Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2012

Mainan baru yang kuperoleh sejak Feb. 2012 ini memang sering memaksa untuk dibawa jalan, Nikon D90. Kamera yang bagus untuk pemula, begitulah saran dari para pemain lama. Mata sering terpacu untuk lebih jeli melihat sekitar, yang selama ini sering terabaikan, dan melintas begitu saja. Mainan ini mengingatkanku pada alm. Bapak di tahun 70an dengan Kodaknya, yang kalau memotret harus diintip dari atas kamera, bahkan lengkap dengan ruang dan peralatan cuci-cetaknya. Kamera manual dan film hitam-putih. Kami sekeluarga turut sibuk memproses film hingga menjadi foto di atas kertas, dalam ruang gelap berlampu merah, redup. Cukup menarik untuk bisa menuliskan proses cuci-cetak film ini, sayang aku sudah banyak lupa, tapi nanti akan kutulis setelah ingatan kembali terjaga.

Juwana
Dalam rangka ziarah makam orangtua di Juwana, D90 dan lensa kit 18-105 mm turut menjadi bekal. Sirrr … sedikit nyeri di hati melewati rumah kosong yang dua tahun lalu Ibu masih di situ, Bapak lebih dulu menggalkannya, setahun sebelumnya.

Obyek pertama yang aku harapkan adalah suasana ‘tambak udang’ di pinggir kali. Ternyata udang sudah dipanen, kering, penuh alang-alang. Aktifitas menjaring ikan di pinggir kali juga tidak aku dapatkan. Hanya satu momen yang terjebak dalam kamera, tiga anak bersepeda pulang sekolah.

Warung kecil yang menjajakan masakan ikan laut menjadi tempat makan siang bersama kakak dan adik-adikku. Murah, lengkap dan pedas. Mangut ikan Pe, sop kepala Manyung, kepiting, udang, bothok telor kepiting, sambel pete adalah menu yang terhidang, dan es kopyor sebagai penutupnya.. … Nyusss ..

Kapal Nelayan

Obyek foto berikutnya adalah kapal di kali Juwana. Sayang warna langit kurang ramah, berawan gelap, mendung. Sudut pengambilan gambar tidak bagus dan kurang berwarna, hanya biru menguasai warna kapal.

Semarang
Sewaktu kecil, sering aku dibawa bapak/ibu beranjangsana ke saudara di Semarang tapi tak sekalipun terlintas untuk mampir ke Lawang Sewu, gedung perkantoran Kereta Api jaman Belanda, meskipun mondar-mandir keliling Tugu Muda, di depannya.

Kawasan Simpang Lima

Test kamera low-light aku lakukan dari jendela Shantika hotel dengan obyek neon sign ‘Kawasan Simpang Lima’, lalu keluar menuju Lawang Sewu, jalan kaki.

Lawang Sewu

Lawang Sewu (Luar)

Dengan membayar tiket Rp. 10 ribu dan pemandu wisata Rp. 35 ribu, tamu bisa keliling memotret sambil mendapatkan cerita sejarah Lawang Sewu dari pemandu. Malam itu cukup banyak pengunjung, yang seringkali berbisik-bisik tentang cerita mistis gedung ini dari banyak media. Tentang sejarahnya bisa googling dengan penunjuk “Lawang Sewu” atau “wisata semarang”. Dari sisi luar gedung, pencahayaan tertata bagus.

Lawang Sewu (Dalam)

Kombinasi cahaya lampu kuning yang menyorot dinding gedung, taman yang tertata rapi, lorong panjang yang bersih dan terang, dan jendela gothik di bagian atas, juga cahaya dari Tugu Muda di balik gedung, sungguh bagus jadi obyek fotografi. Gedung Percetakan tua yang terawat dengan lampu-lampu kuning terang di dalamnya, dan cahaya kuning lembut di luarnya, juga indah dilihat dari luar melalui jendela-jendela besar yang terbuka.

Lokomotif

Yang juga menarik, lokomotif buatan Jerman yang dipergunakan di jaman Belanda juga dipajang di depan gedung. Memang masih ada gedung yang gelap, pengap, belum tertata. Berbeda dengan suasana malam hari yang terlihat lembut, pada siang hari gedung Lawang Sewu terlihat kokoh, kaku dan kering.

Kota Lama

Gereja Blendhuk

Di daerah Kota Lama, aku hanya sempat memotret Gereja Blendhuk yang terawat baik, bersih dan masih aktif dipergunakan. Ingin rasanya melihat bagian dalam bangunan ini, namun situasi tidak memungkinkan berhubung sedang ada Kebaktian.

Gedung Marba

Gedung tua Marba, yang sepertinya masih aktif dipergunakan, sempat juga aku potret. Ada satu gedung tua di jalan Gereja Blendhuk ini yang sudah tidak dipergunakan, lusuh, tidak terawat.

Masih banyak obyek foto yang perlu dilihat di Kota Lama ini, seperti setasiun Tawang dan beberapa gedung disekitarnya, juga obyek lainnya di kota lunpia ini, Semarang. Sampai jumpa…

Read Full Post »

Judul: That Used To Be Us
Penulis: Thomas L. Friedman, Michael Mandelbaum
Tebal Buku: 380 halaman
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun: 2011

‘If you see something, say something’, adalah judul bab 1 pada Bagian 1 The Diagnosis, yang berisi maksud penulisan dan intisari buku ini. Kedua penulis beranggapan bahwa kondisi Amerika saat ini sedang mengalami penurunan secara perlahan. Berbagai komentar yang menunjukkan bukti kemajuan ekonomi dan ethos kerja Cina serta ketertinggalan AS banyak dikutip dalam bab ini. Ada empat gejala besar penurunan ini:
1. Menggunakan terminologi doktrin strategik ‘dogfight’, OODA (Observe, Orient, Decide, Act), Amerika saat ini sangat lambat menggunakan OODA sehingga mudah kalah dalam ‘dogfight’.
2. Dalam 20 tahun terakhir, AS telah gagal menyelesaikan banyak masalah besar yang semakin memburuk, seperti pendidikan, defisit/hutang, energi dan perubahan iklim.
3. AS kehilangan semangat nilai-nilai kebesaran pendiri bangsanya
4. AS belum bisa memperbaiki kekuatan dan semangatnya karena sistem politiknya yang lemah dan sistem nilainya telah tergerus.

Buku ini menjadi penting dan mendesak karena AS tidak lagi mempunyai cukup waktu dan sumber daya seperti duapuluh tahun yll, ketika budget defisit dan semua masalah besar sangat terkendali. Namun, investasi dalam bidang pendidikan, infrastruktur, RnD, juga keterbukaan pada imigran berpotensi dan perbaikan sistem ekonomi, sangat mendesak untuk ditindaklanjuti.

Berakhirnya Perang Dingin, memaksa AS untuk menghadapi empat tantangan besar yang akan menentukan masa depannya, yaitu:
1. Bagaimana beradaptasi dengan globalisasi
2. Bagaimana mengatur revolusi teknologi informasi
3. Bagaimana mensiasati defisit
4. Bagaimana mensiasati sekaligus antara kebutuhan energi yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim

Setiap tantangan harus dihadapi secara nasional, tidak cukup hanya oleh pemerintah saja, dan kesuksesan menghadapinya akan menentukan besaran dan bentuk pertumbuhan ekonomi.

Bagian 2 The Education Challenge
Bagian ini dibuka dengan bab ‘Up In The Air’, sebuah film tentang profesi pemecatan karyawan, yang dibintangi oleh George Clooney. Pesan dari film ini adalah ‘tidak seorangpun merasa aman’, bahkan sang ahlipun bisa tergantikan oleh teknologi. Konvergensi globalisasi dan teknologi bisa menggilas siapapun.

Merger antara Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi telah merubah banyak hal, dan mampu menciptakan pasar dan realitas politik baru hanya dalam sekejap. Hal ini telah membentuk politik semakin transparan, dunia semakin terhubung (‘The Wold is Flat’, T. Friedman), diktator semakin terancam dan individual atau kelompok semakin berdaya.

Ketidakamanan pekerja AS hanya bisa diatasi dengan kemampuan berinovasi yang didukung oleh pendidikan yang lebih baik. Ekonomi yang sehat tidak hanya disebabkan oleh efisiensi dan produktifitas yang semakin tinggi, namun juga oleh berbagai inovasi. Saat ini AS sangat membutuhkan sebanyak mungkin pencipta dan penyedia jasa yang kreatif. Sebagian menemukan produk-produk baru, lainnya bisa memperbanyak pekerjan-pekerjaan sejenis. Dalam sektor jasa, mampu memberikan layanan jasa rutin dengan sentuhan ekstra personal atau dengan cara yang tidak biasa-biasa saja.

Peran pendidikan dalam era Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi, menjadi posisi sentral dalam pandangan penulis, khususnya peningkatan kemampuan matematika, sains, membaca dan kreatifitas, perlu mendapatkan perhatian utama karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebagai kunci ketahanan nasional. Presiden Obama, “negara kita yang kurang pendidikan saat ini, akan tidak mampu berkompetisi di masa datang”.

Menurut penulis, AS masih belum sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan adalah investasi untuk pertumbuhan nasional dan ketahanan nasional. Selama ini pendidikan masih dianggap sebagai isu lokal, bukan nasional, sementara saat ini sudah tidak penting lagi posisi tingkat kualitas pendidikan antar negara bagian AS, melainkan posisi tertinggi diantara negara-negara lain didunialah yang harus jadi target kualitas pendidikan.

Bagian 3, The War On Math and Physics

Dalam bagian ini, penulis banyak membahas tentang kondisi finansial AS dan pilihan-pilihan teknis ekonomi, antara pemotongan budget tahunan, penundaan/pembatalan berbagai program nasional, atau investasi cerdas untuk masa depan.

Menurutnya, penyebab defisit dan hutang yang tinggi adalah kombinasi antara resistensi Republikan untuk menaikkan pajak, dan resistensi Demokrat untuk memotong belanja negara, juga keterlibatan AS di perang Irak dan Afganistan, ditambah lagi dengan sistem finansialnya yang lemah hingga runtuhnya ekonomi AS pada 2008 yang lalu.

Opini David Stockman, di The New York Times, yang dikutip penulis, menyatakan bahwa Cina adalah ancaman terbesar, karena terus meningkatkan ekspor dan membanjiri AS dengan produk negerinya, juga karena terus memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan cara membeli Surat Berharga AS, yang berakibat menguatnya harga dollar terhadap Yuan, yang diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen AS untuk terus membeli produk Cina. Strategi Cina dalam peningkatan industri ekspor ini tidak hanya untuk kepentingan pemenuhan semakin tingginya pencari kerja di negerinya, namun juga dalam upaya membuat ketergantungan terhadap produk industri Cina.

Masalah serius akan muncul bila Cina menghentikan pinjaman secara tiba-tiba, sehingga AS terpaksa harus memilih untuk melakukan :
1. Meningkatkan bunga kredit untuk menarik modal, yang berakibat turunnya aktifitas ekonomi, atau
2. Mencetak uang untuk menutup defisit, yang bisa berakibat inflasi, atau
3. Melakukan kombinasi kenaikan pajak dan pengurangan belanja.

Pilihan ke-3 sepertinya adalah yang paling optimal, meskipun tetap bukan pilihan yang nyaman. Yang juga merepotkan adalah, disaat AS terus berharap bahwa Cina tidak menyerang Taiwan, karena AS sudah berkomitmen untuk tetap melindungi Taiwan dari serbuan Cina, AS masih meminjam uang yang sangat besar dari Cina. Tersandera.

Bab 4 Political Failure
Tentang politik, pada bab ‘Shock Therapy’, penulis menawarkan penguatan partai ke-3 yang mendukung calon independen. Diharapkan dengan semakin membesarnya konstituen partai independen, yang walaupun sulit untuk menang di AS, setidaknya bisa mendesakkan tambahan agenda perubahan terhadap kedua partai besar, yang cenderung berperilaku seperti ‘supermarket’ yaitu menjual semua kebutuhan konsumen. Lebih tepatnya, partai independen bisa mencoba berperilaku sebagai ‘minoritas berkuasa’ yang mempunyai posisi tawar untuk diperebutkan terhadap kedua partai besar.

Pertanyaan akhir penulis bagi bangsa AS yang menarik adalah, “Apakah ini semua akan happy ending?”. Jawabnya adalah, “Bergantung pada bangsa AS itu sendiri, untuk menentukan apakah ini cerita fiksi atau non-fiksi”.

Bangsa AS menyadari sepenuhnya bahwa sebagai bagian dari ‘happy-ending’ adalah kepedulian bahwa ada sesuatu yang salah urus, yang diperlukan adanya perubahan, dan bangsa AS adalah agen perubahan itu sendiri. AS perlu untuk terus belajar keras, menyimpan lebih banyak, mengurangi belanja, investasi lebih bijak dan kembali pada nilai-nilai yang bisa membangun kejayaan seperti masa lalu.

Read Full Post »