
Kimchi
Perjalanan menarik kali ini berthemakan Air, mulai dari Asia Water Council di Andong, Korea International Water Week di Daegu, Water Treatment di Gyeongju, Water Treatment di Incheon dan sungai Cheonggyecheon di Seoul.
Annyeong haseyo …
16 Okt 2016 Berangkat

Hanbook
Jam 5.30 waktu setempat, lampu cabin menyala, penumpang mulai berlalu lalang ke toilet dan sarapan pagi dihidangkan. Tepat jam 7.00 pesawat mendarat di bandara Incheon. Antrian imigrasi berkelok-kelok panjang, namun tersedia banyak loket dan petugas yang mengaturnya. Cepat dan nyaman.

Solar cell di tempat parkir
Satu jam perjalanan di jalan besar bebas hambatan tak terasa kecepatan sudah mencapai 120 km/jam dan beberapa kali harus diperlambat karena ada perbaikan jalan. Terowongan jalan yang mulus dindingnya, terang cahayanya dan tersedia ruang aman untuk pejalan kaki di kiri-kanannya lebih dari 10 kali kami lewati. Berbeda dengan jalan di Puncak, Bogor yang berliku sejuk indah pemandangannya mengikuti gelombang bentang alam berbukit, Korea sepertinya lebih prioritas pada kecepatan koneksitas antar kota dengan cara membangun jalan besar mulus menembus gunung. Sejauh mata memandang, adalah bukit-bukit hijau yang mulai menguning, bahkan merah menjelang musim dingin. Indah.
Sekitar jam 13.00 kami sampai hotel Richell di kota kecil Andong, bagian tengah selatan Korea Selatan. Hotel bagus namun sepi di pinggiran kota yang lengang dengan jalan yang lebar rapi tertata dan pepohonan rindang terjaga. Nyaman. Oktober adalah saat yang tepat untuk dapat bepergian ke Korea karena suhu yang mulai sejuk namun masih ok untuk jalan di ruang terbuka dengan jakat tipis saja dan

Dari Lt. 5 Hotel Richell
pepohonan yang mulai menguning daunnya, indah.

K-Water, Andong
Sore hingga magrib hari itu dihabiskan untuk keperluan Asian Water Council (AWC) di kantor K-Water, diskusi terbatas tentang pelaporan program penelitian awal penyediaan air bersih di Bali, yang akan dipresentasikan keesokan harinya dalam forum resmi pengangkatan presiden baru dan diskusi seluruh anggota Asian Water Council.
Makan malam ditraktir pengusaha Korea, chairman dari Seoul di resto masakan Korea, Yahh … Daging sapi Bulgagi, bakar di meja berlebih dan nasi … menjadi menu utama malam itu, termasuk asesori lainnya. Seperti lazimnya resto Korea, duduk lesehan bersila dengan lebih dulu menggantungkan jas di samping pintu kamar makan privat kami. Chairman bisa sedikit bahasa Inggris, sehingga perlu ditemani penerjemahnya. Begitu semangat Chairman membakar daging potong itu untuk kami berdua, dengan om Firdaus Ali. Full … kenyang … Makan dan ngobrol selesai malam itu, akrab penuh canda. Kembali ke hotel, lelap …
Hahoe Village (abad 15) menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2010, bersamaan dengan Yangdong Village di Gyeungju, yang keduanya warisan jaman dinasti Joseon, dapat dicapai dalam waktu 45 menit dari kota Andong. Jalan sempit (kelas II di negeri kita) halus berkelok, berundulasi dengan pepohonan rindang yang mulai menguning tanda musim gugur segera tiba, indah sekali.
Lingjungan Kampung Haoe ini berisikan sawah, sungai, hutan dan banyak bangunan yang umumnya beratapkan kayu dan beberapa rumah beratapkan jerami.
Penutupan 3rd AWC
Makan malam sekaligus acara penutupan AWC diadakan di hotel Ritchell. Buffet style dengan menu berbagai jenis madakan seafood terhidang berlebih. Musik gesek akustik yang dimainkan pars perempuan cantik mengiringi majan malam. Selesai acara jam 8 malam langsung masuk Carnival menuju Daegu. Jam 12 malam masuk kamar hotel … setelah drop om Firdaus di hotel …
Setelah sarapan roti bakar, telor setengah matang dan salmon plus teh hangat dan jus jeruk di hotel Interburgo Exco, pagi itu langsung turun hotel dan menyeberang jalan untuk masuk di gedung Exco Exhibition, tempat acara Korea International Water Week 2016. Gedung buesarr bertingkat … untuk keperluan pameran industri, ruang diskusi, theater .. lengkap dengan cafe dan resto. Sayangnya, pameran industri tingkat internasional yang semestinya berharap mendapatkan perhatian atau buyer-buyer asing, banyak hanya menyediakan keterangan tertulis atau verbal dari penjaga pameran yang hanya berbahasa Korea. Terus piye jal …
Acara resmi pembukaan KIWW dilakukan di ruang theater, semacam cinema 21 lah, dengan panggung luas di depan. Kursi baris depan diisi oleh para menteri Korea, wakil badan dunia, para menteri serta dubes negara peserta, dari Asia hingga Afrika. Sangat representatif untuk membicarakan tentang Air dan berbagai permasalahannya di berbagai belahan dunia. Dua jam dipergunakan untuk pidato dari tuan rumah dan berbagai perwakilan negara peserta termasuk tayangan singkat video dan slide tentang Air diselingi sedikit hiburan. Kemasan presentasi yang singkat dan menarik untuk dilanjutkan diskusi thematik di beberapa ruang terpisah keesokan harinya.Sesi thematik dalam KIWW ini akan membuat berbagai usulan kebijakan tata air dan solusi teknis terhadap berbagai tantangan persoalan air yang dihadapi berbagai negara di belahan dunia. Sepuluh thema utama yang dibahas masing-masing dalam format diskusi meja bundar adalah:
- Sustainable Development Goals: Implementation and monitoring of the SDGs
- Capacity Building: On-Iine & on-site convergence capacity building for global water issues
- Water Cooperation
- Water-Energy-Food nexus for water security and SDGs Achievement in Asia
- Examining the links between Integrated Water Resources Management and Smart Water Management
- Healthy urban where people and water ecosystem live together
- Climate change and water management
- Water information beyond data and knowledge: Asia Dynamic Hub for Water The power of lnformation
- Water projects: opportunities, challengesand synergies for implementing the SDGs
- Policy and strategies for sustainable water management: To share and discuss practical ways to realize better water governance and policy
Yang terpenting dalam event KIWW kali adalah meliputi thema KIWW 2016 yaitu “Water Partnership for Sustainable Development“, yang sama juga dengan thema utama dalam The 8th World Water Forum “Sharing Water and Sustainability“.
Adalah DR. Firdaus Ali, Pendiri Indonesia Water Institute, Staf Khusus Menpupera dan dosen Teknik Lingkungan UI yang selalu dijadikan narasumber di berbagai thema diskusi selama 3 hari tersebut bersama beberapa wakil dari badan-badan dunia. Hebat beliau ini, sudah mendunia ternyata bahkan bila ada kementerian Sumberdaya Air di negeri kita ini, sudah selayaknya beliau menjabatnya. Rencana Deep Tunnel sebagai saluran air dan transportasi darat, Waduk Pluit, Giant Sea Wall di Teluk Jakarta, adalah sebagian proyek-proyek raksasa yang beliau turut terlibat membidaninya.
Sesi diskusi thematik masih berlangsung di beberapa ruangan, kebutuhan air bersih Jakarta menjadi salah satu topik bahasan yang dikemukakan oleh DR. Firdaus Ali. Tinggi dan pertumbuhan populasi Jakarta serta kualitas dan ketersediaan air bersihnya, membuat terbelalak mata peserta, apalagi presentasi bung Firdaus yang lengkap dengan analisis data dan peta yang valid semakin membuatnya duduk
tegak fokus menyimak. Pemerintah propinsi Jakarta perlu serius menyikapinya.
sangat terang dan diiringi musik tradisional, terasa indah bersahaja penuh wibawa. Sebuah kemasan yang cerdas mempesona.
Indonesia – Korea
Sebelum menuju lokasi Water Treatment, kami disambut secara resmi di kantor walikota. Sangat mengagetkan karena kunjungan kami tidak dimaksudkan sebagai G2G, melainkan bisnis biasa. Duduk di sekeliling meja bundar, Walikota memberi sambutan resmi melalui penerjemah dengan penata acara berdiri di podium. Lengkap dengan dua bendera kecil di atas meja, Korea dan Indonesia. Wah … bercelana jean dengan polo shirt, malu euy …. cindera-mata pun diberikan walikota ke bung Firdaus setelah masing-masing memberi sambutan. Sepertinya Gyeongju memang sedang bersemangat memasarkan teknologi water treatmentnya ke berbagai negara lain.

Dgn Pengusaha Indonesia
Ada dua lokasi water treatment Gyeongju yang kami kunjungi, bisa dicapai melalu jalan darat dalam 15 menit melalui jalan halus berkelok-kelok. Pemandangan indah, dedaunan hijau dengan sebagian mulai menguning bahkan merah pertanda mulai masuk musim gugur. Area water treatment sedang saja luasnya. Di area terbuka, tempat pengolahan air berteknologi lama sebagai tempat masuknya air kotor dari sungai. Keluaran dari proses tersebut dilanjutkan dengan proses selanjutnya dalam bangunan besar penuh dengan berbagai peralatan mekanis dan elektris yang masuk semuanya dalam jaringan komputerisasi sehingga bisa dimonitor melalui jaringan nirkabel dari luar lokasi. Air minum kemasan dalam botol banyak diproduksi dari proses pengolahan di sini.
Di kota kecil Gyeongju (kota kabupaten) terdapat 9 tempat pengolahan air. Yang menarik juga adalah adanya waduk kecil di Gyeongju sebagai cadangan air bersih, yang tidak diijinkan digunakan sebagai area pemancingan ikan. Komitmen masyarakat terhadap kepentingan bersama terhadap keberadaan air bersih ini sungguh mengagumkan, sehingga air waduk sebagai masukan untuk pengolahan air bisa tetap terlihat jernih dan mengurangi kerja berat proses pengolahan.
Stasiun Singyeongju, Gyeongju
Selesai kunjungan Pengolahan Air, menuju stasiun kereta Singyeongju, untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul menggunakan kereta cepat KTX. Makan siang di resto setasiun, menu bibimbap yang semua disajikan dalam mangkok kuningan. Air layak minum tetap dimasukkan dulu ke dalam water purifier. Menurut mereka, air minum yang bersih membuat kulit bagus. Kereta datang tepat waktu, kali ini gerbong bagus dengan 2 kursi di sebelah kiri dan 1 kursi di kanan. Lega. Terlihat di monitor, kecepatan kereta 276 km/jam. Kurang-lebih 2 jam, kereta memasuki setasiun Seoul. Ramai padat penumpang.
Kunjungan berikutnya ke Pusat Pengolahan Air di Incheon (PDAMnya Incheon) yang menempati area yang luas dan hijau. Bangunan tempat wireless control dan monitoring yang sangat luas dan nyaman, juga bangunan bertingkat untuk laboratorium air yang mampu menganalisis banyak parameter. Laboratorium ini juga biasa menerima pelajar atau karyawan dari berbagai negara lain untuk belajar Analisa Air dengan teknologi canggih. Pada kesempatan ini, staff khusus Kemen Pupera juga sempat bernegosiasi dengan pimpinan laboratorium untuk bisa mendapatkan kesempatan mengirimkan karyawan Pupera belajar ke lab tsb.
Kolam Baru
Di lapangan, ķami ditunjukkan kolam-kolam besar tempat pengolahan air fase awal berteknologi tinggi, sementara di sebelahnya adalah kolam besar berteknologi lama (masih dipergunakan di Jakarta), yang sudah tidak dipergunakan lagi.
Masih berkaitan dengan air, kami mengunjungi sungai Cheonggyecheon yang jernih terawat dengan lingkungan yang dibangun bersih hijau, telah menjadi area bersantai penduduk Seoul, lengkap dengan pameran seni dan kios-kios cenderamata dan makanan kecil di pinggirnya.Kamsahamnida

Dalam kasus “Penistaan Agama oleh Ahok”, kompromi antara demonstran dengan Wapres JK sore 4 November 2016 di istana, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden pada jam 12 malam harinya, adalah memerintahkan Kapolri untuk mempercepat Proses Hukum Ahok secara terbuka, supaya bisa disaksikan masyarakat, dengan harapan kecurigaan terhadap kemungkinan terjadinya ‘permainan‘ peradilan dapat dihindarkan. Ternyata tak semua pihak bisa menilai atau lebih tepatnya bersedia menilai upaya presiden ini sebagai sebuah niat baik. Reaksi sebagian dari pihak penuntut justru menganggap Presiden melakukan intervensi proses hukum, yang dengan alasan tersebut maka Presiden bisa dituntut bahkan dimakjulkan. Hemmm … garuk-garuk tangan … kira-kira apa komentar mereka bila proses hukum dilakukan tertutup?