Feeds:
Pos
Komentar

Rumah Kaca

rumah_kaca2Judul Buku : Rumah Kaca
Halaman      : 645
Pengarang   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit       : Lentera Dipantara
Tahun            : 2009

Rumah Kaca adalah buku terakhir dari tetralogi, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah.

Bila pada ketiga buku terdahulu menggunakan tokoh utama Mingke sebgagai si pencerita, maka di buku terakhir ini tokoh utama, sekaligus pencerita adalah Pangemanann, polisi yang menangkap Minke dalam buku Jejak Langkah. Ini gaya penulisan yang harus diambil penulis, untuk dapat terus mengikuti perkembangan sejarah perjuangan di masa kolonialisme Belanda, berhubung Minke sbgai tokoh utama di buku sebelumnya sedang berada di pengasingan, Ambon.

Pangemanann (dengan dua ‘n’), dimaksudkan penulis sebagai pribadi keturunan Manado Belanda, namun lebih menghargai dirinya sebagai bangsa asing, walaupun dalam setiap pikiran dan tindakannya selalu dibayangi rasa salah terhadap bangsanya.

Latar-belakang cerita diambil pada masa tumbuhnya nasionalisme di wilayah Asia, seperti munculnya Aquinaldo di Filipina dan Sun Yat Sen di Tiongkok. Di Hindia (Indonesia nantinya), pada saat itu di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, yang menggantikan Van Heutsz. Nasionalisme Hindia diawali dengan organisasi Budi Mulya dan Syarikat Dagang Islam, dilanjutkan dengan munculnya para aktivis Belanda Sneevlit. Sepak terjang Tiga Serangkai juga mewarnai isi buku ini, meskipun tidak cukup mendapat ‘arti’ yang penting di mata penulis.

Pada akhir cerita, Minke telah dibebaskan dari pengasingan,, namun tetap dalam pengawasan pemerintahan kolonial hingga dilarang melakukan aktivitas politik, dan akhirnya mati dalam kesepian.

Membaca tetralogi ini, pesan yang muncul sangat jelas terlihat sebagai sikap pribadi penulis yang anti penjajahan dalam segala bentuknya dan tetap tegar dan konsisten dengan segala akibatnya hingga wafat dalam kesepiannya.

Bila penulis adalah representasi si Minke, lalu siapakah Pangemanann? Jelas masih banyak tokoh dengan kepribadian dan perilaku semacam Pangemanann ini, biasanya mereka ini mengabdikan diri sebagai wakil pemilik modal besar dan karena kemampuannya mengenali budaya bangsanya, akan berusaha untuk terus menjajahnya. Persis seperti perilaku kolonialis yang berkedok ‘balas-budi’, namun di ujung semua usaha adalah tetap keuntungan pemilik modal harus jauh lebih besar. Kasihan kalian para Pangemanann negeri ini ..

Facebook, budaya pop ?

Awal tahun 90an, HP berukuran batu bata bermerk Motorolla begitu mewah, mengundang mata utk melirik ke dalam mobil si pengguna yg sengaja sedikit membuka kaca jendela, biar terlihat.

Tahun 1995, perusahaan tambang emas Placer Pacific di Jakarta dan kantor pusatnya di Sydney masih menggunakan CompuServe untuk ‘surfing’ di dunia maya karena internet provider belum ada, bahkan internet belum cukup dikenal di Indonesia. Saat itu ada satu nomor telepon di Jakarta, yang tidak diketahui milik siapa, bisa dipergunakan untuk akses CompuServe, free. Aneh …

Sekarang, bahkan anak SD pun sudah bisa berinternetan dengan HPnya yang kecil itu untuk chatting dan berkemunikasi dengan rekannya via Facebook. ‘Om, hari gini.. Belum punya account di Facebook .. Yahhh’, begitu teman-teman anakku meledekku. Aku tersenyum, semakin tua rasanya ….

Facebook? Tengok kiri-kanan, yah ternyata sdh jd fenomena sosial, seakan yang tidak terdaftar di facebook bukan bagian dari jamannya..

Aku mulai merenung di suatu mall di Jakarta sambil mengamati gerak-gerik setiap anak muda yang lalu lalang di depanku. Kulirik seorang perempuan kantoran yang sedang asik memainkan keyboard laptopnnya sambil tersenyum sendiri di meja sebelahku dalam warung kopi Starbuck. Heem .. Ternyata sedang chatting.. Di pojok warung, tiga pemuda tersenyum sambil memperhatikan layar laptopnya.. Facebook ..

Penasaran, pulang ke rumah lgs sign-up di Facebook, karena untuk bisa lihat info di dalamnya harus terdaftar dulu di Facebook dan menjalin banyak perkawanan, untuk melihat info apa sih yang ada di dalamnya.

Kesimpulanku, Facebook adalah media, yang bisa dipergunakan sebagai alat untuk bertukar info tentang banyak hal, mulai dari yang dangkal narsistik sebagai bagian dari ‘budaya pop’ hingga yang empatik mencerahkan atau ‘budaya kritis’. Terserah anda mau di bagian yang mana .. 🙂

MAX HAVELAAR

havelaar1Judul : MAX HAVELAAR

Penulis : Multatuli

Alih Bahasa : Andi Tendi W.

Tahun : 2008

Penerbit : Narasi

Dari sampul belakang: Buku ini ditulis Multatuli (Eduard Douwes Dekker) di sebuah losmen yang disewanya di Belgia, pada musim dingin 1859. Merupakan kritik tajam yang telah “membuka” sebagian besar mata publik dunia, tentang perihnya arti penindasan (kolonialisme). Judul buku dan nama penulisnya sungguh sangat familiar bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan SD di negeri ini, dan patut mendapatkan penghargaan bagi pengalih bahasa yg telah menerjemahkan karya klasik monumental ini.

Dari sisi gaya bahasa atau alur cerita, agak sulit ‘mencerna’nya, mungkin karena peng’alih-bahasa’an atau memang metoda penulisan yang kurang difahami pembaca. Ada dua latar belakang yang diceritakan dalam karya ini, yaitu tentang ‘makelar kopi’, yang disebutkannya berkali-kali dan pemerintahan kolonialis Belanda di Lebak, Jawa Barat sebagai inti cerita. Juga, satu bab cerita pendek ‘Saijah dan Adinda’ yang sangat terkenal di dunia teater, bahkan sebagai dongeng menjelang tidur.

Keprihatinan Multatuli atas tanah Jawa dan sinisme terhadap pemerintah kolonial sudah dituliskan pada awal cerita, “.. keriangan mengepakkan bendera di Batavia, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Pacitan, Cilacap, di atas kapal yang sarat dengan hasil panen yang membuat Holland kaya!”

Cerita buku ini dimulai dengan kedatangan Max Havelaar (35 tahun) dan keluarga di Rangkasbitung, sebagai Asisten Residen Lebak yang baru dan masih muda, namun sudah berpengalaman menjadi Asisten Residen di Ambon. Sifat-sifat personal Max Havelaar diceritakan sang penulis dengan panjang lebar sebagai manusia religius, lurus, rendah hati seperti tertulis dalam bahasa puitisnya “.. Tajam seperti silet, namun berhati lembut seperti seorang gadis, dia selalu menjadi yang pertama dalam merasakan kepedihan yang ditimbulkan dari kata-kata pahitnya, dan dia lebih menderita akibatnya dibandingkan dengan orang yang disakitinya”.

Konflik dimulai ketika Max memperoleh banyak keluhan rakyatnya atas kesewenang-wenangan Regen Lebak (Raden Adipati Karta Nata Negara) dan mulai menindak-lanjutinya. Kesewenang-wenangan dimaksud, diantaranya adalah, pengambil alihan ternak, pungutan dan penggunaan tenaga kerja tanpa ganti rugi/dibayar. Laporan Max tentang kasus ini ke Residen Lebak tidak mendapat tanggapan bahkan dianggap sebagai laporan tidak berdasar. Ketidak-puasan Max atas tanggapan resmi Residen Lebak (Slymering), membuatnya gusar dan melaporkannya lebih lanjut ke penguasa kolonial, Gubernur Jenderal.

Akhir cerita, Max Havelaar mengundurkan diri dan tidak menerima ‘mutasi’ yang dikenakan pada dirinya sebagai Asisten Residen Ngawi, Jawa Timur.

Introspeksi

Betulkah kesewenang-wenangan dalam bungkus kolonialisme sudah hilang di negeri tercinta ini? Bagaimana dengan penguasaan modal besar atas akses pendidikan, kesehatan dan usaha? Bagaimana dengan hegemoni globalisasi budaya dan ekonomi yang sudah mengkooptasi kita saat ini?

Dari Beirut Ke Jerusalem

dari-beirut-ke-jerusalemJudul asli              : From Beirut To Jerusalam

Penulis                  : Thomas Friedman

Tebal buku            : 460 halaman

Penerbit                 : Penerbit Erlangga

Tahun                    :  1989

Buku yang ditulis oleh wartawan New York Times berdasarkan penelitian dan kunjunganannya ke Libanon dan Jerusalem ini sangat bagus dan cukup lengkap untuk mengetahui sejarah umum dan politik Timur Tengah, khususnya Palestina, Libanon dan Israel. Membaca buku ini rasanya seperti membaca novel sejarah yang runtut alurnya dan pembaca serasa berada di tempat kejadian.

Beberapa peristiwa penting yang diceritakan dalam bukunya ini diantaranya adalah :

  • Perang saudara dan invasi Israel di Libanon
  • Pembantian pengingsi di Sabra dan Shatila
  • Evakuasi PLO dari Beirut
  • Kedatangan pasukan perdamaian AS di Beirut dan bom bunuh diri
  • Pembantaian di kota Hama, Syria oleh rezim Hafez al-Assad

 

Libanon

Isu utama penyebab perang saudara di Libanon 1982an adalah adanya ketidak-stabilan yaitu tidak adanya konsensus antara kaum Kristen dan kaum Muslim mengenai pembagian kekuasaan.  Menjelang tahun 1970an, golongan Kristen hanya 1/3 bagian dari total penduduk Libanon; sementara golongan Muslim dan Drus mencapai 2/3 bagian, dimana Golongan Shiah sebagai golongan terbesar.  Komposisi ini sudah sangat berbeda dengan tahun 1943, dimana Maronit menjadi golongan mayoritas.

Golongan Maronit tidak menghendaki pembaruan pembagian kekuasaan seperti yang diinginkan golongan Muslim. Golongan Maronit membentuk milisi Phalangis, dipimpin Pierre Gemayel dan milisi Tigers yang dipimpin mantan presiden Libanon, Camilli Chamoun; sedangkan kaum muslim Libanon dipimpin oleh Walid Jumblat (milisi Druz) dan Nabih Berri (milisi Amal Shiite).

Keterlibatan Israel di Libanon adalah kepentingannya untuk mengusir PLO di Libanon Selatan atas dukungan kelompok Kristen dan Islam Shiah, pada awalnya. Namun, ternyata Israel juga „mengganggu” kelompok Islam Shiah.

Suriah

Februari 1982, rezim Hafez al-Assad, dari partai Baath yang berkuasa yang memenangkan kursi presiden melalui kudeta saat dirinya menjabat sebagai Menteri Pertahanan, melakukan pembantaian terhadap muslim Sunni di kota Hama, yang menurut Amnesty International memakan korban 10.000 – 25.000 orang. Muslim Sunni Sitia berjumlah 70%, sedangkan kaum Alawit 10-12%.

 

Israel-Palestina

Mulai dasawarsa 1930-an, Ben-Gurion menerima gagasan membagi Palestina menjadi dua negara- untuk Israel dan Arab Palestina -, yang akhirnya diterima oleh PBB 1947.

Menachem Begin tidak pernah mau menerima realita ini. Dia menginginkan kedaulatan Yahudi atas seluruh tanah Israel kuno, yang membentang dari Mediterania sampai ke Sungai Yordan dan wilayah seberangnya, sejalan dengan program semula kaum Zionis.

PM Golda Meir pada 1967 menyatakan  pada The Sunday Times bahwa bangsa Palestina tidak ada. Partai Buruh Israel lebih suka memandang orang Palestina sebagai “pengungsi Arab” belaka yang harus dimukimkan kembali si negara-negara Arab disekelilingnya. Bahkan setelah Israel menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat 1967, menyebut orang Palestina sebagai “bangsa Arab di tanah Israel”. Masalah Palestina, bagi Israel adalah masalah gerombolan Arab perampok yang mebunuhi Yahudi.

Penilaian Thomas Friedman terhadap Menachem Begin, seseorang yg melihat dirinya sendiri sebagai korban, nyaris tak pernah membuat penilaian moral atas dirinya sendiri. Hal ini berhubungan dg sikap Menachem Begin yang lahir 1913 di Polandia, menganggap dirinya sbg korban anti Semitism dan menganggap mengepung Arafat bagaikan mengejar Hitler dalam persembunyiannya.

Sejarah perang Israel – Palestina

1882

Sbg akibat penganiayaan bgs Yahudi di Rusia dan Rumania pada tahun sebelumnya, imigrasi pemukiman Yahudi secara besar-besaran ke Palestina pertama kali berlangsung

1891

Para tokoh Arab di Jerusalem mengirimkan petisi kepada pemerintahan Ottoman diKonstantinopel menuntut dilarangnya imigrasi orang Yahudi ke Palestina dan pembelian tanah oleh orang Yahudi.

1896

Wartawan Austria Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, menerbitkan pamfletnya The Jewish State, yang menyatakan bahwa ‘masalah Yahudi’ hanya dapat dipecahkan dengan mendirikan negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lainnya, sehingga bangsa Yahudi dapat hidup bebas tanpa takut akan penganiayaan. Setahun kemudian, Herzl mengadakan Kongres Zionist pertama di Basel, Swiss, untuk mendorong imigrasi ke Palestina.

1908

Surat kabar Arab Palestina pertama muncul: Al-Quds, si Jerusalem dan Al-Asma’i di Jaffa.

1916

Persetujuan Sykes-Picot ditempa oleh Inggris, Perancis dan Rusia, memotong-motong kerajaan Ottoman setelah kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sebagai bagian dari persetujuan itu, Inggris memenangkan pengendalian efektif atas wilayah Palestina, dan Perancis atas wilayah yang kini adalah Libanondan Siria.

1917

Deklarasi Balfour dikeluarkan oleh menteri Luar Negeri Inggris Arthur J. Balfour untuk menyokong gagasan pendirian ‘negeri sendiri’ bagi bangsa Yahudi di Palestina.

1920

Perancis mendekritkan pembentukan negara Libanon Raya, yang mengikat kembali bersama Gunung Libanon dengan wilayah-wilayah Beirut, Tripoli, Sidon, Tirus, Akkar dan Lembah Bekka.

1936-39

Diilhami oleh gerakan nasional Arab lainnya, bangsa Arab Palestina memberontak dalam upayanya menghentikan didirikannya tanah air bangsa Yahudi di Palestina. Baik pemukiman Yahudi maupun satuan tentara Inggris, mendapat serangan.

1943

Para pemimpin Kristen dan Muslim Libanon mencapai persetujuan dengan ‘Pakta Nasional’ untuk membagi kekuasaan dan menyeimbangkan orientasi Barat dan Arab di Libanon; persetujuan ini memungkinkan negeri merekamenjadi sebuah negara bebas dari Perancis.

– Perbandingan Anggota Parlemen: 6 (Kristen) : 5 (Muslim)

– Presiden                             : Maronit

– Perdana Menteri                : Muslim Sunni

– Ketua Parlemen                : Muslim Shiah

1947

PBB memutuskan untuk membagi Palestina menjadi dua negara, satu untuk bangsa Yahudi (Gurun Negev, dataran pantai antara Tel Aviv dan Haifa dan beberapa bagian daera Galilea utara) dan lainnya untuk bangsa Arab Palestina (Tepi Barat Sungai Yordan, distrik Gaza, Jaffa dan sektor Arab dari Galilea) dimana Jerusalem menjadi daerah kantong international.

Kaum Zionis dipimpin oleh David Ben-Gurion

1948

Inggris menarik diri dari Palestina. Alih-alih melaksanakan rencana pembagian PBB, negara-negara Arab sekitarnya bergabung dengan bangsa Palestina lokal untuk mencoba mencegah munculnya negara Yahud. Israel bagaimanapun juga akhirnya didirikan: Yordania menduduki Tepi Barat dan Mesir menduduki Jalur Gaza.

1956

Israel bergabung dengan kekuatan Inggris dan Perancis menyerang Mesir dibawah Gamal Abdel Nasser dan berhasil menduduki sebagian besar Semenanjung Sinai. Atas tekanan baik dari AS maupun Uni Soviet, belakangan Israel menarik diri.

1958

Perang saudara Libanon meletus pertama kali dan sekitar 15,000 orang pasukan AS dikirimkan ke Beirut untuk membantu menstabilkan suasana.

1964

Para pemimpin negara Arab dipimpin oleh Abdel Nasser membentuk Palestine Liberation Organization (PLO) di Kairo.

1967

Israel melancarkan serangan mendahului atas Mesir, Siria dan Yordania ketika mereka sedang menyiapkan perang melawan negara Yahudi. Perang Enam-Hari berakhir dengan Israel menduduki Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

1969

Yaser Arafat pemimpin organisasi gerilya Al-Fatah, terpilih menjadi Ketua Komite Eksekutif PLO.

1970

Tentara Raja Hussein mengalahkan gerilyawan PLO Arafat dalam suatu perang saudara untuk menguasai Yordania.

1973

Mesir dan Siria melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan Israel yang menduduki Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan.

1974

Sebuah konperensi puncak Arab di Rabat, Marokko, menegaskan bahwa PLO adalah ‘wakil satu-satunya dan sah’ dari bangsa Palestina.

1975

Perang saudara kembali meletus di Libanon.

1977

Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Jerusalem, berpidato di depan parlemen Israel, dan menawarkan perdamaian penuh jika Israel bersedia mundur sepenuhnya dari Sinai.

1979

Mesir dan Israel menandatangani perjanjian perdamaian mereka.

1982 Feb

Pemerintah Siria membantai ribuan warganegaranya sendiri ketika memberangus pemberontakan yang dilancarkan dari kota Hama.

1982 Jun-Sep

Israel menginvasi Libanon. Pemimpin milisi Phalangis, Bashir Gemayel terbunuh setelah pemilihannya sebagai Presiden Libanon. Pasukan Milisi Phalangis membantai ratusan orang Palestina di perkemahan kaum pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut, sementara kemahnya dikepung oleh pasukan Israel. Satuan Marinir AS tiba di Beirut sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB.

1983

Kedutaan Besar AS dan markas besar Korps Marinir AS di Beirut diledakkan oleh bom mobil bunuh-diri.

1984 Feb

Pemerintah Libanon pimpinan Presiden Amin Gemayel terpecah setelah golongan Muslim Shiah dan Drus di Beirut Barat melancarkan pemberontakan melawan tentara Libanon. Presiden Reagen melepaskan harapan untuk membangun kembali Libanon dan memerintahkan padukan Marinir pulang.

1984 Sep

Partai Buruh dan Likud Israel bekerjasama dalam sebuah pemerintahan persatuan nasional setelah pemilihan bulan Juli menemui jalan buntu.

1985

Israel menarik tentaranya secara sepihak dari sebagian besar Libanon.

1987 Des

Perlawanan atau Intifada orang Palestina mulai di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

1988 Des

Arafat mengakui hak keberadaan negara Israel. Menteri Luar Negeri AS George Shultz membenarkan pembukaan dialog dengan PLO. Partai Likud dan Buruh bergabung untuk membentuk pemerintahan kesatuan nasional yang lain di Israel sesudah pemilihan mengalami jalan buntu.

Bumi Manusia

bumi_manusia

Judul                      : Bumi Manusia

Author                    : Pramudya Ananta Toer

Tebal buku            : 535 halaman

Tahun                    : 2008

Penerbit : Lentera

Novel ini merupakan buku pertama dari tetralogi yang ditulis ketika pengarang sedang berada dalam tahanan di P. Buru, 1975. Banyak penghargaan diperoleh dari luar negeri dan banyak pula sudah diterbitkan di luar negeri, namun sayangnya, justru dilarang diterbittkan di negeri sendiri pada era Soeharto. Bahkan, seorang mahasiswa Sospol Gajah Mada sempat masuk bui (5 tahun?) akibat menjualnya di akhir tahun 80an.

Membaca novel yang sarat dengan nuansa sosialis dan berlatarbelakang masa penjajahan Belanda, 1898, di Wonokromo, Jawa Timur, seperti larut dalam suasana penjajahan dan feodalism yang nyata, yang sangat sangat jauh berbeda dengan jaman sekarang ini. Sulit dimngerti bahwa jaman seperti itu pernah ada di negeri ini. Ada beberapa kalimat yang mencerahkan  dan menarik untuk diingat dan masih relevan untuk jaman ini:

          Nasihat Jean Marais untuk Minke: “ .. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak berada dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Hal. 77

          Masih dari Jean untuk Minke: “.. kasihan hanya perasaan orang berkamauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya suatu kemewahan atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya”.

          Pembicaraan antara Minke dan Nyai Ontosoroh: “Mama bicara, membaca mungkin juga menulis bahasa Belanda, mana bisa tanpasekolah?”. “ Apa salahnya? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima”. Hal. 105

          Pembicaraan antara Miriam/Sarah de la Croix ddengan Minke: “.. kelakuan para pembesarmu yang menjual konsesi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda  kekeroposan watak dan jiwanya”. “… suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta  benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan.” Hal. 285.

          Cuplikan artikel Dr. Martinet yang berjudul Awal Jaman Baru dan Gejala Pergeseran Sosial sebagai Sumber Penyakit Baru: “ … pengobatan tanpa mengenal latar-belakang sosial telah masuk dalam methode Jaman Tengah”. Hal. 385.

          Pembicaraan Dr. martin dengan Minke: “Asal keinginan dan impian sama – akibat dari kenyataan yang tidak mencukupi”. Hal. 386.

Para tokoh :

          Minke, seorang pribumi, putra Bupati, pelajar HBS (SMU sekarang) yang pandai, kritis, penulis, liberal, yang karena pendidikannya, tak cukup kuat akar budaya bangsanya

          Nyai Ontosoroh, pribumi yang dikawini seorang Belanda secara paksa dan tanpa keabsahan hukum Hindia Belanda, sehingga harus meninggalkan keluarganya. Cerdas, kritis dam sangat anti penjajahan

          Tuan Mellema, suami Nyai Ontosoroh, pada awalnya bersifat sabar dan sayang keluarga hingga kedatangan anaknya (Maurits) dari istri yang sah, menurut hukum Belanda.

          Annelies Mellema, putri pasangan Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh, juga istri Minke, cantik, kesepian dan pengikut ibunya dalam hal kepandaian mengurus perusahaannya

          Robert Mellema, anak pertama pasangan Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh, bersifat anti pribumi

          Robert Suurhof, teman HBS, yang memperkenalkan Minke dengan keluarga Nyai Ontosoroh

          Magda Peters, guru sastra HBS yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter Minke, liberal dan anti penjajahan

          Keluarga assisten residen De la Croix, dengan dua anaknya Sarah dan Meriam, adalah keluarga berpendidikan yang banyak membantu dan berpihak pada Minke

          Bunda, ibu Minke, istri seorang bupati yang sangat mencintai anaknya

          Jean Marais, Pelukis Perancis, ex tentara pada perang di Aceh, sahabat dekat Minke

          Darsa, pengawal setia Nyai Ontosoroh, dari madura

 

Ajakan Robert Suurhof terhadap Minke untuk mengunjungi Robert Mellema, menjadi awal dari berkembangnya kisah Bumi Manusia. Nyai Ontosoroh yang sangat fasih berbahasa Belanda, berpengetahuan luas tentang sastra, ‘melek’ hukum Hindia Belanda dan sangat mengerti tentang karakter kaum penjajah serta riwayat muram dirinya, sangat menyetujui hubungan asmara Annellies dan Minke, yang pribumi, kritis dan berpendidikan.

 

Ada dua konflik sosial dalam novel ini, yaitu konflik feodalistik dan kolonial. Konflik feodalistik direpresentasikan dengan cerita ketika Minke harus ‘ laku ndhodok” (jalan beringsut dengan berjongkok) dan menyembah ayahnya yang Bupati. Sedangkan konflik sosial, sebagai cerita utama, muncul ketika anak sah (hukum Belanda), Maurits, melalui pengadilan Belanda menuntut hak kekayaan almarhum Tuan Mellema, yang telah dikembangkan oleh Nyai Ontosoroh, dan hak perwalian atas Annelies sebagai anak sah, yang terdaftar dalam hukum Hindia Belanda, dari Tuan Mellema. Nyai Ontosoroh dan Minke sebagai pribumi, menurut hukum Hindia Belanda  tidak diakui sebagai istri Tuan Mellema dan suami Annelies yang sah. Dengan kata lain, Nyai Ontosoroh dianggap tidak ada kaitan hubungan apapun dengan keluarga Tuan Mellema yang berakibat pada tidak adanya hak pemilikan Nyai Ontosoroh sedikitpun atas harta dan perusahaan yang telah dikembangkannya bersama putrinya. Annelies dianggap masih gadis, belum menikah, karena menurut hukum Hindia Belanda tidak diakui perkawinan dengan Minke, yang pribumi.

 

Cerita diakhiri dengan keberangkatan paksa Annelies ke Belanda, meninggalkan ibunya, Nyai Ontosoroh, dan suaminya, Minke.

 

 

 

 

Membebaskan Yang Tertindas

esackJudul buku : Al-Quran, Liberalisme, Pluralisme

Membebaskan Yang Tertindas

Judul Asli : Qur’an, Liberation and Pluralism

An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Opression

Pengarang : Farid Esack

Tebal buku : 358 halaman

Penerbit : Mizan

Tahun : 2000

 

Farid Esack dibesarkan di Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats, Afrika Selatan, karena dipaksa pindah oleh Akta Wilayah Kelompok (Group Areas Act), bersaudarakan enam orang, tiga diantaranya adalah saudara tiri, yang ditinggal ayahnya ketika masih berusia tiga tahun.. Hukum apartheid tersebut, diperlakukan 1952, menyisihkan tanah paling tandus di negeri itu bagi orang kulit hitam, keturunan India dan kulit berwarna. Masa kecilnya berada pada situasi kemelaratan struktural akut, dimana harus berkeliling mengetuk pintu tanpa sepatu di tanah bersalju untuk meminta sepotong roti atau mengaduk-aduk tempat sampah demi mendapatkan sisa makanan.

 

Jika kaum Kristen Afrika Selatan yang berkomitmen pada keadilan mengambil acuan dari Teologi Pembebasan yang lahir di Amerika Selatan, maka kaum muslim di sana terinspirasi dari Teologi Pemberontakan menentang neokolonialisme dan kediktatoran di Iran. Kedua kelompok progresif ini bekerjasama meruntuhkan rejim apartheid di Afrika Selatan.

 

Ada empat hal yang hendak dicapai Farid Esack dari buku ini, yaitu:

–  adalah mungkin untuk hidup dan berjuang bersama dengan kaum non-muslim untuk pembentukan masyarakat yang lebih manusiawi

–  menggunakan hemeneutika Al-Quran untuk mengembangkan pluralisme teologi Islam

–  mempelajari ulang Al-Quran dalam memperlakukan golongan yang berbeda untuk memberi ruang bagi kebenaran dan keadilan pihak lain dalam teologi pluralisme demi pembebasan

–  menggali hubungan antara eksklusivisme keagamaan dan konservatisme politik (pendukung apartheid) di satu sisi, dengan inklusivisme keagamaan dan politik progresif (pendukung kebebasan) berdasarkan Al-Quran.

 

Di awal buku, Esack bercerita tentang sejarah masuknya kaum Islam dari Timur (Malaysia, Indonesia) di Cape Town, yang selanjutnya menjadi area bahasan, yang biasa disebut sebagai Melayu, di tahun 1652. Pemerintahan rasialis dan represif Afrika Selatan dimulai sejak CMA (Asosiasi Melayu Cape) dibentuk pada tahun 1923an. Wujud penindasan politik yang paling terasa adalah ketika terjadi pembunuhan Imam Abdullah Haron oleh polisi keamanan pada 1969, setelah empat bulan dalam tahanan. Kebungkaman para ulama mengenai soal kematian Haron memunculkan rasa pengkhianatan dan kecewa yang mendalam di kalangan pemuda Muslim. Baru setelah pendeta Anglikan melakukan mogok makan untuk memprotes pemerintah atas kematian Haron, para pemuda Muslim mulai terinspirasi. Selanjutnya, pasca 1970an menjadi perhatian utama penulis, ketika penolakan terhadap apatheid secara berangsur mendapat dukungan luas. Dalam atmosfer inilah tumbuh solidaritas antariman dan munculnya masalah-masalah krusial tentang hermeneutika Al-Quran ditempatkan dalam konteks ini.

 

Pengalaman hidupnya dilingkungan sosial yang rasis dan penuh penindasan di Afrika Selatan serta Islam eksklusif dan penuh bias gender di Pakistan membentuk Esack menjadi pribadi yang sangat sensitif terhadap ketidakadilan.

Bersama tiga temannya, Esack membentuk Call of Islam, pada tahun 1984. Organisasi ini merupakan afiliasi dari Front Demokrasi bersatu (UDF) yang didirikan setahun sebelumnya. UDF adalah pergerakan Muslim yang paling aktif memobilisasi aktivitas nasional menentang apartheid, diskriminasi gender, dan pencemaran lingkungan, serta menggalang usaha antar-iman.

 

Tentang teks dan konteksnya dalam pencarian makna yang membebaskan, Esack menulis bahwa ada basis teologis dan historis untuk membenarkan pendekatan kontekstual terhadap Al-Quran. Pendekatan ini telah memungkinkan banyak kaum Islamis progresif di Afrika Selatan untuk melawan rezim apartheid dan bersolidaritas dengan orang beragama lain secara bermakna.. “Para penafsir adalah manusia, yang tak mungkin bisa lepas dari keadaan lingkungan tempat ia berada”, menurutnya. Hermeneutika mangasumsikan bahwa setiap orang mendatangi teks dengan membawa persoalan dan harapannya sendiri, serta tidak masuk akal untuk menuntut penafsir menyisihkan subyektivitas dirinya dan menafsirkan teks tanpa pemahaman.

 

Esack menjelaskan cukup dalam tentang masing-masing kunci hermeneutika yang dipergunakan pada teologi Pembebasan Al-Quran dalam konteks masyarakat yang diwarnai oleh ketidakadilan, perpecahan dan ekploitasi, yaitu: takwa (integritas dan kesadaran akan kehadiran Tuhan), tauhid (keesaan Tuhan), al-nas (manusia), al-mustadh’afuna fi al-ardh (yang tertindas di dunia), ‘adl dan qisth (keseimbangan dan keadilan, serta jihad (perjuangan dan praksis).

 

Makna kata Iman, Islam dan Kufr adalah tiga hal penting yang dibahas dalam rangka mendefinisikan ulang diri sendiri dan orang lain untuk tujuan pembebasan.

 

Sikap Pluralisme Esack didasari atas keyakinan bahwa Al-Quran mengakui keabsahan ‘ de jure’ semua agama wahyu dalam dua hal: Ia menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal, menghormati hukum-hukum, norma-norma sosial, dan praktik-praktik keagaman mereka; serta juga menerima pandangan bahwa para pemeluk setia agama-agama ini juga akan mendapatkan keselamatan (QS 2:62).

 

Di bagian kesimpulan, Esack kembali menegaskan bahwa di Afrika Selatan, renungan tentang pandangan Al-Quran mengenai hubungan dengan penganut agama lain, kerjasama antar agama, dan kesetaraan gender membentuk dimensi yang sadar dan dinamis dalam kerangka praksis liberatif. Dalam situasi ketidakadilan yang nyata, kebungkaman politis sama artinya dengan berkolaborasi dengan ketidakadilan.

 

Farid Esack adalah pemikir Islam yang menyandang gelar Doktor di bidang tafsir Al-Quran, staf pengajar di Universitas Western Cape, Afrika Selatan, dan tokoh senior dalam World Conference on Religion and Peace. Buku ini sangat lengkap isinya berhubung dengan kelengkapannya, seperti Daftar Singkatan, Glosarium, Daftar Pustaka, Index dan Lampiran.

The Audacity of Hope

obama1

Judul Buku : MENERJANG HARAPAN

Dari Jakarta menuju Gedung Putih

Judul Asli : The Audacity of Hope;

Thoughts On Reclaiming The American Dream

Penulis : Barack Obama

Tahun : 2007

Penerbit : UFUK PRESS

Tebal buku : 528 halaman

Buku ini mulai beredar tahun 2007 di Indonesia, ketika Barack Obama, yang berkulit hitam, mulai muncul sebagai calon presiden pada pemilu pendahuluan partai Demokrat, yan bersaing dengan mantan ibu negara, Hilary Clinton.

Obama menuliskan pengalaman hidupnya, keyakinan, pandangan politik dan sosialnya dalam 11 bab, termasuk Pendahuluan yang diterbitkan pertama kali di tahun 2006. Menurutnya, ini adalah buku ke-2 setelah bukunya yang pertama, ‘Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance’, yang diterbitkan 11 tahun sebelumnya.

Cerita tentang masa kecilnya selama tiga tahun di Indonesia ditulisnya secara panjang-lebar sebanyak 10 halaman, di bab awal buku ini. Pengalaman masa kecil dari bangsa Amerika yang berayah-tirikan orang Indonesia dan beribukan bangsa AS, Kansas, namun hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan tanpa tv dan mobil, adalah sungguh aneh bila dibandingkan kehidupan bangsa barat yang hidup di Indonesia saat ini. Hidupnya di Indonesia dimulai ketika berusia 6 tahun, pada tahun 1967, di tahun yang sama ketika Soeharto memangku jabatan Presiden RI ke-2. Pertama-tama dia bersekolah di lingkungan Katolik dan kemudian di sekolah yang dominan beragama Islam. Tulisan tentang kultur, sejarah dan politik di Indonesia saat itu tampak dikuasainya.

Pemahaman sejarah Amerika mulai dari kebijakan ekspansif AS di masa awal kemerdekaan, utk menjaga pasar dan kelancaran transportasi perdagangan, Great Depression, perang Vietnam hingga perang Irak serta biografi orang-orang besar AS sepertinya sangat dikuasai, hingga banyak sekali kutipan kata-kata Presiden AS berceceran di dalamnya mulai G. Washington, John. Adams, T. Jefferson, Roosevelt, Woodrow Wilson, Kennedy, Reagan, Carter, Clinton dan tak ketinggalan G.W. Bush.

Ada satu cita-cita terbersit di hatinya ketika mengutip Quincy Adams, “ Amerika sebaiknya mengabdi kepada kepentingan kemerdekaan dengan berkonsentrasi pada pengembangannya sendiri, menjadi sebuah mercusuar harapan bagi bangsa-bangsa lain dan penduduk di seluruh dunia”, (hal. 46).

Sikap politik luar negerinya yang ‘aktif’ didasari keyakinannya bahwa ‘jika kita ingin membuat Amerika lebih aman, maka harus membantu membuat dunia menjadi lebih aman’, (hal 78). Lalu, ‘kita memiliki hak untuk melakukan tindakan militer unilateral untuk menghapuskan sebuah ancaman yang akan terjadi terhadap keamanan kita’, (hal 83). Selain sikap aktif yang militeristik, Obama juga berpendapat, ‘… membantu mengurangi masalah-masalah ketidak-amanan, kemiskinan, dan kekejaman di seluruh dunia, serta turut andil dalam tatanan global …’, (hal 92). Keyakinan politiknya yang juga pluralis, memberikan konsekwensi untuk mempercayai bahwa politik, bergantung pada kemampuan untuk merangkul semua pihak berkaitan dengan tujuan bersama yang didasarkan atas realitas bersama. Namun berbeda dengan sains, politik melibatkan kompromi dan seni kemungkinan (the art of the possible),

Pengalamannya di Senat, memberinya pandangan bahwa Demokrat dan Republik memiliki lebih banyak persamaan daripada apa yeng terlihat dari sudut pandang publik. Politik mungkin saja berbeda; para pemilih menginginkan sesuatu yang berbeda; dan mereka sudah lelah dengan distorsi, saling mengejek, dan solusi-solusi sesaat untuk persoalan yang rumit.

Dalam hal perang Iraq, seperti halnya sikap partai Demokrat, Obama sangat berbeda dengan Bush, bahkan turut berdemo di tahun 2002 untuk mempertanyakan bukti pemerintah AS atas kepemilikan senjata pemusnah massal Iraq serta ketidak-setujuannya atas invasi AS ke Iraq.

Dalam hal ideologi ekonomi, sudah sewajarnya Obama, sebagai bangsa Amerika, baik Demokrat maupun Republik, akan berseberangan dengan Hugo Chavez, atau para pemimpin negara Amerika Latin lainnya yang berpandangan sosialis, bahkan menganggapnya sebagai tokoh-tokoh populis, “.. saya percaya para pengeritik itu salah kalau mengira bahwa negara-negara miskin akan meraih keuntungan dengan menolak cita-cita pasar bebas dan demokrasi liberal”, (hal 93).

Sistem pasar bebas dan demokrasi liberal diakuinya masih terus mengalami perubahan dan perbaikan, namun tetap bersikukuh bahwa sistem inilah yang bisa menjamin kehidupan orang menjadi lebih baik, sehinga tantangan bangsa AS adalah memastikan semua kebijakan AS akan menggerakkan sistem internasional ke arah persamaan, keadilan dan kemakmuran yang lebih besar.

Tentang Nilai-Nilai, dalam buku ini, disinggung sedikit tentang perkawinan sejenis, aborsi, dan hukuman mati. Obama tidak cukup tegas mendukung sikap partainya yang pro prochoice. “ … saya khawatir jika (ada) larangan terhadap aborsi, akan memaksa kaum perempuan untuk mencari cara-cara aborsi yang tidak aman …” (hal 149), dan secara politis mendukung upaya mengurangi jumlah perempuan yang merasa harus melakukan aborsi sebagai pilihan utama. Sedangkan Hukuman mati, dianggapnya hanya melakukan sedikit untuk mengurangi kejahatan, namun juga dipercaya bahwa untuk kasus-kasus kejahatan yang bengis, hukuman mati dapat dibenarkan. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh ada orang tak bersalah diakhiri hidupnya di kursi kematian dan tidak ada orang yang melakukan pelanggaran berat, terbebas dari hukuman.

Pendidikan anak, korupsi dalam pemerintahan dan bisnis, serta keserakahan dan materialisme adalah tiga tantangan moral besar bagi bangsa AS. Sedangkan sebagai Demokrat, nilai komunal, rasa tanggungjawab bersama dan solidaritas harus mewarnai pemerintahan AS.

Obama adalah pemeluk kristen yang ‘cair’, pluralis dan pada masa kecilnya banyak mendapatkan pendidikan etika dari ibunya, seperti nilai kejujuran, empati, disiplin, kebahagiaan yang tertunda dan kerja keras. Menurutnya, “Agama formal tidak memonopoli kebajikan, dan kita tidak harus menjadi religius untuk membuat klaim-klaim moral atau menyerukan kebajikan bersama”, (hal 172). Juga, “Yang sungguh-sungguh dituntut oleh demokrasi deliberatif dan pluralistik adalah bahwa orang-orang yang termotivasi secara religius seharusnya menerjemahkan semua keprihatinannya menjadi nilai-nilai universal, alih-alih nilai-nilai agama yang spesifik” (hal 178).

Tentang Ras, Obama mengingatkan, saat buku ini ditulis, bahwa dalam Senat AS, hanya ada tiga orang anggota Latin dan dua orang Asia (dari Hawaii) serta satu orang Afro-American (Obama). Dalam 40 tahun terakhir, rata-rata gaji orang kulit hitam adalah 75% dari rata-rata gaji orang kulit putih, sedangkan gaji rata-rata orang Latin adalah 71%nya. Nilai tengah pendapatan bersih orang kulit hitam kira-kira AS$ 6.000 dan orang Latin AS$ 8.000, dibandingkan dengan orang kulit putih, AS$ 88.000. Pengangguran kulit berwarna lebih banyak disebabkan oleh kurangnya ketrampilan dan pengalaman kerja. Kesenjangan ekonomi, sosial, pendidikan masih banyak terlihat karena menurutnya pelaksanaan undang-undang hak sipil oleh pemerintahan Republik belum sepenuhnya berjalan (hal. 215). Isu besar tentang imigran ilegal dari selatan juga belum terselesaikan.

Dalam hal ketenagakerjaan, Obama, sebagai anggota senat, mengusulkan UU yang mewajibkan agar setiap lapangan pekerjaan pertama-tama harus ditawarkan kepada pekerja AS, dan agar majikan tidak memotong gaji dengan membayar buruh tamu kurang dari apa yang mereka bayarkan kepada pekerja AS. Idenya adalah bahwa semua bisnis hanya diberikan kepada pekerja asing untuk sementara waktu, ketika terjadi kelanggkaan buruh.

Di akhir bukunya, Obama juga banyak menyoroti tentang pendidikan di AS. Kesenjangan pendidikan warga kulit hitam terlihat di daerah selatan Chicago, dimana pada tahun 2005, sekolah di sistrik ini tidak dapat memberi gaji untuk mempekerjakan guru harian (full day school), sehingga waktu sekolah hanya bisa berlangsung sampai pukul 13:30 saja. Saat ini, AS memiliki salah satu tingkat putus sekolah tertinggi di sekolah menengah atas. Hal ini memberi inspirasi Obama untuk memulai investasi yang dapat menjadikan AS lebih kompetitif dalam ekonomi global, yaitu: investasi dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi, serta kemandirian energi.

Kesimpulan umum yang bisa diambil dari bukunya adalah, Obama memang bersahaja, cerdas, peduli keadilan dan kesetaraan, sangat diametrikal dengan McCain atau warga partai Republik pada umumnya. Tapi, betulkah? Tertulis juga di bukunya bahwa menyerang pihak lain untuk alasan keamanan adalah sah. Ideologi ekonominya, seperti warga USA pada umumnya, juga masih Ekonomi Pasar Bebas, tidak bergeser ketengah sedikitpun seperti Jerman atau Eropa yang menganut Ekonomi Pasar Sosial (Social Market Economy).

KESETIAKAWANAN SOSIAL

Kata di atas ini sedemikian familiar di media massa kita beberapa tahun yang lalu. Media cetak dan elektronik sedemikian gencar menampilkannya, hingga seperti barang eceran yang tidak lagi menarik perhatian ketika dijajakan di pasar informasi. Pencarian kata ‘Kesetiakawanan Sosial’ di internet menghasikan halaman sambutan hari Kesetiakawanan Sosial oleh presiden SBY beberapa tahun lalu di Bumi Perkemahan Cibubur .

Globalisasi, kesenjangan sosial dan individualisme adalah beberapa hal yang menjadi sorotan beliau untuk menggugah spirit Kesetiakawanan Sosial, saat itu, meskipun ada sedikit keluhan darinya berhubung sangat kurangnya praksis sosial dari jargon tersebut. Kesetiakawanan sosial seringkali diasosiasikan dengan ‘sumbangan’ terhadap pihak yang tidak mampu karena bencana alam, dari pihak yang dianggap mampu secara financial. Mungkin gotong-royong lebih tepat dijadikan padan katanya daripada pemberian bantuan yang memberi kesan arogan karena ‘tangan di atas, tangan di bawah’. Konsep Gotong-royong mengandaikan kesetaraan dalam perbuatan untuk meningkatkan kebaikan bersama, seperti kata Bung Karno: “Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantus-binantu bersama. Amal semua BUAT kepentingan semua, keringat semua BUAT kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-Baris BUAT kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”.

Kesetiakawanan sosial atau Gotong Royong seharusnya menjadi spirit dalam membangun bangsa ini seperti apa yang dikatakan Bung Karno bahwa seandainya Pancasila bisa diperas, maka Gotong-Royong adalah spirit satu-satunya. Semangat satu keluarga yang berkeadilan seharusnya menjadi bagian landasan dari segala bentuk kegiatan dalam menjalankan roda pemerintahan ini, tidak hanya diperlukan pada saat terjadi bencana alam dengan cara membagi-bagikan segala kebutuhan korbannya, apalagi hanya berwujud gerak jalan bersama di minggu pagi. Apakah membangun rumah megah di sekitar rumah kumuh berlantai tanah dan berdinding bambu, supermarket di sebelah pasar tradisional yang menjual barang sejenis dan berharga sama, spekulasi valas dengan nilai ratusan juta atau menjual saham saat ekonomi terpuruk hingga berakibat kepanikan pasar (short selling) dan berbagai contoh lainnya yang cukup membuat kita mengelus dada, adalah bagian dari ciri perilaku yang menjunjung Kesetiakawan Sosial?

Kesetiakawanan Sosial semestinya berada di awal suatu tindakan yang menyebabkan peningkatan kualitas kehidupan sesama, bukan berada di belakang suatu kejadian ketidak-sejahteraan.

KEPAK SAYAP KUPU-KUPU

Masa Lebaran 2008 ini diwarnai dengan kondisi keuangan global yang membingungkan, ‘terpuruk’ menurut berbagai info di media cetak maupun elektronik. ‘Subprime Mortgage’, ‘short selling’, ‘bail back’ dan entah apalagi istilah-istilah ekonomi yang selama ini jarang terdengar di telinga orang awam, tiba-tiba menyeruak, mengganggu para makhluk karena dihubungkan dengan penurunan daya beli masyarakat.

Saat masa puasa, rekan kerja dari AS menceritakan bahwa banyak kredit rumah bermasalah di negerinya. Selama ini golongan menengah atas di AS sedang mengalami ‘bulan madu’, katanya, dengan banyak pekerjaan dan gaji besar sehingga hujan penawaran kredit konsumtif berbunga rendah dari lembaga finansial jatuh ke golongan ini dan sektor perumahan adalah salah satu penawaran yang paling banyak diberikan.

Mingguan nasional menceritakan bahwa banyak para pemilik uang di AS berbisnis rumah dengan cara menyewakan rumah yang dibelinya dengan cara kredit. Uang pembayaran sewa rumah selama lima tahun sudah dapat melunasi total kredit yang diperolehnya dari lembaga pembiayaan.

Ternyata ‘bulan madu’ tidak menerus, lembaga-lembaga keuangan dunia mulai berjatuhan karena banyaknya kredit macet dan krisis keuangan dunia dimulai. Kepak sayap kupu-kupu di Wall Street mulai terasa di negeri kita, indeks harga saham melorot dan para pemain mulai panik, obral saham dimulai dan uang disimpan di bawah bantal karena kekhawatiran akan kemungkinan terpuruknya perbankan nasional. Gelombang energi dari kepak sayap kupu-kupu mulai menghantam sektor riil dan nilai rupiahjatuh hingga Rp. 10.000 per dollar AS. Kemampuan daya beli dan kekhawatiran memburuknya kondisi ekonomi negeri ini makin memperburuk sektor riil sehingga pedagang ekspor gerabah di Solo terpaksa merumahkan karyawannya karena pembatalan order mencapai 75%.

Kepanikan para pemain saham yang biasa mengambil keuntungan cepat (profit taking) semakin tinggi di negeri ini, ketika info yang membingungkan mulai dihembuskan oleh para penerbit saham untuk mengeruk keuntungan sendiri sehingga pemangku kebijakan terpaksa mengancam para pemain ‘silat’ ini.

Karyawan perusahaan pertambangan asing yang rajin bekerja tiba-tiba harus turut tertampar sayap kupu-kupu ini ketika menyadari bonus produksi bulanannya menghilang dan terancam kebijakan pengurangan jumlah karyawan karena harga metal dan harga saham perusahaan melorot tajam. Pedagang sayuran di pasar tiba-tiba merosot pendapatannya karena sayur tidak laku berhubung restoran pelangganannya mengurangi jumlah masakan karena sepi pengunjung. Permainan apa dan ulah siapa semua ini? Betukah ini karena the World is flat seperti kata Thomas Friedman sehingga keuntungan dan kerugian menular cepat?

Tidak jelas perilaku makhluk macam apa penyebab kekacauan keuangan global ini. ‘Invisible hand’ yang dijanjikan para penganut pasar bebas ternyata betul-betul menyembuyikan tangannya sehingga orang nomor satu di AS terpaksa harus turun tangan menggantikannya dengan menggelontorkan bantuan AS$700 juta dengan maksud membuat keseimbangan baru supaya chaos berhenti.

Apakah para debitor adalah penyebab utama? Atau, para kreditor yang terlalu royal membagikan kredit? Secara teknis, para ekonom pasti mampu menjelaskannya, namun yang lebih penting adalah perilaku macam apa yang bisa menyebabkan ini semua terjadi.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kebutuhan primer yang menyebabkan kredit macet, atau mungkin sekunder, atau bahkan mungkin tersier atau er er yang lainnya? Bisa apa saja, masalahmya adalah kemampuan pemilik modal di jaman sekarang ini sudah sedemikian canggihnya dalam menjual ‘kebutuhan’. Mengapa kredit sedemikan besar digelontorkan ke masyarakat? Pasti bukan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri, melainkan untuk kepentingan si pemilik modal tentunya. Inilah naluri kapitalistik di jaman globalisasi. ‘Yang penting semua senang’, katanya. Bedanya, anda mungkin senang sesaat karena ‘mampu’ memiliki barang konsumtif, tapi pemilik modal senang bertumpuk-tumpuk karena keuntungan berlipat dari kelebihan nilai produk yang anda hasilkan.