Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘toer’

Produser: Happy Salma

Sabtu malam itu, 31 Agustus 2025, mendapat kesempatan yang membahagiakan, bisa turut menikmati persembahan teater Titimangsa yang ke-88 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Nonton bersama istri, Budhe dan keponakan berdua. Maturnuwun tiketnya pakdhe.

Lama sudah tak menikmati teater, sejak penampilan Butet Kertaredjasa di tempat yang sama, beberapa tahun lalu.

“Bunga Penutup Abad” (BPA) sudah pernah ditampilkan tujuh tahun lalu oleh sutradara handal yang sama, Wawan Sofwan.

Menurut sang sutradara, penampilan kali ini sudah ada kebaruan naskah, dengan harapan memperkuat struktur dramatiknya. Hal ini disampaikannya dalam buku pengantar yang dibagikan kepada penonton sebelum penampilan dimulai.

Penampilan BPA 29-31 Agustus 2025 yang lalu disajikan oleh teater Titimangsa dengan Happy Salma sebagai Produser, serta dukungan banyak pihak, termasuk Bakti Budaya Djarum Foundation.

BPA sejatinya adalah alih wahana refleksi sosial-politik di masa kolonial dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, yang dimulai dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) hingga yang terakhir Rumah Kaca (1988). 

Para pemain

Nyai Ontosoroh dan Annelies

Reza Rahardian sebagai Minke

Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh

Chelsea Islan sebagai Annelies

Andrew Trigg sebagai Jean Marais

Sajani Arifin sebagai May Marais

..

Tata Panggung

Begitu layar dibuka, terlihatlah tata panggung yang menarik. Panggung Putar yang dibagi menjadi empat ruang. Ruang Tamu dengan 2 meja dan 5 kursi, Kamar Tidur dengan tempat tidur, 1 meja kecil dan 1 kursi, Beranda dengan satu tempat duduk dan Studio Lukis Marais dengan lukisan wajah Annelies terpasang di kuda-kuda. Perubahan setting panggung dapat dilakukan memutarnya secara manual dengan mudah dan cepat.

Cahaya sangat cukup menerangi panggung dan lampu sorot dari atas juga tepat mengenai obyek. Indah.

Kostum semua pemain sangat indah mewakili jamannya. Kebaya Nyi Ontosoroh dan Annelies, beskap dan kain Minke, juga gaun putih Annelies sangat indah dan nyaman dilihat.

Sound system bagus dan clear terdengar. Sempat terdengar satu kata tersendat dan diulang oleh Happy Salma. Sangat minor dan bisa dimaklumi, karena panjangnya dialog dengan intonasi tinggi dan cepat, antara Nyai Ontosoroh dan Minke.

Musik indah. Suara biola jelas terdengar. Bagiku, akan lebih dramatik bila permainan musik terlihat live di panggung sebelah.

Pemeran

Minke dan Annelies

Bagi kami yang awam dalam seni teater, rasanya semua pemain sangat fasih diatas panggung. Kualitas prima. Gerak, gestur serta penguasaan panggung mereka, sangat enak dinikmati. Tak terlihat sedikitpun ada kecanggungan. Bahkan penampilan si gadis kecil, Sajani Arifin sebagai May Marais terlihat luwes gerak-geriknya dan percaya diri dengan ucapan yang lantang. Kerenn …

Dari dialog Minke dan Nyai Ontosoroh, terlihat jelas wajah dan gesture mereka menyajikan kegundahan atas kabar buruk Annelies via surat, yang dibacakan Minke. Kemarahan Nyai Ontosoroh pun disajikan dengan bagus sekali oleh Happy Salma saat berdialog tentang hilangnya semua hak yang dimilikinya, karena tidak diakui perkawinan dirinya oleh hukum kolonial. Hukum rasis kolonial.

Sinopsis

Berikut ini adalah Sinopsis yang disajikan dalam Buku Pengantar.

Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani ke mana pun Annelies pergi bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh. 

Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Catatan

Bagi pembaca tetralogi Bumi Manusia, sangat diuntungkan. Bisa lebih mudah mengikuti jalannya cerita BPA. Serasa refreshing, membaca ulang situasi kekejaman kolonialisme Belanda. Bagi yang belum membacanya, kemungkinan akan lebih sulit mencerna pesan dari cerita.

Berbeda dengan teater Koma atau teaternya Butek K., alih wahana  tetralogi Bumi Manusia dalam BPA ini disajikan dengan serius, tanpa jeda. Dan minim tawa. Sehingga tak terlihat komunikasi panggung dan penonton. Sedikit melelahkan. Untungnya, para pemain adalah para jagoan panggung di negeri ini. Enak dinikmati hingga akhir pementasan.

Semoga Jakarta menjadi tempat yang bersahabat untuk tampilnya para seniman panggung teater dan cukup terjangkau bagi masyarakat luas untuk bisa menikmatinya.

May, Jean, Nyai Ontosoroh, Minke, Annelies

Read Full Post »