Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2019

Screenshot_20191125-000628Sore itu, 23 Nov. 2019 tanpa sengaja dan sedikit telat, film Free Solo tayang lagi di Nat Geo channel. Film dokumenter tentang Alex Honnold (33 tahun) yang memanjat dinding tebing El Capitan, Taman Nasional Yosemite, AS tanpa bantuan tali pengaman (Free Climbing), 3 Juni 2017. Ini film yg memang sudah diiklankan lama di NatGeo dan juga sudah aku tunggu lama.
Film sejenis yang aku nikmati setelah film ini adalah The Dawn Wall. Berbeda dengan Free Solo, film The Dawn Wall, yang bisa dinikmati di Netflix, tentang dokumentasi panjat tebing El Capitan yang dilakukan oleh Tommy Caldwell, ditemani oleh Kevin Jorgeson, dengan bantuan tali pengaman pada 14 Januari 2015. Panjat tebing ini dilakukan selams 19 hari, dan selama pendakian mereka tinggal dalam tenda yang digantung pada dinding tebing di ketinggian kira-kira 1.500 feet.
Screenshot_20191125-230156Selanjutnya lebih menarik untuk cerita tentang Free Solo berhubung tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan menegangkan karena tanpa menggunakan tali pengaman. Walaupun The Dawn Wall juga layak dinikmati.
Sangat mengagumkan melihat Honnold memanjat dinding granit yang terlihat menjulang tegak-lurus setinggi 3.000 feet. Seringkali terlihat hanya ujung jari masuk rekahan atau tonjolan batu dan ujung sepatu yang tak sepenuhnya menginjak dinding atau hanya mengandalkan kasarnya permukaan batu granit. Mendebarkan .. bahkan kameramen seringkali tampak memalingkan muka dari layar kamera Canon di atas tripod yang fokus merekam gerak sang maestro, Honnold. Mengerikan, karena tanpa bantuan tali pengaman dengan tingkat kesulitan pendakian yang sangat tinggi dapat berakibat fatal.
Screenshot_20191125-221818Sedikit bisa melepas napas melihatnya ketika sebagian tubuh Honnold bisa masuk di rekahan batu (crack)  memanjang keatas namun terlihat menguras tenaga karena tak ada pijakan kaki dan jari tangan yang kokoh untuk mendorongnya keatas, hanya pelukan yang kuat pada sudut rekahan dan mendorong tubuhnya keatas prelahan seolah memanjat pohon saja layaknya. Berkali-kali ujung jari tangan menjadi tumpuan untuk mengangkatnya terus ke atas, sementara kaki berperan sebagai penyeimbang saja dan dasar tebing terlihat gelap ratusan meter jauh di bawahnya. Menegangkan.
Tak terlihat panik ketika menghadapi bolder, batuan besar yang menonjol keluar tebing, atau dinding terbuka rata tanpa pijakan seolah jalan buntu sehingga sulit untuk melewatinya, Honnold dengan sabar dan hati-hati terus bergerak kesamping atau lakukan gerakan ‘karate kick’, yaitu posisi kaki yang membentang lebar, bahkan kadang harus turun beberapa langkah dan kemudian menarik tubuhnya keatas lagi hingga mampu Screenshot_20191125-212900melewatinya. Luar biasa hebat kemampuan fisik, nyali dan kejelian memilih titik-titik aman untuk pijakan kaki dan jari-jari tangannya. Tak ada ruang untuk kesalahan.
Empat jam, dimulai dari jam 5 pagi, pemanjatan dinding tebing granit tanpa pengaman yang menegangkan itu akhirnya sukses sampai di puncak. Luar biasa.
Dalam film ini juga disajikan kisah cinta Honnold dengan perempuan pemanjat tebing, Sanni McCandless, yang kelak menjadi istrinya, tentang mobil yang menjadi tempat tinggal mereka berdua ketika persiapan pemanjatan, dan juga sedikit kisah masa kecilnya ketika belajar panjat tebing. Film produksi 2018 ini mendapat beberapa penghargaan, seperti Piala Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik 2019, dan Emmy Award untuk Sutradara Terbaik Film Dokumenter.
Tautan Berita:
  1. ‘It’s sort of the extreme’: Free Solo’s Alex Honnold on rock-climbing without ropes
  2. Climbing duo on Dawn Wall success and the power of pep talks

Tautan Video:

  1. How I climbed a 3,000-foot vertical cliff — without ropes | Alex Honnold
  2. How They Filmed the First El Capitan Climb With No Ropes in “Free Solo” | Vanity Fair
  3. What if He Falls? The Terrifying Reality Behind Filming “Free Solo” | Op-Docs
  4. The Dawn Wall (2018) | Official Trailer HD
  5. Behind The Scenes Of The Dawn Wall Film

Read Full Post »

20191117_182129Baru saja selesai nonton The Last Czars, film serial drama-sejarah produksi Netflix, Juli 2019, tentang kisah tumbangnya Tsar Nicholas II, dinasti Romanov yang sudah berlangsung 300 tahunan ditangan Bolshevik pimpinan Lenin 1918.

Film sejarah Rusia yang sangat layak tonton setelah film Stalin (Robert Duvall, produksi HBO, 1992), yang saya nikmati beberapa kali di HBO. Detail cerita The Last Czars sangat mungkin penuh adegan asesoris penyedap rasa, bahkan cenderung ‘lebay’ atau berlebihan, namun dari ‘gambar besar’nya film berdurasi 6 episode ini bisa menjelaskan sejarah runtuhnya kekaisaran Romanov, yang tak banyak literatur bisa dibaca, khususnya yang berbahasa Indonesia. Setidaknya, bisa memancing tanya untuk mencari tau lebih banyak tentangnya. Gambar, kostum, acting enak dilihat, menghibur.
Selain Tsar Nicholas II dari dinasti Romanov, Rasputin, spiritual mistis asal Siberia, adalah aktor yang sangat penting andilnya dalam mempercepat keruntuhan dinasti Romanov. Tokoh spiritual yang beraliran Sex Bebas ini menjadi tempat bergantungnya keluarga istana untuk menjaga kesehatan putera raja, Alexei yang menderita haemophilia. Persekongkolan Rasputin dan Alexandra, istri Nicholas, dalam manajemen otokrasi atas nama Tsar, yang tidak berada di istana untuk memimpin perang melawan Jepang dalam Perang Dunia I, menyebabkan kekacauan pemerintahan yang sedang menghadapi kerusuhan massal karena kelaparan.
20191117_182339Berselancar di Netflix, setelah selesai menikmati The Last Czars, akhirnya tersesat di film Trotsky. Film serial drama sejarah 8 episode biografi Rusia tentang Leon Trotsky, tokoh yang pasti familiar bagi aktivis mahasiswa, seperti halnya para tokoh ‘kiri’ lainnya, disutradarai oleh Alexander Kott dan Konstantin Statsky, yang tayang pertama kali di Channel One, Rusia pada 6 November 2017 untuk peringatan 100 tahun Revolusi Rusia.
Di film Trotsky ini, berbahasa Rusia dengan subtitle bahasa Inggris, sangat menonjol upaya penggambaran Trotsky sebagai tokoh sentral yang cerdas, pemikir, ideologis, sekaligus penggerak massa atau leader demonstrasi bahkan perencana strategis maupun taktis dalam perang melawan Jerman di beberapa area. Namun juga terlihat sisi gelap kekejamannya dengan menghalalkan pembunuhan bagi yang menentangnya dengan alasan menyelamatkan Revolusi. Dengan alasan ideologis ‘tak ada milik pribadi’, Trotsky juga melakukan sex bebas dan bahkan merelakan sang istri berhubungan gelap dengan orang lain. Hal inipun masih dilakukannya ketika berada di Mexico, negara terakhir tempat Tritsky berdomisili hingga akhir hayatnya yang tragis.
imagePerselisihan Lenin-Trotsky-Stalin ditampilkan juga dalam film ini, walaupun seringkali ide-ide Trotsky banyak didukung oleh mereka berdua, termasuk ide menghukum mati bagi mereka yang dianggap membahayakan Revolusi. Persaingan terjadi antara Lenin-Trotsky terlihat tajam bahkan hingga penentuan waktu aksi massa tak sepakat antara keduanya. Dan Trotsky melakukan 2 hari lebih cepat dari ketentuan Lenin. Akhirnya Trotsky mendukung Lenin sebagai pemimpin Partai Komunis karena menyadari kelemahannya bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, yang sangat kecil untuk mendapat dukungan masyarakat. Digambarkan bahwa kemenangan Stalin atas Trotsky adalah posisi Stalin berada di Moscow yang tentunya berdekatan dengan Lenin yang saat itu sedang sakit, sedangkan Trotsky lebih sering berada di front depan medan perang atau di luar negeri hingga kedekatan dan popularitas Stalin lebih bisa dirasakan kaum bolshevik dan angkatan perangnya. Trotsky tidak popular dan dirasa kejam terhadap angkatan perang. Kelemahan fatal.
Tiga film yang sangat membantu menjelaskan sejarah Rusia. Tentu, pikiran kritis diperlukan untuk memahami kebenaran sepihak dari film-film tersebut.
Tautan:
  1. Tentang Kehancuran Monarki hingga Kegilaan Rasputin
  2. ‘Trotsky’ is an Icepick to the Heart of Soviet History

Read Full Post »