Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sambil Lalu’ Category

Kebiasaan menulis tanggal di awal tahun ini harus betul-betul dirubah secara sadar, tidak seperti biasanya yang hanya perhatian pada tanggal dan bulan, sedangkan untuk tahun, seringkali digoreskan seperti tandatangan saja ‘2010’, tanpa sadar. Hal ini yang senyatanya berubah dengan pergantian tahun, sementara kehidupan terus berlangsung sebagaimana adanya dan penanggalan hanya mengikutinya.

Penanggalan adalah kreasi manusia semata untuk memberi bobot kuantitatif keberlangsungan semesta, sementara kehidupan hanya perlu dijalani dengan segala pernak-perniknya, yang tak mengenal jeda, hanya ada awal dan akhir saja, karena batas-batas telah ditentukan olehNya.

Angka-angka dalam sistem penanggalan itupun sudah mulai kehilangan arti di bumi ini. Tak ada lagi yang mau memberikan kepastian nilai dalam angka-angka itu sebagai pembatas waktu berlangsungnya ketamakan, kesewenang-wenangan, keangkuhan dan berbagai tabiat rendah kemanusiaan lainnya. Bahkan, mereka yang seharusnya punya kuasa memainkan angka-angka itu untuk menghentikan kegelapan, malah berdiri dibelakangnya, takut tergilas. Absurd..

Angka tidak lagi simbol kuantifikasi yang bebas nilai, tapi berubah menjadi sifat relatif yang bergantung pada persepsi. Tingkat korupsi, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dst. ditentukan oleh angka-angka yang kesahihan nilainya sangat tergantung pada keluwesan bersilat lidah dan tindak saling dukung. Bila siapapun yang punya otoritas untuk terlibat dalam merubah kebijakan tidak lagi berani menggunakan angka sebagai nilai pasti pembatas waktu kegelapan, maka pergantian tahun menjadi tidak bermakna, melainkan hanya perubahan goresan saja, 2011.

Read Full Post »

Bu Gudheg Jogja

Melihat berita di televisi yang gegap gempita tentang gangguan ke’Istimewa’an Yogyakarta, jadi terbayang-bayang saat sekolah SMA de Britto akhir 70an di sana. Aku tinggal di jalan Melati Wetan, Gendheng, GK-IV/181F (eh kok meluncur aja itu ingatan alamat kos ya, padahal sdh 28 tahun gak mampir) dan sekolahku di Jalan Solo depan IAIN Sunan Kalijaga. Sepeda (pit, kata orang Jogja) merek Fuji (kok ada ya??) jadi alat angkutan utamaku, kalau lagi bosen dan ada uang ya naik angkot Colt dari jalan Timoho, yang ongkosnya seingatku Rp. 50, dan duduknya berhadapan kiri-kanan atau bergantungan di belakang; atau malah jalan kaki, lewat perumahan Kowilhan II yang bersih dan apik-apik. Jalanan rame dengan sepeda, motor untuk sekolah masih jarang apalagi mobil..

Seingatku, saat itu ongkos bayar kamar per tahun Rp. 72 ribu, makan 3x sehari Rp. 9000/bulan, tahun 1978. Kalau lapar di malam hari, beli gudeg dekat makam Pahlawan, Rp. 300/porsi pakai telor .. Wah .. berapa harga US$ saat itu ya, kok bisa semurah itu biaya hidup di Jogja? Seneng lihat ibu-ibu bakul gudheg ngelayani pembeli sambil guyon, ramah dan sopan, sajak gak capai meskipun dah jam 9 malam.. Kalau lagi cerita tentang sultan, beliau selalu menyebut “sinuhun kanjeng sultan” mak nyesss .. hormat yang tulus dan bangga pada junjungannya … Pernah suatu saat, setelah lama gak pernah mampir, ditanya bu Gudheg “kok lama ndhak mampir, pergi ke mana mas?”, “di kos aja kok Bu, lagi tanggal tua”, jawabku. Eh .. lah kok bu Gudheg mendadak diam, “lain kali gak boleh gitu mas, kalo pengin gudheg ke sini aja, jangan mikir tanggal tua, yang penting paseduluran (kekeluargaan)”, bisiknya. “Saya tahu anak kos mas, wong anak saya ya sekolah di luar kota”, sambungnya. Waduh, susah rasanya masuk dalam nalarku saat ini, Bu Gudheg kerja dari sore hingga malam dengan untung pas-pasan, tapi tidak hanya berpikir ‘kadonyan’ (duniawi) semata. Beda dgn para pebisnis, lulusan sekolah tinggi luar negeri lagi, di kota besar yang selalu sibuk mencari keuntungan, bahkan memasukkan dana sosial ke dalam komponen harga produk … duhh Gusti …

Tiba-tiba dhuarr, samber geledheg .. wehh lahh .. sekarang ada pak presiden (nyuwun sewu) yang pernah jadi pimpinan militer di Jogja, kok ganggu-ganggu jumenengan sinuhun kanjeng sultan tanpa risih dan menganggap sinuhun sebagai rakyat biasa, yang biasa digusur-gusur … ya mesti wae rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat meradang … bikin sejahtera rakyat aja belum mampu, lha kok yang sudah tentrem ayem malah diganggu … duhh Gusti, paringono (berilah) sabar ..

Read Full Post »

Ini cerita buat mas Adi yg mungkin masih sulit membayangkan perjalanan bapaknya menuju ke tempat kerjanya.

Tepat 17:30 Bapak masuk taxi Bluebird GJ4079 di Kampung Cina Kotawisata, hujan mulai turun deras. Hari ini 17 Nov 2010 bertepatan degan hari libur Iedul Adha, Sampai dengan pintu toll Jagorawi, lalulintas cukup lancar, sedikit tersendat karena beberapa mobil mogok karena hujan deras atau antrian depan mall Junction. Jalan tol Jagoirawi yang licin kjarena hujan, dan lalulintas yang ramai ke arah Jakarta, membuat kecepatan mobil tidak lebih dari 50 km/jam. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di pintu tol TMII dan bayar Rp. 2500 dr pintu Cibubur. Gak sampai 10 menit dah harus bayar Rp. 6500. di pintu Ciliilitan, dan hujan dah reda atau tidak hujan sepertinya di sini.

Lancar lewat tol semanggi karena hari libur, kalau hari kerja gak akan berani lewat dalm kota, lebih baik lewat tol priok. Sampai Tol Cengkareng bayar Rp. 5000 tepat jam 18:37 dan gak lama kemudian sudah sampai di terminal 1C, tempat checkin Airfast. Ongkos taksi dari Kotawisata ke bandara, Rp. 193 ribu.

Checkin di counter Airfast dengan menunjukkan tiket (sekaligus boardingpass) dan ID Card PTFI, tidak lupa mengatakan tujuan ke TEMBAGAPURA sehingga bagasi mendapat label TPRA, yang berarti bagasi akan dibawa langsung oleh truk ke Tembagapura, tanpa harus kita ambil di Timika. Diperkirakan bagasi akan sampai Tembagapura sekitar jam 13:30 wit di kantor ERG (Emerency Response Group), dan bisa kita ambil kapanpun. Bapak minta kursi di deretan sebelah kiri berharap bisa tidur nyandar ke dinding dan hanya dua deret kursi sehingga mudah untuk ke toilet, dapat nomor 10A.

Route airfast MD82 malam ini adalah Jakarta-Denpasar-Makassar- Timika, biasanya route JKT-SBY-MKS-TMK. Gak masalah, itu biasa. Di Bali, airfast berhenti sebentar dan penumpang ke Timika tidak turun, untuk menaikkan/menurunkan penumpang. Di Makassar, hanya satu jam dari Bali, penumpang turun selama 25 menit. Makan malam diberikan dua kali yaitu JKT-DPS atau JKT-SBY, dan yang kedua penerbangan MKS-TMK. Agak menjengkelkan memang karena diberikan makan saat jam tidur, kira-kira jam 02:00 wit. Saran Bapak, kalau gak mau makan dan mau tidur saja, sebaiknya tunggu sampai pembagian makan dilakukan oleh pramugari lalu katakan ‘tidak makan’, karena kalau tidur sebelumnya maka makanan akan tetap ditempatkan di meja kita.

Akhirnya airfast landing di Timika sekitar jam 6:15wit. Bagasi berlabel Tembagapura tidak perlu kita tunggu, karena akan langsung dibawa oleh truk via darat ke Tembagapura.

Penumpang dengan tujuan Tembagapura yang sudah mempunyai tiket heli, langsung menuju ke ruang pemberangkatan dengan menunjukkan ID Card dan tiket heli. Boarding pass bernomor urutan pemberangkatan (M1, M2 dst) akan diberikan di counter checkin airfast setelah ID Card dan tiket heli dicatat dan timbang badan termasuk tas jinjing dilakukan. Akhirnya, masuk ruang tunggu untuk menunggu panggilan sesuai nomor boardingpass (M1, M2 dst) dari security (satpam).

Penerbangan heli ke Tembagapura kira-kira 15 menit. Nah, kalau mas Adi dan Ibu nanti sampai di Tembagapura, Bapak pasti sudah berada disitu untuk jemput. Bagaimana, berani berangkat berdua dengan Ibu?

Read Full Post »

Lompatan Waktu

Sambil beristirahat di Rimba papua hotel pagi ini, aku sempat ngobrol dengan seorang perempuan muda, yang aku tahu dia adalah seorang dokter dari rumah sakit internasional, yang ramah dan senang menceritakan pengalaman kerjanya dan sayangnya akan mengundurkan diri dari tempat kerjanya untuk kembali ke Bandung dan melanjutkan kuliahnya sebagai dokter spesialis.

Pembicaraan basa-basi dimulai dengan pertanyaan standard ‘berapa lama sudah bekerja di sini?’, ‘ bekerja di mana’, ‘ bagaimana cutinya’, dst dst … akhirnya sampai pada pernyataan, bukan pertanyaan loh, ‘saya paling suka praktek di Banti’ .. wah ini pernyataan yang menarik buatku, karena asumsiku dokter lebih suka kerja di kota bila memang pilihan itu tersedia..

Banti adalah kampung kecil di pinggir kota tambang tembaga di Papua. Kampung ini sudah dibangun oleh perusahaan asing tersebut dan disediakan sarana klinik, bank dan perumahan kecil, termasuk juga listrik. Pos polisi juga tersedia dan berada tepat di batas area proyek pertambangan dan Banti. Penduduk semakin banyak yang berdatangan dari berbagai suku, baik dari dataran rendah maupun dataran tinggi, bahkan dari luar Papua, termasuk pulau Jawa.

Pada awalnya, pendapatan penduduk yang datang ke Banti banyak diperoleh dari berkebun dan mendulang emas di sungai yang mengalirkan tailing sebagai sisa pengolahan konsentrat tembaga/emas. Penggorengan aluminium (wajan) banyak dipergunakan sebagai dulang, berbeda dengan masyarakat Kalimantan atau Tasikmalaya yang menggunakan dulang dari kayu, yang memang dibuat sesuai dengan peruntukannya.

Klinik yang tersedia di Banti ini adalah bagian dari Rumah Sakit besar di Tembagapura, yang menempatkan tiga dokter setiap harinya dan tiap hari bisa sampai seratus pasien harus ditanganinya, tidak hanya dari Banti tapi juga kampung2 di sekitarnya seperti Arowanop dan Tsinga yang berada di balik gunung dan mesti dijemput heli ptfi untuk bisa berobat. Heemm banyak juga ya …..

“Praktek di Banti lebih menarik, karena kami merasa bisa terlibat dalam ‘penyuluhan’ tentang konsep hidup sehat” jelasnya. “Seberapa jauh sih mereka tidak tahu tentang kesehatan?”, tanyaku. Sesaat dia terdiam, terlihat berpikir “jauh sekali pak.”, jawabnya. Lalu berbagai cerita ttg kejadian yg berhubungan dg kesehatan, hubungan sosial, kdrt mulai muncul untuk mendukung pendapatnya bahwa ‘jauh sekali’.

“Saya pernah menolong kelahiran bayi di kamar mandi, pak.” ceritanya. Ini bukan merupakan hal yang istemewa, atau sudah biasa masyarakat lakukan. “Banyak dari mereka juga masih percaya bahwa pembedahan atau operasi akan menyebabkan masuknya roh jahat dalam tubuh.”, lanjutnya. Aku cuma membayangkan, bagaimana dengan kurban perang suku yang seringkali mata anak panah menancap di tubuhnya. Cerita yang juga mengagetkan adalah “Saya pernah menemukan anak yang kehilangan jari kelingkingnya, ternyata menurut ibunya itu sengaja dipotong karena ada anggota keluarga yang meninggal”. Edan …

Korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) baik perempuan maupun laki-laki sering juga ditangani para dokter muda ini. Perempuan patah tangan di pagi hari karena dihajar lelaki yang mengaku suaminya. Lelaki patah tangan disore hari yang dihajar suami dari perempuan yang diganggunya… Aneh, sepertinya kekerasan fisik bukan suatu hal yang serius di masyarakat ini. Lembaga perkawinan nampaknya tidak dikenal dan anak sebagai buah perkawinan tidak cukup menjadi prioritas perhatian mereka. “Biasa terjadi, seorang ibu tidak mau menyusui anaknya karena si ibu sedang bertengkar dengan suaminya” ceritanya, “bahkan pernah seorang ibu menawarkan anaknya yg masih balita, “ibu bawa sudah anak saya ini” ketika saya minta untuk merawat anaknya baik-baik” lanjutnya. Cerita yang lebih tragis “pernah saya mendapat cerita ttg adanya seorang anak yang tewas dimakan babi karena ditinggal ibunya keluar rumah” cerita dokter dg semangat. Oohh gila … semoga ini terjadi berpuluh-puluh tahun yll… Ketersediaan klinik di lingkungan masyarakat ternyata masih belum cukup dan masih perlu sosialisasi yang berkesinambungan, tentang perlunya pola hidup sehat.

Ketertinggalan pendidikan membuat jurang pengetahuan yang sangat dalam antara masyarakat Banti dan kaum pendatang di proyek pertambangan berskala dunia di sebelahnya. Aku yakin tidak banyak yang tahu tentang cerita seperti ini dilingkungan para pekerja tambang tersebut.

Lompatan waktu telah terjadi pada batas pintu gerbang yang memisahkan Banti dan perusahaan tambang itu.. Ironis ..

Read Full Post »

Edu dan Sepatu Boot

Selama satu minggu ini aku selalu melihatnya jalan pelan di jalan tanah seberang depan kamarku. Sambil ‘mbondo’ tangan (Jw, memegang salah satu tangan dari belakang tubuhnya) dan beberapa kali berhenti, dia ‘celingukan’ ke arah depan deretan kamarku, seperti khawatir diawasi orang. Dia berbadan gempal hitam, bercelana pendek, berkemeja lusuh biru muda dan bersepatu boot karet, usianya kira-kira 30 tahunan dan beberapa gelang karet hitam terlihat di tangannya. Sebut saja Edu namanya.
Suatu sore dia lewat bersama perempuan gempal seumurnya dengan ‘noken’ (kantong jaring, di belakang badannya dan disangkutkan di kepala) tergantung di kepalanya dan tanpa alas kaki, berhenti dan menghadap kamarku sambil ngobrol dengan bahasa ibunya yang gak aku ngerti artinya. Bingung aku berprasangka … apa yang ada dalam nokennya? apa yang akan mereka lakukan di depan kamarku ??

Kamarku berada dalam satu bangunan berlantai empat yang menghadap lereng gunung yang curam. Jalan mobil diseberang bangunan mempunyai ketinggian yang sama dengan kamarku, lantai 3. Kaki lereng jalan itu tepat berada di depan lantai satu, dua lantai di bawah kamarku dan dibatasi oleh dinding beton setinggi enam meter untuk mencegah longsor.

Sore kemarin dari celah pintu yang sengaja kubuka sedikit, kulihat Edu berdiri tepat di jalan dan menghadap langsung ke kamarku dengan parang di tangan. Tetap bercelana pendek dan bersepatu boot. Aku yakin, dia tidak akan mendatangiku, karena cukup sulit untuk turun dari dinding beton setinggi enam meter itu. Gak lama dia berdiri diam di situ, lalu pergi … Apa yang telah aku lakukan?

Sore ini kubuka sedikit gorden jendelaku dan hah .. Edu memegang parang, tetap dengan sepatu boot hijaunya tapi kali ini bercelana panjang, berdiri memunggungiku di atas pagar beton, seberang kamarku. Lalu dia jongkok dengan parang di tangan, … dan mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh di lereng terjal bawah jalan itu. Dia sedang menyiapkan lahan miring tak terurus seluas 3×3 m untuk ditanami Keladi. Heemm .. Aku keluar kamar, sedikit senyum dan teriak ” adik .. hati-hati, kau bisa jatuh..”. Dia menoleh “aman kakak..”, jawabnya dengan senyum dan memberiku jempolnya.

Read Full Post »

Pesta Kepiting

Di lereng Carstensz yang dingin dan terkungkung, karena akses darat tidak dapat digunakan berhubung isu keamanan, pasokan jenis makanan sangat terbatas dan kalaupun tersedia pasti akan sangat mahal. Atas kebaikan sekelompok orang, bahan makanan langka yang sangat kami inginkan ini bisa terangkut, KEPITING.

Sabtu sore yang lalu, 100 ekor kepiting besar yang masih hidup dalam keadaan terikat, sampai di dapur kami. Mereka terpaksa masih harus menginap semalam dalam kardus Aqua dengan kaki terikat dan mata keluar bergerak-gerak berhubung menunggu sang koki yang baru bisa mengolahnya pada hari Minggu sore. Stress pasti ..

Minggu sore sekelompok ‘pasukan’ yang kebetulan semua lelaki, berinisiatif untuk menyembelihnya (emang ada kepalanya?) atas nama Allah tentunya (setahuku selama ini langsung masuk air mendidih saja 😀 ) dengan cara menusuk tepat dibagian tengah dadanya (cangkang segitiga). Tapi kok banyak yang masih bergerak juga ya, alias lama matinya … Proses mutilasi mulai dilakukan dengan cara membuka cangkang dan dibuang, lalu dibelah menjadi dua bagian dan dibuang insangnya. Di bawah pancuran, kepiting ini disikat dan dibuang kotoran serta lemaknya. Wah .. padahal enak loh lemaknya tapi pasti tinggi kandungan kolesterolnya..

Pembagian kerja mutilasi dilakukan sesuai proses, mulai dari bagian penyembelih, pembuka cangkang, pembersih insang dan terakhir bagian pencucian.

Mulai proses pencucian hingga memasaknya, sering muncul ide coba-coba para lelaki ini, “cangkangnya jangan dibuang, karena enak dimakan”, yang lain “cangkangnya dibuang aja karena kotor dan tidak bisa dimakan”, lainnya lagi “yang kuning itu kotoran atau lemak, kok bau banget?”, lainnya lagi “kalau yang hitam itu apanya?” wah .. masing-masing diam .. yang kuasa bagian pencucian .. kalau menurutnya perlu dibuang, ya dibuanglah dia tanpa perlu nanya-nanya .. ha ha ha .. percuma ribut … secara diam-diam ternyata ada yang melakukan proses perebusan kepiting sebelum dibelah .. ha ha .. tanpa ribut-ribut ..

Sang koki datang dan semua proses langsung diambil alih dibawah komandonya, ketahuan kalau yang lain gak pengalaman.. Mulai persiapan bumbu, peracikan dan pengolahan semua dibawah komando sang koki. Proses pengolahan menggunakan wajan buesar di atas kompor dengan bumbu kuning dan air di dalamnya mulai dilakukan, lalu kepiting dimasukkan. Kurang lebih satu jam, semua sudah siap disantap … slurppp ..

Seorang kawan lain berbaik hati menyediakan nasi, daun pepaya dan ketimun sebagai penawar kolesterol. Kuping sudah mulai terasa panas hanya dengan empat capit kepiting dan satu body saja… puas.. ketimun adalah korban terakhir

Thx kawan, sudah membahagiakan kita dengan menyediakan 100 kepitingnya, dan thx juga buat sang koki tentunya.

Read Full Post »

Taksi Mercy

Jam 4:30 sore pesawat Garuda GA321 mendarat di cengkareng, tepat saat para pekerja di jakarta pulang kantor. Hari ini adalah hari ketujuh setelah lebaran, tapi Jakarta sepertinya sudah mulai menunjukkan ritual keseharianya, macet.
Aku dan anak istriku mencoba taksi mewah buatan Jerman, seri terbaru Mercedes E class berharap nyaman di tengah kemacetan dan cukup ruang untuk bagasi pulang mudik, Ediann… memang nyuaman, interior mewah dengan list di dashbord dan pintu bertekstur kayu dan pengatur kursi maju/mundur, tegak/miring semua elektrik. Musik jazzy terdengar lirih dengan dentuman bass tetap terasa dan tentu saja suejuk.. Gmn ngitung bisnisnya ya? Ah sudahlah, aku mau cerita soal macet, bukan bisnis taksi kok.
Hueengg .. dari sebelah kiri, mobil kecil Karimun seri baru, menyalip berharap sampai di pintu tol lebih dulu, lalu berhenti mendadak di depan taksiku karena sudah di antrian bayar tol.. Laapp .. Pucat wajah karena darah berkurang, kaget … Sontoloyo. Keluar dari pintu tol, Karimun terlihat ngos-ngosan meningkatkan kecepatan, dan mercyku menyalipnya.. “Lah.. tadi ngapain sih mas, kok ngotot bener nyalip dan berhenti mendadak di depan pintu tol…??” pikirku. “Pak, tolong jaga jarak dengan mobil depan” saranku ke pak sopir. “Baik pak”, jawabnya. Hueenng.. Mitsubishi Pajero masuk dari kanan ke depan mercyku langsung greg mandeg, jalan macet.. Gendeng .. Kakiku kaku ikut ngerem … Ambil saputangan, ngelap muka, keringat dingin … Mobil jalan lagi pelan-pelan … Plok … Hoiiii sambil njumbul (terlompat kaget) .. Daun pisang bungkus arem-arem jatuh di jendela depan, sebelahku, dari jendela bus di kiri mercyku … Oalahhh tobat….
Akhirnya sampai rumah juga. Mobil bagus di lingkungan pengguna jalan yg ugal-ugalan, bikin jantungan juga. Jakarta ….

Read Full Post »

Bapak/Ibu di Tempat

Setahun sudah Bapak pergi, lalu Ibu menyusulmu tiga bulan yang lalu. Tak ada kabar darimu sejak itu. Apakah Bapak sudah ketemu Ibu? Jangan sampe Ibu terlunta-lunta mencarimu loh Pak. Apa Ibu sudah menemukan Bapak? Itu tempat baru yang sungguh asing, bahkan membayangkanpun aku sulit menjangkaunya. Terakhir, aku hanya bisa sampai di tempat terakhir Bapak dan IIbu istirahat sebelum berangkat ke tempat yang baru dan wuss … tak ada lagi kabarmu. Mohon ma’af, lebaran ini aku gak bisa mengunjungi tempat istirahatmu yang terakhir, sekedar untuk mengingat segala cinta dan jasamu yang selama ini sudah kau curahkan untukku sekeluarga. Aku akan selalu berusaha mendoakanmu, Bapak dan Ibu, supaya bahagia di tempat barumu, dan perlu kau tahu bahwa kami sekeluarga dalam keadaan baik-baik saja. Bila memungkinkan dan ada waktu, tolong kirim kami kabarmu ya Pak/Bu.
Salam dari kami,
-anang, adi, ari-

Read Full Post »

Menuju Lebaran

Keluar kamar di ketinggian 1900 m, 9 Sep jam 3:30 waktu setempat, dua jam lebih awal daripada waktu Surabaya, perjalanan menuju Lebaran ke Kediri dimulai.. Butuh lima jam perjalanan darat menuju bandara atau tiga jam lebih lama karena kondisi keamanan yang masih dianggap belum bagus. Jam 4:30 sore pesawat MD-82 berwarna putih mulai angkat jangkar, alias terbang menuju Surabaya mampir 20′ di Makassar, tepat saat buka puasa.

Muka cemberut karena capai, ngantuk n lapar, sedikit tersenyum ketika beli sandwich di warung donat ternama, di bandara Hasanuddin. Sambill tunggu pesanan selesai, basa-basi nanya waktu buka puasa “mbak, di sini Buka (puasa) jam berapa?”, dijawab “buka jam 6, tutup jam 10 pak”. Senyumku merekah … Salahku, terlalu berharap bahwa komunikasi berada dalam satu konteks yang sama, puasa.

Jam 18:30 wib pswt mendarat di Juanda, tiba-tiba seorang pria tinggi berwajah dari timur menarik tasku “biar saya yang bawakan tasnya pak”. “Hah, kok enak”, pikirku… Curiga muncul dalam benak.. “Dulu saya yg antar bapak sklg ke Yogya”, lanjutnya … Masya Allah, puasa baru saja selesai beberapa menit yang lalu, pikiran jahat sudah mulai mengganggu… Kelamaan berada di masyarakat penuh intrik dan tipu, membuatku curiga kepada orang asing..

Keluar dari Juanda, jalan cukup ramai dengan sepeda motor yg umumnya penuh dengan muatan, baik orang maupu barang, mudik sepertinya. Sampai di Jombang, jalanan ramai dengan sepeda motor saling silang berjalan pelan berrombongan, samibil membawa bendera dan memainkan suara motornya meraung-raung, mungkin bermaksud bergembira dalam takbir di malam lebaran. Kok bawa bendera ya ??? Sedikit berbeda dengan beberapa tahun yll, di Jombang gak lihat satupun rombongan dalam truk dengan pengeras suara sambil melantunkan takbir. Rindu suara itu .. Namun sayup2 masih terdengar takbir itu dari masjid2 yg terlewati..

Satu jam kemudian, sampailah aku di rumah yg sudah penuh dengan anak, istri, adik, kakak, keponakan dan tentu saja Ibu. Ramai dalam suasana lebaran yang memang sudah kita tunggu.. Juga karena semangat berlebaran inilah yang membuat perjalananku selama 20 jam dari lereng Carstensz menuju Kediri tidak tertidur sedikitpun… Allahu Akbar .. Takbir mengiringi tidur malamku …

Read Full Post »

« Newer Posts