Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jalan-Jalan’ Category

Bandara Silangit Runway 2250 m x 30 m

20160427_093942-1

Prosesi Penerbangan Perdana Sriwijaya ke Silangit, Sumatera Utara 26 April 2016, didahului dengan beberapa sambutan dari Dirut Angkasa Pura 2, CEO Sriwijaya, Komisi 6 dan 11 DPR-RI, dan Plt. Gubernur Sumut, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.

IMG-20160426-WA0004

Ka-Ki: Pak Budi KS, Om Dimas W, om Firdaus Ali, Saya

Jam 7:30 Sriwijaya Air Boeing 737-500 terbang untuk pertama kalinya menuju bandara Silangit,  Kab. Tapanuli Utara dari bandara Sutta. Pesawat penuh penumpang, termasuk para undangan

20160426_110845

Om Sigit dan om Firdaus Ali

Inaugural Flight, Gub. Sumut tidak ikut,  dan penumpang umum lainnya. Nasi Hainan yang pulen dan ayamnya yang empuk, juga puding dan coklat menjadi hidangan utama pada penerbangan kali ini. Enak. Selain Sriwijaya, maskapai Garuda, Wings dan Susi Air juga singgah di Silangit.

Mendekati bandara Silangit, daratan bergelombang terlihat hijau di bawah. Sawah hijau berteras datar dan sekumpulan pohon pinus di perbukitan tersebar dimana-mana, indah.

20160426_115324

Ground Breaking oleh Dirut. Angkasa Pura II

Kira-kira setelah dua jam penerbangan, pesawat menyentuh landasan bandara Silangit. Para penyambut dan tenda penyambutan terlihat di halaman bandara. Acara adat dilakukan terhadap Dirut. Angkasa Pura 2, dipimpin tetua adat setempat dengan mengalungkan ulos, sarung, ikat kepala dan pedang dan diiringi musik tradisional. Ground Breaking dilakukan.

Mengunjungi Toba

20160426_122307-1

Silangit – Muara

Dari Silangit menuju hotel kecil Sentosa, pinggir danau Toba bagian ujung selatan, di kota kecil (kampung?) Muara. Dijamu makan siang oleh Bupati Tapanuli Utara sambil menikmati danau Toba diiringi suara merdu penyanyi kawakan yang berasal dari Tapanuli, Victor Hutabarat. Jalan raya ke Muara, menuruni bukit, sempit dan rusak, sedang dalam proses

perbaikan, seringkali harus berhenti bila berpapasan dengan kendaraan lain.

Pemandangan khas sepanjang perjalanan adalah seringnya dijumpai bangunan makam tunggal berbentuk rumah kecil dengan patung orang berdiri di atasnya. Lokasi, ukuran dan indahnya makam menunjukkan tingkat ekonomi keluarga. Terlihat juga makam di puncak bukit, besar berdinding keramik, bersih dsn megah. Tanda salib juga menyertainya.

Screenshot_20160426-201426-1

Silangit – Parapat

20160426_145955

Pasar Balige

Jam 3 sore saat panas terik, kami berangkat menuju Parapat yang berlokasi di sebelah timur danau Toba, kembali melalui bandara Silangit. Jalan bagus kelas 2 dari Silangit menuju Parapat melewati Balige, ditempuh kira-kira 2 jam. Jslan raya kota Balige cukup padat, khususnya depan pasar utama yang berdesain etnik Sumatera Utara, indah.

20160426_163506

Teluk Danau Toba dari Hotel Inna, Parapat

Jam 5 sore kami sampai di Parapat, adalah sebuah kelurahan di tepi teluk Danau Toba, kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, merupakan daerah wisata utama Danau Toba yang sejuk dan asri. Hotel Inna adalah tempat kami bermalam, yang menurut rekan sepetjalanan adalah bsngunan akhir tahun 60an. Betulkah? Hotel terdiri dari beberapa bangunan kanar terpisah menghadap danau, di lahan berkontur dengan jalan setapak yang rapi dan taman yang indah tertata. Serasa di Puncak, Bogor. Segar. Ingat, Danau Toba adalah kawah gunung berapi yang sudah mati di ketinggian. Banyak sekali speedboat di pinggir danau yang siap mengantar pengunjung berputar-putar sepanjang Parapat. Kami mampir

20160426_172808-1

Rumah Bung Karno

sebentar di depan rumah Bung Karno untuk mengambil gambar. Pulau Samosir terlihat samar di tengah danau dari hotel, dan karena sudah senja, kami tidak sempat berkunjung ke Samosir yang membutuhkan kira-kira 1 jam menggunakan speedboat. Sambil menunggu maghrib, kami ngopi di ‘saung’ pinggir danau yang masih di area belakang hotel. Salah satu menu makanan hotel yang kami pesan adalah martabak. Gak lama menunggu, akhirnya pesanan datang. Ternyata martabak indomie ha ha ha .. enak juga sih. Dan sebagai bonus pesanan minuman panas adalah 4 potong singkong goreng kecil.

Makan malam, kami memilih untuk makan di luar hotel sambil melihat-lihat Parapat. Jalan raya gelap tanpa penerangan dan kami makan di resto Raja Minang, restoran besar, terang dan nyaman. Makanan enak, kami biasa menyebutnya masakan Padang. Gulai ikan nila. Sepertinya pasokan listrik di daerah ini kurang karena suara generator listrik banyak terdengar.

Membayangkan Danah Toba yang sudah jadi tujuan wisata sejak lama, bahkan Bung Karno pun ada rumah peristirahatan di sana, mestinya sudah semakin bersih, terang, indah tertata dan hidup saat ini. Seandainya tersedia jalan mulus beraspal keliling danau, mungkin bisa menjadi tujuan wisata olahraga bersepeda internasional. Mengagumkan, terbayang-bayang.. Kawan seiring yang pernah berkunjung dan bermain musik ke Toba di akhir tahun 60an mengatakan “Toba tak ada perubahan yang lebih baik, sebagai tujuan wisata”. Hidup segan, mati tak mau. Lesu. Kenapa ya? Semoga dengan terbentuknya Badan Otorita Danau Toba, percepatan pembangunan kawasan wisata Danau Toba segera bisa dilaksanakan sehingga tercapailah angan-angan kehadiran ‘Monaco of Asia’.

Jam 7 pagi tepat, kami checkout setelah sarapan. Nanas yang kami santap sangat manis sekali. Menurut kawan, nanas di wilayah Sumut memang terkenal enak. Kurang dari jam 9, sampai di bandara Silangit, ngopi sebentar di kios dan boarding 10:30 menggunakan Sriwijaya menuju bandara Sutta. Sampai jumpa lagi Danau Toba.

Catatan

  1. Detik.com: Sriwijaya Air Resmi Terbang ke Bandara Silangit, Tapanuli Utara
  2. Youtube.com: Video Danau Toba, diambil gambar dari Hotel Inna
  3. Terimakasih om Firdaus Ali yang sudah mengajak saya dalam kunjungan ini. Semoga bersedia ngajak saya lagi berkunjung ke daerah. 🙂

Read Full Post »

Bilowo

‘Bilowo Rangsang’, Ki Manteb Sudarsono, 13 Nov. 2015

Ki Manteb 'in action'Berada di tengah jamuan budaya wayang kulit, selalu terasa gerak tercuri, berat niat untuk beranjak, bahkan ketika hanya sedikit makna luhur terserap dalam benak.

Waranggana berderet duduk tegak beralas kaki tertekuk lentur, kebaya keemasan berkelip menyamarkan kulit, selendang merah menggantung rapi terlipat, berbalut jarik batik hitam merah. Tak tampak wajah kantuk ataupun lelah. Terus senyum terlukis di wajah berrias indah, sesekali berdendang tembang mengalun halus meliuk merdu. Tinggi-rendah, cepat-lambat juga keras-pelan suara, seakan lentur gampang dibentuk. Indah.

WaranggonoBlangkon hitam berbeskap merah, berlirik putih halus dan kain batik gelap membalut bawah tubuh, jarik, menjadi seragam para pengrawit matang usia, terlihat mumpuni dalam jamuan ritual wayang. Rasa gerakkan tangan lincah menabuh saron, peking, bonang, gender, gambang, dsb tampak santai, kadang memandang alat tabuh dalam jangkauan. Sinergi suara bergerak padu, kadang lembut halus berriak tipis, sering juga gelombang bergerak keras cepat berpindah nada, energik. Tetap padu saling isi, gemuruh lembut nyaman terasa.
Bersila tegap Ki Dalang menghadap layar, gamelan mengalun selaras iringi lengan membentang angkat gunungan. Wayang kulit mulai tayang, suatu peradaban dikisahkan. Pertentangan antara yang hak dan bathil “becik ketitik, ala ketara”, dan begitu banyak ‘pepiling’ atau pesan keluhuran budi yang dikemas dalam keseriusan dialog berbeda watak, perang dan canda hingga adzan subuh menutup jamuan penuh makna.
Alhamdulillah senang menikmatinya.
Putri, Putro dan Ki Manteb

Ibu, Putro dan Ki Manteb

Para putri

Para putri dan putu

Para Putri

Para Putri

Read Full Post »

Blanco cafe


BlancoSore itu cerah kuning panas matahari mulai redup, meninggalkan terang putih biru kemerahan di sisi barat dengan sedikit tiupan angin di jalan Kranggan, Yogya. Bayang hitam atap rumah tampak memanjang lancip di atas jalan aspal dua lajur, yang tak cukup sibuk lalu-lalang kendaraan bermotor. Terlihat tak jauh berjalan di depanku, sepasang wisatawan asing,  dengan balita di pelukan sang ibu, menyeberang jalan dan memasuki sebuah bangunan rumah berdinding depan dominan kaca yang tampak bersih tertata rapi dengan banyak bola lampu kuning tergantung di atap ruang dalam dan lampu kuning bertudung di beranda. Cafe baru rupanya. Penasaran aku ikut masuk ke dalamnya bersama keluarga.


WisatawanSepasang wisatawan tadi terlihat bahagia bercanda dengan anaknya yang tampak terkekeh lucu di pangkuan ibunya, duduk di sofa, di sudut rumah depan bar tempat kue-kue tersaji dalam ruang kaca. Sang bapak kemvali membolak-balik menu hidangan sambil berbincang dengan pramusaji yang ramah, menawarkan pilihan minuman dan kue yang tersedia.

Sirup“Blanco cafe, pak”, jawab pramusaji lainnya dengan ramah ketika kutanya apa nama cafenya. “Belum seminggu kami buka, dan masih perlu perbaikan dan kelengkapan untuk kenyamanan tamu. Bahkan nama cafenya pun belum kami pasang. Silahkan duduk pak. Ini menu makanan dan minuman kami”, lanjutnya dengan mengodorkan buku menunya sambil tersenyum. Aku memesan minuman panas hazelnut latte dan kue andalan apple slipper. Tak lama kemudian dia kembali ke mejaku sembari tersenyum dan menyodorkan buku Life “silahkan dilihat-lihat pak, kami sedang siapkan pesanannya. Atau, boleh pilih sendiri bukunya di sana”, sambil menunjuk rak buku pemisah ruang dengan deretan buku dari bermacam kategori tersusun rapi, hampir semuanya dalam bahasa Inggris.

Meja kayuDalam ruangan yang sejuk berpendingin ini ada beberapa meja kayu persegi berdesain minimalis kasar kehijauan yang tersusun diametral dengan masing-masing empat kursi kayu mengelilinginya dan lampu kuning bertudung menggantung di atasnya. Lega indah fungsional.

Sirup“Silahkan pak”, ucap pramusaji sambil meletakkan secangkir hazelnut latte panas dengan buih cream dan taburan bubuk coklat di atasnya tersaji indah, beraroma harum kopi yang memancing selera, serta apple slipper berwujud croissant dengan selai apel di dalamnya, ke depanku. Lezat minumannya, lezat kuenya. Sempurna.

RombonganSudah seminggu ini Blanco menerima tamu setiap harinya sejak siang jam 2 hingga larut malam jam 12. Ketika aku masuk cafe, saat itu baru empat meja terisi tamu, masing-masing duduk dua dan tiga pengunjung, semuanya anak muda, mahasiswa sepertinya, selain wisatawan manca negara yang duduk di sofa sudut ruang dan aku sendiri di belakang rak buku bersama rombongan, anak, istri, de Nang, de Gen dan mas Andre. Dua meja terpisah yang berisi mahasiswa tersebut terlihat penuh dengan buku, laptop dan minuman cafe di atasnya. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Memang nyaman cafe ini untuk mereka yang sedang membutuhkan ruang belajar dan diskusi kecil yang tidak ramai. WIFI juga tersedia sehingga mudah untuk akses informasi dengan cepat. Televisi LED di sudut atas ruang tamu sedang menampilkan berita nasional dengan suara ‘lamat-lamat’, namun cukup jelas untuk didengar.

mas BimoMas Bimo, yang juga mahasiswa hukum UGM semester akhir dan salah satu pemilik cafe, menghampiri kami untuk sedikit beramahtamah. “Gini loh om, selain bisnis, cafe ini juga untuk nyediain tempat  belajar bersama yang nyaman, makanya kalo sudah settled semua, mungkin akan buka 24 jam”, jelasnya ketika kutanya tentang konsep cafenya. Ketika kutanya tentang jenis kopinya yang lezat, dia menjawab dengan senyum bangga, “thanks om, memang kami milih kopi papan atas untuk jaga kualitas dan kepercayaan para tamu”. Hehe formal but kerenn … ..

Tamu BlancoJam 6 sore dah mulai gelap, kami angkat kaki, ternyata di meja panjang beranda yang juga diterangi lampu gantung kuning bertudung, juga sudah mulai ada 10 tamu yang lagi ngopi.. memang enak duduk di beranda Blanco sore hari, tidak banyak debu karena lalulintas tidak ramai dan pandangan lebih lega.

Sobat, cobalah Blanco Cafe di jl. Kranggan 30, Yogya. Highly recommended. Sukses mas Bimo dkk. ..

Komentar lainnya tentang Blanco Cafe bisa dibaca di blog http://www.hungerranger.com/2015/06/blanco-coffee-book.html?m=1

Read Full Post »

Bimo

Seminggu setelah menikmati wayang kulit ‘Betara Kala’ dalam acara ruwatan, kemudian dilanjutkan malam harinya dengan ‘Wahyu Makutharama’ oleh dalang Ki Purbo Asmoro, rasanya seperti mengingatkan masa kecil manakala alm. Bapak selalu mendampingiku mendengarkan wayang kulit di radio RRI, sambil menjelaskan jalan ceritanya. Setidaknya, setahun dua kali kami selalu menonton wayang kulit di siang dan malam hari saat acara sedekah bumi di kampung kami. Sering juga rasanya saat itu menonton pentas wayang orang berbayar.

 

Kerinduan bawah sadar akan hiburan wayang ini, sedikit terobati ketika menonton sendratari Ramayana di candi Prambanan beberapa tahun yll, yang pentasnya diadakan hampir setiap hari. Ide pemda DIY patut didukung, mengingat sulitnya para menggemar kesenian wayang orang atau wayang kulit untuk dapat menikmatinya secara langsung (live).

 

Pakde Agus dan Ki Purbo Asmoro

Pakde Agus dan Ki Purbo Asmoro

Bahasa Jawa tingkat tinggi (krama inggil) dan Jawa Kuno (Kawi?) yang jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, begitu deras meluncur lancar dari bibir ki dalang Purbo Asmoro saat memainkan wayang dan delapan waranggono (sinden) ketika melantunkan berbagai tembang dengan cengkok yang begitu indah lentur mengalun keras-lemah, tinggi-rendah seolah tak berbatas kepanjangan napas dan ketinggian nada. Bukan main ..

 

Suara beragam alat musik gending seperti bonang, saron, peking, gambang, gender, gong, dll. Yang dimainkan para pengrawit, begitu terdengar harmonis mengalun halus, kadang menghentak keras dengan kelincahan gerak pukulan gendang beraneka bunyi mengiringi tembang para pesinden atau gerak wayang yang semuanya berada dalam koordinasi pimpinan sang dalang, Ki Purbo Asmoro.

 

GongLamat-lamat suara gending mengalir lembut ditembus nada rendah bergetar suara sang dalang melantunkan suluk pembuka adegan. Petuah luhur tentang kehidupan, beruntun keluar dari mulut Semar dalam dialognya dengan Kresna. Indah mengagumkan ..

“Sesuluh babagan kautaman. Sumbere wong padu niku wonten sekawan. Pasulayan perkawis:

  1. Bandha
  2. Wanita
  3. Kawasisan
  4. Panguaos

Derajad mung sampiran, bandha mung titipan”

 

Waranggono

Waranggono

Gerak tangan sang dalang yang kadang halus tanpa getaran atau kuat dan lincah (sabetan) memainkan adegan perang, membuat komunikasi antar peran dapat dimengerti lebih mudah. Lucu, sedih, marah, nakal ataupun wibawa dapat tergambar jelas dari gerak wayang dan suara dalang dalam memainkan peran atau watak tiap wayang yang berbeda. Tak terlihat keletihan dari para sinden dan pengrawit juga sang dalang, yang memainkan orkestrasi gerak dan suara hampir selama 9 jam, mulai dari jam 19 hingga 4 subuh.

 

Desi, Pelajar SMK KarawitanMembanggakan, melihat adanya satu pelajar SMK Karawitan dan dua mahasiswi S1 Karawitan Solo begitu fasih melantunkan tembang-tembang yang diminta oleh dalang, seakan hapal luar kepala. Desi, sang pelajar SMK bahkan luwes menampilkan tarian dan mahir memainkan saron, rebab dan gendang berirama jaipongan, banyumasan dll. Luar biasa.. terpikir seketika, pemerintah perlu membuat banyak program nyata untuk melindungi bahkan mempopulerkan budaya luhur semacam ini.

Beruntunglah, teknologi komunikasi sudah mampu menyajikan pagelaran wayang kulit papan atas seperti Ki Purbo Asmoro, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Narto Sabdo, dll melalui youtube.com. Baru saja penulis menikmati “Lahirnya Wisanggeni” oleh Ki Purbo Asmoro selama 6 jam melalu Youtube.com. Terimakasih untuk para pihak yang telah mengunggah kesenian luhur ini ke youtube.com sehingga para penggemar di seluruh dunia bisa turut menikmatinya.

Salam Budaya.

Read Full Post »

Video berikut ini adalah kompilasi foto tiga keluarga, saat tour di Eropa Timur 15 – 27 Juni 2014.

Read Full Post »

Tanggal 24 Jul 2014 GA… membawa kami berempat, mas adi dg bapak/ibunya dan mbak Dilla, menuju Surabaya tepat jam 6:30 dan satu jam kemudian mendarat di Juanda, Surabaya. Menggunakan toyota Inova yang dikemudikan pak Ivan, kami melanjutkan perjalanan menuju Kediri. Mampir sebentar di Depot Anda untuk membeli rawon dan pepes udang bakal buka puasa bersama nanti di rumah Putri. Kurang-lebih jam 11:30 mobil masuk ke carport rumah Putri di Kediri. Alhamdulillah.

Usai Sungkeman

Usai Sungkeman

Om Putut sudah ada di Kediri, juga De Bet sekeluarga. Petang harinya, De Wow sekeluarga sampai juga di rumah Putri. Menjelang sahur 27 Juli 1:00 om Peter datang dari Munchen, terlihat lelah.

Tepat hari lebaran pertama 28 Juli 2014 jam 6 pagi, lontong capgomeh dan telor petis sudah terhidang dalam panci besar di atas meja makan, siap disantap, namun masih perlu sedikit bersabar karena harus berangkat menuju masjid Budaya Cipta untuk sholat Ied lebih dahulu. Masjid masih cukup lengang dan kami siap sholat di barisan terdepan. Pulang sholat, kami berkerumun di pinggir meja makan, antri bergilir mengupas lontong dan mengambil sayur rebung pedas, opor ayam, sambal goreng kerecek dan telor petis … hueennaakk tenan. Selalu ditunggu dihari lebaran.

Berangkat 30 Juli 2014 tepat jam 6 pagi, menggunakan bus yang bersih nyaman dan sejuk, PO. Setiawan, menuju stasiun kereta api Nganjuk. Didahului mobil polisi patwal dengan sirine yang seringkali menjerit menarik perhatian supaya diberi jalan nguing nguing …, bus meliuk-liuk bergerak lancar di jalan 2 jalur yang ramai kendaraan. Maklum, lebaran. Tak sampai 1 jam, bus masuk pelataran parkir stasiun Nganjuk. Sepi, loket masih tutup. De Gen njumblak di depan papan jadwal kereta api: “Loh, kok Wilis gak mandeg?”.. Semburat ngadeg De Ren lari ke kantor kepala stasiun untuk konfirmasi kedatangan Argo Wilis. Betul, KA. Argo Wilis memang tidak berhenti di setasiun Nganjuk. Penumpang dari Kediri harus naik dari Jombang atau Madiun. Mobil patwal kembali dihubungi De Ren supaya kembali ke stasiun untuk mengawal bus menuju Madiun. Kembali kami masuk ke dalam bus menuju Madiun. Ngok … bus merambat dalam kota Nganjuk karena lalulintas

Bus ke Yogya

Bus ke Yogya

padat menuju Madiun. Patwal mngambil inisiatif mencari ‘jalan tikus’ masuk ke perkampungan berharap sukses menembus kemacetan. Sayàng, jalan terlalu kecil untuk dilalui bus sehingga perjalanan menjadi lambat, bahkan sempat menyenggol pagar jembatan dan ranting pohon membuat gaduh menampar atap bus.

Jam 8:30 bus masih berada dalam perkampungan dan belum juga dapat keluar kota Nganjuk. Mengingat jarak ke Madiun yg masih cukup jauh dan waktu yang dirasa tidak cukup untuk mengejar Argo Wilis, yang diperkirakan akan sampai Madiun 9:15, De Gen berusaha lobi pemilik bus via telepon untuk dapat kita pergunakan terus hingga Yogya. Dealed, penumpang merasa lega dan siap istirahat dalam bus menuju Yogya.

Mobil Patwal hanya bisa mengawal hingga Madiun karena untuk wilayah Jawa Tengah harus menggunakan Patwal setempat. Patwal Jawa Tengah bergerak dan

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

membukakan jalan bus mulai dari Sragen menuju Yogya.Setelah 12,5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di hotel Tentrem Yogya pada jam 18:30. Bus yang bagus, nyaman dan suasana riang membuat lelah tak terasa … eh terasa juga sih, tapi senang .. semakin riang karena guyuran amplop utk kita semua dari pakde Anung. Alhamdulillah.

Setelah beberapa tahun seĺalu lebaran di hotel Shantika, sekarang ini untuk pertamakalinya kami tinggal di hotel Tentrem. Kamar Putri 809 adalah suite room dengan dua kamar besar yang nyaman di dalamnya dan menjadi tempat jagongan keluarga besar. Santaiii. Sayang sekali mas Dhito tidak bisa ikut bergabung karena sedang KKN di Lombok. Tamu baru yang turut bergabung dilebaran kali ini adalah Dipi, yang cempluk menggemaskan. Malam itu Dipi ditemani bapaknya namun tidur dengan mbak Dhila. Tidak banyak bicara dan cenderung diam tapi suka bergaya di di depan kamera.

De Ren dan TA

De Ren dan TA

Hari kedua, kami semua menuju peristirahatan Kakung untuk nyekar sebagai acara utama kunjungan ke Yogya. Nisan penuh melati dan mawar kami taburkan, setelah unjuk doa kepada Allah kami mohonkan, untuk kebahagian Kakung di sorga keabadian.

Tidak ada acara khusus yang menarik untuk diceritakan pada lebaran di Yogya kali ini. Acara jalan2 di Ambarukmo Plaza dan makan bakso Bethesda cukup jadi penyembuh kangen kuliner Yogya, selain bubur gudheg komplit dari bude Hani saat sarapan. Bakso Bethesda yang ada di dua tempat (sebelah barat RS. Bethesda dan Plaza Ambarukmo) ini, gak pernah terlewatkan kalau sedang di Yogya. Sangat-sangat perlu dicoba. Huenaakk dan Halal .. sertifikat dari MUI dan Dep. Perdagangan terpasang di gerobak dagangannya.

Setelah menginap dua malam, 1 Agustus 2014 selepas magrib, kami semua menuju stasiun Yogya untuk pulang Kediri menggunakan KA Malioboro tujuan Malang pada jam 20:00. Tidak termasuk pakde Anung sklg yg sudah pulang Jakarta siang itu, om Putut/om Peter yg sudah terbang menuju Labuan Bajo pagi itu juga dan bude Reni sekeluarga yg masih menginap di hotel menemani mbak Sita yg akan kembali ke Melbourne dua hari lagi.

Belum sampai jam 1 pagi, kereta sampai di Kediri dan selesailah perjalanan nyekar Kakung di Yogya pada masa lebaran tahun ini. Alhamdulillah. Semoga kita bisa kumpul lagi bersama Putri dalam keadaan semua sehat, sejahtera dan bahagia dengan peserta yg lebih lengkap di lebaran 2015. Amin

Video Lebaran:

Read Full Post »

Ramayana Ballet

Tepat hari pertama kalender baru 2014 mulai dipergunakan, kami bertiga sampai di Yogya. Tak banyak berbeda yang biasa kami lakukan di kota ini, tapi selalu ingin untuk kembali. Entah mantra apa yang ditiupkan kota ini hingga banyak orang percaya bahwa siapapun yang pernah tinggal untuk sekolah ataupun bekerja di sini, akan selalu merindukan untuk kembali walaupun hanya sebentar saja. Namun ada baiknya perjalanan singkat ini aku tuliskan sebagai pengingat kecil jalan-jalan santai keliling keraton dan menonton pagelaran sendratari Ramayana di Prambanan.

Keliling Keraton
Kali ini gak banyak yang bisa diceritakan, karena keraton yang sedianya menjadi minat utamaku liburan kali ini ternyata harus tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan karena sedang berduka atas wafatnya adik Sultan HB X.

Di sekitar keraton banyak mas becak yang menawarkan jasa mengantar tamu sekaligus menjadi pemandu wisata keliling keraton sambil mengunjungi cagar budaya serta bercerita tentang sejarahnya. Tarif murah ditawarkan sebesar Rp25 ribu saja dan membawaku keliling keraton. Menurut mas becak, yang menemaniku keliling keraton siang itu, almarhum adalah pejabat keraton yang mengurusi karyawan, kira-kira semacam pejabat HRD atau kepegawaian dalam perusahaan atau pemerintahan.

Penjaga Gerbang Keraton

Penjaga Gerbang Keraton

Pintu gerbang bagian dalam keraton berbahan kayu tebal hitam yang tinggi, dalam keadaan tertutup. Seorang pria sepuh bersahaja menjaga pintu gerbang, berbusana Jawa lengkap dengan kain batik, berkemeja surjan biru gelap bergaris hitam melekat di badan, dan belangkon tanpa beralaskan kaki, tak lupa keris terselip di punggungnya dalam stagen yang melingkar erat di badannya, terlihat duduk diam di atas dingklik panjang dengan senyum ramah di wajahnya, saat para wisatawan memintanya menjadi obyek fotonya. Sementara beberapa penjaga keraton lainnya tampak beristirahat dalam pondok kecil tak jauh dari pintu gerbang.

Bangsal Pancaniti

Bangsal Pancaniti

Di depan pintu gerbang, berdiri bangunan besar beratap joglo semacam pendopo, yang dinamai Bangsal Pancaniti. Terlihat lantai berukuran 5x5x1 m di bagian tengah yang lebih tinggi dari lantai sekitarnya tanpa meja  kursi di atasnya. Menurut sang pemandu, bangsal Pancaniti ini dulu digunakan sebagai ruang sidang pengadilan keraton, dan lantai yang tinggi berpagar besi itu adalah tempat duduk sang hakim. Bangsal ini sekarang dipergunakan sebagai tempat pentas seni karawitan, macapat (membaca puisi Jawa yang dinyanyikan) dan tari Jawa.

Tepat di luar pintu masuk area keraton sebelah timur adalah tempat becakku parkir dan di depannya adalah rumah milik keluarga Sultan. Menurut mas becak, setiap putra/putri keraton yang telah menikah, harus bertempat tinggal di luar keraton. Kebetulan mas becak ini berdomisili sekitar keraton, yang bapaknya bekerja sebagai penjaga keraton.

Becak berjalan ke selatan di luar dinding timur keraton, lalu berbelok ke arah barat menuju alun-alun Kidul, mampir sebentar di tempat tinggal Sultan HB VII. Rumah tembok yang tak terlihat besar dengan taman kecil di depannya ini sekarang dipergunakan untuk memproduksi batik sekaligus sebagi tempat menjualnya.

Kereta Kencana HB VII

Kereta Kencana HB VII

Kereta kebesaran terlihat parkir di samping rumah dan dua foto besar berdampingan, sultan HB VII beserta permaisurinya, terpampang di dinding teras rumah seolah menyapa para tamunya. Foto tua selalu berkesan magis, menurutku. Sebuah patung besar perempuan tua sedikit menutupi jalan masuk ke dalam rumah, tidak jelas merepresantikan siapa. Di bagian dalam rumah banyak dipenuhi kain batik dan lemari tua. Banyak wisatawan sedang bertransaksi kain batik dengan para ibu penjaga rumah. Di bagian samping luar rumah adalah tempat prosesi pembuatan kain batik.

HB VII dan Permaisuri

HB VII dan Permaisuri

Bangunan sebelah rumah sultan HB VII adalah masjid tua yang seharysnya menjadi satu bagian dengan rumah sultan HB VII. Menurut mas becak, setiap tiang masjid ini dibuat dari satu pohon tunggal.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, melewati alun-alun Kidul, yang terkenal dengan dua pohon beringin besar di tengahnya. Ada kepercayaan bahwa seseorang akan selalu gagal berjalan melewati tengah-tengah antara ke dua pohon tersebut dengan mata tertutup.

Rumah putra HB VII

Rumah putra HB VII

Becak mampir di kediaman putra HB VII. Rumah berpendopo besar dengan banyak tiang kayu ukir berwarna coklat dan atap yang juga berukir megah. Sebagian dari pendopo ini dipergunakan sebagai restoran. Sepi tanpa pengunjung. Prasasti hitam dari batu terpasang di depan pendopo dengan pahatan tulisan berwarna keemasan yang isinya menyatakan bahwa rumah ini pernah digunakan sebagai studio radio, cikal-bakal Radio Republik Indonesia, pada tahun 1928-1934. Berjalan ke belakang melewati samping barat rumah, terdapat musholla besar, redup kurang cahaya. Di bagian belakang rumah tampak berderet puluhan kamar dengan tempat tidur kecil berseprai putih tertata rapi. Masih menurut mas becak, kamar-kamar ini juga disewakan bila ada tamu yang berminat menginap. Terbayang sepi dan redup di sepanjang lorong saat malam hari. Wingit…

Tamansari

Tamansari

Becak kembali berjalan dan berhenti di Tamansari, pemandian sultan dan para selir keraton. Di antara kolam para selir dan kolam sang raja, terdapat bangunan berjendela tinggi. Menurut cerita, dari jendela ini sang raja memanggil selir pilihannya untuk bergabung dengannya berendam di kolam raja. Banyak sekali pengunjung di Tamansari, yang memerlukan tiket untuk memasukinya.
Perjalanan berbecak keliling keraton berhenti di pintu belakang sebelah barat, tepatnya di bangsal Kemagangan.

Ramayana Ballet, Prambanan

Pelakon Ramayana

Pelakon Ramayana

Anak-anakku

Anak-anakku

Ini adalah obyek wisata yang memang sudah masuk dalam prioritas kunjungan ke Yogya saat itu. Sendratari Ramayana diselenggarakan secara berkala di area sekitar candi Prambanan, Yogyakarta. Pada bulan Mei s/d Okt pentas malam hari di tempat terbuka berlatar-belakang candi Prambanan, sedangkan bulan-bulan lainnya, musim hujan, pentas di dalam ruang tertutup. Tiket VIP berharga Rp. 200 ribu. Pentas hari itu dilakukan dua kali, jam 16:00 dan 19:30 dalam ruangan. Ruang pentas tertata apik, lantai luas di bagian tengah dengan bangku penonton berundak mengelilingi bagian kiri-kanan dan depan. Gamelan dan pesinden berada di latar depan. Sorot lampu berwarna-warni dan sistem pengeras suara yang melantunkan bunyi keras-lemah gamelan dengan irama yang cepat-lambat mengiringi tarian, cukup memberikan nuansa dramatik dalam kisah Ramayana.Sendratari disajikan dalam empat babak dengan jeda di masing-masing babak memberikan cukup waktu untuk sedikit menikmati hidangan yang bisa dibeli di depan pintu ruang pentas.

Rahwana dan Shinta

Rahwana dan Shinta

Gerak gemulai Dewi Shinta dari semua lekuk tubuhnya mulai dari jentikan jemari lentiknya, lambaian selendang hingga kibasan kecil tumitnya untuk memindahkan ujung kain panjang yang terseret di belakangnya, juga gerakan patah bertenaga seperti yang disajikan Cakil serta langkah dan bentangan lengan gagah setinggi bahu Rahwana sangat indah untuk dicermati. Semua gerak lentur, halus kadang lembut,

Hanoman dan Shinta

Hanoman dan Shinta

kadang gagah menghentak para penari yang tak pernah henti, juga dengan mimik muka menyajikan emosi para tokohnya apalagi didukung para pemain gamelan tanpa cacat suara, juga sorot lampu yang mendukung cerita, pasti sangat menarik untuk terus dinikmati, apalagi bagi para pecinta budaya dan fotografi. Puas menikmati sajian sendratari Ramayana dan sangat direkomendasikan bagi para pecinta wisata budaya. Terimakasih bagi penyelenggara. Sayang, anak-anak kami belum bisa menikmatinya.

Read Full Post »

GA240 yang nerangkat 14:25, mendarat di bandara Ahmad Yani, Semarangpada jam 16:00. Menggunakan taksi bandara, toyota limo putih, seharga Rp. 415.000, siap berangkat menuju Pekalongan yang berjarak 102 Km. Keluar bandara sedikit padat di jalan utama hingga kira-kira meter 500. Ramai kendaraan pribadi, juga truk penuh muatan di jalan tambal-sulam bergelombang, cukup berbahaya bila kecepatan tinggi. Jalan dua arah dg pembatas berm selebar 0,5-1 m beeriang listrik di tengahnya, masing-masing cukup dua lajur tanpa garis putih pembatas di antaranya. Masih ada tanah terbuka selebar kira-kira dua meter di pinggir jalan cukup untuk truk parkir. Pohon cukup rindang di pinggir jalan sehingga melindungi terik matahari menembus jendela mobil.

Perjalanan ke arah barat disore hari ternyata tidak nyaman, apalagi pada bulan Desember, saat matahari berada di lintang selatan 23•30′, sehingga sinarnya tepat masuk dari jendela kiri mobil. Persawahan terlihat di kanan-kiri jalan di sela-sela bangunan rumah di antara Mangkang-Kendal. Sepertinya sedang mulai ‘tandur’ atau masa tanam karena terlihat bongkahan tanah segar persawahan bekas dibajak. Plat nomor jendaraan yang lalu-lalang sangat bervariasi, H, G, AD, B, E, mungkin karena ini jalan utama pantai utara Jawa, Sby-Jkt sekaligus musim liburan akhir tahun.

Jam 17:15 Alas Roban masih cukup rindang walaupun lebih terbuka dibanding 25 tahun yang lalu, dengan banyak warung kecil jual kelapa hijau dan truk parkir di sepanjang jalan. Mungkin kalau diatur dengan serius, bersih, rapi dan aman, pasti akan menarik dan nyaman untuk istirahat dalam perjalanan jauh.

Setelah keluar dari hutan Alas Roban, kemudian melewati pasar Subah, maka kira-kira 10 menit berikutnya, akan tetlihat jelas dari jarak 100 m, di Km 24 ke Pkl, baliho besar berwarna kuning yang sangat menyolok disebelah kiri jalan, ‘Sate Kambing Subali’. Cocok bagi para penggemar sate kambing.

Tepat menjelang Magrib 17:45, taksi masuk hotel Sahid Mandarin di kawasan rekreasi Dupan, sebelum masuk kota Pekalongan, dan lebih dekat ke kota Batang. Lokasi hotel Sahid yang digambarkan oleh Google Map berada dalam kota Pekalongan, ternyata salah. Jadi bila anda menginginkan hotel yang berada dalam kota Pekalongan, sebaiknya pilih yang lain, salah satunya hotel Horison, yang berada dekat setasiun kereta api.

Read Full Post »

image

Makan malam di resto Chef Chan yang berada di dalam sayap kanan gedung Museum Nasional Singapura, santai dan mengesankan.

Bangunan tua museum berwarna putih kokoh dikelilingi lapangan rumput luas itu tampak bersih rapi dan penuh sinar kuning terang, tercurah dari lampu sorot ribuan watt di taman, juga dari lampu gantung kristal dalam gedung yang menerobos jendela besar tertata rapi, memanjakan mata bagi yang suka bangunan tua. Mengingatkan Pintu Seribu di Semarang dan Kota Tua Jakarta. Sayang, keindahan cahaya kuning gedung sedikit terganggu dengan cahaya putih neonsign board berlogo Chan’s Chef di depan tangga masuk resto.

Menurut kawan yang menemani, museum ini dulu penuh dengan benda-benda bersejarah dari berbagai negeri tetangga, sekarang benda berharga tersebut telah banyak dikembalikan ke negara masing-masing sehingga terasa lengang, ruang tersisa. Bagian depan gedung utama juga ditempati sebuah restoran, terlihat rak di dinding penuh wine terlihat dari taman luar jendala, rapi. Nuansa klasik sangat terasa dalam gedung tua ini. Nyaman.

Malam itu kami dijamu berbagai makanan Kanton yang lezat, yang dihidangkan secara berurutan oleh para pelayan resto berkostum China. Terhidang di atas alas putih meja kotak berkursi delapan, masing-masing enam mangkok kecil berisi beberapa sambal, saos, cabai merah kecil, cabai merah besar, abon teri, kecap asin, juga cangkir kecil berisi teh tawar panas siap menyambut hidangan.

Pertama muncul satu mangkok sup bening panas bermacam jamur, disusul dengan menu kedua, sup ikan Cod segar putih tebal dengan kuah bening dan potongan daun bawang kecoklatan yang makin nikmat dengan tambahan kecap asin dan potongan cabe merah kecil. Tak lupa teh hangat melarutkan rasa di lidah. Dengan sigap pelayan resto menarik mangkok kosong dan meninggalkan sendok di meja serta menggantinya dengan hidangan ketiga berupa piring kecil berisi Sauteed Beef bersaus black pepper. Daging manis empuk tanpa lemak dan mudah dipotong, jadi menu andalan resto ini. Super lezat. Begitu habis, langsung digantikan menu keempat dengan mangkok kecil berisi satu daging gempal kepiting Srilanka, berkuah kuning dengan serpihan lembut daging kepiting. Uhh nikmat… Sambil ngobrol disela resapan teh tawar hangat isi-ulang, muncul santapan kelima, yaitu piring kecil berisi daging ayam empuk berkulit kering mudah lepas dan berkecap manis gurih, Crispy Roasted Chicken. Menu andalan kedua yang hampir mirip menu bebek panggang di resto Duck King Jakarta. Super lezat lagi.. Piring ditarik, muncul menu keenam, hidangan berat dalam mangkok kecil berisi nasi goreng Singapore, kuning pucat lepas (tidak pulen).. gurih enak tapi perut mulai full.. dan terakhir adalah penghibur lidah ketujuh berupa mangkok kecil berisi puding manis bertabur potongan kecil strawberry dan mangga mengkal asam. Wuihhh… full…

Karya seni penggores lidah.. sambil mengangkan tangan kanan dan menutupkan telunjuk ke jempol serta mengangkat tiga jari sisanya di depan bibir… Lazisss…

Read Full Post »

 

Keluarga Besar Kakung Prayit di Makkah (By De Wow)

Sebagian Keluarga Besar Kakung Prayit di Makkah, Oct 2013 (By De Wow)

Selasa, 8 Oktober 2013

CGK Menuju Jeddah

CGK Menuju Jeddah

GA980 yg membawa jamaah calon haji al-Hidayah Maktour sehrsnya takeoff 11:40, ditunda hingga 13:00 baru berangkat. Pakde Agus, bude Reni, Sita, Bimo, bude Ganik pade Anang, pakde Wow dan bude Rossy ada dalam rombongan ini. Pswt tua 747-400 dgn satu layar besar di depan utk nonton video bersama. Makan cukup lezat. Landing di Jeddah, 18:15wsa.

Dari atas kota Jeddah, terlihat hampir semua bangunan beton berbentuk kotak, tidak terlihat ada bangunan rumah bercungkup dengan atap genting seperti di Indonesia. Di area bandara tampak sedang banyak melakukan pembangunan, dozer, crane dan alat berat lainnya terlihat aktif bergerak untuk pembukaan lahan dan pembangunan gedung.

Dari pesawat, penumpang dibawa ke kantor imigrasi utk berihrom, sambil menunggu proses imigrasi selesai, yang diurus oleh pihak Maktour. Ruang tunggu cukup nyaman. Tersedia sofa berlebih, wall to wall carpet, bersih dan berAC. Para bapak/ibu bisa berganti pakaian siap umroh di sini. Juice, kopi/teh dan air mineral serta kue disediakan Maktour. Di luar gedung, tersedia halaman luas bersih bertenda besar tempat wudhu, kamar mandi dan musholla juga tempat duduk para jemaah dari berbagai negara yang menunggu keberangkatan bus menuju Makkah.

Pada calon haji tampak lelah dan ngantuk karena hingga jam 21:30wsa (1:30wib) msh blm ada tanda-tanda keberangkatan ke Makkah. Sambil menunggu keberangkatan, beberapa jemaah lelaki terlihat sibuk belajar memakai ihrom dengan benar.

Rabu, 9 Oktober 2013

Sekitar jam 1:00 WSA rombongan Al-Hidayah Maktour 40, yang dipimpin oleh Ustadz Darmawan, – asal Lamongan, muda, pandai, ramah dan selalu mendampingi rombongan Maktour 40 selama prosesi Haji hingga pulang ke tanah air -, sampai di hotel InterContinental Makkah, setelah perjalanan 2 jam menggunakan bus yang nyaman dan nasi kotak sebagai bekal serta ihrom tetap menempel di badan. Langsung menyimpan barang dan siap menuaikan Thawaf serta Sa’i. Lanjut dengan sholat subuh di Masjidil Haram.

Kembali ke kamar, telah siap shower air hangat, sarapan di resto hotel dan berakhir dalam selimut. Lelah sekali saat itu, betis dan pinggang terutama. Makkah yang mulai padat, membuat langkah kaki tertahan. Nyenyak tanpa terjaga dalam tidur dengan salonpas menempel di betis dan pinggang. Zzzz…

Thawaf

Thawaf

Di sekeliling masjidil Haram tampak lengan-lengan panjang crane raksasa mengitari masjid. Pembangunan dan penataan kota memang sedang gencar dilakukan di Makkah. Menurut info internet, Makkah Development Plan akan menghabiskan budget sebesar US$ 27 milyar, yang harus selesai dalam 18 bulan sejak dimulai Mei 2013.

Pembongkaran masjidil Haram sedang dilakukan dan lantai dua untuk keperluan thawaf yang sifatnya sementara, sudah bisa dipergunakan. Mulut lorong menuju lantai dua thawaf ini ada persis di depan hotel Grand Zamzam, khusus untuk pengguna kursi roda bila keadaan sedang tidak padat.

Senin, 14 Oktober 2013

Jam 6:00wsa, dengan berihrom, berangkat menuju tenda di Arafah dalam bus bernomor rombongan ’40’. Sepanjang jalan besar sudah terlihat tenda-tenda kecil di kiri-kanan jalan, para jamaah haji yang berjalan kaki, bus-bus besar kecil beriringan lamban. Ramai lancar.

Beberapa tenda besar Maktour bersebelahan dengan tenda jamaah Malaysia. Tenda besar dengan kamar-kamar di dalamnya untuk laki-laki dan perempuan terlihat nyaman. Lorong di tengah sebagai jalan, dari depan ke belakang, dengan kamar-kamar di sebelah kanan-kirinya. Setiap kamar tersedia 20 kasur lipat bersih dengan rak barang memanjang di atas kepala, satu kamar mandi dan wastafel untuk wudhu dan AC besar. Nyaman. Menurut Maktour, musholla tidak sebagus musim haji tahun lalu, 2012, karena sempat roboh diterjang hujan angin beberapa hari sebelumnya dan tidak cukup waktu untuk memperbaiki seperti semula lagi. Gak masalah, masih nyaman juga. Makan siang disediakan di depan tenda, dan sholat Dhuha, Wukuf dan Maghrib dilakukan di musholla.

Sekitar jam 20:00wsa, bus menjemput di depan tenda rombongan untuk kembali ke Makkah melalui Muzdalifah, untuk mengambil batu dan mabit.

Selasa, 15 Oktober 2013

Sekitar jam 1:00 dini hari, rombongan sampai di hotel InterContinental Makkah, dilanjutkan dengan Thawaf dan Sa’i, tetap dengan berihrom. Alhamdulillah, berjalan lancar, selesai sudah semua larangan ihrom, sementara rombongan jamaah lainnya masih belum banyak sampai di Makkah.

Pelataran masjidil Haram terlihat banyak perempuan bercadar hitam menggelar tikar dengan berbagai kue di atasnya dan anak-anak berpakaian bagus penuh tawa. Merayakan lebaran Idul Adha rupanya.

Di tenda Mina

Di tenda Mina

Tepat setelah Dhuhur, rombongan Maktour berangkat ke tenda Mina untuk melakukan lontar jumrah Aqobah dengan pakaian bebas. Kurang lebih satu jam sampai di tenda Mina. Tenda besar tanpa sekat untuk tiga rombongan bus Maktour, 40-41-42. Laki-laki dan perempuan terpisah oleh jalan tanpa sekat. Tersedia masing-masing dua kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan dan gerai makanan, yang selalu menyediakan minuman segar dalam lemari es dan makanan kecil serta buah-buahan. Tersedia kasur lipat empuk berjajar rapi di karpet dan sandal bersih berbungkus plastik.

Setelah sholat maghrib berjamaah dalam tenda, semua jamaah 40, 41 dan 42 berangkat menuju Aqobah dengan tujuh kerikil siap lempar. Berjalan kaki.

Jarak tenda ke jalan-bersusun kira-kira 200 m. Escalator tersedia dalam gedung untuk menuju tiap lantai. Lantai 4, teratas adalah jalan semua jamaah haji tahun ini yang dipergunakan untuk melontar jumroh. Jarak dari escalator menuju Aqobah kurang-lebih 150 m, selanjutnya Wusta dan terakhir…, masing-masing berjarak kira-kira 50 m.

Pemerintah Arab Saudi telah membangun jalan bersusun empat yang sangat lebar (25-30m) menuju tiga ‘tiang’ target fisik lontar jumrah (Aqobah, Wusta, Ula) sebagai simbolisasi musuh umatNya, syaitan. Yang disebut tiang disini sebenarnya adalah bangunan dinding berdimensi kira-kira 15 x 2 m menjulang dari bawah lantai dasar hingga atap lantai 4, berada di tengah jalan susun. Bayangkan sebagai tiang besar ditengah sumur, sehingga batu yang mengenai dinding akan jatuh ke lantai paling bawah dari jalan susun tersebut.

Jamaah haji masih banyak di Makkah, dan belum cukup padat memenuhi Mina, sehingga cukup lega melakukan lontar jumrah Aqobah malam itu.

Tanpa masuk lagi ke tenda, jamaah langsung masuk bus dan kembali ke hotel di Makkah.

Rabu, 16 Oktober 2013

Tenda Maktour di Mina

Tenda Maktour di Mina

Setelah maghrib, rombongan 40-41-42 berangkat menuju tenda Mina untuk mabit dan  lontar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah. Jalan raya sudah ramai dengan jamaah yang menuju Mina. 42 kerikil dibagikan oleh Maktour di dalam bus untuk keperluan lontar jumratul. Turun dari bus di Mina langsung jalan kaki menuju Aqobah, Wustha dan Ula dengan 21 kerakal siap di tangan. Jalan paling atas bersusun empat sudah padat dengan jamaah, masing-masing terlihat dipimpin oleh ustadz yang memegang bendera atau papan berlogo rombongannya. Rombongan jamaah Indonesia banyak terlihat. Saat mendekati Aqobah, dengan semangat mereka berlari dan terlihat gemas mereka melempar Aqobah. Wuzzzz… plak.. tangan menampar kepalaku dari belakang setelah batu lepas meluncur ke tiang Aqobah. “Maaf pak”, sambil tersenyum ibu tua memohon maaf. “Alhamdulillah bu, semoga mabrur hajinya”, balasku sambil tersenyum. Pedas di kepala.

Selesai lontar jumrah, rombongan berjalan kaki menuju tenda yang sama, tempat jamaah singgah sehari sebelumnya. Handuk, sandal dan tas kecil berisi perlengkapan mandi tersedia di masing-masing kasur, untuk para jamaah. “Seperti perlengkapan mandi Boeing 747-400”, kata ustadz Faisal.. hahaha…

Kamis, 17 Oktober 2013

Tidur cukup nyenyak dan bangun jam 3:00 pagi untuk mulai ke kamar mandi dan sholat subuh berjamaah. Tersedia masing-masing dua kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan dalam tenda Maktour. Di luar tenda, tersedia banyak untuk umum, kamar mandi dan tempat wudhu.

Setelah sholat Subuh berjamaah dalam tenda, dilanjutkan dengan makan pagi. Menu menarik, tersedia dendeng balado dll. Lebih memilih mie instant rasa kari ayam, berlabel tulisan Arab semua tapi logo dan warna sudah sangat terkenal di Indonesia, dalam cangkir plastik, anget dan sudah hapal rasanya.. enak.. pasti anda tahu merknya…

Di depan escalator jumratan

Di depan escalator jumratan

Rombongan berkumpul di luar tenda dan siap bergerak jalan kaki untuk lontar jumroh Aqobah, Wusta dan Ula yang kedua kalinya dengan membawa 21 butir kerakal (lebih besar sedikit daripada kerikil).

Saat itu suasana jalan padat dengan jemaah namun cukup longgar dan nyaman untuk berjalan kaki. Tidak panas karena ada atap beton di atas lantai 4 yang melindungi sengatan matahari, hanya butuh masker karena debu.

Jumat, 18 Oktober 2013

Di depan Masjidil Haram

Di depan Masjidil Haram (Foto: De Wow)

Ulang tahun pakde Agus dan pakde Anang sempat dirayakan dengan makan bersama di cafe Hilton. Sayang, pakde Anung sklg hanya sempat menyambangi sebentar karena harus berangkat ke Jeddah 14:00 untuk pulang ke tanah air.

Hari itu adalah kesempatan terakhir untuk berbelanja oleh-oleh di Makkah karena malam hari kopor yang masuk bagasi pesawat, akan diambil Maktour pada malam hari, kecuali ‘hand carry’ melalui Madina-Jeddah.

Chicken Mandi - Al-Tazaj

Chicken Mandi – Al-Tazaj

Ini juga kesempatan terakhir menikmati ‘chicken mandi’, yang jadi menu pokok sehari-hari keluarga selama di Makkah. ‘chicken mandi’ adalah nama menu paket ayam goreng sejenis KFC dari gerai makanan al-Tazaj, yang berisi nasi gurih berwarna kuning dalam kotak timah sebesar piring cukup untuk berdua, berberas panjang tanpa kuah dengan satu ayam goreng tanpa tepung di tengahnya. Nasi dan ayamnya bisa bertahan lebih dari dua hari tanpa berubah kualitas bentuk maupun rasa, tapi pasti sudah habis dalam dua hari. Sangat direkomendasikan bagi yang berkunjung ke Makkah. Enak sekali.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Dalam Bus 'Maktur 40'

Dalam Bus ‘Maktur 40’

Perjalanan Makkah-Madinah berjarak 410 km, menggunakan bus, yang berangkat pukul 14:30 dari hotel InterContinental, Makkah. Matahari cerah, suhu 34C. Pelataran masjidil Haram mulai berkurang kepadatannya, namun thawaf sekeliling Kabah masih penuh dengan umatNya walaupun lantai dua terlihat lengang, terlihat dari siaran langsung tv hotel.

Jalan lengang berlapis aspal hitam halus berlajur tiga di masing-masing jalur dan pemandangan bukit-bukit batu dan dataran luas kering berpasir kecoklatan mewarnai kiri-kanan jalan sejauh mata memandang. Terik. Pagar kawat rendah yang terlihat ringkih setinggi satu meter membatasi kedua jalur berlawanan arah.

Berbahaya rasanya mengemudi di jalan bebas hambatan yang cukup lengang dengan pemandangan datar membosankan dan terik ini. Mudah mengantuk. Terkadang jalan di depan tampak kecoklatan tak tembus pandang karena tertutup pasir yang dihembus angin. Bus sering terasa goyang karena hembusan angin yang sangat kuat.

Sudah 55 menit perjalanan dari Makkah, masih 356 km lagi sampai Madinah.

Pukul 17:40 bus jalan lagi setelah istirahat di pemberhentian bus al-Tazaj, kira-kira KM200 selama 30 menit. Banyak sampah berserakan dan parkir bus tak beraturan. Kamar kecil antri dan jorok. Restoran ada beberapa, namun umumnya ‘take away’ food. Termasuk gerai Al-Tazaj dengan menu unggulan ‘chicken mandi’ yang penuh antrian, ingin juga ikut antri, tapi sayang tak cukup waktu.

Pukul 17:59 sign board pinggir jalan menunjukkan bahwa masih harus menempuh 171km lagi untuk sampai di Madinah. Perjalanan malam hanya mendapat cahaya dari lampu mobil, tanpa lampu jalan sama sekali.

Pukul 20:00 sampai di hotel Hilton Madinah, berlokasi di sekitar area masjid Nabawi.

 

Minggu, 20 Oktober 2013

Acara pagi dimulai dengan sholat subuh masing-masing, sarapan dan berangkat ke masjid Nabawi untuk sholat di roudhoh, jalan kaki. Kelompok perempuan berangkat lebih dulu berhubung dalam masjid, laki-laki dan perempuan dipisahkan. Ziarah ke makam Nabi Muhammad dan Abubakar dilakukan lebih dulu dan dianjutkan sholat di Rawdah (Roudhoh), tempat Nabi Muhammad memimpin sholat umatnya. Perlu menunggu beberapa menit untuk dapat giliran sholat di Roudhoh berhubung banyaknya peminat. Askar Arab secara tegas mengatur ini semua sehingga semua jamaah bisa mendapatkan kesempatan.

Bimo di Masjid Nabawi

Mas Bimo di Masjid Nabawi

Selesai sholat subuh, jalanan depan masjid Nabawi banyak dipergunakan untuk berjualan mainan anak-anak, sajadah, gamis.

Pertokoan di sekitar hotel mengingatkan pertokoan ITC di Jakarta, kios-kios kecil dengan lorong panjang, ramai dengan suara pembeli dan penjual. Pakaian muslim perempuan, sajadah, perhiasan, jam tangan, banyak dijual di kios-kios tersebut.

Melihat-lihat toko jam tangan, banyak dijajakan jenis-jenis yang ‘gemerlap’. Anehnya, sang penjual sering mengatakan “this is original”. Loh.. sebaiknya lebih ‘teliti sebelum membeli’.

‘Food market’ terletak di seberang hotel Hilton menjual banyak makanan fastfood, termasuk baso yang dikemas dalam kotak timah. Semua makanan hanya bisa dibawa pulang (take away), tidak tersedia meja makan di resto kecuali di pelataran pasar. Gerobak dorong untuk berjualan pisang, anggur dan buah lainnya juga tampak di pasar ini. Toko kecil di sudut food market, yang berjualan kurma, termasuk yang ramai dikunjungi jamaah haji. Kurma Ajwa atau kurma nabi, yang menurut cerita adalah jenis kurma yang dulu pernah ditanam oleh nabi Muhammad SAW, cukup laris dibeli jamaah. Juga kurma tanpa biji yang dibungkus cokelat dan berisi almond.

 

Senin, 21 Oktober 2013

Pukul 14:15 berangkat menuju Jeddah.

Setelah 33 menit perjalanan,14:48, papan penunjuk jalan di pinggir jalan tol memberikan info bahwa jarak menuju Jeddah adalah 385 km. Pembukaan selokan dan pipa di sebelah kanan jalan tampak disusun bersambungan siap untuk ditanam. Sering terlihat pembangunan di kanan-kiri jalan.

Lalulintas jauh lebih sepi dibanding dengan perjalanan Makkah-Madinah. Tampak di jalan lurus bebas hambatan ini hanya ada satu bus di depan. Mungkin karena masih banyak jamaah haji yang berziarah di Madinah. Suara angin yang keras dan gerak bus yang seperti terombang-ambing ke arah kanan menunjukkan kekuatan angin yang tinggi menampar bus dari sebelah kiri.

Pukul 17:24, Jeddah masih 126 km dan Makkah 150 km. Matahari tepat dari arah depan bus, silau. 15 menit kemudian bus belok ke kanan di pertigaan yang menuju Jeddah, masih 98 km, sementara jalan lurus menuju Makkah.

Lampu bercahaya terang sepanjang jalan mulai menyala, terlihat seperti garis panjang kuning di tengah tanah datar luas menjelang gelap. Memasuki kota Jeddah, sebagai bagian propinsi Makkah, rasanya lapang dan terang. Tidak banyak orang berlalu-lalang, jalan lebar, gedung-gedung besar berdesain modern dengan halaman luas, bercahaya terang dan neon sign berwarna-warni seperti layaknya kota metropolitan dunia. Banyak terlihat showroom mobil sport mewah.

Pukul 19:00 sampai di hotel Intercontinental, Jeddah. Hotel besar dan kamar besar, yang masing-masing tempat tidurnya (twin) mampu untuk berdua, namun secara keseluruhan, redup cahayanya. Makanan dan buahnya enak sekali.

Di sebelah hotel terdapat toko Gazzaz yang terkenal dengan parfum dan keperluan perempuan lainnya seperti tas, perhiasan, perlengkapan make up, dll. Toko Gazzaz ini juga ada di Makkah, persisnya ada di lantai dasar hotel Hilton, namun tidak sebesar dan senyaman di Jeddah. Bayak dikunjungi jamaah dari Indonesia untuk keperluan oleh-oleh parfum dan pasmina.

Pusat Perbelanjaan Jeddah

Pusat Perbelanjaan Jeddah

Pertokoan modern di jalan Tahliya banyak menjual barang-barang ‘branded’ yang buka mulai jam 10:00 pagi. Merk-merk ternama untuk tas khususnya, seperti Louis Vuitton, Hermes dll. semua tersedia.

Untuk pasar menengah, bisa mengunjungi wilayah Ballad. Barang apapun ada dijual di sini. Kue, pakaian, jam tangan, kamera, semua ada. Bahkan restoran Indonesia ‘Garuda’ yang menjual mie ayam dan baso, lengkap dengan goreng-gorengannya juga ada. Nikmat, rasa asli dan oleh orang-orang Indonesia asli. Cukup untuk mengobati rasa kangen masakan Indonesia. Banyak sekali rombongan jamaah Indonesia yang berseliweran di Ballad ini.

Bude Reni sangat fasih dengan lekuk-liku kota Makkah, Madina dan Jeddah ini, khususnya area tempat jualan oleh-oleh. Istilahnya “lobang semut pun dia tahu” ha ha ha…

22 Oktober 2013

Jam 21:00 mulai berangkat menuju bandara King Abdul Aziz, Jeddah untuk keberangkatan ke tanah air menggunakan GS0983 yang akan takeoff 23 Okt 2013 1:30 dini hari.

Kira-kira 15:00wib GA0983 mendarat di CGK, dan keluar bandara 16:30 setelah paspor dan air zamzam dibagikan oleh Maktour.

Alhamdulillah dan terimakasih kepada Maktour serta Ustadz Darmawan yang telah menghantar dan mengawal kami dalam prosesi haji hingga kembali ke tanah air dengan selamat. Semoga haji kita semua mabrur adanya. Amin

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »