Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Stalin’

20191117_182129Baru saja selesai nonton The Last Czars, film serial drama-sejarah produksi Netflix, Juli 2019, tentang kisah tumbangnya Tsar Nicholas II, dinasti Romanov yang sudah berlangsung 300 tahunan ditangan Bolshevik pimpinan Lenin 1918.

Film sejarah Rusia yang sangat layak tonton setelah film Stalin (Robert Duvall, produksi HBO, 1992), yang saya nikmati beberapa kali di HBO. Detail cerita The Last Czars sangat mungkin penuh adegan asesoris penyedap rasa, bahkan cenderung ‘lebay’ atau berlebihan, namun dari ‘gambar besar’nya film berdurasi 6 episode ini bisa menjelaskan sejarah runtuhnya kekaisaran Romanov, yang tak banyak literatur bisa dibaca, khususnya yang berbahasa Indonesia. Setidaknya, bisa memancing tanya untuk mencari tau lebih banyak tentangnya. Gambar, kostum, acting enak dilihat, menghibur.
Selain Tsar Nicholas II dari dinasti Romanov, Rasputin, spiritual mistis asal Siberia, adalah aktor yang sangat penting andilnya dalam mempercepat keruntuhan dinasti Romanov. Tokoh spiritual yang beraliran Sex Bebas ini menjadi tempat bergantungnya keluarga istana untuk menjaga kesehatan putera raja, Alexei yang menderita haemophilia. Persekongkolan Rasputin dan Alexandra, istri Nicholas, dalam manajemen otokrasi atas nama Tsar, yang tidak berada di istana untuk memimpin perang melawan Jepang dalam Perang Dunia I, menyebabkan kekacauan pemerintahan yang sedang menghadapi kerusuhan massal karena kelaparan.
20191117_182339Berselancar di Netflix, setelah selesai menikmati The Last Czars, akhirnya tersesat di film Trotsky. Film serial drama sejarah 8 episode biografi Rusia tentang Leon Trotsky, tokoh yang pasti familiar bagi aktivis mahasiswa, seperti halnya para tokoh ‘kiri’ lainnya, disutradarai oleh Alexander Kott dan Konstantin Statsky, yang tayang pertama kali di Channel One, Rusia pada 6 November 2017 untuk peringatan 100 tahun Revolusi Rusia.
Di film Trotsky ini, berbahasa Rusia dengan subtitle bahasa Inggris, sangat menonjol upaya penggambaran Trotsky sebagai tokoh sentral yang cerdas, pemikir, ideologis, sekaligus penggerak massa atau leader demonstrasi bahkan perencana strategis maupun taktis dalam perang melawan Jerman di beberapa area. Namun juga terlihat sisi gelap kekejamannya dengan menghalalkan pembunuhan bagi yang menentangnya dengan alasan menyelamatkan Revolusi. Dengan alasan ideologis ‘tak ada milik pribadi’, Trotsky juga melakukan sex bebas dan bahkan merelakan sang istri berhubungan gelap dengan orang lain. Hal inipun masih dilakukannya ketika berada di Mexico, negara terakhir tempat Tritsky berdomisili hingga akhir hayatnya yang tragis.
imagePerselisihan Lenin-Trotsky-Stalin ditampilkan juga dalam film ini, walaupun seringkali ide-ide Trotsky banyak didukung oleh mereka berdua, termasuk ide menghukum mati bagi mereka yang dianggap membahayakan Revolusi. Persaingan terjadi antara Lenin-Trotsky terlihat tajam bahkan hingga penentuan waktu aksi massa tak sepakat antara keduanya. Dan Trotsky melakukan 2 hari lebih cepat dari ketentuan Lenin. Akhirnya Trotsky mendukung Lenin sebagai pemimpin Partai Komunis karena menyadari kelemahannya bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, yang sangat kecil untuk mendapat dukungan masyarakat. Digambarkan bahwa kemenangan Stalin atas Trotsky adalah posisi Stalin berada di Moscow yang tentunya berdekatan dengan Lenin yang saat itu sedang sakit, sedangkan Trotsky lebih sering berada di front depan medan perang atau di luar negeri hingga kedekatan dan popularitas Stalin lebih bisa dirasakan kaum bolshevik dan angkatan perangnya. Trotsky tidak popular dan dirasa kejam terhadap angkatan perang. Kelemahan fatal.
Tiga film yang sangat membantu menjelaskan sejarah Rusia. Tentu, pikiran kritis diperlukan untuk memahami kebenaran sepihak dari film-film tersebut.
Tautan:
  1. Tentang Kehancuran Monarki hingga Kegilaan Rasputin
  2. ‘Trotsky’ is an Icepick to the Heart of Soviet History

Read Full Post »

Screenshot_2016-03-05-22-29-25-1Banyak kritikus sastra menganggap novel klasik ‘Animal Farm‘ ini sebagai satire terhadap ideologi komunis Rusia di era Stalin.

Bercerita tentang pemberontakan para binatang di suatu peternakan di Inggris terhadap pemilik peternakan. Ada 7 peraturan penting yang harus ditaati oleh masyarakat binatang ini setelah kemenangannya, yaitu:

1. Siapapun yang berkaki dua adalah musuh
2. Siapapun yang berkaki empat atau bersayap, adalah kawan
3. Tidak ada binatang yang berpakaian
4. Tidak ada binatang yang tidur di kasur
5. Tidak ada binatang yang minum alkohol
6. Tidak ada binatang yang membunuh sesamanya
7. Semua binatang adalah setara

Demikian jargon mereka yang memang memenangkan pemberontakan sehingga pemilik peternakan harus tersingkir dari peternakannya. Namun, diantara yang ‘setara”, masih ada binatang yang mendapatkan kelebihan ke’setara’an, yaitu para elite binatang. Janji 7 Peraturan tidak ditepati oleh para elit politik.

Para aktor masyarakat binatang ini diindikasikan sebagai reprentasi dari para pemeran revolusi Soviet, misalnya :

Jones, pemilik peternakan mewakili simbol kapitalisme Czar Nicholas II, pemimpin Rusia sebelum Stalin

Old Major, yang dituakan oleh para binatang karena kepandaian dan senioritasnya, merupakan representasi Karl Marx, yang mengajarkan pemikiran bahwa “Man is the only creature that consumes without producing. He does not give milk, he does not lay eggs, he is too weak to pull the plough, he cannot run fast enough to catch rabbits. Yet he is lord of all the animals. He sets them to work, he gives back to them the bare minimum that will prevent them from starving and the rest he keeps for himself.”

Napoleon, adalah seekor babi sebagai pimpinan tertinggi yang kejam dan lapar kuasa, mewakili karakter Stalin

Snowball, pemimpin pemberani yang memenangkan pemberontakan di peternakan, mewakili karakter Trotsky, selanjutnya disingkirkan oleh Napoleon melalui intrik politik dan fitnah kejam.

Squealer mewakili karakter sang ahli intrik politik dari pemerintahan Napoleon, yang dimasa Soviet dilakukan oleh harian Pravda. Dinarasikan oleh Orwell sebagai ahli pemutar-balikkan fakta, “He could turn black into white“.

Novel karya George Orwell, yang masih terpajang di rak buku toko buku Aksara, mall Pacific Place, Jakarta, ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1945, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bakdi Soemanto melalui penerbit Bentang Pustaka di tahun 2015. Saya sendiri membaca dari Play Books, edisi bahasa Indonesia, kurang dari Rp. 50.000 (lupa pastinya), sedangkan yang berbahasa Inggris masih diatas Rp. 100.000. Sangat direkomendasikan.

Read Full Post »