Normal sering juga disamakan dengan ‘kebanyakan’, artinya hanya masalah distribusi sample, atau bukan soal baik/buruk apalagi betul/salah. Mengingat kodrat manusia itu berbeda, unik, atau tidak ada kembar identik 100%, maka pasti ada manusia yang berada diatas/dibawah garis normal, bahkan tanpa batas varian. Jadi, mengapa harus memaksakan diri menjadi normal?
Archive for the ‘Sambil Lalu’ Category
Manusia Normal
Posted in Sambil Lalu on Desember 14, 2013| Leave a Comment »
Bengis
Posted in Sambil Lalu, tagged bengis on Desember 11, 2013| Leave a Comment »
Uuuhh … begitu semangatnya kalian menuduh memaki menghina mengutuk dia yang terhukum, bahkan seolah ingin membasmi dan meluluh-lantakkan keluarga dan kelompoknya. Tak pernahkah terlintas atau terpikir bahwa tautan politik atau ketidak-cerdikan manusia mgk saja terlibat didalamnya?
Lalu, kenapa sekarang menista para hakim ketika junjunganmu mendapat vonis berat karena kejahatan yang sama, korupsi? ‘Pengadilan tidak adil, dholim, politik uang..’ teriakmu, dengan mata melotot dan tangan terkepal. Bengis.
Kejahatan jelas harus dihukum, apalagi dilakukan oleh pejabat pemerintah, sebagai pimpinan rakyat yang semestinya tahu norma hukum. Namun, tak perlulah sampai mencaci-maki hanya karena beda kelompok, keyakinan atau ideologi.
10 Ciri Pejabat Kita
Posted in Sambil Lalu on Desember 9, 2013| Leave a Comment »
1. Datang selalu telat, bahkan diacara tidak resmi sekalipun
2. Menebar senyum di depan publik tetapi angkuh terhadap bawahan
3. Kalau ngobrol sambil berdiri dg kolega tak perduli liyan, walapun bikin macet pintu masuk
4. Handphone di tangan, kacamata dan tas di asisten yang jalan di belakang
5. Bicara hanya normatif dan selalu marah bila diingatkan hal detail
6. Fungsi koordinasi sll ditekankan dan keputusan didelegasikan
7. Sukses adalah pimpinan, gagal adalah bawahan
8. Menarik sumbangan dari pengusaha disetiap acara resmi ataupun personal
9. Ada yang menarikkan mundur kursi saat mau duduk
10. Jalan depan mobil pejabat harus dikosongkan dg bantuan mobil/moge polantas yg bersirine
Pongah
Posted in Sambil Lalu, tagged pongah on Desember 9, 2013| Leave a Comment »
Nilai Kekuasaan dan Uang sejak dulu kala memang begitu tingginya di mata sebagian banyak orang. Bedanya, bila jaman Romawi dulu hanya kaum bangsawan dan pedagang yang mengagungkan kedua nilai tersebut, maka saat ini masyarakat terdidik kota atau kelas menengah atas yang seharusnya mampu berpikir dan bersikap kritis justru turut terjerumus mengagungkan kedua nilai tersebut. MengAGUNGkan dalam hal ini berarti merendahkan nilai-nilai lainnya, seperti sosial, budaya, moral, bahkan agama sekalipun. Menyedihkan…
Pilihan
Posted in Sambil Lalu, tagged Pilihan on Agustus 28, 2013| Leave a Comment »
Duduk diam di emperan mall,
berderet mobil mengantar-jemput pengunjungnya,
warna-warni, juga bermacam model pakaiannya
Tentu saja mahal semua yang dikenakannya
Paling tidak, .. terlihat mahal…
Indah dan wangi semuanya..
Sekat-sekat budaya banyak menghadang di ruang pikir
Lelah rasanya, terus berjalan menembus labirin sempit
Pemahaman etika dan kebenaran sosial seringkali menjadi masalah,
apalagi kultur lingkungan asal masih terlalu dominan
Berpikir kritis bukan landasan, kepalsuan menjadi idaman
Tercenung melintas polah tingkahnya,
sibuk bersolek mematut diri, mencoba keras membangun persepsi
Seolah nilai-diri linier dengan harga materi
Genit menyapa setiap mata
Jalan pelan berteman keangkuhan,
dagu diangkat tanpa menoleh .. ‘cool’ pikirnya…
‘tak peduli liyan’ adalah simbol kemapanan menurutnya.
Menafikan kawan apalagi lawan,
sikut kiri-kanan, intrik, fitnah adalah menang baginya,
dan ketulusan tampak naif untuknya
Inilah ‘power’ tepuk di dada,
macam politikus dadakan saja layaknya..
bangga tanpa setia, lupa diri aku siapa
Uang adalah tujuannya.
Betulkah tanpa pilihan untuknya?
Rumah Hijau
Posted in Sambil Lalu, tagged lahan, rumah hijau, sepeda on Desember 27, 2012| Leave a Comment »
Berderet rumah kosong berwarna hijau di lingkungan lahan bukaan baru yang terasa gersang dan masih miskin akan pepohonan telah membuat kami tertarik untuk mendekatinya. Kecil dan sederhana saja modelnya, namun terasa cocok bagi kami yang beranak tunggal, sepertinya. Terbayang suatu saat akan hijau rindang bila semua rumah telah berdiri dan berpenghuni, ramai penuh anak sebaya bermain sepeda keliling perumahan ini. Melamun …
Alhamdulillah, tak lama berselang, kami diijinkanNya untuk memiliki rumah pilihan ini. Berada di dataran tinggi kabupaten Bogor yang cukup sejuk, rumah ini hanya menyediakan dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Mungil, namun damai membahagiakan. Pembangunan kamar pembantu dan renovasi dapur adalah prioritas utama sebelum kami menempatinya. Mulai angan2 kami berkembang untuk menentukan urutan prioritas kebutuhan barang2 kelengkapan rumah mungil ini. Anak kami masih berusia dua tahun saat itu. Di depan deretan Rumah Hijau masih berupa lahan kosong berisikan alang-alang, namun beruntung sudah ada tetangga tepat di kanan-kiri rumah kami.
Seiring waktu berjalan, lahan kosong di lingkungan rumah hijau itupun mulai dipenuhi dengan rumah baru penuh warga. Anak-anak sebaya semakin banyak, ramai penuh canda, bersepeda kecil keliling bersama. Rumah Hijau pun terimbas keramaian lingkungan, anak-anak berdatangan untuk main bersama.
Dua tahun kemudian, renovasi dilakukan untuk memperbaiki atap, mengganti genting, kusen, pintu dan plafon rumah. Dominan warna kayu telah menggantikan warna hijau kusen dan pintu asli rumah kami yang begitu melekat dalam benak. Pintu papan kayu telah menggantikan pintu hijau berbahan triplek. Gipsum bermotif, juga telah menggantikan asbes sebagai plafon rumah, tak lupa lampu gantung turut menghiasi ruang tamu. Pergola kayu pelindung mobilpun berdiri di depan rumah, bergelantungan bunga di bawah talangnya dengan kolam ikan kecil dari gerabah di sebelah. Taman kecil penuh bunga teratur rapi kebanggaan istri, terus terawat dan segar. Pagar kawatpun kami ganti dengan pagar besi melintang tanpa jeruji berbentuk panah atau tombak tajam menantang alam, berkesan ramah. Nyaman dan penuh syukur mengingat semuanya itu, serasa selalu berada di rumah baru, indah.
Sepuluh tahun kemudian, keindahan kecil pergola dan taman kecil itu terpaksa tergantikan oleh atap beton dan lantai berbatu tipis menutup seluruh halaman depan. Rumah Hijau telah berjasa melindungi kami selama ini, hingga terasa begitu nyaman berada di dalamnya.
Semoga semakin indah dan ramah Rumah Hijau ini, siapapun yang mendiaminya, karena tak lama lagi di akhir tahun 2012 ini, terpaksa kami harus meninggalkannya untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Selamat tinggal Rumah Hijau…
Jeda Tulisan
Posted in Sambil Lalu on September 22, 2012| Leave a Comment »
Sudah lama sekali rasanya tidak update blog ini. Banyak peristiwa yang seharusnya bisa direnungkan, kritisi dan ungkapkan dalam bentuk tulisan atau mungkin hanya catatan ringan saja, telah banyak terlewatkan, seperti catatan Lebaran, atau kasus Krisis Ekonomi Eropa dan Permen ESDM No.7/2012 ttg Pengkayaan Nilai Tambah Pertambangan, yang keduanya saling terkait dan menjadi bagian penting dalam kegiatan penulis.
Membuat blog dan merawatnya secara teratur akan sangat bermanfaat bagi penulisnya karena bisa menjadi catatan pemikiran, summary informasi atau bahkan bisa menjadi informasi bagi pembacanya.
Ada beberapa buku menarik yang masih antri untuk dibaca saat ini, dan akan dituliskan dalam blog ini ringkasannya, ASAP. Maaf kawan, saya termasuk yang sulit berbagi fokus dalam kesempatan yang sama.
Euro Crisis 101 (How A Bailout Package Works)
Posted in Sambil Lalu, tagged crisis, euro, Greece on November 30, 2011| Leave a Comment »
Seperti halnya buku “Too Big To Fail” dan film “Inside Jobs” tentang runtuhnya Wallstreet 2008, analogi menarik tentang krisis Euro di bawah ini makin menambah pemahaman atas tarian uang di jagad global. Diperoleh dari email berantai… Terimakasih pak GSA.
Euro Crisis 101 (How A Bailout Package Works)
It is a slow day in a damp little Irish town. The rain is beating down harshly, and all the streets are deserted. Times are tough, everybody is in debt and everybody lives on credit.
On this particular day a rich Indonesian tourist is driving through the town, stops at the local hotel and lays a €200 note on the desk, telling the hotel owner he wants to inspect the rooms upstairs in order to pick one to spend the night.
The owner gives him some room-keys and, as soon as the visitor has walked upstairs, the hotelier grabs the €200 note and runs next door to pay his debt to the butcher. The butcher takes the €200 note and rushes down the street to repay his debt to the pig farmer.
The pig farmer takes the €200 note and heads off to pay his bill at the supplier of animal feed and fuel. The guy at the Farmers’ Co-op takes the €200 note and runs to pay his drinks bill at the friendly neighbourhood pub.
The pub owner gives the money along to the local singer and his band at the bar….who, in spite of facing hard times, has always gladly offered him his services on credit.
The singer then rushes over to the hotel and pays off his room bill to the hotel owner with the €200 note. The hotel proprietor quietly replaces the €200 note back on the counter, so that the rich Indonesian traveller will not suspect anything.
At that moment the Indonesian traveller comes down the stairs, states that none of the rooms are satisfactory, picks up the €200 note, pockets it and leaves town.
No one has produced anything. No one has earned anything. However, the whole town is now out of debt and looking to the future with a lot more optimism.
And that, ladies and gentlemen, is how a basic financial bailout package works.
That’s exactly how it works… everyone uses cash they don’t own to bail themselves out of nothing.
The problem with Greece is that the rich Indonesian came back downstairs before the money was returned back to the hotelier from the singer…
Hepi Lebaran 2011
Posted in Sambil Lalu, tagged capgomeh, london, munchen, petis on September 16, 2011| Leave a Comment »
Ada tiga yang Berbeda di lebaran tahun ini dibanding lebaran tahun lalu. Yang pertama, ada beda pendapat tentang kapan tepatnya hari lebaran. Pemerintah merubah hari Lebaran dari 30 Agustus seperti yang tercantum di kalender menjadi 1 september, meskipun kami tetap memilih 30 Agustus, apalagi opor ayam, telor petis dan lontong capgomeh sdh dipesan hahaha…
Kedatangan rombongan mudik dimulai dari klg Limus, menggunakan rute JKT-Malang-Kediri, 25 Agustus. Ini flight pertama kami ke Malang, menggunakan Garuda 707-500 7:45. Bandara Malang berada dalam kompleks AURI yang rapi bersih juga penuh bunga dan pohon. Malang yang berada diketinggian kira-kira 2000m, dan masih pagi, terasa adem.
Asik juga perjalanan Malang-Kediri selama 2,5 jam, jalan berkelok tajam serasa membelah gunung di kiri-kanan jalan, melewati rimbun pepohonan dan terkadang sungai-sungai berair dangkal jernih dan berbatu besar, sebagai bukti masih berada di dataran tinggi. Pohon-pohon bambu juga banyak terlihat diantara pohon-pohon pinus. Sesekali terlewati warung kecil menjajakan durian dengan pembelinya yg sibuk menikmati buahnya sambil jongkok. Jalan cukup bagus dan agak sepi, dibandingkan jalan raya Sby-Kediri yang pasti penuh bus dan motor, apalagi menjelang lebaran. So, rasanya akan menggunakan jalur ini lagi di lebaran 2012, Insha Allah. Putri tampak sehat dan ceria.. Terimakasih De Gen dan mas FarhanDre yg sudah menemaninya.
Hari yang sama, saat magrib, muncul De Wow sklg, menggunakan jalur JKT-SBY-KDR. Putri yang selama ini cuma duet dengan De Gen, semakin ceria … Tanggal 27, rombongan dari Pasuruan, De Tri sklg muncul, Om Putut dan Om Peter dari Munchen, De Nang dari Banjarmasin dan mas Bimo/mas Dito dari London (mampir jakarta) juga muncul. De Ren sekeluarga tentu sudah hadir, wong memang berdomisili di Kediri meskipun harus menyelinap dari padatnya kegiatan partai dan kantor …. Ruame tenan … Tawa lebar Putri terlihat jelas. Kita semua jadi ikut hepi …
Beda kedua adalah, berlebaran ke rumah De Tri dan rumah De Wow.. Tahun sebelumnya, kedua rumah ini masih sedang dibangun. Lebaran tahun depan mungkin sudah bisa menikmati lontong opor juga di kedua rumah ini hehe .. Ngarep.com …
Beda ketiga di lebaran kali ini adalah hadirnya om Peter, yang sabar dan murah senyum di tengah keluarga, membuat semangat anak-anak berlatih bahasa inggris. Router Belkin tertinggal om …
De Nung bertiga muncul sekitar jam 9 malam di hari ketiga lebaran, sayang ketinggalan foto gerombolan…
Foto di atas adalah hasil jepretan sukrelawan, mas Bimo, setelah sholat Ied dan sungkeman (suwun mas), 1 sep, semua wajah tampil ceria, apalagi pembagian ‘angpao’ untuk anak-anak (kategori belum bekerja :)) habis dibagikan. Ibu tercinta, Putri, terlihat bahagia melihat laku semua anak-cucunya. Mas Dito (berdiri di belakang, paling ceria), wakil tunggal keluarga De Nung. Sesi pemotretan oleh De Wow dilanjutkan dengan obyek: masing-masing keluarga bersama Putri, bergantian. Kalau menggunakan kamera lama, mungkin sudah habis banyak film.. Sampe ‘theklo’ fotografernya … 🙂
Sampai jumpa di keriuhan lebaran 2012. Insha Allah, Putri dan semua anak-cucu diberiNya kesehatan dan kesejahteraan. Amin
Karyawan lulus ?
Posted in Sambil Lalu, tagged brain-drain on Juni 26, 2011| Leave a Comment »
Baru saja ‘farewell party’ dilakukan secara meriah untuk dua karyawan yang akan mengundurkan diri dan pindah kerja di tempat baru, yang tentunya lebih ‘baik’ menurutnya.
Ada hal yang ‘mengganggu’ menurutku karena dalam acara semacam ini, ‘pengunduran diri’ karyawan selalu dimaknai sebagai ‘kelulusan’ oleh sebagian pihak manajemen, entah ini dimaksudkan sebagai ‘guyonan’ atau hal serius, seolah perusahaan telah sukses mendidik karyawannya sehingga siap bekerja di perusahaan lain. Ironis.
Sejak Januari 2011, sudah 10 karyawan staff mengundurkan diri dan dari sisi persentase, jumlah tersebut termasuk paling besar dibanding dengan divisi lainnya dalam perusahaan. Bila ini adalah institusi pendidikan maka divisi ini masuk dalam kategori berprestasi, sayangnya ini adalah institusi industri yang tentunya jelas mengejar laba, maka tingginya angka keluar-masuk karyawan bukanlah hal yang patut dibanggakan alias perlu dipertanyakan karena jelas akan mengganggu rantai produksi. Banyak pelatihan perlu dilakukan pada karyawan baru yang berimplikasi pada biaya, waktu dan tenaga. Dan yang lebih berat adalah dampak psikis bagi karyawan lainnya, yang seolah penyebab tingginya ‘turn-over’ bukanlah hal yang perlu diperhatikan karena karyawan mudah tergantikan dan kinerja yang baik bukanlah hal yang patut dipertahankan, alih-alih ditingkatkan.
Coba kita bayangkan, seandainya pemilik perusahaan ini mengetahui bahwa biaya yang telah dikeluarkan untuk pelatihan ternyata justru lebih banyak me’lulus’kan karyawan dan bukan meningkatkan kinerja perusahaan atau keuntungan, apa kira-kira reaksinya?
Penyebab tingginya ‘keluar-masuk’ karyawan perlu dievaluasi lebih dalam, bahkan alasan tingginya harga penawaran di luar pun semestinya tidak menjadi alasan memudahkan ‘lulus’nya karyawan karena karyawan terlatih yang sudah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan memang seharusnya perlu dipertahankan.
Ah ini cuma membayangkan apa yang perlu dilakukan seandainya perusahaanku nanti terjadi ‘brain drain’.
