Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jalan-Jalan’ Category

usium Kaliurang Aug. 2013

Musium  Ullen Sentalun, Kaliurang, Aug. 2013

2 Aug 2013

Tepat 7:45, GA306 boarding menuju Surabaya mengangkut kami bertiga. Dua kopor di bagasi, satu kopor dan satu ransel di cabin, siap menjadi bekal kami berlebaran di Kediri-Yogya selama dua minggu, 2-16 Aug 2013. Mampir di Depot Anda, Mojokerto untuk bungkus rawon, pepes pedas kepiting dan udang. Sekitar jam 12:00 sampai di rumah Putri, Kediri.

Buka puasa pertama di Kediri rasanya nikmat sekali, banyak kue, minuman dan lauk-pauk lengkap. Sudah langganan setiap tahunnya, TA dan DG yang belanja, kadang DRS dan OP membantunya. Saya dan Candil penumpangnya he he he.

Tak lama kemudian, pakde Anung datang dari Jakarta (pulang hari Senin, 5 Aug 2013), disusul rombongan terakhir dari Jakarta, De Wow dan klg, om Putut dan mbak Dhila. Wah, Putri makin sumringah.. tapi kok masih susah semangat makannya ya… lemah, kurang semangat, mudah sakit, walaupun dengan fisik yang kelihatan lebih ringan dan sehat. Namun gak bisa dipungkiri, goresan senyum tetap terselip, bahagia dengan kedatangan putra-putri dan cucu-cucunya. Suasana ramai, segar dan ceria muncul disekelilingnya.

Malam hari para cowok jagoan pada tidur di Musholla, lengkap dengan peralatan tidurnya.

3 Aug 2013

Kegiatan seperti biasa, para cowok main game sepakbola dan dua cewek lainnya (dik Laras dan mbak Candil) sibuk dengan iPadnya masing2. Jam 15:30 bude Ganik mulai ngabuburit belanja buat buka puasa ditemani TA, Candil dan OA. Baso goreng Mitra adalah selera tetap para krucil, (SD s/d SMA) dan es Internasional langganan para bapak/ibunya. Buka puasa meriah dengan meja makan penuh lauk dan kue. Gak sempat istirahat, dilanjut sengan beli martabak tipker, depan SMA 1. Sampai rumah, langsung ‘sikat abis’… menyenangkan..

Jagongan di meja makan malam hari gayeng sekali, apalagi ada pakde Agus yang selalu bikin tertawa ngakak…

6 Aug 2013

Pakde Tri sklg datang dari Madiun, di susul mas Iwan dgn mbak Ika pada tanggal 7 Aug pagi dari Yogya. Berhubung sudah ada rumah sendiri di Kediri maka pakde Tri sklg tidak lagi turut meramaikan tinggal di tempat Putri, tapi bude Bet masih sempat nginap semalam.

8 Aug 2013

Putri dan Anak CucuBerangkat sholat Ied jam 6:00 dari rumah. Tidak seperti tahun sebelumnya, kali ini Putri berangkat ke masjid berjalan kaki, tidak lagi berkursi roda. Alhamdulillah. Baju koko bagus dari De Ren warna merah dan putih. Matursuwun bude Reni.

Sudah menjadi budaya keluarga yang sangat ngangeni, sarapan bersama dengan menu utama lontong opor ayam, sayur labu pedas, sambal goreng krecek dan tahu, juga telor petis setelah sholat Ied, dilanjutkan sungkeman dan bermaaf-maafan, kemudian acara yang ditunggu para cucu, yaitu pembagian amplop dari para bude, tante dan om Putut dan ditutup dengan berfoto-foto.

9 Aug 2013

Om Peter datang, setelah melalui perjuangan panjang dari Munchen, Spore, Jakarta, Surabaya dengan delay berkali-kali, karena badai.

10 Aug 2013

KA MalioboroJam 11:25, Putri dan semua anak cucunya bergerak menuju Yogya, menggunakan keretaapi Malioboro. Untuk nyekar Kakung tentunya. Asik juga keretanya, mampir berhenti di setiap stasiun. Mulai Kertosono, Nganjuk, Madiun…

Rombongan Putri terpisah di tiga gerbong, Eksekutif 1, 2 dan 3. Sayang sekali, Pakde Agus dan Bude Reni tidak dapat turut serta, karena tanggungjawab amanah yang harus diembannya sebagai pimpinan masyarakat Kediri. Selamat bertugas pakde/bude. Juga mbak Sita yang harus kuliah di Melbourne, semangat dan sukses mbak. Wah.. kebayang khusuknya sholat Ied mbak Sita di sana..  Kira-kira 15:15 kereta sampai di stasiun Yogyakarta. Putri naik taksi dan sisanya berbecakria menuju hotel Santika. Rp. 30 ribu/becak.

Sampai di Santika disambut pakde Anung dan de Han. Acara meriah dari pakde Anung di kamar karemenan Putri, suite room 355, adalah pembagian amplop untuk semua anak, keponakan juga orangtuanya.

11 Aug 2013

Nyekar Terkasih

Nyekar Terkasih

Pagi itu kita semua berangkat untuk ziarah ke makam Kakung di sebelah timur Ambarukmo. Mas Iwan sudah menyiapkan bunga. Khusuk berdoa semoga Kakung istirahat damai di istanaNya, dilanjutkan menabur bunga di pusaranya. Pakde Anung berangkat ke Surabaya dan mas Iwan ke Jakarta.

Setelah ziarah, Putri dan sebagian rombongan berlebaran ke keluarga di Jomblang, sedangkan para cucu ke UGM untuk berfoto-foto, Insha Allah keinginan para cucu bisa kuliah di UGM dikabulkanNya, amin. Jalan-jalan dilanjutkan ke Kaliurang melihat museum Ullen Sentalun tentang keraton Solo dan Yogya yang direkomendasikan De Wow. Bagus sekali museumnya, jadi lebih paham sejarah keluarga kraton. Foto para raja, ratu dan keluarganya banyak dijelaskan oleh guide yang sepertinya sangat paham silsilah keluarga istana. Sayang tidak ada informasi tertulis yang dipasang untuk menjelaskan foto-foto tersebut.

12 Aug 2013

Putri, DG, TA, siapa lagi ya? Belanja di Kranggan dan batik di Malioboro, sementara para cucu nonton RED2 di Plaza Ambarukmo. De Han, maito dan mbak candil pulang Jakarta, setelah mampir santap lotek di Sagan. Uenak tenan…

Kereta Malioboro jurusan Yogya-Malang mengangkut rombongan ke Kediri pada jam 23:25. Pakde Tri sklg turun di Madiun dan kereta sampai di Kediri sekitar jam 4:00. Om Putut dan om Peter masih santai di Yogya.

13 Aug 2013

Rabu siang Pakde Anang pamit berangkat ke Jakarta.

16 Aug 2013

Jumat jam 9 pagi OA sklg dan DW sklg pamit pulang ke Jakarta.

Alhamdulillah acara lebaran 2013 berjalan membahagiakan untuk semua, semoga semakin meriah untuk Lebaran 2014 dan selalu sehat sejahtera untuk Putri tercinta dan seluruh keluarga. Amin

Putri

Putri

Putri,

Tujuhpuluh lebih usianya

Lamban terlihat gerak raga

mengatur langkah nafas di dada

lembut santun bertutur kata

tanpa lelah, bimbing kami semua

tak lupa terus memanjat doa

‘tuk putra-putri cucu tercinta

 

Bila telah Kakung tiada

Terhentak bangun kami semua

Terbayang jauh di awal usia

Begitu nakal kami ternyata

Ah… Sering lupa …

betapa Kakung Putri berdua

Begitu keras menjaga kita

Mengajar, beraskencur, kue, stensil dan bukunya

Adalah bagian perjuangannya

Tambah tirakad setiap harinya

Mengerti sudah kami kiranya

Bahagia semata tujuannya

Untuk semua buah cintanya

… Sungguh mulia …

Tak mungkin kami membalasnya

Semua yang sudah dicurahkannya

Bagaikan, menggarami samudra saja layaknya

Namun tetap kami upaya

Untuk terus membahagiakannya

Putri yang mulia

Lebaran selalu jadi harapan

Saat berkumpul penuh guyonan

Bila datang saat sungkeman

Terpuruk tunduk diatas pangkuan

Memohon maaf dalam dekapan

Putri selalu, penuh kelapangan

Goresan senyum terselip mekar

ceria kerna keluarga besar

putra-putri dan semua cucunya

riang segar tanpa terasa

muncul sinar di sudut mata

Bahagia penuh Putri tercinta

Read Full Post »

Ramai sekali rasanya, tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan berlalu-lalang dengan tas plastik membungkus barang baru di dalamnya. Sulit untuk tidak bersenggolan dengan sesama pengunjung. Beberapa pasangan muda tampak mesra duduk di tangga mall itu, juga kelompok anak muda belasan tahun terlihat ceria bercanda, sedang reuni sepertinya. Berisik bunyi becampur menusuk gendang telinga, penuh. Suara anak menjerit, menangis minta terus bermain di tempat main berbayar sangat khas terdengar. Tak sabar sang ibu, memarahinya dan menariknya masuk ke toko perhiasan. Semburat senyum sang ibu keluar kaca etalase toko, dapat sudah barang yang dicarinya, rupanya…. ah musim belanja saat lebaran masih berlangsung memang..

Duduk aku di pojok sebuah kedai donat, sambil menulis catatan ini, menunggu anak-anak nonton di bioskop, berlima, termasuk satu perempuan termuda kelas 6 SD tapi bukan yang terkecil, bongsor badannya, gadis layaknya. Entah apa yg mereka tonton, tampak panjang antrian beli tiketnya. Senang menemani mereka jalan bersama, selalu bercanda. Kadang sampai bikin adik terkecil yg perempuan sendiri menangis, diganggu kakak-kakaknya. Tapi tetap saja mereka selalu bersama bergembira. Selalu rukun .. anak-anak yang belum mengerti sepunuhnya harga uang. Hemmm… berbahagialah nak.. kuamati saja dari belakang…

Sambil menunggu anak-anak nonton, aku masuk ke toko buku dalam mall yang sama. Ramai juga. Usia belasan, usia sd dan smp, paling banyak terlihat. Mereka berkerumun di anjungan buku-buku novel remaja, chicklit istilahnya, dan komik. Pengunjung terbanyak kedua adalah usia smu dan mahasiswa. Sama, mereka juga menyenangi novel juga, tapi novel yang lebih dewasa. Akupun mengambil satu buku di anjungan novel ini ‘Lelaki pemanggul goni’, buku kumpulun cerpen terbaik 2013 versi Kompas. Buku religi termasuk yang banyak dikunjungi pengunjung. Yang menarik dari para pengunjung toko buku besar ini adalah banyak perempuan usia smu atau mahasiswa, menggunakan jilbab. Apakah ini bisa berarti semakin religius anak muda kita? Semoga berada dalam bimbingan yang benar.
Tiba-tiba sontak kaget aku dibuatnya, mereka berlima teriak di tidak kusangka. Selesai sudah mereka menonton film, RED2. Pulang ke hotel kita bersama.

Read Full Post »

Program lebaran Keluarga Putri Kediri (KPK) tahun 2012 ini sepertinya jauh lebih terencana. Hampir dua bulan sebelum lebaran, program sudah tersusun, transportasi. darat/udara sudah saling konfirmasi, bahkan ticket dan hotel sudah terbeli, berkat koordinasi TA, DG dan DR.

Habis Sungkeman by DW

Kedatangan gerombolan KPK dari luar kota dimulai dari De Wow sklg pada hari Sabtu, 11 Agustus 2012, lalu pd Seninnya adalah OA sklg dengan mas Dhito/mbak Dhila. Rabu siang, pakde Anang muncul dari Banjarmasin, dilanjutkan om Putut pada malam harinya, kemusian pakd Tri sklg dan terakhir om Peter dari Munchen beberapa hari kemudian (nekat tenan ini bule, gak tahu lor-kidul, berani datang sendiri ke Kediri … huebat ..).

Beberapa hal baru, terlihat di rumah Putri, seperti: jendela di sebelah pintu masuk dari carport sudah hilang, digantikan dengan kusen pintu rak kaca untuk souvenir, furnitur baru ada di ruang tamu depan, sedangkan yang lama pindah ke ruang tv. Yang really surprising adalah hadirnya Ford Fiesta putih sporty di carport, punya mas Andre.. uapikkk banget … Hampir ketinggalan, mbak Ika sebagai anggota baru juga hadir.. selamat bergabung mbak ..

Menuju Bali

Stasiun Kertosono

PO. Setiawan adalah bus baru yang nyaman, sejuk dan full music, mengangkut rombongan Putri menuju Kertosono, 20 Aug 2012 09:15 dari rumah Kediri. Ada 25 orang anggota keluarga yang ikut, kecuali pakde Agus, mbak Winda dan pakde Anung/bude Hani yg berangkat dari Jakarta. Jalan yang ramai karena lebaran, membuat bus baru bisa sampai di stasiun Kertosono pada jam 10:45 . Sangat beruntung, karena KA Sancaka Pagi yang harusnya berangkat 10:44 ternyata terlambat sampai Kertosono.

Gerbong kereta Eksekutif bersih dan nyaman, sesuai harganya Rp. 160.000 Kertosono – Surabaya. Sayang, nasi goreng khas Kereta Api yang kami kangeni sudah habis .. Ohhh … Kereta sampai di stasiun Gubeng Surabaya 12:30. Dilanjutkan dengan taxi menuju bandara Juanda.

GA344 takeoff 15:55 mengangkut kami ke Denpasar, dan landing di bandara Ngurah Rai 16:30wib.

Bus wisata Gede Tour langsung membawa kami ke Jimbaran utk makan malam di Bali cafe, di udara terbuka pantai selatan Bali dengan pandangan laut lepas dan naik-turunnya pesawat di Ngurah Rai yang terlihat kerlap-kerlipnya. Menu seafood beragam dalam satu piring besar per orang, disajikan di atas meja panjang berderet menjorok ke laut. Dua orang penari Bali berlenggak-lenggok di atas panggung mengiringi makan malam dalam suasana akrab, penuh canda. Pakde Anung dan Bude Hani hadir juga.

Acara malam itu diakhiri dengan masuk ke hotel The Breezes, di Seminyak. Bagus dan nyaman hotelnya. Recommended.

Bounty Cruise

Menuju Bounty Cruise

Episode paling menyenangkan pagi hari selanjutnya, khususnya untuk para ABG dan ASG (anak sudah gede), adalah bermain air di sekitar pulau Nusa Lembongan. Bounty Cruise besar berlantai tiga mengangkut kami dari pelabuhan Benoa menuju pantai Nusa Lembongan. Berhenti di ponton tengah laut, sebagai pusat permainan air seperti Banana boating, snorkling, diving dll. Permainan yang pada umumnya mendebarkan disaat awal namun berakhir menyenangkan ini sepertinya tidak membuat lelah mereka, apalagi lunch break disediakan di atas ponton.

Village tour
Setelah permainan selesai, dilanjutkan dengan perjalan ke desa Lembongan di pulau Nusa Lembongan, salah satu pulau kecil dari deretan tiga pulau yang terletak di sebelah tenggara pulau Bali, yakni Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, untuk melihat Goa Gala dan peternakan Rumput Laut.

Budidaya Rumput-Laut

Budidaya Rumput-Laut dilakukan sangat sederhana. Pengeringan hanya dilakukan dengan cara menghamparkan rumput-laut diatas terpal berharap kering dari panas sinarmatahari, kemudian di petik secara manual di dalam ‘rumah-rumah’ kecil dan dikemas dalam kantong-kantong plastik kecil untuk dijajakan sepanjang jalan.

Keluar Goa

Goa Gala, sebuah goa buatan manusia, di bawah permukaan tanah datar berbatu kapur yang cukup unik di Nusa Lembongan ini dibuat oleh Made Byasa seorang diri, selama 15 tahun (1961-1976) dengan manggunakan peralatan yang sangat sederhana pada waktu itu yaitu linggis. Pekerjaan beliau adalah mangku dalang, petani dan juga pertapa. ‘Jalan tikus’ setinggi 1,5 meter di kedalaman 3 meter bawah tanah ini berada dalam area kira2 225 m2 dengan 6 lubang di permukaan tanah.

Made Byasa membangun Goa Gala karena terinspirasi kisah pewayangan Mahabarata, khususnya pada episode “Wana Parwa”, yaitu kehidupan Pandawa yang sedang dalam pelarian dari kejaran pasukan Kurawa sehingga membuat tempat perlindungan khusus yang terbuat dari gala atau aspal. Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa Pandawa dibuang ke hutan selama 12 tahun karena kalah berjudi dengan Kurawa. Sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Kurawa, maka dibangunlah sebuah goa dan dinamakan “Gala-Gala”.

Cruise kembali ke Benoa tepat 16:00, kita semua terlihat lelah dan ngantuk. Pop Mie panas sempat menghantar kita sebelum krok krok krok di atas kapal…

Tari Kecak
Sudah sangat paham bahwa tarian khas Bali adalah Tari Kecak, namu baru saat ini bisa menikmatinya langsung depan panggung, dari awal hingga akhir cerita.

Tari Kecak

Tari kecak Rama-Sinta yang disajikan selama 1,5 jam sungguh mengagumkan. Iringan music vokal dan gerak seragam para pendukung tari utama terdengar energik dan indah dilihat. Gerak tubuh para penari utama terlihat sangat lentur harmonis dan menerus, bagai gerak gelombang kadang bertumpuk, kadang berurutan antara kaki, pinggul, pinggang, dada, tangan bahkan gerak mata. Sangat menakjubkan.. Berkesan..

Tari Barong

Menonton Tari Barong

Pertunjukan tari Barong di keesokan paginya, berada di wilayah Barong Celuk. Panggung dari batu berada di depan, kira-kira 25×10 m, di sebelah kanan tempat gamelan dan para perawit yang sedang memainkannya. Tribun tempat penonton cukup luas utk menampung lebih dari 500 orang.

Tari Barong ini bercerita tentang Barong vs Rangde (kebajikan vs kebatilan). Dewa Syiwa memberi kekuatan pd Sahadewa, anak Dewi Kunthi. Kalike (perempuan) utusan Rangde berubah menjadi babi hutan, kemudian berubah lagi menjadi garuda, namun tetap kalah melawan Sahadewa, kemudian berubah menjadi Barong. Pengawal Sahadewa menggunakan keris utk membunuh Rangde.

Ubud

Belanja produk Uluwatu

Seperti halnya Tari Kecak dan Tari Barong yang baru pertama kali aku nikmati, Ubud adalah obyek wisata yang memang ingin aku kunjungi. Terletak di tengah pulau Bali, berada di dataran tinggi yang cukup sejuk dan jauh dari kegaduhan, meskipun sudah mulai ramai dengan pertokoan di sepanjang jalan utama. Ada dua team yang melakukan kegiatan berbeda  saat di Ubud, yaitu jalan-jalan dan arung jeram.

Ada butik menarik yang sudah diincar para bude, yaitu Uluwatu. Butik ini menjual pakaian wanita dengan warna dominan hitam-putih. Bagus memang …

Sebuah kedai es krim Tosca Gellato yang menyediakan berbagai rasa, di sebelah butik Uluwatu, Ubud sempat kami kunjungi .. uenak.. Khususnya utk rasa kopi.

Sebuah penginapan yang menyediakan spa, resto dan gallery, berkonsep cottege, Padi Prada, kita pilih untuk istirahat Putri, sambil menunggu team ‘arung jeram’ menyelesaikan kegiatannya. Suite room berupa bangunan tunggal berkamar besar di bagian depan dan teras dengan pemandangan sawah di bagian belakang. Suasana damai …

Makanan selama di Bali juga memuaskan, baik seafoodnya, maupun nasi Balinya yang pedas. Tiga hari selalu masuk kamar hotel saat larut malam, karena penuhnya acara. Memuaskan.. Keesokan harinya kami harus saling berpisah, Putri ke Kediri, ada juga yang ke Yogya, Manado dan Jakarta

Kapan lagi jalan-jalan dengan Putri? Saat posting halaman ini, sebagian anggota KPK (Keluarga Putri Kediri) sedang jalan-jalan ke Munchen, Paris, Itali dan Austria bersama Putri. Selalu sehat ya Putri, supaya terus bisa jalan-jalan.

Kata-kata baru yang kami dapat:
– Om swastiasti om : Semoga ada dalam keadaan baik atas karuniaNya
– Om santi santi santi om : Semoga damai atas karuniaNya
– Matur Suksma : Terimakasih

Read Full Post »

19 Juni 2012, Lion Air Boeing 737-800 terbang jam 5:00 WIB dari bandara Soekarno-Hatta, Jakarta langsung membubung tinggi di ketinggian 37000 kaki. Pesawat bersih, penuh penumpang dan terasa sejuk dengan interior dominan berwarna biru. Mendarat di bandara Mutiara Palu jam 8:20 WITA.

Tepat jam 9 pagi Toyota HI-Lux double cabin membawa kami bertiga menuju Morowali via Poso (lihat peta, dari titik A menuju B). Sungai banyak terlihat kering. Jalan ditutup selama 2 jam, tepat saat kami memasuki Kebun Kopi, antara Palu-Toboli, karena perbaikan jalan akibat longsor. Toboli adalah pertigaan jalan di pantai timur Sulawesi tempat bertemunya jalan dr Manado-Makassar dan Palu-Makassar. Toboli-Manado 1000km dan Toboli-Makassar 900km.

Istirahat siang, kami makan ikan bakar di resto pinggir pantai kota Lebo, Kab. Parigi. Restoran sepi tanpa nama, tak satupun terlihat tamu kecuali kami bertiga. Hanya tersedia satu box ‘iglo’ berisi ikan baronang. Kami memesan masing-masing satu ikan baronang dengan cah kangkung dan es nutrisari. Kenyang dengan harga terjangkau, Rp. 40.000 per orang. Siap melanjutkan perjalanan di panas terik. Lebo-Poso sekitar 150 km, lebar jalan hanya mampu untuk dua mobil bahkan seringkali kami harus keluar badan jalan saat menyalip truk. Klakson mobil kami terus berbunyi mengingat seringkali motor/sepeda keluar ke jalan raya dari pintu rumah yang dekat sekali ke badan jalan, dengan mendadak.

Setelah 43 km perjalanan, kami sampai di Kec. Tolai, 107 Km menuju Poso. Cukup ramai, terlihat pompa bensin, Tiki dan BNI. Samsurizal Tombolotutu calon bupati yg banyak muncul balihonya di pinggir jalan, banyak modal sepertinya.

Kecamatan Balinggi, 1/2 jam dr Tolai, banyak dihuni warga Bali, pagar rumah kas Bali dan pura, termasuk simbol patung yang dibungkus kain hitam-putih terlihat di pinggir jalan. Sawah hijau dan tanaman coklat banyak terlihat sepanjang jalan di kecamatan ini. Rumah adat Bali ini masih banyak terlihat hingga mendekati kota Poso. Ada cerita bahwa masyarakat Bali di Poso banyak terlibat dalam usaha perdamaian saat kerusuhan etnik terjadi di awal 2000an. Beberapa puing-puing sisa rumah dan bangunan bekas terbakar saat kerusuhan masih terlihat, namun banyak juga sudah terlihat direnovasi. Poso sudah aman dan mulai membangun. Toko mobil Haji Kalla sedang dibangun di kota ini. Antrian bahan bakar bensin terlihat panjang, banyak motor juga membawa jerigen. Entah apa penyebabnya, kuota bbm yang kurang atau penjual eceran yang menimbun?

Kecamatan Sausu di Kabupaten Poso dipisahkan dengan kabupaten Parigi oleh sebuah sungai besar. Sampai di kecamatan Tambarana jam 15:30, berjarak 170 km dari Palu dan 50 km lagi menuju Poso. Kira-kira 40 km sebelum masuk Poso, jalan rusak dan aspal lepas dari badan jalan. Perbaikan sedang dilakukan.

Masuk kabupaten Poso jam 16:30 disambut dua tower BTS (telkomsel?) di kiri/kanan jalan. Rumah-rumah adat Bali masih banyak terlihat dengan tanaman coklat di depannya. Depo Pertamina di sebelah kiri jalan terlihat luas dan bersih, walaupun sempat terbakar saat kerusuhan yang sangat traumatik terjadi beberapa tahun yang lalu. Pusat kota ditandai oleh pusat pertokoan kecil (pasar?) di pojok perempatan. Konon, saat terjadi kerusuhan, pasar ini sangat dijaga oleh aparat keamanan sebagai pusat ekonomi dan tempat pengungsian.

menyeberang sungai

Perjalanan Poso – desa Tomboyali menggunakan jalan raya Poso-Luwuk, kemudian belok ke kanan di pertigaan Taiawa. Jalan sempit dan rusak di beberapa lokasi. Sampai di desa Malino, perjalanan semakin berat setelah melewati desa Sumara, karena memasuki hutan heterogen dengan pohon-pohon berbatang kecil dan gelap, sudah jam 18:30wita dan tanpa signal handphone. Jembatan banyak rusak, sehingga seringkali kami harus menyeberang sungai kecil maupun besar, untungnya di hulu tidak sedang hujan walaupun air sudah menutupi lampu depan mobil dan merendam knalpot. Toyota Hilux memang handal.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di kampung Tambayoli pada jam 20:00 wita, setelah total 11 jam perjalanan dari Palu. Desa terlihat terang dan hidup di malam hari karena mendapat bantuan listrik dari perusahaan tambang nikel. Desa, yang masuk kecamatan Bungku Utara, kabupaten Morowali ini berada di dekat muara laut lepas Sulawesi bagian timur, berisi tak lebih dari 200 rumah, yang sebagian warganya bermatapencaharian sebagai petani, peternak dan pekerja tambang. Banyak rumah mulai dibangun dan ekonomi mulai menggeliat tumbuh karena pertambangan mulai beroperasi beberapa bulan yang lalu, efek ganda (multiplier effect) telah terjadi. Semoga keberadaan perusahaan tambang disana bisa menjadi berkah untuk masyarakat sekitar dan perusahaan. Amin.

Read Full Post »

Mainan baru yang kuperoleh sejak Feb. 2012 ini memang sering memaksa untuk dibawa jalan, Nikon D90. Kamera yang bagus untuk pemula, begitulah saran dari para pemain lama. Mata sering terpacu untuk lebih jeli melihat sekitar, yang selama ini sering terabaikan, dan melintas begitu saja. Mainan ini mengingatkanku pada alm. Bapak di tahun 70an dengan Kodaknya, yang kalau memotret harus diintip dari atas kamera, bahkan lengkap dengan ruang dan peralatan cuci-cetaknya. Kamera manual dan film hitam-putih. Kami sekeluarga turut sibuk memproses film hingga menjadi foto di atas kertas, dalam ruang gelap berlampu merah, redup. Cukup menarik untuk bisa menuliskan proses cuci-cetak film ini, sayang aku sudah banyak lupa, tapi nanti akan kutulis setelah ingatan kembali terjaga.

Juwana
Dalam rangka ziarah makam orangtua di Juwana, D90 dan lensa kit 18-105 mm turut menjadi bekal. Sirrr … sedikit nyeri di hati melewati rumah kosong yang dua tahun lalu Ibu masih di situ, Bapak lebih dulu menggalkannya, setahun sebelumnya.

Obyek pertama yang aku harapkan adalah suasana ‘tambak udang’ di pinggir kali. Ternyata udang sudah dipanen, kering, penuh alang-alang. Aktifitas menjaring ikan di pinggir kali juga tidak aku dapatkan. Hanya satu momen yang terjebak dalam kamera, tiga anak bersepeda pulang sekolah.

Warung kecil yang menjajakan masakan ikan laut menjadi tempat makan siang bersama kakak dan adik-adikku. Murah, lengkap dan pedas. Mangut ikan Pe, sop kepala Manyung, kepiting, udang, bothok telor kepiting, sambel pete adalah menu yang terhidang, dan es kopyor sebagai penutupnya.. … Nyusss ..

Kapal Nelayan

Obyek foto berikutnya adalah kapal di kali Juwana. Sayang warna langit kurang ramah, berawan gelap, mendung. Sudut pengambilan gambar tidak bagus dan kurang berwarna, hanya biru menguasai warna kapal.

Semarang
Sewaktu kecil, sering aku dibawa bapak/ibu beranjangsana ke saudara di Semarang tapi tak sekalipun terlintas untuk mampir ke Lawang Sewu, gedung perkantoran Kereta Api jaman Belanda, meskipun mondar-mandir keliling Tugu Muda, di depannya.

Kawasan Simpang Lima

Test kamera low-light aku lakukan dari jendela Shantika hotel dengan obyek neon sign ‘Kawasan Simpang Lima’, lalu keluar menuju Lawang Sewu, jalan kaki.

Lawang Sewu

Lawang Sewu (Luar)

Dengan membayar tiket Rp. 10 ribu dan pemandu wisata Rp. 35 ribu, tamu bisa keliling memotret sambil mendapatkan cerita sejarah Lawang Sewu dari pemandu. Malam itu cukup banyak pengunjung, yang seringkali berbisik-bisik tentang cerita mistis gedung ini dari banyak media. Tentang sejarahnya bisa googling dengan penunjuk “Lawang Sewu” atau “wisata semarang”. Dari sisi luar gedung, pencahayaan tertata bagus.

Lawang Sewu (Dalam)

Kombinasi cahaya lampu kuning yang menyorot dinding gedung, taman yang tertata rapi, lorong panjang yang bersih dan terang, dan jendela gothik di bagian atas, juga cahaya dari Tugu Muda di balik gedung, sungguh bagus jadi obyek fotografi. Gedung Percetakan tua yang terawat dengan lampu-lampu kuning terang di dalamnya, dan cahaya kuning lembut di luarnya, juga indah dilihat dari luar melalui jendela-jendela besar yang terbuka.

Lokomotif

Yang juga menarik, lokomotif buatan Jerman yang dipergunakan di jaman Belanda juga dipajang di depan gedung. Memang masih ada gedung yang gelap, pengap, belum tertata. Berbeda dengan suasana malam hari yang terlihat lembut, pada siang hari gedung Lawang Sewu terlihat kokoh, kaku dan kering.

Kota Lama

Gereja Blendhuk

Di daerah Kota Lama, aku hanya sempat memotret Gereja Blendhuk yang terawat baik, bersih dan masih aktif dipergunakan. Ingin rasanya melihat bagian dalam bangunan ini, namun situasi tidak memungkinkan berhubung sedang ada Kebaktian.

Gedung Marba

Gedung tua Marba, yang sepertinya masih aktif dipergunakan, sempat juga aku potret. Ada satu gedung tua di jalan Gereja Blendhuk ini yang sudah tidak dipergunakan, lusuh, tidak terawat.

Masih banyak obyek foto yang perlu dilihat di Kota Lama ini, seperti setasiun Tawang dan beberapa gedung disekitarnya, juga obyek lainnya di kota lunpia ini, Semarang. Sampai jumpa…

Read Full Post »

Meranggas

Lampu kabin Garuda F890 tujuan Beijing dimatikan untuk takeoff dari bandara Soeta pada pukul 21:23. Pilot mengumumkan bahwa akan membutuhkan waktu selama 7 jam untuk sampai di bandara Beijing, China. Tepat 5:30 waktu Beijing, Garuda GA890 mendarat.

Hari ke-1
Bandara Beijing

Di restroom bandara, kami semua mulai mengenakan longjon (pakaian dalam panjang dari kaki hingga leher) dibawah kaos panjang dan jaket tebal, untuk menghadapi udara dingin akhir Desember -5C, sebelum keluar melewati imigrasi dan mengambil bagasi.

Sambil menunggu datangnya bus penjemput, kami sempat sarapan di Kentucky dengan menu burger ikan bersaus manis (rasa bebek goreng Duck King, jakarta). Pukul 7:30 tour bus mengangkut kami ber18 menuju Summer Palace. Jalan serasa masih subuh, matahari belum muncul, berkabut dan sedikit macet. Pohon berbatang kecil, 15-20 cm diameter, tumbuh rapi di sebelah kanan/kiri jalan tol, meranggas daunnya, kecuali pohon pinus yang daunnya mampu bertahan, terlihat hijau. Cerobong tinggi berasap putih beberapa terlihat jauh di sebelah kiri jalan, dilingkungan apartemen, untuk keperluan penghangat ruangan.

Terlihat Ocean Crown di sebelah kanan jalan, seberang Dingchun De Hotel, merupakan kawasan pertokoan mewah yg menjual barang2 branded luar negeri. Tak lama bus melewati Anhui Bridge flyover dan Olympic stadium terlihat di sebelah kanan.

Nissan, Hyndai, Peogeot, Toyota, VW, Jeep, Audi, Honda, Ford, KIA, Buick tampak mendominasi jalanan, lebih banyak daripada mobil produksi China, bahkan sekali-kali terlihat Porsche melintas cepat. Taksi banyak menggunakan produk Korea, Hyundai Elantra, namun sempat juga terlihat taksi bermerk VW.

Danau es Kunming

Summer Palace, tempat tinggal kaisar China terakhir, Puyi berada di seberang Danau Kunming yang membeku jadi hamparan putih salju. Suhu udara terasa sangat dingin, -5C. Sarung tangan kulit hitam terasa tertembus udara dingin dan badan terpaksa terus bergerak mencoba mempertahankan hangat, meskipun pekaian berangkap tiga, topi, tutup telinga sudah melindunginya. Beberapa perempuan berusia lanjut melakukan senam pagi diiringi musik dari tape yang dipasang di pinggir danau.

Topi bulu bertutup telinga, sarungtangan dan tutup telinga adalah barang-barang yang biasa dijajakan di tempat-empat obyek wisata China. Pemandu wisata kami berkali-kali mengingatkan untuk tidak memegang barang dagangan bila memang tidak bermaksud membelinya karena seringkali mereka minta dibayar dengan alasan tamu merusakkan dagangan mereka setelah mencoba memegang dan tidak membelinya. Pemerasan.

Freesky Pearls adalah industri perhiasan mutiara air tawar milik pemerintah China, biasa menjadi obyek wisata yang ditawarkan oleh agen travel. Disini, mereka menunjukkan bagaimana membuka kerang mutiara hasil peternakan sebesar lebih dari telapak tangan orang dewasa dan menunjukkan isinya, 25 butir mutiara kecil, berwarna merah muda. Bubuk mutiara dijualnya sebagai supelman pemutih kulit dan butir mutiara sebagai perhiasan wanita juga dijual dengan berbagai desain bercampur emas dan perak yang menarik.

Industri Sutra

China juga dikenal dengan produksi kain sutra, yang pada awalnya berada di sungai Kunming dan sungai Yangtze. Beijing Dizhen Silk Productions Co. Ltd. adalah industri kain sutra yang sempat kami kunjungi, yang memproduksi kain untuk bahan pakaian dan perlengkapan tempat tidur dengan merek dagang Royal Silk. Satu bedcover ukuran 180×200 cm seharga RMB 5000 dengan bonus satu sarung bedcover, empat sarung bantal dan selimut lipat yang semuanya berbahan sutra. Harga produk sutra didasarkan pada berat total kain sutra, bukan lebar. Satu hal yg menarik adalah satu kepompong bisa menghasilkan 1400 m benang sutra. Kain sutra untuk bedcover, selimut, pakaian ditawarkan dengan motif bermacam-macam.

Hari ke-2

Dalam perjalanan menuju Great Wall, kami sempat mampir ke industri perhiasan batu giok. Perhiasan dan produk seni patung dari yang bernilai puluhan hingga ribuan Yuan tersedia di sini. Perhiasan yang mahal, selain karena kualitas batu Gioknya yang bagus, juga bisa karena nilai emas/perak dan desainnya yang memang mahal. Batu Giok yang bagus, menurut sang penjual, adalah bila bersuara nyaring bila terkena benda padat lainnya. Ini dibuktikan dengan cara meminta kami memilih gelang Giok yang palsu dari empat buah yang tersedia. Semua terlihat mirip, berwarna hijau muda, namun berbeda bunyi saat dibenturkan dengan gelang lain. Dan yang palsu tidak berbunyi nyaring. Banyak sekali wisatawan Indonesia terlihat di tempat ini, selain dari Malaysia dan Rusia.

Great Wall

Pintu Great Wall tempat kami mendaki adalah Juyongguan (40 17′ 33,53″N 116 3′ 54,97″E), yang juga dikenal dengan nama Badaling, berada di sebelah utara Beijing. Great Wall di Juyong ini dulu dimaksudkan untuk melindungi ibu kota China Beijing (dulu disebut Peking) dari serangan kaum nomaden dari utara (wilayah Mongol).

Beberapa bagian Great Wall sudah dibangun pada abad ke-5 SM dan diperbaiki kembali hingga abad ke-6 SM, dan yang terkenal adalah buatan 220-206 SM oleh dinasti pertama China, Qin Shi Huang. Hanya sedikit bagian tersisa. Sebagian besar Great Wall yang tersisa sekarang ini adalah peninggalan dinasti Ming. Total panjang dinding pengaman adalah 8.850 km, terdiri dari 6.250 km dinding batu (Great Wall), 350 km paritan dan 2.250 km adalah pelindung natural seperti bukin dan sungai.

Bagian dinding utara ini, Juyongguan, dibuat dengan bahan batu dan batu bata, berdimensi 7,8 m tinggi dan 5 m lebar. Masih ada enam pintu lainnya dari Great Wall ini.

Hari ke-3

Tiananmen Square

Lapangan Tiananmen adalah obyek wisata yang paling menarik karena nilai sejarah yang sangat saya pahami, dimana memakan ratusan korban mahasiswa (ada yang mengatakan ribuan) akibat tembakan dan serbuan tank Tentara Merah, dan ‘jatuh’nya ex PM Jiang Zemin di jaman Deng Xioping 1989, dimulai dari lokasi ini. Jejak-jejak peristiwa Tiananmen ini masih banyak bisa dilihat di Youtube. Banyak tentara bermantel hijau, lengkap dengan sepatu boot, sarung tangan dan topi bersimbol bintang merah, berjaga-jaga di sekitar lapangan dan paling banyak terlihat di bawah foto Mao Zedong, di pintu gerbang Forbidden City. Musium Nasional dan Gedung DPR yang membatasi Tiananmen juga dijaga oleh Tentara Merah.

Forbidden City

Forbidden City, sebagai istana raja hanya sempat kami lewati hingga Pintu Gerbang ke-3, dilanjutkan dengan menumpang kereta kecil berpenumpang 8 orang mengelilinginya. Mao Zedong memproklamirkan RRC dari atas gerbang Forbidden City untuk menunjukkan kekuasaannya atas kaum feodal para dinasti.

Sore hari, kami mengunjungi Yashow market, yang dikenal sebagai pasar murah bagi para wisatawan yang pandai menawar. Kain sutra, barang-barang ‘branded’, elektronik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik untuk oleh-oleh, semua tersedia di sini. Sementara ibu-ibu beredar dalam gedung besar berlantai 5 ini, para cowok beredar di mall besar sebelahnya yg banyak menjual produk fashion dan sport dari luar negeri, juga Apple computer, tak lupa nongkrong di Starbuck, nyeruput kopi latte sambil tetap tubuh terbungkus rapat karena dingin menggigit tulang. Jam 7 malam para ibu berkumpul di coffee cafe sebelah yashow market dengan koper memenuhi hampir setengah lantai dan siap cabut untuk makan malam dan kembali ke hotel.

Hari ke-4
Jam 6 pagi, kami checkout dari hotel menuju bandara untuk terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda GA-891 yang akan takeoff 09:00. Tidak banyak toko dan hanya satu coffee shop terlihat. Yang tidak biasa terlihat adalah, toko-toko barang merk luar negeri di bandara ini tidak menyediakan tas/kantong pembungkus dari produsennya, tetapi semua toko hanya menyediakan kantong yang sama/seragam berbahan kertas dengan label China.

Lain-lain
Selama tiga hari itu, kami kembali ke Holiday Inn hotel setelah jam 8 malam. Selama musim dingin, hanya heater tersedia di kamar, bukan AC. Hotel bagus, bersih dan tersedia wifi sampai di kamar, lumayan bisa internet dan chatting berblackberry.

Makanan yang disediakan di resto-resto tempat makan siang/malam, yang disediakan oleh pihak Garuda, umumnya mempunyai citarasa yang sama (rasa bebek Duck King). Teri kering yang kami bawa, jauh lebih menambah nafsu makan. 🙂

Tidak satupun buku sempat dibeli dalam jalan-jalan kali ini karena toko buku kecil di komplek pertokoan sekitar Yashow market dan di bandara Beijing, hanya sedikit sekali menjual buku berbahasa Inggris.

Tentara Merah

Polisi sangat jarang terlihat di manapun kami berada kecuali dalam mobil patroli lalu-lintas, sebaliknya tentara berseragam hijau sering terlihat berjaga di depan kantor-kantor pemerintah dan selalu menolak untuk difoto.

Namun secara keseluruhan, saya puas karena telah mengunjungi ibukota negara Tirai Besi, Beijing dan melihat Warisan Dunia Great Wall dan saksi bisu peristiwa Tiananmen.

Mindset bahwa negara Komunis akan menyengsarakan masyarakatnya perlu pelan-pelan dipertanyakan. Hanya satu pengemis tua terlihat selama beredar di Beijing 3 hari.

Read Full Post »

27 Jan 2011
Checkin 7:30 GA860 9:50 Gate E3. Garuda A330-200. Landed 16:20HK (4,5 jam penerbangan).

Counter penjualan ticket ferry penyeberangan ke Macau berada tepat di sebelah imigrasi dalam bandara Intl Hongkong. Bagasi penerbangan dapat langsung ditransfer ke Ferry dengan menyerahkan tiket bagasi ke counter pembelian tiket Ferry penyeberangan ke Maccau. Ferry TurboJet 18:00 HK$215/orang untuk kelas Economy akan membawa kami ke Macau.

Trem listrik yang bersih, terang dan aman, membawa penumpang ferry ke anjungan kapal, dan berangkat tepat 18:00. Ferry dengan dua kelas penumpang, economy dan bisnis, ini terasa nyaman dan bersih. Crew kapal berseragam rapi, layaknya pramugara/i pesawat terbang. Kursi empuk dengan alas kepala bersih tanpa terlihat sampah dan coretan tangan usil di dinding, seperti biasa terliihat di ferry penyeberangan Merak-Bakaheuni. Lampu2 hias dari taman kota, jalan raya, pertokoan dan gedung2 perkantoran, juga gedung2 perjudian terlihat dari tengah laut, serasa berlomba menarik para tamu untuk segera mengunjunginya. Ferry TurboJet berlabuh di dermaga Maccau jam 18:45. Sedikit berbeda dengan Hongkong Intl Airport, pengambilan bagasi di pelabuhan Maccau yang bersih dan terang benderang ini tanpa melewati pemeriksaan sedikitpun, bahkan tanpa pengecekan nomor bagasi.

Hotel kecil, Metropol, jadi tempat akomodasi kami selama 3 hari/2 mlm di Maccau. Setelah makan malam sederhana di resto hotel, bergaya chinese food tentunya, kami masuk kamar untuk menyimpan bagasi dan langsung ke luar untuk jalan2 di sekitar hotel sambil menikmati udara sejuk. Ada 10 channel tv yang semuanya berbahasa China, satu bahasa Portugis dan satu berbahasa Inggris, Fashion TV. Televisi Arirang dan Thailand diterjemahkan langsung (dubbing) ke bahasa China. Hotel kecil berlantai delapan ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan Senado square, mall New Yaohan, Lisboa Casino, Wynn Hotel/Casino, Mc Cafe, Pizza Hut, Seven Eleven.

Menurut pemandu wisata, saat mengantar ke hotel, Macau ini serasa mati di siang hari dan baru hidup di malam hari. Ternyata memang benar adanya, banyak sekali pria berjaket dan perempuan bermantel serta sepatu boot hilir mudik sepanjang pertokoan dan mall dan banyak diantaranya dengan barang belanjaan di kiri/kanannya. Pertokoan tutup jam 10 malam namun tempat perjudian, yang menghasilkan pendapatan daerah sebesar 70%, tetap buka selama 24 jam.

28 Jan 2011
Sarapan pagi di hotel tersedia sup jagung ayam, kuetiaw, bubur ayam, selain roti.

Berhubung acara ke Ruins of St. Paul Church baru akan berangkat jam 10:30, maka pagi ini jalan2 di sekitar hotel. Mall New Yaohan sebgai sasaran pertama. Jaket tebal bertutup kepala bisa diperoleh di lantai 3, mall ini. Dua bule, penjaga keamanan berseragam istana Buckingham, lengkap dengan topi bulu tinggi dan senjata di sampingnya berdiri tegap di depan Emperor Casino. Cukup ramah dengan mengijinkan kami untuk foto bersamanya. Mereka mengaku dari Rumania. Jauh amat bang …

Tepat 10:30 bus rombongan, ber 13 orang (3 keluarga) berangkat menuju Ruins of St. Paul. Kira-kira 20 menit sampai di tempat, masih di kota yang sama. Tempat ini merupakan icon Macau, pernah muncul di channel Travel and Living Discovery. Selain bagian dinding depan gereja, semua bangunan sudah runtuh. Di belakang sisa reruntuhan adalah museum kecil gereja ini yang berisi reruntuhan bangunan, tulang para pastor, dan foto2.

Senado Square ramai sekali dikunjungi orang malam ini, lampion berbentuk anak-anak banyak terpasang di tengah square, gedung-gedung tua dengan keterangan berbahasa Portugis terlihat bersih dengan lampu sorot terang ke arahnya. Toko-toko barang bermerek, casino Wynn yang juga memajang intan 218 karat, ukiran gading, ukiran giok dan ukiran berbentuk naga berlapis emas yang masing-masing berukuran 2×2 m serta toko pakaian banyak dikunjungi orang. Di depan hotel/casino Wynn ini terdapat kolam air besar, selalu menyajikan pertunjukan air mancur ‘berjoged’ setiap 15 menit dengan iringan musik melalui sound system yang enak di dengar di sekelilingnya.

29 Jan 2011
Perjalanan menuju Zhuhai dimulai dari jam 8:30 dan sampai di terminal perbatasan Maccau/Zuhai sekitar 9:00. Banyak sekali orang ‘menyeberang’ ke China via Zuhai hari ini karena akan ‘lebaran’ Tahun Baru China (3 Feb 2011).

Perjalanan dilanjutkan menuju taman City Of Dream, seluas 14 Ha dan disediakan tempat untuk berfoto berupa singgasana raja. Pertunjukan tari2an dan kungfu sungguh menarik walaupun tidak sampai 1 jam.

Sepeda Motor tidak diijinkan di Zhuhai, kecuali sepeda listrik untuk menghindari kecelakaan. Pengguna jalan lebih disarankan menggunakan bus atau kereta bawah tanah. Harga Bensin 7,2 Yuan/ltr. Penjualan mobil dibatasi tidak lebih 30rb/bln. Kepemilikan rumah di dalam kota, hanya boleh selama 70 tahun, setelahnya hrs dikembalikan ke negara.

Di sini mampir ke musium kesehatan, yang di dalamnya ada presentasi tentang obat-obatan oleh presenter tua asal Indonesia. Pijat reflexi di sediakan gratis dalam ruang presentasi, sekaligus diagnosa kesehatan oleh para dokter China. Selanjutnya bisa diduga, pembelian obat-obatan, yang disediakan, sangat disarankan. Harga obat untuk 3 bulan, rata-rata 4500 yuan (hampir Rp. 5 jt.).

Makan siang yang enak, disediakan di resto Zhuhai. Ayam kecap asin, udang goreng mentega dan kerang ‘abelen’, cukup enak.

Zhenchen (baca zencuen)
Perjalanan Zhuhai – Zhen Chen ditempuh dalam 2.5 jam menggunakan bus. Infrastruktur lalu-lintas bagus sekali. Jalan beraspal halus dan lebar dengan banyak kamera monitor lalu-lintas terpasang untuk menghindari ‘over speeding’. Di sepanjang jalan sering terlihat Apartemen, kebun ‘tebu hitam, jagung (dibungkus plastik) dan lengkeng. Memasuki kota Zhenchen mal-mal, apartemen bagus dan lampion digantung di lampu-lampu jalan banyak terlihat, indah.

Makan malam di resto Zhen Chen terasa lebih enak dan lebih banyak menu pilihan disediakan. Ruang makan resto bersih, tapi sayang, toilet sedikit jorok dan tisue harus minta bila lebih dulu bila mau menggunakannya.

Jam 19:15 sudah sampai di imigrasi Zhenchen untuk menyeberang ke Hongkong menggunakan bus.

30 Jan 2011
Breakfast di hotel Eaton, standard bintang 5, banyak tersedia salmon, uenak.

Perjalanan ke Victoria Hill Peak dari Kwoloon ke Hongkong island melalui Cross-Harbour Tunnel membutuhkan waktu 30 menit. Trem listrik dua gerbong mengangkut kami dan penumpang lainnya dari stasiun ke puncak bukit Victoria. Gerbong bersih sekali dengan kursi kayu berbaris ke depan di sebelah kiri/kanan. Pemandangan di sebelah kanan adalah dataran Hongkong dengan gedung-gedung tingginya. Di dalam stasiun Victoria Hill terdapat musium Madame Tussaud yang berisi patung-patung lilin dari beberapa artis Hollywod maupun Hongkong, juga pembesar2 dunia, seperti Obama, Clinton, Einstein, Angelina Jolie dan Brett Pit, Beatles, Jeckie Chen, dsb.

Turun dari puncak Victoria menggunakan bus, mampir ke pantai Abberdin dan berkeliling menggunakan perahu tradisional melewati terminal yacht milik para orang kaya Hongkong.

Acara hari ini ditutup dengan perjalanan ke
pabrik perhiasan dan pabrik coklat. Mampir sebentar beli buku sejarah China di Nathan Road. 95% buku di toko ini berbahasa China.
Pertokoan di Hongkong buka 10:00-23:00, dan selalu ramai.

31 Jan 2011
Disneyland adalah target kunjungan hari ini, buka jam 10:00.

Pertunjukan kabaret Lion King bagus sekali, sedangkan pertunjukan Mickey Mouse cukup bagus, sayangnya dialog banyak disajikan dalam bahasa China, meskipun ada text dalam Bahasa Inggris.

Castle Illumination Celebration disajikan dengan permainan cahaya yang sangat indah kearah castle pada jam 19:30. Pesta kembang api diiringi permainan cahaya dan didukung pemdaman lampu di dalam area Disneyland, semakin membuat suasana perayaan menjadi lebih indah.

Pulang ke hotel di Kowloon melewati Nam Wan tunnel. Dilanjutkan dengan mencari toko buku di sepanjang Nathan Road. Ditemukan dua toko buku di jalan ini, namun tidak banyak buku berbahasa Inggris.

1 Feb 2011
Ocean Park sebagai tempat wisata air ramai dikunjungi wisatawan. Cable Car menuju Ocean Theater tempat perdengan kapasitas masing-masing enam penumpang perlu dicoba untuk bisa melihat pemandangan Hongkong lebih baik. Kereta listrik Ocean Express juga perlu dinikmati, meskipun hanya 15 menit untuk kembali ke Plaza depan Ocean Park. Gerbongnya bersih, cahaya redup, nyaman dan film ikan di bagian atap gerbong serasa berada di bawah laut. Kunjungan ke Ocean Park dimulai jam 10 pagi hingga 4 sore.

Bagi yang rindu masakan tanah air, Resto Bali di Nanking street, bagian dari Nathan Road, menyediakan masakan Indonesia. Enak sekali masakannya terutama nasi goreng seafood, sate ayam, rendang dan sambal terasinya.

Miniatur mobil sport bisa diperoleh di toko Continental, belakang Wing On, Nathan Road dengan harga setengahnya dari yang ada di mall-mall Jakarta.

2 Feb 2011
Saatnya checkout dari Eaton hotel untuk penerbangan kembali ke Jakarta menggunakan GA863 jam 16:50. Sedikitnya dua toko buku ditemukan dalam bandara Hongkong ini. Harga buku persis sama dengan di Nathan Road, dan lebih murah daripada di Amazon.com.

Read Full Post »

« Newer Posts