Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Depression’

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, diberi nama PP Tunas, telah diteken pada Kamis, 27 Maret 2025. Pembahasan khusus tentang hal tersebut, dimuat dalam majalah Tempo edisi Minggu, 18 Mei 2025.

Seiring dengan peristiwa diatas, khalayak ramai pun banyak berwacana tentang polah-tingkah kelompok remaja-dewasa yang dikategorikan sebagai Gen-Z. Generasi yang dilahirkan antara 1995-2012 dan saat ini memasuki usia 13-30 tahun. Masa remaja hingga dewasa muda. Atau masa sekolah hingga pekerja muda.

Keprihatinan terhadap banyak pihak yang cenderung menyalahkan sikap dan perilaku Gen-Z, memancing tanya, berharap bisa memahami persoalannya. Salahkah mereka? Atau kita, yang dari generasi sebelumnya, tak mampu lagi mengikuti budaya dan pola pikir mereka yang tumbuh dalam era internet?

Sering terbaca dalam medsos maupun pembicaraan informal, tentang sikap pekerja muda, Gen-Z khususnya, yang dianggap ‘berani’ melawan atasan karena merasa hak-haknya untuk beristirahat telah dilanggar oleh atasan, dengan cara memaksanya untuk tetap bekerja dihari libur, atau lebih sering terlihat pasif tak berinisiatif dalam dunia kerja, dll. Betulkah? 

Seolah Gen-Z adalah Penyebab ’kegaduhan’. Padahal, bisa jadi Gen-Z adalah korban, yang justru perlu pertolongan akibat perkembangan teknologi komunikasi di masanya. Buku “The Anxious Generation“, karya social psychologist di Stern School of Business, New York University, Jonathan Haidt, dan “Generations” karya Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, bisa menjadi rujukan untuk mendapatkan penjelasan ilmiah, berbasis data dan analisis, tentang Gen-Z

The great irony of social media: the more you immerse yourself in it, the more lonely and depressed you become.

Gelombang Perubahan

Diketahui bahwa banyak penyebab terjadinya gangguan mental (mental illness), termasuk didalamnya adalah genetik, pengalaman masa kecil dan faktor-faktor sosiologis lainnya. Dan buku ini lebih fokus membahas faktor sosiologis, dimana perubahan teknologi komunikasi mempunyai andil besar terhadapnya.

Gen Z adalah generasi pertama yang di masa pubernya melekat aplikasi gadget yang selalu memisahkannya dengan liyan dan masuk dalam dunia alternatif yang dirasakannya nyaman, adiktif dan labil. Banyak aplikasi Smartphone yang sebetulnya tidak cocok bagi mereka yang masih anak-anak dan remaja. Mereka menghabiskan sangat sedikit waktu untuk bermain, berbicara, bahkan kontak mata dengan para sahabat dan keluarga, karenanya. Sehingga banyak mengurangi kesempatan bersosialisasi, yang seharusnya menjadi kebutuhan esensial untuk kesuksesan pertumbuhan relasi kemanusiaan. Haidth menyebutnya masa the Great Rewiring of Childhood.

The Great Rewiring bukan hanya tentang perubahan teknologi komunikasi yang terus membentuk karakter keseharian anak dan pola pikirnya, namun juga menyebabkan sikap overprotecting orangtua terhadap anak, yang banyak membatasi ruang gerak mereka di dunia nyata. 

Terjadi perubahan dari “play-based childhood” ke “phone-based childhood”. Atau dari overprotection di dunia nyata ke underprotection di dunia maya.

Hubungan Sosial

Ketika teknologi komunikasi jarak jauh seperti telepon atau telegram masih belum terjangkau di abad yang lalu, Surat melalui transportasi darat/air adalah pilihan satu-satunya. Dan itu pun masih bisa menjaga hubungan sosial pertemanan dan kekerabatan. Menurut Haidt, kuncinya adalah komitmen untuk membina hubungan sosial. 

Kini, ketika teknologi komunikasi jarak jauh semakin maju, banyak pihak mulai menggunakan istilah The World is Flat, justru hubungan sosial itu semakin renggang. Dan banyak pemilik akun media sosial pun bahkan menggunakan nama samaran untuk menjauhkan diri dari koneksitas. Atau, menjauhkan diri dari komitmen hubungan sosial. Keterasingan, kesepian dan hilangnya keakraban karena kekerabatan semu melalui media sosial, menjadi gaya hidup masyarakat internet saat ini. Semu, karena pertemanan dalam media sosial menjadi terlihat mudah dibuat dan diputuskan hanya melalui satu kali klik saja.

Haidt, sebagai profesor psikologi sosial di Universitas New York, menemukan dua hal positif terkait Gen Z, yaitu:

  1. Meskipun dalam kesulitan, mereka mempunyai kekuatan dan kegigihan sebagai bekal untuk melakukan perubahan sistemik ke arah dunia yang lebih baik
  2. Mereka ingin terlibat dalam membuat perubahan menuju dunia yang lebih baik. Tentu dengan menggunakan media sosial sebagai alat pengorganisasian yang mereka kuasai. Banyak bukti organisasi bisnis dan sosial yang digerakkan oleh para Gen Z.

Yang Terjadi

In 2010 there was little sign of a mental health crisis. Now it’s all around us.

Tanda-tanda munculnya gangguan mental pada remaja mulai terlihat di tahun 2000an. Kemudian meningkat pesat mulai tahun 2010. 

Fokus Haidt pada penulisan buku ini adalah mengangkat isu:

  1. Mengapa tingkat penyakit mental Generasi-Z  terus meningkat antara tahun 2010-2015? Sementara generasi sebelumnya tidak cukup terdampak.
  2. Mengapa secara umum terjadi peningkatan gangguan kecemasan dan depresi pada remaja di berbagai belahan dunia?

Penelitian tahunan yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap para remaja, disajikan dalam grafik berikut ini. Terjadi peningkatan jumlah kasus “major depressive episode”.

Percent of U.S. teens (ages 12–17) who had at least one major depressive episode in the past year, by self-report based on a symptom checklist. Now updated with data beyond 2016. (Source: U.S. National Survey on Drug Use and Health)

Hasil survey diatas diperoleh dari beberapa pertanyaan yang diberikan terhadap remaja, seperti: “apakah anda mengalami perasaan sedih, kosong, depresi, dalam jangka panjang?” Atau, “apakah anda mengalami kebosanan dalam periode yang lama terhadap hal-hal yang sebelumnya anda sukai?”, dll. Haidt menyebut tahun 2010-2015 adalah periode “The Great Rewiring”.

Percent of U.S. high school seniors who agreed or mostly agreed with the statement “People like me don’t have much of a chance at a successful life.” (Source: Monitoring the Future.)

Kondisi semakin buruk di masa Covid. Satu dari empat remaja perempuan AS mengalami depresi. Dan semakin buruk pada tahun 2021. Namun sebenarnya peningkatan pesat sudah dimulai sebelum terjadinya pandemi Covid.

Mental Illness Among College Students

Percent of U.S. undergraduates with each of several mental illnesses. Rates of diagnosis of various mental illnesses increased in the 2010s among college students, especially for anxiety and depression. (Source: American College Health Association)

Grafik diatas menunjukkan bahwa Gangguan Mental terbanyak pada remaja AS adalah tipe Anxiety, dengan urutan selanjutnya adalah tipe Depresi.

Lalu, who is suffering from what, beginning when? Hal tersebut yang menjadi perhatian Haidt supaya dapat diidentifikasi berbagai penyebab gelombang ekstrim pada grafik tersebut, untuk selanjutnya dapat disikapi untuk mengembalikannya ke posisi normal.

Dari berbagai data yang tersedia tentang kesehatan mental remaja, yang disajikan Haidt, diketahui beberapa petunjuk awal, bahwa:

  1. Gangguan Mental yang banyak ditemukan di kampus-kampus tahun 2010an, dapat dikategorikan sebagai internalizing disorders. Penderita merasa khawatir, takut, sedih. Simtom inwardly, menarik/menutup diri dari lingkungan sosial. Sangat tertekan. Sementara gejala externalizing disorder, sering ditemukan pada laki-laki, meskipun tidak sebanyak penderita internalizing disorders. Respon externalizing disorder adalah outwardly, yaitu perilaku kacau, kesulitan pengendalian kemarahan, cenderung berbuat kekerasan dan berisiko tinggi.
  2. Sebelum tahun 2012, tidak terlihat adanya kecenderungan peningkatan Gangguan Mental. Namun justru terjadi kenaikan pesat setelahnya.pada Generasi Z (Gen-Z), yang diikuti oleh Generasi Milenial (Gen-Y). Sementara dua grafik Generasi yang lebih tua menunjukkan garis landai di kurun waktu yang sama.

WHAT IS ANXIETY?

Anxiety is related to fear, but is not the same thing. Fear as “the emotional response to real or perceived imminent threat, whereas anxiety is anticipation of future threat.” Mungkin bisa diterjemahkan sebagai Khawatir?

Kesimpulan sementara, Anxiety adalah Gangguan Mental terbanyak yang diderita oleh anak muda pada saat ini.

Studi tahun 2022 terhadap lebih dari 37.000 siswa SMU di Wisconsin, ditemukan fakta adanya peningkatan penderita Anxiety dari 34% di tahun 2012 ke 44% di tahun 2018. Yang umumnya adalah perempuan (from 26.13% in 2010 to 40.03% in 2021) dan remaja juga LGBTQ.

Hasil survei tahun 2023 terhadap tingkat keseringan Gangguan Mental tipe Depresi dirasakan oleh siswa SMU di AS (college) adalah,

  • 16% : “always” or “most of the time,” 
  • 24% : “about half the time,” dan
  • 60% : “less than half the time” or “never.”

Only one-third of college students said they feel Anxiety less than half the time or never.

Fear adalah respon cepat terhadap munculnya ancaman, akan memicu Otak mamalia untuk segera melakukan tindakan. Bahkan sebelum penglihatan mata sempat memberikan perintah pada pusat visual otak bagian belakang untuk melakukan analisa sepenuhnya.

Fear is an alarm bell connected to a rapid response system.

Fear akan segera memicu sepenuhnya terhadap sistem respon dalam situasi berbahaya (Takut), sedangkan Anxiety hanya akan memicu sebagian sistem yang sama apabila ancaman mungkin bisa terjadi (Khawatir).

Anxiety masih bisa dianggap sehat/normal apabila situasi berbahaya memang potensial terjadi. Namun bila hal-hal kecil yang bisa dianggap wajar, tetap memicu munculnya Anxiety, maka temporary anxiety bisa berubah menjadi anxiety disorder.

Beberapa dampak buruk Anxiety adalah: 

  • Fisik, terasa tegang dan sesak pada bagian perut dan dada
  • Emosi, terasa takut, khawatir dan lelah
  • Kognitif, sering merasa sulit fokus atau berpikir jernih, terbenam dalam pemikiran berlebihan (deep thought) yang tidak produktif; cognitive distortion. Biasa menjadi objek cognitive behavioral therapy (CBT) seperti catastrophizing, overgeneralizing, and black-and-white thinking.

Medsos lebih berdampak buruk terhadap perempuan 

Sketsa gadis 12 tahun di akun Instagramnya

Penderita depresi dan anorexia yang sebelumnya tertarik dengan konten Gym, kemudian berubah pecinta fashion dan berujung pro-anorexia. Tergiring arus algoritma instagram dan teralienasi di lingkungan sosial sekolah karena budaya popular yang terbentuk oleh media sosial.

Berbagai studi acak yang dilakukan Twenge menunjukkan kesimpulan yang tak beda dengan Haidt, bahwa, “Social media use is a cause of anxiety, depression, and other ailments, not just a correlate”.

Bila di tahun 2010an para remaja lelaki suka menggunakan internet untuk menonton video di Youtube dan bermain Game Online, maka para gadis lebih senang menggunakannya untuk bermain aplikasi berbasis visual seperti Instagram, Snapchat, Pinterest dan Tumblr.

Tahun 2017, studi yang dilakukan terhadap remaja UK, menunjukkan bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang paling menyebabkan dampak buruk pada penggunanya, yang diantaranya adalah kecemasan, kesepian, anorexia dan kesulitan tidur.

Yang diharapkan

Collective action problems atau Social Dilemma terjadi ketika anak-anak usia Sekolah Dasar mulai merengek minta smartphone dengan alasan teman-teman di sekolah juga memilikinya. Bahkan mereka pun sudah memiliki akun media sosial seperti Instagram dll. Orangtua sadar bahwa smartphone belum waktunya untuk dimiliki oleh anak-anak tersebut. Namun rasa terasing di lingkungan sekolah karena tidak mempunyai smartphone, juga menjadi persoalan penting bagi orangtua. Ujung cerita bisa diduga, anak-anak tersebut akhirnya sibuk bermain smartphone. Berakhirlah masa the play-based childhood, dan digantikan oleh phone-based childhood. 

Collective responses sangat diperlukan untuk mencegah dampak lebih buruk yang akan terjadi akibat penggunaan teknologi maju bagi para pengguna yang masih muda tersebut. Haidt menyarankan,

  1. Voluntary coordination. Misal, melakukan kerjasama sukarela para orangtua untuk secara bersama-sama tidak memberi smartphone bagi anak-anak, setidaknya hingga kelas 8. Gerakan Wait Until 8th.
  2. Social norms and moralization. Pendekatan normatif atau moral untuk melarang penggunaan smartphone pada usia dini. Seperti halnya pelarangan mengemudi mobil saat mengkonsumsi minuman beralkohol.
  3. Technological solutions. Misal hanya mengijinkan anak-anak menggunakan smartphone untuk telepon saja
  4. Laws and rules. Ada syarat minimal usia untuk diperbolehkan menggunakan aplikasi media sosial oleh perusahaan penyedia layanan. Dan perusahaan tersebut mampu memverifikasi usia penggunanya. Atau sekolah menyediakan locker untuk menyimpan smartphone para muridnya 

Peran Pemerintah dan Perusahaan Teknologi

Dalam Proses Bisnis media sosial (Facebook, Instagram, TikTok, dll.), Pengguna aplikasi yang seharusnya sebagai Users, akan diubah menjadi Produk. Customer sesungguhnya adalah mereka (Pengguna Berbayar) yang membutuhkan Produk, sesuai kategori yang tersaring melalui view, like atau comment terhadap Unggahan yang yang dijajakan oleh perusahaan aplikasi. Oleh karenanya, perusahaan aplikasi perlu selalu perbaiki aplikasinya supaya semakin banyak Produknya sehingga menarik hati Customer untuk membelinya.

Perlu diketahui bahwa bisnis model aplikasi media sosial yang perolehan Revenue nya berasal dari penjualan Produk (Users), ada 3 upaya penting yang menjadi prioritas untuk dilakukannya, yaitu:

  1. Perbanyak Users
  2. Upayakan users untuk lebih lama menggunakan aplikasi 
  3. Upayakan Users supaya lebih sering unggah content yang mampu menarik lebih banyak Users, untuk menggunakan aplikasi tersebut

Jelas bahwa dari ketiga upaya aplikasi diatas, mempunyai tujuan antara untuk membuat Users menjadi ketagihan (addicted). Tentu tujuan akhirnya adalah keuntungan finansial belaka. Tak peduli bahwa ketagihan bermain gawai akan berdampak buruk pada pengguna dan lingkungan sosialnya.

Dengan gencarnya serbuan teknologi komunikasi yang berbahaya tersebut, diharapkan supaya para pihak, termasuk Pemerintah untuk segera bisa melakukan intervensi sehingga media sosial tidak lagi atau setidaknya mampu mengurangi dampak buruk terhadap remaja serta dewasa muda. Dan para orangtua pun mempunyai kebebasan untuk memilih cara mendidik dan lebih menjaga putra-putrinya dari serangan teknologi komunikasi.

Bagaikan “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, kuman di seberang lautan nampak”. Semoga PP Tunas atau PP 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, segera terasakan faedahnya. Silahkan regulator sibuk berdiskusi dan mempersiapkan tindakan nyata tentang pendidikan dan lingkungannya yang sehat, sehingga dapat segera mengamankan anak murid dari paparan dampak teknologi komunikasi. Maka langkah prioritas sebaiknya segera dikerjakan, yaitu Sekolah Bebas Handphone dan Banyak Bermain di dunia nyata. The play-based childhood.

Tautan Artikel

  1. BPS Sebut 20,31 Persen Gen Z Berstatus NEET
  2. Frances Haugen
  3. The Facebook Files
  4. One school’s solution to the mental health crisis: Try everything
  5. Some Reasons Why Smartphones Might Make Adolescents Anxious and Depressed

Read Full Post »