Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Dipanegara’

Ingatan

Nama Raden Saleh (RS) selalu muncul dalam ingatan, setiap kali membaca atau bicara tentang Pangeran Dipanegara. Ingatan itu muncul berbayang dalam bentuk karya lukisnya tentang penangkapan Dipanegara oleh pasukan Belanda. Entah sejak kapan dan dimana lukisan itu mulai terrekam dalam ingatan. Tak pernah mengulik di internet untuk mencari tahu tentangnya.

Setiap hari di bulan Februari-Maret 2025 yang lalu, selalu melewati jalan Raden Saleh, Cikini ketika pulang dari RSCM. Ingat samar-samar bahwa rasanya dulu ada penunjuk jalan tertulis “Kebun Binatang” atau “Rumah Raden Saleh” di jalan itu. Lupa, entahlah .. Ternyata rumah lama Raden Saleh itu sekarang tertutupi oleh RS. PGI Cikini. Masih ada beberapa rusa di taman hutan depan rumah, menurut satpam disana.

Mulailah berselancar di media sosial mencari info tentang sejarah dan  karya-karya Raden Saleh, tiba-tiba muncul di instagram penawaran buku hardcopy bersampul gambar “mencolok mata”, “Pangeran Dari Timur” karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, terbitan Bentang Pustaka, 2020. Novel sejarah tentang Raden Saleh. Yessss … langsung beli. 

Ternyata tersedia juga versi ebooknya di Play Books. Buku setebal 605 halaman itu selesai sudah kubaca tak lebih dari empat hari. Puas mengawali keingintahuan tentang Raden Saleh.

Penulis

Semakin tertarik untuk membacanya, setelah tahu bahwa kedua penulisnya berasal dari disiplin ilmu seni rupa, fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Sehingga terpercaya dan terasa nyaman ketika mendapatkan penjelasan tentang teknik sapuan kuas diatas kanvas serta berbagai sejarah, gaya lukisan dan para pelukisnya. Termasuk juga dijelaskannya tentang gaya Klasik, Realis, Barok, Impresionis dan gaya lukisan Raden Saleh (Romantik). Menyenangkan mendapatkan sedikit pencerahan tentang gaya lukisan Rembrandt (era Barok), Delacroix (era akhir Romantik), dll.

Tertulis di halaman terakhir bukunya, tentang Penulis. Iksaka Banu, kelahiran Yogyakarta, 1964. Aktif menulis sejak kecil. Tulisan fiksinya banyak dimuat di berbagai media utama. Juga banyak mendapatkan penghargaan.

Sementara Kurnia Effendi banyak aktif di dunia sastra sejak tahun 80an. Sebagai penulis, instruktur, juri maupun kurator karya sastra. Tiga puluh penghargaan sastra diraihnya, termasuk di dalamnya 8 penghargaan sebagai juara pertama. Mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud untuk penelitian tentang Raden Saleh di Belanda.

Gerakan Seni Rupa

Sedikit kutipan dari novel ini, sebagai pengetahuan, terkait gaya seni rupa,

Rembrandt pelukis berbakat pada awal abad ke-16. … dia sangat menguasai nuansa gelap terang pada sosok-sosok yang digambarnya… Rembrandt hidup di masa ketika gaya Barok berjaya. Barok adalah pembaruan dari aliran Klasik. Untuk memudahkan mengenali aliran itu, dapat dilihat dari gelap terang yang sangat kontras dalam komposisi lukisannya dan dari kostum para manusia yang dilukis. Umumnya, Barok menampilkan postur seseorang atau beberapa orang yang berdandan berlebihan.

The Night Watch by Rembrandt 1642

Delacroix. Dia salah seorang seniman Prancis pengikut aliran Romantik. … Ciri khasnya adalah goresan kuas liar, penuh warna cemerlang yang saling bertabrakan, serta enggan menjaga ketertiban batas garis bentuk. Bisa saja warna kulit dan warna baju saling tumpang tindih. Kelak, gaya sapuan kuas semacam ini menjadi fondasi aliran Impresionis, aliran yang datang tak lama setelah Romantik meredup. Jadi, sesungguhnya Delacroix … adalah generasi pamungkas gerakan Romantik.

“Liberty Leading the People” by Eugéne Delacroix, 1830

Gaya dialogis cukup nyaman digunakan Penulis yang alumni Seni Rupa ITB itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang gaya lukisan Romantik,

“Gerakan Romantik sesungguhnya adalah ― sebut saja untuk mudahnya – jawaban atas kejenuhan masyarakat seni di Eropa terhadap aliran Neoklasik.”

Aliran itu juga tidak pernah membuat pembaruan yang berarti. Hanya ada perubahan kecil di sana sini dari aliran Klasik, pendahulunya. Orang sudah bosan dan terlalu hafal kisah dewa-dewi Yunani atau pahlawan Romawi. Lihat saja lukisan Jacques Louis David pada awal kariernya. Begitu mudah ditebak. Lukisan “Mars Kontra Minerva”, “Paris Menculik Helena”, “Leonidas di Thermopylae”, “Jenderal Belisarius Menjadi Pengemis”, dan seterusnya. 

Semua terungkap begitu gamblang dalam sekali lihat. Simetris, bersih, tertib, dan bila mereka menggambar wajah atau gerak tubuh manusia, biasanya terlihat anggun. Tak ada kejutan. 

Leonidas at Thermopylae, 1814, by Jacques-Louis David

… pemantik lain aliran Romantik, yaitu kehadiran Revolusi Industri. Revolusi besar itu dianggap telah menghilangkan banyak nilai kekerabatan manusia. Keluarga yang pada masa sebelumnya bisa berkumpul jam lima sore setelah selesai menggarap ladang, kini terpaksa bekerja hingga larut malam di pabrik-pabrik dengan gaji rendah sehingga satu keluarga perlu dikerahkan untuk memburu penghasilan. Keadaan itu membuat banyak orang menjadi melankolis. Mereka disergap kerinduan, mengingat masa lalu yang romantis.”

Intinya, lukisan Romantik berusaha menggambarkan manusia pada tatanan sosial sebelum ada mesin-mesin, yang mengatur hidup secara mekanis. Lukisan gaya Romantik bermain dengan horor, teror, darah, gerak tubuh penuh semangat, serangan mendadak, perkelahian binatang, bencana besar, kecelakaan, atau manusia dikoyak hewan buas.

Gaya Penulisan

Buah dari riset penulis di Belanda sangat terasa dalam novel ini. Kekayaan penulisan sejarah dan budaya yang rinci atas berbagai peristiwa kunjungan, kegiatan dan banyaknya relasi Raden Saleh dengan para pejabat dan pesohor seni rupa di negara-negara Eropa tentu didasarkan pada kelengkapan kepustakaan. Sudah jamak kita dengar bahwa kepustakaan tentang sejarah Hindia Timur lebih banyak bisa diperoleh di Belanda.

Ketika mulai membaca novel ini, sedikit kaget, bosan dan bingung. Karena urutan waktu yang terasa melompat-lompat. Cerita dimulai pada awal abad 20 di bab 1, tiba-tiba lompat mundur ke awal abad 19 pada bab berikutnya. Kemudian kembali lagi ke abad 19. Demikian seterusnya. Unik.

Ternyata, lompatan waktu tersebut terjadi karena novel ini bercerita tentang dua peristiwa yang berbeda. Bukan cerita tentang dua peristiwa sebab-akibat. Tokoh, latar-belakang, juga waktu yang berbeda. Yang sama adalah keduanya bercerita tentang seni rupa, penjajahan dan semangat perjuangan.

Cerita Pertama tentang sejarah kehidupan Raden Saleh, yang diawali pada masa kecilnya di tahun 1820. Cerita Kedua tentang kehidupan masyarakat pecinta lukisan di Bandung yang berujung pada perjuangan masyarakat umum dan partai politik, menentang kolonialisme Belanda di abad 20.

Perilaku, gestur, tutur kata dalam dialog dan gaya berpakaian serta situasi lingkungan seringkali digambarkan secara rinci, dengan gaya bahasa yang enak mengalir tak membosankan. Nama-nama jalan pun banyak disebutkan dalam bahasa lama, seperti Nijlandweg (Cipaganti), Buitenzorg (Bogor), Berg en Dalseweg (jalan Ciumbuleuit), Bronbeekweg (jalan Sukajadi), Schoolweg (jalan Merdeka), dll. Membangkitkan imajinasi suasana budaya feodal kolonial abad 19. 

Cerita Pertama

“Penangkapan Dipanegara” oleh Raden Saleh

Sejarah Raden Saleh dimulai dengan ngèngèr, menumpang hidup dalam perlindungan dan didikan pamannya, Raden Aria Adipati Sura Adi Menggala V, Bupati Semarang. Tahun 1819, ketika Saleh masih sangat muda, sang paman mengijinkan dirinya diboyong ke Cianjur oleh dua orang Belanda, Capellen dan Reinwardt. Untuk sekolah misionaris, supaya bisa belajar melukis dibawah bimbingan pelukis handal, Adrianus Bik. Tinggal di rumah Bupati Cianjur, sepupu dari sang paman. 

Belum sampai usia 10 tahun, Saleh sudah mesti pindah lagi ke Buitenzorg (Bogor) untuk lebih serius belajar melukis dibawah bimbingan Joseph Payen. Dan tinggal di rumah sang guru tersebut. Dari sini dimulai kehidupan karir Raden Syarif Saleh Bustaman. Relasi dengan pejabat Hindia semakin banyak, hingga mendapatkan beasiswa dari kerajaan untuk sekolah seni rupa di Belanda. 

Tahun 1830, sampai di Amsterdam, Belanda, Raden Saleh belajar melukis di sekolah milik Cornelis Kruseman. Seorang ahli lukis potret. Juga berkesempatan belajar melukis dari seorang maestro lukisan pemandangan Andreas Schelfhout. 

Raden Saleh semakin tenar karena mendapat pesanan untuk melukis potret para selebriti politik Belanda. Pergaulan di tingkat elite pun semakin meluas. Kota ‘s Gravenhage menjadi kota kenangan indah yang seringkali disebut dalam novel ini. Kota di Belanda, tempat Raden Saleh mulai berkarir profesional sebagai pelukis dunia.

Dalam bab “Arah Angin”, diceritakan tentang ditangkapnya Pangeran Dipanegara oleh jenderal de Kock, Belanda. Termasuk di dalamnya kisah tentang pengkhianatan panglima perang, Alibasyah Sentot. 

Kisah tragis ini mengilhami Raden Saleh untuk menuangkan kekesalannya, sebagai sikap politis, terhadap kolonialisme Belanda, ke atas kanvas di tahun 1856-1857. Menjadi karya lukis yang sangat tenar “Penangkapan Dipanegara”. Lukisan ini dibuat, sebagai respon atas lukisan karya pelukis Belanda, Nicolaas Paneman, yang merendahkan perjuangan Dipanegara, berjudul “Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock”.

“Penyerahan Diri Pangeran Dipanegara kepada Jenderal de Kock” oleh Nicolaas Paneman

Atas upaya gurunya, Cornelis Kruseman, Raden Saleh mendapat perpanjangan kontrak untuk terus belajar seni lukis di Belanda. Bahkan mendapat kesempatan belajar dan berpameran lukisan di Jerman, Italia dan Perancis.

Berkenalan dengan lukisan dan beberapa pelukis kaliber dunia, membuat kualitas karya Raden Saleh semakin tumbuh dinamis, tak lagi hanya lukisan potret,

“… Aku ingin menjadi seorang artis, yang ikut terlibat dalam suatu gerakan pembaruan kesenian. Aku ingin melukis sesuatu yang bergerak dinamis. Sesuatu yang berteriak, melompat, mencabik-cabik, bukan wajah-wajah kaku yang duduk dalam posisi tiga perempat badan menghadap depan dengan latar gelap sambil mengatupkan mulut dan menyilangkan kaki seperti ini”

Dari lukisan potret, Raden Saleh mulai bergerak ke lukisan yang lebih dinamis, kejam namun tetap dalam gaya Romantik. Tema pergulatan antara singa dengan kerbau, berburu singa, diterkam singa, badai laut, kapal karam, dll. menjadi warna baru.

Tahun 1840, Raden Saleh mulai keliling Eropa untuk pameran lukisan dan belajar lebih banyak tentang gaya Romantik dari para pelukisnya. Mulai dari kota-kota di Jerman, seperti Dusseldorf, Frankfurt, Berlin, Dresden, Maxen dan Coburg.

Seperti banyak terlihat dalam foto-fotonya, Penulis menceritakan bahwa sejak tinggal di Dresden, Raden Saleh mulai gemar membalut tubuhnya dengan pakaian adat Jawa: blangkon, surjan, kain. Namun, sering pula dia menggabungkan pakaian Jawa tadi dengan turban, salwar Turki, atau jubah penuh sulaman emas hasil rancangannya sendiri. 

Setelah 5 tahun di Jerman, tahun 1845, Raden Saleh menginjakkan kakinya di Paris, Perancis dalam usia 32 tahun. Di kota Tournai, bertemu sahabat lama Joseph Payen. Pelukis Maestro Romantik, Horace Vernet dan Delacroix menjadi alasan utama Raden Saleh berkunjung ke Paris. Untuk belajar darinya. Raja Louis-Philippe pun sempat menerimanya di Paris.

Tahun 1847, lukisan Raden Saleh berjudul “Berburu Rusa” terpampang di dinding pameran di event Pameran Salon Paris, Louvre. Bersama pelukis dunia lainnya seperti Eugene Delacroix, Ziegler, Horace Vernet, dll. Dan era gaya Romantik pun memasuki masa akhirnya.

Khalayak umum seringkali mempertanyakan sikap Raden Saleh terkait dengan kedekatannya pada kolonialis Hindia Belanda saat itu. Penulis sebenarnya telah menafsirkan sikap Raden Saleh tersebut dengan jelas melalui dialog yang disampaikan pada bab “Kembali ke Jawa”. Untuk lebih jelasnya silahkan membacanya sendiri pada bab tersebut diatas.

“Berburu Rusa” oleh Raden Saleh, 1846. Museum Mesdag. The Hague

November 1851 Raden Saleh berangkat dari Rotterdam, pulang ke Hindia via Colombo menggunakan kapal uap Macassar. Berbobot 350 ton dengan panjang tak lebih dari 100 meter dan berkecepatan 9 knot per jam. 

Diperkirakan kapal sandar di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia pada bulan Feb/Mar 1852. Di pelabuhan itu juga, Raden Saleh pertama kali bertemu dengan Constancia Winkelhagen, yang kelak menjadi istrinya. Cerita romantis pun terselip dalam kisahnya, ketika tahun 1854 dia melamar Constancia, janda pengusaha batik dan parfum di hotel Rotterdam dengan memasangkan cincin di jari manisnya.

Tahun 1857 Raden Saleh mulai membangun rumah besar di Cikini. Constancia, sang istri yang sangat mencintainya, membiayai sepenuhnya, dan menamai rumah itu Tanzhaus (Rumah Dansa). Mereka berharap nanti akan tersedia ruang untuk berdansa di dalam rumah tersebut. Rencana rumah besar mewah dengan kebun binatang di depannya. Persis seperti apa yang dicita-citakan mereka berdua sebelumnya.

Rumah Raden Saleh, Cikini. 26 Agt 2025

Drama domestik pun menjadi persoalan serius. Constancia terpaksa berpisah dengan Raden Saleh, karena tak mampu lagi mengelola tekanan budaya rasis kolonial. Isu Belanda vs Pribumi sudah sangat mengganggu kebahagiaan mereka. Dan tahun 1867, Rumah Cikini pun akhirnya dijual oleh pemiliknya, Constancia.

Budaya rasis di Hindia Timur ini memang dirasakannya semakin menyiksanya. Bahkan perlakuan rasis ini tak sedemikian besar dirasakannya ketika tinggal di Eropa. Disana ia justru mendapatkan perlakuan istimewa karena keahlian melukisnya dan kedekatannya dengan para pejabat. 

Sesungguhnya Raden Saleh memang lebih merasakan kedekatan emosional dengan Dresden, Jerman daripada Belanda, seperti dikatakannya dalam buku ini,

“Namun, dari lingkungan Jerman-lah aku merasakan ikatan cinta kasih, rasa persaudaraan yang tulus, kesetaraan, dan pengakuan atas keberadaan diriku apa adanya. Itulah masa terindah dalam hidupku, meskipun hanya empat tahun lamanya.”

Raden Saleh masih sempat kembali ke Eropa bersama istri, Raden Ayu Danudireja dan putri tunggal angkatnya, Sarinah, untuk menemui kolega lamanya, atas undangan Adipati Agung Saxen-Coburg-Gotha. Cukup banyak cerita menarik disampaikan Penulis pada kesempatan kunjungan selama 3 tahun tersebut.

Raden Saleh dan Raden Ayu Danudireja

Novel sejarah ini ditutup dengan cerita wafatnya Raden Saleh. Kapan dan bagaimana proses wafatnya, serta bagaimana selanjutnya dengan nasib sang istri Raden Ayu Danudireja dan putri tunggalnya, Sarinah? Silahkan membacanya. Menarik dan tak akan bosan menikmatinya hingga halaman terakhir.

Cerita Kedua

Bila Cerita Pertama tentang Raden Saleh dimulai pada tahun 1820, maka Cerita Kedua ini dimulai di tahun 1924. 

Ini cerita tentang kehidupan masyarakat di kota Bandung di zaman pergerakan seperti Boedi Oetomo, Cokroaminoto, Syarikat Islam dan partai-partai politik. Tentu di masa penjajahan kolonial Belanda. Tak ada kesetaraan. Masyarakat pun dibuatnya berkelas. Perlakuan yang merendahkan sangat dirasakan oleh kelas bawah. Bahkan untuk masuk ke dalam restoran saja, mereka yang di kelas bawah tersebut tak diperkenankan. Banyak papan pengumuman larangan bagi pribumi seperti ini terpasang di berbagai area, “Verboden voor Honden en Inlander”. Rasis.

Dimulai dengan kisah perkenalan antara Ratna Juwita -gadis asli pribumi, putri seorang janda yang kawin lagi dengan Thadeus van Geelman, jurnalis Belanda-Perancis-, dengan arsitek yang juga penggemar lukisan Latief Syamsudin Harja Adisurya. Kelak mereka menjadi suami-istri. Syamsudin adalah konservatif yang berpandangan bahwa “Bumiputra belum saatnya mengambil alih pemerintahan. Perlu lebih banyak yang mampu menguasai berbagai pekerjaan lebih dahulu”. Bukan anggota Pergerakan, meskipun mendukungnya. 

Ratna (20 tahun) adalah pengagum Rembrandt, yang beraliran Barok, pelukis awal abad 16. Penjelasan tentang aliran Rembrandt ini disampaikan penulis dalam bab “Malam Tahun Baru”. Saat itu Ratna punya minat besar terhadap lukisan beraliran Romantik dan Delacroix. Aliran lukisan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan dengan Cerita Pertama tentang Raden Saleh. 

Pertemanan Ratna semakin berkembang, hingga berkenalan dengan Syafei, karyawan Syamsudin. Terjadi hubungan romantis dengannya. Secara rahasia, dia adalah anggota partai PKI.

Cerita berlanjut dengan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan bangsa mulai tumbuh. Perjuangan fisik tak terhindarkan. Dan pergerakan bersenjata PKI pun mulai terjadi. Berujung ditangkapnya Syafei dan di”buang” Belanda ke Digul, Irian Jaya.

Bumbu romantisme hubungan Ratna, Syafei dan Syamsudin serta pergerakan bawah tanah PKI melawan Belanda, hingga diasingkannya para pejuang ke Digul, cukup menarik untuk dinikmati.

Relasi kedua cerita

Keduanya bercerita tentang perjuangan. Dalam cerita utama, Penulis menyajikan Raden Saleh sebagai seniman pelukis profesional. Karyanya, Penangkapan Pangeran Dipanegara mengesankan kemarahan Raden Saleh terhadap kesewenang-wenangan Belanda. Rasa kebangsaan pun tergambarkan disana. Pangeran Dipanegara berdiri sama tinggi dengan wajah tegak menatap penangkapnya, jenderal De Kock. Perjuangan Raden Saleh dilakukan melalui sapuan kuas. Lukisan

Berbeda dengan zaman Raden Saleh di abad 19, cerita ke-2 terjadi pada abad ke 20, perjuangan fisik memang sudah memasuki masanya. Jepang. Inggris dan kembali Belanda memasuki negeri ini, dengan kekejaman bersenjata. 

Keduanya dalam semangat perjuangan, dengan media yang berbeda.

Selamat membaca.

Tautan

  1. Raden Saleh
  2. Alphonse Mucha and Art Nouveau
  3. THE NIGHT WATCH IS COMPLETE AGAIN
  4. Dipanegara marah terhadap Residen Nahuys
  5. Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

Read Full Post »

Screenshot_20171218-124629Nama Diponegoro selalu bergaung di kepala sejak kecil. Bayang surban dan jubah putih berkibar terlihat gagah, pejuang bangsa yang tegap duduk di atas pelana kuda dengan keris menyelip dalam sabuk di atas perutnya. Film November 1928 karya Teguh Karya yang dibintangi oleh Slamet Rahardjo dan Yenny Rachman, cukup mengobati kerinduan visual terhadapnya. Atau, justru membatasi ruang imajinasi dan pemahaman sejarah ?

Tiga buku tentang Diponegoro terbit hampir dalam kurun waktu yang sama. Satu buku terjemahan bahasa Jawa “Pangeran Dipanegara” yang merupakan karya asli Pangeran Diponegoro yang ditulis di Manado, dan dua buku karya Peter Carey, “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” dan “Sisi lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa“, sangat membantu pemuasan diri terhadap keingin-tahuan tentang Pangeran Diponegoro, yang ditangkap Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830.

TakdirTakdir adalah karya Carey yang menjelaskan tentang Diponegoro berdasar Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri (1831-1832) saat berada di pengasingan Manado dan sepertinya menjadi dasar pengetahuan umum masyarakat kita selama ini, sedangkan Sisi Lain Diponegoro (SLD) adalah buku Carey setebal 270 halaman, yang ditulisnya berdasar studi terhadap Babad Kedung Kebo, karya Cokronegoro, bupati pertama Purworejo, dan Pangalasan, panglima perang Diponegoro untuk wilayah Bagelen (awal 1840an), yang kemudian justru menjadi lawan perangnya. Buku “Sisi Lain Diponegoro” lebih dulu dapat saya selesaikan membacanya, berhubung dalam format eBook yang bisa dibeli dari aplikasi android Scoop dan mudah dibaca dimanapun kita berada. Tulisan ini adalah komentar dan suntingan dari buku tersebut, sedangkan buku Takdir, dalam format hard copy setebal 512 halaman akan dibuatkan tulisannya dalam blog ini secepatnya.

Unik, itu yang bisa dirasakan ketika membaca buku Sisi Lain Diponegoro. Terbayang kesulitan Carey dalam melakukan studi tentang Diponegoro. Babad bukanlah sejarah kejadian faktual dimasa lalu, yang tersusun rapi dalam bentuk buku dengan kejelasan waktu, kejadian dan pelakunya; melainkan kumpulan cerita atau opini penulisnya dalam bentuk puisi atau tembang yang seringkali tanpa penunjuk waktu. Condro sengkolo atau simbol waktu dalam bahasa jawa, digunakan sebagai penunjuk waktu, yang membutuhkan keahlian penafsiran tersendiri. Kepekaan dan pengetahuan terhadap budaya Jawa, termasuk pengetahuan dalam hal pewayangan menjadi prasyarat utama untuk dapat menjelaskan isi Babad Diponegoro ini.

Kutipan dari buku Takdir menyatakan bahwa sejarawan militer Belanda, PJ.F. Louw (1856-1924), yang menjadi penulis mitra mahakarya tentang Perang Jawa, De Java-Oorlog van 1825-30 (1894-1909) menyatakan:
“Tanpa keraguan kita harus menghargai Babad Diponegoro begitu tinggi sehingga dengan gamblang kita bisa mengatakan bahwa suatu tulisan sejarah tentang Perang Jawa yang tidak menggunakan babad sebagai sumber utama harus dicap sangat kurang lengkap”.
Kutipan ini dijadikan rujukan oleh Carey untuk menggunakan Babad sebagai sumber utama studi tentang Diponegoro, meskipun ahli sejarah Profesor Sartono menganggap Babad itu bukanlah sejarah, melainkan sejenis dongeng, cerita turun-temurun atau hikayat. Bila anda berasal dari Jawa dan sering menikmati acara sandiwara ketoprak, maka cerita kerajaan Jawa semacam inilah mungkin yamg dimaksud oleh beliau sebagai dongeng tersebut.

Susunan penulisan buku Sisi Lain Diponegoro ini, Carey menyajikannya dalam tiga bagian, yaitu bagian 1 mengenai Ekologi Kebudayaan Jawa, yang menjelaskan tentang pentingnya peranan Wayang dalam kebudayaan Jawa. Cerita tentang wayang ini ternyata penting sekali dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu, bahkan Diponegoro mangasosiasikan dirinya dengan Arjuna yang halus dan tegas juga suka bertapa, sementara Cokronegoro menganggap Diponegoro lebih cocok dengan karakter Suyudono (Kurawa) yang tewas ditangan Bima. Bagian 2 tentang perbandingan rujukan Babad Kedung Kebo karya Cokronegoro dan Pangalasan, serta Bagian 3 adalah Epilog yang menjelaskan tentang sejarah kota Puworejo, dimana Cokronegoro menjadi Bupati pertama.

Menurut kajian Carey, secara singkat ada tiga kelompok Babad Diponegoro:
1. Babad Diponegoro
Babad Dipanegara

Merupakan otobiografi sang Pangeran sendiri, yaitu Babad Diponegoro. Babad ini ditulis di Manado dalam kurun waktu sembilan bulan (13 November 1831-3 Februari 1832). Diponegoro sempat menceritakan sejarah Jawa dan riwayatnya hingga di pengasingan. Sepertiga dari Babad ini menyangkut sejarah Jawa dari Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) (wafat 1478) hingga sebelum kelahiran Diponegoro pada 11 November 1785. Sisanya menggambarkan kehidupannya serta keadaan zamannya sampai awal masa pengasingannya di Manado (1830-1833). Diduga Diponegoro menceritakan riwayat hidupnya kepada seorang juru tulis yang menulis babad asli dalam bentuk tembang macapat.

 

Babad Diponegoro merupakan sumber sejarah Jawa yang paling terkenal dan sekarang sudah diakui sebagai Warisan Dunia (Memory of the World) oleh UNESCO (18 Juni 2013). Salah satu sebab, babad ini telah diterjemahkan serta diterbitkan menggunakan aksara Jawa oleh penerbit di Surakarta sebelum Perang Dunia I. Namun sampai sekarang belum ditemukan naskah aslinya, dan semua referensi yang digunakan di dalam buku pendek ini berasal dari salinan yang belakangan dibuat di Surakarta dan yang sekarang dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden.

 

2. Babad Kedung Kebo
Buku Sisi Lain Diponegoro ini lebih fokus menjelaskan tentang Babad Kedung Kebo, yang ditulis pada awal 1840-an hingga 1843, atas prakarsa bupati perdana Purworejo (pra-1831, Bupati Brengkelan), Raden Adipati Ario Cokronegoro I (menjabat 1831-1856), antara 1842 dan 1843. Kemungkinan besar bahwa seorang mantan komandan pasukan Diponegoro, Basah Pengalasan (sekitar 1795-pasca-1866) juga ikut menyusun kitab tersebut. Bagelen terletak di sisi timur Kali Bogowonto, yang berfungsi sebagai tangsi militer Belanda selama Perang Jawa. Setelah Perang Jawa, nama Kedung Kebo dipertahankan sebagai tangsi militer, tapi nama hoofdplaats (kota administratif) diubah dari Brengkelan menjadi Purworejo pada 26/27 Februari 1831.

 

Berbeda dari isi otobiografi Pangeran Diponegoro, babad ini bukanlah suatu pembenaran untuk berperang melawan Belanda, sebaliknya justru untuk membenarkan tindakan Cokronegoro yang bergabung di pihak Belanda melawan pasukan Diponegoro.
Di bagian awal Babad, gambaran sang Pangeran dapat dikatakan masih positif: ketaatan agamanya dikagumi, walaupun keterlibatan masyarakat agama dalam peristiwa politik dikritik keras. Memang ada dikotomi dalam sikap penulis Babad Kedung Kebo terhadap Diponegoro. Ini memperkuat teori bahwa Babad ini merupakan karya dua orang, sang bupati perdana Purworejo dan panglima Pangeran di Bagelen timur, Basah Pengalasan. Mungkin yang terakhir berkontribusi paling banyak mengenai riwayat Pangeran sebelum Perang Jawa.

 

Tradisi lisan Jawa menyebutkan bahwa Diponegoro maupun Cokronegoro, belajar tasawuf dan ajaran tarekat Shattariyah kepada guru agama yang sama sebelum meletusnya Perang Jawa, Kiai Taptojani dari Mlangi. Namun pada akhirnya justru bermusuhan ketika terjadi Perang Jawa. Cokronegoro beranggapan bahwa pencapaian spiritual Diponegoro memang besar. Namun kegagalan akhirnya harus diderita sang Pangeran. Keputusan Cokronegoro untuk berperang melawan Diponegoro digambarkan sebagai hasil pemahamannya atas kelemahan mendasar Diponegoro karena paduan karakter mental dan spiritualnya. Dalam babad, sikap ini diterangkan dalam konteks pandangan budaya Jawa yang tradisional dan pemahaman kosmis. Ada tiga buah tema utama yang ditemukan dalam Babad Cokronegoro:

  1. penggambaran sebelum meletusnya Perang Jawa, dan tanda serta keajaiban yang diterima oleh Diponegoro dan penasihat spiritualnya;
  2. setelah meletusnya perang, ada isu dari pembicaraan rakyat mengenai ramalan Joyoboyo dalam kaitannya dengan masalah kedatangan Ratu Adil; dan
  3. pada bagian akhir Babad ada gambaran wayang yang digunakan untuk mengukuhkan pandangan kritis tersebut terhadap pribadi pemimpin Perang Jawa.

Beberapa pertanda spiritual, yang telah diterima Diponegoro sebelum meletusnya Perang Jawa, menurut Cokronegoro banyak mengungkapkan sikap pribadinya yang menunjukkan sifat pamrih, dan kegagalan Diponegoro dapat dikaitkan dengan motif untuk melakukan pemberontakan yang tidak murni atau dipengaruhi oleh kepentingan serta ambisi pribadi. Pesan serupa juga disampaikan oleh Ki Ageng Selo, yang memperingatkan tentang bahaya yang akan ditimbulkan oleh sifat pongah (takabur).
Kemudian, ketika menjelaskan Diponegoro di markas pertama di Selarong (21Juli-5 Oktober 1825), secara eksplisit Cokronegoro mengemukakan bahwa Diponegoro terpengaruh oleh sifat kesombongan (kagepok takabur). Menurut Cokronegoro, Pangeran telah melupakan peringatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebelum pecahnya perang. Dengan demikian Dia mengeluarkan murkaNya sebagai akibat dari perbuatannya. Di samping itu ia juga disesatkan oleh Kiai Mojo. Penasihat agama utama itu mendesak Diponegoro untuk memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan pada saat yang tidak tepat.
Kelemahan fatal dari kepribadian spiritual Diponegoro ini dipertegas Cokronegoro dalam gambaran wayang yang ditulisnya di akhir Babad, bahwa Diponegoro disamakan dengan Prabu Suyudana, pemimpin kaum Kurawa, yang sombong dan tergoda pamrih, atau dengan kata lain ia menyatakan bahwa seorang yang memiliki kemampuan untuk menjadi penguasa yang besar, akhirnya mengalami kehancuran akibat kesombongannya. Dengan cara yang sama, sebagaimana ia menolak tuntutan Diponegoro atas kebangsawanannya, Cokronegoro juga menolak pendapat bahwa Pangeran tersebut memenuhi ramalan Joyoboyo tentang kedatangan sang Ratu Adil. Carey menulis rinci tafsir pewayangan terkait para aktor Perang Jawa, termasuk peran Diponegoro dalam Babad Kedong Kebo ini. Menarik.
Dengan memasukkan contoh wayang ini dalam kitabnya, Cokronegoro telah berhasil dengan baik memperlihatkan kekagumannya kepada Pangeran Diponegoro, sekaligus membenarkan tindakannya melawan Pangeran selama Perang Jawa.

3. Babad Surakarta
Babad Keraton Surakarta (selanjutnya: Babad Surakarta), menceritakan kejadian menjelang dan pasca Perang Jawa pada 20 Juli 1825, sudah diterbitkan sebagai edisi asli dengan huruf Romawi dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Melayu Indonesia oleh penulis sewaktu menyiapkan disertasi doktoral di Oxford pada 1975 (Carey 1981). Walaupun Babad ini hanyalah sebagian dari satu naskah keraton yang lebih panjang, ia tetap merupakan dokumen yang paling sesuai dengan masanya. Salinan Babad ini bisa ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2114) dan agaknya dibuat untuk sekolah bahasa Jawa yang didirikan oleh ahli bahasa Jawa dan misionaris Kristen berkebangsaan Jerman, J.F.C. Gericke (1798-1857), di Surakarta pada 1832.
Babad Diponegoro versi Keraton Surakarta, berbeda dengan kedua babad utama yang ditulis tokoh utama Perang Jawa, yaitu Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Ini karena Babad Surakarta merupakan fragmen dari sebuah Babad Keraton yang jauh lebih panjang. Babad yang lengkap itu boleh dikatakan sudah hilang.
Sikap terhadap Diponegoro yang diperlihatkan oleh penulis Babad ini sangat mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang pejabat keraton. Demikianlah misalnya, pandangannya tentang hubungan yang dijalin Diponegoro dengan santri. Hubungan ini mendapat celaan dalam Bharatayuda dan penulis naskah melontarkan keraguannya mengenai kesungguhan keyakinan keagamaan Pangeran. Ucapan yang dimasukkannya ke dalam mulut Residen Smissaert mungkin sekali mencerminkan sikap penulis babad dan kalangan bangsawan keraton Jawa terhadap sang pemimpin Perang Jawa. Biarpun banyak yang mengagumi sikap tegas yang diperlihatkan Diponegoro saat menghadapi Belanda, mereka tetap memandang dengan perasaan amat tidak rela hubungannya dengan para santri.
Teks keraton Kasunanan ini juga menggambarkan perbandingan yang paling dekat antara Diponegoro dan sosok Ratu Adil sendiri. Perbandingan ini juga ditemukan pada semua laporan yang ada dalam kesusastraan Jawa. Oleh karena itu, babad merupakan sumber paling sezaman yang tersedia. Tampaknya harapan akan munculnya seorang Ratu Adil memang tersebar secara luas menjelang perang dimulai di Jawa bagian tengah-selatan. Gambaran yang diberikan mengenai keruntuhan kehidupan masyarakat serta tata susila keraton sangat jelas. Meskipun dikemukakan dengan istilah yang sangat tradisional, gambaran dari masa yang menandai kedatangan seorang Ratu Adil dalam Bharatayuda mirip sekali dengan apa yang terdapat dalam Serat Cabolang yang ditulis di Keraton Kasunanan Surakarta sepuluh tahun sebelumnya (1815).
Babad mencerminkan bagaimana Diponegoro telah dipandang oleh anggota masyarakat keraton Jawa sebelum perang. Maka naskah versi Surakarta bisa dipakai sebagai salah satu pembanding yang bermanfaat bagi otobiografi Babad Diponegoro, yang memberikan pandangan Pangeran sendiri, serta Babad Kedung Kebo yang ditulis dari sudut kritis seorang lawannya.

 

Pewayangan
Berbeda dengan Babad Kedung Kebo, dimana Cokronegoro mengasosiasikan Diponegoro sebagai Prabu Suyudono dari kerajaan Kurawa, Carey berpendapat bahwa di dalam Babad Diponegoro, yang ditulis sendiri atau atas perintah Diponegoro di Manado (1831-1832), terdapat berbagai bagian dari tulisannya yang memberikan petunjuk bahwa sesungguhnya ia sendiri merasa lebih cocok dengan karakter Arjuna, saudara ketiga dari lima bersaudara keluarga Pandawa, yang berperilaku tenang namun tegas, juga gemar akan bertapa dan pusaka. Dari semua naskah yang dibaca oleh Diponegoro dan orang-orang sekelilingnya di Tegalrejo, sepertinya cerita Arjunawiwaha-lah yang memberikan pengaruh yang paling besar kepadanya. Personifikasi Arjuna dalam dirinya terlihat pada tindak laku spiritualnya dengan seringnya melakukan pengasingan diri (bertapa) dengan tujuan untuk menyucikan diri agar di kemudian hari dapat menjalankan suatu pemerintahan spiritual.
Gambaran wayang juga kembali memainkan peranan menarik dalam Babad Keraton ini. Mungkin sekali banyak adegan dalam naskah Babad Surakarta ini telah diinspirasi oleh pertunjukan wayang orang yang sempat dilihat oleh penulis babad di keraton Surakarta.

Peran Sultan Agung dan Wali Songo
Selain kisah pewayangan Arjuna yang banyak mempengaruhi karakter dan pengembaraan spiritual Diponegoro, kehidupan Sultan Agung dan Wali Songo punya peranan sangat penting dalam keislamannya.
Relevansi Sultan Agung untuk Diponegoro, pertama adalah sang Pangeran merasa ada kemiripan situasi yang sedang dihadapinya; dan kedua ia sangat mengagumi kedudukan sang raja Mataram sebagai pelindung spiritual Jawa. Demikian pulalah, di dalam pengembaraan yang dilakukannya pada masa yang lebih dini- yaitu ziarah ke Samudera Selatan pada musim kemarau 1805- Diponegoro menggambarkan bagaimana ia pada suatu waktu mendapatkan ‘wangsit’ dari Sunan Kalijogo yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang raja. Tetapi bukan sebagai raja biasa tapi lebih sebagai seorang pengawas spiritual bagi semua penguasa duniawi di Jawa.
Carey berpendapat bahwa Diponegoro memang telah mempersiapkan dirinya, secara spiritual, dan kini harus menerima kekuasaan sebagai pemimpin agama Islam di Jawa serta melaksanakan kekuasaan duniawi. Diponegoro memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin Islam di Jawa.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pertikaian Diponegoro dan Kyai Mojo. Berdasar Babad Diponegoro, Kiai Mojo pada 1827, menentang kekuasaan mutlak Diponegoro sebagai pandita-raja, Mojo menganjurkan Diponegoro untuk memilih satu kekuasaan pemerintahan dari empat posisi yang ditawarkannya:

  1. ratu (raja),
  2. wali (utusan keagamaan),
  3. pandita (ahli hukum),
  4. mukmin (orang-orang yang percaya dan yakin akan kebenaran agama Allah SWT).

Diponegoro menolak. Jika Diponegoro memilih kedudukan ratu, maka Mojo sendiri dapat mengambil gelar wali dan dengan demikian menikmati kekuasaan keagamaan yang mutlak.

Riwayat Hidup Cokronegoro (1779-1862)
COKRONEGORO lahir di Bagelen, sekarang wilayah Purwodadi, 17 Mei 1779, hampir semasa dengan Pangeran Diponegoro, yang lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785.
Cokronegoro pada awal jabatannya sebagai bupati perdana Purworejo (1831-1856) berinisiatif membangun saluran irigasi, yang mengambil air dari Sungai Bogowonto. Saluran ini, yang dikenal sebagai Kedung Putri, mulai dibangun 3 Mei 1832 dengan mengerahkan 5.000 tenaga kerja dan masih berfungsi sampai sekarang dengan kemampuan mengairi sawah seluas 3.800 hektar di sekitar Purworejo. Cokronegoro dan Diponegoro mempelajari ilmu tasawuf serta kebatinan (disiplin spiritual orang Jawa) dari guru yang sama di sebuah desa di luar Surakarta, Kiai Taptojani.
Carey berpendapat bahwa sepertinya tugas Cokronegoro adalah menunjukkan jalan atau jalur di wilayah Bagelen kepada para perwira Belanda serta sekutu-sekutu Jawanya. Ketika semakin kuat perang pada tahun kedua di areal Bagelen timur, ia mengorganisasikan perlawanan setempat dengan memanfaatkan ikatan-ikatan kekeluargaannya yang banyak terdapat di daerah itu. Selama perang, tampaknya Cokronegoro berhasil membuat dirinya disenangi oleh para perwira pasukan Belanda, dan terkesan dengan cara hidup bangsa Belanda, sehingga dengan bangga ia menyinggung dalam Babad bahwa ia telah digambarkan sebagai ‘seorang Belanda’ saat penyerahan tanda jasa.” Dalam hubungan ini, ia benar-benar bertolak belakang dengan rekan se-ilmu tasawufnya, Pangeran Diponegoro, yang memandang hina cara hidup orang-orang Belanda.
Sejarah Cokronegoro dijelaskan oleh Carey dengan sangat rinci, termasuk hubungannya dengan Diponegoro, dan kedekatannya dengan kekuasaan Belanda. Cokronegoro ikut berperang di daerah-daerah Bagelen yang ia kenal sejak masa kecil, dan kadang-kadang memimpin pasukan pribumi (hulptroepen) dari Manado, Ternate, dan Madura, juga di daerah-daerah sekitarnya seperti Kedu Selatan (Gowong, Ledok) dan Kulon Progo (Gunung Kelir).
Diceritakan juga bahwa perang 1829, menyebabkan gugurnya panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang paling disegani dan dihormati, Pangeran Ngabehi, dan kedua anak laki-lakinya-Pangeran Joyokusumo II dan Raden Atmokusumo-di daerah perbatasan antara Bagelen dan Kulon Progo. Kepala ketiga pangeran itu dipancung dan dikirim ke Jenderal De Kock di Magelang sebelum diserahkan ke Keraton Yogyakarta untuk dimakamkan di Pemakaman Pengkhianat di Banyusumurup. Diponegoro ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830.

Riwayat Hidup Basah Haji Ngabdullatip Kerto Pengalasan
(sekitar 1795-pasca-1866)
Selama tahun-tahun terakhir perang (1825-1829), Pengalasan hampir secara khusus beroperasi di Bagelen timur. Bahkan kolonel Cleerens menganggapnya sebagai salah seorang komandan terpenting pasukan ‘pemberontak’ (rebellen) di daerah mancanegara barat itu. Ia tetap dekat dengan Diponegoro dan disebutkan sebagai salah satu dari sejumlah kecil Basah, atau panglima pasukan, yang tetap setia dan berada bersama Pangeran Diponegoro setelah kekalahan yang menentukan di Siluk, di utara bukit-bukit Selarong pada 17 September 1829.
Setelah evakuasi ke barat Sungai Progo, karena kekalahan di Siluk pada 17 September 1829, situasi di medan perang tidak memungkinkan kekuatan Diponegoro bertahan lama, dan pada 25 September 1829 Pengalasan mengirimkan sepucuk surat kepada seorang kerabatnya, Tumenggung Cokrorejo, yang mengungkapkan kesediaannya untuk berpihak kepada Belanda. Inisiatif ini didorong pula oleh Cleerens yang rupanya ingin merangkul Pengalasan sebagai jalur negosiasi dengan Diponegoro. Akhirnya Pengalasan menyerahkan diri kepada Cokronegoro di Benteng Bubutan (Bagelen) tepat pada hari ulang tahun Diponegoro, 11 November 1829, dan tiga hari kemudian ia dibawa untuk menghadap Cleerens di markas sang kolonel di Kedung Kebo di sisi timur Kali Bogowonto. Kendati demikian terdapat kecurigaan bahwa penyerahan dirinya punya motif tersembunyi. Pun, di sisi Belanda, ada yang menduga bahwa sebenarnya Pengalasan diutus sendiri oleh Diponegoro untuk membuka perundingan perdamaian.
Cleerens mengemukakan, Basah yang berumur sekitar 34 tahun itu sering diundang untuk makan ke markas besarnya dan bahwa ia lebih banyak diperlakukan sebagai teman pribadi daripada seorang tawanan: kegemarannya akan anggur dan candu juga ikut disinggung, dan yang lebih penting lagi, perhatiannya pada situasi militer dan diplomatik Turki Osmani selama Perang Ketiga dengan Rusia (1829-1830). Ia tampak berusaha amat keras untuk mengambil hati Komando Tertinggi Tentara Belanda dengan mengorganisasikan perundingan-perundingan perdamaian dengan Diponegoro. Ia berharap, dengan usaha-usahanya itu ia akan mendapat sebuah jabatan dan penghasilan dari Belanda. Dalam hal ini, ia terutama merasa iri terhadap Sentot karena janji yang diberikan Belanda bahwa kelak bisa menjadi pemimpin barisan pribadi. Demikianlah, ia menulis dua surat kepada patih Diponegoro, Raden Adipati Abdullah Danurejo (menjabat 1828-1830), dengan permintaan untuk menghubungi Diponegoro. Dia juga menulis sepucuk surat berupa laporan panjang-lebar kepada Cleerens guna mengutarakan pandangan serta pendapatnya mengenai usul-usul perdamaian yang mungkin akan diajukan oleh Diponegoro jika negosiasi perdamaian dilakukan.
Perjalanan hidup Pengalasan memberikan kesan bahwa ia memang punya kedudukan yang memungkinkannya memberikan sumber langsung mengenai sejarah Yogyakarta dan masa sebelum Perang Jawa. Dia juga pernah terlihat dalam sejumlah pertempuran yang pecah di daerah Yogyakarta pada bulan Juli sampal Oktober 1825, peristiwa yang tidak mungkin diketahui oleh Cokronegoro. Hubungan Pengalasan yang begitu akrab dengan Diponegoro serta anggota keluarganya, yang dapat dipeliharanya sepanjang perang, juga mempunyai makna. Sang Basah seperti berada dalam kedudukan yang khas sehingga dapat menyajikan perincian pribadi Pangeran, sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh Cokronegoro.

 

Hal itu juga diungkapkan terkait sikap terhadap Diponegoro dan Islam. Namun, Pengalasan dapat terus memainkan peran sebagai seorang penasihat dalam penulisan serta penyusunan bagian belakang babad ini karena sang Basahlah yang punya kemampuan memberikan keterangan-keterangan rinci mengenai pasukan Diponegoro yang beroperasi di Bagelen serta daerah-daerah lain. Terutama, hubungannya yang akrab dengan Kiai Mojo mungkin sekali punya arti penting dalam perincian terkait bentrokan dan perpecahan antara Kiai Mojo dan Diponegoro antara September 1827 dan November 1828, yang kemudian berujung dengan penangkapan sang Kiai dan pengikutnya oleh Letkol Lebron de Vexela, di lereng Gunung Merapi, 12 November 1828.

 

Penutup
Dalam Penutupnya, Carey berpendapat bahwa, walaupun dalam Babad agak sulit menentukan seberapa besar peranan Cokronegoro dalam penulisan dan penyusunannya, sudah jelas bahwa banyak dari bagian terakhir Babad adalah tanggung jawab sang bupati perdana Purworejo itu. Ini menyangkut masalah pertempuran-pertempuran yang berlangsung di Bagelen selama perang (khususnya tahun-tahun terakhir), serta sejarah Purworejo setelah 1830. Namun demikian, Carey terlihat ragu dalam beberapa hal tentang Babad Kedung Kebo ini, misalnya mengenai sejarah Yogyakarta sebelum perang, mengingat sang bupati perdana Purworejo pra-1830 itu seorang pejabat Surakarta. Jadi, informasi mengenai kisah Pangeran Diponegoro sebelum perang didapatkan dari mana? Lagi pula, terdapat berbagai laporan rinci mengenai pertempuran-pertempuran di sekitar Yogyakarta dan Selarong pada bulan-bulan awal perang yang sama sekali tidak melibatkan Cokronegoro, juga pada bagian awal Babad ada laporan-laporan yang menyamai dengan tepat surat-surat resmi tentang kegiatan militer tentara Belanda dan laporan Pangeran Diponegoro mengenai pertempuran tersebut, seperti yang tertera di dalam babad otobiografisnya. Pada bulan-bulan awal berlangsungnya Perang Jawa, Cokronegoro berada di Surakarta, bersama-sama dengan Pangeran Kusumoyudo, maka ia tidak pernah mengalami pertempuran-pertempuran yang berlangsung diwilayah Yogyakarta pada akhir Juli sampai awal Oktober 1825. Waktu ia turun ke medan perang pada 23 Agustus 1825, ia dikirim langsung ke wilayah barat, ke Bagelen. Tampaknya jauh lebih mungkin dan masuk akal tulisan-tulisan awal yang terdapat di dalam Babad, adalah Sumbangan Basah Pengalasanlah dan bukan Cokronegoro. Untuk memastikan semua ini kita harus memperkenalkan perjalanan hidup Pengalasan sendiri.

 

Kebudayaan Jawa dalam ketiga Babad tersebut, seperti wayang, pusaka dan bertapa, sangatlah mewarnai cerita kehidupan Diponegoro. Pada semua babad itu contoh yang diambil dari wayang digunakan untuk melukiskan watak pelaku sejarah, seperti gambaran Diponegoro sebagai Arjuna (versi Babad Diponegoro) atau sebagai Prabu Suyudono (babad Kedung Kebo). Demikian pula banyak orang Jawa yang memahami makna ramalan Joyoboyo, bahkan Diponegoro di mata para petani Jawa saat itu diyakini sebagai Sang Juru Selamat atau Ratu Adil, yang datang untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kemakmuran. Fakta ini menambah pengetahuan kita tentang diri Pangeran.

 

 

Menurut penulis, Babad harus dipandang sebagai sumber Jawa yang paling terkemuka mengenai Perang Jawa serta sebagai naskah rujukan yang bisa mengimbangi otobiografi Diponegoro sendiri dan babad-babad keraton, bahwa Babad Kedung Kebo ditulis serta disusun di bawah pengarahan dua orang yang memainkan peran dan perjalanan hidup yang begitu berbeda, karya ini telah menambah arti penting sejarah itu.
Saran Carey, Babad Kedung Kebo lebih baik dapat dipandang sebagai sebuah dokumen sosial untuk menggambarkan perjalanan hidup orang yang telah membuahkan karya tersebut, Raden Adipati Ario Cokronegoro l dari Purworejo.

 

Judul buku “Sisi Lain Diponegoro” yang didasarkan pada Babad Kedung Kebo ini sungguh tepat, karena menjelaskan sosok Diponegoro dari sisi penulis yang bukan pendukungnya, bahkan sebagai musuhnya, sehingga tentu saja menulis tentang hal-hal buruk terhadap subyeknya. Namun demikian, betulkah kesan buruk yang digambarkan oleh Cokronegoro dan Pengalasan terhadap Diponegoro tersebut? Carey tidak memastikan kebenaran Babad Kedung Kebo, namun memberikan kisi-kisi yang patut pembaca kritisi hingga bisa menafsirkannya sendiri.
Sangat direkomendasikan bagi para pecinta sejarah bangsa untuk lebih memahami Perang Jawa, khususnya sejarah perang Diponegoro. Perlu juga dibaca buku Carey lainnya, Takdir.

Read Full Post »