Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2010

Terus Kritis Mahasiswa

Ada rasa haru sekaligus senang dan bangga melihat mahasiswa masih punya semangat, keberanian dan kebersamaan untuk melawan mithos bahwa aparatur negara adalah penguasa negeri satu-satunya yang bisa menentukan baik-buruknya wajah bangsa ini. Mithos ini sungguh melekat dalam pikiran pada masa Orba sehingga perilaku swasensor seringkali dilakukan dalam berhadapan dengan aparatur negara, khawatir dikategoirikan sebagai ‘penghambat pembangunan’, yang berarti akan berujung dalam hotel prodeo atau bahkan berhadapan dengan kekerasan, pada masa itu.

Satu tahun pemerintahan SBY menjadi moment banyak pihak untuk melakukan perayaan, yang berwujud evaluasi kinerja kabinet, diskusi, bahkan demo penolakan oleh nahasiswa, LSM dan kelompok buruh. Masih dalam kurun waktu yang sama, PP Muhamadiyah berinisiatif untuk mengumpulkan para tokoh nasional yang entah bagaimana pangkal acaranya, berujung pada sikap bersama yang masih cair, karena memang tidak dimaksudkan untuk membuat keputusan bersama, bahwa masih banyak kekurangan dari pemerintahan sby setelah satu tahun masa kerjanya. Sikap ini jelas ditunjukkan oleh pihak penggagas, sekaligus ketua Muhamadiyah, Din Syamsuddin dalam wawancaranya denga Metrotv, yang sepertinya menganggap bahwa pemerintah tidak cukup sensitif terhadap penderitaan rakyat.

Sikap keras penolakan terhadap pemerintah SBY karena kinerja kabinet yang dianggapnya buruk, ditunjukkan oleh para mahasiswa di berbagai kota, dari wilayah Barat hingga Timur negeri ini dengan melakukan ‘turun ke jalan’. Hampir bisa dipastikan bahwa aksi ini bukanlah kelanjutan sikap para tokoh nasional di acara Muhamdiyah, namun jelas bahwa nafas penolakan yang terhembus dari ruang para tokoh tersebut pasti terasa bagai angin segar penambah semangat mahasiswa untuk bersuara.

Tidak adanya solusi masalah yang seringkali dijadikan alasan para pemangku kebijakan dan para pendukungnya untuk melecehkan aksi mahasiswa, jelas tuntutan yang tidak proporsional dan ahistoris karena kewajiban mahasiswa memang bukanlah pembuat kebijakan namun sikap kritis dan pedulli dari mahasiswa yang ditunjukkan dengan aksi demo tentulah sudah melalui kajian sosial kritis melalui berbagai diskusi dengan berbagai pihak, baik internal kampus maupun eksternal, yang meskipun mungkin tidak sampai pada tataran penelitian. Dan, hal yang sungguh menyakitkan bagi para mahasiswa adalah seringnya tuduhan bahwa selalu ada dalang atau aktor intelektual di luar kampus, dibalik setiap aksi.

Selamat berjuang kawan, teruslah bersikap dan berpikir kritis tentang nasib bangsamu. Kampus bukan menara gading.

Read Full Post »

Edu dan Sepatu Boot

Selama satu minggu ini aku selalu melihatnya jalan pelan di jalan tanah seberang depan kamarku. Sambil ‘mbondo’ tangan (Jw, memegang salah satu tangan dari belakang tubuhnya) dan beberapa kali berhenti, dia ‘celingukan’ ke arah depan deretan kamarku, seperti khawatir diawasi orang. Dia berbadan gempal hitam, bercelana pendek, berkemeja lusuh biru muda dan bersepatu boot karet, usianya kira-kira 30 tahunan dan beberapa gelang karet hitam terlihat di tangannya. Sebut saja Edu namanya.
Suatu sore dia lewat bersama perempuan gempal seumurnya dengan ‘noken’ (kantong jaring, di belakang badannya dan disangkutkan di kepala) tergantung di kepalanya dan tanpa alas kaki, berhenti dan menghadap kamarku sambil ngobrol dengan bahasa ibunya yang gak aku ngerti artinya. Bingung aku berprasangka … apa yang ada dalam nokennya? apa yang akan mereka lakukan di depan kamarku ??

Kamarku berada dalam satu bangunan berlantai empat yang menghadap lereng gunung yang curam. Jalan mobil diseberang bangunan mempunyai ketinggian yang sama dengan kamarku, lantai 3. Kaki lereng jalan itu tepat berada di depan lantai satu, dua lantai di bawah kamarku dan dibatasi oleh dinding beton setinggi enam meter untuk mencegah longsor.

Sore kemarin dari celah pintu yang sengaja kubuka sedikit, kulihat Edu berdiri tepat di jalan dan menghadap langsung ke kamarku dengan parang di tangan. Tetap bercelana pendek dan bersepatu boot. Aku yakin, dia tidak akan mendatangiku, karena cukup sulit untuk turun dari dinding beton setinggi enam meter itu. Gak lama dia berdiri diam di situ, lalu pergi … Apa yang telah aku lakukan?

Sore ini kubuka sedikit gorden jendelaku dan hah .. Edu memegang parang, tetap dengan sepatu boot hijaunya tapi kali ini bercelana panjang, berdiri memunggungiku di atas pagar beton, seberang kamarku. Lalu dia jongkok dengan parang di tangan, … dan mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh di lereng terjal bawah jalan itu. Dia sedang menyiapkan lahan miring tak terurus seluas 3×3 m untuk ditanami Keladi. Heemm .. Aku keluar kamar, sedikit senyum dan teriak ” adik .. hati-hati, kau bisa jatuh..”. Dia menoleh “aman kakak..”, jawabnya dengan senyum dan memberiku jempolnya.

Read Full Post »

The Dark Side of Chocolate

Gambar toko coklat yang bersih, terang dan segar serta penataan cokelat yang rapi dan menarik, membuat remote berhenti untuk merubah channel televisi, penasaran ingin tahu tentang apa film ini. Seorang narator menjelaskan tentang asal mula pembuatan cokelat dan gambar berubah menjadi peta Afrika dengan anak panah yang bergerak dari Mali ke Pantai Gading, Afrika. Film ivestigasi tentang Perdagangan Anak (Children Trafficking) dan Perbudakan (Slavery) abad 21, dibuat oleh Roberto Romano dan Miki Mistrati, yang dalam beberapa kesempatan dilakukan dengan cara ‘hidden camera’.

Beberapa anak laki-laki terlihat lari memasuki bus yang siap jalan di daerah yang gersang dan berlatar-belakang warna coklat gersang berdebu, menuju Pantai Gading, tempat perkebunan cocoa besar, sebagai pemasok hampir setengah total produksi cocoa dunia. Beberapa pabrik cokelat Eropa dan AS, seperti Cargill, Archer Daniels Midland Mars, Nestlé, dan yang lainnya berada di kota ini.

Beberapa anak dibawah 12 tahunan ditemukan sedang membawa parang di tengah perkebunan cocoa di Pantai Gading. “Apa yang akan ditanyakan bapakmu bila kamu sampai di rumah?”, tanya Roberto Romano kepada buruh pemetik cocoa yang masih di bawah 12 tahun, “Dia akan marah, aku pulang tidak bawa uang”, jawabnya. Seorang anak terlihat menangis. Beberapa anak berhasil melarikan diri. Diinformasikan bahwa pada ummnya mereka tidak dibayar. Perbudakan.

Aktifis kemanusiaan di Mali, dengan menangis dan marah merasa tak berdaya, mengatakan hanya sukses menggagalkan pengiriman buruh anak sebanyak 65 orang. Banyak penyedia jasa buruh anak berasal dari daerah mereka sendiri dan pengangkutan dilakukan melewati jalan tanah coklat berdebu, menggunakan bus atau sepeda motor.

Dalam film itu juga ditunjukkan bagaimana Roberto mewawancarai pejabat industri cokelat dan pejabat pemerintah Pantai Gading tentang buruh anak, pada tempat dan waktu yang berbeda. Meskipun pada awalnya mereka menyangkalnya, bahkan sang pejabat terkesan menutupinya dengan nengatakan “oh anak-anak itu berombongan ke Pantai Gading untuk berlibur”, namun setelah film ditujukkan …. Ooohhh dengan lesu mereka menerimanya.

Pada tahun 2001, isu tentang perdagangan anak dan perbudakan di perkebunan cocoa Pantai Gading telah mengagetkan masyarakat dunia, meskipun di Indonesia sepi-sepi saja. Hal ini menjadi kampanye negatif bagi pabrik-pabrik cokelat, dan tuntutan para konsumen mulai mengemuka untuk segera mendapat tanggapan.

Untuk menghindari tuntutan label ‘no child labor’, yang sebetulnya masih terjadi di beberapa pabrik cokelat, industri cokelat sepakat membuat protokol untuk mengakhiri buruh anak di perkebunan cokelat pada tahun 2005.

Tahun 2005, protokol tersebut gagal dipenuhi oleh para industri cocoa, dan dibuat kesepakatan baru untuk memenuhinya pada tahun 2008.

Tahun 2007, Laporan HAM-AS menyatakan bahwa 5.000-10.000 anak diperdagangkan untuk keperluan perkebunan cocoa di Pantai Gading, akibat kemiskinan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang umumnya dari Mali dan Nicaragua.

Lagi, 2008, industri cocoa belum juga dapat memenuh target protokol yang dibuatnya, lalu kesepakatan baru dibuat untuk memenuhinya pada 2010. Lalu?

Setelah hampir 10 tahun, apakah industri cokelat dan pemerintahan yang terlibat sudah berhasil menghapuskan perdagangan buruh anak, pelecehan hak-hak azasi anak dan perbudakan? Hal inilah yang menjadi alasan dibuatnya film ivestigasi oleh Roberto dan Miki. Hasilnya? Seperti disajikan dalam filmnya, perdagangan anak dan perbudakan masih terjadi.

Membeli produk-produk Perdagangan Bebas tidak berarti merubah kondisi kemiskinan akut, yang ‘memaksa’ terjadinya buruh anak sebagai makhluk yang paling lemah.

Mungkin cokelat yang sedang anda nikmati saat ini masih belum bersih dari Children Trafficking dan Slavery….

Read Full Post »

Pelecehan HAM

Tiga hari yang lalu, beberapa kawan berkumpul untuk mendapat sosialisasi tentang HAM dari perusahaan tempat mereka bekerja. Dengan suara lantang dan cenderung terburu-buru, presenter menjelasan materi presentasinya, apakah bermaksud memberikan kesan bahwa dirinya menguasai materi, ingin cepat selesai atau justru khawatir banyak pertanyaan ?? entahlah .. Namun kesan yang muncul justru kurang menguasai masalah HAM dan cenderung terkooptasi pada pola pikir pengusaha.

Seorang karyawan bertanya “pak, kalau saya tidak masuk beberapa hari karena sakit, apakah akan mempengaruhi penilaian kinerja saya?” heemm … dengan cepat dijawabnya “oh, iya .. karena anda tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri dan tidak mengikuti anjuran dokter sehingga pekerjaan terganggu”. Edan … jumping conclusion .. “Perusahaan telah menghormati HAM dengan cara memberi karyawan hak untuk mendapat pengobatan ke Rumah Sakit yang disediakan”, tambahnya. Semakin edan …

Kawan lain pernah berobat di RS rujukan perusahaan berbulan-bulan dan hanya diberi kapsul pilek terus-menerus, tanpa dilperiksa sama-sekali kondisi hidungnya, apalagi rekomendasi ke dokter spesialis.. Huh ….. Akhirnya saat cuti dia berobat ke doklter spesialis THT dan didiagnosis sebagai sinus. Dari hasil rontgen, terlihat tulang hidungnya yang bengkok, sbg penyebab sinus, shg disarankan operasi.

Kawan lain lagi pernah rawat inap satu minggu lebih di RS yang sama karena suhu tubuh yang tinggi. Contoh darah diambil beberapa kali namun diagnosis masih belum jelas benar, makan susah masuk dan permintaan infus pasien tidak diijinkan. Terakhir diminta kesediaannya untuk test AIDS… Hahh .. Pasien shocked .. Krn merasa tidak pernah melakukan hal-hal yg bisa dianggap penyebab tertularnya AIDS. Untungnya, beberapa hari kemudian datang kunjungan rutin dokter ahli dari Jakarta yang juga memeriksanya. Diagnosisnya adalah ada masalah dengan pangkreas pasien. Pengobatan dilakukan dan beberapa hari kemudian bisa pulang. Sembuh.

Dua contoh di atas kawan sampaikan pada sang ‘guru’ sebagai penyangkal bahwa absennya karyawan beberapa hari tidak mesti sebagai kesalahannya, dan hak pengobatan yang diberikan perusahaan tidak bisa dianggap selesai hanya dengan merujuk ke Rumah Sakit satu-satunya. Pelayanan RS rujukan juga mesti menjadi perhatian perusahaan karena pengobatan ‘seadanya’ terhadap penyakit serius yang diderita karyawan juga bisa dikategorikan sebagai tindakan Kekerasan krn Pembiaran (Violence by Omission) yang jelas sebagai pelanggaran HAM. (Lihat ‘Violence and Democratic Society’, di kategori Buku).

Sebaiknya perusahaan perlu lebih serius dalam mengakomodir pasal-pasal HAM, dan menugaskan sesorang yang memang kompeten dibidangnya untuk memberikan sosialisasi HAM. Atau, mau dianggap melakukan pelecehan HAM?

Read Full Post »

Pesta Kepiting

Di lereng Carstensz yang dingin dan terkungkung, karena akses darat tidak dapat digunakan berhubung isu keamanan, pasokan jenis makanan sangat terbatas dan kalaupun tersedia pasti akan sangat mahal. Atas kebaikan sekelompok orang, bahan makanan langka yang sangat kami inginkan ini bisa terangkut, KEPITING.

Sabtu sore yang lalu, 100 ekor kepiting besar yang masih hidup dalam keadaan terikat, sampai di dapur kami. Mereka terpaksa masih harus menginap semalam dalam kardus Aqua dengan kaki terikat dan mata keluar bergerak-gerak berhubung menunggu sang koki yang baru bisa mengolahnya pada hari Minggu sore. Stress pasti ..

Minggu sore sekelompok ‘pasukan’ yang kebetulan semua lelaki, berinisiatif untuk menyembelihnya (emang ada kepalanya?) atas nama Allah tentunya (setahuku selama ini langsung masuk air mendidih saja 😀 ) dengan cara menusuk tepat dibagian tengah dadanya (cangkang segitiga). Tapi kok banyak yang masih bergerak juga ya, alias lama matinya … Proses mutilasi mulai dilakukan dengan cara membuka cangkang dan dibuang, lalu dibelah menjadi dua bagian dan dibuang insangnya. Di bawah pancuran, kepiting ini disikat dan dibuang kotoran serta lemaknya. Wah .. padahal enak loh lemaknya tapi pasti tinggi kandungan kolesterolnya..

Pembagian kerja mutilasi dilakukan sesuai proses, mulai dari bagian penyembelih, pembuka cangkang, pembersih insang dan terakhir bagian pencucian.

Mulai proses pencucian hingga memasaknya, sering muncul ide coba-coba para lelaki ini, “cangkangnya jangan dibuang, karena enak dimakan”, yang lain “cangkangnya dibuang aja karena kotor dan tidak bisa dimakan”, lainnya lagi “yang kuning itu kotoran atau lemak, kok bau banget?”, lainnya lagi “kalau yang hitam itu apanya?” wah .. masing-masing diam .. yang kuasa bagian pencucian .. kalau menurutnya perlu dibuang, ya dibuanglah dia tanpa perlu nanya-nanya .. ha ha ha .. percuma ribut … secara diam-diam ternyata ada yang melakukan proses perebusan kepiting sebelum dibelah .. ha ha .. tanpa ribut-ribut ..

Sang koki datang dan semua proses langsung diambil alih dibawah komandonya, ketahuan kalau yang lain gak pengalaman.. Mulai persiapan bumbu, peracikan dan pengolahan semua dibawah komando sang koki. Proses pengolahan menggunakan wajan buesar di atas kompor dengan bumbu kuning dan air di dalamnya mulai dilakukan, lalu kepiting dimasukkan. Kurang lebih satu jam, semua sudah siap disantap … slurppp ..

Seorang kawan lain berbaik hati menyediakan nasi, daun pepaya dan ketimun sebagai penawar kolesterol. Kuping sudah mulai terasa panas hanya dengan empat capit kepiting dan satu body saja… puas.. ketimun adalah korban terakhir

Thx kawan, sudah membahagiakan kita dengan menyediakan 100 kepitingnya, dan thx juga buat sang koki tentunya.

Read Full Post »

Penulis: Jalmi Salmin Phd.
Tebal Buku: 263 halaman
Penerbit: Pilar Media
Tahun: 2005

Judul asli buku ini adalah “Violence and Democratic Society. New Approach to Human Rights”, yang diterbitkan pada tahun 1995. Meskipun sudah 15 tahun, buku ini masih tetap relevan untuk dapat digunakan sebagai acuan analisis terhadap fenomena Kekerasan yang terjadi di manapun, termasuk di negeri kita saat ini. Sumbangan terbesar dari Jalmi dalam penulisan buku ini adalah konseptualisasi pelanggaran HAM berdasarkan beberapa klasifikasi yang bisa diterapkan pada masyarakat manapun.

Jalmi menyatakan bahwa analisis Barat tentang Kekerasan selalu bersifat Superfisial, Tidak Proporsional, Individualisasi dan Sepihak, sehingga pemberitaan yang dihasilkanpun akan bias atau distortif.. Banyak contoh yang sangat jelas ditulisnya tentang masing-masing sifat cara pandang tersebut.

Cedera, kematian, kerusakan aset bukanlah satu-satunya bentuk akibat kekerasan, seperti yang seringkali dipahami masyarakat awam selama ini, namun gangguan psikologis dan kemiskinan struktural juga termasuk di dalamnya. Untuk itu diperlukan analisis yang Obyektif, Logis dan Empiris. Definisi Kekerasan di sini berdasarkan prinsip bahwa setiap hak asasi manusia, untuk mencukupi kebutuhan dasarnya, harus dilindungi oleh negara yang berkedaulatan. Hal ini berarti Kekerasan tersebut mencakup Kekerasan Aksidental dan Kekerasan Struktural. Definisi ini berkaitan dengan semua kategori kekerasan tanpa memperhitungkan jumlah korban, siapa korbannya, siapa yang bertanggungjawab, apakah individu, kelompok, institusi, negara atau masyarakat secara keseluruhan.

Ada empat jenis Kekerasan yang memenuhi dua kriteria di atas (aksidental dan struktural), yaitu: Kekerasan Langsung (direct violence), Kekerasan Tak Langsung (indirect violence), Kekerasan Represif (repressive violence) dan Kekerasan Alienatif (alienating violence).

Kekerasan Tidak Langsung (mediated violence dan violence by omission) oleh sistem ekonomi kapitalis, yang terkenal dengan sifat rakusnya, seringkali mengakibatkan korban yang lebih besar dan berlangsung lama serta meningkat secara perlahan. Kejahatan lingkungan yang mengakibatkan “greenhouse effect”, penimbunan produk tambang berbahaya ke dalam sungai/laut (kasus Newmont), pencemaran air tanah, “illegal lodging”, termasuk dalam kategori Kekerasan ini (mediated violence). Sedangkan Kemiskinan dan Ketidakadilan sosial adalah contoh yang paling jelas di negara-negara kapitalis, yang masuk dalam kategori Kekerasan karena Pembiaran (violence by ommision). Mahatma Gandhi pernah megatakan “Dunia ini mampu untuk memenuhi semua kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk kerakusannya”.

Dalam Kesimpulan, Jamil mengatakan bahwa “tanpa kekerasan, tidak ada nilai tambah (added value) yang dapat diakumulasi dan didapatkan oleh pemilik modal; dan tanpa kekerasan, pranata kapitalisme tidak dapat dilestarikan”. Betulkah demikian? Coba kita analisis perilaku lingkungan terdekat, perusahaan tempat kerja kita. Sepertinya …

Tentang Penulis
Jamil Salmi lahir di Maroko, 1952. Meraih PhD di University of Sussex dan menjadi profesor di Institute of Educational Planning di Rabat.

Read Full Post »