Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘GCI’

Xivilisation
China’s latest attempt to rally the world against Western values
The Economist, 27 April 2023

Berikut ini adalah ringkasan artikel harian elektronik The Economist, 27 April 2023. Sebagai catatan pribadi, yang mungkin juga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Presiden Xi Jinping mempunyai tiga inisiatif besar tentang bagaimana seharusnya dunia ini dikelola.

Konsep pertama adalah Global Development Initiative (GDI) yang dicanangkan 2021, beriringan dengan Belt Road Initiative (BRI). Dalam inisiatif tersebut, China mengalokasikan $4 milyar untuk kerjasama pembangunan di berbagai bidang, mulai dari sektor kesehatan hingga Perubahan Iklim, di berbagai negara sahabat.

Global Security Initiative (GSI) adalah inisiatif ke-2, yang bersemangat perdamaian. Upaya kongkrit dengan GSI ini adalah keterlibatan China dalam perdamaian Arab – Iran. Dilanjutkan dengan upaya China menghubungi presiden Volodymyr Zelensky, Ukraina untuk proses perdamaian dengan Rusia.

Yang ke-3 adalah Global Civilisation Initiative (GCI). Dicanangkan Xi Jinping 15 Maret 2023 dalam format dialog virtual dengan 500 organisasi politik dari 150 negara. Dalam pidatonya yang berjudul Join Hands on the Path Towards Modernization, Xi Jinping menyatakan bahwa,

“The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy …. It will not receive any support.”

Dan,

“Countries need to keep an open mind in appreciating the perceptions of values by different civilisations, …. and refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.”

Intinya adalah semangat perdamaian tidak mengenal pemaksaan nilai-nilai peradaban suatu negara ke negara lainnya. Dan upaya memecahbelah serta konfrontasi atas nama demokrasi tidak dapat dibenarkan. Contradictio in terminis.

Sejak dicanangkannya GCI, media pemerintah China mulai menjuluki inisiatif tersebut sebagai “Xivilisation”. Penuh dengan spirit kebijaksanaan China, unggahnya.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, pakar politik Samuel Huntington mencanangkan pendapatnya bahwa “clash civilisations” akan menggantikan “perang dingin” antara Barat dan Timur. Namun Xi Jinping merasa bahwa berbagai peradaban tersebut bisa berjalan bersama dalam damai. Dan, Harian Hongkong, South China Morning Post, menanggapi thesis lama Huntington tersebut dengan mempertegas bahwa China merasa perlu lebih memberikan perhatian terhadap kesetaraan peradaban demi dunia yang damai. Oleh sebab itu, AS perlu menahan diri untuk tidak memaksakan nilai-nilainya bagi negara lain. Atau sebaliknya, thesis Huntington akan terbukti karenanya.

Para petinggi Barat mulai khawatir tentang GCI, karena bisa menjadi garis pemisah antara pendukung pemerintah dan oposan.

Menurut artikel ini, Xi meyakini 4 spirit yang perlu menjadi acuan dalam berbangsa, “four self-confidences”. Tiga aspek terkait penguatan faham komunisme China, dan satu aspek adalah perlunya menjaga keberlangsungan budaya China.

Four self-confidences” tersebut merujuk pada kepercayaan diri terkait empat aspek penting, yaitu:

  1. Keyakinan bahwa model pembangunan sosialis dengan karakteristik China adalah jalan yang tepat bagi negara tersebut. Hal ini berarti China memiliki kepercayaan diri dalam mempertahankan dan mengembangkan sistem politik, ekonomi, dan sosialnya sendiri.
  2. China memiliki keyakinan pada prinsip-prinsip dasar Marxis, yang menjadi landasan ideologi bagi Partai Komunis China. Hal ini mencakup keyakinan pada nilai-nilai sosialis dan perspektif historis Marxis.
  3. Keyakinan pada sistem sosialisme dengan karakteristik China, berarti mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya dan mencapai kemajuan terus-menerus. China memiliki keyakinan dalam mempertahankan dan memperbaiki sistem ini.
  4. Keyakinan pada kekuatan budaya China, yang memiliki kekuatan dan daya tarik yang unik serta dapat berkontribusi pada perkembangan dan kemajuan negara. China memiliki keyakinan dalam mempromosikan dan melindungi kekayaan budaya dan nilai-nilai tradisional China.

Keempat elemen ini merupakan pilar-pilar utama dalam konsep kebangsaan China yang digagas oleh Xi Jinping, yang bertujuan untuk membangun kepercayaan diri dan identitas nasional yang kuat di tengah perubahan global.

Mao Zedong menekan kemunculan budaya Kongfucianisme, sementara Xi Jinping berupaya melestarikannya.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak pusat studi Konfucius di universitas-universitas AS banyak ditutup. Dikhawatirkan bahwa studi tentang bahasa dan kebudayaan China yang ada di dalamnya akan berdampak politik. Karena banyak pusat studi tersebut didanai oleh pemerintah China.

Read Full Post »

Pidato Xi Jinping

Pidato Presiden Xi Jinping


Tahun 2021, China mencanangkan Global Development Initiative (GDI), beriringan dengan Belt Road Initiative (BRI). Dalam inisiatif tersebut, China mengalokasikan $4 milyar untuk kerjasama pembangunan di berbagai bidang, mulai dari sektor kesehatan hingga Perubahan Iklim, di berbagai negara sahabat.

Dua bulan setelah perang Rusia – Ukraina mulai terjadi, 24 Februari 2022, President Xi Jinping mencanangkan Global Security Initiative (GSI), di bulan April 2022, dalam upaya meningkatkan keamanan global dengan lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi, kemitraan daripada aliansi dan win-win daripada zero-sum.

Satu tahun kemudian, tanggal 21 Februari 2023, Presiden Putin berpidato di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow. Resensi terkait pidato tersebut ada dalam blog ini, berjudul “Pidato Putin – Ukraina”. Isi dari pidato tersebut adalah penjelasan atas invasi Rusia ke Ukraine, response terhadap propaganda Barat yang menyudutkan Rusia, dan penjelasan tentang ekonomi Rusia yang dalam keadaan aman.

Satu bulan kemudian, 15 Maret 2023, Presiden Xi Jinping berpidato di depan 500 pimpinan partai politik dunia dari 150 negara, secara virtual, tentang perlunya modernisasi peradaban berdasar kemandirian bangsa tanpa tekanan atau hegemoni bangsa lain. Pada kesempatan tersebut, Global Civilisation Initiative (GCI) dicanangkan oleh Xi Jinping. Dinyatakan bahwa,  “The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy,” dan “It will not receive any support.” Selanjutnya Xi menyatakan,  “Countries need to keep an open mind in appreciating the perceptions of values by different civilisations,” dan, “and refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.” Ini adalah inisiatif untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan, saling belajar, dialog dan inklusivitas antar peradaban, pertukaran budaya, saling belajar alih-alih perselisihan, dan koeksistensi alih-alih mengagungkan superioritas. Intinya adalah semangat perdamaian tidak mengenal pemaksaan nilai-nilai peradaban suatu negara ke negara lainnya. Dan upaya memecah-belah serta konfrontasi atas nama demokrasi tidak dapat dibenarkan. Contradictio in terminis.

Satu minggu kemudian, 21 Maret 2023, Presiden Xi Jinping bertemu Presiden Putin di Moscow untuk membicarakan tentang kemungkinan penghentian peperangan atau perdamaian dengan Ukraina. 

Selanjutnya Rabu, 26 April 2023, presiden Xi Jinping telepon presiden Ukraine, Zelensky, dalam upayanya membuat cease fire atau bahkan perdamaian. 

Terlepas dari hidden agenda China, yang sebetulnya lazim dalam aksi politik, namun upaya perdamaian yang dilakukannya itu nyata. Dan Barat pun curiga dengan langkah Xi Jinping. Karena kedekatan China dengan Moscow. Loh …

Membaca rentetan peristiwa aksi politik global dari China dan Rusia diatas, terlihat adanya kepedulian dan sikap yang sama terhadap kesewenangan hegemoni Barat, AS khususnya. Pidato Putin dan Xi Jinping terasa sama isinya, meskipun dengan kehalusan narasi yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa kutipan translasi pidato Xi Jinping, yang lengkapnya berjudul Join Hands on the Path Towards Modernization.

Pidato Xi diawali dengan pernyataan puitis kekhawatiran atas kenyataan situasi sosial budaya, ekonomi, politik dan lingkungan global yang masih tak menentu, 

Polarization or common prosperity? Pure materialistic pursuit or coordinated material and cultural-ethical advancement? Draining the pond to catch the fish or creating harmony between man and nature? Zero-sum game or win-win cooperation?” 

Program modernisasi, semestinya berkelanjutan, dan berpusat pada serta bertujuan untuk Kemanusiaan.

“We must put the people first and ensure modernization is people-centered”. Dan  “Modernization is not only about indicators and statistics on the paper but more about the delivery of a happy and stable life for the people”.

Sudah semestinya bahwa Negara2 Sedang Berkembang berhak menentukan langkah-langkah modernisasinya sendiri, berdasarkan realitas sosial, keunggulan dan kearifan bangsanya. Ini serasa kritik terhadap adanya kecenderungan pemaksaan ideologi oleh beberapa negara besar lainnya.

“Developing countries have the right and ability to independently explore the modernization path with their distinctive features based on their national realities”.

“We stand firmly opposed to the practice of preserving one’s own development privilege by suppressing and containing other countries’ endeavor to achieve modernization”.

Dengan demikian, diharapkan tatanan internasional bisa menjadi lebih adil dan setara, dalam lingkungan global yang memiliki hak yang sama, kesempatan yang sama, dan aturan yang adil untuk semua. Tentu, menurutnya, untuk mencapai modernisasi, perlu solidaritas dan kerjasama sehingga diperoleh keuntungan bersama.

Kritik Xi Jinping terhadap upaya-upaya pecah-belah dan pemaksaan hegemoni oleh Barat, ditemukan  dalam kalimat-kalimat berikut:

  • We firmly oppose hegemony and power politics in all their forms. 
  • The world does not need a new Cold War. 
  • The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy. 
  • A modernized China will strengthen the force for world peace and international justice. No matter what level of development China achieves, it will never seek hegemony or expansion.

Penutup

Membaca pidato Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin beberapa waktu sebelumnya, mengisyaratkan adanya semangat yang berbeda daripada keseragaman informasi yang membanjiri media cetak dan elektronik di negeri ini selama ini. Semangat yang lebih memanusia tanpa perlu mengagungkan ke-adikuasa-an. Semoga nyata dalam prakteknya.

Tautan

Global Security Initiative:China’s Solution to Address the Security Dilemma and Safeguard World Peace

Read Full Post »