Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Huawei’

MAO AND MARKETS. The Communist Roots of Chinese Enterprise

Dalam pidatonya pada perayaan 100 tahun Partai Komunis China (China Communist Party) tanggal 1 Juli 2021 di Beijing, presiden Xi Jinping mengutip pernyataan Mao Zedong,

“Only socialism can save China, only socialism can develop China.” 

Presiden Joe Biden pernah menampik target China kedepan menjadi negara terdepan di dunia, negara terkaya di dunia dan negara terkuat di dunia, 

“That’s not going to happen on my watch because the United States is going to continue to grow and expand.”

Sayang sekali, menurut Marquis, pengetahuan Barat tentang China dan khususnya Komunis, sangat terbatas.

Buku “MAO AND MARKETS” yang masuk dalam Financial Times “Best Book of 2022” ini adalah karya Christopher Marquis (pengajar manajemen China di Cambridge university dan Harvard university) dan Kunyuan Qiao (Georgetown McDonough School of Business), yang diterbitkan oleh Yale University Press books, tahun 2022. 

Setelah membaca beberapa artikel dan buku tentang pesatnya kemajuan ekonomi China, yang diantaranya ada dalam blog ini, yaitu Pidato Xi Jinping, 10 prinsip utama dalam membangun bisnis di China, Banking of Beijing, Has China won?, The New China Playbook, maka Mao and Markets, adalah buku yang memberi perspektif berbeda. Sudut pandang sejarah China menjadi acuan utama pembahasan keunggulan ekonominya. Sangat menarik.

Sejarah dimaksud mulai dari pemerintahan Mao Zedong dengan pembentukan Partai Komunis China (China Communist Party/CCP), jargon Lompatan Jauh Kedepan (the Great Leap Forward), Revolusi Kebudayaan (Culture Revolution) dan the Third Front Construction. Kemudian berlanjut dengan kepemimpinan Deng Xiaoping hingga masa kini dibawah Xi Jinping.

Disajikan dalam 4 bagian besar dengan 12 bab di dalamnya, buku ini menjelaskan bayak hal tentang sejarah ekonomi politik China sejak Mao Zedong, Deng Xiaoping hingga Xi Jinping. Beberapa catatan kecil bisa disampaikan sbb:

Sebagai pembuka dari buku ini, Marquis menyajikan data, bahwa Rerata Pertumbuhan GDP China antara 1978 (ketika China memulai reformasi ekonomi) hingga 2019 adalah 9,45%. Sedangkan pertumbuhan GDP per kapita naik pesat 60 kali lipat. Bahkan di masa pandemi Covid-19 dan perang dagang dengan AS, China masih mampu tumbuh 2,3% di tahun 2020. Dan mencapai pertumbuhan 8,1% di tahun 2021. Tertinggi sejak 2011 dan mencapai surplus perdagangan tertinggi sebesar $687,5 milyar. Luar biasa.

Banyak ahli strategi ekonomi Barat, termasuk White House berpendapat bahwa Xi Jinping akan melakukan reformasi ekonomi melalui privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN China ketika mulai menjabat sebagai Presiden 2012. Mengejutkan, Xi justru dianggap berbalik arah, menuju era sebelum tahun 2000an ketika Mao Zedong berkuasa.

Dalam perayaan 100 tahun PKC tahun 2021, Xi Jinping kembali menegaskan, 

“any attempt to separate . . . the CCP from the Chinese people will never succeed!”

Perayaan 100 tahun PKC

Banyak pihak berprasangka bahwa Komunisme di China akan runtuh seperti halnya Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur, tiga dekade yang lalu. Para pengamat tersebut terlalu berharap bahwa kekuatan liberalisasi pasar dan ekonomi AS-Eropa Barat akan sangat mempengaruhi kebijakan domestik dan luar negeri China. 

Marquis berpendapat bahwa Barat atau AS khususnya, salah mencermati  ekonomi-politik China. Tak cukup pengetahuan mengantisipasi perubahan disana, menurutnya. Xi ternyata tetap berkomitmen untuk membangun sistem ekonomi-politik China yang independen dari pengaruh Barat. Untuk itu Marquis menyarankan supaya White House mulai mengevaluasi pemahamannya tentang China dengan lebih akurat dan obyektif. Bukan hanya didasari atas politik dan harapan semu. Untuk itu, pemahaman perlu lebih dalam mengacu pada sejarah dan ideologi China.

MAO ZEDONG DAN PKC (CCP)

Mao Zedong adalah pendiri RRC yang sangat digdaya, meninggalkan jejak abadi bagi individu, masyarakat dan berbagai institusi. Bahkan hingga kini sangat berpengaruh terhadap pembentukan jatidiri ekonomi-politik China. Dan Xi, berulang kali mengingatkan,

“To understand China today, one must learn about the foundation of the CCP.”

Setelah berlangsung lama berinteraksi dengan China, Barat berasumsi bahwa dengan liberalisasi ekonomi, akan berujung pada demokratisasi politik. Oleh karenanya, AS membuka jalan bagi China untuk masuk ke dalam WTO 2001, dengan asumsi bahwa semakin terintegrasi dengan ekonomi global makan akan semakin cepat demokratisasi terjadi secara natural. 

“By joining the WTO,” President Clinton declared in 2000, “China is not simply agreeing to import more of our products, it is agreeing to import one of democracy’s most cherished values: economic freedom. When individuals have the power . . . to realize their dreams, they will demand a greater say.”

Salah. Bahkan internet yang semula diharapkan Barat sebagai media demokratisasi bottom-up, justru sebaliknya menjadi alat yang efektif bagi China untuk kendalikan rakyatnya secara top-down. Termasuk keberhasilan penggunaan internet sebagai alat kontrol dan monitor penanggulangan penyebaran virus Covid-19 melalui lockdown,.

Banyak bangsa di dunia juga keliru ketika beranggapan bahwa aktivitas ekonomi di China hanya disokong oleh perusahaan milik negara atau BUMN (state own company). Perlu diketahui bahwa sejak 2020, mesin utama pertumbuhan ekonomi China adalah perusahaan-perusahaan swasta (private companies).

Statistik menunjukkan bahwa 20 juta perusahaan di China adalah perusahaan swasta, yang dijalankan lebih dari 15 juta pengusaha. Dan perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan lebih dari 50% pendapatan pajak (tax revenue), 60% GDP, 70% inovasi dan 80% tenagakerja. Bahkan banyak dari para pengusaha tersebut telah masuk dalam kategori konglomerat dunia.

Buku ini menjelaskan bahwa meskipun China melakukan “blending” antara politik pemerintahan komunis dengan pasar kapitalistik, namun tidak berarti terjadi dikotomi komunis-kapitalis seperti yang dibayangkan oleh Marx-Angels, “entrepreneurs and capitalists in general as class enemies”.

HUAWEI & “BLENDING” KOMUNISME-KAPITALISME

Banyak contoh kesuksesan praktek “blending” komunisme-kapitalisme ini disajikan Marquis dalam buku ini. Salah satunya tentang Ren Zhengfei, pendiri perusahaan teknologi raksasa Huawei. Lahir dari keluarga miskin di provinsi Guizhou, 1944. Kedua orangtuanya adalah guru. Anak tertua dari tujuh bersaudara. Setiap bulan, orangtuanya harus meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Khususnya dimasa kelaparan akut (the great famine) akibat Revolusi Kebudayaan (the Cultural Revolution) dan situasi politik yang menakutkan, 1959-1961, hingga memakan korban 30 juta orang. Kesulitan hidup saat itu, menjadi pengalaman untuk bisa hidup sederhana, sehingga membentuknya, juga keluarganya, tumbuh hidup bersahaja.

Lulus sebagai insinyur dari universitas Chongqing. Tahun 1974 Ren masuk militer. Banyak mendapat penghargaan karena penguasaannya dalam ideologi Maoisme, khususnya tentang Quotations of Chairman Mao dan Selected Works of Mao Zedong. Di era itu, “being “red” (that is, loyal to Mao and proficient in his ideas) was more important than being expert in one’s profession. Tahun 1978 bergabung dengan PKC (CCP) dan pensiun dari militer 1983.

Tahun 1987, Ren mendirikan Huawei, dengan modal awal 21.000 RMB ($5.680). Menerima berbagai penghargaan nasional dalam teknologi komunikasi. Tahun 1993 menjadi kaya karena menjual network switch. Mendominasi pasar telekomunikasi China.

Banyak pimpinan politik PKC, termasuk Wakil Presiden Hu Jintao, membawanya dan memperkenalkan bisnisnya ke berbagai negara lain. Saat ini, Huawei menjadi salah satu perusahaan teknologi yang inovatif di dunia.

In 2021 it ranked fifth worldwide in patent holding, and it has the second-largest research and development outlay ($20 billion). It earned the equivalent of $140 billion in revenue in 2020 and $99.43 billion in 2021 despite sanctions initiated by former US president Trump.

Dedikasi komunisme yang tinggi sehingga nilai-nilai PKC memberikan semangat terhadap Huawei. Menurut Ren,

“I would still keep my word when joining the CCP as the Communist Manifesto is to serve all human beings . . . and Huawei was getting at this. . . . Our effort was effective and thus fulfilled the mission of the CCP.”

Bahkan bila terjadi konflik antara PKC dan Huawei, maka Ren akan,

“choose the CCP whose interest is to serve the people and all human beings, and he could not betray the principles of serving all human beings.”

Ren berjanji,

“be loyal to CCP, fight for communism for his whole life, sacrifice himself for the interest of people and the CCP, and never betray the CCP.” 

Seiring tumbuhnya Huawei, Ren semakin sering menekankan nilai-nilai Mao kedalam manajemen perusahaan hingga menjadi budaya kerja,

“Maoism is the guiding principle (and soul) of Huawei,” and Huawei’s “management philosophy and strategy are commercial applications of Maoism.”

Pernyataan Ren yang menarik adalah bahwa “negara asing hanya butuh mengambil rejeki dari China. Dan membeli teknologi darinya justru tidak akan membuat China menjadi independen”. Oleh karenanya, Ren meminta Huawei untuk membelanjakan sedikitnya 10% dari Pendapatan (Sales Revenue) untuk keperluan Research & Development.

Ren dan banyak pengusaha China juga menerapkan Strategi Militer Mao yang dikenal dengan “surrounding cities from the countryside” (dari desa kepung kota). Yaitu, revolusi dimulai dari pinggiran (desa) untuk mendapat dukungan dari para Petani, dan setelah kuat akan bergerak ke dalam kota dengan memobilisasi kaum pekerja. 

Tahun 1992, Huawei menghadapi kompetitor tangguh Alcatel, Lucent, dan Nortel Networks. Huawei melawan dengan mulai menyasar target pasar berpendapatan rendah dan berada di area terpencil. Penjualan bergerak dari desa ke desa di wilayah belum berkembang. Secara perlahan mulai masuk ke kota, provinsi dan menyebar seantero negeri.

Ren has made it very clear he is committed to the CCP, and his ideology and strategies are not uncommon among entrepreneurs in China.

Demikian juga dengan Jack Ma, Pendiri dan CEO dari group Alibaba. Mereka berdua Jack Ma dan Ren, adalah Pengusaha Komunis (communist entrepreneurs), yang mengelola bisnis privat dan sekaligus anggota PKC. Masih banyak contoh lain pengusaha seperti mereka ini di China. 

Bagaimana mereka menyatukan dua ideologi yang sepertinya berlawanan, namun justru bisa bersatu untuk pertumbuhan ekonomi, adalah kunci untuk memahami ekonomi pasar China.

Persentase Pengusaha Anggota PKC

Dari grafik, terlihat bahwa beberapa tahun terakhir rerata Persentase Pengusaha dari anggota PKC adalah 30-35%. Dan mulai meningkat pesat sejak 2001, ketika Presiden Jiang Zemin menghapuskan larangan Pengusaha Privat menjadi anggota PKC. Estimasi, saat ini sudah ada 3 juta Pengusaha Komunis (anggota PKC).

PENGUSAHA KOMUNIS

Pidato Presiden Xi Jinping di depan anggota politbiro PKC, 23 November 2015 menyatakan bahwa:

“We are developing a market economy under the major premise of the leadership of the CCP and the socialist system. We must never forget the attribute ‘socialism.’ The reason for saying that it is a socialist market economy is to uphold the superiority of our system and effectively prevent the drawbacks of the capitalist market economy.”

Pernyataan diatas adalah penegasan Xi bahwa market economy adalah subordinat dari socialist system. Sehingga bisa diartikan sebagai “market economy within the Chinese socialist system.”

Marquis berpendapat ada dua warisan utama yang diberikan oleh Mao, yaitu nilai-nilai yang berpengaruh pada:

  1. Individu. Tumbuh pada masa depresi membuat pengusaha cenderung menghindari risiko, lebih percaya pada keberuntungan daripada prestasi, dan lebih konservatif dalam bisnis dan pengambilan keputusan keuangan. Namun Pengusaha privat Komunis lebih nyaman dan percaya diri untuk komunikasi dengan Pemerintah, dibanding Pengusaha privat non-komunis.
  2. Masyarakat dan ekonomi. Legitimasi PKC masih tetap perlu mengacu pada Maoisme. Pemikiran Xi Jinping dalam Socialism with Chinese Characteristics for a New Era, menggarisbawahi pentingnya sosialisme dan pemerintahan komunis pada kepemimpinan PKC. Dan sebelumnya, Deng Xiaoping Theory juga menegaskan dalam empat prinsip dasar, yaitu:
    1. Tetap pada jalan Sosialisme
    2. Diktator proletariat
    3. Kepemimpinan PKC
    4. Idealisme Marxist–Mao Zedong.

Kenyataan bahwa Pengusaha Komunis mampu menyatukan Maoisme dan Pasar memang membingungkan Barat. Namun sebenarnya budaya Timur mempunyai dasar filosofinya, yaitu Yin-Yang. Gaya yang berlawanan bisa saling memperkuat, mengikat, dan saling membutuhkan. Berbeda dengan tradisi intelektual Barat (Yunani/Aristotelian) yang beranggapan bahwa berbeda/kontradiksi adalah melemahkan.

Thus, Eastern intellectual traditions are more comfortable with paradox and ambiguity than Western empiricism and take a more holistic view.

Berbagai studi psikologi sosial menunjukkan bahwa dalam interaksi sosial, Barat cenderung fokus pada Obyek, sedangkan bangsa Asia lebih fokus pada Relasi Sosial. Terkait dengan hal tersebut, masyarakat Barat cenderung memahami idea dengan cara memecahnya menjadi satuan individu yang masuk dalam kategori-kategori yang telah ditentukan (mengkotak-kotakkan masalah). Contoh, meletakkan “state” dan “market” menjadi bagian terpisah, bahkan dikotomi. Sebaliknya pendekatan China (PKC) justru menggabungkan keduanya. Seperti pernyataan Deng, 

“A little more plan or a little more market is not the fundamental difference between socialism and capitalism—the plan and the market are both economic tools.”

Ideologi Marx dan Engels, meletakkan Kontradiksi menjadi elemen penting. Demikian juga dengan Maoisme. Perjuangan Kelas (Class Struggle), pertentangan antar kelas ekonomi, menjadi jargon untuk memahami perilaku politik masyarakat. 

Setelah Reformasi 1970an, PKC mendefinisikan ulang tentang Perjuangan Kelas tersebut menjadi Kontradiksi antara tumbuhnya harapan hidup rakyat yang lebih baik dengan realitas menurunnya tingkat ekonomi. Dan tahun 1981, Kontradiksi resmi dinyatakan Pemerintah sebagai,

“the ever-growing material and cultural needs of the people versus backward social production.”

Di tahun 2017, Presiden Xi Jinping menambahkan secara resmi isu Kesenjangan sosial sebagai hal yang penting untuk segera diatasi,

“contradiction between unbalanced and inadequate development and the people’s ever-growing needs for a better life,”

Menurut Max Weber, dalam sejarahnya, pemerintahan China adalah sistem monarki, yang berisikan masyarakat berketergantungan tinggi terhadap kepemimpinan (sentralisasi), dan pemerintah yang mampu menyatukan, mengelola dan  menjamin perbedaan geografi dan budaya (desentralisasi). Dan sejak Dinasti Qin (221 BC) legitimasi pemerintahan China sudah terbukti mampu menyatukan banyak provinsi dengan berbagai perbedaannya. Dan tetap memberi otoritas pengembangan ekonomi masing-masing di wilayah lokal. 

Weber berpendapat bahwa Kelas sosial baru telah muncul, yaitu Shidafu, Kelas Sarjana-Pejabat, yang mampu menyelesaikan masalah Kontradiksi. Kelas yang loyal terhadap Pemerintah, dan saat yang sama mampu memimpin komunitas dan keluarganya untuk menyeimbangkannya. Kepentingan sentralisasi dan desentralisasi.

Pengusaha Komunis bersikap seperti halnya Shidafu, bergantung pada pemerintahan PKC namun independen sebagai pengusaha individual.

Yang menarik adalah, semakin banyak pengusaha komunis, semakin besar dukungan dan semakin berkurang resistensi terhadap pemerintah PKC. Dan potensi ancaman Kapitalisme akan terserap langsung oleh PKC. Pemerintah PKC akan mendorong semakin banyak anggota PKC menjadi Pengusaha juga sebaliknya.

MITHOS

Ray Dalio, pendiri perusahaan hedge fund terbesar di dunia “Bridgewater” mengatakan,

“A communist country can be so capitalist that they have the second largest capital market in the world, produce billionaires, and simultaneously be Marxist.”

Dan lanjutnya,

“if you don’t know how to answer that riddle, then you must not understand China.”

Terkait dengan pernyataan Ray Dalio diatas, beredar mithos di berbagai belahan dunia, khususnya Barat, tentang China yang mulai terbuka, yaitu:

  1. With Globalization and Economic Development, China Will Democratize

Seperti dijelaskan Francis Fukuyama dalam bukunya, “The End of History and the Last Man”, bahwa sejarah bergerak ke arah pemerintahan demokratis, sebagai keniscayaan modernisasi pemerintahan dan perkembangan ekonomi. Berlatar belakang runtuhnya Uni Soviet, Fukuyama memperkirakan Demokrasi Liberal akan menjadi bentuk final pemerintahan di seluruh dunia. 

Mitos yang salah diatas, semakin dipercaya Barat dengan populasi China yang didominasi usia lanjut akibat kebijakan Satu Anak dimasa lalu, hutang semakin tinggi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kerusakan lingkungan dan tantangan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

  1. China Can Be Understood through a Soviet Lens

China berbeda dengan Soviet. Seperti dijelaskan diatas bahwa dengan luasnya wilayah geografi dan beraneka budayanya, China memberi otoritas lokal untuk mengembangkan ekonominya (desentralisasi), meskipun kekuasaan politik bersifat sentral.

  1. The Chinese (Communist) Government Is Flexible

Sikap pragmatis PKC pada masa awal Keterbukaan China sering disikapi para penulis Barat secara berlebihan. Benar bahwa memang ada pergeseran kebijakan ekonomi China, tapi bukan berarti kemudian bergerak ke arah demokratisasi.

Marquis menyarankan, daripada menunggu dan berharap Maoisme segera runtuh, para praktisi bisnis dan politikus Barat lebih baik melihat fakta yang ada, kemudian melakukan “coexist,” “cooperate,” dan “compete” dengan Komunis dalam jangka panjang. Tiga kata kunci yang sering diucapkan oleh Antony Blinken, Menlu AS. 

SENTRALISASI POLITIK

Kendali atas-bawah (top-down) adalah karakter dasar dari partai Leninist dengan hirarki terpusat yang kuat dalam kepemimpinan politik. 

Di China, para pemimpin Partai di tingkat provinsi (termasuk aparat pengurusnya) dipilih dan bertanggungjawab kepada otoritas Pusat. Selanjutnya, pemimpin partai provinsi menentukan pengurus di wilayah distrik atau wilayah di bawahnya. Berbeda dengan Barat, para pemimpin Daerah hingga Pusat ditentukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Dan tidak ada pertanggungjawaban politik atasan-bawahan antara Pimpinan Pusat dan Daerah.

DESENTRALISASI EKONOMI

Manajemen ekonomi China mengikuti aturan desentralisasi. Daerah akan saling berkompetisi untuk kemajuan ekonominya. Prestasi dalam ekonomi daerah akan dipertimbangkan oleh otoritas pusat sebagai pertimbangan kenaikan jabatan politik pemimpinnya dalam struktur partai PKC. Pemerintah daerah akan bertanggung jawab terhadap kendali ekonomi untuk semua industri di wilayahnya.

Berbeda dengan China, di Uni Soviet, urusan ekonomi nasional dilakukan secara terpusat. Dengan kendali vertikal yang berbeda untuk masing-masing industri.

Politisi China saat ini cenderung pro-bisnis. Mengingat sikap politik Xi yang semakin kuat kearah Maoisme, maka kelenturan para politisi tersebut terhadap bisnis, perlu disandingkan dengan loyalitas ajaran Maoisme. Ini menjadi rujukan penting bagi para pengusaha asing untuk memilih partner di China.

EKONOMI SOSIALIS & PERUSAHAAN PRIVAT

Kekuatan ekonomi China ditopang oleh tiga faktor utama, yaitu: 

  1. BUMN (State Owned Companies), 
  2. Ekonomi Terencana (Planned Economy)
  3. Program Intervensi Strategis (Repelita, dll.)  

Pemerintah cenderung untuk terus memberi subsidi kepada SOEs. Ini yang menjadi pokok permasalahan Perang Dagang dengan AS, di era Trump dan Biden.

Tahun 1976 Mao meninggal. Dan sejak 1978, dibawah Deng Xiaoping, pemerintah China mulai mendorong Ekonomi Pasar. Setelah 1992, pemerintahan PKC banyak melakukan transformasi Private Economies menjadi perusahaan privat. Atau transformasi menjadi collective-owned enterprise (COE), yaitu badan usaha yang statusnya berada diantara SOE dan Perusahaan Privat.

Pemikiran Xi Jinping, Thought on Socialism with Chinese Characteristics for a New Era, menegaskan bahwa, 

“tanpa landasan penting yang telah diletakkan lama oleh SOEs untuk pembangunan China, tanpa inovasi besar dan teknologi kunci utama yang dicapai SOEs, dan tanpa komitmen jangka panjang SOEs terhadap tanggungjawab sosial yang besar, tidak akan ada kemandirian dan ketahanan ekonomi nasional China, tidak akan ada keberlangsungan perbaikan kehidupan menerus bagi rakyat, dan tidak akan berdiri tegak sosialisme China di belahan dunia Timur”. 

Seiring pemikiran Xi diatas, tahun 2018, 2019 dan 2020, pemerintah China telah menasionalisasi beberapa perusahaan privat, total senilai $100 Milyar. Tahun 2019,pemerintah PKC telah mengakuisisi saham group  Alibaba dan $40 Milyar saham Geely (pemilik group Volvo dan Daimler). Kemudian juga saham Anbang Insurance ($200 Milyar) dan Hainan Airlines Group ($140 Milyar). Lalu mengambil kepemilikan 1% ByteDance (pemilik TikTok/Douyin) dengan hak menempatkan Direksi. Hal yang sama, 1% kepemilikan dari Sina Weibo (microblogging website).

Ada positif negatif menjadi perusahaan dibawah kendali pemerintah. Keduanya mempunyai prioritas dan asumsi fundamental yang berbeda. Yang bisa berpotensi konflik diantara keduanya. 

Kepemilikan negara berarti standard birokrasi pemerintah yang berperan utama. Dan keuntungan bukan menjadi kepentingan utama. Penerimaan karyawan bisa jadi untuk kepentingan pengurangan pengangguran, bukan karena kebutuhan tenaga-kerja untuk efektifitas dan efisiensi bisnis.

Di sisi lain, kepemilikan negara bisa juga menguntungkan bagi perusahaan privat. Lebih mudah mendapatkan bantuan kredit perbankan, menyelesaikan masalah lingkungan dan tenagakerja. Dan banyak hal dalam urusan dengan pemerintah lainnya, termasuk perlindungan politik oleh PKC. Saat krisis ekonomi global 2009, pemerintah China menggelontorkan hingga trilyun dollar untuk penyelamatan ekonominya, SOEs maupun perusahaan privat.

-Mao05-

Pengusaha privat pernah menyatakan betapa mudahnya mendapatkan kredit dari pemerintah, bila ada kerjasama dengan SOE. “Kerugian finansial pun masih dimungkinkan, asalkan aset Pemerintah tetap aman. Pemerintah juga menyediakan sumberdaya dan kapital”.

Adanya kepemilikan Pemerintah di dalam perusahaan privat akan sangat meringankan aspek finansial.

  1. Bunga 14,8% akan dikenakan terhadap pinjaman perusahaan privat dengan kehadiran kepemilikan Pemerintah. Bunga 19,9% bagi perusahaan privat tanpa kepemilikan Pemerintah. 
  2. Bagi perusahaan privat murni, akan dikenakan biaya kolateral 50,5 % dari total pinjaman, sedangkan kehadiran kepemilikan Pemerintah hanya disyaratkan kolateral 40,7%


CABANG PKC DI PERUSAHAAN PRIVAT

Pemerintah China semakin banyak menempatkan cabang atau sel PKC ke dalam perusahaan privat. Saat ini sudah mencapai lebih dari setengah total perusahaan privat. Cabang PKC tersebut berperan untuk mensosialisasikan kebijakan pemerintah yang dapat membantu kelancaran proses bisnis, kepada anggota baru dan pimpinan perusahaan. Tiga orang anggota PKC adalah jumlah minimum untuk bisa dibentuk Cabang/Sel PKC dalam perusahaan.

Di Huawei terdapat lebih dari 300 cabang PKC dengan puluhan ribuan anggota. Bahkan Jack Ma menyatakan bahwa manajemen SDM Alibaba miliknya, didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Mao, “building party branches on the company [military unit] level.”

Mengingat nilai-nilai Barat mulai merembes masuk ke dalam perusahaan China, maka pemerintahan PKC merasa perlu untuk memperkuat pengaruhnya dalam menjaga kendali politik dan memastikan tercapainya jargon “the Party leads everything”. Ini adalah bagian dari upaya keras PKC untuk mengendalikan ekonomi, masyarakat dan aktivitas politik di China.

Bahkan sel-sel PKC ini juga sudah masuk ke dalam perusahaan Barat yang ada di China. Tentu sebagai konsekuensi menjalankan bisnis disana.

Dan Jack Ma pun tak ketinggalan mengumumkan pada konferensi PKC di Alibaba pada 10 Juni 2010, bahwa tujuannya adalah 

“make Alibaba’s party branch the best and most advanced one in China,” kemudian mempertegas bahwa “95 percent of CCP-member employees are scoring ‘good’ in their performance,” dan tambahnya “CCP-member employees are the backbone of the enterprise”.

Secara umum, perusahaan privat dengan cabang PKC di dalamnya, akan berkinerja finansial lebih bagus. Keuntungan 12,6% lebih tinggi daripada perusahaan privat tanpa cabang PKC di dalamnya.

Tiga industri internet terbesar di China, yaitu Alibaba, Baidu dan Tencent mempunyai cabang PKC di dalamnya. 

Hal terpenting yang disarankan Marquis adalah bahwa pengamat asing sebaiknya tidak memandang sistem politik dan ekonomi China melalui kacamata ideologis atau menyimpulkan yang terlihat tidak lazim di luar konteks. Untuk memahami lingkungan bisnis di China, harus menerimanya sebagai suatu sistem yang utuh dan unik, untuk memahami peran semua elemen yang berbeda.

Dan penting juga digarisbawahi bahwa meskipun kepemilikan perusahaan privat oleh pemerintah berpotensi konflik dan menjadi rumit, namun kenyataannya banyak keuntungan bisa dinikmati olehnya. Pendampingan oleh Pemerintah, banyak mempermudah perusahaan privat untuk mendapatkan bantuan finansial dan menyelesaikan persoalan regulasi pemerintah.

Mengingat 95 juta orang adalah anggota PKC, maka sangat mungkin bahwa dalam satu dekade kedepan atau lebih, semua perusahaan privat di China akan berisi cabang PKC. Dan ini pasti membuat Barat merasa tidak nyaman. Alih-alih berusaha menentangnya, Barat sebaiknya berusaha menerima dan mulai bisa menerima situasi tersebut bila berharap untuk bisa tetap berbisnis disana.


DAMPAK PROGRAM BESAR MAO

THE GREAT LEAP FORWARD (1958-1961)

Contoh pengusaha sukses yang hidup di masa The Great Leap Forward banyak disampaikan dalam buku ini. Analisis statistik terhadap database pengusaha sukses yang dapat bertahan hidup di masa kelaparan akut (Great Famine), cenderung mempunyai pola pikir sangat efisien dalam mengelola sumberdayanya.

Contoh, Wang Shi, pemilik China Vanke, pengembang properti terbesar di China. Menurutnya, “I need to leverage whatever resources I have for my businesses, and it is critical to use resources efficiently”.

Mengetatkan ikat pinggang untuk dapat memberi makan keluarganya. Dan selalu mengupayakan daur ulang, penggunaan kembali, atau adaptasi barang-barang bekas. Hemat menjadi gaya hidup selanjutnya.

Dua aspek penting dalam The Great Leap Forward adalah: produksi pertanian dan industri baja. 


Produksi Pertanian

Untuk meningkatkan produksi pertanian, Mao memerintahkan dilaksanakannya sistem pertanian kolektif melalui pembentukan Masyarakat Komunal. Semua petani menyerahkan asetnya (lahan, rumah dan isinya, ternak dan hasilnya). Tinggal dan makan bersama di tempat serta makanan yang disediakan oleh pemerintah. Untuk melakukan aktivitas pertanian bersama. Upah diberikan secara seragam per komunal atas dasar total hasil panen yang dihasilkan bersama. Sama rata, sama rasa

Merasa tidak adil, banyak petani lebih rela membunuh ternaknya daripada berbagi dengan yang lain. Konsumsi makanan di ruang bersama pun menjadi berlebihan. Produksi pertanian menurun. Namun laporan fiktif atas tingginya hasil panen terus terjadi. Hanya untuk menyenangkan Mao. Kelaparan mulai terjadi.


Industri Baja

Karena kerja kolektif menghasilkan tingginya hasil pertanian (Mao belum menyadari banyaknya Laporan Palsu), Mao mulai melakukan hal yang sama dengan mengerahkan tenagakerja pedesaan untuk meningkatkan produksi baja dua kali lipat dalam satu tahun. 

Industri Baja menjadi proyek prioritas China. Sembilan puluh juta tenagakerja dikerahkan untuk maksud tersebut. Jutaan tungku dibangun oleh rakyat untuk melebur besi, dengan maksud diproses lebih lanjut menjadi baja. Rakyat banyak menyumbang peralatan rumahtangga dari besi untuk dilebur. Demi peningkatan produksi baja.  

Ternyata tungku pengolahan besi tidak cukup proses untuk bisa memproduksi baja. Gagal. 

Lebih buruk lagi, karena banyaknya tenagakerja yang seharusnya bertani, dipekerjakan sebagai buruh pabrik baja, maka produk pertanian semakin menurun tajam. Hanya 90% hasil pertanian bisa dipanen.

Ketersediaan makanan per kapita per hari menurun tajam (1500 kalori), dibawah kebutuhan rata-rata per hari (2200 kalori). Puluhan juta tewas kelaparan, puncaknya di tahun 1960. Hampir 200.000 orang mengungsi ke Hongkong secara ilegal.

-Grafik-

Belajar dari pengalaman kelaparan akut (Great Famine), munculah ideologi untuk berhemat “the Great Leap Forward” yang dicanangkan oleh Mao, “working hard and saving” dan “building socialism quickly and economically”.

Para pengusaha sukses China saat ini, yang mengalami hidup di masa Kelaparan Akut cenderung berpendapat kurang-lebih sama, yaitu 

“I have been poor and I am afraid of being poor, so I dare not do high-risk things but save every penny.”

Mereka rata-rata mampu memperoleh pendapatan 55.1% lebih banyak, dari total biaya perusahaan, daripada mereka yang tidak mengalami peristiwa buruk tersebut. 

Grafik Costs, Personal Expenses, and Entrepreneurs’ Great Leap Forward Experience


THE CULTURAL REVOLUTION (1966-1976)

Program Cultural Revolution ini dicanangkan oleh Mao pada tanggal 16 Mei 1966. Ada 5 tipe yang dianggap Musuh Rakyat di masa Revolusi Kebudayaan, yaitu:

  1. Tuan tanah
  2. Petani kaya
  3. Kontra revolusi (counterrevolutionaries)
  4. Yang berpengaruh buruk (bad influencers)
  5. Simpatisan Kapitalis

Ada 3 fokus utama, yaitu:

  1. Penggantian Komite PKC dan aparat Pemerintah dengan mereka yang loyal terhadap Mao
  2. Persekusi, siksaan dan pembunuhan terhadap musuh Kelas oleh Red Guards
  3. Pemantapan program the send-down movement, yaitu pengiriman jutaan pemuda ke wilayah miskin untuk pendidikan kerja keras pertanian. Xi Jinping termasuk yang terkena program ini. 

Menurut Beijing Daily, 20 Desember 1980, antara Agustus-September 1966, 1.772 orang dibunuh oleh Red Guards di Beijing, termasuk para guru dan Kepala Sekolah, 33.695 rumahtangga mengalami penyitaan barang-barang, dan 85.196 keluarga dipaksa meninggalkan rumahnya. Lebih dari 10.000 orang tewas karena persekusi di Provinsi Guangxi.

Pada umumnya, CEO yang pernah mengalami Revolusi Kebudayaan, akan lebih berpotensi melakukan salah kelola perusahaan atau melakukan tindak kriminal, korupsi atau penyuapan (2,7%) dibanding mereka yang tidak mengalaminya. Pengusaha korup, seringkali didahului oleh pengalaman aktivitasnya yang kurang ethis di era Revolusi Kebudayaan. Beberapa nama sebagai contoh disampaikan dalam buku ini. Song Yongyi dari California State University, Los Angeles, menyatakan “Cultural Revolution turned people into beasts, and some people cannibalized others.” dan “Cultural Revolution made us demons.”

Liu Chuanzhi, pendiri multinational technology company Lenovo, menyatakan bahwa banyak koleganya yang mengalami Revolusi Kebudayaan, telah meninggalkan China. Banyak dari mereka sudah mempunyai paspor AS, Canada atau Australia. Termasuk Yao Anna (Annabel Yao), putri dari pemilik Huawei (Ren Zhengfei), telah mempunyai paspor AS.

Likelihood of financial misconduct

Namun dari sisi yang berbeda, banyak juga yang memujinya. 

“In the past, our lives were bitter, but everyone was on the same level and people were spiritually satisfied. Today, the gap between the rich and poor is widening. The rich are getting richer, and people without money find it more difficult to live.”

“The people who participated in the send-down movement devoted significant effort to the construction of China. I really want to thank that generation very much. If there is no dedication from the next generation, the speed of China’s development will not be so fast”.

Pelajaran dari Cultural Revolution bagi mereka yang akan bekerjasama dalam bisnis dengan China, menurut Marquis adalah, 

“Some of the entrepreneurs who experienced its chaos are extremely cynical about the law. Thus, it is necessary to do careful background checks of potential customers, clients, suppliers, and partners”.

“Foreign businesses must tread carefully in China’s increasingly nationalistic and authoritarian environment”.


THE THIRD FRONT CONSTRUCTION

Ini adalah konsep besar geo-militer Mao yang fokus pada pengembangan industri berskala besar pertahanan nasional, sains dan teknologi, pembangkit listrik dan infrastruktur transportasi, serta industri lainnya, untuk menyikapi kemungkinan terjadinya perang dan kelaparan di masa depan.

The Third Front telah membantu meletakkan dasar kepengusahaan privat dan pengembangan pasar di China.

  1. Proyek pengembangan industri militer ini dilakukan di berbagai wilayah. Akhirnya banyak diambil alih dan dikembangkan oleh perusahaan privat. 
  2. Proyek ini banyak mengalokasikan tenaga kerja

Dalam pidatonya Mei 1964, Mao mengatakan, 

“Our first front is coastal regions, second front is the line that cuts from Baotou to Lanzhou, and southwest is the third front. . . . In the period of the atomic bomb, we need a strategic rear for retreat, and we should be prepared to go into mountains [to become guerilla]. We need a place like this”.

Cities Involved in the Third Front Construction (in dark shade)

Pemilihan lokasi mengikuti prinsip “dekat dengan pegunungan, tersebar, dan tersembunyi”.

Karena lokasi yang terpencil dan sulit aksesnya, sehingga berbiaya tinggi. Konstruksi proyek menjadi mahal, hingga mencapai $25 Milyar. Lebih dari ⅓ total belanja China selama 15 tahun. Banyak proyek-proyek tersebut berujung tutup, dibekukan, dikerjasamakan, transformasi atau dipindahkan. Dan sejarah suksesnya perusahaan privat pun banyak dimulai dari sini. 

Jialing Motors, adalah pabrik mobil yang sebelumnya merupakan pabrik pembuat kendaraan lapis baja pada era Third Construction.. Juga Changhong Group adalah pabrik pembuat televisi yang sebelumnya adalah pabrik peralatan elektronik dan nirkabel. Shaanxi Auto Gear General Works didirikan pada era Third Construction di lembah Pegunungan Qin, provinsi Shaanxi, 1968. Shaanxi akhirnya menjadi produsen pembuat transmisi otomotif terbesar dunia dengan pendapatan per tahun mencapai $10 Miliar. 

Para pekerja berbakat di masanya dan hubungan sosial yang baik di antara para pekerja menjadi modal kesuksesan transformasi. Hal ini sesuai dengan penelitian bahwa modal penting kewirausahaan adalah human capital, financial capital, and social capital.

Beberapa implikasi dari Third Construction untuk berbisnis di China adalah,

  1. Investor asing saat ini banyak terkonsentrasi di wilayah pantai, seperti Beijing, Shanghai dan wilayah sebelah tenggara China (Guangdong), yang sebenarnya sudah overdeveloped dan overpopulated.
  2. Karena rencana awal perindustrian dan kekhususan lokasi geografi,Guiding Opinion menyarankan bahwa Chengdu, Chongqing, dan Xi’an sepertinya bisa menjadi kota-kota metropolitan international gateway hubs seperti Beijing dan Shanghai.
  3. Perusahaan yang bergerak di bidang ecotourism bisa dikembangkan di kota Liupanshui dan Shizuishan.

….
PENUTUP

Berlangsungnya kombinasi antara ideologi Komunis dan sistem politik di satu sisi dengan ekonomi kapitalistik di sisi lainnya di China, selalu menjadi pertanyaan para analis Barat. Alih-alih komunisme China akan runtuh sesuai perkiraan Barat, di bawah Xi Jinping justru semakin kuat bobot komunisnya.

Menurut Marquis,

Rather than anticipating a more liberal, Westernized Chinese society and economy, we should be prepared to deal with a more Maoist, communist China.

Konklusi disampaikan Marquis dengan menunjukkan adanya Lima Prinsip untuk menjalankan bisnis di China dan Lima Prinsip Tatakelola untuk dapat memahami pemerintahan China, dengan tambahan perspektif umum terhadap kondisi sosioekonomi dan politik China saat ini dan di masa depan.


Lima Prinsip Bisnis

  1. Country over Capital

Partai Komunis (PKC) sebagai representasi Pemerintah. Berada diatas untuk mengawasi dan mengelola aktivitas ekonomi negara dan politik. Berbeda dengan Barat yang berwenang pada urusan politik, tapi tidak terhadap aktivitas ekonomi (pasar).

  1. Resource Consciousness

Mao menegaskan bahwa Prinsip Kesederhanaan adalah elemen penting dari budaya China yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam implementasinya, “cost cutting” menjadi prinsip utama bagi para pengusaha China.

  1. Context Consciousness

Para analis Barat sering memahami China di luar kontek. Mengabaikan akar Maoisme dan faktor-faktor lainnya. Berbeda dengan Uni Soviet, Mao telah mengembangkan ekonomi sistem sosialis dengan karakter China (socialism with Chinese characteristics).

  1. Norms over Rules

Sangat lazim di negara-negara Asia Timur, norma sosial banyak mengatur perilaku masyarakat lebih dari keberadaan hukum dan peraturan resmi. Para pengusaha China banyak menerapkan guanxi (sistem sosial tentang hubungan dan perikatan dalam bisnis dan kesepakatan lainnya). Pengusaha China dan Jepang lebih nyaman melakukan negosiasi informal atau pendekatan personal dan menghindari litigasi.

  1. Persistence

Mao selalu menegaskan perlunya kegigihan, ketabahan, kesabaran, etos kerja yang kuat serta ketekunan dalam memperjuangkan bisnis.ini adalah doktrin penting dari nilai budaya China.


Lima Prinsip Tatakelola

  1. Politics at the Center

China mempunyai sejarah kuat dalam melaksanakan pemerintahan sentralisasi dengan kontrol kuat dari atas ke bawah dan pusat ke daerah. Berbeda dengan negara demokrasi yang tidak ada hubungan atasan-bawahan antara pemerintahan pusat dengan daerah.

  1. Economic Decentralization

Desentralisasi ekonomi di China, memberi diskresi pemerintah daerah untuk menjalankan kewenangannya dalam mengembangkan ekonomi. Sejauh tidak melampaui kewenangan ideologi politik pemerintah pusat. 

  1. Ideological Pragmatism

Pernyataan klasik Mao dalam artikel “On Practice” yang juga telah diajarkan dalam sekolah partai di Uni Soviet, yaitu “seeking truth from facts”. Ini adalah ide bahwa teori harus sesuai dengan kenyataan. Bila salah, maka teori harus diubah. Dan dengan landasan ide ini, Deng Xiaoping melakukan reformasi ekonomi. 

  1. Historical Existentialism

Berbeda dengan historical nihilism yang mengkritisi dan menafsirkan sejarah PKC dan pemimpinnya secara salah. Mao dan Historical Existentialism bermaksud memberikan spirit rakyatnya untuk berdiri tegak menghadapi hinaan ratusan tahun sejak the Opium Wars. Dan Xi Jinping pun menggelorakan hal yang sama dengan “the Chinese Dream”, atau “make China great again”.

  1. Moderatism

Moderation, harmony, dan modesty, yang diturunkan dari ajaran Confucian “the Doctrine of the Mean,” bermakna untuk tidak berlawanan secara ekstrim, menjaga untuk selalu seimbang harmoni, waspada dan lembut, serta tidak merendahkan bawahan.  


KRITIK & SARAN

My review on amazon.com

Seperti disebutkan di awal tulisan ini bahwa buku karya Marquis ini menarik karena mengkritisi pertumbuhan ekonomi dan praktek kewirausahaan di China berdasar pada sejarah politiknya.

Menggunakan analisis dan pola pikir ekonomi-politik Barat sebagai dasar investasi di China sangat tidak memadai. Bahkan cenderung akan membuat kesalahan prediksi.

Pengetahuan tentang sejarah politik dan budaya China sejak kepemimpinan Mao Zedong menjadi syarat penting untuk bisa bernegosiasi dan survive bekerjasama hingga sukses dalam bisnis di China.

Meskipun banyak pengulangan informasi dan kalimat dalam buku ini, namun masih tetap layak dan perlu untuk dipelajari, mengingat langkanya buku semacam ini.


TAUTAN

  1. Remarks As Prepared for Delivery of Ambassador Katherine Tai Outlining the Biden-Harris Administration’s “New Approach to the U.S.-China Trade Relationship”
  2. On Practice
  3. Historical Nihilism
  4. Social crisis and individual growth: The long-term effects of the great depression
  5. Xi Jinping Thought
  6. Everyone can feel that a profound change is underway
  7. GDP – International Comparisons: Key Economic Indicators

Read Full Post »