Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Roaster’

Cerita tentang Kopi selalu menarik. Terbayang langsung aroma panas kopi mengepul, nikmat. Teringat kawan serumah di tahun 1993, si peminum kopi, alm. Ondos. Dia sudah berharap punya kafe kecil yang hanya menjual minuman kopi panas. Entah darimana dia bisa punya ide itu. Starbucks baru ada di Indonesia tahun 1996. Plaza Indonesia tempatnya. Belum puas kita ngopi bersamanya, YME pun telah lebih dulu memanggilnya di tahun 2012. RIP Ondos, tulisan ini untukmu kawan.

Tahun 2011 terbit buku “Onward”, karya Howard Schultz. Oleh penerbit John Wiley & Sons Ltd, UK. Buku lama dalam format ebook Kindle ini, baru saat ini sempat dibuatkan catatannya.

Suka atau tidak, Starbucks memang menjadi trend setter dalam pengusahaan Kafe Kopi sehingga menginspirasi banyak pihak untuk juga membangun bisnis yang sama. Meskipun Schultz membantahnya, “Starbucks never set out to be cool. We set out to be relevant!”.

Ini cerita tentang perjuangan dan kesuksesan bisnis penyedia minuman Kopi yang telah mendunia.

Tentang Kopi sendiri, ada buku bagus yang pada saatnya nanti akan dibuatkan sedikit tulisan tentangnya, dalam blog ini juga. Judul bukunya adalah “The World Atlas of COFFEE”, karya James Hoffmann.

Yet the only reason our partners can make our customers feel good is because of how our partners feel about the company. Proud. Inspired. Appreciated. Cared for. Respected. Connected. -Bab 14-

Sesuai dengan judul buku, ada beberapa jargon penyemangat dalam kata “Onward” menurut Schultz, namun satu yang terlihat militan adalah,

“Onward” meant fighting with not just heart and hope, but also intelligence and operational rigor, constantly striving to balance benevolence with accountability. 

Kronologi

Howard Schultz, berasal dari Brooklyn, New York, mulai bekerja di Starbucks tahun 1982 sebagai direktur Marketing di Pike Place Market, New Seattle. Cikal-bakal Kafe Starbucks dimulai oleh ide Schultz, yang menjual minuman kopi di tahun 1984. Sebelumnya hanya menjual biji kopi dan peralatannya, yang dibuka pertama kalinya tahun 1971.

Schultz keluar dari Starbucks pada tahun 1985 setelah ada perbedaan visi dengan pendiri Starbucks, Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker. Schultz kemudian membuka kafe miliknya sendiri yang bernama Il Giornale pada tahun 1986. Konsep Il Giornale mirip dengan visi Schultz untuk mengubah Starbucks menjadi kafe yang menyajikan kopi siap saji.

Pada 1987, Schultz membeli Starbucks dari para pendirinya dan menggabungkan Il Giornale dengan Starbucks, menjadikan Starbucks Coffee Company, sebagai kafe dengan konsep yang lebih luas dan global. Dua espresso bar dibukanya. Satu di Seattle dan lainnya di Vancouver, Canada. Akhir 1987, sudah memiliki 11 toko dengan total 100 pekerja.

Saat buku ini ditulis, 2011, Starbucks telah mempunyai Pendapatan tahunan lebih dari $10 milyar, dengan Net Income sebesar $1.245,7 Juta (Annual Report 2011). Melayani hampir 60 juta konsumen per minggu dari 16,000 gerai di 54 negara bagian. Lebih dari 200,000 orang yang kemudian disebutnya sebagai partner atau karyawan Starbucks.

Tahun 2000, Schultz mengundurkan diri sebagai CEO, untuk menjadi Chairman yang lebih fokus pada Global Strategy dan pengembangan bisnis.

Tahun 2007, Starbucks mengalami penurunan capaian. Kondisi ekonomi global dan persaingan bisnis yang semakin ketat serta kinerja yang tidak bagus mendorong Schultz untuk kembali sebagai CEO di tahun 2008.

Selasa sore, Feb 2008, Starbucks menutup semua gerai di AS, dengan catatan di 7.100 pintunya:

“We’re taking time to perfect our espresso. 

Great espresso requires practice. 

That’s why we’re dedicating ourselves to honing our craft.”

Training barista sebanyak 135.000 orang, untuk menyeduh espresso secara sempurna, perlu dilakukan ulang. “Pouring espresso is an art”, dan merupakan bagian dari kualitas beverage. Begitu tinggi Starbucks menghargai Barista. 

Starbucks has always been about so much more than coffee. But without great coffee, we have no reason to exist.

Kualitas Kopi dan Pelayanan adalah prioritas utama, dan Profit akan dengan sendirinya mengikuti. Betulkah? Mungkin sebagai jargon pembungkus atau penyemangat kerja bisa jadi benar adanya. Namun sebagai entitas bisnis, tentu Profit adalah tujuan utamanya. Setidaknya, diharapkan Profit akan diperoleh dengan landasan etika bisnis yang benar. Seperti tertulis pada sampul depan bukunya, “How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul”.

Inspirasi Milan

Setelah setahun bekerja di Starbucks yang mempunyai empat gerai, sebagai Head of Marketing, Schultz melakukan kunjungan bisnis ke Milan, Italia pada tahun 1983. Ini adalah kunjungan yang menurutnya menjadi benih kesuksesan, dan berkembang menjadi Starbucks Coffee Company hingga saat ini.

Kunjungan ke Milan, dalam event pameran perdagangan kopi, saat itu dirasakannya sungguh berkesan dan menginspirasi. Seorang penyedia minuman kopi, dikenal dengan sebutan Barista, menyapanya ramah, seolah sudah lama saling kenal. Serasa lentur lincah dan anggun menari ketika menggerus biji kopi, memanaskan susu, dan menuangkan espresso untuk membuat cappucino. Sambil bercengkrama renyah dengan pelanggan dari balik bar. Setiap pengunjung serasa saling kenal. Akrab komunikasinya dan nikmat kopinya. Sangat mengesankan.

This is not his job, I thought, it’s his passion. This was so much more than a coffee break; this was theater. An experience in and of itself.

Ada satu kesamaan dalam event besar pameran tersebut, yaitu semua gerai kopi di dalamnya selalu menunjukkan Barista yang berpengalaman dalam membuat espresso, cappucino dan menu kopi lainnya, serta nuansa hangat dan akrab pada pengunjungnya. Bukan lagi pelanggan, namun pertemanan saja layaknya.

Penyatuan yang kental antara kefasihan dalam penyediaan kopi yang dipadukan dengan kehangatan hubungan kemanusiaan, serta aroma kental harumnya kopi sungguh melambungkan rasa kenikmatan.

Pengalaman di atas sangat menginspirasi Howard untuk bisa merealisasikan mimpinya melalui kepemilikan Starbucks, yang tidak hanya menyediakan biji dan bubuk kopi, namun juga menyediakan minuman kopi. Untuk itu,

Work should be personal. Yes, love what you do, but your company should love you back.

But like crafting the perfect cup of coffee, creating an engaging, respectful, trusting workplace culture is not the result of any one thing. It’s a combination of intent, process, and heart, a trio that must constantly be fine-tuned.

Tahun 2000, dari 2.600 gerai Starbucks di 13 negara, telah menghasilkan pendapatan $2 milyar. Pertumbuhan tahunan sejak 1992 mencapai 49%. Dan menjadi 

purveyors of the world’s highest-quality coffees.

Tahun 1992, Starbucks mulai melantai di bursa saham. Saat itu nilai valuasinya $250 juta. Tahun 2011, saat terbitnya buku ini, valuasinya sudah mencapai $24 milyar. Per minggunya, gerai Starbucks dikunjungi 45 juta konsumen.

Peran CEO

Schultz kembalin sebagai CEO di tahun 2008. Dua komitmen penting utk diri sendiri:

  1. Tidak akan sibuk mengungkit peran CEO masa lalu. Yg lebih penting adalah perbaikan dan inovatif,
  2. Tidak akan sibuk mencari-cari kesalahan masa lalu

Kekuatiran sempat muncul dari partner (karyawan) Starbucks, berhubung The Wall Street Journal memuat artikel bahwa McD mulai memasuki pasar kopi. Saat itu di AS hanya ada 800 gerai McD yang menyediakan minuman mix espresso dengan milk, yang dibuat oleh mesin kopi otomatis. Dan segera berkembang di 14.000 gerai McD di AS. Guyuran $100 juta dilakukan untuk belanja iklan. McD juga menyediakan kapital sebesar $ 1 miliar untuk renovasi gerainya menjadi McCafes.

Namun keterpurukan Starbucks saat itu bukan karena kompetisi dengan McD atau Dunkin Donut, melainkan karena kondisi ekonomi global yang terpuruk, sehingga membuat belanja masyarakat tertekan.

Starbucks berkeyakinan tinggi terhadap kualitas kopi seduh dan minuman espressonya, karena biji kopi berasal dari perkebunan kopi pilihan sendiri dan dimasak (roasting) di pabrik sendiri. Sementara McD dan Dunkin Donut mendapatkan biji kopi bukan hasil kebun sendiri dan juga dimasak oleh produsen lain.

Untuk kompetisi di pasar, penting untuk tidak memberi peluang pesaing dapat merebut pelanggan Starbucks. 

Langkah Baru

Langkah pertama yang dilakukan Schultz sekembalinya sebagai CEO lagi, adalah mengangkat Chief of Staff, yang bisa selalu melekat dan bekerjasama dengan dirinya, serta berpegang pada visi jangka panjangnya, Transformation Agenda. Pekerja keras, smart, creative leader. Dia adalah pimpinan strategis yang mengangkat minuman Frappuccino menjadi bernilai $2 milyar di tahun 1990. Michelle Gass, telah bekerja di Starbucks 12 tahun. Mampu mengejawantahkan budaya kerja dan nila-nilai Starbucks. Serta tidak segan untuk berbeda pendapat dengan Schultz.

Coffee will never lose its romance. It will always bring people together and be part of conversations in every language, even as the conversations change. Coffee will forever connect.

Kualitas Kopi

Kondisi cuaca yang buruk atau ekstrim, dapat menghasilkan biji kopi berkualitas bagus namun tak banyak jumlah biji kopi yang dihasilkan untuk setiap pohonnya. Ini yang menyebabkan Kopi Arabika menjadi mahal harganya. Lebih mahal daripada Kopi Robusta.

In its almost 40-year history, Starbucks Coffee has never used a single pound of robusta beans in our products.

Menurut Schultz, hanya 3% biji kopi Arabika berkualitas tinggi di dunia yang dianggap baik dan bisa dipergunakan di Starbucks. 

Filosofi Starbucks dalam memanggang (roasting) kopi adalah menyangrai setiap biji kopi dengan cara mengekstraksi potensi maksimalnya, hingga tercapai puncak kenikmatan rasa kopinya. Starbucks biasa menyebut metode roasting seperti itu sebagai Full City roast. Sehingga mampu mengangkat semua kekayaan cita rasa kopi, keasaman dan keseimbangan rasa yang rumit, namun tetap menyegarkan tanpa mengurangi nuansa asli dari biji kopi.

Untuk kepentingan diatas, Starbucks terus mengembangkan software dan hardwarenya sehingga membantu pengendalian dan mereplikasinya untuk dapat dipergunakan di semua gerainya. Hal seperti ini yang belum mampu dilakukan oleh para kompetitornya.

Tahun 2007, rasa kopi Starbucks yang digemari konsumen adalah dark roast dan original blend. Banyak yang tidak menyadari bahwa Starbucks melakukan brewing (penyeduhan) setiap hari, sehingga sangat mungkin terjadi perbedaan rasa setiap harinya. Ini berakibat muncul kesan rasa kopi Starbucks tidak konsisten.

Saat itu, banyak  penggemar kopi seduh di AS menganggap bahwa produk Starbucks lebih terasa burnt daripada “bold”. Maksudnya,

Burnt (Gosong)

Rasa kopi “burnt” atau terbakar muncul akibat proses penyangraian (roasting) biji kopi yang terlalu lama atau terlalu panas. Biji kopi yang terlalu lama disangrai akan kehilangan rasa aslinya dan menghasilkan rasa pahit yang kuat, gosong, dan tidak sedap seperti arang. Rasa “burnt” ini sangat tidak diinginkan dalam secangkir kopi karena menutupi rasa kopi yang seharusnya nikmat.

Bold (Kuat)

Rasa kopi “bold” atau kuat menggambarkan kopi yang memiliki intensitas rasa yang tinggi dan kuat. Rasa “bold” ini tidak selalu berarti pahit, tetapi lebih kepada rasa yang kaya dan kompleks. Kopi dengan rasa “bold” seringkali memiliki body yang tebal dan aroma yang kuat. Rasa “bold” ini bisa ditemukan pada kopi yang menggunakan biji kopi robusta atau campuran robusta dan arabika.

Rasa Bold juga bisa diperoleh dari biji kopi Arabika, bila disangrai hingga tingkat yang lebih gelap (dark roast).

Dan keunggulan yang diharapkan bisa menjadi signature Starbucks adalah bold experience. Namun yang membuat jengah, adalah di tahun 2007, dari uji kualitas oleh para penggemar kopi, Consumer Reports menyatakan bahwa kualitas kopi Starbucks justru berada di belakang McDonald.

Informasi tidak resmi dari publik menunjukkan bahwa penggemar kopi seduh berharap Starbucks bisa menyediakan kopi seduh yang memberi rasa konsisten dan balanced setiap harinya. Partner (Starbucks menyebut ‘karyawan’ dengan istilah Partner) meyakini bisa menyediakannya tanpa harus berkompromi dengan mengorbankan jatidiri Starbucks.

Pengalaman menarik yang diceritakan Schultz adalah tentang penyeduhan kopi. Menurutnya, pengalaman selama 25 tahun sebagai penikmat kopi, metode penyeduhan French Press (bubuk kopi tetap terendam dalam air panas di dasar gelas) lebih menghasilkan rasa kopi yang nikmat dibanding hasil metode Dripping (Larutan kopi sudah lolos dari bubuk kopi di atas kertas). 

French Press
Dripping

Clover adalah mesin brewing yang kemudian dipergunakan Starbucks di berbagai gerainya. Alih-alih menggunakan tekanan dari atas (French Press), Clover menghisap air panas dari bawah kopi untuk mengalirkannya meresap ke dalam kopi dan menetes ke bawah.  

Pengujian roasting biji kopi Starbucks untuk mendapatkan hasil yang balanced dan kaya rasa, dilakukan pada Januari 2008. Metode roasting terbaik yang kemudian menjadi unggulan Starbucks dinamai Pike Place Roast. Biji kopi yang digunakan berasal dari Colombia, Guatemala, dan Sumatra. Roasting dilakukan dengan berbagai kombinasi temperatur hingga menghasilkan perpaduan yang tepat, antara suhu dan waktu. Ditunjukkan dalam kurva Roast. Kemudian dilanjutkan dengan blending dan cupping.

Pike Place had to come out of the gate screaming not only that it was a new brew, but also that Starbucks was back and dead serious about recapturing our coffee authority.

Pike Place Roast and Clover, were our answers to reinventing brewed coffee.

“We will transform the company internally by being true to our coffee core and by doing what will be best for customers, not what will boost comps”.

Mastrena

Tahun 2000, mesin espresso La Marzocco yang sempat menjadi andalan Starbucks digantikan oleh Verismo 801 produk Thermoplan, Swiss. Selanjutnya tahun 2008, digantikan oleh Mastrena, dari produsen yang sama, yang lebih canggih, mahal dan memberi hasil kopi yang konsisten. 

Seven Big Moves

Starbucks, yang 70% pendapatan totalnya diperoleh dari gerai di AS, menyebut Visi strategisnya sebagai Seven Big Moves, yaitu:

  1. Be the undisputed coffee authority
  2. Engage and inspire our partners
  3. Ignite the emotional attachment with our customers
  4. Expand our global presence—while making each store the heart of the local neighborhood
  5. Be a leader in ethical sourcing and environmental impact
  6. Create innovative growth platforms worthy of our coffee
  7. Deliver a sustainable economic model

Untuk mengamankan dan mengembangkan gerai-gerai tersebut, dibutuhkan keahlian juga kedisiplinan, yang mampu mengejawantahkan serta mengeksekusi strategi baru, sebagai turunan dari Visi diatas, yang lebih fokus pada kopi dan pelanggan.

If we had any hope of reigniting their emotional attachment, we had to replace our comps-at-any-cost mind-set with a customer-centric one.

Masa sulit

Akhir 2008, 30% gerai Starbucks di AS sudah menggunakan mesin espresso buatan Swiss, Mastrena. Dan di 2010, mayoritas Starbucks di AS sudah menggunakannya. Schultz sangat membanggakan mesin ini,

“It’s an unbelievable tool that will provide us with the highest-quality consistent shot of espresso that will be second to none and will transform the espresso experience in our stores.”

Di masa sulit tahun 2007, penjualan menurun drastis. Namun, survey menunjukkan bahwa pelanggan tidak sepenuhnya meninggalkan Starbucks. Mereka hanya mengurangi frekuensi belanja di gerai Starbucks, karena kondisi ekonomi global yang memang sedang sulit.

Kondisi ekonomi AS yang semakin buruk, memicu turunnya harga saham Starbucks dari $18.34 menjadi $17.50, dalam satu hari. Biaya tenagakerja menjadi mahal, demikian juga dengan komoditi produk dairy. Sehingga menggerus margin keuntungan.

Ada suatu keyakinan dalam kultur Starbucks yang didengungkan oleh Schultz, bahwa Transformasi dalam situasi ekonomi yang sulit, tidak cukup hanya “mengetatkan ikat pinggang”. Namun ada juga Nilai disana yang perlu dirasakan dan diyakini oleh para karyawan bahwa bisnis Starbucks adalah merekatkan hubungan antar manusia, the business of human connection. Di lingkungan perkebunan, kantor, gerai dan komunitas yang terkait dengan Starbucks.

Our customers were hurting, and we needed to find ways to offer value without damaging the brand through price cuts.

Untuk itu, selama 11 minggu telah dilakukan berbagai kegiatan seperti brainstorming summit, retreat untuk 200 pimpinan tertinggi, forum terbuka, memo, belanja masalah terkait agenda Transformasi, membuat misi baru, Dan dilakukan pertemuan tahunan. 

Survei internal memang menunjukkan bahwa penurunan Penjualan bukan disebabkan oleh kesalahan aksi korporasi. Melainkan karena kondisi krisis ekonomi global.

Kepemimpinan Gerai

Menurut Schultz, yang dianggap sebagai Manajer Gerai (store manager) terbaik Starbucks, adalah mereka yang diharapkan mampu berperan ganda dalam banyak hal, seperti sebagai pelatih, pimpinan, marketer, pengusaha, akuntan, duta komunitas, juga pedagang. Mereka cerdas, selalu optimis dan penuh semangat, serta kreatif, analitis, juga problem solver dalam mengelola loyalitas karyawan, pelanggan dan tentu juga perhatian terhadap Pendapatan. Manager Gerai adalah peran yang sangat penting dalam pengusahaan Starbucks.

Musim panas 2008, Cliff Burrows, pimpinan Starbucks Eropa, Middle East, dan Africa, diangkat menjadi Kepala Starbucks AS. Banyak hal yang mesti dibenahi.

Laporan regular dari Manager menunjukkan Gerai selalu dalam situasi bagus, namun Revenue selalu rendah. Kurang karyawan, inventori bermasalah, kopi banyak terbuang, gerai kotor dan pelanggan banyak menunggu kopi terhidang. Intinya, karyawan sibuk, namun kopi selalu lambat datang. 

Schultz meyakini bahwa itu semua bukan kesalahan karyawan, atau partner menurut istilah Starbucks. Karyawan sudah bekerja benar, menurut perintah yang diberikan dan sesuai dengan pelatihan yang didapatkannya.  

Starbucks membutuhkan sistem operasi yang lebih mudah, jelas dan terukur untuk dijalankan karyawan sehingga mampu memaksimalkan Pendapatan yang diharapkan.

Starbucks may have started a coffee revolution, but when it came to the technology revolution, we missed the boat.

Evaluasi Diri

Juli 2008 adalah 26 tahun Schultz bersama Starbucks. Krisis ekonomi global dan lemahnya manajemen yang mengakibatkan merosotnya Pendapatan, menghasilkan keputusan 1 Juli 2008, ditutupnya 600 gerai di AS atau representasi 8% jumlah gerai di AS. Itu berarti menutup 12.000 posisi atau merumahkan 7% dari total tenagakerja Starbucks di dunia. Juga write-off aset sebesar $200 juta dan menanggung sewa gerai sebesar $130 juta.

Sebanyak 70% dari seluruh gerai yang harus ditutup, baru dibuka tiga tahun sebelumnya. Atau 20% dari 2.300 gerai yang baru dibuka saat itu. Ironis.

Dari seluruh gerai yang ditutup, sebanyak 70% karyawannya dipindahkan ke gerai lainnya.

Kritik Schultz terhadap diri sendiri, We thought all we had to do was show up to be successful

Dengan pengalaman tersebut, Schultz berpendapat bahwa: Success is not sustainable if it’s defined by how big you become

Large numbers that once captivated me—40,000 stores!—are not what matter. The only number that matters is “one.” One cup. One customer. One partner. One experience at a time. We had to get back to what mattered most.

Media Christian Science Monitor menyajikan kritik berjudul “Why Starbucks Lost Its Mojo”. Menurutnya, Starbucks salah asumsi bahwa gaya hidup “cool” yang dijajakannya adalah gaya kelas menengah Amerika. Dan Schultz pun membantahnya, “Starbucks never set out to be cool. We set out to be relevant!”

Kreatifitas

IG: @visionaryyminds

Juli 2008, satu juta pelanggan telah menggunakan Starbucks Card untuk menyimpan uangnya senilai $150 juta. Dan di tahun 2022, menyimpan $1,6 Milyar.

ChatGPT memberi komentar tentang angka tersebut sbb.: Pada tahun 2022, saldo yang mengendap di Starbucks Card secara global mencapai sekitar $1,723 miliar.  Dengan asumsi saldo rata-rata per kartu adalah $50, jumlah kartu yang beredar dapat diperkirakan sekitar 34,46 juta. Namun, tanpa data spesifik mengenai saldo rata-rata per kartu, angka ini hanya perkiraan kasar.

Produk lain untuk meningkatkan penjualan pada sore hari adalah Treat Receipt. Yaitu pelanggan yang berbelanja di Starbucks pada pagi hari, bisa datang lagi pada sore harinya, setelah jam 14.00, untuk mendapatkan minuman dingin ukuran grande hanya dengan membayar $2. 

Pilpres AS akan dilakukan pada 4 November 2008. Kandidat Demokrat adalah Obama/Bidden dan kandidat Republik adalah John McCain/Sarah Palin. Starbucks akan memberikan secangkir kopi bagi mereka yang telah melakukan pencoblosan.

Iklan muncul di layar bis kota,

IF YOU CARE ENOUGH TO VOTE, 

WE CARE ENOUGH TO GIVE YOU

A FREE CUP OF COFFEE. 

COME INTO STARBUCKS ON NOV. 4TH 

TELL US YOU VOTED, 

AND WE’LL PROUDLY GIVE YOU 

A TALL CUP OF BREWED COFFEE ON US.

Iklan juga mulai muncul di Facebook, Twitter dan Youtube.

VIA sachet

Pengalaman dengan produk VIA, kopi Starbucks dalam sachet yang mulai diproduksi tahun 2009. Setelah 10 bulan di pasar, penjualan VIA di AS mencapai $100 juta pada tahun 2010. Prestasi yang luar biasa, Menurut SymphonyIRI Group, konsultan survei, hanya 0,3% produk retail mampu mencapai penjualan sebesar $100 juta dalam satu tahun.

VIA tidak lagi hanya sebuah produk, melainkan sudah menjadi brand platform. September 2010, Starbucks memproduksi VIA decaf, iced coffee, dan VIA rasa vanilla, mocha, caramel, serta cinnamon.

Oktober 2010, Howard mencicipi coffee blend baru, untuk memperingati 40 tahun Starbucks, yang berisikan kopi Sumatra (rasa cedar dan pedas), Colombian, Ethiopia (aroma berry) dan Papua New Guinea. 

“The coffee hit my tongue with a beautiful aged cedar note that gave way to a robust fruitiness and ended with a balanced acidity. We named it, Tribute Blend.

Penghematan

Pemborosan adalah salah satu penyebab kerugian besar Starbucks. Belanja ratusan ribu dollar untuk hal-hal yang tidak seharusnya dibutuhkan. Seperti, pengapalan bahan mentah dari AS ke Eropa, yang seharusnya bisa dicukupi dari lokal Eropa. Selain itu, sering diterima keluhan pelanggan karena ketiadaan beberapa jenis minuman yang biasa tersedia.

Schultz mengakui adanya kesalahan selama ini. Ahli Supply Change Organization (SCO) menjadi kebutuhan Starbucks.

Peter Gibbons sebagai pimpinan SCO mempunyai tiga kata kunci strategi transformasi: “Service. Cost. People.” Dan tiga goal SCO adalah: 

  1. Berikan layanan prima terhadap pelanggan
  2. Biaya serendah mungkin
  3. Terus kembangkan kemampuan karyawan dan rekrut ahli transportasi, logistik, engineering dan quality control.

Pemotongan permanen biaya total Operasi Starbucks sebesar $400 juta pun dilakukan. Diantaranya, pemotongan biaya di manufacturing, logistic, procurement, sisa makanan dan labor cost (efisiensi, bukan pemecatan). Juga penutupan beberapa gerai.

Komunikasi publik menjadi isu penting bagi Starbucks untuk mencegah kesalahan informasi yang berpengaruh terhadap penjualan. Untuk itu media sosial menjadi penting untuk dipergunakan. 

Facebook, Twitter dan web menjadi alat Starbucks untuk mendengar dan menyampaikan pesan dari/ke pelanggan. Serta untuk mengembangkan bisnis.

Bangkit

Di kuartal ke-3 2009, Starbucks mengalami kenaikan fiskal. Keuntungan per lembar saham mencapai $5 cent. Perusahaan mendapatkan keuntungan $152 juta. Setelah mengalami kerugian hampir $7 juta di tahun sebelumnya.

Penurunan Comps (comparative what store sales) cenderung berbalik ke arah positif sejak Desember 2008. Fixed cost menurun drastis, terutama di AS. Margin operasi menjadi 13.4%. Naik 8,8% dari tahun sebelumnya. Itu karena perbaikan operasional yang menerus. Iklan di berbagai media resmi dan media sosial semakin agresif. 

Kepemimpinan Schultz dan team semakin membaik dengan peningkatan efektifitas keseimbangan antara visi pengusahaan dengan kesabaran eksekusi. Melalui pemberian perhatian yang juga seimbang antara back end dan front end.

The transformation of Starbucks Coffee Company is well under way. The Transformation Agenda we laid out 16 months ago has helped us focus on the most important success factors for our company, while also enabling us to continue nurturing and building our brand.

Kuartal ke-4, 2009 menunjukkan kenaikan Revenue, juga Comps (comparative what store sales).  

CHINA

I’ve come to think that I am at my best as a leader when Starbucks is being challenged or fighting for survival.

Starbucks mulai muncul di China, di kota Beijing, tahun 1999. Saat ini (2011) jumlah Starbucks di China mencapai hampir 700 gerai. Masih sedikit dibanding potensi pasar disana.

Di China, Starbucks tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati kopi, tapi juga tempat untuk bersosialisasi dan alternatif tempat kerja. 

Making Starbucks locally relevant without diluting the brand is an ongoing issue that we have to address to a degree that we did not have to in the past.

Survey di China menunjukkan bahwa pelanggan Starbucks tidak menginginkan penyajian makanan mie.

Saat kunjungan Howard di Shanghai, disajikan menu makanan sharing. Ide menarik. Di kota-kota Asia yang padat penduduk, dimana sangat terbatas ketersediaan ruang personal untuk bersosialisasi, maka ruang publik yang nyaman seperti Starbucks, menjadi pilihan.

September 2009, saham Starbucks mencapai $20. Naik dari $7,17 di tahun sebelumnya.

“… we have to maintain balance on many fronts. Balance between the emotional and the disciplined. Between instinct and information. Between global and local. The personal and the professional, and, of course, between profit and humanity“.

Tanggal-tanggal penting:

19 Jul 1953: kelahiran Howard

26 Jun 1992: Starbukcs go public

28 Mar 1998: Gerai pertama di Taiwan

4 Mei 2000: Gerai pertama di Shanghai

RWANDA

The entire store was built to be Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) certified—meaning that it meets stringent standards to reduce its environmental impact.

Tahun 2004, Starbucks mulai menggunakan kopi dari Afrika. Rwanda salah satu sumbernya. Hampir semua dari puluhan ribu perkebunan kopi pemasok Starbucks di lebih dari 30 negara adalah keluarga petani kecil yang hanya memiliki beberapa acre lahan saja. Sulit sekali bisnis perkebunan mereka, bahan jauh sebelum bekerjasama dengan Starbucks.

Persoalan para petani kopi sering kali disebabkan oleh:

  1. Perkebunan kopi membutuhkan keahlian khusus yang seringkali berasal turun-temurun. Semacam keahlian seni
  2. Harga dari Buyer yang tidak sepadan. Produk kopi dihargai terlalu murah.  

Pengakuan Howard, kerjasama Starbucks dengan para petani kopi terus berkembang ke arah yang lebih baik hingga mampu saling menguntungkan. Kualitas kopi dari petani pun semakin bagus sehingga masuk dalam kategori produk premium sesuai standar tinggi yang diharapkan oleh Starbucks. Sehingga nilai jual pun dari petani semakin tinggi. Dan pinjaman Starbucks untuk petani kopi semakin meningkat dari $12,5 juta menjadi $20 juta di tahun 2015.

“One thing we want to try and do with the coffee here in Rwanda is help you become more efficient in how it is being grown.”

Meskipun Starbucks bukanlah pengusaha perkebunan kopi, tapi pengusaha roaster kopi, namun punya relasi kerjasama bisnis dengan banyak petani kopi di berbagai belahan dunia.  Masukan Starbucks terhadap pengusahaan kopi adalah perlunya kemampuan meningkatkan efisiensi, menghasilkan produk berkualitas premium, berkelanjutan dan mampu memotong biaya hingga 80% serta meningkatkan pendapatan hingga 20-30%.

Yang mengejutkan adalah mimpi para petani kopi perempuan Rwanda, yaitu berharap untuk mampu memproduksi kopi mereka sendiri, tanpa harus mendapat dukungan dari para laki-laki. Kesetaraan gender. Beribu-ribu perempuan Rwanda harus berjuang untuk hidupnya dan membesarkan sendiri buah hatinya akibat petaka brutalitas genosida.

Melalui NGO Heifer International, Starbucks memberi donasi untuk mengirim sapi Friesian, penghasil susu, ke Rwanda. Termasuk juga memperhatikan kompleksitas pembelian, pengiriman, dan pemeliharaan ternak, juga memberi pelatihan dalam beternak yang benar dan menerus.

Terkait dengan sub-judul Conscience diatas, Starbucks telah mengalokasikan biaya asuransi kesehatan karyawannya, total sebesar $250 juta di tahun 2009, 50% lebih tinggi dari tahun 2000.

CAFE

IG: @visionaryyminds

Starbucks melaksanakan CAFE practices dalam pembelian kopi. Sebesar 81% di tahun 2009 dari pembelian kopi Starbucks mengikuti standar CAFE. Naik dari 77% di tahun 2008.

C.A.F.E. practices adalah seperangkat prinsip atau pedoman yang diterapkan dalam industri kopi untuk memastikan praktik yang berkelanjutan, adil, dan bertanggung jawab dalam proses produksi kopi. C.A.F.E. adalah singkatan dari Community, Accountability, Fairness, dan Environment, yang merujuk pada empat area utama yang diperhatikan dalam standar ini:

  1. Community (Komunitas): Memastikan kesejahteraan petani kopi dan pekerja, serta memperhatikan kondisi sosial di sekitar perkebunan kopi.
  2. Accountability (Akuntabilitas): Menjaga transparansi dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam produksi kopi bertanggung jawab atas tindakan mereka.
  3. Fairness (Keadilan): Menjamin harga yang adil bagi petani kopi dan pekerja, serta memastikan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi.
  4. Environment (Lingkungan): Mengutamakan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan bijak dan pengurangan dampak negatif terhadap ekosistem.

C.A.F.E. practices ini dikembangkan oleh Starbucks untuk mempromosikan keberlanjutan dalam rantai pasokan kopi mereka. Dengan menerapkan pedoman ini, Starbucks dan para mitranya berupaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan, sambil meningkatkan kualitas kopi.

Serving Our Communities

Karyawan (partners) dan pelanggan Starbucks telah terlibat dalam 186.000 jam pelayanan di lingkungannya, di berbagai belahan dunia pada tahun 2009. Target 1 juta jam pelayanan dalam 1 tahun.

Environmental Impact

Gerai Starbucks dapat melakukan recycle terhadap cangkir kertas, kardus, kertas, gelas, plastic. Target di tahun 2015 adalah 100% cangkir Starbucks bisa dipergunakan ulang (reusable) atau recycle.

Hingga 2011, lebih dari 200 gerai Starbucks telah teregister dalam standar LEED (Leadership in Energy and Environmental Design). Target Tahun 2015, penggunaan air dan energi akan berkurang 25%.

Starbucks has drastically improved how we operate our business by reducing costs, building a world-class supply chain, and creating a culture that drives quality and speed and manages expenses on an ongoing basis.

Cost Reductions

Tahun 2008, reduction cost sebesar $400 juta. Dan 2009 diharapkan tumbuh menjadi $580 juta.

Supply Chain

Tahun 2011, 9 dari 10 order ke 16.500 gerai Starbucks dapat dipenuhi dengan tepat waktu tanpa error. Mampu saving sebanyak $400 juta dalam dua tahun terakhir.

Net Earning

2024: $3.760,9 Juta dengan 40.199 Gerai di seluruh dunia.

2011: $1.245,7 Juta dengan 16.858 Gerai di seluruh dunia.

Komentar

Buku bagus sebagai inspirator pengusahaan retail Kafe Kopi. Banyak kasus bisnis retail di dalamnya yang bisa dijadikan pelajaran untuk menjaga konsistensi kualitas produk dan pelayanan prima bagi pelanggan. Juga kiat-kiat teknik komunikasi publik untuk kepentingan manajemen internal dan peningkatan pelayanan atau penjualan.

Kata kunci Starbucks yang menjadi semangat bisnisnya adalah “merekatkan hubungan antar manusia, the business of human connection“.

Sudah banyak pengusaha muda Kafe Kopi yang juga menjadi eksportir Kopi. Contoh sukses tersebut adalah Blanco Coffee Indonesia yang memiliki Kafe Kopi di Yogyakarta dan Jakarta. Kerja sama dengan para koperasi petani kopi, seperti yang dilakukan Starbucks, dan permodalan memang masih sering menjadi isu untuk mengembangkan sayap pengusahaan lebih jauh lagi.

Semoga sukses untuk para pihak yang terlibat dalam pengembangan bisnis Kopi.

Read Full Post »