Karya Remy Sylado
Hilang sudah ingatan puluhan tahun dongeng selintas dari Bapakku saat itu, tentang adanya mata-mata perempuan indo Belanda bernama Matahari. Tak disangka, muncul tertata rapi di rak toko buku, novel berwarna merah bersketsa wajah perempuan dengan judul “Namaku Mata Hari”, karya Remy Sylado. Tertulis di sampul belakang “… Mata Hari bergerak di antara tari, cinta, kekuasaan dan intrik politik”. Betul, inilah kiranya buku yang kucari selama ini.
Cetakan kedua dari penerbit buku Gramedia Pustaka Utama, tahun 2026. Novel sejarah setebal 560 halaman ini disajikan Remy Sylado dalam format yang menarik dan tidak membosankan. Ada 124 Bab kecil bernomor urut, yang masing-masing disajikan dalam 4-5 halaman dan diakhiri dengan gambar Mata Hari pada setiap Babnya. Teknik penulisan yang membuat pembaca merasa nyaman untuk mengambal jeda di batas Bab, tanpa merasa memenggal cerita. Tak melelahkan dan terus berharap melewati bab-bab berikutnya. Kesinambungan kisah yang terjaga bagus dan nyaman hingga akhir cerita.
Tentang Mata Hari
Novel ini disajikan layaknya sebuah otobiografi, dengan dirinya sendiri sebagai pencerita. Seorang perempuan Indo-Belanda Margaretha Geertruida Zelle, kelahiran 7 Agustus 1876 di Leeuwarden, Belanda. Ibunya yang penurut, Antje van der Meulen, biasa memanggilnya Rietje. Meninggal ketika Mata Hari berusia 14 tahun. Dan bapaknya, Adam Zelle, pengusaha topi yang berperangai kasar.
Setidaknya ada tiga hal besar yang mewarnai sejarah hidup Mata Hari. Diawali sebagai gadis remaja biasa yang berharap menjadi seorang ibu yang bisa mencintai keluarga dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta. Keinginan yang wajar. Bukan Good Girl syndrome.
Pemikiran kritis dan perilaku liberal pun mulai berkembang pada perempuan muda ini, hingga akhirnya menikah di tahun 1895, pada usia 19 tahun, dengan opsir Belanda berkebangsaan Inggris, John Rudolph MacLeod. Dua anak dilahirkannya.
Masa perkawinan menjadi ujian hidup baginya. KDRT dan perbedaan pendapat yang dipicu sikap rasis dan feodalisme suami mulai meruncing. Masalah domestik membangkitkan kesadaran asasinya sebagai perempuan merdeka. Budaya “menurut” tak lagi cukup. Keputusasaan mengungkit keberanian. Dendam.
Proses penyadaran semakin intens dengan laku penelusuran jati-diri di Magelang, Indonesia, melalui pembelajaran tari tradisional Jawa. Kenyamanan, pengalaman spiritual dan keahlian diri dalam olah tari ditemukannya dengan percaya diri. Profesi sebagai penari pun menjadi pilihan hidupnya. Dan perceraian tak lagi dapat dicegah.
Fase ketiga hidupnya dilaluinya dengan berkelana dari Batavia hingga ke berbagai negeri Eropa, berbekal tari dan keelokan ragawi. Pejabat tinggi dari berbagai negeri pun menjadi relasi. Memahami bahwa popularitas sebagai artis tari bisa menjadi alat produksi kekayaan, terperangkaplah Mata Hari dalam dunia yang tak sepenuhnya disadari risikonya. Spionase dalam Perang Dunia I, sebagai Agen Ganda Perancis-Jerman.
Tentang Buku
Ini bukan sejarah, tapi biasa pembaca menyebutnya sebagai novel semi-dokumenter. Cerita fiksi berbasis alur sejarah. Tafsir cerita ada pada penulisnya. Untuk memastikan kebenaran cerita, pembaca perlu mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya. Ada beberapa novel sejenis yang tayang dalam blog ini, seperti “Pangeran dari Timur” karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi serta “Pulang” karya Laila S, Chudori.
Buku ini rasanya juga bukan dimaksudkan penulisnya sebagai novel spionase. Tapi lebih pada perjuangan seorang seniman tari yang terjajah hidupnya, munculnya pikiran kritis, perlawanan terhadap budaya feodal, penggalian kekuatan diri serta risiko mengejar ambisi kuasa dan materi. Kegiatan spionase sendiri mulai muncul di sepertiga akhir buku.
Sangat bagus buku karya Remy Sylado ini untuk mengenal kisah tenar agen ganda Mata Hari di era Perang Dunia I, dalam meningkatkan daya tahan terhadap penjajahan rasis, memunculkan perlawanan dan memantik keberanian melawan risiko perjuangan. Selamat membaca.



Tinggalkan komentar