Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Film’ Category

imagesKeingintahuan tentang LGBT, berujung mencari film tentangnya di jagad maya, dan menemukan The Danish Girl (2015) yang memenangkan Oscar, dengan pemeran handal Edward Redmayne (Theory of Everything) dan Alicia Vikander (Ex Machina); dan Carol (2015) yang dibintangi aktris senior Cate Blanchett dan Rooney Mara (The girl with the dragon  tatoo). Yang ketiga, beberapa hari yang lalu HBO memutar film Gia (1998) dengan pemeran utama Angelina Jolie, Faye Dunaway, Elisabeth Mitchell. Rasanya ketiga film tersebut belum pernah diputar di Indonesia. Atau saya yang tertinggal? Mengingat isu pelangi yang sedang panas, ketiga film ini jadi semakin menantang untuk ditonton.  Entahlah …
Dikisahkan dalam The Danish Girl pasangan muda suami istri yang hidup rukun dan ceria, tinggal di sebuah apartemen sederhana, dalam setting tahun 1926 di Copenhagen. Pada awal film, masih belum terlihat karakter atau peran masing-masing pemain, semuanya tampak datar. Biasa saja. Gerda Wegener, seorang pelukis dan sang suami Einar Wegener menjadi model lukisannya. Yang mengejutkan adalah Einar dilukis dengan pose anggun dan kostum perempuan. Proses melukis ini berlangsung lama dan memberikan kesan bahwa Einar semakin nyaman dengan tampilan keperempuanannya. Tidak lagi hanya sekedar senang berpakaian perempuan, bahkan segala gerak dan perilakunyapun mulai perempuan. Hingga suatu saat berani tampil di publik dengan sepenuhnya berdandan, berperilaku dan bertutur-kata layaknya perempuan. Dan namanyapun berubah menjadi Lili Elbe. Tak puas dengan  penampilan dan perilaku keperempuanannya, Einar bertekad untuk operasi genital, ganti kelamin, demi mengejar kelengkapan hidupnya sebagai perempuan, dengan kondisi ilmu dan teknologi kedokteran yang sangat beresiko tinggi dimasa itu.
Percakapan Elinar dengan perempuan hamil tak dikenal di suatu taman, tentang keinginan dirinya untuk hamil, menjadi sesi yang cukup mencengangkan. Mungkin sesi dialog ini dimaksudkan sutradara untuk menggambarkan gemuruhnya hasrat hati Elinar untuk menjadi perempuan seutuhnya sesuai kodratnya. Sulit membayangkan seseorang melakukan operasi ganti kelamin di tengah komunitas yang begitu ketat dalam hal “penyimpangan” gender. Berat sungguh beban Elinar di alam nyata, merasa terjebak dalam jenis kelamin biologis yang berbeda dengan identitas dan ekspresi atau perilaku gender yang dirasakannya. Transgender menjadi pilihan hidupnya, yang sayangnya berujung tragis pada akhirnya.
Menurut American Psychological Association, Transgender is an umbrella term for persons whose gender identity, gender expression or behavior does not conform to that typically associated with the sex to which they were assigned at birth.
imagesBerbeda dengan thema transgender yang disuguhkan The Danish Girl, film Carol bercerita tentang kehidupan Lesbian antara Therese Belivet (Rooney Mara), seorang fotografer 20 tahunan yang bekerja di sebuah pertokoan di New York 1950, yang sedang menghadapi kehidupan pra-perkawinan yang tidak cukup membahagiakan, dengan Carol (Cate Blanchett) seorang istri beranak satu yang sedang dalam proses perceraian. Pertemuannya dengan Carol Aird di toko mainan tempat Therese bekerja, berbuntut kedekatan diantara keduanya. Gambar-gambar yang tajam dengan setting 1950an, meskipun kadang redup cahaya, tetap enak dilihat. Kostum dan penampilan Carol yang bergerak anggun berkelas sekaligus tegas, bersorot mata tajam dominan, terlihat sempurna meskipun halus dalam bertutur-kata. Kontras dengan karakter Therese yang cenderung penurut, sederhana cenderung na’if dan kurang percaya-diri. Pertemuan makan siang pertama mereka di sebuah resto mampu menggambarkan karakter mereka berdua. Kelelahan psikis Carol akibat rumahtangganya yang tidak bahagia dan keinginan Theresse untuk menemukan sahabat sejati, menyebabkan munculnya kenyamanan keduanya yang serasa menemukan tempat bersandar akibat kelelahan hidup berpasangan yang tak sejalan, membuat hubungan semakin erat dan saling membutuhkan, bahkan sudah seperti layaknya pasangan suami-istri. Perilaku lesbian.
images-2Gia, film semi-dokumenter kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan singkat supermodel Gia Carangi, lengkap dengan adegan narasi sang Ibu dan rekan-rekannya. Adegan pembuka di awal cerita menggiring opini penonton bahwa Gia adalah seorang remaja yang tersiksa batinnya karena kekosongan sosok sang ibu, Kathleen (Mercedes Ruehl), hubungan kedua orangtuanya yang tidak harmonis, bahkan sudah menunjukkan kecenderungan KDRT. Bekerja sebagai juru masak di resto bapaknya di Philadelphia, Gia tumbuh sebagai gadis cantik berbadan bagus dengan gaya rambut punk dan pergaulan bebas. Pertemuannya dengan seorang fotografer menjadi titik awal karirnya sebagai fotomodel sukses di New York. Kekayaan yang cepat diperoleh dan gaya pergaulan supermodelnya yang begitu bebas tanpa kesiapan mental kedewasaan telah menjerumuskan dirinya dalam ketergantungan narkoba dan sex bebas dengan pasangan sejenis, Linda (Elizabeth Mitchell), yang telah mempunyai pasangan lawan jenis, namun sebetulnya sangat peduli dan supportive untuk kehidupan Gia yang lebih baik. Ketidakmampuan hidup mandiri tanpa kehadiran Ibu dan kehilangan panutan dari fashion agent yang membawanya ke puncak kesuksesan, Wilhelmina Cooper (Faye Dunaway). AIDS pada akhirnya mengakhiri kehidupannya yang singkat dan getir, di usia 26 tahun.
Research over several decades has demonstrated that sexual orientation ranges along a continuum, from exclusive attraction to the other sex to exclusive attraction to the same sex. However, sexual orientation is usually discussed in terms of three categories: heterosexual (having emotional, romantic or sexual attractions to members of the other sex), gay/lesbian (having emotional, romantic or sexual attractions to members of one’s own sex) and bisexual (having emotional, romantic or sexual attractions to both men and women).
Ada kesamaan pada dua film terakhir, Carol dan Gia, yaitu diawali dengan kehidupan sebelumnya yang getir dalam kaitannya dengan kehidupan bersama lawan jenis dan berujung kehidupan bersama dengan kaum sejenis:
  • Carol, tidak harmonisnya kehidupan perkawinan Carol, juga kurang eratnya hubungan Theese dengan pasangannya
  • Gia, hilangnya kasih sayang Ibu
The Danish Girl berbeda dengan kedua film diatas. Hubungan perkawinan yang tetap harmonis antara dua gender biologis laki-laki dan perempuan meskipun terjadi perubahan status perkawinan seiring perjalanan waktu dengan pertumbuhan identitas atau perilaku gender salah satu pasangan. Einar berubah menjadi Lili Elbe, tanpa cerita suram di masa awal kehidupannya, seolah memastikan adanya jebakan identitas gender (psikis) yang disandangnya, dalam identitas biologis yang berbeda.
Apakah memang demikian gejala prosesnya untuk menjadi Gay/Lesbian dan Transgender? Menarik untuk dipelajari tanpa perlu menghakimi.
Tautan:

Read Full Post »

ColoniaFilm ini  berlatarbelakang rejim diktator militeristik Chile awal tahun70an ketika General Augusto Pinochet sukses coup detat presiden terpilih Salvador Allende, dari Partai Sosialis, yang sangat dekat dengan Cuba, secara demokratis berdasar hukum yang ada, karena tidak adanya pemenang mayoritas tunggal dari 3 kandidat yang ada.

Dibuka dengan adegan demonstrasi dukungan terhadap kemenangan presiden Allende pramugari Lufthansa, Lena (Emma Watson) dengan photographer asing Daniel (Daniel Brühl), menjadi tokoh fiktif pencerita kisah nyata ini. Berhasilnya kudeta General Augusto Pinochet, diukuti dengan ‘pembersihan’ terhadap para pendukung rejim sebelumnya menjadi awal terbongkarnya Colony Dignidad, yang merupakan persekutuan sekte agama eksklusif dengan menggunakan kekerasan dan intimidasi.

Daniel ditangkap karena aktifitasnya yang mendukung rejim sebelumnya. Kegigihan Lena dalam mencari lokasi penahanan Daniel membuahkan hasil informasi bahwa Daniel ditahan di Koloni Dignidad. Dengan maksud untuk mengetahui nasib Daniel, Lena mendatrarkan diri secara sukarela untuk menjadi anggota sekte agama tersebut.

Koloni yang menempati area jauh dari kota ini dikelilingi oleh pagar tinggi dengan kawat berduri beraliran listrik yang mematikan untuk mencegah larinya para anggota sekte, bahkan digambarkan dalam film ini juga terdapat kawat jebakan yang terkait dengan alat penembak yang juga mematikan. Seperti layaknya camp konsentrasi di era Hitler, Auschwitz. Perkebunan hijau yang luas dengan bangunan2 ruang pertemuan dan bangsal besar berisikan banyak tempat tidur berjajar bagi para perempuan yang berada dalam lingkungan berpagar tersebut.

Penyiksaan yang dilakukan dengan berbagai peralatan listrik di lorong bawah tanah, kerja paksa dengan ancaman cambuk bagi perempuan di perkebunan yang luas, ritual penyiksaan untuk perempuan oleh anggota pria berseragam celana wool bersuspender secara bersama-sama, kekerasan seksual terhadap anak-anak menjadi gambar-gambar utama dalam film ini. Kelam mencekam.

Ditayangkan bahwa perempuan bertanggung jawab terhadap penananam kentang, jagung, termasuk juga pengupasannya. Setiap anggota perempuan, berpakaian seragam perkebunan Jerman, blouse panjang menutup leher hingga dibawah lutut dan scarf kecil sebagai kerudung, mendapatkan giliran untuk menjaga gudang hasil panen sambil mengupas kentang di dalamnya. Dari dalam gudang inilah proses pelarian kedua tokoh tersebut dimulai, setelah mereka temukan terowongan panjang di bawah gudang, hingga tembus sampai di luar pagar koloni.

Paul Schäfer (Michael Nyqvist), sang pemimpin sekte keagamaan eksklusif Colony Dignidad berkebangsaan Jerman dan lama tinggal di Chile pada masa tuanya. Dia adalah tenaga medis di ketentaraan Hitler pada PD-II. Setelah perang, dia mendirikan kelompok keagamaan dan mendirikan rumah untuk anak-anak petani korban perang. Kemudian pindah ke Chile pada tahun 1961, beserta 70 pengikutnya mendirikan sekte keagamaan Colony Dignidad. Digambarkan sebagai pendeta yang keras, tinggi berkacamata dan sering berbahasa Jerman, serius, temperamental dan manipulatif. Para pengikutnya bahkan sering menganggapnya sebagai tuhan. Akhirnya dia ditangkap di Argentina setelah 8 tahun dalam pelarian.

Berhasilkah Lena dan Daniel keluar dari penjara berkedok agama tersebut? Mudah sekali jawabnya, karena bukan itu pasti maksud penulis cerita, melainkan pesan bahwa penistaan nilai-nilai kemanusiaan adalah ironi sejarah yang sangatlah tak layak lagi ada di dunia ini, apapun kemasannya. Highly recommended.

Info Film:

Produksi: 2015

Sutradara: Florian Gallenberger

Skenario: Florian Gallenberger dan Torsten Wenzel

Cuplikan film Colonia

Catatan:
1. The Colony: Chile’s dark past uncovered

2. Secrets of ex-Nazi’s Chilean fiefdom

3. ‘Colonia’ Movie True Story: History Of Colonia Dignidad Before Emma Watson Film Premieres

4. The Torture Colony

5. Wikipedia: Colonia (film)

Read Full Post »

Screenshot_2016-03-27-13-41-52-1Jumat yll sempatkan diri nonton Batman vs Superman, penasaran saja, karena iklan di medsos cukup gencar dan anak di Yogya begitu semangat berangkat nonton sendirian.

Cinema 21, theater 1 penuh, bahkan sampai baris terdepanpun terisi penonton. Dari kakek-nenek yang nemenin cucu, sampai cucu yang masih belajar jalan pun ikut nonton. Tepuk-tangan dan isak sedih kadang terdengar ketika sang jagoan menang atau terkapar pingsan… sebegitu totalnya mereka menikmati film ini.

Saya sendiri tertidur di awal film, rasanya lamban dan banyak asesori gambar bergerak cepat dan suara bising kehancuran. Melelahkan. Sampai tengah waktu, baru muncul konflik batman vs superman. Batman yang penuh dengan peralatan berteknologi maju dan Superman dengan kekuatan dan kesaktiannya yang luar biasa hingga bisa tiba-tiba meluncur cepat ..  wuzzz.. Lalu muncul Wonder Woman, yang saya pikir Xena Worrior Princess hahaha (jagoan serial tv 90an?) … gak jelas benar apa pentingnya tokoh ini muncul..

Penyajian dalam komik mungkin lebih mampu memompa imajinasi. Memang sudah bukan era saya untuk menikmatinya.  Jadi terasa uzur sudah … 🙂

Read Full Post »

Screenshot_2016-03-08-09-02-19-1Sabtu 14:25 dua minggu yang lalu saya nonton film yang disutradarai Joko Anwar ini di Kemang Village, ternyata tak lebih dari 10 penonton saja, mungkin karena sudah satu minggu lebih film ini tayang.

Tanpa bermaksud menjadi kritikus film, ada ‘sesuatu’ yang berkesan saat dan setelah menontonnya. Muram, getir, keras, gerah, sesak, tertekan, nyata, mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan film ini, bahkan posternyapun berwarna muram. Teringat film Slumdog Millionaire, berlatarbelakang masyarakat bawah di India.

Dialog ringan para pekerja berseragam  salon facial saat melayani tamunya, berjajar rapat, sesak, membuka adegan film ini. Ruang istirahat yang sempit, locker kayu penyimpan barang pekerja dan hamparan papan (dipan?) tempat istirahat tanpa kursi, mampu menggambarkan kelas sosial komunitas di dalamnya.

Kamera terus bergerak goyang di belakang pemain, bahkan sering blur, dlm bus kota, pasar, daerah kumuh .. getir dan tidak terpancing mencoba memberi pemanis atau solusi, krn fenomena sosial yg ada memang banyak tak tertangani atau tak dihadiri oleh negara.

Salah rasanya, kalau nonton film ini dengan harapan mendapatkan hiburan tawa lepas sambil mengunyah popcorn. Sebaliknya, justru melelahkan, bahkan mendapatkan tambahan beban pikiran karena semakin mengerti adanya masalah negeri yang belum tertangani.

Beberapa hal baru yang saya dapat, diantaranya adalah proses ‘kontrak’ pembuatan ‘subtitle’ dvd. Sangat sederhana, pembayaran cash di lorong sempit tanpa masuk ke dalam rumah, mungkin dimaksudkan sebagai tempat penggandaan dvd ‘bajakan’. Hal lainnya yang cukup mengejutkan adalah aktifitas seksual ditampilkan cukup ‘gamblang’. Ternyata BSF cukup longgar dalam hal ini. Yang sedikit agak ‘hollywood’ adalah aksi penculikan dengan cara mengkerudungi korban, lalu menyiksanya hingga jatuh dari kursi. Berlebihan rasanya, dalam menyajikan detail penculikan. Senang lihat acting Tara Basro.

Sangat direkomendasikan untuk ditonton, bagi yang berharap mendapatkan potret sosial tanpa pemanis solutif, getir, namun menarik.

Read Full Post »

Angels Sing

Angels SingBaru saja nonton film Angels Sing di HBOHD. Ringan, bukan film box office dan tidak juga dibintangi aktor terkenal, namun membawa pesan ringan yang sangat penting di jaman kepentingan individual menjadi agenda utama banyak pihak. Betul, cerita tentang perayaan Natal di suatu keluarga.

Alkisah, sebuah keluarga muda dengan satu anak lelaki 10 tahunan beserta kakek dan nenek yang akrab dan bahagia. Kecelakaan laluluntas di jalan tol menyebabkan sang kakek meninggal dan sang cucu cedera. Gegar otak ringan sudah mulai sembuh, namun yang lebih berat diderita sang anak sebetulnya adalah rasa bersalahnya. Kecelakaan itu dirasanya terjadi karena dia meminta pada sang kakek untuk pulang bersama lebih malam sehingga terjadi kecelakaan. Seandainya saja dia tidak menunda kepulangannya, maka tak akan terjadi kecelakaan itu. Pikirnya, yang tentu saja tidak benar.

Masa Natal terasa muram tanpa kegembiraan dan pesta karena anak menolaknya. Masih terus berduka. Sebuah bingkisan Natal dari sang kakek untuk sang ayah ditemukan dalam mobil, berisi film rekaman pesta Natal tahunan keluarga sejak masa kecil sang ayah. Menonton rekaman lama ini, menginspirasi sang ayah utk kembali membangkitkan kenangan indah dan kegembiraan bersama keluarga. Cahaya terang dari lampu2 kecil, juga berbagai hiasan Natal, kembali dipasang di seluruh rumah. Dan kegembiraan keluarga kembali muncul.

Pesan dari film ini adalah, kenangan baik bersamalah yang menyatukan keluarga, bukan kesamaan biologis, apalagi hanya kesamaan nama.

Read Full Post »

Film karya Darren Aronofsky, pemenang Aktris Terbaik, Academy Award 2010.

Rasanya sudah lama sekali tidak menemukan film yang ‘mengganggu’ seperti ini, bahkan sambil jalan pun masih terusik tanya. ‘Black Swan’ karya Darren Aronofsky dan dibintangi oleh Natalie Portman, Vincent Cassel, and Mila Kunis telah memenangkan kategori aktris terbaik 2010, Natalie Portman, seorang sarjana psikologi yang fasih bertutur bahasa Ibrani, Inggris, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Nina (Natalie Portman) adalah tokoh utama dalam film ini sebagai penari ballet profesional yang tumbuh besar dalam asuhan ‘single mother’, yang juga seorang ballerina namun gagal di usia muda karena hamil. Obsesi sang ibu akan pencapaian maestro ballet memberikan andil besar dalam membentuk ‘kekacauan’ kejiwaan Nina (kawan2 psikolog mungkin bisa menjelaskannya), selain proses kreatif dalam totalitas peran yang harus dilakoninya.

Peran ganda yang harus dilakoni Nina dalam produksi ballet adalah White Swan, yang berkarakter kurang-lebih sama dengan dirinya dan Black Swan yang berkarakter jahat. Peran Black Swan inilah yang sulit baginya mengingat kehidupan sehari-harinya yang cenderung puritan dan tertutup. Obsesi keberhasilan sebagai tokoh utama dalam peran ganda tersebut menyebabkan terbelahnya pribadi Nina.

Portman sungguh bagus sekali dalam memerankan Nina, gadis ‘lurus’, diam bersuara pelan, yang kesehariannya hanya mengenal studio ballet dan rumah, merepresi diri dari kecenderungan pergaulan bebas namun mulai muncul tindak perilaku menyimpang dengan menyakiti diri tanpa disadarinya.

Darren Aronofsky sungguh cemerlang menampilkan Nina yang begitu obsesif untuk memenangkan peran ganda tersebut dari Lily yang akan menggantikannya untuk peran Black Swan, dengan adegan-adegan halunisasi yang nyata. Perubahan watak Nina dari White Swan menjadi Black Swan di atas pentas, dengan adegan mata yang berubah merah dan bulu-bulu yang muncul di tangan Black Swan sungguh mencekam.

Read Full Post »

The Dark Side of Chocolate

Gambar toko coklat yang bersih, terang dan segar serta penataan cokelat yang rapi dan menarik, membuat remote berhenti untuk merubah channel televisi, penasaran ingin tahu tentang apa film ini. Seorang narator menjelaskan tentang asal mula pembuatan cokelat dan gambar berubah menjadi peta Afrika dengan anak panah yang bergerak dari Mali ke Pantai Gading, Afrika. Film ivestigasi tentang Perdagangan Anak (Children Trafficking) dan Perbudakan (Slavery) abad 21, dibuat oleh Roberto Romano dan Miki Mistrati, yang dalam beberapa kesempatan dilakukan dengan cara ‘hidden camera’.

Beberapa anak laki-laki terlihat lari memasuki bus yang siap jalan di daerah yang gersang dan berlatar-belakang warna coklat gersang berdebu, menuju Pantai Gading, tempat perkebunan cocoa besar, sebagai pemasok hampir setengah total produksi cocoa dunia. Beberapa pabrik cokelat Eropa dan AS, seperti Cargill, Archer Daniels Midland Mars, Nestlé, dan yang lainnya berada di kota ini.

Beberapa anak dibawah 12 tahunan ditemukan sedang membawa parang di tengah perkebunan cocoa di Pantai Gading. “Apa yang akan ditanyakan bapakmu bila kamu sampai di rumah?”, tanya Roberto Romano kepada buruh pemetik cocoa yang masih di bawah 12 tahun, “Dia akan marah, aku pulang tidak bawa uang”, jawabnya. Seorang anak terlihat menangis. Beberapa anak berhasil melarikan diri. Diinformasikan bahwa pada ummnya mereka tidak dibayar. Perbudakan.

Aktifis kemanusiaan di Mali, dengan menangis dan marah merasa tak berdaya, mengatakan hanya sukses menggagalkan pengiriman buruh anak sebanyak 65 orang. Banyak penyedia jasa buruh anak berasal dari daerah mereka sendiri dan pengangkutan dilakukan melewati jalan tanah coklat berdebu, menggunakan bus atau sepeda motor.

Dalam film itu juga ditunjukkan bagaimana Roberto mewawancarai pejabat industri cokelat dan pejabat pemerintah Pantai Gading tentang buruh anak, pada tempat dan waktu yang berbeda. Meskipun pada awalnya mereka menyangkalnya, bahkan sang pejabat terkesan menutupinya dengan nengatakan “oh anak-anak itu berombongan ke Pantai Gading untuk berlibur”, namun setelah film ditujukkan …. Ooohhh dengan lesu mereka menerimanya.

Pada tahun 2001, isu tentang perdagangan anak dan perbudakan di perkebunan cocoa Pantai Gading telah mengagetkan masyarakat dunia, meskipun di Indonesia sepi-sepi saja. Hal ini menjadi kampanye negatif bagi pabrik-pabrik cokelat, dan tuntutan para konsumen mulai mengemuka untuk segera mendapat tanggapan.

Untuk menghindari tuntutan label ‘no child labor’, yang sebetulnya masih terjadi di beberapa pabrik cokelat, industri cokelat sepakat membuat protokol untuk mengakhiri buruh anak di perkebunan cokelat pada tahun 2005.

Tahun 2005, protokol tersebut gagal dipenuhi oleh para industri cocoa, dan dibuat kesepakatan baru untuk memenuhinya pada tahun 2008.

Tahun 2007, Laporan HAM-AS menyatakan bahwa 5.000-10.000 anak diperdagangkan untuk keperluan perkebunan cocoa di Pantai Gading, akibat kemiskinan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang umumnya dari Mali dan Nicaragua.

Lagi, 2008, industri cocoa belum juga dapat memenuh target protokol yang dibuatnya, lalu kesepakatan baru dibuat untuk memenuhinya pada 2010. Lalu?

Setelah hampir 10 tahun, apakah industri cokelat dan pemerintahan yang terlibat sudah berhasil menghapuskan perdagangan buruh anak, pelecehan hak-hak azasi anak dan perbudakan? Hal inilah yang menjadi alasan dibuatnya film ivestigasi oleh Roberto dan Miki. Hasilnya? Seperti disajikan dalam filmnya, perdagangan anak dan perbudakan masih terjadi.

Membeli produk-produk Perdagangan Bebas tidak berarti merubah kondisi kemiskinan akut, yang ‘memaksa’ terjadinya buruh anak sebagai makhluk yang paling lemah.

Mungkin cokelat yang sedang anda nikmati saat ini masih belum bersih dari Children Trafficking dan Slavery….

Read Full Post »

Sang Pencerah

Sang Pencerah dibuka dengan dengan adegan ritual sesaji sebagai bagian kepercayaan Jawa saat itu (1912?). Kemudian kelahiran sang bayi Pencerah, dan cerita terus berlanjut seiring pengantar tahun yang terus muncul di layar sebagai penunjuk waktu sejarah terbentuknya Muhammadiyah.

Yogya, sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah, digunakan sebagai “setting’ cerita. Warna redup, coklat gelap bahkan kulit para pemeranpun tampil gelap menjadi bagian dominan cerita sebagai stereotip tradisional Jawa. Enak sekali melihat detil gambar yang mengalir wajar seperti: daun kering berserakan di jalan sekitar Tugu, tikar pandan, rumah gebyog dan genthong di atas sumur. Musik dan lagu Ilir-ilir, juga tembang yang dilantunkan Sujiwo Tejo terasa lirih sepi membawa arti.

Agama sebagai praksis sosial memang menjadi urgen untuk syiar agama bagi Muhammadiyah seperti ditunjukkan dalam Sang Pencerah, bagaimana Achmad Dahlan sering mengajarkan surah Al-Ma’un, tentang adanya ancaman neraka bagi mereka yang shalat tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan ekonomi masyarakat miskin dan menelantarkan anak yatim. Semangat menggebu-gebu Dachlan untuk melakukan purifikasi Islam, ditunjukkan dengan melakukan perubahan arah shalat sesuai kiblat di masjid Agung, yang menyebabkan marahnya para ulama. Tindakan lain Dachlan yang membuat ‘terganggunya’ para ulama, namun tidak muncul dalam film, yaitu ketika Dachlan mengundurkan hari Idhul Fitri sesuai dengan perhitungan astronomi.

Alwi Shihab dalam bukiunya “Membendung Arus” (lihat dlm Kategori Buku) , yang juga merupakan disertasinya tentang Muhammadiyah, di Universitas Temple, AS, menuliskan bahwa ada empat peran penting Muhammadiyah, yaitu: pembaruan agama, perubahan sosial, kekuatan poloitik dan pembendung Kristenisasi. Kehadiran misi Kristen dan penetrasi bangsa Belanda di negeri ini, serta pengaruh yang mereka desakkan, menjadi faktor pendorong utama yang memicu munculnya semangat keagamaan KH Achmad Dahlan, yang pada gilirannya menyebabkan munculnya Muhammadiyah. Faktor ini sepertinya sengaja tidak dimunculkan atau dihindari dalam film ini, mungkin karena sensitivitas sosial.

Pertanyaan buat mas Hanung, ketika aksi ‘demo’ kelompok konservatif, mereka berteriak ‘Allah Akbar..’ Apakah memang demikian kenyataan saat itu? Kok seperti demo kelompok radikal saat ini ya?

Dari sisi gambar, pencahayaan, musik, pelakon dan alur cerita, rasanya enak saja film ini dilihat. Perlu lebih banyak lagi film seperti ini sebagai alternatif film-film horor yang banyak beredar dan tanpa pesan pencerahan sama sekali.

Read Full Post »

Hujan Asam

Setelah pilih-pilih channel tv untuk cari hiburan ringan yang menghibur tidak muncul juga, akhirnya terperangkap gambar di layar tv, hutan hijau segar dengan sungai kecil jernih membelah layar, dengan sosok pemuda yang sedang melakukan pengukuran pH air sungai dan peralatan kimia, monitor tv serta komputer di bawah tenda sebagai latar belakang. Dengan bantuan judul film terpampang di sebelah kanan-atas layar tv “Dark Skies”, dugaan langsung menyeruak benak, ini tentang isu lingkungan.

Seorang Doktor muda jenius, Jack Weston, lulusan Standford University sedang melakukan penelitian tentang kemungkinan pencemaran alam yg dilakukan oleh pabrik Pegolahan Logam Ordox, tempat dia bekerja sebelum mengundurkan diri, di hutan pinggir kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa, Timberton, California.

Belum lama film berlangsung, kekacauan terjadi ketika hujan mulai turun. Asap menguap dari tetes air hujan di air sungai, tenda roboh katena tiang logam berasap dan meleleh akibat tetesan air hujan dan puncak kekacauan adalah ketika seorang peserta camping melepuh wajahnya akibat mengusap mukanya menggunakan air sungai yang tercemar. Hujan asam telah terjadi. Ini semua disebabkan oleh adanya ledakan dalam pabrik pengolahan logam yang mengakibatkan tingginya kadar SO2 di udara.

Terlepas dari alur cerita yg ‘melo dramatik’ dan kesahihan sains yang meragukan, seperti pH air hujan adalah 1 tanpa ‘historical data’ menunjukkan gejala sebelumnya, serta penggunaan kapur secara sembarangan utk melindungi korosi body mobil, dsb; isu lingkungan yang disampaikan cukup menggugah minat untuk tahu lebih banyak soal Hujan Asam (acid rain).

Informasi di situs internet Wikipedia, EPA dan situs lingkungan lainnya, menunjukkan bahwa tingginya SO2 atau NOx di udara bisa mengakibatkan pengendapan asam (acid deposition) dalam dua cara, Dry Deposition, yaitu pengendapan material halus langsung dari udara dan Wet Deposition, melalui air hujan. Penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan bahan bakar fosil kendaraan bermotor adalah penyebab utama peningkatan kandungan SO2 dan NOx di udara. Di AS, kira-kira 2/3 SO2 dan 1/4 NOx yang ada di atmosfer berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, seperti batubara. Air hujan normal mengandung pH 4-5 dan bila lebih kecil dari itu maka sudah masuk dalam kategori hujan asam.

Isu tentang Hujan Asam, yang berhubungan dengan pertumbuhan industri, ini sempat muncul beberapa tahun yang lalu, tapi pelan-pelan mulai menghilang digantikan dengan isu lingkungan lainnya seperti Perubahan Iklim, meskipun resiko terhadap kehidupan tetap tinggi. Semestinya, kita semua masih harus tetap perhatian tentang hal ini.

Read Full Post »

« Newer Posts