Feeds:
Pos
Komentar

Jeda Tulisan

Sudah lama sekali rasanya tidak update blog ini. Banyak peristiwa yang seharusnya bisa direnungkan, kritisi dan ungkapkan dalam bentuk tulisan atau mungkin hanya catatan ringan saja, telah banyak terlewatkan, seperti catatan Lebaran, atau kasus Krisis Ekonomi Eropa dan Permen ESDM No.7/2012 ttg Pengkayaan Nilai Tambah Pertambangan, yang keduanya saling terkait dan menjadi bagian penting dalam kegiatan penulis.

Membuat blog dan merawatnya secara teratur akan sangat bermanfaat bagi penulisnya karena bisa menjadi catatan pemikiran, summary informasi atau bahkan bisa menjadi informasi bagi pembacanya.

Ada beberapa buku menarik yang masih antri untuk dibaca saat ini, dan akan dituliskan dalam blog ini ringkasannya, ASAP. Maaf kawan, saya termasuk yang sulit berbagi fokus dalam kesempatan yang sama.

19 Juni 2012, Lion Air Boeing 737-800 terbang jam 5:00 WIB dari bandara Soekarno-Hatta, Jakarta langsung membubung tinggi di ketinggian 37000 kaki. Pesawat bersih, penuh penumpang dan terasa sejuk dengan interior dominan berwarna biru. Mendarat di bandara Mutiara Palu jam 8:20 WITA.

Tepat jam 9 pagi Toyota HI-Lux double cabin membawa kami bertiga menuju Morowali via Poso (lihat peta, dari titik A menuju B). Sungai banyak terlihat kering. Jalan ditutup selama 2 jam, tepat saat kami memasuki Kebun Kopi, antara Palu-Toboli, karena perbaikan jalan akibat longsor. Toboli adalah pertigaan jalan di pantai timur Sulawesi tempat bertemunya jalan dr Manado-Makassar dan Palu-Makassar. Toboli-Manado 1000km dan Toboli-Makassar 900km.

Istirahat siang, kami makan ikan bakar di resto pinggir pantai kota Lebo, Kab. Parigi. Restoran sepi tanpa nama, tak satupun terlihat tamu kecuali kami bertiga. Hanya tersedia satu box ‘iglo’ berisi ikan baronang. Kami memesan masing-masing satu ikan baronang dengan cah kangkung dan es nutrisari. Kenyang dengan harga terjangkau, Rp. 40.000 per orang. Siap melanjutkan perjalanan di panas terik. Lebo-Poso sekitar 150 km, lebar jalan hanya mampu untuk dua mobil bahkan seringkali kami harus keluar badan jalan saat menyalip truk. Klakson mobil kami terus berbunyi mengingat seringkali motor/sepeda keluar ke jalan raya dari pintu rumah yang dekat sekali ke badan jalan, dengan mendadak.

Setelah 43 km perjalanan, kami sampai di Kec. Tolai, 107 Km menuju Poso. Cukup ramai, terlihat pompa bensin, Tiki dan BNI. Samsurizal Tombolotutu calon bupati yg banyak muncul balihonya di pinggir jalan, banyak modal sepertinya.

Kecamatan Balinggi, 1/2 jam dr Tolai, banyak dihuni warga Bali, pagar rumah kas Bali dan pura, termasuk simbol patung yang dibungkus kain hitam-putih terlihat di pinggir jalan. Sawah hijau dan tanaman coklat banyak terlihat sepanjang jalan di kecamatan ini. Rumah adat Bali ini masih banyak terlihat hingga mendekati kota Poso. Ada cerita bahwa masyarakat Bali di Poso banyak terlibat dalam usaha perdamaian saat kerusuhan etnik terjadi di awal 2000an. Beberapa puing-puing sisa rumah dan bangunan bekas terbakar saat kerusuhan masih terlihat, namun banyak juga sudah terlihat direnovasi. Poso sudah aman dan mulai membangun. Toko mobil Haji Kalla sedang dibangun di kota ini. Antrian bahan bakar bensin terlihat panjang, banyak motor juga membawa jerigen. Entah apa penyebabnya, kuota bbm yang kurang atau penjual eceran yang menimbun?

Kecamatan Sausu di Kabupaten Poso dipisahkan dengan kabupaten Parigi oleh sebuah sungai besar. Sampai di kecamatan Tambarana jam 15:30, berjarak 170 km dari Palu dan 50 km lagi menuju Poso. Kira-kira 40 km sebelum masuk Poso, jalan rusak dan aspal lepas dari badan jalan. Perbaikan sedang dilakukan.

Masuk kabupaten Poso jam 16:30 disambut dua tower BTS (telkomsel?) di kiri/kanan jalan. Rumah-rumah adat Bali masih banyak terlihat dengan tanaman coklat di depannya. Depo Pertamina di sebelah kiri jalan terlihat luas dan bersih, walaupun sempat terbakar saat kerusuhan yang sangat traumatik terjadi beberapa tahun yang lalu. Pusat kota ditandai oleh pusat pertokoan kecil (pasar?) di pojok perempatan. Konon, saat terjadi kerusuhan, pasar ini sangat dijaga oleh aparat keamanan sebagai pusat ekonomi dan tempat pengungsian.

menyeberang sungai

Perjalanan Poso – desa Tomboyali menggunakan jalan raya Poso-Luwuk, kemudian belok ke kanan di pertigaan Taiawa. Jalan sempit dan rusak di beberapa lokasi. Sampai di desa Malino, perjalanan semakin berat setelah melewati desa Sumara, karena memasuki hutan heterogen dengan pohon-pohon berbatang kecil dan gelap, sudah jam 18:30wita dan tanpa signal handphone. Jembatan banyak rusak, sehingga seringkali kami harus menyeberang sungai kecil maupun besar, untungnya di hulu tidak sedang hujan walaupun air sudah menutupi lampu depan mobil dan merendam knalpot. Toyota Hilux memang handal.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di kampung Tambayoli pada jam 20:00 wita, setelah total 11 jam perjalanan dari Palu. Desa terlihat terang dan hidup di malam hari karena mendapat bantuan listrik dari perusahaan tambang nikel. Desa, yang masuk kecamatan Bungku Utara, kabupaten Morowali ini berada di dekat muara laut lepas Sulawesi bagian timur, berisi tak lebih dari 200 rumah, yang sebagian warganya bermatapencaharian sebagai petani, peternak dan pekerja tambang. Banyak rumah mulai dibangun dan ekonomi mulai menggeliat tumbuh karena pertambangan mulai beroperasi beberapa bulan yang lalu, efek ganda (multiplier effect) telah terjadi. Semoga keberadaan perusahaan tambang disana bisa menjadi berkah untuk masyarakat sekitar dan perusahaan. Amin.

Nyekar dan Bermain

Mainan baru yang kuperoleh sejak Feb. 2012 ini memang sering memaksa untuk dibawa jalan, Nikon D90. Kamera yang bagus untuk pemula, begitulah saran dari para pemain lama. Mata sering terpacu untuk lebih jeli melihat sekitar, yang selama ini sering terabaikan, dan melintas begitu saja. Mainan ini mengingatkanku pada alm. Bapak di tahun 70an dengan Kodaknya, yang kalau memotret harus diintip dari atas kamera, bahkan lengkap dengan ruang dan peralatan cuci-cetaknya. Kamera manual dan film hitam-putih. Kami sekeluarga turut sibuk memproses film hingga menjadi foto di atas kertas, dalam ruang gelap berlampu merah, redup. Cukup menarik untuk bisa menuliskan proses cuci-cetak film ini, sayang aku sudah banyak lupa, tapi nanti akan kutulis setelah ingatan kembali terjaga.

Juwana
Dalam rangka ziarah makam orangtua di Juwana, D90 dan lensa kit 18-105 mm turut menjadi bekal. Sirrr … sedikit nyeri di hati melewati rumah kosong yang dua tahun lalu Ibu masih di situ, Bapak lebih dulu menggalkannya, setahun sebelumnya.

Obyek pertama yang aku harapkan adalah suasana ‘tambak udang’ di pinggir kali. Ternyata udang sudah dipanen, kering, penuh alang-alang. Aktifitas menjaring ikan di pinggir kali juga tidak aku dapatkan. Hanya satu momen yang terjebak dalam kamera, tiga anak bersepeda pulang sekolah.

Warung kecil yang menjajakan masakan ikan laut menjadi tempat makan siang bersama kakak dan adik-adikku. Murah, lengkap dan pedas. Mangut ikan Pe, sop kepala Manyung, kepiting, udang, bothok telor kepiting, sambel pete adalah menu yang terhidang, dan es kopyor sebagai penutupnya.. … Nyusss ..

Kapal Nelayan

Obyek foto berikutnya adalah kapal di kali Juwana. Sayang warna langit kurang ramah, berawan gelap, mendung. Sudut pengambilan gambar tidak bagus dan kurang berwarna, hanya biru menguasai warna kapal.

Semarang
Sewaktu kecil, sering aku dibawa bapak/ibu beranjangsana ke saudara di Semarang tapi tak sekalipun terlintas untuk mampir ke Lawang Sewu, gedung perkantoran Kereta Api jaman Belanda, meskipun mondar-mandir keliling Tugu Muda, di depannya.

Kawasan Simpang Lima

Test kamera low-light aku lakukan dari jendela Shantika hotel dengan obyek neon sign ‘Kawasan Simpang Lima’, lalu keluar menuju Lawang Sewu, jalan kaki.

Lawang Sewu

Lawang Sewu (Luar)

Dengan membayar tiket Rp. 10 ribu dan pemandu wisata Rp. 35 ribu, tamu bisa keliling memotret sambil mendapatkan cerita sejarah Lawang Sewu dari pemandu. Malam itu cukup banyak pengunjung, yang seringkali berbisik-bisik tentang cerita mistis gedung ini dari banyak media. Tentang sejarahnya bisa googling dengan penunjuk “Lawang Sewu” atau “wisata semarang”. Dari sisi luar gedung, pencahayaan tertata bagus.

Lawang Sewu (Dalam)

Kombinasi cahaya lampu kuning yang menyorot dinding gedung, taman yang tertata rapi, lorong panjang yang bersih dan terang, dan jendela gothik di bagian atas, juga cahaya dari Tugu Muda di balik gedung, sungguh bagus jadi obyek fotografi. Gedung Percetakan tua yang terawat dengan lampu-lampu kuning terang di dalamnya, dan cahaya kuning lembut di luarnya, juga indah dilihat dari luar melalui jendela-jendela besar yang terbuka.

Lokomotif

Yang juga menarik, lokomotif buatan Jerman yang dipergunakan di jaman Belanda juga dipajang di depan gedung. Memang masih ada gedung yang gelap, pengap, belum tertata. Berbeda dengan suasana malam hari yang terlihat lembut, pada siang hari gedung Lawang Sewu terlihat kokoh, kaku dan kering.

Kota Lama

Gereja Blendhuk

Di daerah Kota Lama, aku hanya sempat memotret Gereja Blendhuk yang terawat baik, bersih dan masih aktif dipergunakan. Ingin rasanya melihat bagian dalam bangunan ini, namun situasi tidak memungkinkan berhubung sedang ada Kebaktian.

Gedung Marba

Gedung tua Marba, yang sepertinya masih aktif dipergunakan, sempat juga aku potret. Ada satu gedung tua di jalan Gereja Blendhuk ini yang sudah tidak dipergunakan, lusuh, tidak terawat.

Masih banyak obyek foto yang perlu dilihat di Kota Lama ini, seperti setasiun Tawang dan beberapa gedung disekitarnya, juga obyek lainnya di kota lunpia ini, Semarang. Sampai jumpa…

Meredupnya Amerika Serikat?

Judul: That Used To Be Us
Penulis: Thomas L. Friedman, Michael Mandelbaum
Tebal Buku: 380 halaman
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun: 2011

‘If you see something, say something’, adalah judul bab 1 pada Bagian 1 The Diagnosis, yang berisi maksud penulisan dan intisari buku ini. Kedua penulis beranggapan bahwa kondisi Amerika saat ini sedang mengalami penurunan secara perlahan. Berbagai komentar yang menunjukkan bukti kemajuan ekonomi dan ethos kerja Cina serta ketertinggalan AS banyak dikutip dalam bab ini. Ada empat gejala besar penurunan ini:
1. Menggunakan terminologi doktrin strategik ‘dogfight’, OODA (Observe, Orient, Decide, Act), Amerika saat ini sangat lambat menggunakan OODA sehingga mudah kalah dalam ‘dogfight’.
2. Dalam 20 tahun terakhir, AS telah gagal menyelesaikan banyak masalah besar yang semakin memburuk, seperti pendidikan, defisit/hutang, energi dan perubahan iklim.
3. AS kehilangan semangat nilai-nilai kebesaran pendiri bangsanya
4. AS belum bisa memperbaiki kekuatan dan semangatnya karena sistem politiknya yang lemah dan sistem nilainya telah tergerus.

Buku ini menjadi penting dan mendesak karena AS tidak lagi mempunyai cukup waktu dan sumber daya seperti duapuluh tahun yll, ketika budget defisit dan semua masalah besar sangat terkendali. Namun, investasi dalam bidang pendidikan, infrastruktur, RnD, juga keterbukaan pada imigran berpotensi dan perbaikan sistem ekonomi, sangat mendesak untuk ditindaklanjuti.

Berakhirnya Perang Dingin, memaksa AS untuk menghadapi empat tantangan besar yang akan menentukan masa depannya, yaitu:
1. Bagaimana beradaptasi dengan globalisasi
2. Bagaimana mengatur revolusi teknologi informasi
3. Bagaimana mensiasati defisit
4. Bagaimana mensiasati sekaligus antara kebutuhan energi yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim

Setiap tantangan harus dihadapi secara nasional, tidak cukup hanya oleh pemerintah saja, dan kesuksesan menghadapinya akan menentukan besaran dan bentuk pertumbuhan ekonomi.

Bagian 2 The Education Challenge
Bagian ini dibuka dengan bab ‘Up In The Air’, sebuah film tentang profesi pemecatan karyawan, yang dibintangi oleh George Clooney. Pesan dari film ini adalah ‘tidak seorangpun merasa aman’, bahkan sang ahlipun bisa tergantikan oleh teknologi. Konvergensi globalisasi dan teknologi bisa menggilas siapapun.

Merger antara Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi telah merubah banyak hal, dan mampu menciptakan pasar dan realitas politik baru hanya dalam sekejap. Hal ini telah membentuk politik semakin transparan, dunia semakin terhubung (‘The Wold is Flat’, T. Friedman), diktator semakin terancam dan individual atau kelompok semakin berdaya.

Ketidakamanan pekerja AS hanya bisa diatasi dengan kemampuan berinovasi yang didukung oleh pendidikan yang lebih baik. Ekonomi yang sehat tidak hanya disebabkan oleh efisiensi dan produktifitas yang semakin tinggi, namun juga oleh berbagai inovasi. Saat ini AS sangat membutuhkan sebanyak mungkin pencipta dan penyedia jasa yang kreatif. Sebagian menemukan produk-produk baru, lainnya bisa memperbanyak pekerjan-pekerjaan sejenis. Dalam sektor jasa, mampu memberikan layanan jasa rutin dengan sentuhan ekstra personal atau dengan cara yang tidak biasa-biasa saja.

Peran pendidikan dalam era Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi, menjadi posisi sentral dalam pandangan penulis, khususnya peningkatan kemampuan matematika, sains, membaca dan kreatifitas, perlu mendapatkan perhatian utama karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebagai kunci ketahanan nasional. Presiden Obama, “negara kita yang kurang pendidikan saat ini, akan tidak mampu berkompetisi di masa datang”.

Menurut penulis, AS masih belum sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan adalah investasi untuk pertumbuhan nasional dan ketahanan nasional. Selama ini pendidikan masih dianggap sebagai isu lokal, bukan nasional, sementara saat ini sudah tidak penting lagi posisi tingkat kualitas pendidikan antar negara bagian AS, melainkan posisi tertinggi diantara negara-negara lain didunialah yang harus jadi target kualitas pendidikan.

Bagian 3, The War On Math and Physics

Dalam bagian ini, penulis banyak membahas tentang kondisi finansial AS dan pilihan-pilihan teknis ekonomi, antara pemotongan budget tahunan, penundaan/pembatalan berbagai program nasional, atau investasi cerdas untuk masa depan.

Menurutnya, penyebab defisit dan hutang yang tinggi adalah kombinasi antara resistensi Republikan untuk menaikkan pajak, dan resistensi Demokrat untuk memotong belanja negara, juga keterlibatan AS di perang Irak dan Afganistan, ditambah lagi dengan sistem finansialnya yang lemah hingga runtuhnya ekonomi AS pada 2008 yang lalu.

Opini David Stockman, di The New York Times, yang dikutip penulis, menyatakan bahwa Cina adalah ancaman terbesar, karena terus meningkatkan ekspor dan membanjiri AS dengan produk negerinya, juga karena terus memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan cara membeli Surat Berharga AS, yang berakibat menguatnya harga dollar terhadap Yuan, yang diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen AS untuk terus membeli produk Cina. Strategi Cina dalam peningkatan industri ekspor ini tidak hanya untuk kepentingan pemenuhan semakin tingginya pencari kerja di negerinya, namun juga dalam upaya membuat ketergantungan terhadap produk industri Cina.

Masalah serius akan muncul bila Cina menghentikan pinjaman secara tiba-tiba, sehingga AS terpaksa harus memilih untuk melakukan :
1. Meningkatkan bunga kredit untuk menarik modal, yang berakibat turunnya aktifitas ekonomi, atau
2. Mencetak uang untuk menutup defisit, yang bisa berakibat inflasi, atau
3. Melakukan kombinasi kenaikan pajak dan pengurangan belanja.

Pilihan ke-3 sepertinya adalah yang paling optimal, meskipun tetap bukan pilihan yang nyaman. Yang juga merepotkan adalah, disaat AS terus berharap bahwa Cina tidak menyerang Taiwan, karena AS sudah berkomitmen untuk tetap melindungi Taiwan dari serbuan Cina, AS masih meminjam uang yang sangat besar dari Cina. Tersandera.

Bab 4 Political Failure
Tentang politik, pada bab ‘Shock Therapy’, penulis menawarkan penguatan partai ke-3 yang mendukung calon independen. Diharapkan dengan semakin membesarnya konstituen partai independen, yang walaupun sulit untuk menang di AS, setidaknya bisa mendesakkan tambahan agenda perubahan terhadap kedua partai besar, yang cenderung berperilaku seperti ‘supermarket’ yaitu menjual semua kebutuhan konsumen. Lebih tepatnya, partai independen bisa mencoba berperilaku sebagai ‘minoritas berkuasa’ yang mempunyai posisi tawar untuk diperebutkan terhadap kedua partai besar.

Pertanyaan akhir penulis bagi bangsa AS yang menarik adalah, “Apakah ini semua akan happy ending?”. Jawabnya adalah, “Bergantung pada bangsa AS itu sendiri, untuk menentukan apakah ini cerita fiksi atau non-fiksi”.

Bangsa AS menyadari sepenuhnya bahwa sebagai bagian dari ‘happy-ending’ adalah kepedulian bahwa ada sesuatu yang salah urus, yang diperlukan adanya perubahan, dan bangsa AS adalah agen perubahan itu sendiri. AS perlu untuk terus belajar keras, menyimpan lebih banyak, mengurangi belanja, investasi lebih bijak dan kembali pada nilai-nilai yang bisa membangun kejayaan seperti masa lalu.

Judul: JUSTICE, What’s the right thing to do?
Penulis: Michael J. Sandel
Tebal Buku: 308 halaman
Penerbit: Farrar, Strauss and Giroux; New York
Tahun: 2009

Buku menarik ini berisi ‘rekaman’ kuliah umum filsafat politik oleh Professor Michael Sandel di Universitas Harvard yang sangat digemari hampir ribuan mahasiswanya. Ada duabelas file video ‘live’ kuliah ini, termasuk diskusi dengan mahasiswa, yang masing-masing berdurasi satu jam, juga bisa diunduh gratis dari youtube.com atau itunes.apple.com.

Hal yang menarik dari Justice adalah ‘mengganggu’ nurani sekaligus visi pembaca untuk selalu mempertanyakan secara kritis dari banyak sisi tentang Keadilan sebagai buah kebijakan manusia sehari-hari untuk memenuhi kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat modern. Judul-judul bab dalam buku ini sejak awal halaman memang merangsang untuk terus ingin mengetahui isinya, selain isi antar bab memang berkaitan dan menerus. Beberapa yang menarik misalnya: Doing The Right Thing, The Greatest Happiness, Do We Own Ourselves?, Who deserve what?

Beberapa hal yang dibahas dalam kuliah ini adalah tentang SARA (affirmative action), tindak kanibal, perkawinan sejenis, pasar bebas, pajak si kaya untuk si miskin, aborsi, euthanasia, hak individual vs kepentingan umum, dll. Contoh kasus-kasus di atas digunakan Sandel untuk menguji konsep Keadilan dan Moral dari para filsuf moral mulai dari Aristoteles hingga Immanuel Kant, John Rawls dan Aristoteles.

Sandel membedakan tiga pendekatan (Three Ways of Thingking) terhadap Keadilan, yaitu pertama, Utilitarian, yang menyatakan bahwa untuk mendefinisikan Keadilan dan untuk melakukan hal yang Benar adalah dengan memaksimalkan kesejahteraan atau kebahagiaan kolektif masyarakat. Kedua, adalah Kebebasan memilih (freedom), Libertarian memberikan contoh tentang Pasar Bebas (free market), tanpa keterlibatan pemerintah. Ketiga, adalah pendekatan Nilai Luhur yaitu memberikan pada yang berhak.

Beberapa contoh kasus Keadilan yang muncul di bagian awal buku ini yang didekati dengan tiga hal di atas. Pertama, tentang mahalnya barang-barang kebutuhan rumahtangga di New Orleans setelah badai Katrina meluluhlantakkan kota itu (price gouging). Apakah pedagang berhak menentukan harga semaunya, hanya berdasar Hukum Ekonomi semata (penawaran-permintaan)? Bagaimana peran pemerintah? Bagaimana tanggungjawab sosial? Kedua, tentang penghargaan Purple Heart bagi tentara AS yang mengalami cacat fisik di medan perang. Mengapa ‘cacat’ psikis, yang seringkali mengakibatkan trauma perang tidak mendapatkan penghargaan serupa? Apakah cacat psikis bukan pengorbanan atau tidak menunjukan sikap patriotik? Terakhir tentang kucuran dana pemerintah (bailed out) saat krisis finansial 2008. Mengapa para CEO lembaga keuangan AS justru mendapat ‘reward’ berlebihan justru saat mereka tidak mampu mengendalikan runtuhnya finansial AS? Mengapa masyarakat AS justru menanggung beban melalui penggunaan pajak akibat ulah para CEO?

Kasus pertama (price gouging), kelangkaan barang di New Orleans, setelah badai Katrina, membuat pedagang meningkatkan harga barang/jasa semaunya untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Pasar ideal yang Adil mensyaratkan adanya unsur maksimalisasi Kesejahteraan (welfare) bagi para pedagang melalui keuntungan dan Kebebasan (freedom) memilih dalam transaksi bagi konsumen berdasar informasi yang benar serta didasari Nilai luhur (Virtue) dalam bertransaksi. Persoalan Keadilan muncul ketika perdagangan hanya memenuhi unsur maksimalisasi Kesejahteraan pedagang namun tidak didasari Kebebasan konsumen untuk memilih, berhubung bencana alam menyebabkan situasi darurat dan kemiskinan, dan jelas perilaku keserakahan mencederai Nilai keluhuran masyarakat.

Kasus Kedua tentang Penghargaan Purple Heart ini muncul ketika semakin banyak korban perang di Afganistan dan Irak yang menderita mimpi buruk setiap hari, depresi akut, bahkan bunuh diri; sementara penghargaan hanya diberikan pada korban meninggal dan cacat fisik. Keadilan dipertanyakan berdasar Nilai Keluhuran pengorbanan yang dirasakan setara bagi penderita cacat psikis dan cacat fisik. Berbeda dengan medali militer, medali Purple Heart ini diberikan pemerintah AS sebagai penghargaan Pengorbanan, bukan Keberanian, sehingga alasan bahwa cacat psikis diakibatkan oleh ketakutan di medan perang sungguh tidak dapat diterima. Berdasar logika moral teori Keadilan Aristoteles, maka tidak bisa ditentukan siapa yang berhak menerima medali tanpa lebih dulu mempertanyakan Nilai-Nilai Luhur Pengorbanan seperti apa, yang bisa diberi penghargaan (teleologikal).

Kasus Keadilan ketiga adalah tentang Bailout, saat institusi keuangan AS mengalami kebangkrutan di tahun 2008-2009. Para CEO AS membela diri bahwa ini disebabkan oleh faktor eksternal dan mereka telah berbuat semaksimal mungkin dan gagal. Kemarahan masyarakat AS mencuat karena ketidak-adilan dirasakan akibat dana bailout banyak dipergunakan untuk Kesejahteraan para CEO yang dianggap tidak layak menerimanya karena tidak ada Nilai Keluhuran yang diperbuatnya. Masyarakat mempertanyakan, bila ‘faktor eksternal’, bukan kesalahan CEO, dianggap sebagai penyebab keruntuhan, mengapa ‘faktor eksternal’ sebagai penyebab kesuksesan finansial dianggap sebagai kesuksesan para CEO tersebut?

Kritik Utilitarianisme (Bentham)
Pendekatan Utilitarianisme, dengan sifatnya yang mengutamakan sisi kuantitatif daripada kualitatif, tanpa sadar sering kali menjadi praktek penyelesaian masalah sosial di jaman modern sekarang ini, yang berimplikasi terjadinya ketidakadilan moral. Metoda Cost-Benefit analysis untuk menyelesaikan kasus-kasus lingkungan/sosial adalah turunan dari teori pemikiran Utilitarian ini. Salah satu contoh kasus dilema moral dengan pendekatan Utilitarian yang diberikan Sandel adalah The Runway Trolley.

Kisah ini mengandaikan pembaca sebagai pengendara lori yang sedang berjalan turun dengan cepat dengan rem yang tidak bekerja. Di ujung depan rel lurus itu sedang ada lima pekerja yang sedang memperbaiki rel, yang bila tertabrak, pasti akan fatal akibatnya, tewas. Namun, ada kemungkinan membelokkan lori ke cabang rel sebelahnya dengan resiko menabrak satu orang penjaga rel, yang juga berakibat fatal, tewas. Apa yang akan anda lakukan? Hampir semua orang yang melihatnya akan berteriak “banting setir!!”, seolah setuju bahwa menewaskan satu orang lebih baik daripada lima orang.
Dengan mengubah sedikit cerita, rekomendasi akan berbeda. Seandainya pembaca berdiri berdua dengan penjaga rel yang berbadan besar, di rel sebelah dan kali ini lori, yang dikendarai orang lain, tidak dapat dibelokkan namun tetap melaju cepat ke arah lima pekerja. Mengetahui bahwa lori akan menewaskan lima pekerja, dan tubuh anda tidak cukup kuat menahan laju lori, maka anda mendorong penjaga rel yang berbadan besar itu hingga jatuh di atas rel dan menghalangi laju lori, dan menewaskannya. Lima pekerja selamat. Hampir semua pembaca pasti tidak membenarkan keputusan anda untuk mengorbankan penjaga rel.

Mengapa pilihan keputusan pada kasus kedua tidak dibenarkan, sedangkan dua kasus tersebut persis sama, mengorbankan satu orang untuk keselamatan lima orang?

Contoh kasus lainnya, yaitu pembunuhan bersama terhadap satu orang penumpang sekoci dan memakannya, untuk mempertahankan hidup di tengah laut; kasus melemparkan manusia ke tengah gelanggang untuk diadu dengan singa dijaman kekaisaran Roma sebagai hiburan masyarakat; kasus ‘the city of happines’ yaitu mengucilkan seorang anak gadis yang terganggu mentalnya dengan maksud supaya tidak mengganggu masyarakat; diajukan Sandel untuk menguji teori Keadilan Utilitarian, yang dicirikan dengan prinsip utamanya yaitu kebahagiaan tertinggi (to maximize happiness) sekaligus mengurangi penderitaan/ketidak nyamanan, meskipun harus mengorbankan minoritas. Dari sisi Keadilan Utilitarian, tiga kasus di atas (masih ada beberapa contoh lainnya) jelas memenuhi prinsip Utilitarian, yaitu demi memprioritaskan ‘kebahagiaan tertinggi’, namun apakah secara moral bisa diterima?

Komentar para mahasiswa tentang kasus dilema moral ini beragam dan menarik untuk direnungkan. Masih ada beberapa contoh kasus dilema moral diberikan Sandel dalam buku ini, yang juga dapat dilihat langsung selengkapnya di youtube.com.

Kritik Utilitarian menurut Sandel menyangkut dua hal, yaitu:
1. Hak-Hak Individual
2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang (cost and benefit ratio analysis)

1. Hak-Hak Individual
Pendekatan Utilitarian dianggap tidak menghargai Hak individual. Interogasi para tahanan terorisme dengan cara menyiksa untuk mendapatkan informasi rencana pemboman, demi melindungi keselamatan publik, adalah salah satu contoh yang diberikan Sandel tentang pelecehan Hak Individual.

2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang
Cost benefit Analysis adalah bentuk praktek Utilitarian yang yang secara teknis biasa dipergunakan oleh pemerintah atau perusahaan besar untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan persoalan sosial/lingkungan dengan cara memberikan bobot nilai numerik terhadap variabel kulitatif, sehingga memudahkan perhitungan. Contoh: Cost-Benefit analysis yang dilakukan Phillip Morris di Czech memberikan hasil bahwa pemerintah Czech banyak mendapat keuntungan finansial dengan banyaknya perokok muda di negaranya, karena akan banyak warga meninggal pada usia muda sehingga mengurangi biaya asuransi kesehatan, perumahan dan pensiun, selain pendapatan dari pajak rokok tentunya. Sikap Utilitarian ini jelas melecehkan Nilai Luhur kehidupan manusia seperti penderitaan karena penyakit, penderitaan keluarga dan kematian itu sendiri.

Libertarian
Dalam hubungannya dengan Pasar, Libertian sangat tidak mendukung keterlibatan pemerintah untuk turut campur mengaturvnya. Ciri utama Libertarian adalah mendewakan Kebebasan (freedom of choice) dan prinsip-prinsip dasarnya adalah:
1. No Paternalism, menolak campur tangan pemerintah untuk mengatur keselamatan individu dalam beraktifitas, selama tidak mengganggu pihak lain
2. No Morals Legislation, menolak campur tangan pemerintah untuk menilai moral individu dalam menentukan kebijakan
3. No Restribution Income or Wealth, menolak kebijakan pemerintah untuk mengatur ‘subsidi silang’ (mengambil dari yang berlebih untuk yang kekurangan).

Menurut Sandel, kaum Libertarian ini biasa dilekatkan terhadap kelompok konservatif di AS, yang umumnya berada di Partai Republik. Beberapa pendukungnya, adalah Milton Friedman (Capitalism and Freedom), Friederich Hayek (The Constitution of Liberty) dan Robert Nozik (Anarchy, State and Utopia).

Libertarian menolak pajak karena dianggap pemerasan tenaga-kerja atau pelanggaran hak individual untuk mendapatkan kebahagiaan tertinggi dari pendapatannya. Selanjutnya, upah adalah hak pekerja atas hasil jerih-payahnya, bukan hak pemerintah untuk mengambil sebagian melalui pajak, apalagi hak yang tak berpunya. Dengan demikian, bisa dimengerti sikap Partai Republik AS saat ini yang sangat resisten terhadap upaya Obama menaikkan pajak pendapatan. Contoh lain adalah apakah seseorang berhak membeli ginjal orang lain, melalui kekayaan dan kebebasannya, untuk maksud kesenangan belaka? Apakah seseorang bebas menentukan hidup-matinya sendiri (euthanasia)?

Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, moralitas bukanlah mencari kebahagiaan tertinggi (utilitarian), melainkan menghormati kemanusiaan sebagaimana adanya (to respect humanity as an end in itself); dan tindakan disebut bermoral bukanlah karena menghasilkan kebaikan, tetapi karena niat (motif) baik itu sendiri, tanpa ‘pamrih’ atau maksud lain. Penjaga toko membatalkan maksudnya untuk menaikkan harga mainan yang akan dibeli seorang anak, yang tidak mampu menawar, karena khawatir bila ketahuan oleh publik akan membuatnya ditinggalkan pelanggan. Menurut Kant, tindakan penjaga toko tersebut adalah baik namun kurang bermoral karena ada ‘pamrih’ di dalamnya, keuntungan bisnis.

Aristoteles
Menurut Aristoteles, Keadilan adalah memberikan pada yang berhak. Tentang politik ia berpendapat bahwa politik berguna untuk membentuk masyarakat yang baik, serta meninggikan kebenaran.

Kritik Sandel tentang moral untuk Aristoteles adalah pernyataannya bahwa sebagian orang memang dilahirkan sebagai ‘budak’, yang lebih baik dipimpin/dimiliki oleh ‘tuan’nya. Mungkinkah pemikiran Aristoteles belum bisa lepas dari jamannya?

Pada bab terakhir berjudul ‘Justice and The Common Good’, Sandel kembali menegaskan bahwa Maksimalisasi Kesejahteraan dan Kebebasan Memilih, tidak cukup untuk mencapai masyarakat yang ‘baik’ (secara moral, etika dan hukum dapat dibenarkan), melainkan hanya pendekatan Nilai Luhur (cultiviting virtue), maka keadaan tersebut bisa dicapai. Untuk itu perlu ada kesepakatan dan cita-cita bersama tentang masyarakat yang ‘baik’ dan membangun kultur masyarakat yang memberi ruang terhadap adanya perbedaan.

Membaca buku ini hingga selesai dan merefleksikannya terhadap kehidupan kita di negeri ini, akan memunculkan renungan keadilan moral seperti:
– Apakah adil bila pemerintah terus melakukan import beras, bawang merah, daging demi memenuhi kebutuhan Nasional, namun disaat yang sama menjatuhkan harga barang di petani?
– Apakah adil bila pemerintah terus memproduksi kendaraan bermotor demi meningkatkan pendapatan nasional, namun di saat yang sama jalan raya tidak ditambah/diperbaiki?
– Dan lain-lainnya..

Mengunjungi Beijing

Meranggas

Lampu kabin Garuda F890 tujuan Beijing dimatikan untuk takeoff dari bandara Soeta pada pukul 21:23. Pilot mengumumkan bahwa akan membutuhkan waktu selama 7 jam untuk sampai di bandara Beijing, China. Tepat 5:30 waktu Beijing, Garuda GA890 mendarat.

Hari ke-1
Bandara Beijing

Di restroom bandara, kami semua mulai mengenakan longjon (pakaian dalam panjang dari kaki hingga leher) dibawah kaos panjang dan jaket tebal, untuk menghadapi udara dingin akhir Desember -5C, sebelum keluar melewati imigrasi dan mengambil bagasi.

Sambil menunggu datangnya bus penjemput, kami sempat sarapan di Kentucky dengan menu burger ikan bersaus manis (rasa bebek goreng Duck King, jakarta). Pukul 7:30 tour bus mengangkut kami ber18 menuju Summer Palace. Jalan serasa masih subuh, matahari belum muncul, berkabut dan sedikit macet. Pohon berbatang kecil, 15-20 cm diameter, tumbuh rapi di sebelah kanan/kiri jalan tol, meranggas daunnya, kecuali pohon pinus yang daunnya mampu bertahan, terlihat hijau. Cerobong tinggi berasap putih beberapa terlihat jauh di sebelah kiri jalan, dilingkungan apartemen, untuk keperluan penghangat ruangan.

Terlihat Ocean Crown di sebelah kanan jalan, seberang Dingchun De Hotel, merupakan kawasan pertokoan mewah yg menjual barang2 branded luar negeri. Tak lama bus melewati Anhui Bridge flyover dan Olympic stadium terlihat di sebelah kanan.

Nissan, Hyndai, Peogeot, Toyota, VW, Jeep, Audi, Honda, Ford, KIA, Buick tampak mendominasi jalanan, lebih banyak daripada mobil produksi China, bahkan sekali-kali terlihat Porsche melintas cepat. Taksi banyak menggunakan produk Korea, Hyundai Elantra, namun sempat juga terlihat taksi bermerk VW.

Danau es Kunming

Summer Palace, tempat tinggal kaisar China terakhir, Puyi berada di seberang Danau Kunming yang membeku jadi hamparan putih salju. Suhu udara terasa sangat dingin, -5C. Sarung tangan kulit hitam terasa tertembus udara dingin dan badan terpaksa terus bergerak mencoba mempertahankan hangat, meskipun pekaian berangkap tiga, topi, tutup telinga sudah melindunginya. Beberapa perempuan berusia lanjut melakukan senam pagi diiringi musik dari tape yang dipasang di pinggir danau.

Topi bulu bertutup telinga, sarungtangan dan tutup telinga adalah barang-barang yang biasa dijajakan di tempat-empat obyek wisata China. Pemandu wisata kami berkali-kali mengingatkan untuk tidak memegang barang dagangan bila memang tidak bermaksud membelinya karena seringkali mereka minta dibayar dengan alasan tamu merusakkan dagangan mereka setelah mencoba memegang dan tidak membelinya. Pemerasan.

Freesky Pearls adalah industri perhiasan mutiara air tawar milik pemerintah China, biasa menjadi obyek wisata yang ditawarkan oleh agen travel. Disini, mereka menunjukkan bagaimana membuka kerang mutiara hasil peternakan sebesar lebih dari telapak tangan orang dewasa dan menunjukkan isinya, 25 butir mutiara kecil, berwarna merah muda. Bubuk mutiara dijualnya sebagai supelman pemutih kulit dan butir mutiara sebagai perhiasan wanita juga dijual dengan berbagai desain bercampur emas dan perak yang menarik.

Industri Sutra

China juga dikenal dengan produksi kain sutra, yang pada awalnya berada di sungai Kunming dan sungai Yangtze. Beijing Dizhen Silk Productions Co. Ltd. adalah industri kain sutra yang sempat kami kunjungi, yang memproduksi kain untuk bahan pakaian dan perlengkapan tempat tidur dengan merek dagang Royal Silk. Satu bedcover ukuran 180×200 cm seharga RMB 5000 dengan bonus satu sarung bedcover, empat sarung bantal dan selimut lipat yang semuanya berbahan sutra. Harga produk sutra didasarkan pada berat total kain sutra, bukan lebar. Satu hal yg menarik adalah satu kepompong bisa menghasilkan 1400 m benang sutra. Kain sutra untuk bedcover, selimut, pakaian ditawarkan dengan motif bermacam-macam.

Hari ke-2

Dalam perjalanan menuju Great Wall, kami sempat mampir ke industri perhiasan batu giok. Perhiasan dan produk seni patung dari yang bernilai puluhan hingga ribuan Yuan tersedia di sini. Perhiasan yang mahal, selain karena kualitas batu Gioknya yang bagus, juga bisa karena nilai emas/perak dan desainnya yang memang mahal. Batu Giok yang bagus, menurut sang penjual, adalah bila bersuara nyaring bila terkena benda padat lainnya. Ini dibuktikan dengan cara meminta kami memilih gelang Giok yang palsu dari empat buah yang tersedia. Semua terlihat mirip, berwarna hijau muda, namun berbeda bunyi saat dibenturkan dengan gelang lain. Dan yang palsu tidak berbunyi nyaring. Banyak sekali wisatawan Indonesia terlihat di tempat ini, selain dari Malaysia dan Rusia.

Great Wall

Pintu Great Wall tempat kami mendaki adalah Juyongguan (40 17′ 33,53″N 116 3′ 54,97″E), yang juga dikenal dengan nama Badaling, berada di sebelah utara Beijing. Great Wall di Juyong ini dulu dimaksudkan untuk melindungi ibu kota China Beijing (dulu disebut Peking) dari serangan kaum nomaden dari utara (wilayah Mongol).

Beberapa bagian Great Wall sudah dibangun pada abad ke-5 SM dan diperbaiki kembali hingga abad ke-6 SM, dan yang terkenal adalah buatan 220-206 SM oleh dinasti pertama China, Qin Shi Huang. Hanya sedikit bagian tersisa. Sebagian besar Great Wall yang tersisa sekarang ini adalah peninggalan dinasti Ming. Total panjang dinding pengaman adalah 8.850 km, terdiri dari 6.250 km dinding batu (Great Wall), 350 km paritan dan 2.250 km adalah pelindung natural seperti bukin dan sungai.

Bagian dinding utara ini, Juyongguan, dibuat dengan bahan batu dan batu bata, berdimensi 7,8 m tinggi dan 5 m lebar. Masih ada enam pintu lainnya dari Great Wall ini.

Hari ke-3

Tiananmen Square

Lapangan Tiananmen adalah obyek wisata yang paling menarik karena nilai sejarah yang sangat saya pahami, dimana memakan ratusan korban mahasiswa (ada yang mengatakan ribuan) akibat tembakan dan serbuan tank Tentara Merah, dan ‘jatuh’nya ex PM Jiang Zemin di jaman Deng Xioping 1989, dimulai dari lokasi ini. Jejak-jejak peristiwa Tiananmen ini masih banyak bisa dilihat di Youtube. Banyak tentara bermantel hijau, lengkap dengan sepatu boot, sarung tangan dan topi bersimbol bintang merah, berjaga-jaga di sekitar lapangan dan paling banyak terlihat di bawah foto Mao Zedong, di pintu gerbang Forbidden City. Musium Nasional dan Gedung DPR yang membatasi Tiananmen juga dijaga oleh Tentara Merah.

Forbidden City

Forbidden City, sebagai istana raja hanya sempat kami lewati hingga Pintu Gerbang ke-3, dilanjutkan dengan menumpang kereta kecil berpenumpang 8 orang mengelilinginya. Mao Zedong memproklamirkan RRC dari atas gerbang Forbidden City untuk menunjukkan kekuasaannya atas kaum feodal para dinasti.

Sore hari, kami mengunjungi Yashow market, yang dikenal sebagai pasar murah bagi para wisatawan yang pandai menawar. Kain sutra, barang-barang ‘branded’, elektronik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik untuk oleh-oleh, semua tersedia di sini. Sementara ibu-ibu beredar dalam gedung besar berlantai 5 ini, para cowok beredar di mall besar sebelahnya yg banyak menjual produk fashion dan sport dari luar negeri, juga Apple computer, tak lupa nongkrong di Starbuck, nyeruput kopi latte sambil tetap tubuh terbungkus rapat karena dingin menggigit tulang. Jam 7 malam para ibu berkumpul di coffee cafe sebelah yashow market dengan koper memenuhi hampir setengah lantai dan siap cabut untuk makan malam dan kembali ke hotel.

Hari ke-4
Jam 6 pagi, kami checkout dari hotel menuju bandara untuk terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda GA-891 yang akan takeoff 09:00. Tidak banyak toko dan hanya satu coffee shop terlihat. Yang tidak biasa terlihat adalah, toko-toko barang merk luar negeri di bandara ini tidak menyediakan tas/kantong pembungkus dari produsennya, tetapi semua toko hanya menyediakan kantong yang sama/seragam berbahan kertas dengan label China.

Lain-lain
Selama tiga hari itu, kami kembali ke Holiday Inn hotel setelah jam 8 malam. Selama musim dingin, hanya heater tersedia di kamar, bukan AC. Hotel bagus, bersih dan tersedia wifi sampai di kamar, lumayan bisa internet dan chatting berblackberry.

Makanan yang disediakan di resto-resto tempat makan siang/malam, yang disediakan oleh pihak Garuda, umumnya mempunyai citarasa yang sama (rasa bebek Duck King). Teri kering yang kami bawa, jauh lebih menambah nafsu makan. 🙂

Tidak satupun buku sempat dibeli dalam jalan-jalan kali ini karena toko buku kecil di komplek pertokoan sekitar Yashow market dan di bandara Beijing, hanya sedikit sekali menjual buku berbahasa Inggris.

Tentara Merah

Polisi sangat jarang terlihat di manapun kami berada kecuali dalam mobil patroli lalu-lintas, sebaliknya tentara berseragam hijau sering terlihat berjaga di depan kantor-kantor pemerintah dan selalu menolak untuk difoto.

Namun secara keseluruhan, saya puas karena telah mengunjungi ibukota negara Tirai Besi, Beijing dan melihat Warisan Dunia Great Wall dan saksi bisu peristiwa Tiananmen.

Mindset bahwa negara Komunis akan menyengsarakan masyarakatnya perlu pelan-pelan dipertanyakan. Hanya satu pengemis tua terlihat selama beredar di Beijing 3 hari.

Seperti halnya buku “Too Big To Fail” dan film “Inside Jobs” tentang runtuhnya Wallstreet 2008, analogi menarik tentang krisis Euro di bawah ini makin menambah pemahaman atas tarian uang di jagad global. Diperoleh dari email berantai… Terimakasih pak GSA.

Euro Crisis 101 (How A Bailout Package Works)
It is a slow day in a damp little Irish town. The rain is beating down harshly, and all the streets are deserted. Times are tough, everybody is in debt and everybody lives on credit.

On this particular day a rich Indonesian tourist is driving through the town, stops at the local hotel and lays a €200 note on the desk, telling the hotel owner he wants to inspect the rooms upstairs in order to pick one to spend the night.

The owner gives him some room-keys and, as soon as the visitor has walked upstairs, the hotelier grabs the €200 note and runs next door to pay his debt to the butcher. The butcher takes the €200 note and rushes down the street to repay his debt to the pig farmer.

The pig farmer takes the €200 note and heads off to pay his bill at the supplier of animal feed and fuel. The guy at the Farmers’ Co-op takes the €200 note and runs to pay his drinks bill at the friendly neighbourhood pub.

The pub owner gives the money along to the local singer and his band at the bar….who, in spite of facing hard times, has always gladly offered him his services on credit.

The singer then rushes over to the hotel and pays off his room bill to the hotel owner with the €200 note. The hotel proprietor quietly replaces the €200 note back on the counter, so that the rich Indonesian traveller will not suspect anything.

At that moment the Indonesian traveller comes down the stairs, states that none of the rooms are satisfactory, picks up the €200 note, pockets it and leaves town.

No one has produced anything. No one has earned anything. However, the whole town is now out of debt and looking to the future with a lot more optimism.

And that, ladies and gentlemen, is how a basic financial bailout package works.

That’s exactly how it works… everyone uses cash they don’t own to bail themselves out of nothing.

The problem with Greece is that the rich Indonesian came back downstairs before the money was returned back to the hotelier from the singer…

Capitalism 4.0

George Soros: “This brilliant book will add greatly to our understanding of the future of the world economy”.

Judul: Capitalism 4.0
Penulis: Anatole Kaletsky
Tebal Buku: 365
Penerbit: PublicAffairs
Tahun: 2010

Buku ini ditulis oleh Kaletsky, kolumnis dari the Times of London, pada tahun 2009 ketika ekonomi AS mulai bangun dari krisis ekonomi 2008 ketika Lehman Brothers terjerembab. Saat itu, bukan hanya bank atau institusi pembiayaan saja yang runtuh, namun juga filosofi politik dan sistem ekonomi kapitalisme, yang selama ini diyakini kebenarannya di sebagian besar belahan dunia ini mulai dipertanyakan. Meskipun globalisasi tak terelakkan, trauma resesi 2008 tak akan mudah terlupakan karena efek domino biaya ekonomi masih berjalan khususnya dalam hal setoran pajak, budget pemerintah, pengangguran, frustasi kepemilikan rumah dan investasi di seluruh dunia.

Menurut Kaletsky, kapitalisme global tidak runtuh, ekonomi AS, Inggris, dan sebagian besar Eropa telah bangkit lagi. Bahkan Dunia Baru yang dipimpin China bisa dianggap tidak terkena resesi dan malah menikmati pertumbuhan ekonomi. Prediksi akan terjadinya Great Depression II, 2010, ternyata tidak terbukti, justru yang terjadi adalah kebangkitan ekonomi, Great Transition, bila dibandingkan dengan masa transisi 40 tahunan dari era Kynesian ke Reagan/Thatcher atau transisi dari era pasar bebas klasik ke era Keynesian, New Deal. Ini bukan hanya perubahan antara regulasi vs pasar, namun juga perubahan ide-ide fundamental politik dan ekonomi. Meskipun ekonomi global dan sistem finansial telah selamat dari krisis, namun disadari akan kebutuhan munculnya model baru kapitalisme, karena tanpa reformasi fundamental kapitalisme, bisa terjadi krisis finansial di masa depan yang lebih berat. Kapitalisme 4.0 adalah prediksi yang diharapkan akan muncul sebagai sintesis proses dialektika antara kapitalisme mazhab ekonomi regulasi/publik vs pasar.

Kapitalisme 1
Kapitalisme 1 ini dimulai dari 1776, sejak Declaration of Independence dan lahirnya ‘The Wealth of Nations’ oleh Adam Smith. Pada periode ini, yang berlangsung hingga 150 tahun, diyakini bahwa ekonomi dan politik adalah dua aktifitas manusia yang sangat berbeda. Intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi sangat intensif, khususnya dalam hal perdagangan dan pajak untuk perlindungan industrial demi kepentingan nasional, misalnya industri tekstil dan perkebunan. Kesuksesan Kapitalisme fase 1 ini dimulai sekitar 1870an ketika perang sipil AS berakhir dan perbudakan dihapuskan pada 1865. Revolusi Industri II dengan kemajuan teknologi kelistrikan, kimia dan perminyakan juga dimulai pada periode ini. Namun pada saat yang sama, ancaman terhadap kapitalisme klasik juga mulai muncul, ditandai dengan publikasi Das Kapital oleh Karl Marx (1867), dan mulai munculnya serikat pekerja. Prediksi Marx bahwa kapitalisme akan runtuh karena kontradiksi internal di dalam sistemnya terbukti benar, dimulai dengan keresahan oleh kelompok menengah, golongan intelektual. Bencana finansial hiperinflasi di Weimar, Jerman dan ‘Great Depression’ menandai munculnya spesies baru, Kapitalisme 2.

Kapitalisme 2
Kapitalisme baru ini menemukan bentuknya setelah Roosevelt terpilih sebagai Presiden AS pada 1932 dan munculnya konsep ekonomi Keynes, ‘General Theory’, 1936. Karakter dari kapitalisme periode ini adalah bahwa tanpa keterlibatan pemerintah akan menyebabkan ketidak-stabilan atau kehancuran ekonomi. Masa keemasan ekonomi Keynesian adalah 1946-1969, dalam hal standard hidup, kemajuan teknologi dan stabilitas finansial. Kemerosotan sistem kapitalisme ini ditandai dengan tingginya inflasi karena pembiayaan program Kesejahteraan Sosial dan Perang Vietnam dimasa Lydon Johnson, sementara di Inggris, Itali, Perancis dan Jerman juga mengalami inflasi dan terorisme, baik oleh ekstrim kiri maupun kanan. Puncak kesulitan muncul saat embargo Arab sehingga menaikkan harga minyak empat kali lipat, yang mengakibatkan terjadinya ‘stagflasi’, bencana ekonomi.

Kapitalisme 3
Spesies kapitalisme baru ini muncul dengan terpilihnya Margareth Thatcher, 1979 dikuti dengan kemenangan Ronald Reagen dari partai Republik, 1980. Motor ekonomi pada era ini adalah Milton Friedman dengan ‘moneterisme’nya, yang berasumsi bahwa kebebasan pasar yang kompetitif dan tidak ‘terganggu’ oleh negara, akan menyebabkan keseimbangan ekonomi kapitalis, efisiensi, stabilitas dan penyerapan tenaga kerja. Runtuhnya Kapitalisme 3 dengan kebebasan pasar ini ditandai dengan hancurnya institusi pembiayaan Lehman Brothers di tahun 2008.

Kaptalisme 4.0.
Alih-alih memisahkan Pasar dari Negara, pada tahap Kapitalisme 4 ini justru harus mempererat hubungan keduanya. Dengan acuan Demokrasi Barat, masalah keseimbangan antara kebutuhan publik vs personal/individual, perlu menjadi prioritas perhatian untuk menghadapi tantangan kapitalisme model China.
Pada tahap ini, Kaletsky berpendapat bahwa:
– Pasar perlu lebih mempertimbangkan situasi ekonomi dan politik, daripada hanya berdasar pada kondisi pasar itu sendiri
– Bisnis perlu mempertimbangkan visi/misi yang lebih luas daripada sekedar mencari keuntungan finansial belaka
– Manajemen/Investor perlu menemukan cara baru untuk menganalisis target-target finansial/politik sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana ekonomi

Dalam buku ini Kaletsky juga banyak menjelaskan sisi Politik, Keuangan dan Perbankan, yang perlu dilakukan untuk menjaga kesuksesan Kapitalisme 4.0. Kondisi ekonomi Eropa, yang tidak banyak berbeda dengan AS, juga mendapat perhatian penulis, termasuk analisis tentang Kapitalisme China dan kritik dari kelompok Kiri.

Dalam Bab Penutup, Kalitsky berpendapat bahwa langkah reformasi keseimbangan pasar-negara, sesuai dengan Kapitalisme 4.0 ini, berjalan dengan lambat, bahkan masa transisi ini bisa berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Membangun ‘trust’ secara terus-menerus dalam dunia yang tidak pasti, membutuhkan sebuah evolusi komunikasi dengan semua pemangku kebijakan secara berkesinambungan.

Apapun kategori kapitalisme yang dimaksud penulis, jelas terlihat bahwa telah terjadi pergeseran atau pengingkaran kapitalisme dari Kanan ke Tengah, dengan thesisnya yang bisa disimpulkan bahwa keterlibatan Negara dalam Pasar Bebas adalah PERLU.

Mengapa Freeport ribut?

Grasberg

Kenaikan 306% net-income Freeport apakah linear dengan kenaikan pendapatan NKRI/karyawan?

Sudah sebulan lebih pemogokan karyawan PT. Freeport Indonesia berlangsung, bahkan sampai terjadi dua korban tewas (di tempat dan di rumah sakit), yang kebetulan masyarakat Papua akibat penembakan, yang masih dalam penyelidikan, saat terjadi aksi protes di Timika yang menuntut pertemuan dengan manajemen PTFI. Kasus pemogokan belum selesai, muncul lagi kasus penembakan di dalam wilayah kontrak karya PTFI yang memakan korban tewas tiga orang karyawan PT. Puri sebagai kontraktor PTFI.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan PTFI?
Dari informasi tidak resmi yang diperoleh, pemogokan kali ini adalah kelanjutan dari pemogokan 9 hari yang terjadi di bulan Juni 2011 karena Ketua SPSI dan beberapa pengurusnya telah dipecat oleh perusahaan saat perundingan Kontrak Kerja Bersama akan dilaksanakan. Pemogokan dihentikan setelah pengurus SPSI kembali bisa bekerja sebagai karyawan PTFI. Pada saat pemogokan, seringkali pihak manajemen mengirimkan email keseluruh karyawannya yang berpesan supaya tidak mengikuti mogok kerja karena pemogokan tidak legal. Interpretasi sepihak tentang ‘tidak legal’ ini seringkali muncul dalam email ke karyawan ataupun ke media cetak hingga pemogokan kali ini. Intimidasi manajemen terhadap karyawan juga terjadi dengan cara sosialisasi yang berisi pesan untuk tidak menjadi anggota SPSI, bahkan formulir anti SPSIpun diedarkan untuk ditandatangani karyawan. Saat ini sudah puluhan (ratusan?) karyawan dirumahkan sampai waktu yang tidak ditentukan karena dianggap telah melakukan provokasi atau mogok kerja di Tembagapura. Konflik horizontal sangat mungkin terjadi karena karyawan staff punya tambahan kerja baru, melakukan ‘sweeping’ ke barak-barak karyawan untuk mencari mereka yang tidak bekerja supaya bisa segera dirumahkan.

Disaat pemogokan masih berlangsung, penembakan terhadap karyawan terjadi lagi Jumat yang lalu, 14 Oktober 2011, dengan tiga korban tewas dari kontraktor PTFI di lokasi tanggul timur wilayah kontrak karya PTFI. Ini adalah peristiwa penembakan yang kesekian kalinya, yang tidak pernah ditemukan dalangnya oleh aparat keamanan. Apakah kasus ini ada relasinya dengan pemogokan karyawan? Belum ada yang bisa jawab.

Laporan Tahunan Freeport McMoran 2010
Dalam kontrak karya PTFI, terdapat cadangan tembaga 27% (33,7 milyar lbs) dan emas 95% (32,7 juta troy oz, 1troy oz= 31.2 gram) dari total cadangan yang dimiliki Freeport McMorran di dunia (Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Indonesia). PTFI menyumbang 34% revenue total Freeport, dengan Net Income total US$ 4,3 milyar (Summary financial Highlight), atau setara dengan Rp. 38,7 trilyun (kurs US$ 1 = Rp. 9000). Tidak jelas dalam Laporan Tahunan ini mengenai perak, sebagai mineral ikutan dalam produksi emas/tembaga.

Tambang-tambang Freeport di Amerika dan Afrika dimiliki sejak 2006/2007, yang tentunya berasal dari kekayaan yang diperoleh di Indonesia. Angka-angka semacam di atas inilah yang mengganggu rasa keadilan karyawan PTFI dan seharusnya juga mengganggu pemerintah Indonesia. Berapa persen perolehan NKRI dari total net-income Freeport? Total setoran tahunan ke RI berdasar royalti dan pajak memang selalu diumumkan oleh PTFI, namun tidak pernah disertai dengan total pendapatan PTFI yang masuk kedalam kantong Freeport McMoran. Keuntungan itu semakin besar setelah diketahui bahwa sejak produksi tahun 1972, PTFI baru membayar royalti emas sebesar 1% setelah perpanjangan kontrak karya 1989. PTFI juga tidak bersedia untuk membayar royalti emas sebesar 3,75% sesuai ketentuan PP No. 45 Tahun 2003.

Tuntutan SPSI
Tuntutan pemogokan adalah kesetaraan pendapatan karyawan PTFI dengan pendapatan karyawan berdasar pekerjaan sejenis di tambang-tambang Freeport lainnya di luar negeri. Apakah tuntutan semacam ini masuk akal? Penulis tidak cukup kompeten tentang hal ini, namun banyak ahli sumber daya manusia mengatakan bahwa kenaikan gaji ditentukan oleh peningkatan produksi atau keuntungan perusahaan. Lalu bagaimana dengan kenaikan net-income Freport 306%, dari 2006 hingga 2010 (Laporan Tahunan Freeport 2010)? Apakah kenaikan pendapatan karyawan mencapai persentasi yang sama? Rasanya tidak.

Hepi Lebaran 2011

Ada tiga yang Berbeda di lebaran tahun ini dibanding lebaran tahun lalu. Yang pertama, ada beda pendapat tentang kapan tepatnya hari lebaran. Pemerintah merubah hari Lebaran dari 30 Agustus seperti yang tercantum di kalender menjadi 1 september, meskipun kami tetap memilih 30 Agustus, apalagi opor ayam, telor petis dan lontong capgomeh sdh dipesan hahaha…

Kedatangan rombongan mudik dimulai dari klg Limus, menggunakan rute JKT-Malang-Kediri, 25 Agustus. Ini flight pertama kami ke Malang, menggunakan Garuda 707-500 7:45. Bandara Malang berada dalam kompleks AURI yang rapi bersih juga penuh bunga dan pohon. Malang yang berada diketinggian kira-kira 2000m, dan masih pagi, terasa adem.

Asik juga perjalanan Malang-Kediri selama 2,5 jam, jalan berkelok tajam serasa membelah gunung di kiri-kanan jalan, melewati rimbun pepohonan dan terkadang sungai-sungai berair dangkal jernih dan berbatu besar, sebagai bukti masih berada di dataran tinggi. Pohon-pohon bambu juga banyak terlihat diantara pohon-pohon pinus. Sesekali terlewati warung kecil menjajakan durian dengan pembelinya yg sibuk menikmati buahnya sambil jongkok. Jalan cukup bagus dan agak sepi, dibandingkan jalan raya Sby-Kediri yang pasti penuh bus dan motor, apalagi menjelang lebaran. So, rasanya akan menggunakan jalur ini lagi di lebaran 2012, Insha Allah. Putri tampak sehat dan ceria.. Terimakasih De Gen dan mas FarhanDre yg sudah menemaninya.

Hari yang sama, saat magrib, muncul De Wow sklg, menggunakan jalur JKT-SBY-KDR. Putri yang selama ini cuma duet dengan De Gen, semakin ceria … Tanggal 27, rombongan dari Pasuruan, De Tri sklg muncul, Om Putut dan Om Peter dari Munchen, De Nang dari Banjarmasin dan mas Bimo/mas Dito dari London (mampir jakarta) juga muncul. De Ren sekeluarga tentu sudah hadir, wong memang berdomisili di Kediri meskipun harus menyelinap dari padatnya kegiatan partai dan kantor …. Ruame tenan … Tawa lebar Putri terlihat jelas. Kita semua jadi ikut hepi …

Beda kedua adalah, berlebaran ke rumah De Tri dan rumah De Wow.. Tahun sebelumnya, kedua rumah ini masih sedang dibangun. Lebaran tahun depan mungkin sudah bisa menikmati lontong opor juga di kedua rumah ini hehe .. Ngarep.com …

Beda ketiga di lebaran kali ini adalah hadirnya om Peter, yang sabar dan murah senyum di tengah keluarga, membuat semangat anak-anak berlatih bahasa inggris. Router Belkin tertinggal om …

De Nung bertiga muncul sekitar jam 9 malam di hari ketiga lebaran, sayang ketinggalan foto gerombolan…

Foto di atas adalah hasil jepretan sukrelawan, mas Bimo, setelah sholat Ied dan sungkeman (suwun mas), 1 sep, semua wajah tampil ceria, apalagi pembagian ‘angpao’ untuk anak-anak (kategori belum bekerja :)) habis dibagikan. Ibu tercinta, Putri, terlihat bahagia melihat laku semua anak-cucunya. Mas Dito (berdiri di belakang, paling ceria), wakil tunggal keluarga De Nung. Sesi pemotretan oleh De Wow dilanjutkan dengan obyek: masing-masing keluarga bersama Putri, bergantian. Kalau menggunakan kamera lama, mungkin sudah habis banyak film.. Sampe ‘theklo’ fotografernya … 🙂

Sampai jumpa di keriuhan lebaran 2012. Insha Allah, Putri dan semua anak-cucu diberiNya kesehatan dan kesejahteraan. Amin