Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

This changes everythingTahun 1992 berbagai negara menghadiri United Nations Earth Summit di Rio, Brazil, untuk menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah dokumen yang akan menjadi dasar bagi semua perundingan tingkat dunia tentang perubahan iklim. Pada tahun yang sama, North American Free Trade Aggrement juga ditandatangani, dilanjutkan dengan perundingan WTO yang semakin mantap posisinya sebagai institusi perdagangan dunia yang wajib dipatuhi para anggotanya. Tahun 1997, Kyoto Protocol, sebagai kesepakatan bersama negara-negara di dunia untuk mengurangi emissi, mulai diadopsi. Dua hal besar inilah yang saat ini sedang terus berjalan secara paralel, perdagangan antar negara yang semakin tak ‘berbatas’ dengan produksi emissi yang melewati batas-batas geografi dan komitmen pengurangan emissi oleh negara-negara di dunia. Prioritas pilihan yang lebih mengutamakan tidakan pada pada Pengurangan Emissi (Perubahan Iklim) adalah tujuan dari buku ini. Kompilasi informasi dari penelitian, fakta di lapangan, opini para penggiat Perubahan Iklim, hasil perundingan tingkat dunia dalam hal perubahan iklim dan Perdagangan Dunia serta opini Klein sendiri yang mengarah pada perlunya tindakan pengurangan emissi sehingga tidak menyebabkan temperatur udara melebihi 2°C, memenuhi buku ini.

Keadilan Global tentang perubahan iklim ini masih menjadi isu besar di berbagai forum perundingan pembiayaan pengurangan emisi CO2. Negara-negara industrialis yang sudah menikmati hasil dari penggunaan bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri sudah seharusnya menanggung beban kewajiban jauh lebih besar daripada negara-negara sedang berkembang atau miskin.

‘Buy Local’ dan ‘Hire Local’ adalah slogan Ontario, Canada yang sangat ampuh ditahun 2012 ketika sukses mengurangi pembangkit listrik bertenaga batubara (sisa satu powerplant) dan beralih ke solar cell, untuk mendukung Green Energy. Sayangnya, regulasi WTO berdasarkan konsep ‘national treatment’ menganggap Canada melakukan ‘proteksi’ sehingga ‘buy local’ terpaksa harus kalah dengan produk import dari China. Dari sisi penggiat Perubahan Iklim, aturan-aturan WTO jelas mengalahkan usaha PI untuk membatasi kenaikan temperatur udara tidak meningkat lebih dari 2°C.

Regulasi kerjasama perdagangan dunia ataupun bilateral masih banyak dipermainkan oleh negara2 maju. AS melakukan protes terhadap India dan China karena barang2 produksinya tidak bisa masuk ke negara2 tersebut berhubung adanya proteksi. ‘Tar sand’ Canada yang dianggap tidak ramah lingkungan oleh para pecinta lingkungan dan tidak layak ekspor ternyata bisa ‘diatur’ kerjasama perdagangannya antara Uni Eropa dan Canada. Demikian juga dengan ‘shale oil’ AS yang diproduksi dengan cara ‘fracking’ dan dianggap tidak ramah lingkungan inipun lolos untuk keperluan ekspor ke Uni Eropa. Belum lagi, upaya industri migas AS untuk melindungi kepentingannya melalui lobi-lobi politik di DPS/Senat.

Sistem akutansi emissi saat ini dibangun sebelum era perdagangan bebas, sehingga masih belum banyak menunjukkan keadilan global, dengan tidak memperhitungkan sama sekali banyaknya perubahan berkenaan dengan bagaimana dan dimana barang-barang itu diproduksi. Lalu, siapakah yang bertanggungjawab terhadap emissi yang diakibatkannya, lokasi fabrikasi ataukah negara tempat pemilik berada; kemudian bagaimana produk yang sudah beralih tempat melalui transportasi darat dan laut yang juga banyak menyumbang emissi karbon akibat bahan bakar fosil yang dipergunakannya? Masih banyak hal yang belum selesai.

Industri ekstraktif bukanlah satu-satunya target penyebab polusi yang harus membayar (polluter pays principle). Militer AS ternyata pengkonsumsi bahan bakar fosil terbesar di dunia. Pada tahun 2011, Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa paling sedikit 5,6 juta metrik ton CO2 ekivalen ke atmosfer, lebih banyak dari total emissi Exxon dan Shell di AS.

Walaupun beberapa penghasil minyak terbesar dunia sudah rebranding dengan slogan renewable energy (BP, Chevron, Shell, Exxon) namun kenyataannya hanya mengeluarkan biaya sangat minimum untuk keperluan produksi energi bersih, bahkan Shell dan Chevron hanya investasi 2,5% dari total biaya untuk itu.

Menurut Klein, dari hasil studi menunjukkan bahwa emisi methan yang dihasilkan oleh proses fracking sedikitnya 30% lebih tinggi daripada emisi methan yang dihasilkan oleh gas konvensional. Ini karena proses fracking bisa menyebabkan kebocoran di tahap produksi, pengilangan, penyimpanan dan distribusi. Methan adalah gas rumah kaca yang sangat berbahaya karena 34 kali lebih efektif dalam menjebak panas (rumah kaca) dibanding CO2.

Tahun 2013, industri migas AS menghabiskan hampir $400.000 per hari untuk keperluan lobby Congress dan pejabat pemerintah. Juga membelanjakan $73 Juta dalam kampanye Federal dan donasi politik selama pemilihan umum 2012.

Perdagangan Polusi
Ketika berbagai negara sedang melakukan perundingan tentang kesepakatan iklim internasional, yang kemudian menjadi Kyoto Protocol, ada banyak konsensus tentang persetujuan yang harus dicapai. Yang kaya, atau negara-negara industri harus bertanggungjawab atas emissi yang telah dilakukannya selama ini dengan cara membatasi jumlah emissinya dalam jumlah angka yang pasti dan kemudian secara sistematik mulai menguranginya. Uni Eropa dan negara-negara sedang berkembang berasumsi bahwa mereka harus segera mempersiapkan diri untuk membuat regulasi yang ketat di negara masing-masing, misalnya dengan membuat pajak karbon dan mulai antisipasi terhadap energi terbarukan.

Pemerintahan Clinton justru memberikan proposal alternatif, yaitu membuat model sistem perdagangan karbon internasional yang dapat membatasi dan memperdagangkan karbon untuk mengatasi hujan asam. Artinya, alih-alih secara langsung mewajibkan semua negara industri untuk mengurangi emissi gas rumah kaca dalam jumlah yang pasti, justru memungkinkan untuk melakukan polusi lebih banyak dengan cara membeli ‘perangkap’ emissi dari negara-negara yang tidak membutuhkannya. Jelas, AS sangat berkepentingan dan antusias dengan proposal ini.

Sikap AS ini sangat mengecewakan Uni Eropa, khususnya Perancis dimana Dominique Voynet selaku Men LH menyebut proposal AS ini ‘radically antagonistic’, yang menghalangi upaya penanggulangan krisis perubahan iklim. Demikian juga dengan sikap Angela Merkel, yang kemudian menjadi Men LH Jerman, menganggap proposal AS ini hanya akan menguntungkan negara-negara industri.

Konsekwensi dari regulasi global tentang Perdagangan Karbon, bahwa walaupun sebuah pabrik yang dianggap sebagai sumber polusi udara yang tinggi sekalipun, bila telah menggunakan suatu peralatan atau rekayasa teknik sehingga mampu mencegah emissi ke atmosfer maka dapat diklasifikasikan sebagai ‘green development’ dalam regulasi badan PBB.

Beberapa bukti di India dan Tiongkok menunjukkan bahwa industri coolant memproduksi produk sampingan secara sengaja, berupa gas yang tidak ramah lingkungan, HFC-23. Dengan menambahkan beberapa peralatan murah maka HFC-23 dapat ditangkap sehingga tidak mencemari udara. Mereka telah menghasilkan puluhan juta dollar dari kredit emisi setiap tahun.

Konsekwensi lain dari adanya Perdagangan Karbon adalah munculnya pelanggaran HAM terhadap para petani tradisional atau masyarakat adat yang tidak lagi bisa mencari kehidupan di hutan seperti sebelumnya, dengan alasan hutan telah dicadangkan sebagai perangkap karbon dalam sistem Perdagangan Karbon global. Ini banyak terjadi di Brazil, bahkan isunya sudah mulai juga terjadi di beberapa perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Korban pembunuhanpun sudah terjadi di Honduras pada tahun 2013 karena adanya larangan berkebun di wilayah adatnya berhubung sudah dicadangkan untuk mendapatkan Kredit Karbon.

Dalam upayanya untuk melindungi hak para perusahaan multi nasional untuk dapat melakukan polusi ke atmosfer, berakibat pada hilangnya kesempatan para petani untuk dapat hidup dalam damai.

‘It’s easier to pick the fruit, than dig up the roots’ adalah ungkapan yg tetap untuk menyatakan bahwa daripada menghentikan upaya para pengusaha multi nasional melakukan polusi udara melalui para politisi negara industri, lebih mudah melakukan larangan terhadap masyarakat adat dan lemah di negara sedang berkembang atau miskin untuk mencari penghidupan di wilayahnya (low-hanging fruit).

Kesimpulan Klein
Kapitalisme Global telah menyebabkan pengurasan (deplesi) sumberdaya alam . Berbagai protes dari kelompok aktifis lingkungan, masyarakat adat dan gerakan masyarakat sipil lainnya, menjadi hambatan mesin ekonomi yang cenderung tumbuh cepat tak terkontrol.

Hanya gerakan massa yang dapat menyelamatkan kita, karena kita tahu kemana arah sistem yang ada sekarang ini menuju. Kita juga tahu bagaimana sistem saat ini akan menyebabkan bencana, dengan gejala pengambilan keuntungan besar-besaran, peningkatan barbarisme yang signifikan dan pemisahan antara yang kalah dengan pemenangnya. Harus ada suatu kekuatan penyeimbang, yaitu kekuatan massa yang terus membanjiri dan mampu menutup jalan ke arah bencana global dan mengalihkannya ke arah yang jauh lebih aman. Bila hal ini terjadi maka ‘this changes everything’.

Mengingat emisi terus bertambah, setiap tahun gas rumah kaca masih terus kita produksi lebih banyak dari tahun sebelumnya sehingga akan mempertinggi suhu permukaan bumi bagi generasi mendatang…

Kritik
Ada dua hal utama yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini yaitu:

  1. Ketidakadilan global yang lebih dikuasai oleh negara maju dengan menggunakan alat regulasi perdagangan dunia (WTO dan sejenisnya) dan perdagangan antar negara (B2B).
  2. Perubahan Iklim yang disebabkan oleh industri ekstraktif.

Dari dua hal tersebut di atas, Klein berpendapat bahwa negara maju sangat terlibat sebagai penyebab kedua hal tersebut terjadi; sedangkan negara sedang berkembang yang telah dirugikan dalam hal sistem pembayaran Kredit Karbon ternyata juga terlibat dalam menyumbang emissi CO2 melalui industri ekstraktifnya. Dengan sistem Kredit Karbon, negara miskin dan sedang berkembang yang kaya hutan tropis, hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah emissi yang diproduksi negara maju.

Klein tidak konsisten dalam menulis judul dengan isi bukunya. Dalam suatu video diskusi di Vancouver Institute, Canada tentang buku ini, ada suatu pertanyaan muncul dari peserta diskusi: “kalau bukan kapitalis, lalu apa pilihannya?”. Klein tertawa dan menjawab bahwa sosialispun bukan pilihan karena banyak negara di Amerika Latin dan Russia juga masih didominasi industri ekstraktif. Dan jawaban ini juga tertulis dalam bukunya. Ini menimbulkan dugaan bahwa yang dibidik oleh Klein sebenarnya adalah Kapitalisme, sedangkan alatnya adalah Ekstraktifisme berslogan Climate Change. Mengingat industri ekstraktif sudah melewati batas ideologi, maka menjadi absurd bila kecaman hanya diarahkan pada kapitalisme. China dan India yang bukan berideologi kapitalisme bahkan diramalkan oleh Geoff Hiskock, dalam bukunya ‘Earth Wars’, sebagai ‘pemenang’ kepemilikan sumberdaya alam mineral dan batubara dunia di tahun 2050. Buku Klein sebelumnya ‘Shock Doctrine’ juga memusuhi kapitalisme, maka tidak heran bila buku inipun punya agenda yang sama. Climate Change dalam buku ini memang berhubungan dengan industri ekstraktif, tapi tidak secara khusus menunjukkan adanya korelasi dengan hanya negara kapitalis. Atau, negara-negara yang dominan dengan industri ekstraktif memang selama ini sudah bersifat kapitalistik?

‘This changes everything’ bukanlah buku sains melainkan kompilasi informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan Climate Changes, baik dari sumber penelitian sains, bisnis, sosial maupun opini penulisnya. Alih-alih menuliskan tentang informasi sains yang akurat tentang proses atau fakta geologi dari fracking/shale gas yang dianggap sebagai penyumbang besar emissi CO2, atau formula perhitungan perdagangan karbon antar negara yang potensial menyebabkan ketidakadilan global; Klein malah banyak menuliskan ajakan dengan kalimat yang tegas untuk melakukan aksi anti industri ekstraktif, yang dinyatakan dengan jelas di bagian Kesimpulan dalam bukunya.

Untuk menambah pengetahuan tentang isu Perubahan Iklim dari sisi aktifis, buku ini layak baca. Namun, untuk mengetahui secara teknis tentang Perubahan Iklim dan berbagai aspek turunannya, seperti REDD+, Kredit Karbon, sangat kurang membantu. Apalagi tentang fracking oil, tar sands dan industri ekstraktif, sangat kurang informasinya bahkan cenderung tertutup atau tidak digali lebih dalam.

Judul buku: This Changes Everything

Penulis: Naomi Klein

Tebal buku: 566 halaman

Penerbit: Pengui Group

Tahun: 2014

Read Full Post »

TheEndOfNormalJudul: The End Of Normal

Sub Judul: The Great Crisis and The Future of Growth

Penulis: James K. Galbraith

Tebal buku: 304 halaman

Penerbit: Simon & Schuster

Tahun: 2014

Judul beberapa buku yang menjadi acuan penulisan tentang krisis ekonomi 2008, seperti Keynes, Stiglitz, Prugman dan banyak lagi, juga beberapa institusi resmi pemerintah AS yang telah melakukan investigasi seperti Financial Crisis Inquiry Comission, Congressional Oversight Panel dll. mewarnai bagian depan buku ini dengan kesimpulan awal bahwa teori-teori dalam buku-buku tersebut tidak memberikan penjelasan yang gamblang tentang apa yang terjadi sebenarnya dengan berbagai krisis finansial global, mengapa bisa terjadi dan bagaimana mencegah serta mengatasinya. Pada umumnya, apa yang dilakukan para ekonom adalah berusaha menafsirkan kasus tersebut dalam berbagai bentuk fenomena atau model yang berbeda, seperti Black Swans, Fat Tails, Bubbles dsb.

Black Swans

Fenomena Black Swans bisa jadi merupakan model penjelasan yang paling sederhana tentang krisis besar ini (Great Crisis). Prinsip model Black Swans ini adalah adanya asumsi statistika probabilitas bahwa setiap angsa adalah putih, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga angsa berwarna hitam, walaupun jarang. Kesalahan memprediksi sebuah kejadian yang jarang terjadi, bukanlah tanda kegagalan keilmuan. Model ini bisa dipergunakan untuk mempertahankan diri dari suatu argumen bahwa “tak ada yang bisa memprediksi” terjadinya krisis 2008, karena bisa jadi ada yang bisa memprediksi saat itu. Masalahnya,  dalam kasus krisis finansial dalam lingkup global, kejadian seperti ini bukan hal yang jarang terjadi sehingga model Black Swans tidak cukup tepat digunakan. Sejak pertengahan tahun 1990an, krisis finansial juga terjadi di Amerika Latin, Afrika, Russia, Islandia, hampir semua negara-negara Asia, AS dan Zona Eropa.

Fat Tails

Ini adalah model yang menegaskan bahwa peristiwa ekstrim bukanlah hal yang jarang terjadi. Menurut Galbraith, ada kecenderungan bahwa para pembuat model statistik seringkali mengasumsikan distribusi kesalahan adalah Distribusi Normal atau Gaussian atau Bell Shape, sehingga frekuensi relatif dari krisis atau kejadian ekstrim jarang terjadi, atau bila menggunakan skala kehidupan manusia, maka kejadian ekstrim tersebut bisa dianggap bakal terjadi hanya sekali dalam 1000 tahun. Namun kenyataannya, krisis bisa lebih sering terjadi daripada perkiraan. Esensi Fat Tails adalah kita tidak dapat mengukurnya dan hanya bisa mengetahui bahwa krisis terjadi, dan resiko tidak dapat diperkirakan secara akurat dengan perhitungan berdasar kurva Normal. Seperti halnya Bl ack Swans, ketidak mampuan model Fat Tails memperkirakan kejadian krisis bukan berarti model ini salah.  Pesan model ini, kita harus siap menghadapi hal-hal buruk yang tidak terduga, namun bisa terjadi walaupun tetap tidak mampu memprediksi kapan akan terjadi. Bahkan kita tidak dapat mengantisipasi arah penyimpangan (deviasi) yang akan terjadi, baik naik maupun turun.

Bubbles

Bubbles atau gelembung adalah fenomena fisika dengan berbagai karakter kepastiannya. Dia mengembang secara perlahan dan meletus dengan cepat mengikuti hukum-hukum fisika. Fenomena bubbles ini sering dipergunakan para ekonom untuk mengamati dinamika finansial, dengan harapan dapat mencegah terjadinya krisis. Konsisten dengan karakter gelembung yang pasti akan pecah, maka menurut Galbraith, Alan Greenspan juga sependapat bahwa pemangku otoritas tidak perlu untuk memprediksi, identifikasi, mencegah atau mengempiskan gelembung, namun hanya perlu merapikan saja akibat pecahnya gelembung tersebut. Dan semuanya akan kembali pada situasi sebelum fenomena gelembung itu terjadi.

Tiga model tersebut, – Black Swans, Fat Tails dan Bubbles -, beranggapan bahwa ada situasi Normal tanpa krisis dalam sistem ekonomi. Situasi Normal ini bisa terganggu, namun tidak terduga atau tidak dalam jangkauan kemampuan untuk mencegahnya. Jadi, hanya bisa dijelaskan setelah krisis itu terjadi dan tidak ada jaminan bahwa suatu usaha perbaikan akan dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian hari. Galbraith menganggap model-model tersebut berbahaya, karena di dalamnya ada keyakinan bahwa setelah krisis selesai, kondisi ekonomi akan kembali Normal. Cenderung fatalis.

Berbeda dengan tiga model di atas, berikut ini adalah model Big Government dan Inequality, yang tidak lagi bicara tentang kondisi krisis berdasar probabilitas penyimpangan dari Normalitas, namun lebih mengacu pada teori ekonomi, yang keduanya menjelaskan tentang adanya prinsip dan kondisi-kondisi yang terukur sebagai kendala atau hambatan struktural untuk kembali ke kondisi Normal.

Big Government

Pendapat konservatif menyatakan bahwa pemerintah AS dibidang kebijakan perumahan semestinya bertanggungjawab terhadap Great Crisis. Keterlibatan Fannie Mae dan Freddie Mac dianggap menyebabkan moral hazard (perilaku yang beresiko karena memberikan kemudahan kredit yang tidak semestinya) dan adverse selection (pemilihan debitor yang tidak hati-hati). Asuransi deposit pemerintah dan doktrin ‘to big too fail’ juga punya andil munculnya berbagai aturan dan keputusan yang memudahkan kredit beresiko ini. Mereka sependapat terhadap anggapan bahwa bila pemerintah sudah memberikan toleransi terhadap kegagalan bank-bank besar, maka kemandirian pasar akan tidak terganggu, bank akan lebih berhati-hati dan krisis tidak akan terjadi. Bukti menunjukkan bahwa pemerintah AS memang melakukan intervensi terhadap pasar perumahan sehingga keluarga berpenghasilan rendah mampu untuk memilikinya. Jasa keuangan Fannie Mae dan Freddie Mac muncul sebagai ‘jembatan’ untuk mendanai kredit perumahan non-tradisional (non-traditional morgages). Non-tradisional ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kredit perumahan yang semakin mudah untuk diperoleh dengan banyak mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam memilih debitor, bahkan bila perlu tanpa uang muka. Dan memang runtuhlah sistem finansial AS. (Skema bisnis subprime morgages yang menyebabkan krisis finansial global ini bisa dilihat di www.youtube.com ).

Inequality

Apakah semakin tingginya kesenjangan ekonomi dapat menyebabkan krisis finansial?

Raghuram Rajan dalam bukunya ‘ Fault Lines‘ menulis bahwa pendapatan yang tak bertambah baik setelah bertahun-tahun bekerja, akan menyebabkan frustrasi massa, apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian kecil (1%?) justru semakin kaya. Hutang akhirnya menjadi solusi dan tindakan ini justru disambut oleh munculnya jasa finansial yang memberi ‘bantuan’ berupa kredit dengan berbagai kemudahan mendapatkannya tanpa kehati-hatian dan ‘didukung’ oleh kebijakan dan pengawasan pemerintah yang sangat longgar. Krisis mulai muncul bila hutang tak terbayarkan dan jelas disini bahwa inequality punya andil besar terjadinya Great Crisis.

Galbraith menuangkan idenya tentang kegagalan sistem ekonomi AS ini didahului dengan Pendahuluan, kemudian tiga bab utama, berturut-turut yaitu tentang optimisme pertumbuhan berkelanjutan, berbagai hal penyebab gagalnya pertumbuhan ekonomi dan pesimisme terhadap kembalinya situasi Normal; dan terakhir adalah Penutup, tentang runtuhnya ekonomi Uni Soviet.

Bagian 1: Masa Optimisme Pertumbuhan Berkelanjutan

Untuk mengerti sepenuhnya mengapa Great Crisis ini terjadi, perlu mempelajari sejarah ekonominya. Doktrin ekonomi AS diturunkan dari perkembangan prinsip-prinsip ekonomi sejak selesainya PDII dilanjutkan dengan Perang Dingin dan  kemudian muncul dari Cambridge, Massachusetts, dan Chicago, Illinois.

Prinsip utama yang dianut para ekonom tersebut adalah Pertumbuhan Ekonomi (Growth), yang dipercaya sebagai solusi semua masalah ekonomi, khususnya untuk masalah kemiskinan dan pengangguran. Sehingga, tugas utama pemerintah selanjutnya adalah merealisasikan pertumbuhan, yang dalam jangka panjang akan bergantung pada tiga faktor utama, yaitu pertumbuhan penduduk, perubahan teknologi dan tabungan (saving). Mengingat bahwa populasi dan teknologi adalah faktor eksternal, maka desain model pertumbuhan hanya diarahkan untuk menyelesaikan satu variabel saja, yaitu suku bunga tabungan (dan investasi).

Berdasarkan relasi antara Waktu terhadap Tabungan dan Investasi di atas, Walt W. Rostow dalam konsepnya  Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi (Stages of Economic Growth), menyatakan bahwa setiap bangsa, setelah melewati tahap tradisional, akan mampu mencapai tahap terakhir, yaitu masyarakat konsumsi tinggi. Pada tahap tertinggi tersebut, kapitalisme sudah bisa ‘ditaklukkan’ oleh demokrasi sosial dan negara kesejahteraan, bahkan mampu mencapai semua yang dicita-citakan oleh  komunisme. Namun, konsep tersebut sebenarnya hanya memperdulikan dua variabel utama yaitu Kapital dan Buruh, tanpa memperhitungkan Sumber Daya Alam sebagai bahan mentah yang diolah untuk menjadi hasil produksi. Simon Kuznets menawarkan analisis yang lebih realistis berdasarkan sejarah perkembangan industri di  AS dan Inggris, bahwa kesenjangan (inequality) akan meningkat pada masa transisi dari pertanian ke tahap industri, namun kemudian akan turun lagi dengan tumbuhnya kekuatan kelas pekerja dan kelas menengah serta negara kesejahteraan demokrasi sosial.

Ekonomi Baru (the New Economics), – pasca perang ( postwar) dan pasca Keynes -, menegaskan ulang bahwa pemerintah bertanggunggjawab untuk mengurangi tingkat pengangguran sampai pada tingkat yang moderat (full employment), yaitu semua lapangan kerja dapat terisi penuh oleh para pencari kerja (angkatan kerja). Ide-ide Keynes sudah banyak diaplikasikan pada era New Deal dan PD2. Era Depression telah membuktikan bahwa kurangnya pengelolaan (management) ekonomi yang baik sangat tidak bisa ditoleransi.
Pada jaman pemerintahan John F. Kennedy (1960), untuk pertama kalinya dinyatakan bahwa ekonomi adalah sistem kelola. Untuk itu, pemerintah perlu menempatkan para pimpinan yang bertanggungjawab dengan target kinerja utama adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi.  Paul Samuelson dan Robert Solow sebagai penasihat ekonomi presiden Kennedy, ditahun 1960 mulai memperkenalkan  ‘kurva Philips’ untuk menunjukkan pillihan putusan yang harus diambil, dimana penambahan tenaga kerja akan berakibat pada kenaikan inflasi. Namun, seringkali kondisi eksternal dapat merubah semuanya. Perang Vietnam, juga kondisi Jepang dan Eropa yang mulai rekonstruksi, serta AS yang tidak lagi dalam kondisi surplus perdagangan dunia dan juga tidak lagi dominan dalam hal manufaktur, membuat para peneliti berkesimpulan bahwa Model Pertumbuhan Tetap (the stady-state growth) adalah mitos, karena masalah ekonomi tetap tak terselesaikan.

Masa resesi 70an

Pada tahun 1980an muncul suatu pendapat ekonomi yang sangat dominan yaitu bahwa untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi mensyaratkan pemerintah untuk tidak terlibat. Dua hal yang mengganggu kebijakan ini adalah produksi minyak domestik AS telah mencapai puncaknya dan Resesi Ekonomi 1970.

Sumber Daya Alam, bahan bakar fosil, dan Perubahan Iklim yang selama tahun 1970an tidak dianggap sebagai variabel Perumbuhan Ekonomi ternyata menjadi faktor penting terjadinya Great Financial Crisis. Saat itu AS sedang dalam situasi perang Vietnam dan minyak hanya dianggap sebagai komiditi biasa saja. Dalam sistem akutansi nasional, minyak bukanlah bagian dominan dalam aktifitas ekonomi, walaupun sulit menemukan bahwa suatu aktifitas ekonomi yang tidak melibatkan kebutuhan akan minyak. Tercapainya puncak produksi minyak domestik tidak berarti AS akan mengalami krisis minyak, melainkan setengah dari cadangan minyak AS yang dapat diproduksi secara konvensional telah habis dan tersisa cadangan inkonvensional (di Alaska, Teluk Mexico, Laut dalam, Shale oil dll.) yang hanya bisa diproduksi dengan biaya yang jauh lebih mahal.

Dengan menurunnya produksi minyak konvensional nasional maka kebutuhan AS akan minyak dipasok dari luar negeri, dimana harga minyak tidak lagi ditentukan oleh otoritas pemerintah AS, melainkan harus dibayar dengan harga yang ditentukan oleh pihak lain, dan uang mulai mengalir keluar. Dan kesulitan ekonomi semakin terasa ketika terjadi lonjakan harga minyak dunia. Posisi pertumbuhan ekonomi gobal telah bergeser ke negara-negara penghasil minyak (khususnya Amerika Latin), yang bermaksud untuk meminjam uang dari bank-bank komersial.

Resesi ekonomi 1970 tidak sepenuhnya berhubungan dengan tercapainya puncak produksi minyak AS tapi lebih karena kebijakan kontraksi ekonomi akibat perang Vietnam. Bunga bank dinaikkan untuk maksud memerangi inflasi, namun produksi menjadi turun dan pengangguran meningkat.

Ini semua mengingatkan untuk mempertimbangkan lagi tentang perlu-tidaknya konsep pertumbuhan berkelanjutan. Mungkin saja bahwa gejala kekacauan ekonomi 1970an bukanlah hanya jeda sejenak karena adanya goncangan,  pengelolaan ekonomi yang buruk dan kesalahan-kesalahan kebijakan, tetapi sebaliknya, dalam hal tertentu, ini merupakan pertanda bahwa kesulitan ekonomi dunia yang akan kita hadapi bukanlah hal yang mudah untuk dihindari.

Delusi

Bernanke sebagai Gubernur Bank Central secara resmi menyatakan bahwa dirinya dan para ekonom tidak dapat menduga akan terjadinya krisis finansial 2008, karena ini adalah bencana ekonomi yang disebabkan oleh gangguan dari luar sistem, atau peristiwa diluar bidang teori ekonomi (beyond the scope of the theory). Ketika 2008 krisis finansial mulai melanda AS, pernyataan umum “tidak satupun ekonom dapat mengetahui sebelumnya” menyebar ke Washington dan para banker New York dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Sehingga, bila anda adalah ekonom yang mampu memprediksi krisis ini, maka anda dengan sendirinya dianggap bukan bagian dari kelompok ekonom arus utama dan tak layak untuk dipertimbangkan.

Berbeda tapi tetap sama

Paul Krugman membagi kelompok ekonom menjadi dua group besar, yaitu saltwater atau New Classicals dan freshwater atau New Keynesians, meskipun masing-masing tidak dapat dianggap sepenuhnya sebagai Classical atau Keynesian. Yang pertama lebih ke mahzab akademis Chicago school dan MIT school, sedangkan yang lain ke arah Harvard, Yale, Priceton, Berkeley dan Standford. Masing-masing turu nan dari pemikiran yang berbeda, yaitu Milton Friedman dan Paul Samuelson.

Dengan sinis Krugman berpendapat bahwa perbedaan ini hanyalah karena keinginan masing-masing kelompok ekonom untuk menguasai semua bidang kajian ekonomi, berdasarkan pendekatan intelektual, supaya dapat kesempatan untuk memamerkan kecanggihan matematika mereka.

Para ekonom menggunakan matematika sebagai alat kecantikan untuk menunjukkan betapa sempurnanya sistem pasar (kapitalisme), bukan untuk mengklarifikasi kebenaran sistem, tapi untuk mengintimidasi berdasar ‘keindahan’ matematika (bukan kebenaran). Sebaliknya, Prof. Ricardo J. Caballero dari MIT menyatakan bahwa model matematika ini dibuat sebagai representasi kondisi ekonomi dunia, dinamakan model ‘dynamic stochastic general equilibrium approach‘. Namun Krugman tetap menganggapnya sebagai model yang tidak ‘membumi’, jauh dari kenyataan karena banyak penyerdehanaan asumsi dalam penentuan parameternya.

Sementara para penganut teori pertumbuhan neoklasik meyakini keseimbangan berkelanjutan sebagai dasar pijakan, mashab Marxian justru menganggap kapitalisme tidaklah stabil dan krisis sudah pasti tak terhindarkan. Galbraith menganggap bahwa teori Marx mempunyai ‘insting’ yang lebih bagus daripada mashab arus utama, bahwa kapitalisme tidak stabil.

Kelompok Pinggiran

Munculnya krisis finansial ini sebenarnya tidak bisa diduga oleh kelompok saltwater  dan freshwater, bahkan juga oleh  Marx-water, tapi ternyata ada yang bisa memprediksinya, backwater. Mereka bukan kelompok ekonom profesional yang terkenal, namun sudah melakukan kajian tentang kelemahan dan instabilitas ilmu ekonomi yang ada. Hasil kajiannya hanya muncul di journal-journal sekunder atau blog belaka. Kelompok pinggiran (backwater) ini seringkali dianggap “bukan” ahli ekonomi oleh para ekonom arus utama hanya karena pemikiran yang berbeda dengan konsep mereka.

Dean Baker dari the Center for Economic and Policy Research, Washington, di tahun 2002 sudah memprediksi akan terjadinya “housing bubble” ketika para ekonom akedemisi masih belum menduganya. Mencegah terjadinya bubbles membutuhkan metoda untuk mendeteksi perubahannya. Indikator-indikator harga saham (spot) yang dipergunakan biasanya dalam bentuk perbandingan dari dua pengukuran variabel yang berbeda, yang mengalami perubahan secara tajam dari keadaan normal (biasanya), pada waktu tertentu. Misalnya indikator rasio price/earning (P/E) pada krisis 1990an atau rasio price/rental dalam pasar perumahan pada krisis 2008.

Bagian 2: Akhir Pertumbuhan

Efek Jerat

Pada komoditi buah-buahan, bila terjadi kelangkaan apel, sebagai contoh, yang berakibat harga membubung naik, konsumer akan beralih ke buah lainnya yang masih terjangkau harganya. Kelangkaan  sumber daya alam minyak, tidak akan mengakibatkan harga melambung semakin tinggi tanpa batas, melainkan akan terjadi siklus perubahan harga minyak dan aktifitas ekonominya. Harga minyak akan terus naik yang dipicu oleh spekulasi, hingga kebutuhan konsumer berhenti. Harga akan kembali turun hingga konsumer mulai tumbuh lagi. Namun, begitu kebutuhan konsumer mulai tumbuh, maka harga juga mulai naik lagi. Siklus ini membuat rasa tidak aman pada siapapun, baik produsen maupun konsumen karena ketidakpastian harga. Kegelisahan ini berakibat lanjut pada keraguan untuk melakukan investasi (misal pembangunan kilang) karena tidak yakin bahwa harga minyak yang tinggi tersebut akan berlangsung lama. Dan memang kelangkaan minyak akan cenderung lama hingga teknologi baru yang lebih ekonomis bisa diaplikasikan untuk dapat memproduksi unconventional oil (shale oil dan tar sands). Siklus inilah yang disebut Efek Jerat (the Choke-Chain Effect).

Fenomena bahwa minyak bisa menjadi penyebab krisis terlihat pada tahun 1970an ketika inflasi mulai muncul dan kemudian turun lagi  pada tahun 1980an dan 1990an. Namun Galbraith tidak juga menemukan kajian ekonomi bahwa minyak bisa menjadi faktor utama penyebab terjadinya krisis finansial, karena sepertinya memang dianggap tidak penting oleh para ekonom pemangku kebijakan.

Era Digital

Dalam bukunya ‘Capitalism, Socialism and Democracy’, Joseph Schumpeter berpendapat bahwa hanya dengan menghancurkan pasar lama, maka akan muncul daya beli baru untuk menghasilkan keuntungan pada pasar yang baru. Struktur, perusahaan, pasar dan pekerjaan yang lama harus dihancurkan bila yang baru telah muncul, walaupun tidak ada jaminan bahwa proses yang baru akan menggunakan lagi tenagakerja yang lama. Demikian juga, tidak ada jaminan bahwa tumbuhnya daya beli dan standar hidup, dengan adanya revolusi teknologi, akan segera datang pada saat tahap kehancuran yang lama terjadi. Teknologi akan menjungkir-balikkan tatanan kehidupan ekonomi, mengurangi pabrik-pabrik besar dan seluruh sistem produksi hingga terjadinya pengangguran massal.

Teknologi bagai pisau bermata dua, di satu sisi akan meningkatkan standar hidup karena turunnya biaya pembuatan, pemrosesan, distribusi dan komunikasi yang berhubungan dengan rendahnya jam kerja; namun juga bisa menjadi penyebab pengangguran massal. Produk-produk digital di sekitar kita ini telah memakan biaya jutaan pekerjaan. Berapa persisnya hilangnya pekerjaan tersebut tidak bisa dibedakan penyebabnya, antara munculnya teknologi baru atau karena siklus bisnis yang sedang mengalami kemerosotan. Teori ekonomi ‘real business cycle’ mengatakan bahwa kondisi bisnis yang lesu akan selalu diikuti dengan penguatan kembali. Implikasi dari teori ini adalah bahwa lapangan kerja akan kembali muncul dengan pulihnya siklus bisnis, ternyata tidak. Kondisi ini terjadi karena kembali pulihnya ekonomi akan dibarengi dengan munculnya desain operasi yang berteknologi baru, yang membutuhkan sedikit tenagakerja.

Mahzab Keynes (Keynesians) berpendapat bahwa krisis finansial adalah dipicu oleh turunnya permintaan, sehingga dibutuhkan belanja lebih banyak untuk menciptakan lapangan kerja. Para ekonom terbelah menjadi dua, yaitu yang berprinsip pada kesabaran untuk menunggu kondisi membaik dengan sendirinya dan yang berharap pada diturunkannya ‘stimulus’ sehingga pasar kembali bergairah (the jobs will follow the money).

Galbraith meragukan kedua argumen tersebut. Pertama, teknologi baru tidak dimaksudkan secara langsung untuk meningkatkan standar hidup, melainkan untuk mengurangi berbagai biaya dan menarik konsumer dari pengguna produk teknologi lama. Kedua, lapangan kerja tidak bisa hanya dipicu oleh gelontoran uang karena meskipun banyak uang, hutang yang telah dilakukan sejak masa krisis tetap akan dilakukan, teknologi baru tetap akan menciptakan pengangguran dan tanpa prospek bisnis yang bagus, bank tidak akan tergerak untuk memberikan kredit.

Bagian 3: Tidak ada lagi Normal

Salah prediksi

Krisis Finansial (the Great Financial Crisis) mulai muncul di publik pada bulan Agustus 2007, ketika pasar pinjaman antar bank tiba-tiba mengalami kesulitan dan berlanjut terus hingga Maret 2008 ketika Bear Stearns mengalami kegagalan penjualan. Panik segera muncul ketika kebangkrutan terjadi pada Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG dan Freddie Mac di Sepetember 2008.

Ketika panik mulai mereda, muncullah kenyataan bahwa:

  1. Tidak ada atau sulit sekali mendapatkan pinjaman bank
  2. Nilai rumah meluncur turun, sehinggà sulit untuk dijadikan agunan
  3. Ketakutan mulai muncul. Penghematan, tabungan, pengangguran meningkat.

Menghadapi persoalan di atas, Galbraith mengkritisi para pakar ekonomi yang seharusnya bertanggungjawab untuk melakukan kajian ulang terhadap segala model ekonominya yang ternyata rapuh.

Pada akhirnya, bukanlah karena kembalinya peran sektor swasta atau perbankan yang menyelamatkan AS dari Great Depression 2009, dan juga bukan hanya karena program stimulus. Namun, ini semata hanya karena campur-tangan pemerintah untuk mengatasi Great Depression dan the New Deal, seperti Jaminan Sosial, Jaminan Kesehatan, Jaminan Pengobatan, Asuransi Pengangguran, Bantuan Makanan dan struktur progresif pada Pajak Pendapatan sehingga mampu mengalihkan kesulitan hilangnya pendapatan rumah tangga menjadi beban pemerintah.

Krisis Eropa

Secara ringkas, Galbraith menyatakan bahwa hanya ada satu krisis di Eropa dan AS, yaitu krisis finansial dan pertumbuhan global yang saling berhubungan, yang melibatkan berbagai institusi di AS dan Eropa sehingga krisis di Eropa semakin berat. Pada akhirnya, kedua wilayah tersebut memang menghadapi hambatan yang semakin berat untuk mengatasi krisis sepenuhnya dan kembali tumbuh dengan cepat. Krisis tersebut masih berlangsung, belun teratasi dan tanpa kepastian solusi. Apa yang mesri dilakukan?

Strategi Slow-Growth

Sedikitnya ada empat hambatan besar untuk mencapai pertumbuhan tinggi dan pemenuhan tenagakerja, yaitu:

  1. Pasar energi masih berbiaya tinggi dan tidak menentu (fluktuatif). Dan harga energi sangat menentukan semua harga sumberdaya lainnya, termasuk pangan
  2. Ekonomi dunia tidak lagi berada dibawah kontrol finansial dan militer AS dan sekutunya
  3. Berada dalam era perubahan radikal menuju industri berbasis teknologi hemat tenagakerja
  4. Sektor finansial swasta bukan lagi sebagai motor penggerak pertumbuhan

Secara ringkas bisa disimpulkan bahwa ketersediaan kebutuhan pemerintah belum dapat terpenuhi, dan pemenuhan kebutuhan swasta melalui skema kredit juga belum terjadi. Kalaupun tersedia, maka harga pasar dan tenagakerja akan menjerat leher. Gejala seperti ini memancing Galbraith untuk berwacana ‘mengapa tidak menjalani hidup dalam situasi ‘slow-growth’ atau bahkan ‘no-growth’ saja ?’.

Gagasan ini didasari kenyataan bahwa strategi ekonomi ‘high-growth’ adalah investasi padat modal, substitusi tenagakerja dengan modal dan energi; dan cenderung meningkatkan jurang perbedaan dalam sistem ‘the winner take all’ seperti ini. Sistem ‘slow-growth’ bukan berarti sistem yang sama (high-growth) dengan pergerakan yang lambat, bila demikian adanya maka akan menjadi tidak stabil dan gagal. Model ‘slow-growth’ akan merubah kapitalisme secara kualitatif menjadi lebih baik, berdasarkan desentralisasi ekonomi yang berbiaya tetap (fixed cost) rendah, relatif lebih tinggi dalam mendayagunakan tenagakerja dibanding penggunaan mekanisasi dan sumber daya lainnya dan relatif rendah ROR; namun saling menguntungkan dilihat dari sisi tenagakerja dan perlindungan sosial.

Epilog

Pada masa jayanya, Uni Soviet adalah negara adidaya, sama halnya seperti Eropa modern atau AS dalam banyak hal. Pada tahun 1980an Uni Soviet adalah penghasil terbesar dunia untuk baja, nikel, gandum, kapas dan gas alam. Mempunyai industri penerbangan, program luar angkasa dan industri nuklir. Secara fisik, sistem ekonomi Soviet sama seperti negara lainnya: industri ekstraksi sumber daya alam untuk dikonversi menjadi produk yang berguna, meninggalkan banyak sampah (waste) dan produk gagal lainnya. Merupakan ekonomi yang mampu memenuhi kebutuhan tenagakerja (full employment), namun lemah dalam memberikan insentif untuk karyawannya. Ekonomi Soviet juga sangat terintegrasi, terkontrol, tanpa kompetisi, teknologi lama, dan rentan terhadap efek transportasi dan distribusi, khususnya untuk produk makanan.

Secara umum bisa dikatakan bahwa sistem ekonomi Soviet dijalankan dengan biaya tetap (fixed cost) yang sangat tinggi dan efisiensi yang sangat rendah, untuk memproduksi semua barang, tak perduli apakah hasil produksi tersebut diinginkan oleh konsumer atau tidak, atau sampai ke konsumer atau tidak.

Saat runtuhnya Soviet pada tahun 1990, produksi di sektor industri memgalami kemerosotan hingga 40%. Pabrik tutup, pekerja tak terbayar, sistem jaminan kesehatan dan pendidikan terhenti dan demikian juga dengan investasi perumahan dan infrastruktur. Standar hidup menurun dan kematian karena kekerasan dan miras meningkat. Usia harapan hidup laki-laki menurun dari 72 menjadi 58 tahun. Siapapun berusaha menyelamatkan kekayaannya ke luar negeri. Pemerintah sudah tidak mampu lagi menarik pajak dan berujung pada hutang internal maupun eksternal, hingga berakhir pada hutang yang tak mampu lagi terbayarkan di tahun 1998. Pada titik tersebut, nilai mata uang Rubbel runtuh, dan lengkaplah kehancuran Orde Lama.

AS sebagai bangsa yang sudah maju, juga merupakan negara dengan sistem ekonomi berbiaya tinggi. Membayar biaya tetap (fixed cost) yang mahal untuk pertahanan, pendidikan, kesehatan, transportasi dan juga untuk berbagai jasa publik, termasuk keselamatan dan perlindungan lingkungan. Pernah mengalami kenyamanan energi murah dan sumber daya alam yang melimpah, namun sekarang mulai harus mencari minyak bumi hingga laut dalam Teluk Mexico, Alaska dan fracking shale gas berbiaya mahal.

Sumber daya energi didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan besar di AS dan banyak sektor industri canggih mereka seperti microchip, penerbangan dan sistem komputer didominasi oleh monopoli. Bila sampai terjadi kegagalan bisnis karena kinerja yang buruk, maka ekonomi AS bisa sangat terancam dengan cepat. Apa yang sudah terjadi di Uni Soviet, bisa juga terjadi di AS, bahkan mungkin saja kemerosotan itu sedang terjadi bila saja AS tidak dapat memanfaatkan boom gas alam dan keuntungan sebagai pusat finansial global. Alih-alih mendapat keuntungan, AS bisa jadi seperti nasib negara industri besar lainnya yang berteknologi lawas, rentan dan berbiaya tinggi hingga mudah runtuh.

Galbraith berkesimpulan bahwa memahami apa yang sedang atau mungkin saja terjadi pada ekonomi AS adalah langkah awal untuk melakukan perubahan. Namun sayangnya ini bukan menjadi perhatian utama para ekonom tersebut.

Belum ada suatu penjelasan ‘gamblang’ berdasar prisip-prinsip ekonomi, yang mampu memprediksi runtuhnya ekonomi Uni Soviet saat itu. Dan dua dekade kemudian, terjadi hal yang sama dengan munculnya krisis finansial global. Mungkin, masalah utama terletak pada prinsip-prinsip ekonomi itu sendiri atau kesalahan pada cara memahaminya.

Rujukan:

  1. The End of Normal, James K. Galbraith, 2014
  2. Book Review: ‘The End Of Normal’, James K. Galbraith
  3. How did economists get it so wrong?
  4. The high cost of gambling on oil

Kritik

Buku yang sangat memperkaya pengetahuan penulis dalam bidang ekonomi makro dan jasa keuangan AS khususnya. Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang praktek ekonomi berbagai mazhab ekonomi utama dunia. Perlu berulang kali penulis membacanya untuk mengerti betul maksud penulis buku ini. Sangat direkomendasikan bagi kawan yang ingin mengerti tentang krisis ekonomi dunia 2008.

Read Full Post »

The SecretaryPenulis: Kim Ghattas

Sub-judul: A jorney with Hillary Clinton from Beirut to the Heart of American power

Tebal buku: 368 halaman

Penerbit: Times Books

Tahun: 2013

Kim Ghattas, jurnalis perempuan berkebangsaan Libanon, bekerja sebagai koresponden BBC untuk wilayah Timur Tengah dan berkantor di Beirut. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Libanon, kemudian mendapatkan tugas dari BBC pada tahun 2008 ke Wahington DC, menjadi bagian dalam kelompok kecil wartawan yang dikenal sebagai “The Travelling Press Corps” untuk meliput dari dekat kegiatan menteri Luar Negeri Hillary Clinton di Washington DC dan saat berkunjung ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dalam satu pesawat Boeing 757 yang sama. AS menyediakan empat pesawat Boeing 757 bagi Distinguished Visitors (DVs), yaitu Wakil Presiden, Kementrian Luar Negeri, Pertahanan dan anggota Kongres, untuk keperluan kunjungan ke negara lain.

Ghattas mencoba menjelaskan kedigdayaan AS melalui berbagai kutipan kecil wawancara dan dialognya dengan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri, para staf menteri Luar Negeri, dan beberapa pejabat AS dan luar negeri, ketika Hillary mengunjungi negara yang bersangkutan. Menurutnya, AS sedang menyandang beban berat untuk menyelesaikan masalah nasional atau masalah2 dunia yg berkaitan dengan kepentingan nasionalnya. Ghattas dengan jelas menyatakan kekagumannya terhadap personalitas, ethos kerja, penguasaan masalah dan sikap politik Hillary, yang fokus untuk mengkampanyekan hak perempuan dan anak-anak ke seluruh dunia. Dunia tidak akan menjadi tempat yang lebih baik bila setengah populasi dunia masih merasa tersingkirkan.

Buku ini bukan biografi Hillary, walaupun terdapat sedikit kutipan dialog dan ‘life style’ Hillary di dalamnya; melainkan tentang pandangan mata dan opini Ghattas terhadap AS dan sikap Hillary dalam menerjemahkan kebijakan luar negeri Obama. Seringkali sikap Hillary dianggap Washington terlalu mendahului atau tidak sesuai dengan Washington, khususnya tentang masalah Timur Tengah, dimana Hillary cenderung menunjukkan simpati dan dukungan yang ‘berlebihan’ terhadap Palestina.

Berikut ini adalah beberapa catatan Ghattas tentang kunjungan Hillary di berbagai belahan dunia.

Jepang

Sambutan hangat masyarakat Jepang, raja Akihito beserta istri, Michiko dan Perdana Mentri Taro Aso diberikan sejak kedatangannya di bandara Haneda, Tokyo. Akihito beserta istri pernah berkunjung ke Gedung Putih pada pemerintahan Bill Clinton 1994. Pertemuan bisnis dan politik dilakukan Clinton saat kunjungan tersebut. Masyarakat Jepang mulai merasa terganggu dengan keberadaan 10 pangkalan militer AS di Jepang, yang sudah ada sejak 60 tahun yll. Khususnya masyarakat pulau Okinawa yang gerah karena pangkalan militer berada di pusat kota, juga setelah terjadinya pemerkosaan gadis 12 tahun oleh 3 tentara AS tahun 1995.

Indonesia

Indonesia yang disebutnya sebagai negara muslim terbesar dunia dan negara demokrasi terbesar ke-3 dunia, sempat dibahas dua kali dalam buku ini. Pertama, tentang masuknya Indonesia dalam rangkaian kunjungan pertama menlu AS Hillary Clinton ke Asia (Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok). Clinton disambut dengan demo anti-AS di depan istana. Di tahun 2000, 75% penduduk Indonesia mempunyai pandangan positif terhadap AS, namun setelah kasus “11 September”, melorot menjadi hanya 29%. Ghatta menafsirkan bahwa ini disebabkan kebijakan politik luar negeri Bush “war on terror’ serta invasinya ke Afghanistan dan Iraq memberi kesan memusuhi negara-negara Islam di dunia. Namun seperti halnya negara-negara lain, Indonesia punya harapan hubungan bilateral yang lebih baik kepada Obama, ketika terpilih sebagai Presiden AS, yang pernah tinggal serta sekolah selama empat tahun di Indonesia, demikian juga sebaliknya. Hillary juga sempat berkunjung ke sekretariat ASEAN di Jakarta dan mendapat sambutan positif dari Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, karena pada pemerintahan AS sebelumnya, Bush telah ‘absen’ secara politik di wilayah Asean. ASEAN telah lama berharap kepada AS untuk menandatangani bersama suatu kesepakatan ‘hubungan baik’, Treaty of Amity and Cooperation (TAC) sebagai langkah awal supaya AS bisa menjadi bagian dalam East Asia Summit (EAS). Clinton menyatakan bahwa AS bukan hanya merupakan kekuatan di trans Atlantik tapi juga di trans Pasifik, untuk itu AS pasti akan menandatanginya. Kedua, tentang masukan Indonesia bahwa Myanmar berminat untuk membuka diri secara politik terhadap pergaulan dunia.

Korea

Sambutan hangat diberikan kepada Hillary, saat berkunjung ke Ewha Womans university, yang didirikan pada 1886 oleh misionaris Amerika dan sebagai ‘sister college’ dari Wellesly college tempat Hillary pernah menuntut ilmu. Hillary memulai pidatonya dengan menvatakan bahwa hak-hak perempuan bukanlah sekedar isu moral, melainkan isu keamanan (security issue). “Tak ada demokrasi tanpa partisipasi penuh perempuan dan tak akan ada ekonomi pasar bebas tanpa keterlibatan peremluan”. Banyak pertanyaan personal diajukan oleh para hadirin terhadap Hillary dan semua dijawabnya secara ringan, terbuka dan akrab. Ini salah satu kepiawaian Hillary dalam membina hubungan dengan masyarakat di berbagai negara yang dikunjunginya, termasuk juga dengan para wartawan.

Tiongkok

Krisis ekonomi hlobal telah menghantam AS dan dunia. Tiongkok telah memiliki Surat Berharga AS (treasury bill) sebesar lebih dari $1 trilyun dan pertumbuhan ekonominya melebiui 8% per tahun (buku ini dicetak 2013). Tahun 2008, pemerintahan AS mencatat bahwa Tiongkok masuk dalam urutan terringgi dalam hal pelanggaran HAM, bahkan Hillary sendiri pada saat itu mendesak Bush utk tidak menghadiri pembukaan Olimpiade Beijing. Mengingat hal tsb di atas, Hillary berbagi ingormasi kpd para jurnalis di pesawat dalam penerbangan menuju Yiongkok bahwa HAM hanya menjadi bagian kecil dari agenda pembicaraan bilateral, atau bukan fokus pembicaraan. Bidang ekonmi akan menjadi fokus pembicaraan. Hillary faham betul mengenai agenda pembicaraan AS-Tiongkok tersebut karena Tiongkok mempungai banyak kelemahan di bidang HAM seperti, kasus tutuntutan kemerdekaan budaya atau otonomi Tibet dan pengakuan terhadap eksistensi Dalai Lama. Ko gres AS dan LSM mulsi mempertanyaman dikap pemerintahan Obsma yg mulao melemah thd isu HAM Tiongkok ini. Bahkan berita utama di halaman depan berbagai media cetak di AS dan Eropa banyak menyoroti sikap politik Obama yang cenderung melemah terhadap praktek Hak Azasi Manusia di Tiongkok.

Hillary gemas thd pemerintah yg dianggapnya tidak peduli thd masukannya ttg HAM ini. Tentang HAM ini, akan melakukan dengan caranya sendiri, yaitu bekerjadama dg organisasi2 ajar rumput, dengan menggunakan kekuatan internet atau apapun untuk melewati kelambanan sikap pemerintah. Konsejwensi dari cara Hillary yang cepat dalam memberikan tanggaoan atau pernyataan ke publik yang tidak lagi harus disiapkan seutuhnya dalam lembaran pidato, melainkan melalui nedia sosial, tv kabel, internet, seringkali harus ‘berhadapan’ dg pemerintah katena komentar2nya dianggap tidak sesuai dengan sikap resmi pemeritah.

Hillary pernah membuat jengah pemerintah RRT di tahun 1995 dalam forum PBB di Beijing. Saat itu Hillary, sebagai First Lady dan penggiat HAM, mengucapkan “human’s right are women’s right and women’s right are human rights”. Pemerintah Tipngkok langsung memblokade rekaman tv di ruang konfrensi dan satu2nya acuan untuk pidato Hillary secara resmi adalah People’s Daily, hanya satu kalimat “American Mrs. Clinton made a speech”.

Ghattas menggambarkan tempat pertemuan sebagai ruang besar dengan banyak lampu kristal bergantungan. Dua deret meja panjang berjajar berjarak 1,5 m, dipisahkan dengan tiga pot bunga di tengahnya dan berderet kursi di salah satu sisinya, berhadapan. Suatu susunan ruang rapat yang diluar kebiasaan.

Ekonomi, Perubahan Iklim dan Korea Utara adalah agenda utama pembicaraan, yang disampaikan oleh pihak Tiongkok dalam pertemuan pertama dengan Hillary, sebagai Menlu AS. Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Tiongkok sempat menyebutkan ‘one-China Priciple’ dalam pembicaraan tersebut yang berarti hanya ada satu Tiongkok, tidak ada Taiwan. Hillary menanggapinya dengan mengatakan bahwa sikap AS tetap tidak berubah selama 30 tahun bersahabat dengan Tiongkok. AS tidak mendukung kemerdekaan Taiwan, namun juga tidak mengakui otoritas Tiongkok terhadap kepulauan tersebut.

Keseimbangan kekuatan antara AS – Tiongkok secara perlahan mulai bergeser beberapa tahun ini, dan semakin cepat pada masa awal pemerintahan Obama. Ketika ekonomi AS mulai lambat bergerak dan finansial dunia juga dalam situasi menyusut, justru Tiongkok mulai terlihat tumbuh berbudaya dan semakin kaya. Oliampiade Beijing menunjukkan hal tersebut.

Iraq

Total biaya perang AS di Iraq adalah $800 Milyar selama 8 tahun atau sekitar $3000/detik. Bila digabung dengan biaya di Afganistan bisa mencapai $1T. Invasi AS ke Iraq memang berhasil meruntuhkan kekuasaan otoriter Sadham Hussein tetapi juga telah mmbunuh lebih dari 100.000 rakyat Iraq. Dan senjata pemusnah massal sebagai alasan utama invasi AS Maret 2003, ternyata juga tidak pernah terbukti. Ini semua adalah beban politik dan ekonomi AS yang harus diatasi oleh Obama dan Hillary sebagai representasi politik luar negerinya.

Ghattas berpendapat bahwa pada awalnya adalah ketakutan bangsa Iraq atas kediktatoran Sadham Hussein yang menyebar teror kepada bangsanya selama 20 tahun. Pemerintahan Sunni yang menghancurkan Shiah. Namun anehnya, Sadham tidak juga melindungi Sunni yang telah mendukungnya. Shiah yang pada awalnya merasa terancam di negerinya, berharap AS dapat menyelamatkannya, justru mulai berbalik mengecam AS sebagai penjajah yang sangat berkuasa dan bermaksud menghancurkan Iraq. Dan akhirnya, mereka juga yang kemudian berharap AS segera meninggalkan Iraq namun lebih dulu harus meningkatkan kondisi kehidupan bangsanya. Obama memang sangat ingin segera menarik kekuatannya dari Iraq.

Menurutnya, Hillary menyangga beban politik berat untuk menjawab pertanyaan2 bernuansa fatalis dimana suatu bangsa sudah terbiasa diperintah dan tak berhak ‘berpikir’ dimasa Sadham Hussein dan harus dijawab oleh pihak lain, yaitu bahwa AS adalah penjajah dan harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya. Intinya adalah Iraq tidak siap dengan jatuhnya Sadham Hussein. Di sisi lain, ada suatu pendapat bahwa AS sebagai kekuatan hegemonik memang sedang berminat terhadap kekayaan Iraq tanpa merasa berkewajiban membayarnya. Dua hal resebut adalah pendapat yang sangat mengemuka di Iraq dan negara-negara Timur Tengah.

Libanon

Tahun 1983, bom bunuh diri telah menghancurkan barak militer AS di Libanon dan membunuh 241 marinir. Hezbollah sebgai sayap militan Shiah diduga sebagai pelakunya. Israel menguasai wilayah selatan Libanon 1978, dan Hezbollah mengambil alihnya pada tahun 2000, bahkan sebagai bagian dari kekuatan politik yang berkoalisi dengan Syiah dan Iran, mempunyai wakil di kabinet pemerintah Libanon. Salah satu alasan Hillary berkunjung ke Libanon adalah untuk mendapat gambaran peta politik yang jelas dalam pemerintahan Libanon, mengingat Hezbollah yang dianggap pemerintah AS sebagai teroris telah berada di dalamnya. Selain itu, juga karena rasa empati dan keinginan AS untuk mengurangi penderitaan masyarakat Libanon akibat perang sipil, yang juga dilihat Hillary dan Bill Clinton melalui berita di media.

Sejarah, kenangan dan opini Ghattas sejak masa kecil hingga kuliahnya di Beirut, Libanon banyak mewarnai isi buku ini.

Palestina-Israel

Dalam pertemuan internasional di Mesir, Hillary menjanjikan untuk memberikan bantuan finansial untuk Palestina sebesar $300 juta, setelah Israel melakukan penyerangan secara brutal di Jalur Gaza (Gaza Strip), beberapa saat setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS, dan membunuh hampir 1.400 bangsa Palestina, termasuk 300 anak-anak serta menyisakan kehancuran ekonomi.

Wartawan Arab tidak merasa begitu penting terhadap bantuan AS tersebut karena janji AS terhadap bangsa Palestina dianggap sudah terlalu sering, namun kehidupan bangsa Palestina justru semakin memburuk akibat penjajahan bangsa Israel. Pertanyaan mereka adalah “Apakah kemerdekaan negara Palestina bisa terjadi dalam tahun ini?”.

You all know that this is a very difficult and complex set of issues. You also know that l personally am very committed to this. And I know that it can be done. I believe that with all my heart. I feel passionately about this. This is something that is in my heart, not just in my portfolio“, jawab Hillary yang menyebabkan White House gelisah.

Tahun 1998, sebagai First Lady, Hillary juga pernah menyatakan dalam Youth Summit di Swiss, yang dihadiri delegasi Palestina, Israel, Yordania, Mesir dan Amerika, bahwa: “The Palestinians should have their own state“. Pernyataan yang mendahului kebijakan politik luar negeri AS ini segera mendapat tanggapan dari White House bahwa pernyataan Hillary tersebut bukanlah kebijakan resmi AS. Namun Hillary tetap bersikap keras bahkan menjanjikan bahwa pemeeintahan Obama sedang bekeeja keras unyuk mewujudkan perdamaian dan negara bagi bangsa Palestina. “I wish it could happen tommorow. I wish it could happen certainly by the end of this year. But I will not give up. We will make progress“. Suatu pernyataan yang muncul dari dalam hati dan membuat para jurnalis Arab terperangah dan berlanjut dengan tepuk tangan aplus meriah penuh harap. Hal ini tidak lepas dari program Obama sendiri yang dinyatakannya pada hari kedua menjabat sebagai presiden AS, bahwa mencari solusi terhadap konflik berkepanjangan Arab-Israel yang sudah berlangsung 60 tahun juga merupakan kebutuhan keamanan nasional AS. Pemimpin negara yang pertama kali dihubungi Obama pada tanggal 21 Januari melalui telepon setelah pelantikannya, adalah presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

Mahmud Abbas dan Ehud Olmert, Perdana Mentri Israel dari partai Kadima, telah beberapa kali melakukan pertemuan pedamaian dengan atau tanpa keterlibatan AS selama dua tahun dan menunjukkan perkembangan yang bagus. Namun kabar baik tersebut menjadi mentah kembali setelah Benjamin Netanyahu dari partai Likud menggantikan Ehud sebagai Perdana Menteri. Netanyahu adalah pihak yang geram mendengar peryataan Hillary ttg ‘kemerdekaan Palestina’ di tahun 1998.

Ketika Netanyahu berkunjung ke White House pada 18 Mei, Obama menyatakan dengan jelas bahwa pembangunan di West Bank harus dihentikan. Namun Netanyahu justru menjawab di media bahwa kebutuhan keluarga atas pembangunan gedung sekolah dan perluasan perumahan adalah hal yang wajar dan tak bisa dihentikan. Kembalinya Netanyahu membuat upaya perdamaian Israel-Palestina kembali mengalami kemunduran.

Mei 27, Hillary bertemu menlu Mesir di kementerian luar negeri AS dan membuat pernyataan di depan media bahwa: “pernyataan presiden Obama sudah sangat jelas, ketika Netanyahu di sini. Beliau menginginkan diberhentikannya pembangunan”. Pernyataan Obama yang kembali diulang oleh Hillary memberikan signal bahwa AS sedang menunjukkan ke Israel bahwa AS lah yang berkuasa, bukan Israel.

Pakistan

Kunjungan Hillary ke Pakistan direncanakan untuk menemui para pengusaha, aktifis perempuan, pimpinan adat dan wawancara oleh para jirnalis.

Sejak keberangkatan, Hillary memang sudah menyiapkan diri menjadi ‘sasaran tembak’ kekesalan warga Pakistan yang marah terhadap kebijakan luar negeri AS. Pakistan memang bukan musuh, tapi juga bukan sahabat AS. Namun AS adalah salah satu negara yang mengakui lemerdekaan Pakistan pada tahun 1947. Bantuan militer dari AS ke Pakistan sempat dihentikan di tahun 1990, namun AS kembali menawarkan bantuan setelah terjadi peristiwa 11/9 yang disambut presiden Pakistan, Pervez Musharraf, dengan menjanjikan kesetiaannya sebagai sahabat AS. Paket bantuan finansial non-militer disetujui oleh kongres AS sebesar $7,5 Milyar selama 5 tahun, dan akan diberikan dengan syarat digunakan untuk meningkatkan pelayanan rakyat serta memperbaiki institusi pemerintahan sipil, setelah bertahun-tahun dalam rejim diktator militer. Pakistan menganggap persyaratan tersebut sebagai bentuk intervensi asing, namun tetap saja tawaran bantuan finansial tersebut diambilnya.

Dalam penerbangan menuju Pakistan, Hillary mendapat pengarahan dari ahli politik Afganistan dan Pakistan yaitu Richard Holbrook, diplomat senior dan deputinya, Vali Nasr. Vali Nasr adalah ahli Islam dan profesor politik internasional. Lahir di Iran dan pindah ke AS setelah Revolusi Iran 1979. Sempat tinggal satu tahun di Pakistan untuk penelitian tentang fundamentalisme Islam, dalam rangka studi S3nya.

Lingkungan perkantoran kedutaan AS dan pemukiman karyawannya berada dalam area tertutup dengan tingkat pengamanan yang sangat ketat dan terpisah tegas dengan masyarakat Pakistan. Vali menganjurkan supaya Hillary mulai membuka eksklusifitas ini dengan cara berkomunikasi dengan masyarakat sipil Pakistan yang lebih luas untuk meredakan kecurigaan dan ketegangan psikososial masyarakat. Kecurigaan tersebut terungkap ketika sesi tanya-jawab pers dengan Hillary, yaitu kekhawatiran bahwa AS hanya akan ‘menggunakan’ Pakistan seperti saat AS menggunakan Pakistan untuk mendestabilisasi kekuasaan Rusia di Afganistan. “I’ve learned from my mistakes”, jawab Hillary. Ghattas memberi penilaian positif terhadap jawaban Hillay ini, mengingat AS tidak pernah mengakui kesalahan kebijakan yang terjadi dimasa lalu.

Dalam pertemuan bisnis, para pengusaha Pakistan menanyakan tentang kelonggaran/fasilitas perdagangan dan tambahan bantuan finansial AS. Menurut Ghattas, Hillary justru heran mendapat pertanyaan tersebut. Para pengusaha besar Pakistan yang sudah sangat maju tersebut seharusnya perlu lebih serius membayar pajak demi pembangunan bangsanya daripada menuntut bantuan asing untuk menyelesaikan masalah mereka.

Penutup

Masih banyak lagi negara lain yang dikunjungi Hilary bersama para wartawan tersebut dan menjadi subyek pembahasan penulis dalam buku ini. Pengalaman hidup masa muda Ghattas di Libanon yang jadi ajang adu kekuasaan Timur Tengah, sangat mempengaruhi subyektifitas penulisan. Keberpihakan penulis yang cenderung melihat dunia dari sudut pandang politik luar negeri AS, sekaligus sinis dan cenderung menyalahkan negara-negara sedang berkembang, sangat terasa setelah membaca buku ini seluruhnya, khususnya pada bab-bab akhir tentang Turki, Pakistan, Afganistan, Iran, dll.

Penulisan waktu seringkali hanya tanggal dan bulan sehingga cukup menyulitkan pembaca untuk membayangkan urutan waktu kejadian, mengingat penulis juga memasukkan opini dan sejarah masa lalu dalam buku ini.

Secara umum, buku ini layak untuk memperkaya pengetahuan kita dalam hal kebijakan luar negeri AS dan cara kerja menteri luar negeri dalam menjalankan misi nasionalnya.

Read Full Post »

The New KoreaThe New Korea

Penulis: Myung Oak Kim dan Sam Jaffe

Edisi: Terjemahan

Tahun: 2013

Penerbit: Kompas Gramedia

Buku ini ditulis tahun 2009, cukup lengkap sebagai potret Korea (Korea Selatan) saat ini. Mulai dari sejarah budaya politik hingga pop, pembangunan infrastruktur, industri mobil, barang elektronik dan gadget, musik dan drama televisi berseri serta  obsesi kedepannya berada ditingkat ke-5 industri hiburan dunia (sekarang ke-9), dapat ditangkap dengan jelas dengan membaca buku ini.

Gaya bahasa bercerita yang mengalir ringan dan kompilasi informasi permukaan yang tidak rumit, namun cukup bisa memberi gambaran awal tentang pesatnya pertumbuhan ekonomi Korea yang didukung semangat kesatuan, budaya dan ethos kerja bangsanya. Sebagai bukti kesetia-kawanan sosial yang tinggi, saat krisis ekonomi tahun 1997, rakyat Korea menyumbangkan 225 ton emas, bernilai 1,8 trilyun dollar ke pemerintah yg sebagian besar dipergunakan utk membayar hutang negara.

Resesi 1997 sungguh memukul ekonomi Korea dengan korban industri mobil Daewoo, bangkrut. Samsung yang sedang memasuki industri otomotif, divisi Samsung Motor, dan menginvestasikan lebih dari $10 juta, terpaksa harus menjual usahanya ke Renault untuk mempertahankan perusahaan induknya. IMF memperburuk ekonomi Korea dengan anjuran suku bunga tinggi. Tahun 1999 ekonomi Korea mulai bangkit lagi dengan angka pertumbuhan mencapai 0,9% setelah Stiglitz merekomendasikan suku bunga rendah. Ekspor dibidang teknologi informasi pada tahun 1998 kurang dari $20 milyar, namun tahun 2008 telah mencapai $100 milyar. Revolusi induatri mobilpun mulai bangkit lagi dan terkenal sebgai produk berkualitas tinggi.

Teknologi

Teknologi adalah obsesi nasional, yang bahkan sudah menjadi kritik sebagian bangsanya karena hampir-hampir menjadi agama baru. Ledakan teknologi ini dimulai sejak Korea merdeka dari Jepang. Presiden Korea, Park Chung-hee telah memanfaatkan betul pinjaman $5 milyar dan kerjasama dengan Jepang untuk meningkatkan kemampuan dan teknologi perusahaan Korea. Pada tahun 1963, presiden Park mencanangkan bahwa Korea akan menjadi pembuat mobil dan menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Samsung dengan strategi bisnisnya “digital sashimi” dan LG dengan ‘Tear Down and Redesign’ (TDR), berhasil tampil sebagai industri elektronik kelas dunia. Masing-masing mendapat porsi satu bab tersendiri dari total 16 bab dalam buku ini. Kedua industri tersebut memang sedang menjadi andalan Korea saat ini khususnya dalam bidang elektronik, termasuk industri baja POSCO (Pahang Iron and Steel Cimpany) dan industri mobil Hyundai. Semuanya telah memiliki pabrik yang tersebar di dunia, kecuali satu yang gagal Daewoo.

Industri budaya pop seperti drama seri televisi dan musik mendapat perhatian khusus penulis dalam buku ini karena nilai ekspornya yang tinggi dan mendunia. Ekspor produk budaya Korea mencapai puncaknya pada tahu 2005, sebesar $2,2 milyar dan khusus untuk drama televisi mencapai $100 juta.

Industri Budaya

Lokasi shooting Winter Sonata

Lokasi shooting Winter Sonata

Drama seri televisi ‘Winter Sonata’ telah melambungkan budaya pop perfilman Korea ke tingkat dunia. Tayang ‘premium time’ di tv Korea pada tahun 2002 telah merenggut minat pecinta drama seri di negaranya. Setahun kemudian, pada 2003 telah merebut hati dan menjadi sensasi para penggemar drama tv di Jepang. Tak lama kemudian menjadi sihir di negara-negara produsen drama seri seperti China, Asia Tenggara, Amerika Latin dan beberapa negara Afrika. Bae Yong-joon, yang sangat dikenal sebagai mega bintang drama di dunia sebagai pemeran utama Winter Sonata, telah ditunjuk pemerintah Korea sebagai duta pariwisata negaranya pada tahun 2008. Bahkan pemujanya di Jepang telah memberinya panggilan khusus untuknya, ‘Yonsama’. ‘Yon’ adalah bagian dari namanya dan ‘Sama’ adalah gelar kehornatan yang biasa ditujukan untuk keluarga raja.

Begitu kuatnya sihir ‘winter sonata’ sehingga pemerintah Korea merasa perlu untuk mengabadikannya sebagai obyek wisata budaya dengan cara menjajakan lokasi-lokasi pengambilan gambarnya, yang ternyata sungguh laris menarik wisatawan. Tak jarang paket wisata ke Korea selalu mengikut-sertakan objek ‘winter sonata’ sebagai bagian tujuan wisatawan.

K-Pop sebagai bagian budaya pop musik telah memasuki industri budaya yang merambah dan menular ke negara-negara Asia Tenggara dan Jepang. Boa, penyanyi Korea berusia 13 tahun, yang banyak disetarakan dengan Britney Spears ini telah menduduki tangga teratas musik pop di Jepang tahun 2002 dan telah meluncurkan album pertamanya di AS pada tahun 2009. Album-album popnyapun mengalami sukses besar. Seperti halnya Boa, Rain, yang disejajarkan dengan Justin Timberlake, juga turut menangguk banjir rejeki di era K-Pop sebagai penyanyi pria ternama Korea.

Energi

GDP Korea sebesar $1,25 trilyun tahun 2009, dengan suku bunga dan inflasi rendah tidak mungkin tercapai tanpa tersedianya minyak bumi berharga rendah. Hingga saat ini Korea masih mengimpor 97% bahan bakarnya. Sangat berresiko terhadap fluktuasi harga komoditas. Penulis buku ini berpendapat bahwa kebijakan energi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil seperti angin, matahari dan mobil listrik akan sangat membantu dalam banyak hal.

Tantangan Kedepan

Hal yang perlu mendapat perhatian khusus untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Korea adalah:

  1. Menyelesaikan masalah ketergantungan pada bahan baku minyak bumi
  2. Kurangnya penangan masalah lingkungan
  3. Perencanaan yang terlalu terpusat
  4. Keresahan sosial politik

Penutup

Korea perlu mempertahankan nilai-nilai dasar yang mereka miliki, disiplin, pengorbanan kelompok dan kerja keras. Kerja-keras dan semangat kesatuan memang telah menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi Korea sejak tahun 1960-an, dan telah menghasilkan pendapatan per kapita sebesar $20.000 tahun 2009, dan akan mencapai $30.000 pada tahun 2017 menurut perkiraan telivisi Arirang 2013 yang lalu.

Sebagai modal awal untuk mengenal Korea, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca.

Read Full Post »

The Big Flatline

wpid-The-Big-Flatline-Cover.jpgPenulis: Jeff Rubin
Tebal Buku: 262 halaman
Penerbit: palgrave macmillan
Tahun: 2012

Setelah bukunya Your World Is About To Get A Whole Lot Smaller, laris terjual, Jeff Rubin, dalam buku barunya  mengemukakan bahwa era minyak murah telah usai dan akan berujung pada berakhirnya masa pertumbuhan ekonomi. Lalu, apa artinya kehidupan tanpa pertumbuhan ekonomi?

Sebagai pembuka bukunya, Rubin memulai dengan informasi tahun 1889, tentang robohnya petinju akibat pukulan lawan yang menggunakan gelang besi (bare-knuckle) di kepalan-tangannya. Sejak saat itu, penggunaan sarung tinju mulai diwajibkan dalam setiap pertandingan tinju. Namun, korbanpun sering tak terhindarkan akibat pukulan di kepala yang merusak otak atlit. Ilustrasi ini untuk menunjukkan bahwa usaha perbaikan suatu sistem bisa menyebabkan kerusakan dalam hal lainnya. Hal ini menurut Rubin juga terjadi saat AS mengambil kebijakan terus-menerus menggelontorkan uang ke dalam sistem ekonomi untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi negaranya, seperti bail-out, quantitative easing atau skema lainnya, yang justru bisa menyebabkan keterperosokan lebih dalam, karena tanpa mengkaitkannya pada faktor tingginya harga minyak dunia.

Perubahan kecepatan pertumbuhan ekonomi
Harga minyak saat ini sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Seperti halnya manusia yang membutuhkan makanan, maka demikian pula dengan ekonomi yang membutuhkan energi. Sehingga bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah fungsi konsumsi energi. Dan sumber energi yang sangat penting untuk ekonomi global adalah minyak.

Bank Sentral dan kementerian ekonomi selalu menghitung potensial pertumbuhan ekonomi supaya negara dapat berjalan dengan aman dan lancar. Ada dua hal yang biasa dipergunakan sebagai acuan potensial ekonomi, yaitu pertumbuhan produktifitas, yang biasa juga disebut sebagai perubahan keluaran per individu, dan yang kedua adalah pertumbuhan tenaga kerja.

Begitu pentingnya Pertumbuhan Ekonomi, bahkan pimpinan Federal Bank, Ben Bernanke, atau gubernur Bank of Canada seringkali menyebut sustainability untuk mengatakan kelanggengan pertumbuhan ekonominya. Para pimpinanan Bank Sentral ini meyakini bahwa bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari seharusnya maka dianggap telah terjadi gangguan sistem, slack of the system. Dari sisi produktifitas, ini berarti banyak pabrik telah berproduksi kurang dari kapasitas optimumnya, atau pabrik bekerja hanya dengan satu giliran (shift) saja, bukan dua giliran seperti seharusnya. Dalam hal tenaga kerja, ini juga berarti banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja atau dengan kata lain banyak perusahaan tidak membuka lowongan kerja. Kegagalan mencapai tingkat pertumbuhan potensial ekonomi berarti meningkatnya pengangguran, atau menurunnya indeks lowongan kerja.

Bila ekonomi berkembang melewati batas potensial pertumbuhannya maka tingkat pengangguran akan turun, yang biasanya dianggap sebagai hal yang positif. Namun, rendahnya pengangguran bisa berarti tingginya biaya belanja, yang berujung pada tingginya jumlah uang beredar hanya untuk mendapatkan sedikit barang dan jasa, atau tidak cukup banyak barang dan jasa tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi seperti di atas, para pekerja punya posisi tawar untuk menuntut gaji yang lebih tinggi terhadap perusahaan, yang berarti semakin meningkatnya inflasi.

Bagi para ahli ekonomi yang mengamati status kesehatan finansial suatu negara, mengetahui posisi tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengamanan, sehingga bila terjadi gangguan atau slack maka para pengambil kebijakan akan segera menggelontorkan stimulus, yang diyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanpa harus menanggung inflasi. Namun bila ekonomi sudah mendekati tingkat potensialnya, alih-alih menambah pertumbuhan, malahan hanya akan menyebabkan tingginya inflasi.

Semakin tinggi perbedaan antara portensial pertumbuhan ekonomi dengan aktual produksinya, biasa disebut output gap, akan memacu para pengambil kebijakan untuk segera mengambil tindakan untuk menutupnya. Tahun 2008, Bank Federal AS memperkirakan output gap ekonomi negaranya sebesar 6% dibawah tingkat potensial GDPnya sehingga Bernanke menyatakan bunga bank akan sangat rendah, bahkan mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014 (buku ini diterbitkan 2012), untuk menggairahkan berputarnya roda ekonomi.

Menurut Rubin, menetapkan bunga hutang rendah adalah strategi kebijakan ekonomi konvensional yang lazim diterapkan untuk mengamankan ekonominya. Dengan dalih potensial pertumbuhan ekonomi, kebijakan bank sentral AS ini ternyata juga terjadi di Eropa dan Amerika Utara untuk menutup output gap yang cukup besar. Signal itu ditunjukkan dengan semakin naiknya jumlah angka pengangguran yang hampir dua kali lipat dibanding dekade sebelumnya di sebagian negara-negara kaya seperti 34 negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devolopment), yang berarti juga tingginya kapasitas tidak terpakai dalam rantai produksinya.

Satu hal yang terlupakan dalam pengambilan kebijakan stimulus untuk memacu mesin ekonomi ini, menurut Rubbin, adalah harga minyak satu dekade yang lalu adalah masih $20 per barrel, (sekarang lebih dari $100/barrel). Dan, harga minyak tidak dianggap sebagai variabel yang dapat dipergunakan untuk menentukan seberapa besar stimulus diperlukan untuk mengamankan pertumbuhan, kecuali komponen tingkat produktifitas dan tenaga kerja. Bila saja bank-bank sentral turut memperhitungkan faktor harga minyak, mungkin kebijakan moneter akan memutuskan lebih sedikit uang digelontorkan kedalam sistem ekonomi. Politisi mungkin juga akan kebih berhati-hati untuk turut menyetujui skema paket-paket stimulus yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Lalu, bagaimana bila pola permainan sistem ekonomi telah berubah? Bagaimana bila ternyata kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak berwenang ternyata salah?

Belum lama berselang ketika harga minyak dunia $20/barrel, AS adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Washington menikmati surplus anggaran, tingkat pengangguran rendah, harapan pensiun muda yang menarik karena nilai simpanan yang tinggi berdasar pengamatan bursa saham Dow Jones. Namun mimpi itu berantakan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi AS sedang dalam perjuangan dimana defisit anggaran mencapai lebih dari satu trilyun dollar, dan hampir 13 juta pengangguran, serta pada saat yang sama harga minyak dunia mencapai empat kali lipat. Bukan suatu hal yang kebetulan.

AS bukanlah satu-satunya negara maju yang menderita karena tingginya biaya energi. Dari Eropa hingga Jepang, semua pemerintahan sedang berjuang untuk mengamankan pertumbuhan GDPnya, namun alih-alih semua usaha perbaikan ekonomi membawa keberhasilan, justru malah menambah kesulitan. Defisit anggaran AS tidak pernah setinggi saat ini setelah perjuangan ekonomi yang keras pasca Perang Dunia II. Akhirnya, ekonomi tidak dapat tumbuh lebih tinggi karena kemampuan membeli bahan bakar sangat rendah. Realitas menunjukkan bahwa harga minyak sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

Akhir pertumbuhan ekonomi berarti pemerintah membutuhkan perubahan radikal untuk mengelola ekonominya. Saat ini, Fiskal dan Kebijakan Moneter masih menjadi dua hal utama penentu langkah pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun dengan tiga digit harga minyak per barrel, kebijakan ekonomi seperti tersebut di atas sudah menjadi bagian masa lalu atau harus mencari terobosan kebijakan yang berbeda.

Kebijakan Quantitative Easing adalah cara bank sentral AS membanjiri uang ke dalam sistem ekonominya dengan tujuan memutar roda produksi. Penerbitan Surat Utang berjangka waktu lama (bond) dengan ROR rendah diharapkan dapat membantu mengamankan ekonominya disaat ketidaakpastian finansial yang tinggi sehingga dapat lebih menarik investasi. Investor biasanya lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk Surat Utang saat badai finansial mendera. Sebagai bagian dari program Quantitative Easing ini,  Fed Bank juga melakukan penetrasi pasar penjaminan kredit untuk dapat mengatur turunnya bunga punjaman secara efektif, sehingga dapat menekan biaya kredit perumahan. Suatu upaya Fed untuk mendamaikan kembali pasar perumahan.

Dengan rendahnya bunga pengembalian Bond, Fed berharap mendapatkan dollar lebih banyak dari para investor. Rendahnya permintaan dollar akan menyebabkan pelemahan nilai mata uang $, yang akan memperkuat sektor ekspor nasional dan merangsang tumbuhnya produk dalam negeri dibanding barang impor dan berujung pada berkurangnya pengangguran.

Bank Federal meyakini bahwa implementasi kebijakan ekspansi moneter akan mencegah ekonomi AS terperosok lebih dalam dari apa yang terjadi pada tahun 2008. Namun Quantitative Easing masih didasarkan pada pemikiran ekonomi konvensional yang menganggap Pertumbuhan Ekonomi sebagai tujuan akhir. Namun yang terjadi justru harga minyak tetap tinggi berapapun banyaknya uang beredar.

Minyak adalah bahan bakar pertumbuhan

Lebih dari dua pertiga bagian dari setiap barrel minyak adalah untuk keperluan transportasi. Untuk volume yang sama, minyak menghasilkan energi dua kali lipat lebih banyak daripada penggunaan batubara, atau empat kali lipat penggunaan gas alam. Itulah sebabnya, seberapapun banyaknya pemboran shale gas dilakukan di Amerika Utara, tetap tidak mampu menggantikan minyak sebagai bahan bakar transportasi. Kurang dari 1% total kendaraan di AS menggunakan propan, gas alam cair yang umumnya dipergunakan sebagai bahan bakar. AS sudah banyak melakukan usaha untuk mengembangkan energi altetnatif, namun tetap saja belum mampu menggantikan fungsi minyak bumi.

Harga minyak bumi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Harga minyak yang rendah akan memacu pertumbuhan, sebaliknya harga minyak yang tinggi tak terjangkau akan menghentikan mesin pertumbuhan.

Hubungan antara harga minyak dan GDP bersifat linear. Selama empat dekade, menurut Rubbin, rata-rata 1% kenaikan konsumsi minyak akan menaikkan 2% pertumbuhan GDP global. Ini berarti bila pertumbuhan GDP mencapai 4% seperti saat sebelum resesi 2008, konsumsi minyak naik 2% per tahun. Saat harga minyak $20/barrel, kenaikan konsumsi minyak 2%/tahun masih cukup masuk akal, namun saat mencapai harga $100/barrel (puncaknya $147%/barrel, 2008), bisa dibayangkan kebutuhan uang yang harus tersedia, bila pertumbuhan konsumsinya 2%/tahun, pasti cukup menyebabkan runtuhnya ekonomi AS.

Selama empat dekade, fakta menunjukkan bahwa setiap kali harga minyak naik tinggi, saat itu juga ekonomi global memgalami resesi. Tahun 1973, saat perang Yom Kippur, menuntut OPEC memutus ekspor ke AS dan negara-negara sahabat Israel lainnya sehingga tahun berikutnya GDP AS mengalami penurunan 2,5%. Kemudian berturut-turut saat Revolusi Iran dan Perang Irak.

Fatih Birol, ahli ekonomi di IEA (International Energy Agency), memperkirakan bahwa pendapatan pertahun 12 negara anggota OPEC mencapai tidak kurang dari satu trilyun dollar pada tahun 2011. Sementara itu AS mengalami defisit anggaran sebesar satu trilyun dollar untuk menyelamatkan ekonominya yang berbasis minyak. Ini berarti akan sama bila AS langsung membelanjakan stimulus ekonominya ke negara-negara pengekspor minyak.

Menurut IEA, produksi minyak konvensional telah mencapai puncaknya dan akan segera terus turun selama beberapa dekade kedepan, meskipun ini bukan berarti tidak lagi akan ditemukan cadangan minyak baru. Rubbin meyakini bahwa cadangan minyak baru akan terus ditemukan. Yang dimaksud penurunan produksi minyak konvensional disini adalah bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi akan disokong oleh minyak berharga mahal, dan berasal dari sumber minyak non-konvensional seperti tar sands, ladang minyak di laut-dalam atau oil shale, yang kurang ramah lingkungan dengan resiko mulai dari emisi karbon hingga potensi kontaminasi air tanah.

Ditemukannya berbagai cadangan minyak non-konvensional akan bermuara pada satu hal, yaitu harga minyak mahal. Seperti diketahui, bila harga minyak naik, ekonomi akan terkontraksi dan berakibat resesi. Kebutuhan minyak akan turun dan berlanjut dengan merosotnya harga minyak. Secara perlahan, ekonomi akan kembali pulih dan kebutuhan minyak kembali tinggi. Demikian siklus harga minyak dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

Terlihat disini bahwa bukan keberadaan cadangan fisik minyak yang menjadi isu utama dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, namun kebih pada persoalan biaya ekonominya. Dengan kata lain, sumberdaya minyak hanya akan berarti secara ekonomi bila memang tersedia uang untuk membelinya.

Tugas industri energi tidak hanya mencari cadangan minyak, namun juga mencari cara sehingga minyak tersebut secara ekonomi memang mampu untuk dipergunakan. Dan hal inilah, yang menurut Rubbin gagal dilakukan oleh para industrialis perminyakan dunia. Sumberdaya minyak mungkin saja ditemukan, namun biaya produksi yang tinggi menyebabkan ekonomi dunia tidak mampu menanggungnya.

Saat ini dunia membutuhkan 90 juta barrel minyak per hari (2012) untuk dibakar. Dengan kondisi pertumbuham ekonomi dunia yang sangat rendah, mungkin tidak perlu lagi dibutuhkan lebih banyak minyak untuk dibakar, atau malah lebih sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan lagi membongkar cadangan minyak tar sands atau mengangkat minyak yang berada di dasar Samudra Artik.

Puncak kejayaan minyak (oil peak) bisa juga berarti ‘akhir pertumbuhan ekonomi’.

Zerro-sum world

Zerro-sum world adalah permainan dimana negara pemenang memperoleh semua keuntungan dari kekalahan pihak lain. Pada tahun 1980an, China memgkonsumsi minyak tak lebih dari 2 juta barrel per hari, dan sekarang (2012) mencapai 9 juta barrel per hari. Saat itu produksi minyak dunia masih terasa lapang untuk memenuhi kebutuhan China, namun saat kebutuhan minyak dunia begitu cepat tumbuh seperti saat ini, maka negara lain yang tak cukup mampu dengan harga minyak tinggi terpaksa harus menyerahkan pasar minyak ke China.

Zero-sum game dalam hal memperebutkan pasokan minyak dunia, diperkirakan akan dimenangkan oleh China atas ‘kehilangan’ dipihak AS. AS mengkonsumsi minyak lebih dari 20% dari produksi dunia, sementara hanya mampu memproduksi kurang dari 10%, sehingga harus melakukan impor untuk menutup sisa 10% kebutuhan minyaknya. Namun bila pertumbuhan ekonomi China terus melewati AS maka China akan mempunyai keunggulan komparatif dalam kompetisi global untuk memperebutkan lebih banyak minyak.

Kebutuhan akan minyak di negara sedang berkembang semakin cepat tumbuh dibanding di negara maju. Konsumsi minyak di China dan India tumbuh sebesar 10% per tahun dan cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2010, China menambah konsumsinya hampir 1 juta barrel per hari. Sebaliknya, sebelum resesi ekonomi 2008, kebutuhan minyak negara-negara OECD mencapai 50 juta barrel per hari, namun pada tahu 2009 telah turun menjadi 45 juta barrel per hari. Artinya, harga minyak dunia sebesar $100 per barrel bukan masalah besar bagi negara-negara separti China atau India yang sedang haus akan minyak, namun menjadi masalah besar bagi pasar minyak tradisional seperti OECD. Lalu, mengapa China dan India mampu memghadapi harga minyak diatas $100 per barrel?

Banyak pihak beranggapan bahwa kemampuan daya beli minyak bangsa China atau India ini disebabkan oleh adanya subsidi yang besar dari pemerintahnya. Tidak sepenuhnya benar. India memberikan subsidi untuk harga bensin dan solar tidak lebih dari $10 milyar per tahun, lebih kecil dari pendapatan pajak yang dipergunakan AS untuk subsidi produksi ethanol berbahan dasar jagung. AS memang tidak memberi subsidi pada kilang minyak supaya dapat menjualnya dengan harga murah, tapi negara mengenakan pajak sangat rendah pada rakyatnya untuk belanja bahan bakar.
Konsumsi minyak di negara-negara sedang berkembang, yang sedang bagus pertumbuhan ekonominya seperti China dan India, lebih sensitif terhadap pertumbuhan pendapatan per capita, daripada tingginya harga minyak. Bila anda baru pertama kali memiliki mobil, maka kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal besar untuk dipikirkan. Di India dan China, pendapatan tumbuh lebih cepat daripada di Amerika Utara, Eropa atau Jepang sekalipun. Di China dan India, banyak mobil baru terjual bukan untuk menggantikan mobil tua, melainkan untuk menggantikan sepeda sehingga kebutuhan BBM jelas semakin tinggi. Selain itu, China dan India masih menggantungkan minyak sebagai alternatif utama untuk pembangkit listrik bila terjadi masalah dengan batubara. Energi gas dan air belum menjadi alternatif utama pembangkit listrik seperti di negara-negara OECD.

Negara-negara OECD telah menjadi pasar minyak yunior, yang sebelumnya pernah mencapai puncak saat harga minyak antara $70-$80 per barrel. Meskipun AS masih menjadi konsumen minyak tertinggi, namun telah mengalami penurunan sebesar 10%, atau 2 juta barrel per hari, sejak sebelum resesi dan cenderung terus semakin turun. Dalam dunia zero-sum, penurunan konsumsi minyak negara-negara OECD sebenarnya memang tak terhindarkan bila melihat keberlanjutan  pertumbuhan ekonomi China dan India.

Lingkungan

Tentang lingkungan, Rubbin mengakui bahwa ada kaitan langsung antara kenaikan temperatur global dengan emisi karbon karena ulah manusia, meskipun banyak pihak lain juga beranggapan bahwa itu hanyalah fenomena natural yang mungkin disebabkan oleh aktifitas pembakaran matahari. Namun, mengingat minyak adalah ‘bahan bakar’ pertumbuhan ekonomi, maka dengan adanya resesi ekonomi, secara langsung akan juga mengurangi emisi karbon.

Berbagai upaya penurunan emisi karbon telah diusahakan dengan melakukan serangkaian diskusi dan kerjasama antar negara di dunia yang intinya adalah penyebab emisi harus dikenakan biaya mahal, dengan harapan akan mengurangi emisinya. Namun ternyata hal inipun menjadi masalah karena negara-negara sedang berkembang menganggap bahwa jumlah kumulatif emisi karbonlah yang harus menjadi basis perhitungan penyebab perubahan iklim, bukan total emisi tahunan. Bila konsep ini diterima maka AS jelas menanggung biaya emisi terbesar, meskipun total emisi karbon terbanyak saat ini adalah China. Emisi karbon AS secara kumulatif sejak Revolusi Industri sebesar 27% dari total emisi dunia, sementara emisi China hanya 9,5%. Bila hal ini belum tuntas, maka akan sulit untuk menuntut negara lain mengatur kebijakan emisi terhadap industri domestiknya.

Mengingat masih rumitnya perhitungan kredit karbon, maka resesi ekonomi bisa menjadi jalan keluar sementara untuk mengurangi emisi karbon, bahkan tanpa perlu usaha keras perdebatan ditingkat legislatif sekalipun. Sebagai contoh adalah AS, pada saat resesi ekonomi tahun 2008, penurunan emisinya mencapai 3% dan pada 2009 sebesar 7%.

Penutup
Di akhir bukunya, Rubbin berpendapat bahwa, mulai dari kenyataan tentang semakin turunnya kecepatan pertumbuhan ekonomi AS, defisit anggaran dan potensi bencana lingkungan karena emisi karbon, maka bisa diambil kesimpulan bahwa ungkapan pertumbuhan ekonomi akan langgeng, adalah salah. Melainkan hanya sementara.

Pemerintah harus berhenti untuk terus berusaha melindungi ekonominya dari serbuan biaya energi tinggi dengan cara penghematan dan efisiensi penggunaan bahan bakar. “.. do with less is better than always wanting more”, ini penggalan kalimat terakhir dari Jeff Rubin, yang sebetulnya adalah inti sari dalam buku ini.

Kritik Buku
Buku ini enak dibaca dari awal hingga akhir, mudah dicerna dan cukup ‘ringan’ namun tetap memberikan informasi yang bagus tentang resesi 2008 dan dampaknya di Eropa serta hubungannya dengan harga bahan bakar fosil dunia.

Read Full Post »

Bukanlah Budaya, Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu bangsa menjadi kaya atau miskin, melainkan KEMAUAN, SEMANGAT dan KERJA-KERAS para PEMIMPIN dan RAKYATnyalah yang menentukan. Silahkan baca selanjutnya …

Why Nations FailJudul: Why Nations Fail

Sub Judul: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty

Penulis: Daron Acemoglu, James A. Robinson

Tebal Buku: 549 halaman

Penerbit: Crown Business, New York

Tahun: 2013

Buku ini menyajikan perbedaan-perbedaan besar, dalam hal keberhasilan dan kegagalan, antara bangsa-bangsa di negara-negara kaya, seperti AS, Inggris dan Jerman, dengan negara miskin di sub-Sahara Afrika, Amerika Tengah dan Asia Selatan.

Acemoglu dan Robinson (A&R) menawarkan sebuah teori sederhana untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu negara lebih sejahtera dibanding dengan negara lain, walaupun berdasar sejarah, budaya, geografi maupun etnis sangat mirip. Teori tersebut dimaksudkan untuk memetakan perkembangan politik dan ekonomi dunia sejak Revolusi Neolithic. Menurutnya, teori yang dipergunakan harus mampu untuk fokus menganalisis pada berbagai fenomena yang mirip, dan bisa dianggap sukses bila teori tersebut berguna dan mampu menerangkan secara empiris dan membumi, dari sebuah rangkaian proses sejarah, termasuk  juga melakukan klarifikasi terhadapnya.

Teori A&R bekerja dalam dua tahap yaitu, pertama, perbedaan antara ekonomi ekstraktif dan inklusif, dan institusi-institusi politik; dan kedua adalah penjelasan mengapa institusi inklusif terjadi di beberapa negara dan tidak di tempat lain. Sementara tahap pertama teorinya tentang sejarah interpretasi institusional, tahap keduanya tentang bagaimana sejarah dapat membentuk proses institusional suatu bangsa.

Sebagai pembuka dalam bukunya, penulis menyajikan tantangan kritis berupa data tentang kesuksesan ekonomi AS. Rata-rata masyarakat AS lebih kaya tujuh kali lipat daripada kekayaan masyarakat Mexico, dan lebih dari sepuluh kali lipat dari kekayaan bangsa Peru atau America Tengah, atau duapuluh kali lipat dari masyarakat di sub Sahara, Africa. Bahkan hampir empatpuluh kali lipat dari kekayaan masyarakat di negara-negara miskin Africa, seperti Mali, Ethiopia, dan Sierra Leone.

Ada tiga hal yang pada umumnya dipergunakan sebagai alasan bahwa suatu bangsa menjadi miskin atau kaya, walaupun fakta menunjukkan hal yang berbeda, yaitu:

  1. Geografi
  2. Budaya
  3. Pengetahuan

1. Geografi

Montesque menyatakan bahwa bangsa yang berada di wilayah tropis cenderung menjadi bangsa pemalas yang berujung pada kegagalan ekonomi atau kemiskinan. Diapun berspekulasi bahwa seandainyapun muncul seorang pemimpin di wilayah tropis, maka akan bersikap sebagai penguasa diktator.

Teori bahwa negara-negara di wilayah tropik cenderung miskin, juga spekulasi Montesque di atas, telah terbantahkan dengan bukti begitu cepatnya pertumbuhan ekonomi di Singapura, Malaysia, dan Bostwana, yang berada di wilayah tropis. Namun demikian, masih juga ada yang menganggap bahwa iklim suatu wilayah mempunyai kaitan tidak langsung terhadap kegagalan ekonomi, karena:

  1. Penyakit tropis seperti malaria berkaitan dengan tingkat produktifitas
  2. Lahan tropis bukan lahan yang produktif/subur

Kesimpulan kedua hal tersebut tetap sama, bahwa negara di wilayah iklim sejuk relatif lebih memungkinkan untuk menjadi negara kaya daripada negara-negara di wilayah tropis atau subtropis.

Nogales, suatu wilayah yang terbelah oleh perbatasan Mexico dan Amerika Serikat menjadi bukti bahwa perbedaan kesuksesan ekonomi bukanlah karena geografi, iklim atau penyakit tetapi karena dikuasai oleh dua negara yang berbeda, yaitu Mexico dan Amerika Serikat. Demikian juga dengan fenomena perbedaan kesuksesan ekonomi antara Korea Selatan dengan Korea Utara, atau Jerman Barat dengan Jerman Timur (sebelum runtuhnya Tembok Berlin).

Sejarah lebih jauh menunjukkan bukti bahwa kemakmuran pernah terjadi di berbagai wilayah tropis pada jaman pra-modern seperti Ankor di Myanmar, Vijayanagara di India Selatan, Aksum di Ethiopia, Mihenji Daro dan Harappa di Pakistan. Ini juga berarti tidak adanya hubungan antara wilayah tropis dengan kesuksesan ekonomi.

Penyakit tropis memang menyebabkan banyak penderitaan dan tingginya kematian bayi di Afrika, tetapi bukan berarti sebagai penyebab miskinnya bangsa Afrika. Sebaliknya, wabah penyakit lebih sebagai konsekuensi yang disebabkan oleh kemiskinan atau ketidakmauan pemerintah untuk memprioritaskan kesehatan masyarakat.

Pendapat lain tentang Geografi sebagi faktor penyebab perbedaan kemakmuran didasarkan pada anggapan bahwa tanah tropis tidaklah produktif untuk lahan pertanian sehingga menyebabkan kemiskinan. Sebaliknya, bukti menunjukkan bahwa gagalnya pertanian di sub-Sahara Afrika pada umumnya lebih disebabkan oleh struktur kepemilikan lahan pertanian dan ketiadaan insentif pertanian dari pemerintah setempat.

Buku ini juga menunjukkan bukti-bukti bahwa besarnya kesenjangan ekonomi dunia di berbagai negara, yang diawali pada abad 19, bukankah karena perbedaan kesuksesan produktifitas pertanian seperti ditunjukkan oleh Jared Diamond dalam bukunya ‘Guns, Germs and Steels’, melainkan lebih disebabkan oleh berkembangnya teknologi industri yang dimulai dari Revolusi Industri di Inggris pada tahun 1688 (the Glorious Revolution), yang dijelaskan dengan panjang-lebar dalam bab khusus di buku ini.

Akhirnya, faktor-faktor Geografi tidak cukup kuat untuk dapat menjelaskan tidak hanya terhadap perbedaan-perbedaan kemakmuran di berbagai belahan dunia tapi juga mengapa bangsa Jepang dan Cina yang begitu lama menderita namun kemudian begitu cepat mengalami pertumbuhan ekonomi pada akhirnya. Perlu teori yang lebih handal untuk menjelaskannya.

2. Budaya

Faktor kedua yang banyak dipercaya sebagai penyebab kesuksesan ekonomi suatu bangsa adalah Budaya. Sosiolog Jerman, Max Webber, meyakini bahwa Reformasi Protestan dan etika Protestan adalah kunci penyebab tumbuhnya masyarakat industri modern di Eropa Barat. Bukti tidak membenarkan hipotesis ini. Perancis dan Itali yg dominan beragama Katolik juga menunjukkan kesuksesan ekonomi, bahkan negara-negara di Asia Timur juga bisa sukses bukan karena beragama Protestan.

Banyak yang percaya bahwa kemiskinan di Afrika disebabkan oleh rendahnya ethos kerja, tingginya kepercayaan terhadap takhyul, atau tingginya resistensi terhadap teknologi Barat. Juga, bangsa Amerika Latin tidak akan menjadi bangsa kaya karena gaya hidup masyarakatnya yang mewah namun tanpa kemampuan ekonomi. Lagi, budaya Cina, Konfusius, pada umumnya dianggap berlawanan dengan semangat pertumbuhan ekonomi. Padahal, sekarang ethos kerja Cina adalah sebagai mesin pertumbuhan ekonominya, juga Hongkong dan Singapura.

Budaya bukanlah penyebab awal perbedaan kesuksesan ekonomi, melainkan sebagai konsekuensi atau akibat dari tingkat kesuksesan ekonomi.

Tingkat kriminal yang tinggi, sebagai akibat kemiskinan, di Mexico dalam hal perdagangan narkoba menyebabkan tingkat kepercayaan sosial rendah, sehingga kebudayaan dua bangsa Nogales yang terbelah oleh perbatasan Mexico-AS menjadi berbeda. Ini adalah akibat kesuksesan ekonomi yang berbeda, bukan penyebab. Demikian juga dengan perbedaan Korea Selatan dengan Korea Utara. Semenanjung Korea mempunyai sejarah panjang kebudayaan yang sama. Sebelum perang Korea, mereka mempunyai homogenitas dalam hal bahasa, etnik dan budaya. Yang menjadi masalah adalah keberadaan batas itu sendiri dimana rejim yang berbeda menyebabkan institusi dan sistem insentif yang berbeda juga.

Bagaimana dengan Afrika? Sub-Sahara Africa adalah wilayah sangat miskin dibanding wilayah lain di dunia ini, kecuali Ethiopia dan Somalia, dan penduduknya dianggap jauh terlambat menggunakan teknologi, peralatan bertani dan budaya baca-tulis hingga akhir abad 19, meskipun bangsa Eropa telah mengarungi pantai barat Afrika di akhir abad 15 dan bangsa Asia juga telah mengarungi pantai timur Afrika di masa sebelumnya. Kongo telah melakukan kontak dengan Portugis sejak 1483, dengan Mbanza sebagai ibukota yang berpenduduk 60.000 jiwa pada tahun 1500. Tahun 1491 dan 1512, Portugis gagal mendidik bangsa Kongo untuk mengadopsi penggunaan teknologi roda dan peralatan pertanian, dan lebih memilih teknologi persenjataan. Pemilihan senjata sebagai prioritas bangsa Kongo didasari keinginan untuk menjawab kebutuhan pasar yang lebih menguntungkan, yaitu menangkap dan menjual budak.

Setelah kontak dengan bangsa Eropa lebih sering dilakukan, bangsa Afrika bisa mengadopsi berbagai budaya Barat, seperti budaya baca-tulis, mode pakaian dan desain rumah. Pada abad 19, banyak masyarakat Afrika mengambil manfaat kesempatan pertumbuhan ekonomi yang dipacu oleh Revolusi Industri dengan cara merubah model produksinya. Di Afrika Barat terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi melalui ekspor minyak sawit dan kacang tanah; dan di Afrika Selatan pengembangan industri terjadi di sektor pertambangan.

Alasan utama bangsa Kongo tidak memgadopsi teknologi superior pada saat itu adalah karena tak adanya insentif dari pemerintah. Mereka menghadapi resiko tinggi akan dikenakannya sangsi atau pajak tinggi terhadap hasil produksinya oleh raja yang sangat berkuasa. Eksistensi merupakan ancaman untuk dijadikan budak oleh penguasa .

Kemiskinan akut Cina dimasa Mao juga tidak berhubungan dengan budaya Cina, tapi lebih disebabkan karena kesalahan program politik dan ekonomi Mao Zedong.

3. Pengetahuan

Kurangnya pengetahuan penguasa untuk mengatasi masalah pertumbuhan ekonomi sering dianggap sebagai salah satu faktor penentu gagalnya ekonomi suatu bangsa.

Suksesnya suatu ekonomi pasar adalah bila tersedia prasyarat kondisi dimana setiap individu atau perusahaan bebas untuk dapat berproduksi, menjual dan membeli setiap produk ataupun jasa yang diinginkan. Kegagalan ekonomi pasar adalah bila kondisi tersebut tidak tersedia. Ini berarti bahwa kemiskinan suatu negara terjadi karena mereka banyak mengalami kegagalan pasar, dan karena para pembuat kebijakan tidak mengerti bagaimana harus mengatasinya.

Ghana, dimasa kekuasaan Nkrumah mengalami penurunan ekonomi yang tajam sejak memperoleh kemerdekaannya dari Inggris. Tony Killick sebagai ahli ekonomi, dikirim oleh Inggris untuk mengevaluasi kebijakan ekonominya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan industrialisasi Ghana tidak efisien karena pembangunan pabrik sepatu berada di lokasi yang jauh dari lokasi pemasok kebutuhan dasarnya, kulit binatang. Betulkah ini sebab utamanya? Berdasar pada prasyarat ekonomi pasar, memang terjadi kegagalan karena adanya kesulitan membeli bahan dasar industri. Namun, ini hanyalah penyebab langsung, penyebab dasarnya adalah pabrik tersebut memang harus dibangun dengan alasan transaksi politik untuk mempertahankan kelangsungan kekuasaan Nkrumah, bukan untuk kepentingan kesuksesan ekonomi bangsanya, dan bukan karena kurangnya pengetahuan.

Maka jelaslah bahwa bukan masalah kurangnya pengetahuan terhadap sistem ekonomi, melainkan karena prioritasnya jauh lebih rendah daripada kebutuhan kelanggengan kekuasaannya, dengan kata lain, tidak ada kemauan politik untuk memperbaiki nasib bangsanya. Ini hal yang sering terjadi di negara-negara dengan sistem politik ekstraktif.

Di bawah ini adalah sebagian contoh dari beberapa negara yang menjadi pokok bahasan penulis.

Inggris

Perilaku kekuasaan ekstraktif juga ditunjukkan oleh kerajaan Inggris masa Elisabeth I (1558-1603). Penemuan mesin tenun oleh William Lee yang akan dipatenkan, ditolak oleh Elisabeth I, juga James I. karena dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya pengangguran besar-besaran yang berujung pada ketidak-stabilan politik atau goyahnya kekuasaan. Hingga abad ke-17, institusi ekstraktif Inggris sangat berkuasa, dan berhasil menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Namun pertumbuhan yang tidak akan langgeng karena tidak adanya pembaruan dan hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri.

Sejarah Inggris penuh dengan konflik antara kerajaan dengan penentangnya, antar faksi yang berebut kuasa, juga antara elit dan rakyatnya. Pada tahun 1215, para baron berhasil memaksa raja untuk menandatangani Magna Charta, yang isinya mengubah secara prinsipiil terhadap kekuasaan raja. Salah satunya, raja harus berkonsultasi dengan para baron bila akan menaikkan pajak. Langkah awal terhadap pluralisme. Konflik terus berlangsung hingga terjadi perang ‘ the war of the roses’, antara perwakilan York dengan perwakilan Lancaster untuk meraih kekuasaan raja. Lancasfer memenangkan konflik, dan Henry Tudor atau Henry VII menjadi raja Inggris pada tahun 1485.

Fokus Henry VII adalah meningkatkan sentralisasi politik. Melucuti persenjataan istana atau demiliterisasi, yang berarti memperkuat kekuasaan pemerintah pusat. Sentralisasi kekuasaan ini juga berarti untuk pertama kalinya pemerintah Inggris berpotensi untuk  menjadi pemerintahan yang inklusif. Proses ini dimulai oleh Henry VII dan Henry VIII, yang tidak hanya sentralisasi kekuasaan tetapi juga tuntutan representasi kekuasaan untuk masyarakat yang lebih luas. Konflik terus terjadi setelah kekuasaan Henry VIII dan institusi ekstraktif kembali muncul pada dinasti berikutnya.

Tahun 1688 adalah tahun yang sangat penting bagi Inggris, dimana kekuasaan ekstraktif dibawah kekuasaan raja James mulai digantikan oleh William dan parlemen juga sudah mulai kuat. The Glorius Revolution menghasilkan the Declaration of Rights yang dibuat oleh paelemwn dan raja William di tahun 1689, yang salah satu isinya adalah tentara hanya bisa digerakkan dengan sepwngwtahuan parlemen. Raja bahkan bersedia untuk tidak menginerfensi kekuasaan sistem hukum. Perubahan institusi politik yang lebih inklusif dengan dengan snemakin kuatnya kekuasaan parlemen, menunjukkan akhir dari kekuasaan absolut raja.

Setelah 1688, Parlemen mulai dapat meningkatkan pendapatan dari pajak, juga memperkuat institusi infrastruktur pemerintahan untuk menjalankan pemerintahan yang lebih pluralistik.

Revolusi Industri sangat mempengaruhi dalam setiap aspek ekonom Inggris, khususnya dibidang transportasi, metalurgi dan mesin uap. Mekanisasi dan pabrikasi produksi tekstil adalah bidang utama yang sangat menonjol. Ini bukan hanya karena munculnya larangan monopoli domestik tetapi lebih karena adanya reorganisasi fundamenfal terhadap institusi ekonomi seiring munculnya banyak pengusaha dan penemuan baru serta perlindungan terhadap keamanan hak-hak kepemilikan. Adalah the Glorious Revolution yang menyebabkan sistem politik Inggris menjadi inklusif, terbuka dan responsif terhadap kebutuhan ekonomi dan aspirasi masyarakat.

Maluku

Buku ini juga sedikit menyinggung tentang Indonesia, khususnya kepulauan Maluku. Pada awal abad 17, kepulauan Maluku terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu wilayah utara dengan kerajaan Ternate, Tidore dan Bacan, kemudian kerajaan Ambon di bagian tengah, dan wilayah selatan adalah kepulauan Banda yang masih belum ada pemerintahannya. Meskipun saat ini kepulauan Maluku terasa jauh dari pusat pemerintahan RI, saat itu sudah sangat terkenal di perdagangan dunia sebagai penghasil dan eksportir rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. Sebaliknya, impor bahan makanan dan produk pabrikan diperoleh dari pulau Jawa, Malaka (pantai barat Malaysia), India, China dan Arab.

Kontak pertama dengan bangsa Eropa terjadi pada awal abad 16, pelaut Portugis, yang membeli rempah-rempah dan selanjutnya berupaya untuk menguasainya. Malaka, lokasi strategis lalulintas perdagangan Asia Tenggara, yang berada di pantai barat semenanjung Malaysia, pada tahun 1511 dikuasai Portugis. Perkembangan ekonomi Asia Tenggara pada abad 14-16 cukup bagus karena didukung oleh perdagangan rempah-rempah di Aceh, Banten, Malaka, Makassar dan Brunei.

Seperti halnya kekuasaan di Eropa pada jamannya, raja-raja di Asia Tenggara pun menerapkan budaya kekuasaan yang sama, absolut. Pertumbuhan ekonomi tinggi, namun jauh dari kesejahteraan rakyatnya. Belanda masuk ke Ambon pada tahun 1600 dengan cara membuat perjanjian eksklusif dengan para penguasa setempat yang memberinya kekuasaan monopoli perdagangan rempah-rempah. Dengan berdirinya Dutch East India Company pada tahun 1602, Belanda telah menguasai perdagangan semua rempah-rempah dan menghempaskan para pesaingnya, by hook or by crook, yang terbaik untuk Belanda dan sebaliknya untuk Asia Tenggara.

Ambon diperlakukan dengan kejam oleh Belanda, persis seperti perilaku Eropa dan Amerika pada saat itu. Kerjapaksa diberlakukan pada rakyat Ambon untuk menghasilkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya. Belanda juga menguasai kepulauan Banda untuk cengkeh dan pala. Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Batavia, pada tahun 1621 membantai hampir semua penduduk kepulauan Banda, kurang-lebih 15.000 orang, untuk mengamankan pengetahuan cara memproduksi cengkeh dan palawija. Para pekerja-paksa baru ditempatkan untuk dilatih berkebun cengkeh dan palawija.

Pada akhir abad ke-17, Belanda mengurangi 60% pasokan rempah-rempahnya ke seluruh dunia namun harga palawija naik dua kali lipat. Strategi yang sama coba diterapkan Belanda di wilayah Asia Tenggara lainnya, namun pembangkangan mulai terjadi akibat kesewenang-wenangan. Ekspansi ekonomi yang sudah berlangsung lama, abad 14-16, mulai menunjukkan titik balik. Tahun 1620, Banten merusak sendiri kebun merica dengan harapan Belanda meninggalkannya dengan damai. Tahun 1686, kerajaan Naguindanao, Philipina, merusak sendiri perkebunan rempah-rempahnya dan menolak berkebun merica di tahun 1699. Bahkan deurbanisasi dilakukan oleh rakyat Burma dari wilayah Pegu untuk menolak bekerja di perkebunan pada tahun 1635.

Seperti halnya di Maluku, kolonialisme Belanda telah menyebabkan terpuruknya pertumbuhan ekonomi politik di Asia Tenggara, yang menghentikan produksi rempah-rempah, menutup diri dan bahkan semakin absolut. Dua abad setelahnya, Asia Tenggara tidak dapat turut mendapatkan keuntungan dari keberadaan Revolusi Industri. Celakanya, mogok bekerjasama dengan Eropa tetap tidak dapat menyelamatkannya bahkan pada akhir abad 18 hampir semuanya di Asia Tenggara berada dalam penjajahan Eropa.

Ketika industrialisasi menyebar ke sebagian wilayah dunia, wilayah-wilayah dibawah kekuasaan kerajaan kolonial Eropa tetap tidak dapat mengambil keuntungan dari munculnya banyak teknologi baru di era Revolusi Industri. Wilayah yang sebelumnya mempunyai keunggulan ekonomi menjadi miskin karena perilaku ekstraktif pemerintahnya.

Australia

Inggris Raya (Wales, Scotland dan England) pada tahun 1707 memutuskan untuk memindahkan para narapidana kriminal ke koloninya yang jauh dari tempat asalnya. Setelah kemerdekaannya pada tahun 1783, AS menolak untuk menerima pindahan penduduk dari Inggris Raya. Kapten James Cook mendarat di Botany Bay, Sidney (sekarang), Australia, 29 April 1770 dan merekomendasikan tempat yang bagus ini untuk para narapidana Inggris Raya. Dibawah komando Kapten Arthur Phillip, sebelas kapal pengangkut narapidana mendarat di Botany Bay pada Januari 1788, kemudian membangun penampungan di Sydney Cove,- pusat kota modern Sydney -, dan menyebutnya koloni ini sebagai New South Wales serta menentukan tanggal 26 Januari sebagai Australia Day.

Mengingat bekerja dalam paksaan tidak akan menghasilkan produksi yang memuaskan, maka para narapidana diberi kesempatan untuk bekerja diluar jam kerja-paksa dan dapat menjual produknya untuk dirinya sendiri. Para narapidana bahkan bisa menjadi pengusaha dan mempekerjakan narapidana lain bahkan diberikan tanah setelah selesai masa penahanannya.

Tuntutan mulai muncul dari para ex-narapidana dan keluarganya yang dipimpin oleh William Wentworth,  akan institusi politik yang lebih inklusif, perwakilan politik, perlu adanya juri dalam permasalahan hukum terhadap ex-narapidana dan keluarganya serta diberhentikannya pengiriman narapidana dari Inggris Raya ke New South Wales. Pada tahun 1840, pengiriman narapidana dihentikan dan pada 1842 duapertiga anggota legislatif dipilih oleh rakyat. Ex-narapidana berhak dipilih menjadi anggota legislatif apabila mempunyai cukup properti.

Seperti halnya Amerika Serikat, Australia mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Inggris dalam mendapatkan institusi yang inklusif. Inggris membutuhkan terjadinya revolusi besar Perang Sipil dan Glorious Revolution yang tidak terjadi di Australia dan AS karena lingkungan politik yang berbeda. Inggris mengalamu sejarah kepemimpinan absolut yang panjang sehingga membutuhkan usaha besar untuk merubahnya. Revolusi Perancis mempercepat kemakmuran di Australia dan AS, yang telah siap dengan institusi inklusifnya.

Perancis

Hingga 1789, sudah tiga abad Perancis dibawah pemerintahan monarkhi absolut. Masyarakat Perancis terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: kaum bangsawan, pegawai pemerintah dan masyarakat umum. Aristokrat dan pegawai pemerintah tidak membayar pajak, sedangkan masyarakat umum wajib membayarnya. Jelas nerupakan pemerintahan yang bersifat ekstraktif. Hukum tidak hanya menjamin kesejahteraan ekonomi bagi kaum bangsawan dan pegawai pemerintah, namun juga kekuasaan politik.

Dalam situasi Revolusi Perancis, 4 Agustus 1789, Dewan Konstitusi Nasional mengubah hukum Perancis dengan konstitusi baru, yang pada dasarnya menghilangkan pemerintahan monarkhi absolut. Beberapa pasalnya menyebutkan: meghapuskan sistem feodal, pajak dikenakan terhadap semua penduduk tanpa memperdulikan status sosial seseorang, termasuk bangsawan dan pegawai pemerintah.

Beberapa puluh tahun kemudian, Perancis dalam kondisi instabilitas sebagai akibat deklarasi 4 Agustus tersebut, namun langkah penghapusan absolutisme dan institusi ekstraktif menuju sistem politik dan ekonomi yang inklusif sudah tidak mungkin mundur lagi.

Tentara revolusioner Perancis dibawah Napoleon dengan cepat melakukan reformasi secara radikal untuk menghapuskan feodalisme dan perbudakan; serta kesetaraan didepan hukum di semua wilayah yang ditaklukkan, yang dikenal dengan Napoleon Code.

Pada pertengahan abad ke sembilan belas, industrialisasi menyebar cepat hampir ke semua wilayah Eropa yang dikuasai Perancis, kecuali wilayah Austria-Hungaria dan Rusia yang bukan wikayah kekuasaan Perancis; atau Polandia dan Spanyol dimana Perancis hanya menguasai sementara saja, tetap dibawah institusi negara yang ekstraktif.

Jepang-Cina

Sebelum Restorasi Meiji 1868, secara ekonomi, Jepang termasuk negara belum berkembang dibawah kontrol shogun keluarga Tokugawa sejak 1600. Shogun adalah kelompok sosial dominan feodalistik, semacam tuan tanah (penguasa sipil), yang sangat berkuasa dimasyarakat, sementara raja hanyalah seremonial belaka. Shogun Satsuma, yang dikuasai keluarga Shimazu, berkuasa di wilayah selatan. Berbeda dengan Tokugawa, dibawah shogun Satsuma, perdagangan antar negara diperbolehkan. Dimulai dari kekuasaan shogun Satsuma yang didukung banyak pihak inilah berujung pada tergulingnya kekuasaan ekstraktif Tokugawa dan kembali pada kekuasaan tunggal raja Komei, yang wafat setelah satu bulan Restorasi Meiji dideklarasikan (3 Januari 1868). Meiji, putra Komei, menggantikannya, dan sejak itu politik dan ekonomi inklusif diterapkan.

Pada tahun 1869, kesetaraan didepan hukum mulai diperkenalkan, serta pembatasan migrasi dan perdagangan juga tidak diperkenankan. Pemerintah mulai banyak terlibat pembangunan infrastruktur, mulai dari pengembangan jalur kapal uap Tokyo-Osaka, pembangunan jalan keretaapi Tokyo-Yokohama, industri manufaktur terus dikembangkan dan impor mesin tekstil dilakukan untuk modernisasi pembuatan kain katun.

Seperti halnya dengan Jepang, Cina adalah negara miskin pada pertengahan abad 19, karena rejim absolut. Demikian juga halnya Jepang yang dimasa Tokugawa melarang perdagangan antar negara pada abad 17, kekuasaan dinasti Cina telah mulai melakukan hal yang sama lebih awal dan menentang perubahan politik dan ekonomi. Perbedaannya adalah, birokrasi Cina terpusat dibawah kekuasaan absolut kerajaan (bukan penguasa sipil), bersifat ekstraktif dan sulit untuk dirubah, walaupun pemberontak sering terjadi. Sementara Jepang dibawah shogun Satsuma, menyadari sepenuhnya bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai dengan reformasi institusi dan kekuasaan shogun harus dibubarkan. Alih-alih melakukan reformasi institusi, pemerintah Cina malah impor senjata modern dari Inggris untuk mempertahankan kekuasaannya, sementara Jepang justru mengembangkan sendiri industri senjatanya.

Sebagai konsekuensi dari perbedaan mendasar pada karakter institusinya, Cina dan Jepang memberikan respon yang sangat berbeda terhadap tantangan titik kritis Revolusi Industri abad 19. Sementara institusi Jepang mulai berubah lebih inklusif dan ekonomi menjadi tumbuh dengan cepat, desakan perubahan di Cina tidak cukup kuat bahkan semakin buruk pada masa Revolusi Kebudayaan di masa Mao.

Kesimpulan

Contoh-contoh di atas bermaksud menjelaskan bahwa bukanlah Budaya, Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu bangsa menjadi kaya atau miskin, melainkan kemauan, semangat dan kerja-keras para pemimpin dan rakyatnyalah yang menentukan.

Perbedaan sukses ekonomi yang terjadi di berbagai negara disebabkan oleh institusi-institusi dan aturan-aturannya yang mempengaruhi jalannya ekonomi, serta insentif terhadap bangsanya.

Pertumbuhan dibawah institusi ekstraktif tidak akan berlangsung lama, karena:

  1. Pertumbuhan ekonomi yang langgeng (menerus) membutuhkan adanya inovasi, yang berdampak distruktif kreatif sehingga menggantikan sistem ekonomi yang lama dengan yang baru, dan juga mendestabililisasi relasi kekuasaan politik yang ada
  2. Kekuasaan politik yang mampu mendominasi institusi ekstraktif untuk mengambil untung dari para pihak yang kalah, berakibat munculnya keinginan banyak pihak untuk melakukan perebutan kekuasaan.

Perubahan besar institusional merupakan syarat terjadinya perubahan besar ekonomi, yang terjadi sebagai akibat interaksi antara institusi yang ada dengan kondisi kritis (critical junctures). Kondisi kritis dimaksud adalah perubahan-perubahan besar yang mengakibatkan terjadinya keseimbangan baru antara politik dan ekonomi didalam satu masyarakat atau lebih. Misalnya, peristiwa Black Death, yang menewaskan setengah populasi hampir seluruh Eropa selama abad 14M; pembukaan rute perdagangan Atlantis yang menghasilkan keuntungan besar masyarakat Eropa Barat; dan Revolusi Industri yang menyebabkankan perubahan positif, besar dan cepat dalam hal struktur ekonomi dunia.

Kritik

  • Buku ini cukup rumit untuk dibaca, bukan karena bobot isinya, melainkan karena penyajian yang tidak sistematis. Beberapa contoh negara dibahas dalam beberapa bab yang terpisah-pisah, sehingga seringkali harus membalik-balik bab sebelumnya untuk mengetahui alur sejarahnya.
  • Banyak kalimat yang sering diulang di beberapa bab, khususnya tentang pengertian dan dampak institusi ekstraktif/inklusif.
  • Banyak pengetahuan bisa diperoleh dari buku ini, khususnya tentang sejarah dunia dan sosio-ekonominya.
  • Bagus untuk dibaca oleh siapapun yang peduli tentang kemajuan bangsanya

Read Full Post »

WineJudul: The Ultimate WINE Companion

Editor: Kevin Zraly

Tebal buku: 380 halaman

Penerbit: Sterling

Tahun: 2010

Bagi pemula, banyaknya jenis wine dengan harga yang sangat bervariasi dalam ruang penyimpanan di sebuah toko wine akan sangat membingungkan, bila harus memilih untuk menjamu rekanan sebagai bagian menu makan malamnya.

Sebagai dasar pengetahuan, ada baiknya kita mengenal lebih dulu tentang Fermentasi. Wine adalah jus hasil fermentasi buah anggur. Rumus sederhana untuk fermentasi adalah: Gula + Ragi = Alkohol + CO2

Proses fermentasi mulai terjadi ketika anggur dihancurkan dan berakhir saat seluruh gula berubah menjadi alkohol, atau kandungan alkohol mencapai kira-kira 15%, keadaan dimana alkohol telah mengantikan ragi. Gula secara alami berada dalam kandungan anggur melalui proses fotosintesa. Ragi juga terdapat  secara natural dalam noktah putih pada kulit anggur, meskipun saat ini tidak selalu dipergunakan sebagai bahan pembuat wine. CO2 akan dilepaskan ke udara, kecuali untuk pembuatan Champagne dan Sparkling Wine, dimana gas ini tetap dipertahankan melalui suatu proses tertentu.

Apakah semua wine berasal dari jenis anggur yang sama? No. Jenis anggur yang umum dipakai untuk pembuatan white/red wine berasal dari spesies Vitis vinivera. Namun bisa juga dari jenis lain misalnya Vitis labrusca, adalah species anggur yang tumbuh di New York state, East coast dan Midwest state. Anggur hibrida juga sering dipergunakan untuk membuat wine, seperti Vitis vinivera dengan berbagai spesies anggur asli Amerika.

Ada tiga tipe besar wine:

  • Table wine: 8-15% alkohol
  • Sparkling wine: 8-12% alkohol
  • Fortified wine: 17-22% alkohol

Fortified wine adalah wine dengan penambahan alkohol pada saat proses fermentasi, dan jenis yang umum dikenal adalah Port, Sherry, Marsala dan Madeira. Berdasar kandungan gula, ada dua jenis fortified wine, yaitu:

  1. Dry fortified wine, proses fermentasi sempurna sehingga semua gula berubah menjadi alkohol
  2. Sweet fortified wine, proses fermentasi menyisakan sedikit gula dari buah anggur sehingga wine terasa manis

Beberapa hal yang mempengaruhi kualitas anggur:

  • Musim tumbuh
  • Jumlah sinar matahari
  • Posisi matahari
  • Suhu rata-rata
  • Curah hujan
  • Kualitas tanah
  • Kecukupan air

Sinar matahari akan mempengaruhi keseimbangan gula/asam yang menyebabkan perbedaan kualitas wine menjadi fair, good atau great. Pada umumnya, red wine membutuhkan waktu tumbuh lebih lama daripada white wine, atau red wine biasanya ditanam di wilayah yang lebih hangat. Di wilayah utara yang lebih dingin, seperti Jerman dan Perancis misalnya, biasa terdapat perkebunan white wine. Di wilayah yang lebih hangat, seperti Itali, Spanyol, dan Portugal, juga Napa Valley, California ditanam red wine.

Anggur mulai dipetik ketika pembuat wine (vintner) menganggap kandungan perbandingan gula/asam sudah sesuai dengan jenis wine yang akan diproduksi. Pada bulan Juni, anggur terasa asam dan bulan September/Oktober akan berasa manis.

Pengaruh cuaca

Cuaca sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas panen anggur. Pada musim spring, saat anggur mulai muncul, turunnya temperatur akan menghentikan tumbuhnya bunga, sehingga mengurangi ragi. Tidak cukup hujan, terlalu banyak hujan atau musim hujan tidak pada waktunya, semuanya akan sangat mengganggu pertumbuhan anggur.

Hujan sebelum panen akan akan menambah kandungan air dalam anggur dan mengurangi konsentrasi jus anggur atau watery wine. Kekurangan hujan akan menghasilkan kualitas anggur yang bagus namun menghasilkan panen yang sedikit. Dan perlu juga diperhatikan akan adanya musuh besar kebun anggur, Phylloxera, hama penyerang kebun anggur.

White wine bisa dibuat dari anggur merah. Warna wine berasal dari kulit anggur. Dengan membuang kulit anggur saat memetiknya akan menghilangkan warna wine dan menjadi white wine. Di wilayah Champagne, Perancis, sebagian besar anggur yang tumbuh adalah anggur merah, namun produksi wine terbanyak adalah white wine. White Zinfandel California dibuat dari anggur merah Zinfandel.

Tannin

Tannin adalah bahan pengawet alami dan satu dari banyak komponen yang menyebabkan wine bisa tahan lama. Ini berasal dari kulit, ranting dan pit dari buah anggur itu sendiri. Sumber lain dari tannin adalah kayu, seperti kayu oak bahan tong (barrel) tempat fermentasi wine. Pada umumnya, red wine mengandung tannin lebih tinggi daripada white wine, karena fermentasi dilakukan dengan ragi yang berasal dari kulitnya sendiri. Kata yang biasa digunakan untuk menjelaskan sensasi dari tannin adalah astringent. Khususnya untuk wine yang masih muda, tannin bisa sangat astringent dan menyebabkan wine terasa bitter. Tannin bukanlah rasa, tapi sensasi tactile.

Tannin juga terdapat dalam teh yang kuat (strong), dan susu biasa digunakan untuk mengurangi rasa astringent karena lemak dan protein akan melemahkan tannin. Bila anda menggunakan produk susu, sepeti keju misalnya, dan dinikmati bersama wine akan mengurangi rasa tannin dan menyebabkan wine jadi lebih nikmat. Cobalah menikmati beef dengan cream dan wine yang bagus. Rasakan…

Apakah rasa asam diperlukan dalam wine? Semua wine mempunyai tingkat keasaman tertentu. Umumnya, white wine lebih asam daripada red wine, meskipun winemaker sudah mencoba membuat keseimbangan antara rasa buah dan keasaman. Tingkat keasaman adalah komponen penting dalam hubungannya dengan umur wine, biasa juga dinyatakan dengan rasa tart atau sour.

Vintage

Vintage menunjukkan tahun panen. Grafik vintage merefleksikan kondisi cuaca terhadap tahun-tahun panen anggur. Cuaca yang bagus biasanya menghasilkan tingkat vintage yang bagus, dan akan menjadi wine yang mampu bertahan lama.

Tidak benar bahwa semakin tua umur wine akan semakin bagus kualitasnya. Faktanya, lebih dari 90% dari semua wine yang ada di dunia, seharusnya dikonsumsi tidak lebih dari satu tahun sejak diproduksi, dan hanya kurang dari 1% (satu persen) wine yang mampu berumur lebih dari 5 tahun dengan kualitas bagus. Wine akan berubah kualitas terhadap waktu, sebagian akan semakin bagus dan sebagian tidak. Hebatnya, 1% itu berarti mewakili lebih dari 350 juta botol wine dari setiap vintagenya.

Apa yang membuat wine bisa bertahan lebih dari lima tahun?

Warna dan Jenis Anggur

Red wine, karena kandungan tanninnya, akan membuatnya mampu bertahan lebih lama daripada white wine. Red wine tertentu seperti Cabernet Sauvignon cenderung lebih banyak mengandung tannin daripada Pinot Noir.

Vintage

Semakin bagus cuaca dalam satu tahun panen, semakin bagus juga keseimbangan wine dalam hal buah, asam, dan tannin sehingga juga potensial untuk dapat bertahan semakin lama.

Lokasi perkebunan

Beberapa lokasi mempunyai kondisi optimum untuk menghasilkan anggur yang bagus, termasuk faktor tanah, cuaca, pengairan dan kemiringan lahan.

Proses pembuatan wine

Semakin lama buah anggur tetap kontak dengan kulitnya saat fermentasi, yang dilakukan dalam tong oak, akan semakin banyak kandungan tanninnya, sehingga semakin bisa bertahan lama.

Kondisi penyimpanan wine

Wine yang paling baguspun tidak akan mampu bertahan lama jika tidak disimpan dengan benar.

Menguji wine

Pesan yang bagus dari buku ini adalah: ‘anda bisa membaca banyak sekali buku supaya lebih mengetahui tentang wine, namun cara terbaik adalah dengan mencicipi sebanyak mungkin wine yang berbeda’

Ada 5 langkah dasar untuk menguji kualitas Wine:

1. Color

Cara yang paling mudah adalah meletakkan kain putih dibelakang gelas. Warna bisa bercerita banyak tentang wine. Untuk white wine, warna bisa berarti:

  1. Umur wine
  2. Varietas anggur akan menghasilkan warna yang berbeda-beda juga. Misalnya Chardonnay biasanya berwarna lebih pekat daripada Sauvignon Blanc
  3. Wine difermentasikan dalam tong kayu.

2. Swirl

Memutar gelas akan menyebabkan kontak oksigen kedalam wine dan melepaskan ester, ether dan aldehyde hingga menghasilkan aroma wine.

3. Smell

Untuk white wine, cobalah untuk menghapalkan aroma Chardonnay, Sauvignon Blanc dan Riesling. Sedangkan untuk red wine, lebih banyak variannya tapi bisa dimulai dengan Pinot Noir, Merlot dan Cabernet Sauvignon.

4. Taste

Rasakan sedikit wine di semua bagian mulut selama 3-5 detik sebelum ditelan. Wine akan menghangatkan dan mengirimkan signal rasa dan aroma ke otak. Ingat, 90% rasa wine ada di aroma.

Sweetness

Terasa di ujung lidah. Rasa manis ini akan segwra terasa, apapun jenis winenya

Acidity

Terasa di pinggir lidah, bagian dalam pipi dan sebelah belakang tenggorokan. White wine dan red wine yang ringan biasanya mengandung tingkat keasaman yang tinggi

Bitterness

Terasa di bawah lidah

Tannin

Sensasinya terasa mulai darj tengah lidah. Tannin biasa ada pada red wine atau white wine yang disimpan lama dalam tong kayu. Bila wine terlalu muda, tannin akan lenyap. Untuk wine yang mengandung banyak tannin, akan memenuhi rasa di dalam mulut bahkan menutup rasa buah.

Fruit’s characteristics

Ini bukan rasa, tapi aroma. Bobot aroma buah (the body) akan terasa di bagian tengah lidah.

Aftertaste

Aftertaste adalah semua proses pengujian rasa dan keseimbangan wine di dalam mulut. Biasanya, rasa harmoni keseimbangan pada wine berkualitas tinggi akan berlangsung lama, 1-3 menit, di semua bagian mulut.

5. Savor

Setelah melakukan pengujian wine melalui media mulut dan penciuman, cobalah untuk duduk sejenak dengan santai dan mulai mengenang pengalaman yang baru saja dilakukan dengan membuat berbagai pertanyaan dalam diam:

  • Apakah wine tadi terasa light, medium atau full bodied?
  • Untuk white wine: bagaimana tingkat keasamannya? Sedikit, cukup atau terlalu asam?
  • Untuk red wine: apakah tannin terlalu kuat atau astringent? Apakah tannin bercampur dengan buah atau justru menutupinya?
  • Komponen apakah yang paling kuat? Gula, buah, asam, tannin?
  • Berapa lama keseimbangan rasa berlangsung? 10′, 60′ atau…?
  • Apakah wine memang sudah siap untuk diminum? Atau masih butuh waktu penyimpanan? Atau mungkin malah sudah melewati waktu puncaknya?
  • Makanan apa yang paling tepat untuk menemani minum wine ini?
  • Apakah harganya sesuai dengan kualitas yang anda rasakan?
  • Dan yang terpenting: apakah anda menyukainya?

Biasanya, begitu oenophiles (wine aficionados) atau pecinta/kolektor wine, menemukan wine yang disukai, maka akan  mempelajarinya lebih dalam lagi. Wine yang bagus tergantung selera masing-masing. Do not let others dictate taste to you!!

Pertanyaan yang sering muncul adalah: kapan suatu wine siap dikonsumsi? Jawabnya adalah: bila semua komponen dalam wine dalam keadaan seimbang menurut citarasa anda sendiri.

Sebagai langkah awal untuk mengetahui wine yang bagus, bisa mulai mencoba beberapa wine berikut ini lebih dulu:

White Wine of the world

  • Riesling: Jerman; Alsace, Perancis; New York, Washington
  • Souvignon Blanc: Bordeaux, Perancis; Loire Valley, Perancis; New Zealand; California (Fume Blanc)
  • Chardonnay: Burgundy, Peranxis; Champagne, Perancis; California; Australia

White wine secara umum paling tepat dinikmati saat masih ‘muda’, bahkan untuk Crisp dan fruity wine akan hilang rasa khasnya bila sudah berumur dua tahun.

Red Wine of the world

Wine_RedMengingat kandungan tannin yang tinggi (dari kulit, ranting dan pit) pada buah anggur merah, menyimpan wine dalam tong kayu oak lebih lama akan menyebabkan red wine jadi lebih lembut rasanya. Kandungan tannin akan menurun dengan berlalunya waktu dan wine jadi lebih terasa keseimbangannya dan full-bodied. Tong kayu oak juga akan menambah rasa khas dalam wine seiring dengan berjalannya proses oksidasi yang akan merubah warna wine menjadi lebih pekat dan rasa yang lebih lembut.

Selain White dan Red wine, ada beberapa jenis wine lainnya yang perlu juga diketahui, seperti:

Crisp wine, berasa sedikit asam dan biasa dihidangkan sebagai bagian dari menu pembuka untuk menstimulir nafsu makan dan membuat rongga mulut lebih lembab dan basah. Wine ini juga biasa disebut bright atau lively wine.

Fruity wine, mempunyai rasa dan aroma buah yang jelas, seperti cherry atau strawberry, mengandung sedikit tannin dan biasanya terasa sebagai wine ringan atau medium. Wine bisa terasa manis atau dry, namun pasti beraroma buah. Para ahli wine sepakat bahwa fruity wine ini cocok dipadukan dengan segala jenis menu makanan.

The 60-second wine expert

Ini adalah metode sederhana yang disarankan untuk menguji kualitas wine. Coba rasakan sensasi 60 detik pertama ketika wine mulai masuk dalam rongga mulut anda.

  • 0-15 detik: adakah rasa manis dari sisa gula hasil fermentasi?
  • 15-30 detik: adakah sensasi rasa buah anggur? Identifikasi bobot rasa wine  (light, medium, full-bodied)
  • 30-45 detik: anda menyukainya?
  • 45-60 detik: length? Berapa lama semua komponen, keseimbangan dan rasa dapat bertahan dalam mulut?

Hal di atas ini hanya sebagian kecil dan masih banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini, yang semuanya disajikan dalam enam bab. Termasuk di dalamnya ada bab khusus tentang bagaimana menguji kecocokan wine dengan makanan, proses pembuatan wine, mencoba wine-wine papan atas, termasuk juga wine-wine dari Amerika Latin. Menarik untuk mempelajarinya.

References:

  1. The Ultimate Wine Companion, Kevin Zraily, Sterling, 2010
  2. Choose The Perfect Wine For Every Occasion | Wines Beers & Spirits of the Net http://www.winesbeersandspiritsofthenet.com/blog/choose-perfect-wine-every-occasion

Read Full Post »

Net Delusion

Dasar pemikiran Morozov dalam buku ini adalah ketidak-percayaan atas keyakinan banyak pihak, mulai dari pemimpin dunia hingga para blogger, bahwa Internet adalah agen pembebasan (cyber-utopian)

Judul: The Net Delusion

Sub Judul: How not to liberate the world

Penulis: Evgeny Morozov

Tebal Buku: 425

Penerbit: Penguin Books

Tahun: 2011

Berbeda dengan buku-buku yang menuliskan tentang berbagai kemudahan, ketelitian, kecepatan dan kenyamanan hidup yang dijanjikan bila bergabung dalam dunia maya via Internet (lihat http://www.pedomannews.com/pilkada-dki-2012/umum/21633-mobile-wave-how-mobile-intelligence-will-change-everything ), maka dalam buku ini justru menunjukkan sisi gelap internet, khususnya dalam penggunaannya untuk tujuan politik pembebasan.

Andrew Sullivan, dalam tulisannya di The Atlantic, “The Revolution Will Be Twittered”, begitu antusias dan meyakini bahwa ketika media cetak dan media electronic telah dibungkam, maka sosial media (Facebook, Twitter, blogs) telah menjadi alternatif alat pembebasan melawan authoritarian, seperti yang di tunjukkan dalam demonstrasi di Tehran, Iran, Juni 2009, saat menentang kekuasaan Ali Khamenei dan Ahmadinejad dan fenomena Arab Spring sesudahnya. Hal yang sama kemudian menyebar diberbagai media cetak/elektronik dunia tentang pentingnya peran sosial media untuk pembebasan. Bahkan seorang deputi penasihat keamanan Presiden George W. Bush sampai merasa perlu untuk mengkampanyekan pentingnya Twitter masuk dalam nominasi pemenang Nobel Perdamaian dengan alasan “tanpa Twitter, bangsa Iran tidak akan merasa berdaya dan percaya diri untuk menuntut kebebasan dan demokrasi”.

Menteri Luar Negeri AS, Hilary Clinton dalam pidatonya tentang Internet Freedom di Newseum, Washington DC, Januari 2010 mengatakan bahwa kebebasan berinternet sangatlah fundamental seperti halnya kebebasan berbicara itu sendiri. Ibarat suatu kota abad 21, maka dalam dunia mayapun, nilai-nilai universal, seperti kebebasan, transparansi dan kebebasan berekspresi, perlu tetap dihormati dan dipertahankan oleh pemerintah dimanapun. “Kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat secara online adalah apa yang saya sebut sebagai kebebasan untuk saling terhubung”, kata Hilarry Clinton. Juga mengutip ucapan Presiden Barrack Obama bahwa “the more freely information flows, the stronger societies become”. Akses terhadap informasi akan membantu masyarakat untuk dapat memastikan akuntabilitas pemerintahan, merangsang munculnya ide-ide dan kreatifitas baru serta menstimulasi tumbuhnya kewirausahaan.

Hilary Clinton pasti sangat sulit mempertahankan kebenaran pidatonya setelah terbukti bahwa AS telah melakukan intervensi ke berbagai negara lain melalui dunia maya yang dilakukan oleh Snowden beberapa waktu yang lalu.

Bertolakbelakang dengan media barat, People’s Daily, milik Partai Komunis China, berpendapat bahwa kekacauan setelah pemilu di Iran karena perang online yang dilancarkan oleh AS. Pendapat semacam ini juga muncul di Xinhua News (China), Moldova dan televisi Rusia, NTV. Bahkan ini terbukti, menurut Morozov, hanya terdaftar sebanyak  19,235 akun Twitter di Iran (0.027% dari populasi) pada saat itu.

Bahkan lebih buruk lagi adalah laporan Moeed Ahmad, direktur Al-Jazeera, yang menyatakan bahwa hanya 60 akun Twitter yang aktif di Teheran ketika pihak penguasa Iran memberangus jaringan komunikasi online.

Globalisasi saat ini berada dalam kondisi terburuknya, setidaknya demikianlah kesimpulan tentang akibat Twitter di Iran yang disampaikan diplomat AS di Washington ke perusahaan Amerika di San Fransisco. Alih-alih menemukan cara yang baik untuk memantabkan hubungan jangka-panjang dengan para blogger di Iran dan menggunakan hasilnya untuk perubahan sosial, budaya dan bahkan politik; kebijakan politik luar negeri AS malah justru menyebabkan mayarakat Iran berada pada posisi yang berbahaya. Para demonstran banyak ditangkap dan dipenjarakan, bahkan mereka yang sebelumnya mendapatkan bantuan pendidikan/pelatihan Internet dari AS selama masa pemilu, tidak dapat pulang ke rumah karena terus diawasi segala akitifitasnya. Sedikitnya lima orang ‘terperangkap’ di Eropa. Revolusi Twitter Iran telah menuai dampak buruk globalisasi. Para penguasa autoritarian yang sebelumnya bersifat ambigu terhadap Internet, malah justru mengambil sikap semakin keras menerapkan aturan-aturan pemberangusan.

Ketika nasib demokrasi Iran bergantung pada kemurahan hati Silicon Valley, yang sepertinya tidak cukup peduli dengan berbagai masalah geopolitik dunia, maka AS tidak punya lagi pilihan lain, selain intervensi. Bila ini terjadi, maka sangat tidak bisa dimaafkan bila sampai terjadi intervensi dunia maya ke urusan dalam negeri pihak lain, sementara para pengambil kebijakan negara- negara barat pada umumnya masih bermimpi tentang demokrasi.

Dasar pemikiran Morozov dalam buku ini adalah ketidak-percayaan atas keyakinan banyak pihak, mulai dari pemimpin dunia hingga para blogger, bahwa Internet adalah agen pembebasan (cyber-utopian), yang bermuara pada anggapan lebih lanjut bahwa bila dana besar digelontorkan di negara-negara authoritarian untuk kemudahan akses internet bagi rakyatnya, maka demokrasi akan mudah tercapai karena adanya kebebasan berpendapat, berpolitik dan mengumpulkan massa. Logika yang juga ditentang oleh Morozov adalah bahwa internet sebagai piranti penting untuk pembebebasan ini oleh banyak pihak, disamakan dengan fenomena ‘samizdat’, yaitu penyebaran banyak pamflet kecil di Jerman Timur sebelum runtuhnya Tembok Berlin.

Ada dua kelompok keyakinan yang banyak dianut pengguna internet di dunia tentang hubungan antara internet dan perubahan masyarakat, yaitu:

  • Cyber-utopianism adalah keyakinan yang naif bahwa komunikasi online bersifat emanspatoris, dan penolakan fenomena terjadinya dampak sosial negatif yang disebabkan oleh internet. Menurut Mozorov, tidak banyak sebetulnya cyber-utopist, namun banyak hal dalam kebijakan luar negeri AS m didasarkan pada keyakinan ini
  • Internet centrism adalah keyakinan berlebihan bahwa komunikasi internet mampu merubah kondisi masyarakat sekitar.

Kedua keyakinan inilah sebetulnya yang dibantah oleh Morozov dalam The Net Delusion, dengan melakukan berbagai penelitian terhadap praktek penggunaan internet di negara-negara authoritarian di Asia Tenggara, China, Timur Tengah Afrika, Rusia dan Amerika Latin; dan semuanya disajikan dalam buku ini.

Morozof menunjukkan dalam bukunya bahwa di dunia ini Internet banyak digunakan untuk keperluan:

  1. hiburan,
  2. sensor,
  3. propaganda oleh pemerintah atau individu yang anti-Barat
  4. mengawasi para pemberontak/oposisi.

Hal penting yang perlu juga diperhatikan adalah bahwa:

  1. Internet tidak berada dalam ruang hampa, melainkan berada dalam ruang politik yang responsif terhadap semua fenomena Internet
  2. Persepsi pemerintah terhadap kekuatan Internet sangat dipengaruhi latarbelakang historis, kebudayaan dan ideologi sehingga respon dan kebijakan yang diambilpun juga akan bias
  3. banyak hal yang dilakukan pemerintah AS di dunia maya sudah kontra-produktif.

Dalam bab tentang Sensor, Morozov menceritakan kasus yang terjadi di Arab Saudi sebagai salah satu contoh bukti bahwa internet di negara authoritarian tidak akan berfungsi sebagai alat yang membebaskan. Tahun 2005, otoritas kurikulum ditingkat pendidikan sebelum universitas hanya mengijinkan pelajaran filsafat Islam dan melarang filsafat Barat. Keinginan besar sebagian masyarakat Arab Saudi untuk mempelajari filsafat menyebabkan seorang bangsa Arab yang sedang belajar di AS membuat forum diskusi di internet, Tomaar, untuk berbagi informasi tentang filsafat dan berbagai isu Timur Tengah yang sedang hangat. Dengan cepat sekali situs ini berkembang jumlah penggunanya hingga l2.000 pengguna aktif dan rata-rata 1.000 posting per hari.

Mengingat tidak mungkin menghapus informasi Tomaar dan terinspirasi pemerintah China yang banyak melakukan sensor terhadap para pengguna internet di negerinya, pemerintah Arab Saudi melakukan proses blokir ke ISP pengguna yang bermaksud untuk akses ke URL Tomaar. Blokir ini bisa ditembus melalui jalan ‘melingkar’ via komputer ber ISP lain untuk menembus URL Tomaar. Akhirnya pihak otoritas internet Arab Saudi melakukan serangan DDoS ke Tomaar yang berakibat ditutupnya situs ini oleh penanggungjawab server di AS karena telah terpenuhi akses palsu sehingga macet. Distributed Denial of Service (DDoS) adalah mekanisme sensor dengan cara ‘memacu’ satu atau banyak komputer untuk terus-menerus melakukan ‘posting’ ke URL yang diinginkan sehingga lalu-lintas ke server menjadi macet dan tidak bisa memberikan informasi yang diinginkan ke pengguna.

Kasus seperti Tomaar semakin sering terjadi, khususnya terhadap para aktifis dan organisasi HAM. Media di Myanmar (Irrawaddy, Mizzima dan Democratic Voice of Burma) juga pernah mengalaminya; juga situs oposisi Belarusia, Charter97. Koran independen Russia, Nivaya Gazeta (tempat jurnalis Anna Politkovskaya yang tewas ditembak), koran Respublika milik oposisi Kazakhstan dan radio Free Europe juga mengalami hal yang sama. Bahkan blogger personalpun juga mengalami serangan yang sama. Di tahun 2009, saat ulang-tahun perang Rusia vs Georgia, sebuah blog popular di Georgia, Cyxymu, mengalami serangan DDoS. Demikian juga dengan Vietnam, dua blog penentang kebijakan pemerintah, Bauxite Vietnam dan Blogosin, menjadi target serangan DDoS dan akhirnya menghentikan kegiatannya sendiri dengan alasan ‘fokus pada urusan personal’. Akibat lebih buruk dengan DDoS adalah pengguna situs di negara demokrasipun, yang punya kebebasan akses internet, tetap tidak bisa melakukan akses ke situs yang terkena serangan DDoS.

Serangan DDoS jelas merupakan tindakan serius untuk memberangus kebebasan berekspresi dalam jaringan Internet, yang bahkan tidak hanya dikenakan terhadap situs suatu institusi tetapi juga terhadap situs individual, blog. Cyber-attack tidak hanya dilakukan oleh otoritas pemerintah, tapi bisa juga dilakukan oleh individu atau pendukung pemerintah. Pemblokiran pengguna untuk melakukan akses suatu situs (URL) masih menjadi cara utama untuk kontrol internet.

Pemerintah Russia mempunyai pendapat unik berkenaan dengan sikap oposan di dunia internet yaitu: sistem paling efektif untuk melakukan sensor adalah tanpa melakukannya sama sekali. Artinya, para pengguna internet diberikan kebebasan penuh untuk mengakses semua situs yang ada di internet. Bahkan masyarakat yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan lokal, bisa mengadu ke blog Medvedev. Tapi apakah betul memang demikian kenyataannya? Tentu tidak, itu semua hanya etalase.

Russia.ru adalah salah satu institusi pemerintah Russia yang melakukan fungsi kontrol dunia maya. Situs pornografi bahkan diproduksi oleh Russia.ru untuk me’ninabobok’kan para potensial oposan. Hasil penelitian Morozov terhadap mesin pencarian di internet, ternyata pencarian paling popular yang dilakukan para pengguna internet di Russia bukanlah ‘apakah demokrasi itu?’, atau ‘bagaimana caranya melindungi Hak Azasi?’, tetapi ‘apakah cinta itu?’, atau ‘bagaimana menurunkan berat badan?’.

Pada bab terakhir, Morozov mengutip tulisan seorang ahli fisika AS, Alvin Weinberg, berjudul “Can technology replace social engineering?”, yang isinya kurang-lebih adalah masalah sosial yang rumit dapat dijelaskan dan direduksi menjadi masalah teknologi yang lebih sederhana, sehingga dapat diselesaikan menggunakan aplikasi ‘teknologi penyelesaian masalah’ (technological fixes). Yang dimaksudkan dengan aplikasi ini adalah teknologi modern yang mampu mengaburkan inti masalah sosial tanpa perlu merubah perilaku individu, atau mampu melakukan sedikit pergeseran asumsi masalah sosial sehingga memungkinkan dilakukan pemecahan masalahnya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan para ahli rekayasa sosial (social engineers), dimana berusaha untuk selalu mempengaruhi perilaku sosial masyarakat melalui ‘kebijakan’, yang biasa disebut Weinberg sebagai ‘piranti sosial’ (social device), yaitu: pendidikan, regulasi dan perpaduan berbagai insentif perilaku sosial yang rumit.

Weinberg meyakini bahwa metoda rekayasa sosial terlalu mahal dan sangat berresiko. Sementara metoda penyelesaian masalah sosial dengan menggunakan ‘teknologi penyelesaian’ tidak banyak memerlukan perubahan perilaku sosial. Analogi penyelesaian masalah sosial dari dua metoda tersebuat adalah: Weinberg tidak akan melakukan sosialisasi pentingnya ‘tidak mengkonsumsi minuman beralkohol sebelum dan saat mengemudi’, melainkan memberikan obat penawar dampak minuman beralkohol. Weinberg telah dengan sengaja mengabaikan penyebab awal timbulnya masalah dan hal ini memang tidak dapat diselesaikan menggunakan ‘teknologi penyelesaian’. Teknologi hanya mampu melakukan mitigasi dampak sosial akibat suatu masalah sosial, yaitu dengan cara memberikan banyak masukan kepada ahli rekayasa sosial supaya mampu menghindari dampak sosial yang lebih berat, dan mengulur waktu sehingga mampu merubah kemungkinan terjadinya revolusi sosial, yang berdampak sosial tinggi, menjadi evolusi sosial.

Bentuk baru dari ‘teknologi penyelesaian masalah’ (technological fixes) saat ini adalah Google, yang sepertinya sudah menjadi obat penawar yang sangat manjur bagi segala kebutuhan. Apakah Google salah? Tentu tidak, tapi tawaran kemudahan untuk dapat menyelesaikan masalah sosial dengan cara mengesampingkan penyebab awal perlulah disikapi secara lebih hati-hati.

Akhirnya Morozov berkesimpulan bahwa terjadi kumulatif kesalahan yang berangkat dari asumsi yang salah (cyber-utopianism) dan bertindak terhadapnya dengan metodologi yang salah juga (internet centrism), bahkan dianggapnya sebagai mimpi semata.

Cyber-realist adalah alternatif dari Cyber-utopian dan internet-centris, yang lebih fokus pada optimasi ‘decision-making’ dan ‘learning process’, dengan harapan terjadi ‘check and balance’ terhadap birokrasi pemerintahan, yang dipadukan dengan insentif struktur yang tepat, akan mampu mengidentifikasi berbagai masalah sosial yang dalam dan rumit, tanpa terjebak dalam penyederhanaan masalah (technological fixes).

Read Full Post »

Sebagai informasi arah kecenderungan perkembangan teknologi informasi dibidang mobile computing, buku Saylor ini sangat menarik dan informatif. “Understand the wave, you can ride it. Refuse to adjust, you will be swallowed”.

 

mobile wave

Judul: Mobile Wave

Sub Judul: How mobile intelligence will change everything

Penulis: Michael Saylor

Penerbit: Vanguard Press

Tebal Buku: 290 halaman

Tahun: 2012

Pagi hari 17 Desember 2010, Muhammed Bouazizi, berkebangsaan Tunisia, sedang menjual sayur di gerobaknya di Sidi Bouzid, tiba-tiba diperiksa oleh seorang polisi wanita yang menanyakan kepemilikan ijin berdagangnya. Seperti umumnya para pedagang pinggir jalan, dia memang tidak mempunyainya. Sang polwan menuntutnya membayar $7, senilai dengan pendapatan satu hari berjualan sayur, dan memukulnya. Merasa diperlakukan tidak manusiawi, Bouazizi melapor ke instansi pemerintah menuntut keadilan. Tidak ditanggapi, dia pergi membeli satu jerigen bensin dan pada 11:30 kembali ke depan gedung pemerintah. Di tengah keramaian ia berteriak sambil menangis “Apa yang kalian harapkan dari kami untuk bisa hidup?”. Wuzzz … membakar diri.

Dua orang mengabadikan kejadian ini melalui video dari handphone dan mengunggahnya ke Facebook. Televisi Al Jazeera mendapatkannya di Facebook dan menayangkannya di siaran berita. Pada hari itu juga masyarakat Tunisia turun ke jalan berbekal batu dan handphone di tangannya. Sepertiga masyarakat Tunisia bisa mengakses Internet dan 50% pengangguran adalah sarjana, sehingga momentum ini menjadi celah untuk revolusi. Tidak sampai satu bulan sejak peristiwa bakar diri, 14 Januari 2011, Presiden Ben Ali meninggalkan negaranya. Lengser. Revolusi melalui jejaring sosial berbasis ‘mobile technology’ menunjukkan hasilnya.

Dengan peralatan yang sama, penggalangan aksi massa juga dilakukan di Mesir untuk meruntuhkan pemerintahan Husni Mubarak dan beberapa negara Arab lainnya, yang dikenal sebagai Arab Spring. Bahkan di Indonesiapun peralatan yang sama pernah sukses menggalang dukungan dalam kasus Prita vs RS Internasional dan kasus Cicak vs Buaya. Kecepatan dan kepadatan interaksi dalam jejaring sosial adalah kunci pembentukan kelompok idea dan pengambilan keputusan untuk melakukan aksi bersama.

Cerita di atas adalah salah satu contoh nyata yang ditampilkan Saylor dalam bab tentang Jejaring Sosial, untuk menunjukkan sangat berartinya handphone atau tablet yang didukung oleh aplikasi jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Dalam buku ini Saylor banyak mengulas tentang arah kemajuan teknologi komunikasi yang dipergunakan sehari-hari, mulai dari sejarah singkat perkembangan teknologi komputasi hingga proyeksinya untuk keperluan perkantoran, percetakan, pendidikan, kesehatan, alat pembayaran dan jejaring sosial di negara sedang berkembang hingga dunia masa depan, yang dikemas dalam sepuluh bab dan ditambah daftar pustaka yang lengkap, termasuk alamat internetnya.

Di bab Pendahuluan bukunya, Saylor menulis bahwa berkat teknologi mobile computing, banyak produk untuk kepentingan hidup sehari-hari telah diubah menjadi perangkat lunak. Majalah/koran, buku, musik, permainan, kamera sudah menjadi perangkat lunak, kemudian berbagai barang dalam dompet seperti kartu kredit/debet, ID card, SIM dan berbagai kartu lainnya sudah bisa menjadi perangkat lunak. Ketidak-mampuan beradaptasi dengan perubahan besar dalam dunia cyber menyebabkan bangkrutnya berbagai industri/jasa yang bersifat fisik seperti Kodak dan toko buku Borders Books, namun sebaliknya toko buku Amazon yang melayani pelanggan melalui internet terlihat semakin besar.

Dua hal utama yang saling mendukung dan menyebabkan akselerasi kemampuan transformasional ke depan adalah kemampuan akses universal ke mobile computing dan semakin tingginya intensitas penggunaan jejaring sosial. Saylor meyakini bahwa peran dua hal ini akan mampu mentransformasikan GDP dunia sebesar 50% pada dekade yang akan datang.

Komputer

Dalam sejarah manusia telah terjadi tiga revolusi ekonomi besar, yaitu Revolusi Pertanian, Revolusi Industri dan Revolusi Informasi. Revolusi Pertanian mengakibatkan munculnya budaya bertani, surplus pangan, menetap di satu tempat dan berdagang. Sedangkan Revolusi Industri menyebabkan perubahan dari energi manusia menjadi energi bahkan bakar dan membuka kesempatan munculnya produksi massal hasil pabrikan, dengan hasil akhir peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Dan yang masih sedang berjalan saat ini adalah Revolusi Informasi yang semakin menyebabkan kegiatan ekonomi semakin produktif, efektif dan efisien, dan mobile technology menjadi titik awal percepatan Revolusi Informasi melewati era komputasi tradisional. Komputer adalah jantung daripada Revolusi Informasi, yang membantu manusia melakukan pekerjaan pengawasan dan manajemen segala aset, serta otomatisasi banyak pekerjaan jasa dan pabrikan yang selama ini dikerjakan oleh manusia, dan dapat dilakukan lebih cepat.

Namun demikian, setiap revolusi selalu memakai korban. Revolusi Pertanian menyebabkan musnahnya budaya hidup nomaden, dan memaksa hidup komunal yang lebih besar dan bekerja sama secara ekonomi. Kehidupan berburu berubah ke budaya bertani. Dalam Revolusi Industri, terjadi perpindahan penduduk dari ladang-ladang pertanian ke perkotaan mendekati area industri. Garis tegas ekonomi mulai muncul antara manajemen dengan buruh, dan kekuatan politik mulai bergeser dari monokratik ke demokratik. Sedangkan akibat buruk yang muncul dalam Revolusi Informasi adalah berkurangnya buruh karena digantikan oleh mesin atau proses otomatisasi.

Mobil Computing, yang dikategorikan Saylor sebagai Gelombang ke-5, – setelah gelombang ke-1 Mainframe, kemudian Komputer Mini, Desktop dan Internet PC -, adalah teknologi yang paling besar andilnya dalam merubah kebudayaan industri lama. Bila Revolusi Pertanian membutuhkan waktu ribuan tahun untuk merubah cara hidup manusia, dan Revolusi Industri membutuhkan beberapa abad, maka Revolusi Informasi hanya membutuhkan beberapa dekade saja. Selamat menikmati hidup dalam era Revolusi Informasi.

Mobile Computing

Kemampuan komputer tablet dan handphone generasi terbaru sebagai produk berkembangnya mobile computing, Saylor menyebutnya ‘app-phone’, sudah melewati kemampuan generasi smartphone bahkan bisa disebut sebagai komputer kecil karena kemampuan sistem operasinya yang memungkinkan untuk menjalankan berbagai aplikasi dan berbagai bahasa pemrograman. Dampak keberadaan mobile technology akan jauh melebihi tingkat personal, bahkan akan merubah perilaku sosial masyarakat global.

Pada tahun 2011, lebih dari 5,3 milyar orang atau 75% populasi dunia menggunakan handphone dan sebagian besar akan beralih ke app-phone. Ini berarti lebih dari 5 milyar orang akan menyimpan komputer kecil dalam sakunya, dan mobile computing akan menjadi piranti standar internasional untuk dapat menerima pelayanan keperluan bisnis atau pemerintahan serta untuk berinteraksi satu sama lain melalui media sosial.

Mobil computing memungkinkan pengguna untuk mengakses 24/7 mobile technology dengan aplikasi berbiaya sangat murah (banyak dijual dengan harga US$1-10/aplikasi). Dua perubahan fundamental akan terjadi dalam perilaku bisnis ketika menggunakan mobile computing, yaitu:

  1. Perusahaan akan banyak mengganti produk fisik dan jasa dengan perangkat lunak
  2. Perusahaan bisa menjangkau proses bisnis yang berjarak lebih jauh karena kemudahan komunikasi data

Mobile computing akan ‘memaksa’ perusahaan untuk menggunakan koneksi aplikasi langsung ke pelanggan sehingga memperpendek value chain dari pabrik ke pengguna, dan mengurangi pihak-pihak diantara produsen-konsumen (middle man). Efisiensi.

Beberapa perubahan positif yang akan terjadi dengan kemajuan teknologi mobile computing adalah:

Penggunaan kertas minimum

Di negara maju, pabrik kertas adalah industri yang membutuhkan bahan bakar minyak terbanyak, setelah industri kimia dan industri baja. Penerbit buku, majalah dan koran di AS, menghasilkan lebih dari 40 juta ton CO2 per tahun, ekivalen dengan 7,3 juta mobil dan menggunduli hutan seluas 5000 mil2 per tahun untuk bahan baku kertas.

E-Book adalah produk mobile technology yang mampu mengatasi kekurangan di atas, bahkan:

–          Tidak memerlukan biaya percetakan, kertas, tinta dll. yang diperlukan dalam proses percetakan

–          Tidak memerlukan biaya pengiriman barang

–          Tidak memerlukan gudang besar untuk penyimpanan barang

–          Tidak memerlukan toko buku

–          Proses perdagangan lebih mudah (amazon.com)

–          Produk dapat dibaca lebih mudah (search, bookmarck, copy, note) menggunakan ebook reader

Hiburan instan

Survei di bulan Mei 2010 menunjukkan bahwa 76% pemilik handphone, menggunakannya untuk memotret, main game 34%, mendengarkan musik 33%, akses internet 38%, merekam video 34%, mengirim email 34%. (http://mobilefuture.org/wp-content/uploads/2013/02/mobile-future.publications.Mobile-Momentum.pdf) .  Angka-angka ini pasti bertambah saat ini, mengingat kemampuan produk mobile technology yang semakin tinggi, bahkan layanan tvpun saat ini sudah tersedia melalui handphone anda.

Sebagai Dompet

Kartu kredit adalah alat pembayaran yang sudah berbasis komputasi dan saat ini, di negara maju,  sedang dalam proses untuk dibuatkan piranti lunaknya menggunakan mobile technology, NFC (Near-Field Communication), sehingga pembayaran bisa dilakukan dengan cara memindai handphone tanpa harus membawa kartu kredit di dalam dompet. ID Card, SIM, kartu asuransi yang saat ini sudah komputerisasi akan lebih mudah untuk dibuatkan aplikasinya di handphone. Dompet semakin berkurang fungsinya.

Jejaring sosial

Arab Spring adalah sumbangan Facebook/Twitter sebagai aplikasi jejaring sosial dari produk mobile technology. Selain kepentingan sosial politik, iklanpun sudah masuk melalui aplikasi jejaring sosial ini untuk kepentingan bisnis. Video Conference call memang sudah bisa dilakukan sebelum era mobile technolgy berkembang seperti saat ini, namun tetap dibatasi oleh persyaratan ruang dan piranti keras, sementara Facebook/Twitter/Skype bisa dipergunakan dimanapun (dalam jangkauan signal) hanya dengan mennggunakan handphone. Dalam survei Nielsen 2011, Facebook adalah aplikasi publik yang paling sering digunakan, dan berturut-turut semakin rendah adalah Google, Yahoo, Microsoft dan AOL. Manusia semakin butuh menjadi bagian komunikasi yang terlibat dalam kegiatan atau pembuatan konsensus bersama.

Pelayanan medis lebih cepat dan mudah

Saat ini sudah banyak Rumah Sakit yang menggunakan komputasi untuk keperluan pencatatan riwayat medis para pasiennya sehingga tidak perlu lagi mencari, mengambil, mengantar file berupa tumpukan kertas untuk dibaca dokter sebelum melakukan pemeriksaan medis pasien dan dikembalikan ke tempat semula. Sangat mungkin terjadi kekacauan penyimpanan. Dengan mobile technology, seorang dokter dapat membaca data riwayat medis pasien, yang sudah dibuatkan databasenya, dimanapun dan kapanpun untuk keperluan diagnosa. Obat yang direkomendasikan oleh dokter dapat langsung dibaca oleh apotik yang berbeda lokasi, tanpa harus menuliskan dalam kertas. Sangat efisien, termasuk pembayaran oleh pihak asuransi pasien. Diharapkan dengan kemajuan Mobile Technology, riwayat kesehatan pasien dapat dengan mudah diakses oleh para dokter di Rumah Sakit manapun.

Aplikasi handphone untuk memonitor kesehatan juga sudah mulai banyak dijual dengan murah, misalnya untuk menghitung detak jantung (iphone dan android).

Pendidikan lebih mudah

Belajar bersama, atau disebut collaborative learning, sudah terbukti dapat meningkatkan nilai ujian dan mengurangi dropout hingga 22%. Mobile technology telah menemukan cara untuk dapat melakukan collaborative learning, dimana berbagai pelajar di dunia bisa berdiskusi dalam web-forum untuk membuat database bersama, tentang apapun berbasis lokasi masing-masing.

Layanan Belajar Jarak Jauh (long distance learning) mulai banyak tersedia di negara maju. Menjadi lebih murah karena tidak diperlukan gedung sekolah dan segala isinya, termasuk transportasi dan akomodasi untuk para siswanya.

Perdagangan yang lebih baik

Untuk perdagangan, mobile techology sangat membantu dalam menentukan harga pasar perdagangan retail. Saylor memberikan contoh tentang petani di Nigeria yang saat ini mampu memilih pasar mana yang paling menguntungkan untuk menjual hasil pertaniannya, cukup angkat handphone dan memonitor harga pasar melalui jasa informasi pasar. Sebelum adanya handphone, over/under supplied sering terjadi di berbagai pasar, yang berjauhan, karena kurangnya informasi terkini yang dapat diakses dengan mudah.

Dunia Baru

Generasi masa depan mungkin akan terheran-heran saat mengetahui pernah ada suatu masa dimana orang perlu membuka kertas selebar handuk untuk mencari berita (koran), perlu berdiri dalam antrian untuk memperoleh sesuatu, keluar-masuk hotel untuk mendapatkan kamar kosong, keluar-masuk toko, duduk seharian dalam perpustakaan membaca buku, saku celana tebal karena dompet penuh uang dan kartu, antri di ATM, dll. Semua itu telah hilang, digantikan sebuah alat kecil bernama handphone atau computer tablet.

Kritik

Sebagai informasi arah kecenderungan perkembangan teknologi informasi dibidang mobile computing, buku Saylor ini sangat menarik dan informatif. Namun tidak sepenuhnya benar bahwa industri jasa akan banyak tergantikan oleh perangkat lunak. Salah satu contoh, makin banyak terlihat industri jasa yang menempatkan customer service yang terampil sabar dan menguasai permasalahan sebagai ujung tombak untuk mendapatkan pelanggan. Lihat saja di kantor-kantor perbankan, asuransi, showroom mobil, penerbangan semakin nyaman dengan ruang tunggu besar berAC dan berderet tim customer service. Saylor lupa, bahwa komunikasi yang memanusiakan mungkin saja hanya perubahan gestur atau mengungkap rasa tanpa harus berucap kata, hingga tak tergantikan oleh peralatan secanggih apapun.

Read Full Post »

Tebal buku          : 301 halaman

Penulis                 : Geoff Hiskock

Tahun                   : 2012

Penerbit              : John Wiley & Sons Singapore Pte. Ltd.

Buku Earth Wars ini adalah sebuah upaya untuk menunjukkan betapa ketatnya kesalingterkaitan antar belahan dunia dalam hal pasokan dan kebutuhan semua sumber daya yang dipicu oleh pertumbuhan kebutuhan standar hidup dan kebutuhan konsumsi energi di negara maju dan berkembang yang disebabkan tingginya laju pertumbuhan jumlah penduduk dunia.

Energi adalah persyaratan utama untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar hidup, dan banyak perusahaan sumber daya alam (SDA) papan atas dunia melihat bahwa gas adalah primadona energi dalam 20 tahun kedepan.

Ketahanan Pangan, Air, Energi dan Logam adalah empat isu utama yang menjadi perhatian banyak negara dunia saat ini karena keberadaannya yang terbatas dan tidak mudah untuk meningkatkan kuantitas/kualitas atau menggantikannya, maka intensitas usaha perebutan kekuasaan antar negara atas sumber daya ini akan semakin nyata.

Sistematika penyajian dalam buku dimulai dengan membahas pentingnya empat sumber daya tersebut, dilanjutkan dengan masalah batas geografi antar negara yang berkorelasi dengan keberadaan sumber daya alam (SDA). Pembahasan tentang para konglomerat pemilik dan pengelola perdagangan SDA, dibahas dalam satu bab khusus. Bab-bab selanjutnya membahas tentang masing-masing SDA seperti Pangan/Air, Minyak/Gas, Nuklir, Energi Terbarukan, Metal dan Baja. Amerika Serikat, Jepang, dan BRACQK (Brazil, Rusia, Australia, Canada, Qatar dan Kazakhstan) masing-masing di bahas dalam satu bab khusus, dilanjutkan dengan satubab tentang nagara-negara sedang berkembang yang potensial menjadi pemenang dalam perang SDA, yaitu Turki, Iran, Indonesia dan Meksiko. Sebelum sampai pada bab Kesimpulan, dibahas khusus tentang dua negara yang diperkirakan sebagai pemenang perang SDA, yaitu China dan India.

Hingga 20 tahun kedepan, pembangkit listrik tenaga batubara masih akan mendominasi perlistrikan dunia, sementara produk perminyakan masih akan diperlukan untuk keperluan transportasi.

 

Minyak dan Gas

Departemen Energi AS memperkirakan kebutuhan minyak dunia di tahun 2012 mencapai 90 juta barrel/hari.

Produser minyak dunia terbesar 2011 adalah Federasi Rusia, sebesar 12,6% dari total produksi minyak dunia, diikuti oleh Arab Saudi 11,9%, AS 8,5%, Iran 5,7% dan China 5,0%. Sedangkan  importer minyak terbesar dunia 2011 (dalam juta ton) adalah AS 510, China 199, Jepang 179, India 159.

Rusia adalah penghasil gas terbesar, dengan estimasi cadangan 48 trillion  meter kubik (1.695 trilyun cubic feet).

Produksi shale gas di AS menyebabkan harga gas turun sampai 1/10 kali harga minyak. Selain gas murah, AS jg menkonsumsi 1 milyar ton thermal coal/tahun, dan 20 juta barrel/hari produk perminyakan, dan hampir separuhnya diperoleh dari impor. Pemasok minyak mentah terbesarnya adalah Kanada 21%, Mexico 12%, Arab Saudi 12%, Nigeria 11% dan Venezuela 10%.

AS memproduksi minyak 5,5 juta barrel/hari dan hampir 2 juta barrel/hari gas cair. Juga mumpunyai cadangan oil shale terbesar dunia, 1,5-2,0 trilyun barrel, namun masih sulit dan mahal biaya ekstraksinya. Estonia, China dan Brazil yang sekarang sudah memproduksinya. Rusia mempunyai cadangan oil shale sebesar 250 miliar barel, mungkin Israel juga memilikinya dalam jumlah yang sama.

China adalah konsumen energi terbesar dunia, menggantikan AS pada peringkat pertama pada tahun 2009. Setiap harinya membutuhkan 10 juta barrel minyak, 350 juta meter kubik gas, dan 5 juta ton batubara, plus tambahan dari tenaga nuklir, air dan sektor energi terbarukan lainnya. Dan separuh dari minyak, gas dan batubara masih harus import dari Timur Tengah, Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara dan Australia.

Tentang China dan India, Hiscock menulis bahwa target energi China 2011-2015 adalah proporsi penggunaan bahan bakar non-fosil harus mencapai 11,4% dan konsumsi energi serta emisi CO2 per unit GDP harus turun berturut-turut 16% dan 17%. Sementara kebutuhan minyak China sepertinya akan mencapai 12 juta barrel/hari di 2020.

Meskipun kebutuhan energi India tidak sebesar China, namun punya kekhawatiran yang sama dalam hal pertumbuhan penduduk usia menengah, yang menyebabkan tingkat kebutuhan kepemilikan kendaraan bermotor dan standar kehidupan juga semakin tinggi. Hal ini mendorong India, seperti halnya China, untuk mulai melaksanakan strategi energi yang berhubungan dengan eksplorasi minyak dan gas, batubara, serta fokus pada energi terbarukan seperti tenaga air, surya dan angin, serta program nuklir. Juga efisiensi energi yang lebih besar dalam hal produksi, penyimpanan dan distribusi serta lebih menggalakkan investasi-investasi sumber daya alam dan energi.

Perbedaannya dengan China, India hanya mempunyai cadangan valuta asing sebesar $300 milyar, sedangkan China $ 3 trilyun. Investasi China di luar negeri untuk minyak dan gas sebesar US$ 70 miliar (sejak 2002), sedangkan India, sebesar US$12,5 miliar.

China menjadi net oil importer pada tahun 1993, dan net gas importer pada tahun 2006. Meskipun ekspansi produksi domestik akan mencapai 150 miliar kubik meter (5.3 trillion cubic feet) pada 2015, China masih akan impor sebesar 80 miliar kubik meter (2.8 trillion cubic feet). Untuk LNG, sumber utama diperoleh dari Australia, Qatar dan Indonesia.

Untuk keperluan ketahanan energinya, China melakukan berbagai investasi minyak/gas di luar negeri melalui tiga perusahaan minyak nasional utamanya, yaitu: China National Petroleum Corp. (CNPC), China National Offshore Oil Corp. (CNOOC), dan China Petroleum & Chemical Corp. (Sinopec). Sementara India, tersedia lima perusahaan nasional untuk keperluan pengusahaan minyak/gasnya, yaitu: ONGC Videsh Ltd. (OVL), Bharat Petroleum Corporation Ltd. (BPCL), Indian Oil Corporation Ltd. (IOCL), Oil India Ltd. (OIL), Gas Authority of India Ltd. (GAIL), dan satu perusahaan swasta Reliance Industries Ltd. (RIL). Mukesh Ambani adalah pemilik RIL, yang banyak memiliki perusahaan minyak dan gas di luar negeri, seperti AS, Peru, Yaman, Oman, Irak, colombia, Australia dan Timor Timur.

Menurut International Energy Outlook, Sep. 2011: “Tetap tingginya harga minyak akan menyebabkan sumberdaya minyak jenis baru (oil sand, extra-heavy oil, biofuel, coal to liquid dan shale oil) secara ekonomi akan kompetitif”.

Batubara

Negara penghasil batubara terbesar dunia pada tahun 2010 (dalam juta ton) adalah China 3.250, AS 986, India 570, Australia 430, Rusia 317, Indonesia 320. Sementara negara pengekspor batubara terbesar dunia di 2009 (dalam juta ton) adalah: Australia 289, Indonesia 261, Rusia 130. AS diurutan ke-6 (60) dan ke-7 adalah China (38).

Negara dengan cadangan batubara terbesar dunia, 2009 (Milyar ton) adalah: AS 238, Rusia 157, China 114.5. Meskipun diluar 10 besar, Kolombia, Kanada, Polandia, Indonesia dan Brazil juga mempunyai cadangan batubara yg besar, masing-masing antara 4.5-7 milyar ton.

Data penggunaan batubara per kapita 2005 (kg oil equivalent/tahun) menunjukkan bahwa: India 531, China 1.242, Jepang 4.176, AS 7.913. Dunia mengkonsumsi 7 milyar ton batubara, dan 1 milyar brown coal atau lignite per tahun. Dan, 40% dipergunakan untuk kebutuhan pembangkit listrik (70% kebutuhan China dan 52% di India). Prediksi IEA (International Energy Agency), China akan menjadi konsumen energi sebesar 25% kebutuhan dunia di 2035, sementara AS akan turun menjadi 15,5% dan India akan naik menjadi 5%.

Sementara ini China sedang investasi untuk menambah daya listrik dari 320GW ke 480GW menggunakan teknologi rendah karbon, dan sekaligus menambah kapasitas daya dari 400GW ke 500GW menggunakan batubara. Penyumbang emisi CO2 terbesar dunia, 2008 (Juta ton) adalah China 6502, AS 5596 dan Federasi Rusia 1594.

Nuklir

Meskipun Tepco (Tokyo Electric Power Company) berhasil menjinakkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima 1, setelah serangan tsunami, 11 Maret 2011, Perdana Menteri Naoto Kan memerintahkan untuk shut down PLTN lainnya di Hamaoka, wilayah barat daya Tokyo.

Sementara itu, Kanselir Jerman, Angela Merkel, telah meminta untuk menunda 7 dari 17 PLTNnya  dan 10 lainnya akan ditutup lebih cepat pada tahun 2022, yang sebelumnya direncanakan utuk ditutup 2036. Demikian pula dengan Swiss, Itali dan China yang akan melakukan pengujian PLTN lebih cermat sebelum melakukan ekspansi lebih lanjut.

Jepang cukup mempunyai sejarah panjang tentang PLTN. Fukhusima dibangun oleh Tepco dan mulai beroperasi Maret 1971, sebagai respon atas tingginya harga minyak berhubung dengan embargo oleh negara-negara Arab pengekspor minyak karena perang Israel dengan negara-negara Arab 1967. Sebelumnya, 1966, Jepang telah membangun PLTN di Tokai. Hingga Maret 2011, Jepang telah mempunyai 54 reaktor nuklir yang menghasilkan 50 GW, yang cukup untuk memenuhi 1/3 kebutuhan listrik negaranya.

Ada 432 reaktor nuklir di dunia saat ini yang mampu menyediakan listrik sebesar 370 GW, diantaranya ada di AS 104, Perancis 58, Rusia 32, Korea Selatan 21, India 20, Inggris 18, Kanada 17, Ukraina 15, China 14.

China sedang membangun 50 reaktor baru dan berencana untuk menambah lagi 110 reaktor. Pada 2020, China akan menghasilkan listrik sebesar 70 GW dari PLTN. Sementara India yang saat ini memiliki 20 reaktor dan sedang membangun 20 lagi, masih berencana untuk menambah 40 reaktor yang akan dibangun sampai 2025. Bila semua rencana ini dipenuhi, maka India akan menghasilkan 64 GW listrik dari PLTN.

Satu ton Uranium Oksida menghasilkan energi yang sama dengan 20,000 ton batubara. Meskipun modal awal PLTN akan sangat mahal, namun biaya pemeliharaannya akan murah, hingga setengah dari biaya pemeliharaan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Selain Kazakhstan sebagai penghasil Uranium terbesar dunia (17.803 ton, 2010), China berada di urutan ke-10 penghasil Uranium, 827 ton. Target China adalah meningkatkan pasokan energi nuklirnya dari 2% menjadi 5%, dari kebutuhan total energi nasional pada tahun 2020.

Kazakhstan telah menambang uranium sejak 1950, dan mengambil alih posisi Kanada sebagai penghasil Uranium terbesar dunia pada tahun 2009. Pada tahun 2010 telah memproduksi 17.800 ton uranium (28% produksi dunia), dan berharap akan mencapai 30.000 ton di 2018. Kazakhstan juga sudah bekerjasama untuk melakukan eksplorasi, eksploitasi dan perdagangan uranium dengan Rusia, Jepang, China, India, Canada dan Korea Selatan.

Pasokan uranium dunia dikuasai oleh perusahaan tambang besar, seperti Rio Tinto, BHP Billiton, Krasnokamensk (Rusia), Cameco (Canada).

Afrika Selatan mempunyai PLTN untuk memenuhi 5% kebutuhan listriknya.

Meskipun Korea Selatan tidak mempunyai tambang uranium, banyak impor dari Kanada dan Australia, namun dapat memenuhi 40% energi listrik dari 21 reaktor nuklirnya, dan akan meningkatkan kapasitas reaktor menjadi 27 GW di tahun 2020. .

Rusia adalah negara pertama yang menggunakan nuklir sebagai pembangkit listrik, 1956. PLTN Iran yang pertama, 915 MW dibangun oleh Rusia, 2011. Reaktor nuklir yang sedang dan akan dibangun oleh Rusia adalah India, Vietnam, Turki dan Argentina. Rusia sendiri mempunyai 32 reaktor nuklir berkapasitas 23 GW, dan akan menjadi 43 GW di 2020.

Perancis mempunyai 58 reaktor nuklir yang menyumbang 75% kebutuhan perlistrikannya, dan menggunakan 10.500 ton uranium per tahun, yang diperoleh dari Kanada, Nigeria, Australia, Rusia dan Kazakhtan.

Inggris memiliki 19 reaktor untuk menghasilkan 63 GW listrik, atau sekitar 19% kebutuhan negaranya. Sekitar 2.300 ton uranium kebutuhannya dipasok dari Kanada. Kebijakan energi Inggris adalah separuh dari target 60 GW energi pada 2025 berasal dari sumber daya terbarukan.

Brazil yang kaya dengan sumber daya air, memiliki banyak PLTA untuk menyumbang 84% dari total pembangkit listriknya, sementara Nuklir hanya menyumbang 3% saja yang diperoleh dari dua reaktor nuklirnya. Reaktor ke-3 sedang dibangun dan empat reaktor lagi akan aktif pada tahun antara 2018-2025. Brazil mempunyai 5% cadangan uranium dunia.

Arab Saudi mempunyai program nuklis sebanyak 16 reaktor yang akan aktif 2030.

Dalam jangka panjang, dunia akan menggunakan teknologi reaktor baru yang menggunakan sumber daya Thorium, dimana keberadaan cadangannya di dunia lebih banyak daripada Uranium, dan lebih sedikit menghasilkan sampah radioaktif.

Isu sekarang dan di masa depan, berkaitan dengan reaktor nuklir, yang sangat menentukan nasib manusia adalah:

1. Sampah radioaktif sebagai bagian dari produk sampingan PLTN. Ruang bawah tanah, batuan sintetis (sampah di keringkan dalam bentuk bubuk dan dipadatkan), kontainer yang dibeton dan disimpan didaerah terpencil, adalah beberapa usulan penyimpanan sampah radioaktif

2. Pengelolaan senjata nuklir Korea Utara, Pakistan, dan mungkin Iran.

Energi Terbarukan

Menurut  pidato Barack Obama tentang Kebijakan Energi AS, China telah mempunyai energi angin berkapasitas besar, dan Jerman telah mempunyai energi surya berkapasitas besar. Negara-negara yang memimpin abad 21 dalam hal ekonomi energi bersih (clean energy economy), adalah negara-negara yang akan memimpin abad 21 ekonomi global.

Beberapa teknologi penting Energi Terbarukan yang dikembangkan oleh AS telah diperbarui dan diproduksi menjadi lebih murah oleh China, India, Jepang, Jerman, Denmark, Korea Selatan dan Taiwan. Pemimpin pasar sel surya, turbin angin, biomassa, tenaga air, geothermal, energi gelombang adalah perusahaan-perusahaan dari Jerman, Denmark, India dan China.

Berdasar laporan Renewable Energy Policy Network (REN21) 2011, pada tahun 2010, Energi Terbarukan telah memasok kira-kira 16% dari konsumsi energi dan hampir 20% dari kebutuhan total pembangkit listrik. Tenaga Angin adalah pemimpin sektor listrik terbarukan pada tahun 2010, dengan kapasitas terpasang yang semakin banyak daripada teknologi terbarukan lainnya, dan sepertinya akan mencapai 450 GW di tahun 2015, menurut Steve Sawyer, sekjen Global Wind Energy Council (GWEC) yang berkedudukan di Brussels.

Spanyol sekarang telah mempergunakan Energi Terbarukan sebesar 60%, dan Denmark hampir 100%. Korea Selatan bahkan merencanakan proyek ambisius dengan investasi $ 9 milyar untuk kapasitas 2,5 GW Pembangkit Listrik Tenaga Angin pada tahun 2019.

China masih merasa nyaman saat ini dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara sampai beberapa dekada ke depan, namun menjadi pemimpin dunia dalam hal produksi Tenaga Air (hydro power) pada 2010, sebesar 200 GW kapasitas terpasang, lebih besar daripada Kanada (90 GW), AS (80 GW) dan Brazil (70 GW).

Untuk keperluan bahan bakar transportasi, Brazil dan AS masih memimpin dalam hal produksi ethanol. AS mentargetkan sedikitnya 36 milyar galon (136 milyar liter) bahan bakar cair harus berasal dari sumber terbarukan pada tahun 2022. Menurut laporan International Energy Agency (IEA) 2011, bahwa bersama-sama dengan AS dan Brazil, pada tahun 2016 kebutuhan global total gasoline sebesar 5,3% akan digantikan dengan ethanol dan 1,5%  minyak/gas dengan biodiesel.

Tembaga

Setiap mobil baru membutuhkan tembaga, sedikitnya 20 kg, dan akan lebih banyak lagi untuk keperluan mobil hibrida. Untuk keperluan konstruksi, baik itu apartemen, gedung, kapal, pesawat terbang, perlengkapan listrik, proyek rekayasa dan industri, pasti membutuhkan tembaga. Pada tahun 2010, dunia mengkonsumsi 19,4 juta ton tembaga, hampir $150 milyar, atau sekitar $ 7.500/ton. Akhir 2011, harga tembaga mencapai $7.800/ton.

Pada tahun 1990, saat harga tembaga $ 2.400/ton, Amerika Utara, Eropa dan Jepang mengkonsumsi 68% tembaga dunia, dan China hanya membutuhkan 5% saja. Di tahun 2010, China sudah membutuhkan 37% tembaga dunia, Jepang 5% dan Amerika Utara/Eropa hanya 27%.

Saat ini, dua smelter tembaga terbesar dunia ada di India dan China, dengan kapasitas masing-masing 900.000 ton, dan cadangan tembaga terbesar dunia adalah Chili, yang memiliki hampir 1/3 total produksi dunia. Sementara importir tembaga terbesar dunia, berturut-turut, adalah China, Jepang, India, Korea Selatan dan Jerman. AS sebagai konsumen tembaga terbesar kedua dunia, mampu mencukupi 60%-65% kebutuhannya dari tambang dalam negeri sendiri.

Kebutuhan tembaga per capita dunia rata-rata 2.7 kg/orang, sedikit lebih banyak di Amerika Utara, Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. India saat ini hanya 0,4 kg/tahun dan China 3 kg/tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan tembaga sebanyak 7,47 ton tembaga, China memproduksi 1,16 juta ton konsentrat, impor 6,47 juta ton konsentrat dan 2,9 juta ton tembaga kadar tinggi dan memproses 4,36 juta ton tembaga bekas.

Tanah Jarang (Rare Earth)

Ini adalah kelompok mineral-mineral logam (http://id.wikipedia.org/wiki/Logam_tanah_jarang) yang sangat dibutuhkan sebagai bahan mentah barang-barang yang saat ini sedang menjamur, seperti batere untuk mobil hibrida/listrik dan  handphone/smartphone, konduktor, televisi dan monitor LED, laser, lensa kamera, mesin x-ray, komputer, peralatan militer dsb. China adalah penghasil utama 28 dari 52 elemen tanah jarang yang dibutuhkan industri tersebut. 50% – 60% kebutuhan ‘tanah jarang’ Jepang, diperoleh dari China. Bila prediksi 25% jumlah mobil pada tahun 2020 adalah mobil hibrida, maka kebutuhan lithium untuk batere mobil jelas akan sangat tinggi. Dengan cadangan lithium sebesar 70% (100 juta ton) cadangan dunia, Bolivia berencana membangun pabrik mobil listrik.

Dalam bab The Up and Comers, ada sub-bab yang mambahas khusus tentang Indonesia, yang menyebutkan bahwa saat ini Indonesia sedang melakukan eksplorasi geothermal dan coal bed methane(CBM), untuk mencapai target kebijakan energinya pada tahun 2025, dimana kebutuhan energi minyak bumi akan turun menjadi 26,2%, batubara 32,7%, gas 30,6%, geothermal 3,8% dan energi terbarukan sekitar 4,4%. Pada tahun 2015, berdasar Wood MacKenzie, dua dari tiga eksporter thermal coal terbesar dunia adalah perusahaan Indonesia, yaitu Bumi Resources dan Adaro (Xstrata, Australia yang terbesar). Indonesia juga salah satu dari tiga eksporter LNG terbesar dunia.

Laporan bank HSBC 2011 yang berjudul The World in 2050 menyebutkan bahwa negara berkembang, termasuk China dan India, akan mempunyai pengeluaran lima kali lipat dibanding negara maju. 19 dari 30 negara dengan ekonomi paling tinggi, berdasar GDP, adalah negara-negara yang saat ini masuk dalam ketegori negara berkembang (emerging country).

Hampir di setiap negara yang disebutkan di masing-masing bab dalam buku ini, terlihat selalu ada  investasi China di dalamnya. Bahkan, di Amerika Serikat, investasi China, melalui perusahaan nasionalnya CNOOC telah membeli perusahaan minyak besar Unocal $18,5 milyar pada tahun 2005. Di tahun 2020, akan mengalir investasi China ke seluruh dunia sebesar $1 trilyun, yang sebagian besarnya akan masuk ke Amerika Serikat. Hiscock juga menuliskan kekayaan China di Amerika Serikat berupa $1,2 trilyun di US Treasuries, piutang $450 milyar, investasi porto folio di berbagai perusahaan AS sebesar $80 milyar.

Dalam kesimpulannya, Hiscock menulis bahwa China akan menjadi penentu pasar energi dan sumber daya lainnya, diikuti dengan India, Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya yg kaya SDA seperti Kazakhstan dan Mongolia.

Hal penting yang perlu menjadi perhatian China adalah faktor korupsi, HAM, penegakan hukum dan kebijakan satu anak yang menyebabkan kekurangan tenaga usia produktif, akan menjadi faktor yang melemahkan  masa kejayaannya di masa depan. Berdasar survei PBB, pada tahun 2025 India akan berpenduduk lebih banyak daripada China di masa puncaknya, kurang dari 1,4 milyar, sedangkan pada 2060 tenaga kerja produktif India akan mencapai 1,72 milyar orang dimana ekonomi India diperkirakan akan lebih baik daripada China. Ini berarti pada pertengahan abad ini akan ada dua negara adidaya dunia di Asia, yaitu China dan India.

Congo, Mozambique, Zambia dan Liberia sebagai negara yang kaya akan SDA tidak berarti bisa memenangkan Perang SDA (Earth Wars). Teknologi, logistik, SDM, finansial, konflik sosial dan bencana alam adalah faktor-faktor lain yang turut menentukan kemenangan perang ini.

Di Asia Tenggara, Indonesia diperkirakan akan menjadi pemenang di 2050, dimana populasi usia muda akan mencapai puncaknya, 293 juta orang dan menjadi negara berpenduduk terbanyak ke-4 dunia yang kaya akan minyak/gas,  thermal dan  cooking coal, minyak kelapa sawit dan berbagai bahan pangan.

Bila Perang SDA dianggap sebagai sebuah turnamen, maka nilai sementara tahun 2012 menurut Hiscock adalah:

Amerika Serikat                : 10

China                                : 8

Eropa dan Jepang            : 6

Rusia dan India                : 5

Brazil                                 : 4

Mexico, Kanada, Australia: 3

Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan UEA: 2

Korea Selatan, Indonesia, Afrika Sel, Nigeria, Turkey, Iran, Republik di Asia Tengah, Mongolia: 1

Dengan melihat data-data populasi, cadangan devisa dan cadangan, investasi, ekspor/impor, kebutuhan, pasokan dan lalulintas perdagangan SDA dalam buku ini, dengan disertai sedikit penjelasan penulisnya, maka pembaca akan bisa menarik kesimpulan sendiri bahwa China/India yang terus berinvestasi secara besar-besaran, baik dalam hal volume perdagangan maupun nilai investasi, di berbagai belahan dunia untuk mencukupi kebutuhan SDAnya, akan mampu menggeser kejayaan Barat menuju Timur dan menjadi penentu kemenangan perang SDA ini. Namun sayangnya, pendapatan per capita kedua negara tersebut diperkirakan akan masih lebih rendah dibanding Amerika Utara, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Australia, sebagian Amerika Selatan, Asia dan Timur Tengah.

Kritik

Buku yang seharusnya membahas ketahanan energi, metal, pangan dan air ini memang banyak menyajikan data dan analisis energi dan metal, namun hanya ada satu bab saja untuk masalah pangan dan air dari 15 bab yang ada. Mengingat banyak sekali kompilasi data tentang dua SDA tersebut, termasuk energi terbarukan, nuklir dan tanah jarang (rare earth) yang diperoleh dari berbagai sumber, seharusnya bisa lebih banyak lagi pembahasannya.

Banyak data yang sifatnya berurutan dijabarkan dalam bentuk kalimat, sehingga tidak mudah untuk diperbandingkan, akan lebih nyaman dibaca bila ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.

Peta sebanyak delapan halaman di bagian depan buku tidak banyak membantu karena hanya berisikan batas negara dan ibukota. Akan sangat bagus bila ditampilkan peta thematik SDA dunia.

Namun, sedikit kekurangan tersebut tidak mengurangi betapa banyak sekali informasi dan analisis yang bisa diperoleh dalam kaitannya dengan ketahanan energi dan SDA saat ini dan dimasa datang. Sangat dianjurkan.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »