Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Timur’

Ingatan

Nama Raden Saleh (RS) selalu muncul dalam ingatan, setiap kali membaca atau bicara tentang Pangeran Dipanegara. Ingatan itu muncul berbayang dalam bentuk karya lukisnya tentang penangkapan Dipanegara oleh pasukan Belanda. Entah sejak kapan dan dimana lukisan itu mulai terrekam dalam ingatan. Tak pernah mengulik di internet untuk mencari tahu tentangnya.

Setiap hari di bulan Februari-Maret 2025 yang lalu, selalu melewati jalan Raden Saleh, Cikini ketika pulang dari RSCM. Ingat samar-samar bahwa rasanya dulu ada penunjuk jalan tertulis “Kebun Binatang” atau “Rumah Raden Saleh” di jalan itu. Lupa, entahlah .. Ternyata rumah lama Raden Saleh itu sekarang tertutupi oleh RS. PGI Cikini. Masih ada beberapa rusa di taman hutan depan rumah, menurut satpam disana.

Mulailah berselancar di media sosial mencari info tentang sejarah dan  karya-karya Raden Saleh, tiba-tiba muncul di instagram penawaran buku hardcopy bersampul gambar “mencolok mata”, “Pangeran Dari Timur” karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, terbitan Bentang Pustaka, 2020. Novel sejarah tentang Raden Saleh. Yessss … langsung beli. 

Ternyata tersedia juga versi ebooknya di Play Books. Buku setebal 605 halaman itu selesai sudah kubaca tak lebih dari empat hari. Puas mengawali keingintahuan tentang Raden Saleh.

Penulis

Semakin tertarik untuk membacanya, setelah tahu bahwa kedua penulisnya berasal dari disiplin ilmu seni rupa, fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Sehingga terpercaya dan terasa nyaman ketika mendapatkan penjelasan tentang teknik sapuan kuas diatas kanvas serta berbagai sejarah, gaya lukisan dan para pelukisnya. Termasuk juga dijelaskannya tentang gaya Klasik, Realis, Barok, Impresionis dan gaya lukisan Raden Saleh (Romantik). Menyenangkan mendapatkan sedikit pencerahan tentang gaya lukisan Rembrandt (era Barok), Delacroix (era akhir Romantik), dll.

Tertulis di halaman terakhir bukunya, tentang Penulis. Iksaka Banu, kelahiran Yogyakarta, 1964. Aktif menulis sejak kecil. Tulisan fiksinya banyak dimuat di berbagai media utama. Juga banyak mendapatkan penghargaan.

Sementara Kurnia Effendi banyak aktif di dunia sastra sejak tahun 80an. Sebagai penulis, instruktur, juri maupun kurator karya sastra. Tiga puluh penghargaan sastra diraihnya, termasuk di dalamnya 8 penghargaan sebagai juara pertama. Mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud untuk penelitian tentang Raden Saleh di Belanda.

Gerakan Seni Rupa

Sedikit kutipan dari novel ini, sebagai pengetahuan, terkait gaya seni rupa,

Rembrandt pelukis berbakat pada awal abad ke-16. … dia sangat menguasai nuansa gelap terang pada sosok-sosok yang digambarnya… Rembrandt hidup di masa ketika gaya Barok berjaya. Barok adalah pembaruan dari aliran Klasik. Untuk memudahkan mengenali aliran itu, dapat dilihat dari gelap terang yang sangat kontras dalam komposisi lukisannya dan dari kostum para manusia yang dilukis. Umumnya, Barok menampilkan postur seseorang atau beberapa orang yang berdandan berlebihan.

The Night Watch by Rembrandt 1642

Delacroix. Dia salah seorang seniman Prancis pengikut aliran Romantik. … Ciri khasnya adalah goresan kuas liar, penuh warna cemerlang yang saling bertabrakan, serta enggan menjaga ketertiban batas garis bentuk. Bisa saja warna kulit dan warna baju saling tumpang tindih. Kelak, gaya sapuan kuas semacam ini menjadi fondasi aliran Impresionis, aliran yang datang tak lama setelah Romantik meredup. Jadi, sesungguhnya Delacroix … adalah generasi pamungkas gerakan Romantik.

“Liberty Leading the People” by Eugéne Delacroix, 1830

Gaya dialogis cukup nyaman digunakan Penulis yang alumni Seni Rupa ITB itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang gaya lukisan Romantik,

“Gerakan Romantik sesungguhnya adalah ― sebut saja untuk mudahnya – jawaban atas kejenuhan masyarakat seni di Eropa terhadap aliran Neoklasik.”

Aliran itu juga tidak pernah membuat pembaruan yang berarti. Hanya ada perubahan kecil di sana sini dari aliran Klasik, pendahulunya. Orang sudah bosan dan terlalu hafal kisah dewa-dewi Yunani atau pahlawan Romawi. Lihat saja lukisan Jacques Louis David pada awal kariernya. Begitu mudah ditebak. Lukisan “Mars Kontra Minerva”, “Paris Menculik Helena”, “Leonidas di Thermopylae”, “Jenderal Belisarius Menjadi Pengemis”, dan seterusnya. 

Semua terungkap begitu gamblang dalam sekali lihat. Simetris, bersih, tertib, dan bila mereka menggambar wajah atau gerak tubuh manusia, biasanya terlihat anggun. Tak ada kejutan. 

Leonidas at Thermopylae, 1814, by Jacques-Louis David

… pemantik lain aliran Romantik, yaitu kehadiran Revolusi Industri. Revolusi besar itu dianggap telah menghilangkan banyak nilai kekerabatan manusia. Keluarga yang pada masa sebelumnya bisa berkumpul jam lima sore setelah selesai menggarap ladang, kini terpaksa bekerja hingga larut malam di pabrik-pabrik dengan gaji rendah sehingga satu keluarga perlu dikerahkan untuk memburu penghasilan. Keadaan itu membuat banyak orang menjadi melankolis. Mereka disergap kerinduan, mengingat masa lalu yang romantis.”

Intinya, lukisan Romantik berusaha menggambarkan manusia pada tatanan sosial sebelum ada mesin-mesin, yang mengatur hidup secara mekanis. Lukisan gaya Romantik bermain dengan horor, teror, darah, gerak tubuh penuh semangat, serangan mendadak, perkelahian binatang, bencana besar, kecelakaan, atau manusia dikoyak hewan buas.

Gaya Penulisan

Buah dari riset penulis di Belanda sangat terasa dalam novel ini. Kekayaan penulisan sejarah dan budaya yang rinci atas berbagai peristiwa kunjungan, kegiatan dan banyaknya relasi Raden Saleh dengan para pejabat dan pesohor seni rupa di negara-negara Eropa tentu didasarkan pada kelengkapan kepustakaan. Sudah jamak kita dengar bahwa kepustakaan tentang sejarah Hindia Timur lebih banyak bisa diperoleh di Belanda.

Ketika mulai membaca novel ini, sedikit kaget, bosan dan bingung. Karena urutan waktu yang terasa melompat-lompat. Cerita dimulai pada awal abad 20 di bab 1, tiba-tiba lompat mundur ke awal abad 19 pada bab berikutnya. Kemudian kembali lagi ke abad 19. Demikian seterusnya. Unik.

Ternyata, lompatan waktu tersebut terjadi karena novel ini bercerita tentang dua peristiwa yang berbeda. Bukan cerita tentang dua peristiwa sebab-akibat. Tokoh, latar-belakang, juga waktu yang berbeda. Yang sama adalah keduanya bercerita tentang seni rupa, penjajahan dan semangat perjuangan.

Cerita Pertama tentang sejarah kehidupan Raden Saleh, yang diawali pada masa kecilnya di tahun 1820. Cerita Kedua tentang kehidupan masyarakat pecinta lukisan di Bandung yang berujung pada perjuangan masyarakat umum dan partai politik, menentang kolonialisme Belanda di abad 20.

Perilaku, gestur, tutur kata dalam dialog dan gaya berpakaian serta situasi lingkungan seringkali digambarkan secara rinci, dengan gaya bahasa yang enak mengalir tak membosankan. Nama-nama jalan pun banyak disebutkan dalam bahasa lama, seperti Nijlandweg (Cipaganti), Buitenzorg (Bogor), Berg en Dalseweg (jalan Ciumbuleuit), Bronbeekweg (jalan Sukajadi), Schoolweg (jalan Merdeka), dll. Membangkitkan imajinasi suasana budaya feodal kolonial abad 19. 

Cerita Pertama

“Penangkapan Dipanegara” oleh Raden Saleh

Sejarah Raden Saleh dimulai dengan ngèngèr, menumpang hidup dalam perlindungan dan didikan pamannya, Raden Aria Adipati Sura Adi Menggala V, Bupati Semarang. Tahun 1819, ketika Saleh masih sangat muda, sang paman mengijinkan dirinya diboyong ke Cianjur oleh dua orang Belanda, Capellen dan Reinwardt. Untuk sekolah misionaris, supaya bisa belajar melukis dibawah bimbingan pelukis handal, Adrianus Bik. Tinggal di rumah Bupati Cianjur, sepupu dari sang paman. 

Belum sampai usia 10 tahun, Saleh sudah mesti pindah lagi ke Buitenzorg (Bogor) untuk lebih serius belajar melukis dibawah bimbingan Joseph Payen. Dan tinggal di rumah sang guru tersebut. Dari sini dimulai kehidupan karir Raden Syarif Saleh Bustaman. Relasi dengan pejabat Hindia semakin banyak, hingga mendapatkan beasiswa dari kerajaan untuk sekolah seni rupa di Belanda. 

Tahun 1830, sampai di Amsterdam, Belanda, Raden Saleh belajar melukis di sekolah milik Cornelis Kruseman. Seorang ahli lukis potret. Juga berkesempatan belajar melukis dari seorang maestro lukisan pemandangan Andreas Schelfhout. 

Raden Saleh semakin tenar karena mendapat pesanan untuk melukis potret para selebriti politik Belanda. Pergaulan di tingkat elite pun semakin meluas. Kota ‘s Gravenhage menjadi kota kenangan indah yang seringkali disebut dalam novel ini. Kota di Belanda, tempat Raden Saleh mulai berkarir profesional sebagai pelukis dunia.

Dalam bab “Arah Angin”, diceritakan tentang ditangkapnya Pangeran Dipanegara oleh jenderal de Kock, Belanda. Termasuk di dalamnya kisah tentang pengkhianatan panglima perang, Alibasyah Sentot. 

Kisah tragis ini mengilhami Raden Saleh untuk menuangkan kekesalannya, sebagai sikap politis, terhadap kolonialisme Belanda, ke atas kanvas di tahun 1856-1857. Menjadi karya lukis yang sangat tenar “Penangkapan Dipanegara”. Lukisan ini dibuat, sebagai respon atas lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Paneman, yang merendahkan perjuangan Dipanegara, berjudul “Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock”.

“Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock” oleh Nicolaas Paneman

Atas upaya gurunya, Cornelis Kruseman, Raden Saleh mendapat perpanjangan kontrak untuk terus belajar seni lukis di Belanda. Bahkan mendapat kesempatan belajar dan berpameran lukisan di Jerman, Italia dan Perancis.

Berkenalan dengan lukisan dan beberapa pelukis kaliber dunia, membuat kualitas karya Raden Saleh semakin tumbuh dinamis, tak lagi hanya lukisan potret,

“… Aku ingin menjadi seorang artis, yang ikut terlibat dalam suatu gerakan pembaruan kesenian. Aku ingin melukis sesuatu yang bergerak dinamis. Sesuatu yang berteriak, melompat, mencabik-cabik, bukan wajah-wajah kaku yang duduk dalam posisi tiga perempat badan menghadap depan dengan latar gelap sambil mengatupkan mulut dan menyilangkan kaki seperti ini”

Dari lukisan potret, Raden Saleh mulai bergerak ke lukisan yang lebih dinamis, kejam namun tetap dalam gaya Romantik. Tema pergulatan antara singa dengan kerbau, berburu singa, diterkam singa, badai laut, kapal karam, dll. menjadi warna baru.

Tahun 1840, Raden Saleh mulai keliling Eropa untuk pameran lukisan dan belajar lebih banyak tentang gaya Romantik dari para pelukisnya. Mulai dari kota-kota di Jerman, seperti Dusseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Maxen dan Coburg.

Seperti banyak terlihat dalam foto-fotonya, Penulis menceritakan bahwa sejak tinggal di Dresden, Raden Saleh mulai gemar membalut tubuhnya dengan pakaian adat Jawa: blangkon, surjan, kain. Namun, sering pula dia menggabungkan pakaian Jawa tadi dengan turban, salwar Turki, atau jubah penuh sulaman emas hasil rancangannya sendiri. 

Setelah 5 tahun di Jerman, tahun 1845, Raden Saleh menginjakkan kakinya di Paris, Perancis dalam usia 32 tahun. Di kota Tournai, bertemu sahabat lama Joseph Payen. Pelukis Maestro Romantik, Horace Vernet dan Delacroix menjadi alasan utama Raden Saleh berkunjung ke Paris. Untuk belajar darinya. Raja Louis-Philippe pun sempat menerimanya di Paris.

Tahun 1847, lukisan Raden Saleh berjudul “Berburu Rusa” terpampang di dinding pameran di event Pameran Salon Paris, Louvre. Bersama pelukis dunia lainnya seperti Eugene Delacroix, Ziegler, Horace Vernet, dll. Dan era gaya Romantik pun memasuki masa akhirnya.

Khalayak umum seringkali mempertanyakan sikap Raden Saleh terkait dengan kedekatannya pada kolonialis Hindia Belanda saat itu. Penulis sebenarnya telah menafsirkan sikap Raden Saleh tersebut dengan jelas melalui dialog yang disampaikan pada bab “Kembali ke Jawa”. Untuk lebih jelasnya silahkan membacanya sendiri pada bab tersebut diatas.

“Berburu Rusa” oleh Raden Saleh, 1846. Museum Mesdag. The Hague

November 1851 Raden Saleh berangkat dari Rotterdam, pulang ke Hindia via Colombo menggunakan kapal uap Macassar. Berbobot 350 ton dengan panjang tak lebih dari 100 meter dan berkecepatan 9 knot per jam. 

Diperkirakan kapal sandar di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia pada bulan Feb/Mar 1852. Di pelabuhan itu juga, Raden Saleh pertama kali bertemu dengan Constancia Winkelhagen, yang kelak menjadi istrinya. Cerita romantis pun terselip dalam kisahnya, ketika tahun 1854 dia melamar Constancia, janda pengusaha batik dan parfum di hotel Rotterdam dengan memasangkan cincin di jari manisnya.

Tahun 1857 Raden Saleh mulai membangun rumah besar di Cikini. Constancia, sang istri yang sangat mencintainya, membiayai sepenuhnya, dan menamai rumah itu Tanzhaus (Rumah Dansa). Mereka berharap nanti akan tersedia ruang untuk berdansa di dalam rumah tersebut. Rencana rumah besar mewah dengan kebun binatang di depannya. Persis seperti apa yang dicita-citakan mereka berdua sebelumnya.

Rumah Raden Saleh, Cikini. 26 Agt 2025

Drama domestik pun menjadi persoalan serius. Constancia terpaksa berpisah dengan Raden Saleh, karena tak mampu lagi mengelola tekanan budaya rasis kolonial. Isu Belanda vs Pribumi sudah sangat mengganggu kebahagiaan mereka. Dan tahun 1867, Rumah Cikini pun akhirnya dijual oleh pemiliknya, Constancia.

Budaya rasis di Hindia Timur ini memang dirasakannya semakin menyiksanya. Bahkan perlakuan rasis ini tak sedemikian besar dirasakannya ketika tinggal di Eropa. Disana ia justru mendapatkan perlakuan istimewa karena keahlian melukisnya dan kedekatannya dengan para pejabat. 

Sesungguhnya Raden Saleh memang lebih merasakan kedekatan emosional dengan Dresden, Jerman daripada Belanda, seperti dikatakannya dalam buku ini,

“Namun, dari lingkungan Jerman-lah aku merasakan ikatan cinta kasih, rasa persaudaraan yang tulus, kesetaraan, dan pengakuan atas keberadaan diriku apa adanya. Itulah masa terindah dalam hidupku, meskipun hanya empat tahun lamanya.”

Raden Saleh masih sempat kembali ke Eropa bersama istri, Raden Ayu Danudireja dan putri tunggal angkatnya, Sarinah, untuk menemui kolega lamanya, atas undangan Adipati Agung Saxen-Coburg-Gotha. Cukup banyak cerita menarik disampaikan Penulis pada kesempatan kunjungan selama 3 tahun tersebut.

Raden Saleh dan Raden Ayu Danudireja

Novel sejarah ini ditutup dengan cerita wafatnya Raden Saleh. Kapan dan bagaimana proses wafatnya, serta bagaimana selanjutnya dengan nasib sang istri Raden Ayu Danudireja dan putri tunggalnya, Sarinah? Silahkan membacanya. Menarik dan tak akan bosan menikmatinya hingga halaman terakhir.

Cerita Kedua

Bila Cerita Pertama tentang Raden Saleh dimulai pada tahun 1820, maka Cerita Kedua ini dimulai di tahun 1924. 

Ini cerita tentang kehidupan masyarakat di kota Bandung di zaman pergerakan seperti Boedi Oetomo, Cokroaminoto, Syarikat Islam dan partai-partai politik. Tentu di masa penjajahan kolonial Belanda. Tak ada kesetaraan. Masyarakat pun dibuatnya berkelas. Perlakuan yang merendahkan sangat dirasakan oleh kelas bawah. Bahkan untuk masuk ke dalam restoran saja, mereka yang di kelas bawah tersebut tak diperkenankan. Banyak papan pengumuman larangan bagi pribumi seperti ini terpasang di berbagai area, “Verboden voor Honden en Inlander”. Rasis.

Dimulai dengan kisah perkenalan antara Ratna Juwita -gadis asli pribumi, putri seorang janda yang kawin lagi dengan Thadeus van Geelman, jurnalis Belanda-Perancis-, dengan arsitek yang juga penggemar lukisan Latief Syamsudin Harja Adisurya. Kelak mereka menjadi suami-istri. Syamsudin adalah konservatif yang berpandangan bahwa “Bumiputra belum saatnya mengambil alih pemerintahan. Perlu lebih banyak yang mampu menguasai berbagai pekerjaan lebih dahulu”. Bukan anggota Pergerakan, meskipun mendukungnya. 

Ratna (20 tahun) adalah pengagum Rembrandt, yang beraliran Barok, pelukis awal abad 16. Penjelasan tentang aliran Rembrandt ini disampaikan penulis dalam bab “Malam Tahun Baru”. Saat itu Ratna punya minat besar terhadap lukisan beraliran Romantik dan Delacroix. Aliran lukisan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan dengan Cerita Pertama tentang Raden Saleh. 

Pertemanan Ratna semakin berkembang, hingga berkenalan dengan Syafei, karyawan Syamsudin. Terjadi hubungan romantis dengannya. Secara rahasia, dia adalah anggota partai PKI.

Cerita berlanjut dengan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan bangsa mulai tumbuh. Perjuangan fisik tak terhindarkan. Dan pergerakan bersenjata PKI pun mulai terjadi. Berujung ditangkapnya Syafei dan di”buang” Belanda ke Digul, Irian Jaya.

Bumbu romantisme hubungan Ratna, Syafei dan Syamsudin serta pergerakan bawah tanah PKI melawan Belanda, hingga diasingkannya para pejuang ke Digul, cukup menarik untuk dinikmati.

Relasi kedua cerita

Keduanya bercerita tentang perjuangan. Dalam cerita utama, Penulis menyajikan Raden Saleh sebagai seniman pelukis profesional. Karyanya, Penangkapan Pangeran Dipanegara mengesankan kemarahan Raden Saleh terhadap kesewenang-wenangan Belanda. Rasa kebangsaan pun tergambarkan disana. Pangeran Dipanegara berdiri sama tinggi dengan wajah tegak menatap penangkapnya, jenderal De Kock. Perjuangan Raden Saleh dilakukan melalui sapuan kuas. Lukisan

Berbeda dengan zaman Raden Saleh di abad 19, cerita ke-2 terjadi pada abad ke 20, perjuangan fisik memang sudah memasuki masanya. Jepang. Inggris dan kembali Belanda memasuki negeri ini, dengan kekejaman bersenjata. 

Keduanya dalam semangat perjuangan, dengan media yang berbeda.

Selamat membaca.

Tautan

  1. Raden Saleh
  2. Alphonse Mucha and Art Nouveau
  3. THE NIGHT WATCH IS COMPLETE AGAIN
  4. Dipanegara marah terhadap Residen Nahuys
  5. Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

Read Full Post »