Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Membendung Arus

Judul: Membendung Arus
Penulis: Alwi Shihab
Halaman: 304
Penerbit: Mizan
Tahun: 1998

Buku ini sebetulnya adalah disertasi Alwi Shihab untuk meraih gelar doktornya di Universitas Temple, AS, 1995, yang membahas tentang Muhammadiyah. Sistematika penyajian sangat nyaman dibaca, runtut berdasar waktu dan lengkap informasi menyangkut kondisi politik, sosial kultural dan keagamaan pada jaman sebelum hingga sesudah berdirinya Muhamadiyah. Ratusan keterangan kepustakaan setiap bab sangat membantu pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai topik yang disajikan.

Achmad Dahlan muda
Lahir pada tahun 1868 di kampung yang berpenduduk sangat religius, Kauman, seputar wilayah keraton Yogya, dari keluarga Muslim tradisional sebagai putra ke-4 dengan nama Muhammad Darwisy. Ayahnya bernama Kyai Haji Abubakar bin Haji Sulaiman, khatib resmi masjid Agung Kesultanan Yogyakarta dan ibunya adalah putri hakim agama, Kyai Haji Ibrahim. Beberapa penullis menyebutnya keturunan Wali Songo, Maulana Malik Ibrahim.

Dahlan muda bergabung dengan Jamiat Kheir, sebuah gerakan pembaruan dengan atmosfir intelektual yang berkembang.. Berangkat ke Mekah, 1890, pada usia 22 tahun untuk belajar agama sebagai mnurid Syaikh Ahmad Khatib (1855-1916).

Dua pikiran yang membekas pada Dahlan, setelah pulang dari Mekkah, adalah ketika melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya benar, namun tidak berkenan di hati para ulama senior, yaitu: melakukan koreksi arah kiblat masjid Agung dan mengganti hari raya Idull Fitri menurut perhitungan astronomi. Hikmah dari insiden ini untuk Dahlan adalah bahwa suatu upaya akan berhasil dalam mengemukakan pendapat keagamaan apabila dilakukan bersama-sama orang lain dalam orgnisasi.

Pendekatan yang santun dan gradual, belakangan mewarnai corak organisasi yang didirikannya; dan menurutnya, dalam memecahkan masalah keagamaan, tindakan yang langsung dan konkrit harus dinutamakan di atas pemikiran teoritis atau risalah filosofis. Masalah-masalah yang menjadi kepedulian Dahlan, adalah:
1. Kehidupan agama yang tidak murni
2. Pendidikan agama yang tidak efisien
3. Kegiatan misionaris Kristen
4. Sikap masa bodoh dan anti agama para intelektual

Organisasi-organisasi yang pernah diikuti Dahlan adalah: Jamiat Kheir, Sarekat Islam dan Budi Utomo. Dia tetap aktif dalam Budi Utomo, setelah Muhammadiyah didirikan.

Faktor-faktor berdirinya Muhammadiyah
Dari berbagai referensi, bisa disimpulkan ada tiga faktor penting yang melatarbelakangi berdirinya Ahmmadiyah, yaitu pertama, didorong oleh tersebarnya gagasan pembaruan Islam di Timur Tengah ke Indonesia pada awal abad 20. Kedua, sebagai respon terhadap pertentangan ideologis yang berlangsung lama dalam masyarakat Jawa. Dan ketiga, penetrasi misi Kristen di negeri ini serta pengaruh besar yang ditimbulkannya.

Pemikiran-pemikiran Jamal Al-Din Al-Afgani (w. 1897), Syaikh Muhammad ‘Abduh (w. 1905) dan penerusnya Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935) sering menjadi acuan masyarakan Muslim Indonesia, termasuk Ahmad Dachlan. Abduh mengajak kaum Muslim terdidik untuk membuang hadis-hadis palsu dan mengenyahkan sikap fatalistik, serta memotivasinya iuntuk tidak tertinggal dalam kompetisi dengan dunia Barat.

Baik gagasan ‘Abduh di Mesir maupun Muhammadiyah, pada dasarnya adalah gerakan keagamaan yang berdasar Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya juga menjadikan pandangan-pandangan Ibn Taymiyyah sebagai sumber utama rujukan. Selain itu, keduanya juga tumbuh dari lingkungan intelektual dan kultural dalam tradisi sufi, sehingga keduanyapun membenarkan tasawuf yang ‘sehat’, dan mengecam praktik-praktik ekstasis.

Read Full Post »

HOT, FLAT and CROWDED

Judul : Hot, Flat and Crowded

Penulis : Thomas L. Friedman

Tebal Buku : 582 halaman

Penerbit : PT. Gramedia

Tahun : 2008

Judul buku ini sudah memberikan gambaran umum yang jelas dari penulisnya, keprihatinan terhadap kondisi Lingkungan Global, seperti tertulis pada sampul belakang. Hot, karena kemajuan teknologi telah mempercepat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke angkasa; Flat, karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, yang memungkinkan siapapun, di manapun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah sehingga seolah-olah bumi berada di atas sebuah pinggan datar, dan Crowded, karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sedemikian cepat akibat keberhasilan upaya menekan angka kematian dan industrialisasi sehingga bertumpuk di kawasan perkotaan tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

Titik tolak pembahasan dalam buku ini sebetulnya adalah keprihatinan penulis terhadap kebijakan energi dan perubahan iklim negaranya (AS) yang menurutnya sangat kurang, bahkan cenderung mengabaikan visi lingkungan global. “Jika kita (AS) ingin mempertahankan kepemimpinan kita dalam teknologi, ekonomi dan moral serta agar planet ini tetap dapat dihuni, kaya dengan flora dan fauna, macan tutul dan singa, serta komunitas manusia yang bisa berkembang serta berkelanjutan, banyak hal yang harus diubah di sini, dan dengan segera”. Hal. 10

Dua hal penting yang mewarnai kebijakan negatif elit politik AS, adalah, sikap paranoid AS pasca 11 Sep dan sikap ‘semau gue’ terhadap problem nasional karena rasa percaya diri yang berlebih sehubungan hilangnya Perang Dingin; selain masih adanya kecenderungan positif bangsa AS yang ditunjukkan dengan karya inovatif dan idealis dalam hal ekonomi dan teknologi.

Konvergensi pemanasan global (hot) , perataan bumi (flat) dan penuh sesaknya bumi (crowded) mengantar kita pada lima masalah besar:

1. Tumbuhnya permintaan energi tak tergantikan

Menurut ASPOUSA, AS saat ini mengkonsumsi 810 juta gallon per hari, atau US$ 700 juta lebih. Royal Dutch Shell membuat prediksi, dalam laporan tahun 2008, bahwa konsumsi dunia untuk semua jenis energi akan setidaknya dua kali lipat antara sekarang dan tahun 2050.

Sesungguhnya AS sudah berusaha untuk melakukan efisiensi energi dengan munculnya Energy Policy and Conservation Act oleh kongres, 1975 sehingga jarak tempuh kendaraan ringan meningkat dari rata-rata 5,5 km/liter menjadi 11,5 km/liter pada tahun 1980. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan minyak yang signifikan hingga 1990an, yang juga turut andil sebagai penyebab runtuhnya Uni Soviet, yang saat itu sebagai produsen minyak ke-2 terbesar dunia. Sayangnya, justru Reagen menurunkan target standar penghematan menjadi 11 km/liter pada tahun 1986, bahkan memangkas anggaran sebagian besar program energi alternatif presiden Carter, juga membatalkan insentif pajak untuk perusahaan-perusahaan tenaga surya dan angin. Hal semacam inilah yang dimaksudkan penulis sebagai kebijakan ‘semau gue’ elit politik AS.

Detroit dan industri minyak memang secara konsisten melobi Kongres untuk menolak kenaikan pajak atas bahan bakar minyak. Hal ini ditunjukkan oleh Rick Wagoner, direktur dan CEO General Motors saat menjawab pertanyaan, mengapa perusahaannya tidak membuat mobil-mobil yang irit bahan bakar, “Kami membuat yang dikehendaki oleh pasar”, jawabnya. Dan ini didukung oleh elit politik AS dengan TIDAK menerapkan pajak tinggi untuk bahan bakar dan mesin seperti halnya di negara-negara Eropa. Denmark, setelah kelangkaan minyak dunia 1973, mengambil sikap efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan (surya dan angin) yang didukung dengan kebijakan energi pajak tinggi dan juga pajak CO2, sehingga masyarakat dengan sadar berusaha menggunakan energi di rumah secara efisien. Denmark yang pada tahun 1973 memperoleh 99% energi dari Timur Tengah, saat in, 2008, sudah tidak lagi melakukan import bahan bakar, 0% bahkan sepertiga dari semua turbin angin di dunia berasal dari Denmark.

Kenaikan harga bahan bakar fosil juga berakibat naiknya harga pangan dan industri tambang mineral dunia, juga semakin luasnya alokasi lahan yang dibutuhkan untuk keperluan lahan tanam Biofuel. BBC melaporkan bahwa Kenya (2008) hanya menanami sepertiga luas lahan dibanding tahun sebelumnya karena keperluan Biofuel.

Menurut Bank Dunia, 2007, Timur Tengah, Cina dan India menghabiskan US$ 50 milyar untuk subsidi minyak dalam negerinya. Bahkan Indonesia menghabiskan 30% Anggaran Belanja, dibanding 6% untik keperluan Pendidikan.

2. Transfer kekayaan yang masif kepada ‘petrodictator’

Tingginya permintaan energi fosil menyebabkan transfer kekayaan yang sangat tinggi karena juga harga yang tinggi. Statistik Fraser Institute menunjukkan bahwa kemakmuran negara penghasil minyak, akan diikuti dengan tingginya sikap represif pemerintah terhadap rakyatnya. Contoh yang paling baru adalah sikap Rusia untuk menutup jalur pipa gas ke negara2 Eropa Tengah dan Barat. Mengenai karakter Geopolitik negara pengekspor minyak, banyak terdapat di Bagian II dalam buku ini. Kalimat penutup yang bagus dari Bagian ini adalah: “ Anda tidak dapat menjadi idealis dalam kebijakan luar negeri yang efektif tanpa sekaligus menjadi pecinta lingkungan yang efektif dalam upaya menghemat energi.”

3. Perubahan iklim yang signifikan

Perubahan iklim di air teluk Mexico yang semakin hangat akibat pemanasan bumi menyebabkan Badai Katrina yang sangat dahsyat. Laporan IPCC 2007, (Intergovernmental Panel on Climate Change) berdasar pengamatan, menyimpulkan bahwa realitas pemanasan bumi sangat tidak diragukan bahwa kenaikan temperatur sejak 1950 ini terkait langsung dengan emisi-emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Tanpa upaya yang serius untuk menghentikan emisi CO2, pemanasan kumulatif pada 2100 akan berkisar 3°-5°C pada pada kondisi pra-industri. Ini akan memicu kenaikan muka air laut, bencana kekeringan dan banjir, yang akan mempengaruhi kelayakan sejumlah kawasan hunian manusia.

4. Kemiskinan energi

Bagi mereka yang telah menikmati listrik, kelangkaan energi dapat mengundang letupan politik, karena penggunaan energi dan Gross National Product memiliki korelasi sangat erat. International Energy Agency membuat proyeksi bahwa 1,4 milyar orang akan masih tidak dapat menikmati listrik dalam tahun 2030.

5. Percepatan hilangnya keaneka-ragaman hayati

Ketika dunia semakin panas, rata dan penuh sesak kita telah melampaui sebuah titik kritis keanekaragaman hayati. James Gustave Speth, penulis ‘The Bridge at the Edge of the World’ banyak menunjukkan bukti2 ini.

Kondisi bumi seperti inilah yang memacu kesepakatan negara-negara besar untuk membuat pakta-pakta lingkungan, mulai dari Komisi Bruntland, Protokol Montreal, Agenda 21 dan Protokol Kyoto. Ironisnya, justru AS tidak pernah bersedia menandatanganinya.

Lima puluh tahun lagi, bangsa AS akan menuntut orang tuanya: “Dad, saat bangsa kita kaya akan finasial, dan unggul akan teknologi dan sumber daya manusia, apa yang telah Anda lakukan dengan energi dunia?”

Penulis

Thomas L. Friedman adalah wartawan New York Times yang juga menulis ‘From Beirut To Jerusalem’, (resensinya juga ada di web ini juga) dan ‘The World is Flat’ yang keduanya sangat ‘inspiring’ bagi pemerhati Kedamaian dan Lingkungan.

Read Full Post »

The Hidden Connections

Judul                : The Hidden Connections

Penulis             : Fritjof Capra

Halaman           : 355

Penerbit            : Jalasutra

Tahun               : 2009

Seluruh kehidupan, mulai dari sel yang paling primitif, hingga masyarakat, korporasi, dan negara-bangsa, bahkan ekonomi global, ditata menurut pola dan prinsip dasar yang sama. Fritjof, penulis The Tao of Physics, menjelaskan berbagai sistem terpadu yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman hal ini akan sangat penting bagi keberlanjutan hidup manusia.

Berbeda dengan the Web of Life, (1996) yang berbicara tentang perkembangan teori sistem biologi, yaitu chaos, kompleksitas dan swa-kelola (self organization), The Hidden Connections berbicara lebih jauh pada tataran sosial dan bisa dianggap sbg buku tentang pembentukan kognisi, yang berawal dari sifat unik dan individual dari biologi dan fisika ‘otak’ manusia hingga pengaruh jaringan komunitas sosial.

Menurut Capra dalam The Turning Point (1986), paradigma fisika harus digantikan oleh suatu kerangka konseptual yang lebih luas, suatu visi atas realitas dimana ‘kehidupan’ ada di pusatnnya.Cara pandang ‘sistem’ atas kehidupan seperti yang ditulisnya, bukanlah suatu teori koheren tentang kehidupan, tetapi lebih merupakan cara baru untuk berpikir tentang kehidupan.

Tujuan penulisan buku ini seperti yang tertulis pada bagian Epilognya (hal. 292) adalah mengembangkan suatu kerangka konseptual yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif dan sosoal kehidupan. Suatu kerangka yang memungkinkan untuk memakai pendekatan sistemik terhadap beberapa permasalahan kritis jaman sekarang. Analisis sistem kehidupan dalam empat perspektif yang saling berhubungan, yaitu bentuk, materi, proses, dan makna memungkinkan diterapkannya suatu pemahaman yg utuh mengenai kehidupan terhadap fenomena di luar materi, dan juga fenomena pada dunia makna.

Buku The Hidden Connections ini dibagi menjadi dua bagian berurutan, yang pertama mengenai kerangka teoritis tentang Esensi Kehidupan, Esensi Pikiran dan Kesadaran, serta Esensi Realitas Sosial. Sedangkan bagian kedua mengenai penerapan praktis dari bagian pertama.

Tentang Esensi Kehidupan, Capra menyimpulkan bahwa kunci definisi sistemik kehidupan adalah jaringan2 kehidupan yang terus-menerus menciptakan atau membuat ulang diri mereka sendiri dengan mengubah atau mengganti komponen-komponen dirinya, disebut juga sbg sistem ‘autopietik’. Pandangan para ahli biologi molekular bahwa kehidupan, pada puncaknya, adalah molekul-molekul, tegas ditentangnya dan dianggapnya sangat reduksionis dan berbahaya, karena pandangan baru tentang Sistem Kehidupan adalah bersifat sistemik, tidak hanya didasarkan pada analisis struktur molekular semata namun juga analisis pola hubungan antar struktur dan proses-proses spesifik yang mendasari pembentukannya. Mengenai Pikiran dan Kesadaran, Capra memberi definisi bahwa Kesadaran adalah suatu jenis proses kognitif khusus yang muncul ketika kognisi mencapai tingkat kompleksitas tertentu, dan Kesadaran manusia bukan hanya sebagai suatu fenomena biologis semata, melainkan juga merupakan fenomena sosial. Tentang Realitas Sosial, Capra berpendapat bahwa pemahaman sistemik atas kehidupan dapat diperluas ke ranah sosial dengan menambahkan perspektif ‘makna’ terhadap tiga perspektif lainnya, yaitu bentuk, materi dan proses. Sampai di sini Capra telah mencoba memberikan penjelasan teoritis yang runut mulai dari kehidupan selular hingga pola sistemik realitas sosial.

Penerapan praktis dari konsep Realitas Sosial, yang berbasis Sistem Kehidupan, disajikan pada bab berikutnya, yang didahului kritik Capra terhadap sistem manajemen top-down dan mekanistik, karena bertentangan dengan sifat ‘autopietik’ jaring sosial, serta harus dilakukan pergeseran kekuasaan  dari ‘coercive power’ dan ‘compensatory power’ ke ‘conditioned power’ (hal.119); dilanjutkan dengan kritik Kapitalisme, yang menurutnya sudah semestinya dirubah, karena tidak dapat mengurangi kemiskinan bahkan menyebabkan peminggiran sosial. Ada perbedaan penting menurutnya, antara jaringan ekologis alam dan jaringan korporasi. Dalam suatu ekosistem, tak ada makhluk hidup yang terpinggirkan, sedangkan dalam dunia ‘kekayaan’  dan ‘kekuasaan’, bagian besar populasi dipinggirkan dari jaringan global dan dianggap tak relevan secara ekonomi. Hal terakhir mengenai Bioteknologi dan diakhiri dengan rekomendasi bagaimana menyiasatinya untuk kehidupan yang lebih baik.

Pemahaman sistemik pada kehidupan menjelaskan bahwa dalam tahun-tahun mendatang perubahan tidak hanya akan diperlukan bagi kesejahteraan organisasi manusia, tetapi juga untuk kelestarian dan keberlanjutan umat manusia secara keseluruhan dengan mengubah sistem nilai yang mendasari ekonomi global, untuk membuatnya cocok dengan kebutuhan martabat manusia dan keberlanjutan ekologis.

Tentang penulisnya, Fritjof Capra (lahir1 Feb 1939) adalah seorang ahli fisika dan teori sistem yang lahir di Austria dan berdomisili di AS, juga penulis buku ‘best seller’ The Tao of Physics (1975) dan The Turning Point (1982), yang keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Read Full Post »

Dari Beirut Ke Jerusalem

dari-beirut-ke-jerusalemJudul asli              : From Beirut To Jerusalam

Penulis                  : Thomas Friedman

Tebal buku            : 460 halaman

Penerbit                 : Penerbit Erlangga

Tahun                    :  1989

Buku yang ditulis oleh wartawan New York Times berdasarkan penelitian dan kunjunganannya ke Libanon dan Jerusalem ini sangat bagus dan cukup lengkap untuk mengetahui sejarah umum dan politik Timur Tengah, khususnya Palestina, Libanon dan Israel. Membaca buku ini rasanya seperti membaca novel sejarah yang runtut alurnya dan pembaca serasa berada di tempat kejadian.

Beberapa peristiwa penting yang diceritakan dalam bukunya ini diantaranya adalah :

  • Perang saudara dan invasi Israel di Libanon
  • Pembantian pengingsi di Sabra dan Shatila
  • Evakuasi PLO dari Beirut
  • Kedatangan pasukan perdamaian AS di Beirut dan bom bunuh diri
  • Pembantaian di kota Hama, Syria oleh rezim Hafez al-Assad

 

Libanon

Isu utama penyebab perang saudara di Libanon 1982an adalah adanya ketidak-stabilan yaitu tidak adanya konsensus antara kaum Kristen dan kaum Muslim mengenai pembagian kekuasaan.  Menjelang tahun 1970an, golongan Kristen hanya 1/3 bagian dari total penduduk Libanon; sementara golongan Muslim dan Drus mencapai 2/3 bagian, dimana Golongan Shiah sebagai golongan terbesar.  Komposisi ini sudah sangat berbeda dengan tahun 1943, dimana Maronit menjadi golongan mayoritas.

Golongan Maronit tidak menghendaki pembaruan pembagian kekuasaan seperti yang diinginkan golongan Muslim. Golongan Maronit membentuk milisi Phalangis, dipimpin Pierre Gemayel dan milisi Tigers yang dipimpin mantan presiden Libanon, Camilli Chamoun; sedangkan kaum muslim Libanon dipimpin oleh Walid Jumblat (milisi Druz) dan Nabih Berri (milisi Amal Shiite).

Keterlibatan Israel di Libanon adalah kepentingannya untuk mengusir PLO di Libanon Selatan atas dukungan kelompok Kristen dan Islam Shiah, pada awalnya. Namun, ternyata Israel juga „mengganggu” kelompok Islam Shiah.

Suriah

Februari 1982, rezim Hafez al-Assad, dari partai Baath yang berkuasa yang memenangkan kursi presiden melalui kudeta saat dirinya menjabat sebagai Menteri Pertahanan, melakukan pembantaian terhadap muslim Sunni di kota Hama, yang menurut Amnesty International memakan korban 10.000 – 25.000 orang. Muslim Sunni Sitia berjumlah 70%, sedangkan kaum Alawit 10-12%.

 

Israel-Palestina

Mulai dasawarsa 1930-an, Ben-Gurion menerima gagasan membagi Palestina menjadi dua negara- untuk Israel dan Arab Palestina -, yang akhirnya diterima oleh PBB 1947.

Menachem Begin tidak pernah mau menerima realita ini. Dia menginginkan kedaulatan Yahudi atas seluruh tanah Israel kuno, yang membentang dari Mediterania sampai ke Sungai Yordan dan wilayah seberangnya, sejalan dengan program semula kaum Zionis.

PM Golda Meir pada 1967 menyatakan  pada The Sunday Times bahwa bangsa Palestina tidak ada. Partai Buruh Israel lebih suka memandang orang Palestina sebagai “pengungsi Arab” belaka yang harus dimukimkan kembali si negara-negara Arab disekelilingnya. Bahkan setelah Israel menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat 1967, menyebut orang Palestina sebagai “bangsa Arab di tanah Israel”. Masalah Palestina, bagi Israel adalah masalah gerombolan Arab perampok yang mebunuhi Yahudi.

Penilaian Thomas Friedman terhadap Menachem Begin, seseorang yg melihat dirinya sendiri sebagai korban, nyaris tak pernah membuat penilaian moral atas dirinya sendiri. Hal ini berhubungan dg sikap Menachem Begin yang lahir 1913 di Polandia, menganggap dirinya sbg korban anti Semitism dan menganggap mengepung Arafat bagaikan mengejar Hitler dalam persembunyiannya.

Sejarah perang Israel – Palestina

1882

Sbg akibat penganiayaan bgs Yahudi di Rusia dan Rumania pada tahun sebelumnya, imigrasi pemukiman Yahudi secara besar-besaran ke Palestina pertama kali berlangsung

1891

Para tokoh Arab di Jerusalem mengirimkan petisi kepada pemerintahan Ottoman diKonstantinopel menuntut dilarangnya imigrasi orang Yahudi ke Palestina dan pembelian tanah oleh orang Yahudi.

1896

Wartawan Austria Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, menerbitkan pamfletnya The Jewish State, yang menyatakan bahwa ‘masalah Yahudi’ hanya dapat dipecahkan dengan mendirikan negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lainnya, sehingga bangsa Yahudi dapat hidup bebas tanpa takut akan penganiayaan. Setahun kemudian, Herzl mengadakan Kongres Zionist pertama di Basel, Swiss, untuk mendorong imigrasi ke Palestina.

1908

Surat kabar Arab Palestina pertama muncul: Al-Quds, si Jerusalem dan Al-Asma’i di Jaffa.

1916

Persetujuan Sykes-Picot ditempa oleh Inggris, Perancis dan Rusia, memotong-motong kerajaan Ottoman setelah kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sebagai bagian dari persetujuan itu, Inggris memenangkan pengendalian efektif atas wilayah Palestina, dan Perancis atas wilayah yang kini adalah Libanondan Siria.

1917

Deklarasi Balfour dikeluarkan oleh menteri Luar Negeri Inggris Arthur J. Balfour untuk menyokong gagasan pendirian ‘negeri sendiri’ bagi bangsa Yahudi di Palestina.

1920

Perancis mendekritkan pembentukan negara Libanon Raya, yang mengikat kembali bersama Gunung Libanon dengan wilayah-wilayah Beirut, Tripoli, Sidon, Tirus, Akkar dan Lembah Bekka.

1936-39

Diilhami oleh gerakan nasional Arab lainnya, bangsa Arab Palestina memberontak dalam upayanya menghentikan didirikannya tanah air bangsa Yahudi di Palestina. Baik pemukiman Yahudi maupun satuan tentara Inggris, mendapat serangan.

1943

Para pemimpin Kristen dan Muslim Libanon mencapai persetujuan dengan ‘Pakta Nasional’ untuk membagi kekuasaan dan menyeimbangkan orientasi Barat dan Arab di Libanon; persetujuan ini memungkinkan negeri merekamenjadi sebuah negara bebas dari Perancis.

– Perbandingan Anggota Parlemen: 6 (Kristen) : 5 (Muslim)

– Presiden                             : Maronit

– Perdana Menteri                : Muslim Sunni

– Ketua Parlemen                : Muslim Shiah

1947

PBB memutuskan untuk membagi Palestina menjadi dua negara, satu untuk bangsa Yahudi (Gurun Negev, dataran pantai antara Tel Aviv dan Haifa dan beberapa bagian daera Galilea utara) dan lainnya untuk bangsa Arab Palestina (Tepi Barat Sungai Yordan, distrik Gaza, Jaffa dan sektor Arab dari Galilea) dimana Jerusalem menjadi daerah kantong international.

Kaum Zionis dipimpin oleh David Ben-Gurion

1948

Inggris menarik diri dari Palestina. Alih-alih melaksanakan rencana pembagian PBB, negara-negara Arab sekitarnya bergabung dengan bangsa Palestina lokal untuk mencoba mencegah munculnya negara Yahud. Israel bagaimanapun juga akhirnya didirikan: Yordania menduduki Tepi Barat dan Mesir menduduki Jalur Gaza.

1956

Israel bergabung dengan kekuatan Inggris dan Perancis menyerang Mesir dibawah Gamal Abdel Nasser dan berhasil menduduki sebagian besar Semenanjung Sinai. Atas tekanan baik dari AS maupun Uni Soviet, belakangan Israel menarik diri.

1958

Perang saudara Libanon meletus pertama kali dan sekitar 15,000 orang pasukan AS dikirimkan ke Beirut untuk membantu menstabilkan suasana.

1964

Para pemimpin negara Arab dipimpin oleh Abdel Nasser membentuk Palestine Liberation Organization (PLO) di Kairo.

1967

Israel melancarkan serangan mendahului atas Mesir, Siria dan Yordania ketika mereka sedang menyiapkan perang melawan negara Yahudi. Perang Enam-Hari berakhir dengan Israel menduduki Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

1969

Yaser Arafat pemimpin organisasi gerilya Al-Fatah, terpilih menjadi Ketua Komite Eksekutif PLO.

1970

Tentara Raja Hussein mengalahkan gerilyawan PLO Arafat dalam suatu perang saudara untuk menguasai Yordania.

1973

Mesir dan Siria melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan Israel yang menduduki Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan.

1974

Sebuah konperensi puncak Arab di Rabat, Marokko, menegaskan bahwa PLO adalah ‘wakil satu-satunya dan sah’ dari bangsa Palestina.

1975

Perang saudara kembali meletus di Libanon.

1977

Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Jerusalem, berpidato di depan parlemen Israel, dan menawarkan perdamaian penuh jika Israel bersedia mundur sepenuhnya dari Sinai.

1979

Mesir dan Israel menandatangani perjanjian perdamaian mereka.

1982 Feb

Pemerintah Siria membantai ribuan warganegaranya sendiri ketika memberangus pemberontakan yang dilancarkan dari kota Hama.

1982 Jun-Sep

Israel menginvasi Libanon. Pemimpin milisi Phalangis, Bashir Gemayel terbunuh setelah pemilihannya sebagai Presiden Libanon. Pasukan Milisi Phalangis membantai ratusan orang Palestina di perkemahan kaum pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut, sementara kemahnya dikepung oleh pasukan Israel. Satuan Marinir AS tiba di Beirut sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB.

1983

Kedutaan Besar AS dan markas besar Korps Marinir AS di Beirut diledakkan oleh bom mobil bunuh-diri.

1984 Feb

Pemerintah Libanon pimpinan Presiden Amin Gemayel terpecah setelah golongan Muslim Shiah dan Drus di Beirut Barat melancarkan pemberontakan melawan tentara Libanon. Presiden Reagen melepaskan harapan untuk membangun kembali Libanon dan memerintahkan padukan Marinir pulang.

1984 Sep

Partai Buruh dan Likud Israel bekerjasama dalam sebuah pemerintahan persatuan nasional setelah pemilihan bulan Juli menemui jalan buntu.

1985

Israel menarik tentaranya secara sepihak dari sebagian besar Libanon.

1987 Des

Perlawanan atau Intifada orang Palestina mulai di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

1988 Des

Arafat mengakui hak keberadaan negara Israel. Menteri Luar Negeri AS George Shultz membenarkan pembukaan dialog dengan PLO. Partai Likud dan Buruh bergabung untuk membentuk pemerintahan kesatuan nasional yang lain di Israel sesudah pemilihan mengalami jalan buntu.

Read Full Post »

Membebaskan Yang Tertindas

esackJudul buku : Al-Quran, Liberalisme, Pluralisme

Membebaskan Yang Tertindas

Judul Asli : Qur’an, Liberation and Pluralism

An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Opression

Pengarang : Farid Esack

Tebal buku : 358 halaman

Penerbit : Mizan

Tahun : 2000

 

Farid Esack dibesarkan di Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats, Afrika Selatan, karena dipaksa pindah oleh Akta Wilayah Kelompok (Group Areas Act), bersaudarakan enam orang, tiga diantaranya adalah saudara tiri, yang ditinggal ayahnya ketika masih berusia tiga tahun.. Hukum apartheid tersebut, diperlakukan 1952, menyisihkan tanah paling tandus di negeri itu bagi orang kulit hitam, keturunan India dan kulit berwarna. Masa kecilnya berada pada situasi kemelaratan struktural akut, dimana harus berkeliling mengetuk pintu tanpa sepatu di tanah bersalju untuk meminta sepotong roti atau mengaduk-aduk tempat sampah demi mendapatkan sisa makanan.

 

Jika kaum Kristen Afrika Selatan yang berkomitmen pada keadilan mengambil acuan dari Teologi Pembebasan yang lahir di Amerika Selatan, maka kaum muslim di sana terinspirasi dari Teologi Pemberontakan menentang neokolonialisme dan kediktatoran di Iran. Kedua kelompok progresif ini bekerjasama meruntuhkan rejim apartheid di Afrika Selatan.

 

Ada empat hal yang hendak dicapai Farid Esack dari buku ini, yaitu:

–  adalah mungkin untuk hidup dan berjuang bersama dengan kaum non-muslim untuk pembentukan masyarakat yang lebih manusiawi

–  menggunakan hemeneutika Al-Quran untuk mengembangkan pluralisme teologi Islam

–  mempelajari ulang Al-Quran dalam memperlakukan golongan yang berbeda untuk memberi ruang bagi kebenaran dan keadilan pihak lain dalam teologi pluralisme demi pembebasan

–  menggali hubungan antara eksklusivisme keagamaan dan konservatisme politik (pendukung apartheid) di satu sisi, dengan inklusivisme keagamaan dan politik progresif (pendukung kebebasan) berdasarkan Al-Quran.

 

Di awal buku, Esack bercerita tentang sejarah masuknya kaum Islam dari Timur (Malaysia, Indonesia) di Cape Town, yang selanjutnya menjadi area bahasan, yang biasa disebut sebagai Melayu, di tahun 1652. Pemerintahan rasialis dan represif Afrika Selatan dimulai sejak CMA (Asosiasi Melayu Cape) dibentuk pada tahun 1923an. Wujud penindasan politik yang paling terasa adalah ketika terjadi pembunuhan Imam Abdullah Haron oleh polisi keamanan pada 1969, setelah empat bulan dalam tahanan. Kebungkaman para ulama mengenai soal kematian Haron memunculkan rasa pengkhianatan dan kecewa yang mendalam di kalangan pemuda Muslim. Baru setelah pendeta Anglikan melakukan mogok makan untuk memprotes pemerintah atas kematian Haron, para pemuda Muslim mulai terinspirasi. Selanjutnya, pasca 1970an menjadi perhatian utama penulis, ketika penolakan terhadap apatheid secara berangsur mendapat dukungan luas. Dalam atmosfer inilah tumbuh solidaritas antariman dan munculnya masalah-masalah krusial tentang hermeneutika Al-Quran ditempatkan dalam konteks ini.

 

Pengalaman hidupnya dilingkungan sosial yang rasis dan penuh penindasan di Afrika Selatan serta Islam eksklusif dan penuh bias gender di Pakistan membentuk Esack menjadi pribadi yang sangat sensitif terhadap ketidakadilan.

Bersama tiga temannya, Esack membentuk Call of Islam, pada tahun 1984. Organisasi ini merupakan afiliasi dari Front Demokrasi bersatu (UDF) yang didirikan setahun sebelumnya. UDF adalah pergerakan Muslim yang paling aktif memobilisasi aktivitas nasional menentang apartheid, diskriminasi gender, dan pencemaran lingkungan, serta menggalang usaha antar-iman.

 

Tentang teks dan konteksnya dalam pencarian makna yang membebaskan, Esack menulis bahwa ada basis teologis dan historis untuk membenarkan pendekatan kontekstual terhadap Al-Quran. Pendekatan ini telah memungkinkan banyak kaum Islamis progresif di Afrika Selatan untuk melawan rezim apartheid dan bersolidaritas dengan orang beragama lain secara bermakna.. “Para penafsir adalah manusia, yang tak mungkin bisa lepas dari keadaan lingkungan tempat ia berada”, menurutnya. Hermeneutika mangasumsikan bahwa setiap orang mendatangi teks dengan membawa persoalan dan harapannya sendiri, serta tidak masuk akal untuk menuntut penafsir menyisihkan subyektivitas dirinya dan menafsirkan teks tanpa pemahaman.

 

Esack menjelaskan cukup dalam tentang masing-masing kunci hermeneutika yang dipergunakan pada teologi Pembebasan Al-Quran dalam konteks masyarakat yang diwarnai oleh ketidakadilan, perpecahan dan ekploitasi, yaitu: takwa (integritas dan kesadaran akan kehadiran Tuhan), tauhid (keesaan Tuhan), al-nas (manusia), al-mustadh’afuna fi al-ardh (yang tertindas di dunia), ‘adl dan qisth (keseimbangan dan keadilan, serta jihad (perjuangan dan praksis).

 

Makna kata Iman, Islam dan Kufr adalah tiga hal penting yang dibahas dalam rangka mendefinisikan ulang diri sendiri dan orang lain untuk tujuan pembebasan.

 

Sikap Pluralisme Esack didasari atas keyakinan bahwa Al-Quran mengakui keabsahan ‘ de jure’ semua agama wahyu dalam dua hal: Ia menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal, menghormati hukum-hukum, norma-norma sosial, dan praktik-praktik keagaman mereka; serta juga menerima pandangan bahwa para pemeluk setia agama-agama ini juga akan mendapatkan keselamatan (QS 2:62).

 

Di bagian kesimpulan, Esack kembali menegaskan bahwa di Afrika Selatan, renungan tentang pandangan Al-Quran mengenai hubungan dengan penganut agama lain, kerjasama antar agama, dan kesetaraan gender membentuk dimensi yang sadar dan dinamis dalam kerangka praksis liberatif. Dalam situasi ketidakadilan yang nyata, kebungkaman politis sama artinya dengan berkolaborasi dengan ketidakadilan.

 

Farid Esack adalah pemikir Islam yang menyandang gelar Doktor di bidang tafsir Al-Quran, staf pengajar di Universitas Western Cape, Afrika Selatan, dan tokoh senior dalam World Conference on Religion and Peace. Buku ini sangat lengkap isinya berhubung dengan kelengkapannya, seperti Daftar Singkatan, Glosarium, Daftar Pustaka, Index dan Lampiran.

Read Full Post »

The Audacity of Hope

obama1

Judul Buku : MENERJANG HARAPAN

Dari Jakarta menuju Gedung Putih

Judul Asli : The Audacity of Hope;

Thoughts On Reclaiming The American Dream

Penulis : Barack Obama

Tahun : 2007

Penerbit : UFUK PRESS

Tebal buku : 528 halaman

Buku ini mulai beredar tahun 2007 di Indonesia, ketika Barack Obama, yang berkulit hitam, mulai muncul sebagai calon presiden pada pemilu pendahuluan partai Demokrat, yan bersaing dengan mantan ibu negara, Hilary Clinton.

Obama menuliskan pengalaman hidupnya, keyakinan, pandangan politik dan sosialnya dalam 11 bab, termasuk Pendahuluan yang diterbitkan pertama kali di tahun 2006. Menurutnya, ini adalah buku ke-2 setelah bukunya yang pertama, ‘Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance’, yang diterbitkan 11 tahun sebelumnya.

Cerita tentang masa kecilnya selama tiga tahun di Indonesia ditulisnya secara panjang-lebar sebanyak 10 halaman, di bab awal buku ini. Pengalaman masa kecil dari bangsa Amerika yang berayah-tirikan orang Indonesia dan beribukan bangsa AS, Kansas, namun hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan tanpa tv dan mobil, adalah sungguh aneh bila dibandingkan kehidupan bangsa barat yang hidup di Indonesia saat ini. Hidupnya di Indonesia dimulai ketika berusia 6 tahun, pada tahun 1967, di tahun yang sama ketika Soeharto memangku jabatan Presiden RI ke-2. Pertama-tama dia bersekolah di lingkungan Katolik dan kemudian di sekolah yang dominan beragama Islam. Tulisan tentang kultur, sejarah dan politik di Indonesia saat itu tampak dikuasainya.

Pemahaman sejarah Amerika mulai dari kebijakan ekspansif AS di masa awal kemerdekaan, utk menjaga pasar dan kelancaran transportasi perdagangan, Great Depression, perang Vietnam hingga perang Irak serta biografi orang-orang besar AS sepertinya sangat dikuasai, hingga banyak sekali kutipan kata-kata Presiden AS berceceran di dalamnya mulai G. Washington, John. Adams, T. Jefferson, Roosevelt, Woodrow Wilson, Kennedy, Reagan, Carter, Clinton dan tak ketinggalan G.W. Bush.

Ada satu cita-cita terbersit di hatinya ketika mengutip Quincy Adams, “ Amerika sebaiknya mengabdi kepada kepentingan kemerdekaan dengan berkonsentrasi pada pengembangannya sendiri, menjadi sebuah mercusuar harapan bagi bangsa-bangsa lain dan penduduk di seluruh dunia”, (hal. 46).

Sikap politik luar negerinya yang ‘aktif’ didasari keyakinannya bahwa ‘jika kita ingin membuat Amerika lebih aman, maka harus membantu membuat dunia menjadi lebih aman’, (hal 78). Lalu, ‘kita memiliki hak untuk melakukan tindakan militer unilateral untuk menghapuskan sebuah ancaman yang akan terjadi terhadap keamanan kita’, (hal 83). Selain sikap aktif yang militeristik, Obama juga berpendapat, ‘… membantu mengurangi masalah-masalah ketidak-amanan, kemiskinan, dan kekejaman di seluruh dunia, serta turut andil dalam tatanan global …’, (hal 92). Keyakinan politiknya yang juga pluralis, memberikan konsekwensi untuk mempercayai bahwa politik, bergantung pada kemampuan untuk merangkul semua pihak berkaitan dengan tujuan bersama yang didasarkan atas realitas bersama. Namun berbeda dengan sains, politik melibatkan kompromi dan seni kemungkinan (the art of the possible),

Pengalamannya di Senat, memberinya pandangan bahwa Demokrat dan Republik memiliki lebih banyak persamaan daripada apa yeng terlihat dari sudut pandang publik. Politik mungkin saja berbeda; para pemilih menginginkan sesuatu yang berbeda; dan mereka sudah lelah dengan distorsi, saling mengejek, dan solusi-solusi sesaat untuk persoalan yang rumit.

Dalam hal perang Iraq, seperti halnya sikap partai Demokrat, Obama sangat berbeda dengan Bush, bahkan turut berdemo di tahun 2002 untuk mempertanyakan bukti pemerintah AS atas kepemilikan senjata pemusnah massal Iraq serta ketidak-setujuannya atas invasi AS ke Iraq.

Dalam hal ideologi ekonomi, sudah sewajarnya Obama, sebagai bangsa Amerika, baik Demokrat maupun Republik, akan berseberangan dengan Hugo Chavez, atau para pemimpin negara Amerika Latin lainnya yang berpandangan sosialis, bahkan menganggapnya sebagai tokoh-tokoh populis, “.. saya percaya para pengeritik itu salah kalau mengira bahwa negara-negara miskin akan meraih keuntungan dengan menolak cita-cita pasar bebas dan demokrasi liberal”, (hal 93).

Sistem pasar bebas dan demokrasi liberal diakuinya masih terus mengalami perubahan dan perbaikan, namun tetap bersikukuh bahwa sistem inilah yang bisa menjamin kehidupan orang menjadi lebih baik, sehinga tantangan bangsa AS adalah memastikan semua kebijakan AS akan menggerakkan sistem internasional ke arah persamaan, keadilan dan kemakmuran yang lebih besar.

Tentang Nilai-Nilai, dalam buku ini, disinggung sedikit tentang perkawinan sejenis, aborsi, dan hukuman mati. Obama tidak cukup tegas mendukung sikap partainya yang pro prochoice. “ … saya khawatir jika (ada) larangan terhadap aborsi, akan memaksa kaum perempuan untuk mencari cara-cara aborsi yang tidak aman …” (hal 149), dan secara politis mendukung upaya mengurangi jumlah perempuan yang merasa harus melakukan aborsi sebagai pilihan utama. Sedangkan Hukuman mati, dianggapnya hanya melakukan sedikit untuk mengurangi kejahatan, namun juga dipercaya bahwa untuk kasus-kasus kejahatan yang bengis, hukuman mati dapat dibenarkan. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh ada orang tak bersalah diakhiri hidupnya di kursi kematian dan tidak ada orang yang melakukan pelanggaran berat, terbebas dari hukuman.

Pendidikan anak, korupsi dalam pemerintahan dan bisnis, serta keserakahan dan materialisme adalah tiga tantangan moral besar bagi bangsa AS. Sedangkan sebagai Demokrat, nilai komunal, rasa tanggungjawab bersama dan solidaritas harus mewarnai pemerintahan AS.

Obama adalah pemeluk kristen yang ‘cair’, pluralis dan pada masa kecilnya banyak mendapatkan pendidikan etika dari ibunya, seperti nilai kejujuran, empati, disiplin, kebahagiaan yang tertunda dan kerja keras. Menurutnya, “Agama formal tidak memonopoli kebajikan, dan kita tidak harus menjadi religius untuk membuat klaim-klaim moral atau menyerukan kebajikan bersama”, (hal 172). Juga, “Yang sungguh-sungguh dituntut oleh demokrasi deliberatif dan pluralistik adalah bahwa orang-orang yang termotivasi secara religius seharusnya menerjemahkan semua keprihatinannya menjadi nilai-nilai universal, alih-alih nilai-nilai agama yang spesifik” (hal 178).

Tentang Ras, Obama mengingatkan, saat buku ini ditulis, bahwa dalam Senat AS, hanya ada tiga orang anggota Latin dan dua orang Asia (dari Hawaii) serta satu orang Afro-American (Obama). Dalam 40 tahun terakhir, rata-rata gaji orang kulit hitam adalah 75% dari rata-rata gaji orang kulit putih, sedangkan gaji rata-rata orang Latin adalah 71%nya. Nilai tengah pendapatan bersih orang kulit hitam kira-kira AS$ 6.000 dan orang Latin AS$ 8.000, dibandingkan dengan orang kulit putih, AS$ 88.000. Pengangguran kulit berwarna lebih banyak disebabkan oleh kurangnya ketrampilan dan pengalaman kerja. Kesenjangan ekonomi, sosial, pendidikan masih banyak terlihat karena menurutnya pelaksanaan undang-undang hak sipil oleh pemerintahan Republik belum sepenuhnya berjalan (hal. 215). Isu besar tentang imigran ilegal dari selatan juga belum terselesaikan.

Dalam hal ketenagakerjaan, Obama, sebagai anggota senat, mengusulkan UU yang mewajibkan agar setiap lapangan pekerjaan pertama-tama harus ditawarkan kepada pekerja AS, dan agar majikan tidak memotong gaji dengan membayar buruh tamu kurang dari apa yang mereka bayarkan kepada pekerja AS. Idenya adalah bahwa semua bisnis hanya diberikan kepada pekerja asing untuk sementara waktu, ketika terjadi kelanggkaan buruh.

Di akhir bukunya, Obama juga banyak menyoroti tentang pendidikan di AS. Kesenjangan pendidikan warga kulit hitam terlihat di daerah selatan Chicago, dimana pada tahun 2005, sekolah di sistrik ini tidak dapat memberi gaji untuk mempekerjakan guru harian (full day school), sehingga waktu sekolah hanya bisa berlangsung sampai pukul 13:30 saja. Saat ini, AS memiliki salah satu tingkat putus sekolah tertinggi di sekolah menengah atas. Hal ini memberi inspirasi Obama untuk memulai investasi yang dapat menjadikan AS lebih kompetitif dalam ekonomi global, yaitu: investasi dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi, serta kemandirian energi.

Kesimpulan umum yang bisa diambil dari bukunya adalah, Obama memang bersahaja, cerdas, peduli keadilan dan kesetaraan, sangat diametrikal dengan McCain atau warga partai Republik pada umumnya. Tapi, betulkah? Tertulis juga di bukunya bahwa menyerang pihak lain untuk alasan keamanan adalah sah. Ideologi ekonominya, seperti warga USA pada umumnya, juga masih Ekonomi Pasar Bebas, tidak bergeser ketengah sedikitpun seperti Jerman atau Eropa yang menganut Ekonomi Pasar Sosial (Social Market Economy).

Read Full Post »

« Newer Posts