Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Scheyder’

Much of what every human touches every single day comes from the ground—typically through a mine or a farm.

Konflik kepentingan selalu muncul saat harus memilih untuk mengamankan ekologi atau memanfaatkan sumberdaya mineral di bawahnya melalui penambangan, demi kepentingan pasokan Energi Hijau. Oleh karenanya, jargon “pembangunan berwawasan lingkungan” menjadi penyemangat sinkronisasi dan keberlanjutan.

AS berpenduduk kurang dari 5% populasi dunia, namun mengkonsumsi hampir 17% energi dunia. Sementara China yang berpenduduk 18% populasi dunia, membutuhkan energi sebesar 25% yang tersedia di bumi ini. Isu keadilan.

Buku berjudul “The War Below. Lithium, Copper and The Global Battle to Power Our Lives”, karya Ernest Scheyder, 2024, ini terpilih untuk dibaca karena dua hal:

  1. Ketersediaan dan penggunaan Lithium, Nickel dan mineral lainnya sebagai bahan dasar baterai untuk mobil listrik
  2. Harapan adanya pemikiran atau solusi baru tentang persoalan lama, yaitu tentang konflik antara ekologi dan pertambangan untuk energi hijau

Buku setebal 377 halaman (saya membacanya dalam format ebook Kindle) ini menyajikan kebutuhan pasar global dan resistensi masyarakat. Antara pertambangan mineral untuk kebutuhan mobil listrik dan penggiat lingkungan di beberapa wilayah dan negara. 

Mengingat pentingnya informasi yang disajikan Ernest Scheyder, maka hal-hal penting di setiap bab dalam buku ini akan disajikan semua ringkasannya. Demi keseimbangan informasi bagi penentang dan pendukung Pertambangan. Cerita lama pertentangan antara para Antroposentris vs pendukung Keanekaragaman Hayati (biodiversity).

Selain itu, tulisan panjang ini akan digunakan Penulis sebagai catatan pengetahuan penting tentang pilihan Kebijakan terkait Pertambangan, Lingkungan dan Perubahan Iklim.

Pertambangan Lithium, Copper, Cobalt menjadi pokok bahasan. Sayang sekali, Scheyder tidak membahas Nickel di Indonesia, yang sekarang sedang menjadi isu primadona global untuk bahan dasar baterai mobil listrik tipe NMC (Nickel-Mangan-Cobalt).


PENDAHULUAN

The UN Climate Change Conference (COP21) atau biasa disebut Paris Agreement di Paris, Perancis, 12 Desember 2015 dihadiri 196 negara. Satu tahun kemudian, 4 November 1916, kembali ditegaskan dua hal penting, yaitu:

  1. Membatasi kenaikan temperatur bumi sebesar 2°C
  2. Mencapai Net Zero Global Emission tahun 2050

Dalam rangka mencapai target tersebut, disepakati perlunya upaya untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Dengan demikian dibutuhkan Storage System atau baterai yang dapat menyimpan energi tersebut, seperti energi surya atau angin. Untuk itu kebutuhan mineral Lithium, Nickel, Cobalt, Besi (Fe) dan mineral logam lainnya, diperkirakan akan meningkat pesat. 

International Energy Agency (IEA) memperkirakan kenaikan kebutuhan Lithium mencapai 40% di tahun 2040, sebagai komponen baterai mobil listrik. Demikian juga halnya dengan mineral lainnya seperti Cobalt dan Nickel. Menurut IEA, antara tahun 2022 dan 2030, akan dibangun di AS,  50 tambang Lithium baru, 60 tambang Nickel baru dan sedikitnya 17 tambang Cobalt baru.


Baterai Lithium-ion

Prinsip kerja baterai Lithium

Baterai tipe ini ditemukan pertama kalinya oleh Stanley Whittingham, di tahun 1977, ketika bekerja di laboratorium Exxon, New Jersey. Penghargaan Nobel Kimia 2019 diterimanya untuk penemuannya tersebut. 

Pada awal produksi baterai Li-ion, masih ditemukan terjadi gejala peledakan atau kebakaran tiba-tiba, yang disebut “thermal runaway”. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia mineral Lithium. 

Mineral Cobalt menjadi komponen tambahan untuk mencegah terjadinya kebakaran baterai Lithium. Sony, Jepang, mematenkannya dan mulai memproduksi baterai Li-Co untuk digunakan sebagai baterai rechargeable camcorder.

Selanjutnya berkembanglah penggunaan baterai rechargeable tersebut untuk laptop, handphone dan perangkat elektronik portable lainnya.

Martin Eberhard, pendiri Tesla Motors, 2003. Pada saat itu Lithium-ion battery masih menjadi percobaan industri mobil seperti Ford, Chrysler, dll. Elon Musk bergabung di Tesla setahun kemudian, dan mulai memproduksi EV Battery (Mobil Listrik) yang pertama, yaitu  “the Roadster” tahun 2008. Tentang EV Battery ini, Tesla bekerjasama dengan Daimler, Jerman dan Toyota, Jepang.

Struktur Lithium-ion battery terdiri dari: Anoda, Katoda, Elektrolit dan Separator.  Komponen terbesar Anode adalah Graphite. Komponen Katoda (bergantung desain) terdiri dari Lithium (Li), Nickel (Ni), Cobalt (Co), Manganese (Mn), Aluminium (Al). Elektrolit banyak terbuat dari Lithium, dan separator berbahan plastik. Belum lagi ribuan meter kabel Tembaga (Copper/Cu) dibutuhkan dalam EV Battery.

Mobil Listrik Tesla Model-3 tahun 2021, mempunyai kapasitas baterai 55,4 kWh. Yang berarti mampu menyalurkan daya sebesar 55,4 kilowatt selama 1 jam. Setidaknya membutuhkan 0.11 kilograms Lithium per kWh. Jadi, kapasitas baterai Tesla sebesar 55,4 kWh akan membutuhkan kira-kira 6 kg Lithium. 

Menurut ahli Kimia Shabbir Ahmed, PhD. dari Argonne National Laboratory, baterai dengan kapasitas sejenisnya, akan membutuhkan kira-kira 42 kg Nickel, 8 kg Cobalt, 8 kg Aluminum, 55 kg Graphite, dan 17 kg Tembaga, dan masih dibutuhkan tambahan Aluminum and Tembaga untuk keperluan lainnya dalam mobil.

Ketahanan Energi Nasional suatu negara selama ini selalu diasosiasikan dengan Minyak Mentah dan Gas Alam. Saat ini, bertambah dengan keberadaan Lithium, Nickel, Tembaga dan mineral lain untuk keperluan EV Battery. Beberapa hal penting terkait pasokan mineral penting tersebut adalah:

  • Chile dan Australia adalah produsen Lithium terbesar dunia di tahun 2023. Namun masih bergantung pada China untuk pengolahannya hingga menjadi bahan dasar EV Battery. 
  • China adalah konsumen tertinggi dunia untuk komoditi mineral Tembaga (Copper) dari Chile, Peru dan negara lainnya. Produksi Tembaga AS turun 5% selama tahun 2017-2021. Meskipun AS mampu memasok Tembaga lebih banyak daripada China.
  • Indonesia mempunyai cadangan Nikel terbesar dunia. Namun memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan mentah (bijih/ore) Nikel. Karena akan mengolah dan memurnikan bijih Nikel tersebut di dalam negeri.
  • Congo, mempunyai cadangan terbesar dunia, Cobalt. AS pada tahun 2021 telah mengimpor Cobalt 14 kali lebih banyak daripada hasil tambang dalam negerinya. Dan Elon Musk menyatakan di tahun 2018 bahwa tidak akan menggunakan baterai berbahan mineral Cobalt, karena isu penggunaan tenagakerja pertambangan Congo dibawah umur. Walaupun hingga saat ini tetap belum bisa menghindari kebutuhan Cobalt tersebut.
  • AS mulai membangun industri Mineral Jarang (Rare Earth Elements). Namun industri tersebut mulai banyak dikuasai China dalam hal penambangan dan pengolahannya.
  • Setelah beberapa puluh tahun, hingga saat ini AS belum ada tambang penghasil bahan EV Battery telah dibuka. Kecuali hanya satu tambang Tembaga kecil. Telah direncanakan untuk membuka tambang Tembaga di AS untuk keperluan produksi 6 juta Mobil Listrik, tambang Lithium untuk 2 juta Mobil Listrik dan tambang Nikel untuk 60 ribu Mobil Listrik.
  • Tahun 2019, di AS terjual 250 ribu mobil listrik, 400 ribu tahun 2021 dan 807 ribu tahun 2022. 
  • Meningkatnya kebutuhan Mobil Listrik di AS mesti dibarengi dengan kecukupan pasokan Lithium dan mineral logam lainnya. 
  • Pada April 2022, Elon Musk menyatakan, “So right now, we think mining and refining lithium appears to be a limiting factor, and it certainly is responsible for quite a bit of cost growth in the sales …”.
  • Banyaknya rencana pembukaan pertambangan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri baterai, menjadi dilemma lingkungan bagi pengambil kebijakan pemerintah AS. Upaya peningkatan energi hijau tersebut, melalui pengalihan Combustion Engine ke EV Battery, banyak menghadapi penolakan dari para aktivis lingkungan.
  • Di tahun 2021, China telah membangun 148 pabrik Lithium-ion battery dari 200 pabrik super besar yang direncanakan. Di Eropa ada 21 pabrik, Amerika Utara 11 pabrik. Tahun 2029, diharapkan 101 pabrik Lithium-ion battery dari rencana 136 pabrik, akan dibangun di China.  

Untuk mencapai target Perubahan Iklim dalam Paris Agreement, kebutuhan global terhadap Lithium dan Graphite untuk pembuatan EV Battery, akan naik 4.000% di tahun 2040. Bahkan Presiden Joe Biden menjanjikan untuk mengkonversi seluruh kendaraan dinas pemerintah AS (kira-kira 640 ribu mobil) menjadi Mobil Listrik. Hal ini akan meningkatkan produksi Lithium di AS sebanyak 12 kali lipat di tahun 2030.

“You can’t have green energy without mining,” kata Mark Senti, Chief Executive dari perusahaan magnet logam-jarang di Florida, Advanced Magnet Lab Inc.

Wall Street memperkirakan kebutuhan Lithium akan meningkat tinggi di tahun 2030, namun meragukan ketersediaan pasokannya. Dan masih menjadi isu kebijakan pemerintah AS saat ini.

Sementara China telah keliling dunia dalam 20 tahun terakhir ini untuk mencari cobalt, lithium, copper dan mineral lainnya. China telah mengalokasikan miliaran dollar di Congo untuk membeli Cobalt. Dan di Argentina, China sudah investasi untuk enam proyek besar tambang Lithium. Bahkan setelah AS keluar dari Afganistan 2021, China mulai negosiasi dengan Taliban untuk mengelola deposit tembaga Mes Aynak, yang hanya berjarak sekitar dua jam dari Kabul.

Uni Eropa menargetkan 2050 sudah bebas karbon. Ini berarti kebutuhan tinggi terhadap pasokan mineral logam. Suatu perburuan mineral logam yang sudah berlangsung ribuan tahun. 

Paul Julius Reuter, pendiri media Reuter berkebangsaan Jerman, telah berkontrak dengan Shah Persia 1872, untuk mengelola tambang besi, tembaga dan mineral lainnya di wilayah yang sekarang disebut sebagai Iran.

Paradok pun muncul saat ini, ketika kegiatan pertambangan untuk memproduksi logam kebutuhan teknologi energi hijau, menjadi musuh para penggiat lingkungan. Dan perang dagang pun mulai terjadi ketika China mengancam untuk tidak mengekspor Logam Jarang untuk keperluan Mobil Listrik.

Ernest Scheyder dalam menggambarkan masalah Krisis Iklim saat ini (eksploitasi produksi Batubara, Minyak Mentah, Gas Alam) menggunakan The Nutmeg’s Curse, buku karya Amitav Ghosh, yang bercerita tentang penjajahan Belanda di Kepulauan Banda di tahun 1600an untuk eksploitasi buah Pala melalui proyek Tanam Paksa.

Menurut Amos Hochstein, Penasihat Energi untuk Obama and Biden,

“We throw around these words ‘energy transition’ and ‘the future of energy’ and ‘climate action,’ but basically what we’re doing right now—this generation—is having a massive overhaul of the entire global energy system while at the same time we are electrifying everything”.

Dan perburuan pun bergeser dari Fossil Fuel menjadi eksploitasi nickel,  magnesium, graphite, cobalt, lithium dan mineral logam-jarang lainnya. Fenomena The Nutmeg’s Curse kembali terjadi. 

Untuk menghadapi situasi Geopolitik global yang cenderung menuju energi hijau, di tahun 2030, AS hanya berencana produksi Lithium sebanyak 3% dari kebutuhan tahunan global. Walaupun diduga mempunyai cadangan Lithium sebesar 24% cadangan global. Hemat bahan baku dan antisipasi krisis lingkungan.

“One of the ways we address climate change is to produce more EVs, and that needs more copper. That copper mine has to be somewhere, and some will support that mine, others will oppose it,” kata Scot Anderson, Pengacara yang membantu banyak perusahaan tambang untuk mengurus proses perizinan penambangan di AS. 


Lithium di Orocobre, Argentina dan Rhyolite Ridge, Nevada

JAMES CALAWAY (1931-2018), sosok penting dalam buku ini, menjadi acuan awal Scheyder (Penulis) tentang Lithium di tahun 2018. Lulusan ekonomi dari universitas Texas, Austin. Berada dalam lingkungan bisnis perminyakan pada awalnya, kemudian bergeser mendalami energi hijau hingga tertarik pada Lithium sebagai bahan dasar EV Battery.

Tahun 2016, Calaway mendapatkan penawaran untuk membuka pertambangan Lithium di Nevada. Tak yakin bisa mendapatkan ijin, karena AS sudah tidak lagi membuka pertambangan hard rock sejak 1970an.

Tahun 2007, ketika berada dalam forum bisnis perminyakan di Aspen, Calaway mendapatkan kesempatan mengikuti sesi diskusi tentang EV Battery. Diketahuilah bahwa General Motor telah memasarkan mobil listrik EV1 di tahun 1916, diikuti Toyota memasarkan model Prius Hybrid di tahun berikutnya. Ternyata saat itu produksi mobil listrik GM hanya berumur 3 tahun. Tidak menguntungkan. Discontinued

Nora Walker (Sally Field) dalam film Brothers & Sisters (2006-2011), menggunakan Toyota Prius Hybrid, dan sering bicara tentang Perubahan Iklim. Namun Walker tak memahami bahwa Lithium sebagai bahan baterai mobilnya diperoleh dari Amerika Selatan, diolah di China dan diproduksi sebagai katode baterai di Jepang. Dalam kesempatan diskusi di Aspen itulah Calaway memahami awal rantai pasok EV Battery. Selanjutnya Calaway, juga Scheyder sebagai jurnalis Reuters, banyak menghadiri konferensi tentang baterai.

Akronim-akronim asing berikut ini semakin familiar bagi mereka, NCA (nickel, cobalt, and aluminum), LCE (Lithium carbonate equivalent), NCM (nickel, cobalt, manganese), dan BEV (Battery Electric Vehicle) menjadi sering muncul dalam pembicaraan tentang baterai. Dan unsur logam Lithium ( Li) semakin popular dalam pembicaraan tersebut.

Lithium bernomor atom 3, berada pada Group 1 dan Periode 2 dalam Tabel Periodik. Tergolong dalam Metal Alkali. Li adalah metal ringan yang bagus untuk menyimpan arus listrik, sehingga menjadi bagian penting dalam baterai Li-ion.

Disinilah Calaway mulai menyadari pentingnya untuk mendapatkan Lithium. Dari manapun sumbernya di dunia ini.

Unsur Lithium ada dalam mineral Spodumene di China, Lepidolite di Australia, atau dalam air laut (brine) di Amerika Selatan.

Lithium banyak digunakan sebagai bahan dasar pelumas untuk kendaraan perang WWII. Kemudian sebagai bahan pembuat bom hidrogen. Buzz Aldrin (Apollo 11) menyatakan bahwa elemen Lithium berguna untuk membuat bahan penyerap karbon dioksida dalam pesawat luar angkasa. Dalam dunia kesehatan, Lithium menjadi unsur penting dalam obat untuk pengendalian emosi, depresi atau bipolar disorder.

Karena Lithium, dalam tabel periodik, berukuran kecil dan ringan, maka elektron di dalamnya dapat bergerak sangat cepat, hingga sangat tepat digunakan sebagai bahan baterai, dibandingkan dengan unsur logam lainnya. Maka menemukan Lithium menjadi obsesi baru bagi para investor.

Tahun 2009, geologist dari Calaway menemukan deposit Lithium dalam endapan air laut (brine) yang dikelola oleh perusahaan tambang Orocobre, di padang garam North Argentina. Kerjasama dengan Orocobre, Calaway membangun perusahaan Lithium terbesar di dunia. Tahun 2015, valuasi Orocobre sudah meningkat hingga dua kali lipat. Mendapatkan kontrak untuk memasok Lithium ke Jepang, bagi kebutuhan pabrik mobil Toyota dll.

Mulai muncul berita bahwa pabrik mobil listrik Tesla sedang mencari berbagai bahan baterai berupa Lithium, Nickel, Tembaga dan mineral logam lainnya di berbagai pelosok dunia. 

Bernard Rowe, investor dari Australia mengendus adanya cadangan Lithium di padang pasir Nevada, AS yang belum dieksploitasi. Penjajakan kerjasama Rowe dan Calaway pun dimulai untuk mengajukan proposal penambangan Lithium di Rhyolite Ridge, Nevada. Rhyolite Ridge hanya berjarak tidak lebih dari 100 mile dari pabrik mobil Tesla.

Meskipun proyek Lithium, Rhyolite Ridge ini untuk kepentingan dukungan terhadap energi hijau di bagian hilir industrinya, namun aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan ioneer, yang didirikan oleh Calaway, tetap menjadi subyek kritik dari para penggiat lingkungan. 

Tahun 2016, Trump memunculkan wacana untuk keluar dari kesepakatan Paris Agreement. Namun industri mobil dan pemasoknya tetap semangat untuk mensukseskan keberadaan mobil listrik. Walaupun Washington tidak menganggapnya itu penting. 

Dan akhir musim panas 2020, ditemukan matinya ribuan bunga Thiem, yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia, berjarak 225 mile di sebelah utara Rhyolite Ridge.


Tembaga dan Suku Apache di Oak Flat, Arizona

President Ulysses S. Grant pada tahun 1871 memberi status perlindungan terhadap area suku Apache di San Carlos, yaitu San Carlos Apache Reservation. Meliputi area seluas 1,8 juta acre. Wilayah Oak Flat, Arizona. Sebelah timur Phoenix.

Tahun 1859, perwakilan suku Indian, Diego Archuleta, menyatakan ke harian The New York Times bahwa suku Apache dianggap pemerintah sebagai penghalang dilaksanakannya pertambangan di area tersebut.

Di dekat area San Carlos Apache Reservation, adalah area yang disebut “Copper Corridor”. Tahun 1912, ketika Arizona menjadi negara bagian ke-42, area ini dinyatakan sebagai wilayah penting pertambangan Tembaga. Khususnya di wilayah Superior, yang wilayah pertambangannya disebut sebagai, Magma Mine

Magma Mine, Arizona

Tahun 1995, sumberdaya Tembaga diperkirakan sebesar 40 milyar pound (18,2 Milyar Kg) disekitar area Magma Mine dan di bawah Oak Flat. Salah satu deposit tembaga terbesar di dunia, dengan kadar 1,5% Cu. Dua kali lebih besar daripada cadangan tembaga di wilayah Arizona lainnya.

BHP mengakuisisi Magma Mine, Januari 1996, namun tak lama kemudian tutup. Habis cadangan.

Target ambisius Kesepakatan Paris untuk perubahan iklim tidak mungkin tercapai, bila Tembaga sebagai salah satu elemen peralatan energi hijau tidak tercukupi. Dan hanya pertambanganlah yang memungkinkan ketersediaannya.

Tembaga, adalah salah satu konduktor listrik terbaik. Mudah dibentuk, cukup plastis, tahan terhadap korosi dan mudah dicampur dengan logam lain. Perak mungkin bisa menjadi konduktor yang lebih bagus, namun mahal.

Rata-rata Boeing 747 menggunakan kabel tembaga sepanjang total 135 mile (217 km). Rumahtangga keluarga AS, membutuhkan rata-rata 400 pound kabel dan pipa. 

Tahun 2022, konsumsi Tembaga dunia sebesar 25 juta ton. Dan diperkirakan kebutuhan tembaga pada tahun 2050 mencapai 53 ton.

Untuk mencapai target “net zero” di tahun 2050 seperti diamanatkan dalam Paris Agreement, akan diperlukan lagi penambangan Tembaga. Dan Yergin, ahli sejarah energi pemenang Pulitzer, mengatakan, 

“Without some give, you’re not going to be able to achieve those climate goals”.

Perang Minyak terjadi di abad 20. Dan bila ketersediaan Tembaga tak  mencukupi kebutuhan dunia, maka perang pun mungkin terjadi untuk memperebutkannya. Sepert analisa konsultan S&P Global. Kecenderungan sudah menunjukkan gejalanya ketika AS akan meningkatkan impor Tembaga dari 44% total pasokan global 2022, menjadi 67% pada tahun 2035.

Tanpa kecukupan pasokan Tembaga, akan berpotensi terjadinya Perang Dunia, untuk memperebutkan komoditi ini.

AS terpaksa meningkatkan impor Tembaga yang semula 44% dari total pasokan di tahun 2022, menjadi 67% di tahun 2035. Kecuali memproduksi dari cadangan sendiri.


Tiffany & Co. dan IRMA

Produk Tiffany & Co.

“We wanted to do the right thing. But we were a retailer and a manufacturer, not a miner. What is a commonly accepted definition of responsible mining? There wasn’t a clear answer anywhere,” Kowalski said.

Diatas adalah kutipan pendapat Michael J. Kowalski, pewaris kejayaan Tiffany & Co., perusahaan retail perhiasan berkelas dunia, berbahan intan, emas dan perak, seperti jam tangan, kalung, gelang, cincin, dll. Hampir semua perhiasan yang dijual Tiffany adalah buatan sendiri. Oleh karenanya Tiffany harus bertanggungjawab terhadap Kualitas Produk, Keselamatan Kerja dan Keadilan Tenagakerja. Dengan semakin sensitifnya persoalan global dalam hal ESG (Environmental, Social and Governance), maka Tiffany perlu juga melakukan pengawasan terhadap sumber perolehan mineral logam yang dipergunakannya sebagai bahan mentah. Rantai Pasok sejak penambangan hingga mineral  diterima oleh Tiffany, menjadi subyek penilaian kelayakan jual produknya. Ini merupakan Risiko Reputasi perusahaan.

Pada tahun 2002, Tiffany melarang penjualan perhiasan yang terbuat dari koral karena isu lingkungan. Sikap yang kemudian banyak dianut oleh bisnis sejenis.

Februari 2004, organisasi penggiat lingkungan Oxfam America dan Earthworks berkampanye “No Dirty Gold” untuk mengkritisi Tiffany & Co. supaya tidak menerima pasokan mineral emas dan perak dari sumber yang diragukan kelayakan lingkungannya. 

Maret 2004, Tiffany & Co. menyebarluaskan isi surat yang ditujukan pada Dale Bosworth, pimpinan Kehutanan AS, untuk tidak mengijinkan Rock Creek Mine yang akan menambang Perak dan Tembaga di sebelah timur Montana. Dengan alasan, pertambangan tersebut akan mengalirkan jutaan gallon tailing/polutan ke sungai Clark Fork, yang berujung di danau Pend Oreille, Idaho. Hingga terbitnya buku ini, Rock Creek Mine masih belum mendapatkan ijin operasi.

Tiffany & Co. pun mengalami kesulitan sendiri setelah menolak pasokan mineral emas dari Rock Creek Mine (2004) dan Pebble project (2011). Sementara acuan atau standard penambangan yang dianggap mampu memenuhi kelayakan lingkungan dan diakui oleh pihak-pihak terkait, belum tersedia.

Tahun 2006, Tiffany dan Earthworks bekerjasama untuk membuat semacam Good Mining Practices Standard, yaitu Initiative for Responsible Mining Assurance atau IRMA. Yang menurut Scheyder sudah melibatkan perusahaan tambang; pelanggannya, perusahaan perhiasan, perusahaan mobil, organisasi lingkungan, organisasi non-pemerintah, komunitas lokal, masyarakat adat dan serikat pekerja. Aktivis Earthworks, Aimee Boulanger sebagai Ketua.

Mereka telah menyepakati beberapa kategori yang bisa dipergunakan sebagai acuan kelayakan, termasuk water quality, worker health and safety, Indigenous consent, emergency preparedness, dan air quality.

Namun kepesertaan yang tidak representatif mengakibatkan standar yang diharapkan menjadi tidak credible. Industri pertambangan tidak bisa menerima satu standar kualitas air yang dipergunakan untuk menilai semua kualitas air tanpa memperhatikan parameter geografi maupun geologi. Contoh, menurut Jon Samuel, anggota IRMA dan eksekutif perusahaan tambang Anglo American,

“Sometimes you get salts running off mine sites and into water streams. Now, if that’s going into a saltwater environment, it may not matter. If it’s going into a freshwater environment, it may matter a great deal. So that’s a simple example of how context actually does make quite a big difference,” 

Menurut Boulanger, 

“Our purpose is not to fail a mine. Our goal is to create financial value and incentive for you to do better.”

IRMA was designed to spread sunlight throughout the entire supply chain for EV minerals, not block a mine.

Namun IRMA bukanlah standar kelayakan penambangan yang menjadi acuan Pemerintah untuk memberi ijin operasi. Sehingga perusahaan pertambangan bisa menolak untuk diaudit oleh IRMA. Calaway, pemilik ioneer, yang akan menambang Lithium di AS, menolak IRMA dan memilih Mining Association of Canada sebagai auditor, yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan pertambangan. “We felt the Canadian standards were better for us,” kata Calaway. Dan Ford yang akan membeli produknya pun setuju.


Tembaga di Boundary Waters, Minnesota

BECKY ROM lahir dan lama tinggal di Ely, Minnesota. Berkarir sebagai jaksa di wilayah Minneapolis, dan telah berkampanye selama 50 tahun untuk menentang rencana keberadaan tambang bawah tanah Copper, Cobalt, dan Nickel milik perusahaan Chile di Minnesota.

“Northern Minnesota is no place for a copper mine”, begitulah kampanye Rom. 

“We don’t deny the reality of the green energy transition. But we would have to sacrifice everything we hold dear to have a mine here”, lanjutnya.

Tahun 1989, Presiden Reagan memperbarui ijin penggunaan lahan selama 10 tahun, kepada International Nickel Co., untuk melakukan penambangan Copper (Tembaga) di lahan yang berdekatan dengan Boundary Waters. Dilanjutkan dengan ijin perpanjangan selama 10 tahun oleh presiden Bush pada tahun 2004. 

Duluth Metals Ltd. pada tahun 2010 membentuk Twin Metals Ltd., bekerjasama dengan Antofagasta untuk mengakuisisi proyek pertambangan tembaga diatas di tahun 2014.

Kekhawatiran Rom adalah tailing (mine waste) yang akan menjadi polutan di area Boundary Water, seluas jutaan acre.


Besi dan Emas di Ely, Minnesota

Kota Ely tenar sejak abad 19. Sejak 1865 kota ini terkenal dengan pertambangan Besi, kemudian semakin ramai dengan penambang setelah isu ditemukannya emas. Namun tak banyak emas diperoleh.

Lima tambang besi telah dibuka disana, untuk mengangkut 80 juta ton bijih besi. Tambang Terbuka dan Tambang Bawah Tanah telah dioperasikan disana. Pioneer Mine adalah tambang terakhir yang kemudian ditutup pada 1 April 1967. Sebanyak 450 karyawan kemudian menganggur. Kota Ely yang di tahun 1930 berpopulasi 6200, kemudian menyusut menjadi 3200 di tahun 2022. 

Kelima tambang tersebut membentuk satu danau yang kini disebut sebagai Miners Lake. Dan sejarah pertambangan Ely kemudian diabadikan dalam museum Pioneer Mine.

Tahun 2016, Presiden Obama tidak lagi memperpanjang ijin sewa lahan untuk pertambangan di area Boundary Waters (Ely), Minnesota. Hanya satu bulan sebelum Trump terpilih. Bahkan Obama berencana untuk menutup area dari aktifitas pertambangan selama 20 tahun. 

“The Boundary Waters is a natural treasure, special to the 150,000 who canoe, fish, and recreate there each year, and is the economic life blood to local businesses that depend on a pristine natural resource”, menurut Tom Vilsack, menteri Pertanian di era pemerintahan Obama.

Trump membatalkan rencana Obama. Dan Menteri Dalam Negeri Trump mengatakan bahwa perbaikan kebijakan telah dilakukan untuk ​​“a flawed decision rushed out the door by Obama officials”.

Isu yang menarik dari mereka yang tidak menginginkan keberadaan tambang, adalah:

A senior member of the family that controlled Antofagasta bought a $5.5 million mansion in Washington, D.C., and rented it out to Trump’s daughter Ivanka and her husband, Jared Kushner.26 At the same time, his administration had begun reconsidering the leases. By June 2019, Trump’s administration had renewed the leases for Twin Metals.

Perbedaan pendapat di tahun 2022 tentang perlunya menambang mineral sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasokan baterai industri Mobil Listrik atau mengandalkan impor dari China atau negara lain, banyak terjadi di forum Dewan Perwakilan Rakyat pada masa Biden. Selain itu, isu peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal dan potensi pengangguran juga menjadi pertimbangan ekonomi-politik Biden.

Dan Biden cenderung memilih untuk mendukung pertambangan. 

“We need to end our long-term reliance on China and other countries for inputs that will power the future,” Biden said.


Deposit Besi di Eveleth, Minnesota

Eveleth, kota kecil di Minnesota sebelah utara, mendekati Canada, adalah wilayah deposit Besi. Ekonomi kota ini tercukupi dari pendapatan pertambangan tersebut, yang produknya digunakan sebagai pasokan industri Baja AS, seperti Cliffs-Cleveland dan lainnya.

Twin Metals adalah perusahaan pertambangan yang sedang beroperasi disana pada tahun 2022, dalam tahapan eksplorasi. Geologist Twin Metals yaitu Nicole Hoffman dan Kevin Boerst menjelaskan bahwa tidak benar bila dikatakan Twin Metals tidak peduli lingkungan terkait dengan lahan dan air di wilayah Minnesota. Karena merekalah yang memahami kondisi geologi bawah permukaan bumi.

“It’s not true,” she rejoined. “Antofagasta (Chilean owner of Twin Metals) depends on us to tell them what’s important here and what’s not.”

Dean DeBeltz, atasan Nicole Hoffman,

“If we can’t prove that this mine can be developed safely, then we shouldn’t build it,” menurutnya. “Regulators should follow the science”.

Eksplorasi mereka sudah mencapai 496 lubang bor di tahun 2022 dan 1,8 juta meter inti bor (core samples).

DeBeltz merekomendasikan buku bagus karya Jim Bowyer, The Irresponsible Pursuit of Paradise. Tentang ketidakadilan negara kaya yang berkeinginan untuk menambang mineral dari negara miskin untuk memenuhi kebutuhannya. Para penggiat Lingkungan semestinya mempertanyakan,

Why should the United States rely on other countries to procure the building blocks of carbon-reducing technologies?


Rare Earth di Mountain Pass, Las Vegas

Molycorp rare-earth mine and processing facilities – Mountain Pass, California, USA

Rare Earth adalah sekelompok elemen/unsur kimia dalam Tabel Periodik, terdiri dari 17 logam yang mahal, sulit serta berbahaya secara lingkungan untuk diproduksi, yaitu: lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, lutetium, scandium, dan yttrium.

Meskipun keberadaannya relatif banyak (jumlah Cerium diperkirakan sebanyak Copper di kerak bumi), namun keberadaannya acak atau spotted dan sering berada sebagai bagian dari mineral ikutan pada suatu batuan yang susah dipisahkan. Jarang ditemukan sebagai mineral yang berdiri sendiri sebagai suatu deposit. Oleh karenanya dinamai Rare Earth Element (Logam Tanah Jarang).

Elemen ini banyak dibutuhkan, dalam jumlah kecil, sebagai bagian dari peralatan elektronik seperti televisi, komputer, teknologi gadget dan teknologi persenjataan. Turbin Kincir Angin memerlukan sedikitnya dua ton magnet dari Rare Earth. Setiap pesawat tempur F-35 produksi Lockheed membutuhkan 417 kg rare earth, yang semuanya dari China.

Sebagian dari 17 Logam Tanah Jarang ditemukan dalam jumlah besar di Mountain Pass, sebelah selatan Las Vegas. Dekat perbatasan California. Tambang Molycorp memproduksi rare earth di Mountain Pass untuk keperluan militer dan produk elektronik. Tahun 1980, Molycorp memasok 70% kebutuhan rare earth dunia dari tambang Mountain Pass. 

China secara perlahan mulai mengembangkan industri tanah jarangnya sendiri pada paruh kedua abad ke-20, dan mendorong industri manufaktur, termasuk perusahaan internasional yang berada di China, untuk menggunakan rare earth produksi China. 

Bagi Beijing, peran Rare Earth meningkat menjadi senjata ekonomi.


Produksi Rare Earth di AS

Tahun 1880, ahli kimia Austria, Carl Auer von Welsbach, pertama kali menemukan campuran Thorium dan Rare Earth sebagai bahan filamen untuk lampu bertenaga gas. Perusahaan Amerika “Lindsay Light“, memperbaiki penemuan diatas, sebelum popular digunakannya bola lampu, dengan menggunakan Rare Earth dari deposit Monazite di India.

Rare Earth kemudian banyak diambil dari deposit Monazite dan Bastnaesite. Monazite banyak ditemukan di India, Madagascar, Australia dan AS sebelah tenggara. Rare Earth juga bisa diperoleh dari deposit Thorium, namun karena sifat radioaktifnya, maka menjadi mahal dan berbahaya untuk memproduksinya. Sementara sumberdaya terbesar Bastnaesite terdapat di AS dan China. Bastnaesite mengandung lebih sedikit radioaktif dibanding Thorium.

Tahun 1949, Herbert S. Woodward menemukan singkapan vein mengandung radioaktif dan berkonsentrasi tinggi Rare Earth, Bastnaesite, di Mojave Desert.  

Tanggal 19 November 1949, pemerintah AS mengumumkan bahwa Woodward menemukan deposit Rare Earth besar dan berada dekat dengan permukaan bumi, di wilayah yang kemudian disebut sebagai Birthday Claim. Lokasinya berada diantara Las Vegas dan Los Angeles. 

Tahun 1951, Molycorp mendapatkan hak penambangan di Birthday Claim, dan 1952 mulai beroperasi di Mountain Pass. Diperkirakan perusahaan akan membeli Rare Earths sebanyak 3 juta pon.

Molycorp atau Molybdenum Corporation of America awalnya adalah perusahaan tambang Molybdenum di Questa, New Mexico, pada tahun 1919. 

Tahun 1977, Unocal membeli Molycorp seharga $240 juta ($1.25 billion in 2023 dollars)


Produksi Rare Earth di China

Tahun 1951, Xu Guangxian, Phd kimia dari universitas Columbia meneliti Rare Earth untuk elemen Praseodymium dan Rubidium. 

Tahun 1985, the China Rare Earth Information Center melakukan penelitian tentang Rare Earths di Ames Lab., Iowa AS. Pusat produksi rare earth nya di Bayan Obo, Inner Mongolia. Disana deposit Besi ditemukan bersama kandungan deposit Rare Earth, Bastnaesite. 

Biaya produksi Rare Earth yang sangat ekonomis, karena sekaligus dengan menambang Besi. Produksi rare earth meningkat 40% setiap tahunnya, sejak 1978 hingga 1989. Perusahaan AS, Canada dan Jepang mengirim teknologinya ke China untuk membantu ekstraksi Rare Earth. 

Deng Xiaoping di tahun 1980an memacu bangsanya untuk terus mengeksploitasi lebih jauh kemajuan ekonominya melalui Rare Earth. Menurutnya, “The Middle East has oil. China has rare earths”. 

Seperti Halnya dengan Deng Xiaoping, tahun 1999, penggantinya, Jiang Zemin juga mengatakan,

“Improve the development and application of rare earths and change the resource advantage into economic superiority”.

Sementara China semakin serius melakukan penelitian tentang Rare Earths, AS justru mengurangi alokasi dana penelitiannya untuk hal yang sama. Bahkan di tahun 1990an, laboratorium Ames menghentikan pengajaran mata kuliah tentang Rare Earth bagi mahasiswa universitas Iowa.

Maret 2010, Mark Smith, CEO Molycorp komplain ke kongres AS bahwa 17 ilmuwannya harus berkompetisi dengan enam ribuan peneliti Rare Earth dari China. Saat itu, Molycorp sudah tidak lagi menambang Rare Earth di Mountain Pass, karena situasi pasar yang buruk. 

Mark Smith pun berujar di depan Komite Sains dan Teknologi, DPR AS,

“I can’t find any students from any university in the United States that have any rare earths experience”. 

Di kesempatan yang sama, Karl Gschneidner, professor lab. Fames menyatakan kekhawatirannya tentang semakin berkurangnya jumlah ahli Rare Earth di AS, hingga menyebutnya sebagai gejala terjadinya “intellectual vacuum”.

Di tahun yang sama, National Defense Stockpile AS menjual semua bijih Rare Earth. Dan pemerintah AS menyatakan bahwa Rare Earth bukan lagi cadangan logam strategis.


Isu Lingkungan Tambang Rare Earth di Bayan Obo, Cina dan Mountain Pass, AS

BBC melaporkan hasil kunjungannya di Bayan Obo, China tahun 2015,

“Hidden in an unknown corner of Inner Mongolia is a toxic, nightmarish lake created by the world’s thirst for smartphones, consumer gadgets, and green tech”.

Tahun 2010, lebih dari 9,1 juta ton limbah cair pertambangan dialirkan ke wilayah Bayan Obo, setiap tahunnya. Hingga masyarakat setempat tidak berani mengkonsumsi ikan yang bersumber dari sungai di sekitar sungai Yellow River. Sungai utama di China.

Di luar wilayah Bayan Obo, banyak penambang Rare Earth tanpa ijin (liar), di sekitar pemukiman. Melakukan transaksi penjualan hasil tambang di pasar gelap. 

Di AS, sejak dibentuknya Environmental Protection Agency (EPA) di tahun 1970, tekanan ke pemerintah untuk melindungi lingkungan semakin kuat. Isu lingkungan seperti kolam endapan tailing di Bayan Obo, China, tidak akan pernah diijinkan di Mountain Pass.

Tahun 1996, pemerintah AS menemukan keretakan pipa tailing yang menyebabkan kebocoran air limbah ber radioaktif sebanyak 380.000 gallon, yang mengalir masuk ke dalam Mojave Desert. Tempat banyak kura-kura bersemayam. Tahun 1997, tambang ditutup sementara dan Molycorp dihukum denda sebesar $410.000.

Sejak tahun 1984, akibat kebocoran pipa, Molycorp telah mencemari lingkungan dengan air limbah ber radioaktif sebanyak hampir jutaan galon. Merusak reputasi perusahaan dalam upaya memproduksi Rare Earth untuk Energi Hijau.

Tahun 1990, Pusat Keragaman Hayati AS (​​Center for Biological Diversity) sudah memperingatkan tentang potensi risiko penggunaan pipa air limbah Molycorp.

Setelah Molycorp berjanji menutup pipa limbah dan melakukan langkah-langkah remediasi, isu lingkungan pun mereda. Tahun 1999, Molycorp berjanji untuk mengurangi penggunaan air sebanyak 62% dan mengurangi air limbah sebanyak 50%. Juga berjanji untuk tidak lagi menggunakan pipa untuk mengalirkan limbah dan memastikan kebersihan air di lokasi.

Fluktuasi harga pasar Rare Earth membuat tambang Mountain Pass tidak lagi ekonomis. Dan tahun 2002 aktivitas tambang berhenti.

Karena berhentinya pertambangan Mountain Pass, tahun 2005-2009 tidak ada produksi Rare Earth oleh AS. Dan China membatasi ekspor Rare Earthnya, supaya negara lain membeli produknya dari China dengan harga tinggi. 

Tahun 2005, Unocal, pemilik Mountain Pass, dibeli oleh Chevron $ 18 milyar. Chevron menjual Mountain Pass ke konsorsium, yang salah satu anggotanya adalah Goldman Sach, seharga $80 juta.

Juli 2010, harga Molycorp di bursa saham menjadi $394 Juta dengan branding image sebagai pesaing utama tambang Rare Earth China.


Perjalanan Molycorp

Deposit Rare Earth juga terdapat di Australia Barat, ada di tambang Mount Weld. Tahun 2010 telah mampu melakukan ekspor produknya ke Jepang.

September 2010, China menghentikan akses Jepang untuk mendapatkan Rare Earth dari Cina. Harga melonjak, dan Molycorp pun turut menikmati keuntungannya. Harga saham Molycorp melonjak dua kali lipat, sejak IPO.

Di tengah melonjaknya harga Rare Earth, Sumitomo, Jepang melakukan investasi di Molycorp sebesar $130 juta. Dan Hitachi Metal sebagai rekanan Molycorp menjamin pasokan Rare Earth nya. Ekspansi Molycorp melalui proyek Phoenix, dilakukan dengan investasi sebesar $1,55 Milyar. Tahun 2012 Molycorp bermaksud memproduksi 20% kebutuhan Rare Earth dunia. Namun gagal mencapai target produksi dari tambang besar di Mountain Pass.

Tahun 2012, EPA menemukan adanya kebocoran di lingkungan fasilitas tambang Mountain Pass. Polutan Timbal dan Besi berada di dalamnya. Dikhawatirkan bisa masuk dan menyebar bersama limpahan air hujan. Perusahaan dikenai denda oleh pemerintah sebesar $27.300. Kecil.

Tahun 2013 rugi $197,2 juta, Tahun 2014, Molycorp memperbaiki banyak peralatannya dan berharap cash flow positif di akhir 2015. Namun akibat China menghentikan pemblokiran ekspor, Rare Earth membanjiri pasar global, dan menyebabkan jatuhnya harga yang berdampak buruk pada neraca keuangan Molycorp.

Juni 2015, Molycorp mengajukan perlindungan kebangkrutan. Aset perusahaan $2.49 Milyar, dengan utang sebesar $1,79 Milyar ke lebih dari seribu kreditor. Termasuk utang terhadap Wells Fargo, sebesar $750 Juta.

Melalui lelang, akhirnya tambang Rare Earth besar, Mountain Pass, California, yang dioperasikan oleh MP Mine Operations LLC., akhirnya dimiliki oleh konsorsium, yang dipimpin oleh Chicago Hedge Fund “JHL”, investment fund “QVT Financial” dan perusahaan tambang China, “Shenghe Resources Holding Co. Ltd”.

Dari konsorsium tersebut, hanya Shenghe yang punya keahlian menambang. Dan Shenghe termasuk dalam salah satu perusahaan Rare Earth terbesar dunia.

Tahun 2020, MP Materials, nama baru dari MP Mine Operations, mulai menambang dan memurnikan bijih Rare Earth. Kedalaman bottom pit mencapai 500 feet dari permukaan tanah. Konsentrat Rare Earth oksida yang dihasilkan, dijual ke Shenghe, China. 

Menurut Jim Litinsky, pimpinan konsorsium MP, ada kesalahan eksekusi pada manajemen lama (sejak dimiliki oleh Molybdenum Corp., Unocal dan Chevron, sebelum diambil alih oleh Konsorsium) sehingga peralatan terpasang di Project Phoenix tidak berfungsi seperti seharusnya. Bukan karena isu pencemaran lingkungan.

Scheyder meragukan kebenaran alasan Litinsky diatas. Karena Rare Earth sedikit-banyak mengandung radioaktif, juga fluoride yang bersifat toxic bila dalam jumlah besar. 

Sebelumnya MP telah menjual sampah Fluoride ke China sebagai kesalahan aspek Lingkungan masa lalu. Namun, MP tetap berpendapat bahwa memproduksi Rare Earth sendiri, jauh lebih baik daripada impor. Dan AS akan memimpin industri Rare Earth di masa depan.

Tahun 2017, MP menandatangani perjanjian untuk memasok konsentrat Rare Earth ke Shenghe. Dan perjanjian ini telah diperbarui pada tahun 2022, untuk mengekspor 40.000 ton Rare Earth dari California ke China, setiap tahunnya. Selain itu, keuntungan MP tetap akan diambil Shenghe, hingga nilai investasi awal sebesar $50 Juta kembali ke Shenghe. Di tahun 2020, Washington memastikan tetap memberi bantuan finansial kepada MP, untuk keperluan penelitian pengembangan Rare Earth lebih lanjut.


Rusia dan China

Akhir 2020, pemerintah Rusia mengumumkan akan investasi sebesar $1,5 milyar untuk keperluan sebelas proyek Rare Earth. Untuk mengurangi ketergantungan impor logam strategis hingga 2025. Dan Moscow berambisi untuk menjadi pemasok Rare Earth terbesar ke-2 dunia, dengan mengeksploitasi cadangannya sebanyak 12 juta ton untuk memenuhi 10% kebutuhan pasar global.

Persaingan perdagangan Rare Earth semakin panas dengan pernyataan China bahwa akan menutup ekspor Rare Earthnya ke AS, supaya Lockheed dan kontraktor pertahanan AS berhenti memproduksi senjata atau pesawat tempur untuk Pentagon.

Tahun 2022, Litinsky justru diterima di Gedung Putih. Bahkan mendapat dukungan dan bantuan finansial untuk pengembangan MP. Demi energi hijau di masa depan. Walaupun, oleh beberapa pihak, khususnya para penggiat Lingkungan, dianggap telah merugikan AS dalam kesepakatannya dengan China melalui MP.

China telah menguasai kendali rantai pasok Energi Hijau global. Litinsky menyebutnya sebagai “a single point of failure”. AS harus mengambil alih lagi kendali. Untuk itu, Washington mesti mendukung pertambangan dan langkah-langkah produksi lain yang diperlukan untuk mengubah batuan menjadi berbagai produk gadget.


Tambang Thacker Pass (Lithium) vs Penggiat Lingkungan

1975, Chevron mulai melakukan eksplorasi di lembah Nevada Utara, antara pegunungan tua the Double H Mountains dan Pegunungan Montana, untuk mendapatkan Uranium dalam batuan sedimen lempung. 

Menurut USGS (US Geological Survey), karena adanya batuan pegunungan vulkanik tua, diharapkan lokasi tersebut juga mengandung konsentrasi tinggi yang tak lazim dari Lithium di dalamnya. Sehingga Chevron melanjutkan eksplorasinya pada 1980-1987, dengan target menemukan cadangan Lithium di dalam lapisan lempung. SUKSES.

Ditemukan cadangan besar Lithium di area tersebut. Karena harga Lithium saat itu kurang menarik, Chevron menjualnya pada tahun 1991.

Tahun 2007, Western Lithium USA Corp., mulai drilling dengan target deposit Lithium, di dekat perbatasan Nevada-Oregon. Cadangan terbesar Lithium di AS, ditemukan. Cukup untuk memasok Lithium selama 50 tahun.

Juni 2015, Western Lithium USA Corp. perlu membeli Lithium Americas Corp. seharga $65 Juta, yang telah membangun Proyek Lithium di Argentina. Dan tahun 2016, Western Lithium USA Corp. mulai menggunakan Lithium Americas untuk branding image nya. Proyek Argentina ini penting karena menyangkut pengalaman menambang deposit brine Lithium (dari air laut). 

Maret 2018, Lithium Americas mulai berupaya untuk mendapatkan ijin penambangan di Thacker Pass. Proses yang perlu melewati kelayakan 40 studi Lingkungan, termasuk aspek kebisingan, kelayakan air, udara dan berbagai hal yang berpotensi akan berubah karena aktivitas tambang.

Januari 2020, ketika ekonomi Argentina sedang bermasalah dan utang Lithium Americas semakin menumpuk, perusahaan menjual kepemilikan mayoritasnya di proyek Argentina ke China’s Ganfeng Lithium Co. Fokus untuk proyek Nevada.

Saham Lithium Americas meroket dan berencana mulai konstruksi di Thacker Pass pada tahun 2021. Akan berhenti operasi 41 tahun kemudian, dilanjutkan dengan fase Reklamasi.

Ken Loda, geologist dari Bureau of Land Management (BLM) Winnemucca, Nevada, kantor pemerintah yang memberi izin kelayakan proposal penambangan, memberi pernyataan, “We have concluded that an amendment… is unnecessary”. Berbagai temuan di tahun 2019 yang menyatakan ketidaklayakan proposal proyek penambangan Thacker Pass dianggap TIDAK ADA.

Lima hari sebelum meninggalkan kantornya (selesai masa pemerintahan Trump, 20 Januari 2020), Presiden Trump menyetujui Rencana Lithium Americas untuk menambang Thacker Pass. Sebanyak 66 juta ton Lithium akan diproduksi per tahun.

Kritik para penggiat Lingkungan dan masyarakat setempat adalah:

  • Proyek ini akan mengimpor 308.666 ton sulfur setiap tahun, untuk keperluan leaching logam Lithium
  • Hampir 300 juta ton tailing akan ditempatkan di sekitar gunung pada ketinggian 350 kaki
  • Akan dibutuhkan air sebanyak 5.200 acre-feet (6.400.000 m3) per tahun, dengan ijin dari pemerintah hanya sebanyak 15,5 acre-feet (919.000 m3) saat awal proyek
  • Ada keanekaragaman geologic dan hayati, habitat alam liar dan potensi wisata yang akan terganggu dengan keberadaan proyek pertambangan

Glenn Miller, professor emeritus and environmental chemist dari University of Nevada, Reno, tidak setuju dengan pendapat para aktivis diatas dengan menyatakan, 

“Everyone is deeply concerned about climate change. It’s a question about values, and I go with the need for lithium”

Pernyataan tersebut dipertegas dengan artikelnya di Reno Gazette Journal, Thacker Pass lithium mine important for Nevada, US and the world

Scheyder menulis (tanpa menyebutkan sumbernya) tentang geologi Thacker Pass sbb.:

Thacker Pass is part of the vast McDermitt volcanic formation, an extinct supervolcano with four large calderas of rhyolitic rock infused with lithium. Water would mix with the rock and leach out lithium before pooling inside the calderas’ basin over hundreds of thousands of years to form a lake that also eventually filled with clays and other sedimentary rocks. Today, there’s a 160-meter-thick layer of lithium-rich clay throughout much of the Thacker Pass formation. 

Perbedaan filosofis diantara para penggiat lingkungan terhadap fenomena transgender, menyebabkan perpecahan dalam memperjuangkan sikap untuk menentang pertambangan. Ternyata dalam filosofi masyarakat adat Amerika, Indian, dikenal adanya gender ketiga, selain lelaki dan perempuan, yaitu “two spirit”. Sementara Wilbert dan Deep Green Resistance sangat keras menentang adanya transgender dan menganggap dirinya beraliran “radical feminist” atau hanya bisa memahami keberadaan gender lelaki dan perempuan.

Pemikiran Wilbert dan Deep Green Resistance cukup menarik,

“people who “want to violate the basic boundaries of women” were akin to those who have “violated the boundaries of forests and rivers and prairies.”

The modern climate movement is a “toxic mimic of environmentalism” the way sexual assault is a “toxic mimic of real, authentic sexuality and connection with another human being.”

Wilbert membandingkan proyek Thacker Pass seperti halnya era neokolonial, karena proyek pertambangan dimiliki oleh perusahaan Kanada untuk mengambil mineral di wilayah miskin AS.

Climate change advocates are “sociopaths” who take advantage of others without sacrificing themselves.

Contoh dari pernyataan diatas menurut Wilbert adalah seperti halnya sikap bangsa Jerman saat WWII yang tidak mempertanyakan, apalagi mengkritik, perilaku pemerintahan Hitler. Demikian juga dengan sikap para penggiat Lingkungan saat ini yang tidak mempertanyakan tentang Bagaimana atau Darimana kebutuhan mineral logam untuk keperluan Teknologi Hijau bisa dipenuhi.

Lithium Americas berhasil mengalahkan para penggiat Lingkungan untuk lanjut konstruksi penambangan dan pembangunan pabrik pemurnian Lithium. 

Tahun 2023. General Motors akan membantu Lithium Americas untuk mengembangkan tambang Thacker Pass dan berperan sebagai Off Taker produknya, untuk kepentingan industri mobil listrik. GM juga akan membeli saham Lithium Americas sebanyak $650 Juta, untuk menggantikan kepemilikan Ganfeng, China sebagai pemegang saham terbesar perusahaan tersebut.


Antimony (Sb) di Idaho

Antimony

Antimony adalah unsur kimia yang sedikit keberadaannya di alam ini. Juga terdapat dalam beberapa mineral logam. Dibutuhkan untuk keperluan mesin mobil berbahan bakar minyak (fossil fuel) atau internal combustion engine (ICE). Bahkan presiden Franklin Roosevelt membuat keputusan resmi di tahun 1939, bahwa Antimony menjadi bagian mineral strategis yang perlu dijamin pasokannya untuk menambah kekerasan berbagai alat persenjataan. Selain itu, Antimony bisa digunakan sebagai campuran bahan tahan api. 

Kota kecil Yellow Pin dan Stibnite, Idaho menjadi penting ketika membahas tentang Antimony, juga Emas, di AS. 

China dikenal sebagai penghasil Antimony sejak awal abad 20. Pertambangan Antimony di Xikuangshan, propinsi Hunan, China mempunyai cadangan sebesar 2 juta ton. Penghasil Antimony lainnya adalah AS (Nevada) dan Bolivia.

Kebutuhan terhadap Antimony semakin besar ketika baterai Lead (Pb/Timbal)-acid juga membutuhkannya. Timbal bersama Antimony akan lebih meningkatkan daya tahan terhadap keberadaan asam di dalam baterai.  

Tahun 1943, tambang bawah tanah Bradley Mining Co., mulai memproduksi Antimony dan Tungsten. Tungsten juga dibutuhkan untuk peralatan perang.  

Akhir WWII, tahun 1945, Bradley Mining Co. telah menambang habis Tungsten, juga 10.000 ton Antimony atau 90% keperluan perang. 

Thanu 1952, Tambang Terbuka (open pit) di Stibnite tersebut mulai berhenti operasi. Kegiatan stockpiling dan proses penutupan masih berlangsung, dan berhenti total tahun 1958. 

Cerita tentang Lingkungan pun mulai muncul. 

Lebih dari 10 juta ton limbah tidak ditempatkan dengan benar dan telah melarutkan bahan kimia ke dalam saluran air. Sebagian dari batuan sisa tersebut sebenarnya berada di sungai, dibuang di sana beberapa dekade sebelum U.S. Environmental Protection Agency terbentuk, dan perlahan-lahan melepaskan arsenik dan racun lainnya ke alam liar Idaho. Peralatan pertambangan lama, termasuk pabrik peleburan, terkubur di bawah tanah. Banyak kebakaran hutan telah menyebabkan erosi besar-besaran yang telah menarik sedimen dari dataran tinggi, menghalangi saluran air yang telah lama digunakan oleh ikan salmon untuk bertelur.

Antimony termasuk bahan kimia yang berbahaya. Standar WHO menyatakan bahwa konsentrasi Antimony sebesar 20 ppb (part per billion), masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.

Studi tahun 2011 menemukan bahwa konsentrasi Antimony dalam air minum di area pertambangan Xikuangshan, China sebesar 8,1-152 ppb. 

Pencemaran lingkungan di Stibnite perlu penanganan khusus, mengingat potensi risiko kesehatan yang besar akibat rembesan Antimony. Midas Gold, yang kemudian berubah nama menjadi di tahun 2021, tertarik untuk masuk dan membersihkannya. Namun dengan mendapatkan hak untuk menambang dan menjual Antimony dan Gold yang masih banyak keberadaannya disana.

Perpetua Resource pun mengkampanyekan misinya, “the critical resources our country needs for a more secure and sustainable future”.

Dan Scheyder pun menanggapinya dengan sinis, “Berlindung pada misi Biden untuk transformasi menuju Energi Hijau, Perpetua mengkampanyekan misi konservasi dan keberlanjutan sumberdaya alam melalui penambangan Antimony sebagai bahan baterai, yang sebetulnya untuk menutupi misi utama penambangan Emas”.

The company likely would never receive permission to mine just gold in that quiet corner of Idaho; it was the antimony that made all the difference.

Biaya untuk memperbaiki lingkungan, diperkirakan sebesar $100 juta. Dan biaya total untuk proyek penambangan Gold dan Antimony ini sekitar $1,3 Milyar. Dengan cadangan Emas yang bisa ditambang sebesar 6 Juta Oz, atau senilai $11,4 Milyar dan 189 Juta pond Antimony senilai $990 Juta (dengan nilai $ tahun 2023). 

Masyarakat Adat juga menjadi isu dalam penambangan ini. Suku Indian, Nez Perce, merasa sudah banyak mengalah untuk tanah mereka yang semakin menyusut sejak Peraturan Pemerintah Washington diberlakukan di tahun 1855 dan 1863. Sejarah kelam mempengaruhi Nez Perce untuk tidak percaya terhadap janji Perpetua untuk melakukan pembersihan pertambangan dari polutan sisa operasi tambang masa lalu. Dan Nez Perce pun mengaku bahwa mereka telah banyak investasi dalam pengamanan lingkungan hidup untuk ikan Salmon.

“Salmon saved us. When he saved us, he also said that he would give himself to us, and when he gave himself to us, he would lose his voice. And so then we would have to be his voice,” said a Nez Perce tribal leader.

Komentar Mckinsey Lyon, staff Perpetua Resources Corp., “… If you want to change the climate, industry has to be part of the solution”.

Maret 2020, John Paulson, investor finansial, telah mendanai Midas (Perpetua) untuk proyek Antimony (dengan kandungan Emas di dalamnya yang sangat menguntungkan) di Idaho ini, sebesar total $60 Juta, sejak 2016. 

Tahun 2022, Pentagon mendukung Perpetua untuk segera memproduksi Antimony di Idaho dan membantu finansial sebesar $25 Juta untuk keperluan penyelesaian proses perijinan. Logam Antimony sangat dibutuhkan untuk keperluan peralatan pertahanan yang akan digunakan di Ukraina. 


Alaska, Pebble Mining Project (Tembaga)

Alaska adalah Negara Bagian terbesar AS, yang sangat kaya dengan sumberdaya alam. Cadangan minyak, gas alam, Tembaga, Emas dan mineral lainnya. 

Proyek Pebble Mining di sekitar wilayah Anchorage, kaya dengan cadangan Tembaga dan Molybdenum, yang sangat dibutuhkan untuk transformasi ke Energi Hijau. Juga menjadi area penangkapan ikan, Bristol Bay.

Berbeda dengan Perpetua, Pebble Mining berada di daerah pedalaman yang dikhawatirkan akan tercemar oleh rembesan larutan kimia akibat keberadaan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral.

Deposit Pebble Mining ini ditemukan 1987, yang kemudian dilanjutkan eksplorasi detail oleh perusahaan Canada, Northern Dynasty Minerals Ltd. di tahun 2001. Dan tahun 2007 masuk investasi besar dari Rio Tinto dan Anglo American. Saat itu harga Tembaga sedang sangat bagus di pasar dunia.

Isu sosial masyarakat setempat adalah masalah Perikanan di Bristol Bay. Tahun 2019, Perikanan menyumbang Pendapatan Daerah sebesar $310 Juta melalui penjualan Ikan Salmon. Dikhawatirkan penambangan dan pengolahan Tembaga akan menyebabkan pencemaran lingkungan yang menyebabkan terancamnya perikanan salmon. 

Selain itu, masyarakat khawatir akan adanya gempa yang sering terjadi, dapat mengakibatkan kerusakan atau kebocoran bendungan, tempat menyimpan tailing, hingga mencemari Bristol Bay.

Sarah Palin, Gubernur Alaska, dari partai Republik, mendukung Pertambangan secara diam-diam. Namun tidak semua anggota partai Republik setuju terhadap pertambangan tersebut. Senator Ted Stevens, Republikan, tidak setuju terhadap rencana pertambangan, yang akan menggali batuan untuk desain Open Pit selebar 3,2 km dan kedalaman 0,5 km. Pipa gas alam dan pembangkit listrik juga akan dibangun. 

Belum lagi, adanya temuan Environmental Protection Agency (EPA) di tahun 2012, yang menyatakan bahwa rencana proyek Pebble Mine akan merusak sungai sedikitnya sepanjang 88,5 km dan area seluas 10 km persegi.

Juli 2020, pemerintahan Trump menyatakan menyetujui pertambangan, mengingat pentingnya kebutuhan produksi Tembaga. Meskipun menyadari potensi bahaya lingkungan yang mungkin terjadi, diharapkan perusahaan dapat memitigasinya hingga sekecil mungkin potensi risiko yang terjadi.

Desakan penggiat lingkungan, bahkan juga beberapa kaum republikan di Senat, juga media televisi Republikan, FoxNews, menentang rencana pertambangan Pebble Mine. Bahkan banyak pihak penentang pertambangan mulai membeli lahan disekitar wilayah tambang dengan maksud menghalangi kegiatan penambangan. Dan, Trump juga kandidat presiden 2020 lainnya pun menentangnya. 

Akhirnya, deposit Tembaga untuk kepentingan transisi energi hijau itupun DIHENTIKAN kegiatannya.


Lithium dan Bunga Tiehm

Patrick Donnelly, bersama Center for Biological Diversity pada tanggal 12 September, 2020, menemukan matinya banyak tanaman Bunga Thiem (Tiehm’s buckwheat) di Rhyolite Ridge, akibat aktivitas penambangan. Diperkirakan sebanyak 18.646 bunga. Calaway dari proyek pertambangan ioneer, membantahnya. Memang ditemukan banyak kerusakan, tapi bukan karena pertambangan.

Dicurigai bahwa aktifitas penambangan Lithium dan Boron oleh perusahaan Australia di Rhyolite Ridge, pedalaman Silver Peak Range, dekat perbatasan Nevada-California, menjadi penyebab matinya banyak bunga Tiehm di wilayah tersebut. Dan aparat pemerintah pun memberikan kesaksian bahwa matinya banyak bunga Thiem bukan karena kegiatan manusia.

Peneliti dari universitas Nevada, Reno, menduga bahwa kekeringan di negara bagian tersebut lah penyebab kematian ladang bunga tersebut. Selain itu, hama hewan pengerat juga menjadi penyebab matinya tanaman Bunga Thiem tersebut.

“It’s one hundred percent clear that this wasn’t done by anybody running out there with shovels because, first of all, why would anybody do that?” Calaway said.

Sepertinya, bunga Thiem ini memang “menyukai” tanah berkandungan Lithium.

Dan, pemilik perusahaan tambang ioneer, Calaway, pun berjanji, “We are prepared to do whatever is necessary to make this mine coexist with Tiehm’s buckwheat”.

“We’re not going to touch the buckwheat,” lanjutnya.

Tahun 2019, Center for Biological Diversity melapor ke Pengadilan bahwa pemerintahan Trump telah mengabaikan perlindungan terhadap tumbuhan langka, Bunga Thiem, yang banyak mati, diduga akibat aktivitas eksplorasi drilling perusahaan tambang ioneer dari Australia, milik Calaway, untuk menemukan deposit Lithium sebagai bahan baterai dalam upaya transisi menuju Energi Hijau.

“It’s wrong for the BLM to allow mining companies to destroy its habitat while other agencies are deciding whether to list the flower as endangered. We won’t let it be erased from the planet for a quick buck”.

Namun Joe Biden, presiden terpilih 2020, mendukung pertambangan untuk keperluan EV Battery

April 2020, ioneer perusahaan pertambangan yang dipimpin oleh Calaway, mengeluarkan Feasibility Study bahwa proyek Lithium di Rhyolite Ridge akan sangat menguntungkan. Biaya ioneer untuk produksi Lithium $2,510 per ton, di bawah biaya produksi rata-rata industri Lithium saat itu $7,000 per ton. Akhir tahun 2022, harga Lithium per ton melonjak hingga $62,500 per ton.

Cadangan Lithium di Rhyolite Ridge cukup untuk memenuhi kebutuhan industri 400,000 mobil listrik per tahun, selama sedikitnya 30 tahun.

Biden berharap untuk mengganti kendaraan pemerintah sebanyak 640.000 mobil dengan mobil listrik. Ini berarti akan membutuhkan  produksi lithium AS 12 kali lipat lebih banyak di tahun 2030.

Industri mobil Ford berencana untuk produksi 2 juta mobil listrik setiap tahun mulai 2026. Calaway berharap Ford akan mengkonsumsi Lithium dari ioneer. Dan sebagian produk Lithium lainnya akan dikonsumsi perusahaan Korea.

Ioneer telah menginvestasikan jutaan dollar untuk keperluan merekrut para ahli botani, pengadaan green house dan studi komposisi tanah, dalam upaya mengamankan bunga buckwheat

Sejumlah 24,174 bunga Buckwheat berusaha diamankan oleh ioneer dengan cara membuat pagar mengelilinginya sehingga terlindung dari debu dan kebisingan proses penambangan.

“We are prepared to do whatever is necessary to make this mine coexist with Tiehm’s buckwheat,” Calaway said.

“The biodiversity crisis presents a longer-term threat to the viability of the human species,” said the climate scientist Katharine Hayhoe.

Akhir Summer 2022, Brian Menell, head of the mining investment firm Techmet, menyatakan, 

“… We are going to develop this mine, even if we destroy the habitat of a wildflower, which everybody would regret. It’s better than destroying the world with climate change”.

Proyek Rhyolite Ridge membutuhkan lahan seluas 29 km2, untuk keperluan penambangan dan pengolahan Lithium dan Boron. Elemen Boron berguna untuk bahan pembuat deterjen.


Spodumene (LiAlSi2O6) di Piedmont, Texas

Industri mobil listrik Tesla, yang selama ini bergantung pada China untuk pasokan Lithium, berencana membeli konsentrat mineral Spodumene (LiAlSi2O6) dari tambang Piedmont, Texas. Lithium disini adalah produk pemurnian mineral Spodumene, hasil tambang Piedmont. Kontrak disetujui para pihak bahwa Tambang Piedmont akan memasok Lithium untuk Tesla, diperkirakan mulai antara Juli 2022 – Juli 2023.

Penolakan masyarakat terjadi ketika Piedmont mulai mengajukan perijinan penambangan dan pengolahan Spodumene. Dan protes masyarakat mulai mengemuka melalui aksi demo di Gaston County Courthouse, 20 Juli 2021, menolak keberadaan tambang Piedmont Lithium. 

Ancaman pun mulai terjadi. Keluhan masyarakat, “He told us if we refused to sell, they would mine around us”.

Bila Piedmont berencana produksi 30.000 ton Lithium per tahun, sejatinya itu hanya 1% dari target pemerintah AS yang total sebesar 3 juta ton. Dianggap tak layak mengorbankan lingkungan hidup masyarakat Gaston County. 

“There’s so many other ways to save the environment without EVs,” menurut pendapat masyarakat setempat. Betul juga. Mengapa alternatif harus EV ya?


Lithium di pertambangan Albemarle dan Piedmont

Perusahaan pertambangan Albemarle, mendapat izin membuka tambang Lithium di Cleveland County, North Carolina. Bahkan mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah dan White House. Pertengahan 2022, tambang Albemarle berjanji untuk membangun fasilitas yang mampu mengolah 100.000 ton Lithium per tahun. Ini adalah jumlah yang sangat besar, bahkan melebihi jumlah total pabrik pengolahan di China, Chile dan Australia. Ini akan menjadi pabrik pengolahan Lithium terbesar di AS. Di tahun 2030, Albemarle akan memproduksi 600.000 ton Lithium, dari jumlah produksi total Lithium dunia sebesar 3,7 Juta ton (16%). 

Setelah PD2, North Carolina memang dikenal sebagai penghasil Lithium terbesar dunia. Pabrik video camera Sony, menggunakan produk Lithium dari wilayah ini.

Tahun 2017, WCP Resource Limited, perusahaan tambang emas Australia, mencoba investasi eksplorasi Nickel di North Carolina. Sebelah barat Charlotte. Mengganti nama perusahaan menjadi Piedmont Lithium. Nickel hasil pengolahan dan pemurnian mineral Spodumene (LiAlSi2O6) akan banyak diperoleh dari tambang Piedmont ini. Lithium hydroxide yang dibutuhkan oleh pabrik mobil listrik Tesla dan BMW akan mudah dipasok dari tambang ini. 

Piedmont Lithium telah membeli lahan seluas 1.800 acre. Dan secara bertahap akan diperluas mencapai 3.000 acre (12 km2). Dan telah menginvestasikan $58 Juta untuk proyek ini.

Masalah muncul ketika Piedmont Lithium ternyata belum mensosialisasikan rencana perusahaan ke Dewan Kota atau masyarakat setempat. Terlalu percaya diri bahwa pertengahan 2021, perijinan untuk menambang akan diperoleh.

Neither Phillips (Piedmont’s CEO) nor any other Piedmont official had made any presentation of the company’s plans to the county board, fueling an information vacuum that frustrated many.

Melalui Dewan Kota Gaston County, masyarakat menolak keberadaan pertambangan. Dan Tesla membatalkan kontrak dengan Piedmont Lithium.

Piedmont Lithium mulai lagi proses pengajuan perijinan dari awal, namun hingga 2023 tetap belum juga memperolehnya.

Sebaliknya, kompetitor Piedmont Lithium, yaitu Abermale, justru telah mendapatkan ijin dari White House dan pemerintah lokal, untuk melakukan penambangan Lithium. Direncanakan pada pertengahan 2022 akan membangun fasilitas pengolahan Lithium sebesar 100.000 ton per tahun.


Copper (Tembaga) di tambang Morenci, Michigan

Copper (Tembaga) masih menjadi kebutuhan vital, khususnya terkait dengan kelistrikan. 

Phelps Dodge adalah perusahaan tambang Tembaga besar di AS, yang didirikan oleh William Earl Dodge dan Anson Green Phelps (Mertua William E. Dodge). Tahun 1834, Phelp Dodge adalah perusahaan dagang. Kemudian berangsur-angsur bergeser menjadi perusahaan pertambangan Tembaga. Bahkan menjadi perusahaan tambang Tembaga terbesar dunia.

Isu Lingkungan dari Tambang Morenci, Michigan adalah air. Kebutuhan air dari proyek Morenci ini diperoleh dari cadangan air dari wilayah suku San Carlos Apache. 

Tahun 1992, suku Apache San Carlos diberi hak kelola air yang mengalir ke wilayah mereka seluas 1,8 juta acre, oleh Kongres AS, yang disetujui oleh Presiden H. W. Bush, “Reclamation Projects Authorization and Adjustment Act”. Keputusan ini berarti memberi hak pengelolaan bantuan dana sebesar $41 Juta, termasuk hak untuk menjual cadangan air tanah dan air permukaan yang mengalir di wilayahnya. 

Dengan Hak Jual Air tersebut, Apache San Carlos membuat kesepakatan dengan tambang Phelps Dodge untuk memasok air selama 50 tahun. Phelps Dodge menggunakan air tersebut untuk keperluan tambang Morenci. Problem Lingkungan dengan masyarakat adat terselesaikan.


Freeport-McMoRan, Morenci Mine

Morenci Mine

Tambang Morenci milik Phelps, Dodge & Co. menjadi cadangan Tembaga andalan AS. Tahun 2007, tambang yang berlokasi di Phoenix tersebut, dibeli oleh Freeport-McMoRan (pemilik Freeport Indonesia, bersama Mind ID dan Pemda Papua), yang berbasis di New Orleans, seharga $29,6 Milyar. Setelahnya, Freeport menjadi perusahaan tambang terbesar kedua dunia untuk produksi Tembaga, dan terbesar pertama dunia untuk produksi Emas. Dan kantor pusat Freeport pun pindah ke Phoenix. Mendekati Morenci dan tambang-tambang lainnya di Arizona.

Bila cadangan Tembaga Freeport (exPhelps Dodge) di AS berkadar rendah, maka cadangan Tembaga Freeport di Indonesia berkadar tinggi.

Pada awalnya, Adkerson, CEO Freeport, bermaksud menjual Freeport ke Phelps Dodges, namun yang terjadi justru Freeport yang mengakuisisi Phelps Dodge.

Setiap hari, 154 truk tambang hilir-mudik memindahkan 815.000 ton batuan. Sebanyak 3.600 karyawan bekerja dalam pertmbangan ini. Deposit Morenci masuk dalam kategori Tembaga kadar rendah, 0,23%-0,5%. 

Akhir tahun 2021, Morenci masih menyisakan cadangan Tembaga dalam tanah sebanyak lebih dari 15 Milyar pound (7,5 Juta ton). 

Sejak dibangunnya tambang tembaga Morenci tahun 1880an, wilayah ini telah berkembang hingga 100 mile persegi. Kota Morenci dihuni oleh 1.500 warga, yang semuanya terkait dengan aktivitas tambang Freeport-McMoRan tersebut. Ini merupakan tambang mineral logam terbesar di Amerika Utara, yang telah menghasilkan 900 juta pound (400.000 ton) Tembaga di tahun 2022.

Hampir semua Tembaga produk Morenci dikirim ke El Paso Rod Mill, El Paso, Texas, untuk diolah dan diproduksi menjadi berbagai jenis kabel Tembaga. 

Isu lingkungan untuk tambang Tembaga-Emas di Papua, Indonesia adalah penempatan tailing di hilir sungai Ajkwa, yang dianggap merusak keanekaragaman hayati oleh para pemerhati Lingkungan.

Mei 2016, Freeport menjual kepemilikan mayoritasnya di tambang Tembaga dan Cobalt di Tenke, Congo ke perusahaan China, “China Molybdenum”, seharga $2,65 Milyar. 

Tahun 2020, 15 dari 19 tambang Cobalt di Congo, telah dimiliki oleh perusahaan-perusahaan China.


Cobalt di Congo

Cobalt dibutuhkan dalam pembuatan EV Battery NMC (Nickel, Manganese, Cobalt) untuk mencegah overheat dan kebakaran, serta memperpanjang umur baterai.

Isu Lingkungan pertambangan Cobalt yang dikuasai oleh China Molybdenum ini adalah tentang tenagakerja. Tambang Cobalt tersebut banyak dioperasikan oleh Pertambangan Rakyat yang kurang peduli tentang Lingkungan. Dengan teknologi sederhana yang berrisiko tinggi untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Cobalt mudah mengiritasi kulit dan merusak paru-paru.

Apple, Microsoft, Tesla dan perusahaan-perusahaan besar dunia pengguna Cobalt cenderung tidak peduli terhadap rantai-pasok industri Cobalt di Congo tersebut.

Alih-alih Washington menentang, Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken justru mendukung investasi untuk pertambangan Cobalt dan Tembaga di Congo dan Zambia, yang mempekerjakan anak-anak sebagai buruh tambang. Kebutuhan EV Battery sebagai energi hijau adalah alasannya. 

Ironis. Energi Hijau untuk mencegah Perubahan Iklim untuk kemanusiaan, dengan mengorbankan sisi kemanusiaan anak-anak.


Daur-Ulang Baterai Bekas

Top-Down: Rest of World – Europe – USA – China

April 2017 terjadi kecelakaan kereta api Union Pacific yang melayani rute dari pantai barat ke pantai timur AS dan sebaliknya. Gerbong pengangkut baterai Lithium-ion dalam rangkaian kereta tsb. meledak di wilayah Houston,Texas. Menggetarkan banyak jendela rumah warga Houston. Tidak ada korban meninggal. Kebakaran tiba-tiba yang dikenal dalam terminologi baterai sebagai “thermal runaway” bisa terjadi bila baterai mengalami overcharge, arus-pendek atau panas berlebihan. 

Cerita ini hanya mau menegaskan bahwa niat baik untuk mencegah Perubahan Iklim melalui peningkatan produksi Lithium battery bisa berakibat tragis bila hanya didukung kepentingan bisnis dan tidak didukung tata kelola holistik yang melibatkan banyak pihak.

Statistik menunjukkan bahwa tahun 2013 hanya terjadi dua kali kebakaran terkait baterai Lithium-ion di AS, namun meningkat pesat di tahun 2020. Terjadi 65 kali.

Secara teknis, larutan elektrolit yang menghubungkan anoda-katoda, sengaja dibuat sangat mudah mengalirkan energi atau high energy density. Bila baterai Lithium-ion rusak atau overheates, maka larutan akan mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Awal tahun 2022, kapal kargo pengangkut  4.000 mobil listrik, terbakar dan tenggelam di pantai Portugal. Pihak otoritas pengawas kecelakaan Portugal menduga bahwa kebakaran dipicu oleh lompatan api dalam  baterai Lithium-ion mobil listrik yang diangkutnya.

Perusahaan penerbangan Jerman, Lufthansa telah melarang pengangkutan baterai Lithium-ion sejak 2015. Dan pemerintah AS mulai melarang pengangkutan baterai Lithium-ion melalui penerbangan penumpang komersial sejak 2019. Pelarangan tersebut dipicu oleh temuan adanya kebakaran baterai lithium-ion dalam penerbangan Boeing 787 Dreamliner beberapa tahun sebelumnya. 

Sensitivitas terhadap kebakaran menyebabkan pengangkutan baterai ion-Lithium semakin terkendala. Berbeda dengan bahan bakar fosil, yang bisa terbakar habis, ion-Lithium masih bisa dipergunakan ulang (reused) bila baterai telah rusak. Lithium doesn’t lose its ability to hold a charge just because it’s been sitting in a battery for twenty years.

PBB memperkirakan bahwa 53,6 juta ton sampah elektronik telah dihasilkan dunia melalui baterai mobil, handphone dan energy storage lainnya, di tahun 2019. Hanya 17,4% darinya yang di daur ulang. Sisanya adalah sampah. Artinya $54,7 milyar adalah sampah tembaga dan logam lainnya.

Mengingat cadangan mineral Lithium terbatas keberadaannya, dan termasuk kategori material tak terbarukan, maka daur-ulang baterai lithium-ion menjadi tantangan masa depan pertambangan Lithium. 

Diperkirakan, setiap tahun dihasilkan 50 juta ton sampah elektronik di dunia, yang hanya 20% nya mampu didaur-ulang. Tanpa adanya intervensi, diperkirakan terjadi lompatan jumlah sampah elektronik di tahun 2050, menjadi 120 juta ton per tahunnya.

Di tahun 2019, dari seluruh kendaraan listrik yang beredar, dihasilkan sampah baterai sebanyak 500.000 ton. Diperkirakan akan tumbuh eksponensial menjadi 8 juta ton di tahun 2040.

Persaingan desain baterai kendaraan listrik mulai mengemuka di tahun 2020. Baterai NiCad (Nickel Cadmium) memimpin persaingan ini, apabila energy density menjadi prioritas. Sementara LFP battery (Lithium Ferro Phosphate) dianggap lebih menguntungkan bila harga menjadi acuan, murah.

Kecenderungan meningkatnya produk baterai daur-ulang sudah terbukti dengan penggunaan baterai Timbal (Lead-acid batteries). Akhir tahun 2020an, di AS dilarang untuk membuang sampah baterai Timbal (Pb) sembarangan. Di Indonesia sampah baterai masuk dalam kategori limbah B3. Dengan demikian, sebagian besar baterai Timbal hanya bisa diperoleh dari produk daur-ulang. Oleh karenanya, model bisnis baterai Timbal di AS saat ini dilakukan dengan cara sewa, tidak lagi dengan cara jual-beli.

China adalah pemegang mayoritas pasar baterai Lithium-ion daur-ulang. Bahkan mencapai 3x lebih banyak daripada AS. Dan China juga lebih banyak melakukan penelitian daur-ulang baterai, daripada Jepang, Korea Selatan dan AS.

Pernyataan menarik dari buku ini adalah,

And while the greenhouse gas emissions to produce an EV are higher than those to produce an internal combustion engine, an EV’s battery can be recycled over and over—a plus for the environment.

Hanya perlu dipastikan bahwa energy density baterai daur-ulang tetaplah tinggi. Karena jangkauan jarak tempuh mobil listrik sangat bergantung padanya.

Tahun 2017, industri komputer dan gadget Apple menyatakan akan melakukan inovasi produksi untuk menghasilkan produk berbahan mentah hasil daur-ulang atau closed-loop manufacturer. Artinya, bahan mentah akan dicukupi dari hasil daur-ulang produk Apple yang sudah tidak terpakai. Sesuai dengan prinsip “circular economy” yang menjadi visi perusahaan.

Apple menyatakan bahwa melalui penggunaan robot, dalam setahun mampu memisahkan 1,2 juta komponen handphone. Dan di tahun 2021, hampir 20% komponen komputer dan produk Apple lainnya dibangun dari material daur-ulang.

Kelebihan penggunaan baterai daur-ulang adalah dalam hal waktu ketersediaannya. Komponen baterai yang diperoleh dari proses penambangan, membutuhkan waktu ketersediaan yang jauh lebih lama. Mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian.

Li-Cycle, berdiri akhir 2016, adalah perusahaan daur-ulang yang fokus pada pengambilan logam dari baterai yang tidak lagi terpakai. Penggerak utamanya adalah Ajay Kochhar dan Tim Johnston, keduanya berasal dari Hatch, konsultan engineering. Proyek pertama mereka adalah melakukan daur-ulang baterai Lithium-ion dengan lebih dulu mengambil Lithiumnya.

Sementara JB Straubel, yang bekerja untuk Tesla, mendirikan Redwood Materials, yang juga bergerak di bidang daur-ulang baterai Lithium, namun lebih fokus pada pembuatan katode untuk baterai mobil listrik. 

Li-Cycle dan Redwood Materials sama-sama berkepentingan terhadap baterai yang telah dihancurkan, dikenal dengan istilah Black Mass, sisa baterai yang telah dihancurkan, berisi Nickel, Lithium dan Cobalt.

Redwood dan beberapa perusahaan daur-ulang di China menggunakan proses pyrometallurgical recycling. Proses ini membutuhkan energi besar untuk memanaskan dan melelehkan material, hingga 1.482°C. Menghasilkan bubuk logam yang diproses lebih lanjut dengan larutan kimia hingga menyisakan Cobalt dan beberapa logam lainnya.

Hydrometallurgy

Sementara Li-Cycle menggunakan proses hydrometallurgical recycling, yang lebih irit energi. Namun membutuhkan asam dan bahan kimia lainnya dalam jumlah besar. Li-Cycle juga menghasilkan Black Mass dengan cara berbeda, yaitu menggunakan larutan kimia untuk mencegah terjadinya ledakan, sehingga lebih aman. Asam dan bahan kimia lainnya digunakan untuk melindih nikel sulfat, cobalt sulfate dan lithium carbonate. Li-Cycle bisa memperoleh 95% nickel, cobalt dan lithium dari baterai yang tak lagi terpakai.

Pyrometallurgy

Tahun 2021, Li-Cycle memperoleh investasi dari Glencore (perusahaan tambang besar dunia), LG Chem (pabrik pembuat bahan baterai) dan konglomerat Koch Industries.

Mengingat bahwa biaya logistik pengangkutan baterai bekas bisa mencapai 70% dari keseluruhan biaya proses daur-ulang, maka Li-Cycle lebih suka dengan “hub and spoke” business model, yaitu membuat banyak fasilitas kecil, mendekati fasilitas pabrik mobil listrik, di berbagai titik di AS dan Kanada, sebagai tempat pengumpulan baterai bekas. Kemudian menghancurkannya menjadi Black Mass, dan mengirimkannya ke pusat pemrosesan di Rochester, New York untuk dihasilkan Lithium.

Tahun 2024, pabrik di Rochester ini diharapkan mampu memproduksi Lithium sebanyak 8.500 ton Lithium Carbonate. Sementara saat ini, tambang Lithium di AS hanya mampu memproduksi sebanyak 5.000 ton. Artinya, mayoritas Lithium yang dihasilkan di AS, berasal dari daur-ulang baterai bekas. Bukan lagi dari produksi pertambangan.

Nilai pasar baterai Lithium-ion di tahun 2020 sebesar $1,33 Milyar. Dan tahun 2030 diperkirakan akan menjadi $38,21 Milyar. 


Metode Direct lithium extraction (DLE)

Tahun 2020, dalam kampanye Pilpres di AS, Joe Biden menyampaikan rencananya untuk transformasi energi dari fossil fuel ke green energy. Namun tidak disebutkan, bagaimana memperoleh sumber mineral untuk mencapai green energy tersebut.

“Does your clean energy plan require more mining?”, pertanyaan penting penulis buku ini, Ernest Scheyder kepada Biden. Namun tak dihiraukannya.

Pertengahan Agustus 2021, Biden menyatakan bahwa setengah dari penjualan mobil penumpang dan truk kecil di tahun 2030, harus sudah menggunakan energi listrik. Untuk itu diperlukan bahan mentah baterai berupa mineral logam seperti Nickel, Cobalt atau Lithium. Bergantung jenis baterai yang digunakan. Lithium Ferro Phosphate (LFP), NMC (Nickel Manganese Cobalt) atau NCA (Nickel Cobalt Aluminium).

Air garam panas di Salton Sea mengendapkan banyak material yang mengandung Lithium, Kalsium dan mineral lain, jauh di dasar laut, bersuhu 371°C. Kandungan Lithium dalam air garam tersebut cukup memenuhi harapan Presiden Biden untuk keperluan industri mobil listrik berpuluh tahun di AS.

Direct lithium extraction (DLE) adalah teknologi baru yang diharapkan mampu untuk menyaring Lithium yang ada dalam air garam. Sayangnya, masih pada tahap uji coba dalam skala laboratorium. Dan, air garam panas dari Salton Sea bersifat asam dan korosif, hingga sering menyebabkan penyumbatan pipa. Selain itu, kandungan silika tinggi dalam air garam panas menyebabkan pembentukan gelas saat air garam didinginkan. Penyumbatan pipa pun terjadi lagi. Kesimpulan sementara, tidak ekonomis dan belum terbukti di dunia nyata.

The promise of a cutting-edge technology to produce lithium without the mess of open-pit mines or water-wasting evaporation ponds had not yet been met.

Lithium ini menjadi penting untuk baterai mobil listrik, salah satunya karena bobotnya yang ringan. Logam teringan dalam Sistem Periodik.


Perak dan Lithium di Bolivia

Sejak awal abad ke-17, kota kecil Potosi, Bolivia di ketinggian 14.000 feet adalah penghasil Perak, yang diekspor ke Spanyol, China dan beberapa negara lain di penjuru dunia. 

Pada abad ke-18, cadangan Perak di Potosi mulai berkurang. Dan Spanyol pun mengalihkan eksplorasinya ke tambang Perak lainnya di Mexico. Bolivia tak pernah turut menikmati masa kejayaan tambang Perak Potosi di negerinya. Spanyol yang menikmatinya. Apakah ini yang disebut The natural resource curse? Lebih tragis lagi, Bolivia adalah salah satu negara termiskin di dunia Barat pada abad ke-21.

Cerro Rico, pegunungan yang mengandung deposit Perak, ambruk secara perlahan. Penambang Liar pun mengais sisa bijih Perak dari ribuan terowongan dalam deposit tua tersebut. Hanya untuk kebutuhan dasar, makan.


Danau Garam Salar de Uyuni, Bolivia

Diapit oleh pegunungan Andes, danau garam terhampar luas di Bolivia bagian barat daya, dekat dengan perbatasan Chile. Hampir seluas 11.000 km2, di ketinggian 3.663 meter. Proses evaporasi ribuan tahun menghasilkan endapan kaya mineral. Berada di bawah air garam, terhampar endapan kaya Magnesium, Potash dan Lithium. Seperti halnya dengan Chile dan Argentina, Bolivia juga kaya akan sumberdaya Lithium. Sehingga ketiganya biasa disebut sebagai “Lithium Triangle”

Berbagai upaya telah ditempuh dan bermacam perusahaan ternama luar negeri telah terlibat, untuk mengekstrak Lithium dari endapan larutan garam dari salar de yuni, dengan cara ramah lingkungan, namun masih gagal terwujud. 

Evo Moralez, Presiden Bolivia, menggelontorkan $400 Juta untuk pembangunan sarana ekstraksi Lithium di salar de yuni, tahun 2013. Mangkrak. Salah satu alasan adalah kesulitan teknis ekstraksi Lithium karena tingginya kandungan Magnesium dan mineral lainnya. Dibutuhkan air yang sangat banyak di wilayah yang relatif kering. Sehingga tidak tercapai keekonomiannya. 

The lack of lithium know-how, the remote location, and the high magnesium content of the brine all complicated Evo’s vision.


Tiehm’s buckwheat (bunga Tiehm)

Bunga Tiehm

Eriogonum tiehmii, dikenal sebagai Tiehm’s buckwheat (bunga Tiehm), spesies perkebunan bunga endemik di  Silver Peak Range, Esmeralda County, Nevada, AS. Populasinya dikhawatirkan akan kritis karena kerusakan lingkungan yang terjadi bila disetujui proposal dari perusahaan tambang Australia, ioneer, untuk menambang Lithium disana. 

Bernard Rowe, CEO Ioneer, pada tahun 2020 mencoba membuktikan bahwa bunga Thiem (Eriogonum tiehmii) dapat tetap tumbuh subur dengan memindahkan perkebunan ke lokasi lain, yang konsentrasi tanahnya tidak banyak mengandung Lithium dan Boron. Gagal. Mati karena kekurangan air dan diserang hama mamalia.

Hasil berbagai penelitian dan percobaan dilakukan oleh Ioneer untuk mengamankan populasi Bunga Thiem, namun masih gagal. Berujung pada pernyataan Pemerintah AS pada Desember 2022, bahwa Eriogonum tiehmii membutuhkan tanah dengan semua spesifikasi yang ada di Rhyolith Ridge. 

Setelah berbagai upaya dilakukan oleh Ioneer, akhirnya U.S. Bureau of Land Management yang berwenang terhadap area Rhyolite Ridge mengeluarkan Notice of Intent, yang isinya kurang-lebih proses akhir perizinan penambangan Lithium bisa mulai dilakukan. Dan tahun 2024 ini diharapkan penambangan Lithium sudah dimulai. Kecuali AS membuka tambang sendiri.

Tahun 1955, Presiden Dwight Eisenhower melarang aktivitas pertambangan di wilayah Oak Flat. Namun di tahun 1971, Presiden Nixon melonggarkannya untuk aktivitas eksplorasi Tembaga, hingga ditemukannya deposit Resolution Copper di tahun 1990an. Dan BHP serta Rio Tinto, melakukan ratusan drilling di wilayah tersebut untuk mengetahui geologi deposit dan jumlah cadangannya. 

Sumur (mine shaft) dibangun sedalam 7.000 feet untuk memetakan geologi dari deposit yang diperkirakan cukup untuk memasok Tembaga sebanyak seperempat kebutuhan AS setiap tahunnya.

Rio Tinto dan BHP sangat memahami bahwa Mobil Listrik membutuhkan Tembaga dua kali lebih banyak daripada kebutuhan mobil biasa (internal combustion engine). Dan industri mobil listrik Nikola Corp. dan Lucid Group Inc. sudah membangun pabriknya tak lebih dari 50 mile dari area pertambangan di Superior, Oak Flat.

Karena lokasi deposit yang terletak jauh di bawah permukaan tanah, maka penambangan direncanakan menggunakan underground mining, sistem Block Caving, yaitu sistem ambrukan di dalam tanah.

Diperkirakan, akan terjadi cekungan karena ambrukan batuan seluas 2 mile dan sedalam 1.000 feet. Betulkah? Bahkan Ernest menggambarkannya seolah runtuhnya St. Peter’s Basilica bagi umat Katolik Roma atau al-Masjid al-Ḥarām bagi kaum Muslim. Hemmmm … kampanye lingkungan dengan cara menarik simpati kaum religius?

Tambang tersebut akan berdampak pada penggunaan air sebanyak 192 milyar gallon selama umur tambang. Atau ekivalen dengan penggunaan 5 gallon air untuk produksi setiap pound Tembaga. Atau sebanyak kebutuhan air dari 168.000 rumah selama 40 tahun.

Tumpukan tailing atau waste rock yang dihasilkan akan setinggi 500 feet dan seluas 6 mile persegi. Atau lima kali lebih luas dari New York Central Park.


EPILOG

Di tahun 2023 itu, Jigar Shah, direktur Pembiayaan, di Departemen Energi, yang membawahi urusan energi bersih, mewakili pemerintah AS sepakat untuk memberi pinjaman ke perusahaan Ioneer sebesar $700 juta untuk pendanaan proyek Lithium di Rhyolite Ridge.

Menurut US Energy Department, Rhyolite Ridge akan memproduksi Lithium yang cukup untuk kebutuhan 370.000 mobil listrik. Dan mampu mencegah 1,3 juta ton CO2. Tercapai target AS untuk Perubahan Iklim Kesepakatan Paris.

Menurut Jigar Shah, “Ioneer was very well prepared and very organized”.

Calaway, CEO Ioneer mengaku sudah menghabiskan ratusan juta dollar untuk membuat Studi Kelayakan, hingga bisa meyakinkan bahwa penambangan Lithium di Rhyolite Ridge akan aman bagi lingkungan.

Pembuat mobil Ford setuju untuk membeli baterai Lithium produk Ioneer dari Rhyolite Ridge. Ford berpartner dengan CATL, akan membangun pabrik baterai senilai $3,5 Milyar di Michigan. CATL adalah pembuat baterai terbesar dunia asal China, yang pernah gagal membangun pabrik di Bolivia.

Paradox Energi Hijau pun semakin sulit terhindarkan ketika kementerian Dalam Negeri AS mengeluarkan larangan penambangan selama dua dekade kedepan seluas 225.504 acre (912,5 km2) di wilayah Minnesota Utara. Termasuk proposal dari Twin Metals untuk penambangan Tembaga, Nickel dan Cobalt.

Aparat Biden di pemerintahan meragukan efektifitas larangan proyek Twin Metals tersebut, mengingat target transisi Energi Hijau yang membutuhkan ketersediaan bahan mentah dari hasil tambang.

Bahkan Pete Stauber, anggota DPR dari Minnesota dengan keras menyatakan, 

“If Democrats were serious about developing renewable energy sources and breaking China’s stranglehold on the global market, they would be flinging open the doors to responsible mineral development here in the U.S.”.

Dan Wall Street pun kebingungan, hingga Credit Suisse berkomentar, 

“[I]f the U.S. intends to proceed with decarbonization, it will need copper, and blocking all domestic mine developments while expecting sufficient copper to be available may not be sensible. The U.S. may have to approve some projects”.

Di sisi lain, masyarakat adat menentang pertambangan Lithium, Thacker Pass di Nevada. Mereka menuntut supaya General Motors menghentikan pembelian material kelengkapan baterai dari pertambangan tersebut.

Pertambangan Piedmont Lithium pun tak yakin proyeknya untuk mengembangkan tambang terbuka Lithium di North Carolina akan bisa berjalan, bahkan hingga akhir dekade ini.

Dari sisi positif, perlawanan terhadap pertambangan untuk kepentingan EV Battery memicu inovasi terhadap teknologi pemurnian Lithium. Tahun 1979, ahli kimia John Burba, pHd. dkk. bermaksud membuat peralatan pemurnian Lithium, DLE portable (direct lithium extraction). Teknologi pemurnian Lithium melalui pengolahan air yang diperoleh dari ekstraksi bersama minyak dan gas.

Muncul perusahaan kecil Metals Co. di Vancouver, British Columbia, yang menyatakan mampu mengekstraksi Lithium dan Tembaga untuk keperluan transisi energi hijau, tanpa menambang dari daratan. Melainkan dengan teknologi menghisap (vacuum) mineral berukuran kentang dari lantai dasar Samudera Pasifik. Belum terbukti kebenarannya, namun sudah mendapatkan perlawanan dari Greenpeace dan penggiat lingkungan lainnya. Mengganggu kehidupan ikan paus.

Marco Lambertini, international director general of the World Wildlife Fund, menyatakan,

“I share that grave sense of urgency. But we must not, once again, try to solve a problem while ignoring predicted consequences that could make the original problem even bigger. It is the very gravity of our current circumstances that requires us to act with utmost care for our planet’s life-support system: nature”.

Juni 2023, Albemarle Corporation (perusahaan besar pemurnian Lithium di AS) adalah perusahaan pengolahan Lithium pertama di dunia, untuk wilayah operasi di Chile, yang lolos dari audit IRMA. Pujian diberikan oleh direktur eksekutif IRMA, Aimee Boulanger, karena komitmennya untuk lebih peduli terhadap keterbukaan dan kepentingan masyarakat.

Bunga Tiehm (Tiehm’s buckwheat) menjadi simbol dilema antara pertambangan dan revolusi energi hijau, dalam upaya mengatasi krisis iklim. Dan Penulis, Ernest Scheyder, mengakhiri buku ini dengan pernyataan Jerry Tiehm, 

“If you find interesting habitats, you’ll find interesting plants”.


Komentar

Narasi dramatik yang ditulis Scheyder di bawah ini lazim disampaikan para penggiat Lingkungan untuk menentang Pertambangan dimanapun,

The wind whispered through the air. A coyote howled in the distance. Birds fluttered from nearby nests. It was idyllic in the truest sense of the word. It was hard to imagine North America’s largest lithium mine one day being at that spot.

Ironisnya, keindahan diatas dinikmati semuanya melalui peralatan yang tentu saja berasal dari material logam atau gelas yang berasal dari produk pertambangan. Dan sangat tidak adil bila pemenuhan bahan logam semua itu harus dicukupi dari negara lain.

Perlu diingat bahwa Ernest Scheyder, penulis buku ini, adalah jurnalis. Bukan ahli Lingkungan ataupun ahli Pertambangan. Hanya, tersirat jelas dari narasinya bahwa Scheyder cenderung bersikap sebagai seorang Pecinta Lingkungan, anti Tambang. 

Dari banyak inisiatif atau praktek pertambangan yang disajikan, ada yang tetap berjalan dengan dukungan Pemerintah dan ada pula yang berhenti karena protes masyarakat. Resistensi masyarakat terhadap Pertambangan pun, beberapa mampu dilalui setelah persoalan diselesaikan melalui upaya teknis, bantuan finansial, kerjasama bisnis maupun politis (kekuasaan) atas nama kepentingan Energi Hijau atau kemandirian bangsa AS.


TAUTAN

  1. China ready to hit back at U.S. with rare earths – newspapers
  2. SQM mining company
  3. Scientists now know how the Brumadinho dam disaster happened, and the lessons to learn
  4. Potential Lithium Extraction in the United States: Environmental, Economic, and Policy Implications
  5. The new ways of extracting lithium from brine
  6. James C. Calaway
  7. History of the Magma Mine, Superior, Arizona
  8. MP Materials Corp. Consolidated Balance Sheets
  9. EXCLUSIVE: Lithium Americas delays Nevada mine work after environmentalist lawsuit
  10.  Analysis of proposed 20-year mineral leasing withdrawal in Superior National Forest
  11. Secretary Blinken at an MOU Signing with Democratic Republic of the Congo Vice Prime Minister and Foreign Minister Christophe Lutundula and Zambian Foreign Minister Stanley Kakubo
  12. Potential Lithium Extraction in the United States: Environmental, Economic, and Policy Implications

Read Full Post »