Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni 9th, 2026

Januari 2011, awal kunjungan ke China, meliputi Hongkong, Macau, Shenzhen, Guangzhou. Shenzhen masih awal berkembang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Infrastruktur sudah tertata rapi, hijau sejuk segar. Tenang lengang tak banyak kesibukan lalulintas dengan gedung yang lega berjarak. Nyaman.

Akhir April 2026 kembali ke Shenzhen, provinsi Guangdong, via Hongkong menggunakan kapal feri. Masih dalam kawasan bandara (SkyPier) langsung transit ke kapal feri tujuan Shenzhen. Kapal berlayar tak jauh dari pulau Hongkong menuju China daratan. Jembatan yang menghubungkan Hongkong – Shenzhen pun terlihat dari kapal. Dalam 45 menit kapal berlabuh di pelabuhan Shekou cruise, Shenzhen. Pelabuhan besar bersih nyaman.

Salah satu tujuan kunjungan kali ini adalah melihat wilayah reklamasi di Shenzhen, yaitu Qianhai. Reklamasi intensif dilakukan 2010-2015 dengan persiapan dilakukan mulai 2008. Total area wilayah daratan Qianhai saat ini adalah 15 Km2, dengan area reklamasi di dalamnya seluas 10 Km2.

Area reklamasi Qianhai, Shenzhen

Sebutan resmi wilayah Qianhai adalah Qianhai Shenzhen-Hong Kong Modern Service Industry Cooperation ZoneSecara administratif, Qianhai adalah wilayah khusus dalam Kawasan Ekonomi Khusus, Shenzhen.

Shenzhen adalah kota besar dengan populasi tak kurang dari 18 juta jiwa. Seperti umumnya kota-kota besar di China, demikian juga Shenzhen, tersedia jalan protokol yang lebar, dengan 5-6 lajur per jalurnya. Yang mengagumkan adalah tidak berisik. Mobil listrik cukup dominan. Bus kota pun bertenaga listrik. Tidak terlihat satupun sepeda motor berbahan bakar bensin lalu-lalang di jalanan. Semua motor  berenergi listrik/baterai. Memang perlu juga kritik karena banyak motor listrik ini justru ikut menggunakan jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki (kakilima). Bahkan ikut menggunakan jembatan penyeberang (JPO). Berbahaya bagi pejalan kaki karena motor tidak terdengar. Bisa keseruduk.

Kawasan Qianhai tertata rapi dengan jalan raya dan kakilima yang lebar. Leluasa bagi penggunanya. Gedung perkantoran dan apartemen selalu ada dalam setiap blok yang dikelilingi jalan raya. Memang kurang estetis karena jemuran di masing-masing unit apartemen terlihat bergelantungan di sekitar keteraturan gedung perkantoran yang megah, infrastruktur dan taman kota yang indah. Konsep MUD (Mixed-Use Development) ini memang dimaksudkan untuk mengurangi kesibukan transportasi. Mendekatkan orang dengan lokasi kerja. Tak terlihat “rumah tapak” (landed house). Infonya adalah kelas menengah-bawah justru diprioritaskan untuk bisa tinggal tengah kota, dekat kawasan bisnis sehingga mengurangi biaya transportasi dan energi.

Memang masih ada sedikit wilayah yang padat penduduk di Shenzhen, namun tetap bersih dan tidak kumuh. Secara keseluruhan, wajah Shenzhen adalah gedung perkantoran, apartemen, taman kota serta jalan raya dan kakilima yang lebar dan nyaman.

Atap gedung Shenzhen Rail Property

Beberapa hari di Shenzhen, sempat berkunjung ke Shenzhen Rail Property Building di Shennan Avenue, Shenzhen City. Ini perusahaan negara yang mengelola semua kereta listrik di Shenzhen. Luas wilayah 1.997 Km2 dengan populasi 13 juta orang. Konsep TOD (Transit-Oriented Development) dan R+P (Rail plus Property) menjadi solusi mobilitas urban dan keuntungan finansial yang terkait dengannya. Sehingga pengadaan transportasi publik berbasis kereta listrik lebih dilihat sebagai persoalan properti di kawasan luas yang berhubungan dengan rel dan stasiun kereta, bukan tentang perkeretaapian semata. 

MIXC mall yang terdiri dari tiga gedung, menjadi pusat kunjungan warga Shenzhen. Toko yang menjual barang-barang bermerk tersohor, lengkap tersedia di dalamnya. Juga cafe dan resto banyak tersebar. Sempat ngopi di cafe Ralph & Lauren yang menyatu dengan toko pakaiannya.

Untuk mengenal kemajuan industri teknologi AI, sempat mengunjungi Shenzhen Artificial Intelligence Industry Association (SAIIA) di Nanshan district, Shenzhen. SAIIA yang didirikan tahun 2017 ini berada di lingkungan gedung perkantoran yag cukup tenang. Tepat di depan gedung TikTok. SAIIA menghimpun lebih dari 800 perusahaan AI. Shenzhen adalah pusat aktivitas AI terbesar kedua di China, setelah Beijing. Tak banyak produk AI yang dipamerkan di kantor ini, kecuali robot-robot kecil dan poster-poster berbahasa China. Sepertinya produk AI China masih untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga tidak cukup gencar melakukan marketing. Termasuk penggunaan bahasa dalam poster-posternya, hanya menggunakan bahasa China.

Selalu menarik mempelajari kemajuan China di banyak sektor. Rasanya belum lama mendengar kabar jutaan korban jiwa karena kelaparan di era Revolusi Budaya, Mao Tse-tung. Dan sekarang sudah demikian melesat tinggi dalam kancah ekonomi, teknologi, pariwisata, pertahanan, dll. Berharap melakukan kunjungan lagi ke China untuk melihat lebih banyak lagi perubahan positif disana.

Read Full Post »