Sore itu cerah kuning panas matahari mulai redup, meninggalkan terang putih biru kemerahan di sisi barat dengan sedikit tiupan angin di jalan Kranggan, Yogya. Bayang hitam atap rumah tampak memanjang lancip di atas jalan aspal dua lajur, yang tak cukup sibuk lalu-lalang kendaraan bermotor. Terlihat tak jauh berjalan di depanku, sepasang wisatawan asing, dengan balita di pelukan sang ibu, menyeberang jalan dan memasuki sebuah bangunan rumah berdinding depan dominan kaca yang tampak bersih tertata rapi dengan banyak bola lampu kuning tergantung di atap ruang dalam dan lampu kuning bertudung di beranda. Cafe baru rupanya. Penasaran aku ikut masuk ke dalamnya bersama keluarga.
Sepasang wisatawan tadi terlihat bahagia bercanda dengan anaknya yang tampak terkekeh lucu di pangkuan ibunya, duduk di sofa, di sudut rumah depan bar tempat kue-kue tersaji dalam ruang kaca. Sang bapak kemvali membolak-balik menu hidangan sambil berbincang dengan pramusaji yang ramah, menawarkan pilihan minuman dan kue yang tersedia.
“Blanco cafe, pak”, jawab pramusaji lainnya dengan ramah ketika kutanya apa nama cafenya. “Belum seminggu kami buka, dan masih perlu perbaikan dan kelengkapan untuk kenyamanan tamu. Bahkan nama cafenya pun belum kami pasang. Silahkan duduk pak. Ini menu makanan dan minuman kami”, lanjutnya dengan mengodorkan buku menunya sambil tersenyum. Aku memesan minuman panas hazelnut latte dan kue andalan apple slipper. Tak lama kemudian dia kembali ke mejaku sembari tersenyum dan menyodorkan buku Life “silahkan dilihat-lihat pak, kami sedang siapkan pesanannya. Atau, boleh pilih sendiri bukunya di sana”, sambil menunjuk rak buku pemisah ruang dengan deretan buku dari bermacam kategori tersusun rapi, hampir semuanya dalam bahasa Inggris.
Dalam ruangan yang sejuk berpendingin ini ada beberapa meja kayu persegi berdesain minimalis kasar kehijauan yang tersusun diametral dengan masing-masing empat kursi kayu mengelilinginya dan lampu kuning bertudung menggantung di atasnya. Lega indah fungsional.
“Silahkan pak”, ucap pramusaji sambil meletakkan secangkir hazelnut latte panas dengan buih cream dan taburan bubuk coklat di atasnya tersaji indah, beraroma harum kopi yang memancing selera, serta apple slipper berwujud croissant dengan selai apel di dalamnya, ke depanku. Lezat minumannya, lezat kuenya. Sempurna.
Sudah seminggu ini Blanco menerima tamu setiap harinya sejak siang jam 2 hingga larut malam jam 12. Ketika aku masuk cafe, saat itu baru empat meja terisi tamu, masing-masing duduk dua dan tiga pengunjung, semuanya anak muda, mahasiswa sepertinya, selain wisatawan manca negara yang duduk di sofa sudut ruang dan aku sendiri di belakang rak buku bersama rombongan, anak, istri, de Nang, de Gen dan mas Andre. Dua meja terpisah yang berisi mahasiswa tersebut terlihat penuh dengan buku, laptop dan minuman cafe di atasnya. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Memang nyaman cafe ini untuk mereka yang sedang membutuhkan ruang belajar dan diskusi kecil yang tidak ramai. WIFI juga tersedia sehingga mudah untuk akses informasi dengan cepat. Televisi LED di sudut atas ruang tamu sedang menampilkan berita nasional dengan suara ‘lamat-lamat’, namun cukup jelas untuk didengar.
Mas Bimo, yang juga mahasiswa hukum UGM semester akhir dan salah satu pemilik cafe, menghampiri kami untuk sedikit beramahtamah. “Gini loh om, selain bisnis, cafe ini juga untuk nyediain tempat belajar bersama yang nyaman, makanya kalo sudah settled semua, mungkin akan buka 24 jam”, jelasnya ketika kutanya tentang konsep cafenya. Ketika kutanya tentang jenis kopinya yang lezat, dia menjawab dengan senyum bangga, “thanks om, memang kami milih kopi papan atas untuk jaga kualitas dan kepercayaan para tamu”. Hehe formal but kerenn … ..
Jam 6 sore dah mulai gelap, kami angkat kaki, ternyata di meja panjang beranda yang juga diterangi lampu gantung kuning bertudung, juga sudah mulai ada 10 tamu yang lagi ngopi.. memang enak duduk di beranda Blanco sore hari, tidak banyak debu karena lalulintas tidak ramai dan pandangan lebih lega.
Sobat, cobalah Blanco Cafe di jl. Kranggan 30, Yogya. Highly recommended. Sukses mas Bimo dkk. ..
Sering kita mendengar “saya kan bermaksud baik, kenapa tidak diterima?”. Apa yang dimaksudkan sebetulnya? Pertanyaan philosofis menurutku.
Melihat kebaikan ibarat melihat durian berduri banyak di kulitnya. Kebaikan itu sendiri ada di tengahnya, sedangkan masing-masing duri adalah cara pandang terhadap kebaikan. Representasi cara pandang tersebut ditunjukkan dengan beragamnya ideologi atau mazhab pemikiran filosofis yang berbeda di dunia ini. Pemikiran dialektis, kajian holistik dan optimasi terhadap berbagai cara pandang inilah yang diharapkan bisa diterima semua pihak untuk disepakati.
Di dalam komunitas egaliter dimana setiap individu punya bobot suara yang sama, maka dalam era demokrasi diterapkan sistem perwakilan untuk merumuskan dan menyepakati suatu ‘kebaikan’. Sedangkan dalam suatu komunitas yang sudah disepakati jenjang otoritasnya (birokrasi pemerintah, perusahaan, organisasi lainnya, dll.), nilai ‘kebaikan’ diputuskan oleh pihak pengemban otoritas, meskipun selalu ada cara untuk melakukan perubahan yang biasanya juga telah diakomodir salam suatu sistem yang dianut bersama. Nah, kesepakatan-kesepakatan seperti ini harus diterima dan dijalankan sehingga tidak terjadi chaos. Artinya, memaksakan ‘kebaikan’ menurut cara pandang sendiri supaya diikuti banyak pihak dalam suatu komunitas, hanya akan membuat kegaduhan.
Tautan di bawah ini banyak menunjukkan contoh bahwa dalam memandang suatu masalah, selalu ada berbagai ‘kebaikan’ dari berbagai sisi, yang tidak jarang justru bertentangan.
Buku ini berisi informasi tentang fracking dan sejarahnya mulai dari akuisisi ‘mineral right’ dengan cara menyewa properti di permukaan tanah dari para pemilik lahan/rumah, metoda sederhana produksi minyak, teknologi fracking yang mengubah dunia, kebijakan energi hingga dampak lingkungan yang diakibatkannya. Perusahaan minyak Mitchell Energy, Chesapeake, Devon International dan George Mitchell, McLandon, Larry Nichols sebagai pengusaha minyak yang sukses dengan metode fracking ini, menjadi pusat cerita. Tahapan dan kelengkapan proses fracking juga dijelaskan cukup rinci dari kacamata seorang jounalis, Russel Gold ini.
Pada awal 2000an, target penelitian Russel adalah perusahaan migas kecil-menengah, tidak menjual bbm atau mengoperasikan kilang minyak, dan hanya beroperasi di AS, yang jauh dibawah kelas Chevron atau BP yang kaya dan mempunyai kemampuan teknis canggih dan bermain migas Timur Tengah, atau laut dalam di wilayah pantai Afrika. Namun demikian, perusahaan2 migas ini pada awal abad 21 justru mengejutkan dunia dengan suksesnya menggunakan metoda baru dalam menghasilkan gas yang berasal dari batuan padat berpermeabilitas kecil, shale, di kedalaman.
Tahun 1940an M. King Hubbert yg dikenal sebagai bapak teori ‘Peak Oil’ berpendapat bahwa karena cadangan minyak dunia terbatas, sehingga bila produksi terus meningkat maka akan smpai pada puncaknya dan setelahnya akan menurun lagi. Untuk menunda ‘Hubbert’s Peak’ ini perlu ada upaya rekayasa baru, dan fracking adalah jawabannya.
Revolusi shale gas/oil ini telah mengubah AS melalui teknik fracking yang menghasilkan begitu besar produksi minyak dan gas. Hal ini menyebabkan AS berkelimpahan energi yang membantu lahirnya kembali industrialisasi dan mempermudah lepasnya ketergantungan energi dari luar. Akses terhadap energi ini membutuhkan ribuan lubang bor baru yang masing-masing dilakukan fracking dengan membanjiri air yang cukup untuk mengisi beberapa kolam renang berskala olimpiade dan ratusan gallon larutan kimia. Ini juga berarti mengubah beberapa kota kecil menjadi area industri, lengkap dengan lalu-lalangnya truk-truk container besar, polusi udara, rusaknya lingkungan dan ketakutan atas kualitas air yang rentan terhadap pencemaran.
Berkat metoda fracking, AS telah menghasilkan gas jauh lebih banyak dari sebelumnya. Dengan metoda dan teknologi yang sama untuk menghasilkan gas, fracking juga digunakan untuk memproduksi minyak dari batuan shale. Pada musim semi 2013, AS sudah memproduksi minyak mentah 7.5 juta barrel per hari, jumlah yang tidak terlihat lagi sejak 1990. North Dakota, lokasi Bakken shale adalah lapangan minyak terbesar di AS yang baru ditemukan dalam beberapa dekade ini, dan telah menghasilkan 875.000 barrel per hari, yang lima tahun sebelumnya hanya menghasilkan 150.000 barrel per hari.
Puluhan tahun sebelumnya, AS selalu impor minyak jutaan barrel per hari, dan sekarang menurun tajam dan cenderung terbebas dari ketergantungan impor dari Timur Tengah dan Afrika, ‘energy independent’. Diperkirakan, pada tahun 2020 AS bisa menjadi penghasil minyak terbesar dunia, diperkirakan 11,1 juta barrel per hari, melampaui Arab Saudi.
Produksi Minyak Dunia
Chesapeake Energy
Pada awalnya, Chesapeake Energy adalah perusahaan migas kecil yang bermaksud drilling dan memproduksi gas di bawah lahan seluas 102 acre di North Pennsylvania. Penawaran sewa lahan $400.000 bayar di depan merupakan hal menarik bagi penduduk setempat.
Pada masa jayanya, Chesapeake yang dipimpin oleh McLendon mampu melakukan drilling dalam jumlah besar, bahkan melampaui perusahaan migas manapun di dunia. Pada tahun 2004, Chesapeake termasuk dalam 8 besar perusahaan pemboran di AS, satu tahun kemudian masuk 4 besar. Dan satu tahun lagi sudah menjadi yang terbesar, dan ini berlangsung dalam beberapa tahun. Antara tahun 2004 hingga 2011, Chesapeake telah melakukan pemboran terbanyak dibanding perusahaan manapun di dunia. Hampir tiap hari 4 mata bor Chesapeake mulai menembus batuan di setiap lubang bor barunya.
Pada tahun 2012, anggaran Chesapeake mencapai $20 milyar, drilling lebih dari 1.000 lubang bor per tahun dan melakukan fracking pada setiap lubangnya. Minyak dan gas telah diproduksinya dari batuan shale (serpih) dengan metode fracking ini, yang menurut pemiliknya hanya perlu memasukkan banyak air bertekanan tinggi ke dalam lubang pemboran, meskipun kenyataannya cara fracking ini jauh lebih rumit.
McLendon sangat agresif dalam memimpin Chasepeake. Hanya dalam 8 tahun sejak sumur pertamanya, Chesapeake sudah menyewa 3.500 acre lahan di Northern Texas, yang melibatkan 260.000 transaksi, untuk mendapatkan asset (mineral rights) formasi Barnett di bawahnya.
Kwartal pertama 2012, Chesapeake telah mengalami cash-flow negatif sebesar $ 4,1 milyar. Selama 8 tahun beroperasi, telah membelanjakan lebih dari $30 milyar untuk keperluan sewa lahan dan pemboran.
Kekuatan utama McLendon pada akhirnya justru menjadi kelemahannya. Dia sangat bagus dalam hal mendapatkan modal untuk membentuk perusahaan besar yang sukses, hingga semakin sulit untuk merubah arah ketika krisis finansial 2008 terjadi di AS. Dan kemampuannya untuk memperoleh milyaran dollar (bukan untuk Chesapeake, tapi untuk keperluan sumur-sumur pribadinya) telah menjerumuskan dirinya bahkan hingga hengkangnya dari Chesapeake. Tanggal 1 April 2013, McLendon meninggalkan Chesapeake. Terminated.
Sukses Mitchell Energy dengan Fracking
Tahun 1951, di sumur DJ Hughes #1, Wise County, Mitchell berhasil menemukan gas, juga di sepuluh lubang bor lainnya, menggunakan metode fracking di batuan pasir yang dangkal, bukan formasi Barnett shale (jauh di bawahnya) yang ketat dengan cara menembakkan larutan gel hingga membentuk banyak rekahan yang terhubung ke rekahan-rekahan yang sudah ada. Mitchell Energy dianggap sukses besar (discovery) selama bertahun-tahun sejak mengalirkan gas dari cebakan batuan pasir ke permukaan tersebut. Namun sebetulnya, batuan sumber terdapatnya gas di batuan pasir di atas berada di paisan yang lebih dalam, yaitu di formasi Barnett shale yang saat itu masih belum ditemukan metode yang tepat untuk mampu mengekstraksinya.
Dengan rangsangan pemerintah AS pada tahun 1978 bahwa gas yang berasal dari reservoir ‘unconventional’ akan dibeli pemerintah dengan harga lebih tinggi, juga informasi cadangan gas yang sangat besar (mungkin mencapai trilyunan cubic feet), maka Mitchell gencar melakukan pemboran ke dalam formasi Barnett shale dengan metoda fracking yang berbeda-beda untuk mendapatkan cara produksi gas unconventional yang paling ekonomis.
Tahun 1980an, Mitchell Energy & Development, salah satu perusahaan migas besar di Houston, mempunyai ladang gas di sekitar Fort Worth. Para geologistnya sering kali menemukan keberadaan gas yang cukup signifikan yang ditunjukkan oleh data komputer setiap kali menembus batuan shale, ketika mencari cebakan migas. Tidak diragukan adanya bahan bakar fossil yang terjebak dalam batuan shale tersebut. Sumur-sumur dalam Mitchell dapat mencapai cebakan gas tersebut, namun para insinyurnya tak cukup mempunyai peralatan atau keahlian untuk dapat memproduksinya.
Tahun 1982, Mitchel Energy melakukan pemboran di sumur CW Slay#1 dengan sasaran cebakan gas yang terperangkap dalam formasi batuan shale Barnett, yang tebal dan meluas (5000 mill persegi) dari Dalas ke arah barat dan selatan. Meskipun Mitchell pernah melakukan fracking sebelumnya, namun baru saat itu dilakukan terhadap batuan shale. Cukup sukses, namun kurang memuaskan dan masih mahal. Menjanjikan.
Hingga 1990an, Mitchell (berusia 80 tahun) mencoba melakukan fracking beberapa sumur setiap tahunnya dengan sasaran Barnett shale menggunakan laruran gelatin pada awalnya, lalu diganti dengan air berlimpah dan bertekanan tinggi. Ini adalah awal mula revolusi produksi shale gas.
Berbagai jenis fluida telah dicoba, seperti campuran minyak mentah dengan air yang membentuk emulsi gel yang disebut ‘Super K-Frac’, atau 1,5 juta kubik feet nitrogen, atau air dengan buih CO2, dll. Lalu ukuran rekahanpun juga dicoba berbeda-beda. Namun tetap belum memuaskan walaupun 14 pemboran telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan campuran pasir dan air dalam jumlah yang sangat besar, 4-5 kali dari jumlah sebelumnya. Namun justru pasir menutup lubang perforasi, “screen out”.
Kisah sukses Mitchell, akhirnya ditentukan oleh Steinsberger sebagai ahli perminyakan pada tahun 1998, yang mendapat kesempatan melakukan 4 pemboran shale dengan berbagai cara fracking. Pada bor ke 5 di sumur SH Griffin #4, gas berhasil diproduksi dalam jumlah besar, 1,3 juta cubic feet per hari. Fluida yang digunakan adalah campuran 2 truk pasir, air 20 truk tangki, lebih dari 12 truk pompa bertenaga maksimal untuk mendorong fluida ke dalam batuan dan beberapa truk bahan kimia, termasuk di dalamnya adalah bahan pelicin sehingga air tidak memggerus pipa, juga biosid untuk membunuh organisme pengganggu fluida yang mungkin ada dalam perjalannya sejauh lebih dari 2 mile dari permukaan tanah hingga ujung lubang bor.
Setelah semua preparasi lengkap dan siap untuk melakukan fracking, maka lebih dari 1 juta gallon air disemburkan ke dalam lubang bor dengan tekanan tinggi. Rekahan mulai terbentuk dan air terus berusaha membobol setiap sekat pori batuan shale, tekanan turun dan kembali naik lagi. Setelah 1 jam, pasir mulai dimasukkan kedalam campuran fluida dan 5 jam kemudian tekanan akan naik dan turun lagi seiring masuknya fluida ke dalam rekahan batuan. Gas dalam sumur akan tertekan oleh kolom air setinggi 8.000 feet. Beberapa hari kemudian monitor komputer dalam kabin van menunjukkan tekanan terus turun seiring dengan keluarnya air yang dialirkan ke dalam banyak tangki. Air keluar mulai menunjukkan gelembung-gelembung gas. Akhirnya, 5 hari lewat dan setelah hampir semua air telah dikeluarkan, gas mulai mengalir keluar. Sumur telah terhubung dengan pipa dan dilakukan pengukuran. Sukses besar.
Gas dari hasil Fracking menggunakan gel pada umumnya akan mati setelah 1-2 minggu. Namun dengan metoda di atas ternyata mampu terus mengalirkan gas. Gel memang dapat membantu merekahkan batuan shale tapi justru menyebabkan tersumbatnya rekahan hingga mencegah mengalirnya molekul gas keluar dari pori-pori batuan pada akhirnya. Bila sebuah sumur mampu mengalirkan gas sebesar 70 juta – 80 juta cubic feet pada 90 hari pertama, maka sumur tersebut masuk dalam kategori sumur ‘A’. Sumur SH Griffin #4 di atas, menghasilkan 1,3 juta cubic feet di hari pertama dalam periode 90 jari pertamanya. Dan masih mengeluarkan gas hingga 14 tahun kemudian (saat buku ini ditulis), total 2,3 milyar cubic feet. Ini kesuksesan ahli perminyakan Michell Energy, Nick Steinsberger.
Sejak kesuksesan sumur SH Griffin, lebih dari 100.000 sumur dilakukan fracking di AS (halaman 122). Semuanya dilakukan dengan metoda yang sama dengan sumur SH Griffin. Saat ini bahkan tidak lagi menggunakan 1, 2 juta gallon air, melainkan 5 kali lebih banyak. Juga, berbeda dengan era Steinsberger, saat ini fracking tidak lagi dilakukan dengan hanya pemboran lurus vertikal, namun dilanjutkan dengan arah horizontal hingga lebih dari 2 mile menembus batuan sumber gas dan/atau minyak yang ketat.
Steinsberger telah membuktikan bahwa air bisa dipergunakan untuk membuat rekahan batuan shale, dan tidak hanya lebih murah daripada menggunakan gel, namun juga lebih baik.
Devon International
Krisis finansial telah menyeret harga minyak dunia merosot berakibat anjloknya harga saham Mitchell Energy dari $35 ke $10. Akhirnya, 14 Agustus 2001, Mitchell Energy dijual oleh pemiliknya, George Mitchell ke Devon Energy (Larry Nichols).
Devon mencoba pemboran horizontal menembus batuan shale dalam formasi Barnett yang berada di atas formasi Ellenberger, yang mengandung air asin (salty water). Sedikit berbeda dengan target fracking Mitchell Energy, walaupun formasi yang sama, yaitu Barnett shale, namun berada di atas lapisan batuan limestone. Sehingga kesalahan pemboran sedikit saja hingga menembus formasi Ellenberger, akan berakibat gagalnya proses fracking karena sumur akan dipenuhi dengan air asin. Namun bila Devon berhasil melakukannya di area ex Mitchell ini, maka akan menghasilkan gas 3 – 4 kali lipat besarnya.
Pada tahun 2002, masih sangat jarang dilakukan pemboran horizontal semacam ini. Hanya satu sumur horizontal dari empat belas sumur pemboran di AS dan Canada (saat ini sudah 1 dari 6 -10 sumur adalah horizontal).
Sumur pertama adalah Veale Ranch #1H. Menggunakan 1,2 juta gallon air dan menghasilkan gas tidak jauh beda dengan sumur vertical. Berikutnya Graham Shoop #6 menggunakan air dua kali lipat lebih banyak dari sumur Veale dan menghasilkan gas 7 kali lipat lebih banyak. Sukses besar.
Menurut Devon, telah dilakukan pemboran sebanyak 1.043 sumur di Barnett shale, namun masih cukup ruang untuk menambah 5.000 lagi pemboran.
Mitchell Energy, dengan ahli perminyakannya Nick Steinsberger, menemukan penggunaan bahan kimia sebagai campuran fluida untuk merekahkan batuan shale. Devon adalah yang pertama bersedia melakukan ratusan pemboran horizontal ke dalam batuan shale sehingga menghasilkan gas dalam jumlah yang sangat besar di sumur bornya. McLendon bersama Chesapeake memang bukanlah jawara dalam hal teknologi ekstraksi gas dan minyak dari batuan shale, namun sukses dalam hal pmbiayaan fracking melalui Wall Street untuk mendapatkan modal kerjanya.
Sejarah Singkat Geologi Amerika
Hampir semua benua di dunia ini selalu mempunyai pegunungan yang memanjang di tengahnya dengan dataran pantai yang luas di kedua sisinya, namun Amerika Utara berbeda. Enam puluh juta yang lalu, tabrakan lempeng tektonik telah membentuk Rocky Mountains di sebelah barat, dan Appalachian Mountains di timur, dan di antaranya adalah samudera dangkal yang disebut sebagai dataran laut mid-Cretaceous yang saat ini dikenal sebagai daerah Great Plains, Texas bahkan mencapai Pennsylvania.
Terbentuknya minyak dan gas
Zooplankton dan organisme laut kecil lainnya hidup di dalamnya, mendapatkan makanan dari sinar matahari dan nutrisi laut yang kaya. Ketika mati, biota laut tersebut akan mengendap di dasar laut. Di dalam lingkungan laut berjuta-juta lamanya, sisa-sisa kehidupan biota laut tersebut akan menumpuk sebagai lapisan tebal material organik. Akhirnya, beban endapan batuan sedimen yang tebal di atasnya akan menyebabkan peningkatan tekanan dan menghasilkan panas tinggi. Lapisan material organik secara perlahan akan terpanggang dan berubah menjadi gas dan minyak.
Batuan shale (serpih) banyak terbentuk di berbagai belahan dunia sebagai cebakan penghasil bahan bakar fossil, namun tidak semua shale mempunyai sifat atau sejarah pembentukan yang sama. Di China yang banyak sekali hutan dan sisa pepohonan sebagai bahan organik primer menyebabkan shale yang terbentuk akan diselingi batuan lanauan (silty). Di Amerika Utara kondisi geologinya memungkinkan terbentuknya lapisan shale yang luas sebagai batuan perangkap gas, sehingga menarik minat Chesapeake. Bisa dikatakan bahwa dari 100 lubang bor, akan ditemukan 99 cadangan gas yang terperangkap dalam batuan shale.
Di akhir perioda Cretaceous, air laut menyusut dan benua Amerika Utara mengering. Di bawah permukaan adalah lapisan sumber gas, batuan shale. Pada tahun 1980an para ahli perminyakan Mitchell Energy tertarik pada formasi batuan Barnett Shale di Texas. Pertengahan tahun 2012, sudah lebih dari 15.000 pemboran dengan target formasi Barnett Shale, hampir semuanya di daerah dekat Fort Worth.
Setelah berjuta-juta tahun batuan shale ini menerima tekanan dan temperatur tertentu, maka sisa-sisa organisme yang terperangkap di dalamnya akan berubah menjadi trilyunan kaki kubik gas alam. Chesapeake bermaksud mengekstraksi gas tersebut dan menjualnya untuk keperluan perumahan dan pembangkit listrik.
Proses fracking
Russell begitu fasih menceritakan kesibukan set up rig, yang dibawa oleh puluhan trailer. Mesin-mesin diletakkan rapi teratur sesuai proses penggunaannya, meskipun terlihat berdesak-desakan memenuhui ruang parkir. Trailer pembawa lebih dari satu juta gallon air, trailer ‘flat beds’ pembawa bahan kimia, juga trailer raksasa pembawa lebih dari 200 ton pasir termasuk juga truk pembawa berbagai pipa, pompa dan sambungan ban berjalan menuju ‘hopper’; terpasang teratur sesuai prosedur kerja.
Sebuah bola hitam yang berat berukuran diameter kurang dari 1 inch dimasukkan ke dalam lubang bor, meluncur menuju dasar lubang bersama larutan gel. Ketika mendekati dasar sumur, Bola kecil yang didorong oleh larutan bertekanan tersebut secara mekanis akan masuk ke dalam sekat dan membuka lubang-lubang kecil. Larutan air bertekan tinggi akan menembus dan mulai merekahkan batuan shale Bakken yang kaya akan minyak di dalamnya. Proses fracking ini umumnya dilakukan berurutan hingga 30 kali dalam 24 jam. Sumur akan dibuka dua hari kemudian dan air yang pertama-tama akan keluar, baru kemudian minyak bercampur air akan menyusul.
Yang terpenting dari proses fracking adalah jutaan gallon larutan yang dipompakan menggunakan kompressor ke dalam lubang bor dengan tekanan hingga 7000 – 8000 psi. Hampir semua komposisinya adalah air, seperti gelatine (gel). Air diubah menjadi larutan yang kental sehingga mampu membawa pasir masuk ke dalam rekahan-rekahan baru. Dengan kondisi bawah tanah yang bertemperatur tinggi, gelatine akan mencair dan mengendapkan pasir di dalam rongga rekahan dan berfungsi seperti ‘penyangga’ dalam terowongan sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam pipa dan naik kepermukaan tanah. Air akan keluar dari batuan shale dan kembali ke permukaan.
Pada awalnya, tumbuhan kacang-kacangan ‘guar’, yang berasal dari India, digunakan sebagai bahan untuk membuat gel atau larutan kental untuk keperluan fracking. Lalu, Halliburton mulai membuat sintetis alternatif guar sehingga tidak terjadi kesulitan pasokan saat musim hujan di India. Komposisi larutan fracking terdiri dari 99,1% air dan guar, sisanya adalah bahan kimia yang beraroma menyengat manis sakarin. Bahan kimia tersebut termasuk di dalamnya adalah biosida, untuk membasmi mikroba sehingga tidak memakan gel itu sendiri. Juga, surfaktan untuk membuat larutan menjadi licin sehingga tidak menyebabkan gesekan yang tajam ketika dialirkan ke dasar sumur. Meskipun konsentrasi bahan kimia relatif kecil, namun mengingat jumlah larutan sangat banyak maka jumlah total bahan kimiapun menjadi besar juga. Pencampuran bahan-bahan pembentuk larutan fracking ini dilakukan di lokasi pemboran, sebelum dimasukkan kedalam sumur.
Bapak fracking dunia sebenarnya adalah Edward A.L. Roberts, yang datang di Titusville, Pensnsylvania 1860an dan wafat 1881. Dia orang terkaya saat itu karena mempunyai hak paten membuat peledakan untuk fracking batuan di dasar sumur bor. Saat itu memang tidqk diaebut sebagai fracking, namun intinya adalah sama yaitu merekahkan, meledakkan, melelehkan batuan cebakan minyak; sehingga tahun 1970an sangat familiar dikalangan para insinyur perminyakan bahwa bila terjadi kegagalan eksploitasi minyak maka langkah akhir adalah ‘frack it’.
Pada tahun 1866, hak paten Robert menyatakan bahwa dia bermaksud untuk merekahkan batuan berisi minyak di sekitar lubang bor, seperti membuat lapisan (seam) artifisial yang terhubung dengan lubang bor sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam lubang bor. Awal suksesnya dimulai di lubang bor berjarak setengah mile di sebelah utara dari lubang penemuan (discovery) Edwin L. Drake (1859), Oil Creek. Robert meletakkan bahan peledak di kedalaman 463 feet dan meledakkannya. Ledakan mengakibatkan minyak dan air menyembur dari mulut lubang bor hingga 39 feet ke udara dengan dentuman keras. Tak lama sesudahnya, minyak mengalir keluar dengan debit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melimpah.
Sukses Robert berlanjut di akhir 1866 ketika meledakkan di sekitar sumur Woodin. Ledakan pertama menghasilkan 20 barrel per hari (bph), dilanjutkan peledakan ulang kedua dan menghasilkan 80 bph. Dalam tiga tahun kemudian, ini merupakan cerita kesuksesan besar dalam meningkatkan produksi minyak dari ratusan sumur bor yang memperkaya para pemilik sumur dan belum pernah terjadi sebelumnya, kecuali oleh Roberts Torpedo.
Tahun 1948, Bob Fast dan Floyd Farris melakukan percobaan fracking menggunakan semen dan air bertekanan tinggi. Gagal, karena rekahan dalam batuan shale yang terbentuk segera menutup lagi ketika air kembali keluar. Ide menggunakan campuran pasir, minyak mentah dan sabun (aluminium soap) sebagai larutan fracking kemudian dicoba di lubang bor East Texas yang sebelumnya hanya menghasilkan kurang dari satu bph. Larutan dipompa ke dalam sumur bor dan didiamkan selama 48 jam. Sabun akan mengangkat minyak yang menempel pada pori-pori butir batuan dan terus mengalir keluar sumur sebesar 50 bph. Sukses, dan formula fracking ini dipatenkan Farris pada tahun 1948, untuk meningkatkan produksi migas dengan cara mengalirkan larutan bertekanan tinggi (3400 psi) tersebut melalui lubang bor horizontal ke dalam formasi cebakan minyak. Lisensi eksklusif dikeluarkan untuk HOWCO, Halliburton Oil Well Cementing Company. Tahun 1955, sudah lebih dari 100.000 sumur bor dilakukan fracking.
Tahun 1956, penelitian supaya fracking lebih ekonomis, menemukan formula larutan baru, yaitu mengganti minyak mentah sebagai salah satu komponen dengan air dalam jumlah yang lebih besar. Dengan pengungalangan proses fracking lebih sering dan tekanan yang besar akan membentuk rekahan lebih banyak. Belum lagi perkembangan teknologi pompa dengan daya (horsepower) yang semakin besar, akan semakin meningkatkan efisiensi fracking.
Pemboran shale gas/oil dilakukan lurus ke dalam batuan (-90°) hingga lebih dari 3000 feet, kemudian berbelok sejajar permukaan tanah menembus batuan sumber migas, shale, hingga lebih dari 2000 mile. Cebakan minyak ‘conventional’, batuan pasir (sandstone), mempunyai porositas tinggi yang berisi minyak dan permeabilitas tinggi yang memungkinkan mengalirnya minyak melalui rongga antar butir batuan; dan berperilaku seperti balon. Bila batuan pasir ini ditembus oleh mata bor maka akan mengalirlah minyak, yang bertekanan tinggi di dalamnya, menuju lubang bor. Shale (serpih) termasuk kategori cebakan migas ‘unconventional’ bersifat padat (solid) dengan permeabilitas rendah, artinya rongga antar butir batuan tidak saling terhubung sehingga sulit untuk mengalirkan minyak, walaupun telah tertembus mata bor. Dengan demikian, supaya fluida dalam batuan shale bisa mengalir, diperlukan ‘jalan’ dengan cara membuat banyak rekahan. Fracking. Luas total permukaan rekahan dalam batuan shale akibat fracking ini bisa mencapai 100 juta feet persegi atau sekitar 30 gedung ousat perbelanjaan.
Analogi terbukanya pintu pesawat terbang di ketinggian 30.000 feet maka semua yang ada dalam kabin akan tersedot keluar pesawat karena perbedaan tekanan. Demikian juga perbedaan tekanan antara rongga dalam batuan dan rekahan, akan menyebabkan minyak atau gas yang ada dalam rongga antar batuan shale akan mengalir cepat keluar menuju rekahan-rekahan baru yang bisa berjarak beberapa feet. Ada kemungkinan setelah beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, sumur yang telah membuat rekahan ini akan tetap bisa mengalirkan minyak atau gas walaupun semakin berkurang, karena semakin jauh jarak pergerakan fluida dari tempat asalnya menuju sumur bor.
Sebuah lubang bor hanya mampu menyedot gas dan minyak dari tempat asalnya yang berjarak beberapa ratus feet saja, sehingga perlu ditambahkan pemboran lebih banyak disekitarnya untuk menambah luas permukaan rekahan dan luas jangkauan area fracking. Penelitian masih terus dilakukan oleh para ahli perminyakan untuk dapat melakukan lebih banyak rekahan dan berjarak lebih jauh dari fracking yang dilakukan sebuah lubang bor.
Isu Lingkungan
Seperti pada umumnya penggunaan ‘fossil fuel’ maka shale oil pun tak lepas dari kritik Perubahan Iklim, namun yang lebih khusus berhubungan dengan teknologi fracking adalah ancaman tercemarnya aquifer air, bocornya gas alam, gangguan bentang alam, polusi suara, polusi udara, terusirnya penduduk asli, banyaknya masyarakat pendatang dan ‘ghost town’.
Dalam beberapa bab di bagian akhir bukunya, khususnya yang berjudul ‘Celestia’, Russel banyak bercerita tentang berbagai keluhan warga Sullivan County, tentang keberadaan Chesapeake sebagai perusahaan migas yang banyak mengganggu penduduk dengan gencarnya penawaran sewa lahan untuk keperluan fracking. Kesan yang diperoleh Russel dari kunjungannya ke Sullivan County adlah bahwa semakin lama penduduk tinggal di sana, ada kecenderungan untuk semakin mudah menyewakan tanahnya untuk keperluan pemboran gas. Namun, kecenderungan ini sekarang berubah, bahkan terkesan seperti adanya penyesalan bahwa telah menyewakan tanahnya, termasuk orangtua Russel sendiri yang tinggal di sana. Perubahan kota kecil itu begitu cepat dan mengkhawatirkan penduduknya, khususnya jumlah pendatang yang begitu besar dalam waktu yang relatif pendek dirasakan akan dapat menguasai dan mengubah budaya dan kenyamanan komunitas penduduk asli, atau terasing di tanah sendiri.
Sullivan County adalah kota terkecil kedua di Pennsylvania, yang berpenduduk 6.100 keluarga. Berada di tengah pegunungan Endless Mountains, sebagai bagian pegunungan Appalachian. Rusa banyak berkeliaran dan beruang masih mudah dijumpai. Banyak pepohonan (jutaan pohon cherry, maple, ash dan oak) yang ditebang untuk keperluan ekspor sebagai bahan untuk lantai, furnitur dll. Industri kayu lokal menganggap ini sebagai hutan berkelanjutan, bukan untuk ditebang habis. Namun dengan adanya ‘ledakan’ bisnis shale gas, hutan harus banyak ditebang dan habitat rusa dan beruang yerpaksa harus berpindah tempat.
Perselisihan antara penduduk dengan perusahaan pemboran gas dimulai sejak usaha transaksi sewa lahan, karena dalam perundangan AS, siapapun pemilik lahan permukaan tanah adalah juga pemilik ‘mineral right’ yang ada di dalam bumi. Kekayaan cadangan gas di dalam tanah (Barnett shale atau Marcellus shale) menyebabkan para pengusaha pemboran gas akan berusaha keras untuk bisa mendapatkan sewa lahan di atas cebakan atau sumber gas berada. Harga yang ditawarkan bisa bergerak cepat dari $25 per acre menjadi $85 per acre dalam 6 bulan. Pada akhirnya, sering kali pemilik lahan ‘harus’ menyerah karena berbagai alasan, misalnya: tidak cukup punya dana untuk membayar pengacara, keputusan penduduk yang terpecah-belah karena penawaran harga yang dianggap cukup menarik oleh beberapa pihak, pemerintah daerah yang lebih mendukung investor, polusi suara rig, gangguan alat berat dan truk yang mondar-mandir di sekitar rumah, dll.
Alasan pemerintah federal mendukung investor untuk memproduksi shale gas, pada umumnya adalah: kota yang lebih ‘hidup’ karena multi-efek peningkatan ekonomi daerah, kemandirian energi, gas akan menggantikan batubara karena lebih ramah lingkungan dan peningkatan lapangan kerja. Keuntungan lain bagi penduduk yang menyewakan tanahnya pada tahun 2008 dan 2009 untuk fracking adalah, pemilik tanah akan menerima beberapa ribu dollar per acre, ditambah royalti hingga 25% dari gas yang diproduksi di bawah lahannya.
Semua ‘keuntungan’ itu menjadi nihil bila terjadi kebocoran gas hingga masuk ke dalam aquifer, yang airnya sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari. Kebocoran gas tersebut bisa terjadi bila proses sementasi rongga antara casing dengan batuan sekitar tidak sempurna, hingga masih menyisakan ruang yang bisa ditembus oleh gas dari sumbernya (rekahan hasil fracking).
Kritik
Russel Gold sebagai journalis (bukan ahli perminyakan) cukup berimbang dalam mengemukakan fakta dan opininya. Kelebihan dan kekurangan fracking dari sisi lingkungan, disampaikan secara proporsional dan berimbang dengan dukungan bukti dari masing-masing pihak, pendukung maupun pembencinya. Ini sangat berbeda dengan buku ‘This Changes Everything’ karya Naomi Klein, yang banyak bias ketika menjelaskan tentang fracking karena tujuan bukunya lebih berkepentingan dengan propaganda anti bahan bakar fossil.
Dari sisi penyajian, The Boom cukup memberikan pengetahuan tentang teknik fracking secara rinci bagi pembaca yang awam tentang teknik perminyakan, juga penjelasan resiko sosial dan lingkungan yang cukup tinggi bila tidak dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang sangat teliti dan hati-hati. Mengingat The Boom lebih diperuntukkan untuk menjelaskan tentang teknik fracking, maka sepertinya sejarah geologi dan terbentuknya minyak dan gas bumi kurang mendapat perhatian lebih rinci.
Sangat direkomendasikan bagi siapapun yang tertarik dengan dunia industri migas.
Ini tautan artikel yang bagus untuk mengingatkan bahwa Etika dalam hal apapun tetap penting jadi pijakan beraktifitas.
Praktek bisnis yang tidak mengikuti aturan2 dan kewajiban2 yang sudah menjadi ketentuan hukum positif pemerintah atau kelaziman bisnis yang berEtika, bisa berakibat tidak langgengnya bisnis itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh selain pelanggaran etika akan berhadapan dengan sangsi formal, didalam bisnis juga akan berakibat pada runtuhnya reputasi atau trust, baik secara eksternal maupun internal perusahaan.
Perilaku bisnis yang tidak berEtika ini secara eksternal akan menjatuhkan kredibilitas perusahaan, yang berakibat lanjut pada kekhawatiran rekanan bisnis terhadap kemungkinan akan terseret dalam kasus hukum atau dirugikan secara ekonomi; dan secara internal, akan terjadi hilangnya rasa hormat (respect) dari karyawan terhadap atasan (eksekutif) dan berakibat lanjut pada turunnya ethos kerja karyawan karena ketidak-hadiran panutan beretika dari pimpinannya.
Akan butuh waktu dan biaya besar untuk mengembalikan kepercayaan publik dan karyawan terhadap perbaikan kualitas etika bisnis perusahaan. Maka, sudah seharusnya hanya resiko keekonomianlah yang perlu menjadi tantangan dalam berbisnis, karena Etika dan hukum adalah bagian dari profesionalitas dan kepedulian sosial perusahaan, serta landasan yang tidak untuk ditawar, apalagi ditinggalkan, namun untuk dijalankan.
Menurutku, prinsip dasar korupsi adalah MENGAMBIL yang bukan haknya. Eh, ada yang protes, menurutnya korupsi adalah MENERIMA yang bukan haknya. Wah, lebih keras lagi rupanya, MENERIMA saja sudah korupsi, apalagi MENGAMBIL yang bukan haknya, pasti super korupsi .. hahaha.. tapi aku sepakat. Apapun kategorinya, apakah suap, gratifikasi, sumbangan sukarela, tanda terimakasih ataupun yang lainnya, sejauh yang dilakukan “menerima yang bukan haknya”, dalam arti yang lebih luas, kita anggap saja dulu perilaku semuanya ini sebagai ‘korupsi’.
Penyederhanaan arti korupsi ini perlu kita lakukan supaya dapat melihat lebih luas bahwa tindak korupsi ini bukanlah muncul secara tiba-tiba ketika seseorang menjadi pejabat tinggi atau ketika melihat tawaran suap bernilai milyaran rupiah atau hanya bila berhubungan dengan kerugian negara saja seperti disebutkan dalam ayat-ayat hukum tentang korupsi, atau masih banyak lagi.
Pernyataan ‘menerima yang bukan haknya’ itu secara tidak langsung menunjuk pada adanya kerugian bagi yang berhak, selain ada pihak yg diuntungkan tentunya. Nah, fenomena seperti ini jelas banyak terjadi di lingkungan kita, atau bahkan kita sendiri yang melakukannya. Contohnya banyak sekali, misalnya: korupsi jam kerja, menyerobot antrian, mengendarai sepeda motor di atas kaki-lima dan jembatan penyeberangan, mengendarai mobil/motor di jalur busway, mengendarai motor melawan arus, dan masih buanyaakk lagi. Jelas perilaku tersebut mengambil keuntungan diri sendiri dengan merugikan pihak lain yang berhak.
Dari contoh tersebut terlihat benang merah yang menghubungkan sikap koruptif dengan kekuasaan, kemauan dan kesempatan. Ancaman tertabrak motor adalah kekuatan (kekuasaan) yang dipergunakan para pengendara motor untuk mengusir para pejalan kaki di kakilima. Menerobos masuk/keluar jalur busway jelas karena asumsi kesempatan dan niat yang mengganggu/menghalangi antrian (hak) kendaraan lain di jalur umum dan menghalangi/memperlambat laju busway untuk kelancaran sendiri.
Melihat sedikit contoh di atas, bisa disimpulkan bahwa perilaku koruptif ini sebenarnya ada disemua tingkatan sosial, hanya nilai material dan tingkat sosial lelakunya sajalah yang membedakannya. Jadi, teriakan ‘anti korupsi’ tidak cukup dialamatkan terhadap pejabat pemerintah belaka, namun juga kepada seluruh lapisan masyarakat.
Mari teriakkan ‘anti korupsi’ dengan keyakinan bahwa kitapun sudah bebas dari perilaku koruptif.
Tahun 1992 berbagai negara menghadiri United Nations Earth Summit di Rio, Brazil, untuk menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah dokumen yang akan menjadi dasar bagi semua perundingan tingkat dunia tentang perubahan iklim. Pada tahun yang sama, North American Free Trade Aggrement juga ditandatangani, dilanjutkan dengan perundingan WTO yang semakin mantap posisinya sebagai institusi perdagangan dunia yang wajib dipatuhi para anggotanya. Tahun 1997, Kyoto Protocol, sebagai kesepakatan bersama negara-negara di dunia untuk mengurangi emissi, mulai diadopsi. Dua hal besar inilah yang saat ini sedang terus berjalan secara paralel, perdagangan antar negara yang semakin tak ‘berbatas’ dengan produksi emissi yang melewati batas-batas geografi dan komitmen pengurangan emissi oleh negara-negara di dunia. Prioritas pilihan yang lebih mengutamakan tidakan pada pada Pengurangan Emissi (Perubahan Iklim) adalah tujuan dari buku ini. Kompilasi informasi dari penelitian, fakta di lapangan, opini para penggiat Perubahan Iklim, hasil perundingan tingkat dunia dalam hal perubahan iklim dan Perdagangan Dunia serta opini Klein sendiri yang mengarah pada perlunya tindakan pengurangan emissi sehingga tidak menyebabkan temperatur udara melebihi 2°C, memenuhi buku ini.
Keadilan Global tentang perubahan iklim ini masih menjadi isu besar di berbagai forum perundingan pembiayaan pengurangan emisi CO2. Negara-negara industrialis yang sudah menikmati hasil dari penggunaan bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri sudah seharusnya menanggung beban kewajiban jauh lebih besar daripada negara-negara sedang berkembang atau miskin.
‘Buy Local’ dan ‘Hire Local’ adalah slogan Ontario, Canada yang sangat ampuh ditahun 2012 ketika sukses mengurangi pembangkit listrik bertenaga batubara (sisa satu powerplant) dan beralih ke solar cell, untuk mendukung Green Energy. Sayangnya, regulasi WTO berdasarkan konsep ‘national treatment’ menganggap Canada melakukan ‘proteksi’ sehingga ‘buy local’ terpaksa harus kalah dengan produk import dari China. Dari sisi penggiat Perubahan Iklim, aturan-aturan WTO jelas mengalahkan usaha PI untuk membatasi kenaikan temperatur udara tidak meningkat lebih dari 2°C.
Regulasi kerjasama perdagangan dunia ataupun bilateral masih banyak dipermainkan oleh negara2 maju. AS melakukan protes terhadap India dan China karena barang2 produksinya tidak bisa masuk ke negara2 tersebut berhubung adanya proteksi. ‘Tar sand’ Canada yang dianggap tidak ramah lingkungan oleh para pecinta lingkungan dan tidak layak ekspor ternyata bisa ‘diatur’ kerjasama perdagangannya antara Uni Eropa dan Canada. Demikian juga dengan ‘shale oil’ AS yang diproduksi dengan cara ‘fracking’ dan dianggap tidak ramah lingkungan inipun lolos untuk keperluan ekspor ke Uni Eropa. Belum lagi, upaya industri migas AS untuk melindungi kepentingannya melalui lobi-lobi politik di DPS/Senat.
Sistem akutansi emissi saat ini dibangun sebelum era perdagangan bebas, sehingga masih belum banyak menunjukkan keadilan global, dengan tidak memperhitungkan sama sekali banyaknya perubahan berkenaan dengan bagaimana dan dimana barang-barang itu diproduksi. Lalu, siapakah yang bertanggungjawab terhadap emissi yang diakibatkannya, lokasi fabrikasi ataukah negara tempat pemilik berada; kemudian bagaimana produk yang sudah beralih tempat melalui transportasi darat dan laut yang juga banyak menyumbang emissi karbon akibat bahan bakar fosil yang dipergunakannya? Masih banyak hal yang belum selesai.
Industri ekstraktif bukanlah satu-satunya target penyebab polusi yang harus membayar (polluter pays principle). Militer AS ternyata pengkonsumsi bahan bakar fosil terbesar di dunia. Pada tahun 2011, Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa paling sedikit 5,6 juta metrik ton CO2 ekivalen ke atmosfer, lebih banyak dari total emissi Exxon dan Shell di AS.
Walaupun beberapa penghasil minyak terbesar dunia sudahrebrandingdengan slogan renewable energy (BP, Chevron, Shell, Exxon) namun kenyataannya hanya mengeluarkan biaya sangat minimum untuk keperluan produksi energi bersih, bahkan Shell dan Chevron hanya investasi 2,5% dari total biaya untuk itu.
Menurut Klein, dari hasil studi menunjukkan bahwa emisi methan yang dihasilkan oleh proses fracking sedikitnya 30% lebih tinggi daripada emisi methan yang dihasilkan oleh gas konvensional. Ini karena proses fracking bisa menyebabkan kebocoran di tahap produksi, pengilangan, penyimpanan dan distribusi. Methan adalah gas rumah kaca yang sangat berbahaya karena 34 kali lebih efektif dalam menjebak panas (rumah kaca) dibanding CO2.
Tahun 2013, industri migas AS menghabiskan hampir $400.000 per hari untuk keperluan lobby Congress dan pejabat pemerintah. Juga membelanjakan $73 Juta dalam kampanye Federal dan donasi politik selama pemilihan umum 2012.
Perdagangan Polusi
Ketika berbagai negara sedang melakukan perundingan tentang kesepakatan iklim internasional, yang kemudian menjadi Kyoto Protocol, ada banyak konsensus tentang persetujuan yang harus dicapai. Yang kaya, atau negara-negara industri harus bertanggungjawab atas emissi yang telah dilakukannya selama ini dengan cara membatasi jumlah emissinya dalam jumlah angka yang pasti dan kemudian secara sistematik mulai menguranginya. Uni Eropa dan negara-negara sedang berkembang berasumsi bahwa mereka harus segera mempersiapkan diri untuk membuat regulasi yang ketat di negara masing-masing, misalnya dengan membuat pajak karbon dan mulai antisipasi terhadap energi terbarukan.
Pemerintahan Clinton justru memberikan proposal alternatif, yaitu membuat model sistem perdagangan karbon internasional yang dapat membatasi dan memperdagangkan karbon untuk mengatasi hujan asam. Artinya, alih-alih secara langsung mewajibkan semua negara industri untuk mengurangi emissi gas rumah kaca dalam jumlah yang pasti, justru memungkinkan untuk melakukan polusi lebih banyak dengan cara membeli ‘perangkap’ emissi dari negara-negara yang tidak membutuhkannya. Jelas, AS sangat berkepentingan dan antusias dengan proposal ini.
Sikap AS ini sangat mengecewakan Uni Eropa, khususnya Perancis dimana Dominique Voynet selaku Men LH menyebut proposal AS ini ‘radically antagonistic’, yang menghalangi upaya penanggulangan krisis perubahan iklim. Demikian juga dengan sikap Angela Merkel, yang kemudian menjadi Men LH Jerman, menganggap proposal AS ini hanya akan menguntungkan negara-negara industri.
Konsekwensi dari regulasi global tentang Perdagangan Karbon, bahwa walaupun sebuah pabrik yang dianggap sebagai sumber polusi udara yang tinggi sekalipun, bila telah menggunakan suatu peralatan atau rekayasa teknik sehingga mampu mencegah emissi ke atmosfer maka dapat diklasifikasikan sebagai ‘green development’ dalam regulasi badan PBB.
Beberapa bukti di India dan Tiongkok menunjukkan bahwa industricoolantmemproduksi produk sampingan secara sengaja, berupa gas yang tidak ramah lingkungan, HFC-23. Dengan menambahkan beberapa peralatan murah maka HFC-23 dapat ditangkap sehingga tidak mencemari udara. Mereka telah menghasilkan puluhan juta dollar dari kredit emisi setiap tahun.
Konsekwensi lain dari adanya Perdagangan Karbon adalah munculnya pelanggaran HAM terhadap para petani tradisional atau masyarakat adat yang tidak lagi bisa mencari kehidupan di hutan seperti sebelumnya, dengan alasan hutan telah dicadangkan sebagai perangkap karbon dalam sistem Perdagangan Karbon global. Ini banyak terjadi di Brazil, bahkan isunya sudah mulai juga terjadi di beberapa perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Korban pembunuhanpun sudah terjadi di Honduras pada tahun 2013 karena adanya larangan berkebun di wilayah adatnya berhubung sudah dicadangkan untuk mendapatkan Kredit Karbon.
Dalam upayanya untuk melindungi hak para perusahaan multi nasional untuk dapat melakukan polusi ke atmosfer, berakibat pada hilangnya kesempatan para petani untuk dapat hidup dalam damai.
‘It’s easier to pick the fruit, than dig up the roots’ adalah ungkapan yg tetap untuk menyatakan bahwa daripada menghentikan upaya para pengusaha multi nasional melakukan polusi udara melalui para politisi negara industri, lebih mudah melakukan larangan terhadap masyarakat adat dan lemah di negara sedang berkembang atau miskin untuk mencari penghidupan di wilayahnya (low-hanging fruit).
Kesimpulan Klein
Kapitalisme Global telah menyebabkan pengurasan (deplesi) sumberdaya alam . Berbagai protes dari kelompok aktifis lingkungan, masyarakat adat dan gerakan masyarakat sipil lainnya, menjadi hambatan mesin ekonomi yang cenderung tumbuh cepat tak terkontrol.
Hanya gerakan massa yang dapat menyelamatkan kita, karena kita tahu kemana arah sistem yang ada sekarang ini menuju. Kita juga tahu bagaimana sistem saat ini akan menyebabkan bencana, dengan gejala pengambilan keuntungan besar-besaran, peningkatan barbarisme yang signifikan dan pemisahan antara yang kalah dengan pemenangnya. Harus ada suatu kekuatan penyeimbang, yaitu kekuatan massa yang terus membanjiri dan mampu menutup jalan ke arah bencana global dan mengalihkannya ke arah yang jauh lebih aman. Bila hal ini terjadi maka ‘this changes everything’.
Mengingat emisi terus bertambah, setiap tahun gas rumah kaca masih terus kita produksi lebih banyak dari tahun sebelumnya sehingga akan mempertinggi suhu permukaan bumi bagi generasi mendatang…
Kritik
Ada dua hal utama yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini yaitu:
Ketidakadilan global yang lebih dikuasai oleh negara maju dengan menggunakan alat regulasi perdagangan dunia (WTO dan sejenisnya) dan perdagangan antar negara (B2B).
Perubahan Iklim yang disebabkan oleh industri ekstraktif.
Dari dua hal tersebut di atas, Klein berpendapat bahwa negara maju sangat terlibat sebagai penyebab kedua hal tersebut terjadi; sedangkan negara sedang berkembang yang telah dirugikan dalam hal sistem pembayaran Kredit Karbon ternyata juga terlibat dalam menyumbang emissi CO2 melalui industri ekstraktifnya. Dengan sistem Kredit Karbon, negara miskin dan sedang berkembang yang kaya hutan tropis, hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah emissi yang diproduksi negara maju.
Klein tidak konsisten dalam menulis judul dengan isi bukunya. Dalam suatu video diskusi di Vancouver Institute, Canada tentang buku ini, ada suatu pertanyaan muncul dari peserta diskusi: “kalau bukan kapitalis, lalu apa pilihannya?”. Klein tertawa dan menjawab bahwa sosialispun bukan pilihan karena banyak negara di Amerika Latin dan Russia juga masih didominasi industri ekstraktif. Dan jawaban ini juga tertulis dalam bukunya. Ini menimbulkan dugaan bahwa yang dibidik oleh Klein sebenarnya adalah Kapitalisme, sedangkan alatnya adalah Ekstraktifisme berslogan Climate Change. Mengingat industri ekstraktif sudah melewati batas ideologi, maka menjadi absurd bila kecaman hanya diarahkan pada kapitalisme. China dan India yang bukan berideologi kapitalisme bahkan diramalkan oleh Geoff Hiskock, dalam bukunya ‘Earth Wars’, sebagai ‘pemenang’ kepemilikan sumberdaya alam mineral dan batubara dunia di tahun 2050. Buku Klein sebelumnya ‘Shock Doctrine’ juga memusuhi kapitalisme, maka tidak heran bila buku inipun punya agenda yang sama. Climate Change dalam buku ini memang berhubungan dengan industri ekstraktif, tapi tidak secara khusus menunjukkan adanya korelasi dengan hanya negara kapitalis. Atau, negara-negara yang dominan dengan industri ekstraktif memang selama ini sudah bersifat kapitalistik?
‘This changes everything’ bukanlah buku sains melainkan kompilasi informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan Climate Changes, baik dari sumber penelitian sains, bisnis, sosial maupun opini penulisnya. Alih-alih menuliskan tentang informasi sains yang akurat tentang proses atau fakta geologi dari fracking/shale gas yang dianggap sebagai penyumbang besar emissi CO2, atau formula perhitungan perdagangan karbon antar negara yang potensial menyebabkan ketidakadilan global; Klein malah banyak menuliskan ajakan dengan kalimat yang tegas untuk melakukan aksi anti industri ekstraktif, yang dinyatakan dengan jelas di bagian Kesimpulan dalam bukunya.
Untuk menambah pengetahuan tentang isu Perubahan Iklim dari sisi aktifis, buku ini layak baca. Namun, untuk mengetahui secara teknis tentang Perubahan Iklim dan berbagai aspek turunannya, seperti REDD+, Kredit Karbon, sangat kurang membantu. Apalagi tentangfracking oil,tar sandsdan industri ekstraktif, sangat kurang informasinya bahkan cenderung tertutup atau tidak digali lebih dalam.
Dalam konteks bisnis, yang lebih menyedihkan dari 27 hal tersebut, dan banyak terjadi, adalah bila bisnis dibangun hanya untuk melancarkan niatan awal menjalankan Bad Things, dengan maksud untung besar secara cepat tanpa etika bisnis semestinya.
Tunnel vision
Single-minded focus on setting and achieving the goals can blind people to ethical concerns.
The power of names
The use of euphemisms for questionable practices can free them of their moral connotations, making them seem more acceptable.
Social bond theory
Employees can begin to feel more like numbers or cogs in a machine than individuals
The Galatea effect
Self image determines behavior. People who have a strong sense of themselves as individuals are less likely to do unethical things. Alternatively, employees who see themselves as determined by their environment are more likely to bend the rules,as they feel less individually responsible.
Time pressure
When encouraged to go as fast as possible, 90 percent ignored the man.
Acceptance of small theft
Small thefts are ignored
Self-serving bias
Most think they’re smarter and more ethical than those around them
Conspicuous consumption
The mere presence of money makes people more selfish
The Pygmalion effect
The way that people are seen and treated influences the way they act.
Environmental influence
Employees reflect their environment
Reactance theory
People resent threats to their freedom, and they often manifest that resistance by flouting certain rules.
Obedience to authority
when people see themselves as an instrument of another’s wishes, they feel less responsible
The blinding effect of power
The blinding effect of power
Broken window theory
When people see disorder or disorganization, they assume there is no real authority. In that environment, their threshold to overstepping legal and moral boundaries is lower.
The free-rider problem
If total damage is limited, people feel as though they can take more liberties.
The foot in the door
When a figure in authority asks someone to skirt the rules, they want to seem like a team player. In that frame of mind, they may be willing to do increasingly unethical things.
Winner take-all competition
In situations where there is a clearly-defined winner and loser, people are more likely to cheat. They desperately want to avoid the financial and reputational costs of losing.
Cognitive dissonance and rationalization
The bigger the dissonance, the larger the rationalization, and the longer it lasts, the less immoral it seems.
Problematic punishments
Rather than being about whether something is right or wrong, it becomes an economic calculation about the likelihood of getting caught versus the potential fine.
Lack of sleep and hypoglycemia
People who are hungry or tired have less self control
Escalating commitment
The feeling that there’s no way out.
The induction mechanism
As the unethical becomes routine, the extremely unethical, once unthinkable, enters the realm of possibility.
Market and shareholder pressure
“As long as the music is playing, you’ve got to get up and dance.”
The compensation effect
Sometimes people, having been moral and forthright in their dealings for a long time, feel as if they have banked up some kind of “ethical credit,” which they may use to justify immoral behavior in the future.
Negative consequences of transparency
Experiments examining the publication of conflicts of interest have found a perverse effect.
Bad communication
Rather than sounding out ideas that border on unethical, people push and test their limits.
The pressure to conform
In order to fit in with a group, people do things they might not otherwise.
Sub Judul: The Great Crisis and The Future of Growth
Penulis: James K. Galbraith
Tebal buku: 304 halaman
Penerbit: Simon & Schuster
Tahun: 2014
Judul beberapa buku yang menjadi acuan penulisan tentang krisis ekonomi 2008, seperti Keynes, Stiglitz, Prugman dan banyak lagi, juga beberapa institusi resmi pemerintah AS yang telah melakukan investigasi seperti Financial Crisis Inquiry Comission, Congressional Oversight Panel dll. mewarnai bagian depan buku ini dengan kesimpulan awal bahwa teori-teori dalam buku-buku tersebut tidak memberikan penjelasan yang gamblang tentang apa yang terjadi sebenarnya dengan berbagai krisis finansial global, mengapa bisa terjadi dan bagaimana mencegah serta mengatasinya. Pada umumnya, apa yang dilakukan para ekonom adalah berusaha menafsirkan kasus tersebut dalam berbagai bentuk fenomena atau model yang berbeda, seperti Black Swans, Fat Tails, Bubbles dsb.
Black Swans
Fenomena Black Swans bisa jadi merupakan model penjelasan yang paling sederhana tentang krisis besar ini (Great Crisis). Prinsip model Black Swans ini adalah adanya asumsi statistika probabilitas bahwa setiap angsa adalah putih, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga angsa berwarna hitam, walaupun jarang. Kesalahan memprediksi sebuah kejadian yang jarang terjadi, bukanlah tanda kegagalan keilmuan. Model ini bisa dipergunakan untuk mempertahankan diri dari suatu argumen bahwa “tak ada yang bisa memprediksi” terjadinya krisis 2008, karena bisa jadi ada yang bisa memprediksi saat itu. Masalahnya, dalam kasus krisis finansial dalam lingkup global, kejadian seperti ini bukan hal yang jarang terjadi sehingga model Black Swans tidak cukup tepat digunakan. Sejak pertengahan tahun 1990an, krisis finansial juga terjadi di Amerika Latin, Afrika, Russia, Islandia, hampir semua negara-negara Asia, AS dan Zona Eropa.
Fat Tails
Ini adalah model yang menegaskan bahwa peristiwa ekstrim bukanlah hal yang jarang terjadi. Menurut Galbraith, ada kecenderungan bahwa para pembuat model statistik seringkali mengasumsikan distribusi kesalahan adalah Distribusi Normal atau Gaussian atau Bell Shape, sehingga frekuensi relatif dari krisis atau kejadian ekstrim jarang terjadi, atau bila menggunakan skala kehidupan manusia, maka kejadian ekstrim tersebut bisa dianggap bakal terjadi hanya sekali dalam 1000 tahun. Namun kenyataannya, krisis bisa lebih sering terjadi daripada perkiraan. Esensi Fat Tails adalah kita tidak dapat mengukurnya dan hanya bisa mengetahui bahwa krisis terjadi, dan resiko tidak dapat diperkirakan secara akurat dengan perhitungan berdasar kurva Normal. Seperti halnya Bl ack Swans, ketidak mampuan model Fat Tails memperkirakan kejadian krisis bukan berarti model ini salah. Pesan model ini, kita harus siap menghadapi hal-hal buruk yang tidak terduga, namun bisa terjadi walaupun tetap tidak mampu memprediksi kapan akan terjadi. Bahkan kita tidak dapat mengantisipasi arah penyimpangan (deviasi) yang akan terjadi, baik naik maupun turun.
Bubbles
Bubbles atau gelembung adalah fenomena fisika dengan berbagai karakter kepastiannya. Dia mengembang secara perlahan dan meletus dengan cepat mengikuti hukum-hukum fisika. Fenomena bubbles ini sering dipergunakan para ekonom untuk mengamati dinamika finansial, dengan harapan dapat mencegah terjadinya krisis. Konsisten dengan karakter gelembung yang pasti akan pecah, maka menurut Galbraith, Alan Greenspan juga sependapat bahwa pemangku otoritas tidak perlu untuk memprediksi, identifikasi, mencegah atau mengempiskan gelembung, namun hanya perlu merapikan saja akibat pecahnya gelembung tersebut. Dan semuanya akan kembali pada situasi sebelum fenomena gelembung itu terjadi.
Tiga model tersebut, – Black Swans, Fat Tails dan Bubbles -, beranggapan bahwa ada situasi Normal tanpa krisis dalam sistem ekonomi. Situasi Normal ini bisa terganggu, namun tidak terduga atau tidak dalam jangkauan kemampuan untuk mencegahnya. Jadi, hanya bisa dijelaskan setelah krisis itu terjadi dan tidak ada jaminan bahwa suatu usaha perbaikan akan dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian hari. Galbraith menganggap model-model tersebut berbahaya, karena di dalamnya ada keyakinan bahwa setelah krisis selesai, kondisi ekonomi akan kembali Normal. Cenderung fatalis.
Berbeda dengan tiga model di atas, berikut ini adalah model Big Government dan Inequality, yang tidak lagi bicara tentang kondisi krisis berdasar probabilitas penyimpangan dari Normalitas, namun lebih mengacu pada teori ekonomi, yang keduanya menjelaskan tentang adanya prinsip dan kondisi-kondisi yang terukur sebagai kendala atau hambatan struktural untuk kembali ke kondisi Normal.
Big Government
Pendapat konservatif menyatakan bahwa pemerintah AS dibidang kebijakan perumahan semestinya bertanggungjawab terhadap Great Crisis. Keterlibatan Fannie Mae dan Freddie Mac dianggap menyebabkan moral hazard (perilaku yang beresiko karena memberikan kemudahan kredit yang tidak semestinya) dan adverse selection (pemilihan debitor yang tidak hati-hati). Asuransi deposit pemerintah dan doktrin ‘to big too fail’ juga punya andil munculnya berbagai aturan dan keputusan yang memudahkan kredit beresiko ini. Mereka sependapat terhadap anggapan bahwa bila pemerintah sudah memberikan toleransi terhadap kegagalan bank-bank besar, maka kemandirian pasar akan tidak terganggu, bank akan lebih berhati-hati dan krisis tidak akan terjadi. Bukti menunjukkan bahwa pemerintah AS memang melakukan intervensi terhadap pasar perumahan sehingga keluarga berpenghasilan rendah mampu untuk memilikinya. Jasa keuangan Fannie Mae dan Freddie Mac muncul sebagai ‘jembatan’ untuk mendanai kredit perumahan non-tradisional (non-traditional morgages). Non-tradisional ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kredit perumahan yang semakin mudah untuk diperoleh dengan banyak mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam memilih debitor, bahkan bila perlu tanpa uang muka. Dan memang runtuhlah sistem finansial AS. (Skema bisnis subprime morgages yang menyebabkan krisis finansial global ini bisa dilihat di www.youtube.com ).
Inequality
Apakah semakin tingginya kesenjangan ekonomi dapat menyebabkan krisis finansial?
Raghuram Rajan dalam bukunya ‘ Fault Lines‘ menulis bahwa pendapatan yang tak bertambah baik setelah bertahun-tahun bekerja, akan menyebabkan frustrasi massa, apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian kecil (1%?) justru semakin kaya. Hutang akhirnya menjadi solusi dan tindakan ini justru disambut oleh munculnya jasa finansial yang memberi ‘bantuan’ berupa kredit dengan berbagai kemudahan mendapatkannya tanpa kehati-hatian dan ‘didukung’ oleh kebijakan dan pengawasan pemerintah yang sangat longgar. Krisis mulai muncul bila hutang tak terbayarkan dan jelas disini bahwa inequality punya andil besar terjadinya Great Crisis.
Galbraith menuangkan idenya tentang kegagalan sistem ekonomi AS ini didahului dengan Pendahuluan, kemudian tiga bab utama, berturut-turut yaitu tentang optimisme pertumbuhan berkelanjutan, berbagai hal penyebab gagalnya pertumbuhan ekonomi dan pesimisme terhadap kembalinya situasi Normal; dan terakhir adalah Penutup, tentang runtuhnya ekonomi Uni Soviet.
Bagian 1: Masa OptimismePertumbuhan Berkelanjutan
Untuk mengerti sepenuhnya mengapa Great Crisis ini terjadi, perlu mempelajari sejarah ekonominya. Doktrin ekonomi AS diturunkan dari perkembangan prinsip-prinsip ekonomi sejak selesainya PDII dilanjutkan dengan Perang Dingin dan kemudian muncul dari Cambridge, Massachusetts, dan Chicago, Illinois.
Prinsip utama yang dianut para ekonom tersebut adalah Pertumbuhan Ekonomi (Growth), yang dipercaya sebagai solusi semua masalah ekonomi, khususnya untuk masalah kemiskinan dan pengangguran. Sehingga, tugas utama pemerintah selanjutnya adalah merealisasikan pertumbuhan, yang dalam jangka panjang akan bergantung pada tiga faktor utama, yaitu pertumbuhan penduduk, perubahan teknologi dan tabungan (saving). Mengingat bahwa populasi dan teknologi adalah faktor eksternal, maka desain model pertumbuhan hanya diarahkan untuk menyelesaikan satu variabel saja, yaitu suku bunga tabungan (dan investasi).
Berdasarkan relasi antara Waktu terhadap Tabungan dan Investasi di atas, Walt W. Rostow dalam konsepnya Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi (Stages of Economic Growth), menyatakan bahwa setiap bangsa, setelah melewati tahap tradisional, akan mampu mencapai tahap terakhir, yaitu masyarakat konsumsi tinggi. Pada tahap tertinggi tersebut, kapitalisme sudah bisa ‘ditaklukkan’ oleh demokrasi sosial dan negara kesejahteraan, bahkan mampu mencapai semua yang dicita-citakan oleh komunisme. Namun, konsep tersebut sebenarnya hanya memperdulikan dua variabel utama yaitu Kapital dan Buruh, tanpa memperhitungkan Sumber Daya Alam sebagai bahan mentah yang diolah untuk menjadi hasil produksi. Simon Kuznets menawarkan analisis yang lebih realistis berdasarkan sejarah perkembangan industri di AS dan Inggris, bahwa kesenjangan (inequality) akan meningkat pada masa transisi dari pertanian ke tahap industri, namun kemudian akan turun lagi dengan tumbuhnya kekuatan kelas pekerja dan kelas menengah serta negara kesejahteraan demokrasi sosial.
Ekonomi Baru (the New Economics), – pasca perang ( postwar) dan pasca Keynes -, menegaskan ulang bahwa pemerintah bertanggunggjawab untuk mengurangi tingkat pengangguran sampai pada tingkat yang moderat (full employment), yaitu semua lapangan kerja dapat terisi penuh oleh para pencari kerja (angkatan kerja). Ide-ide Keynes sudah banyak diaplikasikan pada era New Deal dan PD2. Era Depression telah membuktikan bahwa kurangnya pengelolaan (management) ekonomi yang baik sangat tidak bisa ditoleransi.
Pada jaman pemerintahan John F. Kennedy (1960), untuk pertama kalinya dinyatakan bahwa ekonomi adalah sistem kelola. Untuk itu, pemerintah perlu menempatkan para pimpinan yang bertanggungjawab dengan target kinerja utama adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi. Paul Samuelson dan Robert Solow sebagai penasihat ekonomi presiden Kennedy, ditahun 1960 mulai memperkenalkan ‘kurva Philips’ untuk menunjukkan pillihan putusan yang harus diambil, dimana penambahan tenaga kerja akan berakibat pada kenaikan inflasi. Namun, seringkali kondisi eksternal dapat merubah semuanya. Perang Vietnam, juga kondisi Jepang dan Eropa yang mulai rekonstruksi, serta AS yang tidak lagi dalam kondisi surplus perdagangan dunia dan juga tidak lagi dominan dalam hal manufaktur, membuat para peneliti berkesimpulan bahwa Model Pertumbuhan Tetap (the stady-state growth) adalah mitos, karena masalah ekonomi tetap tak terselesaikan.
Masa resesi 70an
Pada tahun 1980an muncul suatu pendapat ekonomi yang sangat dominan yaitu bahwa untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi mensyaratkan pemerintah untuk tidak terlibat. Dua hal yang mengganggu kebijakan ini adalah produksi minyak domestik AS telah mencapai puncaknya dan Resesi Ekonomi 1970.
Sumber Daya Alam, bahan bakar fosil, dan Perubahan Iklim yang selama tahun 1970an tidak dianggap sebagai variabel Perumbuhan Ekonomi ternyata menjadi faktor penting terjadinya Great Financial Crisis. Saat itu AS sedang dalam situasi perang Vietnam dan minyak hanya dianggap sebagai komiditi biasa saja. Dalam sistem akutansi nasional, minyak bukanlah bagian dominan dalam aktifitas ekonomi, walaupun sulit menemukan bahwa suatu aktifitas ekonomi yang tidak melibatkan kebutuhan akan minyak. Tercapainya puncak produksi minyak domestik tidak berarti AS akan mengalami krisis minyak, melainkan setengah dari cadangan minyak AS yang dapat diproduksi secara konvensional telah habis dan tersisa cadangan inkonvensional (di Alaska, Teluk Mexico, Laut dalam, Shale oil dll.) yang hanya bisa diproduksi dengan biaya yang jauh lebih mahal.
Dengan menurunnya produksi minyak konvensional nasional maka kebutuhan AS akan minyak dipasok dari luar negeri, dimana harga minyak tidak lagi ditentukan oleh otoritas pemerintah AS, melainkan harus dibayar dengan harga yang ditentukan oleh pihak lain, dan uang mulai mengalir keluar. Dan kesulitan ekonomi semakin terasa ketika terjadi lonjakan harga minyak dunia. Posisi pertumbuhan ekonomi gobal telah bergeser ke negara-negara penghasil minyak (khususnya Amerika Latin), yang bermaksud untuk meminjam uang dari bank-bank komersial.
Resesi ekonomi 1970 tidak sepenuhnya berhubungan dengan tercapainya puncak produksi minyak AS tapi lebih karena kebijakan kontraksi ekonomi akibat perang Vietnam. Bunga bank dinaikkan untuk maksud memerangi inflasi, namun produksi menjadi turun dan pengangguran meningkat.
Ini semua mengingatkan untuk mempertimbangkan lagi tentang perlu-tidaknya konsep pertumbuhan berkelanjutan. Mungkin saja bahwa gejala kekacauan ekonomi 1970an bukanlah hanya jeda sejenak karena adanya goncangan, pengelolaan ekonomi yang buruk dan kesalahan-kesalahan kebijakan, tetapi sebaliknya, dalam hal tertentu, ini merupakan pertanda bahwa kesulitan ekonomi dunia yang akan kita hadapi bukanlah hal yang mudah untuk dihindari.
Delusi
Bernanke sebagai Gubernur Bank Central secara resmi menyatakan bahwa dirinya dan para ekonom tidak dapat menduga akan terjadinya krisis finansial 2008, karena ini adalah bencana ekonomi yang disebabkan oleh gangguan dari luar sistem, atau peristiwa diluar bidang teori ekonomi (beyond the scope of the theory). Ketika 2008 krisis finansial mulai melanda AS, pernyataan umum “tidak satupun ekonom dapat mengetahui sebelumnya” menyebar ke Washington dan para banker New York dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Sehingga, bila anda adalah ekonom yang mampu memprediksi krisis ini, maka anda dengan sendirinya dianggap bukan bagian dari kelompok ekonom arus utama dan tak layak untuk dipertimbangkan.
Berbeda tapi tetap sama
Paul Krugman membagi kelompok ekonom menjadi dua group besar, yaitu saltwater atau New Classicals dan freshwater atau New Keynesians, meskipun masing-masing tidak dapat dianggap sepenuhnya sebagai Classical atau Keynesian. Yang pertama lebih ke mahzab akademis Chicago school dan MIT school, sedangkan yang lain ke arah Harvard, Yale, Priceton, Berkeley dan Standford. Masing-masing turu nan dari pemikiran yang berbeda, yaitu Milton Friedman dan Paul Samuelson.
Dengan sinis Krugman berpendapat bahwa perbedaan ini hanyalah karena keinginan masing-masing kelompok ekonom untuk menguasai semua bidang kajian ekonomi, berdasarkan pendekatan intelektual, supaya dapat kesempatan untuk memamerkan kecanggihan matematika mereka.
Para ekonom menggunakan matematika sebagai alat kecantikan untuk menunjukkan betapa sempurnanya sistem pasar (kapitalisme), bukan untuk mengklarifikasi kebenaran sistem, tapi untuk mengintimidasi berdasar ‘keindahan’ matematika (bukan kebenaran). Sebaliknya, Prof. Ricardo J. Caballero dari MIT menyatakan bahwa model matematika ini dibuat sebagai representasi kondisi ekonomi dunia, dinamakan model ‘dynamic stochastic general equilibrium approach‘. Namun Krugman tetap menganggapnya sebagai model yang tidak ‘membumi’, jauh dari kenyataan karena banyak penyerdehanaan asumsi dalam penentuan parameternya.
Sementara para penganut teori pertumbuhan neoklasik meyakini keseimbangan berkelanjutan sebagai dasar pijakan, mashab Marxian justru menganggap kapitalisme tidaklah stabil dan krisis sudah pasti tak terhindarkan. Galbraith menganggap bahwa teori Marx mempunyai ‘insting’ yang lebih bagus daripada mashab arus utama, bahwa kapitalisme tidak stabil.
Kelompok Pinggiran
Munculnya krisis finansial ini sebenarnya tidak bisa diduga oleh kelompok saltwater dan freshwater, bahkan juga oleh Marx-water, tapi ternyata ada yang bisa memprediksinya, backwater. Mereka bukan kelompok ekonom profesional yang terkenal, namun sudah melakukan kajian tentang kelemahan dan instabilitas ilmu ekonomi yang ada. Hasil kajiannya hanya muncul di journal-journal sekunder atau blog belaka. Kelompok pinggiran (backwater) ini seringkali dianggap “bukan” ahli ekonomi oleh para ekonom arus utama hanya karena pemikiran yang berbeda dengan konsep mereka.
Dean Baker dari the Center for Economic and Policy Research, Washington, di tahun 2002 sudah memprediksi akan terjadinya “housing bubble” ketika para ekonom akedemisi masih belum menduganya. Mencegah terjadinya bubbles membutuhkan metoda untuk mendeteksi perubahannya. Indikator-indikator harga saham (spot) yang dipergunakan biasanya dalam bentuk perbandingan dari dua pengukuran variabel yang berbeda, yang mengalami perubahan secara tajam dari keadaan normal (biasanya), pada waktu tertentu. Misalnya indikator rasio price/earning (P/E) pada krisis 1990an atau rasio price/rental dalam pasar perumahan pada krisis 2008.
Bagian 2: Akhir Pertumbuhan
Efek Jerat
Pada komoditi buah-buahan, bila terjadi kelangkaan apel, sebagai contoh, yang berakibat harga membubung naik, konsumer akan beralih ke buah lainnya yang masih terjangkau harganya. Kelangkaan sumber daya alam minyak, tidak akan mengakibatkan harga melambung semakin tinggi tanpa batas, melainkan akan terjadi siklus perubahan harga minyak dan aktifitas ekonominya. Harga minyak akan terus naik yang dipicu oleh spekulasi, hingga kebutuhan konsumer berhenti. Harga akan kembali turun hingga konsumer mulai tumbuh lagi. Namun, begitu kebutuhan konsumer mulai tumbuh, maka harga juga mulai naik lagi. Siklus ini membuat rasa tidak aman pada siapapun, baik produsen maupun konsumen karena ketidakpastian harga. Kegelisahan ini berakibat lanjut pada keraguan untuk melakukan investasi (misal pembangunan kilang) karena tidak yakin bahwa harga minyak yang tinggi tersebut akan berlangsung lama. Dan memang kelangkaan minyak akan cenderung lama hingga teknologi baru yang lebih ekonomis bisa diaplikasikan untuk dapat memproduksi unconventional oil (shale oil dan tar sands). Siklus inilah yang disebut Efek Jerat (the Choke-Chain Effect).
Fenomena bahwa minyak bisa menjadi penyebab krisis terlihat pada tahun 1970an ketika inflasi mulai muncul dan kemudian turun lagi pada tahun 1980an dan 1990an. Namun Galbraith tidak juga menemukan kajian ekonomi bahwa minyak bisa menjadi faktor utama penyebab terjadinya krisis finansial, karena sepertinya memang dianggap tidak penting oleh para ekonom pemangku kebijakan.
Era Digital
Dalam bukunya ‘Capitalism, Socialism and Democracy’, Joseph Schumpeter berpendapat bahwa hanya dengan menghancurkan pasar lama, maka akan muncul daya beli baru untuk menghasilkan keuntungan pada pasar yang baru. Struktur, perusahaan, pasar dan pekerjaan yang lama harus dihancurkan bila yang baru telah muncul, walaupun tidak ada jaminan bahwa proses yang baru akan menggunakan lagi tenagakerja yang lama. Demikian juga, tidak ada jaminan bahwa tumbuhnya daya beli dan standar hidup, dengan adanya revolusi teknologi, akan segera datang pada saat tahap kehancuran yang lama terjadi. Teknologi akan menjungkir-balikkan tatanan kehidupan ekonomi, mengurangi pabrik-pabrik besar dan seluruh sistem produksi hingga terjadinya pengangguran massal.
Teknologi bagai pisau bermata dua, di satu sisi akan meningkatkan standar hidup karena turunnya biaya pembuatan, pemrosesan, distribusi dan komunikasi yang berhubungan dengan rendahnya jam kerja; namun juga bisa menjadi penyebab pengangguran massal. Produk-produk digital di sekitar kita ini telah memakan biaya jutaan pekerjaan. Berapa persisnya hilangnya pekerjaan tersebut tidak bisa dibedakan penyebabnya, antara munculnya teknologi baru atau karena siklus bisnis yang sedang mengalami kemerosotan. Teori ekonomi ‘real business cycle’ mengatakan bahwa kondisi bisnis yang lesu akan selalu diikuti dengan penguatan kembali. Implikasi dari teori ini adalah bahwa lapangan kerja akan kembali muncul dengan pulihnya siklus bisnis, ternyata tidak. Kondisi ini terjadi karena kembali pulihnya ekonomi akan dibarengi dengan munculnya desain operasi yang berteknologi baru, yang membutuhkan sedikit tenagakerja.
Mahzab Keynes (Keynesians) berpendapat bahwa krisis finansial adalah dipicu oleh turunnya permintaan, sehingga dibutuhkan belanja lebih banyak untuk menciptakan lapangan kerja. Para ekonom terbelah menjadi dua, yaitu yang berprinsip pada kesabaran untuk menunggu kondisi membaik dengan sendirinya dan yang berharap pada diturunkannya ‘stimulus’ sehingga pasar kembali bergairah (the jobs will follow the money).
Galbraith meragukan kedua argumen tersebut. Pertama, teknologi baru tidak dimaksudkan secara langsung untuk meningkatkan standar hidup, melainkan untuk mengurangi berbagai biaya dan menarik konsumer dari pengguna produk teknologi lama. Kedua, lapangan kerja tidak bisa hanya dipicu oleh gelontoran uang karena meskipun banyak uang, hutang yang telah dilakukan sejak masa krisis tetap akan dilakukan, teknologi baru tetap akan menciptakan pengangguran dan tanpa prospek bisnis yang bagus, bank tidak akan tergerak untuk memberikan kredit.
Bagian 3: Tidak ada lagi Normal
Salah prediksi
Krisis Finansial (the Great Financial Crisis) mulai muncul di publik pada bulan Agustus 2007, ketika pasar pinjaman antar bank tiba-tiba mengalami kesulitan dan berlanjut terus hingga Maret 2008 ketika Bear Stearns mengalami kegagalan penjualan. Panik segera muncul ketika kebangkrutan terjadi pada Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG dan Freddie Mac di Sepetember 2008.
Ketika panik mulai mereda, muncullah kenyataan bahwa:
Tidak ada atau sulit sekali mendapatkan pinjaman bank
Nilai rumah meluncur turun, sehinggà sulit untuk dijadikan agunan
Ketakutan mulai muncul. Penghematan, tabungan, pengangguran meningkat.
Menghadapi persoalan di atas, Galbraith mengkritisi para pakar ekonomi yang seharusnya bertanggungjawab untuk melakukan kajian ulang terhadap segala model ekonominya yang ternyata rapuh.
Pada akhirnya, bukanlah karena kembalinya peran sektor swasta atau perbankan yang menyelamatkan AS dari Great Depression 2009, dan juga bukan hanya karena program stimulus. Namun, ini semata hanya karena campur-tangan pemerintah untuk mengatasi Great Depression dan the New Deal, seperti Jaminan Sosial, Jaminan Kesehatan, Jaminan Pengobatan, Asuransi Pengangguran, Bantuan Makanan dan struktur progresif pada Pajak Pendapatan sehingga mampu mengalihkan kesulitan hilangnya pendapatan rumah tangga menjadi beban pemerintah.
Krisis Eropa
Secara ringkas, Galbraith menyatakan bahwa hanya ada satu krisis di Eropa dan AS, yaitu krisis finansial dan pertumbuhan global yang saling berhubungan, yang melibatkan berbagai institusi di AS dan Eropa sehingga krisis di Eropa semakin berat. Pada akhirnya, kedua wilayah tersebut memang menghadapi hambatan yang semakin berat untuk mengatasi krisis sepenuhnya dan kembali tumbuh dengan cepat. Krisis tersebut masih berlangsung, belun teratasi dan tanpa kepastian solusi. Apa yang mesri dilakukan?
Strategi Slow-Growth
Sedikitnya ada empat hambatan besar untuk mencapai pertumbuhan tinggi dan pemenuhan tenagakerja, yaitu:
Pasar energi masih berbiaya tinggi dan tidak menentu (fluktuatif). Dan harga energi sangat menentukan semua harga sumberdaya lainnya, termasuk pangan
Ekonomi dunia tidak lagi berada dibawah kontrol finansial dan militer AS dan sekutunya
Berada dalam era perubahan radikal menuju industri berbasis teknologi hemat tenagakerja
Sektor finansial swasta bukan lagi sebagai motor penggerak pertumbuhan
Secara ringkas bisa disimpulkan bahwa ketersediaan kebutuhan pemerintah belum dapat terpenuhi, dan pemenuhan kebutuhan swasta melalui skema kredit juga belum terjadi. Kalaupun tersedia, maka harga pasar dan tenagakerja akan menjerat leher. Gejala seperti ini memancing Galbraith untuk berwacana ‘mengapa tidak menjalani hidup dalam situasi ‘slow-growth’ atau bahkan ‘no-growth’ saja ?’.
Gagasan ini didasari kenyataan bahwa strategi ekonomi ‘high-growth’ adalah investasi padat modal, substitusi tenagakerja dengan modal dan energi; dan cenderung meningkatkan jurang perbedaan dalam sistem ‘the winner take all’ seperti ini. Sistem ‘slow-growth’ bukan berarti sistem yang sama (high-growth) dengan pergerakan yang lambat, bila demikian adanya maka akan menjadi tidak stabil dan gagal. Model ‘slow-growth’ akan merubah kapitalisme secara kualitatif menjadi lebih baik, berdasarkan desentralisasi ekonomi yang berbiaya tetap (fixed cost) rendah, relatif lebih tinggi dalam mendayagunakan tenagakerja dibanding penggunaan mekanisasi dan sumber daya lainnya dan relatif rendah ROR; namun saling menguntungkan dilihat dari sisi tenagakerja dan perlindungan sosial.
Epilog
Pada masa jayanya, Uni Soviet adalah negara adidaya, sama halnya seperti Eropa modern atau AS dalam banyak hal. Pada tahun 1980an Uni Soviet adalah penghasil terbesar dunia untuk baja, nikel, gandum, kapas dan gas alam. Mempunyai industri penerbangan, program luar angkasa dan industri nuklir. Secara fisik, sistem ekonomi Soviet sama seperti negara lainnya: industri ekstraksi sumber daya alam untuk dikonversi menjadi produk yang berguna, meninggalkan banyak sampah (waste) dan produk gagal lainnya. Merupakan ekonomi yang mampu memenuhi kebutuhan tenagakerja (full employment), namun lemah dalam memberikan insentif untuk karyawannya. Ekonomi Soviet juga sangat terintegrasi, terkontrol, tanpa kompetisi, teknologi lama, dan rentan terhadap efek transportasi dan distribusi, khususnya untuk produk makanan.
Secara umum bisa dikatakan bahwa sistem ekonomi Soviet dijalankan dengan biaya tetap (fixed cost) yang sangat tinggi dan efisiensi yang sangat rendah, untuk memproduksi semua barang, tak perduli apakah hasil produksi tersebut diinginkan oleh konsumer atau tidak, atau sampai ke konsumer atau tidak.
Saat runtuhnya Soviet pada tahun 1990, produksi di sektor industri memgalami kemerosotan hingga 40%. Pabrik tutup, pekerja tak terbayar, sistem jaminan kesehatan dan pendidikan terhenti dan demikian juga dengan investasi perumahan dan infrastruktur. Standar hidup menurun dan kematian karena kekerasan dan miras meningkat. Usia harapan hidup laki-laki menurun dari 72 menjadi 58 tahun. Siapapun berusaha menyelamatkan kekayaannya ke luar negeri. Pemerintah sudah tidak mampu lagi menarik pajak dan berujung pada hutang internal maupun eksternal, hingga berakhir pada hutang yang tak mampu lagi terbayarkan di tahun 1998. Pada titik tersebut, nilai mata uang Rubbel runtuh, dan lengkaplah kehancuran Orde Lama.
AS sebagai bangsa yang sudah maju, juga merupakan negara dengan sistem ekonomi berbiaya tinggi. Membayar biaya tetap (fixed cost) yang mahal untuk pertahanan, pendidikan, kesehatan, transportasi dan juga untuk berbagai jasa publik, termasuk keselamatan dan perlindungan lingkungan. Pernah mengalami kenyamanan energi murah dan sumber daya alam yang melimpah, namun sekarang mulai harus mencari minyak bumi hingga laut dalam Teluk Mexico, Alaska dan fracking shale gas berbiaya mahal.
Sumber daya energi didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan besar di AS dan banyak sektor industri canggih mereka seperti microchip, penerbangan dan sistem komputer didominasi oleh monopoli. Bila sampai terjadi kegagalan bisnis karena kinerja yang buruk, maka ekonomi AS bisa sangat terancam dengan cepat. Apa yang sudah terjadi di Uni Soviet, bisa juga terjadi di AS, bahkan mungkin saja kemerosotan itu sedang terjadi bila saja AS tidak dapat memanfaatkan boom gas alam dan keuntungan sebagai pusat finansial global. Alih-alih mendapat keuntungan, AS bisa jadi seperti nasib negara industri besar lainnya yang berteknologi lawas, rentan dan berbiaya tinggi hingga mudah runtuh.
Galbraith berkesimpulan bahwa memahami apa yang sedang atau mungkin saja terjadi pada ekonomi AS adalah langkah awal untuk melakukan perubahan. Namun sayangnya ini bukan menjadi perhatian utama para ekonom tersebut.
Belum ada suatu penjelasan ‘gamblang’ berdasar prisip-prinsip ekonomi, yang mampu memprediksi runtuhnya ekonomi Uni Soviet saat itu. Dan dua dekade kemudian, terjadi hal yang sama dengan munculnya krisis finansial global. Mungkin, masalah utama terletak pada prinsip-prinsip ekonomi itu sendiri atau kesalahan pada cara memahaminya.
Buku yang sangat memperkaya pengetahuan penulis dalam bidang ekonomi makro dan jasa keuangan AS khususnya. Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang praktek ekonomi berbagai mazhab ekonomi utama dunia. Perlu berulang kali penulis membacanya untuk mengerti betul maksud penulis buku ini. Sangat direkomendasikan bagi kawan yang ingin mengerti tentang krisis ekonomi dunia 2008.
Membaca berita dan gosip tentang keriuhan KPK, Polri, Istana dll, jadi ingat masa lalu ketika belajar dan terlibat di eksplorasi emas.
Tahapan eksplorasi biasanya diawali dengan survei Pendahuluan berbekal Surat Ijin Penelitian Pendahuluan (SIPP) dari dirjen. Pertambangan Dilanjutkan dengan aktifitas eksplorasi dan kemudian produksi.
Hiruk-pikuk politik saat ini bila diamati dengan kacamata eksplorasi mineral, khususnya ilmu eksplorasi emas, maka saat ini sudah masuk pada fase Eksplorasi. Gejala awal keberadaan emas memang ditemukan. Dilanjutkan dengan aktifitas eksplorasi permukaan (tanpa pemboran) di hilir. Mulai muncullah keriuhan di hilir untuk menemukan lokasi ‘kemungkinan’ atau melokalisir keberadaan cadangan yang besar di hulunya. Nah, semakin banyak yang tahu ttg temuan di hilir, semakin banyak yang berkepentingan utk terlibat eksplorasi di hulu dengan kebutuhan ‘energi’ yang lebih besar lagi. Maka, efisiensikan energi dan pastikan bahwa temuan dihilir memang mengarah ke lokasi yang tepat. Juga, tak kalah pentingnya, serahkan pd ahlinya, jangan sampai dikerjakan para eksplorer yg hanya mencari keuntungan di kegiatan hilir dengan cara meng’upgrade’ temuan, seolah bakal ada temuan besar di hulu … padahal psssssttt … kosong … cadangan besar itu mungkin benar ada di hulu tapi tidak berhubungan dengan keriuhan temuan di hilir. Salah interpretasi berakibat salah lokasi dan cadangan lepas …atau tak ditemukan…
Blog ini berisi tumpahan kegelisahan yang mengganggu olah pikir dan kesejukan rasa. Senang sekali bila bisa bermanfaat untuk sahabat sekalian. Selamat membaca.