Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Jokowi’

HOW DEMOCRACIES DIE

Copyright © 2018 by Steven Levitsky and Daniel Ziblatt

It is less dramatic but equally destructive. Democracies may die at the hands not of generals but of elected leaders. (Levitsky dan Ziblatt, 2018)

Buku ini menjadi tenar di tahun 2020, ketika beredar foto Anies Baswedan, yang kemudian menjadi Kandidat Presiden RI, yang sedang membacanya. Sebuah upaya sindiran halus terhadap pemerintahan Jokowi saat itu. Menjadi buku rujukan bagi para mahasiswa kritis.


Sejarah runtuhnya Demokrasi di berbagai negara di dunia menunjukkan perubahan modus. Bila Chili, Venezuela, Mesir, Turki, Thailand, Filipina pernah mengalami kudeta militer, maka di abad 21 ini tak lagi banyak alih kekuasaan kepemimpinan nasional diwarnai korban jiwa atau kudeta bersenjata. Namun esensinya tetap tidak berubah, yaitu perebutan kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan dengan cara tidak demokratis.

Tak lagi muncul kudeta militer, atau kediktatoran brutal. Namun Demokrasi tetap bisa runtuh walaupun konstitusi yang diharapkan sebagai pengaman demokrasi telah tersedia. Bahkan lembaga-lembaga negara yang diperlukan keberadaannya dalam negara demokratis (trias politika) untuk Check and Balances seperti Dewan Perwakilan/Senat (legislatif) dan lembaga Hukum (yudikatif), masih berkegiatan. Proses-proses demokratis pun seperti Pemilihan Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat, tetap dilaksanakan. Dan masyarakat pun juga turut memilih dalam Pemilu. Kudeta ternyata bisa terjadi dengan “legal”.

Citra yang ingin dibangun oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya adalah “legal” atau tidak melanggar aturan. Seolah disetujui oleh Legislatif dan dapat dipertanggungjawabkan secara Hukum.

Bahkan AS yang dikenal sebagai negara demokratis adidaya, dengan bekal Konstitusi yang dirasakan bangsanya sudah sempurna, bebas merdeka dan setara, kelas menengah tersukses dalam sejarah, GDP tertinggi dengan pendidikan berkualitas terbaik, serta memiliki sektor privat yang sangat besar; tetap saja bisa mengalami keruntuhan demokrasi. Donald Trump telah meruntuhkannya di tahun 2016.

Kemenangan mengejutkan Donald Trump bukan hanya dipicu oleh kekecewaan publik terhadap pemerintah sebelumnya, melainkan juga karena kegagalan Partai Republik AS mencegah terpilihnya demagog ekstremis menjadi Calon Presiden.

Sejarah Alih Kuasa
Sejarah kelam kudeta militer pernah terjadi di Santiago, Chile. Tanggal 11 September 1973, pesawat pembom Hawker Hunter buatan Inggris telah menjatuhkan bom di atas istana kepresidenan megah La Moneda. Di tengah kota Santiago. Istana terbakar. Presiden Salvador Allende yang sudah memerintah selama 3 tahun, terkurung di dalamnya. Tewas. Kudeta bersenjata terjadi. Dan runtuhlah demokrasi Chile oleh Jendral Augusto Pinochet

Adolf Hitler, mulai dikenal dunia sejak melakukan makar di Bavaria, Munich, 8-9 November 1923. Melibatkan 2.000 massa Nazi dan menelan korban tewas 16 Nazi dan 4 aparat keamanan. Kudeta oleh partai Nazi yang dikenal sebagai Beer Hall Putsch atau Munich Putsch. Gagal. Hitler mendekam 9 bulan dipenjara. Dan kisah tersebut ditulisnya sendiri dalam buku Mein Kampf.

Demokrasi di Argentina, Brasil, Dominika, Ghana, Yunani, Guatemala, Nigeria, Uruguay, Peru, Pakistan, Turkey dan Thailand, runtuh dengan cara yang sama. Kudeta. Yang terakhir adalah Presiden Mesir Mohamed Morsi (2013) dan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra (2014).

Modus perebutan kekuasaan telah berubah. Dan runtuhnya Demokrasi terjadi dengan cara yang berbeda. Para perusak demokrasi tersebut justru menggunakan lembaga-lembaga demokrasi itu sendiri, secara perlahan, halus, bahkan “legal”, untuk meruntuhkannya. Rakyat tak serta-merta menyadari apa yang terjadi. Erosi demokrasi itu hampir tak terasa bagi banyak orang. Bucin, bahasa gaul anak muda jaman now, telah melenakannya. 

Dan karena tidak terasa dengan jelas, adanya tindak penguasa authoritarian yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, maka kesadaran publik pun tak terusik. Oleh karenanya, bagi mereka yang terus mencela tindakan pemerintah akan dianggap sebagai berlebihan. 

Timbul kebingungan publik. Mulai muncul kritik sosial masyarakat terhadap perilaku pemerintah. Dan intimidasi melalui kebijakan pajak serta tindak hukum lainnya pun mulai diberlakukan. Keras terhadap mereka yang terus mengkritisi pemerintah. Kekuasaan pun bukan lagi demi Keadilan dan Kemakmuran. Namun demi penaklukan oposan. Penyanderaan kebebasan dilakukan.

Beberapa pemimpin terpilih lainnya juga telah membajak lembaga-lembaga demokrasi dengan cara baru tersebut. Terjadi di Georgia, Hungaria, Nikaragua, Peru, Filipina, Polandia, Rusia, Sri Lanka, Turki, dan Ukraina.

Uji Potensi Autokrat

Berbekal pengalaman runtuhnya Demokrasi di berbagai negara tersebut, AS memberlakukan Uji Litmus. Sebuah sistem alat uji untuk mengidentifikasi potensi seorang kandidat pemimpin untuk menjadi autokrat bila berkuasa.

Uji Litmus ini menjadi bekal bagi para pejabat politisi atau pimpinan partai untuk mencegah dan tidak memberi kesempatan atau merekomendasikan mereka yang berpotensi menjadi autokrat, bila berada di posisi strategis atau pimpinan. Kesalahan perhitungan dalam merekomendasikan jabatan, bisa menyebabkan demokrasi dalam posisi kritis.

Mengingat bahwa negara yang dianggap demokratis pun bisa terpeleset, maka ada dua ujian yang perlu dilakukan:

  1. Apakah pemimpin politik, dan terutama partai politik, telah bekerja untuk mencegah para demagog meraih kekuasaan? Salah satunya dengan Uji Litmus diatas.
  2. Akankah si pemimpin autokratik membajak lembaga-lembaga demokrasi, ataukah sebaliknya dibatasi aktivitas kekuasaannya oleh lembaga-lembaga itu?

Lembaga pemerintah saja tak cukup untuk dapat mengendalikan autokrat terpilih. Konstitusi mesti dijaga keberlangsungannya oleh partai politik dan organisasi massa, juga oleh norma-norma demokratik. Tanpa norma-norma kuat, Check and Balances konstitusional tidak akan mampu menjadi benteng demokrasi. Lembaga-lembaga negara menjadi senjata politik, digunakan oleh penguasa, otokrat terpilih, untuk menghantam para oposan. 

Begitulah cara autokrat terpilih membajak demokrasi, menjadikan pengadilan dan badan netral lainnya sebagai “senjata”, menguasai atau mengintimidasi media dan sektor swasta, serta mengubah aturan politik agar keseimbangan kekuatan berubah merugikan lawan. 

Paradoks tragis jalan menuju kerusakan Demokrasi adalah melalui Pemilu. Para demagog pembunuh demokrasi tersebut menggunakan lembaga-lembaga demokrasi itu sendiri, secara pelan-pelan, halus, bahkan legal.

Modus Legal 

Fenomena di dunia menunjukkan bahwa modus penghancuran Demokrasi, setelah era Kudeta Bersenjata, dilakukan oleh penguasa baru yang berperilaku demokratis pada awal kekuasaannya. Sukses menarik simpatisan. Dan kemudian berubah menjadi authoritarian untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ironisnya, penguasa otokrat berwajah populis tersebut justru mendapatkan kekuasaan atas rekomendasi penguasa demokratis yang menjabat sebelumnya.

Mussolini di Italia, Hitler di Jerman, Getúlio Vargas di Brazil, Alberto Fujimori di Peru dan Hugo Chávez di Venezuela, meraih kekuasaan dengan jalan yang sama: rekomendasi dari incumbent, melalui pemilihan umum atau persekutuan dengan tokoh-tokoh politik berkuasa. 

Di setiap contoh diatas, para elite politik penguasa percaya akan mampu mengelola siapapun yang diundang masuk ke dalam kekuasaan. Namun, rencana bisa menjadi senjata makan tuan. Dan kesalahan perhitungan bisa menyebabkan kekeliruan fatal. Menyerahkan kunci kekuasaan kepada calon autokrat.

Hitler mendekam di penjara selama sembilan bulan (Mein Kampf), karena gagal dalam kudeta bersenjata pada tahun 1923, menjadi populer dan memiliki cukup banyak pengikut. Kebuntuan parlemen dalam memilih Kanselir, berujung pada kesepakatan legal untuk membuat ‘undangan’ kepada Hitler untuk memasuki kekuasaan di Jerman sebagai Kepala Pemerintahan, Kanselir, 1933. Rasa percaya diri berlebihan para elit politik bahwa akan mampu mengendalikan Adolf Hitler, berujung pada runtuhnya Demokrasi di Jerman.

Sejarah yang sama terjadi dengan munculnya Chavez sebagai Presiden Venezuela. Dibukakan pintu istana oleh Presiden sebelumnya, Caldera. Senjata makan tuan. Tanggal 6 Desember 1998, Chavez memenangkan pemilihan presiden.

Hugo Chávez di Venezuela yang terpilih 1998. Populis saat awal pemerintahannya. Kemudian berubah menjadi authoritarian di tahun 2003, setelah selamat upaya kudeta militer 2002. Semakin represif di tahun 2006 ketika memaksakan untuk tetap duduk di kursi kekuasaan melewati masa jabatan yang ditetapkan peraturan yang sah. Kekuasaan berlanjut hingga terpilih kembali tahun 2012. Sakit dan wafat tahun 2013. Digantikan oleh  Nicolás Maduro dengan proses pemilihan abal-abal. Free but not fair. Media dan mesin pemenangan Maduro, dikuasai dan digunakan oleh penguasa. Para pemimpin oposisi dipenjarakan. Runtuh sudah demokrasi di Venezuela. Dan selanjutnya dikenal sebagai negara autokrasi.

Di Italia awal 1920-an, tatanan liberal lama sedang ambruk di tengah pemogokan dan keresahan sosial. Kegagalan partai-partai tradisional membentuk mayoritas parlementer yang solid membuat perdana menteri tua yang telah menjabat lima kali, Giovanni Giolitti, putus asa, dan dia mengabaikan para penasihatnya lalu mengadakan pemilu lebih awal pada Mei 1921. Dengan niat memanfaatkan daya tarik massa Fasis, Giolitti memutuskan untuk menawarkan tempat kepada gerakan baru Mussolini di “blok borjuis” Nasionalis, Fasis, dan Liberal-nya. 

Strategi itu gagal, blok borjuis meraih di bawah 20 persen suara, sehingga Giolitti mengundurkan diri. Namun posisi Mussolini membuat kelompoknya mendapat legitimasi sehingga bisa menanjak dalam politik.

Meski ketiganya amat berbeda, namun Hitler, Mussolini, dan Chávez menempuh jalan menuju kekuasaan yang sama. Mereka semua adalah orang luar yang mahir merebut perhatian publik, tapi semuanya meraih kekuasaan karena para tokoh politik mengabaikan tanda-tanda peringatan, sehingga menyerahkan kekuasaan kepada mereka (Hitler dan Mussolini) atau membuka pintu untuk mereka (Chávez).

Pengalihan tanggungjawab politis oleh pemimpin yang sedang berkuasa sering menandai langkah pertama suatu negara menuju otoriterianisme. 

Bila pemimpin karismatik yang dipersepsikan sebagai Orang Baik tersebut muncul, dan elit politik atau partai politik besar tak cukup punya figur kandidat Pemimpin Pemerintahan, maka bisa tergoda untuk mengundangnya memasuki kekuasaan. Dan kesepakatan yang terjadi, bisa berubah merugikan bagi pengundang, karena Orang Baik yang cukup punya dukungan, menjadi calon peraih kekuasaan yang sah. 

Menumbangkan Demokrasi

Erosi demokrasi terjadi selangkah demi selangkah, kadang amat kecil langkahnya. Tiap langkah kecil tampak tak penting, tak ada yang kelihatan benar-benar mengancam demokrasi. 

Langkah pemerintah menumbangkan demokrasi memang sering berkesan legal: disetujui parlemen atau dianggap konstitusional oleh mahkamah agung. Banyak yang diterapkan dengan dalih demi satu tujuan publik yang sah, bahkan terpuji, seperti melawan korupsi, “membersihkan” pemilu, memperbaiki mutu demokrasi, atau meningkatkan keamanan nasional.

Bila lembaga-lembaga itu dikendalikan oleh mereka yang setia kepada pemerintah otoritarian, tentu mereka dapat melindungi pemerintah dari penyelidikan dan penuntutan pidana yang dapat menggulingkannya. Presiden menjadi bisa melanggar hukum, mengancam hak rakyat, bahkan melanggar konstitusi tanpa harus khawatir semua itu akan diselidiki atau dikecam. 

The Authoritarian Report Card After One Year

Referees: Aparat Penegak Hukum

Dengan aparat penegak hukum yang sudah dikuasai, pemerintah bisa bebas bertindak, tanpa dihalangi. Bagaikan membekali senjata yang kuat, sehingga memungkinkan pemerintah untuk menegakkan hukum secara tebang-pilih. Menghukum lawan sambil melindungi kawan. Aparat pajak bisa digunakan untuk mengincar politikus, bisnis, atau saluran media rival. Polisi bisa membubarkan unjuk rasa oposisi sambil membiarkan tindak kekerasan oleh pendukung pemerintah. Badan intelijen bisa digunakan untuk memata-matai pengkritik dan mencari bahan untuk pemerasan.

Modus untuk mengamankan kekuasaannya dengan topeng Demokrasi, pemerintahan Peron di Argentina, Rafael Correa di Ekuador, Orbán, di Hungaria, Chávez di Venezuela dan Fujimori di Peru, adalah menguasai lembaga hukum dan aparatnya. Yang digunakan sebagai perisai untuk berlindung dari tantangan konstitusional dan sebagai senjata kuat dan “legal”, untuk memukul para oposan dan meminggirkan media.

Para pemain yang tak bisa dibeli mesti dilemahkan dengan cara lain. Diktator gaya lama sering memenjarakan, mengasingkan, atau bahkan membunuh lawannya, sementara autokrat zaman sekarang cenderung menyembunyikan tindakan represif di balik kedok legalitas. Itulah sebabnya menguasai lembaga hukum menjadi penting. 

Terakhir, autokrat hasil pemilu sering mencoba membungkam tokoh-tokoh budaya-seniman, intelektual, bintang pop, atlet, yang ketenaran atau posisi moralnya membuat mereka jadi ancaman potensial.

Namun biasanya pemerintah lebih suka merangkul tokoh budaya terkenal atau mencapai kesepakatan bersama dengan mereka, membiarkan mereka melanjutkan pekerjaan asalkan tidak ikut-ikut berpolitik.

Pembungkaman tersamar terhadap suara-suara ‘miring’, baik dengan dengan kooptasi atau ancaman, akan berpengaruh buruk bagi oposisi. Ketika pebisnis besar dipenjara atau dijatuhkan secara ekonomi, seperti kasus Khodorkovsky di Rusia, pengusaha lain akan merasa lebih bijak untuk tidak terlibat politik sama sekali. 

Dan ketika politikus oposisi ditahan atau diasingkan, seperti di Venezuela, politikus lain memutuskan untuk menyerah dan pensiun. Banyak pembangkang memutuskan untuk tetap di rumah ketimbang masuk politik, dan yang masih aktif jadi patah semangat. Itulah yang dituju pemerintah. Kalau para pemain utama oposisi, media, dan bisnis dibeli atau dipinggirkan, oposisi gembos. Pemerintah “menang” tanpa harus melanggar aturan.

Namun untuk memperkokoh kekuasaan, pemerintah mesti berbuat lebih banyak, pemerintah mesti mengubah aturan permainan juga. Tokoh otoriter yang ingin melakukan konsolidasi kekuasaan sering mengubah konstitusi, sistem pemilihan umum, dan lembaga-lembaga lain agar melemahkan atau memberatkan oposisi, membuat arena menjadi merugikan lawan. 

Perubahan itu sering dilaksanakan dengan alasan demi kepentingan umum, padahal sebenarnya menguntungkan petahana. Dan karena melibatkan perubahan legal atau bahkan konstitusional, perubahan sistem bisa memungkinkan autokrat unggul selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Melalui aparat penegak hukum (APH), yang berperan sebagai wasit, dan dikuasai oleh pemerintah, akan bisa mengubah aturan permainan, sehingga mampu memenangkan pemilu. Karena langkah-langkah itu dilaksanakan sedikit demi sedikit dan dengan terkesan legal, pergeseran ke otoritarianisme tak selalu membuat alarm berbunyi. Warga sering terlambat menyadari bahwa demokrasi sedang dipreteli-bahkan bila itu terjadi di depan mata mereka.

Krisis

Salah satu ironi besar terkait bagaimana demokrasi mati adalah bahwa pembelaan terhadap demokrasi itu sendiri sering dijadikan alasan untuk menumbangkannya. Para calon autokrat sering menggunakan krisis ekonomi, bencana alam, dan terutama ancaman keamanan-perang, perlawanan bersenjata, atau serangan teroris-untuk membenarkan langkah-langkah antidemokrasi.

Krisis sulit diprediksi, namun jelas konsekuensi politiknya. Krisis sangat membantu konsentrasi dan, bahkan seringkali menjadi pemicu penyalahgunaan kekuasaan.

Perang dan serangan teroris di AS menyebabkan tingginya dukungan masyarakat terhadap pemerintah. Setelah peristiwa 11 September 2001, Presiden George W. Bush mendapat kenaikan angka dukungan dari 53% menjadi 90%, angka tertinggi yang pernah dicatat lembaga jajak pendapat Gallup. (Rekor tertinggi sebelumnya-89 persen-telah dicapai ayah George W. Bush, George H.W. Bush, sesudah Perang Teluk Persia 1991.) Karena hanya sedikit politikus yang bersedia menantang presiden dengan dukungan 90 persen ditengah krisis keamanan nasional, maka presiden jadi tak terhalang. USA PATRIOT Act, yang ditandatangani oleh George W. Bush pada Oktober 2001, tak bakal disahkan andai serangan 11 September tak terjadi pada bulan sebelumnya.

Rakyat juga lebih mungkin menoleransi, bahkan mendukung cara-cara otoriter selama krisis keamanan, terutama bila mereka mengkhawatirkan keselamatan sendiri. Bahkan sesudah 9/11, penelitian menunjukkan 55% bangsa Amerika Serikat mengaku bahwa beberapa kebebasan sipil perlu dibatasi untuk melawan terorisme. 

Demikian juga, penahanan orang-orang Jepang-Amerika oleh pemerintah Roosevelt kiranya tak terpikirkan tanpa adanya rasa takut masyarakat akibat serangan ke Pearl Harbor. Survey juga menunjukkan bahwa sesudah Pearl Harbor, 60% lebih bangsa Amerika mendukung pengusiran orang-orang Jepang-Amerika dari Amerika Serikat, dan setahun kemudian, penahanan orang-orang Jepang-Amerika masih mendapat dukungan masyarakat cukup besar.

Sebagian besar konstitusi memperbolehkan perluasan kekuasaan eksekutif selama krisis. Alhasil, presiden yang terpilih secara demokratis pun bisa mengonsentrasikan kekuasaan dan mengancam kebebasan sipil selama perang. Di tangan calon pemimpin otoriter, kekuasaan terkonsentrasi itu jauh lebih berbahaya. Bagi demagog yang merasa terkepung kritik dan terikat lembaga-lembaga demokrasi, kondisi krisis bisa membuka jendela kesempatan untuk membungkam kritik dan melemahkan pesaing. Memang, autokrat terpilih sering butuh krisis, ancaman dari luar yang menawarkan kesempatan bagi mereka untuk membebaskan diri dengan cepat dan sering kali “legal”.

Kombinasi calon Pemimpin Otoriter dan Krisis Besar bisa mematikan bagi demokrasi. Beberapa pemimpin mulai menjabat setelah menghadapi krisis.

Bahkan Pemimpin lain, justru menciptakan krisis. Baik krisis nyata atau bukan, para calon pemimpin otoriter siap memanfaatkan krisis untuk membenarkan perebutan kekuasaan. 

Bagi demagog yang dikungkung batas-batas konstitusional, krisis merupakan kesempatan untuk mulai membongkar pengawasan dan perimbangan dalam politik demokrasi yang merepotkan dan kadang mengancam. Krisis memperkenankan autokrat memperluas ruang gerak untuk bermanuver dan melindungi diri dari musuh. Lalu: apakah lembaga-lembaga demokrasi bisa semudah itu tidak berfungsi sebagaimana seharusnya?

Pagar Demokrasi

Survei tahun 1999 menunjukkan bahwa 85% bangsa Amerika Serikat meyakini bahwa Konstitusi AS adalah alasan utama “Amerika telah sukses selama abad ini” dan berhasil menjaga demokrasi.

Namun sejatinya, konstitusi yang dirancang dengan baik pun kadang gagal menjaga Demokrasi. 

Konstitusi Weimar 1919, Jerman, dirancang oleh beberapa pemikir hukum terhebat di negara itu. Namun, ambruk dengan cepat sesudah Adolf Hitler meraih kekuasaan pada 1933.

Pengalaman Amerika Latin pascakolonial. Banyak republik yang baru merdeka, menulis konstitusi yang hampir mirip Konstitusi AS. Namun hampir semua republik muda di kawasan itu terjerumus perang saudara dan kediktatoran.

Argentina amat mirip dengan Konstitusi AS: dua pertiga teksnya diambil langsung dari Konstitusi AS. Namun, tatanan konstitusional itu tak bisa mencegah pemilu curang pada akhir abad ke-19, kudeta militer pada 1930 dan 1943, dan juga otokrasi populis Perón.

Filipina telah dijabarkan sebagai “salinan persis Konstitusi AS.” Konstitusi yang ditulis di bawah pengawasan kolonial AS dan disetujui Kongres AS itu “menyediakan contoh khas demokrasi liberal”, dengan pemisahan kekuasaan, pengakuan atas hak asasi manusia, dan pembatasan masa jabatan presiden dua kali. Namun Presiden Ferdinand Marcos, yang tidak mau turun sesudah masa jabatan keduanya berakhir, menghapuskan ketentuan itu dengan mudah sesudah mengumumkan berlakunya hukum perang pada 1972.

Bahkan konstitusi yang dirumuskan dengan baik pun, tidak dengan sendirinya dapat menjamin tegaknya demokrasi. 

Memang, konstitusi selalu tidak lengkap. Sebagaimana halnya perangkat peraturan lainnya, konstitusi memiliki kesenjangan dan ambiguitas tak terbilang. Tidak ada petunjuk pelaksanaan yang bisa mengantisipasi semua keadaan yang mungkin terjadi. Aturan-aturan konstitusional juga selalu punya banyak penafsiran, sehingga memungkinkan untuk digunakan dengan cara-cara yang tak terduga oleh para penciptanya.

Karena ada kesenjangan dan ambiguitas di dalam semua sistem hukum, maka tak bisa hanya mengandalkan pada konstitusi saja untuk menjaga demokrasi dari para calon pemimpin otoriter. 

Aturan tak tertulis

Pengalaman AS menunjukkan bahwa Demokrasi akan bekerja baik dan bisa bertahan lama bila tersedia penguatan konstitusi melalui norma-norma demokratik tak tertulis. 

Aturan-aturan tak tertulis tersebut, ada di mana-mana dalam perpolitikan Amerika, mulai dari cara kerja Senat dan Electoral College hingga format konferensi pers Presiden. Namun, ada dua norma yang menonjol serta fundamental demi berfungsinya demokrasi, yaitu: 

  1. saling toleransi (mutual toleration) atau pemahaman bahwa partai-partai yang bersaing menerima lawannya sebagai rival sah; dan 
  2. sikap menahan diri secara kelembagaan (institutional forbearance) untuk tidak menggunakan hak khusus kelembagaannya.

Dua norma itu mendasari demokrasi Amerika Serikat hampir selama abad ke-20. Para pemimpin kedua partai besar bisa menerima sesamanya sebagai kompetitor dan menolak godaan untuk menggunakan hak pengendalian atas lembaga pemerintah untuk kepentingan partisan sebesar-besarnya. Aturan atau norma itu berperan sebagai pagar lembut demokrasi, mencegah persaingan politik harian merosot menjadi konflik tanpa aturan.

Norma tidak cukup hanya mengandalkan pada sifat baik pemimpin politik, melainkan berupa kode etik bersama yang telah menjadi pengetahuan umum dalam satu komunitas atau masyarakat, diterima, dihormati, dan ditegakkan para anggotanya. 

Bila norma berlaku cukup kuat, pelanggaran terhadapnya akan memicu ekspresi penolakan, cemoohan, kritik publik hingga pengucilan terang-terangan. Dan politikus yang melanggarnya tentu akan rugi.

Saling toleransi (mutual toleration) merujuk ke gagasan bahwa selama para kompetitor bermain sesuai aturan konstitusional, maka bisa diterima bahwa mereka punya hak hidup, bersaing berebut kekuasaan, dan memerintah, yang setara. Artinya, harus diakui bahwa dalam politik, para kompetitor adalah warga negara yang baik, patriotis, taat hukum-mereka cinta negara dan menghormati Konstitusi. Artinya, walaupun tidak bisa mempercayai kebenaran gagasan-gagasan lawan, tetap tak bisa memberlakukan mereka sebagai ancaman. Juga tak perlu memperlakukan mereka sebagai pengkhianat, subversif, atau lain-lainnya. Dengan kata lain, saling toleransi adalah kesediaan bersama para politikus untuk sepakat tak bersepakat.

Ketika norma Saling Toleransi lemah, demokrasi menjadi sulit dikelola. Bila menganggap kompetitor sebagai ancaman berbahaya, maka muncul reaksi untuk menggunakan segala cara supaya mengalahkan mereka. Dan terjadilah cara-cara otoriter. Politikus yang dianggap kriminal atau subversif akan dipenjara; dan pemerintahan yang dianggap mengancam negara dan bangsa, bisa digulingkan.

Di hampir semua kasus kerusakan demokrasi yang terjadi, para calon pemimpin otoriter, sejak Franco, Hitler, dan Mussolini di Eropa antara dua perang dunia, lalu Marcos, Castro, dan Pinochet selama Perang Dingin hingga Putin, Chávez, dan Erdoğan baru-baru ini, membenarkan konsolidasi kekuasaan dengan menganggap lawan sebagai ancaman eksistensial.

Norma kedua yang penting bagi kelangsungan demokrasi adalah sikap menahan diri secara kelembagaan (institutional forbearance). “Sikap menahan diri” berarti “pengendalian diri yang sabar; legawa dan toleran”, atau “tindakan untuk tidak menggunakan suatu hak legal”. 

Pemerintahan Inggris bisa menjadi contoh perilaku Menahan Diri secara kelembagaan dalam demokrasi. Menurut Keith Whittington (ahli konstitusi dan penulis), pemilihan Perdana Menteri Inggris “adalah hak Raja atau Ratu. Secara formal, pemegang takhta dapat memilih siapapun untuk jabatan tersebut dan membentuk pemerintahan.” Dalam praktiknya, Perdana Menteri ialah anggota Parlemen yang memimpin fraksi mayoritas di House of Commons, biasanya ketua partai terbesar di parlemen. Saat ini sistem tersebut dianggap wajar, tapi selama berabad-abad, raja atau ratu Inggris mengikutinya secara sukarela. Tidak ada aturan konstitusionalnya.

Contoh lain adalah penentuan batas masa jabatan presiden. Selama sejarah Amerika Serikat, batas dua kali masa jabatan bukan hukum tertulis, melainkan norma Menahan Diri. Sebelum ratifikasi Amandemen ke-21 pada 1951, tidak ada pasal dalam Konstitusi AS yang mewajibkan presiden berhenti menjabat sesudah dua masa jabatan. Namun, berhentinya George Washington sesudah dua masa jabatan pada 1797 menjadi preseden kuat. Seperti diamati Thomas Jefferson, presiden pertama yang mengikuti norma tersebut.

Bila penghentian masa bakti [Presiden] tak ditetapkan Konstitusi, atau dilakukan dalam praktik, maka masa jabatannya, yang semestinya empat tahun, bisa berlangsung seumur hidup…. 

Sesudah ditetapkan demikian, batas informal dua masa jabatan terbukti cukup kuat. Bahkan presiden-presiden ambisius dan populer seperti Jefferson, Andrew Jackson, dan Ulysses S. Grant tidak mau melanggarnya. Ketika teman-teman Grant mendorong dia maju lagi untuk masa jabatan ketiga, terjadi kehebohan, dan Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan resolusi yang menyatakan:

… menjabat sesudah masa jabatan kedua telah menjadi … suatu bagian sistem Republik kita…. Penyimpangan apa pun dari kebiasaan yang dihargai selama ini kiranya tak bijak, tak patriotis, dan membahayakan lembaga-lembaga bebas kita.

Kekuasaan Presiden yang tak dibatasi, bisa menguasai Mahkamah Agung atau melangkahi Badan Legislatif dengan menggunakan Dekrit Presiden. Sementara Badan Legislatif yang tak dibatasi bisa menghentikan semua langkah Presiden atau mengacaukan Negara dengan alasan apapun.

Bila Saling Toleransi hilang, maka para politikus makin tergoda untuk tidak lagi menahan diri dan mencoba menang dengan segala cara. Ini berpotensi untuk mendorong kebangkitan kelompok-kelompok anti-sistem, yang sekaligus menolak aturan demokrasi. Runtuhlah Demokrasi.

Menyelamatkan Demokrasi

Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya “How democracy dies”, mengingatkan bahwa demokrasi Amerika tak sehebat kelihatannya. Tak ada isi Konstitusi atau budaya AS yang membuatnya kebal terhadap kerusakan demokrasi. Amerika Serikat pernah mengalami bencana politik, ketika permusuhan antar daerah dan partisan membelah negara sehingga memicu perang saudara. 

Walau kondisi internasional menjadi makin tak baik bagi demokrasi pada awal abad ke-21, negara-negara demokrasi yang ada telah terbukti kuat menghadapi tantangan tersebut. Jumlah negara demokrasi di dunia tak turun, malah tetap sejak memuncak sekitar tahun 2005. 

Saling Toleransi dan Menahan Diri secara kelembagaan adalah prinsip prosedural, yang mengingatkan para politikus AS, bagaimana harus berperilaku di luar batas hukum, untuk menjalankan fungsi lembaga-lembaga negara. Yang tanpanya demokrasi AS tak bakal berjalan.

Bagaimana dengan negeri kita?

Dua hal bagus yang bisa dipetik dari buku ini, untuk kepentingan Demokrasi kita, yaitu tentang:

  1. Uji Potensi Otokratis terhadap para Bakal Calon Presiden-Wakil Presiden, dan
  2. Penggunaan Norma Sosial dan Toleransi untuk tidak mudah menggunakan Hak-Hak politiknya

Sudah terlalu banyak opini di media massa dalam dan luar negeri tentang Pemilihan Presiden RI yang baru saja berlangsung. Lalu, amankah Demokrasi di negeri kita? Entahlah.. Coba gunakan buku ini sebagai acuan untuk mengkritisinya. Dan bila dibutuhkan tambahan pisau analisis, bisa gunakan buku “Politics”, karya David Runciman, 2014.

Selamat membaca.

Montesquieu:

“There is no greater tyranny than that which is perpetrated under the shield of the law and in the name of justice”.

Tautan

Uji Litmus

How To Lose A Constitutional Democracy


Read Full Post »

Takkan terlupakan, kejadian-kejadian penting sepanjang bulan Agustus 2018, bulan pengunggah rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, yang terhenyak bangun dari lelap tidur lama.
10 Agustus 2018 Pendaftaran Capres/Cawapres
20180910_011254Matahari belum genap benar muncul di balik Patung Tani, tapi seputaran jalan disitu sudah macet. Banyak mobil merapat di depan Gedung Joang 45, jalan Cikini Raya, untuk menurunkan penumpang. Lagi, kostum merah-putih memenuhi halaman rumah itu. Suara rebana dan tembang shalawat Nabi menyemarakkan pagi, menunggu kehadiran Capres Jokowi dan Cawapres Ma’ruf Amin. Jam 8 lebih, capres/ cawapres turun dari mobil, dan tak lama kemudian mereka muncul di atas panggung. Meriah teriakan hadirin yang memadati halaman rumah, “Jokowi .. Jokowi …” berulang-ulang … 20180810_085425Deklarasi kesediaan beliau berdua sebagai capres/cawapres diucapkan Jokowi dan Ma’ruf Amin di depan para pejabat partai politik pendukung dan para relawan. Jam 10an Jokowi/Amin berangkat menuju KPU menggunakan mobil innova diiringi para pejabat partai dan relawan, mengawal dengan penuh harapan dan optimisme tinggi bahwa Kebaikan akan Menang. Jokowi 2 Periode.
5 Agustus 2018 Harmoni Indonesia
Penuh warna Kebangsaan pagi itu. Merah-putih pada acara Harmoni Indonesia 2018, hanya setengah jam saja pagi itu di Koridor Timur GBK, menyanyi lagu-lagu Nasional serentak se Indonesia dan beberapa negara sahabat, bersama Presiden tercinta Jokowi dan para menterinya, dengan konduktor mas Addie MS. Tak pernah terjadi sebelumnya. Bisa dibaca di Harmoni Indonesia 2018.
17 Agustus 2018, Istana Negara
20180817_103856Tak seperti pada upacara Proklamasi pada pemerintahan sebelumnya, pada era Jokowi ini, 17 Agustusan terasa menjadi moment penting yang ditunggu masyarakat Indonesia, baik yang berada di sekitar istana, maupun para pemirsa televisi di rumah, karena upacara dan perayaan yang menyertainya selalu semarak, indah, tak terduga dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Baik saat penaikan bendera, maupun penurunan bendera, yang keduanya selalu dihadiri Presiden. Menyenangkan, sekaligus melambungkan rasa cinta bangsa. Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang seharusnya hanya diperdengarkan, bercampur haru para hadirin pun pada akhirnya turut bersemangat menyanyikannya. Dan untuk pertama-kalinya juga, lagu Padamu Negeri, diminta oleh pengarah acara supaya dinyanyikan bersama-sama oleh semua hadirin. “Padamu Negeri … “, terdengar gelora semangat suara nyanyian membuncah rasa bangga di dada. Rasa kebangsaan itu sungguh terasa ..
Berseragam megah merah-putih bersih, pasukan pengawal presiden tegap gagah berbaris rapih, dengan menyandang senjata laras panjang bersangkur tajam mengkilat. Indah mengesankan. Belum lagi, para pengawal laki-laki/perempuan penunggang kuda berseragam sama, duduk tegap di pelana, berbaris mengawal bendera pusaka dari tempat penyimpanannya, Tugu Monas.
17 Agustus 2018 14.00, DiaLoGue cafe
2018_0817_14045300Cafe yg berada di Kemang Raya, depan Habibi Centre, itu terlihat penuh anak muda dan wartawan yang akan meliput acara pengumuman para pemenang Kompetisi Menyanyi Bersama Harmoni Indonesia 2018. Kompetisi ini dilakukan dengan cara mengunggah video sendiri saat menyanyikan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa, dengan juri dari White shoes and the Couples Company, yang  juga menjadi band penghibur pada acara itu. Pemenang bersuara merdu, dari kategori single dan group, mendapatkan hadiah handphone Samsung. Semarak ceria. Selamat untuk pemenang.
18 Agustus 2018 Asian Games
20180910_023752Ini adalah tanggal yang bakal tercatat dalam sejarah kesuksesan bangsa Indonesia, Asian Games 2018 Opening Ceremony. Event internasional ini menjadi berita utama di media cetak dan elektronik di dalam dan luar negeri. Film pendek yang menyajikan aksi perjalanan Presiden Indonesia dari istana Bogor menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan mengendarai motor besar paspampres. Adegan lucu, menegangkan, empati dalam film pendek itu menjadi hiburan tersendiri dalam acara Pembukaan tersebut.
Ed_YUDO1442Kegembiraan dan antusiasme masyarakat menyambut Asian Games ini sungguh luar biasa. Kostum merah-putih berlalu-lalang, tumpah-ruah setiap harinya di seputaran Stadion Utama Senayan. Tiket semua cabang olahraga selalu habis terjual dan pemirsa televisi di rumah pun selalu siap terjaga menikmati liputan langsung dari arena pertandingan. Rasa haru pun selalu menyertai semua penonton setiap kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan menyertai pengalungan medali emas untuk para atlet Indonesia yang menjadi juara pertama dalam pertandingan. Luar biasa, 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu telah diraih para pahlawan olahraga kita. Perhelatan yang melibatkan dana besar dan tenaga kerja puluhan ribu, telah sukses diselenggarakan, bahkan juga sukses melebihi target perolehan medali.
IMG_20180903_134951_239Dalam situasi memprihatinkan, masyarakat Lombok yang sedang terkena bencana gempa bumi, Presiden bersama warga Lombok di pengungsian, turut menikmati hiburan acara Penutupan Asian Games 2018 yang tersaji indah membanggakan karya anak bangsa pada 2 September 2018, melalui layar lebar di lapangan terbuka, Lombok.
Agustus 2018, satu bulan penuh terisi berbagai kesibukan merah-putih, -mulai dari Harmoni Indonesia, Pendaftaran Capres/Cawapres, Kompetisi Menyanyi Lagu Nasional, Upacara Hari Proklamasi, dan ditutup Asian Games 2018-, yang menyadarkan kita semua bahwa rasa cinta bangsa memang butuh perawatan melalui berbagai acara lintas golongan berskala nasional. Siapa kita??? Kita Indonesia.

Read Full Post »

2018_0805_07581500Pada awalnya hanyalah keprihatinan sosial atas kondisi bangsa yang carut-marut dalam jagad maya, namun juga nyata menghangat dalam jagad nyata, terkait dengan pilpres 2014, yang menerus hingga pilgub DKI dan potensial memanas menjelang pilpres 2019; lalu berkembang memancing tindakan.

Asian Games ke-2 di Indonesia yang segera dimulai pada 18 Agustus 2018 dan bulan ‘Kemerdekaan RI’ menjadi moment bagus untuk diselenggarakan event penggerak bangsa untuk turut memeriahkan dan mensukseskan acara Asian Games 2018, serta menyemangati para atlet Indonesia supaya lebih berprestasi dan sekaligus meningkatkan rasa kebangsaan dan Persatuan Indonesia. Event seperti apakah yang cocok untuk hal di atas?

2018_0805_08032200Setelah ngobrol bersama opa Sidarto, uda Firdaus Ali dkk., muncullah gagasan menyanyi bersama lagu-lagu nasional dari seorang Addie MS, maestro orkestra, untuk menjawab pertanyaan di atas. Ide tersebut muncul dari pengalaman Addie MS yang sukses memimpin nyanyi spontan bersama di balaikota DKI beberapa tahun yll. Harmoni Indonesia 2018 (HI2018) menjadi judul event yang kita pilih setelah rapat kesekian-kalinya.

IMG-20180803-WA0008Kamis, 26 Juli 2018 siang, Presiden Jokowi memanggil Watimpres pak Sidarto dan uda Firdaus Ali ke istana Bogor, untuk mendapatkan persetujuan Beliau melaksanakan HI2018 pada 5 Agustus 2018, sesuai keinginannya di pertemuan sebelumnya pada bulan Juni, sebelum Lebaran. Langsung, jungkir-baliklah panitia penyelenggara mempersiapkan HI2018 supaya nyata adanya.

Rapat-rapat internal panitia dan rapat dengan para pihak eksternal segera dilakukan. Permohonan bantuan ke TNI/Polri tak lupa kami layangkan, juga prosedur resmi perizinan ke berbagai pihak demi terlaksananya acara ini, juga kami penuhi. Lokasi rapat yang berpindah-pindah karena kapasitas ruang, kelengkapan sarana atau kedekatan dengan GBK sering terjadi. Tidak ada tempat yang tetap sebagai sekrerariat. Internet of Things menjadi sarana komunikasi sejak persiapan hingga terlaksananya event ini. Akrobat panitia terpaksa dilakukan dengan saling mengisi kekurangan dan melengkapinya. Mengagumkan, nada tinggi sering terdengar, kuping merah sering terasa, namun karena semangat yang sama untuk mewujudkan HI2018, maka kesabaran, kekompakan dan kerja cerdaslah yang akhirnya bisa memenangkan.

2018_0805_08230000Kamis, 2 Agustus 2018, perlengkapan panggung dan tenda-tenda mulai menumpuk di lokasi GBK Koridor Timur, siap dipasang. Sabtu, panggung berdiri megah dan LCD besar sebagai latar belakang masih dalam uji coba hingga malam hari. Video streaming teruji lancar untuk komunikasi gambar maupun suara, dengan berbagai kota dan negara lain.

2018_0805_07565800Minggu, 5 Agustus 2018 6.15, jalan di depan hotel Century, Senayan, padat dengan kendaraan dan berjubel massa merah-putih peserta HI2018 berlalu-lalang. Macet. Bus kementerian berderet menurunkan penumpang di Pintu 10 Senayan (depan TVRI) dan Pintu 5 (depan hotel Century). Belasan mobil golf berlalu-lalang menjemput para atlet penyandang cacat dan veteran ke Pintu 5 dan Pintu 10. Luarbiasa animo masyarakat untuk turut terlibat menyanyi lagu-lagu nasional bersama Presiden.

Jam 7.30an Presiden Jokowi turun dari mobil, yang masuk lingkungan GBK melalui Pintu Utama komplek Senayan dan berhenti di belakang panggung HI2018. Polo shirt lengan panjang putih berlogo merah bundar Harmoni Indonesia 2018 di dada kiri, terlihat cocok di badan beliau. Gagah.

20180805_102432Ketua Umum Firdaus Ali, Ketua Dewan Pengarah Watimpres Sidarto, Setkab, MenRisetDikti, Menko PMK menjemputnya ketika Presiden turun dari mobil dan sempat menemaninya ngobrol sebentar di holding room, hingga televisi RCTI siap tayang mulai jam 8.00. Sayang sekali, karena padatnya acara, beliau tidak sempat menyapa peserta di daerah melalui video streaming di ruang yang telah disediakan oleh EO Nicky, yang telah dilengkapi dengan LCD monitor dan terkoneksi dengan 34 ibukota propinsi di Indonesia dan 8 kota besar di negara tetangga. Namun demikian, beliau faham betul bahwa 2 jutaan peserta Harmoni Indonesia 2018 di seluruh Indonesia dan beberapa negara sahabat turut meramaikannya. Pukul 7.55 Presiden Jokowi muncul tersenyum dan melambaikan tangan di atas panggung diiringi teriakan histeris massa menyapanya, “pak Jokowiiii, pak Jokowiii”. Sedikit sisa waktu sebelum on-air, digunakan Presiden untuk menyalami para peserta paduan suara di atas panggung, yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, juga para Menteri dan beberapa Kepala Lembaga Negara.

Tepat 8.00, Presiden berdiri di atas podium tengah panggung dan baton mulai terayun di tangan sang dirigen, Addie MS, tanda mulai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua terlihat semangat, berdiri tegap, tertib dan musik keras terdengar melalui puluhan pengeras suara terpasang menyebar, mengiringi serentak alunan suara massa di atas panggung, depan panggung dan lebih dari 50 kota. Menggema lantang mengharukan. Luar biasa.. Media sosial instagram dengan tagar #HarmoniIndonesia2018 dan youtube, banyak sekali menayangkan peristiwa ini. Apa yang membuat antusiasme untuk terlibat menyanyi bersama lagu nasional ini? Wajah-wajah ikhlas penuh semangat itu tak akan berbohong, Harmoni Indonesia 2018 menjadi sarana ungkapkan rasa CINTA Tanah Air, CINTA NKRI, CINTA Persatuan. Jayalah negeriku INDONESIA.

Catatan:

Gambar dan Video dapat dilihat di Youtube dan Instagram bertagar #HarmoniIndonesia2018

Rekaman liputan televisi TVONE dan SCTV:

 

Foto-foto di belakang layar:

IMG-20180714-WA0004 20180803_153550 20180812_125221 20180731_193427 IMG-20180804-WA0013 IMG-20180805-WA0049 2018_0805_065012002018_0805_08122400 2018_0805_08150700

IMG-20180812-WA0023

Ruang Video Streaming

 

IMG-20180805-WA0081

Universitas Gajah Mada

 

IMG-20180806-WA0042

Universitas Indonesia

IMG_20180806_101059_075 IMG-20180806-WA0017 IMG-20180805-WA0062 2018_0805_06571400 2018_0805_07172500 IMG-20180806-WA0011 2018_0805_07190400

Read Full Post »

Indonesia Berwarna

imagesKetika jaman Soekarno, 60an awal kira2, sering agak bingung melihat para orang tua bergerombol mendekatkan diri pada sebuah radio, dengan wajah serius memiringkan kepala untuk fokus mendengarkan pidato Presiden Soekarno. Wajah kagum menghias wajah-wajah mereka setelahnya .. lalu suara pujian lamat-lamat terdengar, saling berbisik …
 …
Tahun terus berganti, dijaman presiden Soeharto, mulai terbiasa menyaksikan upacara bendera 17 Agustus di TVRI, hitam-putih tentunya.. khidmat, sunyi, militeristik .. suara terompet, drum band dan suara lantang komandan upacara menjadi pengingat kuat dalam benak .. traumatik menegangkan, seiring suasana pensiun dipercepat bagi para pegawai negeri sipil di berbagai departemen. Demikian terus terjadi setiap tahunnya. Kadang sempat melihat selintas pidato presiden Soeharto di DPR/MPR, yang tentu tak sepenuhnya bisa aku pahami saat itu ” .. saudara-saudara .. meningkatken .. mangkin … “. Rutin, datar menjemukan. Lelah
 …
Kegiatan upacara 17an tersebut terus berlangsung setiap tahunnya, dalam suasana dan gaya yang sama, bahkan setelah presiden silih berganti. Ritual yang tak menarik lagi bagiku … membosankan.. seolah siaran ulang saja layaknya …
IMG-20170818-WA0001
Tahun 2017, menjadi tahun istimewa bagi bangsa Indinesia .. presiden Jokowi memberikan pidato APBN 16 Agustus 2017 dengan mengenakan pakaian daerah dan membungkuk hormat kepada Yang Terhormat anggota DPR berdasi. Luar biasa .. desakralisasi tata laku pidato resmi Presiden selama ini telah berubah menjadi lebih Indonesia. Cair, berwarna dan rendah hati terasa.
 …
Upacara pada HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan dengan semangat dan ceria, baik para elit pemerintah, maupun para undangan. Pejabat berpakaian penuh warna dan gaya, berlalu-lalang menuju tempat duduk dengan gembira saling berfoto ria. Tak lama, muncul Presiden berpakaian adat mengunjungi para undangan di bagian depan dan menyalaminya satu-persatu. Dengan ceria, mereka berebut mengambil gambar bersama. Selfie katanya. Tak pernah terjadi sebelumnya. Rendah hati.
 …
Berbagai suguhan hiburan dan karnaval budaya sangat indah untuk dinikmati, hingga kebhinekaan sangat terasa disana, sebagai pengingat bagi kita semua untuk merawatnya. Membanggakan.
 …
Baru kali ini tak bosan menikmati upacara  bendera HUT Kemerdekaan RI di istana melalui telivisi, sejak awal hingga akhir. Saat pengibaran bendera di siang hari, juga penurunan bendera di sore hari.
 …
Selamat pak Jokowi-JK, yang telah mengubah wajah upacara berkesan angker, menjadi ramah, indah, berwarna dan menghibur, namun tetap khidmad saat prosesi sang saka merah-putih, yang diawali arak-arakan menggunakan kereta kuda hingga pengibaran di depan istana negara.
IMG-20170817-WA0027
Momen penting yang belum pernah ada sebelumnya juga terjadi, ketika presiden Jokowi sukses menghadirkan semua mantan Presiden dan Wakil Presiden ke istana untuk saling bertegur-sapa, akrab. Semoga semua kesejukan para negarawan tersebut menjadi awal bagus untuk kebaikan bangsa dan negara. Amin

Read Full Post »

Hah … itu bener video Jokowi dan putranya ??? Setelah foto Boeng Karno yang berkaos dalam dan Gus Dur yang bercelana pendek, baru sekarang muncul lagi presiden yang dengan santai bersarung, tak perlu berjas dasi necis, seolah berpesan akan kerendahan hati. Sambil menggulung lengan kaos dalam putihnya, Presiden menunjukkan lengannya yang langsing kurang berotot, dibandingkan lengan putranya yang begitu gempal terlatih, lalu menepuknya dan berkomentar: ” belum tentu kaya gini ini kuat …” Tawaran adu panco pun (engkol, bahasa Jawa) dilayangkan sang anak ke bapaknya. Menyeruak tanya dalam benak “Apa maksud adegan video pendek ini?”. Pesan moral, sindiran politik, nasihat kesehatan atau teguran buat anak?

Screenshot_20160704-231614Buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell kembali mengingatkan kisah lama tentang si Lemah David melawan si Raksasa Goliath yang kasat mata seharusnya dengan mudah mampu melindasnya. Namun, kita semua sudah mengetahui hasil dari pertandingan ini. David dengan kesabaran, rendah hati dan kecerdikannya mampu mengalahkan Goliath sebagai representasi kesombongan dengan cara melempar batu hingga menjatuhkannya dan membunuhnya. Gladwell menulis dalam bukunya “Giants are not what we think they are. The same qualities that appear to give them strength are often the sources of great weakness”.
“Yang besar belum tentu kuat”, ungkap sang Presiden kepada putranya seolah memberi pesan moral pada kita semua bahwa kekuasaan, kekayaan ataupun kepandaian yang dilandasi kesewenang-wenangan, ketamakan dan kesombongan akan mampu mencelakakan dirinya sendiri. “Yang besar adalah kuat kesabarannya, yang besar adalah kuat keshalehannya“, pesan penutup Presiden dalam video pendek sang putra, Kaesang.
Ataukah ini dimaksudkan sebagai kelanjutan pesan politik Presiden untuk memperingatkan Tiongkok beberapa saat yang lalu saat kunjungan di laut Natuna? Entahlah.

Read Full Post »

2015Alhamdulillah sampai juga di awal tahun 2015. Selamat tinggal tahun 2014 yang penuh dengan kebisingan politik, baik di darat maupun di dunia maya. Pemilu legislatif dan pemilu presiden begitu terasa menguras energi bangsa. Finansial, tenaga, pikiran dan emosi yang terkuras, adalah bagian dari biaya dalam ‘pesta’ rakyat ini. Media sosial jadi alat utama untuk mengumpulkan, sekaligus memecah komunitas para penggembira. Dalam data World Bank, Indonesia masih masuk dalam kategori Lower Middle Income bersama dengan Philipina, Vietnam dan Timor Leste, di bawah Malaysia dan Thailand sebagai Upper Middle Income. Setarakah dengan harapan dan kenyataan yang akan diraih bangsa ini?

Data World Bank dalam berbagai ketegori yang bisa diunduh CPI2014secara gratis, memang menunjukkan kondisi Indonesia kurang-lebih sama dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara, demikian juga bila dibandingkan dengan India. Namun informasi terbaru, telah memberi kejelasan bahwa banyak terjadi kerugian atau kehilangan disektor perikanan dan energi hingga trilyunan rupiah, belum lagi potential lost di sektor pajak yang diperkirakan bisa mencapai 1 Trilyun. Pemborosan penggunaan anggaran juga banyak terjadi sehingga presiden merasa perlu mencanangkan penghematan dengan diaturnya keperluan rapat di hotel-hotel. Artinya, sangat mungkin Indonesia bisa jauh lebih baik, namun kepemimpinan sebagai penggerak utama memang sangat menentukan.

Data World Bank 2013 menyebutkan GDP Indonesia: $ 868,346 Juta dengan pertumbuhan 5,78% per tahun, lebih tinggi dari Malaysia 4,73% dan India 5,02 %, namun lebih rendah dari Philipina 7,18%. Malaysia dan India bisa jadi contoh pembanding dalam menilai kemajuan bangsa di Asia Selatan dan Tenggara mengingat kemiripan budaya, geografi dan tingkat pengetahuan, juga angka berdasar beberapa kategori dalam data World Bank yang kurang-lebih sama. Korupsi juga masih menjadi penyakit akut yang merongrong kesehatan bangsa. Dalam Corruption Perceptions Index 2014, Indonesia masih diurutan 107 dari 174 negara di dunia (1: Baik, 174: buruk) dan di urutan 17 dari 28 negara di Asia Pacific, dibawah Malaysia (9), India, Philipina dan Thailand (12) dan satu angka diatas Vietnam (18). Menyedihkan.

Malaysia
Secara kultural, bangsa kita ini tak banyak berbeda dengan Malaysia. Bahasa Melayu, Islam, kesenian, kuliner dan banyak lagi, bisa dikatakan nyaris sama atau biasa dibilang bangsa serumpun. Namun banyak dosen di universitas di Malaysia saat ini berasal dari dan berwarganegara Indonesia, dan sudah sering kita mendengar cerita bahwa Malaysia dulu belajar banyak tentang pengusahaan minyak dan gas dari Indonesia dimasa lalu namun Petronas terlihat lebih mendunia dan well managed dibanding Pertamina. Bahkan, dalam hal sepakbolapun Indonesia sering mengalami kekalahan melawan Malaysia. Mengapa Malaysia dalam banyak hal lebih maju daripada Indonesia?  Pengangguran Laki-laki 3,0 % dari total tenaga kerja laki-laki (Indonesia 5,6%), konsumsi listrik per kapita Indonesia 680 kwh, dibawah Malaysia 4.246 kwh atau Thailand 2.316 kwh.

India
Jumlah penduduk India sudah 1 milyar lebih, jauh melewati Indonesia walaupun sama-sama termasuk negara berpenduduk banyak di wilayah Asia Tenggara dan Selatan, matapencaharian rakyatnyapun tak banyak beda dengan kita, agraris. Jurang perbedaan pendapatan kurang-lebih sama juga dengan kita. Tapi mengapa India bisa sangat diperhitungkan sebagai negara yang sangat mungkin sebagai negara maju di tahun 2025? Pengangguran Laki-laki 3,1 % dari total tenaga kerja laki-laki. GDP 2013: $ 1,876,797 Juta dengan pertumbuhan GDP 5,02% per tahun, lebih rendah dari Indonesia. Investasi India untuk minyak dan gas di luar negeri mencapai $ 12,5 milyar (2012). Saat ini sudah 20 reaktor nuklir dimiliki India dan masih membangun puluhan lagi untuk memenuhi kebutuhan energi pembangkit listriknya. India juga dianggap sebagai negara yang cukup aman untuk investasi pusat layanan teknologi informasi dunia. Geoff Hiskock dalam bukunya ‘Earth Wars’ https://anangsk.wordpress.com/2013/02/12/earth-wars/ menyebutkan bahwa China/India terus berinvestasi secara besar-besaran, baik dalam hal volume perdagangan maupun nilai investasi, di berbagai belahan dunia untuk mencukupi kebutuhan SDAnya. Diperkirakan China dan India akan mampu menggeser kejayaan Barat dan menjadi penentu kemenangan perang penguasaan sumber daya alam ini.

Earth WarsMengingat kembali berbagai hasil kepemimpinan Jokowi semenjak menjadi walikota Solo, gubernur DKI dan periode awal pemerintahannya sebagai RI1, ada rasa optimis melihat kesejahteraan bangsa kedepan. Banyak hal yang mestinya bisa dilakukan para pemimpin sebelumnya, ternyata baru terlaksana pada masa kepemimpinannya. Keseriusan, tekad dan usaha kerasnyalah sehingga banyak hal bisa terjadi, tentu atas bimbingan dan ijinNya. Niat luhur suatu bangsa untuk memperbaiki dirinya dibawah arahan serius pemimpinnya, adalah modal utama untuk merubah nasibnya. Bukanlah Budaya, Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu bangsa menjadi kaya atau miskin, melainkan kemauan, semangat dan kerja-keras para pemimpin dan rakyatnyalah yang menentukan. Perbedaan sukses ekonomi yang Why Nations Failterjadi di berbagai negara disebabkan oleh institusi-institusi dan aturan-aturannya yang mempengaruhi jalannya ekonomi, serta insentif terhadap bangsanya, demikian kesimpulan Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya ‘Why Nations Fail’ https://anangsk.wordpress.com/2013/11/17/mengapa-ada-negara-kaya-dan-miskin/ . Semoga kebisingan politik di tahun 2015 sudah mereda dan bersama-sama lebih fokus untuk meraih kesejahteraan dan perdamaian bangsa.

Read Full Post »

JOKOWI - JKPenulis: Firdaus Ali*) Jumat 14 03 14 @ 14:45 PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi untuk Calon Presiden RI dari PDIP yang diikuti oleh masyarakat dengan penuh harap. Penantian panjang yang sarat polemik serta dipenuhi dikotomi pro dan kontra majunya Jokowi sebagai Capres RI terbalas. Pengumuman tersebut pasti disambut dengan syukur dan suka‐cita pihak yang penuh harap bahwa perubahan kedepan akan lebih pasti jika dipimpin oleh seorang Jokowi. Di pihak lawan, tentunya menimbulkan kecewa amat sangat, karena seorang Jokowi tentunya menjadi saingan yang berat sesuai hasil dari berbegai survei.

 

Di wilayah bagian selatan Ibukota pengumuman pencalonan Jokowi dilakukan oleh DPP PDIP dilakukan dengan sangat sederhana seakan tanpa persiapan gempita sebagaimana lazimnya kandidat dari partai lain ketika mengumumkan balon presiden mereka. Terpaut jarak nun di utara Ibukota, tepatnya di Rumah Si Pitung di Kampung Marunda yang merupakan representatif dari daerah kumis (kumuh dan miskin) Jakarta, Jokowi dengan cara sangat sederhana dan bersahaja menyampaikan kepada publik tentang amanah yang baru saja dia terima dari Megawati Soekarnoputri. Dengan mengucapkan Bissmillahirohmanirrohim kemudian Jokowi mencium bendera Merah‐Putih dengan hikmat. Selanjutnya Jokowi lugas melangkah meneruskan rutinitas “blusukan” Jumat tersebut.

 

Sebagai negara demokrasi yang sedang terus berjuang untuk maju dengan menjunjung martabat dan keadilan, tentunya berbeda pandang dan pendapat adalah suatu hal yang wajar. Dari anugerah perbedaan plurarisme tersebut bangsa ini bisa menjadi bangsa yang hebat. Hari Minggu, 16 Maret 2014 kemaren adalah hari pertama kampanye untuk Pileg 9 April 2014. Lazimnya kesempatan pesta demokrasi 5‐tahunan ini diisi dengan saling puji atau hujat demi untuk meyakinkan calon pemilih agar memilih partainya. Namun, saling hujat dan berbagai bentuk kampanye negatif lainnya bukanlah cara yang baik untuk dapat memenangkan hati masyarakat pemilih, kiranya pemilih sekrang sudah cukup pintar untuk dapat menilai. Akankah dari suatu perbuatan yang dipenuhi emosi negatif yang dibungkus untuk tujuan mulia suatu “perubahan” akan mendapat restu sang Pencipta untuk mencapainya?

 

Pemilu Legislatif dan Presiden kali ini akan sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sosok fenomenal Jokowi akan menjadi fokus baik bagi banyak pihak Catatan perjalanannya (track‐record) yang sarat dengan pencapaian peningkatan kapasitas diri mulai dari bawah, yaitu dari seorang pedagang meubel yang menjadi walikota berprestasi di Solo melangkah menjadi Gubenur di wilayah sentral Indonesia yaitu DKI Jakarta. Jokowi memang baru 17 bulan memimpin ibukota dengan segala kompleksitas masalahnya, namun dia sudah memperlihatkan kinerjanya untuk rakyat, berproses dengan nyata menuju suatu perubahan. Namun, tentunya lumrah pula jika semua lawan politiknya kini kemudian mencoba menyerang Jokowi melalui berbagai media komunikasi yang ada dengan mengatakan dia gagal ini dan itu serta tidak punya pengalaman dan lain sebagainya. Termasuk menghujat bahwa Jokowi ingkar janji.   Waduk Pluit

 

Sesungguhnya mengatakan bahwa Jokowi tidak bertanggungjawab dan ingkar‐janji karena meninggalkan Jakarta dengan kompleksitas masalah perkotaannya, adalah kesalah‐ pahaman yang besar. Jokowi tidak akan penah meninggalkan Ibukota seandainya nanti terpilih menjadi Presiden NKRI. Jika Jokowi menjadi Presiden bahkan akan semakin memperkuat komitmennya untuk Ibukota, karena Jokowi sudah mengalami dan paham akan pentingnya peran dan komitmen Pemerintah Pusat untuk pembenahan Ibukota ini. Salah satu kunci utama membenahi ibukota ini dengan lebih cepat dan terintegrasi adalah sangat dibutuhkan adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah Pusat (yang dikomandoi oleh Presiden), tidak hanya komitmen anggaran tetapi yang lebih penting adalah otoritas koordinasi untuk kerja yang lebih terarah dan terintegrasi. Permasalahan kota Metropolitan Jakarta terkait erat dengan kota‐kota atau daerah penyangga disekitarnya. Diperlukan koordinasi lintas Propinsi dan Kota/kabupaten sehingga pembenahan ibukota dan wilayah sekitarnya dapat sinergi, harmoni dan konsisten. Untuk itu dibutuhkan bantuan dan komitmen serius dari Pemerintah Pusat.

 

Dalam sejarah penataan ibukota suatu negara, peran dan tanggungjawab Pemerintah Pusat sangat menentukan karena Capital City adalah simbol kehormatan (dignity) suatu bangsa. Masalah‐masalah perkotaan di DKI tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh siapapun gubernurnya jika tidak ada pemahaman yang utuh oleh yang memimpin negara ini tentang akar permasalahannya. Sebagai orang yang pernah menjadi Gubernur Jakarta, dengan posisinya sebagai Presiden kelak, Jokowi justru akan mempunyai keleluasan dalam otoritas koordinasinya. Jokowi justru dapat membantu Gubernur penerusnya untuk dengan cepat dan terarah menangani masalah ibukota, baik berupa kemacetan, banjir, krisis air, dan penataan ruang yang terus memperburuk daya tampung dan daya dukung lingkungan ibukota ini. Kiranya, tanpa campur tangan Pemerintah Pusat dan sikap konsisten dari Presidennya, ibukota sulit dan lambat dibebaskan dari masalah perkotaan yang terus membelitnya karena sebagian besar kewenangan lintas wilayah ada di Pemerintah Pusat.   Kampung Deret

Oleh karena itu, jika ada yang menuduh bahwa Jokowi tidak pantas maju sebagai Capres karena beliau belum berbuat dan bahkan gagal membenahi kemacetan dan banjir di ibukota, itu adalah bentuk rasa frustrasi dan bahkan mungkin saja keberpihakan kepada existing sistem yang korup yang dalam 17 bulan terakhir ini dirubah oleh Jokowi bersamaAhok. Bagaimana kemacetan Ibu Kota dapat diselesaikan oleh seorang Gubernur DKI Jakarta sepihak jika kendali pengadaan kendaraan bermotor dipegang oleh pusat sedangkan upaya membangun sistem transportasi cepat masal terlambat diwujudkan Pusat. Penyelesaian masalah banjir tidak akan mencapai proses kemajuan seperti kini, jika tanpa upaya gerak cepat yang dilakukan oleh Jokowi secara teknis sementara pengelolaan kawasan hulu tidak ada dalam kendali koordinasinya. Sehingga upaya teknis penanganan banjir ibukota hanya sebatas mencoba menghilangkan titik genangan dalam kota dan memastikan pengerukan kali dan situ‐situ dipercepat. Karena memang itulah sebatas kewenangan yang sesungguhnya dimiliki oleh Pemprov DKI.

 

Dari 13 sungai atau kali yang selalu mengancam ibukota, hanya 4 kali yang kewenangan pengelolaannya ada di Pemprov DKI. Bahkan kewenangan pengelolaan waduk dan situ ada di Kementerian Pekerjaan Umum. Apa kurangnya seorang Jokowi yang ingin mengimplementasikan infrastruktur multi fungsi untuk tujuan pengendalian banjir, genangan, dan air baku untuk ibukota serta sekaligus untuk penanganan kemacetan secepat mungkin dengan TIDAK meminta alokasi dana APBN dan APBD sama sekali? Dalam hal ini justru Pemerintah Pusat yang menghambat dengan berbagai alasan sehingga Jokowi belum bisa segera mewujudkan Terowongan Multi Fungsi (TMF) Jakarta atau dikenal dengan Multi‐ purpose Deep Tunnel (MPDT). Kita masih beruntung pada musim hujan ini tidak mengalamibencana banjir yang parah padahal hampir sebagian besar belahan bumi di utara katulistiwa mengalami bencana banjir paling buruk dalam 60‐80 tahun terakhir ini, seperti yang dialami UK, Perancis Selatan, Italia, Jerman, AS, China, Kanada, dan bahkan Brazil sekalipun.

 

Selama ini, hampir seluruh gubernur yang memimpin ibukota ini yang telah mencoba menangani ibukota hanya dengan kewenang (power) dari selatan (baca: Balaikota di Medan Merdeka Selatan) selalu gagal dan larut dalam buruknya birokrasi. Padahal Jakarta sudah dikukuhkan sebagai ibukota NKRI melalui Undang No. 29 tahun 2007 yang sampai hari ini belum ada satupun PP aturan peraturan turunannya yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Melalui Pemilu 2014 khususnya PiIpres 2014 inilah kesempatan untuk merubah cara penanganan ibukota yaitu dengan kewenangan yang didorong penuh dari utara (baca: Istana Presiden di Medan Merdeka Utara). Ketika kemaren Jokowi mendeklarasikan pencapres‐annya kawasan kumis ibukota, itu adalah simbol semangat Jokowi akan menata Indonesia dari daerah termarjinalkan dan termiskin demi Indonesia Baru yang lebih baik dan bermartabat.

 

Jika ada yang mempertanyakan kematangan dan pengalaman Jokowi untuk bisa memimpin bangsa ini, itu adalah sangat wajar sekali. Rakyat Amerika Serikat pada tahun 2009 juga punya ketakutan dan kekuatiran yang dalam ketika Obama yang berpenampilan tidak menarik dan terutama berasal dari keturunan ras Afro‐American (bahkan pernah dididik di negara ketiga yang bernama Indonesia) maju mencalonkan diri menjadi Presiden ke‐44 negara adi daya tersebut. Namun toh takdir membuktikan walaupun dalam situasi kondisi sosial AS yang masih dipenuhi bayang‐bayang diskriminasi terhadap kulit hitam dan dalam kondisi ekonomi AS yang tengah terpuruk oleh ulah kebijakan pendahulunya Bush Jr., Obama justru mendapat percayaan rakyat dan bangsa AS untuk memimpin negara tersebut, bahkan untuk periode ke‐dua kalinya.

 

Dari belahan bumi yang lain, adalah Lee Myung‐bak Presiden Korea Selatan yang telah dicatat sejarah membawa perubahan dan kemajuan signifikan bagi Korsel. Dia adalah bekas Walikota Seoul yang berhasil menata kembali Sungai Cheonggyecheon menjadi surga yang membentang di tengah kota Seoul. Diapun terkenal kerap melakukan “blusukan” setidaknya 2 kali seminggu. Sementara itu, Ma Ying‐jeou adalah bekas walikota Taipe (1998‐ 2006) yang sukses menata kemacetan dan krisis air di Taipe dan kemudian terpilih menjadi Presiden Taiwan pada 2008 dan terpilih kembali menjadi Presiden untuk kedua kalinya pada tahun 2012. Dia terkenal sebagai pemimpin kota Taipe yang sederhana dan mempercepat penanganan masalah kota Taipe dalam posisinya sebagai Presiden Taiwan.

 

Dalam rasionalitas inilah, apapun yang akan terjadi pada Pilpres 9 Juli 2014 nanti, Jokowi tidak akan meninggalkan Jakarta apalagi menelantarkan janji‐janjinya. Saat ini, beliau mendapat amanah bertarung untuk insyaAllah dapat hijrah dari Selatan ke Utara demi menjemput kapasitas (sumber daya) yang lebih, otoritas penuh, dan kewenangan yang lebih dari cukup untuk menuntaskan amanah yang lebih besar tidak hanya untuk membantu permasalahan di Ibukota NKRI saja tetapi juga untuk seluruh wilayah NKRI yang selama ini termarjinalkan oleh pemimpin pendahulunya.

 

*) Firdaus Ali, PhD.

  • Pengajar & Peneliti Teknik Lingkungan FTUI Pendiri dan
  • Pimpinan Indonesia Water Institute

 

Catatan:

Gambar-gambar di atas ditambahkan oleh admin blog, diperoleh dari media sosial Facebook.

Read Full Post »