Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2012

Judul: JUSTICE, What’s the right thing to do?
Penulis: Michael J. Sandel
Tebal Buku: 308 halaman
Penerbit: Farrar, Strauss and Giroux; New York
Tahun: 2009

Buku menarik ini berisi ‘rekaman’ kuliah umum filsafat politik oleh Professor Michael Sandel di Universitas Harvard yang sangat digemari hampir ribuan mahasiswanya. Ada duabelas file video ‘live’ kuliah ini, termasuk diskusi dengan mahasiswa, yang masing-masing berdurasi satu jam, juga bisa diunduh gratis dari youtube.com atau itunes.apple.com.

Hal yang menarik dari Justice adalah ‘mengganggu’ nurani sekaligus visi pembaca untuk selalu mempertanyakan secara kritis dari banyak sisi tentang Keadilan sebagai buah kebijakan manusia sehari-hari untuk memenuhi kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat modern. Judul-judul bab dalam buku ini sejak awal halaman memang merangsang untuk terus ingin mengetahui isinya, selain isi antar bab memang berkaitan dan menerus. Beberapa yang menarik misalnya: Doing The Right Thing, The Greatest Happiness, Do We Own Ourselves?, Who deserve what?

Beberapa hal yang dibahas dalam kuliah ini adalah tentang SARA (affirmative action), tindak kanibal, perkawinan sejenis, pasar bebas, pajak si kaya untuk si miskin, aborsi, euthanasia, hak individual vs kepentingan umum, dll. Contoh kasus-kasus di atas digunakan Sandel untuk menguji konsep Keadilan dan Moral dari para filsuf moral mulai dari Aristoteles hingga Immanuel Kant, John Rawls dan Aristoteles.

Sandel membedakan tiga pendekatan (Three Ways of Thingking) terhadap Keadilan, yaitu pertama, Utilitarian, yang menyatakan bahwa untuk mendefinisikan Keadilan dan untuk melakukan hal yang Benar adalah dengan memaksimalkan kesejahteraan atau kebahagiaan kolektif masyarakat. Kedua, adalah Kebebasan memilih (freedom), Libertarian memberikan contoh tentang Pasar Bebas (free market), tanpa keterlibatan pemerintah. Ketiga, adalah pendekatan Nilai Luhur yaitu memberikan pada yang berhak.

Beberapa contoh kasus Keadilan yang muncul di bagian awal buku ini yang didekati dengan tiga hal di atas. Pertama, tentang mahalnya barang-barang kebutuhan rumahtangga di New Orleans setelah badai Katrina meluluhlantakkan kota itu (price gouging). Apakah pedagang berhak menentukan harga semaunya, hanya berdasar Hukum Ekonomi semata (penawaran-permintaan)? Bagaimana peran pemerintah? Bagaimana tanggungjawab sosial? Kedua, tentang penghargaan Purple Heart bagi tentara AS yang mengalami cacat fisik di medan perang. Mengapa ‘cacat’ psikis, yang seringkali mengakibatkan trauma perang tidak mendapatkan penghargaan serupa? Apakah cacat psikis bukan pengorbanan atau tidak menunjukan sikap patriotik? Terakhir tentang kucuran dana pemerintah (bailed out) saat krisis finansial 2008. Mengapa para CEO lembaga keuangan AS justru mendapat ‘reward’ berlebihan justru saat mereka tidak mampu mengendalikan runtuhnya finansial AS? Mengapa masyarakat AS justru menanggung beban melalui penggunaan pajak akibat ulah para CEO?

Kasus pertama (price gouging), kelangkaan barang di New Orleans, setelah badai Katrina, membuat pedagang meningkatkan harga barang/jasa semaunya untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Pasar ideal yang Adil mensyaratkan adanya unsur maksimalisasi Kesejahteraan (welfare) bagi para pedagang melalui keuntungan dan Kebebasan (freedom) memilih dalam transaksi bagi konsumen berdasar informasi yang benar serta didasari Nilai luhur (Virtue) dalam bertransaksi. Persoalan Keadilan muncul ketika perdagangan hanya memenuhi unsur maksimalisasi Kesejahteraan pedagang namun tidak didasari Kebebasan konsumen untuk memilih, berhubung bencana alam menyebabkan situasi darurat dan kemiskinan, dan jelas perilaku keserakahan mencederai Nilai keluhuran masyarakat.

Kasus Kedua tentang Penghargaan Purple Heart ini muncul ketika semakin banyak korban perang di Afganistan dan Irak yang menderita mimpi buruk setiap hari, depresi akut, bahkan bunuh diri; sementara penghargaan hanya diberikan pada korban meninggal dan cacat fisik. Keadilan dipertanyakan berdasar Nilai Keluhuran pengorbanan yang dirasakan setara bagi penderita cacat psikis dan cacat fisik. Berbeda dengan medali militer, medali Purple Heart ini diberikan pemerintah AS sebagai penghargaan Pengorbanan, bukan Keberanian, sehingga alasan bahwa cacat psikis diakibatkan oleh ketakutan di medan perang sungguh tidak dapat diterima. Berdasar logika moral teori Keadilan Aristoteles, maka tidak bisa ditentukan siapa yang berhak menerima medali tanpa lebih dulu mempertanyakan Nilai-Nilai Luhur Pengorbanan seperti apa, yang bisa diberi penghargaan (teleologikal).

Kasus Keadilan ketiga adalah tentang Bailout, saat institusi keuangan AS mengalami kebangkrutan di tahun 2008-2009. Para CEO AS membela diri bahwa ini disebabkan oleh faktor eksternal dan mereka telah berbuat semaksimal mungkin dan gagal. Kemarahan masyarakat AS mencuat karena ketidak-adilan dirasakan akibat dana bailout banyak dipergunakan untuk Kesejahteraan para CEO yang dianggap tidak layak menerimanya karena tidak ada Nilai Keluhuran yang diperbuatnya. Masyarakat mempertanyakan, bila ‘faktor eksternal’, bukan kesalahan CEO, dianggap sebagai penyebab keruntuhan, mengapa ‘faktor eksternal’ sebagai penyebab kesuksesan finansial dianggap sebagai kesuksesan para CEO tersebut?

Kritik Utilitarianisme (Bentham)
Pendekatan Utilitarianisme, dengan sifatnya yang mengutamakan sisi kuantitatif daripada kualitatif, tanpa sadar sering kali menjadi praktek penyelesaian masalah sosial di jaman modern sekarang ini, yang berimplikasi terjadinya ketidakadilan moral. Metoda Cost-Benefit analysis untuk menyelesaikan kasus-kasus lingkungan/sosial adalah turunan dari teori pemikiran Utilitarian ini. Salah satu contoh kasus dilema moral dengan pendekatan Utilitarian yang diberikan Sandel adalah The Runway Trolley.

Kisah ini mengandaikan pembaca sebagai pengendara lori yang sedang berjalan turun dengan cepat dengan rem yang tidak bekerja. Di ujung depan rel lurus itu sedang ada lima pekerja yang sedang memperbaiki rel, yang bila tertabrak, pasti akan fatal akibatnya, tewas. Namun, ada kemungkinan membelokkan lori ke cabang rel sebelahnya dengan resiko menabrak satu orang penjaga rel, yang juga berakibat fatal, tewas. Apa yang akan anda lakukan? Hampir semua orang yang melihatnya akan berteriak “banting setir!!”, seolah setuju bahwa menewaskan satu orang lebih baik daripada lima orang.
Dengan mengubah sedikit cerita, rekomendasi akan berbeda. Seandainya pembaca berdiri berdua dengan penjaga rel yang berbadan besar, di rel sebelah dan kali ini lori, yang dikendarai orang lain, tidak dapat dibelokkan namun tetap melaju cepat ke arah lima pekerja. Mengetahui bahwa lori akan menewaskan lima pekerja, dan tubuh anda tidak cukup kuat menahan laju lori, maka anda mendorong penjaga rel yang berbadan besar itu hingga jatuh di atas rel dan menghalangi laju lori, dan menewaskannya. Lima pekerja selamat. Hampir semua pembaca pasti tidak membenarkan keputusan anda untuk mengorbankan penjaga rel.

Mengapa pilihan keputusan pada kasus kedua tidak dibenarkan, sedangkan dua kasus tersebut persis sama, mengorbankan satu orang untuk keselamatan lima orang?

Contoh kasus lainnya, yaitu pembunuhan bersama terhadap satu orang penumpang sekoci dan memakannya, untuk mempertahankan hidup di tengah laut; kasus melemparkan manusia ke tengah gelanggang untuk diadu dengan singa dijaman kekaisaran Roma sebagai hiburan masyarakat; kasus ‘the city of happines’ yaitu mengucilkan seorang anak gadis yang terganggu mentalnya dengan maksud supaya tidak mengganggu masyarakat; diajukan Sandel untuk menguji teori Keadilan Utilitarian, yang dicirikan dengan prinsip utamanya yaitu kebahagiaan tertinggi (to maximize happiness) sekaligus mengurangi penderitaan/ketidak nyamanan, meskipun harus mengorbankan minoritas. Dari sisi Keadilan Utilitarian, tiga kasus di atas (masih ada beberapa contoh lainnya) jelas memenuhi prinsip Utilitarian, yaitu demi memprioritaskan ‘kebahagiaan tertinggi’, namun apakah secara moral bisa diterima?

Komentar para mahasiswa tentang kasus dilema moral ini beragam dan menarik untuk direnungkan. Masih ada beberapa contoh kasus dilema moral diberikan Sandel dalam buku ini, yang juga dapat dilihat langsung selengkapnya di youtube.com.

Kritik Utilitarian menurut Sandel menyangkut dua hal, yaitu:
1. Hak-Hak Individual
2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang (cost and benefit ratio analysis)

1. Hak-Hak Individual
Pendekatan Utilitarian dianggap tidak menghargai Hak individual. Interogasi para tahanan terorisme dengan cara menyiksa untuk mendapatkan informasi rencana pemboman, demi melindungi keselamatan publik, adalah salah satu contoh yang diberikan Sandel tentang pelecehan Hak Individual.

2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang
Cost benefit Analysis adalah bentuk praktek Utilitarian yang yang secara teknis biasa dipergunakan oleh pemerintah atau perusahaan besar untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan persoalan sosial/lingkungan dengan cara memberikan bobot nilai numerik terhadap variabel kulitatif, sehingga memudahkan perhitungan. Contoh: Cost-Benefit analysis yang dilakukan Phillip Morris di Czech memberikan hasil bahwa pemerintah Czech banyak mendapat keuntungan finansial dengan banyaknya perokok muda di negaranya, karena akan banyak warga meninggal pada usia muda sehingga mengurangi biaya asuransi kesehatan, perumahan dan pensiun, selain pendapatan dari pajak rokok tentunya. Sikap Utilitarian ini jelas melecehkan Nilai Luhur kehidupan manusia seperti penderitaan karena penyakit, penderitaan keluarga dan kematian itu sendiri.

Libertarian
Dalam hubungannya dengan Pasar, Libertian sangat tidak mendukung keterlibatan pemerintah untuk turut campur mengaturvnya. Ciri utama Libertarian adalah mendewakan Kebebasan (freedom of choice) dan prinsip-prinsip dasarnya adalah:
1. No Paternalism, menolak campur tangan pemerintah untuk mengatur keselamatan individu dalam beraktifitas, selama tidak mengganggu pihak lain
2. No Morals Legislation, menolak campur tangan pemerintah untuk menilai moral individu dalam menentukan kebijakan
3. No Restribution Income or Wealth, menolak kebijakan pemerintah untuk mengatur ‘subsidi silang’ (mengambil dari yang berlebih untuk yang kekurangan).

Menurut Sandel, kaum Libertarian ini biasa dilekatkan terhadap kelompok konservatif di AS, yang umumnya berada di Partai Republik. Beberapa pendukungnya, adalah Milton Friedman (Capitalism and Freedom), Friederich Hayek (The Constitution of Liberty) dan Robert Nozik (Anarchy, State and Utopia).

Libertarian menolak pajak karena dianggap pemerasan tenaga-kerja atau pelanggaran hak individual untuk mendapatkan kebahagiaan tertinggi dari pendapatannya. Selanjutnya, upah adalah hak pekerja atas hasil jerih-payahnya, bukan hak pemerintah untuk mengambil sebagian melalui pajak, apalagi hak yang tak berpunya. Dengan demikian, bisa dimengerti sikap Partai Republik AS saat ini yang sangat resisten terhadap upaya Obama menaikkan pajak pendapatan. Contoh lain adalah apakah seseorang berhak membeli ginjal orang lain, melalui kekayaan dan kebebasannya, untuk maksud kesenangan belaka? Apakah seseorang bebas menentukan hidup-matinya sendiri (euthanasia)?

Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, moralitas bukanlah mencari kebahagiaan tertinggi (utilitarian), melainkan menghormati kemanusiaan sebagaimana adanya (to respect humanity as an end in itself); dan tindakan disebut bermoral bukanlah karena menghasilkan kebaikan, tetapi karena niat (motif) baik itu sendiri, tanpa ‘pamrih’ atau maksud lain. Penjaga toko membatalkan maksudnya untuk menaikkan harga mainan yang akan dibeli seorang anak, yang tidak mampu menawar, karena khawatir bila ketahuan oleh publik akan membuatnya ditinggalkan pelanggan. Menurut Kant, tindakan penjaga toko tersebut adalah baik namun kurang bermoral karena ada ‘pamrih’ di dalamnya, keuntungan bisnis.

Aristoteles
Menurut Aristoteles, Keadilan adalah memberikan pada yang berhak. Tentang politik ia berpendapat bahwa politik berguna untuk membentuk masyarakat yang baik, serta meninggikan kebenaran.

Kritik Sandel tentang moral untuk Aristoteles adalah pernyataannya bahwa sebagian orang memang dilahirkan sebagai ‘budak’, yang lebih baik dipimpin/dimiliki oleh ‘tuan’nya. Mungkinkah pemikiran Aristoteles belum bisa lepas dari jamannya?

Pada bab terakhir berjudul ‘Justice and The Common Good’, Sandel kembali menegaskan bahwa Maksimalisasi Kesejahteraan dan Kebebasan Memilih, tidak cukup untuk mencapai masyarakat yang ‘baik’ (secara moral, etika dan hukum dapat dibenarkan), melainkan hanya pendekatan Nilai Luhur (cultiviting virtue), maka keadaan tersebut bisa dicapai. Untuk itu perlu ada kesepakatan dan cita-cita bersama tentang masyarakat yang ‘baik’ dan membangun kultur masyarakat yang memberi ruang terhadap adanya perbedaan.

Membaca buku ini hingga selesai dan merefleksikannya terhadap kehidupan kita di negeri ini, akan memunculkan renungan keadilan moral seperti:
– Apakah adil bila pemerintah terus melakukan import beras, bawang merah, daging demi memenuhi kebutuhan Nasional, namun disaat yang sama menjatuhkan harga barang di petani?
– Apakah adil bila pemerintah terus memproduksi kendaraan bermotor demi meningkatkan pendapatan nasional, namun di saat yang sama jalan raya tidak ditambah/diperbaiki?
– Dan lain-lainnya..

Read Full Post »

Meranggas

Lampu kabin Garuda F890 tujuan Beijing dimatikan untuk takeoff dari bandara Soeta pada pukul 21:23. Pilot mengumumkan bahwa akan membutuhkan waktu selama 7 jam untuk sampai di bandara Beijing, China. Tepat 5:30 waktu Beijing, Garuda GA890 mendarat.

Hari ke-1
Bandara Beijing

Di restroom bandara, kami semua mulai mengenakan longjon (pakaian dalam panjang dari kaki hingga leher) dibawah kaos panjang dan jaket tebal, untuk menghadapi udara dingin akhir Desember -5C, sebelum keluar melewati imigrasi dan mengambil bagasi.

Sambil menunggu datangnya bus penjemput, kami sempat sarapan di Kentucky dengan menu burger ikan bersaus manis (rasa bebek goreng Duck King, jakarta). Pukul 7:30 tour bus mengangkut kami ber18 menuju Summer Palace. Jalan serasa masih subuh, matahari belum muncul, berkabut dan sedikit macet. Pohon berbatang kecil, 15-20 cm diameter, tumbuh rapi di sebelah kanan/kiri jalan tol, meranggas daunnya, kecuali pohon pinus yang daunnya mampu bertahan, terlihat hijau. Cerobong tinggi berasap putih beberapa terlihat jauh di sebelah kiri jalan, dilingkungan apartemen, untuk keperluan penghangat ruangan.

Terlihat Ocean Crown di sebelah kanan jalan, seberang Dingchun De Hotel, merupakan kawasan pertokoan mewah yg menjual barang2 branded luar negeri. Tak lama bus melewati Anhui Bridge flyover dan Olympic stadium terlihat di sebelah kanan.

Nissan, Hyndai, Peogeot, Toyota, VW, Jeep, Audi, Honda, Ford, KIA, Buick tampak mendominasi jalanan, lebih banyak daripada mobil produksi China, bahkan sekali-kali terlihat Porsche melintas cepat. Taksi banyak menggunakan produk Korea, Hyundai Elantra, namun sempat juga terlihat taksi bermerk VW.

Danau es Kunming

Summer Palace, tempat tinggal kaisar China terakhir, Puyi berada di seberang Danau Kunming yang membeku jadi hamparan putih salju. Suhu udara terasa sangat dingin, -5C. Sarung tangan kulit hitam terasa tertembus udara dingin dan badan terpaksa terus bergerak mencoba mempertahankan hangat, meskipun pekaian berangkap tiga, topi, tutup telinga sudah melindunginya. Beberapa perempuan berusia lanjut melakukan senam pagi diiringi musik dari tape yang dipasang di pinggir danau.

Topi bulu bertutup telinga, sarungtangan dan tutup telinga adalah barang-barang yang biasa dijajakan di tempat-empat obyek wisata China. Pemandu wisata kami berkali-kali mengingatkan untuk tidak memegang barang dagangan bila memang tidak bermaksud membelinya karena seringkali mereka minta dibayar dengan alasan tamu merusakkan dagangan mereka setelah mencoba memegang dan tidak membelinya. Pemerasan.

Freesky Pearls adalah industri perhiasan mutiara air tawar milik pemerintah China, biasa menjadi obyek wisata yang ditawarkan oleh agen travel. Disini, mereka menunjukkan bagaimana membuka kerang mutiara hasil peternakan sebesar lebih dari telapak tangan orang dewasa dan menunjukkan isinya, 25 butir mutiara kecil, berwarna merah muda. Bubuk mutiara dijualnya sebagai supelman pemutih kulit dan butir mutiara sebagai perhiasan wanita juga dijual dengan berbagai desain bercampur emas dan perak yang menarik.

Industri Sutra

China juga dikenal dengan produksi kain sutra, yang pada awalnya berada di sungai Kunming dan sungai Yangtze. Beijing Dizhen Silk Productions Co. Ltd. adalah industri kain sutra yang sempat kami kunjungi, yang memproduksi kain untuk bahan pakaian dan perlengkapan tempat tidur dengan merek dagang Royal Silk. Satu bedcover ukuran 180×200 cm seharga RMB 5000 dengan bonus satu sarung bedcover, empat sarung bantal dan selimut lipat yang semuanya berbahan sutra. Harga produk sutra didasarkan pada berat total kain sutra, bukan lebar. Satu hal yg menarik adalah satu kepompong bisa menghasilkan 1400 m benang sutra. Kain sutra untuk bedcover, selimut, pakaian ditawarkan dengan motif bermacam-macam.

Hari ke-2

Dalam perjalanan menuju Great Wall, kami sempat mampir ke industri perhiasan batu giok. Perhiasan dan produk seni patung dari yang bernilai puluhan hingga ribuan Yuan tersedia di sini. Perhiasan yang mahal, selain karena kualitas batu Gioknya yang bagus, juga bisa karena nilai emas/perak dan desainnya yang memang mahal. Batu Giok yang bagus, menurut sang penjual, adalah bila bersuara nyaring bila terkena benda padat lainnya. Ini dibuktikan dengan cara meminta kami memilih gelang Giok yang palsu dari empat buah yang tersedia. Semua terlihat mirip, berwarna hijau muda, namun berbeda bunyi saat dibenturkan dengan gelang lain. Dan yang palsu tidak berbunyi nyaring. Banyak sekali wisatawan Indonesia terlihat di tempat ini, selain dari Malaysia dan Rusia.

Great Wall

Pintu Great Wall tempat kami mendaki adalah Juyongguan (40 17′ 33,53″N 116 3′ 54,97″E), yang juga dikenal dengan nama Badaling, berada di sebelah utara Beijing. Great Wall di Juyong ini dulu dimaksudkan untuk melindungi ibu kota China Beijing (dulu disebut Peking) dari serangan kaum nomaden dari utara (wilayah Mongol).

Beberapa bagian Great Wall sudah dibangun pada abad ke-5 SM dan diperbaiki kembali hingga abad ke-6 SM, dan yang terkenal adalah buatan 220-206 SM oleh dinasti pertama China, Qin Shi Huang. Hanya sedikit bagian tersisa. Sebagian besar Great Wall yang tersisa sekarang ini adalah peninggalan dinasti Ming. Total panjang dinding pengaman adalah 8.850 km, terdiri dari 6.250 km dinding batu (Great Wall), 350 km paritan dan 2.250 km adalah pelindung natural seperti bukin dan sungai.

Bagian dinding utara ini, Juyongguan, dibuat dengan bahan batu dan batu bata, berdimensi 7,8 m tinggi dan 5 m lebar. Masih ada enam pintu lainnya dari Great Wall ini.

Hari ke-3

Tiananmen Square

Lapangan Tiananmen adalah obyek wisata yang paling menarik karena nilai sejarah yang sangat saya pahami, dimana memakan ratusan korban mahasiswa (ada yang mengatakan ribuan) akibat tembakan dan serbuan tank Tentara Merah, dan ‘jatuh’nya ex PM Jiang Zemin di jaman Deng Xioping 1989, dimulai dari lokasi ini. Jejak-jejak peristiwa Tiananmen ini masih banyak bisa dilihat di Youtube. Banyak tentara bermantel hijau, lengkap dengan sepatu boot, sarung tangan dan topi bersimbol bintang merah, berjaga-jaga di sekitar lapangan dan paling banyak terlihat di bawah foto Mao Zedong, di pintu gerbang Forbidden City. Musium Nasional dan Gedung DPR yang membatasi Tiananmen juga dijaga oleh Tentara Merah.

Forbidden City

Forbidden City, sebagai istana raja hanya sempat kami lewati hingga Pintu Gerbang ke-3, dilanjutkan dengan menumpang kereta kecil berpenumpang 8 orang mengelilinginya. Mao Zedong memproklamirkan RRC dari atas gerbang Forbidden City untuk menunjukkan kekuasaannya atas kaum feodal para dinasti.

Sore hari, kami mengunjungi Yashow market, yang dikenal sebagai pasar murah bagi para wisatawan yang pandai menawar. Kain sutra, barang-barang ‘branded’, elektronik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik untuk oleh-oleh, semua tersedia di sini. Sementara ibu-ibu beredar dalam gedung besar berlantai 5 ini, para cowok beredar di mall besar sebelahnya yg banyak menjual produk fashion dan sport dari luar negeri, juga Apple computer, tak lupa nongkrong di Starbuck, nyeruput kopi latte sambil tetap tubuh terbungkus rapat karena dingin menggigit tulang. Jam 7 malam para ibu berkumpul di coffee cafe sebelah yashow market dengan koper memenuhi hampir setengah lantai dan siap cabut untuk makan malam dan kembali ke hotel.

Hari ke-4
Jam 6 pagi, kami checkout dari hotel menuju bandara untuk terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda GA-891 yang akan takeoff 09:00. Tidak banyak toko dan hanya satu coffee shop terlihat. Yang tidak biasa terlihat adalah, toko-toko barang merk luar negeri di bandara ini tidak menyediakan tas/kantong pembungkus dari produsennya, tetapi semua toko hanya menyediakan kantong yang sama/seragam berbahan kertas dengan label China.

Lain-lain
Selama tiga hari itu, kami kembali ke Holiday Inn hotel setelah jam 8 malam. Selama musim dingin, hanya heater tersedia di kamar, bukan AC. Hotel bagus, bersih dan tersedia wifi sampai di kamar, lumayan bisa internet dan chatting berblackberry.

Makanan yang disediakan di resto-resto tempat makan siang/malam, yang disediakan oleh pihak Garuda, umumnya mempunyai citarasa yang sama (rasa bebek Duck King). Teri kering yang kami bawa, jauh lebih menambah nafsu makan. 🙂

Tidak satupun buku sempat dibeli dalam jalan-jalan kali ini karena toko buku kecil di komplek pertokoan sekitar Yashow market dan di bandara Beijing, hanya sedikit sekali menjual buku berbahasa Inggris.

Tentara Merah

Polisi sangat jarang terlihat di manapun kami berada kecuali dalam mobil patroli lalu-lintas, sebaliknya tentara berseragam hijau sering terlihat berjaga di depan kantor-kantor pemerintah dan selalu menolak untuk difoto.

Namun secara keseluruhan, saya puas karena telah mengunjungi ibukota negara Tirai Besi, Beijing dan melihat Warisan Dunia Great Wall dan saksi bisu peristiwa Tiananmen.

Mindset bahwa negara Komunis akan menyengsarakan masyarakatnya perlu pelan-pelan dipertanyakan. Hanya satu pengemis tua terlihat selama beredar di Beijing 3 hari.

Read Full Post »