Feeds:
Pos
Komentar

2015 Indonesia Lebih Baik

2015Alhamdulillah sampai juga di awal tahun 2015. Selamat tinggal tahun 2014 yang penuh dengan kebisingan politik, baik di darat maupun di dunia maya. Pemilu legislatif dan pemilu presiden begitu terasa menguras energi bangsa. Finansial, tenaga, pikiran dan emosi yang terkuras, adalah bagian dari biaya dalam ‘pesta’ rakyat ini. Media sosial jadi alat utama untuk mengumpulkan, sekaligus memecah komunitas para penggembira. Dalam data World Bank, Indonesia masih masuk dalam kategori Lower Middle Income bersama dengan Philipina, Vietnam dan Timor Leste, di bawah Malaysia dan Thailand sebagai Upper Middle Income. Setarakah dengan harapan dan kenyataan yang akan diraih bangsa ini?

Data World Bank dalam berbagai ketegori yang bisa diunduh CPI2014secara gratis, memang menunjukkan kondisi Indonesia kurang-lebih sama dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara, demikian juga bila dibandingkan dengan India. Namun informasi terbaru, telah memberi kejelasan bahwa banyak terjadi kerugian atau kehilangan disektor perikanan dan energi hingga trilyunan rupiah, belum lagi potential lost di sektor pajak yang diperkirakan bisa mencapai 1 Trilyun. Pemborosan penggunaan anggaran juga banyak terjadi sehingga presiden merasa perlu mencanangkan penghematan dengan diaturnya keperluan rapat di hotel-hotel. Artinya, sangat mungkin Indonesia bisa jauh lebih baik, namun kepemimpinan sebagai penggerak utama memang sangat menentukan.

Data World Bank 2013 menyebutkan GDP Indonesia: $ 868,346 Juta dengan pertumbuhan 5,78% per tahun, lebih tinggi dari Malaysia 4,73% dan India 5,02 %, namun lebih rendah dari Philipina 7,18%. Malaysia dan India bisa jadi contoh pembanding dalam menilai kemajuan bangsa di Asia Selatan dan Tenggara mengingat kemiripan budaya, geografi dan tingkat pengetahuan, juga angka berdasar beberapa kategori dalam data World Bank yang kurang-lebih sama. Korupsi juga masih menjadi penyakit akut yang merongrong kesehatan bangsa. Dalam Corruption Perceptions Index 2014, Indonesia masih diurutan 107 dari 174 negara di dunia (1: Baik, 174: buruk) dan di urutan 17 dari 28 negara di Asia Pacific, dibawah Malaysia (9), India, Philipina dan Thailand (12) dan satu angka diatas Vietnam (18). Menyedihkan.

Malaysia
Secara kultural, bangsa kita ini tak banyak berbeda dengan Malaysia. Bahasa Melayu, Islam, kesenian, kuliner dan banyak lagi, bisa dikatakan nyaris sama atau biasa dibilang bangsa serumpun. Namun banyak dosen di universitas di Malaysia saat ini berasal dari dan berwarganegara Indonesia, dan sudah sering kita mendengar cerita bahwa Malaysia dulu belajar banyak tentang pengusahaan minyak dan gas dari Indonesia dimasa lalu namun Petronas terlihat lebih mendunia dan well managed dibanding Pertamina. Bahkan, dalam hal sepakbolapun Indonesia sering mengalami kekalahan melawan Malaysia. Mengapa Malaysia dalam banyak hal lebih maju daripada Indonesia?  Pengangguran Laki-laki 3,0 % dari total tenaga kerja laki-laki (Indonesia 5,6%), konsumsi listrik per kapita Indonesia 680 kwh, dibawah Malaysia 4.246 kwh atau Thailand 2.316 kwh.

India
Jumlah penduduk India sudah 1 milyar lebih, jauh melewati Indonesia walaupun sama-sama termasuk negara berpenduduk banyak di wilayah Asia Tenggara dan Selatan, matapencaharian rakyatnyapun tak banyak beda dengan kita, agraris. Jurang perbedaan pendapatan kurang-lebih sama juga dengan kita. Tapi mengapa India bisa sangat diperhitungkan sebagai negara yang sangat mungkin sebagai negara maju di tahun 2025? Pengangguran Laki-laki 3,1 % dari total tenaga kerja laki-laki. GDP 2013: $ 1,876,797 Juta dengan pertumbuhan GDP 5,02% per tahun, lebih rendah dari Indonesia. Investasi India untuk minyak dan gas di luar negeri mencapai $ 12,5 milyar (2012). Saat ini sudah 20 reaktor nuklir dimiliki India dan masih membangun puluhan lagi untuk memenuhi kebutuhan energi pembangkit listriknya. India juga dianggap sebagai negara yang cukup aman untuk investasi pusat layanan teknologi informasi dunia. Geoff Hiskock dalam bukunya ‘Earth Wars’ https://anangsk.wordpress.com/2013/02/12/earth-wars/ menyebutkan bahwa China/India terus berinvestasi secara besar-besaran, baik dalam hal volume perdagangan maupun nilai investasi, di berbagai belahan dunia untuk mencukupi kebutuhan SDAnya. Diperkirakan China dan India akan mampu menggeser kejayaan Barat dan menjadi penentu kemenangan perang penguasaan sumber daya alam ini.

Earth WarsMengingat kembali berbagai hasil kepemimpinan Jokowi semenjak menjadi walikota Solo, gubernur DKI dan periode awal pemerintahannya sebagai RI1, ada rasa optimis melihat kesejahteraan bangsa kedepan. Banyak hal yang mestinya bisa dilakukan para pemimpin sebelumnya, ternyata baru terlaksana pada masa kepemimpinannya. Keseriusan, tekad dan usaha kerasnyalah sehingga banyak hal bisa terjadi, tentu atas bimbingan dan ijinNya. Niat luhur suatu bangsa untuk memperbaiki dirinya dibawah arahan serius pemimpinnya, adalah modal utama untuk merubah nasibnya. Bukanlah Budaya, Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu bangsa menjadi kaya atau miskin, melainkan kemauan, semangat dan kerja-keras para pemimpin dan rakyatnyalah yang menentukan. Perbedaan sukses ekonomi yang Why Nations Failterjadi di berbagai negara disebabkan oleh institusi-institusi dan aturan-aturannya yang mempengaruhi jalannya ekonomi, serta insentif terhadap bangsanya, demikian kesimpulan Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya ‘Why Nations Fail’ https://anangsk.wordpress.com/2013/11/17/mengapa-ada-negara-kaya-dan-miskin/ . Semoga kebisingan politik di tahun 2015 sudah mereda dan bersama-sama lebih fokus untuk meraih kesejahteraan dan perdamaian bangsa.

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 8.700 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 3 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Old Trafford

Old Trafford

Ulasan menarik tentang sepakbola di blog Manchaster United oleh anak SMU Labschool http://unitedramble.com/breaking-louis-van-gaals-formation-changes/ Penguasaan atas strategi sepakbola dunia, karakter pemain dan database kompetisi sepakbola sangat mengagumkan, belum lagi kemampuannya membuat tulisan dalam bahasa Inggris, sungguh membanggakan.

MU Stadium

MU Stadium

Adimurti Bayu Pramana (biasa dipanggil Adi), saat ini kelas 12 SMU Labschool Cibubur, mendapatkan nilai SAT 1970 di tempat lesnya dan Toefl 617 saat test TOEFL di UI November 2014 yll. Sejak SD sudah gemar membaca novel berbahasa Inggris. Novel2 Harry Potter, Lord of The Ring dan Percy Jackson cepat sekali dilahapnya. Sejak SD, buku2 dan majalah tentang MU dan Top Gear mulai menumpuk dan menjadi koleksinya. Football Manager dan FIFA Football adalah game kegemarannya. Siaran langsung televisi tentang sepakbola Premier League dan piala dunia, juga balap mobil F1 tak pernah terlewatkan ditontonnya. Menurutnya, film dan komentator olah raga di televisi banyak membantu peningkatan kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Angels Sing

Angels SingBaru saja nonton film Angels Sing di HBOHD. Ringan, bukan film box office dan tidak juga dibintangi aktor terkenal, namun membawa pesan ringan yang sangat penting di jaman kepentingan individual menjadi agenda utama banyak pihak. Betul, cerita tentang perayaan Natal di suatu keluarga.

Alkisah, sebuah keluarga muda dengan satu anak lelaki 10 tahunan beserta kakek dan nenek yang akrab dan bahagia. Kecelakaan laluluntas di jalan tol menyebabkan sang kakek meninggal dan sang cucu cedera. Gegar otak ringan sudah mulai sembuh, namun yang lebih berat diderita sang anak sebetulnya adalah rasa bersalahnya. Kecelakaan itu dirasanya terjadi karena dia meminta pada sang kakek untuk pulang bersama lebih malam sehingga terjadi kecelakaan. Seandainya saja dia tidak menunda kepulangannya, maka tak akan terjadi kecelakaan itu. Pikirnya, yang tentu saja tidak benar.

Masa Natal terasa muram tanpa kegembiraan dan pesta karena anak menolaknya. Masih terus berduka. Sebuah bingkisan Natal dari sang kakek untuk sang ayah ditemukan dalam mobil, berisi film rekaman pesta Natal tahunan keluarga sejak masa kecil sang ayah. Menonton rekaman lama ini, menginspirasi sang ayah utk kembali membangkitkan kenangan indah dan kegembiraan bersama keluarga. Cahaya terang dari lampu2 kecil, juga berbagai hiasan Natal, kembali dipasang di seluruh rumah. Dan kegembiraan keluarga kembali muncul.

Pesan dari film ini adalah, kenangan baik bersamalah yang menyatukan keluarga, bukan kesamaan biologis, apalagi hanya kesamaan nama.

Opera Tari Gandari

GandariPendingin udara dimatikan, tak ada suara bicara atau cahaya telepon genggam apalagi bunyi klik kamera. Hening. Layar naik ke atas, cahaya remang, terlihat panggung depan yang kosong dengan latar belakang seperti bangunan sebuah kapal penuh para pemusik duduk menghadap sisi kanan panggung. Konduktor berdiri  memimpin musik di sebelah piano di bagian haluan, paling kanan, deretan selanjutnya adalah pemain alat tiup dan musik gesek berada di tengah dan di bagian buritan sebelah kiri yang lebih tinggi, adalah para pemain perkusi.

Cahaya temaram, dari depan panggung, pria tua beruban dalam jubah hitam jalan tertatih naik ke atas panggung dalam panduan perempuan yang lebih muda,  dua orang narator dan pembaca sebagian puisi Gandari memulainya. Dalam gerak lamban, para penari mulai muncul dari arah berbeda ke tengah panggung. Suara mengernyit nada tinggi sedikit mengganggu, muncul dari gesekan biola, diikuti suara piano berkelontangan, bukan irama lagu yang mengalun lembut tentunya, menandai para penari mulai bergerak. Tak lupa, pemain perkusi itupun sesekali mengelus bibir gelas anggur besar untuk mengeluarkan bunyi dengung. Suara solois perempuan muda berkulit putih dalam balutan gaun merah menyala menggoda mata, yang lantang sedikit mengagetkan, muncul di atas puncak tangga spiral di tengah bagian kiri panggung. Sayang, bagiku tak terlalu jelas ucapan kata yang dilagukannya. Bahasa Indonesia sepertinya, samar-samar. Ruang sempit di balik kapal para pemusik adalah panggung tempat paduan suara mengalunkan suara. Suara riuh tersamar,  mempertanyakan jumlah korban perang, muncul dari paduan suara ini.

‘Katakan kepada saya,
Apakah yang paling menyakitkan
dari perang? Kekalahan?
Atau kebencian?

Suara narator membaca sepenggal bait puisi.

Berkelebatan para penari berpakaian putih itu tak tentu arah. Kibasan tangan dari bahunya dengan otot lengan meregang seolah membawa badan berputar kencang, lalu meliuk lembut, rendah, berjumpalitan kadang berguling di atas panggung. Tangan-tangan saling mengkait lamban, menghentak lepas, tubuh berputar di atas pinggul, punggung atau bahu yang lain. Terkait, lepas, menyelinap, muncul. Licin dan sigap. Ini memang bagian dari perang Mahabarata. Kadang terlihat lompatan tinggi menerjang namun terhenti halus di atas oleh rangkulan kuat lengan pasangan. Indah.. Perut tampak kembang-kempis mengatur napas, menjaga gerak terus mengalir, menguras daya. Gerak tari sang Ibu membasuh rambutnya dari darah  kematian putranya, terlihat apik dengan iringan musik halus mengiris.

Yang tak melihat tak akan melihat
yang keji. Yang tak mendengar tak akan mendengar
yang dusta. Yang tak melangkah tak akan melangkah
sampai batas hutan
dan jalan masuk ke Astina

Pilihan Gandari untuk lebih percaya pada suara daripada cahaya kuasa yang seringkali menipunya diwujudkan dalam gerak pita coklat yang melintang di depan para penari. Pita dipentang kesana-kemari dan opera berhenti. Selesai

Membaca ulang sinopsis yang dibagikan sebelum pementasan dan kembali merenungkannya, sangat membantu pemahaman orkestrasi antara gerak, musik dan puisi. Meskipun tetap ada beberapa adegan yang tak termakna dalam pikirku.

Opera Tari Gandari yang dipentaskan di gedung opera Teater Jakarta TIM, Jumat 12 Desember 2014, ini adalah buah tafsir musikus Tony Prabowo terhadap puisi Gandari, karya Goenawan Mohamad. Buku sinopsis, selain memuat puisi Gandari, juga latar-belakang dan prestasi semua penari, koreographer (Akiko Kitamura), sutradara (Yudi Ahmad Tajudin dan komponisnya (Tony Prabowo). Juga, musik Schonberg orchestra dan Slagwerk Den Haag serta konduktor Bas Wiegers. Luar biasa, mereka semua sudah sangat berpengalaman dengan panggung dunia. Terus maju dunia seni Indonesia.

Pagelaran Wayang Kulit

Bimo

Seminggu setelah menikmati wayang kulit ‘Betara Kala’ dalam acara ruwatan, kemudian dilanjutkan malam harinya dengan ‘Wahyu Makutharama’ oleh dalang Ki Purbo Asmoro, rasanya seperti mengingatkan masa kecil manakala alm. Bapak selalu mendampingiku mendengarkan wayang kulit di radio RRI, sambil menjelaskan jalan ceritanya. Setidaknya, setahun dua kali kami selalu menonton wayang kulit di siang dan malam hari saat acara sedekah bumi di kampung kami. Sering juga rasanya saat itu menonton pentas wayang orang berbayar.

 

Kerinduan bawah sadar akan hiburan wayang ini, sedikit terobati ketika menonton sendratari Ramayana di candi Prambanan beberapa tahun yll, yang pentasnya diadakan hampir setiap hari. Ide pemda DIY patut didukung, mengingat sulitnya para menggemar kesenian wayang orang atau wayang kulit untuk dapat menikmatinya secara langsung (live).

 

Pakde Agus dan Ki Purbo Asmoro

Pakde Agus dan Ki Purbo Asmoro

Bahasa Jawa tingkat tinggi (krama inggil) dan Jawa Kuno (Kawi?) yang jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, begitu deras meluncur lancar dari bibir ki dalang Purbo Asmoro saat memainkan wayang dan delapan waranggono (sinden) ketika melantunkan berbagai tembang dengan cengkok yang begitu indah lentur mengalun keras-lemah, tinggi-rendah seolah tak berbatas kepanjangan napas dan ketinggian nada. Bukan main ..

 

Suara beragam alat musik gending seperti bonang, saron, peking, gambang, gender, gong, dll. Yang dimainkan para pengrawit, begitu terdengar harmonis mengalun halus, kadang menghentak keras dengan kelincahan gerak pukulan gendang beraneka bunyi mengiringi tembang para pesinden atau gerak wayang yang semuanya berada dalam koordinasi pimpinan sang dalang, Ki Purbo Asmoro.

 

GongLamat-lamat suara gending mengalir lembut ditembus nada rendah bergetar suara sang dalang melantunkan suluk pembuka adegan. Petuah luhur tentang kehidupan, beruntun keluar dari mulut Semar dalam dialognya dengan Kresna. Indah mengagumkan ..

“Sesuluh babagan kautaman. Sumbere wong padu niku wonten sekawan. Pasulayan perkawis:

  1. Bandha
  2. Wanita
  3. Kawasisan
  4. Panguaos

Derajad mung sampiran, bandha mung titipan”

 

Waranggono

Waranggono

Gerak tangan sang dalang yang kadang halus tanpa getaran atau kuat dan lincah (sabetan) memainkan adegan perang, membuat komunikasi antar peran dapat dimengerti lebih mudah. Lucu, sedih, marah, nakal ataupun wibawa dapat tergambar jelas dari gerak wayang dan suara dalang dalam memainkan peran atau watak tiap wayang yang berbeda. Tak terlihat keletihan dari para sinden dan pengrawit juga sang dalang, yang memainkan orkestrasi gerak dan suara hampir selama 9 jam, mulai dari jam 19 hingga 4 subuh.

 

Desi, Pelajar SMK KarawitanMembanggakan, melihat adanya satu pelajar SMK Karawitan dan dua mahasiswi S1 Karawitan Solo begitu fasih melantunkan tembang-tembang yang diminta oleh dalang, seakan hapal luar kepala. Desi, sang pelajar SMK bahkan luwes menampilkan tarian dan mahir memainkan saron, rebab dan gendang berirama jaipongan, banyumasan dll. Luar biasa.. terpikir seketika, pemerintah perlu membuat banyak program nyata untuk melindungi bahkan mempopulerkan budaya luhur semacam ini.

Beruntunglah, teknologi komunikasi sudah mampu menyajikan pagelaran wayang kulit papan atas seperti Ki Purbo Asmoro, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Narto Sabdo, dll melalui youtube.com. Baru saja penulis menikmati “Lahirnya Wisanggeni” oleh Ki Purbo Asmoro selama 6 jam melalu Youtube.com. Terimakasih untuk para pihak yang telah mengunggah kesenian luhur ini ke youtube.com sehingga para penggemar di seluruh dunia bisa turut menikmatinya.

Salam Budaya.

Bersama Hillary Clinton

The SecretaryPenulis: Kim Ghattas

Sub-judul: A jorney with Hillary Clinton from Beirut to the Heart of American power

Tebal buku: 368 halaman

Penerbit: Times Books

Tahun: 2013

Kim Ghattas, jurnalis perempuan berkebangsaan Libanon, bekerja sebagai koresponden BBC untuk wilayah Timur Tengah dan berkantor di Beirut. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Libanon, kemudian mendapatkan tugas dari BBC pada tahun 2008 ke Wahington DC, menjadi bagian dalam kelompok kecil wartawan yang dikenal sebagai “The Travelling Press Corps” untuk meliput dari dekat kegiatan menteri Luar Negeri Hillary Clinton di Washington DC dan saat berkunjung ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dalam satu pesawat Boeing 757 yang sama. AS menyediakan empat pesawat Boeing 757 bagi Distinguished Visitors (DVs), yaitu Wakil Presiden, Kementrian Luar Negeri, Pertahanan dan anggota Kongres, untuk keperluan kunjungan ke negara lain.

Ghattas mencoba menjelaskan kedigdayaan AS melalui berbagai kutipan kecil wawancara dan dialognya dengan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri, para staf menteri Luar Negeri, dan beberapa pejabat AS dan luar negeri, ketika Hillary mengunjungi negara yang bersangkutan. Menurutnya, AS sedang menyandang beban berat untuk menyelesaikan masalah nasional atau masalah2 dunia yg berkaitan dengan kepentingan nasionalnya. Ghattas dengan jelas menyatakan kekagumannya terhadap personalitas, ethos kerja, penguasaan masalah dan sikap politik Hillary, yang fokus untuk mengkampanyekan hak perempuan dan anak-anak ke seluruh dunia. Dunia tidak akan menjadi tempat yang lebih baik bila setengah populasi dunia masih merasa tersingkirkan.

Buku ini bukan biografi Hillary, walaupun terdapat sedikit kutipan dialog dan ‘life style’ Hillary di dalamnya; melainkan tentang pandangan mata dan opini Ghattas terhadap AS dan sikap Hillary dalam menerjemahkan kebijakan luar negeri Obama. Seringkali sikap Hillary dianggap Washington terlalu mendahului atau tidak sesuai dengan Washington, khususnya tentang masalah Timur Tengah, dimana Hillary cenderung menunjukkan simpati dan dukungan yang ‘berlebihan’ terhadap Palestina.

Berikut ini adalah beberapa catatan Ghattas tentang kunjungan Hillary di berbagai belahan dunia.

Jepang

Sambutan hangat masyarakat Jepang, raja Akihito beserta istri, Michiko dan Perdana Mentri Taro Aso diberikan sejak kedatangannya di bandara Haneda, Tokyo. Akihito beserta istri pernah berkunjung ke Gedung Putih pada pemerintahan Bill Clinton 1994. Pertemuan bisnis dan politik dilakukan Clinton saat kunjungan tersebut. Masyarakat Jepang mulai merasa terganggu dengan keberadaan 10 pangkalan militer AS di Jepang, yang sudah ada sejak 60 tahun yll. Khususnya masyarakat pulau Okinawa yang gerah karena pangkalan militer berada di pusat kota, juga setelah terjadinya pemerkosaan gadis 12 tahun oleh 3 tentara AS tahun 1995.

Indonesia

Indonesia yang disebutnya sebagai negara muslim terbesar dunia dan negara demokrasi terbesar ke-3 dunia, sempat dibahas dua kali dalam buku ini. Pertama, tentang masuknya Indonesia dalam rangkaian kunjungan pertama menlu AS Hillary Clinton ke Asia (Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok). Clinton disambut dengan demo anti-AS di depan istana. Di tahun 2000, 75% penduduk Indonesia mempunyai pandangan positif terhadap AS, namun setelah kasus “11 September”, melorot menjadi hanya 29%. Ghatta menafsirkan bahwa ini disebabkan kebijakan politik luar negeri Bush “war on terror’ serta invasinya ke Afghanistan dan Iraq memberi kesan memusuhi negara-negara Islam di dunia. Namun seperti halnya negara-negara lain, Indonesia punya harapan hubungan bilateral yang lebih baik kepada Obama, ketika terpilih sebagai Presiden AS, yang pernah tinggal serta sekolah selama empat tahun di Indonesia, demikian juga sebaliknya. Hillary juga sempat berkunjung ke sekretariat ASEAN di Jakarta dan mendapat sambutan positif dari Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, karena pada pemerintahan AS sebelumnya, Bush telah ‘absen’ secara politik di wilayah Asean. ASEAN telah lama berharap kepada AS untuk menandatangani bersama suatu kesepakatan ‘hubungan baik’, Treaty of Amity and Cooperation (TAC) sebagai langkah awal supaya AS bisa menjadi bagian dalam East Asia Summit (EAS). Clinton menyatakan bahwa AS bukan hanya merupakan kekuatan di trans Atlantik tapi juga di trans Pasifik, untuk itu AS pasti akan menandatanginya. Kedua, tentang masukan Indonesia bahwa Myanmar berminat untuk membuka diri secara politik terhadap pergaulan dunia.

Korea

Sambutan hangat diberikan kepada Hillary, saat berkunjung ke Ewha Womans university, yang didirikan pada 1886 oleh misionaris Amerika dan sebagai ‘sister college’ dari Wellesly college tempat Hillary pernah menuntut ilmu. Hillary memulai pidatonya dengan menvatakan bahwa hak-hak perempuan bukanlah sekedar isu moral, melainkan isu keamanan (security issue). “Tak ada demokrasi tanpa partisipasi penuh perempuan dan tak akan ada ekonomi pasar bebas tanpa keterlibatan peremluan”. Banyak pertanyaan personal diajukan oleh para hadirin terhadap Hillary dan semua dijawabnya secara ringan, terbuka dan akrab. Ini salah satu kepiawaian Hillary dalam membina hubungan dengan masyarakat di berbagai negara yang dikunjunginya, termasuk juga dengan para wartawan.

Tiongkok

Krisis ekonomi hlobal telah menghantam AS dan dunia. Tiongkok telah memiliki Surat Berharga AS (treasury bill) sebesar lebih dari $1 trilyun dan pertumbuhan ekonominya melebiui 8% per tahun (buku ini dicetak 2013). Tahun 2008, pemerintahan AS mencatat bahwa Tiongkok masuk dalam urutan terringgi dalam hal pelanggaran HAM, bahkan Hillary sendiri pada saat itu mendesak Bush utk tidak menghadiri pembukaan Olimpiade Beijing. Mengingat hal tsb di atas, Hillary berbagi ingormasi kpd para jurnalis di pesawat dalam penerbangan menuju Yiongkok bahwa HAM hanya menjadi bagian kecil dari agenda pembicaraan bilateral, atau bukan fokus pembicaraan. Bidang ekonmi akan menjadi fokus pembicaraan. Hillary faham betul mengenai agenda pembicaraan AS-Tiongkok tersebut karena Tiongkok mempungai banyak kelemahan di bidang HAM seperti, kasus tutuntutan kemerdekaan budaya atau otonomi Tibet dan pengakuan terhadap eksistensi Dalai Lama. Ko gres AS dan LSM mulsi mempertanyaman dikap pemerintahan Obsma yg mulao melemah thd isu HAM Tiongkok ini. Bahkan berita utama di halaman depan berbagai media cetak di AS dan Eropa banyak menyoroti sikap politik Obama yang cenderung melemah terhadap praktek Hak Azasi Manusia di Tiongkok.

Hillary gemas thd pemerintah yg dianggapnya tidak peduli thd masukannya ttg HAM ini. Tentang HAM ini, akan melakukan dengan caranya sendiri, yaitu bekerjadama dg organisasi2 ajar rumput, dengan menggunakan kekuatan internet atau apapun untuk melewati kelambanan sikap pemerintah. Konsejwensi dari cara Hillary yang cepat dalam memberikan tanggaoan atau pernyataan ke publik yang tidak lagi harus disiapkan seutuhnya dalam lembaran pidato, melainkan melalui nedia sosial, tv kabel, internet, seringkali harus ‘berhadapan’ dg pemerintah katena komentar2nya dianggap tidak sesuai dengan sikap resmi pemeritah.

Hillary pernah membuat jengah pemerintah RRT di tahun 1995 dalam forum PBB di Beijing. Saat itu Hillary, sebagai First Lady dan penggiat HAM, mengucapkan “human’s right are women’s right and women’s right are human rights”. Pemerintah Tipngkok langsung memblokade rekaman tv di ruang konfrensi dan satu2nya acuan untuk pidato Hillary secara resmi adalah People’s Daily, hanya satu kalimat “American Mrs. Clinton made a speech”.

Ghattas menggambarkan tempat pertemuan sebagai ruang besar dengan banyak lampu kristal bergantungan. Dua deret meja panjang berjajar berjarak 1,5 m, dipisahkan dengan tiga pot bunga di tengahnya dan berderet kursi di salah satu sisinya, berhadapan. Suatu susunan ruang rapat yang diluar kebiasaan.

Ekonomi, Perubahan Iklim dan Korea Utara adalah agenda utama pembicaraan, yang disampaikan oleh pihak Tiongkok dalam pertemuan pertama dengan Hillary, sebagai Menlu AS. Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Tiongkok sempat menyebutkan ‘one-China Priciple’ dalam pembicaraan tersebut yang berarti hanya ada satu Tiongkok, tidak ada Taiwan. Hillary menanggapinya dengan mengatakan bahwa sikap AS tetap tidak berubah selama 30 tahun bersahabat dengan Tiongkok. AS tidak mendukung kemerdekaan Taiwan, namun juga tidak mengakui otoritas Tiongkok terhadap kepulauan tersebut.

Keseimbangan kekuatan antara AS – Tiongkok secara perlahan mulai bergeser beberapa tahun ini, dan semakin cepat pada masa awal pemerintahan Obama. Ketika ekonomi AS mulai lambat bergerak dan finansial dunia juga dalam situasi menyusut, justru Tiongkok mulai terlihat tumbuh berbudaya dan semakin kaya. Oliampiade Beijing menunjukkan hal tersebut.

Iraq

Total biaya perang AS di Iraq adalah $800 Milyar selama 8 tahun atau sekitar $3000/detik. Bila digabung dengan biaya di Afganistan bisa mencapai $1T. Invasi AS ke Iraq memang berhasil meruntuhkan kekuasaan otoriter Sadham Hussein tetapi juga telah mmbunuh lebih dari 100.000 rakyat Iraq. Dan senjata pemusnah massal sebagai alasan utama invasi AS Maret 2003, ternyata juga tidak pernah terbukti. Ini semua adalah beban politik dan ekonomi AS yang harus diatasi oleh Obama dan Hillary sebagai representasi politik luar negerinya.

Ghattas berpendapat bahwa pada awalnya adalah ketakutan bangsa Iraq atas kediktatoran Sadham Hussein yang menyebar teror kepada bangsanya selama 20 tahun. Pemerintahan Sunni yang menghancurkan Shiah. Namun anehnya, Sadham tidak juga melindungi Sunni yang telah mendukungnya. Shiah yang pada awalnya merasa terancam di negerinya, berharap AS dapat menyelamatkannya, justru mulai berbalik mengecam AS sebagai penjajah yang sangat berkuasa dan bermaksud menghancurkan Iraq. Dan akhirnya, mereka juga yang kemudian berharap AS segera meninggalkan Iraq namun lebih dulu harus meningkatkan kondisi kehidupan bangsanya. Obama memang sangat ingin segera menarik kekuatannya dari Iraq.

Menurutnya, Hillary menyangga beban politik berat untuk menjawab pertanyaan2 bernuansa fatalis dimana suatu bangsa sudah terbiasa diperintah dan tak berhak ‘berpikir’ dimasa Sadham Hussein dan harus dijawab oleh pihak lain, yaitu bahwa AS adalah penjajah dan harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya. Intinya adalah Iraq tidak siap dengan jatuhnya Sadham Hussein. Di sisi lain, ada suatu pendapat bahwa AS sebagai kekuatan hegemonik memang sedang berminat terhadap kekayaan Iraq tanpa merasa berkewajiban membayarnya. Dua hal resebut adalah pendapat yang sangat mengemuka di Iraq dan negara-negara Timur Tengah.

Libanon

Tahun 1983, bom bunuh diri telah menghancurkan barak militer AS di Libanon dan membunuh 241 marinir. Hezbollah sebgai sayap militan Shiah diduga sebagai pelakunya. Israel menguasai wilayah selatan Libanon 1978, dan Hezbollah mengambil alihnya pada tahun 2000, bahkan sebagai bagian dari kekuatan politik yang berkoalisi dengan Syiah dan Iran, mempunyai wakil di kabinet pemerintah Libanon. Salah satu alasan Hillary berkunjung ke Libanon adalah untuk mendapat gambaran peta politik yang jelas dalam pemerintahan Libanon, mengingat Hezbollah yang dianggap pemerintah AS sebagai teroris telah berada di dalamnya. Selain itu, juga karena rasa empati dan keinginan AS untuk mengurangi penderitaan masyarakat Libanon akibat perang sipil, yang juga dilihat Hillary dan Bill Clinton melalui berita di media.

Sejarah, kenangan dan opini Ghattas sejak masa kecil hingga kuliahnya di Beirut, Libanon banyak mewarnai isi buku ini.

Palestina-Israel

Dalam pertemuan internasional di Mesir, Hillary menjanjikan untuk memberikan bantuan finansial untuk Palestina sebesar $300 juta, setelah Israel melakukan penyerangan secara brutal di Jalur Gaza (Gaza Strip), beberapa saat setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS, dan membunuh hampir 1.400 bangsa Palestina, termasuk 300 anak-anak serta menyisakan kehancuran ekonomi.

Wartawan Arab tidak merasa begitu penting terhadap bantuan AS tersebut karena janji AS terhadap bangsa Palestina dianggap sudah terlalu sering, namun kehidupan bangsa Palestina justru semakin memburuk akibat penjajahan bangsa Israel. Pertanyaan mereka adalah “Apakah kemerdekaan negara Palestina bisa terjadi dalam tahun ini?”.

You all know that this is a very difficult and complex set of issues. You also know that l personally am very committed to this. And I know that it can be done. I believe that with all my heart. I feel passionately about this. This is something that is in my heart, not just in my portfolio“, jawab Hillary yang menyebabkan White House gelisah.

Tahun 1998, sebagai First Lady, Hillary juga pernah menyatakan dalam Youth Summit di Swiss, yang dihadiri delegasi Palestina, Israel, Yordania, Mesir dan Amerika, bahwa: “The Palestinians should have their own state“. Pernyataan yang mendahului kebijakan politik luar negeri AS ini segera mendapat tanggapan dari White House bahwa pernyataan Hillary tersebut bukanlah kebijakan resmi AS. Namun Hillary tetap bersikap keras bahkan menjanjikan bahwa pemeeintahan Obama sedang bekeeja keras unyuk mewujudkan perdamaian dan negara bagi bangsa Palestina. “I wish it could happen tommorow. I wish it could happen certainly by the end of this year. But I will not give up. We will make progress“. Suatu pernyataan yang muncul dari dalam hati dan membuat para jurnalis Arab terperangah dan berlanjut dengan tepuk tangan aplus meriah penuh harap. Hal ini tidak lepas dari program Obama sendiri yang dinyatakannya pada hari kedua menjabat sebagai presiden AS, bahwa mencari solusi terhadap konflik berkepanjangan Arab-Israel yang sudah berlangsung 60 tahun juga merupakan kebutuhan keamanan nasional AS. Pemimpin negara yang pertama kali dihubungi Obama pada tanggal 21 Januari melalui telepon setelah pelantikannya, adalah presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

Mahmud Abbas dan Ehud Olmert, Perdana Mentri Israel dari partai Kadima, telah beberapa kali melakukan pertemuan pedamaian dengan atau tanpa keterlibatan AS selama dua tahun dan menunjukkan perkembangan yang bagus. Namun kabar baik tersebut menjadi mentah kembali setelah Benjamin Netanyahu dari partai Likud menggantikan Ehud sebagai Perdana Menteri. Netanyahu adalah pihak yang geram mendengar peryataan Hillary ttg ‘kemerdekaan Palestina’ di tahun 1998.

Ketika Netanyahu berkunjung ke White House pada 18 Mei, Obama menyatakan dengan jelas bahwa pembangunan di West Bank harus dihentikan. Namun Netanyahu justru menjawab di media bahwa kebutuhan keluarga atas pembangunan gedung sekolah dan perluasan perumahan adalah hal yang wajar dan tak bisa dihentikan. Kembalinya Netanyahu membuat upaya perdamaian Israel-Palestina kembali mengalami kemunduran.

Mei 27, Hillary bertemu menlu Mesir di kementerian luar negeri AS dan membuat pernyataan di depan media bahwa: “pernyataan presiden Obama sudah sangat jelas, ketika Netanyahu di sini. Beliau menginginkan diberhentikannya pembangunan”. Pernyataan Obama yang kembali diulang oleh Hillary memberikan signal bahwa AS sedang menunjukkan ke Israel bahwa AS lah yang berkuasa, bukan Israel.

Pakistan

Kunjungan Hillary ke Pakistan direncanakan untuk menemui para pengusaha, aktifis perempuan, pimpinan adat dan wawancara oleh para jirnalis.

Sejak keberangkatan, Hillary memang sudah menyiapkan diri menjadi ‘sasaran tembak’ kekesalan warga Pakistan yang marah terhadap kebijakan luar negeri AS. Pakistan memang bukan musuh, tapi juga bukan sahabat AS. Namun AS adalah salah satu negara yang mengakui lemerdekaan Pakistan pada tahun 1947. Bantuan militer dari AS ke Pakistan sempat dihentikan di tahun 1990, namun AS kembali menawarkan bantuan setelah terjadi peristiwa 11/9 yang disambut presiden Pakistan, Pervez Musharraf, dengan menjanjikan kesetiaannya sebagai sahabat AS. Paket bantuan finansial non-militer disetujui oleh kongres AS sebesar $7,5 Milyar selama 5 tahun, dan akan diberikan dengan syarat digunakan untuk meningkatkan pelayanan rakyat serta memperbaiki institusi pemerintahan sipil, setelah bertahun-tahun dalam rejim diktator militer. Pakistan menganggap persyaratan tersebut sebagai bentuk intervensi asing, namun tetap saja tawaran bantuan finansial tersebut diambilnya.

Dalam penerbangan menuju Pakistan, Hillary mendapat pengarahan dari ahli politik Afganistan dan Pakistan yaitu Richard Holbrook, diplomat senior dan deputinya, Vali Nasr. Vali Nasr adalah ahli Islam dan profesor politik internasional. Lahir di Iran dan pindah ke AS setelah Revolusi Iran 1979. Sempat tinggal satu tahun di Pakistan untuk penelitian tentang fundamentalisme Islam, dalam rangka studi S3nya.

Lingkungan perkantoran kedutaan AS dan pemukiman karyawannya berada dalam area tertutup dengan tingkat pengamanan yang sangat ketat dan terpisah tegas dengan masyarakat Pakistan. Vali menganjurkan supaya Hillary mulai membuka eksklusifitas ini dengan cara berkomunikasi dengan masyarakat sipil Pakistan yang lebih luas untuk meredakan kecurigaan dan ketegangan psikososial masyarakat. Kecurigaan tersebut terungkap ketika sesi tanya-jawab pers dengan Hillary, yaitu kekhawatiran bahwa AS hanya akan ‘menggunakan’ Pakistan seperti saat AS menggunakan Pakistan untuk mendestabilisasi kekuasaan Rusia di Afganistan. “I’ve learned from my mistakes”, jawab Hillary. Ghattas memberi penilaian positif terhadap jawaban Hillay ini, mengingat AS tidak pernah mengakui kesalahan kebijakan yang terjadi dimasa lalu.

Dalam pertemuan bisnis, para pengusaha Pakistan menanyakan tentang kelonggaran/fasilitas perdagangan dan tambahan bantuan finansial AS. Menurut Ghattas, Hillary justru heran mendapat pertanyaan tersebut. Para pengusaha besar Pakistan yang sudah sangat maju tersebut seharusnya perlu lebih serius membayar pajak demi pembangunan bangsanya daripada menuntut bantuan asing untuk menyelesaikan masalah mereka.

Penutup

Masih banyak lagi negara lain yang dikunjungi Hilary bersama para wartawan tersebut dan menjadi subyek pembahasan penulis dalam buku ini. Pengalaman hidup masa muda Ghattas di Libanon yang jadi ajang adu kekuasaan Timur Tengah, sangat mempengaruhi subyektifitas penulisan. Keberpihakan penulis yang cenderung melihat dunia dari sudut pandang politik luar negeri AS, sekaligus sinis dan cenderung menyalahkan negara-negara sedang berkembang, sangat terasa setelah membaca buku ini seluruhnya, khususnya pada bab-bab akhir tentang Turki, Pakistan, Afganistan, Iran, dll.

Penulisan waktu seringkali hanya tanggal dan bulan sehingga cukup menyulitkan pembaca untuk membayangkan urutan waktu kejadian, mengingat penulis juga memasukkan opini dan sejarah masa lalu dalam buku ini.

Secara umum, buku ini layak untuk memperkaya pengetahuan kita dalam hal kebijakan luar negeri AS dan cara kerja menteri luar negeri dalam menjalankan misi nasionalnya.

Tempo, 25 Aug 2014

Tempo, 25 Aug 2014

Terbaca di timeline facebook saya: “… menyakitkan..”, begitu posting teman di facebook memberi komentar terhadap lampiran posting temannya yang menanggapi sampul depan majalah Tempo 26 Agustus 2014.  Intinya adalah mengecam redaktur tempo yang dianggapnya tidak sensitif terhadap perasaan para pendukung PS dan telah melakukan ‘pembunuhan karakter’ beliau. Sikap ini diamini banyak temannya yang komentar di dalam wall tersebut, dengan ungkapan kasar terhadap Tempo bahkan tak sedikit yang mencaci presiden Jokowi.

Melihat sampul depan Tempo tersebut (belum baca isinya), tanpa sedikitpun bermaksud membela, bagi saya yang tak paham dengan seni karikatural, rasanya hambar dan kering saja, tak bermakna penghinaan atau pengagungan pada siapapun, meskipun kalau dilihat kostum yang dipergunakan sosok tersebut sepertinya memang dimaksudkan untuk menggambarkan pak PS. Mungkin justru karena saya tak melihat wajah pada gambar tsb, maka tak menggugah tafsir sedikitpun, sehingga jadi aneh membaca komentar2 yang berlebihan tersebut.

Nuansa kontras dalam wall tersebut terasa ketika di satu sisi menuntut sensitifitas redaktur Tempo, tapi di sisi lain begitu semangat menghujatnya dalam bahasa yang kasar, bahkan tak sedikit yang salah alamat dengan menghujat presiden terpilih konstitusional Jokowi. Jadi ingat masa pilpres yg lalu ketika buletin penuh fitnah yang sangat menyakitkan, Obor Rakyat, beredar di masyarakat. Proses hukum sudah berlangsung, berita dan foto terdakwa Obor Rakyat banyak muncul di media, tapi tak satu katapun muncul kecaman dari para penggede partai pendukung PS. Belum lagi beredarnya ucapan Rest In Peace, fitnah non-muslim, koruptor, PKI, dll, yang semuanya ditujukan pada Jokowi. Dimana para pengecam cover Tempo sekarang ini, pada saat itu? Dengan ukuran moral yang sama, saya berasumsi semestinya para pengecam Tempo ini juga mengecam para penyebar fitnah tersebut, dan justru akan sangat terhormat bila saat itu pak PS sendiri yang melakukannya. Sayang, beliau diam seakan setuju cara-cara kotor ini dilakukan. Bisa anda bayangkan perasaan para pendukung dan keluarga pak Jokowi ketika fitnah bertubi-tubi diarahkan pada beliau? Bahkan ketika lembaga keadilan tertinggi MK, yang telah disepakati bangsa ini sebagai penjaga gawang demokrasi, memutuskan tidak menerima gugatan PS-HR terhadap KPU, masih juga boosting opini akan adanya kecurangan pihak JKW-JK terus dilakukan. Jelas sengaja ditunjukkan sikap tidak mengakui atau menegasikan kemenangan JKW-JK dengan berbagai cara.

Oposisi adalah juga bagian terhormat yang sangat dibutuhkan dalam sistem demokrasi, tentunya bila sikap oposan kritis dilakukan terhadap kebijakan pihak pemerintah secara rasional untuk perbaikan nasib bangsanya, bukan dilakukan dengan niatan deligitimasi kekuasaan hanya karena kalah dalam kompetisi pilpres. Sepakat, tak perlulah terus saling menyakiti dan mari bersatu membangun negeri, dimanapun posisi politik kita berada. Salam damai, Persatuan Indonesia.

Video berikut ini adalah kompilasi foto tiga keluarga, saat tour di Eropa Timur 15 – 27 Juni 2014.

Lebaran 2014

Tanggal 24 Jul 2014 GA… membawa kami berempat, mas adi dg bapak/ibunya dan mbak Dilla, menuju Surabaya tepat jam 6:30 dan satu jam kemudian mendarat di Juanda, Surabaya. Menggunakan toyota Inova yang dikemudikan pak Ivan, kami melanjutkan perjalanan menuju Kediri. Mampir sebentar di Depot Anda untuk membeli rawon dan pepes udang bakal buka puasa bersama nanti di rumah Putri. Kurang-lebih jam 11:30 mobil masuk ke carport rumah Putri di Kediri. Alhamdulillah.

Usai Sungkeman

Usai Sungkeman

Om Putut sudah ada di Kediri, juga De Bet sekeluarga. Petang harinya, De Wow sekeluarga sampai juga di rumah Putri. Menjelang sahur 27 Juli 1:00 om Peter datang dari Munchen, terlihat lelah.

Tepat hari lebaran pertama 28 Juli 2014 jam 6 pagi, lontong capgomeh dan telor petis sudah terhidang dalam panci besar di atas meja makan, siap disantap, namun masih perlu sedikit bersabar karena harus berangkat menuju masjid Budaya Cipta untuk sholat Ied lebih dahulu. Masjid masih cukup lengang dan kami siap sholat di barisan terdepan. Pulang sholat, kami berkerumun di pinggir meja makan, antri bergilir mengupas lontong dan mengambil sayur rebung pedas, opor ayam, sambal goreng kerecek dan telor petis … hueennaakk tenan. Selalu ditunggu dihari lebaran.

Berangkat 30 Juli 2014 tepat jam 6 pagi, menggunakan bus yang bersih nyaman dan sejuk, PO. Setiawan, menuju stasiun kereta api Nganjuk. Didahului mobil polisi patwal dengan sirine yang seringkali menjerit menarik perhatian supaya diberi jalan nguing nguing …, bus meliuk-liuk bergerak lancar di jalan 2 jalur yang ramai kendaraan. Maklum, lebaran. Tak sampai 1 jam, bus masuk pelataran parkir stasiun Nganjuk. Sepi, loket masih tutup. De Gen njumblak di depan papan jadwal kereta api: “Loh, kok Wilis gak mandeg?”.. Semburat ngadeg De Ren lari ke kantor kepala stasiun untuk konfirmasi kedatangan Argo Wilis. Betul, KA. Argo Wilis memang tidak berhenti di setasiun Nganjuk. Penumpang dari Kediri harus naik dari Jombang atau Madiun. Mobil patwal kembali dihubungi De Ren supaya kembali ke stasiun untuk mengawal bus menuju Madiun. Kembali kami masuk ke dalam bus menuju Madiun. Ngok … bus merambat dalam kota Nganjuk karena lalulintas

Bus ke Yogya

Bus ke Yogya

padat menuju Madiun. Patwal mngambil inisiatif mencari ‘jalan tikus’ masuk ke perkampungan berharap sukses menembus kemacetan. Sayàng, jalan terlalu kecil untuk dilalui bus sehingga perjalanan menjadi lambat, bahkan sempat menyenggol pagar jembatan dan ranting pohon membuat gaduh menampar atap bus.

Jam 8:30 bus masih berada dalam perkampungan dan belum juga dapat keluar kota Nganjuk. Mengingat jarak ke Madiun yg masih cukup jauh dan waktu yang dirasa tidak cukup untuk mengejar Argo Wilis, yang diperkirakan akan sampai Madiun 9:15, De Gen berusaha lobi pemilik bus via telepon untuk dapat kita pergunakan terus hingga Yogya. Dealed, penumpang merasa lega dan siap istirahat dalam bus menuju Yogya.

Mobil Patwal hanya bisa mengawal hingga Madiun karena untuk wilayah Jawa Tengah harus menggunakan Patwal setempat. Patwal Jawa Tengah bergerak dan

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

membukakan jalan bus mulai dari Sragen menuju Yogya.Setelah 12,5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di hotel Tentrem Yogya pada jam 18:30. Bus yang bagus, nyaman dan suasana riang membuat lelah tak terasa … eh terasa juga sih, tapi senang .. semakin riang karena guyuran amplop utk kita semua dari pakde Anung. Alhamdulillah.

Setelah beberapa tahun seĺalu lebaran di hotel Shantika, sekarang ini untuk pertamakalinya kami tinggal di hotel Tentrem. Kamar Putri 809 adalah suite room dengan dua kamar besar yang nyaman di dalamnya dan menjadi tempat jagongan keluarga besar. Santaiii. Sayang sekali mas Dhito tidak bisa ikut bergabung karena sedang KKN di Lombok. Tamu baru yang turut bergabung dilebaran kali ini adalah Dipi, yang cempluk menggemaskan. Malam itu Dipi ditemani bapaknya namun tidur dengan mbak Dhila. Tidak banyak bicara dan cenderung diam tapi suka bergaya di di depan kamera.

De Ren dan TA

De Ren dan TA

Hari kedua, kami semua menuju peristirahatan Kakung untuk nyekar sebagai acara utama kunjungan ke Yogya. Nisan penuh melati dan mawar kami taburkan, setelah unjuk doa kepada Allah kami mohonkan, untuk kebahagian Kakung di sorga keabadian.

Tidak ada acara khusus yang menarik untuk diceritakan pada lebaran di Yogya kali ini. Acara jalan2 di Ambarukmo Plaza dan makan bakso Bethesda cukup jadi penyembuh kangen kuliner Yogya, selain bubur gudheg komplit dari bude Hani saat sarapan. Bakso Bethesda yang ada di dua tempat (sebelah barat RS. Bethesda dan Plaza Ambarukmo) ini, gak pernah terlewatkan kalau sedang di Yogya. Sangat-sangat perlu dicoba. Huenaakk dan Halal .. sertifikat dari MUI dan Dep. Perdagangan terpasang di gerobak dagangannya.

Setelah menginap dua malam, 1 Agustus 2014 selepas magrib, kami semua menuju stasiun Yogya untuk pulang Kediri menggunakan KA Malioboro tujuan Malang pada jam 20:00. Tidak termasuk pakde Anung sklg yg sudah pulang Jakarta siang itu, om Putut/om Peter yg sudah terbang menuju Labuan Bajo pagi itu juga dan bude Reni sekeluarga yg masih menginap di hotel menemani mbak Sita yg akan kembali ke Melbourne dua hari lagi.

Belum sampai jam 1 pagi, kereta sampai di Kediri dan selesailah perjalanan nyekar Kakung di Yogya pada masa lebaran tahun ini. Alhamdulillah. Semoga kita bisa kumpul lagi bersama Putri dalam keadaan semua sehat, sejahtera dan bahagia dengan peserta yg lebih lengkap di lebaran 2015. Amin

Video Lebaran: