Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Judul: The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters

Penulis: Tom Nichols

Penerbit: oxford University Press

Tahun: 2017


Dari beberapa channel Youtube, yang selalu menjadi pertanyaan Nichols hingga merasa perlu untul menulis buku ini adalah, “Why do people keep arguing with experts?”. Di AS mulai ada kecenderungan setiap orang untuk ‘mengkuliahi’ mereka yang sudah ahli dibidangnya. Ada skeptisisme terhadap pengetahuan dan kepakaran dan mulai agresif melakukan penolakan terhadapnya. Masalahnya adalah, dalam masyarakat AS yang republik dan demokratis, mengandaikan bahwa pimpinan pemerintahan semestinya adalah para ahli yang bisa dianut oleh bangsanya. Inilah yang menjadi kegalauan Nichols yang diungkap dalam bukunya, “The Death of Expertise“. Sistem pendidikan, narsisisme, media berita dan internet, turut andil terjadinya skeptisisme masyarakat terhadap kepakaran.

Dua cerita menarik di awal buku ini adalah, yang pertama, tahun 2015 muncul Public Policy Polling di AS yang ditujukan pada kaum Republikan dan Demokrat, “apakah mendukung kebijakan pemerintah utk membom negara Agrabah?”. Hampir sepertiga responden Republik semangat mendukung. Hanya 13% menentang dan sisanya tidak jelas. Sementara hanya 19% responden Demokrat mendukung pemboman, dan 36% menentang.  Agrabah adalah negara fiksi dalam film Disney, Aladdin 1992. Semangat sekali warga AS, tapi …

Cerita kedua tentang polling yang dilakukan Washington Post 2014, utk memilih apakah AS perlu intervensi militer terhadap Rusia yang dianggap invasi terhadap Ukraina. Peserta polling di AS ternyata dengan semangat menyetujui tindakan militer AS terhadap Rusia. Celakanya, hanya 1 orang dari 6 orang AS yang megetahui lokasi Ukraina dalam Peta Dunia. Aha … terlalu semangat. Patriotik, tapi …


Dua cerita diatas mewakili beberapa cerita sejenis lainnya yang dianggap Nichol bisa menunjukkan ketidak-pedulian bahkan resistensi masyarakat AS terhadap kepakaran yang bisa dijadikan rujukan dalam pengambilan keputusan atau setidaknya sebagai sumber pengetahuan yang valid.

Menurut Nichols, situasi anti-rasional sudah sangat memprihatinkan. Keadaan dimana akses pengetahuan semakin mudah diperoleh, namun keengganan untuk belajar justru semakin rendah. Menurutnya, situasi seperti ini sudah terjadi dimana-mana. Canada, Eropa juga mengalaminya. Bukan hanya semakin meningkatnya jumlah masyarakat kurang berpengetahuan, namun bahkan mengingkari bukti-bukti fundamental dan menolak argumentasi yang logis dari para pakar. Rasanya hal ini ridak banyak terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Disini masyarakat masih sangat menghormati para pakar, walaupun tak jarang terjadi kesalahan pengobatan atau kesalahan analisis sosial karena kepentingan para pakar yang berragam.

Ada sedikit rasa kurang nyaman membaca buku ini, sehingga perlu beberapa kali mengulang secara acak untuk memahami. Nichols cenderung konservatif, merasa jabatan dan pendidikan formal (termasuk dirinya) seolah menjadi pengakuan strata kepakaran tertinggi dan mendudukkan manusia berpengetahuan lainnya sebagai public intelectual, yang menjembatani antara masyarakat awam (laypeople) dengan para pakar. Nichols bersumsi bahwa Pakar seolah tak pernah dengan ‘sengaja’ melakukan kesalahan. Konsep dan praktek politik yang dilakukan para pakar politik, kalaupun tidak secara ‘gamblang’ melakukan kebohongan publik, mereka dengan kompetensinya mampu memanipulasi kebenaran.

Buku ini terbit 2017 dan lahir dari keprihatinan Nichols terhadap sikap masyarakat umum AS (laypeople), walaupun sebenarnya ini sudah jadi  fenomena mendunia, dalam menghargai hasil pemikiran para pakar, untuk merespon persoalan –  persoalan sosial yang terkait dengan dirinya. Ketidak-butuhan atau ketidak-pedulian publik terhadap pendapat para ahli yang bahkan sudah masuk dalam kategori arogansi karena merasa sudah mampu mendapatkan informasi “valid” sendiri melalui  internet/media sosial, akan membahayakan masyarakat itu  sendiri, mengingat validitas informasi yang masih perlu dipertanyakan. Dan semakin menarik keberadaan buku ini dengan momen kepemimpinan Donald Trump yang dianggap oleh sebagian masyarakat AS tidak mewakili kepentingan publik. Apakah keterpilihan Trump sebagai Presiden AS memang sudah didasari  informasi hasil analisa  sosial –  politik yang mumpuni oleh para ahli? Atau hanya berdasar permainan Bias Konfirmasi oleh para ahli komunikasi politik Trump? 

Tulisan tentang ketidakpedulian kepakaran (expertise), yang menjadi keprihatinan Nichols ini sebenarnya bukan yang pertama. Tahun 2015, terbit “The State of the American Mind”, sebuah buku kumpulan artikel tentang menurunnya daya kritis masyarakat AS, kemudian juga munculnya buku karya Ilya Somin, professor Hukum, “Democracy and Political Ignorance” yang menulis di dalamnya “the size and complexity of government have made it more difficult for voters with limited knowledge to monitor and evaluate the government’s many activities. The result is a polity in which the people often cannot exercise their sovereignty responsibly and effectively.”

Nichols memberikan penjelasan atas adanya beberapa kemungkinan penyebab “kematian kepakaran” yang berimbas pada kesulitan komunikasi bahkan perdebatan tidak substansial dalam masyarakat. Dalam penyajiannya, Nichols memaparkan beberapa aspek terkait “kematian kepakaran” ini dalam enam bab, selain  Pendahuluan di awal bukunya, dan Kesimpulan di akhir bukunya. Cukup padat materi yang disajikan, namun cukup informatif untuk dapat  memahami fenomena kerumitan komunikasi di era Informasi saat ini.

Bab I, Experts and Citizens

Pada bab ini Nichols menyajikan opini tentang keberadaan fenomena yang sudah mewabah di AS bahwa masyarakat ‘kebanyakan’ (laypeople) mempercayai dirinya sudah sangat berpengetahuan. Bahkan merasa dirinya lebih berpengetahuan daripada para professor sekalipun, hingga mampu menjelaskan bahkan berdebat tentang banyak hal, mulai dari sejarah imperialisme, seni, ideologi bahkan tentang vaksin sekalipun.

Di ranah media sosial akhir-akhir ini, konflik semakin gaduh dengan perdebatan, provokasi yang seringkali dipicu informasi yang diragukan kebenarannya. Diluar kompetensinya, seseorang bisa dengan percaya-diri menjelaskan tentang virus Covid-19 dan vaksinasi, hanya berdasar informasi dari internet. Banyak data dikumpulkannya untuk membenarkan pendapatnya, tanpa peduli informasi sudah kadaluarsa karena pendapat ahli memang tak berada di pihaknya. Bias Konfirmasi sudah terjadi untuk membenarkan pendapatnya. Sangat tidak berbasis sain namun lazim terjadi.

Namun demikian, rasanya jadi aneh ketika Nichols berpendapat bahwa : “… they are less likely to be wrong than nonexperts”, atau “It rarely occurs to the skeptics that for every terrible mistake, there are countless successes that prolong their lives”. Mungkin saja angka memang menunjukkan demikian, bahwa Pakar lebih jarang melakukan kesalahan, namun kualitas dampak dari kesalahan pakar bisa sangat berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal. Ini karena keputusan-keputusan yang berresiko fatality, biasanya dilakukan oleh para Pakar.

Pernah penulis alami, hingga harus diangkut ambulans dari Musium nasional Singapura ke RS karena tiba-tiba sesak napas, bahkan bicarapun sudah tidak mampu, akibat tidak kuat atas efek obat anti diabetik yang diberikan oleh dokter internis tanpa lebih dahulu menjelaskan kemungkinan efek tersebut. Internet menjelaskan bahwa salah satu dampak penggunaan obat tersebut adalah produksi gas dalam lambung. Efek tersebut tidak pernah lagi terjadi, sejak tidak dikonsumsinya obat tersebut. Dokter internis mengakui bahwa sesak napas tsb akibat obat yang diberikannya.


Nichols yang memasukkan dirinya sbg bagian dari kaum public intelectual, seolah berharap dimaklumi terhadap berbagai kasalahan yg pernah dilakukan kaum ‘pakar’. “Doctors routinely tussle with patients over drugs. Lawyers will describe clients losing money, and sometimes their freedom, because of unheeded advice. Teachers will relate stories of parents insisting that their children’s exam answers are right even when they’re demonstrably wrong. Realtors tell of clients who bought houses against their experienced advice and ended up trapped in a money pit”.

Bab 2. How Conversation Became Exhausting

Perbedaan pendapat antara para Pakar dengan masyarakat umum atau diantara masyarakat sendiri adalah wajar dan biasa sejak dulu kala. Namun perbedaan-perbedaan tersebut di era sekarang ini cenderung meruncing dan sering berujung perdebatan yang emosional. Melelahkan. 


Menurut Nichols tingkat pendidikan masyarakat yang semakin bagus, akses data yang lebih mudah, sosial media yang semakin marak penggunanya dan semakin mudahnya masuk ke ruang publik, semakin mempermudah keterlibatan masyarakat dalam perdebatan tentang banyak hal yang berkaitan dengan dirinya. Namun ternyata, alih-alih berbagai kemudahan tersebut memperbaiki komunikasi di ruang publik, justru sebaliknya memperburuk. Semangatnya tidak lagi mencari kebaikan bersama, namun memuaskan diri dengan mengalahkan lawan komunikasi.


Dalam perdebatan yang cenderung mencari “menang” dan tidak lagi peduli dengan “benar”, maka hanya bukti-bukti pendukung yang sesuai dengan pendapatnya sajalah yang dipilih, dan dikumpulkan untuk mendukung pemenangan. Confirmation Bias mulai dilakukan. Bisa dengan cerita Dongeng, Superstitious (mithos), atau yang paling rumit dan penuh intrik, serta membutuhkan keahlian tinggi, adalah dengan menyusun Teori Konspirasi. Konsep yang sangat digemari oleh mereka yang kesulitan memahami rumitnya persoalan dunia ini, sekaligus penggemar cerita dramatik, juga narsisis.

Nichols berpendapat bahwa kecenderungan natural ini bisa dilakukan siapa saja, baik masyarakat awam, maupun para pakar sekalipun. Tentang hal ini, penelitian psikologi David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University 1999, yang dikenal sebagai “the Dunning-Kruger Effect,” mengatakan bahwa “the dumber you are, the more confident you are that you’re not actually dumb“. 🙂 Selanjutnya Dunning mengatakan “… we all overestimate ourselves, but the less competent do it more than the rest of us”.

Sangat sering kita jumpai di era media sosial dan diskusi daring, yang berujung perdebatan antara para ahli dengan mereka yang merasa ahli atau tidak  kompeten. Penyebab mereka yang tidak  kompeten menilai dirinya terlalu tinggi adalah karena kurangnya kemampuan yang disebut Metakognisi. Ini adalah kemampuan yang didefinisikan oleh Benjamin Bloom sebagai lemahnya diri menguasai aspek kognisi, yaitu  mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi suatu masalah. Akibatnya, bisa saja terjadi mereka yang tidak kompeten ini akan bersikap ofensif/defensif berlebihan tanpa menyadari bahwa sudah jauh dari subyek pembicaraan ketika berhadapan dengan ahlinya.

Komunikasi diantara masyarakat umum, atau antara para pakar dengan masyarakat umum, semakin sulit bila sudah melibatkan emosi, khususnya bila tidak kondusif untuk salah satu pihak. Untuk itu karakter terpenting bagi para pakar adalah kemampuannya menahan diri untuk tetap netral, tidak berpihak, bahkan dalam kasus kontroversi sekalipun.

Bab 3. Higher Education – The Customer Is Always Right
Para tetua berasumsi bahwa jenjang tingkat pendidikan akan dengan sendirinya “menyelesaikan” perdebatan publik yang tidak substansial dan tidak setara. Dengan kata lain, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka akan semakin argumentatif dalam menyelesaikan persoalan dibidangnya. Dengan sistem pendidikan yang berorientasi bisnis komoditi (komodifikasi), pendapat tersebut diatas, tidak lagi dapat dibenarkan. Bahkan, ada kecenderungan, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin tinggi tuntutan untuk diperlakukan istimewa karena merasa sudah membayar mahal. Artinya, justru pendidikan tinggi turut andil dalam kekisruhan komunikasi publik karena kepakaran telah dipermainkan.

Nichols berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi di AS masih gagal dalam memberikan pendidikan ke mahasiswanya tentang pengetahuan dan keahlian dasar sebagai fondasi pembentuk kepakaran, yaitu berpikir kritis, “the ability to examine new information and competing ideas dispassionately, logically, and without emotional or personal preconceptions”.

Budaya baru dalam aspek pendidikan di AS adalah bahwa menempuh pendidikan tinggi adalah kewajiban. Dampak buruk dari cara pandang tersebut adalah program pendidikan hanya untuk memenuhi kewajiban, sehingga pendidikan menjadi komoditi. Dan peserta didik merasa sebagai raja yang sudah menunaikan kewajibannya, membayar biaya kuliah. Transaksi kelulusan terjadi dan matilah kepakaran.

4. Let Me Google That for You

Kesan yang diperoleh dari membaca buku ini, penulis menganggap internet dengan berbagai aplikasinya menyumbang banyak terjadinya ketimpangan komunikasi antara masyarakat awam dan para pakar. Meskipun diakuinya bahwa internet bukanlah penyebab utama. Seolah Wikipedia, Google dan media sosial tak layak dipergunakan sebagai alat untuk mencari informasi karena validitas kebenaran yang ia ragukan. Benar pendapat Nichols bahwa informasi dalam Wikipedia adalah sumbangan banyak pihak dengan minimum supervisi, namun juga diakuinya bahwa banyak informasi yang benar adanya. Lalu, apa sebenarnya maksud Nichols dengan cercaannya terhadap aplikasi informasi dalam Internet? Pengguna Internet pun ada berbagai kategori tingkatan pengetahuan. Dan rasanya, mostly paham bahwa info dari Internet bukanlah sumber yang terjamin validitasnya untuk dapat dipergunakan sebagai rujukan ilmiah. Perlu diuji lagi kebenarannya berbasis sains.

Nichols menulis buku yang isinya sudah banyak dipahami masyarakat awam sekalipun. Khusus tentang Internet di bab 4, Nichols seperti gagap menghadapinya. Di satu sisi mengecam, namun disisi lainnya juga mengakui ada kebenaran disana. Harapan yang terlaku tinggi bahwa masyarakat seharusnya ‘bergantung’ saja terhadap para pakar (bukan internet), jadi terasa naif. Dari sini justru terlihat kelemahan para pakar yang tidak mampu lagi berperang melawan derasnya arus informasi di era internet. “Experts trying to confront this kind of stubborn ignorance may think they’re helping, when in fact they’re basically trying to throw water on a grease fire. It doesn’t work and only spreads the damage around”. Mestinya para PAKAR justru mampu membuat strategi dengan pemilihan alat/aplikasi yang tepat untuk dapat membanjiri informasi di internet yang diyakini kebenarannya.

Nichols juga mengakui nahwa Internet bukanlah penyebab utama tantangan terhadap kepakaran. Namun, internet mempercepat runtuhnya bangunan komunikasi antara masyarakat awam dengan Pakar. Internet bagaikan gudang besar membanjiri berbagai informasi. Dari yang valid, berguna hingga informasi sampah, yang dapat diakses dengan mudah. 

Kecepatan pergerakan dan berragamnya informasi sudsh terbukti mampu meruntuhkan kekuasaan di beberapa negara. Bagaikan pisau bermata dua, internet sebagai media informasi bisa sangat membantu, namun juga sangat berbahaya bila kemampuan literasi pengguna sangat rendah. Semakin membahayakan karena informasi dalam internet tidak mudah untuk dihilangkan atau dihapus. Dan mudah sekali untuk disebar-luaskan.

5 The “New” New Journalism, and Lots of It

Di awal bab ini Nichols menyajikan beberapa contoh berita di media resmi yang terlihat valid informasinya, tapi ternyata salah. Contoh berita mengenai Coklat yang dapat membuat kurus dan adanya jembatan yang menghubungkan Gaza dengan Israel. Keduanya adalah berita tidak benar. Bagi konsumen yang tidak cukup kritis untuk menguji kebenarannya, berita tersebut bisa berakibat fatal.

Untuk mengkonsumsi berita dengan benar, perlu adanya kewajiban bagi konsumen untuk lebih kritis. Nichols menyarankan empat hal untuk dilakukan dalam mencerna berita, yaitu:

  • Rendah hati
    • Mulai dengan asumsi bahwa penulis lebih memahami persoalan daripada konsumen berita
  • Variatif
    • Tidak mengkonsumsi berita dari sumber yang sama terus-menerus
  • Tidak sisnis
    • Wartawan bisa salah karena tida teliti dalam menyajikan informasi. Namun tidak bermaksud berbohong
  • Kritis
    • Siapa penulisnya? Apakah ada editornya? Apakah ini media berit atau politik? Apakah informasi visa diverifikasi?Apakah ada media lain yang tidak sependapat dengan beritanya?

Menurutnya, membaca berita adalah keterampilan yang akan menjadi lebih baik bila lebih sering melakukannya.

6. When the Experts Are Wrong
Beberpa contoh:

Teen Debunks Professor’s Claim That Anti-Irish Signs Never Existed

Dari hasil berselancar di internet, pelajar kelas 8, Rebecca Fried, menemukan bahwa jargon “No Irish Need Apply” yang ditulis oleh seorang ahli sejarah, Richard Jensen, ternyata berita tidak benar.

Tahun 1970, ahli nutrisi AS yang didukung Pemerintah menyatakan bahwa telor ayam berbahaya untuk dikonsumsi karena akan meningkatkan kolesterol jahat (LDL), yang berakibat mematikan. Yang terjadi kemudian justru peningkatan jumlah kematian karena obesitas berhubung makan berlebihan untuk kompensasi diet telor ayam. Empat puluh lima tahun kemudian, 2015, pemerintah AS menyatakan sebaliknya, bahwa telor ayam tidak berbahaya bahkan menyehatkan.

Para pakar politik pun banyak melakukan kesalahan ketika memberikan analisis bahwa Uni Soviet masih kuat dan Gorbachev masih sangat pegang peranan. Kudeta terjadi dan Uni Soviet runtuh di tahun 1991. Gorbachev tak sekuat yang digambarkan para politikus.

Dokter, sebagai pakar medis yang dampak keahliannya dirasakan langsung oleh masyarakat, sering juga melakukan kesalahan. Kesalahan bisa terjadi pada langkah penasihatan, pemberian resep obat atau tindakan medis lainnya. Kesalahan tersebut bahkan bisa berakibat kematian.


“Even when the experts all agree, they may well be mistaken”, Bertrand Russell.


Banyak pakar melakukan kesalahan, mulai yang berdampak ringan hingga berat bahkan menyebabkan bencana mematikan. Semua ada alasannya, namun masyarakat tetap percaya pada keahlian para pakar tersebut. Sama halnya percaya pada pengendara kendaraan umum atau pilot, yang memang sudah teruji secara formal dengan pengalaman, pendidikan, sertifikat, lisensi dll. Namun tingkat kepercayaan masyarakat akan berbeda bila dihadapkan pada para pakar yang berpendidikan tinggi dengan pengalaman di bidangnya selama puluhan tahun. Apalagi mempunyai jabatan pemerintahan sebagai staf ahli presiden, menteri atau senat di AS.


Tentang kemungkinan bahwa seorang pakar bisa berbuat salah, Nichols bersikap mendua. Disatu sisi merasa perlu dihargai kepakarannya. Disisi lain, kesalahan Pakar perlu disikapi sebagai kelaziman belaka. Dengan pembelaan, jarang terjadi kesalahan pakar. Nichols lupa bahwa kesalahan Pakar justru seringkali berdampak besar dan berbahaya. Dan, imbalan penasihatan dari seorang Pakar di AS adalah sangat mahal. Konsekuensinya adalah tuntutan terhadap validitas pemikiran seorang Pakar akan sangat tinggi.

Conclusion Experts and Democracy
Ada kecenderungan bahwa buku ini adalah ungkapan puncak kekecewaan Nichols yang dipicu kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2016. Bukan karena dia mendukung kandidat Presiden yang kalah, namun lebih karena ketidak-pedulian para pemilih terhadap “kebenaran” informasi bahwa Trump abai terhadap pendapat publik. Nichols menyebutnya sebagai “Anti-intellectualism”. Disini kebenaran Dunning-Kruger Effect diuji. Bahwa, semakin bodoh seseorang, akan semakin tidak mampu mengenali bahwa dirinya bodoh. Pendidikan para pendukung Trump, menurut Nichols, berada pada posisi tersebut. Rendah pendidikan.


Nichols mengingatkan bahwa ada lima kesalahpahaman pubkik terhadap para Pakar, yaitu:

  1. Pakar bukan Dalang
  2. Pakar tidak bisa mengatur para Pemimpin dalam mengimplementasikan pensihatannya
  3. Pakar tidak mengatur kebijakan publik secara rincindari konsep hingga eksekusinya
  4. Pakar tidak pada posisi untuk terlibat dalam pengambilan keputusan oleh Pemimpin terhadap Penasihatannya.
  5. Pakar hanya memberikan penjelasan dan pilihan

Dalam masyarakat demokratis, layanan penasihatan dan berbagai analisis para Pakar adalah bagian dari kontrak sosial. Masyarakat mendelegasikan kekuatannya dalam mengambil keputusan dalam berbagai persoalan rumit kepada parlemen. Sedangkan, para pakar atau staf ahli Parlemen atau Pejabat Publik lainnya, berharap supaya pemikiran yang sesuai kompetensinya dapat diterima publik selayaknya. Relasi Pakar dengan Publik ini didasarkan pada kepercayaan. Trust. Bila Trust ini hilang, maka akan terjadi chaos dalam demokrasi karena kurangnya pilihan-pilihan rasional berbasis sains untuk pengambilan keputusan. Otoritarian akan terjadi. Akibat buruk ini yang menjadi kekhawatiran utama dari Nichols.

Tautan:

  1. The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters
  2. How ignorance became a virtue
  3. Wikipedia: “The Death of Expertise”
  4. Tom Nichols: Are Facts Dead?
  5. Why Don’t Americans Trust Experts Anymore?
  6. Tom Nichols, “The Death Of Expertise”

Rekomendasi

Buku yang sudah banyak sekali di’review’ dan tayang di berbagai media cetak maupun channel video ini layak untuk dibaca. Meskipun kepercayaan publik terhadap Kepakaran, di negara kita tercinta ini, masih relatif tinggi, namun penyebab-penyebab umum Kematian Kepakaran, seperti disebutkan oleh Nichols, sudah mulai muncul. Misalnya, reaksi spontan para netizen terhadap Hoax semakin tinggi. Kemudahan akses informasi dari internet, menyebabkan semakin banyaknya netizen merasa “tahu segalanya”. Tanpa merasa perlu melakukan validasi data. Melemahnya “critical thinking”.


Namun di sisi lain, para Pakar yang mempunyai ‘kontrak sosial’ terhadap publik, banyak diantaranya yang tidak sepenuhnya memberikan layanan semestinya. Rendahnya produksi layanan analisis sosial atau kebijakan, atau bahkan memberikan bias informasi karena kepentingan politiknya. Selamat membaca.

Read Full Post »

Tara Westover

Suatu hari muncul di whatsap dari ponakan penggemar buku. 

Dhilla, aku memanggilnya. Dia sangat rekomendasikan buku ini untuk dibaca. “Bill Gates pun mewawancarainya di youtube”, semangatnya mengingatkan. Ok, langsung berselancar di Google untuk mencari info tentang buku tersebut. Wooww … banyak selebriti dunia media seperti Oprah, Bill Gates, Ellen deGeneres, mewawancarainya terkait bukunya. Bahkan channel youtube dari media cetak dunia seperti Washington Post, CNN dan perguruan tinggi ternama juga melakukannya. Penghargaan juga banyak diterimanya, seperti :

  • Nonfiction Book of the Year by the American Booksellers Association
  • Finalist for the John Leonard Prize from the National Book Critics Circle Award
  • Finalist for the Autobiography Award from the National Book Critics Circle Award
  • One of the New York Times’ 10 Best Books of 2018
  • Winner of the Goodreads Choice Award for Autobiography
  • Alex Award from the American Library Association
  • Audie Award for Autobiography/Memoir
  • Audie Award for Best Female Narrator (because Julia is fab)
  • Amazon Editors’ pick for Best Book of 2018
  • Apple’s Best Memoir of the Year
  • Audible’s Best Memoir of the Year
  • Hudson Group Best Book of the Year
  • President Barack Obama’s Favorite Books of the Year List
  • Bill Gates’s Holiday Reading List

Educated“, terbitan Random House, 2018. Sebuah buku memoir setebal 336 halaman dari seorang gadis lulusan doktoral Cambridge, Tara Westover, kelahiran Idaho AS, telah menghentak dunia. Menduduki posisi Best Seller di New York Times selama dua tahun, hingga Februari 2020, dan telah diterjemahkan dalam 45 bahasa. Kehidupan keras keluarga pedesaan penganut faham Mormon yang sangat taat ‘mengikat’, menjadi isu utama buku ini. Dan kegigihan Tara dalam menuntut ilmu hingga meraih gelar Doktor, tanpa dukungan orangtua, menjadi penyeimbang isu dalam memoir tersebut. Buku yang penuh dengan rasa traumatik, opresif, bipolar, kelam namun tidak cengeng, bahkan tegar inspiratif.


Memoir ini dibuka dengan cerita indah dan segarnya wilayah pegunungan Buck’s Peak, area tempat tinggal sekaligus tempat usaha keluarga Tara. Idaho, AS. Bisnis Gene, sang ayah, adalah mengelola bengkel besi bekas dan pendapatan Faye, sang ibu, dari jasa bidan yang membantu kelahiran anak, serta membuat jamu herbal. Selain bermain, tugas anak-anak, termasuk Tara, adalah bekerja membantu ayahnya melakukan pemilihan besi-besi bekas yang masih mungkin untuk diperdagangkan. Belajar di rumah setelahnya. Kerja keras melibatkan keluarga dibawah umur tanpa aturan-aturan pokok keselamatan kerja ini telah berkali-kali menyebabkan kecelakaan.Tyler, Luke, Tara dan terakhir Gene mengalami luka parah yang nyaris mematikan. Terbakar.


Minggu adalah hari gereja. Kehidupan sehari-hari berlangsung rutin, tanpa perubahan signifikan. Tak berkesan. “My strongest memory is not a memory. It’s something I imagined, then came to remember as if it had happened”. Tertulis sebagai kalimat pembuka pada Chapter 1. 


Dengan pemahaman yang kuat terhadap ajaran Mormon, Gene (ayah) dan Faye (ibu) tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Namun mendidiknya sendiri di rumah (home schooling). Menurut Gene, sekolah negeri hanya akan menjauhkan murid dari perintah Tuhan. Berbeda dengan pendapat Tyler (kakak) dan neneknya, yang justru mengharapkan Tara untuk mengenyam pendidikan formal, “Grandma thought we should be in school and not, as she put it, “roaming the mountain like savages”. Gene mendidik keras keluarganya untuk tidak berhubungan dengan pelayanan publik, termasuk Rumah Sakit harus dihindari. Suatu saat Gene mengingatkan, “Doctors can’t help with them diabetes, but the Lord can!” Hingga mengenyam pendidikan tinggi, Tara belum pernah sekalipun vaksinasi. Juga tidak penah minum kopi, karena larangan gereja yang dianutnya.


Tara, lahir September 1986, adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Berturut-turut dari anak tertua adalah Tony, Shawn, Tyler, Luke, Audry (perempuan), Richard dan Tara. Empat dari tujuh bersaudara termuda tersebut tidak mempunyai Akte Lahir, karena lahir di rumah. Tidak ada catatan medis, karena memang tidak pernah ke dokter atau Rumah Sakit. Usia 9 tahun, Tara baru mengurus Surat Lahirnya berdasar dokumen baptis di gereja. Gene berusaha sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan pemerintah karena keyakinannya. Mormonism. 

Rumah keluarga Tara Westover, di Buck’s Peak


Faye sebetulnya tidak berkeinginan sebagai bidan, namun Genelah yang berkehendak. Dengan alasan kemandirian finansial dan untuk tidak bergantung pada pemerintah. Gene selalu berprasangka buruk terhadap hal yang berhubungan dengan Pemerintah. Illuminati. Termasuk urusan pendidikan dan kesehatan. Sikap tersebut ditunjukkan dalam dialog dengan ibunya, “Those doctors aren’t  trying to  save you,” katanya. “They’re trying to kill  you”.  Faye cukup berpenghasilan untuk membantu belanja kebutuhan rutin rumahtangga. Bahkan Gene sudah merencanakan sepenuhnya mandiri dengan membangun pipa air dari gunung dan memasang solar-cell untuk keperluan energinya. Ini semua dalam rangka mempersiapkan kondisi ‘Hari Akhir‘. Menurutnya.


Ketiga kakak tertua sudah meninggalkan rumah. Tony bekerja, Shawn kabur karena tak tahan dengan kesewenang-wenangan ayahnya dan Tyler kuliah. Sikap sinis sang ayah, Gene, terhadap para profesor ketika Tyler bermaksud kuliah, “There’s two kind of them college professors. Those who know they’re lying, and those who think they’re telling the truth”. Dia juga berpendapat “A man can’t make a living out of books and scraps of paper. You’re going to be the head of a family. How can you support a wife and children with books?”. Absurd.


Tony mulai mengajarnya membaca ketika Tara berusia 4 tahun. Buku-buku agama menjadi obyek bacaan sehari-hari setelah selesai bekerja. Tyler mengajarnya aljabar dan trigonometri untuk test kesetaraan SMU dan persiapan ke jenjang perguruan tinggi. Tara juga sempat bekerja pagi-sore sebagai babby-sitter dari Senin hingga Jumat. Dan dikenal mampu menyanyi dengan bagus karena sempat belajar atas inisiatif ibunya. Semangat untuk menempuh pendidikan formal muncul ketika neneknya (dari ayahnya) memaksanya untuk kabur bersamanya, demi sekolah. Faye, sang ibu, mendukungnya. Ketika Tara mencoba menyampaikan keinginannya untuk sekolah, jawab ayahnya adalah bahwa tempat perempuan itu di rumah dan belajar pengobatan herbal. “God’s pharmacy”, sebutnya. Suatu saat Tara berkata pada ibunya, “I’ve decided not to go to Birgham Young University (BYU),”. Sang ibu meyakinkannya dengan bergumam pelan, “Don’t say that. I don’t want to hear that”. “… Don’t you stay. Go. Don’t let anything stop you from going.”


Pada usia 16 tahun, Tara mengikuti test ACT (American College Testing) yang meliputi bahasa, membaca, matematika, dan sains, sebagai syarat untuk masuk BYU (Birgham Young University) dan universitas di Amerika pada umumnya. Dan berikut adalah paragraf yang menggembirakan bagi para pembaca, setelah disuguhi penuh getir kemuraman di separuh buku memoirnya, “I returned from the junkyard to find a white envelope. I tore it open, staining the page with grease, and looked past the individual scores to the composite. Twenty-two. My heart was beating loud, happy beats. It wasn’t a twenty-seven, but it opened up possibilities. Maybe Idaho State”. Berhak masuk universitas.


Tara tidak puas dan mengulang lagi ACT. Berhasil mendapatkan nilai 28. Diterima di BYU, Utah.


Kehidupan kota menyebabkan culture shock bagi Tara. Tujuhbelas tahun dalam kungkungan kehidupan Mormon yang ketat, membuatnya kaget melihat banyak aktifitas di hari Minggu, cara berpakaian dan pilihan menu makanan teman-temannya. Banyak hal masuk dalam ketegori ‘sesat’ dan tidak sesuai dengan keyakinan Mormon, seperti yang diajarkan ayahnya, Gene. Kompromi dilakukannya.

Junk Yard, tempat kerja keluarga Westover


Di perkuliahan pun Tara banyak tertinggal dengan isu-isu global, yang seharusnya sudah pernah didengar sebagai pengetahuan umum. Seperti Holocaust, gerakan hak-hak sipil di Amerika, Martin Luther King, dll. Namun dengan usaha yang lebih keras, Tara mampu memperoleh Beasiswa berupa potongan 50% biaya kuliah, karena mendapat nilai ujian yang memuaskan. 


Liburan semester digunakan Tara untuk pulang ke Buck’s Peak. Kembali ceria bekerja di Stokes, toko keperluan rumahtangga. Namun tak kuasa menolak permintaan orangtuanya untuk kembali bekerja di junkyard. “You have an opportunity to help your father,” Faye said. “He needs you. He’ll never say it but he does. It’s your choice what to do.” There was silence, then she added, “But if you don’t help, you can’t stay here. You’ll have to live somewhere else”. Tara bekerja untuk Ayahnya, lagi.


Bullying bahkan tindakan fisik semena-mena oleh Shawn (kakaknya) setiap kali pulang ke Buck’s Peak, yang selama ini dianggapnya hanya sebagai canda, mulai menyadarkannya. Misalnya, panggilan Niger berulang kali terhadapnya, bahkan menyebutnya “whore“, menyakitinya serta menyiksanya secara fisik. Memang dimaksudkan sebagai pelecehan. Perilaku sakit.


His expression is unforgettable: not anger or rage. There is no fury in it. Only pleasure, unperturbed. Then a part of me understands, even as I begin to argue against it, that my humiliation was the cause of that pleasure. It was not an accident or side effect. It was the objective.


There was one point when he was forcing me from the car, that he had both hands pinned above my head and my shirt rose up. I asked him to let me fix it but it was like he couldn’t hear me. He just stared at it like a great big jerk. It’s a good thing I’m as small as I am. If I was larger, at that moment, I would have torn him apart.


Ketakutannya untuk tidak lagi memperoleh beasiswa karena kesulitannya dalam memahami Aljabar, tidak terbukti. Dengan ketekunannya, Tara berhasil mendapatkan nilai A untuk Aljabar. Dan mendapatkan dana pemerintah sebagai mahasiswa ‘tidak mampu’. Kontrak apartemen terbayarkan.


Terminologi bipolar, paranoia, schizophrenia dan kelainan mental lainnya, Tara dapatkan di kuliah psikologi. Dari kuliah ini, Tara mengindikasikan Gene, ayahnya, menderita kelainan mental.

Menurutnya, ada dua risiko bagi anak-anak berorangtua Bipolar yaitu, akan menurun secara genetis dan kehidupan keluarga yang tidak nyaman atau depresif. Sering kecelakaan terjadi di tempat kerja ‘junk yard‘ akibat kelainan mental Gene yang lebih mengutamakan ‘keyakinan’ dan egonya, tanpa memperdulikan protokol keselamatan kerja. Keluarga telah berkali-kali menanggung resikonya.


Setelah 19 tahun hidup dengan tuntunan Gene yang otoriter, akhirnya Tara memutuskan untuk berhenti dan tidak pulang ke rumah selama liburan semester. Mencoba hidup ‘normal’ dan fokus di kuliah. Dari Jurusan Sejarah BYU, Tara menerima penghargaan “the most outstanding undergraduate”. Tanpa kehadiran orangtuanya. 

Tara merasakan bahwa pendidikan mampu menghasilkan perspektif berpikir sendiri dalam ‘melihat’ dunia, sehingga tidak bergantung pada perspektif pihak lain. Seperti yang dirasakan selama ini di Peak’s Buck. Masuk Cambridge, Inggris. Tara adalah siswa ketiga dalam sejarah BYU yang memperoleh beasiswa The Gates Scholersip (TGE), Cambridge. 


Isaiah Berlin’s two concepts of liberty, menjadik topik kuliah pertama yang belum pernah Tara ketahui. Dosennya mengajarkan,

Brigham Young University, Idaho
  1. “Negative liberty, is the freedom from external obstacles or constraints. An individual is free in this sense if they are not physically prevented from taking action.” 
  2. “Positive liberty, is freedom from internal constraints.”

Positive liberty is self-mastery—the rule of the self, by the self. To have positive liberty, he explained, is to take control of one’s own mind; to be liberated from irrational fears and beliefs, from addictions,  superstitions and all other forms of self coercion. Tara memahaminya, None but ourselves can free our minds. Vaksinasi dilakukannya.


Perkawanan di Cambridge membuatnya nyaman, ada rasa kekeluargaan antar sesamanya, sangat berbeda dengan situasi di Buck’s Peak. Bahkan berlawanan. Serasa mengkhianati keluarganya. Bahagia, tak ingin pulang. Tapi … tetap pulang. Perlakuan hinaan mental dan fisik tetap diperoleh dari kakaknya, Shawn. Terhadap Erin, bekas pacar Shawn sendiri, penyiksaan fisik juga dilakukannya. Menyebutnya pelacur, mencekik, bahkan membenturkan kepala ke dinding. Ketidak-percayaan terhadap Tara, tetap ada pada ayahnya, Gene. Semua pengaduan Tara tentang sikap Shawn terhadapnya, tidak dipercaya Gene. Faye, sang ibu, bersikap ganda. Mendukung Tara, namun selalu menyerah terhadap kata Gene. 


I stared at the reflection. The mirror was mesmeric, with its triple panels trimmed with false oak. It was the same mirror I’d gazed into as a child, then as a girl, then as a youth, half woman, half girl. Behind me was the same toilet Shawn had put my head in, holding me there until I confessed I was a whore. Tara merasa terbelah kepribadiannya.. Kesempatan kuliah pendek di Harvard cukup membahagiakannya.


“I am called of God to testify that disaster lies ahead of you,” Dad said. “It is coming soon, very soon, and it will break you, break you utterly. It will knock you down into the depths of humility. And when you are there, when you are lying broken, you will call on the Divine Father for mercy.” Dad’s voice, which had risen to fever pitch, now fell to a murmur. “And He will not hear you”. Gene masih berusaha menarik Tara dari universitas, kembali pulang bekerja di Bucks Peak. Ketika berkunjung ke Harvard. Tara menolak.


Satu kalimat singkat yang ditulisnya ini bisa jadi gambaran utama tentang ayahnya, Gene, “I am not the child my father raised, but he is the father who raised her”.


Usia 27 tahun (2014) Tara memperoleh gelar Doctor dari Trinity Colledge, Cambridge dengan disertasi berjudul “The Family, Morality, and Social Science in Anglo-American Cooperative Thought, 1813–1890″. Luar biasa. Dalam situasi kejiwaan yang demikian rumit, menekan, Tara mampu menyelesaikan pendidikan tinggi yang membebaskan.


Apakah Tara akan pulang dan berdamai dengan ayah (Gene) dan kakaknga (Shawn)? Silahkan membaca Educated, kemudian menikmati video2 tentangnya di Youtube.


TARA WESTOVER was born in Idaho in 1986. She received her BA from Brigham Young University in 2008 and was subsequently awarded a Gates Cambridge Scholarship. She earned an MPhil from Trinity College, Cambridge, in 2009, and in 2010 was a visiting fellow at Harvard University. She returned to Cambridge, where she was awarded a PhD in history in 2014. Educated is her first book.


Tautan:

  1. Tara Westover
  2. Facebook
  3. Mormon stories
  4. Opah Winfrey
  5. What happened after I left
  6. A Mormon survivalist

Read Full Post »

Kesibukan pekerjaan yang berhubungan dengan korporasi, dan sedikit pengalaman tentang GCG, auditing dan manajemen risiko, membuat kewaspadaan semakin perlu dilatih untuk mencegah kemungkinan terjadinya perilaku bisnis yang  menyimpang, karena kelalaian atau kesengajaan. Tulisan ini dimaksudkan hanya sebagai penyemangat untuk dapat menikmati lebih jauh dengan membaca buku-buku kejahatan finansial korporasi di bawah ini.


Kisah runtuhnya dua korporasi besar dunia yang disajikan oleh tiga buku dibawah ini, sangat bagus dan inspiratif, untuk dijadikan pelajaran dalam tata-kelola perusahaan yang baik dan benar. Tiga buku tersebut adalah:

  1. Conspiracy of Fools: A True Story, Eichenwald, Kurt. (Veteran New York Times financial journalist, a finalist for the Pulitzer Prize in 2000, also authored The Informant), 784 halaman (hard copy), BROADWAY BOOKS, 2005.
  2. The Smartest Guys In The RoomBethany McLean and Peter Elkind, Penguin Group, 2003
  3. Extraordinary Circumstances, The Journey of a Corporate Whistleblower, Cynthia Cooper, John Wiley & Sons, Inc., 2008

Buku ke 1 dan 2 adalah tentang runtuhnya Enron,  sebuah perusahaan migas dan energi yang  masuk peringkat 7 dunia, berpusat di Houston, Texas, AS. Pada tahun 2001 Enron mempunyai valuasi US$ 100 Milyar. The Smartest Guys In The Room juga sudah bisa dinikmati filmnya dengan judul yang sama, sedangkan buku ke 3 adalah tentang runtuhnya Worldcom, perusahaan telekomunikasi, yang mulai berdiri 1983 namun sudah mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang luar biasa dari US $152 juta  pada tahun 1990 menjadi US  $392 Milyar pada tahun 2001, hingga bisa berada pada posisi ke 42 dari 500 perusahaan lainnya menurut majalah Fortune.


Skandal Enron

How could America’s seventh-biggest company just blow up? Where had the billions gone? Itulah pertanyaan yang seringkali muncul dari berbagai  komen yang didapatkan dari  internet  terhadap berbagai artikel yang berkaitan dengan Enron.


Kedua buku ini adalah karya rekonstruksi kisah nyata runtuhnya perusahaan migas terbesar ke-7 dunia,  yang berpusat di Houston, Amerika.  Enron, perusahaan bervaluasi $100 milyar di tahun 2001, runtuh karena Kejahatan finansial korporasi. Arthur Andersen, konsultan bisnis dan auditor terkemuka dunia yang mendapatkan $49 juta dari Enron di tahun 2000 (termasuk $35 juta dari jasa manajemen konsultan), turut runtuh juga karenanya. Harga saham melorot menjadi $0.26 di tahun 2001, setelah pernah mencapai tertinggi di harga $90.75.


Kedua buku menulis hal yang sama, bahwa kecurigaan publik atas adanya masalah dengan  Enron dimulai pada 20 September 2000, yaitu, ketika Jonathan Weil, wartawan Texas Journal dari biro Dallas, meliput tentang bisnis  energi yang mengandalkan metode akuntansi mark-to-market (keuntungan diambil didepan tanpa mengindahkan fluktuasi nilai yg bisa menyebabkan kerugian), diantaranya adalah Enron. Membaca liputan Texas Journal, Jim Chanos, investment manager Kynikos Associates di New York, mulai mendalami Laporan Keuangan Tahunan 1999 dan Triwulan ke-3 2020 yang terlihat bagus. Dinyatakan dalam Laporan Keuangan, Enron mengalami pertumbuhan keuntungan, sedangkan bisnis telekomunikasi saat itu sedang  buruk,  bahkan  ROIC Enron hanya 7 %. Mencurigakan. Diperoleh info bahwa Ken Lay (CEO) mulai menjual sahamnya 250 lembar setiap  harinya dalam  beberapa hari. Juga Skilling (pengganti Ken Lay), yang menjual sahamnya  dalam jumlah besar. Insider Selling


September 2000, Enron tidak menghasilkan cash dan telah banyak mengambil  keuntungan  didepan  melalui metode akunting mark to market atas persetujuan SEC. Dengan metode akutansi Mark to Market ini, Enron harus menanggung kerugian $500 Juta di bisnis Enron Energy Services. Bahkan, ada penambahan hutang sebesar US$ 3,9 Milyar. Dan dokumen menunjukkan bahwa 40% dari pendapatan di tahun 1998 dan 1999 adalah hasil dari penjualan aset, bukan dari hasil operasi. Harga saham Enron meluncur turun.


Pertanyaan yang muncul pada saat konferensi pers oleh Enron ketika kepercayaan pasar mulai merosot, pada umumnya adalah tentang adanya transaksi bisnis dengan anak perusahaan (special purpose entities) yang tidak transparan dan susah difahami proses bisnisnya oleh komunitas pasar saham. Awal 2001, Chanos mulai menghubungi Bethany McLean (wartawan Fortune), penulis buku ini. Dan kekacauan semakin merebak.


Tentang Mark to Market, David Woytek, Internal Auditor dari Arthur Andersen, saat itu sempat meragukannya, “How can you book twenty years of revenue in the first year?” Woytek asked. “That goes against everything I was ever taught in accounting. You never recognize revenue in advance, only when title passes from one owner to the next. And title doesn’t pass on this until you deliver the gas, over the next twenty years.”


Dari isi buku, Conspiracy of Fools tidak berbeda dengan The Smartest Guys In The Room, karena sejatinya kedua buku tersebut adalah ‘laporan’ tentang kejadian nyata kejahatan korporasi, bukan novel. Hanya, bobot liputan peristiwa-peristiwa dan narasi dialog para pelaku di dalamnya yang sedikit berbeda namun tetap tidak mengubah fakta substansial yang ada.


Untuk menunjukkan bahwa maksud penulis sepenuhnya hanya menyajikan berita dan opini publik terkait kejahatan korporasi Enron, dalam bab Q&A, Kurt Eichenwald mengatakan “I am not going to venture out and say “I know, in my opinion this person committed a crime, in my opinion this person did not.” That’s really up to a jury”. … “I kind of look at it as an impressionistic painting. Everyone can look at it and make their own judgments about what they think the intents were. I don’t think that’s my job”. 


Tentang Arthur Andersen, Echenwald di akhir bukunya menulis “Arthur Andersen deserved the death penalty. They were not public accountants. They were not acting on behalf of public interest. And I think that failure—they paid a very heavy price for it, but I think it’s a price that was ultimately deserved. It was a company that had experienced these kind of violations in the past, and didn’t do enough to make sure that it didn’t happen again”.


Yang juga menarik dari buku Kurt Eichenwald ini adalah kemampuannya menggali informasi, mengangkat kisah-kisah pertemuan pejabat Enron seperti Ken Lay, Andy Fastow (CFO) dan Jeff Skilling dengan para selebriti politik dan bisnis, seperti George W. Bush, Dick Cheney, Paul O’Neill, Harvey Pitt, Colin Powell, Gray Davis, Arnold Schwarzenegger, Alan Greenspan, Bill Clinton, Rupert Murdoch and Sumner Redstone, kemudian merangkainya dan menyajikannya secara runtut dan rinci dalam satu kerangka skandal korporasi Enron, dengan narasi yang nyaman untuk dinikmati. Framing. Membacanya serasa sedang menikmati novel detektif Tom Clancy :). Opini penulis tidak terlihat muncul dalam bahasa verbal yang menghakimi.


Sedikit berbeda dengan Conspiracy of Fools, The Smartest Guys In The Room sudah ‘menghakimi’ sejak di bab Pendahuluan “It would later be blindingly obvious that Fastow had not told us the truth—how could he, given that much of Enron’s earnings were the result of accounting manipulations that created the illusion of profitability?” … meskipun memang benar adanya, setelah membaca lebih jauh dalam bukunya.


Sherron Smith (kemudian Sharron Watkins, setelah menikah), bekerja di Enron sebagai akuntan sejak 1993. Sebagian kecil kutipan surat Sherron Watkins ke  Ken Lay (CEO), termasuk penjelasannya setelah menemukan banyak penyimpangan akutansi yang dilakukan Fastow, “Dear Mr. Lay, Has Enron become a risky place to work? For those of us who didn’t get rich over the last few years, can we afford to stay? Skilling’s abrupt departure will raise suspicions of accounting improprieties and valuation issues. …”. Surat ini yang kemudian menjadikan Sherron Watkins dianggap publik sebagai Whistleblower. Pahlawan.

Skandal Worldcom

Satu lagi kasus penyelewengan keuangan yang terjadi diwaktu yang hampir bersamaan dengan Enron, yaitu Worldcom. Perusahaan telekomunikasi AS, dibawah Bernie Ebbers, yang melayani jasa telekomunikasi jarak jauh. Berpusat di Jackson (1997, Clinton), Mississippi. Pada awalnya hanya melayani pantai selatan AS, berkembang hingga 65 negara lain di dunia.


Kasus ini dibongkar oleh Internal Auditor Worldcom, Cynthia Cooper, penulis buku ini, yang mulai bekerja di bagian Internal Audit Worldcom sejak usia 20 tahun,  tahun 1994. Menjadi Vice President Internal Audit di usia 37 tahun (2002). “WorldCom was an underdog company, with an underdog CEO, headquartered in an underdog state”. Dalam 8 tahun masa kerjanya, pendapatan Worldcom tumbuh dari $1,5 Milyar menjadi $38 Milyar. Tahun 1999, Bernie Ebbers berada pada nomor 174 orang terkaya di AS.

Pada Juni 2002, Internal Audit, dibawah Cynthia Cooper, menemukan keanehan adanya transaksi transfer dari akun ekspense di Income Statement ke akun asset di Balance Sheet sejak 2001 yang total nilanya mencapai $3,8 milyar lebih. Scott Sullivan, CFO, memberi alasan bisnis yang menurut Cynthia tidak rasional secara akuntasi.


Scott Sullivan, diangkat sebagai CFO pada usia 33 tahun dan Wall Street memberinya penghargaan sebagai ahli financial yang cemerlang. Di tahun 1997, dengan kompensasi sebesar $19 million, dia merupakan CFO termahal di AS. Tahun 1998, CFO Magazine memberinya penghargaan CFO Excellence Award karena sukses untuk bidang merger dan akuisisi.

Konvensi akutansi “matching principle”, digunakan untuk penundaan pembukuan biaya sehingga terlihat seolah  masih sebagai asset. Hal ini dilakukan untuk menjaga performa perusahaan supaya tetap terlihat bagus.

Akibat dari semua ini adalah anjloknya harga saham Worldcom menjadi $83  cent di NASDAQ, dari puncaknya $64 tahun  1999, hilangnya pekerjaan dari 17.000 karyawan, atau 20% dari total jumlah karyawan Worldcom, hilangnya kepercayaan publik, kerugian finansial dan kehancuran reputasi serta karir. Worldcom merupakan kasus runtuhnya korporasi terbesar dunia.

Penutup

Kedua skandal keuangan tersebut, Enron dan Worldcom, memicu munculnya undang-undang Federal AS, “The Sarbanes-Oxley Act” (or SOX Act) yang diinisiasi oleh anggota Senat Paul Sarbanes dan anggota DPR Michael Oxley, serta ditandatangani oleh Presiden George W. Bush , 30 Juli, 2002. Akta ini dimaksudkan untuk melindungi investor dari kejahatan keuangan korporasi.

Sudah banyak sekali artikel tentang skandal Enron ini, selain karena skala kerugian yang sangat material, peristiwanya juga sudah relatif lama terjadi, sehingga tak perlu lagi ulasan yang lebih rinci dalam tulisan ini. Ada beberapa link artikel yang bisa dirujuk untuk menjelaskan kasusnya lebih rinci:

  1. Kasus Worldcom
  2. ANALISIS KASUS ENRON COORPORATION
  3. Stocks plunge as WorldCom admits $3.8 billion fraud

Read Full Post »

IMG_20200520_233418
Mumpung dalam suasana karantina mandiri akibat Covid-19, saya coba main medsos yang akhirnya terperosok dalam penawaran online training Udemy.com. Kebetulan yang ditawarkan cukup murah dan menarik, karena berhubungan dengan beberapa buku yang pernah saya baca terkait dengan Otak dan Perilaku, seperti The Brain That Changes Itself , Personality: What makes You the Way You Are dan Quiet, yang ketiganya juga ada dalam blog ini.
Karena pelupa maka seringkali buku yang dibaca, saya buatkan tulisannya dalam blog ini, termasuk kursus ini, sehingga menjadi catatan yang bisa dibaca ulang dimanapun berada. Berikut ini adalah gambar besar dari keseluruhan isi kursus.
Kursus ini diadakan oleh Udemy.com dengan judul “Neuroscience for personal development“. Isinya tentang perilaku manusia dalam kaitannya tentang struktur otak kita. Menurut kursus ini, ada empat struktur otak yang bertanggung-jawab terhadap perilaku kita, yaitu: Reptilian brain, Neo-limbic brain, Paleo-limbic brain dan Prefrontal brain. Berikut ini penjelasan garis besar masing-masing struktur otak tersebut. Masih banyak lagi sub-bab dan contoh kasus, juga latihan dari masing-masing peran struktur otak tsb yang tidak dapat diringkaskan dalam blog ini, mengingat banyaknya materi. Ikutilah kursusnya karena sungguh menarik untuk bekal memahami diri sendiri, orang lain dan relasi sosial.
 
 
images (3)
Reptilian Brain (RB)
. .
Bertanggung-jawab untuk semua jenis fungsi fisiologis dasar seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dll.  Ini tempat bagi naluri bertahan hidup dan bertanggungjawab untuk menghadapi situasi yang mengancam. Secara teknis ia bekerjsama dengan amigdala limbik. Reptilian brain disebut jg ‘otak primitif’, yang memicu respon fisiologis untuk hasil yang positif dalam situasi kritis atau dalam tekanan. Tiga strategi yg dipergunakan untuk respon terhadap tekanan adalah:
  1. Flee: melarikan diri, otak memerintahkan pengiriman darah ke kaki sehingga otot mendapatkan oksigen lebih untuk mampu berlari cepat.
  2. Fight: bertarung atau mengintimidasi lawan,  mengirim darah ke bagian-bagian tubuh untuk bertarung.
  3. Freeze: ‘mengecilkan’ diri dengan harapan lawan akan mengabaikan. Otak tidak memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih kencang tapi justru memperlambatnya. Dan energi akan turun.
Reptilian brain ini mempunyai fungsi primitif, yaitu tidak bisa belajar, tidak bisa berevolusi atau adaptasi. Juga tidak mempunyai memori. Bila dipicu oleh amigdala, ia akan memilih 3 strategi tersebut untuk bertahan.
Reptilian Brain (RB) akan aktif ketika muncul rasa khawatir terhadap suatu hal, walaupun belum tentu akan terjadi, sehingga menimbulkan stress. Strategi Flee, bisa diartikan ingin berada di tempat atau situasi lain (anxiety). Respon fisik akan terjadi seperti tangan bergetar, kaki bergerak saat duduk, jari-jari terus bermain pen, dll. Suara tidak stabil, ingin ke belakang, insomnia … Itu adalah perintah otak limbik untuk lari.  Respon strategi Fight, menyebabkan sikap agresif (intimidate). Merasa superior, tangguh. Leher, rahang dan lengan terasa tegang. Suara menjadi lebih keras, nada tinggi dan jelas. Tidak sabar dan mata menyipit namun tajam menatap,  fokus pada lawan. Respon strategi Freeze, menginginkan masalah cepat selesai. Merasa tak mampu hadapi masalah dan membutuhkan bantuan (helplessness). Demoralization. Tak berdaya. Seluruh tubuh terasa lesu. Suara rendah lambat, sedikit kata. Menangis. Sangat lelah bahkan sesak napas.
 
Relational stress management (RSM)
Upaya pendampingan terhadap penderita stress utk masing-masing strategi:
Strategi Flee
Orang yang sedang mengambil strtegi ini akan cenderung mengalihkan pandangan. Ingin beralih dari situasi yang ada. Bila memintanya bersikap tenang, akan dirasakannya sebagai upaya membatasi kebebasan untuk lari, melepaskan diri. Memberikan pertanyaan dengan jawaban ya/tidak (close question), akan membuatnya bingung. Pendamping jangan bersikap yang bisa ditafsirkan sebagai upaya menekan, seperti berteriak, mengancam atau memberi sangsi. Lebih baik segera bekerja bersama. Ajukan pertanyaan terbuka (open question), tawarkan beberapa alternatif solusi, dan letakkan masalah pada proporsinya, serta berikan harapan. Buatlah suasana santai, bila perlu berikan lelucon atau aktifitas santai lainnya.
 
Strategi Fight
Respon orang pada strstegi ini mudah terlihat. Berdiri tegak, bersuara keras, nada tinggi. Menunjukkan ketidak-sabaran. Ketegangan naik, terlihat dari rahang dan urat lehernya. Karena sedang menunjukkan over-power, maka sebaiknya jangan lakukan interupsi, buatlah tertawa. Akui kesalahan, berikan empati. Tawarkan alternatif solusi. Karena karakter Fight stress adalah impatience, maka perlu langsung to the point dan factual.
 
Strategi Freeze
Memintanya untuk mengambil alih, pegang kendali atau bersikap berani, menunjukkan kekuatan hanya akan membuatnya semakin menderita. Humor bukan cara tepat. Berikan pemahaman, duduk bersama, hargai dia, pelukan bisa membantu.  Ingat tujuan nya adalah keluar dari otak reptil. Menghilangkan bahaya yangg dirasakan dan menawarkan perlindungan serta menunjukkan langkah kecil ke arah yg benar. Intinya adalah finding protection.
Pada intinya, bila kita ingin membuat tenang penderita stress, perlu dihilangkan rasa bahaya yang dirasakannya dengan menunjukkan bahwa kita berada di pihaknya. Ini adalah elemen umum untuk menghilangkan kebutuhan adanya reaksi defensif sehingga respon stress akan memudar. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah mematikan otak reptil.
. . .
Reaksi strategi Flee, Fight dan Freeze bisa berubah-ubah dalam waktu singkat ketika kondisi stress. Ingin lari, marah lalu menyerah, sangat umum terjadi dalam suatu kasus kritis yg membuat stress.
NBA316 Reptilian Brain Conclusion
 
Paleo-Limbic (PL) Brain (Limbig amigdala)
PL bertanggung-jawab atas reaksi individu dalam suatu kelompok. Seperti diketahui bahwa Self Confidence (SC) dan Trust penting untuk bisa mendapatkan akses masuk ke dalam kelompok. Reaksi emosi dan perilaku sangat berhubungan dengan posisi SC – Trust kita.
Tingkat rasa SC dan Trust ini digambarkan dalam bentuk dua garis sumbu berpotongan. Sumbu vertikal adalah sumbu SC. Di bagian tengah sumbu adalah zona assertiveness. Kurangnya SC akan mengarah pada Submissiveness, dan SC yang berlebihan akan mengarah pada Dominance.  Tingkat paling rendah dari Submissiveness adalah rasa auto-mutilation and suicide, sedangkan paling atas atau titik potong sumbu adalah rasa Perfectionism and Credulity. Sedangkan tingkat terendah dari Dominance adalah rasa Flattery and Seduction, dan yang tertinggi adalah Sadism and cruelty.
 
Dominance: Mild dominance – narcisistic personality
  1. Flattery and Seduction
  2. Manipulation of feeling,  in order to alienate the person
  3. Mockery, in order to de-stabilize  level for refined violence against objects
  4. Intimidation,
  5. Sadism, cruelty,  enjoying to see others suffer
Submissiveness:
  1. Perfectionism (takut berbuat salah), credulity (thd dominan)
  2. Sensitivity, thd penderitaan sendiri
  3. Superstition, irrational fear if sanction, panic attacks
  4. Panic attack,  guilt
  5. Auto-mutilation, sucide
Submissiveness hanya mungkin terjadi bila memang berserah diri pada kelompok Dominance.
Tingkat Trust digambarkan pada sumbu horizontal, dengan bagian tengah sumbu adalah zona Assertiveness, kekurangan Trust akan mengarah pada sikap Marginality, dan berlebihan Trust akan mengarah pada Axiality. Tingkat terendah Marginality adalah Conspiracy dan yang tertinggi adalah Uneasiness at sharing. Sementara tingkat terrendah dari Axiality adalah Easines at sharing dan yang tertinggi adalah Connection to the universe.
Pada sumbu Trust, zona Assertiveness dibatasi oleh dua ujung ekstrim, yaitu: Marginality dan Axiality. Bentuk ekstrim dari marginality adalah paranoia, sebaliknya bentuk ekstrim dari axiality adalah mystical delirium.
 
Marginality:
  1. Uneasiness to share private life
  2. Feeling of loss contact with others
  3. Megalomaniac speech due to loss of connection with others
  4. Sense of exclusion
  5. Feels there is conspiracy theory against him or her
Axiality:
  1. Ease at sharing
  2. Feeling of percieving a hidden meanings of things
  3. A feeling of communicating with others witout words
  4. Communicating with things
  5. Feels connected to the universe
Kelompok Marginal merasa susah sekali mempercayai orang lain dan merasa terancam oleh kelompok predator, sementara kelompok axial merasa diuntungkan dlm kelompok. Namun kelompok axial sering kali juga naif, sehingga bisa membawa kesulitan.
Reptilian brain sudah aktif sejak dilahirkan, sedangkan Paleo-limbic aktif kira-kira umur 2 tahun ketika anak mulai bersosialisasi. Trustworthy yg rendah di masa kecil dan selalu meminta ijin untuk bertindak, akan berdampak dimasa selanjutnya seeing selalu merasa tidak mendapat kepercayaan dalam bawah sadarnya. Solusinya, finding a balance between authority and freedom. Namun perlu pengawasan yang tegas bila anak mulai melintas batas berbahaya. Keberadaan the authority sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Terlalu strict and rigid akan membentuk Submisiveness, sebaliknya terlalu longgar aturan dan disiplin, akan membentuknya menjadi Dominance. Paleo-limbic sangat rigid dan lamban untuk berubah, bergantung pada pengalaman hidup. Kondisi sementara dalam group memungkinkan tingkat SC dan Trust berubah posisi.
Mengubah posisi SC – Trust dalam group perlu dilakukan, meskipun menaikkan tingkat SC tidak bisa seketika, karena rigiditas dari paleo-limbic brain. Menggali posisi traumatik masa lalu, misalnya pengeroyokan, pemerkosaan, dll. akan sangat membantu untuk bisa menerima keadaan dengan sadar, bangkit dan menaikkan SC. Tujuan dari positioning group adalah stabilitas. Rebound effect adalah posisi kembali ke central referal point setelah mengalami masa naik-turun. Pendampingan coach direkomendasi.
 
Relational Group Positioning Management (RGPM)
Marginalitas dalam Dominance seringkali bersikap resisten, namun bisa berubah menjadi agresif. Tujuan RGPM bukan mengubah positioning, namun untuk mengelolanya dengan baik. Diperlukan sikap menghargai dan tidak menyalahkan dimanapun posisi group lainnya, karena kita tidak akan bisa mengubahnya. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah mendorongnya untuk keluar dari Paleo-limbic melalui komunikasi. Perlu diingat bahwa pihak lain bisa jadi tidak dalam level perilaku rasional untuk mulai berdiskusi secara rasional tentang siapa yang salah atan benar. Jangan terseret pada isi diskusi karena dalam hal ini tidak penting. Untuk membantu anak-anak mencapai ketegasan (assertiveness), perlu dibuatkan kerangka kerja dimana anak-anak merasa bebas untuk eksplor banyak hal, dan orangtua hanya mengawasi batas-batasnya. Berbeda dengan Reptilian brain yang sedang dalam sosisi bahaya dan membutuhkan teman, Paleo-limbic tidak membutuhkan kita sebagai teman, sehingga sedapat mungkin kita tidak berada dalam sosisi over-power. Harus bisa acting dalam posisi netral, menjaga jarak, menghargai untuk bisa meulai komunikasi tentant niai-nilai yang bague dalam limbic brain, dengan harapan bisa memicu prefrontal-brain untuk teraktifkan. Jangan lupa bahwa paleo-limbic sangat rigid (susah berubah), sehingga kesabaran sangat diperlukan. Berikan cukup waktu untuk beradaptasi dan jangan berharap dapat berubah dalam waktu yang pendek. Sabar. Tetap perlu diingatkan bila perilaku sudah diluar batas.
NBA428 Paleo-limbic Conclusion
 
Neo-limbic brain
Ini adalah struktur ketiga dari otak yang berfungsi untuk mengelola motivasi dan emosi terdalam. Setiap pengalaman hidup kita, hingga yang paling dalam, disimpan disini. Untuk memahami identitas diri sebenarnya, perlu menggali ingatan yang paling dalam ini. Dan yang lebih penting lagi adalah mampu membebaskan diri dari ekspektasi orang lain. Disini juga kita menentukan kesadaran diri (Consciousness). Bisa mengenali situasi, dimana kita seolah sudah mempunyai SOP, tentang bagaimana menghadapinya. Serasa autopilot. Disini tempat semua yang sudah dipelajari akan tersimpan, seperti misalnya bagaimana berjalan, mengemudi, berkomputer dll. Semua seperti instan, mengemudi sambil berkomunikasi, makan, dll. Disini akan ditemukan kontradiksi dan paradoks personality yang rumit.
Perlu disadari, apakah kita menjalani hidup ini atas dasar ekspektasi lingkungan sosial atau atas berdasar motivasi diri sendiri.
 
Primary Personalities
 
Karakter dari Primary Motivations ini adalah penuh energi yang memberi semangat dan motivasi berkelanjutan. Ini sudah tetap (fixed) pada saat awal kehidupan dan tidak akan berubah atau berkembang. Ini sebagian ditentukan oleh gen dan sebagian lainnya oleh lingkungan sosial awal. Primary Motivations atau Intrinsic motivations, ditentukan oleh fakta bahwa telah tertanam sekali, dan untuk selamanya di dalam inti personaliti primer (core of primary personalities). Terbaik yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi motivasi utama, menerimanya dan menghargainya karena merupakan representasi ideal cara hidup kita. Karakteristik kedua adalah motivasi-motivasi utama sebagai sumber energi (Gives us energy),  mereka seperti motor yang terus berjalan tanpa henti dengan emosi yang stabil. Karakteristik ketiga adalah mereka tidak membutuhkan imbalan dari luar berhubung memang tidak berharap hasil (no need for results). Hasil yang positif ataupun negatif, tidak mempengaruhi kesenangan individu. Misalnya, walaupun bersuara buruk tapi tetap menikmati bernyanyi, atau walaupun badan besar tapi tetap bisa menggemari menari. Kesenangan itu berada pada dirinya, bukan karena yang dipikirkan oleh pihak lain. Masih banyak orang yg belum menyadari kegemaran dirinya. Lalu, bagaimana mengidentifikasi Primary Motivations anda sendiri? Lihatlah apa yang anda lakukan dan apa yg anda sukai, apakah memberikan anda energi kegembiraan atau kebahagiaan?
Guidlines:
  • Apakah anda menikmati, bila sesuatunya mudah, atau lebih suka ada tantangan? (Easy or challenge)
  • Apakah lebih suka action atau reflection? (Action or reflection)
  • Apakah lebih suka bergaul dengan teman atau lebih suka sibuk sendiri? (Together or alone)
  • Merasa introvert atau extrovert?
Pilihan bisa keduanya cocok atau bergantung kondisi. Cobalah utk menggali lebih dalam, apa yang memotivasi anda. Apakah lebih suka sharing with others atau enjoying nature. Atau, kemenangan lebih membahagiakan, atau helping others lebih menarik? Ingat, ini bukan What you like, tapi what you enjoy. What give you choice and energy. Hal apa yang bisa menggerakkan dan membahagiakanmu di dalam sana? Apa yang bisa memberikan arti bagimu.
Impact of the reptilian strategies
Saat dilahirkan, kita memiliki 100 billion neuron, dan setiap neuron mempunya 100.000 koneksi. Tiga bulan berikutnya, hanya sisa 10.000 koneksi. Yang terjadi dalam bulan-bulan pertama tsb, sangat bergantung pada lingkungan dimana kita berada. Koneksi yang tidak aktif, akan mati, karena tidak dipergunakan. Ingat, bahwa saat kelahiran, reptilian brain sangat aktif, dan punya 3 strategi. Termasuk dalam situasi aman tanpa bahaya (standby mode), RB mempunyai 4 kondisi, dan bayi akan mengalami 1 dari 4 kondisi tsb. Idealnya, dalam perkembangannya, siapa kita, akan didasarkan pada satu kondisi tsb. Identitas diri didasarkan pada modus ‘fleeing’ yg menyukai pergerakan dan perubahan, dan akan berubah menjadi mode ‘fighting’ karena menikmati tantangan dan kemenangan, kemudian berubah menjadi mode ‘freezing’ karena menyukai perhatian dan berbagi (caring and sharing). Dan terakhir, mode ‘stand by’ karena menyukai kontemplasi dan berpikir (thinking). Setiap strategi (mode) ada dua modulasi, tergantung pada tingkat kesuksesan yang diperoleh dari strategi utama.  Apakah lebih mudah kontemplasi, atau lebih mudah lari, atau justru merasa perlu berlindung,  atau cukup dengan mengintimidasi atau malah harus bertarung ? Apakah lebih mudah mencari perlindungan atau harus membantu lainnya?
. . .
Tingkat risiko setiap pilihan strategi akan menentukan personality kita. Bila kemudahan adalah yang kita sukai, maka akan berkembang menjadi extrovert. Bila membutuhkan usaha lebih banyak untuk sukses,  akan menjadi introvert. Extrovertion akan mendatangkan kepuasan instan tanpa hambatan, sementara introversion akan lebih lambat merasakan kepuasan sebagai refleksi kedisiplinan dan keseriusan, perencanaan, ethic, efisiensi. Cara lain melihat hal ini adalah dengan membuat perbedaan antara individual dan personality sosial. Stand by tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Personality ini menyukai kesendirian. Fighting dan Freezing jelas membutuhkan kehadiran pihak lain, sebagai musuh ataupun pelindung. Penting untuk dipahami bahwa kita bisa mempunyai antara 2 dan 4 personality untuk menentukan siapa kita sebenarnya.
 
Secondary Personalities
Setelah 3 bulan, ketika primary personalities pada akhir pembentukannya, secondary personality mulai terbentuk melalui ingatan yg ‘dipaksakan’ sebagai ajaran positif. Perilaku dengan penyemangat “carrot” akan berdampak motivasi positif, sebaliknya perilaku dengan stimulus “stick” Akan berdampak pada motivasi negatif. Lingkungan biasa mengajarkan perilaku anak dengan “stick n carrot”, sebagai budaya ajaran yang menurun.
Secondary personalities dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya serta primary personalities yang sudah terbentuk sebelumnya. Keseimbangan antar kekuatan primary dan secondary personalities akan terbentuk. Seringkali lingkungan akan mengkoreksi sikap dan perilaku yg tidak layak. Menghardik anak yang selalu bergerak kesana kemari (fleeing) akan menyebabkan trauma dan menutup sumber motivasi dan kesenangannya serta tidak menggunakannya di kemudian hari. Sebaliknya, dengan memberikan hadiah (carrot) untuk tidak berlompatan, akan membuatnya senang dan tidak traumatik.
Karakter Secondary personalities ini adalah dapat berubah (Can change), perlu upaya keras (Cost us energy) dan membuthkan adanya hasil (Need for results).
Loss of motivation
Sering kita mendengar “aku gak tahu apa yang mesti kulakukan dlm hidup ini”. Seharusnya sudah jelas bahwa pilihan hidup mesti didasarkan pada primary personalities, bukan pada secondary personalities. Setidaknya, bila bisa nyaman menikmati apapun yang kita rencanakan, tanpa berrisiko demotivasi ketika mendapat hambatan. Jadi, contohnya, ketika memulai studi, apakah memilih berdasar kesukaan (passion) atau karena keinginan orangtua atau karena kemungkinan pendapatan yang akan dihasilkan dari pekerjaan nantinya? Ingat bahwa motivasi kenaikan gaji hanya akan bertahan 3 – 6 bln saja, tidak berkelanjutan. Oleh karenanya, untuk membuat pilihan-pilihan tsb, perlu benar menyadari primary personalities anda. Bisa jadi akan menemukan beberapa pilihan, atau mungkin justru masih belum bisa meyakini primary personalitiesnya. Berikut ini yang akan terjadi bila masih belum menemukan dasar motivasi. Ini merupakan indikasi bahwa secondary personalities telah menutupi primary personalitiesnya. Ini terjadi karena tidak meyakini bahwa sebenarnya sudah mempunyai primary personalities. Periode krusial ada pada usia 3-6 tahun. Bila pada tahun-tahun tsb primary personalities terrepresi, terabaikan atau terkerdilkan, maka akan bisa berakibat kelainan pathologis (pathological disorders), dimana kehilangan motivasi adalah akibat awal, yang dalam jangka panjang akan bisa bertendensi menjadi depresi. Anak-anak ekstrovert yang dimasukkan dalam sekolah yang sangat ketat, akan bisa menyebabkan hal seperti ini. Stress. Hal ini juga terjadi pada anak-anak introvert yang selalu disalahkan oleh orangtuanya karena merasa takut bersosialisasi. Bagus saja mendorong anak untuk bersosialisasi, asalkan dengan lembut dan tanpa menghakimi atau mengurangi nilai kecenderungan emosional mereka. Tapi, memilih diam pun, bukan suatu yg salah. Berbeda dengan primary personalities yang sudah fixed, masih ada cara untuk mensiasati dimensi negatif dari secondary personalities. Ini adalah proses identifikasi dan melepaskan langkah demi langkah.
 
NBA539 Neo-limbic Conlusion Motivation
 
Obsessions – How we spot them
Lapis ketiga diatas Primary dan Secondary Motivations, istilah teknisnya adalah Hyper investment, dan medisnya adalah Neurosis, yang biasa disebut Obsesi.. Jatuh cinta adalah contoh obsesi atau hyper investment. Bisa berada dalam situasi sangat tidak bersalah, atau memang betul invasif atau destruktif. Ini memberi rangsangan untuk perilaku addictive seperti workaholism, alcoholism, shopaholic, dll. Bahkan bisa mempengaruhi lainnya. Titik balik diatas primary motivations adalah dimana kesenangan (passion) kita berubah menjadi obsesi. Perlu perhatian. Bgmn mengenalinya? Ingat ketika merasa joy, satisfaction dan relief dgn primary dan secondary motivations. Disini tidak ada satisfaction,  selalu tidak cukup,  selalu ingin lebih walaupun kesuksesan sudah diraih. Bila seorang obsesif tidak mendptkan keinginannya, bisa tak terkendali dan akan terus mengganggu pikirannya. Ini kontras dengan primary motivations, yang bila tak bisa terpenuhi kesenangannya maka tak terlalu terganggu pikirannya. Selalu siap dengan yang terburuk. Karakteristik ketiga adalah besarnya energi untuk sebuah obsesi. Sangat melelahkan, setidaknya untuk orang lain. Obsesive person terlihat bertindak berlebihan, karena sikap invasif dan terus berulang sehingga menjadi membosankan, mengesalkan, dan melelahkan.
Causes and mechanism
Mengapa terjadi obsesi? Karena yang diinginkan tak bisa didapatkan, sehingga berusaha mengganti objek yg mirip dengannya namun tetap tak bisa menggantikannya karena hanya ‘mirip” dan bukan ‘sebenarnya’. Anak yang belum mature otak prefrontalnya, tidak mempunyai alat utk menangani masalah kekecewaan tsb. Sehingga otak neo-limbicnya akan ‘mengeras’ atau terpateri dengan kekecewaan tsb. Bahkan bisa terjadi menyimpannya di tempat yg paling dalam, diluar kesadaran. Ini yg disebut small social trauma, dan akan menyebabkan perilaku yang berubah, yang seharusnya dihindari dengan segala daya. Setelah 17 tahun, tidak ada perubahan perilaku karena pre-frontal mulai aktif dan mampu mengatasi persoalan-persoalan tsb.
Seorang anak yang merasa dipermalukan orang tuanya karena mendapatkan nilai buruk, akan terbentuk rasa tidak percaya pada orang lain (merasa dikhianati org tuanya) dan mengganti sikapnya menjadi perfectionism. Substitusi dari tindak obsesif bisa perfectionism, atau menjadi lucu, atau hal lainnya, yang tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah bila object obsesi terus bergerak atau berubah. Kompensasi akan terus berulang dilakukan.
Belajar NBA bisa jadi untuk alasan memenuhi obsesi pengetahuan, sains, atau pertumbuhan personal. Bila selalu melakukan lompatan teori tanpa merasa puas, selalu mencari yang lain,  cobalah bertanya, bagian mana yang ‘menutupi’ dirimu sehingga harus melakukan kompensasi?
NBA650 Conclusion to the Obsession
 
 
Prefrontal brain
Struktur otak ke-4 adalah Prefrontal brain, hasil proses evolusi yang menakjubkan. Ini yang membuat manusia menjadi unik, karena tidak ada mahluk hidup lain yang mempunyainya. Tiga struktur otak lainnya, bisa dipunyai oleh mahluk hidup lain. Reptilian dan paleo-limbic adalah dasar yang menempatkan manuaia tidak memounyai hubungan lagi dengan kemampuan berpikir logis. Di sisi lain, dalam Neo-limbic terletak esensi siapa kita sebenarnya, dengan ingatan dan motivasi. Namun, tetap masih belum menunjukkan bhw kita manusia. Siapapun yang mempunyai anjing atau kucing, bisa menunjukkan bhw mereka punya karakter masing-masing, seperti suka, tidak suka dan motivasi. Prefrontal yg membedakan bahwa kita manusia, meskipun ada mamalia yang juga mempunyainya. Lumba2, gajah, anjing, dan kera-kera besar. Ukuran otak prefrontal mereka adalah normal saja, tidak seperti milik manusia yang sangat besar volumenya. Disinilah bedanya. Prefrontal brain seperti super-komputer yang mampu mengambil keputusan tanpa kesadaran, dari input yg bermacam-macam, kemudian mengkombinasikannya secara inovatif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, prefrontal brain adalah alat utama yang adaptif dan kreatif dan sesuai untuk situasi yang sebekumnya tidak diketahui dan rumit.
Seperti diketahui bahwa neo-limbic bekerja secara autopilot dalam menghadapi dunia ini, untuk perilaku kecil yang rutin sehingga bisa efektif dalam kehidupan sehari-hari. Prefrontal brain digunakan untuk menghadapi masalah dan situasi yang baru dan rumit. Kita selalu resisten terhadap perubahan, karena sebenarnya kedua otak limbic keberatan untuk melakukan kontrol dan melimpahkannya ke prefrontal. Cobalah minta kolega anda untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Mempertanyakan dan menolak permintaan tsb adalah indikasi otak limbik mereka untuk minta lebih banyak info. Aksi ini adalah indikasi aktifitas prefrontal. Pastikan bahwa ini bukan karakter animator yang memang suka perubahan.
Bila limbic brains resistan dalam menghadapi situasi rumit, maka akan kembali ke reptilian brain untuk melakukan respon. Disinilah prefrontal berperan untuk mengolahnya setelah reptilian brain mengirimkan signal. Bisa dikatakan bahwa stress adalah signal dalam otak untuk berpindah peran dari reptilian ke prefrontal. Sehingga tidak ada lagi stress dan akan dirasakan kedamaian dan ketenangan, dalam kendali penuh atas mental kita. Emosi akan terbuka pada dunia dan mulai ingin tahu terhadap hal-hal baru, kreatif dan intuitif. Artinya, kita telah menggunakan otak kita secara optimal.
Menggunakan prefrontal brain bukan berarti menyetujui semua pendapat, namun setidaknya telah mendengar opini lainnya sebelum tentukan keputusan. Artinya, tidak perlu memaksakan diri untuk memenangkan opini. Namun juga tidak perlu harus mengalah bila memang harus mengatakan ‘tidak’. Intinya adalah harus terbuka dan bersikap dewasa.
Ketika lahir, prefrontal brain belum matang dan terus berkembang hingga tingkat kematangan mencapai usia 24 thn, dimana diharapkan sudah mampu mengkontrol emosi. Maka janganlah kaget bila remaja sering bersikap berlebihan (over-reacting) karena prefrontal brain yang mengkontrol emosi memang belum matang. Jadi sangatlah tidak tepat bila menuntut anak-anak atau remaja untuk bersikap seperti orang dewasa. Mereka bukanlah miniatur orang dewasa. Otaknya belum berkembang sepenuhnya. Biarkanlah mereka berperilaku seperti apa adanya anak-anak. Adalah tidak adil bagi mereka dan kita, bila mengharapkan mereka menjadi orabg dewasa, karena kemampuan berperilaku dewasa bukanlah dalam kontrol orang dewasa atau mereka sendiri.
 …
Bgmn mengarahkan orang untuk menggunakan prefrontal brain? Disinilah maksud kursus ini, yaitu berharap seseorang mampu meninggalkan reptilian brain dan limbic brain untuk pindah ke prefrontal brain. Cobalah selalu membuat pertanyaan terbuka terhadapnya, supaya mereka mampu berpikir tentang diri mereka sendiri, dan juga mampu melihat perbedaan situasi sehingga bisa berubah dari yang kondisi rutin ke pemikiran kritis.
. . .
NBA757 Conclusion to the prefrontal brain
 
Final conclusions
Dengan reptilian brain bisa mengetahui bagaimana mengkontrol diri bila menghadapi stress. Dengan paleo-limbic, bisa mengetahui posisi fundamental kita dalam group, dengan menggunakan sumbu Trust vs Self-Confidence. Dengan neo-limbic, kita mengetahui tentang Intrinsik dan Ekstrinsik Motivasi, begitu juga dengan Obsesi. Kita juga belajar bagaimana menghubungkan dengan motivasi jangka panjang berkelanjutan dan menyingkirkan perilaku dangkal. Kita bahkan sudah belajar memasuki lubang terdalam untuk mencari trauma dan berdamai dengannya. Prefrontal brain, membawa kita ke kesuksesan adaptasi dan perubahan. Bila suatu hal tidak berjalan sesuai ekspektasi, bisa belajar melihatnya dengan parameter situasi lain berdasar struktur otak yang aktif. Ini memberikan kita semua bekal untuk berhadapan dengan yang lain dan mampu mengambil keputusan sendiri. Ini adalah inti dari semua, the new cognitive and behavioral approach, yang memberi pengetahuan dan penjelasan mengapa kita berperilaku begini, sehingga setiap pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasar pilihan sadar dan hidup kita bukan lagi dikontrol oleh ketidak-sadaran, atau hanya warisan pendidikan atau lingkungan sosial semata. Atau dengan kata lain, kita sendiri adalah satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dan punya kekuatan terhadap hidup kita sendiri. Jadi, gunakanlah pengetahuan ini secara bijaksana untuk menghubungkan kembali dengan primary motivations, dalam berhadapan dengan mekanisme kompensasi anda. Hilangkan intolerance, berhentilah hidup berdasar keinginan pihak lain, dan mulailah hidup yang nyaman.
Temukanlah siapa anda sebenarnya, dibawah lapisan-lapisan ekspektasi sosial, kemudian fahamilah dan terimalah dengan rasa hormat dan jalani hidup anda, serta mulailah bersosialisasi. Tetap berperilaku sesuai siapa anda sebenarnya dan temukanlah orang-orang yang mencintai dan menghormati anda seperti apa adanya.
This is what you are meant to be. Become the best version of your self. 
IMG_20200515_182454_223
 
 
 

Read Full Post »

imagesAda yang menarik dari buku berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari setebal 443 halaman, terbitan Harper Perennial, yang mulai beredar dalam bahasa Hebrew 2011, dan bahasa Inggris 2014 ini, hingga memilihnya untuk dibaca. Selain karena seringnya tampil di bagian depan toko-toko buku, beberapa kali terlihat dibaca penumpang saat menunggu boarding di bandara, juga karena judulnya yang seolah akan bercerita tentang rahasia sejarah kehidupan manusia.. Selain itu, judulnya sangat mengingatkan akan buku favorit “A brief history of time” karya Stephen Hawking. Apalagi kalimat pembuka dalam bab pertama sungguh layaknya appetizer lezat sebelum main-course siap santap, “About 14 billion years ago, matter, energy, time and space came into being in what is known as the Big Bang” .. wowwww sejak Big Bang …

Buku ini sebetulnya mencoba menjelaskan tentang bagaimana mahluk yang pada masa awalnya hanya species tak berdaya, kemudian bisa menjadi penguasa dunia saat ini. Harari menyajikan pemikirannya dalam empat bagian berdasar urutan waktu, yaitu The Cognitive Revolution yang dimulai 70.000 tahun yll. di bagian pertama, dilanjutkan dengan bagian The Agricultural Revolution dimulai dari 12.000 tahun yll, lalu The unification of humankind dan diakhiri dengan The Scientific Revolution dari 500 tahun yll. Sebelum masuk pada bagian pertama, Harari menyajikan tabel sejarah besar kehidupan, mulai dari Big Bang hingga ke Masa Depan. Berikut ini adalah catatan singkat masing-masing bagian.

Bagian 1. The Cognitive Revolution
Pada bagian ini, disajikan sejarah perkembangan kemampuan kognitif mahluk hidup, termasuk Homo Sapiens, juga tentang punahnya berbagai binatang besar. Species manusia pertama ditemukan di Afrika Barat, Australopithecus, yang berarti ‘Southern Ape’ kira-kira 2.5 juta tahun yll. Kemudian ditemukan di Asia Barat dan Eropa Barat, ‘Nenderthals’ dengan fisik yang lebih gempal dan berotot serta adaptif dalam iklim dingin Ice Age, berlanjut dengan ditemukannya Homo erectus di Asia Barat yang berdiri tegak dan mampu survive paling lama diantara species lainnya, hingga 2 juta tahun. Dalam khasanah arkheologi, Indonesia selalu muncul dalam pembahasan Homo sapiens, demikian juga dalam buku ini. Homo soloensis yang mampu hidup di daerah tropik, ditemukan di Solo. Kemudian Homo floresiensis ditemukan di Flores dengan ciri ukuran tubuh yang pendek, 3.5 feet dengan berat tak lebih dari 55 lbs. Homo floresiensis masuk ke pulau Flores ketika muka laut sedang rendah, kemudian terjebak di dalamnya. Berkurangnya makanan karena muka laut yang naik, menyebabkan manusia yang lebih besar punah lebih dulu sehingga tersisa mereka yang berbadan pendek. Namun demikian, mereka sudah mempunyai keahlian membuat peralatan berburu dari batu. Sementara itu di Siberia ditemukan Homo denisofa dan evolusi di Afrika Timur juga tetap berlangsung hingga ditemukannya Homo rudolfensis, Homo ergaster dan kemudian species kita sendiri Homo sapiens ‘Wise Man‘. Bermacam species tersebut bukanlah tumbuh berkembang dalam proses linear berurutan, namun merupakan species yang memang berbeda-beda, artinya, sejak 2 juta hingga 10.000 tahun yll, bumi menjadi tempat yang sama untuk hidupnya species-species tersebut.

Genus Homo dalam rantai makanan berada dalam tingkat Menengah, dikalahkan oleh predator-predator besar. Pada 400.000 tahun yll sebagian species manusia mulai mampu berburu binatang besar, dan sejak 100.000 tahun yll, dengan munculnya Homo sapiens, species manusia mampu menduduki posisi teratas dalam rantai makanan. Evolusi cepat dari Homo sapiens ini menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu, seperti munculnya perubahan perilaku binatang, wabah penyakit dan perang.

Lompatan besar beberapa species manusia dalam rantai makanan ini salah-satunya disebabkan oleh kemampuan menguasai api yang terjadi sejak 800.000 thaun yll. Homo erectus Neanderthal dan nenek-moyang Homo sapiens mulai 300.000 tahun yll. menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk membuka lahan dan penghangat tubuh. Evolusi fisik Homo sapiens pun mulai berubah dengan berfungsinya api, seperti tulang rahang dan gigi yang lebih kecil daripada species sebelumnya. Banyak ahli meyakini bahwa Homo sapiens yang berkembang di Afrika Timur 150.000 tahun yll namun gagal menyebar ke seluruh dunia, kemudian menyebar lagi 70.000 tahun yll dan sukses beranak-pinak di seluruh dunia, sangat menyerupai manusia sekarang ini. Bahkan ukuran otak pun sama dengan ukuran otak manusia saat ini. Kira-kira 45.000 tahun yll, mereka mulai menyeberang ke Australia, daratan yang saat itu belum disentuh species manusia. Kemudian ditemukan peninggalan periode 70.000 – 30.000 tahun yll berupa perahu, lampu minyak, busur dan anak panah, dan jarum untuk menjahit pakaian hangat. Penyebab lompatan keahlian yang disebut sebagai The Tree of Knowledge mutation dizaman Cognitive Revolution Homo sapiens ini belum jelas benar. Namun para ahli sepakat bahwa Homo sapiens is primarily a social animal. Social cooperation is our key for survival and reproduction.

Ada 3 hal yang menjadi catatan penting Hariri terkait Cognitive Revolution, yaitu terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan Homo sapiens:

  1. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang lingkungan Homo sapiens
  2. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang hubungan-hubungan sosial Homo sapiens
  3. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang suatu hal yang TIDAK NYATA, misalnya ttg tribal spirits, kebangsaan, atau Hak Azasi Manusia, dll.

Dari sisi hubungan kemasyarakatan, – sensasi, emosi, hubungan keluarga -, sulit mencari perbedaan antara manusia modern dengan chimpanzee atau Neanderthal. Perbedaan akan terlihat jelas pada saat ratusan atau ribuan masing-masing kelompok ini berada dalam kerumunan besar. Kekacauan akan terjadi pada kelompok Chimpanzee, justru sebaliknya kita sangat biasa melakukan banyak hal dengan berkumpul. “Flexible cooperation in large numbers” adalah kata kunci ttg kelebihan Homo sapiens dibanding mahluk lainnya, menurut Hariri.

Dalam penyebaran dan perkembangan Homo sapiens dari Afrika Timur ke seluruh dunia, dikenal dua teori, yaitu Interbreeding Theory dan Replacement Theory. Interbreeding Theory beranggapan bahwa terjadi merging antara Homo sapiens dengan Neandethal, Erectus dan lain-lainnya. Teori ini banyak ditentang dengan alasan perbedaan species tidak akan terjadi perkawinan karena dianggap mahluk yang berbeda sehingga tidak ada saling ketertarikan dan tidak akan terjadi pembuahan karena genetis yang berbeda. Dengan alasan tersebut maka yang terjadi adalah penaklukan dari species satu terhadap species lainnya, yang dalam hal ini Homo sapiens dapat mengungguli dan menggantikan keberadaan species-species yang sudah ada sebelumnya, dan teori ini disebut Replacement Theory.

Screenshot_20200425-142306

Peta Penyebaran Homo sapiens


Kasus muncul ketika 2010 ditemukan 4% DNA Neaderthal dalam populasi modern di Timur Tengah dan Eropa. Demikian pula ditemukan 6% DNA Denisovan dalam populasi modern Melanesia dan Aborigin. Kesimpulan sementara dengan adanya DNA dalam jumlah kecil dari species lain adalah adanya perkawinan silang antara Homo sapiens dengan species lain pada suatu kesempatan.


Kepunahan Binatang Purba
Di benua Australia, Harari menyoroti bahwa punahnya bermacam binatang besar disana, disebabkan oleh 3 hal, yaitu:

  1. Kebutuhan waktu yang lama untuk berkembang-biak, membuatnya mudah panah karena perburuan oleh Homo Sapiens
  2. Kemampuan baru homo sapiens dalam menggunakan api intuk membuka ladang mengakibatkan pola hidup dan konsumsi binatang menjadi terganggu
  3. Perubahan Iklim pada 45.000 tahun yll mmenyebabkan destabilisasi ekosistem

Homo sapiens adalah species manusia pertama dan satu-satunya yang menginjakkan kakinya di Amerika 16.000 tahun yll. Terjadi ketika muka air laut masih rendah sehingga dari Timur-Laut Siberia mereka bisa menyeberang ke Barat-Laut Alaska melalui darat. Mereka telah melengkapi dirinya dengan pakaian dan peralatan berburu untuk area beriklim ekstrim dingin. Dalam perjalanan ke selatan dari Siberia, mereka menemukan banyak binatang purba berukuran besar spt mammoth, mastodon, dll. Namun setelah 2.000 tahun sejak kedatangan Homo sapiens, binatang-binatang besar ini musnah. Tulang-tulang yang ditemukan para arkeolog menunjukkan bahwa binatang-binatang tersebut hidup pada masa Homo sapiens memasuki Amerika kira2 12.000-9.000 tahun yll.

Pada masa Cognitive Revolution, planet kita ini dihuni oleh kira-kira 200 jenis binatang mamalia berbobot lebih dari 100 lbs. dan hanya tinggal separuhnya pada masa Agriculture Revolution. Hariri beranggapan bahwa Homo sapiens menjadi penyebab utama kepunahan tersebut sebelum menemukan roda dan peralatan besi.

Pula Madagascar, 250 mile sebelah timur Afrika, juga kehilangan banyak binatang purba, termasuk burung besar dan lemur (pukang) raksasa. Punah semenjak manusia menginjakkan kakinya disana, demikian pendapat Hariri. Sementara di Lautan Pacific, gelombang kepunahan dimulai sejak tahun 1.500 BC ketika para petani Polynesia mulai memasuki Kepulauan Solomon, Fiji dan New Caledonia. Mereka menghabisi banyak species burung, insekta, siput, bahkan masyarakat lokal. Pemusnahan terus berlanjut kearah Samoa, Tonga, kepulauan Cook, Hawaii hingga New Zealand dari 1200 BC hingga AD 1200.

Hariri menyimpulkan bahwa Homo sapiens dimasa Agriculture Revolution adalah species yang paling bertanggungjawab terhadap punahnya banyak sekali binatang dan tumbuhan. Apakah ini anggapan personal Hariri atau memang demikian adanya menurut para ahli archeology? Perlu masukan lainnya.


Bagian 2. The Agriculture Revolution
Pada abad pertama AD, sebagian besar kehidupan manusia di dunia adalah berkebun. Revolusi Agrikultur terjadi di Timur Tengah, China, dan Amerika Tengah, tapi tidak di Australia, Alaska atau Afrika Selatan; karena di sana sebagian besar species tumbuhan dan binatang tidak bisa ditumbuh-kembangkan. Gandum yang 10.000 tahun yll tidak muncul di gurun Amerika Utara, sekarang bisa dilhat sepanjang ratusan miles disana. Bahkan saat ini sudah menutupi muka bumi seluas 870.000 mile persegi. “This ape had been living a fairly comfortable life hunting and gathering until about 10,000 years ago, but then began to invest more and more effort in cultivating wheat.”, tulis Hariri sedikit kasar. Gandum telah memaksa Homo sapiens untuk tinggal di rumah, menjaga kebunnya. Studi antropologi dan arkeologi menyebutkan bahwa kekejaman dalam masyarakat agrikultur sederhana menyebabkan tewasnya manusia hampir 15%, atau 35% laki-laki.

Keinginan Homo sapiens untuk hidup yang lebih nyaman dan instan di masa Revolusi Agrikaltur, bahkan hingga saat ini, banyak menyebabkan perlakuan kejam terhadap binatang-binatang ternak, langsung ataupun tidak langsung. Sapi dan biri-biri yang diambil susunya, kulit dan dagingnya, juga ayam yang diambil daging dan telornya; semuanya dalam sistem peternakan yang kejam. Ada perbedaan besar antara keberhasilan evolusi dan penderitaan individu dalam Revolusi Agrikultur.

“One of history’s few iron laws is that luxuries tend to become necessities and to spawn new obligations”.


Victims of the Revolution
Sapiens semakin pintar hingga mampu berburu secara selektif sehingga bisa mendapatkan hanya binatang-binatang ternak yang sehat dan potensial dikembangkan secara ekonomis sesuai kebutuhan manusia. Sepuluh ribu tahun yll, mungkin hanya jutaan biri-biri, sapi, kambing dan ayam yang hidup di Afro-Asia. Sekarang, bumi ini sudah dihuni 1 milyaran biri-biri, 1 milyaran babi, bahkan lebih dari 1 milyar sapi dan lebih dari 25 milyar ayam.

Bagaimana para petani dan peternak dimasa Revolusi Agrikultur, terus berkembang dalam jumlah luas area yang dikuasai dan jumlah hewan ternak yang dengan cepatnya terus bertambah, secara panjang-lebar diceritakan Harari dalam Bagian ke-2 ini. Namun, perang terus terjadi, bukan karena kelaparan atau kekurangan bahan pangan tapi justru karena ego mempertahankan properti dan kekhawatiran tentang masa depan. “It was not food shortages that caused most of history’s wars and revolutions”.

Pada bagian ke-2 ini, Harari bercerita tentang Hammurabi, raja Babilonia, kota terbesar dijamannya, yang terkenal sukses menguasai wilayah Mesopotamia, termasuk Irak, Siria dan Iran di tahun 1776 BC. Saat itu Hammurabi menggolongkan manusia menjadi dua gender yaitu laki-laki dan perempuan, serta tiga kelas, yaitu: manusia kelas atas, manusia biasa dan budak. Konsep Hammurabi (Hammurabi Code) ini didasarkan pada premis bahwa bila seorang raja dan semua golongan tersebut bisa menyadari posisinya dan berperilaku sesuai hirarkinya maka semua pihak akan bisa bekerjasama secara efektif.

Dari kisah ini, Harari merasa mendapatkan pembenaran bahwa kepercayaan atas Cerita Tidak Obyektif atau Imajinasi lah yang menyebabkan terjadinya kerjasama efektif, karena sejatinya tidak ada yang Obyektif dari Konsep Hammurabi tentang penggolongan manusia tersebut. Namun, kemampuan Sapiens yang terbatas selama jutaan tahun dalam hal penyimpanan informasi, konsep dan banyak hal Tidak Obyektif (imajinasi) sebagai bekal Homo sapiens untuk menguasai dunia tersebut, tentu menyulitkan dalam penyebarannya. Mengingat kekuasaan Sapiens berada pada imjinasi dalam otaknya, maka perlu dibuatkan berbagai aturan untuk menjaga kelangsungan kekuasaannya. Namun keberlangsungan aturan tersebut tetap sulit terjaga karena tak adanya fasilitas penyimpan informasi yang dapat disebar-luaskan secara spatial maupun kegenerasi berikutnya, hingga kaum Sumeria pada 3500 BC menemukan sistem penyimpanan dan pemrosesan data, yaitu ‘tulisan’. Maka semakin berkuasalah Homo sapiens.

Kekuatan aturan-aturan imajiner yang tentu tidak berbasis obyek nyata ini semakin berperan dalam penguasaan dunia, bahkan tehadap sesama manusia. Berbagai kebijakan politik rasis, perbudakan, bias gender, dll. tentu hanya berdasar konsepsi pembenaran belaka tanpa didasari obyek nyata yang bisa dijadikan fakta. Tentang niat berkuasa yang tinggi dari manusia ini, Hariri juga menulis tentang konsepsi ‘kemurnian’ yang sering dijadikan alasan untuk menguasai kelompok manusia lainnya.

Panjang-lebar Hariri berasumsi bahwa ‘Kasta’ dalam agama Hindu, (dengan mengatas-namakan ‘para ahli’, tanpa bukti pendukung), hanyalah konsepsi dari usaha bangsa Indo-arya, pendatang pada masa 3.000 tahun yll yang menguasai India saat itu, untuk melanggengkan kekuasaannya dan menjadikan bangsa asli setempat sebagai bangsa jajahan atau berada pada Kasta yang lebih rendah. Banyak hal dimasa itu aturan dibuat untuk membatasi hak-hak sipil pada masing-masing kasta, sehingga menjadi masyarakat berkelas. Perkawinan antar kasta tidak dibenarkan karena dianggap mengotori ‘kemurnian’ dari Kasta yang lebih tinggi. Pada era India modern sekarang ini, Demokrasi mencoba memberi pandangan berbeda terhadap keyakinan tentang ‘pengotoran atas kemurnian’ Kasta, khususnya di dunia kerja dan masalah perkawinan.

Isu ‘kemurnian’ ras sebagai upaya memenangkan hirarki kekuasaan ini juga terjadi di Amerika ketika pendatang Eropa melakukan perbudakan yang didatangkan dari Afrika. Lagi, perbedaan warna kulit tentu bukanlah basis obyektif atau hanya konsepsi imajiner belaka untuk menganggap bahwa kulit putih mempunyai tingkat kecerdasan dan moralitas yang lebih baik. Mithos, yang sampai saat ini masih sering menjadi isu dalam kultur dan beberapa kebijakan politik AS.


Bias Gender
Bagaimana usaha Homo sapiens untuk menguasai dunia ini terus dikritisi Hariri hingga masalah Bias Gender. Seperti halnya Kasta di India dan Kebijakan Rasis di AS, maka bias gender di banyak keputusan politik ataupun domestik masih banyak terjadi dimanapun. Lagi, ini merupakan produk imajinasi yang memang tidak ada akar biologisnya sehingga pembagian peran dalam banyak hal akan lebih merugikan perempuan.

Rasionalisasi imajinasi yang juga disebut oleh Hariri sebagai mithos, ini sering menjadi pembenaran Sapiens demi alasan penaklukan terhadap yang lain. Atas nama Budaya, banyak perilaku dianggap salah karena unnatural, meskipun dari perspektif biologi tidak ada yang salah, misalnya dalam kasus bias gender, rasis, LGBT, dll.

 

Screenshot_20200425-135849

Gambar King Lousi XIV

Maskulinitas diabad 18 diwakili oleh King Louis XIV dari Perancis berpedang panjang, mengenakan sepatu hak tinggi, rambut palsu panjang dan kaos-kaki panjang serta berpose bagaikan penari. Pada masanya, budaya seperti ini bukanlah suatu yang aneh, melainkan natural. Namun, diera digital sekarang ini pasti dianggap unnatural.


Bagian 3.The Unification of Humankind
Pada bagian ini, Hariri menyoroti perkembangan budaya global sebagai produk imperialisme. Menurutnya, Budaya yang kita anut seolah mempunyai nilai abadi sehingga seringkali menjadi rujukan penilaian baik-buruk perilaku seseorang, namun ternyata tidak demikian adanya. Budaya berubah seiring waktu. Contoh model pakaian Raja Louis XIV diatas menunjukkan perubahan budaya tersebut. Perubahan budaya sejak dulu dipengaruhi oleh lingkungan, sebagai respon terhadap budaya lain; berbeda dengan hukum-hukum atau proses fisika yang tidak berobah terhadap waktu. Globalisasi budaya sudah terjadi sejak dimulainya penaklukan suatu wilayah. Dari bermacam budaya, terjadi homogenisasi, lalu terpecah-pecah mengikuti tradisi lokal namun tetap dalam kerangka bahasa global. Saat ini semua wilayah di dunia sudah dalam satu kepentingan dan bahasa yang sama, yaitu nuklir, US$, perdagangan, bahasa dll. Ini semua adalah warisan imperialisme. Namun demikian, tak ada bukti menunjukkan bahwa imperialisme universal memang betul-betul untuk kesejahteraan bangsanya.


Bagian 4. The Scientific Revolution
Dalam 500 tahun terakhir ini, pertumbuhan penduduk bumi sangat tinggi. Di tahun 1500, diperkirakan hanya ada 500 juta Homo sapiens di muka bumi. Hari ini sudah mencapai 7 milyar manusia. Tahun-tahun penting selama 500 tahun terakhir ditandai dengan beberapa kejadian penting, yang dimulai pada abad 16, tepatnya 1522, pertama kali terjadi pelaut berusaha mengelilingi bumi, ekspedisi Magellan menempuh jarak 44.000 mile. Kembali ke Spanyol hanya sedikit pelaku, tidak termasuk Magellan. Tahun 1674 untuk pertama kalinya dipergunakan mikroskop micro-organisme buatan Anton van Leeuwenhoek. Lalu 20 Juli 1969 pertama kali manusia mendarat di bulan. Dan yang paling signigikan pengaruhnya dalam kehidupan Homo sapiens adalah pada 16 Juli 1945 ketika pertama kali bom atom diledakkan di Alamogordo, New Mexico. Sejak itu, Homo sapiens mampu mengubah sejarah, termasuk memusnahkan kehidupan. Proses bersejarah sejak 500 tahun yll ini ditengarai sebagan Revolusi Sains (Scientific Revolution).

Tidak menyerah pada seleksi alam yang dibatasi oleh kemampuan sifat biologis mahluk hidup, abad 21 ini mulai terlihat intervensi Sapiens melalui berbagai upaya inteligensia desain, yaitu rekayasa genetika, rekayasa cyborg dan rekayasa unorganik. Tak lama lagi, berbagai upaya rekayasa biologi akan mulai menunjukkan banyak hasil, tidak hanya dalam hal sistem imun, fisiologi, atau perpanjangan usia, namun juga peningkatan kapasitas intelektual dan emosional.

Di dunia peternakan sudah banyak dilakukan rekayasa genetika untuk mendapatkan produk susu sapi, daging sapi, daging ayam, telor unggulan, dll. Bahkan saat ini, ahli biologi Jepang, Korea dan Rusia secara bersama-sama sedang melakukan rekayasa genetika untuk dapat melahirkan bayi mammooth dari induk gajah.

Rekayasa Cyborg, yang memadukan kemajuan teknologi dengan organ tubuh manusia, misalnya tangan/kaki robotik, alat bantu pendengaran, dsb. adalah contoh rekayasa biologi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh manusia.

Upaya Sapiens lainnya dalam melawan seleksi alam adalah menciptakan kehidupan melalui rekayasa anorganik. Kecanggihan Artificial Intelligent sebagai bagian dari pemrograman komputer adalah modal dasar rekayasa anorganik, dimana algorithma di dalamnya mampu untuk melatih dirinya sendiri dalam mencari solusi permasalahan tanpa kontrol dari penggunanya. Tahun 2050 bahkan diduga sudah ada beberapa manusia immortal. Luar biasa kemampuan Homo sapiens. Mampu membuat ‘kehidupan’ dari proses baru evolusi yang bebas hukum-hukum evolusi organik.

Arah teknologi masa depan justru berpotensi mengubah Homo sapiens sendiri, termasuk nafsu dan emosinya, bukan lagi alat transportasi atau persenjataan. Dan, immortalitas jelas akan menggali persoalan baru tentang ethika, sosial dan politik bagi kemanusiaan. Cuplikan kalimat dari lembaran akhir buku ini sungguh menarik untuk direnungkan:

“What do we want to want?’ … massive increases in human power did not necessarily improve the well-being of individual Sapiens, and usually caused immense misery to other animals. … We are more powerful than ever before, but have very little idea what to do with all that power”.


Kesimpulan dan Rekomendasi
Dalam buku ini Harari menceritakan dan memberikan opininya terkait perubahan-perubahan kejadian penting sejak penyebaran Homo sapiens pertama kali dari Afrika Barat. Menarik, ketika proses sejarah species manusia disajikan, dan mulai membosankan ketika menyajikan rekaman peristiwa kekinian di era kita berada. Namun opini Hariri terhadap fenomena yang disajikannya memang menarik untuk dikritisi.

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan panjang Hariri adalah pendapatnya bahwa tiga kekuatan penting dalam sejarah penaklukan dunia adalah Imajinasi (tidak nyata), kemampuan bekerjasama dan kemampuan menyampaikan pesan.

Buku yang perlu dibaca untuk memperkaya pengetahuan dan memancing pemikiran.


Tautan:
1. Why humans run the world

2. Bentang Rentang Pemikiran Yuval Noah Harari by Budiman Sujatmiko

3. Yuval Noah Harari on the myths we need to survive

4. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

5. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

6. Sapiens by Yuval Noah Harari

7. Mark Zuckerberg & Yuval Noah Harari in Conversation

Read Full Post »

Fear

imagesSaat ini media cetak dan elektronik AS seperti CNN, NBC News, FOXNews dll. sedang gencar memberitakan mundurnya para jaksa kasus Roger Stone karena intervensi Depatemen Kehakiman AS yang meminta Hakim Pengadilan Federal untuk mengurangi tuntutan hukuman Stone dalam kasus penghinaan pengadilan dan kebohongan kesaksian kasus interferensi Russia saat Pilpres AS 2016. Sebelumnya, Presiden Trump sempat posting di twitternya: “This is a horrible and very unfair situation,” dilanjutkan dengan: “The real crimes were on the other side, as nothing happens to them. Cannot allow this miscarriage of justice!” Trump juga menjawab pertanyaan wartawan di Oval Office, seperti dilansir oleh thehill.com: “I’d be able to do it if I wanted. I have the absolute right to do it. I stay out of things to a degree that people wouldn’t believe,”. Setelah membaca buku ini, pembaca bisa memahami karakter Trump yang “disrespecting the rule of law”, menurut istilah CNN. Begitulah dia adanya…

Buku tentang Presiden Trump sering kali terlihat dalam rak-rak buku di toko buku besar. Berbeda dengan buku-buku presiden AS lainnya, yang bila dibaca pada sampul belakangnya, bercerita tentang kebaikan dan kelebihan tokoh utamanya, sedangkan buku-buku tentang Presiden Trump, khususnya yang berbahasa Inggris, lebih variatif isinya, mulai dari yang memuja hingga yang mencerca, semua tersedia di toko buku besar seperti Periplus, Kinokuniya, dll.

Baru saja selesai membaca buku terbitan Simon & Schuster, “Fear, Trump in the White House“, yang mulai diterbitkan September 2018, dalam versi Kindlenya (sudah ada versi bahasa Indonesia, terbitan Noura Books). Buku ini ditulis oleh penulis handal Bob Woodward, jurnalis kondang pengusung kasus Nixon, ‘Watergate’. Buku berwarna dasar merah tua, yg mungkin dimaksudkan desainernya untuk menggambarkan karakter Trump yg arogan, temperamental, kasar dan semaunya, dengan disertai gambar mimik wajahanya yang sinis ini memang terasa bisa mewakili isi cerita di dalamnya.

20200216_180145

Penulisan kisah nyata ini menurut Bob Woodward didasarkan pada metode wawancara jurnalistik secara “deep background“, yaitu bahwa semua informasi dapat dipergunakan tanpa menyebutkan sumberita. Bahan penulisan diperoleh dari ratusan jam wawancara dengan saksi, tangan pertama atau bahkan pelaku kejadian itu sendiri, risalah rapat, catatan harian personal, dokumen resmi atau informasi dari kolega para pelaku. Namun sayangnya justru Donald Trump membatalkan wawancara untuk keperluan penerbitan buku ini. Lokasi peristiwa yang utamanya ditampilkan dalam kurun waktu 2017 ini, meskipun ada juga cerita di tahun 2010 ketika pertama kali Trump menyatakan minatnya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden AS kepada David Bossie, aktifis politik yang kemudian menjadi Campaign Manager Deputy untuk Trump di tahun 2016, sebagian besar berada di White House, Trump Tower, lapangan golf, pesawat terbang atau dalam mobil Presiden Trump.

Penyajian cerita tidak disusun berurutan waktu atau thema, namun selalu disebutkan tempat dan waktu kejadian di setiap awal Chapter, sehingga cukup menolong untuk bisa membayangkan urutan peristiwanya. Banyak diskusi dan dialog menarik dari para pengambil keputusan masalah-masalah strategis keamanan dan ekonomi AS, oleh para tokoh Ring 1 White House bersama Presiden, disampaikan dalam buku ini. Menarik juga adalah proses-proses penggantian para Pejabat penting negara oleh Presiden Trump yang sepertinya tidak tertib prosedural dan usaha para Pejabat Negara untuk mengamankan kepentingan Nasional dari tindakan Trump yang seringkali bisa dianggap membahayakan negara karena keputusan-keputusannya yang tidak cukup holistik pertimbangannya.

Membaca dari awal hingga akhir buku ini, rasanya seperti membaca novel yang penuh drama bertensi tinggi, apalagi kalau sudah melibatkan Trump di dalam komunikasinya, suasana serasa tegang dengan bumbu pedas ucapan kasar sarkastik. Dialog-dialaog para tokohnya disajikan dalam format kalimat langsung (dialog) seperti apa adanya, sehingga menarik, tidak membosankan serta cukup bisa menggambarkan situasi dan karakter masing-masing.

Setelah Prolog dari Bob Woodward tentang penjelasan metoda penggalian fakta dan sistematisasi penyajiannya, buku ini dibuka dengan cerita awal mula pertemuan Bannon dengan Donald Trump, untuk menjajagi kelayakan Trump untuk mengajukan diri sebagai Presiden AS. Bahkan di Chapter 1 pun pembaca sudah bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang sikap pragmatis Trump. Disebutkan disana bahwa ada 3 kelemahan Donald Trump saat memastikan dirinya akan ikut pencalonan Presiden AS dari partai Republik. Pertama, sebagai pengusaha, Trump dengan ringannya mengakui telah menyumbang Demokrat 80% dari total sumbangan yang dikeluarkan, untuk memperlancar usahanya. Kedua, Trump juga pernah mendukung kandidat capres Partai Republik (Primary Election) yang “pro-Choice” (menghalalkan aborsi), sedangkan the Tea Party jelas bersikap “pro-life”. Ketiga, Trump tidak cukup rajin untuk selalu mengikuti pemilihan pencalonan kandidat Presiden. Steve Bannon meragukan kelayakan Trump sebagai kandidat Presiden AS. Berikut dialog keraguan Bannon dengan David Bossie, aktifis politik: “Not a chance. Zero chance,” Bannon repeated. “Less than zero. “Look at the fucking life he’s got, dude. Come on. He’s not going to do this. Get his face ripped off.”

Masukan Bannon saat bertemu Trump di tahun 2016, setelah dinyatakan sebagai Capres AS dari Partai Republik pada 21 Juli 2016 adalah: “Hillary Clinton adalah simbol korupsi dan status quo yang tidak kompeten, sedangkan kamu adalah yang akan menjadikan America “great again“. Untuk itu, ada 3 hal yang perlu menjadi thema strategis kampanye:

  1. To stop mass illegal immigration and start to limit legal immigration to get our sovereignty back.
  2. To bring manufacturing jobs back to the country.
  3. To get out of these pointless foreign wars.

Sesuai permintaan Steve Bannon, Paul Manafort ditunjuk sebagai Campaign Chairman, tanpa punya otoritas dan Kellyanne Conway sebagai Campaign Manager, yang tugasnya lebih sebagai ‘pemanis’ karena mempunyai likability tinggi di mata media. Dan otak Pemenangan ada di Steve Bannon, yang terus berlanjut hingga Trump telah sukses menduduki White House.

Peran Manajer dalam membuatkan dan menjalabkan program pemenangan serta tim yang tangguh dan persistent, sangat penting sekali. Donald Trump yang begitu disepelekan potensi kemenangannya sejak 2010 dan bahkan disarankan Priebus untuk mengundurkan diri dari pencalonan atau bakalan dilindas oleh Hillary Clinton dalam masa pilpres, ternyata menang pada akhirnya, setelah Steve Bannon dipilih Trump untuk ambil-alih tim pemenangannya.

Selanjutnya, selain isu keterlibatan Russia dalam kampanye Pilpres yang berakibat dipecatnya James Comey, Direktur FBI, dan beberapa pejabat istana yang masih juga belum selesai hingga kini, buku ini lebih banyak bercerita tentang bagaimana aksi Trump dalam upayanya untuk mejalankan ambisinya terkait berbagai kebijakan luar-negeri AS, dan respon-responnya terhadap berbagai pihak yang tidak sependapat dengannya. Beberapa kebijakan luar-negeri yang dibahas dalam buku ini dan mengalami perdebatan sengit dalam istana sehingga perlu penundaan adalah:

* Mundur dari kesepakatan AFTA
* Mundur dari NATO
* Mengenakan tarif impor baja dari China, Korea, Jepang
* Menarik pasukan dari Afganistan, Irak dan Korea Selatan
* Menutup imigran masuk AS
* Tidak-lanjut kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim

Dengan membaca buku ini, pembaca akan bisa lebih memahami mengapa beberapa media AS menganggap terjadinya kematian demokrasi dan rendahnya aspek pengelolaan ketata-negaraan dalam masa pemerintahan Trump ini. Bagaimana Trump memperlakukan para pembantunya (advisor, menteri, dll.), bagaimana Trump menggunakan Twitter sebagai bagian media resmi istana, belum lagi pengangkatan staf istana yang tidak jelas hak dan kewajibannya, seperti Ivanka (anak perempuan Trump) dan Jared Kushner (menantu, suami Ivanka) yang dianggap miskin pengalaman namun selalu terlibat dalam rapat-rapat istana, juga posisi Steve Bannon yang begitu powerful (yang akhirnya dipecat Trump), sehingga menjadi ‘ganjalan’ bagi staf senior lainnya, semuanya menjadi bagian drama pemerintahan Trump yang menarik untuk diketahui pembaca sekalian.

Read Full Post »

PSX_20190404_235134Judul Buku: Personality: What makes You the Way You Are
Penulis: Daniel Nettle
Format: EBook
Penerbit: Oxford University Press Inc., New York
Tahun: 2007
Berikut ini adalah catatan singkat dari buku psikologi modern tentang Personality. Menurut Nettle, sifat atau karakter (personality) kita ini diturunkan secara genetis dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita dibesarkan, yang sebagian besar berasal dari masa kecil. Faktor lingkungan masa kecil ini sangat menentukan dalam pembentukan sifat-sifat kita. Lepas dari pengalaman sehari-hari yang mewarnai hidup kita, pengaruh lingkungan masa kecil akan tetap melekat dan terbawa dalam sifat-sifat kita, dan sangat berdampak dalam menghadapi setiap aspek kehidupan.
Contoh: bisa dibayangkan bila sedang berjalan dalam kegelapan malam yang lengang, sebagian orang akan ketakutan, namun sebagian lainnya tetap merasa nyaman. Mengapa?
Mereka yang tumbuh berkembang dalam lingkungan masa kecil yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran, maka akan selalu merasa tak nyaman dalam situasi tersebut. Sebaliknya bagi mereka yang tumbuh dalam karakter bebas merdeka dimasa kecilnya, akan merasa biasa saja dalam situasi eksternal tersebut, bahkan merasa sebagai petualangan yang menantang.
Kita menjalani hidup ini melalui keputusan-keputusan yang kita buat sendiri, yang tentunya berdasar pada karakter yang kita miliki. Artinya, jalur kehidupan kita ini umumnya sangat dekat dengan karakter kita.
The Big Five
Ada lima karakter besar yang bisa dianggap sebagai karakter utama manusia, yaitu:
Extraversion
Ini sifat emosi positif. Bila seseorang mempunyai sifat dominan ini, maka bila berhasil mencapai sesuatu, otak akan segera bereaksi memberikan kegembiraan (good mood)
Neuroticism
Sifat seseorang yang sering merasa khawatir dan juga sering buang waktu
Conscientiousness
Kemamluan menrencanakan capaian (goal) dan menjalaninya untuk dapat meraihnya.
Agreeableness
Ini sifat yang membedakan mausia dengan hewan. Sifat untuk tidak mengutamakan diri sendiri, rela berkorban untuk sesama.
Openess
Mempunyai sifat dominan openess, akan kreatif, omajinatif, eksentrik, senang mencari hal baru.
Tiap karakter punya kelebihan dan kekurangan, tidak ada karakter yang sempurna. Karakter Neuroticism yang selalu merasa khawatir misalnya, mempunyai kelebihan untuk selalu mencoba memperbaiki banyak hal sehingga hasilnya bisa dirasakan sebagai manfaat untuk sesama. Tanpa adanya karakter Neuroticism dalam masyarakst, dunia mungkin tak akan ada perubahan yang lebih baik.
Memahami karakter sendiri dapat membantu mengembangkan dan menemukan kecocokan diri. Ini juga berarti dapat memberi perspektif baru dalam banyak hal. Sering kita melihat dunia dari satu sisi saja sehingga dapat membatasi pemahaman kita.
Ketika Anda memahami sifat-sifat kepribadian Anda dengan lebih baik, Anda akan lebih baik dalam menemukan diri Anda sendiri.
Cobalah gunakan karakter pribadi anda untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik, menjadi lebih bahagia dan dapat bekerja untuk mencapai tujuan yang sangat berarti.
Jika Anda sudah sangat mengenali pribadi Anda sendiri, termasuk berbagai kekuatan dan kelemahannya, maka Anda akan menjadi pribadi yang semakin bahagia.
Tidak perlu kita mengubah kepribadian, dan memang tidak mungkin bisa mengubahnya. Yang bisa kita lakukan adalah mempelajari kepribadian kita sendiri dan bagaimana mensiasatinya secara efektif bila menghadapi persoalan terkait dengan karakter kepribadian kita hingga mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri.
Akhirnya
Pesan dari buku ini adalah bahwa Kepribadian merupakan hasil perpaduan dari sifat alami (genetis) dan pengaruh lingkungan, yang akan sangat menentukan dalam menjalani kehidupan selanjutnya, dan masing-masing karakter kepribadian tersebut mempunyai kekuatan dan kelemahan.
Masukan Nettle
Kenalilah diri Anda. Karakter Kepribadian diluar kemampuan kontrol Anda, sebaliknya tindakan, sepenuhnya dibawah kontrol Anda. Bila Anda memperhatikan secara teliti kepribadian Anda, maka Anda akan menemukan banyak kebutuhan untuk dapat menyelesaikan banyak persoalan, sehingga bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bahagia.
Tentang Penulis
Daniel Nettle adalah penulis sukses banyak buku. Berlatar belakang pendidikan psikologi, filosofi dan anthropologi di Univ. Oxford dan Univ. College, London, yang bidang kajiannya lebih banyak dalam masalah evolusi, perkembangan kognisi dan perilaku manusia.

Read Full Post »

Screenshot_20181018-133935Mengamati perilaku seseorang memang bukanlah kesenangan, tapi lebih pada sikap instant saat berkomunikasi, baik satu arah maupun dua arah. Bahkan hanya sepintas terlihat mereka berkomunikasi, sudah membuatku ‘terganggu’, apalagi bila dilakukan secara anomali dibanding kondisi lingkungannya, bukan oleh isi pembicaraan, tapi lebih pada gestur qdan cara berkomunikasinya.
Kesempatan berbicara di depan umum, pidato, sering menjadi tujuan dari banyak pemimpin, namun bisa jadi merupakan hal menakutkan bagi pihak lainnya, khususnya yang berkarakter introvert. (Lihat video 3 di bawah). Di dalam kesempatan keramaian pesta, selalu terlihat ada yang dominan tampil bercerita, ada yang berkerumun menanggapinya, ada yang diam atau bahkan ada yang memilih menjauhinya. Mengapa? Betulkah cara seseorang berkomunikasi, mampu menunjukkan karakter seseorang tersebut? Ah .. belum tentu, karena menurut Susan Cain dalam bukunya “Quiet”, ada juga “pretending” disana. Pengamatan Susan menyebutkan bahwa 1/3-1/2 warga AS berkarakter Introvert.
“What Susan Cain understands—and readers of this fascinating volume will soon appreciate—is something that psychology and our fast-moving and fasttalking society have been all too slow to realize: Not only is there really nothing wrong with being quiet, reflective, shy, and introverted, but there are distinct advantages to being this way.”
(JAY BELSKY, Robert M. and Natalie Reid Dorn Professor, Human and Community Development, University of California, Davis)
“Quiet, The power of introverts in a world that can’t stop talking”, ditulis oleh seorang introvert, Susan Cain, membahas banyak hal tentang mereka yang berkarakter introvert, – yang menurut banyak pihak disalah-artikan sebagai ‘kekurangan’ -, seperti tanda-tandanya, kelebihan dan kekurangannya, bagaimana menyikapinya bila introvert harus bekerja di lingkungan ekstrovert, dsb. Tentu saja juga dibahas tentang karakter ekstrovert sebagai pembandingnya. Banyak sekali contoh introvert yang sukses di dunia kerja ekstrovert, termasuk Susan Cain, penulis buku ini. Alasan bagus Susan Cain untuk menulis buku ini, seperti dikatakannya di akhir buku pada sesi tanya-jawab “Meet the Author”:
Q: Why did you write the book?
A: Because there’s a bias against introverts. Our schools, workplaces, and religious institutions are designed for extroverts, and many introverts believe that there is something wrong with them and that they should try to “pass” as extroverts. This bias leads to a colossal waste of talent, energy, and, ultimately, happiness.
Pada bab Pendahuluan, Susan mulai berkisah tentang Rosa Parks, tokoh kulit hitam yang memantik api unjuk rasa anti rasialisme di Alabama, AS 1955, yang berujung aksi boikot penggunaan bus kota hingga 381 hari. Dia adalah perempuan biasa, pendiam, bukan pemimpin, yang mampu bersikap demikian memukau di era rasis yang sangat kuat. Meledak karena tindakan rasis warga kulit putih (pengemudi bus dan polisi) yg berusaha menyingkirkannya dari kursi penumpang di bagian depan bus. Julukan indah menghamburinya, seperti “timid and shy but had the courage of a lion, “radical humility”, “quiet fortitude”, “shy and courageous” dan dalam autobiografinya, dia mendapat julukan “shy and courageous”. Paradox? Dua kata yang sering dianggap berlawanan. Bagaimana bisa?
Dunia berada dalam permainan kaum Ekstrovert, setidaknya begitulah banyak pihak menganggapnya. Susan menyebutnya Extrovert Ideal, sosok yang diyakini berkarakter pemimpin, percaya-diri, mudah bersosialisasi, dan nyaman jadi perhatian. Lebih suka bertindak daripada diam berpikir, pengambil resiko daripada tekun mempelajari, kepastian daripada berhati-hati, cepat ambil keputusan walaupun beresiko salah. Sementara introversi, dengan karakternya yang sensitif, serius, khawatir, sering dilihat masyarakat dari sisi negatifnya sehingga serasa merupakan karakter warga kelas dua, bahkan sudah dianggap penyakit sosial. Introvert yang hidup dalam dunia Extrovert Ideal, Susan menganalogikannya bagaikan perempuan yang hidup dalam dunia pria. Dalam bukunya, kita akan menemui figur Eleanor Roosevelt, Al Gore, Warren Buffet, Gandhi, juga Rosa Parks dapat mencapai tujuan, justru karena introversinya.
Dalam bab Pendahuluan ini juga, Susan bercerita tentang Laura, introvert, sarjana hukum yunior yang terpaksa mengambil-alih pekerjaan negosiasi dengan klien berhubung atasannya sedang absen. Biasa duduk manis, bersuara halus dan jauh dari perhatian para pihak, tiba-tiba harus menjadi pusat perhatian dengan duduk di ujung meja pertemuan, memimpin rapat. Situasi yang sangat tidak nyaman bagi seorang introvert. Namun, kekhawatiran yang menjadi karakternya, justru membuat dirinya untuk well prepeared, bicara selalu didasari pemikiran, bisa bersikap tegas , bahkan keras dengan tetap bergestur tenang dan berintonasi halus. Dia juga cenderung banyak bertanya dan mendengarkan semua jawaban dengan sabar, teliti dan kritis. Ini justru menjadi modal utama seorang negosiator. Dengan gayanya yang tenang, tanpa nada tinggi dan gebrak meja, Laura pun menyadari bahwa justru dengan karakter introvertnya, dia berhasil mencapai kesuksesan.
Pencarian Susan sebagai introvert, menemukan bahwa tahun 1921, psikolog Carls Yung, dalam bukunya “Psychological Types” mendefinisikan Introvert sebagai pribadi yang lebih berorientasi ke dalam diri, batin dan pemikiran. Sedangkan Ekstrovert lebih berorientasi eksternal, dan aktifitas di luar dirinya. Bila Introvert fokus pada arti/makna aktifitas yang dikerjakannya, maka ekstrovert lebih sibuk pada aktifitas/keterlibatan langsung pada pekerjaannya. Introvert perlu menyendiri untuk pemulihan, ekstrovert justru perlu bersosialisasi. Namun demikian, Yung juga menyatakan bahwa tidak ada tipe 100% introvert/ekstrovert, yang ada adalah kecenderungan karakter dari salah satunya.
Banyak psikolog membedakan cara mereka dalam menghadapi pekerjaan. Ekstrovert lebih suka mengambil putusan dengan cepat, risk taker dan multi-tasking, sementara Introvert lebih teliti, hati-hati dan fokus di satu pekerjaan. Ekstrovert menyukai reward keberhasilan, sedangkan introvert lebih berhati-hati terhadap iming-iming material.
Ekstrovert adalah mereka yang merasa hidup di acara pesta, ceria dan mudah tertawa dengan kelucuan. Cenderung dominan, dan sangat membutuhkan teman. Ringan mengungkapkan pendapat sendiri, lebih senang bicara daripada mendengar, bahkan jarang sekali kehilangan kata-kata. Nyaman dengan konflik, namun sulit dengan kesendirian. Sebaliknya introvert, bisa saja kuat bersosialisasi dan menikmati pesta, namun lebih berharap berada di rumah bersama teman dekat atau keluarga. Lebih banyak mendengar, daripada bicara. Kalaupun bicara, perlu banyak berpikir lebih dulu. Bahkan, sering merasa bahwa menulis tentang dirinya lebih mudah daripada dengan bicara. Cenderung menjauhi konflik.
Susan menggambarkan dua tipe personalitas tersebut dalam bentuk chart, dengan posisi introvert -> ekstrovert pada sumbu horizontal dan stabil -> nervous di sumbu vertikal, sehingga terdapat 4 kuadran tipe personalitas: calm extroverts, anxious (or impulsive) extroverts, calm introverts, dan anxious introverts. Barbara Streisand, masuk dalam kategori shy extrovert (demam panggung parah), sedangkan Bill Gates adalah non-shy introvert, atau tidak peduli dengan persepsi sosial terhadap dirinya.
Introvert, dimaksudkan sebagai terlalu banyak pertimbangan/pemikiran karena desakan lingkungan (over stimulation), berbeda dengan shyness, yang merupakan kekhawatiran tidak diterima oleh lingkungan atau adanya cercaan/hinaan. Dalam suatu rapat, peserta penting yang tetap diam (seharusnya bicara) bisa diartikan dua hal: takut bicara (shy extrovert), atau terlalu banyak pertimbangan (introvert).
Untuk bantu memudahkan dalam mengetahui tipe personalitas kita, Susan membuat daftar pertanyaan, yang bila semakin banyak jawaban True, akan semakin cenderung bertipe Introvert:
  1. I prefer one-on-one conversations to group activities.
  2. I often prefer to express myself in writing.
  3. I enjoy solitude.
  4. I seem to care less than my peers about wealth, fame, and status.
  5. I dislike small talk, but I enjoy talking in depth about topics that matter to me.
  6. People tell me that I’m a good listener.
  7. I’m not a big risk-taker.
  8. I enjoy work that allows me to “dive in” with few interruptions.
  9. I like to celebrate birthdays on a small scale, with only one or two close friends or family members.
  10. People describe me as “soft-spoken” or “mellow.”
  11. I prefer not to show or discuss my work with others until it’s finished.
  12. I dislike conflict.
  13. I do my best work on my own.
  14. I tend to think before I speak.
  15. I feel drained after being out and about, even if I’ve enjoyed myself.
  16. I often let calls go through to voice mail.
  17. If I had to choose, I’d prefer a weekend with absolutely nothing to do to one with too many things scheduled.
  18. I don’t enjoy multitasking.
  19. I can concentrate easily.
  20. In classroom situations, I prefer lectures to seminars
Beberapan jawaban Susan tentang karakter Introvert pada bagian Q and A di akhir bukunya:
I was good at building loyal alliances, one-on-one, behind the scenes; I could close my door, concentrate, and get the work done well; and like many introverts, I tended to ask a lot of questions and listen intently to the answers, which is an invaluable tool in negotiation.
The cultural historian Warren Susman called a “Culture of Character,” which valued inner strength, integrity, and the good deeds you performed when no one was looking. You could cut an impressive figure by being quiet, reserved, and dignified.
Two seemingly contradictory qualities that benefit introverts: introverts like to be alone—and introverts enjoy being cooperative. Studies suggest that many of the most creative people are introverts, and this is partly because of their capacity for quiet. Introverts are careful, reflective thinkers who can tolerate the solitude that idea-generation requires. On the other hand, implementing good ideas requires cooperation, and introverts are more likely to prefer cooperative environments, while extroverts favor competitive ones.
Di dalam bab Pendahuluan ini sudah banyak sekali mencakup isi buku, babkan sudah mampu menjelaskan maksud penulisnya. Walaupun kasus-kasus di dalam baba-bab selanjutnya akan semakin memperjelas pemahaman kedua tipe personalitas tersebut, introvert-ekstrovert. Kurang-lebih tersedia 50 Catatan Kaki disertai keterangannya terdapat dalam setiap bab, lengkap dan rinci.
 Berikut ini adalah Daftar Isi buku:
INTRODUCTION: The North and South of Temperament
PART ONE: THE EXTROVERT IDEAL
1. THE RISE OF THE “MIGHTY LIKEABLE FELLOW”: How Extroversion Became the Cultural Ideal
2. THE MYTH OF CHARISMATIC LEADERSHIP: The Culture of Personality, a Hundred Years Later
3. WHEN COLLABORATION KILLS CREATIVITY: The Rise of the New Groupthink and the Power of Working Alone
PART TWO: YOUR BIOLOGY, YOUR SELF?
4. IS TEMPERAMENT DESTINY?: Nature, Nurture, and the Orchid Hypothesis
5. BEYOND TEMPERAMENT: The Role of Free Will (and the Secret of Public Speaking for Introverts)
6. “FRANKLIN WAS A POLITICIAN, BUT ELEANOR SPOKE OUT OF CONSCIENCE”: Why Cool Is Overrated
7. WHY DID WALL STREET CRASH AND WARREN BUFFETT PROSPER?: How Introverts and Extroverts Think (and Process Dopamine) Differently
PART THREE: DO ALL CULTURES HAVE AN EXTROVERT IDEAL?
8. SOFT POWER: Asian-Americans and the Extrovert Ideal PART FOUR: HOW TO LOVE, HOW TO WORK
9. WHEN SHOULD YOU ACT MORE EXTROVERTED THAN YOU REALLY ARE?
10. THE COMMUNICATION GAP: How to Talk to Members of the Opposite Type
11. ON COBBLERS AND GENERALS: How to Cultivate Quiet Kids in a World That Can’t Hear Them
CONCLUSION: Wonderland
  • A Note on the Dedication
  • A Note on the Words Introvert and Extrovert2
Di akhir bukunya, aktifitas dan capaian Susan Cain tertulis mengesankan:
SUSAN CAIN is the author of the instant New York Times bestseller Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking, which has been translated into more than thirty languages. Her writing has appeared in the New York Times; Dallas Morning News; O, The Oprah Magazine; Time.com; and PsychologyToday.com. Cain has also spoken at Microsoft, Google, the U.S. Treasury, and at TED 2012. Since her TED talk was posted online, it has been viewed over three million times. She has appeared on national broadcast television and radio, including CBS’s This Morning, NPR’s All Things Considered, and NPR’s Diane Rehm, and her work has been featured on the cover of Time and in The New Yorker, The Atlantic, Wired, Fast Company, Real Simple, Fortune, Forbes, USA Today, the Washington Post, CNN.com, Slate.com, and many other publications. She is an honors graduate of Princeton and Harvard Law School. She lives in the Hudson River Valley with her husband and two sons.
Buku Quiet versi hardcopy bisa diperoleh di toko buku Periplus, atau Kindle untuk versi ebooknya (saya baca Kindle). Sangat menarik dan menyenangkan membacanya dari awal hingga akhir. Dan menurutku, buku ini termasuk literatur yang bisa membuat pembacanya mampu menjadi lebih bijak. Semoga.
Video:
4. Video lainnya, silahkan search “quiet” di youtube

Read Full Post »

BrainDalam artikelnya di Forbes 28 Desember 2015 yang berjudul “Trump explained by Neuroscience”, Roger Dooley berpendapat bahwa “what people say they believe doesn’t always reflect their non-conscious beliefs“. Implicit association test (IAT) telah membuktikannya melalui survey yang dilakukan Washington Post/ABC News tentang isu hangat yang dilontarkan oleh Trump, yaitu ‘larangan imigrasi Muslim’. Hasil survey menunjukkan 60% sampel berpendapat bahwa melarang imigrasi Muslim adalah tidak bijaksana, demikian juga dengan 82% pendukung Demokrat. Bahkan 54% berpendapat bahwa Islam adalah agama damai. Namun, IAT menunjukkan hal sebaliknya, bahwa 53% masyarakat AS, sebagai sampel pengujian, secara bawah-sadar lebih menyukai pelarangan imigrasi Muslim.
Artikel di harian Inggris, Independent 5 Juni 2016, yang berjudul “Donald Trump: Is this why the controversial Republican candidate keeps winning?”, Max Ehrenfreund menulis tentang rhetorika Trump yang membangkitkan rasa ketakutan bawah sadar masyarakat AS akan kematian, karena ancaman terorisme dan serbuan imigrasi, berhasil menaikkan dukungan sebesar 1,66 poin (skala 5).
Sehubungan dengan artikel-artikel sejenis diatas dan isu-isu Neurosciences atau Neuromarketing yang sedang hangat di AS, khususnya sejak Trump menggunakan Social Neurosciences untuk membantu pemenangan pilpres disana, buku The Brain That Changes Itself  karya Norman Doidge M.D., yang diterbitkan oleh Penguin 2007, menjadi pilihan acuan untuk memuaskan keingintahuan.
Dalam Kata Pengantar, Doidge menuturkan bahwa buku ini menjelaskan tentang penemuan revolusioner atas kemampuan Otak untuk mengubah dirinya sendiri, sehingga tidak tetap (fixed) seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Saat itu mainstream neurosains berpendapat bahwa kerusakan atau cacat otak sejak bayi, tak akan tersembuhkan selama hidupnya. Keyakinan tersebut didasarkan atas 3 hal, yaitu bahwa: jarang terjadi kesembuhan 100% dari kerusakan otak, ketidak-mampuan meneliti aktifitas mikroskopis kehidupan otak, dan kepercayaan bahwa otak ibarat mesin yang tak pernah tumbuh atau mampu memperbaiki dirinya sendiri. Seringkali otak juga dianggap sama dengan komputer, yang kapasitas hardwarenya tidak berkembang dengan sendirinya, sehingga muncul istilah hardwire dengan konstruksi koneksitas dan fungsi otak yang tak berubah.
Akhir 1960an, Doidge sebagai psikiatris dan psikoanalis mulai berhubungan dengan para ahli neurosains yang sedang hangat mendiskusikan tentang neuroplasticity.
association_cortexBuku yang sebetulnya membahas tentang hal yang sangat rumit, namun Doidge mampu menyajikannya dengan sangat nyaman, bahkan untuk pembaca yang sangat awam tentang Otak. Lembar-demi lembar membacanya, semakin menarik untuk tahu lebih banyak tentangnya. Berbagai kasus yang berhubungan dengan fungsi otak, Doidge menyajikannya dalam 11 bab dan 2 Lampiran, lengkap dengan Catatan dan References di bagian akhir bukunya.
Bab 1. A Woman Perpetually Falling…
Rescued by the Man Who Discovered the Plasticity of Our Senses
Kasus seorang perempuan yang tak mampu berdiri tenang karena terganggu otak keseimbangannya sehingga merasakan dunia yang seolah berputar, dan bagaimana mengatasinya, menjadi contoh pertama kasus neuroplastisitas yang disajikan Doidge.
Cheryl Schiltz, perempuan yang mengalami gangguan vestibular apparatus, sensor keseimbangn tubuh. Rasa akan jatuh selalu dirasakannya, bahkan ketika tubuh sudah terbaring di lantai. Posisi tubuhnya selalu dalam keadaan berjaga-jaga dengan kaki merenggang dan tangan terentang mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Menderita. Gangguan psikologis yang sering menyebabkan penderita ingin bunuh diri. Keseimbangan tubuh adalah kemampuan yang sangat penting dalam hidup kita, namun tak sepenuhnya kita sadari, bahkan tidak masuk dalam kelompok pancaindera, hingga kemampuan itu terganggu.
Menurut Cheryl, dirinya pernah mengkonsumsi obat antiabiotik Gentamicin melebihi dosis yang dibutuhkan. Efek samping samping Obat ini, dapat menyebabkan masalah ginjal dan kerusakan saraf serius, berakhir dengan tuli permanen dan masalah keseimbangan.
Paul Bach-y-Rita banyak disebut dalam bab ini karena keahliannya tentang neuroplastisitas, yang mampu mensiasati gangguan vestibular aparatus Cheryl Schiltz hingga mampu berdiri tegak kembali dengan mantab, tanpa merasa khawatir akan jatuh. Konsep neuroplastisitas yang dipergunakan Paul Bach-y-Rita adalah bahwa fungsi neuron yang rusak/terganggu, dapat diambil atau digantikan oleh neuron lainnya. “one function, NOT one location”.
Bab 2. Building Herself a Better Brain
A Woman Labeled “Retarded” Discovers How to Heal Herself
Barbara Arrowsmith Young, lahir di Toronto, Canada 1951, mempunyai kemampuan memori audio dan visualnya sangat bagus, frontal lobe berkembang bagus. Namun otaknya “asimetris”, yang berarti bahwa kemampuan yang luarbiasa tersebut berdampingan dengan area keterbelakangan. Barbara mengalami kesulitan logika sebab-akibat, merangkai kata, lamban berpikir real-time, kontrol spasial dan sulit berbicara (Broca area).
Broca areaHasil penelitian Mark Rosenzweig dari Universitas Californi, Berkeley terhadap perbedaan antara tikus yang dilatih dan yang tidak terlatih, menunjukkan bahwa tikus terlatih akan mempunyai neurotransmitters lebih banyak, lebih berat dan mempunyai pasokan darah ke otak lebih baik. Mark dianggap sebagai ilmuwan pertama yang menunjukkan kenyataan neuroplastisitas dengan bukti bahwa, dengan beraktifitas, dapat menghasilkan perubahan struktur otak.
Mengetahui hasil penelitian Rosenzweig tersebut, Barbara giat berlatih sendiri untuk memperbaiki otaknya. Dan memang Barbara berhasil memperbaiki logika, dan dapat berkomunikas real-time tanpa kesulitan. Sukses.
3. Redesigning the Brain
A Scientist Changes Brains to Sharpen Perception and Memory, Increase Speed of Thought, and Heal Learning Problems
Pada bab ini Penulis menjelaskan tentang adanya ilmuwan neurosains yang berhasil melakukan therapi syaraf untuk mempertajam ingatan dan persepsi, juga meningkatkan kecepatan berpikir dan mengatasi masalah kesulitan belajar.
Michael Merzenich, 61 tahun, peneliti neuroplatisitas ternama, mempunyai keahlian meningkatkan kesadaran dan kemampuan berpikir seseorang dengan cara melatih otak dibagian tertentu, atau brain maps. Melalui penelitiannya, dia meyakini bahwa otak manusia mampu mengubah sendiri stuktur dan fungsinya (neueoplastisitas). Berbasis konsep neuroplatisitas inilah Merzenich berhasil membantu anak-anak berkesulitan belajar, hingga mampu meningkatkan aspek kognitif dan perseptifnya. Menurutnya, dengan melatih keahlian baru secara disiplin dan sangat terkontrol, akan dapat mengubah ratusan juta, bahkan milyaran koneksi antar sel-sel syaraf dalam jaringan otak (brain maps). Beberapa kasus, seseorang yang menderita kesulitan kognitif selama hidupnya, mampu menjadi lebih baik setelah mendapat therapi selama 30 hingga 60 jam saja. Program therapi tersebut juga mampu membantu anak-anak autis. Namun demikian, perubahan itu akan semakin sulit bila pelatihan dilakukan dimasa tua, karena sudah melewati critical period.
Critical period adalah konsep tentang rentang waktu kemampuan otak untuk tetap mampu mengubah struktur dan fungsi dirinya, yaitu pada masa anak-anak, semakin tua maka semakin rendah plastisitas otak. Kemampuan berbahasa mempunyai critical period yang dimulai saat masih kanak-kanak dan akan berhenti antara usia 8 tahun hingga saat pubertas. Setelah lewat masa critical period, kemampuan seseorang untuk belajar bahasa kedua, yang tidak diolah di bagian otak yang sama seperti halnya bahasa ibu, semakin terbatas. Namun demikian, justru menjadi lebih baik bagi usia dewasa untuk mulai belajar bahasa kedua untuk meningkatkan kemampuan ingatan, karena dituntut lebih fokus sehingga melatih plastisitas otak yang sudah mulai menurun.
4. Acquiring Tastes and Loves
What Neuroplasticity Teaches Us
Pada bab ini Doidge banyak mengacu pada pendapat Sigmund Freud tentang perkembangan psikologi anak yang berhubungan dengan aspek seksual.
Menurut Freud, “The sexual instincts are noticeable to us for their plasticity, their capacity for altering their aims”. Ini merupakan salah satu kontribusi penting Freud dalam pemahaman ilmu syaraf otak, yaitu tentang adanya masa critical periods untuk plastisitas seksual.
Menurut Freud, pelecehan seksual terhadap anak-anak akan sangat membekas atau traumatik, mengingat berada pada masa critical period, yang akan mempengaruhi sikap, pandangan bahkan orientasi seksual anak di kemudian hari. Sebuah badan penelitian di AS mengkonfirmasi pendapat Freud bahwa bila relasi sosial masa kecil seseorang mengalami masalah, akan “mengendap” dalam otak anak-anak tersebut dan berdampak pada masa dewasanya. Banyak Embryologist berpendapat bahwa perkembangan sistem syaraf otak dimulai sejak masa embrio, sehingga bila terjadi gangguan pada masa tersebut, akan sangat berdampak pada sisa kehidupannya. Dapat disimpulkan bahwa pendapat Freud tentang perkembangan seksual pada masa pertumbuhan awal manusia, sesuai dengan konsep critical periods, dimana pada rentang waktu tertentu di masa kecil, perkembangan sistem dan peta otak baru banyak dipengaruhi stimulasi oleh orang-orang disekitarnya.
5. Midnight Resurrections
Stroke Victims Learn to Move and Speak Again
Bab ini bercerita tentang penelitian Edward Taub terhadap penderita stroke yang bisa disembuhkan, karena prinsip neuroplastisitas, “use it or lose it”. Therapi yang disiplin, sabar dan menerus ternyata mampu menyembuhkan. Edward Taub, mahasiswa Kedokteran di Universitas New York, berhasil memperoleh Ph.D nya melalui penelitian terhadap penyembuhan kera yang lumpuh salah satu lengannya melalui therapi neurosains. Proses penyembuhan dari penelitian Taub ini membuktikan bahwa neuroplastisitas mampu digunakan untuk therapi penyembuhan penderita stroke.
Stroke adalah serangan keras mendadak terhadap otak, dari dalam, akibat penyumbatan pembuluh darah arteri sehingga memutus pasokan oksigen ke otak. Stroke menjadi penyebab utama disability kaum dewasa saat ini. Dokter ahli di Ruang Tanggap Darurat mungkin saja masih mampu untuk mencegah akibat stroke lebih lanjut pada pasien stroke, dengan cara membuka penyumbatan pembuluh darah atau menghentikan pendarahan otak, namun bila kerusakan telah mulai terjadi, bahkan pengobatan pun akan sedikit membantu untuk dapat menyembuhkan seketika. Pada beberapa penderita stroke, mereka mampu sembuh dengan berlatih sendiri, namun begitu mereka berhenti, maka bahkan therapi tradisional pun akan susah membantunya.
Bab 6 Brain Lock Unlocked
Using Plasticity to Stop Worries, Obsessions, Compulsions, and Bad Habits.
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. OCD ini termasuk gangguan psikis yang paling sering dialami seseorang selain phobias, post-traumatic stress disorders, dan panic attacks. Kekhawatiran akut sering dirasakan penderita OCD, seperti khawatir akan sakit, anak akan celaka, pintu belum terkunci, membunuh anak tanpa sengaja, merasa tidak nyaman karena lukisan yang tergantung miring, dsb.  Semakin penderita OCD memikirkan kekhawatirannya, maka semakin terbenam dia terhadap ketakutannya, dan sulit melepaskannya.
Gangguan OCD sulit disembuhkan. Medikasi dan therapi perilaku (behaviour therapy) hanya mampu mengurangi penderitaan, tidak menyembuhkan. Jeffrey M. Schwartz telah mengembangkan penanganan yang efektif berbasis neuroplastisitas, yang mampu membantu tidak hanya untuk penderita OCD, namun juga untuk kita semua yang selalu merasa khawatir terhadap banyak hal yang tak nyata setiap harinya.
Pada bab ini Jeffrey M. Schwartz, dalam bahasa awam, sangat bagus menjelaskan tentang penyebab,  proses dan adanya tiga bagian otak yang hiperaktif (orbital frontal cortex, cingulate gyrus, caudate nucleus), sehingga menyebabkan terjadinya gangguan OCD, serta bagaimana mengatasinya.
Pada umumnya, ada tiga hal yang terjadi bila kita membuat kesalahan, yaitu perasaan bersalah, bingung dan bermaksud memperbaikinya, kemudian berhasil memperbaiki, perasaan lega, selesai dan lanjut dengan aktifitas berikutnya (move on). Pada penderita OCD, perasaan bersalah dan kebingungan terus berlanjut tanpa bisa move on, walaupun telah sukses memperbaiki kesalahan. Gejala ini yang disebut Schwartz sebagai OCD Brain Lock, karena ada bagian otak yang hiperaktif dan tetap on (locked). Contoh, kekhawatiran menerus karena perasaan bersalah belum mematikan kompor di rumah, walaupun kemudian sudah mematikannya. Penyebab OCD Brain Lock bisa banyak hal, salah satunya genetis. Namun bisa juga disebabkan karena infeksi pada caudate nucleus. Pelatihan atau therapi dapat menyembuhkannya.
Schwartz mendidik para pasiennya untuk dapat membedakan antara Bentuk umum OCD, yaitu Khawatir, yang terus mendesak masuk dalam pikiran sadarnya, dan Isi dari obsesinya (khawatir racun, penyakit, matikan kompor, dsb.). Semakin penderita fokus pada Isi, maka kondisi OCD akan semakin buruk. Perlu ada pendamping untuk selalu mengingatkan supaya fokus pada aktifitas positif yang menyenangkan dan tidak larut dalam Isi (content) OCD. Tidak mudah, namun terbukti memang bisa disembuhkan. Use it or lose it.
Bab 7 Pain
Rasa sakit, senang, nyeri bahkan orgasme semua ada di otak. Ini dibuktikan dengan banyaknya laporan medis yang mengatakan adanya keluhan rasa sakit di bagian badan yang sebetulnya sudah diamputasi karena suatu hal, “Phantom Limbs”. Ramachandran, Neurologist, menggunakan konsep ‘plastisitas otak’ untuk mengatur ulang pemikiran kita. Dia menunjukkan bahwa kita mampu mengatur ulang ‘isi’ otak kita melalui pelatihan yang benar, tanpa rasa sakit dengan menggunakan imajinasi dan persepsi.
Pada umumnya, setelah signal rasa sakit dikirim ke otak dari lokasi cedera/penyakit pada tubuh, maka kemudian terasalah sakit itu di tempat cedera. Namun, bisa terjadi, cedera merusak jaringan tubuh dan juga syaraf di sistem perasa otak yang menyebabkan “neuropathic pain”. Ketika peta perasa sakit di otak, rusak/terganggu atau terinvasi hingga signal rasa sakit terus “berbunyi”, menyebabkan kita merasa cedera itu masih terus ada, sedangkan sebetulnya masalah terjadi di otak. Inilah yang terjadi dengan “phantom limbs”, luka di ujung jari seolah masih terjadi walaupun lengan tangan sudah teramputasi. Phantom limbs akut hingga menjadi “phantom pain”, dirasakan oleh 95% dari total pasien amputasi, dan ini mengkonfirmasi adanya korelasi pengubahan jumlah plastisitas otak dengan pengalaman penderita “phantom pain”.
Ramachandran berpendapat bahwa terjadinya gangguan/invasi peta rasa sakit disebabkan adanya perkembangan koneksi jaringan baru. Bila terjadi hilangnya anggota badan, ia meyakini bahwa peta otak kekurangan pasokan stimulasi, yang selanjutnya melepaskan penyebab pertumbuhan syaraf, sehingga berdampak pada hadirnya neuron dari peta-peta terdekatnya, dan memancarkan signal ke dalamnya. Selain itu, peta rasa tidak hanya mengkerut, namun juga terjadi kekacauan fungsi atau bahkan bisa tidak berfungsi.
Bab 8 Imagination
Di Laboratorium stimulasi magnetik otak, Boston, pernah dilskuksn percobaan untuk membuktikan bahwa antomi otak bisa diubah, dengan melakuksn pelatihan imaginasi. Sepersngkat alat kecil diletakkan di sebelah kiri kepala Doidge. Alat tersebut memancarkan transcranial magnetic stimulation (TMS) dan akan mempengaruhi  perilaku. Di dalam alat tersebut terdapat kumparan kabel tembaga yang akan menghasilkan medan magnet, ketika arus listrik dialirkan, dan gelombang elektromagnet mengalir menembus jaringan otak melalui axon (sejenis kabel syaraf) hingga mencapai jaringan respon motor tangan di lapisan terluar cerebral cortex. Setiap kali medan magnet dipancarkan oleh alat tersebut, maka empat jari ntangan kanan akan bergerak, karena stimulasi dilakukan terhadap 0.5 cm kubik pada bagian otak yang berisi jutaan sel, jaringan respon motor tangan. Untuk kebutuhan permanen, elektrode kecil bisa ditempatkan dalam jaringan otak melalui pembedahan tengkorak untuk menstimulasi motor atau sensor cortex.
Catatan:
An axon or nerve fiber, is a long, slender projection of a nerve cell, or neuron, that typically conducts electrical impulses known as action potentials, away from the nerve cell body. The function of the axon is to transmit information to different neurons, muscles, and glands.
Pascual-Leone adalah yang pertama menggunakan TMS untuk memetakan bagian-bagian respon otak, bisa untuk menghidupkan area otak, atau bahkan menutupnya, bergantung besarnya intensitas atau frekuensi yang dipergunakan. Untuk memastikan fungsi spesifik sebagian area otak, TMS dipergunakan untuk mematikan sementara area otak tersebut dan pengamatan dilakukan untuk mengetahui fungsi mental yang tidak bekerja. Dia juga melakukan pengamatan terhadap difabel buta yang mempelajari huruf Braille. Hasil TMS dalam pemetaan otak menunjukkan bahwa peta area jari-jari yang dipergunakan untuk membaca huruf Braille, lebih luas daripada peta area jari-jari lainnya, bahkan peta area motor juga meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kecepatan membaca jumlah kata per satuan waktu. Peningkatan ini mengkonfirmasi bahwa pelatihan hal baru, akan meningkatkan plastisitas otak (neuroplasticity).
Pascual-Leone juga melakukan percobaan untuk mengamati pelatihan imajinasi hingga mampu mengubah struktur dan fungsi otak. Dua group pelatihan bermain organ terdiri dari satu group “mental practice”, hanya melakukan stimulasi gerak tanpa keyboard, dan group “physical practice” yang menggunakan keyboard sebenarnya. Masing-masing mendapatkan waktu pelatihan yang sama, 5 hari dan pemetaan otak dilakukan sebelum dan setelah pelatihan setiap harinya. Hasil setelah 5 hari menunjukkan keduanya mengalami perubahan yang sama pada peta otak dan signal motor ke otot-otot. Tingkat akurasi dua group tersebut juga sama, pada hari ketiga. Namun, perubahan setelah hari ke-5 menunjukkan bahwa kemajuan mental practice tidak sebagus physical practice. Ketika mental practice mendapatkan 2 jam tambahan waktu berlatih, menunjukkan hasil yang sama dengan physical practice saat berlatih 5 hari. Ini bisa disimpulkan bahwa mental practice merupakan cara efektif untuk nerlatih keahlian fisik.
Anatoly Sharansky, aktifis HAM Uni Soviet, dipenjara selama 9 tahun dengan tuduhan sebagai mata-mata AS. Untuk menjaga kemampuan berpikir, dia berlatih catur dalam bayangan (tanpa papan catur), “mental chess”. Setelah bebas, Sharansky menjadi menteri di kabinet Israel dan ketika Garry Kasparov bermain catur melawan Perdana Menteri dan menteri-enteri kabinetnya, hanya Sharansky yang tak terkalahkan.
Rüdiger Gamm, Pemuda Jerman yang dikenal sebagai manusia kalkulator karena kemampuan menghitung cepat. Sejak usia 24 tahun dia berlatih komputasi empat jam per hari hingga mampu menghitung cepat perkalian yang rumit. Dan menjadi kaya karenanya dengan seringnya tampil di televisi. Anders Ericsson, psikolog yang ahli dalam bidang pengembangan keahlian, berpendapat bahwa manusia sejenis Gamm, menggunakan memori jangka-panjang untuk menyelesaikan masalah matematik, sementara manusia pada umumnya menggunakan memori jangka pendek. Seorang genius tidak menyimpan jawaban dalam otaknya, namun menyimpan “kunci” atau strategi untuk membantu menjawabnya.
9. Turning Our Ghosts into Ancestors
Psychoanalysis as a Neuroplastic Therapy
psychoanalysisBab ini menarik untuk dipelajari karena contoh kasus yang berhubungan dengan peristiwa menyedihkan di masa kecil, yang tersimpan dalam ingatan “bawah sadar”, hingga berdampak pada perilaku masa tuanya. Tidak banyak psikiatris pada masa awal 1990an, yang berpendapat adanya plastisitas otak, bahkan umumnya beranggapan bahwa dalam usia menjelang 60 tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki gangguan psikis seseorang yang sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Psikoanalisa yang dilakukan Sigmund Freud membuktikan hal sebaliknya, justru sesuai dengan prinsip Plastisitas.
Tahun 1895 Freud menyelesaikan penelitian “Project for a Scientific Psychology”, yang hingga kini masih banyak dikagumi  oleh para ahli psikologi, yaitu salah satu model neurosains yang komprehensif untuk mengintegrasikan antara otak dan pikiran. Freud menjelaskan tentang synapse yang bisa berubah karena proses pembelajaran. Dia juga mulai memperkenalkan tentang ide-ide neuroplastisitas.
10. Rejuvenation
The Discovery of the Neuronal Stem Cell and Lessons for Preserving Our Brains
Bagian ini tentang usaha keras seorang Dr. Stanley Karansky, yang berusia 90 tahun dan pernah mangalami operasi jantung, dalam melatih plastisitas otak untuk menghindari penurunan kognitif/memory  menggunakan uji pendengaran melalui aplikasi komputer, juga berbagai aktifitas seperti diskusi atau travelling, dan menghindari hal-hal detail yang rumit. Aktifitas fisik, selain untuk membentuk neuron baru, juga untuk merawat kesehatan otak dengan memenuhi pasokan oksigen. Menurutnya, dia tidak sepenuhnya termasuk orang yang optimis, namun menyadari sepenuhnya bahwa banyak hal bisa terjadi dan diluar kontrol dirinya. Yang bisa dipelajari dan dilakukannya adalah merespon kondisi yang ada, untuk itu diperlukan banyak pelatihan. Setelah 7 minggu pelatihan, ia merasakan lebih responsif, aktif dan cekatan. Dengan berbagai bukti penelitian yang ditulis pada bab ini, pertumbuhan sel syaraf adalah nyata.
11. More than the Sum of Her Parts
A Woman Shows Us How Radically Plastic the Brain Can Be
Bab ini tentang perjuangan hidup seorang perempuan 29 tahun, Michelle, dengan otak kiri yang tidak berkembang sejak masih berada dalam rahim ibunya. Dia mampu berbicara normal dan bekerja paruh waktu karena peran normal otak kiri telah diambil alih oleh otak kanannya. Terbukti doktrin Localizationism, yang meyakini bahwa setiap titik dalam otak punya peran tetap dan tak tergantikan, adalah salah. Neuroplasticisity adalah benar adanya. Kekurangan yang dialami adalah mudah tersesat dan kesulitan memahami hal-hal abstrak, namun mempunyai kemampuan luar biasa dalam hal ingatan dan perhitungan matematis. Normal dalam merasakan cinta, doa, bicara, membaca juga mampu memahami berita. Mengingat aktifitas motorik tubuh bagian kanan, banyak dikontrol oleh otak kiri, dan Michelle bermasalah dengan otak kiri, maka sering kesulitan melihat obyek di sebelah kanannya. Hukum plastisitas, yang mampu mengatur/memperbaiki fungsi otak dengan sendirinya, berlaku dalam dirinya, hingga dia mempunyai pendengaran yang sensitif dan sangat tajam.
Appendix 1 The Culturally Modified Brain
Not Only Does the Brain Shape Culture, Culture Shapes the Brain
Penelitian neuroplastisitas menunjukkan bahwa setiap aktifitas yang telah dipetakan dalam otak, seperti aktifitas fisik, aktifitas sensorik, pembelajaran, berpikir dan berimajinasi, akan mengubah struktur dan fungsi otak. Termasuk juga di dalamnya adalah aktifitas kebudayaan, seperti membaca, berkesenian, berbahasa, dll. Maka muncul istilah The Culturally Modified Brain, dimana hubungan antara otak dan kultur adalah timbal-balik, yaitu sejauh terjadi tindak atau rangsangan kultural, maka akan terjadi juga respon atau perubahan struktural otak. Sebaliknya, akibat kerja otak, maka terjadilah perubahan kultur.
Cultural Activities Change Brain Structure
Foto otak musikus menunjukkan bahwa mereka mempunyai beberapa area pada otak (motor cortex dan cerebellum) yang berbeda dengan otak nonmusicians. Semakin sering seorang musikus berlatih, semakin besar peta otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan respon berkesenian.
Are Our Brains Stuck in the Pleistocene Age?
Dalam kaitan dengan kehidupan sosial, pertanyaan dalam bab ini menjadi menarik, mengingat masih adanya pemikiran dalam dunia pengobatan dan sains, bahwa anatomi otak adalah tetap, tidak berubah terhadap waktu (fixed). Teori bahwa otak tidak berubah ini berujung pada pendapat bahwa bila otak atau mental sudah bermasalah/terganggu pada saat masih bayi, maka akan tetap demikian selama hidupnya. Stigmatisasi sosial terhadap retardasi mental akan terjadi, bahkan sejak seseorang masih bayi.
Para pemburu-pengumpul sejak zaman Pleistocen mempunya struktur dan fungsi otak yang plastis, terus berubah fisik dan fungsinya. Dinamis menjawab rangsangan lingkungannya, tidak tetap atau diam (fixed). Setiap saat kita belajar hal baru atau mengembangkan kemampuan yang ada, termasuk berkembangnya kebudayaan modern yang semakin menuntut kemampuan spesialisasi, maka berubah pulalah struktur dan fungsi otak kita. Bila kultur tercipta karena kerja otak, maka demikian pula sebaliknya, kultur akan mengubah struktur dan fungsi jaringan otak.
Why Human Beings Became the Preeminent Bearers of Culture
Ahli neurosains, Robert Sapolsky berpendapat bahwa antara manusia dan simpanze hanya dibedakan sedikit varian genetis, atau mempunyai kesamaan DNA hingga 98%. Perbedaan ada pada kemampuan gen manusia yang mampu membentuk neuron jauh lebih banyak, 100 milyaran neuron, daripada simpanze. Hal ini yang menyebabkan ukuran otak simpanze hanya 1/3 volume otak manusia. Seperti halnya otak manusia, otak simpanzee pun juga bersifat plastis, namun jumlah neuron yang jauh lebih banyak pada otak manusia, menyebabkan jumlah jaringan koneksitas neuron otak manusia justru semakin jauh lebih banyak, berbeda secara exponensial dengan jumlah jaringan pada otak simpanze. Setiap neuron bisa berkoneksi dengan ribuan neuron lainnya.
Cortex manusia mempunyai 30 milyar neuron, dan ini bisa membentuk 1 juta milyar koneksi synaptic (lihat video Transmission across a synapse). Jaringan koneksi yang sedemikian luas itulah yang menyebabkan otak manusia mempunyai julukan sebagai benda hidup yang paling rumit di jagad raya ini. Dan oleh karenanya,  ia mampu melakukan perubahan mikrostruktur secara berkelanjutan, dan juga mampu melakukan begitu banyak fungsi dan perilaku yang berbeda, termasuk aktivitas budaya  yang berbeda.
Gerald Edelman, ahli biologi, pemenang hadiah Nobel untuk bidang Physiology 1972, berpendapat bahwa bagian-bagian kecil terpisah dari berbagai komponen heterogen yang independen, bila saling terkoneksi, akan terintegrasi dan menghasilkan fungsi baru. Bila kehilangan kemampuan salah satu indera, misal pendengaran, maka indera perasa lainnya akan semakin aktif untuk ambil alih fungsi indera pendengar. Bahkan, sensitifitasnya semakin tinggi kuantitas dan kualitas pengolahan pasokan signalnya, mampu mendengar dengan otak (bukan dengan telinga). Misalnya, mampu membaca gerak bibir lawan bicara sebagai alat komunikasi pengganti telinga, lebih mudah daripada orang biasa. Perubahan satu modul otak, pendengaran, akan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi modul lain (misal modul penglihatan), sehingga kehilangan kemampuan pendengaran bisa ditanggulangi dengan lebih berfungsinya penglihatan.
When the Brain Is Caught Between Two Cultures
Perubahan budaya atau kultur yang terjadi karena perpindahan domisili atau migrasi, merupakan hal tersulit yang butuh usaha keras dalam otak kita untuk menyesuaikannya. Tanpa disadari, segala tindakan atau respon kita sehari-hari, – misalnya cara berbicara, berkomunikasi, selera makan, musik dan semua tindakan lain yg selama ini dilakukan tanpa berpikir – sebenarnya terbentuk dalam otak dalam proses yang lama dan menerus sehingga mengubah struktur/fungsi jaringan otak (brain maps) dan menyebabkan respon tindakan keseharian seolah terjadi secara natural. Perubahan kultur menyebabkan kesadaran bahwa semua respon tindakan butuh ‘pelatihan otak’ supaya terbentuk brain maps baru. Culture shock is brain shock.
Neuroplasticity and Social Rigidity
Seiring bertambahnya usia, neuroplastisitas semakin rendah, atau semakin sulit merespon aktifitas semesta. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung mengabaikan atau melupakan, atau bahkan mendiskreditkan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan atau persepsi yang dipunyainya, karena membutuhkan usaha pemikiran kritis untuk meresponnya. Atau, lebih tepatnya, lebih nyaman dengan mempertahankan strukstur yang sudah ada dalam jaringan otaknya. Bila ada perbedaan antara struktur  internal neurocognitive dengan realitas dunia, maka seseorang cenderung berpikir untuk mengubah realitas. Disini Wexler berpendapat bahwa dalam era glibalisasi, yang seringkali terjadi konflik budaya, akan menyebabkan banyak frustrasi sosial karena sudah rendahnya neuroplastisitas.
Bruce Wexler, psychiatrist dan peneliti dari Yale University berpendapat bahwa di masa kecil, otak kita akan terbentuk dengan mudah untuk dapat berreaksi terhadap segala aksi semesta dengan berkembangnya struktur neuropsychologi, termasuk di dalamnya adalah kemampuan menangkap gambaran dan repersentasi dari jagad-raya ini. Struktur tersebut membentuk basis jaringan sel syaraf otak sehingga dapat berpersepsi, berperilaku dan berkeyakinan bahkan sampai hal yang rumit, seperti berideologi. Bila struktur tersebut dibentuk sejak kecil dalam proses yang lama, maka akan mengendap dengan sendirinya dan menjadi apa yang biasa disebut sebagai ‘bawah sadar’, yang seolah natural.
Wexler juga menegaskan bahwa meskipun daya plastisitas otak semakin berkurang seiring bertambahnya usia, namun identitas seseorang masih dapat diubah sesuai hukum neuroplastisitas, menggunakan cara yang biasa disebut brain washing. Dengan,demikian, seseorang dapat ‘dihancurkan’ (identitas dirinya), untuk kemudian dibangun kembali, atau setidaknya ditambahkan struktur neurocognitifnya, melalui pelatihan massal yang ketat terkontrol dalam kondisi reward/punishment.
A Vulnerable Brain—How the Media Reorganize It
Era Internet of Things perlu menjadi perhatian penting, khususnya dalam perkembangan otak anak. Otak manusia modern ini banyak dibentuk oleh pengaruh keterpaparan Internet, juga televisi, video game, gadget dan peralatan elektrononik modern lainnya. Penelitian terhadap lebih dari 2.600 anak menunjukkan bahwa semakin belia anak-anak menggemari atau terpapar televisi, antara usia satu atau tiga tahun, akan mengalami masalah dalam hal kemampuan memberi perhatian atau fokus pada masa belajarnya kemudian.
Edward Hallowell, psychiatrist dari Harvard yang ahli dibidang masalah genetis  Attention Deficit Disorder (ADD), telah melakukan penelitian adanya relasi antara media elektronik dengan meningkatnya penurunan kemampuan perhatian/fokus anak (bukan genetis). Media mengubah otak kita bukan karena pesan isinya (content), namun justru karena media itu sendiri. McLuhan berpendapat, setiap media akan mengatur otak dan cara berpikir kita, dengan cara unik, yang berdampak jauh lebih signifikan daripada dampak yang disebabkan oleh pesan contentnya. Seseorang yang sudah kecanduan bermain video game, akan menunjukkan gejala ketagihan untuk terus bermain, malas beraktifitas lain dan merasa ceria bila sedang bermain. Pola tindakan dalam video game seperti, cuts, edit, zoom, short cut dsb, akan mengubah otak, dan akan mempengaruhi tindakan nyata keseharian. Mengingat peristiwa dalam siaran televisi berlangsung cepat, hanya peristiwa penting saja, tidak seluruh proses kejadian (editing), maka penonton akan terpaku dan semakin sulit meninggalkan televisi, bahkan saat penonton berkomunikasi dengan sesamanyapun, mata tetap terpaku ke layar televisi. Akibat berbahayanya adalah, aktifitas berguna lainnya seperti membaca, berkomunikasi dengan sesama, perhatian saat belajar, menjadi semakin sulit. Ingat, budaya akan membentuk otak kita, karena hukum neuroplastisitas.
References:

Read Full Post »

Screenshot_20180525-003742Guns, Germs, and Steel adalah buku karya Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi dari Universitas California (UCLA), yang diterbitkan pertama kali di tahun 1997, dan setahun kemudian memperoleh penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Non-fiction.
…..
Kalimat pembuka di Kata Pengantar buku ini bisa menjadi penunjuk maksud penulisnya, “Buku ini hendak menyajikan riwayat singkat umat manusia 13.000 tahun terakhir”. Dan, kalimat tanya yang ditulis Diamond untuk memotivasi pembacanya sehingga bersedia meluangkan waktunya untuk membaca buku ini adalah: “Mengapa sejarah berkembang secara berbeda di berbagai dunia?”. Provokatif..
…..
Di bab pertama, Diamond mengutip pertanyaan Yali, penduduk asli Papua yang menemaninya saat melakukan penelitian biologi disana, yang juga menjadi pemicu keingintahuan pembaca, menjadi awal isi buku kajian sejarah perkembangan budaya bangsa-bangsa di dunia ini: “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”. Keahlian Diamond tentang aspek-aspek lain evolusi manusia, sejarah, dan bahasa, menjadi modal untuk menjawab pertanyaan Yali tersebut.
…..
Bila Why Nations Failkarya Daron Acemoglu dan James Robinson, beranggapan bahwa faktor manusia adalah penyebab utama perbedaan nasib suatu bangsa, walaupun secara geografis dan sejarah bangsa2 yang diperbandingkan tersebut hampir sama namun bisa berbeda kesejahteraan, maka Jared Diamond dalam bukunya yg memenangkan Pulitzer 1998 ini, menjadi menarik untuk dipelajari karena kesimpulan yang berbeda, juga mengingat banyaknya dukungan data sejarah bangsa yang berasal dari ribuan tahun yll. Kedua buku di atas membahas hal yg kurang-lebih sama, yaitu mempertanyakan penyebab perbedaan kesejahteraan bangsa-bangsa dengan sudut pandang kajian yang  berbeda. Faktor manusia, menurut Diamond hanyalah bagian dari proximate factors (penyebab langsung), dan yang perlu digali lebih lanjut adalah ultimate explanations (penyebab dasar). Kondisi fisik, sosial, lingkungan seperti apakah yang bisa menyebabkan manusia bisa menjadi proximate factor penentu kemakmuran?
…..
Perjalanan Diamond di Papua  sebagai ahli Biologi Evolusi, menjadi titik-tolak bahasan dalam buku ini. Sejarah perkembangan kehidupan manusia Papua, Aborigin Australia, Maori banyak mendapat perhatian, selain juga bangsa Erasia “Bulan Sabit Subur” (the Fertile Crescent), Afrika, Indian, China dan Jepang, sebagai pusat perkembangan peradaban.
…..
Banyak pertanyaan dan penjelasannya disajikan dalam buku ini untuk memancing pikiran kritis pembaca, misalnya “Mengapa sebagian orang Eurasia dan bukan orang Aborigin, Australia, Afrika Sub-Sahara atau penduduk asli Amerika yg berekspansi ke seluruh dunia?” atau “Mengapa Eropa, bukan China?“.
…..
Penulisan buku ini juga dimotivasi oleh ketidakpuasan atas banyaknya artikel sejarah perkembangan bangsa-bangsa yang dianggap Diamond kurang komprehensif, karena pembahasan yang lebih dominan hanya pada masyarakat Erasia dan Afrika Utara saja, yang saat itu sudah mempunyai kemampuan baca-tulis, sehingga menurutnya memiliki tiga kekurangan, yaitu:
…..
Pertama, semakin banyak orang tertarik pada kondisi sosial masyarakat di luar masyarakat Erasia barat, yang meliputi sebagian besar penduduk bumi dan mayoritas kelompok etnis, budaya, dan linguistik dunia. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjadi kekuatan ekonomi dan politik dunia, dan beberapa lagi berpeluang untuk menyusul.
…..
Kedua, bagi orang yang secara spesifik berminat pada terbentuknya dunia modern, uraian sejarah yang terbatas hanya pada perkembangan sejak kemunculan tulisan, tidak dapat memberikan pemahaman yang mendalam, karena sebenarnya masa pra-tulisan sebelum 3.000 SM adalah akar dominasi Erasia barat di dunia modern.
…..
Ketiga, suatu uraian sejarah yang terfokus pada masyarakat-masyarakat Erasia barat, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan besar yang sudah seharusnya diajukan. Mengapa justru masyarakat-masyarakat itu yang menjadi berkuasa dan inovatif melebihi takaran sewajarnya? Atau, mengapa semua unsur pendukung penaklukan itu muncul di Erasia barat, dan hanya secara terbatas atau bahkan tidak muncul sama sekali di tempat-tempat lain? Perlu penjelasan dasar lebih lanjut (ultimate explanations).
…..
Memahami masyarakat-masyarakat Erasia barat pun mustahil dilakukan jika perhatian terfokus hanya kepada masyarakat-masyarakat tersebut. Untuk itu, perlu juga dipahami semua masyarakat lain, sehingga masyarakat-masyarakat Erasia barat bisa ditempatkan di dalam konteks yang lebih luas.
…..
Menurut Diamond, buku-buku lain mengenai sejarah dunia juga cenderung terfokus pada peradaban-peradaban maju dan melek huruf di Erasia selama 5000 tahun terakhir; semuanya membahas peradaban penduduk asli Amerika pra-Kolumbus hanya sepintas lalu, dan memberikan perhatian yang lebih sedikit lagi kepada sisa dunia selain interaksinya dengan peradaban Erasia baru-baru ini. Sintesis sebab-akibat historis yang bersifat global telah dijauhi oleh sebagian besar ahli sejarah, karena merupakan permasalahan yang tampaknya tak terpecahkan.
…..
Jadi, belum ada jawaban yang diterima secara umum terhadap pertanyaan Yali. Di satu sisi, berbagai penjelasan hampiran sudah jelas: suku bangsa tertentu mengembangkan senapan, kuman, baja dan faktor-faktor lain yang menghasilkan kekuatan politik dan ekonomi sebelum suku bangsa lain, sementara ada pula suku bangsa yang sama sekali tidak pernah mengembangkan faktor-faktor tersebut. Di sisi lain, penjelasan-penjelasan mendasar -misalnya, mengapa perkakas perunggu muncul lebih awal di beberapa bagian Erasia namun muncul baru belakangan dan di beberapa tempat saja di Dunia Baru, dan sama sekali tidak muncul di Australia pribumi- tetap tak jelas.
…..
Sistematika Pembahasan
Diamond menyajikan buah pikirannya dalam 4 Bagian besar, yang rasanya tidak harus dibaca secara berurutan mulai dari bagian depan buku. Bagian Pertama “From Eden to Cajamarca” berisikan 3 bab, dimulai dengan Bab 1 tentang kehidupan sosial manusia dan penyebarannya sejak dari Afrika 7 juta tahun yangblalu, hingga masa 13.000 tahun setelah Jaman Es. Bab 2 tentang berbagai perubahan lingkungan di berbagai benua, termasuk penyebaran Polinesia 3.200 tahun yang lalu ke berbagai kepulauan Pasifik. Bab 3 mengenai penguasaan benua Amerika oleh bangsa Eropa, dengan kasus penaklukan kepala suku Inka di Peru oleh Pizzaro dari Spanyol. Penguasaan atas senjata, teknologi dan penyebaran penyakit, juga kemampuan baca-tulis, menjadi isu penting dalam penaklukan, yang dibahas dalam bab ini.
…..
Screenshot_20180525-010759
….
Membaca sejarah manusia, dan penyebarannya, selalu menarik. Untuk itu perlu saya ringkaskan sedikit tulisan Diamond tentang hal ini sebagai pengingat. Dimulai di Afrika 7 juta tahun yang lalu, berbagai temuan fosil mengisyaratkan adanya evolusi menuju manusia yang berdiri agak tegak sekitar 4 juta tahun yll, dan bertambahnya ukuran volume otak pada 2,5 juta tahun yll. Makhluk-makhluk tersebut dikenal secara berurutan sebagsi Australopithecus, Africanus, Homo habilis dan Homo erectus. Meskipun Homo erectus berbadan mirip manusia jaman modern, namun ukuran otaknya masih setengah lebih kecil. Sudah melebihi fisik kera, namun masih jauh dari manusia modern. Manusia pertama yang menyebar keluar dari Africa adalah Homo erectus, yang fosilnya ditemukan di pulau Jawa dan dikenal sebagai Manusia Jawa, berumur 1 juta tahun silam (ada yang berpendapat 1,8 juta tahun yll). Di Eropa, kehadiran manusia diperkirakan baru 500 ribu tahun setelahnya. Tengkorak Africa dan Eropa 500 ribu tahun silam tersebut mirip tengkorak manusia modern, sehingga masuk dalam kategori spesies Homo sapiens, meskipun volume otak masih lebih kecil dan sangat berbeda dalam hal artefak dan perilaku. Saat itu, Australia dan Amerika masih belum ada manusia.
…..
Populasi Eropa dan Asia Barat antara 130.000 dan 40.000 tahun yang lalu diwakili oleh peninggalan kerangka, sebagai manusia Neanderthal, yang masuk dalam spesies Homo Neanderthalensis. Mereka berkemampuan mengubur sesamanya bila meninggal dan merawat sesamanya bila sakit. Seperti halnya dengan manusia Afrika di jaman yang sama, mereka belum mampu berburu binatang buas, bahkan memancingpun belum dilakukan. Belum sepenuhnya dapat digolongkan sebagai manusia.
…..
Sejarah manusia modern mulai dikenal ketika ditemukan situs-situs Africa Timur berupa perkakas batu dan perhiasan dari telur burung pada 50.000 tahun yang lalu, juga di Timur Tengah dan Eropa Tenggara. Dan 10.000 tahun kemudian, ditemukan artefak yang lebih modern di Eropa Barat Daya, yang disebut manusia Cro-Magnon. Manusia yang secara biologis dan perilaku bisa dianggap sebagai manusia modern. Peninggalan produk seni berupa lukisan gua, patung dan alat musik adalah karya manusia Cro-Magnon yang sudah banyak dikenal. Senjata pelontar tombak, panah dan busur juga peralatan berburu seperti tali jala, tali pancing dan jerat, menjadi penanda kemajuan manusia Cro-Magnon.
…..
Bagian Kedua, “The Rise and Spread of Food Production“, terdiri dari 7 bab yang intinya mengenai kemampuan bercocoktanam dan berternak melalui domestikasi dari daerah lain, dan berubah dari budaya pemburu menjadi produsen makanan sendiri. Namun, kemampuan tersebut tidak merata di semua wilayah, sehingga proses domestikasi tidak terjadi.  Beberapa sentral produksi makanan mengalami kesulitan untuk menyebar ke wilayah-wilayah lain. Penyebab utama perbedaan penyebaran tingkat kemampuan berproduksi adalah orientasi “sumbu kontinen”. Sumbu kontinen Eurasia adalah dominan barat-timur, sedangkan untuk Amerika dan Afrika adalah utara-selatan. Bagian ini coba menjelaskan alasannya secara rinci.
…..
Bagian Ketiga, “From Food to Guns, Germs, and Steel“, terdiri dari 4 Bab. Peran Kuman Penyakit dari Erasia lebih banyak membunuh penduduk asli Amerika dan non-Erasia, daripada peran Senapan atau senjata Baja. Ketidak-seimbangan penyebaran wabah mematikan ini menjadi bahasan utama dalam Bagian Ketiga. Selain itu, kemampuan memproduksi makanan dan baca-tulis ribuan tahun terakhir ini juga menjadi penyebab kelebihan keberdayaan suatu kelompok di suatu daerah dibanding kelompok di daerah lainnya.
…..
Bagian Keempat, “Around the World in Five Chapters“, terdiri dari 5 Bab yang membahas sejarah benua Australia, yang pada awalnya berada dalam satu kawasan dengan pulau besar Papua. Perkembangan Aborigin yang terlambat dan tetap menjadi pemburu pengumpul, dibanding orang Papua yang sudah mulai berkebun, menjadi pokok bahasan dalam Bagian 4 ini. Masih dalam Bagian ini, juga dibahas tentang penaklukan Eropa terhadap penduduk asli Amerika, yang disebabkan oleh faktor-faktor perbedaan kemampuan domestikasi perkebunan dan peternakan, wabah penyakit, lamanya pendudukan, orientasi sumbu kontinen, juga kesulitan-kesulitan ekologis. Kelebihan besar dalam hal produksi makanan bangsa Eurasia, dibanding penduduk asli Amerika, merupakan faktor dasar (ultimate factor), sedangkan tingginya Kuman Penyakit, teknologi, organisasi politik dan kemampuan baca-tulis bangsa Eurasia merupakan faktor penyebab langsung (proximate factors) dalam penaklukan penduduk asli Amerika oleh bangsa Eurasia.
…..
Menarik membaca bagian ini, mengingat saya sendiri pernah berada di Papua selama 10 tahun, dan beberapa kali sempat mengunjungi berbagai kota tambang di pedalaman Australia. Satu pertanyaan menggelitik dalam bagian ini adalah “Bagaimana bisa ciri-ciri Papua itu tidak sampai ke Australia?”. Selat Torres memisahkan daratan Papua dengan Australia  dan pulau Mabuiag berada di antaranya. Air sudah memisahkan keduanya 10.000 tahun yll. Babi, busur dan anak panah yang sangat melekat dengan panduduk Papua, justru tidak dikenal oleh bangsa Aborigin Australia, melainkan tombak dan pelontarnya lah yang menjadi senjata utamanya. Aborigin Semenanjung York tidak melakukan pertanian intensif spt Papua pegunungan, melainkan hidup dari konsumsi ikan. Tak ada budaya Papua yg menyebar ke pedalaman Australia, kecuali kail ikan dari cangkang kerang, juga perahu bercadik ala Papua. Genderang, topeng upacara, tiang pemakaman dan pipa Papua juga diadopsi di Semenanjung York. Mereka tidak memanfaatkan babi (sedikit atau bahkan tidak ada) mgk krn kesulitan utk menyediakan makanannya. Diamond berkesimpulan bahwa dahulu, Aborigin tidak pernah melihat Papua, atau komunikasi Australia – Papua berhenti di Pulau Mabuiag. Portugislah yang menemukan Papua 1526, lalu Belanda klaim bagian Barat 1828 dan selanjutnya Inggris/Jerman klaim bagian Timur Papua tahun 1884.
…..
The Future of Human History as a Science“, merupakan bagian Penutup dan ringkasan buku ini, dari hasil kajian sejarah manusia di berbagai benua berdasar perkembangan budaya, anthropologi, linguistik, arkeologi bahkan geologi. Disini dia dengan tegas menyatakan bahwa “the striking differences between the long-term histories of peoples of the different continents have been due not to innate differences in the peoples themselves but to differences in their environments“. Ada empat hal penyebab utama dalam perbedaan kondisi lingkungan dimaksud, yaitu:
  1. Spesies tanaman dan binatang liar sebagai sumber domestikasi
  2. Kondisi alam di dalam masing2 benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  3. Kondisi alam perbatasan antar benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  4. Luas area atau total populasi. Budaya kompetisi dalam wilayah yang padat dengan organisasi politik terpusat akan memicu tumbuhnya penemuan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan akumulasi kelebihan makanan.
…..
Meskipun pembahasan sudah dilakukan secara panjang-lebar dari berbagai sudut pandang keilmuan dalam buku yang tebal ini, namun Diamond masih merasa jauh dari cukup untuk dapat menjawab pertanyaan Yali di awal tulisan ini. “Compressing 13,000 years of history on all continents into a 400-page book works out to an average of about one page per continent per 150 years, making brevity and simplification inevitable“. Sangat rumit dan terlalu menyederhanakan masalah, untuk dapat menjawab pertanyaan Yali.
…..
Rekomendasi
Buku yang sangat lengkap dan rinci untuk memahami sejarah perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa sejak 13.000 tahun yang lalu berdasar aspek budaya, arkheologi, anthropologi, linguistik, biologi dan geografi. Sangat berharga untuk dibaca, meskipun sedikit melelahkan.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »