Feeds:
Pos
Komentar

Sampai jumpa kawan. . .

GTS 30/7/2011

Kawan-kawan,

10 tahun berkesibukan di kaki Carstensz, tanpa terasa semakin berkembang isi otak dengan pengetahuan kebumian yang bersifat teknik maupun lingkungan hidup yang bersifat sosial.

10 tahun yang sama, semakin tumbuh kepekaan hati yang bergumul dengan rasa senang, susah, marah, empati silih berganti kala bergaul dan mengamati laku unik manusia pekerja yang bervariasi lengkap dengan berbagai karakter yang berbeda, rendah hati, permisif, setia-kawan, ambisius, hipokrit, jumawa, yang sejatinya semua sama, manusia pekerja penerima upah.

10 tahun yang sama, semakin banyak melintas contoh laku pengundang tanya, seperti seringnya melintas kata asing ‘big picture’ dan ‘outside the box’ oleh anak negeri, yang keluasannya dibatasi oleh ‘company interest’, bukan ‘national interest’, saat kebijakan dipertanyakan.

10 tahun yang sama, kritik budaya banyak mengisi ruang pikir dalam renung akrobat politik gaya lokal seperti gosip, bisik-bisik, janji, ancam, kkn dan yang sejenisnya; bagaikan negeri ‘democrazy’ saja. Ungkapan ‘maju tak gentar, membela yang bayar’ semakin lazim mucul di ranah nyata seperti halnya tindak ‘pergaulan’ yang sudah membudaya dan menjadi nilai ‘kebenaran’ tersendiri.

Semua itu adalah ilmu berharga yang perlu dikritisi sebagai bagian modal menjalani hidup ke depan.

Terimakasih kawan semua, lakumu telah mengajariku kerendahan-hati, kerukunan, kedamaian dan kesetia-kawanan. Sukses untuk kita semua dan maaf atas segala kata dan lakuku, Tuhan YME pasti membalas kebaikanmu. Amin

Sampai Jumpa.

Salam,
-anang-
0812-31431789
as_kusuwardono@yahoo.com

Karyawan lulus ?

Baru saja ‘farewell party’ dilakukan secara meriah untuk dua karyawan yang akan mengundurkan diri dan pindah kerja di tempat baru, yang tentunya lebih ‘baik’ menurutnya.

Ada hal yang ‘mengganggu’ menurutku karena dalam acara semacam ini, ‘pengunduran diri’ karyawan selalu dimaknai sebagai ‘kelulusan’ oleh sebagian pihak manajemen, entah ini dimaksudkan sebagai ‘guyonan’ atau hal serius, seolah perusahaan telah sukses mendidik karyawannya sehingga siap bekerja di perusahaan lain. Ironis.

Sejak Januari 2011, sudah 10 karyawan staff mengundurkan diri dan dari sisi persentase, jumlah tersebut termasuk paling besar dibanding dengan divisi lainnya dalam perusahaan. Bila ini adalah institusi pendidikan maka divisi ini masuk dalam kategori berprestasi, sayangnya ini adalah institusi industri yang tentunya jelas mengejar laba, maka tingginya angka keluar-masuk karyawan bukanlah hal yang patut dibanggakan alias perlu dipertanyakan karena jelas akan mengganggu rantai produksi. Banyak pelatihan perlu dilakukan pada karyawan baru yang berimplikasi pada biaya, waktu dan tenaga. Dan yang lebih berat adalah dampak psikis bagi karyawan lainnya, yang seolah penyebab tingginya ‘turn-over’ bukanlah hal yang perlu diperhatikan karena karyawan mudah tergantikan dan kinerja yang baik bukanlah hal yang patut dipertahankan, alih-alih ditingkatkan.

Coba kita bayangkan, seandainya pemilik perusahaan ini mengetahui bahwa biaya yang telah dikeluarkan untuk pelatihan ternyata justru lebih banyak me’lulus’kan karyawan dan bukan meningkatkan kinerja perusahaan atau keuntungan, apa kira-kira reaksinya?

Penyebab tingginya ‘keluar-masuk’ karyawan perlu dievaluasi lebih dalam, bahkan alasan tingginya harga penawaran di luar pun semestinya tidak menjadi alasan memudahkan ‘lulus’nya karyawan karena karyawan terlatih yang sudah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan memang seharusnya perlu dipertahankan.

Ah ini cuma membayangkan apa yang perlu dilakukan seandainya perusahaanku nanti terjadi ‘brain drain’.

Tinggikanlah Kejujuran

Akrobat norma sedang terjadi pada bangsa ini, kejujuran sebagai nilai luhur yang dijunjung tinggi ajaran spiritual manapun, kini telah longsor dikalahkan oleh kehendak kekinian masyarakat yang lebih mengutamakan kebutuhan wadag/material sesaat daripada keluhuran budi yang disadarinya sejak dulu kala.

Satu keluarga telah diusir dari kampungnya di Surabaya karena membuka kecurangan ujian nasional di sekolah anaknya. Tragis. A’am, anak kelas enam SD yang pintar di Surabaya, dipaksa oleh gurunya untuk mengedarkan ‘contekan’ ke teman-temannya supaya mendongkrak jumlah kelulusan di sekolahnya. Dengan alasan dilematis yang dipaksakan sang guru, ‘niat baik membantu teman-teman’ membuat sang A’am terpaksa melakukan kehendak jahat sang guru. Ajaran keluarga dan beberapa guru lainnya untuk selalu bersikap jujur telah membuatnya mengalami Rasa Bersalah dan berujung cerita pada sang Ibu. Sontak, marah dan kecewa menguras emosi sang Ibu, mendengar cerita buah hatinya, yang merasa sudah memberikan bekal moral luhur pada sang anak telah dihancurkan oleh pihak yang selama ini telah dipercaya untuk memberikan pendidikan yang lebih baik, sekolah.

Pengungkapan ironi ini oleh sang Ibu ke publik menyebabkan keluarga A’am diusir oleh lingkungannya karena rasa khawatir atas nasib kelulusan anak-anak mereka. Absurd …

Jujur, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lurus hati, bersih, tidak bohong, tidak curang, benar. Semua keterangan mengenai Jujur bernilai positif bahkan jadi ajaran dasar/basic yang ditanamkan orangtua sejak kita semua masih belia. Lalu mengapa nilai luhur ini bisa demikian mudah dikhianati?

Tekanan sosial dan perilaku para pemangku ‘kebijakan’ yang tidak bisa dijadikan panutan mungkin jadi penyebab luruhnya nilai luhur ini, selain alasan teknis sistem pendidikan yang menyebabkan ekses sistematis tindak ke’tidak-jujur’an terjadi dalam ujian nasional.

Rasa tidak percaya diri orangtua akan kemampuan sang anak (karena memang tak pernah mengujinya), rasa kekurangan akan frekuensi belajar di rumah dan kelengkapan ajar (buku dan akses belajar lainnya), serta tidak adanya pelajaran tambahan atau les menjelang ujian seperti yang dilakukan pada keluarga ‘berpunya’; juga ketakutan gagal ujian yang berarti perlu ekstra penanganan psikis terhadap anak dan keluarga menghadapi bayang-bayang tekanan sosial , serta kondisi ekonomi domestik yang pas-pasan hingga semakin menambah beban kelelahan psikis keluarga, menyebabkan para orangtua mengambil jalan pintas ‘penyelamatan’ anak dari kegagalan ujian dengan cara cepat, sepakat dan murah, nyontek massal.

Para pemangku kebijakan, yang di mata kaum ‘pinggiran’ masih dianggap sebagai kaum cerdik-pandai yang sering kali tampil di depan umum dengan berbagai solah-tingkahnya membawa ‘kabar’ kebajikan, ternyata .. banyak tersangkut masalah hukum, baik kejahatan keuangan maupun tindak asusila .. obrolan pinggir jalanpun mengatakan ‘loh kalau yang sudah kaya aja menganggap korupsi adalah hal kecil, kok nyontek yg ‘membantu’ murid dan guru dan gak korupsi kok gak boleh”. Jadi ya LANJUTKAN nyonteknya …

Peringkat kelulusan dari suatu sekolah ternyata linier dengan anggaran, artinya sekolah dengan peringkat tinggi, apalagi masuk kategori sistem SBI (sekolah berbasis internasional) karena jumlah kelulusan yang tinggi akan mendapat kocoran anggaran pendidikan dari depdikbud lebih banyak daripada sekolah yang biasa-biasa saja, ini berakibat upaya ‘apa saja’ perlu dilakukan untuk mempertahankan peringkat. Rektor Universitas ternama, dalam wawancara dengan tv swasta pernah mengatakan bahwa beberapa sekolah di suatu daerah telah melakukan kerjasama yang tidak benar dalam melakukan pengawasan ujian nasional demi kepentingan menjaga peringkat kelulusan sekolah masing-masing.

Dengan paparan di atas, saya berharap para pimpinan negeri ini supaya menghentikan segala polah tingkah ‘memoles wajah’ dan jadilah panutan yang sejujurnya dan pimpinlah rakyatmu ini untuk menjunjung nilai luhur bangsamu, JUJUR.

Black Swan

Film karya Darren Aronofsky, pemenang Aktris Terbaik, Academy Award 2010.

Rasanya sudah lama sekali tidak menemukan film yang ‘mengganggu’ seperti ini, bahkan sambil jalan pun masih terusik tanya. ‘Black Swan’ karya Darren Aronofsky dan dibintangi oleh Natalie Portman, Vincent Cassel, and Mila Kunis telah memenangkan kategori aktris terbaik 2010, Natalie Portman, seorang sarjana psikologi yang fasih bertutur bahasa Ibrani, Inggris, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Nina (Natalie Portman) adalah tokoh utama dalam film ini sebagai penari ballet profesional yang tumbuh besar dalam asuhan ‘single mother’, yang juga seorang ballerina namun gagal di usia muda karena hamil. Obsesi sang ibu akan pencapaian maestro ballet memberikan andil besar dalam membentuk ‘kekacauan’ kejiwaan Nina (kawan2 psikolog mungkin bisa menjelaskannya), selain proses kreatif dalam totalitas peran yang harus dilakoninya.

Peran ganda yang harus dilakoni Nina dalam produksi ballet adalah White Swan, yang berkarakter kurang-lebih sama dengan dirinya dan Black Swan yang berkarakter jahat. Peran Black Swan inilah yang sulit baginya mengingat kehidupan sehari-harinya yang cenderung puritan dan tertutup. Obsesi keberhasilan sebagai tokoh utama dalam peran ganda tersebut menyebabkan terbelahnya pribadi Nina.

Portman sungguh bagus sekali dalam memerankan Nina, gadis ‘lurus’, diam bersuara pelan, yang kesehariannya hanya mengenal studio ballet dan rumah, merepresi diri dari kecenderungan pergaulan bebas namun mulai muncul tindak perilaku menyimpang dengan menyakiti diri tanpa disadarinya.

Darren Aronofsky sungguh cemerlang menampilkan Nina yang begitu obsesif untuk memenangkan peran ganda tersebut dari Lily yang akan menggantikannya untuk peran Black Swan, dengan adegan-adegan halunisasi yang nyata. Perubahan watak Nina dari White Swan menjadi Black Swan di atas pentas, dengan adegan mata yang berubah merah dan bulu-bulu yang muncul di tangan Black Swan sungguh mencekam.

Oei Hui Lan

Novel sejarah pemenang penulis ‘Penulis Online Terbaik 2009’.

Angkat topi utk Agnes Davonar (http://www.agnesdavonar.net) yg sukses menyajikan novel sejarah “Oei Hui Lan” ini hingga enak dibaca, mengalir, inspiratif dan menggugah kesadaran pembaca atas kehidupan jetset putri keluarga kaya raya, raja gula dunia dari negeri ini, sejak jaman penjajahan Belanda hingga masa Orba, yang berpindah-pindah domisili dari Semarang di masa kecil, Eropa, Cina dan Amerika di akhir hayatnya.

Buku ini sudah diterbitkan hingga enam kali dan tetap dipajang di rak buku bagian depan, Gramedia. Banyak sekali web yang menyajikan resensi tentang novel ini di internet, yang sekaligus menunjukkan popularitasnya. Tidak jelas benar, apakah popularitas buku ini karena kepiawaian penulisnya yang masih muda (23 tahun) dalam menyajikan novel sejarah yg terasa ‘hidup’ dan banyak pesan moral di dalamnya, ataukah kekayaan Oei Hui Lan (1889-1992) dan keluarga yang melegenda dengan liku-liku hidupnya dikalangan jetset dunia yang penuh gelimang harta? Saya sendiri menyukai buku ini karena alasan pertama.

Mimpi Berujung Bui

Beberapa hari ini layar tv nasional diwarnai berita tentang dua perempuan cantik yang diduga melakukan kejahatan keuangan, SY., perempuan muda yang dicitrakan media televisi berparas cantik, berperilaku ramah dan mudah bergaul ini ternyata masuk dalam DPO polisi karena diduga banyak melakukan penipuan melalui dunia maya bermotif uang. Sementara MD, bagian dari jajaran puncak pimpinan bank asing yang juga berparas cantik, berkesan glamour, cenderung artifisial, dengan gambar-gambarnya yang banyak beredar di internet, berlatar belakang mobil mewah ini, diduga melakukan penggelapan uang miliaran rupiah. Jalan pintas, adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan respon yang sama kedua perempuan itu, dalam memenuhi mimpi hiperealitasnya secara cepat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa serbuan globalisasi sebagai tangan panjang kapitalisme telah jauh masuk kedalam gaya hidup, budaya bangsa kita. Apakah ini tanda awal ‘kematian sosial’ (YA Piliang)?
Globalisasi ekonomi, informasi dan budaya memang sudah menusuk dalam hingga ke tengah hutan dan puncak pegunungan negeri ini. Lihatlah, dvd film asing, saluran tv luar negeri dan handphone versi terbarupun sudah banyak beredar di berbagai lokasi terpencil sekalipun. Tentu ini menggembirakan karena bisa jadi ukuran kemajuan sadar-informasi masyarakat, namun semestinya linear dengan kemajuan kemampuan rasional dalam menentukan kebutuhannya, bukan hanya terkooptasi oleh iklan sebagai kepanjangan tangan kapitalisme semata. Mini-market ternama dari waralaba nasionalpun sudah merebak keberbagai sudut kota kecil bahkan kota terpencil dalam hutan Papua.

Di kota-kota besar, dengan motif ekonomi, pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba melakukan bujuk-rayu berwajah indah namun semu, menyajikan kenyamanan penuh ilusi sebagai tempat mencari nilai-nilai, membangun citra diri, unjuk eksistensi diri, mencari hiburan, dan untuk kepentingan pengusaha dalam menciptakan kebutuhan konsumen atas nama kemajuan, bukan lagi sekedar tempat transaksi barang dan jasa, namun telah mempunyai peran sentral sebagai citra cermin (mirror image) sebuah masyarakat.

Di era artifisial, komunitas sosial telah bergeser menjadi komunitas dunia-maya (cyber-society) tanpa teritori yang nyata, yang tentu saja mempengaruhi kehidupan sosial di luar ruang tersebut. Dalam ruang maya, anggota komunitas bisa memilih identitas dirinya dalam wujud yang berbeda dari kesehariannya, bergantung motif yang ingin ditampilkannya, yang berujung kekacauan identitas. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi dalam komunitas seperti ini, ilusi yang berpotensi kekecewaan setelah realitas mengemuka, penipuan.

Untuk mengejar kehidupan superstar penuh ilusi ini, dalam tataran fisik individual, tubuh manusia telah menjadi alat produksi, promosi dan konsumsi kapitalisme. Begitu pentingnya peran tubuh ini, sehingga individu yang telah teperangkap dalam ilusi tersebut merasa perlu untuk melakukan ‘penyempurnaan’ tubuh melalui operasi plastik, keindahan artifisial.

Lengkaplah sudah kekacauan budaya globalisasi ini, dan dalam kondisi budaya di tengah lorong ilusi menuju ‘kematian sosial’ seperti inilah kedua perempuan tersebut terperangkap, persepsi tehadap fakta sosial yang penuh dengan ilusi telah menutupi realitas sosial yang ada.

Mengingat resiko kematian sosial yang tanda-tandanya mulai tampak akibat globalisasi dalam berbagai bentuknya seperti tersebut di atas, perlu para pemangku kebijakan memikirkan strategi kebudayaan dan kebijakan ekonomi yang nyata untuk menyelamatkannya, berbasis pada kearifan budaya lokal tentunya.

Prisoner Of The State

Liberalisasi ekonomi China dg jargon ‘Capitalism with Chinese Characteristic’ bermuara terjungkalnya Zhao Ziyang di Tiananmen.

Judul: Prisoner Of The State, The Secret Journal Of ZHAO ZIYANG
Tebal buku: 331 halaman
Penerbit: Simon and Schuster
Tahun: 2009

Buku ini merupakan penulisan ulang journalistik suara (audio journal), yang dibuat sendiri oleh Zhao Ziyang pada tahun 2000, sebanyak 30 kaset dan masing-masing berdurasi 60 menit, saat di ‘tahanan rumah’ dan diselundupkan keluar melalui sahabat-sahabatnya. Menurutnya, audio journal ini dimaksudkan sebagai rekaman sejarah, khususnya saat kekacauan Peristiwa Tiananment. Beberapa saat setelah wafatnya, satu set kaset rekamannya (original copy) ditemukan di ruang main cucunya.

Zhao menghabiskan hidupnya selama 16 tahun dalam tahanan rumah sejak peristiwa Tianmen dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng Xioping hingga wafatnya, 2005.

Meskipun hanya bercerita dalam kurun waktu tiga tahun sebelum kejatuhannya, namun memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan di puncak kekuasaan Partai Komunis Cina yang selama ini sangat tertutup, bahkan untuk masyarakat China sendiri. Dengan jelas Zhao menceritakan tentang kekuasaan para pejabat partai, intrik politik, faksi dalam partai, praktek pemerintahan, implementasi dari ideologinya dan tentu saja resiko para anggota partai yang berkeinginan melakukan perubahan secara Liberal.

Menurut editor buku dalam Kata Pengantarnya, sistematika penyajian tidak sepenuhnya mengikuti urutan rekaman kaset, dimaksudkan untuk menghilangkan repetisi dan mempermudah pembacaan, namun tetap saja di beberapa bagian terjadi pengulangan dan lompatan waktu kejadian. Ada enam bab besar, dimulai dengan saat Peristiwa Pembantaian Tiananmen sebagai alasan utama runtuhnya kekuasaan Zhao Zhiyang, dilanjutkan dengan bab-bab tentang konflik politik di pucuk pimpinan PKC tentang reformasi ekonomi politik yang bermuara pada peristiwa Tiananmen hingga jatuhnya Zhao Zhiyang sebagai lokomotif reformasi. Masing-masing bab besar dibagi lagi dengan bab-bab kecil.

Dalam Kata Pengantar, sang editor bercerita sedikit tentang sejarah Zhao yang mulai ‘terlihat’ ketika sukses memimpin partai di Guangdong, 1965, dan sabagai salah satu korban Revolusi Kebudayaan, dia harus bekerja di pabrik mesin di provinsi Hunan bersama seorang anaknya (dari lima anak) dan tinggal di apartemen kecil dengan kopor di ruangan tengah sebagai meja makan. Mao telah merehabilitasinya dan menempatkannya sebagai pimpinan partai di Mongolia. Cerita sukses Zhao memimpin di berbagai daerah, termasuk provinsi Sichuan, 1975, membuatnya dikenal dengan ungkapan “yao chi liang, zhao Ziyang” (bila anda ingin makan, carilah Ziyang).

Aktor-aktor penting yang terlibat dalam intrik politik tentang Reformasi China adalah Chen Yun (arsitek ekonomi Cina dimasa Mao dengan program ‘Five-Year Plan System’nya, Li Xiannian (senior yang membantu Zhou Enlai dalam Cultural Revolution), Li Peng (Perdana Menteri, pengganti Zhao) di sisi oponen dan Zhao Ziyang, Hu Yaobang (Sekjen PKC yang dilengserkan Deng, digantikan Zhao) dan Deng Xioping di sisi Reformis.
Ada pertentangan pendapat tentang penyebab ekskalasi demonstrasi mahasiswa 1989, pertama, versi partai, adalah pidato Zhao (SekJen Partai) di forum Asian Development Bank, 26 April 1989, yang memberi ‘angin’ terhadap mahasiswa dengan pernyataannya bahwa mahasiswa tidak anti sistem, melainkan tidak puas terhadap pemerintah karena banyaknya kasus korupsi. Kedua, versi Zhao, pernyataan Deng yang didukung Li Peng (Premier) bahwa mahasiswa telah anti Partai dan anti sosialis.

Menurut Zhao, aksi mahasiswa yang dimulai April 1989 saat pemakaman Hu Yaobang, sebetulnya dipicu rasa hormat terhadap simbol Reformis, Hu Yaobang, yang juga dianggap bersih dari korupsi, kemudian rasa kecewa karena pelengserannya dari posisi Sekjen PKC dan penghentian program reformasi setelah jatuhnya Hu, 1988. Usaha Zhao untuk dialog dengan demonstran selalu mendapat halangan, bahkan sabotase dari kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk.

Situasi politik yang sangat genting (dengan gamblang diceritakan dalam Bab 1) di internal puncak partai tentang penanganan demonstrasi yang semakin membesar (ratusan ribu) antara Zhao Ziyang (cara dialog) yang tidak banyak pendukung dengan kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk. (cara penangkapan), akhirnya membuat Deng Xioping, sebagai pimpinan Pusat Badan Penasihat (Central Advisory Commision) dan anggota Politbiro Standing Commitee, yang mempunyai kekuasaan sangat tinggi, meskipun tidak duduk dalam struktur pemerintahan, memutuskan bahwa motif demonstrasi adalah Anti Partai dan Anti Sosialisme seperti yang dilansir koran People’s Daily 26 April 1989, dan aparat keamanan perlu dikerahkan untuk memadamkan demonstrasi karena negara sudah dalam keadaan darurat. Li Peng (Perdana Menteri), Yang Shangkun (Presiden) dan Qiao Shi ditunjuk sebagai tim pelaksana. Seperti kita tahu, akhirnya banyak korban berjatuhan dalam peristiwa ini.

Dengan keputusan Deng tersebut maka ini berarti keruntuhan Zhao Zhiyang, yang sejak saat itu dirumahkan, tanpa proses peradilan yang sesuai dengan peraturan partai, dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng (wafat Feb 1997), hingga wafatnya 2005.

Tentang Reformasi Ekonomi, atas ide Deng dan dimulai oleh Hu Yaobang (Sekjen Partai), banyak sekali terobosan politik dan kebijakan yang telah dilakukan Zhao seperti Pertanian berbasis keunggulan daerah, Zona Ekonomi Khusus (Shenchen, Zhuhai dan Xiamen) dll., meskipun terus ditentang para oponen senior partai. Reformasi ini juga mengakibatkan jatuhnya Hu Yaobang, SekJen PKC (menurut Zhao karena terlalu progresif), karena dianggap melawan prinsip “The Four Cardinal Principles” (jalan sosialis, diktatorial demokrasi rakyat, pimpinan PKC dan ajaran Marxist, Leninist, Mao) dan menyebabkan masuknya pemikiran liberal pada para intelektual partai, sehingga Deng merasa perlu untuk mengadakan kampanye ‘Anti-Spiritual Pollution’. Perlindungan dan dorongan Deng lah yang menyebabkan Zhao tetap bisa bertahan dengan program Reformasi Ekonominya.

Di akhir bukunya, Zhao menyebutkan bahwa Deng ternyata tidak sungguh berharap adanya Reformasi Politik (modernisasi dan demokrasi), melainkan hanya reformasi ekonomi yang disebutnya sebagai ‘Capitalism with Chinese Characteristic’. Reformasi politik yang dimaksudkan Deng dan baru disadari Zhao dalam tahanan rumahnya ternyata hanyalah reformasi administrasi, yaitu pemisahan antara Partai dan Pemerintah, tapi tetap menolak pemisahan eksekutif, legislatif, yudikatif yang menurutnya adalah bagian dari demokrasi borjuis yang menjadi monopoli para pemilik kapital. Setiap kali Deng bicara reformasi politik, selalu diikuti dengan anti-liberalisasi dan penguatan diktatorial demokrasi rakyat (PKC) sebagai senjata pamungkas yang tak tergantikan untuk menjaga stabilitas politik.

Membaca buku ini sampai akhir serasa membaca novel politik yang kejam tersamar dengan bungkus ‘demi rakyat’ yang penuh dengan jargon-jargon ‘kiri’ yang menggairahkan dengan tokoh utama sebagai korbannya, Zhao Ziyang.

Hongkong-Macau Jan. 2011

27 Jan 2011
Checkin 7:30 GA860 9:50 Gate E3. Garuda A330-200. Landed 16:20HK (4,5 jam penerbangan).

Counter penjualan ticket ferry penyeberangan ke Macau berada tepat di sebelah imigrasi dalam bandara Intl Hongkong. Bagasi penerbangan dapat langsung ditransfer ke Ferry dengan menyerahkan tiket bagasi ke counter pembelian tiket Ferry penyeberangan ke Maccau. Ferry TurboJet 18:00 HK$215/orang untuk kelas Economy akan membawa kami ke Macau.

Trem listrik yang bersih, terang dan aman, membawa penumpang ferry ke anjungan kapal, dan berangkat tepat 18:00. Ferry dengan dua kelas penumpang, economy dan bisnis, ini terasa nyaman dan bersih. Crew kapal berseragam rapi, layaknya pramugara/i pesawat terbang. Kursi empuk dengan alas kepala bersih tanpa terlihat sampah dan coretan tangan usil di dinding, seperti biasa terliihat di ferry penyeberangan Merak-Bakaheuni. Lampu2 hias dari taman kota, jalan raya, pertokoan dan gedung2 perkantoran, juga gedung2 perjudian terlihat dari tengah laut, serasa berlomba menarik para tamu untuk segera mengunjunginya. Ferry TurboJet berlabuh di dermaga Maccau jam 18:45. Sedikit berbeda dengan Hongkong Intl Airport, pengambilan bagasi di pelabuhan Maccau yang bersih dan terang benderang ini tanpa melewati pemeriksaan sedikitpun, bahkan tanpa pengecekan nomor bagasi.

Hotel kecil, Metropol, jadi tempat akomodasi kami selama 3 hari/2 mlm di Maccau. Setelah makan malam sederhana di resto hotel, bergaya chinese food tentunya, kami masuk kamar untuk menyimpan bagasi dan langsung ke luar untuk jalan2 di sekitar hotel sambil menikmati udara sejuk. Ada 10 channel tv yang semuanya berbahasa China, satu bahasa Portugis dan satu berbahasa Inggris, Fashion TV. Televisi Arirang dan Thailand diterjemahkan langsung (dubbing) ke bahasa China. Hotel kecil berlantai delapan ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan Senado square, mall New Yaohan, Lisboa Casino, Wynn Hotel/Casino, Mc Cafe, Pizza Hut, Seven Eleven.

Menurut pemandu wisata, saat mengantar ke hotel, Macau ini serasa mati di siang hari dan baru hidup di malam hari. Ternyata memang benar adanya, banyak sekali pria berjaket dan perempuan bermantel serta sepatu boot hilir mudik sepanjang pertokoan dan mall dan banyak diantaranya dengan barang belanjaan di kiri/kanannya. Pertokoan tutup jam 10 malam namun tempat perjudian, yang menghasilkan pendapatan daerah sebesar 70%, tetap buka selama 24 jam.

28 Jan 2011
Sarapan pagi di hotel tersedia sup jagung ayam, kuetiaw, bubur ayam, selain roti.

Berhubung acara ke Ruins of St. Paul Church baru akan berangkat jam 10:30, maka pagi ini jalan2 di sekitar hotel. Mall New Yaohan sebgai sasaran pertama. Jaket tebal bertutup kepala bisa diperoleh di lantai 3, mall ini. Dua bule, penjaga keamanan berseragam istana Buckingham, lengkap dengan topi bulu tinggi dan senjata di sampingnya berdiri tegap di depan Emperor Casino. Cukup ramah dengan mengijinkan kami untuk foto bersamanya. Mereka mengaku dari Rumania. Jauh amat bang …

Tepat 10:30 bus rombongan, ber 13 orang (3 keluarga) berangkat menuju Ruins of St. Paul. Kira-kira 20 menit sampai di tempat, masih di kota yang sama. Tempat ini merupakan icon Macau, pernah muncul di channel Travel and Living Discovery. Selain bagian dinding depan gereja, semua bangunan sudah runtuh. Di belakang sisa reruntuhan adalah museum kecil gereja ini yang berisi reruntuhan bangunan, tulang para pastor, dan foto2.

Senado Square ramai sekali dikunjungi orang malam ini, lampion berbentuk anak-anak banyak terpasang di tengah square, gedung-gedung tua dengan keterangan berbahasa Portugis terlihat bersih dengan lampu sorot terang ke arahnya. Toko-toko barang bermerek, casino Wynn yang juga memajang intan 218 karat, ukiran gading, ukiran giok dan ukiran berbentuk naga berlapis emas yang masing-masing berukuran 2×2 m serta toko pakaian banyak dikunjungi orang. Di depan hotel/casino Wynn ini terdapat kolam air besar, selalu menyajikan pertunjukan air mancur ‘berjoged’ setiap 15 menit dengan iringan musik melalui sound system yang enak di dengar di sekelilingnya.

29 Jan 2011
Perjalanan menuju Zhuhai dimulai dari jam 8:30 dan sampai di terminal perbatasan Maccau/Zuhai sekitar 9:00. Banyak sekali orang ‘menyeberang’ ke China via Zuhai hari ini karena akan ‘lebaran’ Tahun Baru China (3 Feb 2011).

Perjalanan dilanjutkan menuju taman City Of Dream, seluas 14 Ha dan disediakan tempat untuk berfoto berupa singgasana raja. Pertunjukan tari2an dan kungfu sungguh menarik walaupun tidak sampai 1 jam.

Sepeda Motor tidak diijinkan di Zhuhai, kecuali sepeda listrik untuk menghindari kecelakaan. Pengguna jalan lebih disarankan menggunakan bus atau kereta bawah tanah. Harga Bensin 7,2 Yuan/ltr. Penjualan mobil dibatasi tidak lebih 30rb/bln. Kepemilikan rumah di dalam kota, hanya boleh selama 70 tahun, setelahnya hrs dikembalikan ke negara.

Di sini mampir ke musium kesehatan, yang di dalamnya ada presentasi tentang obat-obatan oleh presenter tua asal Indonesia. Pijat reflexi di sediakan gratis dalam ruang presentasi, sekaligus diagnosa kesehatan oleh para dokter China. Selanjutnya bisa diduga, pembelian obat-obatan, yang disediakan, sangat disarankan. Harga obat untuk 3 bulan, rata-rata 4500 yuan (hampir Rp. 5 jt.).

Makan siang yang enak, disediakan di resto Zhuhai. Ayam kecap asin, udang goreng mentega dan kerang ‘abelen’, cukup enak.

Zhenchen (baca zencuen)
Perjalanan Zhuhai – Zhen Chen ditempuh dalam 2.5 jam menggunakan bus. Infrastruktur lalu-lintas bagus sekali. Jalan beraspal halus dan lebar dengan banyak kamera monitor lalu-lintas terpasang untuk menghindari ‘over speeding’. Di sepanjang jalan sering terlihat Apartemen, kebun ‘tebu hitam, jagung (dibungkus plastik) dan lengkeng. Memasuki kota Zhenchen mal-mal, apartemen bagus dan lampion digantung di lampu-lampu jalan banyak terlihat, indah.

Makan malam di resto Zhen Chen terasa lebih enak dan lebih banyak menu pilihan disediakan. Ruang makan resto bersih, tapi sayang, toilet sedikit jorok dan tisue harus minta bila lebih dulu bila mau menggunakannya.

Jam 19:15 sudah sampai di imigrasi Zhenchen untuk menyeberang ke Hongkong menggunakan bus.

30 Jan 2011
Breakfast di hotel Eaton, standard bintang 5, banyak tersedia salmon, uenak.

Perjalanan ke Victoria Hill Peak dari Kwoloon ke Hongkong island melalui Cross-Harbour Tunnel membutuhkan waktu 30 menit. Trem listrik dua gerbong mengangkut kami dan penumpang lainnya dari stasiun ke puncak bukit Victoria. Gerbong bersih sekali dengan kursi kayu berbaris ke depan di sebelah kiri/kanan. Pemandangan di sebelah kanan adalah dataran Hongkong dengan gedung-gedung tingginya. Di dalam stasiun Victoria Hill terdapat musium Madame Tussaud yang berisi patung-patung lilin dari beberapa artis Hollywod maupun Hongkong, juga pembesar2 dunia, seperti Obama, Clinton, Einstein, Angelina Jolie dan Brett Pit, Beatles, Jeckie Chen, dsb.

Turun dari puncak Victoria menggunakan bus, mampir ke pantai Abberdin dan berkeliling menggunakan perahu tradisional melewati terminal yacht milik para orang kaya Hongkong.

Acara hari ini ditutup dengan perjalanan ke
pabrik perhiasan dan pabrik coklat. Mampir sebentar beli buku sejarah China di Nathan Road. 95% buku di toko ini berbahasa China.
Pertokoan di Hongkong buka 10:00-23:00, dan selalu ramai.

31 Jan 2011
Disneyland adalah target kunjungan hari ini, buka jam 10:00.

Pertunjukan kabaret Lion King bagus sekali, sedangkan pertunjukan Mickey Mouse cukup bagus, sayangnya dialog banyak disajikan dalam bahasa China, meskipun ada text dalam Bahasa Inggris.

Castle Illumination Celebration disajikan dengan permainan cahaya yang sangat indah kearah castle pada jam 19:30. Pesta kembang api diiringi permainan cahaya dan didukung pemdaman lampu di dalam area Disneyland, semakin membuat suasana perayaan menjadi lebih indah.

Pulang ke hotel di Kowloon melewati Nam Wan tunnel. Dilanjutkan dengan mencari toko buku di sepanjang Nathan Road. Ditemukan dua toko buku di jalan ini, namun tidak banyak buku berbahasa Inggris.

1 Feb 2011
Ocean Park sebagai tempat wisata air ramai dikunjungi wisatawan. Cable Car menuju Ocean Theater tempat perdengan kapasitas masing-masing enam penumpang perlu dicoba untuk bisa melihat pemandangan Hongkong lebih baik. Kereta listrik Ocean Express juga perlu dinikmati, meskipun hanya 15 menit untuk kembali ke Plaza depan Ocean Park. Gerbongnya bersih, cahaya redup, nyaman dan film ikan di bagian atap gerbong serasa berada di bawah laut. Kunjungan ke Ocean Park dimulai jam 10 pagi hingga 4 sore.

Bagi yang rindu masakan tanah air, Resto Bali di Nanking street, bagian dari Nathan Road, menyediakan masakan Indonesia. Enak sekali masakannya terutama nasi goreng seafood, sate ayam, rendang dan sambal terasinya.

Miniatur mobil sport bisa diperoleh di toko Continental, belakang Wing On, Nathan Road dengan harga setengahnya dari yang ada di mall-mall Jakarta.

2 Feb 2011
Saatnya checkout dari Eaton hotel untuk penerbangan kembali ke Jakarta menggunakan GA863 jam 16:50. Sedikitnya dua toko buku ditemukan dalam bandara Hongkong ini. Harga buku persis sama dengan di Nathan Road, dan lebih murah daripada di Amazon.com.

A Russian Diary

“They concentrate on the positive and pretend the negative isn’t there”, Anna Politkovskaya.

Judul: A Russian Diary
Penulis: Anna Politkovskaya
Tebal Buku: 370 halaman
Penerbit: Random House, New York
Tahun: 2007

Anna, pemegang paspor Amerika, lahir 1958 di New York, adalah putri seorang diplomat Soviet yang bertugas di UN, belajar Jurnalistik di Moscow State University dan mendapat ‘kemewahan’ untuk akses informasi melalui buku, majalah dan media cetak lainnya, yang dimasukkan ayahnya dari luar negeri. Disertasinya mengenai puisi-puisi Marina Tsvetaeva (tewas gantung diri), yang dilarang oleh Stalin.

Sebagai wartawan harian Novaya Gazeta, Anna, penerima berbagai penghargaan dunia untuk karya jurnalistik dalam penegakan HAM, tewas ditembak dengan tiga peluru di dada dan satu peluru di kepala, 7 Oktober 2006 pada usia 48 tahun di apartementnya, Moscow, karena tulisannya tentang Perang Chechnya dan kritik pedasnya terhadap pemerintahan Putin.

Buku dalam format Diary ini selesai sebelum Anna terbunuh di Moscow, bercerita dalam kurun waktu Pemilu Parlemen 2003 hingga peristiwa pembajakan sekolah Beslan akhir tahun 2005. Sumber data diperolehnya dari berbagai wawancara dengan banyak pihak yang tertindas karena kebijakan Putin, termasuk para ibu dari anak-anak yang tewas saat pembajakan sekolah Beslan, para tentara Russia yang berperang di Chechnya namun ‘ditinggalkan’ pemerintahnya, para militia Chechen dukungan Putin, juga dengan orang-orang yang pernah diculik oleh aparat keamanan. Di pihak lain, Anna juga mewawancarai para veteran dan pimpinan perang Chechen.

Membaca buku ini seperti membuka harta karun berisi informasi langka tentang Russia, di bawah Putin, yang ternyata masih sangat tertutup dan berwajah gelap. Kecurangan, pembunuhan sadis, penculikan yang semuanya bermotif politik, nasionalis sempit dari beberapa partai dan kelompok radikal dengan jargonnya “Russia for the Russians”, dan kebijakan publik yang sangat jauh dari niatan untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan rakyat. Anna menganggap pemerintahan Putin tidak berbeda dengan masa pemerintahan Stalin.

Karya jurnalistik yang sungguh sangat berani tentang nasib rakyat Russia dalam pemerintahan Putin yang represif, kejam dan korup.

Penyajian peristiwa dibagi menjadi tiga Bab dan Penutup, dalam format Diary, yang sesuai dengan urutan waktu. Banyak kutipan wawancara, siaran televisi dan tentu saja juga opini penulisnya.

Bab 1
The Death of Russian Parliamentary Democracy
Dec 2003 – Mar 2004
Bab ini berisi tentang peristiwa masa pemilu parlemen dan pemilu presiden. Segala usaha pemenangan United Russia Party, partai pemerintah Putin, yang dlanjutkan dengan pemilu Presiden diceritakan dengan jelas, bahkan cenderung sinis.

Kecurangan, penculikan, intimidasi, bahkan pembunuhan sadis terhadap pimpinan partai oposisi serta, bom bunuh diri, mewarnai pemenangan Pemilu Parlemen dan Presiden Russia. Posisi sebagai partai pemerintah (incumbent) membuat Putin semakin sewenang-wenang dalam membuat kebijakan tentang Pemilu. United Russia party memanfaatkan birokrat -Mantan pejabat Patai Komunis dan Young Commnist League telah direkrut sebagai pegawai pemerintah- dan politik uang untuk kemenangan Putin.

Menurut Anna, secara ideologis, Duma baru (setelah runtuhnya USSR), lebih berorientasi ke politik tradisional, daripada menuju ke arah demokrasi Barat. United Russia melakukan kooptasi bahwa masyarakat Russia telah dipermalukan oleh Barat, dengan propaganda anti Barat dan anti kapitalis.

Hampir tidak ada seorang demokratpun dalam Russian Parliament, yang mampu melakukan lobi2 demokratis secara konstuktif dan beroposisi dengan benar. Kaum demokrat tidak lagi tertarik untuk ‘menyentuh’ 40% rakyat Russia yg berada di bawah garuis kemiskinan. Kaum demokrat telah diam dan ‘menyerah’ untuk kemenangan Putin.

Partai-partai Pro-Putin menguasai Duma. United Russia menguasai 212 kursi, 65 kursi lainnya adalah “independent” juga pro Kremlin. Konfigurasi di Duma tidak memungkinkan adanya oposisi. “Duma bukan tempat berdebat, melainkan untuk pekerjaan legislasi”, ungkap Putin, setelah kemenangannya.

Meskipun pada 2003, partai United Russia tidak memenuhi cukup suara untuk merubah konstitusi (301 suara dibutuhkan), namun Kremlin selalu punya cara untuk merekayasa mayoritas konstitusional. Peraturan hukum selalu bisa dirubah dengan alasan “in order to avoid destabilizing the situation in the country”.

Pada 24 Desember 2003, Grigorii Yavlinsky (partai oposisi, Yabloko) menyatakan bhw Russia mempunyai pseudo-multyparty parliament, pseudo free and fair elections, pseudoimpartial judiciary dan pseudoindependent mass media.

Teror, intimidasi, penculikan membuat hanya Irina Khakamada yg pada akhirnya berani berhadapan langsung terhadap Putin sebagai pesaing utama dalam Pemilu Presiden, sedangkan lainnya lebih mendukung Putin, meskipun ada enam calon presiden peserta pilpres ini.

Bab 2
Russia’s Great Political Depression
Apr-Dec 2004
Pada bab kedua ini, Anna sedikit meneruskan peristiwa Pemilu, yang diakhiri dengan pelantikan Putin yang kedua kalinya, 7 Mei 2004. Cerita selanjutnya lebih banyak berhubungan dengan peristiwa di wilayah Caucasus, Chechnya dan sekitarnya.

Peristiwa meledaknya bom dalam mobil Presiden Repulic of Ingushetia, Murat Zyazikov, di Nazran, Ingushetia, yang negaranya berbatasan dengan Chechnya. Presiden selamat.

Dicurigai ini karena dugaan korupsi yg dilakukan oleh presiden dan keluarganya. Kecurigaan lainnya adalah beberapa penculikan oleh pemerintahannya, yang dihubungkan dengan isu Chehnya.

Anna mempertanyakan ketiadaan komitmen pres Zyazikov untuk menjalankan pemerintahan yang demokratis dan berperikemanusiaan. Mengapa saat kekuasaan di tangan justru digunakan untuk berbohong, memutar-balik fakta, mendukung tindak korupsi, menghindari bangsanya, menakutinya dan akhirnya, tidak mencintainya? “When there is no justice, there is rough justice. People lose patience” ungkapnya.

Seperti halnya Putin, Zyazikov melakukan hal yang sama dalam hal kebebasan pers. Alih-alih menyelesaikan persoalan bangsa, malah melakukan kontrol dan sensor pemberitaan televisi. Penculikan, teror, kekerasan juga terjadi dalam pemenangan Zyazikov sbg pres Ingushetia.

Peristiwa detil pembajakan sekolah Beslan dan usaha pembebasan sandera oleh aparat keamanan pemerintah yang justru memperbanyak jumlah korban, hingga tindakan sensor media oleh pemerintah beberapa hari sesudahnya juga diceritakannya dalam bab kedua ini.

Bab 3
Our Winter and Summer of Discontent
Jan-Aug 2005
Dalam bab ketiga ini, banyak diisi dengan peristiwa memuncaknya rasa frustrasi rakyat Russia terhadap pemerintahnya.

Russia’s Heroes (para Pahlawan dengan penghargaan resmi dari pemerintah) melakukan mogok makan. Ini dilakukan krn Duma, 13 Jun, melaksanakan pemotongan kesejahteraan mereka. Diikuti dengan munculnya partai baru, partai para ibu tentara Russia (Mother’s Sodiers Party) sebagai oposan pemerintah. Kemudian aksi penolakan kehadiran para ibu korban pembajakan sekolah Beslan, atas undangan Putin ke Moscow, karena menganggap pemerintah Putin tidak serius melindungi keamanan rakyatnya dalam pembajakan sekolah Beslan.

Tidak ada yang dinyatakan bersalah dalam kasus banyaknya korban tewas dalam usaha pembebasan sandera pembajakan sekolah Beslan. Lebih dari 300 tewas, termasuk 186 murid sekolah.

Bab Penutup
Am I Afraid?
Pada bab penutup bukunya, Anna memberikan kritik keras untuk perbaikan kesejahteraan bangsa Rusia dan tuntutannya untuk menghentikan perang di North Caucasus.
Namun sayangnya tidak terlihat adanya perubahan, bahkan pemerintah cenderung buta/tuli dengan keluhan rakyatnya, dan tetap dengan gaya hidupnya yang rakus akan kekayaan. Bahkan disinformasi bahwa masyarakat sipil dan oposisi dibiayai oleh CIA, Inggris, Israel, terus dilakukan sebagai bagian tindak represi.

Kudeta Arok-Dedes

Buku ini terasa sangat Pramoedya, mewakili suara kaum tertindas yang tidak mendapat perlindungan dan keadilan dari penguasa, namun justru teraniaya dan termiskinkan secara struktural.

Judul: Arok-Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Tebal Buku: 574 halaman
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun: 2009
Cetakan: 6

Judul, gambar sampul dan, tentu saja, penulisnya sudah jadi jaminan bakal larisnya buku ini. Cerita tentang Ken Arok ini pasti sangat familiar bagi kita semua. Ketika masih di Sekolah Dasar, buku sejarah dan guru sangat berperan besar dalam mencitrakan tokoh satu ini. Seorang perampok, pengacau, pembunuh kejam; itulah kesan yang didapat ketika tokoh ini disajikan dalam buku sejarah. Di tangan sang empunya, Pramoedya, kesan ini sungguh berbalik.
Para tokoh utama juga sudah dikenal luas oleh para pembaca, persis seperti yang tertulis dalam buku sejarah di sekolah, seperti Tunggul Ametung, Empu Gandring, Kebo Ijo, Loh Gawe, Ken Umang dan tentu saja Ken Arok dan Ken Dedes; namun peran dan citra masing-masing banyak berbeda, bahkan berlawanan.

Keyakinan agama punya andil besar dalam proses pemberontakan di Tumapel. Para pemberontak dan kaum teraniaya adalah pengikut Syiwa sementara aparat pemerintah adalah pemuja Wisnu dalam agama Hindu. Kaum Brahmana Syiwa sangat disegani dan segala titahnya akan diikuti oleh pengikutnya, sementara brahmana Wisnu dalam pemerintahan (Belakangka) dicitrakan haus kekuasaan.

Empu Gandring adalah pande besi, ahli pembuat senjata untuk keperluan pemerintah. Tak ada cerita tentang kutukan keris tujuh turunan sang empu seperti yang biasa diceritakan para guru sejarah. Bahkan dalam buku ini, Gandring adalah aktor intelektual perebutan kekuasaan di Tumapel, di belakang Kebo Ijo, bukan sosok teraniaya yang dilakukan oleh Arok seperti yang selama ini tertulis dalam buku sejarah di sekolah.

Dedes dalam buku ini punya peran utama yang sangat penting untuk jatuhnya akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Sebagai prameswari, penyembah Syiwa seperti umumnya masyarakat yang teraniaya dari kasta Sudra hingga Brahmana di Tumapel, Dedes punya kekuasaan besar dalam istana yang hanya bisa dikalahkan oleh sang suami. Dedes digambarkan sebagai perempuan brahmani yang cantik, berpengetahuan dan berjiwa soial tinggi serta disukai masyarakat, berbeda dengan Tunggul Ametung yang dicitrakan sebagai bodoh dan berperangai rendah seperti perampok, pemerkosa, pembunuh, rakus dan pengecut.

Arok, seperti halnya dalam pelajaran sejarah di sekolah, adalah anak angkat suatu keluarga yang tidak mengenal orang tua biologisnya. Digambarkan sebagai anak yang cerdas, setia kawan, punya jiwa kepemimpinan bagus serta patuh pada para guru/brahmana. Menurut Loh Gawe, dalam buku ini, Arok adalah satu-satunya sudra yang bisa menjadi satria dan brahmana dalam 100 tahun saat itu. Karena kecerdasannyalah, Arok bisa mengatur strategi perang yang ampuh untuk mengalahkan pasukan Tumapel dan kelompok Kebo Ijo. Bahkan pemberontakan dan penaklukan terhadap Tunggul Ametung bisa dibungkusnya sebagai perlindungan terhadap kekuasaan Tumapel dan prameswari untuk menghindari konflik terbuka dengan kerajaan Kediri, yang dipimpin ileh Krtajaya.

Dalam hubungannya dengan Arok-Dedes, Pramoedya menafsirkannya bahwa Dedeslah yang berminat untuk menjadikan Arok sebagai suaminya, bukan Arok yang berminat untuk memilikinya (cerita sejarah). Pada akhir cerita, Ken Arok disebutkan memiliki dua prameswari, yaitu Ken Dedes dan Ken Umang.

Novel sejarah yang sepertinya didukung dengan studi kepustakaan ini ditulis Pramoedya 1970 ketika beliau masih di Pulau Buru (setelah Tetralogi Bumi Manusia) dan termasuk karya tulis yang terlarang untuk diterbitkan saat Orde Baru masih bercokol. Banyak orang berpendapat bahwa cerita Arok-Dedes versi Pramoedya ini merupakan ‘sindiran’ atas revolusi 65, dengan Soeharto sebagai tokoh sentral. Dan ini tersamar dalam catatan Pramoedya di awal cerita, “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya…” Betulkah?