Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Opini’ Category

Pelecehan HAM

Tiga hari yang lalu, beberapa kawan berkumpul untuk mendapat sosialisasi tentang HAM dari perusahaan tempat mereka bekerja. Dengan suara lantang dan cenderung terburu-buru, presenter menjelasan materi presentasinya, apakah bermaksud memberikan kesan bahwa dirinya menguasai materi, ingin cepat selesai atau justru khawatir banyak pertanyaan ?? entahlah .. Namun kesan yang muncul justru kurang menguasai masalah HAM dan cenderung terkooptasi pada pola pikir pengusaha.

Seorang karyawan bertanya “pak, kalau saya tidak masuk beberapa hari karena sakit, apakah akan mempengaruhi penilaian kinerja saya?” heemm … dengan cepat dijawabnya “oh, iya .. karena anda tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri dan tidak mengikuti anjuran dokter sehingga pekerjaan terganggu”. Edan … jumping conclusion .. “Perusahaan telah menghormati HAM dengan cara memberi karyawan hak untuk mendapat pengobatan ke Rumah Sakit yang disediakan”, tambahnya. Semakin edan …

Kawan lain pernah berobat di RS rujukan perusahaan berbulan-bulan dan hanya diberi kapsul pilek terus-menerus, tanpa dilperiksa sama-sekali kondisi hidungnya, apalagi rekomendasi ke dokter spesialis.. Huh ….. Akhirnya saat cuti dia berobat ke doklter spesialis THT dan didiagnosis sebagai sinus. Dari hasil rontgen, terlihat tulang hidungnya yang bengkok, sbg penyebab sinus, shg disarankan operasi.

Kawan lain lagi pernah rawat inap satu minggu lebih di RS yang sama karena suhu tubuh yang tinggi. Contoh darah diambil beberapa kali namun diagnosis masih belum jelas benar, makan susah masuk dan permintaan infus pasien tidak diijinkan. Terakhir diminta kesediaannya untuk test AIDS… Hahh .. Pasien shocked .. Krn merasa tidak pernah melakukan hal-hal yg bisa dianggap penyebab tertularnya AIDS. Untungnya, beberapa hari kemudian datang kunjungan rutin dokter ahli dari Jakarta yang juga memeriksanya. Diagnosisnya adalah ada masalah dengan pangkreas pasien. Pengobatan dilakukan dan beberapa hari kemudian bisa pulang. Sembuh.

Dua contoh di atas kawan sampaikan pada sang ‘guru’ sebagai penyangkal bahwa absennya karyawan beberapa hari tidak mesti sebagai kesalahannya, dan hak pengobatan yang diberikan perusahaan tidak bisa dianggap selesai hanya dengan merujuk ke Rumah Sakit satu-satunya. Pelayanan RS rujukan juga mesti menjadi perhatian perusahaan karena pengobatan ‘seadanya’ terhadap penyakit serius yang diderita karyawan juga bisa dikategorikan sebagai tindakan Kekerasan krn Pembiaran (Violence by Omission) yang jelas sebagai pelanggaran HAM. (Lihat ‘Violence and Democratic Society’, di kategori Buku).

Sebaiknya perusahaan perlu lebih serius dalam mengakomodir pasal-pasal HAM, dan menugaskan sesorang yang memang kompeten dibidangnya untuk memberikan sosialisasi HAM. Atau, mau dianggap melakukan pelecehan HAM?

Read Full Post »

Melihat berita tv akhir-akhir ini rasanya seperti nonton kejuaraan free fight yg isinya berdarah-darah, tegang dan melelahkan.. Penuh kekerasan. Masih belum hilang memori kekerasan kelompok ini ketika tindak kekerasan dilakukannya secara vulgar terhadap kelompok lain di lapangan Monas beberapa tahun yll. Juga perusakan berbagai tempat hiburan malam di wilayah Kota dan Kemang. Saat ini tindak kekerasan itu mulai dilakukannya lagi.

Banyuwangi
Kunjungan fraksi PDIP di Banyuwangi untuk dialog dgn bekas PKI, dibubarkan sekelompok massa yang beberapa terlihat berpakaian dan berpeci putih, secara paksa dengan wajah2 beringas dg alasan, yg muncul di tv, membuka luka lama. Absurd. Mereka sudah membayarnya dg menjalani hukuman fisik, psikis dan sosial oleh institusi hukum yg sah di negeri ini. Lalu apa lagi? Semestinya, mereka berhak hidup sebagai warga negara yang merdeka. Alasan lainnya. PDIP dianggap menyebarkan faham komunis. Betulkah? Atau hanya karena mendekati ex-PKI, yg mungkin merekapun belum tentu faham tentang komunis? Bgmn bisa menuduh partai besar yang legal di negeri ini berideologi komunis? Absurd.

Ahmadiyah, Jawa Barat
Wajah-wajah beringas membenturkan tubuhnya ke barisan tameng aparat keamanan untuk dapat menghancurkan pagar hidup ini dan menggilas pengikut Ahmadiyah. Masjid disegel, para ibu berteriak, darah tercecer, umpatan berhamburan.

Bantargebang, Bekasi
Umat kristiani beribadah dalam suasana represif, dalam kepungan teror kekerasan. Gereja mereka yang sudah mendapat persetujuan 190 penduduk sekitar dipaksa tutup oleh kelompok minoritas berkuasa.

Patung, Bekasi
Teror untuk menurunkan patung Tiga Perempuan di salah satu perumahan di Bekasi oleh kelompok massa berlabel agama, yang menganggapnya tidak sesuai dengan keyakinannya, mirip penghancuran patung-patung di Afganistan.

Ancaman ‘sweeping’ tempat hiburan malam di Jakartapun mulai dilontarkan, meskipun akhirnya dibatalkan setelah Foke, Gub DKI, menemui pimpinan FPI. Anehnya, justru sang Gub mengajaknya untuk turut mengawasi kegiatan Hiburan Malam di bulan Ramadhan. Bukankah keamanan adalah ranah aparat keamanan? Ataukah ormas ini memang alat politik dari kelompok tertentu? Absurd.

Teringat novel The Kite, yang sudah muncul di layar lebar, yang bercerita kekejaman kelompok Taliban di Afganistan dan penghancuran patung Budha di dinding pegunungan gersang Timur Tengah (lupa negaranya) yang pernah disiarkan oleh National Geographic channel. Semoga tidak muncul kelompok semacam ini di negeri kita. Amin

Read Full Post »

Sampai Jumpa, Bu Sri

Bukan karena pemuja atau penghujat maka ikut berkomentar, tapi karena sudah banyak ruang publik tersita oleh kasus yang berhubungan dengan beliaulah yang membuat terpancing utk menulis.

Bail-Out bank Century telah melambungkan nama Sri Mulyani menjadi bulan-bulanan para politisi, baik yang mendukung maupun yang menghujatnya, juga telah menyeret para pengamat sosial dan pendukung tokoh politik untuk turut meramaikannya, bahkan para penikmat sinetron yang apolitispun menjadi sangat familiar dengan sosok sang ibu ekonom ini.

Nama beliau ini mulai muncul dalam benak ketika menduduki jabatan tinggi di IMF, saat negari ini justru sedang berusaha untuk memutus hubungan dg kreditor dunia ini. Menjadi pertanyaan diam dalam diri saat itu “Mengapa ada ekonom Indonesia yg bersedia tidak populer, dg mengambil jabatan tinggi di IMF, yang sedang dihindari para negara2 debitor di Amerika Selatan, Afrika dan negara2 sedang berkembang lainnya?” Misi personal seperti apakah yg ingin diraih? Menaikkan tingkat pencapaian profesionalitas? Visi nasionalisme berdasar mazhab ekonomi yg diyakininya? Atau?

Tepat di hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2010) beliau secara resmi sudah ‘dipaksa’ meletakkan jabatan sebagai menteri Keuangan, menuju jabatan yang prestisius yang baru sebagai salah satu Direktur World Bank di Washington DC.. Dipaksa oleh siapa? DPR? Presiden? World Bank? Atau?

Banyak pertanyaan dalam diam yang masih berseliweran, adakah kaitan antara karir beliau sejak sekolah di AS, IMF, MenKeu dan World Bank versus mazhab ekonomi yang dianutnya? Atau bagaimana sejatinya nasionalisme menurut keyakinan ideologisnya? Mobil, pusat perbelanjaan dan perumahan mewah memang semakin banyak, tapi petani, nelayan, buruh, guru masih tetap susah kondisi hidupnya.

Selamat jalan dan sampai jumpa Bu Sri, anda dianggap tepat oleh pemimpin negeri ini untuk menjalankan kebijakan ekonomi berdasar keyakinan ideologisnya, namun justru harus pergi setelah babak-belur mengemban sikap loyal terhadapnya. “Revolusi memang memakan anak sendiri”, menurut Soekarno.

Read Full Post »

Kecil

Dua minggu ‘cuti’ banyak diisi kegiatan tv ‘bibit-candra’, update Blog dan kontak/ngobrol dgn rekan yayasan YTI. Isu kondisi sosial saat ini seperti membuka kotak pandora.

Hormat sekali buat mereka yang secara sadar mampu mempertahankan nilai2 yang diyakininya tanpa terkooptasi oleh hegemoni kapitalistik dan berani menyuarakan ketidak-setujuannya, bahkan dengan resiko kekerasan dan penjara sekalipun.

Masyarakat perbankan, dunia bisnis pembiayaan/financing dan para pendukung SBY, dengan segala teori yang ‘mungkin’ dikuasainya, telah membabi-buta menyatakan ‘tidak ada yang salah dengan bailout bank Century’.

Di dunia kerja, hal ini spt perilaku karyawan yang sedemikian fokus dan sibuknya thd suatu pekerjaan, bahkan melupakan kondisi lingkungannya, namun ternyata hanya bagian kecil dari sistem induistrinya, terlebih bila dibandikan dengan dunia perdagangan dari hasil produksi bisnis yang ditekuninya. Celakanya, justru dampak kumulatif dari aktifitas yang ditekuninya seringkali tidak disadarinya akibat spesialisasi keahlian dan pola pikir yang sudah terkooptasi dan diterapkan oleh sistem management perusahaan, namun merasa dirinya sudah menguasai banyak hal tentang industrinya. Celaka … Hanya bagian kecil dari putaran roda bisnis yang mendunia, sudah lebih dulu bisa mengkooptasi sistem nilai yang selama ini masih jauh dari niatan kita untuk menguasainya.

Read Full Post »

Gelisah: Etika Profesional

Duduk di depan kamar lantai 3 pada ketinggian 1900 meter di kota tambang terasa dingin, segar. Sejauh mata memandang tampak hijau bergelombang, hutan heterogen, beberapa tempat menyela titik-titik kuning dari bunga yg mulai tumbuh, indah. Suara raungan mobil ber cc tinggi, sesekali menyelingi keheningan jaring kehidupan. Gerakan dalam otak mulai terjadi ‘Apa yang kita lakukan di sini sebenarnya?’ ‘Mencari penghidupan untuk keluargaku’ jawabku. ‘Sudah benarkah apa yg kau lakukan ini?’ Heemm mulai hangat dada rasanya karena gejolak darah yang memacu jantung untuk berdetak lebih cepat karena tindakan mulai dipertanyakan. ‘Benar sudah alasanmu, tapi sudahkah kau pikirkan akibat tindakanmu bagi yang lain?’, terhenyak aku dengan hentakan yang membangunkan ini.

Aku mulai memilih pisau untuk mengupas sistem jaringan hidup yang aku jalani. Bagian manakah yang harus dikupas dari keterlibatanku dalam industri ekstraksi sumber daya alam ini? Akan lebih mudah rasanya untuk mengelaborasi pertanyaan filosofis ini dengan menggunakan pisau analisa etika profesional. Menurut filsuf nasional (Romo Magnis?) Ada lima subjek kepada siapa seorang profesional perlu mempertanggungjawabkan aktifitas profesionalnya, yaitu:

1. Tuhan Yang Maha Esa,
Jelas, ini adalah rambu spiritual yang tentu bagi siapapun yag meyakininya, tak akan menegasikannya. Semua permasalahan industrial hendaknya dikaji secara holistik sebelum tindakan dan pengambilan keputusan dilakukan.

2. Bangsa dan Negara

National interest perlu menjadi pertimbangan penting dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan yang mungkin bisa merugikan atau menguntungkan bangsa dan negaranya. Dalam kaitannya dengan industri ekstraksi sumberdaya alam, perlu dijawab pertanyaan-pertanyaan seperti ‘seberapa jauh, secara financial, bisnis ini akan menguntung negara, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mengingat bahwa ini adalah industrii ‘non renewable’?’, ‘berapa jumlah produksi sebaiknya sehingga bisa menguntungkan semua pihak?’, ‘Dalam kaitannya dengan bidang usaha lain, sejauh mana bisnis ini akan mempengaruhi sektor industri lainnya, misalnya kehutanan, perikanan; mengingat pertambangan pasti berdampak pada kerusakan hutan dan bisa mengganggu biota laut krn pembuangan tailingnya?’.

3. Lingkungan fisik dan sosial

Lingkungan fisik jelas akan menerima dampak yang besar dalam aktifitas pertambangan, seperti misalnya perubahan bentang alam dan keanekaragaman hayati; belum lagi kemungkinan penyebaran mineral berat akibat pembuangan sampah tambang dsb. Uji valuasi kerusakan lingkungan akibat aktifitas industri perlu dillakukan sehingga dapat dihitung secara kuantitatif, dalam dollar misalnya, kehilangan kekayaan alam akibat penambangan. Ini penting karena seringkali perhitungan keuntungan Nasional hanya didasarkan pada perolehan pajak dan royalti, tanpa memperhitungan faktor kehilangan kekayaan alam lainnya. Akan lebih baik lagi bila kerusakan lingkungan menjadi komponen dalam perhitungan keuntungan per satuan berat produksi, yang akan masuk kembali ke kas negara sebagai pajak kerusakan lingkungan. Yang juga penting untuk mendapat perhatian lebih adalah persoalan lingkungan sosial, yang meliputi migrasi penduduk pencari kerja, ketimpangan pendidikan, pendapatan dan kesejahteraan, perbedaan kultur, HAM, belum lagi perilaku karyawan terhadap sesamanya atau bawahannya, dsb. Sering merasa risih bahwa berada dalam satu bangsa yg sama bisa terjadi perbedaan pendidikan dan kesejahteraan sedemikian besar antara para karyawa pendatan dengan masyarakat lingkar tambang. Mayoritas masyarakat lokal di sekitar wilayah Industri pertambangan, pada umumnya, adalah karyawan non-staff, itupun masih memerlukan banyak pengawasan dan bimbingan. Di Tembagapura misalnya, masih sering terlihat ibu dan anak yang duduk di lantai depan bangunan umum sambil makan sementara anak2 muda, karyawan baru berlalu-lalang dg earphone lekat di telinganya. Lompatan waktu? Menggelisahkan. Seorang karyawan pendatang tingkat madya berkata ‘kami akan tetap membimbingnya, namun itu semua bergantung pada semangat dan kesediaannya untuk dididik’. Pernyataan yang arogan. Ketidakpahaman akan nilai-nilai lokal telah membuatnya arogan dan rendah empati. Memberikan penyadaran akan perlunya pendidikan semestinya menjadi prioritas utama sebelum masuk ke dalam pendidikan itu sendiri.

4. Keluarga

Seringkali parameter keluarga sebagai bagian kesuksesan, disisihkan. Perusahaan sering kali mengabaikannya atau mereduksinya dg menganggapnya sbg komoditi yg bisa dibelinya, dg memberinya akomodasi spy sang suami sbg karyawan tdk perlu lagi risau meninggalkan keluarganya.

5. Perusahaan

Jelas, bahwa karyawan wajib untuk bertanggungjawab kepada perusahaan tempat dia bekerja krn dia akan mendapatkan gaji sebagai balasan jerih-payahnya.

Dari lima hal di atas, seharusnya dimengerti dan disadari sepenuhnya bahwa Perusahaan bukanlah satu-satunya subjek tempat karyawan mempertanggung-jawabkan semua pemikiran, keputusan dan tindakannya. Dengan sengaja atau tidak, sikap ‘maju tak gentar membela yang bayar’ perlu dipertanyakan etika profesionalnya. Masih banyak terlihat, kaum terdidik yang bekerja sedemikian fokusnya hingga tak terpikirkan pertanyaan2 seperti seberapa besar keuntungan bangsa dibanding investor, apa yang akan terjadi setelah investor pergi setelah cadangan terkuras habis atau kontrak pertambangan habis, apa saja yang sudah diperoleh masyarakat sekitar, dsb. Banyak tenaga ahli di negeri ini, tapi apakah sudah bertanggung-jawab sesuai etika profesionalitasnya?

Read Full Post »

Facebook, budaya pop ?

Awal tahun 90an, HP berukuran batu bata bermerk Motorolla begitu mewah, mengundang mata utk melirik ke dalam mobil si pengguna yg sengaja sedikit membuka kaca jendela, biar terlihat.

Tahun 1995, perusahaan tambang emas Placer Pacific di Jakarta dan kantor pusatnya di Sydney masih menggunakan CompuServe untuk ‘surfing’ di dunia maya karena internet provider belum ada, bahkan internet belum cukup dikenal di Indonesia. Saat itu ada satu nomor telepon di Jakarta, yang tidak diketahui milik siapa, bisa dipergunakan untuk akses CompuServe, free. Aneh …

Sekarang, bahkan anak SD pun sudah bisa berinternetan dengan HPnya yang kecil itu untuk chatting dan berkemunikasi dengan rekannya via Facebook. ‘Om, hari gini.. Belum punya account di Facebook .. Yahhh’, begitu teman-teman anakku meledekku. Aku tersenyum, semakin tua rasanya ….

Facebook? Tengok kiri-kanan, yah ternyata sdh jd fenomena sosial, seakan yang tidak terdaftar di facebook bukan bagian dari jamannya..

Aku mulai merenung di suatu mall di Jakarta sambil mengamati gerak-gerik setiap anak muda yang lalu lalang di depanku. Kulirik seorang perempuan kantoran yang sedang asik memainkan keyboard laptopnnya sambil tersenyum sendiri di meja sebelahku dalam warung kopi Starbuck. Heem .. Ternyata sedang chatting.. Di pojok warung, tiga pemuda tersenyum sambil memperhatikan layar laptopnya.. Facebook ..

Penasaran, pulang ke rumah lgs sign-up di Facebook, karena untuk bisa lihat info di dalamnya harus terdaftar dulu di Facebook dan menjalin banyak perkawanan, untuk melihat info apa sih yang ada di dalamnya.

Kesimpulanku, Facebook adalah media, yang bisa dipergunakan sebagai alat untuk bertukar info tentang banyak hal, mulai dari yang dangkal narsistik sebagai bagian dari ‘budaya pop’ hingga yang empatik mencerahkan atau ‘budaya kritis’. Terserah anda mau di bagian yang mana .. 🙂

Read Full Post »

KESETIAKAWANAN SOSIAL

Kata di atas ini sedemikian familiar di media massa kita beberapa tahun yang lalu. Media cetak dan elektronik sedemikian gencar menampilkannya, hingga seperti barang eceran yang tidak lagi menarik perhatian ketika dijajakan di pasar informasi. Pencarian kata ‘Kesetiakawanan Sosial’ di internet menghasikan halaman sambutan hari Kesetiakawanan Sosial oleh presiden SBY beberapa tahun lalu di Bumi Perkemahan Cibubur .

Globalisasi, kesenjangan sosial dan individualisme adalah beberapa hal yang menjadi sorotan beliau untuk menggugah spirit Kesetiakawanan Sosial, saat itu, meskipun ada sedikit keluhan darinya berhubung sangat kurangnya praksis sosial dari jargon tersebut. Kesetiakawanan sosial seringkali diasosiasikan dengan ‘sumbangan’ terhadap pihak yang tidak mampu karena bencana alam, dari pihak yang dianggap mampu secara financial. Mungkin gotong-royong lebih tepat dijadikan padan katanya daripada pemberian bantuan yang memberi kesan arogan karena ‘tangan di atas, tangan di bawah’. Konsep Gotong-royong mengandaikan kesetaraan dalam perbuatan untuk meningkatkan kebaikan bersama, seperti kata Bung Karno: “Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantus-binantu bersama. Amal semua BUAT kepentingan semua, keringat semua BUAT kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-Baris BUAT kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”.

Kesetiakawanan sosial atau Gotong Royong seharusnya menjadi spirit dalam membangun bangsa ini seperti apa yang dikatakan Bung Karno bahwa seandainya Pancasila bisa diperas, maka Gotong-Royong adalah spirit satu-satunya. Semangat satu keluarga yang berkeadilan seharusnya menjadi bagian landasan dari segala bentuk kegiatan dalam menjalankan roda pemerintahan ini, tidak hanya diperlukan pada saat terjadi bencana alam dengan cara membagi-bagikan segala kebutuhan korbannya, apalagi hanya berwujud gerak jalan bersama di minggu pagi. Apakah membangun rumah megah di sekitar rumah kumuh berlantai tanah dan berdinding bambu, supermarket di sebelah pasar tradisional yang menjual barang sejenis dan berharga sama, spekulasi valas dengan nilai ratusan juta atau menjual saham saat ekonomi terpuruk hingga berakibat kepanikan pasar (short selling) dan berbagai contoh lainnya yang cukup membuat kita mengelus dada, adalah bagian dari ciri perilaku yang menjunjung Kesetiakawan Sosial?

Kesetiakawanan Sosial semestinya berada di awal suatu tindakan yang menyebabkan peningkatan kualitas kehidupan sesama, bukan berada di belakang suatu kejadian ketidak-sejahteraan.

Read Full Post »

KEPAK SAYAP KUPU-KUPU

Masa Lebaran 2008 ini diwarnai dengan kondisi keuangan global yang membingungkan, ‘terpuruk’ menurut berbagai info di media cetak maupun elektronik. ‘Subprime Mortgage’, ‘short selling’, ‘bail back’ dan entah apalagi istilah-istilah ekonomi yang selama ini jarang terdengar di telinga orang awam, tiba-tiba menyeruak, mengganggu para makhluk karena dihubungkan dengan penurunan daya beli masyarakat.

Saat masa puasa, rekan kerja dari AS menceritakan bahwa banyak kredit rumah bermasalah di negerinya. Selama ini golongan menengah atas di AS sedang mengalami ‘bulan madu’, katanya, dengan banyak pekerjaan dan gaji besar sehingga hujan penawaran kredit konsumtif berbunga rendah dari lembaga finansial jatuh ke golongan ini dan sektor perumahan adalah salah satu penawaran yang paling banyak diberikan.

Mingguan nasional menceritakan bahwa banyak para pemilik uang di AS berbisnis rumah dengan cara menyewakan rumah yang dibelinya dengan cara kredit. Uang pembayaran sewa rumah selama lima tahun sudah dapat melunasi total kredit yang diperolehnya dari lembaga pembiayaan.

Ternyata ‘bulan madu’ tidak menerus, lembaga-lembaga keuangan dunia mulai berjatuhan karena banyaknya kredit macet dan krisis keuangan dunia dimulai. Kepak sayap kupu-kupu di Wall Street mulai terasa di negeri kita, indeks harga saham melorot dan para pemain mulai panik, obral saham dimulai dan uang disimpan di bawah bantal karena kekhawatiran akan kemungkinan terpuruknya perbankan nasional. Gelombang energi dari kepak sayap kupu-kupu mulai menghantam sektor riil dan nilai rupiahjatuh hingga Rp. 10.000 per dollar AS. Kemampuan daya beli dan kekhawatiran memburuknya kondisi ekonomi negeri ini makin memperburuk sektor riil sehingga pedagang ekspor gerabah di Solo terpaksa merumahkan karyawannya karena pembatalan order mencapai 75%.

Kepanikan para pemain saham yang biasa mengambil keuntungan cepat (profit taking) semakin tinggi di negeri ini, ketika info yang membingungkan mulai dihembuskan oleh para penerbit saham untuk mengeruk keuntungan sendiri sehingga pemangku kebijakan terpaksa mengancam para pemain ‘silat’ ini.

Karyawan perusahaan pertambangan asing yang rajin bekerja tiba-tiba harus turut tertampar sayap kupu-kupu ini ketika menyadari bonus produksi bulanannya menghilang dan terancam kebijakan pengurangan jumlah karyawan karena harga metal dan harga saham perusahaan melorot tajam. Pedagang sayuran di pasar tiba-tiba merosot pendapatannya karena sayur tidak laku berhubung restoran pelangganannya mengurangi jumlah masakan karena sepi pengunjung. Permainan apa dan ulah siapa semua ini? Betukah ini karena the World is flat seperti kata Thomas Friedman sehingga keuntungan dan kerugian menular cepat?

Tidak jelas perilaku makhluk macam apa penyebab kekacauan keuangan global ini. ‘Invisible hand’ yang dijanjikan para penganut pasar bebas ternyata betul-betul menyembuyikan tangannya sehingga orang nomor satu di AS terpaksa harus turun tangan menggantikannya dengan menggelontorkan bantuan AS$700 juta dengan maksud membuat keseimbangan baru supaya chaos berhenti.

Apakah para debitor adalah penyebab utama? Atau, para kreditor yang terlalu royal membagikan kredit? Secara teknis, para ekonom pasti mampu menjelaskannya, namun yang lebih penting adalah perilaku macam apa yang bisa menyebabkan ini semua terjadi.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kebutuhan primer yang menyebabkan kredit macet, atau mungkin sekunder, atau bahkan mungkin tersier atau er er yang lainnya? Bisa apa saja, masalahmya adalah kemampuan pemilik modal di jaman sekarang ini sudah sedemikian canggihnya dalam menjual ‘kebutuhan’. Mengapa kredit sedemikan besar digelontorkan ke masyarakat? Pasti bukan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri, melainkan untuk kepentingan si pemilik modal tentunya. Inilah naluri kapitalistik di jaman globalisasi. ‘Yang penting semua senang’, katanya. Bedanya, anda mungkin senang sesaat karena ‘mampu’ memiliki barang konsumtif, tapi pemilik modal senang bertumpuk-tumpuk karena keuntungan berlipat dari kelebihan nilai produk yang anda hasilkan.

Read Full Post »

« Newer Posts