
Archive for the ‘Opini’ Category
Krisis Identitas
Posted in Opini, tagged BEM, Gerakan Moral, Mahasiswa, Unjukrasa on Oktober 1, 2019| Leave a Comment »

PTFI harus tetap bekerja
Posted in Opini, tagged Cadangan, Divestasi, freeport on Januari 4, 2019| Leave a Comment »

-
Cadangan bijih Tembaga/Emas yang ada dalam perut bumi yang tetap dimiliki RI
-
Perusahaan PTFI sebagai pemegang Kontrak Karya penambangan (sekarang IUP) yang memiliki asset peralatan produksi, infrastruktur dan organisasi
-
Perlu adanya Badan Usaha untuk mengoperasikan tambang ex-Freeport dan menyusun ulang infrastruktur fisik dan organisasi. Ketika pt. Freeport Indonesia dinyatakan bubar, maka semua karyawan harus dipulangkan karena tidak ada institusi resmi (PT) yang menaunginya
-
Semua peralatan operasi, fasos dan fasum berhenti dan sebagian peralatan lainnya dikembalikan ke owner (rental). Listrik mati karena power plant berhenti berhubung tidak ada lagi pasokan batubara.
-
Tidak ada perawatan infrastruktur tambang, seperti jalan, drainage system, terowongan, stockpile (tumpukan bijih emas/tembaga hasil penambangan)

Proses Pengolahan
-
Tidak adanya perawatan jalan untuk akses penambangan dan pengangkutan barang dan manusia, akan menyebabkan rusaknya jalan. Jalan tambang selalu dibutuhkan perawatan/pengerasan setiap hari karena bukan jalan permanent/aspal
-
Dinding tambang Grasberg yang berbentuk corong dengan diameter 2 km dan kedalaman 1 km bisa longsor karena tekanan air yang tinggi dari belakang dinding, banjir karena drainage yang tersumbat batuan
-
Tidak adanya pompa air di dasar tambang menyebabkan banjir besar
-
Terowongan yang tidak diawasi dan dirawat, akan ambruk. Akses menuju ke area penambangan bawah tanah semakin sulit. Memperbaiki tunner yang runtuh, bisa lebih mahal daripada membuat tunnel baru
-
Proses eksplorasi untuk menambah cadangan dan memodelkan swcara rinci cadangan bijih sehingga memudahkan dan mengefektifkan/efisienkan proses penambangan, tidak dapat dilakukan
-
Peralatan pabrik yang canggih bisa rusak karena tidak ada perawatan dan butuh waktu untuk memulai ulang
-
Masih banyak lagi
Kita Indonesia
Posted in Opini, tagged Gedung Joang, Harmoni, Harmoni Indonesia, J2P, Jokowi, White shoes on September 10, 2018| Leave a Comment »
Matahari belum genap benar muncul di balik Patung Tani, tapi seputaran jalan disitu sudah macet. Banyak mobil merapat di depan Gedung Joang 45, jalan Cikini Raya, untuk menurunkan penumpang. Lagi, kostum merah-putih memenuhi halaman rumah itu. Suara rebana dan tembang shalawat Nabi menyemarakkan pagi, menunggu kehadiran Capres Jokowi dan Cawapres Ma’ruf Amin. Jam 8 lebih, capres/ cawapres turun dari mobil, dan tak lama kemudian mereka muncul di atas panggung. Meriah teriakan hadirin yang memadati halaman rumah, “Jokowi .. Jokowi …” berulang-ulang …
Deklarasi kesediaan beliau berdua sebagai capres/cawapres diucapkan Jokowi dan Ma’ruf Amin di depan para pejabat partai politik pendukung dan para relawan. Jam 10an Jokowi/Amin berangkat menuju KPU menggunakan mobil innova diiringi para pejabat partai dan relawan, mengawal dengan penuh harapan dan optimisme tinggi bahwa Kebaikan akan Menang. Jokowi 2 Periode.
Tak seperti pada upacara Proklamasi pada pemerintahan sebelumnya, pada era Jokowi ini, 17 Agustusan terasa menjadi moment penting yang ditunggu masyarakat Indonesia, baik yang berada di sekitar istana, maupun para pemirsa televisi di rumah, karena upacara dan perayaan yang menyertainya selalu semarak, indah, tak terduga dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Baik saat penaikan bendera, maupun penurunan bendera, yang keduanya selalu dihadiri Presiden. Menyenangkan, sekaligus melambungkan rasa cinta bangsa. Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang seharusnya hanya diperdengarkan, bercampur haru para hadirin pun pada akhirnya turut bersemangat menyanyikannya. Dan untuk pertama-kalinya juga, lagu Padamu Negeri, diminta oleh pengarah acara supaya dinyanyikan bersama-sama oleh semua hadirin. “Padamu Negeri … “, terdengar gelora semangat suara nyanyian membuncah rasa bangga di dada. Rasa kebangsaan itu sungguh terasa ..
Cafe yg berada di Kemang Raya, depan Habibi Centre, itu terlihat penuh anak muda dan wartawan yang akan meliput acara pengumuman para pemenang Kompetisi Menyanyi Bersama Harmoni Indonesia 2018. Kompetisi ini dilakukan dengan cara mengunggah video sendiri saat menyanyikan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa, dengan juri dari White shoes and the Couples Company, yang juga menjadi band penghibur pada acara itu. Pemenang bersuara merdu, dari kategori single dan group, mendapatkan hadiah handphone Samsung. Semarak ceria. Selamat untuk pemenang.
Ini adalah tanggal yang bakal tercatat dalam sejarah kesuksesan bangsa Indonesia, Asian Games 2018 Opening Ceremony. Event internasional ini menjadi berita utama di media cetak dan elektronik di dalam dan luar negeri. Film pendek yang menyajikan aksi perjalanan Presiden Indonesia dari istana Bogor menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan mengendarai motor besar paspampres. Adegan lucu, menegangkan, empati dalam film pendek itu menjadi hiburan tersendiri dalam acara Pembukaan tersebut.
Kegembiraan dan antusiasme masyarakat menyambut Asian Games ini sungguh luar biasa. Kostum merah-putih berlalu-lalang, tumpah-ruah setiap harinya di seputaran Stadion Utama Senayan. Tiket semua cabang olahraga selalu habis terjual dan pemirsa televisi di rumah pun selalu siap terjaga menikmati liputan langsung dari arena pertandingan. Rasa haru pun selalu menyertai semua penonton setiap kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan menyertai pengalungan medali emas untuk para atlet Indonesia yang menjadi juara pertama dalam pertandingan. Luar biasa, 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu telah diraih para pahlawan olahraga kita. Perhelatan yang melibatkan dana besar dan tenaga kerja puluhan ribu, telah sukses diselenggarakan, bahkan juga sukses melebihi target perolehan medali.
Dalam situasi memprihatinkan, masyarakat Lombok yang sedang terkena bencana gempa bumi, Presiden bersama warga Lombok di pengungsian, turut menikmati hiburan acara Penutupan Asian Games 2018 yang tersaji indah membanggakan karya anak bangsa pada 2 September 2018, melalui layar lebar di lapangan terbuka, Lombok.Harmoni Indonesia 2018
Posted in Opini, tagged Addie MS, Harmoni, Harmoni Indonesia, Jokowi on Agustus 12, 2018| Leave a Comment »
Pada awalnya hanyalah keprihatinan sosial atas kondisi bangsa yang carut-marut dalam jagad maya, namun juga nyata menghangat dalam jagad nyata, terkait dengan pilpres 2014, yang menerus hingga pilgub DKI dan potensial memanas menjelang pilpres 2019; lalu berkembang memancing tindakan.
Asian Games ke-2 di Indonesia yang segera dimulai pada 18 Agustus 2018 dan bulan ‘Kemerdekaan RI’ menjadi moment bagus untuk diselenggarakan event penggerak bangsa untuk turut memeriahkan dan mensukseskan acara Asian Games 2018, serta menyemangati para atlet Indonesia supaya lebih berprestasi dan sekaligus meningkatkan rasa kebangsaan dan Persatuan Indonesia. Event seperti apakah yang cocok untuk hal di atas?
Setelah ngobrol bersama opa Sidarto, uda Firdaus Ali dkk., muncullah gagasan menyanyi bersama lagu-lagu nasional dari seorang Addie MS, maestro orkestra, untuk menjawab pertanyaan di atas. Ide tersebut muncul dari pengalaman Addie MS yang sukses memimpin nyanyi spontan bersama di balaikota DKI beberapa tahun yll. Harmoni Indonesia 2018 (HI2018) menjadi judul event yang kita pilih setelah rapat kesekian-kalinya.
Kamis, 26 Juli 2018 siang, Presiden Jokowi memanggil Watimpres pak Sidarto dan uda Firdaus Ali ke istana Bogor, untuk mendapatkan persetujuan Beliau melaksanakan HI2018 pada 5 Agustus 2018, sesuai keinginannya di pertemuan sebelumnya pada bulan Juni, sebelum Lebaran. Langsung, jungkir-baliklah panitia penyelenggara mempersiapkan HI2018 supaya nyata adanya.
Rapat-rapat internal panitia dan rapat dengan para pihak eksternal segera dilakukan. Permohonan bantuan ke TNI/Polri tak lupa kami layangkan, juga prosedur resmi perizinan ke berbagai pihak demi terlaksananya acara ini, juga kami penuhi. Lokasi rapat yang berpindah-pindah karena kapasitas ruang, kelengkapan sarana atau kedekatan dengan GBK sering terjadi. Tidak ada tempat yang tetap sebagai sekrerariat. Internet of Things menjadi sarana komunikasi sejak persiapan hingga terlaksananya event ini. Akrobat panitia terpaksa dilakukan dengan saling mengisi kekurangan dan melengkapinya. Mengagumkan, nada tinggi sering terdengar, kuping merah sering terasa, namun karena semangat yang sama untuk mewujudkan HI2018, maka kesabaran, kekompakan dan kerja cerdaslah yang akhirnya bisa memenangkan.
Kamis, 2 Agustus 2018, perlengkapan panggung dan tenda-tenda mulai menumpuk di lokasi GBK Koridor Timur, siap dipasang. Sabtu, panggung berdiri megah dan LCD besar sebagai latar belakang masih dalam uji coba hingga malam hari. Video streaming teruji lancar untuk komunikasi gambar maupun suara, dengan berbagai kota dan negara lain.
Minggu, 5 Agustus 2018 6.15, jalan di depan hotel Century, Senayan, padat dengan kendaraan dan berjubel massa merah-putih peserta HI2018 berlalu-lalang. Macet. Bus kementerian berderet menurunkan penumpang di Pintu 10 Senayan (depan TVRI) dan Pintu 5 (depan hotel Century). Belasan mobil golf berlalu-lalang menjemput para atlet penyandang cacat dan veteran ke Pintu 5 dan Pintu 10. Luarbiasa animo masyarakat untuk turut terlibat menyanyi lagu-lagu nasional bersama Presiden.
Jam 7.30an Presiden Jokowi turun dari mobil, yang masuk lingkungan GBK melalui Pintu Utama komplek Senayan dan berhenti di belakang panggung HI2018. Polo shirt lengan panjang putih berlogo merah bundar Harmoni Indonesia 2018 di dada kiri, terlihat cocok di badan beliau. Gagah.
Ketua Umum Firdaus Ali, Ketua Dewan Pengarah Watimpres Sidarto, Setkab, MenRisetDikti, Menko PMK menjemputnya ketika Presiden turun dari mobil dan sempat menemaninya ngobrol sebentar di holding room, hingga televisi RCTI siap tayang mulai jam 8.00. Sayang sekali, karena padatnya acara, beliau tidak sempat menyapa peserta di daerah melalui video streaming di ruang yang telah disediakan oleh EO Nicky, yang telah dilengkapi dengan LCD monitor dan terkoneksi dengan 34 ibukota propinsi di Indonesia dan 8 kota besar di negara tetangga. Namun demikian, beliau faham betul bahwa 2 jutaan peserta Harmoni Indonesia 2018 di seluruh Indonesia dan beberapa negara sahabat turut meramaikannya. Pukul 7.55 Presiden Jokowi muncul tersenyum dan melambaikan tangan di atas panggung diiringi teriakan histeris massa menyapanya, “pak Jokowiiii, pak Jokowiii”. Sedikit sisa waktu sebelum on-air, digunakan Presiden untuk menyalami para peserta paduan suara di atas panggung, yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, juga para Menteri dan beberapa Kepala Lembaga Negara.
Tepat 8.00, Presiden berdiri di atas podium tengah panggung dan baton mulai terayun di tangan sang dirigen, Addie MS, tanda mulai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua terlihat semangat, berdiri tegap, tertib dan musik keras terdengar melalui puluhan pengeras suara terpasang menyebar, mengiringi serentak alunan suara massa di atas panggung, depan panggung dan lebih dari 50 kota. Menggema lantang mengharukan. Luar biasa.. Media sosial instagram dengan tagar #HarmoniIndonesia2018 dan youtube, banyak sekali menayangkan peristiwa ini. Apa yang membuat antusiasme untuk terlibat menyanyi bersama lagu nasional ini? Wajah-wajah ikhlas penuh semangat itu tak akan berbohong, Harmoni Indonesia 2018 menjadi sarana ungkapkan rasa CINTA Tanah Air, CINTA NKRI, CINTA Persatuan. Jayalah negeriku INDONESIA.
Catatan:
Gambar dan Video dapat dilihat di Youtube dan Instagram bertagar #HarmoniIndonesia2018
Rekaman liputan televisi TVONE dan SCTV:
Foto-foto di belakang layar:



Ruang Video Streaming

Universitas Gajah Mada

Universitas Indonesia

Indonesia Berwarna
Posted in Opini, tagged Jokowi, Soeharto, Soekarno on Agustus 23, 2017| 2 Comments »
Ketika jaman Soekarno, 60an awal kira2, sering agak bingung melihat para orang tua bergerombol mendekatkan diri pada sebuah radio, dengan wajah serius memiringkan kepala untuk fokus mendengarkan pidato Presiden Soekarno. Wajah kagum menghias wajah-wajah mereka setelahnya .. lalu suara pujian lamat-lamat terdengar, saling berbisik …

10 prinsip utama dalam membangun bisnis di China
Posted in Opini, tagged China, Dealing, Forbes, Michael Witt, Negosiasi on Desember 25, 2016| Leave a Comment »

Masyarakat Kolektif
Catatan penting tulisan Michael A. Witt, Professor dari Asian Business & Management, INSEAD di majalah digital Forbes 6 Maret 2012, bisa menjadi panduan untuk memulai membangun kemitraan dalam lingkungan budaya China di negerinya. Pengalaman bernegosiasi dengan beberapa pengusaha asal China yang berdomisili di luar negeripun juga menunjukkan kultur yang tidak jauh beda.
- Investor perlu ‘blusukan’ di kota-kota pinggiran China utk dpt info holistik ttg budaya masy. China, bila mengharapkan bisa berbisnis disana.
- Perlu melakukan analisis keunggulan kompetitif dan tidak terjebak pada nafsu pertumbuhan pasar sendiri
- Perlu kesabaran dan tidak terburu-buru dalam memulai operasi dengan mengenali relasi lebih dalam sebelum membuat keputusan kemitraan
- Masyarakat China adalah masyarakat kolektif, meskipun akan bersikap individualis thd kelompok yang berbeda, shg sikap kooperatif akan sulit dicapai. Win-win solutions bukanlah karakter mereka sehingga kecenderungan re-open negotiation sering terjadi pada saat dealing sudah hampir berhasil, karena dianggap tidak cukup keras bernegosiasi (terlalu berkompromi).
- Ada dua cara membangun trust, yaitu berikanlah trust hingga terbukti tidak dapat dipercaya, atau buktikan dulu hingga layak dipercaya. Kultur bisnis China sepertinya mengikuti cara yang kedua. Konsekuensi dari karakter seperti ini, ditambah dengan sifat individualis (diluar groupnya) dan sistem legal China yang kurang imparsial, menyebabkan sikap oportunistik, sehingga berakibat sulitnya membuat kontrak bisnis. Mekanisme sejenis cash on delivery sering menjadi jalan keluar.
- Untuk menghadapi karakter oportunistik, perlu dibangun kepercayaan personal terhadap relasi bisnis yang membutuhkan waktu lama, sehingga sikap tergesa-gesa akan sangat berresiko. Makan malam dengan minuman beralkohol adalah cara termudah yang biasa dilakukan dalam budaya bisnis China, namun perlu kecerdikan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol yang ditawarkan, sehingga bisa tetap fokus dalam membangun hubungan.
- Batas-batas negosiasi seringkali tidak jelas dan kekuasaan politik bisa menjadi parameter yang sangat menentukan.
- Kultur masyarakat China adalah hirarkis, keputusan penting akan dilakukan secara top-down, maka perlu memahami posisi hirarki relasi bisnis saat sedang bernegosiasi karena otoritas pengambil keputusan berada pada puncak tertinggi. Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi formal, usia dan pendidikan dari lawan negosiasi.
- Sistem pemerintahan komunis China adalah desentralisasi, sehingga apapun yang diperintahkan pemerintah pusat untuk dilakukan pemerintah daerah, pasti akan dikerjakan. Namun demikian, dealing bisnis dengan pemerintah pusat untuk pekerjaan di daerah, tanpa melakukan dealing dengan pemerintah daerah, pasti akan bermasalah.
- Perlu difahami bahwa kondisi ekonomi China yang sedang bagus dan ambisi pemerintah untuk terus memacu BUMN hingga berprestasi dan menguntungkan, akan menjadi pesaing berat perusahaan swasta, untuk itu perlu berhati-hati menentukan pasar. Kerjasama saling menguntungkan masih mungkin terjadi bila tekonologi anda memang sangat dibutuhkan oleh pemerintah China.
Persepsi vs Realitas
Posted in Opini, tagged Ahok, Frustrasi, Persepsi, Realitas on November 8, 2016| Leave a Comment »
Dalam kasus “Penistaan Agama oleh Ahok”, kompromi antara demonstran dengan Wapres JK sore 4 November 2016 di istana, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden pada jam 12 malam harinya, adalah memerintahkan Kapolri untuk mempercepat Proses Hukum Ahok secara terbuka, supaya bisa disaksikan masyarakat, dengan harapan kecurigaan terhadap kemungkinan terjadinya ‘permainan‘ peradilan dapat dihindarkan. Ternyata tak semua pihak bisa menilai atau lebih tepatnya bersedia menilai upaya presiden ini sebagai sebuah niat baik. Reaksi sebagian dari pihak penuntut justru menganggap Presiden melakukan intervensi proses hukum, yang dengan alasan tersebut maka Presiden bisa dituntut bahkan dimakjulkan. Hemmm … garuk-garuk tangan … kira-kira apa komentar mereka bila proses hukum dilakukan tertutup?
Proses untuk mendapatkan keterangan dari saksi, termasuk terlapor Ahok, sudah mulai dilakukan polisi kemarin, Senin 7 November 2016. Komentar miring kelompok penuntut Ahok di medsospun mulai bermunculan, “kemungkinan ahok dibebaskan sudah terlihat”, “pertanyaan penyidik meringankan ahok”, dll. yang pada intinya, penyidikan sebagai suatu kenyataan proses hukum dirasa sudah bertentangan dengan Harapan (bukan fakta hukum). Mulai tumbuh kekhawatiran karena harapan dirasa tak searah lagi dengan kenyataan bahwa ‘Percepatan Proses Hukum Ahok’ tak berujung pada ‘Hukum Ahok’. Kecewa.
Seperti diketahui bahwa Persepsi yang melebihi Realitas (satu tingkat dibawah mimpi) bisa terjadi karena:
1. Kurangnya informasi
Kekurangan informasi disini bisa terjadi karena memang tak banyak informasi ditemukan, atau banyak informasi valid namun tak mampu menganalisisnya sehingga berakibat salah persepsi.
2. Pengingkaran kebenaran informasi
Adu Panco Presiden
Posted in Opini, tagged Engkol, Gladwell, Goliath, Jokowi, Kaesang, Malcolm, Panco on Juli 5, 2016| 1 Comment »
Hah … itu bener video Jokowi dan putranya ??? Setelah foto Boeng Karno yang berkaos dalam dan Gus Dur yang bercelana pendek, baru sekarang muncul lagi presiden yang dengan santai bersarung, tak perlu berjas dasi necis, seolah berpesan akan kerendahan hati. Sambil menggulung lengan kaos dalam putihnya, Presiden menunjukkan lengannya yang langsing kurang berotot, dibandingkan lengan putranya yang begitu gempal terlatih, lalu menepuknya dan berkomentar: ” belum tentu kaya gini ini kuat …” Tawaran adu panco pun (engkol, bahasa Jawa) dilayangkan sang anak ke bapaknya. Menyeruak tanya dalam benak “Apa maksud adegan video pendek ini?”. Pesan moral, sindiran politik, nasihat kesehatan atau teguran buat anak?
Buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell kembali mengingatkan kisah lama tentang si Lemah David melawan si Raksasa Goliath yang kasat mata seharusnya dengan mudah mampu melindasnya. Namun, kita semua sudah mengetahui hasil dari pertandingan ini. David dengan kesabaran, rendah hati dan kecerdikannya mampu mengalahkan Goliath sebagai representasi kesombongan dengan cara melempar batu hingga menjatuhkannya dan membunuhnya. Gladwell menulis dalam bukunya “Giants are not what we think they are. The same qualities that appear to give them strength are often the sources of great weakness”.Siklus Kejatuhan Rezim Politik
Posted in Opini, tagged Aristokrasi, Demokrasi, Forensik, Majalah basis, Oligarki, Plato, Psiko-politik, Republic, Timokrasi, Tirani on Maret 29, 2016| Leave a Comment »
“Wherefore my counsel is, that we hold fast ever to the heavenly way and follow after justice and virtue always, considering that the soul is immortal and able to endure every sort of good and every sort of evil”, The Republic.
Majalah Basis No. 1-2 2016
The Republic, Book VIII, oleh Plato
Setelah puluhan tahun tak membacanya, Majalah Basis terbaru mulai di tangan lagi. Satu artikel yang ‘menggairahkan’ langsung jadi perhatian utama, ‘Siklus Kejatuhan Rezim Politik‘, karya Ito Prajna-Nugroho. Tulisan tentang buku The Republic, buku VIII. Berikut ini adalah sedikit kutipan penting dari tulisan tersebut
The Republic adalah karya filsafat yang menguraikan secara sistematis keterkaitan antara tatanan politik dengan tiga hal penting yg menopangnya, yaitu Keadilan (justice), Keutamaan (virtue) dan Gerak Jiwa (soul).
Perubahan rezim politik bergerak bagaikan siklus, dimulai dari rezim filsuf-negarawan yang baik (aristokrasi), kemudian berturut-turut berubah menjadi rezim militeristik (timokrasi), rezim pemburu rente (oligarki), rezim anarkis (demokrasi) dan berujung pada rezim tangan besi (tirani).
Siklus kejatuhan rezim-rezim politik perlu dipahami dlm 3 kerangka utama.
- Sebagai analisis psiko-plitik, yang bertumpu pada kesejajaran antara tatanan politik dan tatanan jiwa. Tegak atau runtuhnya setiap bangunan sosial-politik selalu bertumpu pada kualitas kejiwaan manusia yg menghidupinya.
- Sebagai alat bantu untuk mengontraskan perbedaan dasar antara tatanan yang adil dan yang tidak adil.
- Sebagai analisis forensik thd kecenderungan tatanan, baik jiwa maupun politik, yg cenderung bergerak tak terkontrol melewati batas utk menemui ajalnya sendiri.
Kekuatan yang dimiliki rezim demokrasi, yaitu Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi, juga menjadi kelemahannya, bahkan penyebab kejatuhannya.
Nilai Keutamaan (virtue) merupakan syarat yg harus dimiliki warga dalam rezim demokrasi, supaya dapat membatasi Kebebasan diri demi kebaikan bersama. Menurut skema psiko-politik Plato, sang penulis buku, anarki yang muncul dalam tatanan demokrasi merupakan cerminan anarki di dalam tatanan jiwa. Hasrat kebebasan yang kebablasan. Akhirnya, anarki selalu menjadi awal dari datangnya rezim kediktatoran atau tirani.
Bukan hal mudah bagi saya untuk dapat mengerti dengan cepat isi buku The Republic ini. Tebal bukunya melelahkan dan banyak asesori cerita di dalamnya, sehingga tak pernah selesai membacanya. Sering harus baca berulang untuk mengerti, atau bahkan tetap tidak mengerti :). Untuk itu saya berterimakasih pada penulisnya, Ito Prajna-Nugroho, yang sudah mempermudah pengertian dari bab yang sangat penting, The Republic, Book VIII.
Saya membaca The Republic dari buku digital Play Books, hanya Rp. 13.392 saja.
Terus menyangkal
Posted in Opini, tagged Menyangkal on Maret 20, 2016| Leave a Comment »

Selesai sekolah di kota, Paimin pulang kampung
Paijo kawan masa kecil Paimin, sangat mengaguminya
Bangga berbinar Paijo, Paimin nyalon Lurah
“Mas Paimin pemimpin kita”, dalam benaknya
Modal Paimin mengucur deras, Paijo bekerja keras
Badan tegap, dagu diangkat, Paijo melangkah
Kusak-kusuklah Paijo berbisik malu, cari dukungan
Tak cukup gaungnya, provokasi disebar
Poster dipasang, pamflet disebar, akun medsospun bertebaran
“Ganteng gagah, sugih pinter, pasti menang”, teriaknya
Di darat maupun di angkasa
Bejo, pengantar paket, didukung warga nantang Paimin
Berangkat pagi, pulang petang, keliling kota
Pekerjaannya, membuatnya banyak dikenal warga
“Rendah hati, luhur budi dan ringan tangan”, slogan pendukungnya. Klasik
Deg-degan jantung Paimin sangat terasa
Harga dirinya tersenggol “edian, sarjana ditantang”, kesal
Hati meradang, lelah pikir, mulai fitnah Bejo
“Bejo dibayari cukong”, teriak kencang menantang langit
Kearifan budaya membuktikan dirinya
“Becik ketitik, ala ketara”
Kalah pemilihan, Paijo mulai sulap sana-sini
Tak bisa terima, dendam menguasai diri
Waktu berjalan,
Tambak bandeng, sawah, ternak, produktif semua
Jalan diperbaiki, sungai dikeruk, pasar dibangun
Lurah Bejo jadi panutan warga, sukses
Nyinyir Paijo dkk. mulai beredar
Kritik katanya, tapi fitnah isinya
Foto-foto pembangunan menghantam Paijo
“Seperti jaman Soeparto, berita pembangunan terus!!”, keluhnya di angkasa
Tangan terkepal, mata melotot, marah
“Janganlah jumawa setelah menang”, lanjutnya lembut
Paijo belindung di bawah kata, mencoba bijak di angkasa
“Loh … nyinyir dijawab fakta kok jumawa”, kawan Bejo terus bersabar
Kasihan Paijo,
Kening terus berkerut, siasat terus diatur
Komat-kamit sepanjang jalan
Suara lirih terucap keluh
“Aku harus menang …” penyangkalan akut.
