan tersedia ruang untuk berdansa di dalam rumah tersebut. Rencana rumah besar mewah dengan kebun binatang di depannya. Persis seperti apa yang dicita-citakan mereka berdua sebelumnya.
Rumah Raden Saleh, Cikini. 26 Agt 2025
Drama domestik pun menjadi persoalan serius. Constancia terpaksa berpisah dengan Raden Saleh, karena tak mampu lagi mengelola tekanan budaya rasis kolonial. Isu Belanda vs Pribumi sudah sangat mengganggu kebahagiaan mereka. Dan tahun 1867, Rumah Cikini pun akhirnya dijual oleh pemiliknya, Constancia.
Budaya rasis di Hindia Timur ini memang dirasakannya semakin menyiksanya. Bahkan perlakuan rasis ini tak sedemikian besar dirasakannya ketika tinggal di Eropa. Disana ia justru mendapatkan perlakuan istimewa karena keahlian melukisnya dan kedekatannya dengan para pejabat.
Sesungguhnya Raden Saleh memang lebih merasakan kedekatan emosional dengan Dresden, Jerman daripada Belanda, seperti dikatakannya dalam buku ini,
“Namun, dari lingkungan Jerman-lah aku merasakan ikatan cinta kasih, rasa persaudaraan yang tulus, kesetaraan, dan pengakuan atas keberadaan diriku apa adanya. Itulah masa terindah dalam hidupku, meskipun hanya empat tahun lamanya.”
Raden Saleh masih sempat kembali ke Eropa bersama istri, Raden Ayu Danudireja dan putri tunggal angkatnya, Sarinah, untuk menemui kolega lamanya, atas undangan Adipati Agung Saxen-Coburg-Gotha. Cukup banyak cerita menarik disampaikan Penulis pada kesempatan kunjungan selama 3 tahun tersebut.
Raden Saleh dan Raden Ayu Danudireja
Novel sejarah ini ditutup dengan cerita wafatnya Raden Saleh. Kapan dan bagaimana proses wafatnya, serta bagaimana selanjutnya dengan nasib sang istri Raden Ayu Danudireja dan putri tunggalnya, Sarinah? Silahkan membacanya. Menarik dan tak akan bosan menikmatinya hingga halaman terakhir.
…
Cerita Kedua
Bila Cerita Pertama tentang Raden Saleh dimulai pada tahun 1820, maka Cerita Kedua ini dimulai di tahun 1924.
Ini cerita tentang kehidupan masyarakat di kota Bandung di zaman pergerakan seperti Boedi Oetomo, Cokroaminoto, Syarikat Islam dan partai-partai politik. Tentu di masa penjajahan kolonial Belanda. Tak ada kesetaraan. Masyarakat pun dibuatnya berkelas. Perlakuan yang merendahkan sangat dirasakan oleh kelas bawah. Bahkan untuk masuk ke dalam restoran saja, mereka yang di kelas bawah tersebut tak diperkenankan. Banyak papan pengumuman larangan bagi pribumi seperti ini terpasang di berbagai area, “Verboden voor Honden en Inlander”. Rasis.
Dimulai dengan kisah perkenalan antara Ratna Juwita -gadis asli pribumi, putri seorang janda yang kawin lagi dengan Thadeus van Geelman, jurnalis Belanda-Perancis-, dengan arsitek yang juga penggemar lukisan Latief Syamsudin Harja Adisurya. Kelak mereka menjadi suami-istri. Syamsudin adalah konservatif yang berpandangan bahwa “Bumiputra belum saatnya mengambil alih pemerintahan. Perlu lebih banyak yang mampu menguasai berbagai pekerjaan lebih dahulu”. Bukan anggota Pergerakan, meskipun mendukungnya.
Ratna (20 tahun) adalah pengagum Rembrandt, yang beraliran Barok, pelukis awal abad 16. Penjelasan tentang aliran Rembrandt ini disampaikan penulis dalam bab “Malam Tahun Baru”. Saat itu Ratna punya minat besar terhadap lukisan beraliran Romantik dan Delacroix. Aliran lukisan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan dengan Cerita Pertama tentang Raden Saleh.
Pertemanan Ratna semakin berkembang, hingga berkenalan dengan Syafei, karyawan Syamsudin. Terjadi hubungan romantis dengannya. Secara rahasia, dia adalah anggota partai PKI.
Cerita berlanjut dengan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan bangsa mulai tumbuh. Perjuangan fisik tak terhindarkan. Dan pergerakan bersenjata PKI pun mulai terjadi. Berujung ditangkapnya Syafei dan di”buang” Belanda ke Digul, Irian Jaya.
Bumbu romantisme hubungan Ratna, Syafei dan Syamsudin serta pergerakan bawah tanah PKI melawan Belanda, hingga diasingkannya para pejuang ke Digul, cukup menarik untuk dinikmati.
…
Relasi kedua cerita
Keduanya bercerita tentang perjuangan. Dalam cerita utama, Penulis menyajikan Raden Saleh sebagai seniman pelukis profesional. Karyanya, Penangkapan Pangeran Dipanegara mengesankan kemarahan Raden Saleh terhadap kesewenang-wenangan Belanda. Rasa kebangsaan pun tergambarkan disana. Pangeran Dipanegara berdiri sama tinggi dengan wajah tegak menatap penangkapnya, jenderal De Kock. Perjuangan Raden Saleh dilakukan melalui sapuan kuas. Lukisan
Berbeda dengan zaman Raden Saleh di abad 19, cerita ke-2 terjadi pada abad ke 20, perjuangan fisik memang sudah memasuki masanya. Jepang. Inggris dan kembali Belanda memasuki negeri ini, dengan kekejaman bersenjata.
Keduanya dalam semangat perjuangan, dengan media yang berbeda.
Terganggu penelusuranku akan buku-buku bagus di tengah toko buku tenar itu, ketika mencuat di sudut mata, tumpukan buku tertata rapi. Tebal berwarna sama. Menantang untuk mendekatinya. “Pulang”, karya Leila S. Chudori. Sebuah novel tebal, 461 halaman. Familiar dengan penulisnya. Langsung ku beli bukunya, dalam format digital.
Novel lama terbitan 2012, namun telah diterbitkan ulang untuk yang ke-18 kalinya di tahun 2021. Beda cover.
Teringat akan penulisnya. Dia biasa menyajikan artikel di harian Kompas, dalam kolom psikologi di awal tahun 80an. Kalau tak salah, menggantikan kolom yang biasa diisi oleh M.A.W. Brouwer. Kolom yang aku sukai di masa itu.
Pertengahan tahun 2000an, pernah kubaca di internet tentang kehidupan Sobron Aidit yang membuat resto masakan Indonesia di Paris bersama teman-temannya, sesama ‘eksil’. Nama restonya adalah Restaurant Indonesia, beralamatkan di 12 Rue de Vaugirard, Paris. Alamat tersebut persis sama dengan lokasi restoran yang tertulis dalam novel Pulang. Sepertinya, Leila menggunakan kisah Sobron Aidit sebagai inspirasi penulisan novelnya. ‘Eksil’ adalah kata yang pertama kali ku dengar ketika kasus G30S menyeruak di ruang publik melalui diskusi, film, buku, media berita atau media sosial lainnya. Yaitu, mereka yang terasingkan di luar negeri dan tak bisa pulang ke negeri sendiri karena alasan politik.
Garis besar cerita, secara singkat disajikan pada Sampul Belakang buku, yang isinya kira-kira sbb.:
Pulang bercerita tentang perjalanan panjang seorang eksil politik Indonesia, Dimas Suryo, pada tahun 1965. Saat itu terjadi pergolakan politik besar di Indonesia, yang kita kenal sebagai G30S/PKI. Dimas adalah seorang koresponden kantor berita di Paris, tiba-tiba dicabut paspornya. Ia dan tiga kawannya, yaitu Tjai, Risjaf, dan Slamet, terjebak di pengasingan dan tidak bisa kembali ke tanah air yang mereka cintai.
Ditengah kepahitan dan kerinduan akan Indonesia, mereka bertahan hidup dengan mendirikan restoran Indonesia “Tanah Air” di Paris. Restoran ini menjadi simbol perjuangan, tempat berkumpulnya sesama eksil, sekaligus menjadi penanda identitas mereka di negeri orang. Di sinilah Dimas bertemu Vivienne Deveraux, seorang perempuan Perancis, mahasiswa Sorbonne yang kemudian menjadi istrinya dan melahirkan anak mereka, Lintang Utara.
Cerita berlanjut dengan kunjungan Lintang ke Jakarta di era Reformasi 1998. Tersurat cerita tentang adanya brutalitas kemanusiaan massal di Jakarta saat chaos tersebut, Leila menulisnya di halaman 449,
Melalui siaran televisi, dengan tega mereka menyiarkan korban yang terbakar. Bertumpuk dan dimasukkan begitu saja ke dalam kantong hitam. Dan aku tak bisa lagi menyebutkan kisah-kisah tentang penyerangan dan perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa. Ceritanya begitu simpang siur dan terlalu grotesque sehingga kepalaku terasa digedor-gedor.
Lintang merasakan kerinduan akan sebuah “rumah” yang tak pernah ia kunjungi, Indonesia. Sebuah warisan sejarah kelam yang menentukan identitas dirinya serta membayangi hidup ayahnya.
Turunnya Presiden Soeharto menjadi euphora kesuksesan perjuangan Reformasi mahasiswa saat itu, yang disajikan Leila dengan tulisan Di halaman 443,
Tanggal 21 Mei, ketika Presiden Soeharto mengucapkan pidato pengunduran dirinya, kami semua menjerit. Restoran Tanah Air hampir meledak karena teriakan kami terlalu keras. Om Nug dan Om Risjaf yang tengil itu berteriak mau mencari kambing untuk disembelih. …
Pulang adalah kisah keluarga yang mengharukan tentang kekejaman ideologis, cinta, dan kerinduan yang mendalam akan tanah air.
Komentar
Pulang adalah novel sejarah semi-dokumenter politik negeri ini. Membacanya serasa melakukan lompatan waktu jauh ke masa lalu. Bapakku ketika itu begitu khawatir hingga perlu membakar atau menyembunyikan koleksi bukunya di atas plafon kamar tidur. Tak jelas benar buku apa itu semua. Tapi aku yakin pasti terkait dengan sosial-politik. Karena beliau adalah wartawan freelance untuk koran daerah saat itu.
Dampak politik G30S/PKI senyatanya memang mencekam. Akhir 1980an pun masih terasa. Kami yang lulus kuliah dimasa itu, masih harus bisa menunjukkan bukti Bersih Lingkungan.
Terpancing keingintahuan lebih jauh ketika sedang membaca novel ini. Tautan internet terkait dengan kisah para eksil bisa dilihat dan dibaca dalam daftar Tautan di bawah ini. Tentu masih banyak lagi berserakan informasinya yang tak tercatat disana.
Leila sukses menyajikan keteguhan sikap dalam memperjuangkan serta mempertahankan jatidiri.
Menarik dan sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai pengingat akan bahayanya konflik politik yang tak terkendali. Atau justru bagian dari pengendalian politik? Ah entahlah …
Tak kalah dengan Olah Raga, Olah Rasa dengan membaca novel atau tulisan yang mengusik rasa dan memancing pikiran kritis pun perlu rutin dilakukan. Sharpen the saw kalau pakai istilah ‘Seven Habit’nya Stephen Covey.
Buku The Metamorphosis karya Franz Kafka dalam format ebook ini, adalah novel ketiga genre Fabel atau Alegori yang pernah kubaca. Dua novel sebelumnya adalah karya George Orwell, yaitu Animal Farm dan 1984. Ketiganya tersimpan dalam blog ini.
Novel-novel klasik pada umumnya, seperti karya Orwell, Chekov, Gogol, Voltaire, de Cervantes, dll., yang sempat terbaca dan juga tersimpan dalam blog ini, cenderung penuh pesan moral, filosofis, surialis, absurd. Memang perlu sedikit kernyit dahi untuk membacanya. Seringkali getir. Lelah namun memancing kritis. Mencerahkan.
Novel Kafka ini pada awalnya dalam format cerita bersambung di majalah sastra Jerman, Die weiße Fahne (Bendera Putih), yang diterbitkan oleh teman-teman Kafka di tahun 1915. Kemudian diterbitkan ulang dalam format buku pada bulan Desember 1915. Mungkin ada editing sana-sini sehingga bisa disajikan dalam format buku yang lebih nyaman untuk dibaca. Buku setebal 63 halaman ini disajikan dalam tiga bagian. Menurut amazon.com, ini adalah novel terpanjang karya Franz Kafka.
Latar Belakang
Franz Kafka (3 July 1883 – 3 June 1924) menulis novel The Metamorphosis antara tahun 1912-1915. Kafka berusia 32 tahun dan tinggal di Prague, ibu kota Republik Ceko. Saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austria-Hungaria, di bawah pemerintahan Kaisar Franz Joseph I.
Franz Kafka, 1923
Suasana kehidupan sosial yang menekan akibat gejolak regional di masa Perang Dunia I dan situasi politik domestik negaranya yang represif otoriter menjadi beban sosial ekonomi masyarakat. Inflasi, pengangguran yang tinggi dan kelangkaan barang dan jasa sebagai akibat fokus pemerintah lebih ditujukan untuk kepentingan perang menjadi penyumbang besar depresi sosial. Belum lagi Keresahan masyarakat Hungaria yang lebih menginginkan berpisah dengan Austria juga menambah ketegangan.
Kondisi sosial eksternal yang buruk semakin membenamkan Franz Kafka dalam kesulitan ketika situasi domestik keluarga juga tidak menguntungkannya.
Tahun 1915, saat Metamorphosis ditulis, Rusia menjelang Revolusi Komunis dengan Marxisme sebagai basis ideologinya. Namun tak jelas benar, apakah Franz Kafka terinspirasi oleh ideologi Marxism atau tidak. Yang jelas adalah, Metamorphosis berisi tentang alienasi, ekonomi kapitalistik, ketidakadilan dan ketidakberdayaan terhadap kekuasaan dan birokrasi yang menindas. Metamorphosis juga mencerminkan kritik terhadap sistem sosial dan eksistensialisme yang mengungkapkan absurditas hidup manusia.
Franz Kafka bekerja sebagai pegawai asuransi. Profesi ini ia jalani untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai pekerjaan tersebut. Kafka merasa terkekang dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk fokus pada minat utamanya, yaitu menulis.
Franz adalah anak lelaki tunggal selain tiga perempuan saudara kandungnya. Ketegangan domestik yang terjadi lebih disebabkan oleh peran otoriter ayahnya. Sang ayah, Hermann Kafka, adalah seorang pria yang kuat, dominan, dan sukses dalam bisnis, sementara Franz adalah seorang yang sensitif, introverted, dan lebih tertarik pada sastra. Merasa tidak pernah memenuhi harapan ayahnya, sehingga menjadi beban mental baginya.
Hubungan dengan ibunya cenderung lebih dekat dibandingkan dengan ayahnya, namun tetap merasa tidak dipahami dan terabaikan oleh keluarganya secara keseluruhan.
Franz Kafka menderita berbagai masalah kesehatan, termasuk insomnia, sakit kepala, dan masalah pencernaan. Masalah kesehatan ini mungkin disebabkan oleh tekanan mental yang ia alami dalam kehidupan pribadinya dan pekerjaannya.
Secara keseluruhan, situasi domestik Franz Kafka pada tahun 1915 ditandai dengan ketegangan dengan ayahnya, pekerjaan yang tidak disukai, masalah kesehatan, dan ketidakpastian akibat perang. Semua faktor ini mungkin berkontribusi pada perasaan terasing (Karl Marx: alienasi), ketidakberdayaan, dan kecemasan yang ia rasakan, yang kemudian tercermin dalam novelnya, “The Metamorphosis”.
Sinopsis
Kutipan dari keluhan Gregor Zamza, tokoh utama, di hari pertama, pada bagian awal novel The Metamorphosis di bawah ini, bisa menjadi penanda inti cerita,
“Oh my God”, he thought, “what a tedious profession I’ve chosen! Day after day I travel around. There is more to worry about compared to when you stay at the same place, the shopping center. Besides, you have to endure the hardships of life on the road, bother yourself with the train schedules, accept your irregular and unhealthy eating patterns and engage in a multitude of fleeting, and never heartfelt, relationships. To hell with it all!”
Rasa keterpurukan, teralienasi, beban sosial dan putus asa akibat hilangnya empati dari lingkungan terdekat meskipun perhatian dan kerja keras telah dilakukan untuk kepentingan bersama.
Cerita hanya berkisar dalam satu rumah. Dihuni oleh keluarga sederhana yang terdiri dari Gregor Zamza, Ayah, Ibu, adik, pembantu.
Suatu hari Gregor Zamza, mendapati dirinya berubah menjadi seekor serangga ketika bangun pagi di kamarnya. Meskipun wujud telah berubah, Gregor tetap memiliki sepenuhnya kesadaran kritis manusia dengan perasaan yang penuh konflik.
Dengan ayah yang sudah lewat masa produktifnya, Gregor sebagai kepala keluarga yang bekerja keras sebagai sales asuransi, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, namun perubahan fisik tersebut menjadi sebuah bencana besar baginya. Semangat Gregor masih tinggi pada awalnya, untuk melanjutkan rutinitas, namun tubuhnya yang baru tidak memungkinkannya. Keluarganya, yang sebelumnya bergantung padanya, merasa takut dan malu terhadap perubahan fisik yang aneh. Mulailah mereka menjauh dan menganggapnya sebagai beban keluarga.
Sementara Gregor berjuang untuk menerima kenyataan baru dalam hidupnya, ia juga menghadapi penolakan dan kebencian dari keluarganya. Mereka yang dulu merawatnya kini mulai bersikap acuh dan bahkan kasar padanya. Meskipun begitu, Gregor tetap berharap dapat kembali ke keadaan semula, tetapi kesendirian dan penolakan semakin memperburuk kondisinya.
Tak banyak cerita penting dalam novel ini selain kondisi keterasingan Gregor yang terkurung dalam kamarnya, dan penolakan keluarga terhadapnya. Kecuali Ibunya yang digambarkan masih simpatik terhadapnya.
Lalu, bagaimana ujung dari nasib Gregor dengan tubuh barunya? Tak hendak membocorkan keseluruhan detail cerita, dipersilahkan para sahabat untuk menikmati sendiri novelnya. Selain format hard copy, tersedia juga format eBook untuk Play Books dan Kindle di berbagai toko buku online. Atau format pdf di tautan The Metamorphosis.
Who controls the past, controls the future. Who controls the present, controls the past. The party controls all human memories.
George Orwell
Kembali ingat beberapa tahun lalu, membaca karya George Orwell, “Animal Farm” yang begitu kelam. Meskipun cukup jenaka, karena semua pelakunya adalah binatang. Simbol-simbol kehidupan masyarakat dibawah kekuasaan pemerintahan totaliter. Kini kembali tersaji novel distopia politis olehnya yang lebih gelap mencekam, “1984”. Masih hal yang sama, kritik terhadap Totaliterisme.
Novel karya Orwell ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1949. Diterjemahkan oleh Landung Simatupang. Dan diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang setebal 397 halaman. Edisi pertama terbit tahun 2003, dan hingga saat ini sudah mencapai edisi ke-8, 2024.
George Orwell adalah nama pena dari penulis kenamaan berkebangsaan Inggris, Eric Arthur Blair (25 Jun 1903 – 21 Jan 1950). Seorang novelis, jurnalis BBC di era PDII, kritis terhadap totaliterisme, sekaligus pendukung sosialis demokrat.
Waktu
Pembungkus pesan anti totaliterisme Orwell berada dalam alur cerita berlatarbelakang perang di tahun 1984. Itu adalah cerita futuristik atau fiksi masa depan, karena novel ini diterbitkan tahun 1949.
Cukup berat pesan yang ingin disampaikan Orwell kepada pembaca. Perlawanan terhadap totaliterisme. Penjajahan terhadap kebebasan berpikir, berpendapat, berbicara, berkumpul dan segalanya yang berbeda dengan maksud penguasa. Untuk itu, alur cerita kelam perlu disajikan olehnya. Berbagai tindak pengawasan dan kekerasan hukuman sering sulit terbayangkan bila hanya melalui cerita saja. Brutal. Pengalaman hidup dan kekayaan literasi pembaca akan sangat membantu untuk memahami novel ini.
Film 1984 berdasar novel dengan judul yang sama, cukup membantu visualisasi novel ini. Film hitam/putih produksi 1954 ini disutradarai oleh Michael Radford. Dibintangi oleh John Hurt (Winston Smith) dan Richard Burton (O’Brien).
Tokoh Utama
Winston Smith (39 tahun), bekerja di Ministry of Truth. Bertugas mengubah dan memanipulasi catatan sejarah, artikel berita dan berbagai dokumen, sehingga sesuai dengan propaganda resmi yang dipublikasikan oleh Partai.
Julia: pacar Winston, bekerja di Ministry of Love. Bertanggungjawab untuk penegakan hukum dan penyiksaan.
O’Brien: Pejabat tinggi di Ministry of Truth. Loyalis partai (Inner Party). Bertanggungjawab terhadap pembentukan dan pelaksanaan doktrin Partai, serta “re-edukasi” atau pencucian otak bagi individu yang tidak setia, termasuk Winston.
Wilayah
Eurasia terdiri atas seluruh bagian utara dan massa daratan Eropa dan Asia, mulai dari Portugal sampai Selat Bering.
Oceania terdiri atas kawasan-kawasan Amerika, pulau-pulau Atlantik yang meliputi Kepulauan Inggris, Australasia, dan bagian selatan Afrika.
Eastasia, yang lebih kecil daripada keduanya dan wilayah perbatasan di sebelah barat kurang tegas, terdiri atas Tiongkok dan negeri-negeri di sebelah selatannya, Kepulauan Jepang, dan sebagian dari Manchuria, Mongolia, dan Tibet yang luas, tetapi selalu berfluktuasi.
Perang Oceania vs Eurasia di awal cerita. Bergeser menjadi perang Oceania – Eastasia di akhir cerita.
Politik
Struktur kekuasaan masyarakat bisa digambarkan sbb.: Puncak tertinggi dalam piramida kekuasaan bangsa Oceania adalah: Big Brother. Pimpinan partai penguasa berideologi IngSoc (English Socialism). Poster wajahnya banyak terpampang di berbagai dinding. Di dalam maupun di luar bangunan. Seolah mengawasi setiap pikiran, ucapan dan gerak-gerik rakyatnya. “BIG BROTHER IS WATCHING YOU”, tertulis di posternya.
Big Brother is infallible and all-powerful. Every success, every achievement, every victory, every scientific discovery, all knowledge, all wisdom, all happiness, all virtue, are held to issue directly from his leadership and inspiration.
Namun tak seorangpun pernah melihat sosok aslinya. Big Brother adalah simbol personalitas partai sosialis bagi dunia.
Dibawah Big Brother adalah Inner Party. Diperkirakan jumlah anggotanya mencapai 6 juta, atau setidaknya 2% dari populasi Oceania. Dibawah Inner Party adalah Outer Party. Jika Inner Party adalah otak pemerintahan, maka Outer Party bisa dianggap sebagai tangan pemerintah. Struktur paling bawah adalah Prole (Proletar). Berjumlah 85% dari populasi.
“Every record has been destroyed or falsified, every book rewritten, every picture has been repainted, every statue and street building has been renamed, every date has been altered. And the process is continuing day by day and minute by minute. History has stopped. Nothing exists except an endless present in which the Party is always right.”
Bahkan kebenaran sejarah pun ditentukan oleh Partai, termasuk negasi terhadap fakta adanya perang Oceania – Eurasia. Menurut Partai, kenyataan ada dalam pikiran. Oleh karenanya muncul slogan Partai:
Who controls the past, controls the future. Who controls the present, controls the past. The party controls all human memories.
Meskipun situasi kehidupan kelam masyarakat dalam pemerintahan totaliter tergambar sejak awal hingga akhir novel ini, namun lebih rinci tentang HOW dan WHY praksis ideologi IngSoc (English Socialism), banyak digambarkan dalam dialog O’Brien dengan Winston di Bab 3.
Penjelasan O’Brien kepada Winston tentang kepentingan Partai:
We are not interested in the good of others; we are interested solely in power. Not wealth or luxury or long life or happiness: only power, pure power.
Menurutnya, Nazi Jerman dan Komunis Rusia sangat mirip dengan ideologi partai penguasa di Oceania, IngSoc (English Socialism), dalam hal metode, tetapi keduanya tidak pernah punya keberanian untuk mengakui motifnya sendiri. Mereka berpretensi bahwa terpaksa merebut kekuasaan untuk sementara saja, dan bahwa sebentar lagi akan sampai ke suatu firdaus tempat manusia hidup dalam kebebasan dan kesetaraan.
Menurut O’Brien, “We know that no one ever seizes power with the intention of relinquishing it. Power is not a means, it is an end. One does not establish a dictatorship in order to safeguard a revolution; one makes the revolution in order to establish the dictatorship”.
Kisah
Awal kisah berlatarbelakang perang Oceania vs Eurasia. Winston Smith (39 tahun), pekerja di Ministry of Truth, tak berdaya. Merasakan pemerintahan yang tidak adil, tidak bebas, tidak setara, tidak terbuka, tidak jujur dll. Tidak demokratis. Sewenang-wenang.
DOWN WITH BIG BROTHER adalah spirit Winston pada awalnya. Dan Emmanuel Goldstein, menjadi tokoh panutannya. Dia dianggap sebagai tokoh perusak kemurnian ideologi Partai. Segala kejahatan berkategori kriminal terhadap Partai, ada pada dirinya. Sebut saja, pengkhianatan, penyimpangan, sabotase, ajaran sesat, semuanya muncul dari dirinya.
Proses pengawasan hingga interogasi menjadi inti cerita. Suasana represif oleh kediktatoran kekuasaan tergambarkan sangat mencekam. Tentu, tak semua aparat pemerintah adalah loyalis ideologis.
Bagaimana kelamnya alam totaliter terlihat dari metoda pengawasan. Digambarkan bahwa proses berpikir pun bisa terdeteksi oleh Penguasa melalui Thought Police. Nothing is ever hidden from Thought Police. Rasa curiga diantara sesama dibangun oleh Penguasa. Dan teknologi pengawasan pun terpasang dimana-mana. Telescreen.
Bahkan kisah cinta Winston – Julia pun terpaksa berakhir tragis ditangan O’Brien karena, They are afraid of love, because love makes a world they can’t control. And it’s a world worth taking risks for.
Interogasi melalui penyiksaan fisik dan mental sangatlah brutal. Bahkan film 1984 pun tak cukup mampu memvisualisasikannya.
Status loyalitas Winston teramati oleh pemerintah. Ditangkap dan ditahan. Bagaimana ujung kisah Winston dalam cengkeraman Totaliter? Bisakah dia bertahan dengan idealismenya? Silahkan membacanya.
Rekomendasi
Konsistensi Orwell dengan sikapnya yang anti Totaliterisme jelas terlihat menjadi misi utama dalam novelnya “Animal Farm” dan “1984” (belum baca karya lainnya).
Supaya lebih memahami pesan Orwell, disarankan untuk membaca versi bahasa Inggris sebagai acuan. Banyak terminologi English Socialism (Newspeak) yang terasa aneh saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penulis membaca versi Indonesia dan Inggris. Film 1984 sangat membantu untuk dapat menafsirkan pesannya.
Penulis ‘beruntung’ terlahir di era Orba, sehingga sempat merasakan nuansa totaliter kala itu, dan bisa membayangkan betapa kelamnya suasana dalam novel ini. Akan membantu pemahaman dialog O’Brien – Winston, bila literatur terkait pemerintahan totaliter bisa dinikmati lebih dulu sebelum membaca novel ini.
Sangat direkomendasikan untuk membacanya. Link ini mungkin bisa menjadi alasan kuat untuk menikmatinya. Dan cobalah renungkan setelahnya, untuk kemudian bandingkan dengan situasi politik saat ini, dimanapun pembaca berada. Selamat membaca.
Jiwa-Jiwa Mati (Dead Souls) adalah novel karya Nikolai Vasilevich Gogol (1809-1852),yang dipublikasikan tahun 1842, di era Tsar Nicholas I. Penulis religius kelahiran Ukraina. Pindah ke Petersburg saat usia 19 tahun, dan wafat di Moskow, Russia dalam usia 42 tahun. Setelah tinggal di Jerman, Perancis, Swiss, Italia dan sempat beribadah ke Jerusalem.
Novel klasik berbahasa Indonesia, terjemahan Koesalah Soebagyo Toer ini, bisa diperoleh di toko buku Gramedia untuk format hard copy nya. Untuk format digital pdf, bisa diperoleh di aplikasi Gramedia Digital dan ipusnas.id. Format ebook berbahasa Inggris, bisa diperoleh di web Project Gutenberg, atau beli di Kindle atau Play Books. Untuk keperluan pemahaman lebih dalam dari isi cerita atau pembuatan resensi, kedua format terakhir paling enak untuk dibaca, karena text bisa dicopy, diwarnai, diberikan catatan dan diekspor ke format txt.
Ini novel satire realis, tentang wabah korupsi di aparat pemerintahan Rusia. Berlatar-belakang abad 19, di kota kecil N, era monarki Rusia, setelah perang dengan Napoleon. Beberapa tahun setelah 1812. Ditengah tingginya kondisi Kemiskinan dan Feodalisme. Getir.
Alkisah, munculnya pendatang baru di kota N. Sosok paruh baya Paul Ivanovitch Chichikov, anggota Dewan Kolegial, yang mengunjungi pejabat-pejabat daerah. Dewan Kolegial adalah pegawai pemerintah tingkat 6. Setingkat lebih tinggi daripada anggota Dewan Pengadilan. Jauh dibawah para jenderal di tingkat 3 atau 4. Chichikov dicitrakan sebagai bujangan, pengusaha kaya yang ambisius, menyenangkan, santun, berpendidikan dan berwawasan. Berpengalaman sebagai pegawai sipil di Pengadilan dan Pabean. Licik dan kikir dalam perkembangannya, ketika obsesi kekayaan semakin menguat.
Chichikov mengalami masa kecil yang suram. Tak berkawan. Ditinggal wafat ayahnya ketika masih usia sekolah. Gogol pun menggambarkan kesepian dan kepatuhan Chichikov dengan gaya sangat kelam.
Dari sekali hidup telah tampak tampangnya yang asam dan tak bersahabat kepadanya, seolah-olah memandangnya melalui jendela yang kabur dan tertabur salju: selagi kanak-kanak ia tak mempunyai teman ataupun kawan main. Sebuah kamar kecil yang mungil dengan jendela-jendela kecil yang tak pernah dibuka pada musim dingin dan panas. Ayahnya, seorang yang cacat, yang mengenakan jas panjang bergaris bulu anak biri-biri dan kakinya yang telanjang mengenakan selop rajut, selalu mengeluh sambil berjalan mondar-mandir dalam kamar dan terus meludah ke dalam tempolong yang penuh pasir di sebuah sudut. Chichikov selalu duduk di bangku memegang pena dengan jari-jari yang ternoda tinta, bahkan juga bibirnya, sedangkan perintah-perintah abadi tampak di depan matanya: “Jangan berbohong! Dengarkan orang tua! Tumbuhkan kebajikan dalam hatimu!”
Setelah menginap semalam di sana, keesokan harinya ayahnya pulang. Tak ada air mata perpisahan pada ayahnya. Ia mendapat lima puluh kopek uang tembaga untuk uang saku dan untuk membeli gula-gula, dan yang lebih penting lagi ialah teguran bijaksana ini: “Ingat, Pavlusha, kerjakan pelajaranmu. Jangan kurang ajar dan jangan nakal. Terlebih-lebih, berusahalah sebaik-baiknya untuk menyenangkan guru dan atasanmu. Kalau kamu menyenangkan atasanmu, keadaanmu akan beres dan kamu akan mendahului siapa saja, sekalipun ternyata kamu sarjana yang buruk, dan sekalipun Tuhan tidak memberimu bakat. Jangan berteman dengan kawan-kawan sekelasmu. Mereka tak akan mengajarkan hal yang baik. Kalau kamu memang ingin berteman dengan mereka, bermainlah dengan yang lebih berada dan bisa bermanfaat untuk kamu. Jangan menjamu atau menyenang-nyenangkan siapa pun, melainkan berlakulah sedemikian rupa sehingga kamu dijamu oleh orang lain, dan terlebih lagi. Berhati-hatilah dengan uangmu dan simpanlah: uang merupakan barang yang paling dapat diandalkan di dunia. Kawan sekelas atau teman bisa menipu kamu dan segera meninggalkan kamu dalam kesulitan, sedang uang tak akan membiarkan kamu jatuh, dalam kesulitan yang bagaimana pun.”
Sesudah menyampaikan ajaran ini, ayah itu pun berpisah dari anaknya dan menyeret diri lagi pulang dengan “burung magpie”, dan sejak itu anaknya tidak pernah lagi melihatnya, tetapi kata-katanya dan ajaran-ajarannya terhunjam dalam di otak.
Paul Ivanovitch Chichikov
Chichikov kecil, Pavlusha, tidak menggunakan peninggalan uang 50 kopek uang tembaga dari ayahnya. Bermodalkan ajaran-ajaran hidup ayahnya, kepintaran dan kreatifitasnya, Pavlusha mampu mencari uang dari berdagang dengan teman-teman sekolahnya. Tak banyak, namun dari sana lah jiwa dagang Pavlusha bermula.
Pavlusha dikenal sebagai murid pintar dan penurut di sekolah. Berkelakuan baik dan menjadi kecintaan gurunya. Tak banyak warisan dari ayahnya, yang meninggal ketika Pavlusha baru saja lulus dari sekolah.
Selama bersekolah ia memperoleh nama yang baik, dan setelah selesai pendidikan ia mendapat angka-angka bagus untuk semua mata pelajaran. Sertifikat dan sebuah buku dengan tulisan huruf emas, “Untuk kerajinan, teladan, dan tingkah laku gemilang”. Keluar dari sekolah ia ternyata menjadi pemuda yang agak menarik penampilannya, dengan dagu yang sudah membutuhkan pisau cukur. Justru pada waktu itulah ayahnya meninggal. Yang diwarisinya hanyalah empat buah sweater wol yang usang dan tak dapat diperbaiki lagi, dua buah mantel tua yang bergaris wol anak biri-biri, dan sejumlah uang yang tak ada artinya. Ayahnya agaknya hanya pandai dalam memberikan nasihat bagaimana menyimpan uang.
Muram, tragis dan semakin kelu kisah Chichikov di tangan Gogol. Tragis dimasa kecil, berubah licik dalam perkembangan usianya. Sepenggal kisah berikut sebagai contohnya:
Dalam keadaan sakit, lapar dan tanpa penolong, tinggallah ia di sebuah gubuk yang tak berpemanas dan telah ditinggalkan orang. Bekas-bekas muridnya, anak-anak yang pandai dan cerdas, yang selalu dicurigai mempunyai tingkah laku bandel dan bermuka tebal, ketika mengetahui nasib guru yang melarat itu, mulailah mengumpulkan sumbangan untuknya dan bahkan menjual banyak barang dengan hasilnya untuk sumbangan.
Hanya Pavlusha Chichikov yang meminta maaf karena tak punya dana dan hanya menawarkan uang perak lima kopek, yang oleh bekas teman sekelasnya dilemparkan kembali kepadanya sambil berkata, “Orang kikir kamu!”.
Guru yang malang itu menutup muka dengan tangan waktu mendengar apa yang dilakukan oleh murid-muridnya; air mata menderas dari matanya yang mengabur seolah-olah ia anak yang suka menolong.
Terperdaya sang Guru oleh kelicikan Chichikov, yang selama sekolah dianggapnya sebagai murid teladan. Hanya karena penurut dan kelihaian menyenangkan gurunya.
Selanjutnya, pemuda Chichikov diterima sebagai Dinas Sipil di Kantor Pengadilan. Obsesinya untuk menjadi kaya, memotivasinya bekerja keras di kantornya.
Berperilaku baik di lingkungan kerjanya. Bahkan mampu mengambil hati atasannya, yang dikenal punya perangai kasar dan kejam terhadap karyawannya. Rajin, penurut dan kerja keras. Begitulah kesan yang dibangun oleh Chichikov dalam bekerja, hingga Juru Tulis Kepala jatuh hati padanya. Bahkan, muncul kesan di lingkungan kerjanya bahwa Chichikov akan menjadi menantunya. Diangkatlah posisi Chichikov menjadi Juri Tulis Kepala. Tak ada lagi cerita tentang calon menantu. Terperdaya lah sang Juri Tulis Kepala tua. Licik dan kejam. Berhenti sudah puasa Chichikov dimasa muda. Penampilan pun berubah gaya. Dan roda korupsi pun mulai berputar.
Namun Chichikov harus pindah kerja, karena tak mampu menaklukkan atasan baru dari militer, yang cukup gigih memerangi korupsi. Lanjut bekerja di jawatan Bea dan Cukai. Pindah lagi, sebagai Pengacara.
Chichikov selalu ditemani Selifan, si kusir kereta berkuda tiga dan Petrushka, berhidung besar dan berbibir tebal, sebagai pengawal yang biasa menjaga kamar penginapannya. Ia berkeliling ke berbagai wilayah di sekitar kota N, untuk menemui banyak pejabat, pengusaha dan petani untuk keperluan bisnis. Perbudakan. Di era monarki Russia dibawah Tsar Nicholas I (1796-1855), pekerja lahan pertanian adalah budak atau aset yang bisa dimiliki dan diperjual- belikan oleh Pengusaha atau Tuan pemilik lahan. Bisnis yang sedang dilakukan Chichikov adalah perdagangan budak. Lebih tepatnya adalah pembelian mantan budak. Hanya nama-nama dari mereka yang sudah mati. Dipergunakan sebagai agunan untuk mendapatkan pinjaman uang. Edann … Kelucuan getir. Satire menyakitkan.
Banyak relasi dengan beragam strata sosial, mulai dari Gubernur hingga petani miskin, dikunjungi Chichikov di berbagai wilayah. Untuk keperluan bersosialisasi menebar citra, demi pembelian ‘mantan budak’. Gogol menyebutnya ‘Jiwa-Jiwa Mati’ atau ‘Dead Souls’.
“Tuan tahu, saya menghendaki orang-orang yang telah mati, tapi masih terdaftar sebagai orang-orang yang masih hidup dalam sensus,” kata Chichikov.
Pembawaan yang santun dan pandai mengambil hati, menyebabkan para pejabat menjadi terpedaya olehnya. Dengan sarkastik Gogol menjelaskannya:
Dalam pembicaraan dengan para penguasa itu ia menunjukkan kecakapan yang besar dalam menjilat mereka, seorang demi seorang, kepada gubernur ia mengisyaratkan secara sambil lalu, bahwa memasuki provinsinya seperti memasuki surga, jalan di mana-mana serata beledu, dan bahwa pemerintah yang telah menunjuk orang-orang penting yang demikian bijaksana patutlah memperoleh pujian yang tertinggi. Kepada kepala polisi ia menyatakan sesuatu yang sangat menjilat mengenai polisi-polisi di kota itu; dan dalam pembicaraannya dengan wakil gubernur dan ketua pengadilan yang masih baru sebagai anggota dewan negara, dua kali ia secara salah mengatakan “yang mulia”, yang memang benar-benar menyenangkan mereka.
Gogol cenderung sinis dan stereotype dalam menggambarkan nasib seseorang. Badan gemuk adalah pejabat atau orang kaya. Sedangkan yang kurus adalah pegawai biasa dan tidak sejahtera hidupnya. Sinis.
Chichikov berkenalan dengan Tuan Tanah Sobakevich yang terkesan canggung, dan Malinov yang cukup mempesona ketika hadir di undangan pesta Gubernur pada hari pertama. Pada saat makan malam dan main kartu bersama Kepala Pos dan Ketua Pengadilan di rumah Kepala Polisi di hari kedua, dia berkenalan dengan tuan tanah periang yang masih muda, Nozdryov. Usia 30 tahunan. Dia juga sempat makan malam di rumah Wakil Gubernur. Dan dengan Ketua Pengadilan di malam lainnya. Chichikov telah sukses memikat warga kota N.
Suatu saat, Chichikov ke luar kota mengunjungi Manilov dan Sobakevich. Dalam perjalannya, digambarkan suasana sunyi kelam:
Begitu kota menghilang di kejauhan, dengan cepat terlihatlah oleh pahlawan kita, segala macam barang dan sampah di kedua sisi jalan, seperti yang seharusnya terlihat di pedesaan: bukit-bukit kecil, pohon-pohon den yang masih muda, macam-macam tumbuhan liar, dan benda-benda yang menyerupai sampah. Mereka melintasi desa-desa yang hanya memiliki satu jalan lurus dan panjang. Bangunan-bangunannya menyerupai tumpukan balok tua, yang ditutupi atap-atap kelabu, sedangkan hiasan-hiasan kayu berukir yang ada di bawahnya tampak seperti handuk bersulam. Seperti biasa, sejumlah petani yang mengenakan mantel kulit biri-biri duduk mengangkang di atas bangku di depan gerbang rumah. Perempuan- perempuan tani dengan muka yang gemuk dan dada yang terbungkus rapat, memandang ke luar dari jendela atas; dari jendela bawah terlihat seekor anak sapi atau seekor babi yang sedang menjulurkan moncongnya.
Gogol biasa menggambarkan para tokohnya dengan rinci. Berikut adalah gaya Gogol menggambarkan sosok Manilov:
Dilihat dari penampilannya, ia orang yang tampak mengesankan; garis-garis wajahnya agak menyenangkan, tapi hal yang menyenangkan terasa terlalu banyak mengandung gula; dalam tingkah laku dan cengkok bicaranya ada sesuatu yang agaknya menuntut simpati menghendaki kasih, dan persahabatan. Ia tersenyum memikat. Rambutnya pirang dan matanya biru muda. Pada menit pertama bercakap-cakap dengannya, bagaimana pun kita akan mengatakan, “Alangkah baik dan menyenangkan orang ini!” Pada menit berikutnya kita tak akan mengatakan sesuatu, dan pada menit yang ketiga kita akan mengatakan, “Terkutuklah kalau aku mengerti dia!” dan kita akan menjauhkan diri darinya sejauh-jauhnya, karena kalau tidak, kita akan bosan setengah mati. Kita tak akan pernah mendengar satu kata pun yang bersifat merangsang atau bahkan sombong darinya.
Malinov bahagia dengan perkawinan yang sudah lebih 8 thn dilaluinya. Kemesraan selalu mengiringi sehari-hari kehidupannya. Di rumah ia sedikit bicara. Kebanyakan hanya berpikir dan merenung. Bekas tentara. Dianggap sebagai perwira sederhana, bijaksana dan beradab.
Situasi sosial di jaman Tsar Nicholas I menempatkan perempuan tak beda jauh dengan budaya saat ini. Tiga pelajaran pokok para murid perempuan di Rusia yang dianggap sebagai dasar kebajikan manusia saat itu adalah: bahasa Perancis yg tak boleh dihindari, piano untuk disuguhkan pada para suami, dan ilmu rumahtangga seperti merajut, dll.
Untuk menunjukkan ketidak-setaraan perempuan terhadap laki-laki, Gogol menggambarkan bahwa jiwa perempuan yang ditawarkan Sobakevich tidak diminati oleh Chichikov. Walaupun dengan harga murah sekalipun, 1 rubbel. Jiwa mati laki-laki dibeli Chichikov dengan harga lebih mahal, 2,5 rubbel.
…
Mencari Jiwa-Jiwa Mati
Dalam perjalanan menuju rumah Sobakevich, Chichikov tersesat hingga terpaksa menginap di rumah milik seorang Perempuan tua, Korobochka Natasya Petrovna. Janda seorang sekretaris kolegial.
Perempuan tua itu, tanpa memahami sebenarnya maksud Chichikov, akhirnya menerima tawarannya, untuk menjual jiwa-jiwa mati. Setelah cukup alot bernegosiasi. Meskipun tetap curiga muncul di benaknya.
Gogol cukup sinis menggambarkan perilaku hipokrit masyarakatnya (hal. 63):
Misalnya, marilah kita membayangkan suatu kantor pemerintah bukan di sini, tapi di suatu kerajaan Ruritania – dan marilah kita menduga bahwa kantor itu mempunyai seorang kepala. Cobalah perhatikan saat ia duduk di antara para bawahannya – nah, Anda akan menjadi begitu gentar hingga Anda tak dapat mengucapkan sepatah katapun! Kesombongan dan kemuliaan dan entah apa lagi yang tak diungkapkan oleh mukanya? Satu-satunya yang Anda dapat perbuat ialah mengambil sebuah kuas dan melukisnya – seorang Prometheus, ya, seorang Prometheus yang sebenar- benarnya! Ia tampak seperti rajawali, berjalan dengan langkah-langkah lembut yang terukir. Tapi rajawali itu, bila meninggalkan kantornya dan mendekati kantor kepalanya sendiri, akan terbirit-birit seperti ayam hutan sambil mengepit kertas, secepat kakinya dapat berlari.
Dalam masyarakat dan perjamuan malam, jika semua orang lebih rendah pangkatnya, Promotheus kita tetap seorang Promotheus, tetapi jika mereka naik sedikit saja di atasnya, Promotheus itu mengalami metamorfosa seperti yang tak pernah terpikirkan oleh Ovid sekalipun: seekor lalat, ya, lebih rendah dari seekor lalat, ia telah memerosotkan dirinya menjadi satu butir pasir!
Chichikov bertemu Nozdryov dan iparnya, Mizhuyev. Chichikov pernah bertemu Nozdryov ketika makan bersama Penuntut Umum. Kini bertemu lagi tanpa sengaja di penginapan, setelah meninggalkan kota domisili Korobochka. Chichikov berharap Nozdryov mau menjual jiwa-jiwa mati yang dimilikinya. Gagal.
Chichikov telah menerima ratusan jiwa mati dari Korobochka, Plyushkin, Sobakevich.
Kepada Ketua Pengadilan, Chichikov beralasan bahwa orang-orang yang dibelinya akan dipekerjakan di kota Kherson. Disana tersedia sungai, kolam dan lahan luas. Dan para penjual Jiwa-Jiwa Mati mengaku kepada Ketua Pengadilan bahwa hal tersebut dilakukannya karena tidak lagi membutuhkan tenaganya atau karena lalai dan terlanjur menjualnya.
…
Kecurigaan
Pergunjingan permainan kotor jutawan Chichikov merebak di kota N. Membayangkan besarnya jumlah dan tingkat kualitas hamba-hamba yang dibeli untuk dipekerjakan di perkebunan Chichikov di kota Kherson, cukup mengherankan bagi warga setempat, karena di Kherson tak ada cadangan air yang cukup untuk perkebunan. Kering, menurut cerita-cerita dalam keriuhan gunjingan itu.
Dan akhirnya, runtuhnya reputasi Chichikov bermula dari maboknya Nozdryov, seperti tertulis di halaman 245 berikut ini:
Sementara itu, Nozdryov melihatnya dan langsung menghampiri. “Aakh, tuan tanah Kherson, tuan tanah Kherson!” serunya seraya mendekat dan tertawa keras hingga kedua pipinya yang segar dan merah muda seperti bunga mawar musim semi itu bergetar dan bergoyang. “Nah? Apa Tuan telah memborong banyak orang mati? Maaf, yang Mulia,” serunya dengan keras dan sambil menoleh kepada gubernur, “dia ini punya urusan tentang orang-orang yang telah mati, ya, betul-betul ini, hati saya boleh disalib! Dengar, Chichikov, tuan ini saya katakan ini kepada Tuan sebagai seorang teman, karena kita semua di sini teman Tuan, dan yang mulia ini pun teman Tuan – akan saya gantung Tuan, dan terkutuklah saya kalau saya tak melakukannya!”
Chichikov betul-betul tak tahu apakah ia sedang berdiri dengan kepala atau tumit.
“Tuan percaya atau tidak,” sambung Nozdryov yang ditujukan kepada gubernur, “ketika ia mengatakan kepada saya ‘Juallah pada saya orang-orang yang sudah mati’, hampir meletus perut saya karena ketawa. Ketika saya tiba di sini, orang bilang ia sudah membeli hamba-hamba untuk dipindahkan seharga tiga juta rubel. Untuk dipindahkan! Dengarlah, ia sudah tawar-menawar dengan saya mengenai orang yang sudah mati. Dengar, Chichikov, Tuan binatang yang kotor; digantunglah saya ini kalau Tuan bukan seperti itu! Yang Mulia pun ada di sini. Bukankah begitu, penuntut umum?”
Menarik untuk merenungi paragraf berikut ini. Ternyata sudah menjadi sifat manusia sejak dulu kala bahwa pergunjingan memang mudah menular. Cukup teliti Gogol mengamati perilaku sosial masyarakatnya.
Bahwa Nozdryov seorang pembohong yang tak dapat dimungkiri merupakan kenyataan yang mereka ketahui, dan bukan hal yang luar biasa mendengar ia berbicara omong kosong yang paling iseng pun; tapi, dasar manusia, dan memang sukar memahami manusia itu terbuat dari apa, bagaimana pun konyolnya suatu berita, selama berita itu masih berupa berita, ia akan menganggap kewajibannya untuk meneruskan kepada orang lain, walaupun sekadar untuk mengatakan, “Cobalah pikir, kebohongan macam apa yang sedang disebarkan orang!” … Dan sudah dapat dipastikan bahwa berita itu akan mengitari kota, dan semua manusia, berapapun banyaknya, akan membicarakannya sampai muak dan lelah, dan kemudian dengan suka rela akan menyetujui bahwa hal itu tak pantas untuk ditangkap dengan sungguh-sungguh dan tak ada nilainya untuk dibicarakan.
Budaya feodal yang snob dan bangga dengan tampilan negara maju, supaya terlihat modern dan selalu updated, mewakili para selebriti seperti digambarkan dengan gaya para ibu-ibu yang senang dengan ungkapan-ungkapan bahasa Perancis berikut ini:
Disebutkan di sini bahwa percakapan antara kedua orang nyonya ini dicampuri dengan sejumlah besar kata asing dan kadang-kadang bahkan dengan kalimat Perancis yang utuh. Akan tetapi, betapa pun penghargaan pengarang kepada keunggulan yang telah dianugerahkan oleh bahasa Perancis pada bahasa Rusia, dan betapa pun penghargaannya kepada kebiasaan terpuji golongan atas menyatakan diri dengan bahasa ini sepanjang hari dikarenakan kecintaannya yang dalam kepada tanah airnya, tapi ia tak dapat membiarkan dirinya memperkenalkan kalimat-kalimat dalam bahasa asing apa pun ke dalam syair Rusianya ini. Oleh karena itu, marilah kita jalan terus dalam bahasa Rusia.
Ketua Pengadilan mulai panik.
Hal ini dikemukakannya kepada Ketua Pengadilan. Ketua menjawab bahwa itu omong kosong, tapi kemudian ia pun tiba-tiba menjadi pucat, sesudah ia bertanya kepada diri sendiri apakah hamba-hamba yang dibeli oleh Chichikov itu benar-benar sudah mati, sementara ia telah mengizinkan akta pembelian itu direncanakan dan bahkan telah bertindak atas nama Plyushkin dalam hal itu.
Nyanya Korobochka sebagai penjual jiwa-jiwa mati ke Chichikov, mulai menjadi isu publik.
Selanjutnya apa yang dikatakan oleh Nyonya Korobochka merupakan pengulangan, dan para pejabat pun sadar bahwa nyonya itu hanyalah perempuan tua yang edan. Manilov menjawab bahwa ia selalu siap menjawab pertanyaan mengenai Chichikov seperti mengenai dirinya sendiri, dan seluruh tanah miliknya hanya seharga seperseratus dari nilai sifat-sifat Chichikov yang mulia, dan sejalan dengan itu, ia pun berbicara mengenai Chichikov dengan istilah-istilah yang paling menjilat, seraya mengemukakan pula sejumlah kenangan mengenai persahabatannya, dengan ekspresi mata dan wajah seperti binatang. Kenang-kenangan ini tentu saja paling mesra untuk diungkapkan. Akan tetapi, para pejabat tidaklah mengungkapkan apa yang ada di balik urusan itu. Sobakevich menjawab bahwa menurut pendapatnya, Chichikov orang yang baik dan telah menjual kepadanya petani pilihan yang paling baik dalam arti yang seluas-luasnya, tetapi ia tak dapat menjawab mengenai apa yang bisa terjadi pada masa depan, dan bukanlah kesalahannya jika mereka mati ketika diangkut, karena beban perjalanan, dan semuanya ada di tangan Tuhan, mengingat bahwa di dunia ini terdapat begitu banyak penyakit demam dan penyakit yang mematikan, dan memang ada contohnya: penduduk seluruh desa mati.
Seperti lazimnya sebuah pemufakatan jahat, bila mulai terkuak ditengah masyarakat, maka mulailah tercerai-berai para sekutunya. Bagaikan merebaknya aroma bangkai. Maka mulailah Gubernur, wakil Gubernur, Kepala Polisi, Kepala Kantor Pos dan semua pejabat daerah serta kolega lainnya, menolak untuk menerima Chichikov sebagai tamu. Bahkan turut serta mencercanya dengan menyebarkan cerita-cerita yang menyudutkannya. Tentu, untuk menutupi keterlibatannya. Berujung Chichikov meninggalkan kota.
Kemuraman puitis mengiringi keruntuhan Chichikov:
Rusia! Rusia! Saya lihat kamu, dari tempat jauh yang indah mengagumkan: saya lihat kamu sekarang. Segalanya tampak papa, terserak-serak, dan menyesakkan: tak ada keajaiban alam yang gagah, yang dimahkotai keajaiban seni yang lebih gagah lagi; tak ada kota-kota dengan istana-istana tinggi berjendela banyak yang dibangun di atas batu karang; tak ada pohon-pohon yang permai; tak ada rumah-rumah terselimut tanaman rambat dan percikan abadi air terjun yang akan menggembirakan musafir dan mempesonakan pandangan matanya.
Dengan melalui relung-relung gelap ia tak akan melihat jajaran abadi gunung-gunung di kejauhan, yang bercahaya redup dan menjulang ke langit: keperakan dan cemerlang. Segalanya dalam keadaan terbuka, kosong, dan datar. Kota-kotamu yang letaknya rendah, terlihat menempel seperti titik-titik di atas daratanmu seperti tanda-tanda yang hampir tak kelihatan; tak ada yang akan menipu atau menggiurkan mata.
Akan tetapi, kekuatan aneh dan ajaib apa yang menarik dari dirimu? Mengapa lagumu yang penuh duka itu, yang tersebar ke seluruh dataranmu dari laut ke laut, bergema dan bergema lagi tak putus-putusnya di telingaku? Apa yang ada dalam lagu itu? Siapa yang memanggil, dan tersedu-sedu, dan mencekam hatiku? Suara-suara apakah itu yang membelaiku demikian pedih, yang merasuk ke dalam jiwaku dan membelit-belit hatiku? Rusia! Apakah yang kau minta dariku? Apakah ikatan gaib yang tersembunyi di antara kita? Dan mengapa engkau selalu memandang penuh harapan padaku?
Dan selagi aku berdiri tak bergerak-gerak diliputi kebingungan, awan yang mengandung ancaman dan curahan hujan melontarkan bayangannya pada kepalaku, dan pikiran pun menjadi beku berhadapan dengan keluasanmu. Apakah yang tersimpan dalam ruangan yang maha besar, lebar dan terbuka luas itu? Tidakkah di sini, tidakkah di dalam dirimu pikiran yang tak terbatas akan dilahirkan, karena engkau sendiri tak berakhir? Tidakkah di sini tempat pahlawan yang legendaris dari fabel Rusia itu? Di sini, terdapat banyak ruangan untuk menebarkan sayap dan mengembara dengan bebas?
Dan dengan sikap yang mengancam, keluasanmu yang perkasa itu merangkumku, bercermin dengan kekuatan yang mengerikan pada kedalaman diriku; mataku menyala dengan tenaga gaib. Oh, sungguh ruang tanpa batas yang gemerlap dan mengagumkan, yang tak dikenal oleh dunia! Rusia …!
…
Runtuh
Chichikov pindah dan tinggal di suatu desa yang penduduknya terkesan ceria. Penduduk gemar bernyanyi dan menari. Teman serumahnya adalah Tentetnikov. Pemalas dan Penyendiri, menurut Gogol.
Chichikov mengunjungi Jenderal Betrishchev, yang menurut Tentetnikov, teman serumah Chichikov, sedang bermasalah dengan dirinya. Kunjungan ini tak lepas dari maksud Chichkov untuk membeli Jiwa-Jiwa Mati. Digambarkan oleh Gogol bahwa sang jendral berperawakan tampan, agung, jantan, jujur, berkumis, cambang dan sudah beruban. Stereotip jenderal dimasanya.
Apakah ia mengenakan jas kebesaran, jas luar, atau kimono, selalu sama saja. Segala sesuatu tentangnya, mulai dari suaranya sampai pada gerakannya yang sekecil-kecilnya pun, bernada memerintah, menguasai, dan menimbulkan perasaan segan, kalau bukan hormat, pada orang-orang yang lebih rendah pangkatnya. Chichikov merasakan keseganan dan hormat kepadanya.
Jenderal Betrishchev bersedia mengalihkan 300 jiwa mati untuk kepentingan Chichikov. Chichikov berdalih bahwa pamannya bersedia mengalihkan 300 orangnya, bila Chichikov bisa mendapatkan 300 orang baru. Transaksi dagang yang aneh. Untuk itu ia perlu nama-nama kosong sebanyak 300 biji.
Tentang ‘kebersihan’, melalui pengusaha ladang yang bersih, Kostanjoglo, Gogol menitipkan pesan seperti dituliskannya berikut ini:
“Itu selalu demikian. Itulah memang hukumnya,” kata Kostanjoglo. “Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain.
Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel, dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang di kemudian hari akan berurusan dengannya.
Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana, Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun.
Percayalah saya, demikianlah adanya. Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah. Kalau orang mengatakan kepada saya,’ Berilah saya seratus ribu, dan saya akan menjadi kaya dalam sekejap,’ maka saya tak akan percaya kepadanya: dia itu mengandalkan diri pada kebetulan, dan bukan pada kepastian. Orang harus mulai dengan satu kopek.”
Melalui personifikasi Khlobuyev, Gogol melukiskan Ironi kebaikan yang disandingkan dengan kemiskinan.
Namun, segera sesudah memasuki tanah Khlobuyev, mereka pun terdiam dengan sendirinya. Bukannya hutan yang mereka lihat, melainkan semak-semak yang dirusak oleh ternak, sedang gandum hitam yang dikotori oleh rumput-rumputan hampir-hampir tak kelihatan. Akhirnya tampaklah oleh mereka pondok-pondok petani yang sudah runtuh dan tak berpagar, dan di tengah-tengahnya sebuah rumah batu yang tak dihuni dan belum selesai. Pemiliknya agaknya tak cukup punya uang untuk membuat atap. Maka rumah itu tinggal tertutup atap lalang yang telah menjadi hitam. Pemilik tanah itu tinggal di rumah lain yang cuma satu tingkat. Ia berlari ke luar menyambut mereka dengan berpakaian jas panjang yang sudah tua, kusut, dan mengenakan sepatu bot yang penuh lubang. Ia tampak mengantuk dan mesum, tetapi pada wajahnya terlihat sifat yang baik. la gembira melihat para tamunya, seakan-akan mereka itu saudara- saudaranya yang sudah lama hilang.
Dilanjutkan dengan pesan spiritual Gogol:
“O, Tuan rupanya pengagum pemandangan indah?” kata Kostanjoglo sambil melontarkan pandang keras. “Biarlah saya mengingatkan Tuan, bahwa kalau Tuan mulai mengejar pemandangan, Tuan akan tertinggal tanpa roti dan tanpa pemandangan. Pikirlah selalu tentang apa yang berguna dan bukan yang indah. Keindahan akan datang sendirinya. Yang terindah ialah yang tumbuh wajar, setiap orang membangun menurut kebutuhannya dan sesuai dengan seleranya. Kota-kota yang dibangun dengan garis-garis lurus menyerupai barak-barak…. Tak usah dipikirkan soal keindahan itu! Pusatkan pada hal-hal berarti.”
“Ya, alam cinta kepada kesabaran, dan itu hukum yang diberikan kepadanya oleh Tuhan sendiri, yang memberkahi orang-orang yang sabar.”
…
Akhirnya
Sikap religius Gogol pun terwakili dengan pesan-pesan berikut ini:
“Tapi bagaimana mungkin Tuan hidup tanpa kerja? Bagaimana mungkin tanpa suatu jabatan, tanpa pekerjaan. Coba dengar, Tuan, lihatlah setiap makhluk Tuhan ini melakukan suatu pekerjaan, masing-masing ada peranan yang dimainkannya dalam hidup ini. Batu pun ada kegunaannya, dan manusia yang merupakan makhluk yang terpandai harus ada kegunaannya, bukan?”
“Kalau begitu berbaktilah kepada-Nya yang begitu bersifat mengampuni Tuan. Kerja akan disambut baik oleh-Nya seperti doa. Ambillah pekerjaan apa saja yang Tuan sukai, tetapi lakukanlah pekerjaan Tuan seolah-olah Tuan melakukannya untuk-Nya dan bukan untuk manusia. Setidak-tidaknya Tuan tak akan punya waktu lagi untuk hal yang buruk, menghabiskan uang untuk main kartu, melahap makanan yang enak-enak, membuang-buang waktu dalam pergaulan kelas atas, dan itu sudah baik!
Prosesi penghakiman tindak kriminal, terus berlanjut. Namun tindak korupsi pun selalu mengambil kesempatan di setiap langkahnya. Samotsvetov, pejabat pengamanan tahanan, mengeluarkan Chichikov dari penjara dengan ongkos 30.000 Rubel. Korupsi. Dan atas saran dari Murazov, Gubernur Jenderal pun memerintahkan untuk membebaskan Chichikov.
Namun, marilah kita singkirkan persoalan siapa yang paling patut dipersalahkan. Soalnya ialah bahwa saatnya telah tiba bagi kita semua untuk menyelamatkan negeri kita, bahwa negeri kita sekarang berada di tepi keruntuhan: bukan karena serbuan sejumlah bangsa asing, melainkan karena diri kita sendiri; bahwa di samping pemerintah kita yang sah, di samping para penguasa kita yang sah, penguasa-penguasa baru telah muncul, yang jauh lebih kuat dari penguasa-penguasa kita yang sah. Para penguasa ini telah menetapkan syarat-syarat sendiri, nilai-nilai sendiri, dan bahkan harga-harga itu sekarang telah diketahui secara umum. Tak ada seorang penguasa pun, sekalipun ia lebih bijaksana dari semua pembuat undang-undang dan penguasa, yang mempunyai kekuatan untuk mengoreksi kejahatan, betapa pun ia dapat mengurangi kegiatan para pejabat yang buruk dengan menempatkannya di bawah pengawasan pejabat-pejabat yang lain. Semua itu akan sia-sia, sampai kita masing-masing merasa, bahwa seperti pada waktu kebangkitan seluruh rakyat secara umum, ia telah mempersenjati dirinya terhadap (musuh-musuhnya?). Demikianlah sekarang ia harus bangkit melawan ketidakadilan.
Sebagai seorang Rusia, sebagai orang yang terikat kepada Tuan-tuan oleh ikatan kelahiran dan darah, sekarang saya mengimbau kepada Tuan-tuan. Saya mengimbau kepada sebagian di antara Tuan-tuan yang mempunyai gagasan tentang apa yang dimaksud dengan kebangsawanan pikiran. Saya undang Tuan-tuan agar mengingat tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap orang, sesuai dengan jabatan apa pun yang dipegangnya. Saya undang Tuan-tuan supaya mengamati dengan lebih teliti tugas Tuan-tuan dan kewajiban- kewajiban Tuan di dunia ini, karena ini merupakan hal yang hanya samar-samar saja kita sadari, dan kita hampir tidak….”
(Di sini naskah terputus)
TAMAT
…
Gaya penulisan
Nikolai Vasilevich Gogol (1809-1852)
Satu hal yang lazim dalam novel-novel Rusia, selalu rinci menjelaskan setiap hal. Selintas tak relevan dengan pokok cerita, namun seringkali bisa mewakili situasi sosial lingkungan cerita. Misalnya:
Pengarang yakin sekali bahwa ada pembaca yang sangat ingin tahu, sehingga ingin mengetahui denah dan susunan dalam kotak itu. Nah, kenapa tidak memuaskan hati mereka itu? Dan, inilah susunan di dalamnya: di bagian tengah ada sekat kecil untuk sabun, di sampingnya ada enam atau tujuh sekatan sempit untuk pisau cukur; kemudian ada sekat-sekat persegi untuk sebuah kotak pasir dan sebuah botol tinta dengan piringan kecil yang diberi lekuk untuk pena, lilin materai, dan barang lainnya yang diletakkan pada sisi yang panjang, kemudian segala macam sekat kecil dengan dan tanpa tutup untuk barang-barang yang berukuran pendek, penuh dengan kartu nama, kartu penguburan, karcis teater, dan barang-barang lain yang disimpan untuk tanda mata. Keseluruhan bagian atas kotak itu dengan segala sekat di dalamnya dapat diangkat, dan di bawahnya terdapat satu sekat yang penuh dengan carik-carik kertas; kemudian ada sebuah laci rahasia yang kecil untuk uang, yang dapat ditarik tanpa diketahui dari sisi kotak itu. Laci itu selalu ditarik dan dikembalikan dengan begitu cepat oleh Chichikov, hingga tak memungkinkan kita mengatakan berapa banyak uang ada di dalamnya.
Gogol sering menulis berkepanjangan dan rinci terhadap tindak tokohnya untuk menggambarkan karakternya. Sepertinya, ini dilakukannya untuk menghindari penjelasan naratif, yang sebetulnya juga biasa dia lakukan. Berikut contohnya:
Sesuai kebiasaannya, pahlawan kita pun segera melibatkan perempuan itu dalam percakapan. Ia bertanya apakah ia sendiri pemilik rumah penginapan itu ataukah ada pemilik yang lain, berapa pemasukan dari rumah penginapan itu, apakah anak-anak lelakinya tinggal bersamanya, apakah anak terbesar sudah kawin atau masih bujangan, seperti apa istri yang dinikahi oleh anak laki-lakinya, apakah anak laki- lakinya mempunyai mas kawin yang besar atau tidak, apakah ayah pengantin perempuan itu puas, dan apakah istri dari anaknya marah waktu menerima hadiah kawin yang demikian sedikit. Singkatnya, ia tak melewatkan apa pun.
Dan berikut ini adalah contoh penjelasan naratif terhadap karakter tokoh yang Gogol tuliskan:
Pembaca mungkin sudah kenal dengan pribadi Nozdryov dalam batas-batas tertentu. Tiap orang pernah menjumpai orang seperti dia. Mereka dikenal sebagai orang yang perlente, bahkan pada masa kanak-kanak dan sekolah, mereka dikenal sebagai kawan yang baik. Namun, karena itu pula sering sekali menerima pukulan yang menyakitkan. Pada wajah mereka selalu tampak sesuatu yang terbuka, bersifat terus terang, dan ceroboh. Mereka cepat memperoleh kenalan, dan sebelum kita sadar akan keberadaan kita, mereka sudah memperoleh hubungan yang akrab dengan kita. Kita menyangka bahwa persahabatan mereka itu akan berlangsung selama hidup, tetapi hampir selamanya terjadi bahwa teman baru mereka itu akan mulai berkelahi dengan mereka saat itu juga di satu perjamuan. Mereka selalu suka bicara, peminum, dan pejudi besar, dan sungguh berani mati untuk selalu dipandang oleh umum. Pada umur tiga puluh lima, Nozdryov tampak sama seperti ketika ia berumur delapan belas dan dua puluh.
Muram, kusam dan gelap, yang disampaikan dalam bahasa puitis adalah biasa dalam novel Rusia dimasanya. Tetap enak dibaca.
Di sana, di dalam kamar kecil yang sudah sangat dikenal oleh pembaca, dengan pintu yang terhalang oleh meja berlaci, dengan banyak kecoa yang mengintip dari sudut-sudutnya, pikiran dan otaknya berada dalam keadaan yang tak menyenangkan, sama dengan kursi besar yang didudukinya.
…
Komentar
Membaca karya sastra Russia itu seperti menonton teather, lucu menghibur namun getir. Hanya, seringkali menjadi hambatan untuk memulai membaca sastra Rusia adalah ketidaknyamanan terhadap terjemahan bahasa, dan sedikitnya pemenggalan paragraf, sehingga terasa lelah membacanya. Namun rincinya penggambaran budaya masyarakat saat itu dan konflik sosial di dalamnya, menjadi kekayaan yang membangunan inspirasi kepekaan sosial.
Akan sangat membantu mencerdaskan bangsa, bila ada penerbit buku berbahasa Indonesia dalam format ebook dengan aplikasi yang menyediakan fasilitas di dalamnya untuk dapat mewarnai text dan mengekspornya, menandai halaman, copy text hingga 75% dari isi buku dan memberikan catatan, seperti layaknya memegang format hardcopy. Kindle dan Play Books mampu menyediakan fasilitas tersebut. Fasilitas tersebut sangat membantu untuk dapat lebih memahami isi buku.
Setelah membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, Suluk Tambangraras adalah novel sejarah kedua yang saya baca. Menarik dan dapat menjadi penyemangat awal untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa. Penyegaran ulang atas pengetahuan Sejarah yang pernah kita nikmati di masa SMP dulu.
Damar Shashangka adalah penulis yang kondang dengan karya-karyanya ttg sejarah kerajaan di Jawa dan spiritual Jawa. Masih cukup muda namun pengetahuannya tentang budaya Jawa sangatlah mumpuni. Saat ini beliau berdomisili di Bogor dan melakukan praktek spritual Jawa bersama komunitasnya.
Suluk Tambangraras karya Damar Shashangka ini adalah bentuk ‘novelisasi’ sejarah, sehingga tak dapat dihindari akan adanya ‘kembangan’ cerita supaya lebih menarik, runtut ceritanya dan nyaman dibacanya. Namun mestinya tidak jauh menyimpang dari sumbernya, yaitu Serat Centhini, yang aslinya dalam bentuk tembang Jawa. Setidaknya dari informasi di internet, penanggalan peristiwa-peristiwa besar dan tokoh-tokoh ternama, memang benar adanya.
Awal tahun 80an terkenal cerita silat berlatar belakang kerajaan Islam Jawa, Demak hingga Mataram, seperti Api Di Bukit Menoreh dan Naga Sasra dan Sabuk Inten karya SH. Mintardja serta Bende Mataram karya, Herman Pratikto. Para tokoh utama dalam novel berseri tersebut adalah masyarakat ‘kebanyakan’ atau bukan para pejabat pemerintah. Meskipun ada juga sedikit keterlibatan Ki Ageng Pemanahan (ayah Sutawijaya, raja Mataram pertama) dalam cerita Api Di Bukit Menoreh. Ini berbeda dengan Suluk Tambang Raras, yang memang bercerita tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, sehingga para tokoh utama di dalamnya adalah para petinggi kerajaan itu sendiri.
Novel Suluk Tambangraras ini berisi sejarah kekuasaan atau sejarah penaklukan di tanah Jawa yang di beberapa kesempatan terkesan kejam, bahkan brutal. Betulkah memang demikian adanya? Mulai dari kisah bayi Raden Paku (Sunan Giri) yang dibuang, bahkan dari sumber yang berbeda, diceritakan bayi ini telah dilarung atau dihanyutkan. Kemudian kisah Sultan Pasai, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, yang melakukan pelecehan seksual terhadap kedua puterinya sendiri hingga berakibat tewasnya kedua puteri tsb karena bunuhdiri. Pajang dibawah Mas Karebet, ditaklukkan Danang Sutawijaya, putera angkatnya sendiri. Perebutan kekuasaan Sultan Hamengkubuwana II oleh Sultan Hamengkubuwana III yang dibantu Belanda. Adipati Pragola, dari Pathi, tewas dalam pemberontakan Mataram dibawah Panembahan Senapati. Panembahan Senapati adalah suami dari kakak perempuan Adipati Pragola. Kyai Adipati Upasanta wafat karena dipancung oleh menantunya sendiri, Raja Mataram, Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma karena kalah dalam penyerbuan Batavia. Lebih dari seribu pasukan Sumedang dan Ukur, yang menyertainya juga mendapat hukuman mati di alun-alun Mataram karena alasan yang sama.
Secara umum, sebagai pembuka diceritakan latarbelakang kekuasaan di tanah Jawa, khususnya wilayah Surakarta dan Yogyakarta, dimana polah-tingkah Belanda telah menyebabkan terpecahnya Kasunanan Surakarta melalui Perjanjian Palihan Nagari menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Salatiga yang memecah Kasunanan Surakarta menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara.
Bab selanjutnya, dibuka dengan dialog RM Gusti Sugandi, yang bergelar Adipati Anom Amengkunegoro III, putra mahkota Sunan Pakubuwono IV, dengan RN. Sastradipura, RN. Ranggasutrasna, RT. Sastranagara (Ki Ranggawarsata atau RN. Yasadipura II) di keraton Kasunanan Surakarta. Adipati Anom bermaksud untuk menyusun sebuah naskah yang mencatat lengkap tentang sejarah dan budaya Jawa, sejak runtuhnya Majapahit. Naskah tersebut akan berbentuk kumpulan tembang Jawa yang dinamai Suluk Tambangraras. Dan nantinya akan dikenal sebagai Serat Centhini.
Maksud Adipati Anom ini dipicu oleh banyaknya benda berharga, termasuk kitab kitab yang berisi sejarah dan budaya warisan leluhur Mataram/Kasunanan Surakarta yang hilang, diangkut oleh Inggris (Raffles) ke negerinya ketika menaklukkan keraton Yogya dimasa Sultan Hamengkubuwana II. Inggris menaklukkan Belanda di tahun 1811.
Selanjutnya novel bercerita tentang sejarah tokoh utama, mulai dari kisah pengembaraan Syekh Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang, kemudian berlanjut kisah puteranya, yaitu Raden Paku sejak lahirnya di tahun 1442 M dan berdirinya Giri Kedhaton, kemudian berakhir dengan kisah Ki Ageng Pekik, hingga kesuksesannya sebagai panglima perang Mataram di masa Susuhunan Adi Prabhu Anyakrakusuma, dalam menaklukkan Giri Kedhaton. Diakhir cerita inilah para putera-puteri Sunan Giri, yaitu Raden Jayengresmi, Raden Jayengsari dan Niken Rancangkaoti melarikan diri dan berkelana. Sebagai penutup novel ini, cerita kembali pada suasana dialog ketiga sastrawan Kasunanan Surakarta, yang sedang mengumpulkan cerita diatas dan kemudian bersepakat bahwa cerita sejarah panjang kerajaan Islam Jawa tersebut adalah bagian awal dari keseluruhan naskah Serat Centhini, hasil pengembaraan ketiga putra-putri Sunan Giri tersebut diatas.
Novel terbitan Prameswari cetakan I tahun 2016 ini setebal 831 halaman. Layout dan cover buku, menarik dan nyaman dibaca. Banyak pebendaharaan kata asing di dalamnya, bahasa Jawa kuno. Akan sangat membantu bila semua kata yang tercetak miring, ditambahkan penjelasannya di bagian bawah halaman atau dibuatkan khusus semacam kamus di bagian belakang buku. Tebalnya buku menyebabkan berat dan tidak nyaman untuk dapat dibaca di sembarang tempat. Akan menjadi pilihan yang bagus bila diperjual-belikan juga dalam format digital, sehingga mudah dibawa dan dibaca menggunakan gadget.
Buku bagus yang sangat direkomendasikan untuk penggemar novel sejarah, khususnya kerajaan di tanah Jawa. Akhirnya, tetap berkarya untuk mas Damar Shashangka.
Berikut ini adalah urutan waktu yang ada dalam buku ini:
1267 Kesultanan Pasai (Kerajaan Islam) didirikan oleh Meurah Silu, bergelar Sultan Malik Al-Salih 1295 Pasai mulai dibawah Sultan Muhammad Malik Az-Zahir
1325-1351 Kesultanan Delhi dibawah Sultan Muhammad Taghlug. Syekh Ahmad Syah Jalal, dari Samarkand, keturunan Nabi Muhammad. (Silsilah hal. 116) 1326 Sultan Muhammad Malik Az-Zahir wafat (Mendahului ayahnya, Sultan Malik As-Shaleh). Mempunyai 2 putra: Malik Al-Mahmud dan Malik Al-Mansur. 1345 Gan Eng Cu atau Arya Teja (gelar dari Majapahit) sbg perwakilan Bong Tak Keng di Tuban 1346-1383 Kesultanan Pasai dibawah Sultan Ahmad Malik Az-Zahir. Berperilaku buruk, membunuh putranya yg melindungi dua adik perempuannya, yg akhirnya juga bunuh diri. 1350 Kesultanan Pasai ditaklukkan Majapahit 1383-1405 Kesultanan Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair1385 Syekh Jamaluddin Syah Jalal (Syekh Jumadil Kubra) bangsawan Kesultanan Delhi, putra Syekh Ahmad Syah Jalal, sampai di Pasai bersama 4 saudara:
Sayyid Qamaruddin Syah Jalal
Sayyid Majduddin Syah Jalal
Sayyid Tsanauddin Syah Jalal
Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Tandhês/Sunan Gresik)
Adik Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair, Putri Ramawati, dinikahkan dengan Syekh Jamaluddin Syah Jalal, melahirkan Syekh Ibrahim Al-Akbar (di Champa, dikenal sbg Syekh Ibrahim As-Samarqand). 1393 Di Pasai, Syekh Ibrahim Al-Akbar dan istrinya, melahirkan Syekh Maulana Ishaq Di Champa, Syekh Ibrahim Al-Akbar dan Chandravati, melahirkan:
Sayyid Ali Murtadlo
Sayyid Ali Rahmad (dari Makkah, singgah di Palembang, bertemu Adipati Aria Damar atau Swan Liong)
Siti Zaenab
1405-1428 Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair wafat, digantikan Sultanah Nahrasiyyah utk memimpin Pasai 1428-1438 Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin II 1429 Lahir Sayyid Abdul Qadir. Putra Syekh Maulana Ishaq (kakak tiri Raden Paku) dgn istri pertama di Pasai, sblm menikah dgn Dewi Sekardhadhu. 1438-1462 Pasai dibawah Sultan Shalahuddin. Syekh Maulana Ishaq ke Jawa mencari kakeknya Syekh Jamaluddin Syah Jalal 1441 Syekh Maulana Ishaq menyembuhkan Ratna Dewi Sekardhadhu (mjd istrinya), putri Adipati Blambangan. Syekh Maulana Ishaq diusir dari Blambangan krn memaksakan Adipati Blambangan utk memeluk agama Islam. Mengubah nama mjd Syekh Wali Lanang 1442 Dewi Sekardhadhu melahirkan. Bayi dibuang. Dipungut oleh Nyi Gede Pinatih di Tandhes dan diberi nama Jaka Samodra (Raden Paku). 1445 Di Tuban, Sayyid Ali Rahmad bertemu ayahnya,Syekh Ibrahim Al-Akbar (wafat di Tuban, dikenal sbg Syekh Ibrahim Asmarakondi) 1445 Syekh Wali Lanang gagal membawa Raden Paku (3 thn) dari Nyi Gedhe Pinatih 1447 Penguasa Majapahit Sthri Dyah Rani Suhita lengser, digantikan putra tirinya, Kertawijaya, yg bergelar Bathara Prabhu Wijayaparakramawardhana 1451 lahir Siti Sarah di Pasai, putri Syekh Maulana Ishaq. Setelah pulang dari Jawa 1451 Sayyid Ali Rahmad pindah ke Ujung Galuh, mendirikan pesantren dan dikenal sbg Sunan Ngampeldênta atau Sunan Ngampel. 1451-1453 Raden Kertawijaya wafat. Digantikan Raden Kertarajasa Bhre Pamotan Sang Sinagara sbg penguasa Majapahit (Wafat 1453), nenek moyang Pangeran Purbaya (putra Panembahan Senopati dgn Rara Lembayung) 1453 Nyi Gedhe Pinatih membawa Raden Paku ke pesantren Sunan Ngampeldênta atau Sunan Ngampelgadhing atau Raden Rahmad atau Sayyid Ali Rahmad atau Bong Swi Hoo, putra Syekh Ibrahim Al Akbar. Di Ujung Galuh, yg telah diubah namanya mjd Surabhaya oleh Rakryan Kanuruhan Kahuripan Arya Lembu Sora. Raden Paku bersahabat dgn Makdum Ibrahim, putra Sunan Ngampel. Selanjutnya Makdum Ibrahim menetap di Lasem sbg pengajar agama, dikenal sbg Sunan Benang. 1453-1456 Majapahit tanpa raja 1456-1466 Raden Suryawikrama, putra Raden Kertawijaya sbg penguasa Majapahit 1462-1464 Pasai dibawah Sultan Ahmad II 1464-1466 Pasai dibawah Sultan Abu Zaid Ahmad III 1466 Pasai dibawah Sultan Ahmad IV (<1 thn) 1466-1468 Pasai dibawah Sultan Mahmud
1468-? Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin III 1468 Bhre Kertabhumi menguasai Majapahit stlh mengalahkan Raden Suprabhawa atau Bhre Pandhan Salas III, putra Raden Suryawikrama. Tak lama, kembali dikuasai kembali Raden Suprabhawa dan diserahkan kpd Raden Girindrawardhana Dyah Wijayakusuma, bergelar Bathara Prabhu Singawardhana. 1468 Perkawinan Raden Paku dgn:
Siti Wardah, Bungkul, Jawa (putri pemilik buah delima)
1469 Raden Paku, bersama Makdum Ibrahim, bertemu ayah dan kedua putra-putrinya di Pasai. Sayyid Abdul Qadir (40 thn) dan Siti Sarah (18 thn). 1473 Syekh Maulana Ishaq wafat. Sayyid Abdul Qadir bersama adiknya, Siti Sarah, datang ke Sunan Ngampeldenta di Jawa. Siti Sarah kemudian dinikahkan oleh Sunan Ngampeldenta dengan Raden Sahid (putra Adipati Tuban), yg dkemudian dikenal sbg Sunan Kalijaga 1474 Raden Wijayakusuma mangkat, digantikan Bhre Kertabhumi 1478 Sultan Ngampeldenta wafat 1478 Majapahit yg diruntuhkan oleh Demak, diserahkan pada Tionghoa, Nyo Lay Wa. Sayyid Abdul Qadir diserahi daerah Pergota oleh Panembahan Jin Bun, dan mendpt gelar Susuhunan Ing Pandhanarang. 1486 Majapahit bawahan Demak (Nyo Lay Wa) ditaklukkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dan memindahkan Majapahit dari Trawulan ke Daha. Kecil namun bebas dari Demak. Bergelar Syri Wilwatikta Kanggala Kadhiri Prabhu Nata. 1487 Berdirinya Giri Kedhaton 1489 Lahir Sayyid Maulana Muhammad yg nantinya sbg Sunan Giri IV atau Susuhunan Adi Giri Parapen 1506 Jaka Samodra atau Raden Paku atau Sunan Giri Kedhaton atau Sunan Ing Giri Gajah atau Sultan Abdul Faqih ‘Ainul Yaqin Prabhu Setmata wafat (64 thn). Digantikan oleh putranya, Pangeran Zainal Abidin, bergelar Sunan Giri Dalem 1515 Lahir Mas Karebet atau Jaka Tingkir Tujuh hari stlh kelahirannya, ayahnya (Ki Ageng Kebo Kanigara atau Ki Ageng Pengging) dihukum mati oleh Demak melalui Sunan Kudus (ayah dari Arya Penangsang, Jipang). 1517 Majapahit tetap dibawah Girindrawardhana namun mjd daerah taklukkan Demak, yg dipimpin Panembahan Jin Bun. 1518 Panembahan Jin Bun mangkat, digantikan Adipati Unus 1521 Adipati Unus mangkat dlm perang di Malaka melawan Peranggi (Portugis). Digantikan Raden Trenggana. 1524 Susuhunan Giri Kawis Guwa lahir 1527 RadenGirindrawardhana mangkat 1530 Lahir Bagus Brubut putra Ki Pemanahan yg diangkat anak oleh Jaka Tingkir atau Ki Mas Karebet dan dikenal sbg Danang Sutawijaya 1531 Surabhaya ditaklukkan Demak 1532 Giri Kedhaton dibebaskan Demak. Pasukan Sengguruh keluar dari Tandhes. 1535 Pasuruhan yg masih Syiwa Budha tunduk thd Demak 1546 Sultan Trenggana tewas di Panarukan 1546 Susuhunan Giri Dalemwafat, digantikan Pangeran Sayyid Ali Kusumawira atau Susuhunan Giri III 1548 Susuhunan Giri III wafat krn perang dgn pasukan pedalaman, digantikan oleh adiknya, Sayyid Maulana Muhammad atau Sunan Giri IV atau Susuhunan Adi Giri Parapen, utk memimpin Giri Kadhaton 1549 Demak Bintara dikuasai Mas Karebet dan pusat pemerintahan pindah dari Demak Bintara ke Pajang. 1550 Sunan Kalijaga wafat 1556 Ki Pemanahan menerima Alas Mentaok dari Sultan Pajang. Berubah nama menjadi Mataram dan Ki Pemanahan bergelar Ki Ageng Mataram 1564 Pajang membunuh pembawa surat dari Kesultanan Aceh yg berharap Pajang menyerang Kasultanan Malaka krn terhina bhb Pajang tidak punya kekuatan laut spt Demak 1581 Pajang dibawah mas Karebet (Sultan Hadiwijaya) menguasai sebagian besar Jawa, kecuali Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kerajaan Blambangan dan Kesultanan Giri Kedhaton. 1584Ki Ageng Mataram wafat 1587 Danang Sutawijaya menguasai Pajang yg belum lama dikuasai Pangeran Benawa (Jipang), dan bergelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama 1600 Pemberontakan Adipati Pragola (Pati) ditumpas Panembahan Senopati, yg telah menikahi Dyah Retno Dumilah (adik Adipati Pragola) 1601 Panembahan Senapati mangkat (71 thn). Digantikan putranya, Raden Mas Jolang, bergelar Susuhunan Prabhu Anyakrawati Senopati Ing Ngalaga 1605 Susuhunan Giri Parapen wafat (116 thn). Digantikan Susuhunan Giri Kawis Guwa atau Sultan Giri V 1613 Prabhu Anyakrawati wafat. Digantikan putranya Raden Mas Rangsang bergelar Adi Prabhu Anyakrakusuma 1613-1645 Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram terbesar yang memerintah 1616 Penguasa Surabhaya Pangeran Panji Jayalengkara berinisiatif mengumpulkan para pemimpin brang wetan untuk menyerang Mataram. Perlu mendapat restu Giri Kadhaton lebih dahulu. Pangeran Pekik (putra Jayalengkara) sbg utusan. Pd kesempatan tsb, Sunan Giri bersabda bhw anak keturunan Pangeran Pekik akan menguasai Jawa (hal. 356) 1618 Giri Kadhaton dibawah Susuhunan Ageng Giri 1619 Lahir Raden Mas Sayidin atau Adipati Anom Arya Mataram, putra Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma (dgn Ratu Wetan, putra Kyai Adipati Upasanta yg dipancung Anyakrakusuma krn kalah melawan Batavia di penyerangan pertama), yg nantinya akan dinikahkan dengan putri Pangeran Pekik (dgn istri pertama) 1620 Mataram dibawah Anyakrakusuma mengirimkan pasukan utk menaklukan Surabhaya 1624 Mataram menaklukkan Madura 1625 Mataram menaklukkan Surabhaya. Sungai Kali Mas dibendung, mjd sumber penyakit 1628 Pangeran Panji Jayalengkara mangkat 1628 Serangan Mataram pertama ke Batavia dipimpin Tumenggung Bahureksa, Kendhal membawa 48.000 prajurit. Kalah dan Tumenggung Bahureksa wafat dlm peperangan. 1629 Serangan Mataram kedua ke Batavia dipimpin Tumenggung Singaranu. GubJen. Yan Peters Zoon Coen tewas di masa peperangan. 1633 Pemberontakan ke Mataram oleh Syekh Bungas, keturunan Susuhunan Ing Tembayat, dipicu krn kekecewaan penyerbuan ke Batavia yg tidak maksimal berhasil digagalkan. 1.260 org dari Ukur dan Sumedang (tanah Pasundan) dihukum penggal di alun-alun Mataram krnnya. 1633 (1555 Tahun Syaka) Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma mulai menggunakan almanak berdasar perhitungan perputaran bulan (tahun Islam) 1635 Pengembaraan putra-putri Sunan Giri stlh runtuhnya Giri Kedhaton oleh Mataram (Ki Ageng Pekik) 1645-1677 Sri Susuhunan Amangkurat Agung, penguasa terakhir yang memerintah Kasultanan Mataram 1680-1703 Jawa, Sri Susuhunan Amangkurat Amral pendiri dan penguasa pertama Keraton Kartasura 1703-1705 Susuhunan Amangkurat Mas, penguasa Keraton Kartasura Raden Mas Garendi adalah cucu Sri Susuhunan Amangkurat Mas, putra dari Pangeran Tépasana. 1704 1719 Sri Susuhunan Raden Pakubuwana I, memerintah Keraton Kartasura 1719-1726 Sri Susuhunan Amangkurat Jawa yang memerintah Keraton Kartasura Sri Susuhunan Raden Pakubuwana II adalah putra dari Sri Susuhunan Amangkurat Jawa. 1755 runtuhnya Mataram, peristiwa Palihan Nagari 1788 Sri Susuhunan Raden Pakubuwana IV naik tahtaRM Gusti Sugandi bergelar Adipati Anom Amengkunegoro III 1799 runtuhnya VOC 1810 pengangkatan RM. Suroyo (putra mahkota HB II) sbg Sultan HB III oleh Gubjen. Herman Willem Daendels. 1811 Belanda digantikan Inggris. 1812 Yogya diserang. Banyak benda berharga warisan leluhur Mataram/Kasunanan Surakarta diangkut oleh Inggris (Raffles) ke negerinya. Sultan HB II berkuasa kembali 1812 ide penulisan semua hal terkait sejarah Jawa oleh Adipati Anom Amengkunegoro III 1815 Adipati Anom Amengkunegoro III, putra mahkota Sunan Pakubuwono IV, memprakarsai penyusunan lengkap budaya Jawa, Suluk Tambangraras. Yg nantinya lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Penyusunnya adalah:
RN. Sastradipura
RN. Ranggasutrasna
RT. Sastranagara (Ki Ranggawarsata atau RN. Yasadipura II)
Buku kecil setebal 157 halaman ini aku beli entah dimana. Lupa. Tertulis catatanku di dalamnya, tahun 2018. Buku karya Anton (Pavlovich) Chekov ini ditulisnya pada tahun 1885, di era Tsar Nicholas tentunya, sebelum revolusi Uni Soviet (1917). Dedikasinya sebagai penulis cerpen realis dan penulis naskah drama, menghantarkannya sebagai penerima Pushkin Prize, penghargaan bergengsi Russia, bagi sastrawan. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bentang pada tahun 2017 dan diterjemahkan oleh sastrawan besar kita, Sapardi Djoko Damono.
Meskipun novel ini pendek, namun tetap lebih panjang dari cerita pendek biasa. Lebih dari 15 nama terlibat dalam ceritanya, termasuk beberapa tokoh utama yaitu Laptev (Alyosha) Alexei Fyodorovich 32 tahun (tokoh utama), Yulia Sergeyevna 21 tahun (tokoh utama), Nina Fyodorovna 39 tahun (kakak Laptev), Panaurov Grigory Nikolayevich (suami Nina), Fyodor Stepanych (ayah Laptev), Fyodor (kakak Laptev), Yartsev (tmn Laptev), dan Kostya Kochevoi (tmn Laptev). Lokasi cerita hanya ada di dua tempat, yaitu kota kecil tempat Yulia berada dan Moscow, dengan setting waktu pada saat buku ini ditulis, 1885.
Garis besar cerita buku ini tentang cinta tak berbalas. Cerita biasa, tak istimewa dan lazim adanya. Betulkah? Betul, namun kembang-kembang cerita yang disajikan penulis realis inilah yang menjadikan keseluruhan cerita mengalun getir, depresif dan memperkaya makna kehidupan sosial. Bukan karena alur cerita utama, tetapi justru karena kembang – kembang cerita inilah, bisa tertangkap kelunya realitas sosial budaya yang melatar-belakanginya.
Chekov menggunakan teknik cerita pihak ke-3, sebagai pencerita yang seolah tahu semua pikiran dan perasaan para tokohnya. Dan Chekov juga selalu menjelaskan secara rinci sifat fisik dan karakter mereka. Misalnya, tentang Laptev, Chekov menjelaskan, “… dirinya tidak tampan, dan kini dia hampir yakin tentang kenyataan tersebut. Dia agak pendek dan kecil, pipinya merah muda dan rambutnya mulai menipis di bagian atas sehingga kalau hawa sedang dingin, dia bisa langsung merasakannya di kulit kepala. Wajahnya tidak memiliki daya tarik yang paling sederhana sekalipun, yang bisa membuat wajah tampak menyenangkan. Kepada perempuan dia bersikap kaku, terlalu banyak omong, dan suka asyik dengan dirinya sendiri”.
Begitu piawainya Chekov bercerita, hingga baru mulai membaca halaman pertama buku ini, langsung terbayang pengalaman pembaca tentang setting kota kecil Russia, di akhir abad 19. Kereta kuda, kemeja rapi dalam celana besar berikatpinggang untuk lelaki, dan gaun yang berkembang di bawah dengan payung mekar menutupi kepalanya.
Laptev, anak pengusaha kaya, tertarik dengan Yulia, gadis cantik, putri seorang dokter. Tak ingin berpanjang waktu, Laptev menyatakan cintanya. Namun ternyata, meskipun berasal dari kelas pengusaha, tak membuatnya menjadi percaya diri. Begitupun juga dengan Yulia, tak serta-merta mampu menerimanya. Bimbang. “Benar bahwa dia tidak mencintai lelaki itu, dan jika menikah dengannya, berarti dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi-mimpinya untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, akankah kelak dia dapat menemukan lelaki yang diimpikannya itu? Umurnya kini sudah 21 tahun. Di kota ini memang tidak ada pemuda yang pantas. Dia berpikir tentang semua lelaki yang dikenalnya , pegawai pemerintah, guru, opsir, dan ternyata sebagian dari mereka telah menikah dan hidup mereka teramat kosong dan menjemukan, yang sebagian lagi tidak menarik, hambar, bodoh, atau tidak bermoral”.
Konflik perkawinan tanpa cinta di awal cerita inilah yang kemudian menjadi isu utama buku ini. Tentu, situasi sosial masyarakat berkelas yang menjadi ciri utama karya-karya Chekov menjadi landasan utama cerita. Laptev yang tertekan karena tak nyaman menjadi pengusaha yang sewenang-wenang, pekerja pabrik yang tak berkutik, religiusitas tanpa praksis dan perkawinan tanpa cinta sebagai plot cerita.
Karya-karya sastrawan Russia dijamannya, menurutku selalu getir menggugah pikiran kritis yanh memperkaya nurani. Perlu dibaca.
Nama Don Quixote rasanya sering sekali kita dengar sejak dulu, yang terbayang saat itu adalah cerita tentang pria parlente yang suka berbohong. Namun seperti apa persisnya cerita itu, tidak tahu. Nopember 2017, di pojok toko buku Gramedia Semarang, kutemukan buku tipis kecil terbitan Immortal, dan baru kubaca saat mudik Lebaran 2018 ini.
…
Novel pendek Spanyol berjudul asli Don Quixote de la Mancha karya Miguel de Cervantes (Spanyol, 29 Sep. 1547 – 22 Apr 1616) yang terbit di tahun 1605 and 1615 ini sudah lama ingin kubaca. Di berbagai tautan di internet, selalu kutemukan rasa kekaguman terhadap novel ini, banyak yang menyebutkan sebagai “novel modern Barat pertama”.
…
Bahkan sejak halaman pertama novel terjemahan dalam bahasa kita ini, tepatnya dalam Kata Pengantar, aku sudah merasa aneh membacanya. Pengakuan Cervantes dalam bab Pendahuluan di penerbitan buku asli keduanya yg berjudul Don Quixote de la Mancha, pada tahun 1615, adalah bukan karya asli Cervantes, adalah aneh dan mengejutkan. Betulkah pernyataan ini? Atau ini sudah menjadi bagian dari cerita tentang Kebohongan? Entahlah, aku telan saja permainan kata dalam novel ini. Absurd, kehidupan penuh kebohongan dan obsesi atas kemenangan, nyata memanusia rasanya.
…
Novel ini dibagi dalam 16 cerita pendek bersambung tentang petualangan Don Quixote. Sepanjang cerita, berisi tentang kegilaan Don Quixote yang merasa dirinya sebagai ksatria tak terkalahkan, yang membasmi kejahatan dan selalu berpakaian perang, lengkap dengan tombak, tameng, helm dan kuda. Tak lupa Don Quixote juga selalu membanggakan putri petani, Dulcinea del Toboso, sebagai perempuan tercantik yang dicintainya.
…
Cerita dimulai dengan perkenalan diri Don Quixote (50 tahunan) yang gemar membaca buku-buku tentang ksatria pembasmi kejahatan. Petualangan penuh mimpi kegilaan berbayar kehancuran fisik dan kenyataan, ditemani kuda, Rozinante, dan pengawal setia, Sancho Panza, yang kesadarannya terkalahkan oleh utopia. Bagaimana akhir cerita? Silahkan membacanya.
…
Bila sulit ditemukan buku terjemahannya, bisa dibeli ebooknya di Kindle Amazone.
Begitu banyak novel tulisan Dewi Lestari, yang biasa dipanggil Dee, bertumpuk di berbagai toko buku terkenal itu, tebal dan ada beberapa judul yang berbeda, berseri sepertinya. Kulihat di Semarang, Jakarta, bahkan juga terpajang di toko yang sama, di kota kecil Kediri.
Sudah sangat lama kudengar nama penulis ini, bahkan di rumahku pun tersimpan Perahu Kertas bacaan istri, tapi baru sekarang ingin membaca tulisannya. Madre, novel pendeknya yang terbit 2015, menjadi pilihan buku digital yang kubeli dari Google Playbook. Murah, hanya Rp. 10 ribu saja (hehe seperti iklan rumah, pakai kata saja). Pertimbanganku membelinya, pendek ceritanya sehingga tak terlalu lelah menyelesaikannya apalagi kalau nanti ternyata membosankan ceritanya.
Membeli ebook di Google Playbook selalu ada pilihan Sample yang gratis, hanya beberapa halaman saja atau Buy, yang berarti beli dengan nilai Rupiah tertulis disana. Dari Sample cerpen Madre, terasa nyaman membacanya. Gak punya aku teorinya untuk menilai cerpen ini, namun jelas terasa nyaman, mengalir dan ingin segera menyelesaikannya. Tak terasa halaman Sample habis, dan akhirnya Buy menjadi pilihan supaya bisa membaca sampai akhir tulisan. Tak bosan membacanya.
Ceritanya sederhana, hanya tentang pembuatan adonan roti, yang didukung oleh tiga pemeran utama. Ini penulis yang detail, mengamati bahkan mungkin dia ikut meneliti atau setidaknya rajin membuat catatan, entah tertulis atau dalam kepalanya. Cerdas. Dia bisa menggambarkan proses pembuatan roti sedemikian runtut hingga memberi gambaran aroma roti yang demikian harum. Rinci penuh rasa, tak terkungkung kaidah bahasa. Mencerdaskan.
Selesai dengan Madre, mulai searching tulisan lainnya. Ketemulah kumpulan cerpen Filosofi Kopi, terbit 2012, yang filmnya sudah tayang di cinema 21 bulan lalu namun belum nonton (dimana beli dvdnya?). Pengin juga tahu isinya, maka belilah ebooknya. Lagi, di cerpen pertamanya, dari 18 cerpen dalam buku itu, yang juga berjudul Filosofi Kopi, menampilkan cerita yang rinci tentang kopi. Tetap, mengalir santai, ringan namun tersimpan misi etika di dalamnya yang patut jadi renungan. Hebat.
Di cerpen keduanya Mencari Herman, Dee menulis tentang perjalanan hidup seorang perempuan, Hira, yang mencari seseorang bernama Herman. Unik ceritanya, bahkan tak terduga ada ide cerita semacam ini. Tetap asik membacanya. Masih ada beberapa cerpen lagi di dalamnya yang belum selesai membacanya. Keahlian langka.
Blog ini berisi tumpahan kegelisahan yang mengganggu olah pikir dan kesejukan rasa. Senang sekali bila bisa bermanfaat untuk sahabat sekalian. Selamat membaca.