Feeds:
Pos
Komentar

Black Wave – Israel

Back to Black Wave

1953

Islamic Conference diadakan di Jerusalem. Dihadiri oleh Navvab Safavi (1924-1955), pendiri Society of Islam Devotees (SID) atau Fedayeen di Iran. Juga dihadiri Sayyid Qutb, pemikir Islam, yang kemudian menjadi ideolog radikal IM (Muslim Brotherhood) di Mesir, dan penulis berbagai artikel yang menginspirasi berbagai generasi fundamentalis.

Oktober 1967

Perang 6 hari melawan Mesir dan Syria.

November 1997

Anwar Saddad memasuki parlemen Knesset, Israel. Negara-negara Arab dan Palestina merasa dikhianati.

November 1982

Pemboman di Pos Komando Tyre, 75 tentara tewas.

Back to Black Wave

Black Wave – Lebanon

Back to: BLACK WAVE

Baca juga “Dari Beirut Ke Jerusalem”

Tiga kelompok agama besar yang menguasai Libanon, adalah:

1. Sunni: kelas pedagang borjuis dan birokrat

2. Kristen: penguasa karena warisan kolonial masa lalu

3. Shia: kelas buruh tani kentang dan tembakau di Lembah Beka, wilayah selatan Libanon

Di kota Balbeek, Libanon Selatan, Shia adalah komunitas mayoritas diantara tiga kelompok yang ada. Komunitas Shiah sudah berada di wilayah ini sejak abad 15 ketika Libanon masih berada dalam kekuasaan Persia dibawah Shah Ismail I. Saat itu pengikut Sunni dipaksa untuk mengikuti keyakinan Shiah. Di masa Ottoman, pengikut Shiah menjadi minoritas di bawah kekuasaan Sunni.

Di awal masa Libanon modern, perbedaan antara kelompok Shiah – Sunni cukup cair dari perspektif agama maupun identitas budaya. Mereka hidup damai berdampingan.

Tiga orang berpangaruh dari komunitas Shia di kota Khalde, Beirut Selatan, 1974:

  1. Musa al-Sadr (Imam Sadr), the magnetic, turbaned Iranian cleric with green eyes; alumni Universitas Tehran jurusan politik. Merupakan ancaman bagi Khomeini, karena kharismanya di Qom, Iran. Sangat dekat dengan ulama-ulama elit yang ditakuti Ruhollah Khomeini, termasuk Mahmoud Taleghani dan Mohammad Kazem Shariatmadari.
  2. Hussein al-Husseini, the witty, mustachioed Lebanese politician, in a suit;
  3. Mostafa Chamran (1932-1981), the Iranian physicist turned leftist revolutionary in fatigues. Alumni univ California, Berkeley dan Texas, Austin. Masuk Libanon 1971, dari Iran. Anggota Nehzat-e Azadi-e Iran, the Liberation Movement of Iran (LMI), partai oposisi di Iran penentang Shah Iran 1963. Mengorganisir LMI di camp-camp Palestina. Menjadi Menteri Pertahanan Iran dimasa pemerintahan Perdana Menteri pertama setelah revolusi, Mehdi Bazergan. Wafat dalam perang Iran-Iraq (1981). Dianggap rival Ruhollah Khomeini.

Musa al-Sadr (Imam Sadr) dgn turban dan jubah hitamnya, sebagai sayyed, pindah dari Iran ke Libanon 1959 utk membesarkan Shia. 1974 Imam Sadr yang sudah termasyur, masuk Balbeek untuk membangun kesadaran politik. Kaum Shiah yang sebelumnya tanpa suara di parlemen, selalu kalah dengan kaum Kristen, menjadi terdengar suaranya karena Musa al-Sadr (Imam Sadr).

Musa al-Sadr (Imam Sadr) tidak menganjurkan perlawanan bersenjata, namun kepemilikan senjata untuk kelompok Shiah dirasanya perlu untuk menaikkan daya tawar politik. Dia adalah ulama modernist yang berpandangan luas, berpendidikan politik, tidak hanya agama, menghormati masyarakat sunni dan kristen, bahkan mengajar di sekolah Sunni dan Universitas St. Yoseph, Beirut, tentang filosofi Islam.

Libanon juga jadi tempat penampungan pengungsi Palestina sejak perang 1948. Pengungsi 1960an bahkan masuk gerilyawan Palestina bersenjata yang melawan Israel dari wilayah Libanon Selatan. Penduduk Libanon di selatan kesal dengan tindakan kelompok Palestina yang dianggapnya telah mengundang serbuan Israel dan menghancurkan kehidupan mereka. Musa al-Sadr (Imam Sadr) melakukan agitasi dan protes ke pemerintah Libanon yang dianggapnya tidak melindung rakyatnya. Namun, dia tidak bersuara terhadap tindakan kelompok Palestina bersenjata.

Mostafa Chamran dan LMI bukan satu-satunya kelompok yang menggunakan Libanon sebagai panggung untuk kegiatan anti-Syah mereka. Kaum kiri dan Marxis Iran juga ada di sana, berlatih dengan PLO sebelum membantu menjatuhkan monarki.

1960an

Banyak pelarian politik dari Iran karena pencanangan White Revolution oleh Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi.

Setelah 1963

Mostafa Chamran juga sibuk mengatur pelatihan LMI di berbagai camp Palestina. Ratusan pemuda Iran, Marxist dan ulama, banyak datang ke camp-camp tersebut. Mereka nantinya menjadi Pengawal Revolusi Iran.

1970

Kelompok Kristen berlindung ke Perancis. Sunni berlindung ke Arab dan Suria. Shiah tidak ada perlindungan, karena Shah Iran masih bersekutu dengan Israel.

1974

Mostafa Chamran, Sadegh Ghotbzadeh, dan Ebrahim Yazdi adalah tulang punggung LMI, yang anggotanya adalah bangsa Iran kelas menengah.

1977

Perang saudara di Lebanon sudah berlangsung 3 tahun.

Musa al-Sadr (Imam Sadr) dan Hussein al-Husseini mulai membuat rekaman pidato agitasi melawan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi dan menggandakannya sebanyak mungkin untuk diselundupkan di Iran.

17 Februari 1979

Yasser Arafat bersama Hani Fahs, ulama Shia Lebanon yg menghubungkannya dengan Khomeini 1977,  menggunakan jalan darat dari Lebanon melalui pegunungan Lebanon, Lembah Beqaa dan gerbang Mesnaa menuju Damascus, Syria. Turut menemani adalah Mahmoud Abbas, yang kemudian hari menjadi Presiden Palestina, dan Elias Khoury, 37 tahun, aktifis intelektual kiri. Khoury, kristen Lebanon, domisili di Jordan setelah perang 1967. Penulis. Novelis dan editor majalah Palestinian Affairs.

PLO dibawah pimpinan Yasser Arafat, banyak memberi pelatihan perang di Lebanon, untuk revolusi Iran.

8 Juni 1982 7.00 am

Tank-tank Israel memasuki Lebanon. Operasi Peace for Galilea dimulai. Beirut digempur selama berminggu-minggu sampai Yasser Arafat dan anak buahnya setuju untuk meninggalkan negara tempat mereka memprovokasi perang saudara, memecah kaum nasionalis melawan kaum revolusioner, kiri melawan kanan, Muslim melawan Kristen.  Mereka dievakuasi melalui Lebanon utara dan akhirnya mendarat di Tunisia, dan PLO mendirikan markas besarnya. Penduduk Shia senang karena PLO keluar dari Lebanon.

Israel ‘mendekati’ penduduk Shia Lebanon Selatan. Mereka tidak menyukai Israel, namun LEBIH tidak menyukai PLO karena sikap jumawanya yang seolah menguasai Lebanon.

Mahmoud Ahmadinejad, kelak menjadi Presiden Iran, bersama 1.500 Pengawal Revolusi Iran dari Kantor Gerakan Pembebasan tetap tinggal dan mendirikan basis operasi di Suriah, untuk keluar/masuk Lebanon.

April 1983

Pemboman Kedubes AS di Beirut, menewaskan 63 orang

Oktober 1983

Bom mobil meledakkan barak marinir AS dan paratroop Perancis di Beirut. 300 orang tewas, termasuk 241 warga AS.

Imad Fayez Mughniyeh (1962-2008) bekas elit militer PLO, dicurigai sebagai dalang Hezbollah dibalik para pemboman bunuhdiri.

9 April 1985

Sana’a Mehaidli (August 14, 1968 – April 9, 1985) sekular nasionalis, anggota the Syrian Social Nationalist Party, meledakkan diri di dalam mobil Peogeot di Jezzine, Lebanon ketika tentara Israel sedang konvoi, setelah menaklukkan Lebanon Selatan. Dua tentara Israel tewas. The Bride of the South

1985

Israel menarik diri dari sebagian besar wilayah yang telah didudukinya sejak tahun 1982, termasuk kota-kota besar Sidon dan Tirus.

Juli 1990

Demonstrasi di Tyre, menuntut keluarnya milisi Iran dari Lebanon. Pengawal Revolusi Iran meninggalkan Lebanon. Hezbollah sebagai afiliasi Iran, masih tetap tinggal.

13 Oktober 1990

Militer Syria memasuki wilayah Kristen, Lebanon. Banyak mendominasi wilayah Islam, Beirut Barat. AS ‘tutup mata’ krn Syria bersedia turut memusuhi Iraq bersama Iran, Arab dan AS dlm program Desert Storm di Kuwait.

14 February 2005 12.55 pm

Rafic Bahaa El Deen Al Hariri, PM, pengusaha sipil dan politisi. Dianggap sebagai anak oleh Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Abdallah, terbunuh oleh bom truk bunuh diri di Saint George Hotel, Beirut. Diduga Hezbollah yang didukung Syria/Iran, pelakunya. Secara tidak resmi, Iran ‘mengumumkan’ perang terhadap Saudi Arabia.

6 November 2017

Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, putra mendiang Rafiq Hariri (keduanya juga pemegang kewarganegaraan Saudi), dipanggil ke Arab Saudi, ditahan secara paksa, dan dipaksa mengundurkan diri dalam acara televisi. Di mata Arab Saudi, perlindungan keluarga Hariri selama bertahun-tahun, tidak mendapatkan balasan setimpal, karena Hezbollah dan Iran masih berkuasa di Libanon.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Libya

Back to: BLACK WAVE

Akhir Agustus 1978

Imam Sadr di Tripoli untk bertemu Ayatollah Mohammad Beheshti. Teman sejalan Khomeini dalam hal politik dan theologi. Bahesti setuju dengan negara theokratis, namun Sadr tidak sepakat. Pertemuan akan difalisitasi oleh Muammar al-Gaddafi. Pertemuan tidak terjadi.

Sadr berencana ke Jerman untuk bertemu perwakilan Shah Iran.

31 Agustus 1978 8:15 p.m.

Imam Sadr tercatat dalam penerbangan Alitalia flight AZ 881 menuju Rome. Bagasi sampai tujuan, penumpang tidak ditemukan.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Mesir

Back to: BLACK WAVE

1954

Navab Safavi pendiri Fedayen Iran (Shia) bertemu Sayyed Qutb pendiri Ikhwanul Muslimin (Sunni) di Mesir. Keduanya mempunyai perhatian yang sama tentang perlunya keberadaan gerakan fundamentalis Islam.

Egypt’s Muslim Brotherhood and Iran

Presiden Nasser melarang Ikhwanul Muslimin

1966

Sayyed Qutb (9/10/1906-29/8/1966), pendiri IM Mesir, dieksekusi hukuman gantung oleh pemerintahan Mesir, setelah ditahan lebih dari satu dekade. Dianggap terlibat dalam perencanaan pembunuhan presiden Nasser. Selama di penjara, Sayyid Qutb membaca dan terilhami karya Abu A’la al-Mawdudi (25/9/1903-22/9/1979) , pendiri Jamaat-e Islami Pakistan,The Four Expressions“.

1970

Presiden Nasser wafat. Digantikan Anwar Sadat. Kubu berubah dari Uni Soviet ke Amerika Serikat.

Sadat, seorang pengajar Quran di sekolah desa tradisional. Fasih membaca Quran, direkamannya untuk diwariskan bagi keturunannya.

September 1971

Sadat mengamandemen konstitusi, dengan mengacu pada shariah sebagai sumber legislasi. Tanpa sepenuhnya disadari, Sadat telak membesarkan ‘anak harimau’, yang kelak justru akan banyak membuat kerusuhan.

Oktober 1973

Menyerang Israel untuk mengambil alih kembali Gurun Sinai. Gagal. Namun menjadi kebanggaan Mesir karena berani menyerang Israel.

7 November 1973

Sadat membuka hubungan baik dgn AS. Meninggalkan Uni Soviet, yg menurutnya telah menyebabkan kebangkrutan ekonomi Mesir dan tidak menyebabkan kemenangan melawan Israel.

Sadat menggunakan agama sebagai ‘kendaraan politik’ untuk menutupi kebijakan politiknya yg pro-AS dan kelemahannya dalam orasi publik.

9 November 1977

Sadat: “I will go the ends of the earth for peace, even to the Knesset itself.”

18 November 1977

Sadat terbang ke Teluk Aviv. Lebih dari 2.000 jurnalis meliput peristiwa ini.

Opini sinis penulis yg aneh: The Saudis were irritated but kept their distance—they neither denounced nor applauded, but secretly King Khaled had prayed that Sadat’s plane would crash on the way to Tel Aviv.

1979

Buku-buku Khomeini tentang Pemerintahan Islam Iran banyak dibaca dan diterjemahkan di Mesir.

Muhammad Abd al-Salam Faraj (27 tahun), insinyur kelistrikan di Universitas Cairo, mendapat inspirasi dari pemikiran Sayyid Qutb, pendiri IM Mesir dan Abu A’la al-Mawdudi, pendiri Jamaat-e Islami Pakistan. Dia menerbitkan sebuah buku hasil kompilasi para teolog radikal masa lalu, Neglected Duty. Kewajiban bagi setiap muslim adalah Jihad, yaitu Aksi mengalahkan para pemimpin yang tidak menjalankan kepemimpinan yang syar’i. Sadat termasuk dalam, kategori  pemimpin yang tidak syariah, sehingga perlu dikalahkan. Karam Zuhdi (27 tahun), insinyur pertanian, dan salah satu pendiri Gama’a, diajaknya untuk aksi jihad melawan Sadat.

26 Maret 1979

Anwar Sadat – Menachim Begin menandatangani perjanjian bilateral traktat perdamaian di White House. Kembali mendapatkan Sinai dan menyetujui hubungan diplomatik penuh dengan Israel.

DR. Nageh Ibrahim, yang kagum terhadap Revolusi Iran, menjadi, semakin radikal. Founding member of Gama’a Islamiyya, Kelompok Islam, yang didukung pemerintahan Sadat, meyebar-luaskan perlunya penerapan Hukum Islam. Termasuk pelarangan cinema. Kampus menjadi ladang kampanye Gama’a Islamiyya untuk melawan kelompok sekular sosialis dan komunis. Menurut Wikipedia, dianggap sebagai kelompok teroris oleh Canada, Israel, Russia, the United Arab Emirates, the United States, the United Kingdom and the European Union

Egyptian Gama’a al-Islamiyya’s Public Relations Campaign

Camelia Sadat Forgives Nageh Ibrahim, Leader of Islamic Group that Assassinated Her Father

Faraj mendirikan Islamic Jihad.

Akhir 1979

Gama’a telah memenangkan kendali serikat mahasiswa di sebagian besar universitas besar di seluruh negeri, dari Alexandria hingga Asyut.

Sadat thought he was using the Islamists, but in fact they were using him, and he was accumulating the mistakes, feeding their rage.

25 March 1980

Ada banyak persamaan antara Sadat dan Syah: kebarat-baratan, dengan ibu negara yg progresif, landasan strategi bagi Amerika di kawasan Arab, sahabat Israel, imperial, dan otoriter.  Semakin jauh Sadat membawa Mesir westernisasi, seperti yang telah dilakukan Syah dengan Iran, maka semakin menyebar fundamentalisme, seperti yang terjadi di Iran. Kedekatan ini semakin nyata ketika Shah disambut oleh Sadat di bandara Mesir, untuk pengobatan dan pengamanan. Protes membesar di pelosok negeri, dari Kairo hingga Asyut. Nageh sangat berperan dalam penggalangan demonstrasi tersebut di Universitas Asyut.

Tidak ada kebijakan khusus dari Pemerintah Iran tentang praktek keagamaan rakyatnya; karena sudah jauh terorganisir, dengan sejarah panjang aktivisme melawan penguasa.  Di Mesir, praktek keagamaan tunduk pada kebijakan pemerintah. Lembaga Islam tertinggi negara itu, Al-Azhar, tidak pernah sebagai oposisi, bahkan terhadap kolonialisme Inggris.

September 1981

Penangkapan oposisi mulai dilakukan Sadat. Tidak hanya islam, tetapi juga sekular kiri, sosialis dan aktivis perempuan. Penulis Nawal al-Saadawi dan Mohammad Heikal juga ditawan.

Sadat mendeklarasikan “no politics in religion and no religion in politics.”

DR. Nageh Ibrahim, Muhammad abd-al-Salam Faraj, Karam Zuhdi dan teman-temannya d Gama’a dan Jihad Islami sangat marah melihat kondisi Mesir yang menurutnya semakin terpuruk secara ekonomi dan politik.

26 September 1980

Rencana aksi pembunuhan Sadat pada saat parade militer 6 Oktober telah diputuskan bersama. Gama’a dan Jihad Islami ada dibelakangnya (Nageh, Fafaj, Zuhdi, dkk). Khaled Islambouli, konservatif nasionalis dan Zomor, fundamentalis  Kolonel Angkatan Darat Mesir, turut bergabung.

6 Oktober 1980 12.40 pm

Islambouli teriak: “I killed the Pharaoh” setelah menembak Sadat menggunakan AK-47. Sepuluh pengunjung lainnya di podium turut menjadi korban tewas. Dalam beberapa jam kemudian, radiomTehran menyiarkan berita, “death of the traitor mercenary” who had “joined his old friend Mohammad Reza Shah.”

Gama’a salah dalam memperhitungkan psikososial masyarakat Mesir. Gama’a masih merupakan kelompok marginal di negara berpenduduk lebih dari 45 juta orang.  Masyarakat memang tidak sepenuhnya mencintai Sadat—tetapi juga tidak ada keinginan yang besar untuk mendukung pemberontakan Islam. Mesir bukan Iran, yang mempunyai figur utama Khomeini setelah revolusi.

Wakil Presiden Hosni Mubarak menggantikan Sadat, menjadi Presiden.

10 October 1981

Pemakaman jenazah Anwar Sadat. Dihadiri banyak pemimpin negara sahabat. Presiden AS, Reagen absen karena baru saja selamat dari usaha pembunuhan.

1985

Farag Foda, Egypt’s most vocal secular intellectual, menulis artikel “Before the Fall” tentang meningkatnya semangat Islam di negara-negara Arab.

“Dialogue is the only way out of this crisis,” he wrote, “because sometimes the word can stop a bullet, because it is of course stronger, and definitely longer lasting.”

1992

Nasr Abu Zeid (July 10, 1943 – July 5, 2010) The progressive professor of Islamic studies and Arabic at Cairo University. Mengajukan proposal untuk promosi professornya di Departemen Arab, Universitas Cairo. DR. Abdel Sabour Shaheen sebagai salah satu professor penilainya, adalah ulama fundamentalis Islam. Shaheen tidak menyukai karya2 Nasr seperti  “Critique of Islamic Discourse” atau “Rationalism in Exegesis: A Study of the Problem of Metaphor in the Writing of the Mu’tazilah”.

Nasr berpendapat “the Quran had to be understood both metaphorically and in its historical context”, “the human dimension of the Quran needs to be reconsidered”. Thesis Nasr tentang Mu’tazilah, the rationalist Islamic movement drawing on Greek philosophy that had first stirred a big debate between reason and dogma barely two hundred years after the founding of Islam.

8 Januari 1992

Menurut Foda, ada tiga hal yang menjadi kecenderungan Islam di Mesir:

1. Politik tradisional Ikhwanul Muslimin. Lemah, namun paling pragmatis.

2. Revolusi Islam, yang diinspirasi dari Iran. Sangat menginspirasi anak-anak muda 1970an

3. Petrodollar, kaum Islam kaya. Sangat powerful dan berbahaya karena mampu mengubah sosio-kultural masyarakat sesuai keinginannya

Foda mempublikasikan pemikirannya yang sekular dalam forum debat terbuka di depan 15.000 penonton yang diselanggarakan dalam rangka Cairo International Book Fair ke-24. Lawan debatnya adalah Mohammad al-Ghazali seorang cendekiawan Islam lukusan Al-Azhar, ulama kharismatik pengajar di Universitas di Mekkah, Doha dan Algeria tahun 1980an.

3 Juni 1992

Sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar mengeluarkan pernyataan bahwa Farag Foda, berdasarkan pikiran dan tulisannya, telah menghujat agama dan karenanya keluar dari Islam. Ini berarti, ia adalah musuh Islam dan halal darahnya. Di sini, labelisasi halal berarti boleh dibunuh.

8 Juni 1992

Farag Foda tewas dengan 7 peluru menembus tubuhnya, dan melukai puteranya. Di depan kantornya, Cairo.

Ribuan penduduk Mesir menghadiri pemakamannya.  Bahkan Presiden Mubarak mengirim perwakilan;  menteri, gubernur, mufti republik, intelektual, duta besar semua bergabung dalam prosesi melalui jalan-jalan Kairo.

Dengan dingin, Mohammad al-Ghazali menyatakan bahwa tidak ada hukuman bagi seorang Muslim yang melaksanakan tugas menjalankan hukuman mati ini. Ghazali adalah penerima penghargaan Raja Faisal tahun 1989, hadiah pertama yang diberikan kepada Maududi, pendiri Jamaat-e-Islami di Pakistan.

2 April 1993

Dr. Abdel Sabour Shaheen di dalam masjid menyatakan bahwa Nasr Abu Zeid telah murtad. Wafat 2010 di Mesir karena sakit.

In the 1970s, 30 percent of Egyptian women wore the headscarf; by the mid-1990s, it was 65%. The veil was the new chic; it was a status symbol. In the past, middle- class and rich Egyptians may have looked to Europe for the latest fashions. Now they looked to Saudi Arabia and adopted not just the veil but even the niqab, which was previously an unknown phenomenon in Egypt.

Foda’s assassination marked the violent beginning of the siege of Egyptian intellectuals. For the years to come, secular, liberal, progressive writers and thinkers would be hounded, banned, harassed, and assassinated. The long target list included journalists, intellectuals, and plastic surgeons.

Agustus 1993

Hassan Alfi, Menteri Dalam Negeri, selamat dari rencana pembunuhan oleh kelompok Jihad Islami. Ayman al-Zawahiri had approved a new weapon: suicide bombings.

October 1994

Naguib Mahfouz pemenang Nobel, penulis Egyptian as the Nile, ditusuk pisau di lehernya oleh 2 orang. Selamat, namun tangannya cedera.

Religion took over everything, rapidly. In 1985, barely 6 percent of books published in Egypt were religious. In 1994, it was 25%, and by 1995, 85% of books sold at the Cairo book fair were religious.

In the mid-1980s, there was a mosque for every 6,031 Egyptians; by the mid-2000s there would be one for every 745.

2010

Ahmed Naji journalis dwn novelis, menerima telpon dari Kedubes Arab Saudi di Cairo, dilarang masuk ke Arab Saudi.

25 January 2011

Demo besar di lapangan Tahrir, menuntut TURUNnya President Hosni Mubarak, yang sudah memerintah Mesir selama 30 tahun. Korupsi sudah merajalela, diiringi dengan tindak opresif pemerintah. Korban tewas 800 orang. Tanpa slogan Islami. Sekular demokrasi.

11 February 2011, 6.00 pm

Wakil Presiden Omar Suleiman mengumumkan pengunduran diri President Hosni Mubarak. Tanggal yang sama di tahun 1979, ketika PM Iran, Shahpour Bakhtiar mengundurkan diri, sbg tanda kemenangan Revolusi Iran.

May 2012

Al-Azhar meluncurkan kampanye untuk mengingatkan adanya bahaya konversi ke Syiah, dengan pamflet, konferensi, dan kuliah di klub pemuda.

30 June 2012

Mohammad Morsi, phD, engineering lulusan University of Southern California, anggota Ikhwanul Muslimin, diangkat sebagai Presiden Mesir ke-5.

5 Februari 2013

President Iran Ahmadinejad mengunjungi Mesir. Terjadi insiden pelemparan sepatu oleh pendemo kearahnya, ketika keluar dari masjid al-Hussein, Cairo.

8 Februari 2013

Presiden Morsi menerima surat dari 17 ulama Iran, yang isinya berupa anjuran supaya pemerintah Mesir melaksanakan pemerintahan Islam atau implementasikan wilayat al-faqih, seperti yang Iran lakukan.

Awal juni 2013

Benyak poster anti-Shia beredar di kota Abu Musallam, 20 mile selatan Cairo.

23 Juni 2013

Komunitas Shia berkumpul di suatu rumah untuk merayakan Maulud. Hadir diantaranya, Hassan Shehata, yang dulunya adalah imam Sunni. Shehata bersama 3 orang lainnya dikeroyok dan terbunuh di depan rumah tsb.

30 Juni 2013

Demo besar didukung militer dan Arab Saudi, menuntut turunnya Presiden Morsi yang dianggap IM dan pro Iran. 800 tewas selama demo.

3 Juli 2013

Morsi diturunkan. Digantikan Presiden Adly Mansour (interim). Anggota IM banyak dipenjara, dan ratusan ďiantaranya dikenakan hukuman mati, termasuk Morsi.

2014

Fouad Ahmed Negm (22 May 1929 – 3 December 2013)

Dia seorang jurnalis, penulis, yang mendukung Revolusi Iran 1979, dengan harapan terjadinya sosial demokrasi yang benar, seperti yang dijanjikan para politikus. Total mendekam dipenjara 18 tahun,  karena memusuhi pemerintah Mesir.

Ahmed Naji (born 15 September 1985), menerbitkan novelnya “Using Life“, yang ditulisnya sebelum revolusi 2013. Masuk bui karenanya. Pengagum Nasr Abu Zeid.

Mei 2014

Abdel Fattah Sissi (19 November 1954 age 66 tahun)atase militer di Arab Saudi, dilantik sebagai Presiden Mesir.

2017

9 orang pembunuh Hassan Shehata di tahun 2013, dijatuhi hukuman penjara 14 tahun.

17 June 2019

Morsi meninggal karena serangan jantung saat sidang pengadilan.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Pakistan

Back to: BLACK WAVE

1941

Di Lahore, Abu A’la al-Mawdudi mendirikan Jamaat-e Islami, yang diniatkan sebagai pelopor revolusi Islam.

August 11, 1947

Pidato kenegaraan Bapak Bangsa Muhammad Ali Jinnah menjelang hari kemerdekaan 14 Aug 1947, “you are free to go to your temples, free to go to your mosques, or to any other place of worship in this State of Pakistan. You may belong to any religion or case or creed—that has nothing to do with the business of the state”. Pluralis. Shia.

Muhammad Ali Jinnah (25 Desember 1876 – meninggal 11 September 1948 pada umur 71 tahun).

1956

Konstitusi Pakistan mendeklarasikan bahwa Pakistan adalah Republik Islam dan melarang non-Muslim memegang jabatan kepala negara.

1960an

Abu A’la al-Maududi (25/9/1903 – 22/9/1979) adalah inspirator fundamentalis keislaman sosial kultural Pakistan. Dia juga yang memberi inspirasi  kepada Sayyid Qutb (9/10/1906 – 29/8/1966), Mesir dan Ayatollah Khomeini (24/9/1902 – 3/6/1989), Iran. Seperti halnga Hassan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, Mesir, Maududi kecewa dengan jatuhnya Kekaisaran Ottoman pada tahun 1924 dan sekularisme pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Atatürk.

Maududi meyakini bahwa nasionalisme Barat di kalangan Muslim telah menyebabkan jatuhnya Ottoman. Untuk membangkitkan dan memperkuat bangsa Muslim, perlu penerapan aturan Islam yang benar. Meskipun demikian, Maududi tidak mendukung wacana revulusi Pakistan, namun berharap kebangkitan pemerintahan islami yang natural. Empat kali di penjara Pakistan dan dan nyaris dihukum mati, namun terselamatkan berkat intervendi Arab Saudi, 1953.

Raja Faisal, Arab Saudi menyumbang pemerintah Pakistan $120 juta untuk pembangunan masjid.

1970an

Partai Jamaat Islamiya hanya mendapatkan 4 kursi. Pemikiran Maududi mulai banyak diakomodir oleh pemerintahan Zia Ulhaq

1976

Mehtab Channa (3 March 1947), liberal, presenter televisi menuju AS untuk melanjutkan studi dibidang Political Science, University of Massachusetts

July 5, 1977

Perdana Menteri Zulfiqar Ali Bhutto (Presiden 1971-1973, Perdana Menteri 1973-1977), lulusan Universitas Southern California, Berkeley. Popular dan kharismatik, digulingkan dan dipenjarakan oleh pimpinan angkatan daratnya, jenderal Zia ul-Haq. Ali Bhutto menikah dengan perempuan Shia, Iran.

1977: Zulfikar Ali Bhutto Lengser

Bhutto dikenakan hukuman mati karena mendalangi pembunuhan Nawab Muhammad Ahmed Khan Kasuri 

16 September 1978

Muhammad Zia-ul-Haq (12 August 1924 – 17 August 1988) tidak menepati janjinya untuk mengadakan Pemilihan Umum pada Oktober 1978, namun justru mengangkat dirinya sebagai Presiden.

25 September 1978

Hadir di Pakistan, Penasihat Raja Khaled, Maarouf Dawalibi, atas undangan Zia Ulhaq, untuk memberikan penasihatan tentang Ideologi Islam terkait Penerapan Hukum Islam di Pakistan. Bertemu dengan elite pemerintahan Pakistan, termasuk anggota Konsul Ideologi Islam, Menteri Hukum dan juga Al-Maududi. Menurut Dawalibi, terjadi pembicaraan menarik, “penghapusan sistem sekuler dan penggantiannya dengan hukum syariah sebagai harapan terbesar bagi seluruh umat manusia.”

Februari 1979

Beberapa pimpinan pejuang Islam Afghanistan telah berlindung di Pakistan, di mana, pada awal Februari 1979, sekitar 2.000 orang telah mendapatkan pelatihan militer.

10 Februari 1979

Zia menyatakan akan memberlakukan secepatnya Nizam-i-Islam, atau Shariah Islam dalam sistem hukum ketatanegaraan Pakistan. Meliputi aspek hukum, sosial, ekonomi dll. Raja Khaled dari Arab Saudi melalui telegram, mengucapkan selamat kepada Zia, dan berharap supaya “semua negara Muslim juga segera menerapkan hukum Islam”.

12-13 Februari 1979

Komunitas Islam Shia melakukan protes karena pemerintah dianggap memaksakan hukum Islam Sunni dan hanya menempatkan hakim Sunni di seluruh Pakistan. Menurut ajaran hukum Shia, zakat adalah kewajiban individual, bukan dipungut oleh negara.

14 Februari 1979

Zia menyatakan dalam wawancaranya dengan televisi CBS bahwa Pakistan memutuskan melaksanakan Hukum Islam tanpa kerusuhan sosial seperti Iran.

21 Februari 1979

Abul A’la Maududi menerima hadiah utama King Faisal International Award sebesar $200.000, yang biasa diberikan kepada ulama bervisi radikal Islami. Ghattas menulisnya sebagai “… to scholars and clerics with radical views”. Sangat tendensius. Sementara New York Times menulis, “… Mr. Maududi wrote several books on Islam and received the first Faisal Award for Islamic literature”.

Maulana Abdul Ala Maududi, 76, A Pakistani Islamic Party Leader

4 April 1979 2.00 am

12-13 April 1979

Ribuan pengikut Shia berkumpul di kota Bhakkar, Punjab dan membentuk Tehrik-e-Nifaz-e-Jafariya (TNFJ), the Movement for the Implementation of Jaafari (Shia) law.

20 Juni 1979

Zia secara resmi melaksanakan pemungutan Zakat bagi seluh rakyat Pakistan. Kepemilikan akun bank akan dipotong 2.5% dari jumlah dana tersimpan. Terjadi rush penarikan uang. Khomeini, Iran peringatkan Zia untuk tidak memojokkan kaum Shia.

22 September 1979

Maududi mendapat perawatan penyakit liver dan ginjal di Millard Fillmore Hospital, AS. Wafat karena penyakit jantung. Dimakamkan di Pakistan.

23 November 1979

Unjuk rasa anarki terjadi di depan Kedubes AS di Pakistan, seiring peristiwa pembajakan masjidil Haram di Mekah dan penyanderaan warga AS di Kedubes AS, Iran. Empat karyawan kedutaan Besar AS dan demonstran, meninggal. Lebih dari 300 warga AS dievakuasi keluar dari Pakistan.

Karena Zia berpihak pada Saudi Arabia, sebagai penyantun besar dan seiring dalam ideologi Islamisasinya, dan mendukung mujahidin Afghanistan melawan Uni Soviet, maka AS mendukungnya.

1980

Allama Arif Hussaini (November 25, 1946 – August 5, 1988), pimpinan Shia di Pakistan. Belajar di Najaf, Iraq. Pengagum dan pendukung Khomeini. Berjubah dan berturban hitam, sebagai simbol keturunan Nabi. Menguasai bahasa Arab. Memimpin ribuan penganut Shia di Kurram, untuk unjuk-rasa terkait dengan zakat.

Tahun 1980an, Pakistan menjadi sumber pendapatan besar untuk Iran, melalui pengumpulan pajak Shia, Khum. Pakistan adalah negara Islam Sunni, dengan jumlah penganut Shia terbanyak setelah Iran. Ali Jinnah, Bapak Bangsa Pakistan, adalah penganut Shia. Istri Ali Bhutto juga penganut Shia Iran.

Peshawar menjadi pusat berkumpulnya ideolog Islam militan, pusat mujahidin dsn ratusan ribu pengungsi Afghanistan, ratusan relawan kesehatan dan kemanusiaan dari negara lain dan Badan-Badan Bantuan PBB. Juga, relawan-relawan kemanusiaan, milisi Arab dan jurnalis. Kampung Arab mulai muncul di Peshawar. Termasuk Jamal Khashoggi juga muncul disana sebagai jurnalis Arab Saudi.

1984

Allama Arif Hussaini (38 thn) menjadi Ketua Tehrik-e-Nifaz-e-Jafariya (TNFJ). Diangkat secara resmi sebagai Wakil Resmi Shiah untuk Pakistan oleh Khomeini. Berhak mengumpulkan pajak religi, khum, dari penganut Shia Pakistan untuk kepentingan Shia Pakistan dan Khomeini. Hussaini sering berada di pusat pendidikan Shia di Peshawar untuk menyebarkan ajaran Khomeini.

1985an

DR. Abdullah Yusuf Azzam (1941–1989) dan Bin Laden membuat Jasa Layanan atau Maktab al-Khidamat, di Peshawar untuk pengumpulan dana, sumbangan untuk pengungsi, mengirim mujahidin dan pembagian senjata. Setiap bulan Bin Laden mengalokasikan dana $25.000 untuk menjalankan Pusat Layanan ini.

Abdullah Azzam melanjutkan studi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan mendapat gelar master di bidang syariah. Ia kembali mengajar pada Universitas Jordan di Amman dan pada tahun 1971, Syekh Azzam kembali ke Universitas Al-Azhar dan memperoleh Ph.D dalam bidang Ushul Fiqh pada tahun 1973.

1985

Terbentuk di Punjab, milisi Sepah-e Sahaba Pakistan (SSP), atau the Army of the Companions of the Prophets, atas ijin Zia Ulhaq, kelompok sektarian militan anti Shia. Slogan, “Shia kafir”.

1986

Mulai terbut fatwa-fatwa terkait Sunni-Shia, seperti larangan untuk Sunni mengkonsumsi makanan yang dimasak oleh penganut Shia. Juga larangan untuknSunnj menghadiri pemakaman kaum Shia.

Konflik bersenjata mulai terjadi antara Sunni yang didukung pemerintah Zia dengan suku Turis pimpinan Allama Arif Hussaini di Kurram, perbatasan Afghanistan. Inj karena pemerintah menghendaki Kurram digunakan sebagai basis perjuangan mujahiddin Sunni Afghanistan, dukungan Arab Saudi.

23 Maret 1987

Ehsan Elahi Zaheer, murid Abd al-Aziz ibn Baz (BinBaz) luka berat karena bom meledak di dekat kakinya saat memberikan kuliah di Lahore. Diterbangkan ke King Faisal hospital, Riyadh, Arab Saudi, untuk mendapatkan perawatan medis. Delapan orang tewas.

30 Maret 1987

Ehsan Elahi Zaheer wafat di King Faisal hospital, Riyadh, Arab Saudi

1988

Pembantaian 150 Syiah oleh warga Sunni, diikuti oleh pembunuhan pembalasan dari para pemimpin Syiah militan.

14 April 1988

Kesepakatan antara Pakistan – Afghanistan tentang penghentian perang di Afghanistan, di Kantor Pusat PBB di Jenewa, dengan penjamin Soviet dan AS. Soviet yang sudah terlibat perang sejak 1979, diharapkan mulai menarik pasukannya 15 Mei 1988.

Afghanistan: The Accords

August 5, 1988

Allama Arif Hussaini tewas ditembak di madrassa Lahore.

Zaheer dan Hussain adalah korban akibat peran sama yang mereka lakukan dalam perang proksi antara Arab Saudi dengan Iran. Kematian yang kejam, upaya mereka untuk meradikalisasi komunitas mereka masing-masing. Dua pembunuhan besar pertama yang bermotivasi sektarian dalam sejarah modern.

17 Agustus 1988 4.30 pm

Pesawat C-130 yang membawa Presiden Zia Ulhaq jatuh, setelah beberapa menit take off dari Bahawalpur, Punjab, Pakistan. Dekat perbatasan dengan India.

16 November 1988

Partai Benazir Bhutto, Pakistan Peoples Party, memenangkan Pemilihan Umum. Berhak menyusun kabinet. Benazir Bhutto sebagai Perdana Menteri.

24 November 1989

Abdullah Azzam bersama kedua putranya, terbunuh oleh bom yang meledak di tempat parkir mobilnya di Peshawar. Maktab al-Khadamat menjadi embrio Al-Qaeda.

1990

Pengungsi Afghanistan di Peshawar mencapai 3.27 juta.

Dengan seijin Zia Ulhaq, Arab Saudi membangun ratusan Madrassa di sepanjang perbatasan Afghanistan. Materi Pendidikan didalamnya lebih banyak tentang indoktrinasi dan mobilisasi untuk menghasilkan aktifis militan demi keberlangsungan islamisasi di Pakistan dan Afghanistan.

Beberapa lulusan madrassa menjadi pendiri gerakan Taliban, dan mengarah pada kebangkitan al-Qaeda.

in 1990

the Iranian cultural attaché in Lahore was assassinated;

Agustus 1990

Maksud Benazir untuk mengembalikan iklim politik ke era sebelum Zia, digagalkan oleh militer. Digantikan oleh Nawaz Sharif (40 thn), yang didukung oleh Arab Saudi.

October 1990

Pengadilan Syariah Federal memutuskan Hukuman Mati bagi penista Islam. 1927-1985 hanya ada 10 kasus penistaan agama muncul di pengadilan. 1985-2011 ada 4.000 kasus.

In 1996

there were 5 days of Sunni-Shia fighting in Parachinar that left two hundred dead. Mosques were being bombed, both Sunni and Shia.

in 1997

the Iranian cultural centers in Lahore and Multan were torched and 5 Iranian military personnel were assassinated in Rawalpindi.

2002

Sepah-e Sahaba Pakistan dilarang. Muncul Ahl-e Sunnah Wal Jamaat, anti sektarian Shia baru. Dilarang pemerintah.

Desember 2007

Benazir Bhutto ditembak saat berdiri di dalam mobilnya, dalam kerumunan. Gugur

November 8, 2010

Asia Bibi, perempuan kristen Pakistan dihukum gantung. Juni 2009, Bibi minum air dengan cara memasukkan gelas ke dalam ember yang diisi air dari sumur masyarakat. Perempuan lain menyebutnya Bibi telah menodai air tersebut. Viral. Penodaan agama.

2011

Kelompok radikal Lashkar-e Jhangvi mengirim surat terbuka kepada komunitas Shia di Quetta, mengancam “All Shias are worthy of killing. We will rid Pakistan of [this] unclean people”

4 January 2011, pagi

Salman Taseer, Gubernur Punjab sejak 2008, tewas dengan 27 peluru menembus tubuhnya, ditembak di Islamabad oleh Mumtaz Qadri, polisi. Publik setempat “mensyukurinya”. Penistaan agama. Taseer ingin mereformasi undang-undang penistaan agama dan menghentikannya dari penyalahgunaan;  dia melihatnya sebagai ancaman eksistensial terhadap identitas Pakistan.

“I am a slave of the Prophet, and the punishment for one who commits blasphemy is death,” Mumtaz Qadri said with a smile

In all 6,236 verses of the Quran, there is not a single verse calling on Muslims to silence blasphemers by force. The Quran is immutable, and all it does is tell believers to respond to blasphemy with dignity.

Few dared to protest against those who killed in the name of Islam, afraid they would meet the same fate. Everything had shifted to the right; the old extremes were the new center—or so it felt.

2 Maret 2011

Shahbaz Bhatti, Menteri Hak-Hak Minoritas, Kristen. Ditembak mati. Bhatti sedang mereview kasus Asia Bibi dan dalam proses mereformasi Hukum Penistaan Agama.

26 Agustus 2011

Shahbaz, putra tertua dari Salman Taseer, diculik dari dalam mobilnya oleh orang-orang bersenjata. Pergerakan Islam Uzbekistan,  Pakistan dan Afghanistan. Dan sejak November 2015 ditawan oleh Taliban, Afghanistan.

2012

1 dari 2 warga Pakistan, tidak menganggap Shiah adalah muslim. Anti sektarian Ahl-e Sunnah Wal Jamaat sudah dilarang, tapi tetap saja para pimpinannya muncul di Karachi dengan tanpa takut meneriakkan slogan “Shia kafir!”.

In August 2012

Razia penumpang Shia bus Gilgit-Baltistan di wilayah utara Pakistan oleh kelompok bersenjata. Bila ditemukan penumpang Shia, dikeluarkan dari bus dan ditembak mati. Sudah terjadi 3 kali, dan pemerintah tidak meresponnya.

29 February 2016

Shahbaz dibebaskan.

Mumtaz Qadri, pembunuh Salman Taseer dihukum gantung di Islamabad.

1 Maret 2016

Puluhan ribu orang turun ke jalan. Protes hukuman mati terhadap Mumtaz Qadri. Menteri Agama menyatakan Mumtaz Qadri sebagai martir.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Palestina

Back to: BLACK WAVE

Baca juga “Dari Beirut ke Jerusalem

1917

Inggris menguasai Jerusalem setelah runtuhnya Ottoman dalam Perang Dunia I.

1921

British High Commisionair menyatakan warga Yahudi hanya 10% dari total populasi di British Mandate Palestine.

1936

Terjadi konflik bersenjata antara Yahudi vs Arab.

1937

Rencana pembagian wilayah muncul di PBB. Wilayah Arab – Yahudi. Sensus PBB menunjukkan bahwa penduduk Yahudi sudah 1/3 populasi di Palestina, dan 2/3 lainnya adalah penduduk Muslim dan Kristen Arab. Sementara pembagian wilayah adalah 1/2 Arab – 1/2 Yahudi.

29 November 1947

Sidang Umum PBB menyetujui the Partition Plan (pembagian wilayah).

Penguasa kolonial keluar dari Arab. Pengungsi holocaust mulai membanjiri Palestina.

14 May 1948

Para pemimpin Yahudi mendeklarasikan negara Israel, dengan wilayah seluas keputusan SU-PBB 1947. Arab menolak.

15 May 1948

Arab melanjutkan perang untuk tanah Palestina yang utuh tidak dibagi dengan Yahudi.

1949

Yahudi dibantu negara2 Eropa bahkan mampu menguasai 78% wilayah Palestina, termasuk Jerusalem Barat. Jordan menguasai West Bank, termasuk Jerusalem Timur. Mesir menguasai Gaza Strip.

Ratusan ribu bangsa Palestina terpaksa mengungsi ke berbagai wilayah, termasuk ke negara-negara Arab terdekat. Libanon, Syria dan Jordan. Bangsa Palestina merasa diperlakukan sebagai penebus dosa Eropa terhadap Holocaust yang mereka lakukan. Sangat tidak adil.

1967

Dalam Perang 6 Hari, bangsa Palestina semakin banyak kehilangan wilayah. Gaza, West Bank, Jerusalem Timur, termasuk Kota Lama tempat Masjid Al-Aqsa, juga Sinai dan Dataran Tinggi Golan (Golan Heights). Jerusalem kembali dalam kekuasaan Yahudi.

1969

Yasser Arafat menjadi Pemimpin Palestinian Liberation Organzation (PLO). Melanjutkan perang gerilya melawan Yahudi.

1970

Jordan tidak melibatkan diri dalam perang Palestina – Israel. Bahkan menghancurkan tentara Palestina. Semakin banyak pengungsi dan milisi Palestina pindah ke Libanon.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Perancis

Back to: BLACK WAVE

6 Oktober 1978

Ruhollah Khomeini sampai di Paris. Kota yg dipilih karena kemudahan akses media internasional dan adanya kebebasan bicara. Tinggal di kota kecil Neauphle-le-Château, di luar Paris. Penerbangan ditemani oleh puteranya, Ahmad, Ebrahim Yazdi (pemimpin The Liberation Movement of Iran (Nehzat-e azadi-ye Iran) atau LMI (disebut juga Iran Freedom Movement, or IFM),) dan 2 lainnya. Sebelumnya, Sadegh Ghotbzadeh dan Abolhassan Banisadr (intelektual Paris) mengurus Visa Khomeini utk 3 bulan tinggal  di Perancis.

Dalam 4 bulan di Perancis, Khomeini sudah menyelesaikan wawancara dengan 132 media nasional/internasional. Semakin terkenal. Mohsen Sazegara mengatur wawancara media massa tersebut.

Mohsen Sazegara meninggalkan Iran pada tahun 1975 untuk belajar di Chicago, di mana dia berteman dengan Yazdi dan bergabung dengan LMI. Ia kembali ke Iran tahun 1978, dengan membawa pamflet tentang revolusi dan dokumen rahasia untuk sesama aktivis LMI.  Mohsen Sazegara membantu mengorganisir pemogokan dan demonstrasi. Serta memunculkan beberapa slogan untuk revolusi, diantaranya, “Marg barg shah, Death to the shah” dan “Shah beyad beravad, The shah must go”.

Ebrahim Yazdi, Sadegh Ghotbzadeh, dan Abolhassan Banisadr menterjemahkan pidato-pidato Khomeini setiap harinya kedalam bahasa Perancis dan Inggris untuk konsumsi internasional.

Ratusan pengunjung Khomeini semakin banyak berdatangan dari Iran dan negara-negara Islam lain. Dari bermacam-macam kelompok. Shiah, Sunni, Ikhwanul Muslimin dan berbagai kelompok Islam yang terrepresi di negaranya (Mesir, Iraq, dll). Mereka merasa mendapatkan inspirasi, ide dan taktik baru untuk melawan penguasa dzalim di negaranya masing-masing.

Khomeini mengatakan pada wartawan Guardian, “I don’t want to have the power or the government in my hand. I am not interested in personal power.”

Bani Sadr meminta Khomeini untuk tidak menyatakan tentang wilayat al-faqih atau negara theokrasi Islam. Bahkan sebaliknya Khomeini menyatakan bahwa perempuan Iran bisa menjadi Presiden. Hemmm …

1 Februari 1979

Pukul 1 dini hari, Air France Boeing 747, membawa Khomeini dan rombongan menuju Tehran, Iran. “Hichi (nothing)”, jawab Khomeini ketika ditanya wartawan ABC News, Peter Jennings di dalam pesawat yang membawanya ke Tehran, “Ayatollah, would you be so kind as to tell us how you feel about being in Iran?”

Dua opsi yang semula direncanakan di Perancis adalah:

  • Membuat pemerintahan di pengasingan yang akan mendapatkan pengakuan internasional. Kemudian memaksa PM Shahpour Bakhtiar untuk mengundurkan diri. Atau,
  • PM Shahpour Bakhtiar mengajukan pengunduran diri ke Khomeini di Perancis dan mempersilahkannya untuk membentuk kabinet serta melakukan referendum untuk membentuk pemerintahan baru.

Mohsen Sazegara menyetujui permintaan Khomeini untuk segera kembali ke Tehran setelah kaburnya Shah Iran. Ebrahim Yazdi tidak setuju,

“Mohsen, I understand, you’re right, but here in Neauphle-le-Château, there are only low-ranking clerics around Ayatollah Khomeini. We can control them, we can control the ayatollah. In Iran, there are high-ranking clerics, his friends, and they will take him out of our hands. Whatever we have done so far will be ruined by them.”

Sikap Ebrahim Yazdi mewakili kekhawatiran kelompok nasionalis kiri, para inisiator gerakan massa di Iran.

21 Februari 1979

Yasser Arafat meninggalkan Tehran

22 Februari 1979

Ebrahim Yazdi menerima pesawat charter dar Islamabad, Pakistan yang membawa penumpang dari Ikhwanul Muslimin (IM) Syria dan Mesir, Jamaat e-Islami Pakistan, dan lainnya dari Kuwait, Arab dan Indonesia. Mereka bermaksud bertemu dengan Khomeini. Youssef Nada sebagai penyandang dana IM Mesir mencharter pesawat tersebut. IM bermaksud mengangkat Khomeini sebagai pemimpin bangsa Islam. Mereka melihat kemenangan Khomeini sebagai kemenangan terhadap opresi, kolonialisme dan imperialisme.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Saudi Arabia

Back to: BLACK WAVE

25 Raja sejak 1720:

Raja Saud I (1640-1725) memerintah 1720-1725

Kingdom of Saudi Arabia (1932–present)

Ibn Saud Abdul Aziz II (1875-1953) memerintah 1932-1953

Saud IV (1902-1969) memerintah 1953-1964 (turun tahta)

Faisal II (1906-1975) memerintah 1964-1975

Khalid II (1913-1982) memerintah: 1975-1982

Fahd I (1921-2005) memerintah: 1982-2005

Abdullah IV (1924-2015) memerintah: 2005-2015

Salman I (1935-) memerintah 2015-

Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb (1703-1791) adalah seorang ahli teologi agama Islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan keagamaan yang pernah menjabat sebagai mufti Daulah Su’udiyyah yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi. Ultra-orthodox and fundamentalist.

Abdelaziz ibn Saud bekerjasama dengan Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb membangun Arab Saudi.

Muhammad Abduh (1849-1905), pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam.

Wahhabisme, faham yang mengikuti ajaran Abdelaziz ibn Saud, tidak mentolerir tindak apa pun yang bisa dianggap menyembah kekuatan selain Tuhan: tidak syafaat para wali, tidak batu nisan di kuburan atau kunjungan ke kuburan orang yang dicintai, bahkan tidak menyembah nabi—semuanya adalah syirik.

1926

Kelompok Wahabi menguasai Hejaz dan merusak situs-situs mulia.

1938

Ditemukan minyak dimasa pemerintahan Raja Abdelaziz ibn Saud

1940

Abdelaziz bin Baz (Bin Baz) dipenjara karena menyerukan untuk menentang keberadaan non-muslim di semenanjung Arab.

1945

Kesepakatan Arab dengan Franklin D. Roosevelt, Presiden AS. Arab mendapat perlindungan keamanan dan AS berhak melakukan eksploitasi minyak Arab. Revenue cukup untuk membangun negeri.

1950an

Abu al-Mawdudi duduk sebagai penasihat Islamic University di Madina, dimana Bin Baz sebagai Wakil Rektor

1953

13.000 pekerja Aramco melakukan demonstrasi selama 2 minggu menuntut dibebaskannya rekan-rekan mereka yang ditangkap pemerintah krn melakukan penggalangan buruh.

Tahun 50an-60an adalah masa politik nasionalis sayap kiri marak di dunia Arab.

1960an

Abdelaziz bin Baz sbg rektor Universitas Medina turut mendukung Wahabisme. Di Madina, gambar dan poster di ruang publik mulai dihilangkan. Manaquin di toko-toko pakaian juga dirusak. Bin Baz mentornya.

1962

Saudi mendanai the World Assembly of Muslim Youth (WAMY) sebesar $250,000 per tahun. Meningkat menjadi $13 juta di tahun 1980. Dan di tahun 1999, membelanjakan $22 Milyar untuk kepentingan Islam di dunia, termasuk untuk keperluan pendidikan dan kebudayaan.

Saudi berniat menempatkan diri sebagai pusat pembela agama Islam, dengan segala cara, dan di setiap lini, dari pendidikan hingga politik, dari budaya hingga medan perang.  Pada 1960-an dan 1970-an, Raja Faisal telah mengerahkan dolar minyaknya untuk mempromosikan agama sebagai perlawanan terhadap komunisme dan nasionalisme pan-Arab.

1963

Ruhollah Khomeini dan Al Maududi, pendiri Jamaat-e Islami Pakistan, bertemu di Mekkah saat ibadah Haji.

1973

Harga minyak naik dari $3/barrel menjadi $12/ barrel dalam 1 hari. Dan menjadi $50 tahun 2019.

1970 – 1974, revenue dari minyak meledak, dari $1.2 billion ke $22.5 billion.

1976

Juhayman al-Otaibi membentuk kelompok yang kritis terhadap pemerintahan istana.

1977

Juhayman al-Otaibi (40 tahun, berklg) membentuk kelompok yang lebih keras. Bahkan menganggap kelompok Bin Baz terlalu lunak dan cenderung kompromi terhadap istana. Pamflet kecaman terhadap istana yang ditandatangani Mohammed bin Abdullah al-Qahtani mulai disebar-luaskan.

1978

Penangkapan terhadap kelompok Juhayman mulai terjadi. Bin Baz melalui Menteri Dalam Negeri Prince Nayef bin Abdelaziz berhasil membebaskan para tahanan tsb. Juhayman melarikan diri dan mulai menyusun strategi pembajakan Masjidil Haram, Mekkah.

Maarouf Dawalibi, ex PM Syria, professor Hukum Islam lulusan Sorbonne, Perancis, menjadi Penasihat Raja Khalid, Arab Saudi. Aktor kunci dalam mendukung Saudi Arabia dalam mengimplementasikan visi sosial Bin Baz menuju kegelapan Pakistan.

Selasa, 20 November 1979

Mekah 1979: Pengepungan Masjidil Haram yang mengubah sejarah Arab Saudi

Juhayman al-Otaibi, mantan tentara Saudi Arabia setelah 18 tahun mengabdi, bersama 200 pengikutnya menguasai Masjidil Haram, Mekah. Mohammed bin Abdullah al-Qahtani dinyatakan oleh para pemberontak sebagai Mahdi. Pemerintah Arab Saudi, dengan bantuan tenaga ahli dari Perancis, butuh satu minggu untuk menguasai kembali Masjidil Haram. Semua pemberontak di hukum mati. Mereka menuntut:

  • pemutusan hubungan dengan Barat,
  • menghentikan semua ekspor minyak ke Barat,
  • mengusir semua orang asing, dan
  • menyingkirkan Wangsa Saud dan para ulama yang gagal menegakkan kemurnian Islam.

Pernah terjadi pemogokan buruh pada 1950-an.  Namun kali ini adalah pertama kalinya kekerasan digunakan dalam menyampaikan unjuk rasa.  Banyak pihak kehilangan haknya karena tertinggal modernisasi yang cepat dan terencana dengan buruk sehingga berdampak ketegangan dan ketidaksetaraan sosial.

DR. Sami Angawi, putra seorang polisi Arab Saudi dan muthawif. Seorang arsitek lulusan London dan AS.

22 November 1979, Kamis

Mohammed Abdullah al-Qahtani yang dinyatakan oleh kelompok pembajak Masidil Haram sebagai Mahdi, tewas oleh granat yang dipegangnya dari lemparan oleh tentara Arab Saudi.

25 November 1979

Ratusan orang turun ke jalan di Qatif, Saihat dan Safwa. Mereka meneriakkan “Death to Al-Saud“. Pemerintah mengirim tentara dari Mekkah untuk memadamkan aksi mass tsb.

30 November 1979

Demonstrasi di Qatif, Saihat dan Safwa berhasil dipadamkan. 20 orang tewas.

Tuesday, December 4, 1979

Dgn bantuan tenaga ahli militer dan 300 kg gas air mata dari Perancis, Tentara Saudi Arabia berhasil menguasai kembali Majidil Haram. Korban menjnggal 270 orang (127 tentara kerajaan, 117 pemberontak, 26 peseta haji) dan 450 luka.

6 Desember 1979

Raja Khaled melakukan sholad di Masjidil Haram dan tawaf di Kabah, Mekkah. Bahkan sempat minum air zamzam disana. Masjidil Haram sudah sepenuhnya beroperasi normal. Berita tersebar ke seluruh dunia.

January 9, 1980

Hukuman pancung dilakukan terhadap 63 orang pelaku pembajakan Masjidil Haram. Juhayman al-Otaibi dan pengikutnya.

Juhayman al-Otaibi sudah hilang, tapi misi mereka tetap eksis. Bin Baz masih berjuang menegakkan Wahhabi. Dan istana mulai terperdaya. Presenter wanita mulai ditarik dari televisi.  Surat kabar harus menghapus wajah wanita dalam setiap gambar yang mereka terbitkan. Karyawan perempuan mulai dikurangi, bahkan juga dalam perusahaan asing. Bioskop di Jeddah ditutup. Konser penyanyi Fairuz menghilang di televisi dan radio. Polisi agama mulai dengan ketat menegakkan waktu sholat, menggunakan cambuk. Kultur yang tidak terjadi sebelum peristiwa pembajakan Masjidil Haram.

6 Agustus 1980

Sadham Hussein bertemu Raja Khaled di Saudi Arabia utk membicarakan ttg sikap negara-negara Arab terhadao Israel. Ini pertemuan pertamakalinya seja runtuhnya kekaisaran Iraq 1958.

September 1980

Beredar luas di Saudi Arabia, Mesir, Kuwait dan negara-negara Arab lainnya, buku berjudul “And Now the Magi’s Turn Has Come”, karya Mohammad Zayn al-Abidin Surur (1938 – 11 November 2016), Ikhwanul Muslimin Syria, yang benci terhadap Hafez al-Assad dukungan Iran. Hidup dai Saudi Arabia, kemudian menetap di Kuwait. Buku tentang anti Shia. Dia dipuji karena mengembangkan tren Islamis yang kemudian dikenal sebagai Sururisme (atau Sururi), yang menggabungkan “metode organisasi dan pandangan dunia politik Ikhwanul Muslimin dengan puritanisme teologis Wahhabisme.”

Bin Baz, Wakil Rektor di Universitas Medina dan Ketua Konsul Saudi untuk Ulama Senior, memesan 3.000 copy buku tentang Anti-Shia, “And Now the Magi’s Turn Has Come” karya Mohammad Zayn al-Abidin Surur. Abd al-Aziz ibn Baz (Bin Baz) membantu mempromosikannya. Selanjutnya, 120.000 copy buku dicetak lagi untuk disebarkan di negara-negara Arab lainnya.

1981

Pangeran Fahd bin Salman Al Saud menawarkan konsep 8 Poin Perdamaian Palestina – Israel. Aktifis Iran menentangnya, bahkan mencercanya sebagai Musuh Islam.

Arab Saudi menghabiskan $3 milyar untuk mendukung perang Afghanistan – Soviet selama 8 tahun, sejak 1979.

Desember 1981

Arab Saudi sudah mengucurkan $10 Milyar untuk Iraq dalam perang melawan Iran.

Desember 1982

Berlanjut dengan $20-$27

April 1983

Maarouf Dawalibi. Penasihat Suriah untuk raja Saudi, yang juga menjabat sebagai kepala Kongres Muslim Dunia, berperan penting dalam mengumpulkan pendukung Saudi Arabia untuk Konferensi Islam Populer (PICO): 280 ulama muncul,  serta aktivis dari lima puluh negara. Terbanyak delegasi Pakistan, Sa’id Hawwa, pimpinan IM Syria juga hadir.

31 Juli 1987

Pawai jemaah haji Iran provokatif dengan membakar bendera AS. Terjadi pertentangan antara Polisi Arab Saudi dengan jamaah haji Iran bersenjata tajam di Mekkah, mengakibatkan 400 orang meninggal.

2 Agustus 1987

Provokasi Ayatollah Akbar Hashemi Rafsanjani terhadap massa aksi menuntut balas atas korban haji di Mekkah, berakibat tewasnya diplomat Arab Saudi di Kedubesnya, Tehran.

3 Juli 1988

USS Vincennes menembak jatuh pesawat komersial Airbus A300, Iran Air 655 di atas Selat Hormuz. Tewas 290 penumpang sipil.

20 Juli 1988

Ruhollah Khomeini mengusulkan cease fire dengan Iraq.

1990

Syekh Bin Baz mengeluarkan fatwa bahwa dalam kondisi tertentu, negara Muslim diperbolehkan meminta bantuan ke negara non-Muslim. Fatwa ini diserukan kagi pada tahun 1991. Arab meminta bantuan AS untuk memerangi Iraq di Kuwait.

2 Agustus 1990

Pasukan Iraq melintas batas Kuwait.

8 Agustus 1990

AS mengirim 15.000 pasukan memasuki Kuwait.

6 November 1990

70 wanita Saudi berkumpul di tempat parkir supermarket al-Tamimi Safeway di Riyadh, kemudian mengemudi melewati kota.

Perempuan dilarang bekerja di kantor pemerintah, seperti mengajar di universitas. BinBaz mengeluarkan fatwa bahwa perempuan dilarang mengemudi.

1991

Seperti halnya IM Mesir dan IM Syria yang beragenda politik, IM Arab bertansformasi dari Wahhabi Salafi, yang secara tradisional patuh pada rambu-rambu pemerintah, menjadi Salafi yang lebih aktif. Beberpa pihak menyebutnya Qutbist atau Sururi Wahhabism. Pengikut Sayyid Qutb atau Surur.

Mansour al-Nogaidan, seorang muslim liberal. Pernah ditahan karena melakukan pemboman sebuah toko video di Buraidah, 3.5 jam arah barat laut dari Riyadh.

13 November 1995 11.40 am

Bom meledak di lokasi parkir, Riyadh. 6 orang tewas. 5 orang diantaranya adalah bangsa AS. Abdelaziz Mu’atham adalah dalang pemboman tersebut. Mengaku terinspirasi oleh Bin Laden.

1996

Pemerintah Saudi mengakui pemerintah Taliban dan Imarah Islam Afghanistan. Saudi mendukung pertumbuhan Taliban, kaum revolusioner yang memeluk kemurnian Islam yang mungkin dicita-citakan oleh Keluarga Saud, tetapi tidak akan pernah bisa dicapai karena Arab Saudi bersekutu dengan Barat.

Juni 1996

Bom mobil berisi 20.000 pound TNT meledak di bangunan berlantai 8, tempat personel Angkatan Udara Amerika di Menara Al-Khobar, di Provinsi Timur Arab Saudi. 19 prajurit Amerika tewas, dan lebih dari 400 orang terluka.

1999

Mansour al-Nogaidan tetap menulis artikel di harian Saudi, tentang kerisauannya terhadap pemahaman agama Islam. Dia berharap bahwa setiap orang berhak untuk bertanya kepada para pemimpin umat.

Mei 1999

Menteri Pertahanan Arab Saudi melakukan kunjungan menegaraan ke Tehran, Iran.

11 September 2001, at 4:46 p.m.

TV Al-Jazeera menyiarkan berita runtuhnya gedung World Trade Centre, New York City

13 September 2001

Menteri Luar Negeri Colin Powell mengidentifikasi Bin Laden sebagai tersangka utama.

15 September 2001

Lebih dari 12 orang penyerang 11/9 adalah warga Saudi Arabia

27 September 2001

Kepala FBI Robert Mueller mengumumkan nama dan wajah para pelaku penyerangan 11/9.

2003

Jamal Khashoggi, diberhentikan sebagai editor harian Al-Watan, karena banyak mengkritisi kebijakan Menteri Dalam Negeri, Pangeran Nayef bin Abdulaziz. Jamal pindah ke London, kemudian Washington DC, membantu Dubes Arab Saudi untuk AS, Turki al-Faisal di bidang media.

Jamal Khashoggi memiliki pembaca setia untuk kolomnya di harian pan-Arab milik Saudi Al-Hayat, dan setelah dia bergabung dengan Twitter pada 2009, dia mempunyai 1,7 juta pengikut. Menjadi acuan informasi media Barat terkait Arab Saudi.

Mei dan November 2003

Terjadi pemboman di Riyadh. 56 tewas dan ratusan luka. Pelaku pemboman adalah warga Saudi, anggota Al-Qaeda.

28 November 2003

Mansour al-Nogaidan menulis di New York Times,Telling the Truth, Facing the Whip,:

“I cannot but wonder at our officials and pundits who continue to claim that Saudi society loves other nations and wishes them peace, when state-sponsored preachers in some of our largest mosques continue to curse and call for the destructions of all non-Muslims.”

Mansur ditahan selama 4 hari.

2004

Mansour al-Nogaidan dinyatakan Kafir oleh mufti kerajaan Saudi.

Setelah aksi 11/9, AS menyarankan supaya Saudi arabia mulai mencermati penggunaan dana sumbangannya. Ada 300 sumbangan privat sebesar $6 milyar per tahun untuk kepentingan Islam ke berbagai belahan dunia. Ada $1.6 juta per hari sumbangan perseonal orang-orang kaya Arab yang bisa jadi salah sasaran. Perkiraan, hampir $60 juta yang sumbangan ke badan amal yang berbasis di Saudi salah sasaran. Dan $2 juta per tahun masuk ke Al-Qaeda.

Agustus 2005

Raja Fahd wafat. Digantikan Pangeran Abdallah yang de facto sudah menjalankan pemerintahan.

23 January 2015

Raja Abdullah wafat dan Salman menjadi raja.  Dia mengangkat putranya Mohammad bin Salman (MBS), 30 thn,  sebagai Menteri Pertahanan dan Ketua Pengadilan Istana (Royal Court).

January 2016

Eksekusi mati dikenakan terhadap militan Sunni al-Qaeda. Juga terhadap ulama Shia Sheikh Nimr al-Nimr. Protes terhadap kebijakan pemerintah Saudi Arabia, dengan dukungan Iran.

26 Maret 2015

Intervensi koalisi 9 negara (Asia Barat hingga Afrika Utara) dalam perang Yaman, dipimpin Saudi Arabia dibawah MBS, sebagai Menteri Pertahanan, atas permintaan Presiden Yemen, Abdrabbuh Mansur Hadi karena gangguan kelompok Houthi. Kode operasi Operation Decisive Storm

September 2016

14.000 perempuan menandatangani petisi untuk meminta Raja supaya mencabut sistem perwalian pria (male guardianship system)

2017

Jamal Khashoggi (13 October 1958 – 2 October 2018), jurnalis Saudi yang meyakini kebenaran demokrasi dan pluralism, meninggalkan Jeddah, ke AS. Desember 1981, Kashoggi di masa mudanya, turut menyebarkan pamphlet anti-Shia saat pameran buku Muslim, Arab Youth Association di Springfield, Illinois.

24 June 2018

Ribuan perempuan di berbagai kota melakukan selebrasi menyetir mobil keliling kota. Pemerintah mengijinkan perempuan menyetir mobil.

2019

Salah satu instalasi minyak Saudi Arabia ditembak drone. Diduga milik Iran.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Syria

Back to: BLACK WAVE

Membaca Konflik Suriah

1970

Hafez al-Assad telah berkuasa dalam kudeta istana tak berdarah pada November 1970, oleh partainya sendiri, Partai Baath yang nasionalis, sosialis, dan seolah-olah sekuler. Berasal dari kelompok Alawite, komandan angkatan udara dan bekas menteri Pertahanan, Hafez al-Assad kemudian memimpin negara mayoritas Muslim Sunni.

Hafez al-Assad pernah menawarkan perlindungan kepada Ruhollah Khomeini di Damaskus ketika ayatollah harus meninggalkan Irak (tahun?). Shariati dimakamkan di Damaskus ketika jenazahnya tidak dapat dibawa ke Teheran. Suriah adalah negara pertama yang mengakui kemenangan Khomeini dan mengirimkan ucapan selamat dua hari setelah jatuhnya pemerintahan Shahpour Bakhtiar.  Pemimpin Suriah itu bahkan telah menyediakan pesawat yang membawa Arafat ke Teheran.

Sekarang Mesir berteman dengan Israel dan Amerika, Hafez al-Assad bersukacita atas penambahan garis keras baru ke kamp anti-Barat, anti-Israel. Khomeini sepertinya melihat manfaat dari hubungan yang berkelanjutan dengan Hafez al-Assad

1973

Hafez al-Assad mengumumkan konstitusi baru, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Suriah tidak mengharuskan presiden Suriah adalah Muslim. Ikhwanul Muslimin mengorganisir protes di Hama terhadap Partai Baath sekuler. Kerusuhan menyebar ke kota-kota besar seperti Homs dan Aleppo. Hafez al-Assad mengamandemen konstitusi, tetapi menolak tuntutan agar Islam menjadi agama negara. Peningkatan kekerasan terhadap kaum Alawi: pekerja, dokter, syekh, dan intelektual.

June 16, 1979

Seorang kapten Sunni di akademi artileri Aleppo menembaki taruna berseragam, kebanyakan dari mereka Alawi. Pemerintah menyatakan 32 orang tewas, tanpa menyebutkan sektarian. Sumber tidak resmi, menyebutkan 83 orang tewas.

Ikhwanul Muslimin menyangkal keterlibatannya, tetapi rezim Hafez al-Assad tetap menyalahkan mereka dan melancarkan tindakan keras terhadap kelompok tersebut, menjaring ratusan dan mengeksekusi puluhan. Hafez al-Assad menganggap oposisi terhadap pemerintahannya adalah pemberontakan Islam.

1980

Yassin al-Haj Saleh (born February 1, 1961), pemuda, jurnalis, idealis kiri, anggota Syrian Communist Party dihukum 16 tahun, di penjara Tadmur, dari 1980-1996. Menulis buku The Impossible Revolution: Making Sense of the Syrian Tragedy“.

1982

Rezim Hafez al-Assad akan menghancurkan Ikhwanul Muslimin dengan meratakan seluruh bagian kota Hama dan membunuh lebih dari 15.000 orang.

13 Oktober 1990

Syria invasi ke wilayah Kristen di Lebanon. AS ‘tutup mata’ karena Syria turut bersepakat bergabung bersama Arab, Iran dan AS untuk menentang Iraq, yang melakukan invasi ke Kuwait.

1996

Yassin al-Haj Saleh, keluar dari penjara, pindah ke Damascus. Banyak menulis artikel tentang sosial lolitik Syria dan Arab. Menjadi target dari pemerintah Syria dan kelompok Islam radikal. Beristrikan Samira al-Khalil, aktifis kiri. 2017 pindah ke Turki, selanjutnya ke Berlin.

2009-2011

Zahran Alloush dipenjara oleh pemerintah Syria karena aktifitas Salafinya.

29 Juli 2011

Berdiri Tentara Pembebasan Suriah, atau Free Syrian Army (FSA). Didirikan oleh perwira Angkatan Bersenjata Suriah yang tujuannya adalah untuk menjatuhkan pemerintah Bashar al-Assad.

2013

Syria terjebak dalam pertentangan antara spiritual Muhammad ibn Abd al-Wahhab dengan Khomeini. Atau, antara the Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) vs the Iranian Revolutionary Guard Corps. (IRGC)

Maret 2013

Raqqa dikuasai Free Syrian Army (FSA).

Jabhat al-Nusra, yang selalu memenangkan perang. AS menganggap Nusra sebagai teroris yang mempunyai hubungan dengan Al-Qaeda. Pemimpinnya, teman Abu Musab al-Zarqawi dan Abu Bakr al-Baghdadi, adalah mereka yang memerangi AS di Iraq, setelah 2003.

April 2013

Baghdadi menuju Syria untuk mempercepat realisasi Negara Islam, kekhalifahan tanpa batas negara, ISIS. Menaklukkan FSA dan kelompok Syria lainnya. Menguasai Raqqa, dan mengambil alih wilayah kekuasaan al-Nusra. Baghdadi mengumumkan secara resmi terbentuknya ISIS.

Mei 2013

Hezbollah mengirim ratusan tentara ke perbatasan Syria, Qusayr. Tewas 100an tentara Hezbollah.

Summer 2013

ISIS menempati gedung besar di Raqqa, sebagai kantor pusat.

Agustus 2013

Barack Obama menghentikan serangan terhadap Syria, yang dilakukannya sebagai peringatan terhadap penggunaan senjata kimia oleh Saad.

21 August 2013

Terjadi 400 korban tewas karena senjata kimia yang dilancarkan tentara Syria di Eastern Ghouta. Wilayah di luar Damaskus yang dikuasai oposan.

Akhir 2013

Untuk kepentingan perlawanan terhadap Syria, Arab Saudi banyak menyumbang kelompok Jaysh al-Islam, pimpinan Zahran Alloush, aktifis Salafi lulusan Universitas Madina. Sudah terlatih sejak di Arab Saudi.

Januari 2014

ISIS mengumumkan bahwa Raqqa adalah pusat kekhalifahan baru.

Maret 2014

ISIS meledakkan pos Iran di Raqqa. Dijadikan sebagai masjid Sunni. Gambar Khomeini dan Ali Khamenei diturunkan. Tentara ISIS atau al-Nusra, banyak masuk dari Russia, Tunisia, Mesir dan Jordan. Sementara Iran banyak merekrut dari Afghanistan dan Pakistan.

Hezbollah dan relawan perang dari Shia Pakistan dan Afghanistan mulai berdatangan ke Iraq dan Syria. Sementara Sunni dari berbagai belahan dunia Arab mulai memberi sumbangan dan dukungan relawan juga, untuk melawan Bashar al-Assad dan Iran.

Teror pembunuhan, penyaliban dan,pemancungan, mulai sering terlihat di Syria.

Juni 2014

Baghdadi yang sudah menguasai banyak wilayah, hingga perbatasan Turki. Mempunyai milisi bersenjata jauh lebih besar daripada tentara Iraq. Mulai mengirim banyak milisi bersenjata, menyeberang ke Syria.

ISIS banyak merusak peninggalan2 bersejarah di Iraq dan Syria, dengan alasan polytheism atau pemujaan kepada yang bukan Allah.

Jamal Khashoggi, jurnalis Saudi Arabia, melihat Wahabi radikal ada dalam ideologi ISIS..

2015

Russia mulai membantu Syria. Melakukan pemboman di wilayah musuh.

Agustus 2017

Perang ISIS vs IRGC berlanjut di perbatasan Syria-Iraq di selatan, al-Tanf. IRGC kalah dan ISIS memancung Mohsen Hojaji, 26 thn, warga Iran. Dijadikan martyr.

October 2017

AS klaim menaklukkan ISIS di Raqqa. IRGC kembali ke Raqqa dan merenovasi masjid Shia yang dihancurkan ISIS.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Turki

Back to: BLACK WAVE

2 October 2018

Jamal Kasoghi menuju Konsulat Saudi Arabia menggunakan taxi. Akan mengurus dokumen untuk keperluan menikah. Sempat kirim sms ke tunangannya, Hatice Cengiz. Mahasiswa doktoral, Turki, 36 thn. Kedubes Saudi di Washington menyarankan Jamal untuk mengurus dokumen tsb ke Turki. Knp Turki? Hatice?

13:14:37

Sementara Hatice menunggu di depan gedung, Jamal masuk ke dalam gedung konsulat Saudi. Dan TIDAK pernah kembali lagi.

16 Oktober 2018

Setelah 2 minggu, pihak Saudi mengakui bahwa Jamal sudah tewas. Meninggal karena perkelahian di dalam konsulat.

Maret 2019

Penyelidikan PBB selama 5 bulan atas pembunuhan tsb.,  menemukan bahwa tim pembunuh telah membahas rencana pemotongan Jamal hanya 13 menit sebelum dia memasuki gedung.  Mereka menyebut Jamal sebagai ‘Domba Qurban’.

Back to: BLACK WAVE