Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Putin’

Pidato Xi Jinping

Pidato Presiden Xi Jinping


Tahun 2021, China mencanangkan Global Development Initiative (GDI), beriringan dengan Belt Road Initiative (BRI). Dalam inisiatif tersebut, China mengalokasikan $4 milyar untuk kerjasama pembangunan di berbagai bidang, mulai dari sektor kesehatan hingga Perubahan Iklim, di berbagai negara sahabat.

Dua bulan setelah perang Rusia – Ukraina mulai terjadi, 24 Februari 2022, President Xi Jinping mencanangkan Global Security Initiative (GSI), di bulan April 2022, dalam upaya meningkatkan keamanan global dengan lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi, kemitraan daripada aliansi dan win-win daripada zero-sum.

Satu tahun kemudian, tanggal 21 Februari 2023, Presiden Putin berpidato di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow. Resensi terkait pidato tersebut ada dalam blog ini, berjudul “Pidato Putin – Ukraina”. Isi dari pidato tersebut adalah penjelasan atas invasi Rusia ke Ukraine, response terhadap propaganda Barat yang menyudutkan Rusia, dan penjelasan tentang ekonomi Rusia yang dalam keadaan aman.

Satu bulan kemudian, 15 Maret 2023, Presiden Xi Jinping berpidato di depan 500 pimpinan partai politik dunia dari 150 negara, secara virtual, tentang perlunya modernisasi peradaban berdasar kemandirian bangsa tanpa tekanan atau hegemoni bangsa lain. Pada kesempatan tersebut, Global Civilisation Initiative (GCI) dicanangkan oleh Xi Jinping. Dinyatakan bahwa,  “The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy,” dan “It will not receive any support.” Selanjutnya Xi menyatakan,  “Countries need to keep an open mind in appreciating the perceptions of values by different civilisations,” dan, “and refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.” Ini adalah inisiatif untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan, saling belajar, dialog dan inklusivitas antar peradaban, pertukaran budaya, saling belajar alih-alih perselisihan, dan koeksistensi alih-alih mengagungkan superioritas. Intinya adalah semangat perdamaian tidak mengenal pemaksaan nilai-nilai peradaban suatu negara ke negara lainnya. Dan upaya memecah-belah serta konfrontasi atas nama demokrasi tidak dapat dibenarkan. Contradictio in terminis.

Satu minggu kemudian, 21 Maret 2023, Presiden Xi Jinping bertemu Presiden Putin di Moscow untuk membicarakan tentang kemungkinan penghentian peperangan atau perdamaian dengan Ukraina. 

Selanjutnya Rabu, 26 April 2023, presiden Xi Jinping telepon presiden Ukraine, Zelensky, dalam upayanya membuat cease fire atau bahkan perdamaian. 

Terlepas dari hidden agenda China, yang sebetulnya lazim dalam aksi politik, namun upaya perdamaian yang dilakukannya itu nyata. Dan Barat pun curiga dengan langkah Xi Jinping. Karena kedekatan China dengan Moscow. Loh …

Membaca rentetan peristiwa aksi politik global dari China dan Rusia diatas, terlihat adanya kepedulian dan sikap yang sama terhadap kesewenangan hegemoni Barat, AS khususnya. Pidato Putin dan Xi Jinping terasa sama isinya, meskipun dengan kehalusan narasi yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa kutipan translasi pidato Xi Jinping, yang lengkapnya berjudul Join Hands on the Path Towards Modernization.

Pidato Xi diawali dengan pernyataan puitis kekhawatiran atas kenyataan situasi sosial budaya, ekonomi, politik dan lingkungan global yang masih tak menentu, 

Polarization or common prosperity? Pure materialistic pursuit or coordinated material and cultural-ethical advancement? Draining the pond to catch the fish or creating harmony between man and nature? Zero-sum game or win-win cooperation?” 

Program modernisasi, semestinya berkelanjutan, dan berpusat pada serta bertujuan untuk Kemanusiaan.

“We must put the people first and ensure modernization is people-centered”. Dan  “Modernization is not only about indicators and statistics on the paper but more about the delivery of a happy and stable life for the people”.

Sudah semestinya bahwa Negara2 Sedang Berkembang berhak menentukan langkah-langkah modernisasinya sendiri, berdasarkan realitas sosial, keunggulan dan kearifan bangsanya. Ini serasa kritik terhadap adanya kecenderungan pemaksaan ideologi oleh beberapa negara besar lainnya.

“Developing countries have the right and ability to independently explore the modernization path with their distinctive features based on their national realities”.

“We stand firmly opposed to the practice of preserving one’s own development privilege by suppressing and containing other countries’ endeavor to achieve modernization”.

Dengan demikian, diharapkan tatanan internasional bisa menjadi lebih adil dan setara, dalam lingkungan global yang memiliki hak yang sama, kesempatan yang sama, dan aturan yang adil untuk semua. Tentu, menurutnya, untuk mencapai modernisasi, perlu solidaritas dan kerjasama sehingga diperoleh keuntungan bersama.

Kritik Xi Jinping terhadap upaya-upaya pecah-belah dan pemaksaan hegemoni oleh Barat, ditemukan  dalam kalimat-kalimat berikut:

  • We firmly oppose hegemony and power politics in all their forms. 
  • The world does not need a new Cold War. 
  • The practice of stoking division and confrontation in the name of democracy is in itself a violation of the spirit of democracy. 
  • A modernized China will strengthen the force for world peace and international justice. No matter what level of development China achieves, it will never seek hegemony or expansion.

Penutup

Membaca pidato Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin beberapa waktu sebelumnya, mengisyaratkan adanya semangat yang berbeda daripada keseragaman informasi yang membanjiri media cetak dan elektronik di negeri ini selama ini. Semangat yang lebih memanusia tanpa perlu mengagungkan ke-adikuasa-an. Semoga nyata dalam prakteknya.

Tautan

Global Security Initiative:China’s Solution to Address the Security Dilemma and Safeguard World Peace

Read Full Post »

PIDATO PRESIDEN PUTIN

Pidato Presiden Putin di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow, 21 Februari 2023.

Berselancar di dunia maya mencari ebook dari penulis credible, tentang perang Ukraine dari sudut pandang Russia, sungguh sulit. Banyak ebook tentang hal tersebut ditemukan di amazon.com, namun selalu dari sudut pandang Barat. Sudah dua tulisan disajikan dalam blog ini terkait pemberitaan tentang perang Rusia – Ukraina, yaitu: Perang Rusia – Ukraina dan RT alternatif Sumber Berita, belum juga menemukan sumber berita yang meyakinkan dari sisi Rusia. Hanya channel Russia Today yang memberitakan perang Ukraine dari sudut pandang Russia. Coba saja BBC, CNN, Bloomberg, TRTWorld, Al Jazeera, DW dll; sudah seperti representasi NATO. Seragam, sudut pandang Barat. Gagal mendapatkan  keseimbangan informasi. Tidak ada lagi Cover both sides.

Tak disangka, muncul Presiden Putin memberikan sambutan di depan para pejabat di Majelis Federal Russia, Gostiny Dvor, Moskow pada tanggal 21 Februari 2023. Sebagai sebuah informasi penyeimbang terhadap media berita yang substansinya seragam pro-Barat tersebut, Pidato Putin ini cukup memuaskan. Apalagi disampaikan langsung oleh otoritas tertinggi pemerintah Rusia. Presiden Putin. Sumber terpercaya.

Pada transkrip pidato yang sudah dipublikasikan dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Sumber Internet Resmi Kepresidenan Russia  terbaca adanya dua target audiences yang ingin dicapai dari pidato tersebut, yaitu:

  1. Masyarakat Global, untuk menjelaskan maksud invasi Russia ke Ukraina, Bela Negara, serta menolak standar ganda dan hegemoni Barat
  2. Masyarakat Russia, untuk memberikan semangat Bela Negara, persatuan, kemandirian bangsa dan peningkatan kesejahteraan.

Berikut ini adalah, beberapa cuplikan penting dari naskah pidato Putin (translated), dalam menanggapi sikap dan tindakan Barat yang mendukung Zelensky, Ukraina. Naskah lengkapnya ada dalam daftar Tautan di bawah.

Tak butuh berlama-lama, di awal pidatonya, Putin pun langsung menjelaskan alasan Rusia melakukan invasi ke Ukraina di tahun 2022:

  1. to protect the people in our historical lands, 
  2. to ensure the security of our country and 
  3. to eliminate the threat coming from the neo-Nazi regime that had taken hold in Ukraine after the 2014 coup,

Dalam wawancara Helmi Yahya dengan Dubes Rusia, Lyudmila Vorobieva, juga sudah dijelaskan tentang tujuan diatas, beberapa bulan sebelum pidato Presiden Putin. (Tautan terlampir di bawah)

RT channel berulang kali menayangkan film dokumenter penguasaan brutal yang memakan korban jiwa dan harta, oleh pemerintah Kiev, Ukraine terhadap wilayah Donetsk dan Luhansk, yang masyarakatnya pro-Rusia di tahun 2014. Peta distribusi kebangsaan dari Seymour Hers terlampir, menunjukkan bangsa Rusia ada 22% di Ukraina. Munculnya kelompok ultra-kanan Ukraina yang seringkali muncul di publik berkelompok, menggunakan atribut Nazi dan melakukan salam dengan menjulurkan lengan kanan seperti layaknya anggota Nazi saaat WWII, menjadi pembenaran Putin untuk menjulukinya sebagai Neo-Nazi dalam pidatonya diatas.

Since 2014, Donbass has been fighting for the right to live in their land and to speak their native tongue. … we were doing everything in our power to solve this problem by peaceful means, and patiently conducted talks on a peaceful solution to this devastating conflict. This appalling method of deception has been tried and tested many times before. They behaved just as shamelessly and duplicitously when destroying Yugoslavia, Iraq, Libya, and Syria.

Kekesalan Putin terhadap sikap mendua dan hipokrit Barat, diungkapkannya dalam kalimat berikut:

It turned out that they treat people living in their own countries with the same disdain, like a master. After all, they cynically deceived them too, tricked them with tall stories about the search for peace, about adherence to the UN Security Council resolutions on Donbass. Indeed, the Western elites have become a symbol of total, unprincipled lies.

Menurutnya, Perang Ukraina ini bukan memerangi masyarakat Ukraina.

We are not at war with the people of Ukraine. I have made that clear many times.

Responsibility for inciting and escalating the Ukraine conflict as well as the sheer number of casualties lies entirely with the Western elites and, of course, today’s Kiev regime, for which the Ukrainian people are, in fact, not its own people. The current Ukrainian regime is serving not national interests, but the interests of third countries.

… the longer the range of the Western systems that will be supplied to Ukraine, the further we will have to move the threat away from our borders. This is obvious.

Gita Wirjawan dalam podcast youtubenya, yang berdialog dengan Connie Bakrie, berjudul: Tunjukkan taring, pimpin dengan integritas berpendapat bahwa Putin tidak pernah terlihat berniat untuk menguasai Ukraina. Disetujui oleh Connie. Dan juga ditegaskan oleh Dubes Rusia, Vorobieva, dalam wawancaranya dengan media Kumparan.

Putin mengaku bahwa Rusia sudah bersedia untuk dialog, namun tidak mendapat tanggapan berarti:

We were open and sincerely ready for a constructive dialogue with the West; we said and insisted that both Europe and the whole world needed an indivisible security system equal for all countries, and for many years we suggested that our partners discuss this idea together and work on its implementation. But in response, we received either an indistinct or hypocritical reaction, as far as words were concerned. But there were also actions: NATO’s expansion to our borders, the creation of new deployment areas for missile defence in Europe and Asia–they decided to take cover from us under an ‘umbrella’–deployment of military contingents, and not just near Russia’s borders.

Finally, in December 2021, we officially submitted draft agreements on security guarantees to the USA and NATO. In essence, all key, fundamental points were rejected. After that it finally became clear that the go-ahead for the implementation of aggressive plans had been given and they were not going to stop.

Intelejen Rusia mengendus adanya rencana penyerbuan brutal oleh Kiev ke Donbass, seperti pernah terjadi di 2014. Putin pun merasa dikhianati oleh Badan Keamanan PBB.

… there was no doubt that everything would be in place by February 2022 for launching yet another bloody punitive operation in Donbass. Let me remind you that back in 2014, the Kiev regime sent its artillery, tanks and warplanes to fight in Donbass.

In 2015, they tried to mount a frontal assault against Donbass again, while keeping the blockade in place and continuing to shell and terrorise civilians. Let me remind you that all of this was completely at odds with the documents and resolutions adopted by the UN Security Council, but everyone pretended that nothing was happening.

… they were the ones who started this war, while we used force and are using it to stop the war.


Putin pun tak merasa perlu lagi menahan geram atas sikap dan tindakan Barat, maka kekesalan pun diungkapkannya.

.. the Organisation for Economic Cooperation and Development, the G7 countries earmarked about $60 billion in 2020–2021 to help the world’s poorest countries. Is this clear? They spent $150 billion on the war, while giving $60 billion to the poorest countries,

According to US experts, almost 900,000 people were killed during wars unleashed by the United States after 2001, and over 38 million became refugees.


Putin menunda keikutsertaan dalam SART, karena ada kewajiban disana untuk bersedia diperiksa fasilitas pertahanan nuklirnya. Menurutnya, dalam situasi perang, dimana Barat berada di belakang Ukraine, maka tidak mungkin Rusia memberi kesempatan Barat berada di fasilitas pertahanannya. Demikian juga pasti sebaliknya.

Ref.: Seymour Hersh: Bertaruh pada Kemenangan Ukraina adalah Bunuh Diri

In early February, the North Atlantic alliance made a statement with actual demand to Russia, as they put it, to return to the implementation of the Strategic Arms Reduction Treaty, including admission of inspections to our nuclear defence facilities. I don’t even know what to call this. It is a kind of a theatre of the absurd.

The drones used for this purpose were equipped and updated with the assistance of NATO specialists. And now they also want to inspect our defence facilities? In the current conditions of confrontation, it simply sounds insane.

Putin juga menengarai adanya upaya Barat untuk melakukan perang ekonomi dan pembusukan dari dalam negeri Rusia.

… they sent prices soaring in their own countries, destroyed jobs, forced companies to close, and caused an energy crisis, while telling their people that the Russians were to blame for all of this. We hear that.

“Make them suffer”–what a humane attitude. They want to make our people suffer, which is designed to destabilise our society from within.


Namun Putin meyakinkan bangsanya bahwa ekonomi Rusia masih dalam kondisi aman.

The Russian economy, as well as its governance model proved to be much more resilient than the West thought.

I would like to draw your attention to the fact that this has nothing to do with printing money. Not at all. Everything we do is solidly rooted in market principles.


Selain pembelaan diri untuk invasi ke Ukraina dan kecaman terhadap sikap dan tindakan AS dan Sekutunya, sisa pidato Putin adalah pernyataan ketahanan ekonomi Rusia yang masih aman. Bahkan berencana untuk meningkatkan anggaran persenjataan, gaji ASN dll.

PENUTUP
Kutipan dari buku “How the West Brought War to Ukraine”, karya Benjamin Abelow di bawah ini mungkin bisa jadi pengingat:

Gilbert Doctorow—an independent, Brussels-based political analyst whose Ph.D. and post-doctoral training are in Russian history—comments:

Be careful what you wish for. Russia has more nuclear weapons than the United States. Russia has more modern weapons than the United States. Russia can level to the ground the United States in 30 minutes. Is this a country in which you want to create turmoil? Moreover, if [Mr. Putin] were to be overturned, who would take his place? Some little namby-pamby? Some new drunkard like [first Russian president Boris] Yeltsin? Or somebody who is a Rambo and just ready to push the button? … I think it is extremely imprudent for a country like the United States to invoke regime change in a country like Russia. It’s almost suicidal.

Perang, bagaimanapun akan berakibat langsung pada penderitaan rakyat. Semoga cepat berakhir dengan Perdamaian. Dan tidak ada lagi Negara yang merasa sebagai pemegang kuasa penentu Nilai Kebenaran terhadap negara lain.

Mengutip media berita The Economist, pidato Xi Jinping 15 Maret 2023, the “Global Civilisation Initiative”, … that countries should “refrain from imposing their own values or models on others and from stoking ideological confrontation.”


Sebagai Penutup, Tautan berikut ini cukup bagus memberi gambaran tentang persoalan Ukraina dan mereka yang memperkeruhnya.

Pidato Presiden Putin, 21 Februari 2023, Moskow

Wawancara Dubes Rusia, Vorobieva

Wawancara Helmi Yahya dengan Dubes Rusia

Why is Ukraine the west’s faults?

Seymour Hersh: Bertaruh pada Kemenangan Ukraina adalah Bunuh Diri

Salam Damai

Read Full Post »

Ini buku lama yang sudah dibaca, namun baru sekarang didokumentasikan dalam blog ini. Ingatan yang semakin buruk perlu dilatih dengan membaca ulang dan menulisnya :).

Momen perang Rusia-Ukraina menjadi kesempatan bagus untuk menyegarkan ingatan tentang Rusia. Setelah membaca buku A Russian Diary karya Anna Politkovskaya, menikmati film serial Netflix, The Last Czars tentang revolusi Russia, lalu film Stalin dan kemudian Trotsky, cukup membantu ingatan betapa getir kondisi sosial masyarakat Rusia saat itu. Film berdasar novel karya Boris Pasternak, Doctor Zhivago dan Anna Karenina karya Leo Tolstoy, juga sempat beberapa kali dinikmati, termasuk juga beberapa cerita pendek karya Anton Chekov, Nikola Gogol dan Fyodor Dostoevsky. Sebagai pencerah untuk memahami budaya di masanya. Sepertinya benar kata Sergei Magnitsky, korban pembunuhan aparat hukum Rusia, 2009, dalam buku Red Notice karya Bill Browder, “Russian stories never have happy endings”. Muram.

Kesewenang-wenangan kekuasaan, kegagalan penanganan penyanderaan di Sekolah Beslan dan Theater Moscow, yang memakan banyak korban jiwa, kegagalan penyelamatan Kapal Selam Nuklir Kursk, pengkhianatan, penyingkiran siapapun yang dicurigai sebagai rival, perampasan asset, hingga berbagai pembunuhan lawan politik, menjadi tumpukan daftar hitam yang dikenakan terhadap Putin dalam buku ini. Brutal. Benarkah? Baca bukunya… Baca buku Death of a Dissident tentang pembunuhan Alexander Litvinenko. Atau, baca juga dalam blog ini tentang pembunuhan Anna Politkovskaya, jurnalis perang.

Pembuka

Buku karya Masha Gessen yang diterbitkan pada 2012, berjudul “The Man Without a Face” ini menambah daftar cerita getir di masa perubahan Soviet – Rusia. Buku ini mencakup kisah di awal tahun 90an hingga 2011. Dimulai ketika Gessen masih berusia 24 tahun dan Rusia masih dalam kekacauan runtuhnya pemerintahan komunis Uni Soviet. Vladimir Putin menjadi tokoh utama buku ini, di dalam carut-marut panggung kekuasaan politik Rusia. 

Pembunuhan politis aktivis demokrasi dan anggota Duma, Galina Starovoitova, pada 20 November 1998, di luar gedung apartemennya, menjadi kasus pembuka dalam deretan daftar hitam Rusia, pasca runtuhnya Uni Soviet, yang diceritakan dalam buku ini. Galina adalah akademisi politik, yang mulai bersinar sebagai politisi sejak terjadinya konflik etnik Armenia di Azerbaijan. Punya kedekatan politis dengan Andrei Sakharov dan menjadi penasihat presiden Boris Yeltsin untuk urusan etnis.

Kemunculan Putin

Boris Yeltsin adalah Presiden pertama Rusia yang dipilih pertama kalinya pada tahun 1991. Memenangkan kembali pada pilpres 1996. Kekuasaan otoritarian, nepotisme dan inflasi tinggi di tahun 1998 serta hilangnya harapan perbaikan kesejahteraan, menyebabkan merosotnya kepercayaan publik terhadap Yeltsin. Bahkan hanya menyisakan 2% kepercayaan publik. 

Muncul partai Otechestvo—Vsya Rossiya (Fatherland—All Russia) pada 28 August 1999, yang disponsori oleh para presiden negara federal, gubernur dan walikota. Dipimpin oleh Yevgeny Primakov, Yury Luzhkov dan Vladimir Yakovlev. Sebagai Oposisi dari kekuasaan Yeltsin. Fatherland mendukung Vladimir Putin (Leningrad 1952) dalam pemilihan Presiden tahun 2000.

Boris Berezovsky, PhD. pengusaha kaya Rusia, yang bergerak dalam bidang perbankan, perminyakan, perdagangan mobil dan pemilik Channel One, televisi yang sangat populer di Rusia; turut berinvestasi untuk kesuksesan Yeltsin sebagai Presiden dalam pilpres 1996. Dia juga berperan sangat penting terkait munculnya Vladimir Putin sebagai kandidat Presiden. Berezovsky mengenal Putin pada tahun 1990, ketika berencana mengembangkan bisnisnya di Leningrad. Putin yang saat itu sebagai deputi dewan kota, membantunya. Kedekatan itu berlanjut di tahun 1996 ketika Putin mendapat jabatan administratif di Kremlin, Moscow. 

Putin, yang saat itu sebagai Kepala FSB—the Federal Security Service, berpangkat Kolonel, direkomendasikan oleh Berezovsky kepada kepala staf Presiden, Valentin Yumashev, untuk menggantikan Yeltsin sebagai Presiden. Sedangkan Yeltsin yang sedang khawatir akan tuntutan hukum karena kebangkrutan ekonomi, inflasi tinggi dan nepotisme, berharap Putin, yang loyal dan tidak berasal dari Partai Komunis, menjadi penggantinya. Dan mempercayainya bahwa tidak akan memperkusinya bila saatnya nanti mengundurkan diri sebagai Presiden Rusia. Pada 9 Agustus 1999, Yeltsin mengangkat Putin sebagai Perdana Menteri. Disetujui oleh Duma.

Mulai 31 Agustus 1999, banyak terjadi bom meledak di Rusia. Total tewas karenanya lebih dari 350 orang. Gerilyawan Chechnya menjadi tertuduh. Dengan anggapan sikap Yeltsin yang lunak terhadap Chechnya, pada 23 September 1999, banyak Gubernur Federal Rusia menyurati Presiden Yeltsin untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada Putin. Putin memerintahkan tentara Rusia mempersiapkan diri untuk menyerang Chechnya. Sikap tangan besi dan pidatonya yang tegas, menjadikannya popular. 

“We will hunt them down. Wherever we find them, we will destroy them. Even if we find them in the toilet. We will rub them out in the outhouse.”

Yeltsin pada 31 Desember 1999 mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Selanjutnya Putin sebagai Perdana Menteri, secara hukum menjadi Pelaksana Tugas Presiden.

Masa Muda Putin

Runtuhnya Berlin Wall

Putin lahir di Leningrad, 7 Oktober 1952. Lingkungan sosial Putin di masa mudanya, penuh dengan kekerasan. Lingkungan preman. Lulus SMA dengan nilai bagus. Melanjutkan di Universitas Leningrad. Tahun 1984 belajar intelijen di KGB Moscow.  Menikah di usia 31 tahun dengan Ludmila. Tahun 1985, Putin (35 thn) bersama istri dan kedua putrinya, ditugaskan di Direktorat S, Illegal Intelligence-Gathering Unit, Dresden, Jerman Timur.

Agustus 1989, ribuan penduduk Jerman Timur menuju Eropa Timur (Prague, Budapest, Warsawa) menggunakan kereta-api, mencoba menyeberang ke Barat via kedubes Jerman Barat di kota-kota tsb. Saat Putin berulang tahun yang ke-37, pada 7 Oktober 1989, kerusuhan besar terjadi di Berlin Timur. Lebih dari 1.000 orang ditahan. 

Pada 9 November 1989, Berlin Wall runtuh. Moscow diam. Tahun 1990, Putin kembali ke Leningrad, Rusia. Merasa dikhianati pemerintahnya.

Runtuhnya Komunis

Mikhail Gorbachev, Boris Yeltsin dan Vladimir Putin

Mikhail Gorbachev memimpin Uni Soviet 1985. Mencanangkan Perestroika (restrukturisasi) dua tahun kemudian. Desember 1986, penerima Nobel Perdamaian Andrei Shakarov dibebaskan kembali ke Moscow, setelah dalam pengasingan selama hampir 7 tahun di Gorky. Januari 1987, Gorbachev kembali mencanangkan jargon baru Glasnost (keterbukaan). Satu bulan kemudian, Gorbachev membebaskan 140 tahanan politik.

Perlu dipahami bahwa Gorbachev tidak bermaksud membubarkan Uni Soviet atau mengakhiri Partai Komunis, melainkan memodernisasikan ekonomi dan memperbaiki kondisi sosial masyarakat, tanpa secara radikal mengubah dasar negara. Namun tanpa disadarinya justru berakibat runtuhnya Uni Soviet. 

Ibarat bendungan besar yang menampung penuh air, Gorbachev telah membuat celah kecil Glasnost dan Perestroika yang menyebabkan air deras bertekanan besar menembusnya. Jebol. 

“We could no longer breathe among the lies, the hypocrisy, and the stupidity. There was no fear. And as soon as the first rays of light seemed to break through—as soon as people whose hands had been tied were allowed to move at least a few fingers—people started to move…”

Unjukrasa pada 10 Desember 1987 adalah aksi damai pertama kalinya yang tidak dibubarkan oleh polisi Leningrad (St. Petersburg). Selanjutnya, aksi Kebebasan Berekspresi berlangsung regular setiap Sabtu dengan sebutan Hyde Park di Mikhailov Gardens, Leningrad. Dengan aturan, setiap pembicara diberi waktu selama 5 menit. Topik bebas, namun tidak propaganda perang atau kekerasan. Karena belum ada kebebasan media massa, journalis dipersilahkan hadir namun tidak diijinkan menyebar-luaskan beritanya.

Tahun 1988 menjadi penting karena terbentuknya People’s Front, tersebar di lebih dari 30 kota di Uni Soviet. Organisasi yang dibentuk secara demokratis untuk misi demokratisasi, yang cukup longgar keanggotaannya. Disini muncul geologist perempuan demokratis yang dianggap tidak seperti lazimnya politisi Uni Soviet dan menjadi tenar, Marina Salye, PhD. Bujangan berusia 50 tahunan yang selalu muncul di depan pada setiap unjuk rasa. Impresif. Memimpin Komite Election-89. Sebuah komite yang melakukan pemilihan umum untuk menentukan wakil-wakil daerah.

Pada akhir tahun 1988 ini juga menjadi momen penting terjadinya konflik etnik masyarakat Armenia di daerah Nagorno-Karabakh, Azerbaijan yang ingin memisahkan diri dan bergabung dengan Armenia. Kaukasus Uni Soviet. Dalam kasus ini, People’s Front mulai berperan. Banyak aktivis demokrasi ditangkap aparat pemerintah Leningrad, Uni Soviet. Dalam momen ini aktifis Galina Starovoitova, ditembak di luar apartemennya. Tewas.

Transformasi Soviet lambat bergerak namun terus terjadi tak terbendung. Unjuk rasa masih terjadi, walaupun penangkapan juga terus berlangsung. Acak. Sensor media mulai kendor. Novel Dr. Zhivago karya Boris Pasternak mulai boleh diterbitkan. Namun sastrawan penerima Nobel 1970, Alexander Solzhenitsyn yang karyanya banyak mengkritisi Partai Komunis, masih tetap ditahan.

Partai Komunis di Leningrad kalah dalam Pemilu Maret 1989. Antropolog Galina Sarovoitova berada dalam satu kubu dengan Andrei Sakharov (wafat 14 Desember 1989) di fraksi pro-demokrasi, yang bertujuan mengakhiri Partai Komunis. Pro-demokrasi memenangkan 120 kursi, dari 400 kursi yang dipilih (30%). Fraksi lain adalah yang dipimpin Boris Yeltsin dan profesor hukum Anatoly Sobchak. 

Kudeta militer

Pada 19 Agustus 1991, penguasa distrik militer Leningrad, Jendral Viktor Samsonov sebagai representatif the State Committee for the State of Emergency in the USSR (GKChP SSSR) regional, menyatakan secara resmi di televisi bahwa negara dalam keadaan Darurat. Namun pimpinan Dewan Kota membantahnya karena tidak ada dokumen resmi. 

Gorbachev dinyatakan sakit, yang sejatinya berada dalam tahanan rumah peristirahatan di Laut Hitam, Foros. Kudeta militer. Sementara Yeltsin tetap berada di rumahnya, pinggir Moscow. Walaupun surat penangkapan telah disiapkan oleh Komite Darurat, namun tak pernah diterimanya. Aparat terpecah. 

Kudeta militer 1991

Sobchak, walikota Leningrad yang dilantik Juni 1991, mentor Putin dan Medvedev, sangat berperan dalam kekisruhan politik. Bermain dua kaki. Bersama Putin dia bekerjasama dengan aparat militer untuk meredam aksi demokrasi massa. Berbeda dengan Leningrad dibawah Sobchak, Dewan Kota Moscow justru sangat mendukung sikap Walikota untuk mematikan listrik, telepon dan air di gedung GKChP SSSR. Mendukung massa demokrasi. Kudeta militer gagal.

Tanggal 22 Agustus 1991, resmi bendera Russia adalah putih, biru, merah. Menggantikan bendera Uni Soviet, merah bergambar palu-arit.

Banyak menyisakan pertanyaan dari gagalnya kudeta tersebut.

So what was it? Why did the coup, so many months in the making, fall apart so easily? Indeed, why did it never really take off? Why were the democratic politicians, with the exception of Gorbachev, allowed to move around the country freely and have telephone contact? Why were none of them arrested? Why, in the three days that they ostensibly held power in the Soviet Union, did the hard-liners fail to capture the main communication or transportation hubs? And why did they fold without a fight? Was the coup simply a mediocre attempt by a group of disorganized failures? Or was there something more complicated and more sinister going on? Was there, as Salye ultimately came to believe, a carefully engineered arrangement that allowed Yeltsin to remove Gorbachev and broker the peaceful demise of the Soviet Union but also placed him forever in debt to the KGB?

Putin di Leningrad (St. Petersburg)

Sebagai deputi Walikota Leningrad, Putin berada pada Komite Hubungan Luar Negeri, yang bertanggungjawab untuk pengadaan makanan dari luar negeri. Mengingat ekonomi warisan Uni Soviet sedang terpuruk, inflasi tinggi dan nilai mata uang Rubble sangat rendah terhadap $, Leningrad tidak punya cukup uang untuk menghidupi dirinya. Namun, Rusia mempunyai banyak sumberdaya alam untuk dapat diperdagangkan ke luar negeri. 

Laporan Salye (Salye banyak menjadi rujukan dalam penulisan buku ini) yang ditujukan kepada Dewan Kota dan Presiden Yeltsin, menyatakan bahwa departemen Putin banyak mendapat kontrak ekspor yang nilainya bisa mencapai $92 miliar. Salye juga menemukan bukti-bukti bahwa beberapa ekspor komoditi sumberdayaalam seperti aluminium, minyak dan kapas, bernilai ratusan juta dollar, dilakukan tanpa mendapatkan hasil barter berupa makanan seperti yang telah direncanakan. Laporan tidak ditindaklanjuti.

Vladimir Putin membawakan kopor Walikota St. Petersburg Anatoly Sobchak (depan), 1992.

Gessen juga menceritakan bahwa para pejabat di masa kekacauan tersebut begitu bebasnya berbagi asset negara dikalangan mereka. Sebagaimanan Putin sebagai Deputi Walikota dan Sobchak, sang Walikota Leningrad melakukannya. 

Sobchak kalah dalam pemilu Walikota 1996. Putin sebagai manager kampanyenya. Di masa kepemimpinan Sobchak, tiga perempat penduduk Leningrad berada dibawah garis kemiskinan. Namun Putin sebagai Deputi yang juga berdarah KGB, berusaha untuk tetap mengelola Leningrad secara sentralisasi pada  sistem finansial, perdagangan luar negeri/domestik dan arus informasi media, pada kota terbesar kedua di Rusia tersebut. Tetap dalam model Uni Soviet. 

Sementara Sobchak, sang Mentor, lengser dari kursi Walikota dan menghadapi ancaman tuntutan pidana korupsi, Putin pindah posisi untuk mengelola istana Presiden di Moscow. Bidang yang rendah publisitas, namun akses ke kekuasaan semakin tinggi. Sobchak selamat dari tuntutan hukum. Dengan alasan kesehatan, Sobchak diselamatkan Putin untuk dirawat di Paris, Perancis.

Musim panas 1999, Sobchak kembali ke Russia. Menjadi manajer kampanye Putin sebagai kandidat Presiden. Meninggal di hotel, Kaliningrad, pada 20 Februari 2000 saat kampanye, karena serangan jantung. 

Tahun 2007 Arkady Vaksberg, dokter yang merawat Sobchak saat di Perancis, menerbitkan buku tentang kasus-kasus kematian politikus yang disebabkan karena keracunan di Uni Soviet dan Rusia. melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa kematian Sobchak akibat menghisap uap racun yang berasal dari bola lampu panas di sebelah tempat tidurnya. Beberapa bulan setelah terbitnya buku tersebut, mobil Vaksberg yang sedang berada dalam garasinya di Moscow, meledak. Selamat, karena dia tidak berada di dalamnya. 

Pemerintahan Presiden Putin

Pelantikan Putin, 7 Mei 2000

Pelantikan Putin sebagai Presiden Rusia ke-2 dilakukan pada tanggal 7 Mei 2000, setelah memenangkan Pilpres Rusia yang pertama (Yeltsin, presiden Rusia ke-1 memenangkan Pilpres saat masih berada pada pemerintahan Uni Soviet) dengan jumlah suara pemilih 52% pada putaran pertama. Gossen yang saat pemilihan sedang berada di Grozny, menulis tentang adanya banyak suara untuk Putin yang tidak sah, dalam bab 7 buku ini yang berjudul THE DAY THE MEDIA DIED. Mikhail Kasyanov, birokrat karir di era Yeltsin yang kemudian menduduki posisi tertinggi sebagai Menteri Keuangan, dipilih Putin sebagai Perdana Menteri.

Tanpa butuh waktu lama, setelah pelantikannya sebagai Presiden, Putin segera mengeluarkan beberapa Dekrit Presiden baru untuk menegaskan otoritasnya, yaitu:

  • Memberi impunitas terhadap Presiden Yeltsin terhadap tuntutan hukum
  • Menegaskan doktrin militer Rusia bahwa berhak menggunakan senjata nuklir untuk melawan agresor
  • Pelatihan sebagai tentara cadangan untuk mereka yang sehat
  • Pendidikan militer bagi anak sekolah
  • Peningkatan anggaran Pertahanan sebesar 50%

Dua hari setelah pelantikannya, penggerebekan dilakukan aparat polisi terhadap kantor pusat media cetak dan elektronik Media-Most, milik Vladimir Gusinsky. Tempat Masha Gessen bekerja sebagai jurnalis. Banyak dokumen diambil aparat. Vladimir Gusinsky ditangkap pada 13 Juni 2000 dengan tuduhan masalah privatisasi perusahaan Russkoye Video, yang sebelumnya dimiliki oleh Dmitry Rozhdestvensky. Tuduhan yang mengada-ada. 

Pada tanggal 29 Februari 2000, Masha Gessen menelepon kantor kejaksaan untuk mencari informasi tentang kasus Russkoye Video. Dijawab dengan ancaman, 

“Leave it alone. Believe me, Masha, you don’t want to get any deeper into this. Or you’ll be sorry.” Rozhdestvensky’s case did not meet the formal criteria for being a “very important case,” but it was clearly very important to a very important person.

Sepertinya ada kasus antara Dmitry Rozhdestvensky dengan Putin. Silahkan dibaca bukunya, mulai hal. 156.

Vladimir Gusinsky dipenjara selama 3 hari, untuk kasus tersebut diatas. Bebas dan melarikan diri ke luar negeri. Pengungsi pertama di pemerintahan Putin. Lima minggu setelah pelantikannya sebagai Presiden.

Penggerebekan yang dilakukan oleh banyak aparat bersenjata untuk mengambil paksa banyak dokumen resmi dari suatu kantor bisnis, Tujuan akhir adalah pengambil-alihan private bisnis oleh pemerintah. Sering terjadi di tahun 1990an. Dengan tuduhan yang sumir.

Kegagalan Rusia dalam menyelamatkan sandera di sekolah Beslan. Tewas 333 orang.

Kasus tragis yang juga terjadi pada periode pertama pemerintahan Putin adalah penyanderaan anak sekolah di Beslan pada 1 Seprember 2004. Korban tewas sebanyak 333 orang, termasuk 186 anak-anak, seperti ditulis dalam Wikipedia, Beslan school siege .

Kebijakan baru yang dicanangkan Putin setelah terjadinya penyanderaan anak sekolah di Beslan tersebut, adalah Gubernur dan Walikota Moscow, tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, namun dipilih oleh Presiden. Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipilih oleh Partai melalui Pemilu Partai. Persis seperti Indonesia dimasa yang lalu.

Channel One sebagai media televisi nomer satu di Rusia, milik Boris Berezovsky (mantan chief of staff Yeltsin) juga menjadi korban rampasan pemerintah. Pemberitaan tragedi kapal selam Kursk, yang cukup rinci diceritakan dalam buku ini, dianggap telah mempermalukan Putin, menjadi penyebabnya. Tiga bulan setelah pelantikan Presiden, dua pengusaha kaya Rusia telah disingkirkan dari bisnisnya. Tak sampai satu tahun pemerintahan Putin, tiga jaringan televisi swasta telah diambil pemerintah. Kesewenangan kekuasaan.

Kasus perampasan juga terjadi pada perusahaan minyak bercadangan sangat besar, Yukos. Milik Mikhail Khodorkovsky. Dengan alasan penyelewengan pajak, Platon Lebedev, CEO perusahaan induk Yukos, ditangkap pada tanggal 2 Juli 2003. Melarikan diri ke Israel. Khodorkovsky ditangkap di Moscow, 25 Oktober 2003 dan dikenai ancaman pidana 9 tahun penjara. Banyak pihak menganggap bahwa kesalahan Khodorkovsky bukan tentang pajak, melainkan karena dia mengungkap data korupsi pemerintahan Putin pada Februari 2003 dan menyumbang Partai Komunis. Rosneft, perusahaan minyak negara akhirnya menguasai Yukos melalui lelang dari pihak ketiga dengan harga sangat murah. Hal. 242-254.

Kasus bisnis yang menjadi sorotan media di Eropa dan Amerika Serikat pada periode kedua pemerintahan Putin, adalah kasus besar perampasan perusahaan manajemen aset di Moscow milik Bill Browder, Hermitage, yang berkantor pusat di London. Ini adalah tindak kriminal aparat pemerintah yang melibatkan instansi pajak, merampas uang setoran pajak Hermitage sebesar $230 juta, milik rakyat Rusia. Berujung pada tewasnya Sergei Magnitsky, konsultan pajak Hermitage di penjara. Setelah mengalami penyiksaan dan tanpa mendapat perawatan kesehatan. Sebagian cerita bisa dibaca dalam bab 10, berjudul INSATIABLE GREED. Sedangkan cerita lengkapnya bisa dibaca dalam buku Red Notice, karya Bill Browder, yang ringkasannya ada dalam blog ini juga, dengan judul yang sama, Red Notice.

Kasus yang cukup viral juga di media Barat saat periode kedua pemerintahan Putin adalah, tewasnya whistleblower, mantan letkol KGB (41 thn), Alexander Litvinenko di London pada tanggal 23 November 2006. Racun adalah penyebab kematian politis yang lazim terjadi dimasa itu. Kisah yang cukup rinci diceritakan dalam bab RULE OF TERROR.

The simple and evident truth is that Putin’s Russia is a country where political rivals and vocal critics are often killed, and at least sometimes the order comes directly from the president’s office.

Istana Putin bernilai miliaran dollar

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana Putin begitu rakusnya memperkaya diri menggunakan kekuasaannya. Korupsi. Skema bisnis diaturnya dengan melibatkan para pengusaha kaya seperti Roman Abramovich hingga berdirinya Istana Putin di Laut Hitam. Sergei Kolesnikov yang pada awal 1990an sebagai operator bisnis Putin, pada akhirnya membongkar kasus korupsi tersebut dan viral dengan judul Putin’s Palace. Tayang di youtube dengan judul A palace for putin. The story of the biggest bribe.

Kekecewaan para pro-demokrasi pada masa periode kedua Putin terus berlanjut hingga Medvedev menjadi Presiden dan Putin sebagai Perdana Menteri. Dan Masha Gessen pun berganti gaya perjuangan demokrasi di tahun 2012  dengan tulisan berikut ini,

Friends comforted me with assurances that telling the West about Russia was a better use of my time than placing my body in a Moscow street protest. Hal. 290.

Ternyata, kekuatan Putin bersama aparatnya memang tak tertandingi hingga saat ini, 2022.

Rekomendasi

Masha Gessen

Dalam bab 2 buku ini yang berjudul THE AUTOBIOGRAPHY OF A THUG, banyak ditemukan Logical Fallacy dari Gessen yang mengganggu, karena memberi kesan subjektivitas tinggi dalam menjelaskan suatu fakta. Misalnya: 

Hal. 41:

I could now believe the FSB had most likely been behind the deadly bombings that shook Russia and helped make Putin its leader.

Hal. 45:

The younger Vladimir Putin’s birth was another miracle, so unlikely that it has given life to the persistent rumor that the Putins adopted him.

Hal. 145

Putin had not made any political pronouncements—and this, he and his spin people seemed to think, was a virtue: he felt that dancing for his votes was beneath him.

Masih ada beberapa kalimat atau penjelasan dengan nada sejenis ditemukan dalam bab ini. Pengalaman buruk terhadap kehidupan sosial masa muda Putin melalui cerita ataupun fakta yang dituliskan dalam buku ini, sepertinya menyebabkan munculnya prasangka buruk penulis diatas. Mestinya fakta yang perlu disampaikan, bukan believe, rumor atau feel (Appeal to Emotion dan Appeal to Authority). Gessen juga bukan berlatar pendidikan psikologi yang punya pengetahuan tentang analisis karakter seseorang. Oleh karenanya, pembaca perlu berhati-hati bila menemukan hal yang sama di bagian lain.

Terlepas adanya banyak fakta sejarah kelam tentang sepak-terjang Putin yang ditunjukkan dalam buku ini, narasi kebencian yang menggiring persepsi pembaca ke ranah abu-abu, juga terasa dalam beberapa kalimat yang dipergunakan penulisnya.

Pada akhirnya, ‘kebencian’ Gessen terhadap Putin memang sangat mewarnai buku ini sehingga bisa disimpulkan bahwa buku ini bukan sepenuhnya Reportase, tapi lebih tepatnya adalah Opini atau bahkan propaganda buruk Gessen tentang Putin. Namun demikian, buku ini masih layak baca untuk mendapatkan fakta sejarah tentang Rusia pasca Uni Soviet dan gaya pemerintahan Putin, namun kehati-hatian pembaca masih sangat diperlukan untuk tidak terperangkap dalam opini penulisnya.

Tautan

Boris Yeltsin

1989 Soviet Union legislative election

Read Full Post »

Pengantar

Red Square

Eropa Timur entah kenapa, selalu menarik untuk dipelajari dan dikunjungi. Sejarahnya, arsitekturnya, bahasanya, orangnya dan cerita-cerita seram terkait kehidupan politiknya, semuanya terasa sexy untuk “dinikmati“. Beruntung sempat melancong ke Budapest, Bratislava, Praha, Warsawa dan Krakow di tahun 2017 dan mengunjungi Moscow serta Petersburg pada awal tahun 2020 sebelum era Covid-19. Sangat terasa bila akhir-akhir ini melihat siaran tv RT (Russian Today channel), sebelum ditutup channelnya. Berita tentang perang Rusia-Ukraina di channel RT sungguh berbeda dibanding saluran tv lainnya. Menarik channel RT ini, karena berbeda dengan keseragaman substansi berita dari channel tv lainnya yang cenderung berkiblat ke Barat, seperti CNBC, CNN, Fox, BBC dll. Sayang, channel RT yang bisa jadi satu-satunya penyeimbang berita dunia justru sempat ditutup. 

Setelah sempat membaca beberapa buku tentang perubahan politik era Gorbachev, Yeltsin dan Putin, seperti karya Masha Gessen yang berjudul The Man Without a Face, kemudian mengulas film serial Netflix The Last Czars tentang revolusi Russia dan buku A Russian Diary karya Anna Politkovskaya, kali ini blog menyajikan tulisan tentang buku berjudul Red Notice karya Bill Browder. Ini tentang kisah nyata penulisnya sebagai pengusaha investasi yang mengalami tindak kesewenang-wenangan kekuasaan pemerintah dan sekaligus kekuasaan oligarki bisnis di Russia paska USSR, bahkan hingga memakan korban tewas karena penyiksaan oleh aparat pemerintah.

Pendahuluan

Buku ini dibuka dengan bab kejadian saat Bill Browder tertahan di imigrasi bandara Sheremetyevo, Moscow, 13 November 2005. ketika kembali dari London. Setelah luntang-lantung di bandara tanpa penjelasan dari pihak imigrasi maupun Kedubes Inggris, selama 15 jam, akhirnya digiring oleh petugas keamanan masuk ke dalam pesawat penerbangan pertama menuju London. Deportasi. 

Browder lahir 1964, warga AS, lulusan MBA dari Standford University. Turunan keluarga pintar. Kakeknya adalah pimpinan Partai Komunis AS dan sempat menjadi kandidat Presiden tahun 1936 dan 1940. Kalah tentunya. Felix, ayahnya, lahir di Rusia dan masuk MIT di usia 16 tahun dan menyandang PhD di universitas Princeton pada bidang matematika di usia 20 tahun. Tahun 1999 Presiden Clinton menganugerahi National Medal of Science. Penghargaan tertinggi untuk bidang matematik. Ibunya, Eva, kelahiran Wina, juga alumni MIT. Kakaknya, Thomas, menyandang gelar PhD dari Universitas Chicago, bidang fisika partikel, di usia 19 tahun.

Pernah bekerja di Bain & Company, Boston, setelah lulus undergraduate dari Chicago University. Dan, Agustus 1989, Boston Consulting Group (BCG) menjadi tempat kerja Browder pertama kalinya setelah lulus dari Standford University. Eropa Timur adalah wilayah kerjanya dan BCG London menjadi kantor pusatnya. 

Cerita sukses

Cerita sukses dimulai pada Oktober 1990, dari proyek restrukturisasi perusahaan bus Autosan, di Sanok, Polandia. Autosan ini menjadi sumber pendapatan utama penduduk Sanok. Runtuhnya komunis menyebabkan banyak bangkrutnya perusahaan milik negara. Autosan yang menghasilkan pendapatan sebesar $160 juta tahun sebelumnya, ditawarkan pemerintah seharga $80 juta saja. Privatisasi yang disarankan BCG dan dengan sebagian subsidi pemerintah, berhasil menaikkan harga saham Autosan. Sukses.

Maret 1991, Browder pindah kerja ke Mergers & Acquisitions Europe atau M&A Europe. Robert Maxwell adalah pemiliknya, yang juga memiliki Daily Mirror. Berbagai negara bekas Uni Soviet telah dikunjungi dan ratusan kesepakatan bisnis juga telah dipelajarinya. Pilihan investasi menjadi tanggungjawabnya. Robert Maxwell ditemukan tewas dilaut. Cek £ 50.000 sebagai Bonus akhir tahun diperoleh Browder. Cek Kosong 😦 Dana Pensiun sebesar £460 juta telah digunakan Robert Maxwell untuk mendongkrak harga saham M&A. Sebanyak 32.000 pensiunan kehilangan simpanannya. Tragis. Maxwell’s was the biggest corporate fraud in British history.

Salomon Brothers yang sedang ditinggalkan karyawannya di pertengahan tahun 1992, karena tersandung masalah hukum, menjadi peluang baginya untuk berkarir. Meskipun bukan perusahaan yang cocok dengan mimpinya. 

My dream was to be an investor – the person deciding what shares to buy – not an investment banker, the guy organizing the sale of shares.

Murmansk Trawler Fleet, perusahaan perikanan di Murmansk, Russia, yang beroperasi 200 mill di sebelah utara lautan Artic. Ada seratusan kapal penangkap ikan buatan Jerman Timur berumur 7 tahun, masing-masing seharga  $ 20 juta, atau total seharga $ 2 miliar, dimiliki perusahaan ini. Mereka menawarkan 51% kepemilikan seharga $ 2.5 juta SAJA, untuk barang senilai $ 1 miliar. 

Di masa transisi dari era komunis ke kapitalis, Russia membagikan Voucher Privitasi untuk penduduknya yang berjumlah 150 juta orang. Harga pasar voucher tersebut adalah $ 20 per voucher. Atau Total = $ 3 milyar. Total voucher bernilai 30% kepemilikan semua perusahaan negara. Artinya, valuasi semua perusahaan negara HANYA bernilai $ 10 milyar. Bayangkan, itu sudah termasuk harga 24% cadangan gas alam dunia ($15T?), 9% cadangan minyak dunia ($15T?), 6,6 % produksi baja dunia. OMG. 

Salomon Brothers invest $25 Juta. Tidak lama kemudian, portofolio sudah naik 5 kalinya menjadi $125 Juta. Untung $100 Juta. Luar biasa. Browder menjadi pahlawan Salomon.

Tahun 1995, Browder keluar dari Salomon Brothers, membangun usaha investasi sendiri, Hermitage Capital. Edmond Safra, papan atas didunia private banking AS, pemilik Republic National Bank, New York, menjadi klien pertama yang bersedia untuk invest sebesar $25 juta. 

Di tahun ini adalah masa persiapan pilpres yang akan diselanggarakan pada tahun 1996. Boris Yeltsin mencalonkan diri lagi dengan kompetitor Gennady Zyuganov. Kondisi sosial masyarakat Russia sangat buruk. Hiperinflasi, unjuk-rasa, kekurangan makanan bahkan kriminal jalanan meningkat. Ada 22 oligarki menguasai 39% ekonomi Russia dan sisanya masyarakat miskin. Di Davos, dalam kesempatan World Economic Forum, Browder bertemu Boris Fyodorov, mantan Menteri Keuangan Russia 1993-1994, serta 3 oligar Boris Berezovsky, Vladimir Gusinsky dan Anatoly Chubais. Yang saat itu belum disadarinya dan ‘Deal with the Devil’ telah terjadi. Para oligar ini akan mengerahkan media dan seluruh sumber dananya dengan balasan mengelola semua aset negara yang belum diprivatisasi. 

Dengan naiknya posisi Yeltsin sebagai kandidat Presiden Russia, menjadi 28%, panic buying terjadi di pasar saham. Dalam tempo 3 minggu, saham Edmond Safra berharga beli $5 juta di Hermitage Capital telah meningkat 40% harganya. 

Hasil perhitungan pilpres putaran ke-2 pada tanggal 3 Juli 1996, dimenangkan Boris Yeltsin dengan selisih 14%. Harga saham melonjak pesat. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, telah meningkat 125%.

Perusahaan minyak Sidanco yang dimiliki oleh milyarder oligarki Vladimir Potanin, yang juga menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri, menjadi target investasi Hermitage berikutnya. Sidanco menawarkan 4% kepemilikannya dengan harga $36.6 juta. Dengan cadangan minyak Sidanco sebesar 6 Milyar barrel, maka harga perusahaan Sidanco adalah $915 Juta. Artinya, 4% kepemilikan atau 240 Juta barrel di dalam tanah itu dijual hanya dengan harga $0.15/barrel saja. Sedangkan harga minyak di pasar global saat itu $20/barrel. Wooww … Hermitage inves 1.2% ķepemilikan Sidanco, atau $11 juta.

British Petroleum (BP) pada Oktober 1997 membeli 10% saham Sidenco (dari 96%) dengan harga premium, 600% dari harga beli Hermitage di tahun sebelumnya. Browder untung besar.

Awal kekacauan

Januari 1998, Sidanco melakukan tindakan skema financial “dilutive share issue” dengan cara menerbitkan lebih banyak saham hingga 3x lipat. Ini berakibat kepemilikan Hermitage 2.4% terdilusi hingga hanya menjadi 0.9%. Atau kehilangan $87 juta. Skandal Sidanco di pasar saham Russia yang mendunia mulai tersebar cepat. Dimulai dari Financial Times, kemudian Reuters, Bloomberg, Wall Street Journal, Moscow Times dan media cetak dunia lainnya. Akhirnya, Russian Federal Securities and Exchange Commission (FSEC) membatalkan tindakan sepihak Sidanco. Awal kekacauan bisnis investasi paska Uni Soviet sedang dimulai.

Hermitage Fund menduduki peringkat the best-performing fund in the world in 1997, nilainya naik 235% di tahun 1997 dan 718% sejak awal investasi. Assetnya sendiri meningkat dari $25 Juta menjadi lebih dari $1 Milyar. 

Kondisi ekonomi Russia yang buruk sudah berlangsung beberapa tahun. Untuk bertahan, pemerintah melakukan gali lubang – tutup lubang dengan mengeluarkan Surat Hutang berjangka 3 bulan senilai $40 milyar. Setiap 3 bulan, pemerintah menjual Surat Hutang tersebut untuk menutup hutang $40 milyar tsb. Namun, bunga hutang 30% terus menumpuk. 

Kenaikan suku bunga obligasi dari 30% menjadi 40% untuk menarik investor, justru menyebabkan ketidakpercayaan publik. Pasar saham Russia merosot 33% di bulan Mei 1998, atau total 50% dari awal tahun. Juli 1998, suku bunga obligasi pemerintah mencapai 120%. Di bulan Juli itu juga, akhirnya IMF dan Bank Dunia memberi paket pinjaman $22.6 milyar. Tahap pertama sudah digelontorkan $4.8 milyar. Kondisi yang cukup memperbaiki pasar saham. Nilai investasi Hermitage kembali rebound 22%. Lumayan.

Paket bail-out ternyata disalah-gunakan oleh para oligark. Dollar senilai $6.5 milyar digunakan untuk menukar uang rubbel mereka. Kondisi ekonomi tidak berubah. Agustus 1998, nilai mata uang Rouble merosot tajam, 75% turun. Hermitage kehilangan $900 juta, atau turun 90% di pasar saham. Demikian juga obligasi juga merosot habis. Investor Hermitage, Edmond Safra, terpaksa menjual bank miliknya Republic National Bank ke HSBC, karena kalah diperdagangan obligasi pemerintah Russia.

Kehilangan

Januari 2020, Browder masih bertahan di Moscow, dengan alasan: I was going to make my clients’ money back no matter what it took. Investor dalam posisi bagus, khususnya di bidang oil and gas Russia. Perusahaan-perusahaan tersebut menjual minyak dan gas dalam dollar AS namun membayar biaya dalam Rouble. Penjualan tidak turun, tapi biaya turun 75% karena kurs Rouble yang nilainya merosot. Keuntungan dari perusahaan-perusahaan tersebut di dalam Hermitage diduga meningkat 100% – 700%, karena devaluasi. 

Hermitage telah kehilangan 90% nilai investasinya. Browder perlu mengamankan sisanya, yang menurutnya juga menjadi target pencurian selanjutnya. Fenomena bisnis aneh begini sering terjadi di Russia saat itu. Asset negara banyak dijual murah oleh pengurusnya. Mengapa? 

Gazprom, perusahaan minyak dan gas Russia bernilai $12 milyar (nilai oil company kelas menengah di AS) dengan cadangan 8x lebih besar daripada Exxon Mobil atau 12 x lebih besar daripada British Petroleum, dijual dengan diskon 99.7% pada tahun 2000. Kok bisa..?? Pada umumnya investor menduga bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah dicuri oleh pengurusnya sendiri.

Kompetitor Gazprom mengkonfirmasi adanya pencurian oleh manajemennya sendiri. Tarko Saley, salah satu blok gas Gazprom bercadangan 400 milyar kubik meter, setara dengan 2.7 milyar barrel minyak, senilai $9 milyar telah dikeluarkan dari kepemilikan Gazprom dan dijual oleh manajemen. Ternyata, manajemen Gazprom telah menjual tujuh blok gas utama antara tahun 1996 dan 1999 dengan harga yang sangat murah. Asset Gazprom telah dijadikan bancakan oleh manajemen dan keluarganya. Namun, banyak yang tidak mengetahui bahwa 90% cadangan gas masih dimilikinya. Tidak Dicuri. Aksi korporasi Gazprom tersebut dinyatakan wajar oleh PriceWaterHouse, sebagai auditornya. 

“This accounting firm was making millions of dollars a year off Gazprom as their auditor, so any indictment of Gazprom would have been an indictment of themselves. Sure enough, they also exonerated Gazprom’s actions”.

Fenomena Gazprom ini banyak terjadi di era runtuhnya Uni Soviet dan menambah dalamnya jurang antara kaya-miskin. Di tahun 2000, orang terkaya di Russia menjadi 250.000 kali lebih kaya dari si miskin. 

Browder menyebarkan informasi tentang skandal Gazprom ke berbagai pihak, dan media masa menggelorakannya. Hal ini berujung pada Presiden Putin yang dalam Rapat Tahunan Gazprom 30 Juni 2001, mengganti CEOnya. Esok harinya, saham Gazprom naik 134%. Tahun 2005, investasi Hermitage telah melambung ratusan kalinya sejak awal investasi.

Musuh bersama

Vladimir Putin

Ketika Vladimir Putin menjabat sebagai Presiden Federal Russia, Januari 2000, kekuasaan sedang berada di tangan para oligar, kelompok kriminal, dan para Gubernur. Untuk itu, Presiden perlu mulai berstrategi untuk mengambil alih kekuasaan. Browder yang saat itu gencar membongkar skandal korupsi korporasi, berada di “jalan yang sama” dengan Putin. Your enemy’s enemy is your friend. Gazprom, EUS (perusahaan listrik negara), Sberbank (bank simpanan nasional) menjadi isu korupsi nasional yang diviralkan oleh Browder dan ditindaklanjuti oleh Putin dengan mengamankan asetnya. 

Akhir tahun 2003, nilai investasi Hermitage telah naik lebih dari 1.200% sejak titik terendah, dan sudah menutup kerugian sejak 1998.

Oktober 2003, CEO Yukos, perusahaan minyak besar, Mikhail Khodorkovsky, ditahan pemerintah. Pemerintah Putin mengambil alih 36% kepemilikan Yukos. Preseden buruk dalam dunia pasar finansial. Menjadi isu global. Saham Yukos turun 27.7% dan pasar saham turun 16.5%. Publik berspekulasi bahwa Khodorkovsky telah melewati batas kelayakan politis yang digariskan Putin. ‘Stay out of politics, and you can keep your ill-gotten gains’. Dalam beberapa minggu Putin menangkap para pengurus partai-partai politik yang mendapat kucuran uang darinya. 

Juni 2004, Khodorkovsky dan partner bisnisnya, Platon Lebedev, dihukum 9 tahun penjara dengan tuduhan penipuan, pencurian dan pengingkaran pajak. Apakah pembersihan musuh bersama ini memang untuk perbaikan Russia?

Berpisah jalan

Setelah kasus Khodorkovsky, para oligark mulai bernegosiasi dengan Putin untuk keamanan dan kelancaran bisnisnya. Dan, tidak ada lagi musuh bersama dengan Bill Browder. ‘ … my interests and Putin’s were no longer aligned. He had made the oligarchs his ‘bitches’, consolidated his power and, by many estimates, become the richest man in the world’. Selanjutnya, Browder bukan lagi teman seperjalanan, tapi justru menjadi target ekonomi Putin.

Bandara Sheremetyevo-2

Sekembalinya ke Moscow dari London, 13 November 2005, Browder diberhentikan di VIP Lounge bandara Sheremetyevo-2. Diabaikan selama 15 jam dan akhirnya diterbangkan kembali ke London. Deportasi. Isu mendunia. Informasi yang diperoleh Kedutaan Besar Inggris di Moscow, 

‘the decision to close entry to the Russian Federation to a subject of Great Britain William Browder has been made by competent authorities in accordance with Section One, Article Twenty-seven, of the federal law.’

‘… Article Twenty-seven allows the Russian government to ban people whom they deem a threat to national security.’

Vadim, pimpinan penelitian di Hermitage, 27 tahun PhD dari universitas kenamaan di Moscow, terpaksa harus melarikan-diri dari Moscow ke London, karena bisa menjadi target penangkapan. 

Awal tahun 2006, sepuluh orang terkait dengan kasus Yukos telah dipenjara di Russia, belasan lainnya kabur dari Russia dan asset puluhan miliar dollar telah dibekukan oleh otoritas Russia. Browder berusaha mempertahankan Hermitage untuk tidak mengalami hal serupa. Dalam satu bulan, Browder sudah mengevakuasi tim dan keluarganya ke London. Namun masih susah untuk memindahkan assetnya. Bila broker dan spekulan mengetahui Hermitage akan menjual saham Gazprom, maka mereka akan menjualnya lebih dulu. Front-running. Dan harga bisa merosot tajam. Dengan cara mencicil penjualan saham hingga beberapa kali, akhirnya semua asset bernilai miliaran dollar tersebut bisa habis terjual habis dan memindahkan seluruh uangnya keluar dari Russia. Tanpa hambatan.

Deportasi menyebabkan kekhawatiran investor terhadap assetnya di Russia. Bulan Mei 2006, Hermitage kehilangan lebih dari 20% asset karenanya. Belum pernah terjadi sebelumnya. 

Dalam kesempatan press conference Pertemuan G8 di St. Petersburg 15 Juli 2006, wartawan Inggris dari Moscow Times, Catherine Belton, bertanya kepada Presiden Putin: 

‘Bill Browder was recently denied a Russian entry visa. Many investors and Western diplomats are concerned about this and don’t understand why this happened. Can you explain why he was denied an entry visa without any explanation?’

Putin menjawabnya:

Putin frowned and replied tartly, ‘Well, to be honest I don’t know for what reasons any particular individual may be denied entry into the Russian Federation. I imagine that man may have violated our country’s laws.’

Bisa diduga akibat selanjutnya. Agustus 2006, 215 klien Hermitage menarik dananya hingga total asset turun 30%. Browder cepat bertindak untuk menyelamatkan bisnisnya. Hermitage Global dibentuk tahun 2006 untuk investasi di Timur Jauh, Amerika Latin dan Turki. Prospek baru, setelah Russia tidak lagi aman untuk investasi.

Semena-mena

Letkol. Artem Kuznetsov

Letkol. Artem Kuznetsov dari Kementerian Dalam Negeri, yang seharusnya menangani kasus kriminal, bukan urusan visa, mengambil alih kasus keimigrasian Browder dan mengundangnya melalui surat yang diterima pada 19 Februari 2007, untuk bertemu di Moscow. Browder menolak. Kuznetsov selanjutnya menjadi tokoh sentral dalam representasi tindak kesewenangan pemerintah Rusia dalam kasus ini.

Juni 2007, 25 polisi bersama Artem Kuznetsov, menggeledah kantor Hermitage di Moscow. Mengambil semua dokumen. Sejumlah polisi yang sama juga menggeledah dan mengambil dokumen, komputer dan perlengkapan resmi perusahaan dari kantor Kameya, perusahaan Rusia yang menjadi klien Hermitage di Moscow, dengan menggunakan Surat Penggeledahan yang tidak valid. Maxim, pengacara muda di perusahaan Kameya dianiaya polisi karena mencoba mempertahankan kantor dari penggeledahan yang menurutnya dilakukan secara tidak legal. Dilarikan ke rumahsakit

Major Pavel Karpov

Menurut Browder, tidak ada file yang relevan atau rahasia, dan aset yang diambil oleh polisi. Segala sesuatu yang penting telah dipindahkan dengan aman dari Russia satu tahun sebelumnya. Namun demikian, Major. Pavel Karpov (30 thn) sebagai pimpinan penyidikan kepolisian tetap tidak bersedia menunjukkan file kasus yang dituduhkan, yang secara hukum Rusia seharusnya pengacara tersangka berhak melihatnya. Aneh.

Selanjutnya Letkol. Artem Kuznetsov dan Major. Pavel Karpov, diduga menjadi tokoh sentral dalam kisah tragis pencurian perusahaan ini. 

Pencurian perusahaan

Browder mengangkat Sergei Magnitsky (35 thn), ahli hukum pajak, sebagai pengacara Ivan Cherkasov, petugas pajak Kameya. Ivan dituduh melakukan tindak kriminal karena kurang membayar pajak dividen perusahaan sebesar $44 juta. Setelah mempelajari semua bukti dan dokumen pajak, Sergei berkesimpulan bahwa tidak ada kesalahan sedikitpun yang telah dilakukan oleh Ivan. Bahkan, pada 13 September 2007, Sergei mendapat informasi dari kantor pajak Moscow bahwa Kameya bahkan telah melakukan kelebihan pembayaran pajak sebesar $140.000.

Kuznetsov dan timnya juga memeriksa bank Credit Suisse, HSBC, Citibank dan ING untuk mencari jejak investasi Hermitage. Tidak ditemukan apapun.

Pada 15 Oktober 2007, kantor Hermitage London menerima informasi bahwa Pengadilan di Petersburg menyarakan ada kasus hukum di anak perusahaan Hermitage di Russia, Mahaon. Pengadilan ingin mengetahui status asset perusahaan. Semua kepemilikan saham di Rusia sudah dijual. Menurut pengadilan, perusahaan tsb masih punya kewajiban membayar hutang sebesar $71 juta. Membingungkan. 

Menurut Ivan, perusahaan Mahaon telah dicuri. Mahaon telah berganti nama menjadi Pluton, dengan semua kelengkapan legalitas perusahaan dikuasainya. Pemilik barunya adalah Viktor Markelov. Modus yang mulai lazim terjadi paska Uni Soviet. Dalam kasus Hermitage, ini terjadi ketika semua dokumen perusahaan digeledah dan dirampas oleh aparat pemerintah, sehingga dokumen fisik legalitas perusahaan tidak lagi dikuasai pemiliknya. Kejahatan terjadi dalam 2 modus, yaitu, ketika kepemilikan perusahaan dialih-namakan, dipindahkan lokasinya ke kota yang pengadilan dwn otoritas pajaknya lebih ramah terhadap para kriminal tersebut. Kemudian:

  1. Membuat Surat Pengakuan Utang (back dated) terhadap perusahaan cangkang kosong, yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Pengadilan berharap bisa merampas asset Hermitage untuk dibayarkan ke perusahaan cangkang tersebut, yang dimiliki para pencuri.
  2. Bekerjasama dengan otoritas pajak setempat, supaya bisa mengembalikan pembayaran pajak (tax return) ke perusahaan yang dicuri tersebut

Tindak kejahatan finansial ini melibatkan oknum kepolisian untuk membuat tuduhan kriminal palsu, oknum pengadilan untuk membuat Surat Penyitaan dan organisasi kriminal yang harus meminggirkan para penghambatnya. Tindakan terorganisasi yang dikenal dengan sebutan Russian raider attack.

Berbagai hal dilakukan Hermitage melalui pengacaranya untuk mempertahankan posisi legalnya di Rusia namun selalu menemui jalan buntu. Kekuasaan mengalahkannya. Komplain Hermitage tentang pencurian perusahaan dan pengambilan paksa dokumen oleh aparat pemerintah yang dipimpin oleh Letkol. Artem Kuznetsov, telah dilakukannya. Dan Pavel Karpov tetap menyimpan berkas kasusnya. Demikian juga dengan kasus Ivan, pengacara Hermitage yang dianggap bersalah karena tuduhan palsu penggelapan pajak. Tetap tidak ditunjukkan berkas kasusnya.

Total asset yang dikenai pajak dari 3 anak perusahaan Hermitage, menurut pengadilan St Petersburg terhadap kewajiban kena pajak Mahaon adalah sebesar $71 juta. Persis sesuai dengan keuntungan Mahaon di tahun 2006, $71 juta.  Penilaian terhadap Parfenion di Kazan adalah sebesar $ 581 juta, juga persis sama dengan keuntungan tahun 2006.  Demikian juga dengan perusahaan curian ketiga di Moskow, Rilend. Total, para konspirator telah membuat penilaian kena pajak sebesar $973 juta, yang persis sama dengan keuntungan riil perusahaan-perusahaan tersebut. Total tax-refund yang masuk ke dalam rekening tiga perusahaan curian tersebut, sebesar $230 Juta. Persis sama dengan total pajak yang telah dibayarkan oleh perusahaan aslinya. Pencurian uang pajak masyarakat Russia.

Dengan harapan masih ada pihak berwenang yang berkepentingan dengan bangsanya, Juli 2008, Browder mengajukan laporan ke berbagai otoritas hukum tentang penyelewengan tax-refund yang didukung aparat pemerintah. Selain itu, Browder juga menyebar-luaskan berita ke berbagai media Rusia dan internasional, tentang penggerebekan, pencurian perusahaan, keputusan pengadilan yang salah, keterlibatan mantan narapidana untuk menguasai perusahaan, keterlibatan polisi dan, yang paling penting, pencurian $230 juta uang pembayar pajak.

Perburuan

Tiga pengacara Hermitage masih berada di Moscow, Eduard, Vladimir dan Sergei Magnitsky. Surat panggilan dari Kementerian Dalam Negeri di Kazan sudah dilayangkan kepada Eduard dan Vladimir. Hermitage London minta keduanya supaya segera keluar dari Rusia, karena reputasi kepolisian Kazan yang terkenal kejam. Keduanya lolos setelah melalui perjuangan berat dalam proses pelariannya. Berkumpul di London. 

Seperti halnya Eduard dan Vladimir yang sebelumnya selalu merasa aman karena legally tidak bersalah, demikian juga dengan Sergei Magnitsky yang bersikukuh untuk tetap berada di Rusia, meskipun kantor London memaksanya untuk segera kabur. Idealismenya yang tinggi terhadap kepentingan bangsanya, membuat Sergei marah, bahkan mengajukan laporan beserta bukti-bukti ke Russian State Investigative Committee terkait pencurian uang pajak dan penipuan terstruktur aparat pemerintah yang melibatkan Kuznetsov dan Karpov.

Pagi 24 November 2008, Sergei dijemput oleh 3 orang bawahan Lieut Col. Artem Kuznetsov di apartemennya. Pamit pada istri dan kedua anaknya dengan janji pulang secepatnya. Tak terpenuhi janjinya. 

FSB (KGB di era Uni Soviet) bertanggungjawab terhadap penahanan Sergei. Tuduhan pengingkaran pajak. Namun maksud sesungguhnya adalah supaya Sergei menarik kesaksiannya terkait keterlibatan Kuznetsov dan Karpov. Sergei kukuh dengan sikapnya, dan tetap menyatakan kebenaran kesaksiannya, ‘I will expose those officers who have committed the crimes.’ Selanjutnya, cerita kelam yang terjadi pada Sergei di penjara, dengan penyiksaan dan larangan pelayanan kesehatan. Brutal.

Dukungan di Eropa dan AS

Pembelaan terhadap Sergei tidak mungkin lagi dilakukan dari dalam Rusia karena kekuasaan yang begitu otoriter. Penggalangan dukungan mulai dilakukan di Eropa dan AS. Lembaga-lembaga internasional dibidang Hukum dan Hak Asasi, menjadi target dukungan. Misalnya, Konsul Eropa yang menangani Hak Asasi internasional, International Bar Association dan UK Law Society. Masing-masing organisasi tersebut mengirim surat ke Presiden Medvedev dan Jaksa Agung Yuri Chaika, supaya membebaskan Sergei Magnitsky. Gagal.

Di Washington, Browder perentasi di depan US Helsinki Commission, badan independen yang memonitor isu Hak Asasi di negara-negara bekas Uni Soviet. Dan penyebaran artikel tentang kasus Sergei terus dilakukan melalui media cetak papan atas di AS. Media sosial Youtube pun mulai Browder gunakan untuk memviralkan kasus tersebut. 

Musim panas 2009, di tahanan Matrosskaya Tishina, Sergei didiagnosa menderita penyakit pancreatitis, gallstones dan cholecystitis. Alih-alih dilakukan operasi seperti  disarankan dokter, justru dipindah ke tahanan yang lebih buruk, Butyrka. 

“I’m in unbearable pain. I’ve asked over and over, but no doctor has examined me since I arrived last month”, keluh Sergei.

Sergei dan pengacaranya sudah mengirim surat resmi hingga 9 kali ke berbagai otoritas hukum Russia untuk mendapatkan tindakan medis berkaitan dengan penyakitnya yang samakin parah. Tak satupun mengijinkannya.

Di sini seorang pria yang tidak bersalah, Sergei Magnitsky dicabut komunikasinya dengan keluarganya, ditipu oleh hukum, ditolak oleh birokrasi, disiksa di dalam tembok penjara, menderita sakit parah.  Bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan ini, ketika dia memiliki alasan terbaik untuk memberikan apa yang diinginkan para penyiksanya, dia tetap tidak melakukannya.  Meskipun kehilangan kebebasannya, kesehatannya, kewarasannya, dan bahkan mungkin hidupnya, dia tetap tidak  berkompromi untuk menggadaikan idealismenya. Tidak menyerah.

Dalam buku hariannya yang ditulisnya di penjara, Sergei menulis, “Keeping me in detention, has nothing to do with the lawful purpose of detention. It is a punishment, imposed merely for the fact that I defended the interests of my client and the interests of the Russian state”.

Senin, 16 November 2009, Sergei Magnitsky (37 tahun) yang telah dipenjara selama 358 hari berakhir tewas karena siksaan di penjara Matrosskaya Tishina. Dia dibunuh karena idealismenya.  Dia dibunuh karena percaya pada hukum.  Dia dibunuh karena mencintai rakyatnya, dan dia dibunuh karena mencintai Rusia. 

Pada 28 Desember 2009, Moscow Public Oversight Commission (MPOC), organisasi non-pemerintah yang mandatnya adalah untuk menyelidiki kebrutalan dan kematian yang mencurigakan di penjara-penjara Moskow, mengeluarkan pernyataan bahwa Sergei ‘secara sistematis telah ditolak perawatan medisnya’;  bahwa dia mengalami siksaan fisik dan psikologis’;  bahwa ‘hak hidupnya telah dilanggar oleh negara’;  bahwa ‘penyelidik, jaksa dan hakim turut berperan dalam kondisinya yang menyiksa’;  dan akhirnya, bahwa ‘setelah kematiannya, pejabat negara telah berbohong dan menyembunyikan kebenaran tentang penyiksaan dan keadaan kematiannya’.

Proclamation 7750

Kampanye untuk mendapat keadilan terhadap tindak kriminal penipuan, pencurian, korupsi, pelanggaran HAM, bahkan pembunuhan, yang dilakukan oleh aparat pemerintah Rusia, terus dilakukan Browder melalui berbagai media, lembaga resmi maupun independen di Eropa dan AS. Pemerintah Inggris tempat Hermitage berada, sayangnya justru tidak bersedia melibatkan diri.

Pemerintahan Bush pada tahun 2004 membuat peraturan yang disebut  Proclamation 7750, yang mengijinkan pemerintah AS untuk tidak memberikan Visa bagi para koruptor Rusia. Browder berjuang ke berbagai lembaga pemerintah AS, untuk meminta supaya Proclamation 7750 bisa diimplementasikan sebagai ganjaran terhadap tindak korupsi para aparat pemerintah Rusia yang telah melakukan pengambilan uang pajak masyarakat Rusia sebesar $230 juta,  dan pembunuhan terhadap whistleblower. Selanjutnya upaya implementasi Proclamation 7750 dikenal sebagai Magnitsky Act.

Melalui bantuan Senator Cardin, melayanglah surat ditujukan ke Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, yang dalam kesimpulannya tertulis:

I urge you to immediately cancel and permanently withdraw the US visa privileges of all those involved in this crime, along with their dependents and family members. Doing so will provide some measure of justice for the late Mr Magnitsky and his surviving family and will send an important message to corrupt officials in Russia and elsewhere that the US is serious about combating foreign corruption and the harm it does.

Terlampir di dalamnya adalah 60 nama dan profil aparat pemerintah Rusia yang terlibat dalam penyelewengan pajak dan pembunuhan Sergei Magnitsky. Tentu nama Kuznetsov dan Karpov juga ada di dalamnya. Senator Cardin berharap bahwa Visa masuk ke AS tidak pernah diberikan kepada 60 orang tersebut secara permanen.

Sebelum ada respon dari Menteri Luar Negeri, Browder mendapat kesempatan audiensi di depan Komisi HAM DPR, dipimpin oleh Jim McGovern. Dalam kesempatan tersebut, Senator Cardin dari Demokrat memberi pendapat bahwa: 

‘Sergei Magnitsky is one individual case, but there are thousands upon thousands of other cases just like his. And the people who do these things will continue doing them unless there is some way of challenging them and showing them there is no impunity.’

‘I think people who commit murder should not have the right to travel here and invest in businesses here. There should be a consequence. So one of the things I would like to do, we will not only send a letter to Hillary Clinton, but I think we should introduce legislation and put those sixty people’s names down there and move it to the committee and make a formal recommendation from Congress, pass it on the floor, saying to the administration, this is a consequence. You have got to do this, because if you don’t, nothing is going to happen. You have my pledge that we will do that.’

Senator McCain dari Republik, dalam pertemuannya dengan Browder, memberikan janjinya:

‘Chris (assistant), please coordinate with Senator Cardin right away to make sure you get me on that Bill.’

‘You’ve been a real friend to Sergei. Not many people would do what you’re doing, and I deeply respect that. I will do everything in my power to help you get justice for Sergei. God bless you.’

Setelah melalui berbagai rintangan, termasuk upaya politik senator John Kerry menggagalkannya, pada 16 November 2012 Magnitsky Act berhasil disetujui DPR AS melalui voting. 365 – 43. Perjuangan telah membuahkan hasil.

Rekomendasi

Buku yang sangat layak dibaca untuk mengetahui kondisi bisnis dan politik di pasca Uni Soviet. Di dalam buku ini akan banyak ditemukan cerita persaingan permainan kekuasaan oligarki dalam mengatur bisnis. Pegawai pemerintah bisa sangat kaya raya, mempunyai banyak asset mahal di luar negeri. Bagaimana mendapatkannya? Kejam dan brutal. Detail cerita ada di dalamnya. Pemimpin Rusia saat ini masih sama dengan era tersebut, Vladimir Putin. Apakah masih sama juga permainannya? Entahlah …

Tautan

Killer Business in Russia

Major Russian Oil Firms Face Investigation of Abuse

Russia Annuls Sidanco Issue, Heartening Minority Investors

The Washington Post: ‘Raiding’ Underlines Russian Legal Dysfunction

Stop the Untouchables. Justice for Sergei Magnitsky.

Browder’s Youtube Channel: RussianUntouchables

Author Bill Browder on his book Red Notice

Hermitage Reveals Russian Police Fraud

Read Full Post »