Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2019

20191012_212555

Dua kali sudah nonton film Joker, meskipun bukan penggemar film Batman, bahkan cenderung gak suka karena selalu gelap dan muram settingnya. Kali pertama nonton Joker hanya sambil lalu saja, suka, namun banyak terlewat detilnya. Dikesempatan kedua, perhatian serius tumpah di setiap detail aksi dan kata si Joker. Luar biasa pesan yang disampaikan film ini ..

Tak semangat pada awalnya, lalu sedikit kening berkernyit ketika sang aktor mulai tertawa depan kaca, sekaligus menangis hingga lukisan wajah sedikit luntur menetes. Sangat teatrikal, acting yang luar biasa dari Joaquin Phoenix. Jadi teringat Robert Deniro di film Taxi  (1976) ketika acting berlaga di depan cermin sambil memegang pistol … Adegan berlaga ini  diulang lagi pada saat Joker menjelang tampil di acara  tvshow Murray Franklin, yang beraksi seolah  di atas panggung dan memberi salam ke Murray dan penonton ..  Indah …

Film dibuka dengan suara televisi yang memberitakan kotornya kota, dengan sampah menumpuk dimana – mana, tak terurus, yang memberi pesan penting betapa amburadulnya penguasa mengurus  rakyatnya. Wajah  muram masyarakat direpresentasikan oleh kehidupan Joker yang tinggal berdua di apartemen sederhana bersama ibunya yang sudah tidak mampu lagi beraktifitas. Joker mengais rejeki dengan berprofesi sebagai badut  jalanan untuk kepentingan periklanan dan penghiburan di rumahsakit anak-anak. Dia juga mesti konsultasi rutin ke jasa pelayanan konsultasi psikologi dari Dept. Sosial dan Kesehatan karena perilakunya yang dianggap aneh. Himpitan finansial, penghinaan dan tekanan sosial yang kuat dan menerus, dirasakan berujung pada hilangnya eksistensi diri, hingga menjadi pemantik ledakan mental yang berujud kebuasan, namun sepertinya dirasakan sebagai ‘kepuasan’. Absurd.

Kerumitan karakter Joker memicu  keingintahuan tentang fenomena kejiwaan yang dialaminya. Pengamat psikologi, H. Eric Bender, M.D., menganggap Joker mengalami kelainan mental (mental disorder), yang dikategorikan sebagai psikopat, yaitu karakter dan perilaku yang sebab dasarnya lebih banyak dibentuk oleh hilangnya empati. Sementara psikolog lainnya berpendapat bahwa Joker berkarakter  psikotik, dengan simtom mengalami halunisasi seperti mendengar suara, halunisasi visual atau delusi pemikiran.

Konflik dalam film ini bukan lagi persoalan personal namun sudah menjadi fenomena sosial dimana Joker sebagai  representasi masyarakat kelas bawah, yang menurutnya “tidak eksis dan tak pernah bahagia selama hidupnya”, bahkan ditinggal tak terurus oleh penguasa; versus masyarakat kelas atas, kaya, berkuasa yang direpresentasikan oleh Murray Franklin (host tvshow) dan Thomas Wayne (ayah, pengusaha dan kandidat walikota Gotham City).


Tingginya pengangguran, kumuhnya kota dan ketidak-pedulian penguasa yang ditunjukkan dengan pemotongan budget Departemen Sosial dan Kesehatan yang dibutuhkan untuk mengurus rakyatnya, telah menyebabkan frustrasi sosial yang semakin tinggi, hingga kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah semakin rendah, dan bisa diduga akan berujung pada kecemburuan sosial. Anarki pada puncaknya ..

Bagaimana ujung kekusutan masalah sosial ini? Silahkan menikmatinya dalam gedung pertunjukan yang masih memutar filmnya..


Bagi yang mencari hiburan ringan, rasanya Joker bukan film tepat untuk ditonton,  namun bila ingin tahu potret sosial  dunia saat ini, Joker mampu  menjelaskannya. Sudah dua kali nonton, namun masih kurang  rasanya 😉

Kaitan lainnya:

Read Full Post »

Krisis Identitas

IMG-20191001-WA0040
Mhsw sebagai masyarakat terdidik yang diharapkan akan memimpin bangsa ini pada waktunya nanti, mestinya punya keluhuran moral dan akal-budi sebagai alat kontrol utama dalam setiap aksinya yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas, termasuk dalam melakukan unjuk rasa.
Mengamati aksi-aksi mhsw beberapa hari ini, terlihat jelas bahwa mhsw peserta unjuk-rasa tidak menggunakan kerendahan hati dan keluhuran akal-budi dalam usaha mencapai tujuan aksi, tetapi justru lebih mengutamakan tampilnya eksistensi diri, yang seakan sudah menjadi tujuan aksi. (Lihat gambar di atas). Gestur para pimpinan BEM yang tidak menguasai materi tuntutan aksi, ketika dialog dengan Menhumkam di ILC, dan sikapnya yang JUMAWA dengan memberikan syarat beberapa hal supaya terjadi pertemuan dengan  Presiden, menunjukkan hal tersebut masih di tataran eksistensi diri (arogansi) yang jauh dari kepentingan masyarakat luas. Tinggi hati, rendah akal-budi.
Sejak akhir 80an, demo mhsw selalu perhatian ttg kemurnian tujuan sesuai karakter Gerakan Moral yang disandangnya, sehingga di tataran operasi perlu membatasi peserta dari kemungkinan masuknya para penumpang gelap. Anehnya, demo mhsw seminggu ini terkesan justru mengundang penumpang gelap Tanpa Bentuk alias para perusuh/kriminal, yang sejatinya mereka tidak memahami tujuan aksi atau memang hanya pengacau keamanan semata, dibuktikan dengan banyaknya foto/video beredar yang menunjukkan mereka hanya tenaga bayaran yang masih berusia SMU/STM. Kebetulan atau salah berteman?
Melihat banyaknya korban cedera bahkan hilangnya nyawa serta kerugian negara karena banyaknya kerusakan fasum/fasos yang disengaja dan menyimpang dari tujuan aksi, sudah seharusnya BEM sebagai elemen elit berpendidikan tinggi (yang disubsidi dari pajak) yang menginisiasi unjuk-rasa ini, perlu mengembalikan marwah dirinya sebagai Agent of Changes melalui Gerakan Moral yang berintegritas dan berbasis pengetahuan, dengan cara MEMOHON MAAF secara terbuka kepada bangsa Indonesia atas besarnya akibat buruk yg disebabkannya.
Kesalahan yang tidak disengaja itu biasa, namun bagaimana memperbaikinya, disitulah nilai kehormatan Anda.

Read Full Post »