Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Brain’

Beberapa minggu yang lalu, dunia maya negeri ini gaduh karena unggahan dan tanggapan yang saling bersilangan.

  1. Video beredar menampilkan 3 anak berseragam SD menyeberang sungai denhan bergelantungan di keranjang yang meluncur dari letinggian pinggir sungai ke seberang sungai.
  2. Sebuah gambar menampilkan soal pilihan berganda yang isinya diharapkan untuk memilih antara Pancasila atau Islam.
  3. Berbagai komen tentang dibatalkannya keberangkatan haji 2021

Yang terjadi kemudian, bisa diduga, pengadilan di dunja maya terhadap pemangku kebijakan (Pemerintah). Hanya berdasar unggahan sepotong gambar dan video fersebut. Bila realita adalah gambar besar, obyek unggahan tersebut hanyalah bagian kecil atau sekeping puzzle dari gambar besar, yang tentunya tidak cukup informasi untuk dapat diberikan penilaian terhadapnya.


Keping-keping kecil lainnya dari masing-masing ketiga puzzle tersebut mulai bermunculan di dunia maya bebrapa hari kemudian. Gambar puzzle mulai jelas.

  1. Video 3 anak SD sedang bermain setelah pulang sekolah. Bukan pulang/berangkat dari/ke sekolah. Meluncur bergantungan mengunakan peralatan perkebunan sawit. Bukan alat penyeberangan sungai ke sekolah. Tidak ada isu kesulitan penyeberangan sungai.
  2. Sampai sekarang tidak ada konfirmasi dari manapun terkait soal pilihan ganda “Pancasila atau Islam”. Keping puzzle itu tetap tidak jelas bagi publik. Pertanyaan muncul utk dapat melengkapinya: apakah ini soal dalam test yang sudah ada jawaban ‘kebenaran’ untuk masing-masing soal? Sehingga Nilai Kelulusan didasarkan kebenaran pilihan jawaban. Atau, apakah ini soal ujian Psikotest/Kepribadian atau semacamnya, yang dipilih bukan untuk menentukan kebenaran jawaban? Seperti diketahhi bahwa psikotest didasarkan pada komposisi pilihan jawaban dari serangkaian soal, yang akan menentukan kategori Kepribadian seseorang. Artinya, tidak ada jawaban Benar/Salah dalam soal ujian semacam ini. Dan, biasanya ada beberapa macam test. Nah, belum ada konfirmasi tentang hal tersebut diatas. Puzzle tidak bisa diselesaikan. Penilaian terhadapnya tidak layak dilakukan.
  3. Penjelasan resmi oleh Menteri Agama dan pihak otoritas Pemerintah Arab Saudi tentang pembatalan haji telah diberikan. Tidak ada isu hutang kepada otoritas haji Arab Saudi. Tidak ada isu penggunaan dana haji untuk pembanghnan infrastruktur, oleh pemerintah. Cleared.

Mengapa publik cepat sekali memberikan respon mnegatjf terhadal pemberitaan yang sebetulnya belum jelas? Mengapa publik mudah menghakimi daripada mencari tahu kebenaran suatu informasi? Rasanya, unggahan-unggahan puzzle diatas bukanlah tanpa maksud oleh pengunggahnya. Dampak dari narasi yang dibangun adalah persepsi buruk terhadap pemerintah. Respon positif (mendukung narasi pengunggah) adalah harapan utama pengunggah terhadap puzzle-puzzle diatas.


Sedikit mengulang tentang Neural Behaviour Approach dalam blog ini. Reptilian Brain adalah fungsi otak yang berhubungan dengan respon terhadap ‘ancaman’. Disebut juga sebagai ‘otak primitif’, yang memicu respon fisiologis untuk hasil yang positif dalam situasi kritis atau dalam tekanan. Reptilian brain ini mempunyai fungsi primitif, yaitu tidak bisa belajar, tidak bisa berevolusi atau adaptasi. Juga tidak mempunyai memori. Ada 3 respon dalam menghadapi ancaman, yaitu Flee (lari), Fight (melawan), Freeze (merunduk). Respon bisa berubah-ubah seiring waktu dalam menghadapi ancaman. 


Sehubungan dengan kasus diatas, sepertinya netizen dengan karakter yang didominasi sifat Fight menjadi target kampanye semacam ini, dengan harapan segera memberi respon. Netizen-netizen yang didominasi reptilian brain berkarakter Fight ini, akan segera merespon unggahan-unggahan yang ‘mengancam’ persepsinya tanpa merasa perlu untuk mencari informasi lain untuk memverifikasi kebenaran informasi. Emosional. “Pemerintah zalim”. Itulah target respon dari unggahan puzzle literasi tersebut diatas. Semakin gaduh ketika Confirmation Bias dan Teori Konspirasi ikut bermain di dalamnya (baca: the death of expertise). Sempat terjadi respon tersebut namun ‘buyar’ setelah fakta sebenarnya terkuak. 


Fenomena Quick Response terhadap provokasi yang diarahkan ke Reptilian Brain yang berkarakter Fight seperti diatas akan terus terjadi, selama para pemiliknya tetap senang bermain medsos. Dan Prefrontal Brain yang menjadikan manusia sebagai mahluk berpikir, tidak mendapat kesempatan mengambil alih pembuatan keputusan rasional. Dan kegaduhan akan terjadi lagi.

Read Full Post »

IMG_20200520_233418
Mumpung dalam suasana karantina mandiri akibat Covid-19, saya coba main medsos yang akhirnya terperosok dalam penawaran online training Udemy.com. Kebetulan yang ditawarkan cukup murah dan menarik, karena berhubungan dengan beberapa buku yang pernah saya baca terkait dengan Otak dan Perilaku, seperti The Brain That Changes Itself , Personality: What makes You the Way You Are dan Quiet, yang ketiganya juga ada dalam blog ini.
Karena pelupa maka seringkali buku yang dibaca, saya buatkan tulisannya dalam blog ini, termasuk kursus ini, sehingga menjadi catatan yang bisa dibaca ulang dimanapun berada. Berikut ini adalah gambar besar dari keseluruhan isi kursus.
Kursus ini diadakan oleh Udemy.com dengan judul “Neuroscience for personal development“. Isinya tentang perilaku manusia dalam kaitannya tentang struktur otak kita. Menurut kursus ini, ada empat struktur otak yang bertanggung-jawab terhadap perilaku kita, yaitu: Reptilian brain, Neo-limbic brain, Paleo-limbic brain dan Prefrontal brain. Berikut ini penjelasan garis besar masing-masing struktur otak tersebut. Masih banyak lagi sub-bab dan contoh kasus, juga latihan dari masing-masing peran struktur otak tsb yang tidak dapat diringkaskan dalam blog ini, mengingat banyaknya materi. Ikutilah kursusnya karena sungguh menarik untuk bekal memahami diri sendiri, orang lain dan relasi sosial.
 
 
images (3)
Reptilian Brain (RB)
. .
Bertanggung-jawab untuk semua jenis fungsi fisiologis dasar seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dll.  Ini tempat bagi naluri bertahan hidup dan bertanggungjawab untuk menghadapi situasi yang mengancam. Secara teknis ia bekerjsama dengan amigdala limbik. Reptilian brain disebut jg ‘otak primitif’, yang memicu respon fisiologis untuk hasil yang positif dalam situasi kritis atau dalam tekanan. Tiga strategi yg dipergunakan untuk respon terhadap tekanan adalah:
  1. Flee: melarikan diri, otak memerintahkan pengiriman darah ke kaki sehingga otot mendapatkan oksigen lebih untuk mampu berlari cepat.
  2. Fight: bertarung atau mengintimidasi lawan,  mengirim darah ke bagian-bagian tubuh untuk bertarung.
  3. Freeze: ‘mengecilkan’ diri dengan harapan lawan akan mengabaikan. Otak tidak memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih kencang tapi justru memperlambatnya. Dan energi akan turun.
Reptilian brain ini mempunyai fungsi primitif, yaitu tidak bisa belajar, tidak bisa berevolusi atau adaptasi. Juga tidak mempunyai memori. Bila dipicu oleh amigdala, ia akan memilih 3 strategi tersebut untuk bertahan.
Reptilian Brain (RB) akan aktif ketika muncul rasa khawatir terhadap suatu hal, walaupun belum tentu akan terjadi, sehingga menimbulkan stress. Strategi Flee, bisa diartikan ingin berada di tempat atau situasi lain (anxiety). Respon fisik akan terjadi seperti tangan bergetar, kaki bergerak saat duduk, jari-jari terus bermain pen, dll. Suara tidak stabil, ingin ke belakang, insomnia … Itu adalah perintah otak limbik untuk lari.  Respon strategi Fight, menyebabkan sikap agresif (intimidate). Merasa superior, tangguh. Leher, rahang dan lengan terasa tegang. Suara menjadi lebih keras, nada tinggi dan jelas. Tidak sabar dan mata menyipit namun tajam menatap,  fokus pada lawan. Respon strategi Freeze, menginginkan masalah cepat selesai. Merasa tak mampu hadapi masalah dan membutuhkan bantuan (helplessness). Demoralization. Tak berdaya. Seluruh tubuh terasa lesu. Suara rendah lambat, sedikit kata. Menangis. Sangat lelah bahkan sesak napas.
 
Relational stress management (RSM)
Upaya pendampingan terhadap penderita stress utk masing-masing strategi:
Strategi Flee
Orang yang sedang mengambil strtegi ini akan cenderung mengalihkan pandangan. Ingin beralih dari situasi yang ada. Bila memintanya bersikap tenang, akan dirasakannya sebagai upaya membatasi kebebasan untuk lari, melepaskan diri. Memberikan pertanyaan dengan jawaban ya/tidak (close question), akan membuatnya bingung. Pendamping jangan bersikap yang bisa ditafsirkan sebagai upaya menekan, seperti berteriak, mengancam atau memberi sangsi. Lebih baik segera bekerja bersama. Ajukan pertanyaan terbuka (open question), tawarkan beberapa alternatif solusi, dan letakkan masalah pada proporsinya, serta berikan harapan. Buatlah suasana santai, bila perlu berikan lelucon atau aktifitas santai lainnya.
 
Strategi Fight
Respon orang pada strstegi ini mudah terlihat. Berdiri tegak, bersuara keras, nada tinggi. Menunjukkan ketidak-sabaran. Ketegangan naik, terlihat dari rahang dan urat lehernya. Karena sedang menunjukkan over-power, maka sebaiknya jangan lakukan interupsi, buatlah tertawa. Akui kesalahan, berikan empati. Tawarkan alternatif solusi. Karena karakter Fight stress adalah impatience, maka perlu langsung to the point dan factual.
 
Strategi Freeze
Memintanya untuk mengambil alih, pegang kendali atau bersikap berani, menunjukkan kekuatan hanya akan membuatnya semakin menderita. Humor bukan cara tepat. Berikan pemahaman, duduk bersama, hargai dia, pelukan bisa membantu.  Ingat tujuan nya adalah keluar dari otak reptil. Menghilangkan bahaya yangg dirasakan dan menawarkan perlindungan serta menunjukkan langkah kecil ke arah yg benar. Intinya adalah finding protection.
Pada intinya, bila kita ingin membuat tenang penderita stress, perlu dihilangkan rasa bahaya yang dirasakannya dengan menunjukkan bahwa kita berada di pihaknya. Ini adalah elemen umum untuk menghilangkan kebutuhan adanya reaksi defensif sehingga respon stress akan memudar. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah mematikan otak reptil.
. . .
Reaksi strategi Flee, Fight dan Freeze bisa berubah-ubah dalam waktu singkat ketika kondisi stress. Ingin lari, marah lalu menyerah, sangat umum terjadi dalam suatu kasus kritis yg membuat stress.
NBA316 Reptilian Brain Conclusion
 
Paleo-Limbic (PL) Brain (Limbig amigdala)
PL bertanggung-jawab atas reaksi individu dalam suatu kelompok. Seperti diketahui bahwa Self Confidence (SC) dan Trust penting untuk bisa mendapatkan akses masuk ke dalam kelompok. Reaksi emosi dan perilaku sangat berhubungan dengan posisi SC – Trust kita.
Tingkat rasa SC dan Trust ini digambarkan dalam bentuk dua garis sumbu berpotongan. Sumbu vertikal adalah sumbu SC. Di bagian tengah sumbu adalah zona assertiveness. Kurangnya SC akan mengarah pada Submissiveness, dan SC yang berlebihan akan mengarah pada Dominance.  Tingkat paling rendah dari Submissiveness adalah rasa auto-mutilation and suicide, sedangkan paling atas atau titik potong sumbu adalah rasa Perfectionism and Credulity. Sedangkan tingkat terendah dari Dominance adalah rasa Flattery and Seduction, dan yang tertinggi adalah Sadism and cruelty.
 
Dominance: Mild dominance – narcisistic personality
  1. Flattery and Seduction
  2. Manipulation of feeling,  in order to alienate the person
  3. Mockery, in order to de-stabilize  level for refined violence against objects
  4. Intimidation,
  5. Sadism, cruelty,  enjoying to see others suffer
Submissiveness:
  1. Perfectionism (takut berbuat salah), credulity (thd dominan)
  2. Sensitivity, thd penderitaan sendiri
  3. Superstition, irrational fear if sanction, panic attacks
  4. Panic attack,  guilt
  5. Auto-mutilation, sucide
Submissiveness hanya mungkin terjadi bila memang berserah diri pada kelompok Dominance.
Tingkat Trust digambarkan pada sumbu horizontal, dengan bagian tengah sumbu adalah zona Assertiveness, kekurangan Trust akan mengarah pada sikap Marginality, dan berlebihan Trust akan mengarah pada Axiality. Tingkat terendah Marginality adalah Conspiracy dan yang tertinggi adalah Uneasiness at sharing. Sementara tingkat terrendah dari Axiality adalah Easines at sharing dan yang tertinggi adalah Connection to the universe.
Pada sumbu Trust, zona Assertiveness dibatasi oleh dua ujung ekstrim, yaitu: Marginality dan Axiality. Bentuk ekstrim dari marginality adalah paranoia, sebaliknya bentuk ekstrim dari axiality adalah mystical delirium.
 
Marginality:
  1. Uneasiness to share private life
  2. Feeling of loss contact with others
  3. Megalomaniac speech due to loss of connection with others
  4. Sense of exclusion
  5. Feels there is conspiracy theory against him or her
Axiality:
  1. Ease at sharing
  2. Feeling of percieving a hidden meanings of things
  3. A feeling of communicating with others witout words
  4. Communicating with things
  5. Feels connected to the universe
Kelompok Marginal merasa susah sekali mempercayai orang lain dan merasa terancam oleh kelompok predator, sementara kelompok axial merasa diuntungkan dlm kelompok. Namun kelompok axial sering kali juga naif, sehingga bisa membawa kesulitan.
Reptilian brain sudah aktif sejak dilahirkan, sedangkan Paleo-limbic aktif kira-kira umur 2 tahun ketika anak mulai bersosialisasi. Trustworthy yg rendah di masa kecil dan selalu meminta ijin untuk bertindak, akan berdampak dimasa selanjutnya seeing selalu merasa tidak mendapat kepercayaan dalam bawah sadarnya. Solusinya, finding a balance between authority and freedom. Namun perlu pengawasan yang tegas bila anak mulai melintas batas berbahaya. Keberadaan the authority sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Terlalu strict and rigid akan membentuk Submisiveness, sebaliknya terlalu longgar aturan dan disiplin, akan membentuknya menjadi Dominance. Paleo-limbic sangat rigid dan lamban untuk berubah, bergantung pada pengalaman hidup. Kondisi sementara dalam group memungkinkan tingkat SC dan Trust berubah posisi.
Mengubah posisi SC – Trust dalam group perlu dilakukan, meskipun menaikkan tingkat SC tidak bisa seketika, karena rigiditas dari paleo-limbic brain. Menggali posisi traumatik masa lalu, misalnya pengeroyokan, pemerkosaan, dll. akan sangat membantu untuk bisa menerima keadaan dengan sadar, bangkit dan menaikkan SC. Tujuan dari positioning group adalah stabilitas. Rebound effect adalah posisi kembali ke central referal point setelah mengalami masa naik-turun. Pendampingan coach direkomendasi.
 
Relational Group Positioning Management (RGPM)
Marginalitas dalam Dominance seringkali bersikap resisten, namun bisa berubah menjadi agresif. Tujuan RGPM bukan mengubah positioning, namun untuk mengelolanya dengan baik. Diperlukan sikap menghargai dan tidak menyalahkan dimanapun posisi group lainnya, karena kita tidak akan bisa mengubahnya. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah mendorongnya untuk keluar dari Paleo-limbic melalui komunikasi. Perlu diingat bahwa pihak lain bisa jadi tidak dalam level perilaku rasional untuk mulai berdiskusi secara rasional tentang siapa yang salah atan benar. Jangan terseret pada isi diskusi karena dalam hal ini tidak penting. Untuk membantu anak-anak mencapai ketegasan (assertiveness), perlu dibuatkan kerangka kerja dimana anak-anak merasa bebas untuk eksplor banyak hal, dan orangtua hanya mengawasi batas-batasnya. Berbeda dengan Reptilian brain yang sedang dalam sosisi bahaya dan membutuhkan teman, Paleo-limbic tidak membutuhkan kita sebagai teman, sehingga sedapat mungkin kita tidak berada dalam sosisi over-power. Harus bisa acting dalam posisi netral, menjaga jarak, menghargai untuk bisa meulai komunikasi tentant niai-nilai yang bague dalam limbic brain, dengan harapan bisa memicu prefrontal-brain untuk teraktifkan. Jangan lupa bahwa paleo-limbic sangat rigid (susah berubah), sehingga kesabaran sangat diperlukan. Berikan cukup waktu untuk beradaptasi dan jangan berharap dapat berubah dalam waktu yang pendek. Sabar. Tetap perlu diingatkan bila perilaku sudah diluar batas.
NBA428 Paleo-limbic Conclusion
 
Neo-limbic brain
Ini adalah struktur ketiga dari otak yang berfungsi untuk mengelola motivasi dan emosi terdalam. Setiap pengalaman hidup kita, hingga yang paling dalam, disimpan disini. Untuk memahami identitas diri sebenarnya, perlu menggali ingatan yang paling dalam ini. Dan yang lebih penting lagi adalah mampu membebaskan diri dari ekspektasi orang lain. Disini juga kita menentukan kesadaran diri (Consciousness). Bisa mengenali situasi, dimana kita seolah sudah mempunyai SOP, tentang bagaimana menghadapinya. Serasa autopilot. Disini tempat semua yang sudah dipelajari akan tersimpan, seperti misalnya bagaimana berjalan, mengemudi, berkomputer dll. Semua seperti instan, mengemudi sambil berkomunikasi, makan, dll. Disini akan ditemukan kontradiksi dan paradoks personality yang rumit.
Perlu disadari, apakah kita menjalani hidup ini atas dasar ekspektasi lingkungan sosial atau atas berdasar motivasi diri sendiri.
 
Primary Personalities
 
Karakter dari Primary Motivations ini adalah penuh energi yang memberi semangat dan motivasi berkelanjutan. Ini sudah tetap (fixed) pada saat awal kehidupan dan tidak akan berubah atau berkembang. Ini sebagian ditentukan oleh gen dan sebagian lainnya oleh lingkungan sosial awal. Primary Motivations atau Intrinsic motivations, ditentukan oleh fakta bahwa telah tertanam sekali, dan untuk selamanya di dalam inti personaliti primer (core of primary personalities). Terbaik yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi motivasi utama, menerimanya dan menghargainya karena merupakan representasi ideal cara hidup kita. Karakteristik kedua adalah motivasi-motivasi utama sebagai sumber energi (Gives us energy),  mereka seperti motor yang terus berjalan tanpa henti dengan emosi yang stabil. Karakteristik ketiga adalah mereka tidak membutuhkan imbalan dari luar berhubung memang tidak berharap hasil (no need for results). Hasil yang positif ataupun negatif, tidak mempengaruhi kesenangan individu. Misalnya, walaupun bersuara buruk tapi tetap menikmati bernyanyi, atau walaupun badan besar tapi tetap bisa menggemari menari. Kesenangan itu berada pada dirinya, bukan karena yang dipikirkan oleh pihak lain. Masih banyak orang yg belum menyadari kegemaran dirinya. Lalu, bagaimana mengidentifikasi Primary Motivations anda sendiri? Lihatlah apa yang anda lakukan dan apa yg anda sukai, apakah memberikan anda energi kegembiraan atau kebahagiaan?
Guidlines:
  • Apakah anda menikmati, bila sesuatunya mudah, atau lebih suka ada tantangan? (Easy or challenge)
  • Apakah lebih suka action atau reflection? (Action or reflection)
  • Apakah lebih suka bergaul dengan teman atau lebih suka sibuk sendiri? (Together or alone)
  • Merasa introvert atau extrovert?
Pilihan bisa keduanya cocok atau bergantung kondisi. Cobalah utk menggali lebih dalam, apa yang memotivasi anda. Apakah lebih suka sharing with others atau enjoying nature. Atau, kemenangan lebih membahagiakan, atau helping others lebih menarik? Ingat, ini bukan What you like, tapi what you enjoy. What give you choice and energy. Hal apa yang bisa menggerakkan dan membahagiakanmu di dalam sana? Apa yang bisa memberikan arti bagimu.
Impact of the reptilian strategies
Saat dilahirkan, kita memiliki 100 billion neuron, dan setiap neuron mempunya 100.000 koneksi. Tiga bulan berikutnya, hanya sisa 10.000 koneksi. Yang terjadi dalam bulan-bulan pertama tsb, sangat bergantung pada lingkungan dimana kita berada. Koneksi yang tidak aktif, akan mati, karena tidak dipergunakan. Ingat, bahwa saat kelahiran, reptilian brain sangat aktif, dan punya 3 strategi. Termasuk dalam situasi aman tanpa bahaya (standby mode), RB mempunyai 4 kondisi, dan bayi akan mengalami 1 dari 4 kondisi tsb. Idealnya, dalam perkembangannya, siapa kita, akan didasarkan pada satu kondisi tsb. Identitas diri didasarkan pada modus ‘fleeing’ yg menyukai pergerakan dan perubahan, dan akan berubah menjadi mode ‘fighting’ karena menikmati tantangan dan kemenangan, kemudian berubah menjadi mode ‘freezing’ karena menyukai perhatian dan berbagi (caring and sharing). Dan terakhir, mode ‘stand by’ karena menyukai kontemplasi dan berpikir (thinking). Setiap strategi (mode) ada dua modulasi, tergantung pada tingkat kesuksesan yang diperoleh dari strategi utama.  Apakah lebih mudah kontemplasi, atau lebih mudah lari, atau justru merasa perlu berlindung,  atau cukup dengan mengintimidasi atau malah harus bertarung ? Apakah lebih mudah mencari perlindungan atau harus membantu lainnya?
. . .
Tingkat risiko setiap pilihan strategi akan menentukan personality kita. Bila kemudahan adalah yang kita sukai, maka akan berkembang menjadi extrovert. Bila membutuhkan usaha lebih banyak untuk sukses,  akan menjadi introvert. Extrovertion akan mendatangkan kepuasan instan tanpa hambatan, sementara introversion akan lebih lambat merasakan kepuasan sebagai refleksi kedisiplinan dan keseriusan, perencanaan, ethic, efisiensi. Cara lain melihat hal ini adalah dengan membuat perbedaan antara individual dan personality sosial. Stand by tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Personality ini menyukai kesendirian. Fighting dan Freezing jelas membutuhkan kehadiran pihak lain, sebagai musuh ataupun pelindung. Penting untuk dipahami bahwa kita bisa mempunyai antara 2 dan 4 personality untuk menentukan siapa kita sebenarnya.
 
Secondary Personalities
Setelah 3 bulan, ketika primary personalities pada akhir pembentukannya, secondary personality mulai terbentuk melalui ingatan yg ‘dipaksakan’ sebagai ajaran positif. Perilaku dengan penyemangat “carrot” akan berdampak motivasi positif, sebaliknya perilaku dengan stimulus “stick” Akan berdampak pada motivasi negatif. Lingkungan biasa mengajarkan perilaku anak dengan “stick n carrot”, sebagai budaya ajaran yang menurun.
Secondary personalities dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya serta primary personalities yang sudah terbentuk sebelumnya. Keseimbangan antar kekuatan primary dan secondary personalities akan terbentuk. Seringkali lingkungan akan mengkoreksi sikap dan perilaku yg tidak layak. Menghardik anak yang selalu bergerak kesana kemari (fleeing) akan menyebabkan trauma dan menutup sumber motivasi dan kesenangannya serta tidak menggunakannya di kemudian hari. Sebaliknya, dengan memberikan hadiah (carrot) untuk tidak berlompatan, akan membuatnya senang dan tidak traumatik.
Karakter Secondary personalities ini adalah dapat berubah (Can change), perlu upaya keras (Cost us energy) dan membuthkan adanya hasil (Need for results).
Loss of motivation
Sering kita mendengar “aku gak tahu apa yang mesti kulakukan dlm hidup ini”. Seharusnya sudah jelas bahwa pilihan hidup mesti didasarkan pada primary personalities, bukan pada secondary personalities. Setidaknya, bila bisa nyaman menikmati apapun yang kita rencanakan, tanpa berrisiko demotivasi ketika mendapat hambatan. Jadi, contohnya, ketika memulai studi, apakah memilih berdasar kesukaan (passion) atau karena keinginan orangtua atau karena kemungkinan pendapatan yang akan dihasilkan dari pekerjaan nantinya? Ingat bahwa motivasi kenaikan gaji hanya akan bertahan 3 – 6 bln saja, tidak berkelanjutan. Oleh karenanya, untuk membuat pilihan-pilihan tsb, perlu benar menyadari primary personalities anda. Bisa jadi akan menemukan beberapa pilihan, atau mungkin justru masih belum bisa meyakini primary personalitiesnya. Berikut ini yang akan terjadi bila masih belum menemukan dasar motivasi. Ini merupakan indikasi bahwa secondary personalities telah menutupi primary personalitiesnya. Ini terjadi karena tidak meyakini bahwa sebenarnya sudah mempunyai primary personalities. Periode krusial ada pada usia 3-6 tahun. Bila pada tahun-tahun tsb primary personalities terrepresi, terabaikan atau terkerdilkan, maka akan bisa berakibat kelainan pathologis (pathological disorders), dimana kehilangan motivasi adalah akibat awal, yang dalam jangka panjang akan bisa bertendensi menjadi depresi. Anak-anak ekstrovert yang dimasukkan dalam sekolah yang sangat ketat, akan bisa menyebabkan hal seperti ini. Stress. Hal ini juga terjadi pada anak-anak introvert yang selalu disalahkan oleh orangtuanya karena merasa takut bersosialisasi. Bagus saja mendorong anak untuk bersosialisasi, asalkan dengan lembut dan tanpa menghakimi atau mengurangi nilai kecenderungan emosional mereka. Tapi, memilih diam pun, bukan suatu yg salah. Berbeda dengan primary personalities yang sudah fixed, masih ada cara untuk mensiasati dimensi negatif dari secondary personalities. Ini adalah proses identifikasi dan melepaskan langkah demi langkah.
 
NBA539 Neo-limbic Conlusion Motivation
 
Obsessions – How we spot them
Lapis ketiga diatas Primary dan Secondary Motivations, istilah teknisnya adalah Hyper investment, dan medisnya adalah Neurosis, yang biasa disebut Obsesi.. Jatuh cinta adalah contoh obsesi atau hyper investment. Bisa berada dalam situasi sangat tidak bersalah, atau memang betul invasif atau destruktif. Ini memberi rangsangan untuk perilaku addictive seperti workaholism, alcoholism, shopaholic, dll. Bahkan bisa mempengaruhi lainnya. Titik balik diatas primary motivations adalah dimana kesenangan (passion) kita berubah menjadi obsesi. Perlu perhatian. Bgmn mengenalinya? Ingat ketika merasa joy, satisfaction dan relief dgn primary dan secondary motivations. Disini tidak ada satisfaction,  selalu tidak cukup,  selalu ingin lebih walaupun kesuksesan sudah diraih. Bila seorang obsesif tidak mendptkan keinginannya, bisa tak terkendali dan akan terus mengganggu pikirannya. Ini kontras dengan primary motivations, yang bila tak bisa terpenuhi kesenangannya maka tak terlalu terganggu pikirannya. Selalu siap dengan yang terburuk. Karakteristik ketiga adalah besarnya energi untuk sebuah obsesi. Sangat melelahkan, setidaknya untuk orang lain. Obsesive person terlihat bertindak berlebihan, karena sikap invasif dan terus berulang sehingga menjadi membosankan, mengesalkan, dan melelahkan.
Causes and mechanism
Mengapa terjadi obsesi? Karena yang diinginkan tak bisa didapatkan, sehingga berusaha mengganti objek yg mirip dengannya namun tetap tak bisa menggantikannya karena hanya ‘mirip” dan bukan ‘sebenarnya’. Anak yang belum mature otak prefrontalnya, tidak mempunyai alat utk menangani masalah kekecewaan tsb. Sehingga otak neo-limbicnya akan ‘mengeras’ atau terpateri dengan kekecewaan tsb. Bahkan bisa terjadi menyimpannya di tempat yg paling dalam, diluar kesadaran. Ini yg disebut small social trauma, dan akan menyebabkan perilaku yang berubah, yang seharusnya dihindari dengan segala daya. Setelah 17 tahun, tidak ada perubahan perilaku karena pre-frontal mulai aktif dan mampu mengatasi persoalan-persoalan tsb.
Seorang anak yang merasa dipermalukan orang tuanya karena mendapatkan nilai buruk, akan terbentuk rasa tidak percaya pada orang lain (merasa dikhianati org tuanya) dan mengganti sikapnya menjadi perfectionism. Substitusi dari tindak obsesif bisa perfectionism, atau menjadi lucu, atau hal lainnya, yang tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah bila object obsesi terus bergerak atau berubah. Kompensasi akan terus berulang dilakukan.
Belajar NBA bisa jadi untuk alasan memenuhi obsesi pengetahuan, sains, atau pertumbuhan personal. Bila selalu melakukan lompatan teori tanpa merasa puas, selalu mencari yang lain,  cobalah bertanya, bagian mana yang ‘menutupi’ dirimu sehingga harus melakukan kompensasi?
NBA650 Conclusion to the Obsession
 
 
Prefrontal brain
Struktur otak ke-4 adalah Prefrontal brain, hasil proses evolusi yang menakjubkan. Ini yang membuat manusia menjadi unik, karena tidak ada mahluk hidup lain yang mempunyainya. Tiga struktur otak lainnya, bisa dipunyai oleh mahluk hidup lain. Reptilian dan paleo-limbic adalah dasar yang menempatkan manuaia tidak memounyai hubungan lagi dengan kemampuan berpikir logis. Di sisi lain, dalam Neo-limbic terletak esensi siapa kita sebenarnya, dengan ingatan dan motivasi. Namun, tetap masih belum menunjukkan bhw kita manusia. Siapapun yang mempunyai anjing atau kucing, bisa menunjukkan bhw mereka punya karakter masing-masing, seperti suka, tidak suka dan motivasi. Prefrontal yg membedakan bahwa kita manusia, meskipun ada mamalia yang juga mempunyainya. Lumba2, gajah, anjing, dan kera-kera besar. Ukuran otak prefrontal mereka adalah normal saja, tidak seperti milik manusia yang sangat besar volumenya. Disinilah bedanya. Prefrontal brain seperti super-komputer yang mampu mengambil keputusan tanpa kesadaran, dari input yg bermacam-macam, kemudian mengkombinasikannya secara inovatif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, prefrontal brain adalah alat utama yang adaptif dan kreatif dan sesuai untuk situasi yang sebekumnya tidak diketahui dan rumit.
Seperti diketahui bahwa neo-limbic bekerja secara autopilot dalam menghadapi dunia ini, untuk perilaku kecil yang rutin sehingga bisa efektif dalam kehidupan sehari-hari. Prefrontal brain digunakan untuk menghadapi masalah dan situasi yang baru dan rumit. Kita selalu resisten terhadap perubahan, karena sebenarnya kedua otak limbic keberatan untuk melakukan kontrol dan melimpahkannya ke prefrontal. Cobalah minta kolega anda untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Mempertanyakan dan menolak permintaan tsb adalah indikasi otak limbik mereka untuk minta lebih banyak info. Aksi ini adalah indikasi aktifitas prefrontal. Pastikan bahwa ini bukan karakter animator yang memang suka perubahan.
Bila limbic brains resistan dalam menghadapi situasi rumit, maka akan kembali ke reptilian brain untuk melakukan respon. Disinilah prefrontal berperan untuk mengolahnya setelah reptilian brain mengirimkan signal. Bisa dikatakan bahwa stress adalah signal dalam otak untuk berpindah peran dari reptilian ke prefrontal. Sehingga tidak ada lagi stress dan akan dirasakan kedamaian dan ketenangan, dalam kendali penuh atas mental kita. Emosi akan terbuka pada dunia dan mulai ingin tahu terhadap hal-hal baru, kreatif dan intuitif. Artinya, kita telah menggunakan otak kita secara optimal.
Menggunakan prefrontal brain bukan berarti menyetujui semua pendapat, namun setidaknya telah mendengar opini lainnya sebelum tentukan keputusan. Artinya, tidak perlu memaksakan diri untuk memenangkan opini. Namun juga tidak perlu harus mengalah bila memang harus mengatakan ‘tidak’. Intinya adalah harus terbuka dan bersikap dewasa.
Ketika lahir, prefrontal brain belum matang dan terus berkembang hingga tingkat kematangan mencapai usia 24 thn, dimana diharapkan sudah mampu mengkontrol emosi. Maka janganlah kaget bila remaja sering bersikap berlebihan (over-reacting) karena prefrontal brain yang mengkontrol emosi memang belum matang. Jadi sangatlah tidak tepat bila menuntut anak-anak atau remaja untuk bersikap seperti orang dewasa. Mereka bukanlah miniatur orang dewasa. Otaknya belum berkembang sepenuhnya. Biarkanlah mereka berperilaku seperti apa adanya anak-anak. Adalah tidak adil bagi mereka dan kita, bila mengharapkan mereka menjadi orabg dewasa, karena kemampuan berperilaku dewasa bukanlah dalam kontrol orang dewasa atau mereka sendiri.
 …
Bgmn mengarahkan orang untuk menggunakan prefrontal brain? Disinilah maksud kursus ini, yaitu berharap seseorang mampu meninggalkan reptilian brain dan limbic brain untuk pindah ke prefrontal brain. Cobalah selalu membuat pertanyaan terbuka terhadapnya, supaya mereka mampu berpikir tentang diri mereka sendiri, dan juga mampu melihat perbedaan situasi sehingga bisa berubah dari yang kondisi rutin ke pemikiran kritis.
. . .
NBA757 Conclusion to the prefrontal brain
 
Final conclusions
Dengan reptilian brain bisa mengetahui bagaimana mengkontrol diri bila menghadapi stress. Dengan paleo-limbic, bisa mengetahui posisi fundamental kita dalam group, dengan menggunakan sumbu Trust vs Self-Confidence. Dengan neo-limbic, kita mengetahui tentang Intrinsik dan Ekstrinsik Motivasi, begitu juga dengan Obsesi. Kita juga belajar bagaimana menghubungkan dengan motivasi jangka panjang berkelanjutan dan menyingkirkan perilaku dangkal. Kita bahkan sudah belajar memasuki lubang terdalam untuk mencari trauma dan berdamai dengannya. Prefrontal brain, membawa kita ke kesuksesan adaptasi dan perubahan. Bila suatu hal tidak berjalan sesuai ekspektasi, bisa belajar melihatnya dengan parameter situasi lain berdasar struktur otak yang aktif. Ini memberikan kita semua bekal untuk berhadapan dengan yang lain dan mampu mengambil keputusan sendiri. Ini adalah inti dari semua, the new cognitive and behavioral approach, yang memberi pengetahuan dan penjelasan mengapa kita berperilaku begini, sehingga setiap pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasar pilihan sadar dan hidup kita bukan lagi dikontrol oleh ketidak-sadaran, atau hanya warisan pendidikan atau lingkungan sosial semata. Atau dengan kata lain, kita sendiri adalah satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dan punya kekuatan terhadap hidup kita sendiri. Jadi, gunakanlah pengetahuan ini secara bijaksana untuk menghubungkan kembali dengan primary motivations, dalam berhadapan dengan mekanisme kompensasi anda. Hilangkan intolerance, berhentilah hidup berdasar keinginan pihak lain, dan mulailah hidup yang nyaman.
Temukanlah siapa anda sebenarnya, dibawah lapisan-lapisan ekspektasi sosial, kemudian fahamilah dan terimalah dengan rasa hormat dan jalani hidup anda, serta mulailah bersosialisasi. Tetap berperilaku sesuai siapa anda sebenarnya dan temukanlah orang-orang yang mencintai dan menghormati anda seperti apa adanya.
This is what you are meant to be. Become the best version of your self. 
IMG_20200515_182454_223
 
 
 

Read Full Post »

BrainDalam artikelnya di Forbes 28 Desember 2015 yang berjudul “Trump explained by Neuroscience”, Roger Dooley berpendapat bahwa “what people say they believe doesn’t always reflect their non-conscious beliefs“. Implicit association test (IAT) telah membuktikannya melalui survey yang dilakukan Washington Post/ABC News tentang isu hangat yang dilontarkan oleh Trump, yaitu ‘larangan imigrasi Muslim’. Hasil survey menunjukkan 60% sampel berpendapat bahwa melarang imigrasi Muslim adalah tidak bijaksana, demikian juga dengan 82% pendukung Demokrat. Bahkan 54% berpendapat bahwa Islam adalah agama damai. Namun, IAT menunjukkan hal sebaliknya, bahwa 53% masyarakat AS, sebagai sampel pengujian, secara bawah-sadar lebih menyukai pelarangan imigrasi Muslim.
Artikel di harian Inggris, Independent 5 Juni 2016, yang berjudul “Donald Trump: Is this why the controversial Republican candidate keeps winning?”, Max Ehrenfreund menulis tentang rhetorika Trump yang membangkitkan rasa ketakutan bawah sadar masyarakat AS akan kematian, karena ancaman terorisme dan serbuan imigrasi, berhasil menaikkan dukungan sebesar 1,66 poin (skala 5).
Sehubungan dengan artikel-artikel sejenis diatas dan isu-isu Neurosciences atau Neuromarketing yang sedang hangat di AS, khususnya sejak Trump menggunakan Social Neurosciences untuk membantu pemenangan pilpres disana, buku The Brain That Changes Itself  karya Norman Doidge M.D., yang diterbitkan oleh Penguin 2007, menjadi pilihan acuan untuk memuaskan keingintahuan.
Dalam Kata Pengantar, Doidge menuturkan bahwa buku ini menjelaskan tentang penemuan revolusioner atas kemampuan Otak untuk mengubah dirinya sendiri, sehingga tidak tetap (fixed) seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Saat itu mainstream neurosains berpendapat bahwa kerusakan atau cacat otak sejak bayi, tak akan tersembuhkan selama hidupnya. Keyakinan tersebut didasarkan atas 3 hal, yaitu bahwa: jarang terjadi kesembuhan 100% dari kerusakan otak, ketidak-mampuan meneliti aktifitas mikroskopis kehidupan otak, dan kepercayaan bahwa otak ibarat mesin yang tak pernah tumbuh atau mampu memperbaiki dirinya sendiri. Seringkali otak juga dianggap sama dengan komputer, yang kapasitas hardwarenya tidak berkembang dengan sendirinya, sehingga muncul istilah hardwire dengan konstruksi koneksitas dan fungsi otak yang tak berubah.
Akhir 1960an, Doidge sebagai psikiatris dan psikoanalis mulai berhubungan dengan para ahli neurosains yang sedang hangat mendiskusikan tentang neuroplasticity.
association_cortexBuku yang sebetulnya membahas tentang hal yang sangat rumit, namun Doidge mampu menyajikannya dengan sangat nyaman, bahkan untuk pembaca yang sangat awam tentang Otak. Lembar-demi lembar membacanya, semakin menarik untuk tahu lebih banyak tentangnya. Berbagai kasus yang berhubungan dengan fungsi otak, Doidge menyajikannya dalam 11 bab dan 2 Lampiran, lengkap dengan Catatan dan References di bagian akhir bukunya.
Bab 1. A Woman Perpetually Falling…
Rescued by the Man Who Discovered the Plasticity of Our Senses
Kasus seorang perempuan yang tak mampu berdiri tenang karena terganggu otak keseimbangannya sehingga merasakan dunia yang seolah berputar, dan bagaimana mengatasinya, menjadi contoh pertama kasus neuroplastisitas yang disajikan Doidge.
Cheryl Schiltz, perempuan yang mengalami gangguan vestibular apparatus, sensor keseimbangn tubuh. Rasa akan jatuh selalu dirasakannya, bahkan ketika tubuh sudah terbaring di lantai. Posisi tubuhnya selalu dalam keadaan berjaga-jaga dengan kaki merenggang dan tangan terentang mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Menderita. Gangguan psikologis yang sering menyebabkan penderita ingin bunuh diri. Keseimbangan tubuh adalah kemampuan yang sangat penting dalam hidup kita, namun tak sepenuhnya kita sadari, bahkan tidak masuk dalam kelompok pancaindera, hingga kemampuan itu terganggu.
Menurut Cheryl, dirinya pernah mengkonsumsi obat antiabiotik Gentamicin melebihi dosis yang dibutuhkan. Efek samping samping Obat ini, dapat menyebabkan masalah ginjal dan kerusakan saraf serius, berakhir dengan tuli permanen dan masalah keseimbangan.
Paul Bach-y-Rita banyak disebut dalam bab ini karena keahliannya tentang neuroplastisitas, yang mampu mensiasati gangguan vestibular aparatus Cheryl Schiltz hingga mampu berdiri tegak kembali dengan mantab, tanpa merasa khawatir akan jatuh. Konsep neuroplastisitas yang dipergunakan Paul Bach-y-Rita adalah bahwa fungsi neuron yang rusak/terganggu, dapat diambil atau digantikan oleh neuron lainnya. “one function, NOT one location”.
Bab 2. Building Herself a Better Brain
A Woman Labeled “Retarded” Discovers How to Heal Herself
Barbara Arrowsmith Young, lahir di Toronto, Canada 1951, mempunyai kemampuan memori audio dan visualnya sangat bagus, frontal lobe berkembang bagus. Namun otaknya “asimetris”, yang berarti bahwa kemampuan yang luarbiasa tersebut berdampingan dengan area keterbelakangan. Barbara mengalami kesulitan logika sebab-akibat, merangkai kata, lamban berpikir real-time, kontrol spasial dan sulit berbicara (Broca area).
Broca areaHasil penelitian Mark Rosenzweig dari Universitas Californi, Berkeley terhadap perbedaan antara tikus yang dilatih dan yang tidak terlatih, menunjukkan bahwa tikus terlatih akan mempunyai neurotransmitters lebih banyak, lebih berat dan mempunyai pasokan darah ke otak lebih baik. Mark dianggap sebagai ilmuwan pertama yang menunjukkan kenyataan neuroplastisitas dengan bukti bahwa, dengan beraktifitas, dapat menghasilkan perubahan struktur otak.
Mengetahui hasil penelitian Rosenzweig tersebut, Barbara giat berlatih sendiri untuk memperbaiki otaknya. Dan memang Barbara berhasil memperbaiki logika, dan dapat berkomunikas real-time tanpa kesulitan. Sukses.
3. Redesigning the Brain
A Scientist Changes Brains to Sharpen Perception and Memory, Increase Speed of Thought, and Heal Learning Problems
Pada bab ini Penulis menjelaskan tentang adanya ilmuwan neurosains yang berhasil melakukan therapi syaraf untuk mempertajam ingatan dan persepsi, juga meningkatkan kecepatan berpikir dan mengatasi masalah kesulitan belajar.
Michael Merzenich, 61 tahun, peneliti neuroplatisitas ternama, mempunyai keahlian meningkatkan kesadaran dan kemampuan berpikir seseorang dengan cara melatih otak dibagian tertentu, atau brain maps. Melalui penelitiannya, dia meyakini bahwa otak manusia mampu mengubah sendiri stuktur dan fungsinya (neueoplastisitas). Berbasis konsep neuroplatisitas inilah Merzenich berhasil membantu anak-anak berkesulitan belajar, hingga mampu meningkatkan aspek kognitif dan perseptifnya. Menurutnya, dengan melatih keahlian baru secara disiplin dan sangat terkontrol, akan dapat mengubah ratusan juta, bahkan milyaran koneksi antar sel-sel syaraf dalam jaringan otak (brain maps). Beberapa kasus, seseorang yang menderita kesulitan kognitif selama hidupnya, mampu menjadi lebih baik setelah mendapat therapi selama 30 hingga 60 jam saja. Program therapi tersebut juga mampu membantu anak-anak autis. Namun demikian, perubahan itu akan semakin sulit bila pelatihan dilakukan dimasa tua, karena sudah melewati critical period.
Critical period adalah konsep tentang rentang waktu kemampuan otak untuk tetap mampu mengubah struktur dan fungsi dirinya, yaitu pada masa anak-anak, semakin tua maka semakin rendah plastisitas otak. Kemampuan berbahasa mempunyai critical period yang dimulai saat masih kanak-kanak dan akan berhenti antara usia 8 tahun hingga saat pubertas. Setelah lewat masa critical period, kemampuan seseorang untuk belajar bahasa kedua, yang tidak diolah di bagian otak yang sama seperti halnya bahasa ibu, semakin terbatas. Namun demikian, justru menjadi lebih baik bagi usia dewasa untuk mulai belajar bahasa kedua untuk meningkatkan kemampuan ingatan, karena dituntut lebih fokus sehingga melatih plastisitas otak yang sudah mulai menurun.
4. Acquiring Tastes and Loves
What Neuroplasticity Teaches Us
Pada bab ini Doidge banyak mengacu pada pendapat Sigmund Freud tentang perkembangan psikologi anak yang berhubungan dengan aspek seksual.
Menurut Freud, “The sexual instincts are noticeable to us for their plasticity, their capacity for altering their aims”. Ini merupakan salah satu kontribusi penting Freud dalam pemahaman ilmu syaraf otak, yaitu tentang adanya masa critical periods untuk plastisitas seksual.
Menurut Freud, pelecehan seksual terhadap anak-anak akan sangat membekas atau traumatik, mengingat berada pada masa critical period, yang akan mempengaruhi sikap, pandangan bahkan orientasi seksual anak di kemudian hari. Sebuah badan penelitian di AS mengkonfirmasi pendapat Freud bahwa bila relasi sosial masa kecil seseorang mengalami masalah, akan “mengendap” dalam otak anak-anak tersebut dan berdampak pada masa dewasanya. Banyak Embryologist berpendapat bahwa perkembangan sistem syaraf otak dimulai sejak masa embrio, sehingga bila terjadi gangguan pada masa tersebut, akan sangat berdampak pada sisa kehidupannya. Dapat disimpulkan bahwa pendapat Freud tentang perkembangan seksual pada masa pertumbuhan awal manusia, sesuai dengan konsep critical periods, dimana pada rentang waktu tertentu di masa kecil, perkembangan sistem dan peta otak baru banyak dipengaruhi stimulasi oleh orang-orang disekitarnya.
5. Midnight Resurrections
Stroke Victims Learn to Move and Speak Again
Bab ini bercerita tentang penelitian Edward Taub terhadap penderita stroke yang bisa disembuhkan, karena prinsip neuroplastisitas, “use it or lose it”. Therapi yang disiplin, sabar dan menerus ternyata mampu menyembuhkan. Edward Taub, mahasiswa Kedokteran di Universitas New York, berhasil memperoleh Ph.D nya melalui penelitian terhadap penyembuhan kera yang lumpuh salah satu lengannya melalui therapi neurosains. Proses penyembuhan dari penelitian Taub ini membuktikan bahwa neuroplastisitas mampu digunakan untuk therapi penyembuhan penderita stroke.
Stroke adalah serangan keras mendadak terhadap otak, dari dalam, akibat penyumbatan pembuluh darah arteri sehingga memutus pasokan oksigen ke otak. Stroke menjadi penyebab utama disability kaum dewasa saat ini. Dokter ahli di Ruang Tanggap Darurat mungkin saja masih mampu untuk mencegah akibat stroke lebih lanjut pada pasien stroke, dengan cara membuka penyumbatan pembuluh darah atau menghentikan pendarahan otak, namun bila kerusakan telah mulai terjadi, bahkan pengobatan pun akan sedikit membantu untuk dapat menyembuhkan seketika. Pada beberapa penderita stroke, mereka mampu sembuh dengan berlatih sendiri, namun begitu mereka berhenti, maka bahkan therapi tradisional pun akan susah membantunya.
Bab 6 Brain Lock Unlocked
Using Plasticity to Stop Worries, Obsessions, Compulsions, and Bad Habits.
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. OCD ini termasuk gangguan psikis yang paling sering dialami seseorang selain phobias, post-traumatic stress disorders, dan panic attacks. Kekhawatiran akut sering dirasakan penderita OCD, seperti khawatir akan sakit, anak akan celaka, pintu belum terkunci, membunuh anak tanpa sengaja, merasa tidak nyaman karena lukisan yang tergantung miring, dsb.  Semakin penderita OCD memikirkan kekhawatirannya, maka semakin terbenam dia terhadap ketakutannya, dan sulit melepaskannya.
Gangguan OCD sulit disembuhkan. Medikasi dan therapi perilaku (behaviour therapy) hanya mampu mengurangi penderitaan, tidak menyembuhkan. Jeffrey M. Schwartz telah mengembangkan penanganan yang efektif berbasis neuroplastisitas, yang mampu membantu tidak hanya untuk penderita OCD, namun juga untuk kita semua yang selalu merasa khawatir terhadap banyak hal yang tak nyata setiap harinya.
Pada bab ini Jeffrey M. Schwartz, dalam bahasa awam, sangat bagus menjelaskan tentang penyebab,  proses dan adanya tiga bagian otak yang hiperaktif (orbital frontal cortex, cingulate gyrus, caudate nucleus), sehingga menyebabkan terjadinya gangguan OCD, serta bagaimana mengatasinya.
Pada umumnya, ada tiga hal yang terjadi bila kita membuat kesalahan, yaitu perasaan bersalah, bingung dan bermaksud memperbaikinya, kemudian berhasil memperbaiki, perasaan lega, selesai dan lanjut dengan aktifitas berikutnya (move on). Pada penderita OCD, perasaan bersalah dan kebingungan terus berlanjut tanpa bisa move on, walaupun telah sukses memperbaiki kesalahan. Gejala ini yang disebut Schwartz sebagai OCD Brain Lock, karena ada bagian otak yang hiperaktif dan tetap on (locked). Contoh, kekhawatiran menerus karena perasaan bersalah belum mematikan kompor di rumah, walaupun kemudian sudah mematikannya. Penyebab OCD Brain Lock bisa banyak hal, salah satunya genetis. Namun bisa juga disebabkan karena infeksi pada caudate nucleus. Pelatihan atau therapi dapat menyembuhkannya.
Schwartz mendidik para pasiennya untuk dapat membedakan antara Bentuk umum OCD, yaitu Khawatir, yang terus mendesak masuk dalam pikiran sadarnya, dan Isi dari obsesinya (khawatir racun, penyakit, matikan kompor, dsb.). Semakin penderita fokus pada Isi, maka kondisi OCD akan semakin buruk. Perlu ada pendamping untuk selalu mengingatkan supaya fokus pada aktifitas positif yang menyenangkan dan tidak larut dalam Isi (content) OCD. Tidak mudah, namun terbukti memang bisa disembuhkan. Use it or lose it.
Bab 7 Pain
Rasa sakit, senang, nyeri bahkan orgasme semua ada di otak. Ini dibuktikan dengan banyaknya laporan medis yang mengatakan adanya keluhan rasa sakit di bagian badan yang sebetulnya sudah diamputasi karena suatu hal, “Phantom Limbs”. Ramachandran, Neurologist, menggunakan konsep ‘plastisitas otak’ untuk mengatur ulang pemikiran kita. Dia menunjukkan bahwa kita mampu mengatur ulang ‘isi’ otak kita melalui pelatihan yang benar, tanpa rasa sakit dengan menggunakan imajinasi dan persepsi.
Pada umumnya, setelah signal rasa sakit dikirim ke otak dari lokasi cedera/penyakit pada tubuh, maka kemudian terasalah sakit itu di tempat cedera. Namun, bisa terjadi, cedera merusak jaringan tubuh dan juga syaraf di sistem perasa otak yang menyebabkan “neuropathic pain”. Ketika peta perasa sakit di otak, rusak/terganggu atau terinvasi hingga signal rasa sakit terus “berbunyi”, menyebabkan kita merasa cedera itu masih terus ada, sedangkan sebetulnya masalah terjadi di otak. Inilah yang terjadi dengan “phantom limbs”, luka di ujung jari seolah masih terjadi walaupun lengan tangan sudah teramputasi. Phantom limbs akut hingga menjadi “phantom pain”, dirasakan oleh 95% dari total pasien amputasi, dan ini mengkonfirmasi adanya korelasi pengubahan jumlah plastisitas otak dengan pengalaman penderita “phantom pain”.
Ramachandran berpendapat bahwa terjadinya gangguan/invasi peta rasa sakit disebabkan adanya perkembangan koneksi jaringan baru. Bila terjadi hilangnya anggota badan, ia meyakini bahwa peta otak kekurangan pasokan stimulasi, yang selanjutnya melepaskan penyebab pertumbuhan syaraf, sehingga berdampak pada hadirnya neuron dari peta-peta terdekatnya, dan memancarkan signal ke dalamnya. Selain itu, peta rasa tidak hanya mengkerut, namun juga terjadi kekacauan fungsi atau bahkan bisa tidak berfungsi.
Bab 8 Imagination
Di Laboratorium stimulasi magnetik otak, Boston, pernah dilskuksn percobaan untuk membuktikan bahwa antomi otak bisa diubah, dengan melakuksn pelatihan imaginasi. Sepersngkat alat kecil diletakkan di sebelah kiri kepala Doidge. Alat tersebut memancarkan transcranial magnetic stimulation (TMS) dan akan mempengaruhi  perilaku. Di dalam alat tersebut terdapat kumparan kabel tembaga yang akan menghasilkan medan magnet, ketika arus listrik dialirkan, dan gelombang elektromagnet mengalir menembus jaringan otak melalui axon (sejenis kabel syaraf) hingga mencapai jaringan respon motor tangan di lapisan terluar cerebral cortex. Setiap kali medan magnet dipancarkan oleh alat tersebut, maka empat jari ntangan kanan akan bergerak, karena stimulasi dilakukan terhadap 0.5 cm kubik pada bagian otak yang berisi jutaan sel, jaringan respon motor tangan. Untuk kebutuhan permanen, elektrode kecil bisa ditempatkan dalam jaringan otak melalui pembedahan tengkorak untuk menstimulasi motor atau sensor cortex.
Catatan:
An axon or nerve fiber, is a long, slender projection of a nerve cell, or neuron, that typically conducts electrical impulses known as action potentials, away from the nerve cell body. The function of the axon is to transmit information to different neurons, muscles, and glands.
Pascual-Leone adalah yang pertama menggunakan TMS untuk memetakan bagian-bagian respon otak, bisa untuk menghidupkan area otak, atau bahkan menutupnya, bergantung besarnya intensitas atau frekuensi yang dipergunakan. Untuk memastikan fungsi spesifik sebagian area otak, TMS dipergunakan untuk mematikan sementara area otak tersebut dan pengamatan dilakukan untuk mengetahui fungsi mental yang tidak bekerja. Dia juga melakukan pengamatan terhadap difabel buta yang mempelajari huruf Braille. Hasil TMS dalam pemetaan otak menunjukkan bahwa peta area jari-jari yang dipergunakan untuk membaca huruf Braille, lebih luas daripada peta area jari-jari lainnya, bahkan peta area motor juga meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kecepatan membaca jumlah kata per satuan waktu. Peningkatan ini mengkonfirmasi bahwa pelatihan hal baru, akan meningkatkan plastisitas otak (neuroplasticity).
Pascual-Leone juga melakukan percobaan untuk mengamati pelatihan imajinasi hingga mampu mengubah struktur dan fungsi otak. Dua group pelatihan bermain organ terdiri dari satu group “mental practice”, hanya melakukan stimulasi gerak tanpa keyboard, dan group “physical practice” yang menggunakan keyboard sebenarnya. Masing-masing mendapatkan waktu pelatihan yang sama, 5 hari dan pemetaan otak dilakukan sebelum dan setelah pelatihan setiap harinya. Hasil setelah 5 hari menunjukkan keduanya mengalami perubahan yang sama pada peta otak dan signal motor ke otot-otot. Tingkat akurasi dua group tersebut juga sama, pada hari ketiga. Namun, perubahan setelah hari ke-5 menunjukkan bahwa kemajuan mental practice tidak sebagus physical practice. Ketika mental practice mendapatkan 2 jam tambahan waktu berlatih, menunjukkan hasil yang sama dengan physical practice saat berlatih 5 hari. Ini bisa disimpulkan bahwa mental practice merupakan cara efektif untuk nerlatih keahlian fisik.
Anatoly Sharansky, aktifis HAM Uni Soviet, dipenjara selama 9 tahun dengan tuduhan sebagai mata-mata AS. Untuk menjaga kemampuan berpikir, dia berlatih catur dalam bayangan (tanpa papan catur), “mental chess”. Setelah bebas, Sharansky menjadi menteri di kabinet Israel dan ketika Garry Kasparov bermain catur melawan Perdana Menteri dan menteri-enteri kabinetnya, hanya Sharansky yang tak terkalahkan.
Rüdiger Gamm, Pemuda Jerman yang dikenal sebagai manusia kalkulator karena kemampuan menghitung cepat. Sejak usia 24 tahun dia berlatih komputasi empat jam per hari hingga mampu menghitung cepat perkalian yang rumit. Dan menjadi kaya karenanya dengan seringnya tampil di televisi. Anders Ericsson, psikolog yang ahli dalam bidang pengembangan keahlian, berpendapat bahwa manusia sejenis Gamm, menggunakan memori jangka-panjang untuk menyelesaikan masalah matematik, sementara manusia pada umumnya menggunakan memori jangka pendek. Seorang genius tidak menyimpan jawaban dalam otaknya, namun menyimpan “kunci” atau strategi untuk membantu menjawabnya.
9. Turning Our Ghosts into Ancestors
Psychoanalysis as a Neuroplastic Therapy
psychoanalysisBab ini menarik untuk dipelajari karena contoh kasus yang berhubungan dengan peristiwa menyedihkan di masa kecil, yang tersimpan dalam ingatan “bawah sadar”, hingga berdampak pada perilaku masa tuanya. Tidak banyak psikiatris pada masa awal 1990an, yang berpendapat adanya plastisitas otak, bahkan umumnya beranggapan bahwa dalam usia menjelang 60 tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki gangguan psikis seseorang yang sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Psikoanalisa yang dilakukan Sigmund Freud membuktikan hal sebaliknya, justru sesuai dengan prinsip Plastisitas.
Tahun 1895 Freud menyelesaikan penelitian “Project for a Scientific Psychology”, yang hingga kini masih banyak dikagumi  oleh para ahli psikologi, yaitu salah satu model neurosains yang komprehensif untuk mengintegrasikan antara otak dan pikiran. Freud menjelaskan tentang synapse yang bisa berubah karena proses pembelajaran. Dia juga mulai memperkenalkan tentang ide-ide neuroplastisitas.
10. Rejuvenation
The Discovery of the Neuronal Stem Cell and Lessons for Preserving Our Brains
Bagian ini tentang usaha keras seorang Dr. Stanley Karansky, yang berusia 90 tahun dan pernah mangalami operasi jantung, dalam melatih plastisitas otak untuk menghindari penurunan kognitif/memory  menggunakan uji pendengaran melalui aplikasi komputer, juga berbagai aktifitas seperti diskusi atau travelling, dan menghindari hal-hal detail yang rumit. Aktifitas fisik, selain untuk membentuk neuron baru, juga untuk merawat kesehatan otak dengan memenuhi pasokan oksigen. Menurutnya, dia tidak sepenuhnya termasuk orang yang optimis, namun menyadari sepenuhnya bahwa banyak hal bisa terjadi dan diluar kontrol dirinya. Yang bisa dipelajari dan dilakukannya adalah merespon kondisi yang ada, untuk itu diperlukan banyak pelatihan. Setelah 7 minggu pelatihan, ia merasakan lebih responsif, aktif dan cekatan. Dengan berbagai bukti penelitian yang ditulis pada bab ini, pertumbuhan sel syaraf adalah nyata.
11. More than the Sum of Her Parts
A Woman Shows Us How Radically Plastic the Brain Can Be
Bab ini tentang perjuangan hidup seorang perempuan 29 tahun, Michelle, dengan otak kiri yang tidak berkembang sejak masih berada dalam rahim ibunya. Dia mampu berbicara normal dan bekerja paruh waktu karena peran normal otak kiri telah diambil alih oleh otak kanannya. Terbukti doktrin Localizationism, yang meyakini bahwa setiap titik dalam otak punya peran tetap dan tak tergantikan, adalah salah. Neuroplasticisity adalah benar adanya. Kekurangan yang dialami adalah mudah tersesat dan kesulitan memahami hal-hal abstrak, namun mempunyai kemampuan luar biasa dalam hal ingatan dan perhitungan matematis. Normal dalam merasakan cinta, doa, bicara, membaca juga mampu memahami berita. Mengingat aktifitas motorik tubuh bagian kanan, banyak dikontrol oleh otak kiri, dan Michelle bermasalah dengan otak kiri, maka sering kesulitan melihat obyek di sebelah kanannya. Hukum plastisitas, yang mampu mengatur/memperbaiki fungsi otak dengan sendirinya, berlaku dalam dirinya, hingga dia mempunyai pendengaran yang sensitif dan sangat tajam.
Appendix 1 The Culturally Modified Brain
Not Only Does the Brain Shape Culture, Culture Shapes the Brain
Penelitian neuroplastisitas menunjukkan bahwa setiap aktifitas yang telah dipetakan dalam otak, seperti aktifitas fisik, aktifitas sensorik, pembelajaran, berpikir dan berimajinasi, akan mengubah struktur dan fungsi otak. Termasuk juga di dalamnya adalah aktifitas kebudayaan, seperti membaca, berkesenian, berbahasa, dll. Maka muncul istilah The Culturally Modified Brain, dimana hubungan antara otak dan kultur adalah timbal-balik, yaitu sejauh terjadi tindak atau rangsangan kultural, maka akan terjadi juga respon atau perubahan struktural otak. Sebaliknya, akibat kerja otak, maka terjadilah perubahan kultur.
Cultural Activities Change Brain Structure
Foto otak musikus menunjukkan bahwa mereka mempunyai beberapa area pada otak (motor cortex dan cerebellum) yang berbeda dengan otak nonmusicians. Semakin sering seorang musikus berlatih, semakin besar peta otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan respon berkesenian.
Are Our Brains Stuck in the Pleistocene Age?
Dalam kaitan dengan kehidupan sosial, pertanyaan dalam bab ini menjadi menarik, mengingat masih adanya pemikiran dalam dunia pengobatan dan sains, bahwa anatomi otak adalah tetap, tidak berubah terhadap waktu (fixed). Teori bahwa otak tidak berubah ini berujung pada pendapat bahwa bila otak atau mental sudah bermasalah/terganggu pada saat masih bayi, maka akan tetap demikian selama hidupnya. Stigmatisasi sosial terhadap retardasi mental akan terjadi, bahkan sejak seseorang masih bayi.
Para pemburu-pengumpul sejak zaman Pleistocen mempunya struktur dan fungsi otak yang plastis, terus berubah fisik dan fungsinya. Dinamis menjawab rangsangan lingkungannya, tidak tetap atau diam (fixed). Setiap saat kita belajar hal baru atau mengembangkan kemampuan yang ada, termasuk berkembangnya kebudayaan modern yang semakin menuntut kemampuan spesialisasi, maka berubah pulalah struktur dan fungsi otak kita. Bila kultur tercipta karena kerja otak, maka demikian pula sebaliknya, kultur akan mengubah struktur dan fungsi jaringan otak.
Why Human Beings Became the Preeminent Bearers of Culture
Ahli neurosains, Robert Sapolsky berpendapat bahwa antara manusia dan simpanze hanya dibedakan sedikit varian genetis, atau mempunyai kesamaan DNA hingga 98%. Perbedaan ada pada kemampuan gen manusia yang mampu membentuk neuron jauh lebih banyak, 100 milyaran neuron, daripada simpanze. Hal ini yang menyebabkan ukuran otak simpanze hanya 1/3 volume otak manusia. Seperti halnya otak manusia, otak simpanzee pun juga bersifat plastis, namun jumlah neuron yang jauh lebih banyak pada otak manusia, menyebabkan jumlah jaringan koneksitas neuron otak manusia justru semakin jauh lebih banyak, berbeda secara exponensial dengan jumlah jaringan pada otak simpanze. Setiap neuron bisa berkoneksi dengan ribuan neuron lainnya.
Cortex manusia mempunyai 30 milyar neuron, dan ini bisa membentuk 1 juta milyar koneksi synaptic (lihat video Transmission across a synapse). Jaringan koneksi yang sedemikian luas itulah yang menyebabkan otak manusia mempunyai julukan sebagai benda hidup yang paling rumit di jagad raya ini. Dan oleh karenanya,  ia mampu melakukan perubahan mikrostruktur secara berkelanjutan, dan juga mampu melakukan begitu banyak fungsi dan perilaku yang berbeda, termasuk aktivitas budaya  yang berbeda.
Gerald Edelman, ahli biologi, pemenang hadiah Nobel untuk bidang Physiology 1972, berpendapat bahwa bagian-bagian kecil terpisah dari berbagai komponen heterogen yang independen, bila saling terkoneksi, akan terintegrasi dan menghasilkan fungsi baru. Bila kehilangan kemampuan salah satu indera, misal pendengaran, maka indera perasa lainnya akan semakin aktif untuk ambil alih fungsi indera pendengar. Bahkan, sensitifitasnya semakin tinggi kuantitas dan kualitas pengolahan pasokan signalnya, mampu mendengar dengan otak (bukan dengan telinga). Misalnya, mampu membaca gerak bibir lawan bicara sebagai alat komunikasi pengganti telinga, lebih mudah daripada orang biasa. Perubahan satu modul otak, pendengaran, akan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi modul lain (misal modul penglihatan), sehingga kehilangan kemampuan pendengaran bisa ditanggulangi dengan lebih berfungsinya penglihatan.
When the Brain Is Caught Between Two Cultures
Perubahan budaya atau kultur yang terjadi karena perpindahan domisili atau migrasi, merupakan hal tersulit yang butuh usaha keras dalam otak kita untuk menyesuaikannya. Tanpa disadari, segala tindakan atau respon kita sehari-hari, – misalnya cara berbicara, berkomunikasi, selera makan, musik dan semua tindakan lain yg selama ini dilakukan tanpa berpikir – sebenarnya terbentuk dalam otak dalam proses yang lama dan menerus sehingga mengubah struktur/fungsi jaringan otak (brain maps) dan menyebabkan respon tindakan keseharian seolah terjadi secara natural. Perubahan kultur menyebabkan kesadaran bahwa semua respon tindakan butuh ‘pelatihan otak’ supaya terbentuk brain maps baru. Culture shock is brain shock.
Neuroplasticity and Social Rigidity
Seiring bertambahnya usia, neuroplastisitas semakin rendah, atau semakin sulit merespon aktifitas semesta. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung mengabaikan atau melupakan, atau bahkan mendiskreditkan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan atau persepsi yang dipunyainya, karena membutuhkan usaha pemikiran kritis untuk meresponnya. Atau, lebih tepatnya, lebih nyaman dengan mempertahankan strukstur yang sudah ada dalam jaringan otaknya. Bila ada perbedaan antara struktur  internal neurocognitive dengan realitas dunia, maka seseorang cenderung berpikir untuk mengubah realitas. Disini Wexler berpendapat bahwa dalam era glibalisasi, yang seringkali terjadi konflik budaya, akan menyebabkan banyak frustrasi sosial karena sudah rendahnya neuroplastisitas.
Bruce Wexler, psychiatrist dan peneliti dari Yale University berpendapat bahwa di masa kecil, otak kita akan terbentuk dengan mudah untuk dapat berreaksi terhadap segala aksi semesta dengan berkembangnya struktur neuropsychologi, termasuk di dalamnya adalah kemampuan menangkap gambaran dan repersentasi dari jagad-raya ini. Struktur tersebut membentuk basis jaringan sel syaraf otak sehingga dapat berpersepsi, berperilaku dan berkeyakinan bahkan sampai hal yang rumit, seperti berideologi. Bila struktur tersebut dibentuk sejak kecil dalam proses yang lama, maka akan mengendap dengan sendirinya dan menjadi apa yang biasa disebut sebagai ‘bawah sadar’, yang seolah natural.
Wexler juga menegaskan bahwa meskipun daya plastisitas otak semakin berkurang seiring bertambahnya usia, namun identitas seseorang masih dapat diubah sesuai hukum neuroplastisitas, menggunakan cara yang biasa disebut brain washing. Dengan,demikian, seseorang dapat ‘dihancurkan’ (identitas dirinya), untuk kemudian dibangun kembali, atau setidaknya ditambahkan struktur neurocognitifnya, melalui pelatihan massal yang ketat terkontrol dalam kondisi reward/punishment.
A Vulnerable Brain—How the Media Reorganize It
Era Internet of Things perlu menjadi perhatian penting, khususnya dalam perkembangan otak anak. Otak manusia modern ini banyak dibentuk oleh pengaruh keterpaparan Internet, juga televisi, video game, gadget dan peralatan elektrononik modern lainnya. Penelitian terhadap lebih dari 2.600 anak menunjukkan bahwa semakin belia anak-anak menggemari atau terpapar televisi, antara usia satu atau tiga tahun, akan mengalami masalah dalam hal kemampuan memberi perhatian atau fokus pada masa belajarnya kemudian.
Edward Hallowell, psychiatrist dari Harvard yang ahli dibidang masalah genetis  Attention Deficit Disorder (ADD), telah melakukan penelitian adanya relasi antara media elektronik dengan meningkatnya penurunan kemampuan perhatian/fokus anak (bukan genetis). Media mengubah otak kita bukan karena pesan isinya (content), namun justru karena media itu sendiri. McLuhan berpendapat, setiap media akan mengatur otak dan cara berpikir kita, dengan cara unik, yang berdampak jauh lebih signifikan daripada dampak yang disebabkan oleh pesan contentnya. Seseorang yang sudah kecanduan bermain video game, akan menunjukkan gejala ketagihan untuk terus bermain, malas beraktifitas lain dan merasa ceria bila sedang bermain. Pola tindakan dalam video game seperti, cuts, edit, zoom, short cut dsb, akan mengubah otak, dan akan mempengaruhi tindakan nyata keseharian. Mengingat peristiwa dalam siaran televisi berlangsung cepat, hanya peristiwa penting saja, tidak seluruh proses kejadian (editing), maka penonton akan terpaku dan semakin sulit meninggalkan televisi, bahkan saat penonton berkomunikasi dengan sesamanyapun, mata tetap terpaku ke layar televisi. Akibat berbahayanya adalah, aktifitas berguna lainnya seperti membaca, berkomunikasi dengan sesama, perhatian saat belajar, menjadi semakin sulit. Ingat, budaya akan membentuk otak kita, karena hukum neuroplastisitas.
References:

Read Full Post »