Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Novel’ Category

Screenshot_2016-03-05-22-29-25-1Banyak kritikus sastra menganggap novel klasik ‘Animal Farm‘ ini sebagai satire terhadap ideologi komunis Rusia di era Stalin.

Bercerita tentang pemberontakan para binatang di suatu peternakan di Inggris terhadap pemilik peternakan. Ada 7 peraturan penting yang harus ditaati oleh masyarakat binatang ini setelah kemenangannya, yaitu:

1. Siapapun yang berkaki dua adalah musuh
2. Siapapun yang berkaki empat atau bersayap, adalah kawan
3. Tidak ada binatang yang berpakaian
4. Tidak ada binatang yang tidur di kasur
5. Tidak ada binatang yang minum alkohol
6. Tidak ada binatang yang membunuh sesamanya
7. Semua binatang adalah setara

Demikian jargon mereka yang memang memenangkan pemberontakan sehingga pemilik peternakan harus tersingkir dari peternakannya. Namun, diantara yang ‘setara”, masih ada binatang yang mendapatkan kelebihan ke’setara’an, yaitu para elite binatang. Janji 7 Peraturan tidak ditepati oleh para elit politik.

Para aktor masyarakat binatang ini diindikasikan sebagai reprentasi dari para pemeran revolusi Soviet, misalnya :

Jones, pemilik peternakan mewakili simbol kapitalisme Czar Nicholas II, pemimpin Rusia sebelum Stalin

Old Major, yang dituakan oleh para binatang karena kepandaian dan senioritasnya, merupakan representasi Karl Marx, yang mengajarkan pemikiran bahwa “Man is the only creature that consumes without producing. He does not give milk, he does not lay eggs, he is too weak to pull the plough, he cannot run fast enough to catch rabbits. Yet he is lord of all the animals. He sets them to work, he gives back to them the bare minimum that will prevent them from starving and the rest he keeps for himself.”

Napoleon, adalah seekor babi sebagai pimpinan tertinggi yang kejam dan lapar kuasa, mewakili karakter Stalin

Snowball, pemimpin pemberani yang memenangkan pemberontakan di peternakan, mewakili karakter Trotsky, selanjutnya disingkirkan oleh Napoleon melalui intrik politik dan fitnah kejam.

Squealer mewakili karakter sang ahli intrik politik dari pemerintahan Napoleon, yang dimasa Soviet dilakukan oleh harian Pravda. Dinarasikan oleh Orwell sebagai ahli pemutar-balikkan fakta, “He could turn black into white“.

Novel karya George Orwell, yang masih terpajang di rak buku toko buku Aksara, mall Pacific Place, Jakarta, ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1945, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bakdi Soemanto melalui penerbit Bentang Pustaka di tahun 2015. Saya sendiri membaca dari Play Books, edisi bahasa Indonesia, kurang dari Rp. 50.000 (lupa pastinya), sedangkan yang berbahasa Inggris masih diatas Rp. 100.000. Sangat direkomendasikan.

Read Full Post »

Oei Hui Lan

Novel sejarah pemenang penulis ‘Penulis Online Terbaik 2009’.

Angkat topi utk Agnes Davonar (http://www.agnesdavonar.net) yg sukses menyajikan novel sejarah “Oei Hui Lan” ini hingga enak dibaca, mengalir, inspiratif dan menggugah kesadaran pembaca atas kehidupan jetset putri keluarga kaya raya, raja gula dunia dari negeri ini, sejak jaman penjajahan Belanda hingga masa Orba, yang berpindah-pindah domisili dari Semarang di masa kecil, Eropa, Cina dan Amerika di akhir hayatnya.

Buku ini sudah diterbitkan hingga enam kali dan tetap dipajang di rak buku bagian depan, Gramedia. Banyak sekali web yang menyajikan resensi tentang novel ini di internet, yang sekaligus menunjukkan popularitasnya. Tidak jelas benar, apakah popularitas buku ini karena kepiawaian penulisnya yang masih muda (23 tahun) dalam menyajikan novel sejarah yg terasa ‘hidup’ dan banyak pesan moral di dalamnya, ataukah kekayaan Oei Hui Lan (1889-1992) dan keluarga yang melegenda dengan liku-liku hidupnya dikalangan jetset dunia yang penuh gelimang harta? Saya sendiri menyukai buku ini karena alasan pertama.

Read Full Post »

Kudeta Arok-Dedes

Buku ini terasa sangat Pramoedya, mewakili suara kaum tertindas yang tidak mendapat perlindungan dan keadilan dari penguasa, namun justru teraniaya dan termiskinkan secara struktural.

Judul: Arok-Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Tebal Buku: 574 halaman
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun: 2009
Cetakan: 6

Judul, gambar sampul dan, tentu saja, penulisnya sudah jadi jaminan bakal larisnya buku ini. Cerita tentang Ken Arok ini pasti sangat familiar bagi kita semua. Ketika masih di Sekolah Dasar, buku sejarah dan guru sangat berperan besar dalam mencitrakan tokoh satu ini. Seorang perampok, pengacau, pembunuh kejam; itulah kesan yang didapat ketika tokoh ini disajikan dalam buku sejarah. Di tangan sang empunya, Pramoedya, kesan ini sungguh berbalik.
Para tokoh utama juga sudah dikenal luas oleh para pembaca, persis seperti yang tertulis dalam buku sejarah di sekolah, seperti Tunggul Ametung, Empu Gandring, Kebo Ijo, Loh Gawe, Ken Umang dan tentu saja Ken Arok dan Ken Dedes; namun peran dan citra masing-masing banyak berbeda, bahkan berlawanan.

Keyakinan agama punya andil besar dalam proses pemberontakan di Tumapel. Para pemberontak dan kaum teraniaya adalah pengikut Syiwa sementara aparat pemerintah adalah pemuja Wisnu dalam agama Hindu. Kaum Brahmana Syiwa sangat disegani dan segala titahnya akan diikuti oleh pengikutnya, sementara brahmana Wisnu dalam pemerintahan (Belakangka) dicitrakan haus kekuasaan.

Empu Gandring adalah pande besi, ahli pembuat senjata untuk keperluan pemerintah. Tak ada cerita tentang kutukan keris tujuh turunan sang empu seperti yang biasa diceritakan para guru sejarah. Bahkan dalam buku ini, Gandring adalah aktor intelektual perebutan kekuasaan di Tumapel, di belakang Kebo Ijo, bukan sosok teraniaya yang dilakukan oleh Arok seperti yang selama ini tertulis dalam buku sejarah di sekolah.

Dedes dalam buku ini punya peran utama yang sangat penting untuk jatuhnya akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Sebagai prameswari, penyembah Syiwa seperti umumnya masyarakat yang teraniaya dari kasta Sudra hingga Brahmana di Tumapel, Dedes punya kekuasaan besar dalam istana yang hanya bisa dikalahkan oleh sang suami. Dedes digambarkan sebagai perempuan brahmani yang cantik, berpengetahuan dan berjiwa soial tinggi serta disukai masyarakat, berbeda dengan Tunggul Ametung yang dicitrakan sebagai bodoh dan berperangai rendah seperti perampok, pemerkosa, pembunuh, rakus dan pengecut.

Arok, seperti halnya dalam pelajaran sejarah di sekolah, adalah anak angkat suatu keluarga yang tidak mengenal orang tua biologisnya. Digambarkan sebagai anak yang cerdas, setia kawan, punya jiwa kepemimpinan bagus serta patuh pada para guru/brahmana. Menurut Loh Gawe, dalam buku ini, Arok adalah satu-satunya sudra yang bisa menjadi satria dan brahmana dalam 100 tahun saat itu. Karena kecerdasannyalah, Arok bisa mengatur strategi perang yang ampuh untuk mengalahkan pasukan Tumapel dan kelompok Kebo Ijo. Bahkan pemberontakan dan penaklukan terhadap Tunggul Ametung bisa dibungkusnya sebagai perlindungan terhadap kekuasaan Tumapel dan prameswari untuk menghindari konflik terbuka dengan kerajaan Kediri, yang dipimpin ileh Krtajaya.

Dalam hubungannya dengan Arok-Dedes, Pramoedya menafsirkannya bahwa Dedeslah yang berminat untuk menjadikan Arok sebagai suaminya, bukan Arok yang berminat untuk memilikinya (cerita sejarah). Pada akhir cerita, Ken Arok disebutkan memiliki dua prameswari, yaitu Ken Dedes dan Ken Umang.

Novel sejarah yang sepertinya didukung dengan studi kepustakaan ini ditulis Pramoedya 1970 ketika beliau masih di Pulau Buru (setelah Tetralogi Bumi Manusia) dan termasuk karya tulis yang terlarang untuk diterbitkan saat Orde Baru masih bercokol. Banyak orang berpendapat bahwa cerita Arok-Dedes versi Pramoedya ini merupakan ‘sindiran’ atas revolusi 65, dengan Soeharto sebagai tokoh sentral. Dan ini tersamar dalam catatan Pramoedya di awal cerita, “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya…” Betulkah?

Read Full Post »

Candide, ou l’Optimisme

Betulkah kita berada di “Best of all possible Worlds”?

Judul: Candide, Optimisme Dalam Hidup
Judul asli: Candide, ou l’Optimisme
Penulis: Voltaire
Tebal Buku: 256 halaman
Penerbit: Liris
Tahun: 2009

Buku ini ditemukan di rak buku khusus novel, paling belakang, Gramedia Grand Indonesia, yang ternyata masuk dalam daftar “100 Most Influential Books Ever Written” dan “1001 Books You Must Read Before You Die”.

Diterbitkan pertama kali di Paris, Perancis, 1759 dalam bahasa Perancis, karya Voltaire ini bercerita tentang tokoh muda protagonis, Candide yang tinggal dalam kenyamanan istana (castle) di Jerman dan mendapatkan indoktrinasi Leibnizian, Optimisme, oleh mentornya, Pangloss. Setelah mengalami berbagai pengalaman hidup yang getir, Voltaire berkesimpulan bahwa Candide harus menolak Optimisme dan menjalani hidup dengan berkarya.

Optimisme dalam filosofi Theodicy dari Gottfried W. Leibniz adalah “all is for the best because God is a benevolent deity”, semua adalah untuk yang terbaik karena Tuhan adalah dewa kebajikan. Konsep ini yang ditentang keras oleh Voltaire, terlebih setelah bencana alam besar, tsunami, yang terjadi di Lisbon, semakin meyakinkannya bahwa bila ini adalah ciptaan yang terbaik (bencana), maka seharusnya ada yang lebih baik lagi.

Meskipun kecil dan tipis, novel ini disajikan penulisnya dalam 30 bagian yang padat dengan setting yang banyak berhubungan dengan sejarah, seperti gempa bumi dan tsunami di Lisbon yang memakan korban hingga ratusan ribu orang, tahun 1755 dan plot yang bergerak cepat. Berdasar settingnya, novel ini bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu Bab 1-10 di Eropa, 11-20 di benua Amerika dan 21-30 di Eropa dan Ottoman.

Selain novel terjemahan, Wikipedia juga jadi acuan informasi untuk penulisan sinopsis ini.

Bab I–X
Cerita dimulai di istana Baron Thunder-ten-tronckh, Westphalia (bagian Jerman sekarang), tempat tinggal sang putri, Cunégonde; Candide sang sepupu; Pangloss, sang guru; Paquette, sang pembantu; dan sisanya adalah keluarga besar Baron. Tokoh utama adalah Candide, seorang pemuda yang halus dan lurus, dan sangat tertarik pada Cunégonde. Dr. Pangloss, adalah seorang professor metafisika-theologi-kosmolonigologi, yang selalu optimis, dan mengajarkan muridnya bahwa semua adalah untuk yang terbaik karena Tuhan adalah dewa  kebajikan. Ajaran inilah yang melekat pada pribadi Candide dan menjadi topik utama cerita.

Semuanya tampak harmoni hingga Cunégonde mendapati Pangloss sedang melakukan hubungan intim dengan Paquette di taman, yang ‘mengilhami’nya untuk mencoba melakukan hal yang sama dengan Candide. Usaha ini gagal dilakukan karena tertangkap oleh sang Baron, ketika Cunégonde dan Candide sedang berciuman. Marahlah sang Baron dan mengusir Candide keluar istana.
Candide ditangkap oleh tentara Bulgar (Prusia), direkrut dan ditugaskan untuk berperang melawan bangsa Abaria (representasi dari Prusia vs Perancis). Candide melarikan diri dari dinas ketentaraan menuju Belanda dan untuk selanjutnya ditolong oleh Jacques, pengikut anabaptist, yang kemudian memperkuat rasa optimisnya. Di Belanda, Candide menemukan Pangloss sebagai pengemis yang sedang terserang penyakit siphilis. Pangloss mengaku bahwa dirinya terkena penyakit tersebut karena berhubungan badan dengan Paquette. Dia juga mengagetkan Candide dengan ceritanya bahwa istana Thunder-ten-Tronckh telah dihancurkan oleh pasukan Bulgars, dan Cunégonde beserta seluruh keluarganya telah tewas, dibunuh. Pangloss sembuh dari penyakitnya dengan bantuan Jacques, namun kehilangan satu mata dan satu pendengarannya. Selanjutnya, ketiganya berlayar ke Lisbon.

Di pelabuhan Lisbon, kapal mereka terhempas oleh badai. Jacques terlempar ke laut saat menolong pelaut dan sebaliknya sang pelaut tak sedikitpun bergeming untuk menolongnya. Candide terhenyak menyaksikannya, namun Pangloss mencoba menenangkannya dengan ungkapan bahwa pelabuhan Lisbon memang tercipta untuk “kepergian” Jacques. Hanya Pangloss, Candide, dan sang pelaut kasar, yang membiarkan Jacques terlempar ke laut, yang hidup dan sampai ke Lisbon, yang baru saja terkena gempa bumi, tsunami, yang memakan korban puluhan ribu manusia. Sang pelaut pergi untuk menjarah puing-puing akibat gempa, sementara Candide terluka dan membutuhkan pertolongan. Ini adalah bagian dari situasi yang optimistik menurut cara pandang Pangloss. Absurd ..

Keesokan harinya, Pangloss dan Candide ditangkap karena telah mendiskusikan filosofinya tentang optimistik dengan pengikut Inkuisisi Portugis, dan akan disiksa dan dibunuh dalam upacara “auto-da-fé” untuk ‘menenangkan’ Tuhan dan mencegah terulangnya bencana alam. Candide mendapat hukuman cambuk, sementara Pangloss akan digantung. Namun gempa bumi mendadak terjadi, dan Candide bisa melolskan diri. Dia didatangi oleh seorang perempuan tua yang mengajak ke suatu rumah, tempat tinggal Cunégonde yang masih hidup. Candide terkejut, karena Pangloss pernah bercerita bahwa Cunegonde telah diperkosa dan dibunuh. Cunégonde mengakuinya bahwa dirinya memang telah diperkosa namun diselamatkan oleh seseorang, yang kemudian menjualnya ke pedagang Yahudi dan membagikan tubuhnya ke pejabat korup setempat. Ketika sang pejabat pulang ke rumah dan menemukan Cunegonde sedang bersama pria lain, Candide membunuhnya. Candide dengan kedua perempuan itu meninggalkan kota menuju benua Amerika. Sepanjang perjalanan, Cunégonde meratapi nasibnya yang selalu dirundung malang. Sang perempuan tua akhirnya bercerita untuk menenangkannya, bahwa dirinya lebih menderita daripada Cunégonde, karena telah dipotong pantatnya untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan.

Bab XI–XX
Ketiga manusia itu akhirnya tiba di Buenos Ayres, dan Cunégonde akan dikawini oleh Gubernur Don Fernando secara paksa. Seorang pejabat kehakiman Portugis datang dan menemukan Candide, lalu menuduhnya telah membunuh pejabat Portugis. Candide melarikan diri ke Paraguai dengan ditemani pengawalnya, Cacambo.

Di perbatasan menuju Paraguay, Cacambo dan Candide menemukan saudara laki-laki Cunégonde. Dia menceritakan bahwa setelah pembantaian keluarganya, pastor Yesuit menemukannya masih hidup, dan selanjutnya membawanya untuk turut serta dalam tarekat Yesuit. Ketika Candide menyatakan bahwa dirinya berniat untuk menikahi Cunégonde, kakaknya langsung menyerangnya, marah dan Candide menusuknya hingga tewas. Setelah prosesi kematian sang Yesuit, Candide dan Cacambo melarikan diri. Dalam pelariannya, dengan memakai pakaian Yesuit, mereka menjumpai dua perempuan telanjang berlarian dikejar oleh dua monyet. Dengan maksud menyelamatkan kedua perempuan itu, Candide dengan cepat menembak mati kedua monyet, yang ternyata menurut Cacambo kedua perempuan itu sedang bercanda dengan masing-masing pasangannya, monyet yang tewas itu. Tragis..

Cacambo and Candide ditangkap dan akan dihukum mati dengan cara memanggangnya hidup-hidup oleh suku Oreillons, karena memakai pakaian Yesuit, yang menjadi musuh mereka. Cacambo meyakinkan orang-orang Oreillons bahwa Candide telah membunuh seorang Yesuit dan menggunakan pakaiannya untuk menyelamatkan diri. Akhirnya mereka berdua dibebaskan dan pergi berjalan kaki dengan hanya makan buah diperjalanan selama berhari-hari.

Setelah perjalan yang panjang dan lama itu, mereka berdua sampai di kota terpencil dan nyaman, El Dorado, yang secara geographis terisolir namun jalanan dibangun dengan batu berharga, tidak ada pendeta, dan raja yang selalu ceria. Candide and Cacambo merasa senang tinggal selama satu bulan di El Dorado, namun Candide masih selalu teringat dengan Cunégonde, dan akhirnya menyatakan kepada sang raja untuk pergi lagi. Sang raja mengijinkannya dengan memberinya banyak bekal walaupun menurutnya itu bukanlah ide yang bagus. Pasangan ini melanjutkan perjalanan, dengan ditemani ratusan domba dan berbekal banyak uang, yang secara berangsur-angsur akan habis karena dicuri dalam petualangan berikutnya.

Candide dan Cacambo dalam petualangannya sampai di Suriname, lalu berpisah. Cacambo menuju Buenos Aires untuk menjemput Cunégonde, sementara Candide mempersiapkan diri untuk perjalanan ke Eropa dan menunggu keduanya di sana. Candide tertipu dan dan semua dombanya dibawa lari pelaut Belanda. Sebelum meninggalkan Suriname, Candide merasa perlu untuk mencari kandidat yang cocok untuk teman perjalannya dan Martin adalah orangnya.

Bab XXI–XXX
Martin adalah seorang sarjana miskin, teman perjalanan Candide, mengaku sebagai pengikut ajaran Manichea, yang percaya bahwa dunia ini diatur oleh dua kekuatan yang berseberangan dan seimbang, baik dan jahat.. Sepanjang perjalanan, Martin dan Candide berdebat tentang filsafat, Martin melihat keadaan semesta ini akan selalu penuh dengan permusuhan, sementara Candide, masih selalu optimis dalam hatinya. Ketika Candide berkata, ” Kau lihat bahwa kejahatan kadang-kadang mendapatkan hukumannya”, Martin menjawab “ya, tapi mengapa para penumpang lain juga ikut tewas? Tuhan boleh menghukum penjahat, tapi iblislah yang menenggelamkan sisanya”. (Hal. 145)

Sesampainya mereka di Inggris, seorang laksamana sedang ditembak mati karena tidak cukup banyak membunuh lawan. Martin menjelaskan bahwa di Inggris perlu untuk membunuh seorang laksamana untuk memberi semangat yang lainnya, “pour l’encouragement des autres”. Candide, merasa ngeri melihat budaya ini, dan bermaksud meninggalkan Inggris secepatnya.

Setelah ditunjukkan berbagai adegan satire di institusi Eropa lainnya, Candide dan Martin bertemu Paquette, pelayan yang menyebabkan Pangloss terinfeksi sifilis, di Venesia. Dia sekarang menjadi pelacur, dan menghabiskan waktu bersama seorang biarawan, Brother Giroflée. Meskipun keduanya tampak bahagia di permukaan, namun sebenarnya mereka merasa putus asa, bahwa Paquette telah menunjukkan keberadaan yang menyedihkan sebagai objek seksual, dan sang biarawan merasa benci karena sudah terindoktrinasi oleh agamanya.

Sementara Candide dan Martin sedang makan malam, Cacambo datang dan memberikan kabar bahwa Cunégonde berada di Konstantinopel, sebagai budak kotor yang bekerja mencucui piring untuk pangeran Transylvania. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan Cunégonde, Candide menemukan Pangloss dan saudara Cunégonde sebagai pendayung kapal yang mereka tumpangi. Candide membeli kebebasan mereka dengan harga yang mahal. Mereka menceritakan bagaimana bisa selamat, tapi meskipun kegelapan telah dilewati, optimisme Pangloss tetap tak tergoyahkan: “Aku tetap mempertahankan opini pertamaku. Lagipula aku adalah seorang filsuf, dan tidak bisa melawan diriku sendiri. Selain itu, Leibniz tidak mungkin salah, dan doktrin keseimbangan pra-penciptaan adalah hal terbaik di dunia ini, demikian pula ‘plenum’ dan ‘materia subtilis'”. (Hal. 224).

Mereka akhirnya sampai di pantai Ottoman, dan bergabung dengan Cunégonde, yang terlihat kotor, dan seorang perempuan tua. Candide membeli kebebasan mereka berdua dan menikahi Cunégonde karena penghinaan saudaranya terhadap dirinya. Paquette dan pendeta Giroflée juga bergabung dan tinggal di perkebunan yang dibeli Candide dengan harta terakhirnya.

Suatu hari, mereka menemui seorang darwis, yang dikenal sebagai flsuf terbaik di Turki, dan Pangloss bertanya tentang mengapa hewan seaneh manusia diciptakan dan mengapa ada kejahatan di bumi ini. Sang darwis menjawabnya denga oertanyaan: “Waktu Sultan mengirimkan kapal ke Mesir, apakah dia memusingkan tikus-tikus di gudang kapal akan terusik atau tidak?”, dan membating pintunya di depan mereka. Kembali dari rumah sang darwis, mereka melihat seorang Turki dan menayakan apakah dia mengetahui tentang berita tewasnya dua pejabat karena dicekik dan terbunuhnya beberapa lainnya karena ditusuk. “Aku tidak tahu apapun tentang peristiwa yang kau omongkan”, jawabnya “dan aku sudah cukup puas bepergian kesana-kemari untuk menjual buah-buahan kebunku”, tambahnya.. Dia tinggal bersama empat anaknya, “Pekerjaan yang kami lakukan ini mencegah tiga keburukan besar: kelesuan, kejahatan dan kemelaratan”. Lalu mereka pulang dan siap untuk mulai berkebun, dan Candide mulai tak menghiraukan Pangloss tentang “hal yang tercipta dengan baik”. “Ayo kita mencangkuli kebun kita”, ajak Candide.

Read Full Post »

The Outsider

Judul buku: The Outsider
Judul asli: L’Étranger atau The Stranger
Penulis: Albert Camus
Tebal buku: 164 halaman
Penerbit: Liris
Tahun: 2010

Novel berukuran buku saku dan tergolong tipis namun padat dengan pesan filosofis ini adalah karya seorang pemikir kritis dari mazhab Frankfurt, yang belajar filsafat di University of Algiers dan dikenal sebagai tokoh eksistensialis yang memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Sastra 1957. Bahasa asli novel ini adalah Perancis, diterbitkan pertama kali tahun 1942, merupakan tulisan terbaik dari Albert Camus (Wikipedia). Novel lainnya yang banyak beredar dan dibaca para mahasiswa di Indonesia tahun 80an adalah Sampar (La Peste).

Tokoh utama dalam novel ini adalah Mersault, seorang pemuda Perancis, yang dingin tanpa emosi dan cenderung anti-sosial.

Bagian pertama buku dimulai dengan cerita tentang Meursault yang mendapatkan berita bahwa ibunya, yang tinggal di panti wreda, telah meninggal. Dia turut menghadiri prosesi pemakamannya tapi tidak menunjukkan emosi kesedihan seperti lazimnya anak yang ditinggal mati ibunya. Bahkan, ia tidak menginginkan untuk melihat jenazah ibunya sebelum peti ditutup, justru sebaliknya menikmati rokok dan kopi panas di sebelahnya. Tetap tanpa ekspresi kesedihan, ia mengamati para rekan ibunya yang menampakkan kesedihan namun menggelikan menurutnya, “untuk sesaat kutangkap kesan menggelikan seolah mereka akan menghakimiku”.

Dua hari berikutnya, ia sudah menikmati kegembiraan bersama Marie, rekan kerjanya, berenang dan tidur bersama tanpa kesan bahwa baru saja kehilangan seorang ibu. Sikap yang menurut masyarakat umum sebagai ketidak-pedulian sosial inilah yan nantinya turut menjadi pertimbangan untuk menghukumnya lebih berat. Absurd….

Tentang perkawinan, Meursault bersikap dingin dan menganggapnya bukan hal yang serius. Hal ini muncul dalam pikirannya ketika ditanya oleh Marie “Lantas kenapa mau menikahiku?” “Jika menginginkan, kita bisa menikah” jawabnya.

Beberapa hari berikutnya, Meursault setuju untuk memberi bantuan pada temannya, Raymond, untuk membalas dendam terhadap perempuan pujaannya yang dianggapnya sudah berselingkuh meskipun kebutuhan finansial sudah banyak diberikannya. Bantuan yang dibutuhkan adalah membuatkan surat undangan untuk sang perempuan supaya dapat bertemu lagi, bercinta dan memukulnya sebagai ungkapan balasdendam.. Meursault tidak menunjukkan rasa khawatir atau empati bahwa pertolongannya bisa mengakibatkan cedera pada perempuan itu. Dan benar, akhirnya wanita itu datang, bercinta dan disiksa. Meursault mendukung Raymond dihadapan polisi dengan alasan bahwa perselingkuhan adalah pengkhianatan dan pantas dihukum. Raymond bebas dengan peringatan.

Saudara laki-laki perempuan itu, bersama-sama dengan beberapa temannya mulai menguntit Raymond untuk balas dendam. Ketika Raymond, Meursault dan Marie berakhir pekan di villa tepi pantai, mereka bertemu dan terpaksa berkelahi dengan para lelaki tersebut hingga tangan Reymond terluka oleh pisau mereka..

Meursault kembali seorang diri berbekal pistol milik Raymond ke pantai dan menemui seorang dari musuhnya. Karena cuaca yang sangat panas, Meursault merasa disorientasi hingga ketika sang lawan mengancam dengan pisaunya, ia menembaknya sekali dan mati, lalu menembaknya lagi empat kali. Tak ada satu alasanpun kenapa dia menembaknya, kecuali hanya karena cuaca panas menyengat dan sinar matahari yang sangat cerah.

Bagian Kedua mulai dengan cerita tentang sikap Meursault yang merasa tidak membutuhkan pengacara untuk dirinya, meskipun pada akhirnya pengadilan menyediakannya untuknya. Di persidangan Meursault selalu tampil diam dan pasif memberikan kesan tidak merasa bersalah sehingga jaksa penuntut lebih fokus pada ketidak kemampuan emosional Meursault yang tidak merasa sedih saat pemakaman ibunya, daripada soal pembunuhan. Jaksa berusaha memaksanya untuk mengatakan kebenaran perasaannya namun gagal, sebaliknya Meursault menerangkan pada pembaca bahwa selama hidupnya ia tidak pernah merasakan penyesalan atas semua tindakan yang dilakukannya. Jaksa penuntut akhirnya berkesimpulan bahwa Meursault adalah monster yang tidak berperasaan dan pantas mendapatkan hukuman mati. Walaupun pembela berharap hukuman akan lebih ringan namun hakim memutuskan bahwa Meursault akan dihukum penggal di depan publik.

Sementara menunggu eksekusi, di penjara Meursault bertemu dengan pendeta, namun menolak untuk berpaling kepada Tuhan, karena menurutnya itu hanya akan membuang waktu saja. Meursault marah karena paksaan sang pendeta untuk merubah sikap atheisnya, dan meledak karena rasa frustasi pada absurditas kondisi manusia dan penderitaannya atas ketidak-berartian keberadaannya. Pada akhirnya, ia menangkap ketidak-pedulian alam semesta terhadap manusia, “seolah-olah kemarahan itu telah membersihkanku, menghilangkan harapan, untuk pertama kalinya pada malam itu dalam cahaya bintang, aku membuka diri pada ketidak-pedulian semesta. Aku bahagia dan berharap akan banyak yang hadir untuk melihat eksekusi terhadapku dengan teriakan benci”.

Read Full Post »

SNOW

orhan_snow1

Judul                 : Snow

Tebal buku        : 731 halaman

Pengarang         : Orhan Pamuk

Penerbit            : Serambi

Tahun               : 2008

Kisah warga Kars ini dimulai dengan kedatangan Ka di kota sunyi itu ketika gerilyawan Kurdi sedang membangun kekuatannya, sbg penduduk asli dan mantan tahanan politik, yang sudah meninggalkan kota ini selama 12 tahun dan menikmati budaya liberal di Jerman. Profesi Ka adalah wartawan sekaligus sastrawan puisi. Keahlian sebagai seorang sastrawan puisi ini sudah sangat dikenal di kota kecil ini, Kars. Alasan utama Ka untuk pulang ke Kars adalah menghadiri pemakaman ibunya, yang kemudian berkembang untuk melakukan investigasi atas banyaknya korban bunuh diri warga perempuan Kars, dan mengejar kisah asmara lama sebagai latar-belakang konflik cerita utama tentang tiga kelompok besar yang sedang membangun kekuasaan, konservatisme, sekularisme dan militerisme. Kekecewaan para siswi muslim, sebgai wakil kaum konservatif, yang tidak diijinkan menggunakan kerudung di sekolah membuahkan frustrasi sosial, ditunjukkan dengan meningkatnya feomena bunuh diri. Di lain pihak, kaum sekular memprovokasi masyarakat dengan cara membakar kerudung sebagai isu sentral pada pementasan teater liberal.

Membaca buku ini sejak halaman pertama, serasa dikepung kegetiran akut, sepi, dingin, redup dan sewenang-wenang. Kejadian bisa berubah tanpa alur linear dan ketidak-laziman cerita bisa terjadi kapan saja. Misalnya, penulis bisa menceritakan kekhusukan seorang gadis yang mau sholat hingga menuju ke tali gantungan dengan kesadaran diri yang tinggi; atau cerita guru yang ditembak di restoran ketika para tamu sedang makan siang, diawali dengan komunikasi yang panjang-lebar antara si eksekutor dan si korban. Absurd.

Ka mewakili sikap individu peragu yang mencoba mencari tahu akan ideologi Islam radikal, komunis dan sekular. Keinginan utk mendapatkan hasil maksimal dgn cara berkolaborasi dgn tiga kelompok yang berbeda, berbuahkan kegagalan. Pesan tersirat dr buku ini adalah ‘Kegamangan Islam menghadapi perkembangan jaman yang cenderung liberalistik’. Isu ini masih merupakan isu sentral saat ini di Turki.

Dari sisi penulisan, Snow relatif lebih cair mengalir dibanding dengan karya Pamuk sebelumnya My Name Is Red, yang berat untuk dibaca. Buku ini diterbitkan partama kali di Turki pada tahun 2002, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris 2004.

Read Full Post »

Rumah Kaca

rumah_kaca2Judul Buku : Rumah Kaca
Halaman      : 645
Pengarang   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit       : Lentera Dipantara
Tahun            : 2009

Rumah Kaca adalah buku terakhir dari tetralogi, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah.

Bila pada ketiga buku terdahulu menggunakan tokoh utama Mingke sebgagai si pencerita, maka di buku terakhir ini tokoh utama, sekaligus pencerita adalah Pangemanann, polisi yang menangkap Minke dalam buku Jejak Langkah. Ini gaya penulisan yang harus diambil penulis, untuk dapat terus mengikuti perkembangan sejarah perjuangan di masa kolonialisme Belanda, berhubung Minke sbgai tokoh utama di buku sebelumnya sedang berada di pengasingan, Ambon.

Pangemanann (dengan dua ‘n’), dimaksudkan penulis sebagai pribadi keturunan Manado Belanda, namun lebih menghargai dirinya sebagai bangsa asing, walaupun dalam setiap pikiran dan tindakannya selalu dibayangi rasa salah terhadap bangsanya.

Latar-belakang cerita diambil pada masa tumbuhnya nasionalisme di wilayah Asia, seperti munculnya Aquinaldo di Filipina dan Sun Yat Sen di Tiongkok. Di Hindia (Indonesia nantinya), pada saat itu di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, yang menggantikan Van Heutsz. Nasionalisme Hindia diawali dengan organisasi Budi Mulya dan Syarikat Dagang Islam, dilanjutkan dengan munculnya para aktivis Belanda Sneevlit. Sepak terjang Tiga Serangkai juga mewarnai isi buku ini, meskipun tidak cukup mendapat ‘arti’ yang penting di mata penulis.

Pada akhir cerita, Minke telah dibebaskan dari pengasingan,, namun tetap dalam pengawasan pemerintahan kolonial hingga dilarang melakukan aktivitas politik, dan akhirnya mati dalam kesepian.

Membaca tetralogi ini, pesan yang muncul sangat jelas terlihat sebagai sikap pribadi penulis yang anti penjajahan dalam segala bentuknya dan tetap tegar dan konsisten dengan segala akibatnya hingga wafat dalam kesepiannya.

Bila penulis adalah representasi si Minke, lalu siapakah Pangemanann? Jelas masih banyak tokoh dengan kepribadian dan perilaku semacam Pangemanann ini, biasanya mereka ini mengabdikan diri sebagai wakil pemilik modal besar dan karena kemampuannya mengenali budaya bangsanya, akan berusaha untuk terus menjajahnya. Persis seperti perilaku kolonialis yang berkedok ‘balas-budi’, namun di ujung semua usaha adalah tetap keuntungan pemilik modal harus jauh lebih besar. Kasihan kalian para Pangemanann negeri ini ..

Read Full Post »

MAX HAVELAAR

havelaar1Judul : MAX HAVELAAR

Penulis : Multatuli

Alih Bahasa : Andi Tendi W.

Tahun : 2008

Penerbit : Narasi

Dari sampul belakang: Buku ini ditulis Multatuli (Eduard Douwes Dekker) di sebuah losmen yang disewanya di Belgia, pada musim dingin 1859. Merupakan kritik tajam yang telah “membuka” sebagian besar mata publik dunia, tentang perihnya arti penindasan (kolonialisme). Judul buku dan nama penulisnya sungguh sangat familiar bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan SD di negeri ini, dan patut mendapatkan penghargaan bagi pengalih bahasa yg telah menerjemahkan karya klasik monumental ini.

Dari sisi gaya bahasa atau alur cerita, agak sulit ‘mencerna’nya, mungkin karena peng’alih-bahasa’an atau memang metoda penulisan yang kurang difahami pembaca. Ada dua latar belakang yang diceritakan dalam karya ini, yaitu tentang ‘makelar kopi’, yang disebutkannya berkali-kali dan pemerintahan kolonialis Belanda di Lebak, Jawa Barat sebagai inti cerita. Juga, satu bab cerita pendek ‘Saijah dan Adinda’ yang sangat terkenal di dunia teater, bahkan sebagai dongeng menjelang tidur.

Keprihatinan Multatuli atas tanah Jawa dan sinisme terhadap pemerintah kolonial sudah dituliskan pada awal cerita, “.. keriangan mengepakkan bendera di Batavia, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Pacitan, Cilacap, di atas kapal yang sarat dengan hasil panen yang membuat Holland kaya!”

Cerita buku ini dimulai dengan kedatangan Max Havelaar (35 tahun) dan keluarga di Rangkasbitung, sebagai Asisten Residen Lebak yang baru dan masih muda, namun sudah berpengalaman menjadi Asisten Residen di Ambon. Sifat-sifat personal Max Havelaar diceritakan sang penulis dengan panjang lebar sebagai manusia religius, lurus, rendah hati seperti tertulis dalam bahasa puitisnya “.. Tajam seperti silet, namun berhati lembut seperti seorang gadis, dia selalu menjadi yang pertama dalam merasakan kepedihan yang ditimbulkan dari kata-kata pahitnya, dan dia lebih menderita akibatnya dibandingkan dengan orang yang disakitinya”.

Konflik dimulai ketika Max memperoleh banyak keluhan rakyatnya atas kesewenang-wenangan Regen Lebak (Raden Adipati Karta Nata Negara) dan mulai menindak-lanjutinya. Kesewenang-wenangan dimaksud, diantaranya adalah, pengambil alihan ternak, pungutan dan penggunaan tenaga kerja tanpa ganti rugi/dibayar. Laporan Max tentang kasus ini ke Residen Lebak tidak mendapat tanggapan bahkan dianggap sebagai laporan tidak berdasar. Ketidak-puasan Max atas tanggapan resmi Residen Lebak (Slymering), membuatnya gusar dan melaporkannya lebih lanjut ke penguasa kolonial, Gubernur Jenderal.

Akhir cerita, Max Havelaar mengundurkan diri dan tidak menerima ‘mutasi’ yang dikenakan pada dirinya sebagai Asisten Residen Ngawi, Jawa Timur.

Introspeksi

Betulkah kesewenang-wenangan dalam bungkus kolonialisme sudah hilang di negeri tercinta ini? Bagaimana dengan penguasaan modal besar atas akses pendidikan, kesehatan dan usaha? Bagaimana dengan hegemoni globalisasi budaya dan ekonomi yang sudah mengkooptasi kita saat ini?

Read Full Post »

Bumi Manusia

bumi_manusia

Judul                      : Bumi Manusia

Author                    : Pramudya Ananta Toer

Tebal buku            : 535 halaman

Tahun                    : 2008

Penerbit : Lentera

Novel ini merupakan buku pertama dari tetralogi yang ditulis ketika pengarang sedang berada dalam tahanan di P. Buru, 1975. Banyak penghargaan diperoleh dari luar negeri dan banyak pula sudah diterbitkan di luar negeri, namun sayangnya, justru dilarang diterbittkan di negeri sendiri pada era Soeharto. Bahkan, seorang mahasiswa Sospol Gajah Mada sempat masuk bui (5 tahun?) akibat menjualnya di akhir tahun 80an.

Membaca novel yang sarat dengan nuansa sosialis dan berlatarbelakang masa penjajahan Belanda, 1898, di Wonokromo, Jawa Timur, seperti larut dalam suasana penjajahan dan feodalism yang nyata, yang sangat sangat jauh berbeda dengan jaman sekarang ini. Sulit dimngerti bahwa jaman seperti itu pernah ada di negeri ini. Ada beberapa kalimat yang mencerahkan  dan menarik untuk diingat dan masih relevan untuk jaman ini:

          Nasihat Jean Marais untuk Minke: “ .. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak berada dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Hal. 77

          Masih dari Jean untuk Minke: “.. kasihan hanya perasaan orang berkamauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya suatu kemewahan atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya”.

          Pembicaraan antara Minke dan Nyai Ontosoroh: “Mama bicara, membaca mungkin juga menulis bahasa Belanda, mana bisa tanpasekolah?”. “ Apa salahnya? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima”. Hal. 105

          Pembicaraan antara Miriam/Sarah de la Croix ddengan Minke: “.. kelakuan para pembesarmu yang menjual konsesi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda  kekeroposan watak dan jiwanya”. “… suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta  benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan.” Hal. 285.

          Cuplikan artikel Dr. Martinet yang berjudul Awal Jaman Baru dan Gejala Pergeseran Sosial sebagai Sumber Penyakit Baru: “ … pengobatan tanpa mengenal latar-belakang sosial telah masuk dalam methode Jaman Tengah”. Hal. 385.

          Pembicaraan Dr. martin dengan Minke: “Asal keinginan dan impian sama – akibat dari kenyataan yang tidak mencukupi”. Hal. 386.

Para tokoh :

          Minke, seorang pribumi, putra Bupati, pelajar HBS (SMU sekarang) yang pandai, kritis, penulis, liberal, yang karena pendidikannya, tak cukup kuat akar budaya bangsanya

          Nyai Ontosoroh, pribumi yang dikawini seorang Belanda secara paksa dan tanpa keabsahan hukum Hindia Belanda, sehingga harus meninggalkan keluarganya. Cerdas, kritis dam sangat anti penjajahan

          Tuan Mellema, suami Nyai Ontosoroh, pada awalnya bersifat sabar dan sayang keluarga hingga kedatangan anaknya (Maurits) dari istri yang sah, menurut hukum Belanda.

          Annelies Mellema, putri pasangan Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh, juga istri Minke, cantik, kesepian dan pengikut ibunya dalam hal kepandaian mengurus perusahaannya

          Robert Mellema, anak pertama pasangan Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh, bersifat anti pribumi

          Robert Suurhof, teman HBS, yang memperkenalkan Minke dengan keluarga Nyai Ontosoroh

          Magda Peters, guru sastra HBS yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter Minke, liberal dan anti penjajahan

          Keluarga assisten residen De la Croix, dengan dua anaknya Sarah dan Meriam, adalah keluarga berpendidikan yang banyak membantu dan berpihak pada Minke

          Bunda, ibu Minke, istri seorang bupati yang sangat mencintai anaknya

          Jean Marais, Pelukis Perancis, ex tentara pada perang di Aceh, sahabat dekat Minke

          Darsa, pengawal setia Nyai Ontosoroh, dari madura

 

Ajakan Robert Suurhof terhadap Minke untuk mengunjungi Robert Mellema, menjadi awal dari berkembangnya kisah Bumi Manusia. Nyai Ontosoroh yang sangat fasih berbahasa Belanda, berpengetahuan luas tentang sastra, ‘melek’ hukum Hindia Belanda dan sangat mengerti tentang karakter kaum penjajah serta riwayat muram dirinya, sangat menyetujui hubungan asmara Annellies dan Minke, yang pribumi, kritis dan berpendidikan.

 

Ada dua konflik sosial dalam novel ini, yaitu konflik feodalistik dan kolonial. Konflik feodalistik direpresentasikan dengan cerita ketika Minke harus ‘ laku ndhodok” (jalan beringsut dengan berjongkok) dan menyembah ayahnya yang Bupati. Sedangkan konflik sosial, sebagai cerita utama, muncul ketika anak sah (hukum Belanda), Maurits, melalui pengadilan Belanda menuntut hak kekayaan almarhum Tuan Mellema, yang telah dikembangkan oleh Nyai Ontosoroh, dan hak perwalian atas Annelies sebagai anak sah, yang terdaftar dalam hukum Hindia Belanda, dari Tuan Mellema. Nyai Ontosoroh dan Minke sebagai pribumi, menurut hukum Hindia Belanda  tidak diakui sebagai istri Tuan Mellema dan suami Annelies yang sah. Dengan kata lain, Nyai Ontosoroh dianggap tidak ada kaitan hubungan apapun dengan keluarga Tuan Mellema yang berakibat pada tidak adanya hak pemilikan Nyai Ontosoroh sedikitpun atas harta dan perusahaan yang telah dikembangkannya bersama putrinya. Annelies dianggap masih gadis, belum menikah, karena menurut hukum Hindia Belanda tidak diakui perkawinan dengan Minke, yang pribumi.

 

Cerita diakhiri dengan keberangkatan paksa Annelies ke Belanda, meninggalkan ibunya, Nyai Ontosoroh, dan suaminya, Minke.

 

 

 

 

Read Full Post »

« Newer Posts