Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Judul Buku: Communication Power

Tebal buku: 571 halaman

Penulis: Manuel Castells

Tahun: 2009

Penerbit: Oxford United Press

Di bagian Pendahuluan, Castells bercerita tentang aktifitas ‘bawah-tanah’nya, saat masih berusia 18 tahun, dalam  memperjuangkan demokrasi menentang rejim otoriter Francisco Franco di Spanyol, dengan cara menyebarkan selebaran gelap. Berselang lama kemudian, barulah disadarinya bahwa sumbangannya terhadap demokrasi Spanyol mungkin jauh dari harapan, karena menurutnya suatu pesan hanya akan efektif bila si penerima pesan memang sudah mengerti persoalan dan jelas sumbernya. Namun ada satu hal yang kemudian diyakininya bahwa Kekuasaan harus didukung oleh kemampuan mengkontrol komunikasi dan informasi. Oleh sebab itu, menjadi jelas alasan pemerintahan fasis Spanyol untuk segera menutup semua akses komunikasi yang menghubungkan semua buah pikir para penentangnya dengan pola pikir publik. Dengan alasan yang sama, perlawanan terhadap kekuasaan (counterpower) semestinya diarahkan pada penghilangan kontrol pemerintah terhadap komunikasi dan informasi publik.

Persoalan utama yang disajikan dalam buku ini, adalah Mengapa, Bagaimana dan Oleh Siapa relasi kekuasaan dibangun dan diuji melalui pengaturan proses komunikasi, dan bagaimana relasi tersebut dapat diubah oleh para aktor sosial untuk tujuan perubahan sosial dengan cara mempengaruhi pola pikir masyarakat. Hipotesa Castells mengatakan bahwa bentuk kekuatan paling fundamental, berada pada kemampuan untuk membentuk pola pikir manusia. Bagaimana kita berpikir, akan menentukan bagaimana kita bertindak, baik secara individual maupun kolektif.

Analisis dalam buku ini hanya mengacu pada struktur sosial tertentu, yaitu Masyarakat Jaringan, suatu struktur sosial masyarakat, pada awal abad 21, yang terbentuk oleh komunikasi berbagai jaringan digital. Dengan demikian, analisis keterkaitan kekuasaan membutuhkan pemahaman atas kekhususan berbagai bentuk dan proses komunikasi sosial, yang mana dalam masyarakat jaringan berarti termasuk didalamnya adalah media massa dan komunikasi jaringan horisontal yang dibangun oleh komunikasi internet dan nirkabel.

Menurut Castells, dengan berkembangnya teknologi jaringan, menyebabkan munculnya model komunikasi baru yang radikal, dimana memungkinkan tumbuhnya ‘mass self-communication’, yang juga berarti menumbuhkan otonomi subyek komunikasi, ‘vis-a-vis’ korporasi komunikasi, dimana pengguna bisa menjadi pengirim sekaligus penerima pesan.

Sistematika penyajian

Bab 1 Castells menjelaskan arti Kekuasaan dengan menyajikan berbagai elemen dalam teori Kekuasaan, yaitu elemen-elemen kunci dalam konseptualisasi  masyarakat jaringan yang berkaitan dengan relasi kekuasaan masa kini.

Kekuasaan, menurutnya adalah kapasitas relasional yang memungkinkan seorang aktor sosial mempengaruhi keputusan aktor sosial lainnya secara asimetris untuk mengikuti kemauan, minat dan nilai-nilai yang dimilikinya. Aktor sosial dalam hal ini bisa berbentuk individual, kolektif, organisasi, institusi atau jaringan. Kapasitas Relasional dimaksudkan bahwa kekuasaan bukanlah suatu atribut dari seorang aktor sosial, melainkan berada dalam relasi/keterkaitan antar aktor. Asimetris berarti bahwa bila pengaruh dalam suatu relasi sosial selalu bersifat resiprokal (saling mempengaruhi), maka dalam relasi kekuasaan selalu ada derajat pengaruh yang lebih besar dari seorang aktor terhadap aktor lainnya.

Mengutip Geoff Mulgan, ada tiga sumber kekuasaan yaitu kekerasan, uang dan kepercayaan; dan yang paling hebat adalah kekuasaan atas pikiran yang bisa merubah kepercayaan.

Tentang masyarakat jaringan global, Castells berpendapat bahwa masyarakat jaringan adalah masyarakat global, namun tidak berarti bahwa setiap orang termasuk di dalamnya, tetapi setiap orang akan terpengaruh oleh proses yang terjadi dalam jaringan global yang membentuk struktur sosial. Dengan demikian, sikap eksklusif terhadap jaringan ini akan berpotensi terpinggirkan dari masyarakat jaringan global.

Dalam dunia jaringan, kemampuan untuk menguasai pihak lain begantung pada dua mekanisme dasar berikut:

  1. kemampuan untuk membangun jaringan, dan menentukan sasaran-sasaran dalam program jaringan
  2. kemampuan untuk menghubungkan dan bekerjasama dengan berbagai jaringan lain melalui upaya berbagi sasaran bersama dan memperkuat diri dari kompetisi dengan jaringan lain dengan cara membentuk kerjasama yang strategis.

Castells menyebut pemegang kekuasaan no. 1 adalah ‘programmer’, dan pemegang kekuasaan no. 2 adalah ‘switcher’.

Kesimpulan dalam bab 1 tentang Pengertian atas Berbagai Relasi Kekuasaan adalah bahwa menurut para pemikir Kekuasaan, sumber-sumber kekuasaan sosial di dunia ini – kekerasan dan diskursus, koersi dan persuasi, dominasi politik dan perlindungan kultural – tidak ada perubahan secara fundamental, namun dalam tataran operasi relasi kekuasaan, telah berubah dalam dua hal, yaitu terbentuk karena relasi antara global dengan lokal, dan tersusun dari relasi antar berbagai jaringan, bukan lagi dalam relasi tunggal.

Bab 2 membahas hal-hal yang berkaitan dengan Komunikasi, dimana Castells menjelaskan lebih jauh tentang penelitian empiriknya berkaitan dengan struktur dan dinamika komunikasi massa dalam kondisi globalisasi dan digitalisasi. Dalam bab ini juga dijelaskan bagaimana manusia mengolah pesan dan bagaimana proses pengolahan ini bisa berubah menjadi kenyataan politik.

Komunikasi adalah berbagi makna melalui pertukaran informasi. Dan, makna hanya bisa dimengerti dalam kontek relasi sosial dimana pengolahan informasi dan komunikasi terjadi.

Berbeda dengan Komunikasi Interpersonal dimana pengirim dan penerima pesan merupakan subyek komunikasi dan bersifat interaktif, sedangkan Komunikasi Massa bisa bersifat interaktif maupun satu arah serta punya potensi untuk menyebar secara luas di masyarakat (‘one to many’). Melalui internet dalam era digital, muncul bentuk baru komunikasi interaktif dengan kapasitas pengiriman pesan ‘many to many’, ‘real time’ dan juga memungkinkan untuk menggunakan komunikasi ‘point to point’, ‘broadcasting’, yang semuanya bisa diatur sesuai maksud dan tujuan komunikasi yang diinginkan, dan  Castells menyebutnya sebagai. ‘mass self-communication’. Disebut ‘self-communication’ karena setiap orang mampu membuat dan mengirim pesan sendiri dan bisa menentukan sendiri pihak-pihak yang akan dituju (‘receiver’). Ketiga bentuk komunikasi tersebut (interpesonal, komunikasi massa, mass self-communication), tetap eksis dan saling melengkapi dan bukan saling menghilangkan.

Bab 3, dengan bantuan para ahli neurosains dan kognitif sains, Castells menyajikan sebuah analisis berbagai relasi khusus antara emosi, kognisi dan politik, dilanjutkan dengan penjabaran tentang mekanisme ‘agenda-setting’, ‘framing’ dan ‘priming’ untuk pengkondisian komunikasi politik oleh para aktor sosial/politik ketika memasuki dunia media dan berbagai jaringan komunikasi untuk mengirimkan pesan kepentingan politiknya. Dalam bab ini juga disampaikan contoh kasus komunikasi politik  mis-informasi yang dilakukan pemerintahan Bush tentang Perang Irak.

Ketiga bab tersebut sangat penting dan tak terpisahkan karena menyangkut pengertian tentang konstruksi relasi kekuasaan melalui komunikasi dalam masyarakat jaringan yang membutuhkan integrasi dari tiga hal penting yang akan dijelaskan dalam masing-masing bab tersebut, yaitu:

  • struktur sosial dan kekuasaan politik dalam masyarakat jaringan global
  • proses komunikasi massa pada organisasi, kultur dan teknologi pada kondisi saat ini
  • proses kognitif dari signal-signal sistem komunikasi ke dalam pola pikir manusia dalam kaitannya dengan praktek sosial yang relevan secara politik.

Bab 4, menjelaskan tentang alasan mengapa dalam masyarakat jaringan, politik media seringkali lebih fokus pada masalah skandal politik; dan menghubungkannya dengan hasil analisis terhadap krisis legitimasi politis yang membangkitkan krisis demokrasi di berbagai belahan dunia.

Bab 5, mengupas tentang bagaimana gerakan sosial dan agen-agen perubahan dalam masyarakat, melalui berbagai jaringan komunikasi yang telah diprogram ulang, sehingga mampu menyampaikan nilai-nilai baru ke dalam pola pikir manusia dan memberikan inspirasi akan harapan perubahan politik.

Dalam kesimpulan yang berjudul Menuju Teori Komunikasi Kekuasaan, Castells menyatakan adanya kesalahan anggapan pada umumnya, bahwa bila relasi kekuasaan telah tertanam dalam pikiran manusia, dan bila bangunan makna bergantung pada arus informasi dan gambaran yang telah diolah dalam jaringan komunikasi, maka dapat disimpulkan bahwa kekuasaan berada dalam jaringan komunikasi dan pemilik perusahaan media. Salah. Jaringan komunikasi sebenarnya hanyalah pembawa pesan atau media saja, atau bukanlah pesan itu sendiri meskipun terlibat dalam pembentukan format dan kondisi pendistribusian pesan (misal infotainment). Pengirim pesanlah yang sebenarnya sumber konstruksi bangunan makna.

Mengingat adanya banyak ‘programmer’ dalam setiap jaringan, maka mereka membuat jaringan sendiri, yaitu jaringan para pengambil-keputusan untuk menentukan dan mengatur program dalam jaringan. Kekuasaan ini untuk memastikan pencapaian sasaran jaringan, misalnya untuk menarik audiens atau mendapatkan keuntungan.

Relasi kekuasaan antara jaringan korporasi multimedia dengan masyarakat secara luas bertujuan pada pembentukan budaya baru berdasarkan nilai-nilai dan keinginan para pemilik korporat dan para sponsornya. Namun sesungguhnya, jangkauan relasi kekuasaan adalah lebih luas dan melibatkan, secara umum, relasi kekuasaan politik, yang menyediakan akses ke lembaga-lembaga pemerintahan. Dijelaskan juga dalam bab-bab sebelumnya bahwa berbagai jaringan komunikasi adalah sangat penting untuk konstruksi kekuasaan politik.

Programmers dan Switchers adalah para aktor sosial pemegang kekuasaan masyarakat jaringan, namun tidak bersifat individual, melainkan bersifat jaringan juga. Namun siapa sebenarnya mereka ini, untuk mengetahuinya Castell menganjurkan supaya:

  •  mencari relasi antara jaringan komunikasi korporat, jaringan finansial, jaringan kebudayaan, jaringan teknologi, dan jaringan  poliik
  • melakukan analisis jaringan global dan jaringan lokal mereka
  • melakukan identifikasi kerangka/pola komunikasi dalam jaringan yang membentuk pola pikir publik
  • terus gunakan pikiran kritis untuk melatih cara pikir dalam dunia yang secara budaya telah terpolusi.

Konklusi yang paling penting dalam buku ini adalah bahwa konstruksi otonom terhadap pemaknaan hanya bisa terjadi bila kebebasan jaringan komunikasi internet tetap dijaga, meskipun akan sulit karena pemegang kekuasaan dalam masyarakat jaringan mempunyai misi untuk mengatur pola pikir publik melalui pemograman relasi antara komunikasi dan kekuasaan.

Read Full Post »

Judul: That Used To Be Us
Penulis: Thomas L. Friedman, Michael Mandelbaum
Tebal Buku: 380 halaman
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun: 2011

‘If you see something, say something’, adalah judul bab 1 pada Bagian 1 The Diagnosis, yang berisi maksud penulisan dan intisari buku ini. Kedua penulis beranggapan bahwa kondisi Amerika saat ini sedang mengalami penurunan secara perlahan. Berbagai komentar yang menunjukkan bukti kemajuan ekonomi dan ethos kerja Cina serta ketertinggalan AS banyak dikutip dalam bab ini. Ada empat gejala besar penurunan ini:
1. Menggunakan terminologi doktrin strategik ‘dogfight’, OODA (Observe, Orient, Decide, Act), Amerika saat ini sangat lambat menggunakan OODA sehingga mudah kalah dalam ‘dogfight’.
2. Dalam 20 tahun terakhir, AS telah gagal menyelesaikan banyak masalah besar yang semakin memburuk, seperti pendidikan, defisit/hutang, energi dan perubahan iklim.
3. AS kehilangan semangat nilai-nilai kebesaran pendiri bangsanya
4. AS belum bisa memperbaiki kekuatan dan semangatnya karena sistem politiknya yang lemah dan sistem nilainya telah tergerus.

Buku ini menjadi penting dan mendesak karena AS tidak lagi mempunyai cukup waktu dan sumber daya seperti duapuluh tahun yll, ketika budget defisit dan semua masalah besar sangat terkendali. Namun, investasi dalam bidang pendidikan, infrastruktur, RnD, juga keterbukaan pada imigran berpotensi dan perbaikan sistem ekonomi, sangat mendesak untuk ditindaklanjuti.

Berakhirnya Perang Dingin, memaksa AS untuk menghadapi empat tantangan besar yang akan menentukan masa depannya, yaitu:
1. Bagaimana beradaptasi dengan globalisasi
2. Bagaimana mengatur revolusi teknologi informasi
3. Bagaimana mensiasati defisit
4. Bagaimana mensiasati sekaligus antara kebutuhan energi yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim

Setiap tantangan harus dihadapi secara nasional, tidak cukup hanya oleh pemerintah saja, dan kesuksesan menghadapinya akan menentukan besaran dan bentuk pertumbuhan ekonomi.

Bagian 2 The Education Challenge
Bagian ini dibuka dengan bab ‘Up In The Air’, sebuah film tentang profesi pemecatan karyawan, yang dibintangi oleh George Clooney. Pesan dari film ini adalah ‘tidak seorangpun merasa aman’, bahkan sang ahlipun bisa tergantikan oleh teknologi. Konvergensi globalisasi dan teknologi bisa menggilas siapapun.

Merger antara Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi telah merubah banyak hal, dan mampu menciptakan pasar dan realitas politik baru hanya dalam sekejap. Hal ini telah membentuk politik semakin transparan, dunia semakin terhubung (‘The Wold is Flat’, T. Friedman), diktator semakin terancam dan individual atau kelompok semakin berdaya.

Ketidakamanan pekerja AS hanya bisa diatasi dengan kemampuan berinovasi yang didukung oleh pendidikan yang lebih baik. Ekonomi yang sehat tidak hanya disebabkan oleh efisiensi dan produktifitas yang semakin tinggi, namun juga oleh berbagai inovasi. Saat ini AS sangat membutuhkan sebanyak mungkin pencipta dan penyedia jasa yang kreatif. Sebagian menemukan produk-produk baru, lainnya bisa memperbanyak pekerjan-pekerjaan sejenis. Dalam sektor jasa, mampu memberikan layanan jasa rutin dengan sentuhan ekstra personal atau dengan cara yang tidak biasa-biasa saja.

Peran pendidikan dalam era Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi, menjadi posisi sentral dalam pandangan penulis, khususnya peningkatan kemampuan matematika, sains, membaca dan kreatifitas, perlu mendapatkan perhatian utama karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebagai kunci ketahanan nasional. Presiden Obama, “negara kita yang kurang pendidikan saat ini, akan tidak mampu berkompetisi di masa datang”.

Menurut penulis, AS masih belum sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan adalah investasi untuk pertumbuhan nasional dan ketahanan nasional. Selama ini pendidikan masih dianggap sebagai isu lokal, bukan nasional, sementara saat ini sudah tidak penting lagi posisi tingkat kualitas pendidikan antar negara bagian AS, melainkan posisi tertinggi diantara negara-negara lain didunialah yang harus jadi target kualitas pendidikan.

Bagian 3, The War On Math and Physics

Dalam bagian ini, penulis banyak membahas tentang kondisi finansial AS dan pilihan-pilihan teknis ekonomi, antara pemotongan budget tahunan, penundaan/pembatalan berbagai program nasional, atau investasi cerdas untuk masa depan.

Menurutnya, penyebab defisit dan hutang yang tinggi adalah kombinasi antara resistensi Republikan untuk menaikkan pajak, dan resistensi Demokrat untuk memotong belanja negara, juga keterlibatan AS di perang Irak dan Afganistan, ditambah lagi dengan sistem finansialnya yang lemah hingga runtuhnya ekonomi AS pada 2008 yang lalu.

Opini David Stockman, di The New York Times, yang dikutip penulis, menyatakan bahwa Cina adalah ancaman terbesar, karena terus meningkatkan ekspor dan membanjiri AS dengan produk negerinya, juga karena terus memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan cara membeli Surat Berharga AS, yang berakibat menguatnya harga dollar terhadap Yuan, yang diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen AS untuk terus membeli produk Cina. Strategi Cina dalam peningkatan industri ekspor ini tidak hanya untuk kepentingan pemenuhan semakin tingginya pencari kerja di negerinya, namun juga dalam upaya membuat ketergantungan terhadap produk industri Cina.

Masalah serius akan muncul bila Cina menghentikan pinjaman secara tiba-tiba, sehingga AS terpaksa harus memilih untuk melakukan :
1. Meningkatkan bunga kredit untuk menarik modal, yang berakibat turunnya aktifitas ekonomi, atau
2. Mencetak uang untuk menutup defisit, yang bisa berakibat inflasi, atau
3. Melakukan kombinasi kenaikan pajak dan pengurangan belanja.

Pilihan ke-3 sepertinya adalah yang paling optimal, meskipun tetap bukan pilihan yang nyaman. Yang juga merepotkan adalah, disaat AS terus berharap bahwa Cina tidak menyerang Taiwan, karena AS sudah berkomitmen untuk tetap melindungi Taiwan dari serbuan Cina, AS masih meminjam uang yang sangat besar dari Cina. Tersandera.

Bab 4 Political Failure
Tentang politik, pada bab ‘Shock Therapy’, penulis menawarkan penguatan partai ke-3 yang mendukung calon independen. Diharapkan dengan semakin membesarnya konstituen partai independen, yang walaupun sulit untuk menang di AS, setidaknya bisa mendesakkan tambahan agenda perubahan terhadap kedua partai besar, yang cenderung berperilaku seperti ‘supermarket’ yaitu menjual semua kebutuhan konsumen. Lebih tepatnya, partai independen bisa mencoba berperilaku sebagai ‘minoritas berkuasa’ yang mempunyai posisi tawar untuk diperebutkan terhadap kedua partai besar.

Pertanyaan akhir penulis bagi bangsa AS yang menarik adalah, “Apakah ini semua akan happy ending?”. Jawabnya adalah, “Bergantung pada bangsa AS itu sendiri, untuk menentukan apakah ini cerita fiksi atau non-fiksi”.

Bangsa AS menyadari sepenuhnya bahwa sebagai bagian dari ‘happy-ending’ adalah kepedulian bahwa ada sesuatu yang salah urus, yang diperlukan adanya perubahan, dan bangsa AS adalah agen perubahan itu sendiri. AS perlu untuk terus belajar keras, menyimpan lebih banyak, mengurangi belanja, investasi lebih bijak dan kembali pada nilai-nilai yang bisa membangun kejayaan seperti masa lalu.

Read Full Post »

Judul: JUSTICE, What’s the right thing to do?
Penulis: Michael J. Sandel
Tebal Buku: 308 halaman
Penerbit: Farrar, Strauss and Giroux; New York
Tahun: 2009

Buku menarik ini berisi ‘rekaman’ kuliah umum filsafat politik oleh Professor Michael Sandel di Universitas Harvard yang sangat digemari hampir ribuan mahasiswanya. Ada duabelas file video ‘live’ kuliah ini, termasuk diskusi dengan mahasiswa, yang masing-masing berdurasi satu jam, juga bisa diunduh gratis dari youtube.com atau itunes.apple.com.

Hal yang menarik dari Justice adalah ‘mengganggu’ nurani sekaligus visi pembaca untuk selalu mempertanyakan secara kritis dari banyak sisi tentang Keadilan sebagai buah kebijakan manusia sehari-hari untuk memenuhi kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat modern. Judul-judul bab dalam buku ini sejak awal halaman memang merangsang untuk terus ingin mengetahui isinya, selain isi antar bab memang berkaitan dan menerus. Beberapa yang menarik misalnya: Doing The Right Thing, The Greatest Happiness, Do We Own Ourselves?, Who deserve what?

Beberapa hal yang dibahas dalam kuliah ini adalah tentang SARA (affirmative action), tindak kanibal, perkawinan sejenis, pasar bebas, pajak si kaya untuk si miskin, aborsi, euthanasia, hak individual vs kepentingan umum, dll. Contoh kasus-kasus di atas digunakan Sandel untuk menguji konsep Keadilan dan Moral dari para filsuf moral mulai dari Aristoteles hingga Immanuel Kant, John Rawls dan Aristoteles.

Sandel membedakan tiga pendekatan (Three Ways of Thingking) terhadap Keadilan, yaitu pertama, Utilitarian, yang menyatakan bahwa untuk mendefinisikan Keadilan dan untuk melakukan hal yang Benar adalah dengan memaksimalkan kesejahteraan atau kebahagiaan kolektif masyarakat. Kedua, adalah Kebebasan memilih (freedom), Libertarian memberikan contoh tentang Pasar Bebas (free market), tanpa keterlibatan pemerintah. Ketiga, adalah pendekatan Nilai Luhur yaitu memberikan pada yang berhak.

Beberapa contoh kasus Keadilan yang muncul di bagian awal buku ini yang didekati dengan tiga hal di atas. Pertama, tentang mahalnya barang-barang kebutuhan rumahtangga di New Orleans setelah badai Katrina meluluhlantakkan kota itu (price gouging). Apakah pedagang berhak menentukan harga semaunya, hanya berdasar Hukum Ekonomi semata (penawaran-permintaan)? Bagaimana peran pemerintah? Bagaimana tanggungjawab sosial? Kedua, tentang penghargaan Purple Heart bagi tentara AS yang mengalami cacat fisik di medan perang. Mengapa ‘cacat’ psikis, yang seringkali mengakibatkan trauma perang tidak mendapatkan penghargaan serupa? Apakah cacat psikis bukan pengorbanan atau tidak menunjukan sikap patriotik? Terakhir tentang kucuran dana pemerintah (bailed out) saat krisis finansial 2008. Mengapa para CEO lembaga keuangan AS justru mendapat ‘reward’ berlebihan justru saat mereka tidak mampu mengendalikan runtuhnya finansial AS? Mengapa masyarakat AS justru menanggung beban melalui penggunaan pajak akibat ulah para CEO?

Kasus pertama (price gouging), kelangkaan barang di New Orleans, setelah badai Katrina, membuat pedagang meningkatkan harga barang/jasa semaunya untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Pasar ideal yang Adil mensyaratkan adanya unsur maksimalisasi Kesejahteraan (welfare) bagi para pedagang melalui keuntungan dan Kebebasan (freedom) memilih dalam transaksi bagi konsumen berdasar informasi yang benar serta didasari Nilai luhur (Virtue) dalam bertransaksi. Persoalan Keadilan muncul ketika perdagangan hanya memenuhi unsur maksimalisasi Kesejahteraan pedagang namun tidak didasari Kebebasan konsumen untuk memilih, berhubung bencana alam menyebabkan situasi darurat dan kemiskinan, dan jelas perilaku keserakahan mencederai Nilai keluhuran masyarakat.

Kasus Kedua tentang Penghargaan Purple Heart ini muncul ketika semakin banyak korban perang di Afganistan dan Irak yang menderita mimpi buruk setiap hari, depresi akut, bahkan bunuh diri; sementara penghargaan hanya diberikan pada korban meninggal dan cacat fisik. Keadilan dipertanyakan berdasar Nilai Keluhuran pengorbanan yang dirasakan setara bagi penderita cacat psikis dan cacat fisik. Berbeda dengan medali militer, medali Purple Heart ini diberikan pemerintah AS sebagai penghargaan Pengorbanan, bukan Keberanian, sehingga alasan bahwa cacat psikis diakibatkan oleh ketakutan di medan perang sungguh tidak dapat diterima. Berdasar logika moral teori Keadilan Aristoteles, maka tidak bisa ditentukan siapa yang berhak menerima medali tanpa lebih dulu mempertanyakan Nilai-Nilai Luhur Pengorbanan seperti apa, yang bisa diberi penghargaan (teleologikal).

Kasus Keadilan ketiga adalah tentang Bailout, saat institusi keuangan AS mengalami kebangkrutan di tahun 2008-2009. Para CEO AS membela diri bahwa ini disebabkan oleh faktor eksternal dan mereka telah berbuat semaksimal mungkin dan gagal. Kemarahan masyarakat AS mencuat karena ketidak-adilan dirasakan akibat dana bailout banyak dipergunakan untuk Kesejahteraan para CEO yang dianggap tidak layak menerimanya karena tidak ada Nilai Keluhuran yang diperbuatnya. Masyarakat mempertanyakan, bila ‘faktor eksternal’, bukan kesalahan CEO, dianggap sebagai penyebab keruntuhan, mengapa ‘faktor eksternal’ sebagai penyebab kesuksesan finansial dianggap sebagai kesuksesan para CEO tersebut?

Kritik Utilitarianisme (Bentham)
Pendekatan Utilitarianisme, dengan sifatnya yang mengutamakan sisi kuantitatif daripada kualitatif, tanpa sadar sering kali menjadi praktek penyelesaian masalah sosial di jaman modern sekarang ini, yang berimplikasi terjadinya ketidakadilan moral. Metoda Cost-Benefit analysis untuk menyelesaikan kasus-kasus lingkungan/sosial adalah turunan dari teori pemikiran Utilitarian ini. Salah satu contoh kasus dilema moral dengan pendekatan Utilitarian yang diberikan Sandel adalah The Runway Trolley.

Kisah ini mengandaikan pembaca sebagai pengendara lori yang sedang berjalan turun dengan cepat dengan rem yang tidak bekerja. Di ujung depan rel lurus itu sedang ada lima pekerja yang sedang memperbaiki rel, yang bila tertabrak, pasti akan fatal akibatnya, tewas. Namun, ada kemungkinan membelokkan lori ke cabang rel sebelahnya dengan resiko menabrak satu orang penjaga rel, yang juga berakibat fatal, tewas. Apa yang akan anda lakukan? Hampir semua orang yang melihatnya akan berteriak “banting setir!!”, seolah setuju bahwa menewaskan satu orang lebih baik daripada lima orang.
Dengan mengubah sedikit cerita, rekomendasi akan berbeda. Seandainya pembaca berdiri berdua dengan penjaga rel yang berbadan besar, di rel sebelah dan kali ini lori, yang dikendarai orang lain, tidak dapat dibelokkan namun tetap melaju cepat ke arah lima pekerja. Mengetahui bahwa lori akan menewaskan lima pekerja, dan tubuh anda tidak cukup kuat menahan laju lori, maka anda mendorong penjaga rel yang berbadan besar itu hingga jatuh di atas rel dan menghalangi laju lori, dan menewaskannya. Lima pekerja selamat. Hampir semua pembaca pasti tidak membenarkan keputusan anda untuk mengorbankan penjaga rel.

Mengapa pilihan keputusan pada kasus kedua tidak dibenarkan, sedangkan dua kasus tersebut persis sama, mengorbankan satu orang untuk keselamatan lima orang?

Contoh kasus lainnya, yaitu pembunuhan bersama terhadap satu orang penumpang sekoci dan memakannya, untuk mempertahankan hidup di tengah laut; kasus melemparkan manusia ke tengah gelanggang untuk diadu dengan singa dijaman kekaisaran Roma sebagai hiburan masyarakat; kasus ‘the city of happines’ yaitu mengucilkan seorang anak gadis yang terganggu mentalnya dengan maksud supaya tidak mengganggu masyarakat; diajukan Sandel untuk menguji teori Keadilan Utilitarian, yang dicirikan dengan prinsip utamanya yaitu kebahagiaan tertinggi (to maximize happiness) sekaligus mengurangi penderitaan/ketidak nyamanan, meskipun harus mengorbankan minoritas. Dari sisi Keadilan Utilitarian, tiga kasus di atas (masih ada beberapa contoh lainnya) jelas memenuhi prinsip Utilitarian, yaitu demi memprioritaskan ‘kebahagiaan tertinggi’, namun apakah secara moral bisa diterima?

Komentar para mahasiswa tentang kasus dilema moral ini beragam dan menarik untuk direnungkan. Masih ada beberapa contoh kasus dilema moral diberikan Sandel dalam buku ini, yang juga dapat dilihat langsung selengkapnya di youtube.com.

Kritik Utilitarian menurut Sandel menyangkut dua hal, yaitu:
1. Hak-Hak Individual
2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang (cost and benefit ratio analysis)

1. Hak-Hak Individual
Pendekatan Utilitarian dianggap tidak menghargai Hak individual. Interogasi para tahanan terorisme dengan cara menyiksa untuk mendapatkan informasi rencana pemboman, demi melindungi keselamatan publik, adalah salah satu contoh yang diberikan Sandel tentang pelecehan Hak Individual.

2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang
Cost benefit Analysis adalah bentuk praktek Utilitarian yang yang secara teknis biasa dipergunakan oleh pemerintah atau perusahaan besar untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan persoalan sosial/lingkungan dengan cara memberikan bobot nilai numerik terhadap variabel kulitatif, sehingga memudahkan perhitungan. Contoh: Cost-Benefit analysis yang dilakukan Phillip Morris di Czech memberikan hasil bahwa pemerintah Czech banyak mendapat keuntungan finansial dengan banyaknya perokok muda di negaranya, karena akan banyak warga meninggal pada usia muda sehingga mengurangi biaya asuransi kesehatan, perumahan dan pensiun, selain pendapatan dari pajak rokok tentunya. Sikap Utilitarian ini jelas melecehkan Nilai Luhur kehidupan manusia seperti penderitaan karena penyakit, penderitaan keluarga dan kematian itu sendiri.

Libertarian
Dalam hubungannya dengan Pasar, Libertian sangat tidak mendukung keterlibatan pemerintah untuk turut campur mengaturvnya. Ciri utama Libertarian adalah mendewakan Kebebasan (freedom of choice) dan prinsip-prinsip dasarnya adalah:
1. No Paternalism, menolak campur tangan pemerintah untuk mengatur keselamatan individu dalam beraktifitas, selama tidak mengganggu pihak lain
2. No Morals Legislation, menolak campur tangan pemerintah untuk menilai moral individu dalam menentukan kebijakan
3. No Restribution Income or Wealth, menolak kebijakan pemerintah untuk mengatur ‘subsidi silang’ (mengambil dari yang berlebih untuk yang kekurangan).

Menurut Sandel, kaum Libertarian ini biasa dilekatkan terhadap kelompok konservatif di AS, yang umumnya berada di Partai Republik. Beberapa pendukungnya, adalah Milton Friedman (Capitalism and Freedom), Friederich Hayek (The Constitution of Liberty) dan Robert Nozik (Anarchy, State and Utopia).

Libertarian menolak pajak karena dianggap pemerasan tenaga-kerja atau pelanggaran hak individual untuk mendapatkan kebahagiaan tertinggi dari pendapatannya. Selanjutnya, upah adalah hak pekerja atas hasil jerih-payahnya, bukan hak pemerintah untuk mengambil sebagian melalui pajak, apalagi hak yang tak berpunya. Dengan demikian, bisa dimengerti sikap Partai Republik AS saat ini yang sangat resisten terhadap upaya Obama menaikkan pajak pendapatan. Contoh lain adalah apakah seseorang berhak membeli ginjal orang lain, melalui kekayaan dan kebebasannya, untuk maksud kesenangan belaka? Apakah seseorang bebas menentukan hidup-matinya sendiri (euthanasia)?

Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, moralitas bukanlah mencari kebahagiaan tertinggi (utilitarian), melainkan menghormati kemanusiaan sebagaimana adanya (to respect humanity as an end in itself); dan tindakan disebut bermoral bukanlah karena menghasilkan kebaikan, tetapi karena niat (motif) baik itu sendiri, tanpa ‘pamrih’ atau maksud lain. Penjaga toko membatalkan maksudnya untuk menaikkan harga mainan yang akan dibeli seorang anak, yang tidak mampu menawar, karena khawatir bila ketahuan oleh publik akan membuatnya ditinggalkan pelanggan. Menurut Kant, tindakan penjaga toko tersebut adalah baik namun kurang bermoral karena ada ‘pamrih’ di dalamnya, keuntungan bisnis.

Aristoteles
Menurut Aristoteles, Keadilan adalah memberikan pada yang berhak. Tentang politik ia berpendapat bahwa politik berguna untuk membentuk masyarakat yang baik, serta meninggikan kebenaran.

Kritik Sandel tentang moral untuk Aristoteles adalah pernyataannya bahwa sebagian orang memang dilahirkan sebagai ‘budak’, yang lebih baik dipimpin/dimiliki oleh ‘tuan’nya. Mungkinkah pemikiran Aristoteles belum bisa lepas dari jamannya?

Pada bab terakhir berjudul ‘Justice and The Common Good’, Sandel kembali menegaskan bahwa Maksimalisasi Kesejahteraan dan Kebebasan Memilih, tidak cukup untuk mencapai masyarakat yang ‘baik’ (secara moral, etika dan hukum dapat dibenarkan), melainkan hanya pendekatan Nilai Luhur (cultiviting virtue), maka keadaan tersebut bisa dicapai. Untuk itu perlu ada kesepakatan dan cita-cita bersama tentang masyarakat yang ‘baik’ dan membangun kultur masyarakat yang memberi ruang terhadap adanya perbedaan.

Membaca buku ini hingga selesai dan merefleksikannya terhadap kehidupan kita di negeri ini, akan memunculkan renungan keadilan moral seperti:
– Apakah adil bila pemerintah terus melakukan import beras, bawang merah, daging demi memenuhi kebutuhan Nasional, namun disaat yang sama menjatuhkan harga barang di petani?
– Apakah adil bila pemerintah terus memproduksi kendaraan bermotor demi meningkatkan pendapatan nasional, namun di saat yang sama jalan raya tidak ditambah/diperbaiki?
– Dan lain-lainnya..

Read Full Post »

George Soros: “This brilliant book will add greatly to our understanding of the future of the world economy”.

Judul: Capitalism 4.0
Penulis: Anatole Kaletsky
Tebal Buku: 365
Penerbit: PublicAffairs
Tahun: 2010

Buku ini ditulis oleh Kaletsky, kolumnis dari the Times of London, pada tahun 2009 ketika ekonomi AS mulai bangun dari krisis ekonomi 2008 ketika Lehman Brothers terjerembab. Saat itu, bukan hanya bank atau institusi pembiayaan saja yang runtuh, namun juga filosofi politik dan sistem ekonomi kapitalisme, yang selama ini diyakini kebenarannya di sebagian besar belahan dunia ini mulai dipertanyakan. Meskipun globalisasi tak terelakkan, trauma resesi 2008 tak akan mudah terlupakan karena efek domino biaya ekonomi masih berjalan khususnya dalam hal setoran pajak, budget pemerintah, pengangguran, frustasi kepemilikan rumah dan investasi di seluruh dunia.

Menurut Kaletsky, kapitalisme global tidak runtuh, ekonomi AS, Inggris, dan sebagian besar Eropa telah bangkit lagi. Bahkan Dunia Baru yang dipimpin China bisa dianggap tidak terkena resesi dan malah menikmati pertumbuhan ekonomi. Prediksi akan terjadinya Great Depression II, 2010, ternyata tidak terbukti, justru yang terjadi adalah kebangkitan ekonomi, Great Transition, bila dibandingkan dengan masa transisi 40 tahunan dari era Kynesian ke Reagan/Thatcher atau transisi dari era pasar bebas klasik ke era Keynesian, New Deal. Ini bukan hanya perubahan antara regulasi vs pasar, namun juga perubahan ide-ide fundamental politik dan ekonomi. Meskipun ekonomi global dan sistem finansial telah selamat dari krisis, namun disadari akan kebutuhan munculnya model baru kapitalisme, karena tanpa reformasi fundamental kapitalisme, bisa terjadi krisis finansial di masa depan yang lebih berat. Kapitalisme 4.0 adalah prediksi yang diharapkan akan muncul sebagai sintesis proses dialektika antara kapitalisme mazhab ekonomi regulasi/publik vs pasar.

Kapitalisme 1
Kapitalisme 1 ini dimulai dari 1776, sejak Declaration of Independence dan lahirnya ‘The Wealth of Nations’ oleh Adam Smith. Pada periode ini, yang berlangsung hingga 150 tahun, diyakini bahwa ekonomi dan politik adalah dua aktifitas manusia yang sangat berbeda. Intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi sangat intensif, khususnya dalam hal perdagangan dan pajak untuk perlindungan industrial demi kepentingan nasional, misalnya industri tekstil dan perkebunan. Kesuksesan Kapitalisme fase 1 ini dimulai sekitar 1870an ketika perang sipil AS berakhir dan perbudakan dihapuskan pada 1865. Revolusi Industri II dengan kemajuan teknologi kelistrikan, kimia dan perminyakan juga dimulai pada periode ini. Namun pada saat yang sama, ancaman terhadap kapitalisme klasik juga mulai muncul, ditandai dengan publikasi Das Kapital oleh Karl Marx (1867), dan mulai munculnya serikat pekerja. Prediksi Marx bahwa kapitalisme akan runtuh karena kontradiksi internal di dalam sistemnya terbukti benar, dimulai dengan keresahan oleh kelompok menengah, golongan intelektual. Bencana finansial hiperinflasi di Weimar, Jerman dan ‘Great Depression’ menandai munculnya spesies baru, Kapitalisme 2.

Kapitalisme 2
Kapitalisme baru ini menemukan bentuknya setelah Roosevelt terpilih sebagai Presiden AS pada 1932 dan munculnya konsep ekonomi Keynes, ‘General Theory’, 1936. Karakter dari kapitalisme periode ini adalah bahwa tanpa keterlibatan pemerintah akan menyebabkan ketidak-stabilan atau kehancuran ekonomi. Masa keemasan ekonomi Keynesian adalah 1946-1969, dalam hal standard hidup, kemajuan teknologi dan stabilitas finansial. Kemerosotan sistem kapitalisme ini ditandai dengan tingginya inflasi karena pembiayaan program Kesejahteraan Sosial dan Perang Vietnam dimasa Lydon Johnson, sementara di Inggris, Itali, Perancis dan Jerman juga mengalami inflasi dan terorisme, baik oleh ekstrim kiri maupun kanan. Puncak kesulitan muncul saat embargo Arab sehingga menaikkan harga minyak empat kali lipat, yang mengakibatkan terjadinya ‘stagflasi’, bencana ekonomi.

Kapitalisme 3
Spesies kapitalisme baru ini muncul dengan terpilihnya Margareth Thatcher, 1979 dikuti dengan kemenangan Ronald Reagen dari partai Republik, 1980. Motor ekonomi pada era ini adalah Milton Friedman dengan ‘moneterisme’nya, yang berasumsi bahwa kebebasan pasar yang kompetitif dan tidak ‘terganggu’ oleh negara, akan menyebabkan keseimbangan ekonomi kapitalis, efisiensi, stabilitas dan penyerapan tenaga kerja. Runtuhnya Kapitalisme 3 dengan kebebasan pasar ini ditandai dengan hancurnya institusi pembiayaan Lehman Brothers di tahun 2008.

Kaptalisme 4.0.
Alih-alih memisahkan Pasar dari Negara, pada tahap Kapitalisme 4 ini justru harus mempererat hubungan keduanya. Dengan acuan Demokrasi Barat, masalah keseimbangan antara kebutuhan publik vs personal/individual, perlu menjadi prioritas perhatian untuk menghadapi tantangan kapitalisme model China.
Pada tahap ini, Kaletsky berpendapat bahwa:
– Pasar perlu lebih mempertimbangkan situasi ekonomi dan politik, daripada hanya berdasar pada kondisi pasar itu sendiri
– Bisnis perlu mempertimbangkan visi/misi yang lebih luas daripada sekedar mencari keuntungan finansial belaka
– Manajemen/Investor perlu menemukan cara baru untuk menganalisis target-target finansial/politik sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana ekonomi

Dalam buku ini Kaletsky juga banyak menjelaskan sisi Politik, Keuangan dan Perbankan, yang perlu dilakukan untuk menjaga kesuksesan Kapitalisme 4.0. Kondisi ekonomi Eropa, yang tidak banyak berbeda dengan AS, juga mendapat perhatian penulis, termasuk analisis tentang Kapitalisme China dan kritik dari kelompok Kiri.

Dalam Bab Penutup, Kalitsky berpendapat bahwa langkah reformasi keseimbangan pasar-negara, sesuai dengan Kapitalisme 4.0 ini, berjalan dengan lambat, bahkan masa transisi ini bisa berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Membangun ‘trust’ secara terus-menerus dalam dunia yang tidak pasti, membutuhkan sebuah evolusi komunikasi dengan semua pemangku kebijakan secara berkesinambungan.

Apapun kategori kapitalisme yang dimaksud penulis, jelas terlihat bahwa telah terjadi pergeseran atau pengingkaran kapitalisme dari Kanan ke Tengah, dengan thesisnya yang bisa disimpulkan bahwa keterlibatan Negara dalam Pasar Bebas adalah PERLU.

Read Full Post »

Liberalisasi ekonomi China dg jargon ‘Capitalism with Chinese Characteristic’ bermuara terjungkalnya Zhao Ziyang di Tiananmen.

Judul: Prisoner Of The State, The Secret Journal Of ZHAO ZIYANG
Tebal buku: 331 halaman
Penerbit: Simon and Schuster
Tahun: 2009

Buku ini merupakan penulisan ulang journalistik suara (audio journal), yang dibuat sendiri oleh Zhao Ziyang pada tahun 2000, sebanyak 30 kaset dan masing-masing berdurasi 60 menit, saat di ‘tahanan rumah’ dan diselundupkan keluar melalui sahabat-sahabatnya. Menurutnya, audio journal ini dimaksudkan sebagai rekaman sejarah, khususnya saat kekacauan Peristiwa Tiananment. Beberapa saat setelah wafatnya, satu set kaset rekamannya (original copy) ditemukan di ruang main cucunya.

Zhao menghabiskan hidupnya selama 16 tahun dalam tahanan rumah sejak peristiwa Tianmen dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng Xioping hingga wafatnya, 2005.

Meskipun hanya bercerita dalam kurun waktu tiga tahun sebelum kejatuhannya, namun memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan di puncak kekuasaan Partai Komunis Cina yang selama ini sangat tertutup, bahkan untuk masyarakat China sendiri. Dengan jelas Zhao menceritakan tentang kekuasaan para pejabat partai, intrik politik, faksi dalam partai, praktek pemerintahan, implementasi dari ideologinya dan tentu saja resiko para anggota partai yang berkeinginan melakukan perubahan secara Liberal.

Menurut editor buku dalam Kata Pengantarnya, sistematika penyajian tidak sepenuhnya mengikuti urutan rekaman kaset, dimaksudkan untuk menghilangkan repetisi dan mempermudah pembacaan, namun tetap saja di beberapa bagian terjadi pengulangan dan lompatan waktu kejadian. Ada enam bab besar, dimulai dengan saat Peristiwa Pembantaian Tiananmen sebagai alasan utama runtuhnya kekuasaan Zhao Zhiyang, dilanjutkan dengan bab-bab tentang konflik politik di pucuk pimpinan PKC tentang reformasi ekonomi politik yang bermuara pada peristiwa Tiananmen hingga jatuhnya Zhao Zhiyang sebagai lokomotif reformasi. Masing-masing bab besar dibagi lagi dengan bab-bab kecil.

Dalam Kata Pengantar, sang editor bercerita sedikit tentang sejarah Zhao yang mulai ‘terlihat’ ketika sukses memimpin partai di Guangdong, 1965, dan sabagai salah satu korban Revolusi Kebudayaan, dia harus bekerja di pabrik mesin di provinsi Hunan bersama seorang anaknya (dari lima anak) dan tinggal di apartemen kecil dengan kopor di ruangan tengah sebagai meja makan. Mao telah merehabilitasinya dan menempatkannya sebagai pimpinan partai di Mongolia. Cerita sukses Zhao memimpin di berbagai daerah, termasuk provinsi Sichuan, 1975, membuatnya dikenal dengan ungkapan “yao chi liang, zhao Ziyang” (bila anda ingin makan, carilah Ziyang).

Aktor-aktor penting yang terlibat dalam intrik politik tentang Reformasi China adalah Chen Yun (arsitek ekonomi Cina dimasa Mao dengan program ‘Five-Year Plan System’nya, Li Xiannian (senior yang membantu Zhou Enlai dalam Cultural Revolution), Li Peng (Perdana Menteri, pengganti Zhao) di sisi oponen dan Zhao Ziyang, Hu Yaobang (Sekjen PKC yang dilengserkan Deng, digantikan Zhao) dan Deng Xioping di sisi Reformis.
Ada pertentangan pendapat tentang penyebab ekskalasi demonstrasi mahasiswa 1989, pertama, versi partai, adalah pidato Zhao (SekJen Partai) di forum Asian Development Bank, 26 April 1989, yang memberi ‘angin’ terhadap mahasiswa dengan pernyataannya bahwa mahasiswa tidak anti sistem, melainkan tidak puas terhadap pemerintah karena banyaknya kasus korupsi. Kedua, versi Zhao, pernyataan Deng yang didukung Li Peng (Premier) bahwa mahasiswa telah anti Partai dan anti sosialis.

Menurut Zhao, aksi mahasiswa yang dimulai April 1989 saat pemakaman Hu Yaobang, sebetulnya dipicu rasa hormat terhadap simbol Reformis, Hu Yaobang, yang juga dianggap bersih dari korupsi, kemudian rasa kecewa karena pelengserannya dari posisi Sekjen PKC dan penghentian program reformasi setelah jatuhnya Hu, 1988. Usaha Zhao untuk dialog dengan demonstran selalu mendapat halangan, bahkan sabotase dari kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk.

Situasi politik yang sangat genting (dengan gamblang diceritakan dalam Bab 1) di internal puncak partai tentang penanganan demonstrasi yang semakin membesar (ratusan ribu) antara Zhao Ziyang (cara dialog) yang tidak banyak pendukung dengan kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk. (cara penangkapan), akhirnya membuat Deng Xioping, sebagai pimpinan Pusat Badan Penasihat (Central Advisory Commision) dan anggota Politbiro Standing Commitee, yang mempunyai kekuasaan sangat tinggi, meskipun tidak duduk dalam struktur pemerintahan, memutuskan bahwa motif demonstrasi adalah Anti Partai dan Anti Sosialisme seperti yang dilansir koran People’s Daily 26 April 1989, dan aparat keamanan perlu dikerahkan untuk memadamkan demonstrasi karena negara sudah dalam keadaan darurat. Li Peng (Perdana Menteri), Yang Shangkun (Presiden) dan Qiao Shi ditunjuk sebagai tim pelaksana. Seperti kita tahu, akhirnya banyak korban berjatuhan dalam peristiwa ini.

Dengan keputusan Deng tersebut maka ini berarti keruntuhan Zhao Zhiyang, yang sejak saat itu dirumahkan, tanpa proses peradilan yang sesuai dengan peraturan partai, dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng (wafat Feb 1997), hingga wafatnya 2005.

Tentang Reformasi Ekonomi, atas ide Deng dan dimulai oleh Hu Yaobang (Sekjen Partai), banyak sekali terobosan politik dan kebijakan yang telah dilakukan Zhao seperti Pertanian berbasis keunggulan daerah, Zona Ekonomi Khusus (Shenchen, Zhuhai dan Xiamen) dll., meskipun terus ditentang para oponen senior partai. Reformasi ini juga mengakibatkan jatuhnya Hu Yaobang, SekJen PKC (menurut Zhao karena terlalu progresif), karena dianggap melawan prinsip “The Four Cardinal Principles” (jalan sosialis, diktatorial demokrasi rakyat, pimpinan PKC dan ajaran Marxist, Leninist, Mao) dan menyebabkan masuknya pemikiran liberal pada para intelektual partai, sehingga Deng merasa perlu untuk mengadakan kampanye ‘Anti-Spiritual Pollution’. Perlindungan dan dorongan Deng lah yang menyebabkan Zhao tetap bisa bertahan dengan program Reformasi Ekonominya.

Di akhir bukunya, Zhao menyebutkan bahwa Deng ternyata tidak sungguh berharap adanya Reformasi Politik (modernisasi dan demokrasi), melainkan hanya reformasi ekonomi yang disebutnya sebagai ‘Capitalism with Chinese Characteristic’. Reformasi politik yang dimaksudkan Deng dan baru disadari Zhao dalam tahanan rumahnya ternyata hanyalah reformasi administrasi, yaitu pemisahan antara Partai dan Pemerintah, tapi tetap menolak pemisahan eksekutif, legislatif, yudikatif yang menurutnya adalah bagian dari demokrasi borjuis yang menjadi monopoli para pemilik kapital. Setiap kali Deng bicara reformasi politik, selalu diikuti dengan anti-liberalisasi dan penguatan diktatorial demokrasi rakyat (PKC) sebagai senjata pamungkas yang tak tergantikan untuk menjaga stabilitas politik.

Membaca buku ini sampai akhir serasa membaca novel politik yang kejam tersamar dengan bungkus ‘demi rakyat’ yang penuh dengan jargon-jargon ‘kiri’ yang menggairahkan dengan tokoh utama sebagai korbannya, Zhao Ziyang.

Read Full Post »

A Russian Diary

“They concentrate on the positive and pretend the negative isn’t there”, Anna Politkovskaya.

Judul: A Russian Diary
Penulis: Anna Politkovskaya
Tebal Buku: 370 halaman
Penerbit: Random House, New York
Tahun: 2007

Anna, pemegang paspor Amerika, lahir 1958 di New York, adalah putri seorang diplomat Soviet yang bertugas di UN, belajar Jurnalistik di Moscow State University dan mendapat ‘kemewahan’ untuk akses informasi melalui buku, majalah dan media cetak lainnya, yang dimasukkan ayahnya dari luar negeri. Disertasinya mengenai puisi-puisi Marina Tsvetaeva (tewas gantung diri), yang dilarang oleh Stalin.

Sebagai wartawan harian Novaya Gazeta, Anna, penerima berbagai penghargaan dunia untuk karya jurnalistik dalam penegakan HAM, tewas ditembak dengan tiga peluru di dada dan satu peluru di kepala, 7 Oktober 2006 pada usia 48 tahun di apartementnya, Moscow, karena tulisannya tentang Perang Chechnya dan kritik pedasnya terhadap pemerintahan Putin.

Buku dalam format Diary ini selesai sebelum Anna terbunuh di Moscow, bercerita dalam kurun waktu Pemilu Parlemen 2003 hingga peristiwa pembajakan sekolah Beslan akhir tahun 2005. Sumber data diperolehnya dari berbagai wawancara dengan banyak pihak yang tertindas karena kebijakan Putin, termasuk para ibu dari anak-anak yang tewas saat pembajakan sekolah Beslan, para tentara Russia yang berperang di Chechnya namun ‘ditinggalkan’ pemerintahnya, para militia Chechen dukungan Putin, juga dengan orang-orang yang pernah diculik oleh aparat keamanan. Di pihak lain, Anna juga mewawancarai para veteran dan pimpinan perang Chechen.

Membaca buku ini seperti membuka harta karun berisi informasi langka tentang Russia, di bawah Putin, yang ternyata masih sangat tertutup dan berwajah gelap. Kecurangan, pembunuhan sadis, penculikan yang semuanya bermotif politik, nasionalis sempit dari beberapa partai dan kelompok radikal dengan jargonnya “Russia for the Russians”, dan kebijakan publik yang sangat jauh dari niatan untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan rakyat. Anna menganggap pemerintahan Putin tidak berbeda dengan masa pemerintahan Stalin.

Karya jurnalistik yang sungguh sangat berani tentang nasib rakyat Russia dalam pemerintahan Putin yang represif, kejam dan korup.

Penyajian peristiwa dibagi menjadi tiga Bab dan Penutup, dalam format Diary, yang sesuai dengan urutan waktu. Banyak kutipan wawancara, siaran televisi dan tentu saja juga opini penulisnya.

Bab 1
The Death of Russian Parliamentary Democracy
Dec 2003 – Mar 2004
Bab ini berisi tentang peristiwa masa pemilu parlemen dan pemilu presiden. Segala usaha pemenangan United Russia Party, partai pemerintah Putin, yang dlanjutkan dengan pemilu Presiden diceritakan dengan jelas, bahkan cenderung sinis.

Kecurangan, penculikan, intimidasi, bahkan pembunuhan sadis terhadap pimpinan partai oposisi serta, bom bunuh diri, mewarnai pemenangan Pemilu Parlemen dan Presiden Russia. Posisi sebagai partai pemerintah (incumbent) membuat Putin semakin sewenang-wenang dalam membuat kebijakan tentang Pemilu. United Russia party memanfaatkan birokrat -Mantan pejabat Patai Komunis dan Young Commnist League telah direkrut sebagai pegawai pemerintah- dan politik uang untuk kemenangan Putin.

Menurut Anna, secara ideologis, Duma baru (setelah runtuhnya USSR), lebih berorientasi ke politik tradisional, daripada menuju ke arah demokrasi Barat. United Russia melakukan kooptasi bahwa masyarakat Russia telah dipermalukan oleh Barat, dengan propaganda anti Barat dan anti kapitalis.

Hampir tidak ada seorang demokratpun dalam Russian Parliament, yang mampu melakukan lobi2 demokratis secara konstuktif dan beroposisi dengan benar. Kaum demokrat tidak lagi tertarik untuk ‘menyentuh’ 40% rakyat Russia yg berada di bawah garuis kemiskinan. Kaum demokrat telah diam dan ‘menyerah’ untuk kemenangan Putin.

Partai-partai Pro-Putin menguasai Duma. United Russia menguasai 212 kursi, 65 kursi lainnya adalah “independent” juga pro Kremlin. Konfigurasi di Duma tidak memungkinkan adanya oposisi. “Duma bukan tempat berdebat, melainkan untuk pekerjaan legislasi”, ungkap Putin, setelah kemenangannya.

Meskipun pada 2003, partai United Russia tidak memenuhi cukup suara untuk merubah konstitusi (301 suara dibutuhkan), namun Kremlin selalu punya cara untuk merekayasa mayoritas konstitusional. Peraturan hukum selalu bisa dirubah dengan alasan “in order to avoid destabilizing the situation in the country”.

Pada 24 Desember 2003, Grigorii Yavlinsky (partai oposisi, Yabloko) menyatakan bhw Russia mempunyai pseudo-multyparty parliament, pseudo free and fair elections, pseudoimpartial judiciary dan pseudoindependent mass media.

Teror, intimidasi, penculikan membuat hanya Irina Khakamada yg pada akhirnya berani berhadapan langsung terhadap Putin sebagai pesaing utama dalam Pemilu Presiden, sedangkan lainnya lebih mendukung Putin, meskipun ada enam calon presiden peserta pilpres ini.

Bab 2
Russia’s Great Political Depression
Apr-Dec 2004
Pada bab kedua ini, Anna sedikit meneruskan peristiwa Pemilu, yang diakhiri dengan pelantikan Putin yang kedua kalinya, 7 Mei 2004. Cerita selanjutnya lebih banyak berhubungan dengan peristiwa di wilayah Caucasus, Chechnya dan sekitarnya.

Peristiwa meledaknya bom dalam mobil Presiden Repulic of Ingushetia, Murat Zyazikov, di Nazran, Ingushetia, yang negaranya berbatasan dengan Chechnya. Presiden selamat.

Dicurigai ini karena dugaan korupsi yg dilakukan oleh presiden dan keluarganya. Kecurigaan lainnya adalah beberapa penculikan oleh pemerintahannya, yang dihubungkan dengan isu Chehnya.

Anna mempertanyakan ketiadaan komitmen pres Zyazikov untuk menjalankan pemerintahan yang demokratis dan berperikemanusiaan. Mengapa saat kekuasaan di tangan justru digunakan untuk berbohong, memutar-balik fakta, mendukung tindak korupsi, menghindari bangsanya, menakutinya dan akhirnya, tidak mencintainya? “When there is no justice, there is rough justice. People lose patience” ungkapnya.

Seperti halnya Putin, Zyazikov melakukan hal yang sama dalam hal kebebasan pers. Alih-alih menyelesaikan persoalan bangsa, malah melakukan kontrol dan sensor pemberitaan televisi. Penculikan, teror, kekerasan juga terjadi dalam pemenangan Zyazikov sbg pres Ingushetia.

Peristiwa detil pembajakan sekolah Beslan dan usaha pembebasan sandera oleh aparat keamanan pemerintah yang justru memperbanyak jumlah korban, hingga tindakan sensor media oleh pemerintah beberapa hari sesudahnya juga diceritakannya dalam bab kedua ini.

Bab 3
Our Winter and Summer of Discontent
Jan-Aug 2005
Dalam bab ketiga ini, banyak diisi dengan peristiwa memuncaknya rasa frustrasi rakyat Russia terhadap pemerintahnya.

Russia’s Heroes (para Pahlawan dengan penghargaan resmi dari pemerintah) melakukan mogok makan. Ini dilakukan krn Duma, 13 Jun, melaksanakan pemotongan kesejahteraan mereka. Diikuti dengan munculnya partai baru, partai para ibu tentara Russia (Mother’s Sodiers Party) sebagai oposan pemerintah. Kemudian aksi penolakan kehadiran para ibu korban pembajakan sekolah Beslan, atas undangan Putin ke Moscow, karena menganggap pemerintah Putin tidak serius melindungi keamanan rakyatnya dalam pembajakan sekolah Beslan.

Tidak ada yang dinyatakan bersalah dalam kasus banyaknya korban tewas dalam usaha pembebasan sandera pembajakan sekolah Beslan. Lebih dari 300 tewas, termasuk 186 murid sekolah.

Bab Penutup
Am I Afraid?
Pada bab penutup bukunya, Anna memberikan kritik keras untuk perbaikan kesejahteraan bangsa Rusia dan tuntutannya untuk menghentikan perang di North Caucasus.
Namun sayangnya tidak terlihat adanya perubahan, bahkan pemerintah cenderung buta/tuli dengan keluhan rakyatnya, dan tetap dengan gaya hidupnya yang rakus akan kekayaan. Bahkan disinformasi bahwa masyarakat sipil dan oposisi dibiayai oleh CIA, Inggris, Israel, terus dilakukan sebagai bagian tindak represi.

Read Full Post »

Buku terlaris Stephen Hawking setelah The Brief History Of Time’. Semoga Januari nanti aku bisa mulai membacanya.

Di dunia maya, buku Stephen Hawking ini menggemparkan (saya sendiri belum baca) dan laris manis di Amazon.com, setelah bukunya ‘The Brief History Of Time’, karena ‘bersinggungan’ dengan kaum spiritualis konservatif, dan pernah menjadi trending topics di Twitter beberapa bulan yang lalu karenanya. Terimakasih untuk mas Ioanes Rakhmat yang sudah membuatkan ringkasannya di http://www.apakabar.ws/content/view/3459/88888889/ Tulisan di bawah ini adalah ‘copy and paste’ dari web tersebut tanpa editing sedikitpun.

Di bawah ini ringkasan buku Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010). Diringkas oleh Ioanes Rakhmat. Buku ini telah dibedah dalam acara diskusi buku yang diadakan oleh Freedom Institute, Jalan Proklamasi No 41, Jakarta Pusat, pk. 19.00-22.00 WIB, 17 Desember 2010. Buku ini terdiri atas delapan bab; ringkasan setiap babnya diberikan di bawah ini. Silakan dicopy-paste untuk keperluan pribadi. Saya mendapat sebuah kabar bahwa terjemahan Indonesia buku ini akan terbit di akhir Desember 2010 atau di awal Januari 2011, dengan penerbitnya PT Gramedia Pustaka Utama. Salam

(1) The Mystery of Being
Menyangkut pertanyaan-pertanyaan mengenai jagat raya, menurut SH&LM, “filsafat sudah mati”, karena apa yang dipikirkan para filsuf tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam sains modern, khususnya fisika.

Pendekatan yang dipakai SH&LM adalah realisme-yang-bergantung-pada-model (model-dependent realism). Pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa otak kita menafsirkan input data yang berasal dari organ indrawi kita dengan membuat suatu model tentang dunia. Jika dua teori atau model fisika memprediksi dengan akurat peristiwa-peristiwa yang sama, teori atau model yang satu tidak dapat dikatakan lebih riil dari yang lainnya; melainkan kita bebas menggunakan model mana yang paling cocok.

M-theory (suatu jaringan berbagai teori)
Bagi SH&LM, “M-theory” adalah teori atau model yang menjadi puncak dan merangkumi semua teori fisika yang pernah ada (dari Plato ke teori klasik Newton ke teori-teori quantum modern), teori atau model pamungkas untuk menjelaskan seluruh jagat raya, teori atau model untuk segala sesuatu (“the ultimate theory of everything”), yang mencakup semua gaya yang ada dalam jagat raya (gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah) dan memprediksi setiap observasi yang dapat kita buat. M-theory menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai jagat raya. Menurut teori ini, jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan ada banyak jagat raya yang diciptakan dari ketiadaan. Penciptaan banyak jagat raya tidak memerlukan intervensi suatu makhluk supernatural atau allah; melainkan muncul dengan sendirinya dari hukum fisika, terprediksikan oleh sains.

Tiga pertanyaan
Dalam buku GD, kedua penulisnya berusaha menjawab 3 pertanyaan “mengapa” (bukan hanya “bagaimana”): Mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada apapun? Mengapa kita ada? Mengapa seperangkat hukum yang khusus dan bukan hukum yang lainnya?

(2) The Rule of Law
Dalam bab ini SH&LM menelusuri kemunculan dan perkembangan kesadaran saintifik manusia dalam “periode klasik” (mulai kira-kira tahun 500 SM) yang menyingkirkan pemikiran mitologis atau teologis atas jagat raya: Thales dari Miletus (ca. 624 SM-ca. 546 SM) dari Ionia, sebagai orang pertama yang mengajukan suatu konsep bahwa jagat raya ini diatur bukan oleh para dewa, tetapi oleh hukum-hukum alam yang dapat dipahami dan dijelaskan melalui observasi dan nalar; Pythagoras (ca. 580 SM-ca. 490 SM); Archimedes (ca. 287 SM-ca. 212 SM); Anaximander (ca. 610 SM-ca. 546 SM), Empedocles (ca. 490 SM-ca. 430 SM); Demokritus (ca. 460 SM-ca. 370 SM) yang memperkenalkan konsep atom (kata Yunani, yang artinya “tak dapat dipotong”); Aristarkhus (ca. 310 SM-ca. 230 SM) sebagai orang pertama yang berpendapat bahwa Bumi bukanlah pusat sistem planetari kita, tetapi Bumi dan planet-planet lain mengorbit Matahari yang jauh lebih besar.

Tetapi pemikiran Yunani yang sudah dimulai sekitar tahun 500 SM ini hanya berpengaruh selama beberapa abad saja karena berbagai alasan. Pertama, teori-teori yang dikembangkan para pemikir Ionian tampak tidak memberi tempat pada kemauan bebas atau tujuan atau pada konsep tentang dewa-dewa yang mencampuri kerja jagat raya. Kedua, mereka belum menemukan metode saintifik; teori-teori mereka tidak dikembangkan dengan pendasaran pada verifikasi eksperimental. Ketiga, pada masa itu belum dibuat pembedaan antara aturan-aturan manusia dan hukum-hukum alam. Keempat, kalkulasi matematis dan pengukuran yang akurat sulit dilaksanakan pada zaman kuno.

Tampillah sejumlah pemikir yang menolak pemikiran-pemikiran Ionian. Beberapa di antaranya dapat disebutkan. Epikurus (341 SM-270 SM) menolak atomisme yang diperkenalkan Demokritus. Aristoteles juga menolak konsep tentang atom karena dia tidak bisa menerima kalau manusia terdiri atas objek-objek yang tak bernyawa atau tak berjiwa. Pemikiran heliosentrisme Aristarkhus ditolak selama berabad-abad, dan baru muncul kembali dan diterima secara umum ketika Galileo Galilee (1564-1642) menghidupkannya kembali hampir dua puluh abad sesudahnya. Pada abad ketigabelas, filsuf Kristen Thomas Aquinas (ca. 1225-1274) memasukkan kembali allah yang sudah dikeluarkan para pemikir Ionian, ketika dia menyatakan, “Sudahlah jelas bahwa benda-benda tak bernyawa mencapai tujuan mereka bukan secara kebetulan, melainkan karena suatu maksud…. Karena itu, pastilah ada suatu hakikat personal yang cerdas yang olehnya segala sesuatu dalam alam ditata menuju tujuannya.” Bahkan astronom besar Jerman, Johannes Kepler (1571-1630), percaya bahwa planet-planet memiliki persepsi indrawi dan dengan sadar mengikuti hukum-hukum gerak yang ditangkap oleh ‘pikiran’ mereka. Pada tahun 1277, Uskup Tempier dari Paris, yang bertindak atas perintah Paus Yohanes XXI, menerbitkan sebuah daftar 219 kekeliruan atau bidah yang harus dikutuk, di antaranya adalah gagasan bahwa alam mengikuti hukum-hukum tertentu, karena gagasan ini dinilai berkonflik dengan kemahakuasaan Allah.

Konsep modern
Konsep modern tentang hukum-hukum alam muncul di abad ketujuhbelas. Tampaknya Johannes Kepler adalah seorang saintis pertama yang memahami terminologi “hukum-hukum alam” dalam pengertian sains modern, meskipun dia mempertahankan suatu pandangan animistik mengenai objek-objek fisik. Galileo menyingkapkan banyak hukum alam, dan mempertahankan sebuah konsep penting bahwa observasi adalah dasar sains dan bahwa tujuan sains adalah menyelidiki hubungan-hubungan kwantitatif yang ada antara fenomena fisika.

Tetapi orang pertama yang dengan eksplisit dan dengan kuat merumuskan konsep tentang hukum-hukum alam sebagaimana kita memahaminya adalah René Descartes (1596-1650). Descartes percaya bahwa semua fenomena fisikal harus dijelaskan dari sudut tabrakan antara massa-massa yang bergerak, yang diatur oleh tiga hukum (pendahulu hukum-hukum gerak Newton yang terkenal). Dia menegaskan bahwa hukum-hukum alam berlaku di semua tempat dan di segala waktu, dan menyatakan dengan eksplisit bahwa ketaatan pada hukum-hukum ini tidak berarti bahwa benda-benda yang bergerak memiliki pikiran. Menurut Descartes, Allah dapat dengan kemauannya sendiri mengubah kebenaran atau kesalahan proposisi-proposisi moral atau teorem-teorem matematis, tetapi tidak dapat mengubah alam. Dia percaya bahwa Allah menjadikan hukum-hukum alam tetapi tidak memiliki pilihan dalam hukum-hukum ini; Allah menetapkan hukum-hukum ini karena hukum-hukum ini, sebagaimana kita alami, adalah satu-satunya hukum-hukum yang mungkin. Baginya, tidak perduli bagaimana materi diatur pada permulaan jagat raya, lambat laun suatu dunia yang identik dengan dunia kita akan berevolusi. Menurutnya, sekali Allah membuat jagat raya ini jalan, Allah selanjutnya meninggalkan jagat raya ini sendirian sama sekali.

Isaac Newton (1643-1727) mengambil posisi yang serupa, dengan beberapa kekecualian. Konsep-konsep Newton mengenai suatu hukum saintifik dengan tiga hukum geraknya, dan hukum gravitasinya yang dengannya orang dapat menjelaskan orbit-orbit Bumi, bulan dan planet-planet, dan juga fenomena seperti pasang surut air laut, adalah konsep-konsep yang diterima secara luas sebagai konsep-konsep saintifik modern. Dalam dunia sehari-hari, di mana kecepatan-kecepatan gerak benda-benda yang kita temui berada jauh di bawah kecepatan cahaya, hukum-hukum Newton merupakan hukum-hukum sebab berlaku pada kondisi ini; tetapi hukum-hukum Newton harus dimodifikasi jika objek-objek bergerak dengan kecepatan-kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Meskipun Newton mengajukan konsep-konsep saintifik modern, dia percaya juga bahwa Allah dapat dan telah mencampuri kerja jagat raya.

Tiga pertanyaan
Jika alam diatur oleh hukum-hukum, muncul tiga pertanyaan: (1) Dari mana asal-usul hukum-hukum ini? (2) Apakah ada kekecualian-kekecualian apapun terhadap hukum-hukum ini, yakni mukjizat-mukijzat? (3) Apakah hanya ada satu perangkat hukum-hukum yang mungkin?

Jawaban tradisional yang diberikan kepada pertanyaan pertama (yakni jawaban Kepler, Galileo, Descartes, dan Newton) adalah bahwa hukum-hukum alam diciptakan oleh Allah; namun jawaban ini sebenarnya tidaklah lebih dari sebuah definisi tentang Allah sebagai suatu penubuhan atau pengejawantahan hukum-hukum alam. Bagi SH&LM, memakai Allah sebagai suatu jawaban terhadap pertanyaan pertama hanyalah mengganti satu misteri dengan satu misteri lainnya: Maka, timbul pertanyaan pengganti: Dari mana Allah berasal? Siapa yang menciptakan Allah?

Determinisme saintifik
Terhadap pertanyaan kedua, SH&LM menjawab berdasarkan determinisme saintifik.
Laplace (nama lengkapnya Pierre-Simon, Marquis de Laplace, 1749-1827) adalah orang pertama yang dengan jelas mempostulatkan determinisme saintifik: jika keadaan jagat raya pada satu waktu diterima, maka seperangkat lengkap hukum-hukum akan dengan sepenuhnya menentukan baik masa depannya maupun masa lampaunya. Karena masa lampau dan masa depan segala sesuatu ditentukan oleh hukum-hukum alam, maka tidak terbuka kemungkinan bagi adanya mukjizat-mukjizat atau adanya suatu peran aktif Allah. Determinisme saintifik adalah jawaban saintifik bagi pertanyaan kedua, dan sesungguhnya merupakan dasar bagi semua sains modern, sebuah prinsip yang diklaim SH&LM sebagai prinsip penting bagi seluruh buku GD. Tulis mereka, “sebuah hukum saintifik bukanlah sebuah hukum saintifik jika hukum ini hanya berlaku kalau suatu hakikat supernatural memutuskan untuk tidak mencampurinya.”

Adakah kehendak bebas?
Apakah determinisme saintifik juga berlaku bagi manusia, sehingga tidak ada kehendak bebas pada manusia (dan semua makhluk hidup lainnya)? Pemahaman kita atas basis molekuler dari biologi memperlihatkan bahwa proses-proses biologis diatur oleh ilmu fisika dan ilmu kimia dan karena itu tunduk pada determinisme saintifik, seperti juga halnya dengan orbit planet-planet. Eksperimen-eksperimen mutakhir dalam neurosains mendukung pandangan bahwa otak fisikal kitalah, yang bekerja dengan mengikuti hukum-hukum sains, menentukan tindakan-tindakan kita, bukan suatu agensi yang berada di luar hukum-hukum itu. Jadi, sukar untuk membayangkan bagaimana kehendak bebas akan dapat beroperasi jika perilaku kita ditentukan oleh hukum-hukum fisika, sehingga tampaklah bahwa kita ini tidak lebih daripada mesin-mesin biologis dan bahwa kehendak bebas hanyalah sebuah ilusi.

Teori efektif
Tetapi karena tubuh manusia terdiri atas ribuan trilyun trilyun molekul yang harus diperhitungkan, dan ada banyak variabel yang ikut bekerja, maka dalam prakteknya sangat sulit bahkan mustahil memprediksi hasil atau akibat yang ditimbulkan oleh kerja hukum-hukum alam di dalam diri manusia, yang menentukan perilaku manusia. Karena sangat tidak praktis menggunakan hukum-hukum fisika sebagai suatu landasan untuk menentukan atau memprediksi perilaku manusia, maka dipakai apa yang dinamakan teori efektif (effective theory). Dalam fisika, suatu teori efektif adalah sebuah kerangka atau sebuah perancah yang diciptakan sebagai model bagi fenomena yang diobservasi tanpa menggambarkan dengan rinci semua proses yang mendasarinya. Misalnya, kita tidak dapat memerinci dengan persis persamaan-persamaan yang mengatur interaksi gravitasi dari setiap atom dalam tubuh seseorang dengan setiap atom dalam Bumi. Tetapi untuk kepentingan praktis, gaya gravitasi di antara seseorang dan Bumi dapat digambarkan hanya dalam beberapa bilangan saja, seperti total massa seseorang. Demikian juga, kita tidak dapat memerinci persamaan-persamaan yang mengatur perilaku atom-atom yang rumit dan molekul-molekul, tetapi kita telah mengembangkan sebuah teori efektif yang dinamakan ilmu kimia yang menyediakan sebuah penjelasan yang memadai tentang bagaimana atom-atom dan molekul-molekul berperilaku di dalam reaksi-reaksi kimiawi tanpa memperhitungkan setiap rincian interaksi ini. Dalam hal manusia, karena kita tidak dapat memerinci persamaan-persamaan yang menentukan perilaku kita, kita menggunakan teori efektif bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Kajian atas kehendak kita, dan atas perilaku kita yang muncul dari kehendak kita, adalah ilmu psikologi.

Terhadap pertanyaan ketiga di atas, SH&LM merujuk ke Plato dan Aristoteles yang, seperti Descartes dan kemudian Einstein, percaya bahwa hukum-hukum alam ada karena “keharusan”, maksudnya, hukum-hukum ini ada karena hukum-hukum inilah satu-satunya hukum-hukum yang secara logis bermakna. Galileo mengamati, hukum-hukum alam inilah satu-satunya hukum-hukum alam yang alam jalankan pada dirinya sendiri, bukan harus ada karena alasan-alasan logis saja.

(3) What Is Reality?
Persepsi kita atas realitas jagat raya tidak pernah lepas dari keterlibatan diri kita melalui observasi di dalam proses pembentukan persepsi itu. Kita membentuk sebuah model tertentu atas realitas yang sejalan dengan dan menjelaskan persepsi kita atas realitas itu. Inilah yang disebut model-dependent realism: gagasan bahwa suatu teori fisika atau gambaran tentang dunia adalah sebuah model (umumnya bersifat matematis) dan seperangkat aturan yang menghubungkan unsur-unsur model dengan observasi-observasi. Bukan hanya di dalam sains kita membentuk model-model, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Realisme-yang- bergantung-pada-model berlaku bukan hanya pada model-model saintifik, tetapi juga pada model-model mental yang sadar dan yang tak sadar, yang kita ciptakan untuk menafsirkan dan memahami dunia sehari-hari. Tidak ada kemungkinan untuk menyingkirkan orang yang mengobservasi (yaitu kita) dari persepsi kita tentang dunia ini, yang diciptakan melalui proses pengindraan kita dan melalui cara kita berpikir dan bernalar. Persepsi kita, dan karenanya observasi-observasi yang padanya kita mendasarkan teori-teori kita, tidaklah langsung, melainkan dibentuk oleh semacam lensa, yakni struktur interpretif yang dibentuk oleh otak kita. Beberapa contoh model fisika dapat dikemukakan.

Geosentrisme Ptolemeus (ca. 85-ca. 165), yang diikuti antara lain oleh Aristoteles (yang karena alasan mistikal percaya bahwa Bumi harus menjadi pusat jagat raya), dan yang diadopsi oleh Gereja Katolik dan dipegang sebagai sebuah doktrin resmi selama empat belas abad, adalah sebuah model kosmologis. Model ini kemudian berhadapan dengan model heliosentrisme yang pada tahun 1543 diajukan oleh Kopernikus dalam bukunya De revolutionibus orbium coelestium (On the Revolutions of the Celestial Spheres). Menurut SH&LM, orang dapat menggunakan kedua gambaran kosmologis ini sebagai sebuah model jagat raya, sebab observasi-observasi kita atas angkasa luar dapat diterangkan dengan mengasumsikan entah Bumi atau Matahari sebagai benda langit yang diam, yang diedari benda-benda langit lainnya.

Sebuah model lama (yang kemudian digantikan oleh sebuah model lain yang lebih cocok dengan observasi) adalah model yang memandang jagat raya ini statis, tidak berubah ukurannya, sebagaimana dipertahankan kebanyakan saintis pada tahun 1920-an. Tetapi, di tahun 1929, Edwin Hubble menerbitkan observasi-observasinya yang menunjukkan jagat raya ini mengembang,expanding. Tentu saja Hubble tidak langsung mengamati kalau jagat raya ini mengembang. Dia mengobservasi cahaya yang dipancarkan galaksi-galaksi. Cahaya ini membawa suatu tanda tangan yang khas, yakni spektrum cahaya, yang terbentuk berdasarkan komposisi masing-masing galaksi, yang berubah dengan suatu jumlah yang dikenal jika galaksi ini bergerak terkait dengan diri kita sebagai pengamat. Karena itu, dengan menganalisis spektra galaksi-galaksi yang jauh, Hubble dapat menentukan kecepatan-kecepatan mereka. Dia berharap untuk menemukan galaksi-galaksi yang menjauh dari kita sama banyaknya dengan galaksi-galaksi yang mendekati kita. Tetapi yang ditemukan Hubble tidak demikian, melainkan bahwa hampir semua galaksi bergerak menjauh dari kita, dan semakin jauh mereka, semakin cepat gerakan mereka. Hubble menyimpulkan bahwa jagat raya mengembang.

Syarat sebuah model yang baik
Sebuah model dinilai baik jika model ini: (a) sederhana dan cerdas (elegan); (b) berisi sedikit unsur yang acak dan dapat disesuaikan; (c) sejalan dengan dan menjelaskan semua observasi yang ada; (d) membuat prediksi yang rinci mengenai observasi-observasi pada masa yang akan datang yang dapat menolak atau menyalahkan model ini jika observasi-observasi ini tidak dihasilkan.

(4) Alternative Histories
Teori-teori saintifik klasik seperti teori-teori Newton dibangun di atas suatu perancah atau kerangka yang merefleksikan pengalaman sehari-hari, yang di dalamnya objek-objek material memiliki suatu eksistensi individual, dapat ditempatkan di lokasi-lokasi yang pasti, bergerak mengikuti jalan-jalan yang pasti, dan seterusnya. Tetapi ketika kita telah mengembangkan teknologi kita dan memperluas ruang kisaran fenomena yang kita dapat observasi, sampai ke dunia atomik atau dunia sub-atomik, kita mulai menemukan bahwa alam ini bertindak dengan cara-cara yang makin kurang sejalan dengan pengalaman kita sehari-hari dan karenanya dengan intuisi kita.

Ternyata apa yang berlangsung dalam dunia atomik atau dunia sub-atomik, tidak bisa lagi dijelaskan oleh teori-teori fisika klasik Newton. Atom-atom dan molekul-molekul individual beroperasi dengan suatu cara yang sangat berbeda dari pengalaman kita sehari-hari. Ketika teori-teori fisika Newton tidak bisa lagi menjelaskan hal-hal yang diobservasi para saintis dalam dunia atomik/sub-atomik, prinsip-prinsip fisika quantum dikembangkan dalam beberapa dekade awal abad XX, dengan mengetengahkan skema konseptual yang sama sekali lain, skema yang di dalamnya posisi suatu objek, jalan yang ditempuhnya, dan bahkan masa lalu dan masa depannya, tidak dapat ditentukan dengan persis. Fisika quantum adalah sebuah model baru mengenai realitas yang memberi kita sebuah gambaran mengenai jagat raya dengan makin lengkap.

Ada beberapa fitur penting dari aspek-aspek fisika quantum yang digunakan SH&LM untuk mendasarkan argumen-argumen dalam buku mereka. Pertama, dualitas gelombang/partikel: partikel-partikel materi berperilaku seperti sebuah gelombang. Kedua, prinsip ketidakpastian yang dirumuskan Werner Heisenberg pada tahun 1926. Menurut prinsip ini, ada keterbatasan-keterbatasan pada kemampuan kita untuk serentak mengukur suatu data, seperti posisi dan kecepatan (velositas) suatu partikel. Menurut prinsip ketidakpastian ini, jika anda mengalikan ketidakpastian posisi suatu partikel dengan ketidakpastian momentumnya (=massa-nya dikali kecepatannya), hasilnya tidak pernah dapat lebih kecil dari suatu kuantitas yang sudah ditentukan dengan pasti, yang disebut konstan Planck. Intinya: Semakin persis anda mengukur kecepatan suatu partikel, semakin kurang persis anda dapat mengukur posisinya, demikian juga sebaliknya. Ketiga, prinsip yang menyatakan bahwa jika suatu sistem diamati, maka sistem ini akan harus mengubah jalannya. Menurut fisika quantum, anda tidak dapat “hanya” mengamati sesuatu, maksudnya bahwa jika anda membuat suatu pengamatan, anda harus berinteraksi dengan objek yang sedang anda amati.

Dalam bingkai prinsip ketidakpastian quantum, hasil-hasil dari suatu proses fisika tidak dapat diprediksi dengan pasti karena hasil-hasil ini tidak ditentukan dengan pasti, tak perduli berapa banyak informasi yang kita dapatkan atau berapa kuat kemampuan komputasi kita. Jika keadaan awal (“initial state” atau “initial condition”) suatu sistem diperhitungkan, maka alam menentukan masa depannya melalui suatu proses yang pada dasarnya tidak pasti. Dengan kata lain, alam tidak menentukan hasil dari suatu proses atau eksperimen apapun, bahkan di dalam situasi-situasi yang paling sederhana sekalipun. Melainkan, alam memungkinkan sejumlah hasil akhir yang berbeda, dengan masing-masing memiliki suatu kemungkinan tertentu untuk terwujud. Memakai parafrasis atas ungkapan Einstein, seolah Allah melempar dadu sebelum memutuskan hasil dari setiap proses fisika.

Suatu bentuk baru determinisme saintifik
Apa yang baru dikemukakan dalam alinea di atas tampak seolah merongrong gagasan bahwa alam diatur oleh hukum-hukum; tetapi sebenarnya tidak demikian. Melainkan hal ini membawa kita kepada suatu keadaan untuk menerima suatu bentuk baru determinisme saintifik. Jika keadaan awal suatu sistem pada suatu waktu diperhitungkan, maka hukum-hukum alam menentukan kemungkinan-kemungkinan (probabilities) masa depan dan masa lampau yang beranekaragam ketimbang menentukan satu masa depan dan satu masa lampau dengan pasti. Kemungkinan-kemungkinan di dalam teori-teori quantum berbeda jika dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan dalam fisika Newton atau dalam pengalaman sehari-hari, karena mencerminkan suatu keacakan fundamental di dalam alam. Model quantum mengenai realitas mencakup prinsip-prinsip yang berkontradiksi bukan hanya dengan pengalaman sehari-hari kita, tetapi juga dengan konsep intuitif kita mengenai realitas.

Sejarah-sejarah alternatif
Dalam teori quantum, khususnya dalam suatu pendekatan terhadap teori quantum yang dinamakan “sejarah-sejarah alternatif” (alternative histories), jagat raya dipandang tidak memiliki hanya satu eksistensi atau hanya satu sejarah atau hanya satu masa lampau tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari jagat raya berada serentak dalam apa yang dinamakan suatu superposisi quantum (a quantum superposition). Fisika quantum menyatakan bahwa tak perduli berapa luas dan menyeluruh observasi kita atas atas masa kini (jagat raya), masa lampau (yang tak terobservasi), seperti juga masa depan, tidaklah pasti dan ada hanya sebagai suatu spektrum kemungkinan-kemungkinan.

(5) The Theory of Everything
“Teori tentang segala sesuatu” yang disarankan para saintis merupakan suatu teori puncak yang sejalan dengan teori quantum, yang merangkumi empat gaya dalam jagat raya:

Pertama, gaya gravitasi
Hukum gravitasi Newton, yang dipublikasi tahun 1687, menyatakan bahwa setiap objek dalam jagat raya menarik setiap objek lainnya dengan suatu kekuatan yang sebanding atau proporsional dengan massanya.

Tetapi, oleh Albert Einstein, yang melakukan penelitian dari 1905 sampai 1916, teori gravitasi Newton diganti dengan sebuah teori baru gravitasi yang disebut teori relativitas umum (general relativity theory): “ruang-dan-waktu” (sebagai suatu dimensi keempat selain dimensi-dimensi “atas-bawah”, “depan-belakang” dan “kiri-kanan”) tidaklah datar, tetapi melengkung atau menceruk dan terdistorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Dalam teori gravitasi Einstein, objek-objek bergerak pada suatu geodesik, yakni jarak terpendek di antara dua titik pada suatu permukaan atau ruang yang melengkung. Teori relativitas umum adalah suatu model tentang jagat raya yang sangat berbeda, yang memprediksi efek-efek seperti gelombang-gelombang gravitasi dan lubang-lubang hitam; dengan demikian, teori ini mengubah fisika menjadi geometri.

[Sebelumnya, di dalam suatu makalah yang ditulis tahun 1905, yang berjudul “Zur Elektrodynamik bewegter Körper” (“Tentang Elektrodinamika Benda-benda Bergerak”), Einstein memperkenalkan suatu teori yang dinamakan teori relativitas khusus, special relativity theory, yang menyatakan bahwa pengukuran waktu bergantung pada si pengamat yang melakukan pengukuran itu; dengan demikian, waktu tidak bisa mutlak, sebagaimana dipikirkan Newton sebelumnya, atau dengan kata lain, tidaklah mungkin untuk memberikan kepada setiap peristiwa waktu yang setiap pengamat akan setujui. Ruang dan waktu saling merangkul.]

Kedua, gaya elektromagnetik
Gaya ini bekerja sebagai gaya gravitasi, dengan suatu perbedaan penting bahwa dua muatan listrik atau dua magnit dari jenis yang sama menolak satu sama lain, sedangkan dua muatan yang tak sejenis atau dua magnit yang tidak sejenis saling menarik. Gaya elektrik dan gaya magnetik jauh lebih kuat dari gaya gravitasi, tetapi kita biasanya tidak memperhatikan kedua gaya ini dalam kehidupan sehari-hari karena suatu tubuh makroskopik berisi muatan elektrik positif dan negatif yang jumlahnya hampir sama. Hal ini berarti bahwa gaya elektrik dan gaya magnetik di antara dua tubuh makroskopik hampir membatalkan satu sama lain, tidak seperti gaya-gaya gravitasi yang semuanya berkombinasi. (James Clerk Maxwell, seorang fisikawan Skotlandia, pada tahun 1860-an, berhasil memperlihatkan secara matematis bahwa gaya elektrik dan gaya magnetik adalah manifestasi-manifestasi dari satu entitas fisika yang sama, yakni medan elektromagnetik; dengan demikian, dia telah berhasil menyatukan elektrika dan magnetika ke dalam satu gaya, gaya elektromagnetik).

Ketiga, gaya nuklir lemah
Gaya ini menyebabkan radioaktivitas dan memainkan suatu peran vital dalam formasi elemen-elemen bintang-bintang dan jagat raya pada tahap dininya. Kita tidak bersentuhan dengan gaya ini dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, gaya nuklir kuat
Gaya ini menyatukan proton dan neutron di dalam nukleus sebuah atom. Gaya ini juga menyatukan proton dan neutron itu sendiri, yang perlu terjadi karena keduanya terbuat dari partikel-partikel yang lebih kecil, yakni quark. Gaya nuklir kuat adalah sumber energi bagi matahari dan daya nuklir, tetapi kita tidak bersentuhan langsung dengannya.

Menuju “teori tentang segala sesuatu”
SH&LM membuat beberapa catatan berkaitan dengan teori-teori di atas. Jika kita mau memahami perilaku atom-atom dan molekul-molekul, kita memerlukan suatu versi quantum atas teori elektromagnetisme Maxwell; dan jika kita ingin memahami jagat raya pada tahap dininya (the early universe), ketika semua materi dan energi dalam jagat raya terhimpun padat dalam suatu volume yang kecil, kita harus memiliki sebuah versi quantum atas teori relativitas umum. Dalam fisika quantum, jagat raya dapat memiliki sejarah apapun yang mungkin, masing-masing dengan amplitudo intensitas dan probabilitasnya sendiri. Kita dengan demikian harus menemukan versi-versi quantum atas semua hukum alam; teori-teori semacam ini disebut teori-teori medan quantum (quantum field theories).

Quantum electrodynamics (QED)
Versi quantum atas medan elektromagnetik dinamakan quantum electrodynamics (QED) atau elektrodinamika quantum, yang dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Richard Feynman dan para saintis lainnya, dan QED ini telah menjadi sebuah model bagi semua teori medan quantum. Kalau dalam teori-teori klasik gaya-gaya ditransmisikan oleh medan-medan (fields), dalam teori medan quantum medan-medan gaya digambarkan terbuat dari aneka ragam partikel elementer yang dinamakan boson, yakni partikel yang membawa gaya, yang terbang ke depan dan ke belakang di antara materi-materi partikel, sehingga gaya-gaya ditransmisikan. Partikel-partikel materi dinamakan fermion. Elektron dan quark adalah contoh-contoh fermion. Foton, atau partikel cahaya, adalah sebuah contoh boson. Gaya elektromagnetik ditransmisikan oleh boson. Dalam apa yang dinamakan Diagram Feynman, digambarkan cara-cara yang mungkin ditempuh elektron ketika satu sama lain menyebar melalui gaya elektromagnetik. Dalam diagram ini, garis-garis lurus tak putus menggambarkan elektron-elektron, sedangkan garis-garis berombak/keriting menggambarkan foton.

Gaya elektrolemah
Pada 1967, Abdus Salam dan Steven Weinberg tanpa bergantung satu sama lain mengusulkan sebuah teori yang mempersatukan elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah, dan gaya yang dipersatukan ini dinamakan gaya elektrolemah.

Quantum chromodynamics (QCD)
Versi quantum atas gaya nuklir kuat disebut quantum chromodynamics (QCD) atau kromodinamika quantum. Menurut QCD, proton, neutron, dan banyak partikel materi elementer lain terbuat dari quark, yang memiliki suatu sifat yang jelas yang para fisikawan sebut sebagai warna (karena itulah muncul namachromodynamics), yang tak ada hubungannya dengan warna yang kasat mata. QCD memiliki kebebasan asymptotik (asymptotic freedom), maksudnya adalah bahwa gaya-gaya kuat yang terdapat di antara elemen-elemen quark volumenya kecil ketika elemen-elemen quark ini dekat satu sama lain, tetapi bertambah besar ketika quark berjauhan satu sama lain, seolah semua quark terhubung dengan pita-pita karet. Kebebasan asymptotik ini menjelaskan mengapa kita tidak melihat quark yang terisolasi dalam alam dan tidak dapat memproduksinya di dalam laboratorium.

Grand unified theory (GUT)
Setelah menggabung gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik, para fisikawan di tahun 1970-an mencari suatu jalan untuk memasukkan daya nuklir kuat ke dalam suatu teori gabungan. Dalam hal ini, ada sejumlah teori yang dinamakangrand unified theory atau GUT, teori besar penyatuan, yang mempersatukan gaya nuklir kuat dengan gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik, yang bagian terbesarnya memprediksi bahwa proton haruslah membusuk/lenyap rata-rata setelah 10 pangkat 32 tahun. Ini adalah suatu usia yang sangat lama, mengingat jagat raya saja berusia hanya 10 pangkat 10 tahun.

Karena bukti-bukti yang diperoleh dari observasi-observasi sebelumnya gagal juga mendukung GUT, maka kebanyakan fisikawan mengadopsi suatu teori ad hoc yang dinamakan model standard, yang mencakupi teori gabungan gaya-gaya elektrolemah dan QCD sebagai sebuah teori gaya-gaya kuat. Tetapi di dalam model standard ini, gaya elektrolemah dan gaya nuklir kuat bertindak sendiri-sendiri dan belum sungguh-sungguh dipersatukan. Model standard sangat sukses dan sejalan dengan semua bukti yang didapat dari observasi sekarang ini, tetapi pada dasarnya tidak memuaskan karena, selain belum berhasil menyatukan gaya elektrolemah dan gaya nuklir kuat, juga belum mencakup gaya gravitasi. Terbukti sangat sulit memadukan gaya nuklir kuat dengan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah; tetapi masalah ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan masalah menyatukan gaya gravitasi dengan tiga gaya lainnya, atau dengan masalah yang lebih besar lagi dalam menciptakan suatu teori gravitasi quantum yang berdiri sendiri.

Fluktuasi quantum: tak ada ruang yang sama sekali kosong
Alasan mengapa suatu teori gravitasi quantum terbukti sulit untuk diciptakan berkait dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg. Berkaitan dengan prinsip ini, nilai suatu medan dan besaran angka perubahannya memainkan peran yang sama seperti yang dimainkan posisi dan kecepatan suatu partikel. Semakin akurat hal yang satu ditentukan, dapat semakin kurang akurat untuk hal yang lainnya. Salah satu akibat penting dari hal ini adalah bahwa tidak ada ruang yang sama sekali kosong. Halnya demikian karena ruang kosong berarti bahwa baik nilai suatu medan maupun besaran angka perubahannya persis nol. Karena prinsip ketidakpastian tidak memungkinkan nilai-nilai medan dan besaran angka perubahan sama persis, ruang tidak pernah kosong. Setiap ruang dapat memiliki suatu energi minimum yang dinamakan vakum. Tetapi keadaan vakum ini bergantung pada apa yang dinamakan quantum jitter (fluktuasi quantum) atau vacuum fluctuation, yaitu suatu kondisi di mana partikel-partikel dan medan-medan gaya bervibrasi atau berfluktuasi di dalam dan keluar dari suatu eksistensi.

Fluktuasi vakum dapat dipikirkan sebagai pasangan-pasangan partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah, lalu menyatu lagi dan saling melenyapkan. Partikel-partikel ini dinamakan partikel-partikel virtual. Tidak seperti partikel nyata, partikel virtual tidak dapat diobservasi langsung dengan sebuah detektor partikel. Namun, efek-efek tidak langsung dari partikel virtual, seperti perubahan kecil di dalam energi orbit elektron, dapat diukur, dan sejalan dengan prediksi-prediksi teoretis dengan tingkat akurasi yang luar biasa. Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel virtual memiliki energi, dan karena pasangan partikel-partikel virtual ini ada dalam suatu jumlah tak terbatas, partikel-partikel ini memiliki suatu jumlah energi tanpa batas. Menurut teori relativitas umum, ini berarti bahwa partikel-partikel virtual dapat melengkungkan jagat raya sampai ke suatu ukuran kecil tak terbatas.

Supergravitasi dan supersimetri
Pada tahun 1976, para fisikawan mengusulkan apa yang dinamakan supergravitasi. Prefiks “super” ditambahkan bukan karena dianggap teori gravitasi quantum ini dapat betul-betul bekerja, melainkan mengacu pada sejenis simetri yang dimiliki teori ini, yang dinamakan supersimetri. Dalam fisika, suatu sistem dikatakan memiliki suatu suatu simetri jika sifat-sifatnya (properties) tidak terpengaruh oleh suatu transformasi tertentu seperti merotasikannya di dalam ruang atau mengambil gambar cerminnya. Supersimetri adalah sejenis simetri yang lebih halus yang tidak dapat dihubungkan dengan suatu tranformasi ruang biasa. Salah satu implikasi penting dari supersimetri adalah bahwa partikel-partikel gaya dan partikel-partikel materi, dan dengan demikian gaya dan materi, sesungguhnya adalah dua sisi dari satu hal yang sama. Kongkretnya, ini berarti bahwa setiap partikel materi, misalnya sebuah quark, harus memiliki suatu partikel mitra berupa suatu partikel gaya, dan setiap partikel gaya, seperti foton, harus memiliki suatu partikel mitra berupa sebuah partikel materi. Dalam kenyataannya, partikel-partikel mitra ini belum berhasil diamati. Namun berbagai kalkulasi yang telah dibuat para fisikawan mengindikasikan bahwa partikel-partikel mitra yang bersanding dengan partikel-partikel yang kita amati haruslah seribu kali lebih massif dari massa proton, jika malah bukan lebih berat lagi. Ini terlalu berat bagi partikel-partikel semacam ini untuk dapat dilihat di dalam eksperimen apapun yang telah dilakukan, tetapi diharapkan partikel-partikel semacam ini akan akhirnya dapat diciptakan di dalam Large Hadron Collider di Genewa. Kebanyakan saintis percaya bahwa supergravitasi mungkin sekali adalah jawaban yang benar terhadap masalah menyatukan gaya gravitasi dengan gaya-gaya lainnya.

Teori dawai (string theory)
Konsep supersimetri sebetulnya bermula beberapa tahun sebelumnya ketika para teoretikus mempelajari suatu teori yang belum matang, yang dinamakan teori dawai, string theory. Menurut teori ini, partikel-partikel bukanlah berbentuk butiran-butiran (points), melainkan pola-pola (patterns) vibrasi yang memiliki panjang tetapi tidak mempunyai tinggi atau lebar, seperti helai-helai dawai yang ketipisannya tak terbatas. Banyak versi teori dawai; tetapi semuanya konsisten hanya jika ruang-waktu memiliki sepuluh dimensi, ketimbang biasanya hanya empat. Sepuluh dimensi kedengarannya sangat menantang, tetapi hanya betul-betul menjadi masalah kalau anda lupa di mana anda memarkir kendaraan anda. Jika memang ada sepuluh dimensi, kenapa kita tidak melihat dimensi-dimensi lainnya? Menurut teori dawai, dimensi-dimensi lainnya ini melengkung atau melipat masuk ke angkasa luar, atau ke ruang internal (internal space), dalam ukuran yang sangat kecil. Suatu masalah lagi dalam teori-teori dawai adalah bahwa tampaknya ada sedikitnya lima teori dan jutaan cara dimensi-dimensi lainnya ini melengkung masuk ke dalam ruang internal, sehingga menyulitkan para teoretikusnya yang mau mempertahankan bahwa teori dawai adalah teori unik tentang segala sesuatnya. Kini para fisikawan yakin bahwa teori-teori dawai yang ada lima versi dan teori supergravitasi hanyalah pendekatan-pendekatan yang berbeda dari suatu teori yang lebih mendasar, yang masing-masing valid di dalam situasi-situasi yang berbeda.

M-theory, dan 10 pangkat 500 jagat raya yang berbeda
Teori yang lebih mendasar itu dinamakan M-theory, dengan “M” dapat merupakan singkatan dari “master”, “miracle” atau “mystery”. M-theory bukanlah sebuah formulasi teori tunggal, melainkan sebuah jaringan (network) yang merangkai teori-teori lainnya. Pengharapan tradisional para saintis untuk menemukan sebuah teori tunggal mengenai jagat raya tak dapat dipertahankan lagi, sebab ternyata tidak ada satu formulasi tunggal teori tentang segala sesuatu. Bisa jadi, untuk menggambarkan jagat raya kita harus menggunakan teori-teori yang berbeda di dalam situasi-situasi yang berbeda. Setiap teori dapat memiliki versinya sendiri mengenai realitas; dan menurut realisme yang bergantung pada model, setiap teori tentang jagat raya dapat diterima sejauh teori-teori ini sejalan dengan prediksi-prediksi teori-teori ini ketika semuanya bertumpangtindih.

M-theory memiliki beberapa sifat yang kita sudah ketahui. Pertama, teori ini memiliki sebelas dimensi ruang-waktu, bukan sepuluh seperti dipertahankan dalam teori-teori dawai. Kedua, teori ini dapat memuat bukan hanya dawai-dawai yang bervibrasi, tetapi juga partikel-partikel butiran, membran dua dimensi, tutul tiga dimensi, dan objek-objek lain yang lebih sulit digambarkan, dan menguasai bahkan lebih banyak dimensi ruang, sampai sembilan. Objek-objek ini dinamakan p- brane (p-dimensi ruang-waktu) (dengan p berkisar dari nol sampai sembilan).

Dalam M-theory, dimensi-dimensi ruang-waktu lainnya itu (di luar dimensi-dimensi panjang, lebar dan tinggi) tidak dapat dilengkungkan dengan segala cara apapun. Matematika teori ini membatasi cara melengkungkan dimensi-dimensi ruang internal. Bentuk persis ruang internal menentukan baik nilai-nilai konstan fisika, seperti muatan elektron, maupun sifat interaksi di antara partikel-partikel elementer.

Hukum-hukum di dalam M-theory memungkinkan adanya jagat-jagat raya yang berbeda, dengan hukum-hukum yang berbeda, yang dapat kita observasi, bergantung pada bagaimana ruang internal dilengkungkan. M-theory memiliki solusi-solusi yang memungkinkan adanya banyak ruang internal yang berbeda, mungkin sebanyak 10 pangkat 500, yang berarti teori ini membuka kemungkinan bagi adanya 10 pangkat 500 jagat raya yang berbeda, dengan masing-masing memiliki hukum-hukumnya sendiri.

(6) Choosing Our Universe
Dalam bab 6 ini, SH&LM memberi jawab atas pertanyaan mengapa ada sebuah jagat raya, dan mengapa jagat raya ini berjalan sebagaimana sekarang ada.

Uskup Ussher, uskup agung seluruh Irlandia yang menjabat dari 1625 sampai 1656, dengan memakai Alkitab sebagai landasannya, telah menghitung usia jagat raya dan menempatkan asal mula jagat raya sepersisnya pada 27 Oktober 4004 SM. Sedangkan menurut sains modern, jagat raya sendiri muncul sangat jauh lebih awal, kira-kira 13,7 miliar tahun yang lalu, dan manusia adalah ciptaan yang belum lama ini ada.

The big bang, “dentuman besar”
Bukti saintifik pertama yang sebenarnya bahwa jagat raya ini memiliki suatu permulaan muncul tahun 1920-an, ketika Edwin Hubble melakukan observasi-observasi atas jagat raya dengan memakai teleskop 100 inchi di Gunung Wilson, di kawasan bebukitan di atas Pasadena, California. Seperti sudah dikemukakan di atas, dengan menganalisis spektrum cahaya yang dipancarkan galaksi-galaksi, Hubble dapat menetapkan bahwa hampir semua galaksi bergerak menjauh dari kita, dan semakin jauh galaksi-galaksi ini berada semakin cepat gerakan mereka. Pada 1929 dia mempublikasi suatu hukum yang berhubungan dengan besaran angka gerak menjauh galaksi-galaksi itu dari kita, dan menyimpulkan bahwa jagat raya mengembang, expanding. Bukan alam semestanya sendiri yang mengembang, melainkan jarak di antara dua titik di dalam jagat raya yang makin bertambah besar. Seorang astronom Universitas Cambridge, Arthur Eddington, di tahun 1931, membuat sebuah metafora untuk menggambarkan jagat raya yang mengembang. Eddington mengvisualisasi jagat raya sebagai suatu permukaan sebuah balon yang terus mengembang, dan semua galaksi sebagai titik-titik pada permukaan balon itu. Metafora ini dengan jelas menggambarkan mengapa galaksi-galaksi yang jauh bergerak tambah jauh dengan lebih cepat ketimbang galaksi-galaksi yang dekat.

Penemuan Hubble bahwa jagat raya mengembang membawa kita pada suatu pemahaman bahwa di masa yang sangat lampau jagat raya pastilah lebih kecil ukurannya. Sesungguhnya jika kita bertolak ke masa lampau, maka pada masa itu semua energi dan materi di dalam jagat raya terkonsentrasi di dalam suatu kawasan yang sangat kecil, yang densitas (kepekatan) dan temperaturnya tak terbayangkan besarnya, dan jika kita bertolak cukup jauh ke masa lampau maka ada suatu waktu ketika semuanya berawal, yakni peristiwa yang kini kita namakan the big bang, “dentuman besar”. Alexander Friedmann, seorang fisikawan dan matematikawan Russia, di tahun 1922, dengan berdasar pada persamaan matematis Einstein, mengajukan sebuah model jagat raya yang berawal dengan ukuran nol lalu mengembang sampai gaya gravitasi memperlambatnya, dan akhirnya membuatnya surut menimpa dirinya sendiri. Pada tahun 1927, seorang professor fisika dan imam Katolik Roma, Georges Lemaître, mengajukan sebuah gagasan yang serupa: jika anda menelusuri sejarah jagat raya ke belakangan, ke masa lampaunya, jagat raya ini makin kecil dan makin kecil sampai anda tiba pada suatu peristiwa penciptaan, apa yang sekarang kita namakan the big bang. Istilah “big bang” sendiri diciptakan oleh astrofisikawan Cambridge yang bernama Fred Hoyle pada tahun 1949, sebagai suatu istilah atau deskripsi ejekan. Hoyle sendiri percaya pada suatu jagat raya yang selamanya mengembang.

Fase pertama mengembangnya jagat raya dinamakan oleh para fisikawan sebagai inflasi. Pada saat inflasi kosmologis ini, jagat raya mengembang dengan suatu faktor yang sangat besar, setara dengan sebuah koin berdiameter 1 cm yang tiba-tiba meledak sampai mencapai sepuluh juta kali lebar galaksi Bima Sakti. Hal ini tampaknya melanggar hukum relativitas (khusus) yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat bergerak lebih cepat dari cahaya; tetapi batas kecepatan itu tidak berlaku bagi pengembangan ruang jagat raya sendiri. Pengembangan atau ekspansi jagat raya yang disebabkan oleh inflasi tidaklah seluruhnya seragam.

Bukti-bukti natural lainya yang membenarkan adanya “dentuman besar” pada awal mula terbentuknya jagat raya adalah adanya radiasi gelombang mikro kosmik yang melatarbelakangi dan memenuhi seluruh jagat raya (CMBR= Cosmic Microwave Background Radiation). Selain itu, para astronom juga telah menemukan sidik-sidik jari lainnya yang mendukung gambaran tentang the big bang sebagai suatu jagat raya awal yang kecil dan panas. Sebagai contoh, selama menit-menit pertama, jagat raya lebih panas ketimbang pusat suatu bintang yang tipikal. Selama periode ini seluruh jagat raya bertindak selaku suatu reaktor fusi nuklir. Reaksi nuklirnya berhenti ketika jagat raya mengembang dan cukup mendingin. Menurut teori, ketika ini terjadi jagat raya yang dihasilkan adalah jagat raya yang terdiri terutama atas hidrogen, tetapi juga 23 persen helium, dengan jejak-jejak lithium (semuanya adalah elemen-elemen yang lebih berat yang tercipta belakangan, di dalam bintang-bintang). Kalkulasi ini ternyata sejalan dengan jumlah helium, hidrogen, dan lithium yang diobservasi manusia.

Teori relativitas umum Einstein, teori quantum, dan the big bang
Teori relativitas umum Einstein memprediksi bahwa ada suatu titik dalam waktu di mana temperatur, densitas, dan peringkat lengkungan/kurvatura jagat raya semuanya tak terbatas (infinite), suatu situasi yang oleh para matematikawan dinamakan suatusingularitas. Bagi seorang fisikawan, ini berarti bahwa teori Einstein gagal pada titik ini dan karenanya tidak dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana jagat raya dimulai, tetapi dapat digunakan hanya sejauh berkaitan dengan ihwal bagaimana jagat raya berevolusi sesudahnya. Selain itu, teori relativitas umum tidak memperhitungkan struktur skala kecil dari materi, yang diatur oleh teori quantum. Fisika quantum bisa diterapkan pada jagat raya pada saat terjadinya the big bang karena jika kita mundur cukup jauh ke waktu masa lampau, jagat raya sangat kecil, sekecil ukuran Planck, yakni sepermilyar trilyun-trilyun centimeter, yang merupakan ukuran yang dapat diperhitungkan oleh teori quantum. Dengan demikian, meskipun kita masih belum memiliki suatu teori quantum yang lengkap, kita sungguh tahu bahwa asal usul jagat raya adalah suatu peristiwa quantum. Karena itu, teori relativitas umum harus diganti oleh suatu teori yang lebih lengkap yang bisa menjelaskan “initial state”, keadaan awal, yang melahirkan the big bang. Dalam hal ini, SH&LM melihat bahwa jika kita mau mundur dengan lebih jauh ke dalam waktu masa lampau dan mau memahami asal usul jagat raya, kita harus mengombinasikan teori relatitivitas umum dan teori quantum. Untuk mengetahui bagaimana teori gabungan ini bekerja, kita perlu mengerti prinsip bahwa gravitasi mencerukkan (warp) ruang dan waktu.

Materi dan energi mencerukkan ruang, sehingga mengubah jalannya objek-objek. Menceruknya ruang dalam jagat raya memperpanjang atau memperpendek jarak di antara titik-titik dalam ruang, mengubah geometri atau bentuknya, dalam suatu cara yang dapat diukur dari dalam jagat raya. Demikian juga, materi dan energi mencerukkan waktu; menceruknya waktu memperpanjang atau memperpendek interval waktu dengan suatu cara yang analogis. Pencerukan (warpage) ruang dan waktu menyebabkan dimensi waktu “bercampur” dengan dimensi ruang; kedua dimensi ini saling mengait dan saling mengunci. Percampuran atau kesalingmengaitan antara waktu dan ruang ini penting di dalam jagat raya pada awalnya dan merupakan kunci untuk memahami permulaan waktu.

Meskipun teori relativitas umum Einstein menyatukan waktu dan ruang sebagai dimensi ruang-waktu dan melibatkan suatu percampuran tertentu ruang dan waktu, waktu masih berbeda dari ruang, dan keduanya memiliki suatu permulaan dan suatu akhir atau jika tidak demikian keduanya akan berlangsung abadi. Tetapi, kalau kita tambahkan efek-efek teori quantum kepada teori relativitas umum, maka dalam kasus-kasus yang ekstrim pencerukan dapat terjadi dengan sangat besar sehingga waktu berperilaku seperti sebuah dimensi lain dari ruang. Pada permulaan jagat raya, secara efektif ada empat dimensi ruang dan tidak ada dimensi waktu. Ini berarti bahwa kalau kita memandang mundur jauh ke belakang dalam waktu, ke permulaan jagat raya, waktu sebagaimana kita kenal tidak ada! Kita harus menerima bahwa gagasan-gagasan lazim kita tentang ruang dan waktu tidak berlaku bagi jagat raya pada awalnya sekali. Ini berada di luar pengalaman kita, tetapi tidak di luar imajinasi kita, atau matematika kita.

Kesadaran bahwa waktu dapat berperilaku seperti sebuah arah lain dari ruang mengharuskan kita membuang masalah tentang waktu mempunyai sebuah permulaan, dengan cara yang sama kita membuang adanya sisi pinggir dunia yang melengkung. Anggaplah permulaan jagat raya seperti Kutub Selatan Bumi, dengan derajat-derajat garis lintangnya berperan sebagai waktu. Kalau kita bergerak ke utara, lingkaran-lingkaran garis lintang konstan, yang menggambarkan ukuran jagat raya, akan bertambah. Jagat raya dimulai sebagai suatu titik di Kutub Selatan, tetapi Kutub Selatan sama dengan titik lain manapun. Pertanyaan apa yang terjadi sebelum permulaan jagat raya menjadi sebuah pertanyaan yang tak bermakna, karena tidak ada apapun di sebelah selatan Kutub Selatan. Dalam gambaran ini, ruang-waktu tidak memiliki batas. Dengan cara yang sama, ketika kita menggabungkan teori relativitas umum dengan teori quantum, pertanyaan apa yang terjadi sebelum permulaan jagat raya menjadi sebuah pertanyaan yang tak bermakna. Gagasan ini bahwa sejarah-sejarah haruslah merupakan permukaan-permukaan yang tertutup tanpa batas disebut kondisi tanpa batas.

Jagat raya, karena fluktuasi quantum, ada dari ketiadaan
Selama berabad-abad banyak orang, termasuk Aristoteles, percaya bahwa jagat raya harus selalu ada untuk menghindari soal bagaimana jagat raya dibangun. Orang lain percaya bahwa jagat raya mempunyai permulaan, dan menggunakannya sebagai sebuah argumen untuk menerima keberadaan Allah. Tetapi kesadaran bahwa waktu berperilaku seperti ruang menyajikan sebuah alternatif. Alternatif ini menyingkirkan keberatan yang sudah ada sangat lama terhadap jagat raya yang memiliki sebuah permulaan, bahkan juga berarti bahwa permulaan jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains dan tidak perlu dibuat bergerak oleh suatu allah.

Jadi, permulaan jagat raya adalah suatu peristiwa quantum. Seperti sudah ditulis di atas tentang “sejarah-sejarah alternatif” dalam teori quantum, jagat raya tidak memiliki sejarah masa lampau tunggal, tetapi, dalam kenyataannya, ada banyak jagat raya dan masing-masing memiliki seperangkat berbeda hukum-hukum fisikanya dan sejarahnya sendiri-sendiri, dan semua jagat raya ini ada dengan spontan, dimulai dengan setiap cara yang mungkin. Gagasan ini disebut oleh sejumlah orang sebagai konsep multiverse.

Gambaran tentang jagat raya yang tercipta spontan dari fisika quantum menyerupai pembentukan gelembung-gelembung uap air di dalam air yang mendidih. Banyak gelembung kecil bermunculan, lalu lenyap lagi. Gelembung-gelembung kecil ini menggambarkan jagat-jagat raya kecil yang mengembang tetapi luruh lagi ketika masih dalam ukuran mikroskopis. Gelembung-gelembung kecil ini menggambarkan jagat-jagat raya alternatif yang mungkin ada, tetapi tidak berlangsung cukup lama untuk berkembang menjadi galaksi-galaksi dan bintang-bintang, apalagi kehidupan cerdas. Tetapi beberapa gelembung kecil akan tumbuh cukup besar sehingga mereka luput dari keruntuhan kembali. Mereka akan berlangsung terus untuk mengembang pada suatu besaran angka kecepatan yang terus makin bertambah dan akan membentuk gelembung-gelembung uap yang dapat kita lihat. Fluktuasi quantum (lihat di atas) bermuara pada penciptaan jagat-jagat raya kecil dari ketiadaan. Sedikit dari antaranya mencapai suatu ukuran kritis, lalu mengembang lewat inflasi kosmologis, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan, sedikitnya dalam satu kasus, makhluk cerdas seperti kita. Kita semua adalah produk dari fluktuasi-fluktuasi quantum dalam jagat raya yang sangat awal.

(7) The Apparent Miracle
Gagasan bahwa jagat raya dirancang untuk mengakomodasi umat manusia muncul dalam teologi-teologi dan mitologi-mitologi yang berasal dari ribuan tahun lalu hingga sekarang ini di banyak tempat di muka Bumi. Dalam kebudayaan Barat, Perjanjian Lama, khususnya kisah tentang penciptaan, ditafsirkan memuat gagasan tentang rancangan atau desain yang dibuat Allah dalam rangka memelihara manusia sebagai puncak semua ciptaan. Gagasan Kristen tentang adanya desain ilahi dalam jagat raya kuat dipengaruhi Aristoteles yang percaya “pada suatu dunia alamiah yang cerdas yang berfungsi menurut suatu desain yang seksama.” Teolog Kristen dari Abad Pertengahan, Thomas Aquinas, memakai gagasan Aristoteles mengenai tatanan dalam alam untuk mempertahankan keberadaan Allah. Penemuan yang relatif mutakhir yang memperlihatkan bahwa sangat banyak hukum alam, dan faktor-faktor lingkungan (environmental factors) dalam sistem matahari kita (misalnya kita hidup dalam suatu “Goldilocks zone”, zona yang dapat ditinggali manusia), yang dengan ekstrim telah “disetel dengan pas” (fine tuned) sehingga menghasilkan suatu jagat raya yang bersahabat dengan manusia untuk mereka dapat hidup di planet Bumi, dapat membuat orang kembali ke gagasan lama bahwa desain yang agung ini adalah pekerjaan suatu desainer atau perancang agung. Belakangan ini di Amerika Serikat gagasan lama ini muncul kembali dalam apa yang dikenal sebagai gagasan “intelligent design”, dengan sang desainernya tentu adalah Allah.

Tetapi sains modern tidak menjawab demikian. Adanya multiverse, ketimbang universe, membuat kita harus memandang habitat kosmik kita (yakni seluruh jagat raya yang dapat diamati) hanyalah salah satu saja dari banyak habitat kosmik lainnya, sama seperti sistem matahari kita adalah satu sistem bintang saja dari antara bermilyar-milyar sistem bintang dalam galaksi kita saja, belum lagi sistem-sistem bintang di banyak galaksi lain yang tak terhitung banyaknya. “Fine tuning” dalam hukum-hukum alam yang manusia dapat observasi dapat dijelaskan dengan mengacu ke multiverse, yang memungkinkan anggapan bahwa “fine tuning” juga dapat ditemukan di jagat-jagat raya lainnya, dalam multiverse yang majemuk. Gagasan tentang multiverse bukanlah suatu gagasan yang ditemukan untuk menjelaskan keajaiban “fine tuning”, tetapi merupakan suatu konsekwensi kondisi tanpa batas (yang sudah disebut di atas) dan banyak teori kosmologi modern lainnya. Jika ini benar, maka prinsip antropik kuat (bahwa fakta kita ada/hidup menimbulkan pembatasan-pembatasan bukan hanya pada lingkungan kita, tetapi juga pada bentuk dan isi yang mungkin dari hukum-hukum alam itu sendiri) dapat dengan efektif dipandang ekuivalen dengan prinsip antropik lemah (bahwa fakta kita ada/hidup membatasi karakteristik jenis lingkungan yang di dalamnya kita menemukan diri kita sendiri), sehingga menempatkan “fine tuning” hukum-hukum fisika pada landasan yang sama dengan faktor-faktor lingkungan yang juga “fine tuned”.

Banyak orang selama berabad-abad pada zaman mereka mengasalkan keindahan dan kompleksitas alam raya pada pekerjaan Allah, sebab mereka tampaknya tidak punya penjelasan-penjelasan saintifik atas fenomena alam ini. Tetapi sama seperti Charles Darwin dan Wallace menjelaskan bagaimana desain yang tampaknya ajaib dari bentuk-bentuk kehidupan dapat muncul tanpa intervensi suatu makhluk agung supernatural, konsep multiverse dapat menjelaskan “fine tuning” hukum-hukum fisika tanpa memerlukan adanya suatu pencipta yang baik hati yang telah membuat jagat raya demi kebaikan dan keuntungan buat manusia.

(8) The Grand Design
Dalam bab penutup ini, SH&LM menjelaskan The Game of Life yang diinvensi pada tahun 1970 oleh seorang matematikawan muda di Cambridge yang bernama John Conway. Game ini sebenarnya bukan sebuah game (karena dalam game ini tidak ada pemain dan tidak ada yang kalah atau yang menang), melainkan seperangkat hukum yang mengatur suatu jagat raya dua dimensi. Game ini dipakai SH&LM sebagai sebuah contoh yang dapat membantu kita memikirkan soal-soal mengenai realitas dan ciptaan.

Dalam Game ini, jagat raya yang ditampilkan adalah suatu jagat raya yang deterministik, maksudnya: sekali anda mulai membangun suatu konfigurasi awal, atau kondisi inisial/awal, hukum-hukum dalam jagat raya ini menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan memperhitungkan kondisi awal manapun, hukum-hukum ini melahirkan generasi demi generasi. Jagat raya yang dibayangkan Conway adalah suatu bangunan empat persegi, seperti papan catur, tetapi melebar tanpa batas ke segala arah. Sebagaimana dalam jagat raya kita, dalam The Game of Life realitas anda bergantung pada model yang anda gunakan.

Conway dan murid-muridnya menciptakan dunia ini karena mereka ingin mengetahui apakah suatu jagat raya yang lengkap dengan aturan-aturan mendasarnya, sesederhana seperti yang mereka definisikan, dapat berisi objek-objek yang cukup kompleks untuk mereplikasi diri. Conway dan murid-muridnya ingin tahu, apakah dalam dunia The Game of Life ada objek-objek campuran yang akan melahirkan objek-objek lainnya yang sejenis setelah hanya mengikuti hukum-hukum yang berlaku dalam dunia itu selama beberapa generasi. Bukan hanya mereka dapat mendemonstrasikan bahwa hal itu mungkin, tetapi mereka juga bahkan berhasil memperlihatkan bahwa suatu objek semacam itu, dalam arti tertentu, cerdas. Mereka menunjukkan bahwa campuran besar bangunan segi empat yang mereplikasi diri itu adalah “mesin-mesin cerdas universal”. Hal ini berarti bahwa bagi kalkulasi apapun yang sebuah komputer dalam dunia fisikal kita dapat pada prinsipnya jalankan, jika mesin ini diberi input yang cocok (yakni, menyediakannya lingkungan dunia The Game of Life yang cocok), maka beberapa generasi kemudian mesin ini akan berada pada suatu keadaan yang dari dalamnya suatu output dapat dibaca yang sesuai dengan hasil kalkulasi komputer itu. Contoh The Game of Life Conway menunjukkan bahwa seperangkat sederhana hukum-hukum pun dapat menghasilkan fitur-fitur kompleks yang serupa dengan fitur-fitur kehidupan cerdas.

Pada dua halaman terakhir bab penutup, SH&LM bertanya, bagaimana seluruh jagat raya dapat diciptakan dari ketiadaan? Tidak lain, karena ada suatu hukum seperti gravitasi (selain karena adanya fluktuasi quantum seperti telah diulas di atas). Benda-benda langit seperti bintang-bintang dan lubang-lubang hitam tidak dapat ada hanya dari ketiadaan; tetapi seluruh jagat raya dapat. Karena ada suatu hukum seperti gravitasi, jagat raya dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan, dalam suatu cara yang telah diurai dalam bab 6 buku GD. Penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada apapun, mengapa jagat raya ada, dan mengapa kita ada. Tidak perlu melibatkan Allah untuk menyalakan “kertas sentuh biru” dan membuat jagat raya jalan.

Dalam dua alinea terakhir buku GD, kedua penulisnya menyinggung kembali M-theory, dan menegaskan bahwa M-theory adalah teori gravitasi supersimetris yang paling umum dan merupakan satu-satunya kandidat bagi suatu teori lengkap mengenai jagat raya. Jika teori ini dikonfirmasi oleh observasi, maka ini akan merupakan suatu kesimpulan yang sukses dari suatu penyelidikan yang sudah berlangsung lebih dari 3000 tahun. Di dalam M-theory inilah kita menemukan the grand design.

Kelapa Gading, Jakarta
17 Desember 2010

Read Full Post »

Cultural Studies

Buku ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang budaya media shg dpt membantu memperkuat diri dari serbuan media dan budaya dominan.
Judul Buku: Budaya Media
Sub Judul: Cultural Studies, Identitas dan Politik: Antara Modern dan Postmodern
Penulis: Douglas Kellner
Tebal buku: 493 halaman:
Penerbit: Jalasutra
Tahun: 2010

Judul buku ini sudah ‘menjual’ sebetulnya karena dapat diharapkan membantu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kekinian dimana media, baik tulisan, gambar maupun suara, telah menjajah budaya yang ada. Tanpa terasa kita telah terperangkap bahkan terkooptasi oleh budaya ini.

Dari segi isi, buku ini bukanlah buku ringan sehingga sepertinya perlu pengantar dalam hal khusus tentang Budaya Media, Cultural Studies, dan Postmodernism. Artikel tentang para pemikir dari Mazhab Frankfurt akan sangat membantu untuk lebih dapat mengerti spirit isi buku ini. Sistematika penyajian cukup runtut, tetapi pembahasan seringkali terjadi pengulangan dalam bab yang sama.

Seperti pada umumnya karya terjemahan, buku inipun tak lepas dari kekurangan yang sama yaitu terjebak dalam pengalih-bahasaan yang kaku, tidak mengalir, dan seringkali lepas dari konteksnya.

Latarbelakang isi buku ini adalah bahwa kita seringkali menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan radio/musik, menonton televisi/bioskop, membaca majalah/koran, surfing internet, belanja dan budaya media lainnya. Maka, Budaya Media akhirnya mendominasi kehidupan sehari-hari yang selalu hadir, dan sering pula menggoda perhatian dan kegiatan kita, yang dapat dianggap melemahkan potensi kreatif manusia, sehingga dengan membaca buku ini diharapkan dapat belajar cara membaca, mengkritik, dan bertahan dari manipulasi media untuk membantu memperkuat diri dari media dan budaya dominan. Buku ini juga dimaksudkan penulisnya untuk mengeksplorasi sejumlah akibat pada masyarakat dan budaya yang dikuasai oleh budaya media, serta akan menyelami asal-usul dan cara budaya ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari kita secara mendalam.

Pada bab Pendahuluan, banyak introduksi tentang pengertian dan permasalahan Budaya Media (BM). Seperti BM adalah budaya citra, yang sering melibatkan penglihatan dan suara. BM juga adalah budaya industri, yang diorganisasi atas model produksi massa dan diproduksi untuk massa berdasarkan tipe dan aturan-aturan yang baku, sehingga merupakan bentuk budaya komersial dengan produk berupa komoditas yang menghasilkan laba untuk perusahaan-perusahaan raksasa dunia.

Kajian terhadap budaya populer dan berbasis media massa, telah secara luas dikenal sebagai Cultural Studies (CS), dan dalam buku ini disediakan beberapa model CS media kritis, multikultural, dan multiperspektif. Sebuah CS kritis, perduli dengan kemajuan proyek demokratis, mengkonseptualisasikan baik cara budaya media dapat menjadi hambatan besar demokratisasi masyarakat, maupun cara budaya media dapat menjadi sekutu, memajukan prinsip kebebasan dan demokrasi.

Penulis berkeyakinan bahwa teks-teks budaya media bukan sekedar alat sebuah ideologi dominan, bukan pula sekedar hiburan yang purni yang polos, namun mereka adalah artefak-artefak kompleks yang mengejawantahkan wacana-wacana sosial politik, yang analisis dan interpretasinya membutuhkan metoda pembacaan dan kritik yang mengutarakan kelekatan mereka dalam ekonomi politik, hubungan-hubungan sosial, serta lingkungan politik tempat mereka dihasilkan, disimulasikan dan diterima.
Dengan kata lain, memahami alasan-alasan artefak-artefak tertentu menjadi terkenal dapat memberi pencerahan terhadap lingkungan sosial tempat kemunculan dan perputaran mereka, dan karenanya memberikan wawasan tentang apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan budaya kontemporer.

Menurutnya, CS paling baik dikerjakan dalam konteks teori sosial kritis, dan Mazhab Frankfurt menyediakan berbagai perpspektif yang berguna untuk masyarakat kontemporer, meskipun ada berbagai koreksi dari CS Inggris. Inovasi-inovasi teoritis dalam teori postmodern Foucault, Baudrillard, Jameson juga banyak disampaikan dalam CS ini untuk menganalisis beberapa aspek menonjol masa kini, seperti masyarakat konsumen dan media.

Penulis juga memberikan pendidikan media kritis untuk mengembangkan berbagai konsep dan analisis yang akan memungkinkan pembaca membedah secara kritis beragam artefak budaya kontemporer media dan konsumen, dan membantunya menemukan berbagai makna dan dampak artefak-artefak tersebut terhadap budaya mereka, dan karenanya memberi individu kekuatan atas lingkungan budaya mereka.

Dalam hal sistematika penyajian, buku ini membagi isinya dalam tiga bagian besar yaitu Pendahuluan, Isi dan Kesimpulan. Bagian Isi sendiri terdiri dari tiga bagian besar, yang berturut-turut adalah bagian pertama tentang Teori dan Cultural Studies, bagian dua tentang Kritik Diagnostik dan Cultural Studies, serta bagian tiga tentang budaya media dan identitas. Pada bagian pertama berisi tiga bab yang secara berurutan membahas tentang berbagai pendekatan CS , Mazhab Frankfurt dan kritik CS Inggris serta keterkaitan CS Postmodern; di bagian kedua terdiri dari tiga bab yang membahas tentang film di era pemerintahan Reagen dan Bush, rap dan manipulasi informasi tentang perang Teluk; sedangkan di bagian tiga membahas tentang iklan dan identitas modern, citra dan pemikiran Baudrillard dan cyberpunk.

Pada bab Kesimpulan, penulis mengatakan bahwa sebagai pelarian dari penderitaan sosial, atau selingan dari berbagai kepedulian dan kemurungan kehidupan sehari-hari, orang berpaling pada budaya media untuk menghasilkan makna dan nilai dalam kehidupan mereka. Namun, menyerah untuk melakukan kritik dan perlawanan berarti menyerah pada gaya hidup yan memproduksi penderitaan dan kesedihan mendalam bagi orang-orang di seluruh dunia. Untuk itu, sangatlah penting bagi kita untuk dapat menangkap berbagai pesan ideologis dalam artefak budaya umum, dan membedakan antara ideologi hegemonik dan citra, wacana dan teks yang dapat menggulingkan ideologi dominan. Kesadaran media kritis dan kemampuan menggunakan Cultural Studies, dapat berperan sebagai bagian dari proses pencerahan sosial, yang melahirkan peran baru bagi publik dan intelektual kritis.

Read Full Post »

Wisata Amerika Latin

Judul: Surat dari Bude Ocie
Penulis: Rossie Indira
Tebal Buku: 232 halaman
Penerbit: Kompas
Tahun: 2010

Buku yang dikategorikan oleh Kompas sebagai ‘Seri Perjalanan dan Wisata’ ini memang ringan dan jelas penyampaiannya sekaligus enak dibaca dan membangkitkan rasa ingin tahu lebih banyak tentang subyek cerita. Gaya cerita ‘mendongeng’, untuk kedua keponakannya, memberikan kesan santai dan dekat dengan pembaca serta tak terbelenggu oleh gaya bahasa baku, dalam bercerita. Memang piawai penulisnya, yang seorang arsitek ITB kelahiran 1962 ini, dia bisa memotret keadaan dengan jernih dengan menggunakan rangkaian kata yang dibantu dengan berbagai gambar meskipun hanya hitam-putih.

Perjalan wisata ke empat negara Amerika Latin yaitu Chile, Peru, Argentina dan Uruguay adalah cerita utama dalam buku ini, disajikan secara terpisah berdasar negara yang dikunjungi. Foto-foto dan keterangannya, sebagai bagian cerita turut melengkapi imajinasi pembaca, tanpa lupa menuliskan sumber gambarnya. Bila dilengkapi dengan peta lokasi Negara, Kota besar dan obyek-obyek wisata yang dimaksud oleh penulis, rasanya akan semakin menyenangkan dan menambah pengetahuan bagi pembaca.

Silahkan membacanya sendiri, ditanggung akan menambah ketertarikan anda akan negara-negara Amerika Latin, yang punya pengalaman yang sama dengan negeri ini dalam hal penjajahan, namun telah bangkit dan terlihat seperti negara maju lainnya.

Read Full Post »

Penulis: Jalmi Salmin Phd.
Tebal Buku: 263 halaman
Penerbit: Pilar Media
Tahun: 2005

Judul asli buku ini adalah “Violence and Democratic Society. New Approach to Human Rights”, yang diterbitkan pada tahun 1995. Meskipun sudah 15 tahun, buku ini masih tetap relevan untuk dapat digunakan sebagai acuan analisis terhadap fenomena Kekerasan yang terjadi di manapun, termasuk di negeri kita saat ini. Sumbangan terbesar dari Jalmi dalam penulisan buku ini adalah konseptualisasi pelanggaran HAM berdasarkan beberapa klasifikasi yang bisa diterapkan pada masyarakat manapun.

Jalmi menyatakan bahwa analisis Barat tentang Kekerasan selalu bersifat Superfisial, Tidak Proporsional, Individualisasi dan Sepihak, sehingga pemberitaan yang dihasilkanpun akan bias atau distortif.. Banyak contoh yang sangat jelas ditulisnya tentang masing-masing sifat cara pandang tersebut.

Cedera, kematian, kerusakan aset bukanlah satu-satunya bentuk akibat kekerasan, seperti yang seringkali dipahami masyarakat awam selama ini, namun gangguan psikologis dan kemiskinan struktural juga termasuk di dalamnya. Untuk itu diperlukan analisis yang Obyektif, Logis dan Empiris. Definisi Kekerasan di sini berdasarkan prinsip bahwa setiap hak asasi manusia, untuk mencukupi kebutuhan dasarnya, harus dilindungi oleh negara yang berkedaulatan. Hal ini berarti Kekerasan tersebut mencakup Kekerasan Aksidental dan Kekerasan Struktural. Definisi ini berkaitan dengan semua kategori kekerasan tanpa memperhitungkan jumlah korban, siapa korbannya, siapa yang bertanggungjawab, apakah individu, kelompok, institusi, negara atau masyarakat secara keseluruhan.

Ada empat jenis Kekerasan yang memenuhi dua kriteria di atas (aksidental dan struktural), yaitu: Kekerasan Langsung (direct violence), Kekerasan Tak Langsung (indirect violence), Kekerasan Represif (repressive violence) dan Kekerasan Alienatif (alienating violence).

Kekerasan Tidak Langsung (mediated violence dan violence by omission) oleh sistem ekonomi kapitalis, yang terkenal dengan sifat rakusnya, seringkali mengakibatkan korban yang lebih besar dan berlangsung lama serta meningkat secara perlahan. Kejahatan lingkungan yang mengakibatkan “greenhouse effect”, penimbunan produk tambang berbahaya ke dalam sungai/laut (kasus Newmont), pencemaran air tanah, “illegal lodging”, termasuk dalam kategori Kekerasan ini (mediated violence). Sedangkan Kemiskinan dan Ketidakadilan sosial adalah contoh yang paling jelas di negara-negara kapitalis, yang masuk dalam kategori Kekerasan karena Pembiaran (violence by ommision). Mahatma Gandhi pernah megatakan “Dunia ini mampu untuk memenuhi semua kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk kerakusannya”.

Dalam Kesimpulan, Jamil mengatakan bahwa “tanpa kekerasan, tidak ada nilai tambah (added value) yang dapat diakumulasi dan didapatkan oleh pemilik modal; dan tanpa kekerasan, pranata kapitalisme tidak dapat dilestarikan”. Betulkah demikian? Coba kita analisis perilaku lingkungan terdekat, perusahaan tempat kerja kita. Sepertinya …

Tentang Penulis
Jamil Salmi lahir di Maroko, 1952. Meraih PhD di University of Sussex dan menjadi profesor di Institute of Educational Planning di Rabat.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »