Feeds:
Pos
Komentar

Menuju Lebaran

Keluar kamar di ketinggian 1900 m, 9 Sep jam 3:30 waktu setempat, dua jam lebih awal daripada waktu Surabaya, perjalanan menuju Lebaran ke Kediri dimulai.. Butuh lima jam perjalanan darat menuju bandara atau tiga jam lebih lama karena kondisi keamanan yang masih dianggap belum bagus. Jam 4:30 sore pesawat MD-82 berwarna putih mulai angkat jangkar, alias terbang menuju Surabaya mampir 20′ di Makassar, tepat saat buka puasa.

Muka cemberut karena capai, ngantuk n lapar, sedikit tersenyum ketika beli sandwich di warung donat ternama, di bandara Hasanuddin. Sambill tunggu pesanan selesai, basa-basi nanya waktu buka puasa “mbak, di sini Buka (puasa) jam berapa?”, dijawab “buka jam 6, tutup jam 10 pak”. Senyumku merekah … Salahku, terlalu berharap bahwa komunikasi berada dalam satu konteks yang sama, puasa.

Jam 18:30 wib pswt mendarat di Juanda, tiba-tiba seorang pria tinggi berwajah dari timur menarik tasku “biar saya yang bawakan tasnya pak”. “Hah, kok enak”, pikirku… Curiga muncul dalam benak.. “Dulu saya yg antar bapak sklg ke Yogya”, lanjutnya … Masya Allah, puasa baru saja selesai beberapa menit yang lalu, pikiran jahat sudah mulai mengganggu… Kelamaan berada di masyarakat penuh intrik dan tipu, membuatku curiga kepada orang asing..

Keluar dari Juanda, jalan cukup ramai dengan sepeda motor yg umumnya penuh dengan muatan, baik orang maupu barang, mudik sepertinya. Sampai di Jombang, jalanan ramai dengan sepeda motor saling silang berjalan pelan berrombongan, samibil membawa bendera dan memainkan suara motornya meraung-raung, mungkin bermaksud bergembira dalam takbir di malam lebaran. Kok bawa bendera ya ??? Sedikit berbeda dengan beberapa tahun yll, di Jombang gak lihat satupun rombongan dalam truk dengan pengeras suara sambil melantunkan takbir. Rindu suara itu .. Namun sayup2 masih terdengar takbir itu dari masjid2 yg terlewati..

Satu jam kemudian, sampailah aku di rumah yg sudah penuh dengan anak, istri, adik, kakak, keponakan dan tentu saja Ibu. Ramai dalam suasana lebaran yang memang sudah kita tunggu.. Juga karena semangat berlebaran inilah yang membuat perjalananku selama 20 jam dari lereng Carstensz menuju Kediri tidak tertidur sedikitpun… Allahu Akbar .. Takbir mengiringi tidur malamku …

Al-Hallaj: Agama Salib

I saw my Lord with the eye of my heart.
He said, “Who are you?” I said, “I am You.”
You are He Who fills all place
But place does not know where You are.
In my subsistence is my annihilation;
In my annihilation, I remain You. (Mansur al-Hallaj, Wikipedia)

Kompilasi Kultwit (Kuliah Twitter) berikut ini disampaikan oleh Guntur Romli pada awal bulan Ramadhan yang lalu. Topiknya sangat menarik, tentang tokoh sufi al-Hallaj (858 – 26 Maret 922), yang menurutku ada kemiripan esensi dengan Syeh Siti Jenar. Text editing dilakukan untuk mempermudah bacaan, tanpa mengubah esensinya. Terimakasih mas, atas pencerahannya. Bagi yang tidak hadir dalam kuliah, silahkan membacanya.

Apabila Ibn Arabi mengenalkan cinta sbg agama dan imannya maka al-Hallâj menegaskan kematiannya untuk ”agama salib” yang dianutnya Istilah “agama salib” merujuk ke puisinya: “Di atas agama salib, akan berakhir kematianku / bukan tanah lapang atau kota jadi tujuanku”.
Akhir hayatnya jg berakhir tragis, lewati pelbagai penyiksaan yang brutal, seperti penyaliban, dipotong tangan dan kakinya sebelum dipancung, setelah dikurung dalam penjara lebih 8 tahun, ia dicambuk 1000x, dipukuli mukanya, disayat hidungnya, dipotong 2 tangan dan kakinya, disalibkan semalam.
Setelah dipancung, tubuh tanpa kepala disiram minyak dan dibakar. Abu jenazahnya dibawa ke atas menara pengintai, ditabur-taburkan. Kepala tanpa tubuh dikirim ke Khurasan, sebuah kawasan yang dikenal memiliki pengikut setia ajaran al-Hallâj.
Peristiwa horor ini dilakukan di arena publik, di gerbang kota Baghdad yang selalu ramai sebagai pelintasan penduduk atau pendatang.
Eksekusi al-Hallaj bukan sekedar pembunuhan terhadap tubuh yang cukup renta, saat itu usianya 64 tahun, tapi sebuah tindakan teror terhadap publik. Pembunuhan yang sangat brutal terhadapnya ini malah menunjukkan bahwa dia sosok yang memiliki pengaruh yang luar biasa dizamannya Bila tidak punya pengaruh dan berdampak hebat, buat apa dibunuh secara brutal? Pembunuhan yang brutal terhadapnya dimaksudkan untuk menciptakan dan menebarkan ketakutan, tapi siapa yg sebenarnya punya takut yg akut? Bukankah pembunuhan yang brutal menunjukkan pihak yang membunuh sangat takut pada pengaruh sosok yang dibunuh?
Tubuhnya bisa dipotong-potong, disalib, dipancung, hidupnya bisa diakhiri, kitab-kitabnya dibakar, murid-muridnya diburu, dan jasadnya musnah jadi abu. Namun ajaran dan pengaruhnya tak bisa dilenyapkan. Mayoritas para sufi yg lahir setelahnya mengakui kewaliannya dan kembangkan ajarannya
Dalam sebuah kisah yg menuturkan penyaliban dan eksekusi al-Halaj, ditonjolkan keberaniannya menjelang malaikat maut datang. Dia sendiri yang minta agar dibunuh, karena menurutnya ”hidupku ada dalam matiku” dan penyaliban dianggap sbg ”hari yang paling bahagia dalam hidup”. Tak lupa dia mohon ampun pada Tuhan bagi mereka yang terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan terhadap dirinya.
Cerita penyaliban al-Hallaj, saya (GR) nukil dari Ibn al-Sa’î al-Baghdâdî yg menulis kitab “Akhbâr al-Hallâj”
Ketika al-Hallaj digiring untuk disalib, ia melihat kayu dan paku yg siap menyalibnya, ia malah tertawa terbahak-bahak sampai keluar air matanya. Dia melihat al-Syibli (karibnya) di antra hadirin meminta sejadah untuk shalat sebelum dieksekusi Di rakaat pertama, dia setelah Fatihah baca ayat 155 dari albaqarah ”Dan sungguh akan kami beri cobaan pdmu, dengan ketakutan, kelaparan…” Di rakaat kedua ia membaca kutipan dari surat Ali Imran ayat 185 ”Tiap yang berjiwa memiliki kematian…”
Setelah shalat, dia memanjatkan munajat, berikut kutipannya: ”Ya Allah, Engkau yang menjelma di segala arah, tapi Engkau tak menempati di setiap arah. Mereka hamba-hamba-Mu berkumpul untuk membunuhku, karena fanatik pada agama-Mu dan ingin mendekatkan pada-Mu. Ampuni mereka Apabila Engkau menutupiku (Kebenaran) seperti Kau tutupi pada mereka, aku tidak akan diberi cobaan seperti yang aku alami sekarang. Ya Allah terpujilah Engkau atas apa yang akan Kau lakukan, dan terpujilah Engkau atas apa yang Kau inginkan”.
Abul Harits al-Sayyaf—si algojo—tampil, ia tampar muka al-Hallaj, memotong hidungnya. Hadirin, termasuk al-Syibli berteriak, mengamuk.
Ibrahim Fatik perawi cerita ini, yang juga murid al-Hallaj teringat dialog dgn gurunya di suatu malam. Kata sang guru: “Hai anakku, sebagian manusia mengatakan aku kafir, sebagian yang lain mengatakan aku wali. Namun yang mengatakan aku kafir, lebih aku dan Allah cintai dibanding mereka yang mengakui kewaliaanku”. ”Kenapa bisa demikian Syaikh?” tanya Ibrahim Fatik pd gurunya, dia heran sang guru lebih suka dianggap kafir dibanding wali “Mereka yg mengatakan aku wali, berarti punya prasangka yg baik terhadapku, sedangkan mrk yg mengatakan aku kafir—fanatik terhadap Allah”.
Maksud kata2 di atas adalah bahwa dia bersedia menjadi korban bagi orang yg ingin mendekatkan diri pada Tuhan.
“Hai Ibrahim, saat kau saksikan aku disalib, dibunuh jasadku dibakar, bagiku itulah hari yang paling bahagia dalam hidupku. nubuat. Abul Harits, si algojo melanjutkan tugasnya, ia memotong tangan dan kaki Al-Hallaj. Tanpa mengeluh waktu disiksa, ia berkata: “Hai Tuhanku, aku telah masuk rumah penuh idaman, aku menyaksikan keajaiban. Tuhanku, Engkau yg bisa mengasihi pada orang yang menyakitimu, bagaimana Engkau tidak mau mengasihi orang yang disakiti karena-Mu?”
Setelah tangan dan kaki al-Hallaj dipotong-potong, ia diangkat ke atas kayu untuk disalibkan. Al-Syibli yang melihatnya tersalib di tiang kayu, mendatanginya untuk bertanya:”Apa itu tasauf?” Al-Hallaj menjawab: ”(Tingkat) yang paling rendah seperti yang kau saksikan sekarang” ”Apa puncaknya?” tanya al-Syibli kembali. ”Kau tidak akan pernah menemukan jalan menujunya, tapi engkau akan menyaksikan esok” Di tiang salib dia berseru: “Bunuhlah aku, karena aku akan hidup / Matiku ada dalam hidupku / dan hidupku ada dalam matiku”.
Al-Hallaj disalib semalam. Esok hari dia belum mati, perintah terakhir: dipancung! Sebelum dipancung, dia berteriak kencang: ”Dia Yang Satu, esakan Dia Yang Satu untuk-Nya!-hasba al-wâhid ifrâd al-wâhid lahu
Dia pun mengutip Quran al-Syura ayat 18, “Orang yang tidak beriman kepada hari kiamat, meminta supaya hari itu segera didatangkan… Setelah dipenggal, jasadnya yang tanpa kepala disiram minyak, dibakar hingga jadi abu. Ditaburkan di atas menara agar tertiup angin/jatuh ke sungai
Kisah eksekusi al-Hallaj yg sangat brutal itu selesai.
Kisah penyaliban all-Hallaj sengaja saya kutip panjang lebar, karena bagi saya (GR) untuk menyelami ajarannya, kita perlu memahami peristiwa penyaliban. Al-Hallaj sendiri menyebut kematiannya dalam ”agama salib”. al-Hallaj pun menisbatkan ajarannya pd peristiwa penyaliban.
Penyaliban al-Hallaj bukan yg pertama dalam sejarah Islam, kata Hadi al-Alawi dlm Târîkh al-Ta’dzîb fil Islâm (Sejarah Penyiksaan dalam Islam). Mereka yang memberontak, melakukan pembangkangan apabila tertangkap oleh Penguasa akan dihukum salib. Jenis-jenis eksekusi yg keji, kata Hadi, seperti mengarak kepala yang terpancung, memotong alat-kelamin, menguliti dan dibakar hidup-hidup, dirajam dll
Kepala yg pertama kali dipancung dan diarak :adalah Amr bin al-Hamaq pengikut Ali. Kemudian al-Husain, anak Ali cucu Nabi Muhammad.
Nama al-Hallaj sudah identik dengan ajaran-ajaran yang dituding menyimpang, lebih banyak tuduhan itu datang dari lawan-lawannya Mereka menuduh al-Hallaj punya pendapat haji tidak wajib, punya kalimat-kalimat untuk menyaingi Quran Konon pula ia punya pengikut fanatik yg menyembahnya. Al-Hallaj punya ucapan yang sangat terkenal ”Ana al-Haqq”—Aku lah Kebenaran-sering dimaknai oleh lawan-lawannya sebagai: Akulah Tuhan.
Oleh musuh2nya, al-Hallaj dituduh telah mengaku sebagai Tuhan. Hooii… Al-Hallâj telah menuhankan dirinya! Bagi pembelanya ucapan al-Hallaj tadi masuk kategori syathahat, ucapan yg kedengaran aneh bila seorang sufi dlm posisi ekstase.
Al-Hallaj bukan orang pertama punya ucapan aneh, pendahulunya seperti Rabiah al-’Adawiyah & Bayazid al-Busthami juga punya, pun Rabiah ingin membakar surga dan memadamkan neraka untuk memurnikan pengabdian manusia pada Tuhan, dan yang paling menggetarkan adalah ucapannya saat melihat Ka’bah sperti berikut: “La urîdul Ka’bata wa lâkin Rabbal Ka’bah, hadzâ al-shanamul ma’bûd fil ardli mâ walaja Allahu wa lâ khalâ ’anhu”, aku tak ingn Ka’bah, tp Pemilik Ka’bah,ini (Ka’bah) berhala yg disembah di muka bumi, padahal Allah tak pernah masuk/keluar darinya.
Demikian juga sabda Bayazid, ”Subhâni Subhâni mâ a’dzama sya’nî”—Mahasuci aku, Mahasuci aku, Mahaagung diriku, atau ucapan Bayazid yg lain: ”Ma fil jubbati illa Allâh”—Di balik jubah ini tak ada yang lain kecuali Allah. Namun di tengah ucapan yg kontroversial, dua tokoh sufi ini tak pernah disakiti, bahkan kewalian mereka diakui dan dianggap tokoh suci.. Bila sufi-sufi sebelum al-Hallaj punya ucapan-ucapan kontroversial, mereka tidak disakiti, mengapa al-Hallaj malah dibunuh?
Bagi pengikut setia al-Hallaj atau bagi mereka yg percaya ”keimanan” dan ”ketauhidan” al-Hallâj—ia dibunuh karena aktivitas politiknya, artinya tidak ada yg aneh dr ajaran al-Hallaj, dia terbunuh karena ada konspirasi politik. Ia dituduh misionaris Qaramithah—kelompok agama-politik yg ingin kudeta penguasa Dinasti Abbasi—hukuman al-Hallaj sprt musuh politik yg lain. Dlm pemahaman ini, pembunuhan al-Hallaj adalah pembunuhan politis. Ia tak ubahnya ”kambing hitam” yg dikorbankan oleh politisi-politisi korup. Untuk meraih simpati rakyat para politisi mengeksekusi seseorang yang dituduh murtad dan zindiq, mrka dianggap bela agama.
Pemahaman al-Hallaj sbgai ‘kambing hitam’-meski tak terlalu keliru-tapi mengerdilkannya sebagai seorang pejuang, martir atau syahid. Lantas bagaimana menempatkan al-Hallaj ini dengan tepat? Apakah karena:
(1) ajarannya yang dianggap janggal ia dibunuh
(2) memiliki aktivitas politik dan pengikut yang mengancam penguasa
(3) kambing hitam?
Untuk menjawab 3 pertanyaan tadi: hubungan al-Hallaj degan agama dan politik, ada baiknya kita mengetahui riwayat hidupnya.
Nama “daging” al-Hallaj adalah al-Husain, ia disebut “bapak penolong” karena suka menolong bukan karena punya anak bernama al-mugits.
Al-Hallaj, orang Persia asli lahir di sebuah kawasan yg kini berinduk pada provinsi Fars (kawasan asli asal-muasal bangsa Persia). Kakeknya masih penganut Zoroaster, ayahnya masuk Islam dan diberi nama Manshur. Sedangkan asal nama al-Hallaj ada perbedaan pendapat. Al-Hallaj berarti “penggaru”, konon ayahnya yakni Manshur punya pekerjaan sebgaai Hallaj “penggaru/pemisah kapas dr biji-bijinya”
Menurut versi lain, diambil dr karamah (perbuatan supranatural) al-Hallaj: suatu hari ia minta tolong penggaru kapas tpi ditolak krn sibuk. Kata al-Hallaj “tolonglah aku, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanmu “menggaru kapas” si penggaru kapas setuju dan pergi untuk membantunya.
Kejadikan ini menujukkan karamah al-Hallaj yang mampu membersihkan kapas segudang dalam waktu cepat-ia pun dikenal sebagai al-Hallaj.
Versi lain lg, al-Hallaj dikenal sbagai “Hallajul Asrar” atau penyingkap rahasia, krn bisa mengetahui isi hati orang yg menemuinya.
Al-Hallaj berguru pada tokoh-tokoh sufi di zamannya seperti Sahl al-Tustari, Amr al-Makki, Abu Ya’qub al-Aqtha’ dan al-Junaid al-Baghdadi.
Al-Hallaj menikah dgn putri gurunya Abu Ya’qub—istri satu-satunya dalam hayatnya. pernikahan ini memantik cemburu gurunya yg lain:, Amr al-Makki. Sebagai murid yg cerdas dan tekun, dia menarik simpati guru-gurunya dan ingin mengangkatnya sebagai menantu.
Namun al-Hallaj diceritakan memiliki hubungan yg kurang baik dengan guru-gurunya seperti Amr al-Makki dan al-Junaid, karena beda aliran politik. Guru-guru al-Hallaj adalah orang-orang sunni yg cenderung apolitis (melempem pada penguasa) sementara alHallaj berlatarbelakang keluarga dan mertua syiah. Mertua a-Hallaj berasal dari suku yang menganut syiah ghulat (ekstrim) yang sering dituding terlibat pemberontakan untuk menggulingkan penguasa yg sunni.
Al-Hallaj ibarat muara yang menerima dua aliran yang bisa dianggap subversif: ajaran-ajaran agama seperti Rabiah & Bayazid serta politik oposisi. Idiom-idiom tasaufnyapun penuh dengan simbol-simbol kebatinan syiah. Misalnya kode2 huruf yg sering dipakainya adalah huruf mîm pada Muhammad, ’ain pada Ali, dan sîn pada Salman al-Farisi.
Namun yg menarik khazanah spiritual #Halj yg kaya bersumber dr mistisisme Islam (tasuaf); mistisisme tradisi2 lain: Kristen, Buddhisme dll
Al-Hallaj adalah sufi pelancong, dia melakukan perjalanan spiritual ke Timur sampai Kashmir, bagi lawannya ia dituduh belajar sihir. Perjumpaan al-Hallaj dengan tradisi-tradisi mistisime yang lain, dengan pelbagai penganut agama, diadobsinya unt memperkaya “rute spiritual” menuju Tuhan. Kekayaan pengalaman spiritual dan kedalaman pengetahuannya jadi daya tarik bg pengikutnya di samping cerita karamah2nya yg tak habis-habis. Daya pikat al-Hallaj bukan hanya pada ajarannya yg dalam, dianggap ”ilmu khusus”, pengikutnyapun dianggap ”anggota kelompok spiritual yang istimewa”.
Al-Hallaj punya pandangan-pandangan sosial yang mengajarkan persaudaraan antar-manusia, lintas iman dan pengakuan kesetaraan, serta solidaritas, juga dikenal ringan tangan dalam membantu yang lemah.. Ia pernah mnerima sekantung uang dinar, dibawa ke masjid, yang di dalamnya orang-orang miskin tidur kelaparan, lalu dibagikannya uang itu sampai habis, dan tidak menyimpan untuk dirinya. Ia pun dipanggil “Abul Mughîts” yang berarti ”sang Penolong”.
Inilah pesona al-Hallaj waktu itu, ia yang dipercaya dekat dengan Tuhannya, ia pun dekat dengan umatnya Pengikut dan simpatisan al-Hallaj tidak hanya kaum lemah, tapi juga kalangan elit istana, ulama, politisi dan keluarga kerajaan. Dari kalangan ulama, ia memperoleh simpati dari guru-guru besar madzhab Syafii & Hanbali—dua madzhab yg dipinggirkan oleh Dinasti Abbasi.
Al-Hallaj adalah pemimpin sebuah gerakan spiritual yg mendapat simpati besar, gerakan ini juga peduli pada krisis sosial yg terjadi. Pengaruh ajaran dan politiknya membawa kekhawatiran pada dua kubu, di pemerintahan Abbasi (1) politisi (2) ulama-penguasa. Para politisi takut pengaruh al-Hallaj akan dapat menciptakan bentuk pembangkangan baru, setelah sebelumnya terjadi pemberontakan terus-menerus. Sedangkan ulama-penguasa (khususnya dr madzhab Maliki dan Dhahiri) takut ajaran al-Hallaj yg mementingkan “makna batin” agama, akan menggusur fiqh.
Dua kubu yang korup ini bersatu untuk menghancurkannya, yang dituding bisa mengancam eksistensi mereka. Inilah makar / konspirasi
Cara yg efektif unt menjegal gerakan al-Hallaj adalah dengan 2 tuduhan: murtad-zindiq berarti musuh agama dan terlibat Qaramithah yg berarti musuh raja, atau terlibat kelompok anti-kerajaan.
Tahun 297H/909M keluar fatwa dari Muhammad bin Dawud ulama Dhahiri yang mengkafirkan al-Hallaj atas tuduhan bersatu dgn Allah.. Dia ditangkap. Ia dibela oleh Ibn Suraij seorang ulama besar dari madzhab Syafii dengan alasan: “Bagiku al-Hallaj hafal Quran, punya pemahaman yang baik terhadap ilmu-ilmu agama, rajin puasa dan salat malam, meski kata-katanya tak kupahami, bukan berarti kafir”.
Atas pembelaan Ibn Suraij, al-Hallaj untuk sementara selamat dari eksekusi. Namun setelah Ibn suraij wafat, tak ada pembela yg brwibawa dan al-Hallaj mulai disidang kembali dijaman menteri Hamid al-Abbas yang dikenal kejam dalam menarik upeti, ia berkoalisi dgn Abu Umar bin al-Hamadi.

Hujan Asam

Setelah pilih-pilih channel tv untuk cari hiburan ringan yang menghibur tidak muncul juga, akhirnya terperangkap gambar di layar tv, hutan hijau segar dengan sungai kecil jernih membelah layar, dengan sosok pemuda yang sedang melakukan pengukuran pH air sungai dan peralatan kimia, monitor tv serta komputer di bawah tenda sebagai latar belakang. Dengan bantuan judul film terpampang di sebelah kanan-atas layar tv “Dark Skies”, dugaan langsung menyeruak benak, ini tentang isu lingkungan.

Seorang Doktor muda jenius, Jack Weston, lulusan Standford University sedang melakukan penelitian tentang kemungkinan pencemaran alam yg dilakukan oleh pabrik Pegolahan Logam Ordox, tempat dia bekerja sebelum mengundurkan diri, di hutan pinggir kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa, Timberton, California.

Belum lama film berlangsung, kekacauan terjadi ketika hujan mulai turun. Asap menguap dari tetes air hujan di air sungai, tenda roboh katena tiang logam berasap dan meleleh akibat tetesan air hujan dan puncak kekacauan adalah ketika seorang peserta camping melepuh wajahnya akibat mengusap mukanya menggunakan air sungai yang tercemar. Hujan asam telah terjadi. Ini semua disebabkan oleh adanya ledakan dalam pabrik pengolahan logam yang mengakibatkan tingginya kadar SO2 di udara.

Terlepas dari alur cerita yg ‘melo dramatik’ dan kesahihan sains yang meragukan, seperti pH air hujan adalah 1 tanpa ‘historical data’ menunjukkan gejala sebelumnya, serta penggunaan kapur secara sembarangan utk melindungi korosi body mobil, dsb; isu lingkungan yang disampaikan cukup menggugah minat untuk tahu lebih banyak soal Hujan Asam (acid rain).

Informasi di situs internet Wikipedia, EPA dan situs lingkungan lainnya, menunjukkan bahwa tingginya SO2 atau NOx di udara bisa mengakibatkan pengendapan asam (acid deposition) dalam dua cara, Dry Deposition, yaitu pengendapan material halus langsung dari udara dan Wet Deposition, melalui air hujan. Penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan bahan bakar fosil kendaraan bermotor adalah penyebab utama peningkatan kandungan SO2 dan NOx di udara. Di AS, kira-kira 2/3 SO2 dan 1/4 NOx yang ada di atmosfer berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, seperti batubara. Air hujan normal mengandung pH 4-5 dan bila lebih kecil dari itu maka sudah masuk dalam kategori hujan asam.

Isu tentang Hujan Asam, yang berhubungan dengan pertumbuhan industri, ini sempat muncul beberapa tahun yang lalu, tapi pelan-pelan mulai menghilang digantikan dengan isu lingkungan lainnya seperti Perubahan Iklim, meskipun resiko terhadap kehidupan tetap tinggi. Semestinya, kita semua masih harus tetap perhatian tentang hal ini.

Kekerasan ber’baju’ agama

Melihat berita tv akhir-akhir ini rasanya seperti nonton kejuaraan free fight yg isinya berdarah-darah, tegang dan melelahkan.. Penuh kekerasan. Masih belum hilang memori kekerasan kelompok ini ketika tindak kekerasan dilakukannya secara vulgar terhadap kelompok lain di lapangan Monas beberapa tahun yll. Juga perusakan berbagai tempat hiburan malam di wilayah Kota dan Kemang. Saat ini tindak kekerasan itu mulai dilakukannya lagi.

Banyuwangi
Kunjungan fraksi PDIP di Banyuwangi untuk dialog dgn bekas PKI, dibubarkan sekelompok massa yang beberapa terlihat berpakaian dan berpeci putih, secara paksa dengan wajah2 beringas dg alasan, yg muncul di tv, membuka luka lama. Absurd. Mereka sudah membayarnya dg menjalani hukuman fisik, psikis dan sosial oleh institusi hukum yg sah di negeri ini. Lalu apa lagi? Semestinya, mereka berhak hidup sebagai warga negara yang merdeka. Alasan lainnya. PDIP dianggap menyebarkan faham komunis. Betulkah? Atau hanya karena mendekati ex-PKI, yg mungkin merekapun belum tentu faham tentang komunis? Bgmn bisa menuduh partai besar yang legal di negeri ini berideologi komunis? Absurd.

Ahmadiyah, Jawa Barat
Wajah-wajah beringas membenturkan tubuhnya ke barisan tameng aparat keamanan untuk dapat menghancurkan pagar hidup ini dan menggilas pengikut Ahmadiyah. Masjid disegel, para ibu berteriak, darah tercecer, umpatan berhamburan.

Bantargebang, Bekasi
Umat kristiani beribadah dalam suasana represif, dalam kepungan teror kekerasan. Gereja mereka yang sudah mendapat persetujuan 190 penduduk sekitar dipaksa tutup oleh kelompok minoritas berkuasa.

Patung, Bekasi
Teror untuk menurunkan patung Tiga Perempuan di salah satu perumahan di Bekasi oleh kelompok massa berlabel agama, yang menganggapnya tidak sesuai dengan keyakinannya, mirip penghancuran patung-patung di Afganistan.

Ancaman ‘sweeping’ tempat hiburan malam di Jakartapun mulai dilontarkan, meskipun akhirnya dibatalkan setelah Foke, Gub DKI, menemui pimpinan FPI. Anehnya, justru sang Gub mengajaknya untuk turut mengawasi kegiatan Hiburan Malam di bulan Ramadhan. Bukankah keamanan adalah ranah aparat keamanan? Ataukah ormas ini memang alat politik dari kelompok tertentu? Absurd.

Teringat novel The Kite, yang sudah muncul di layar lebar, yang bercerita kekejaman kelompok Taliban di Afganistan dan penghancuran patung Budha di dinding pegunungan gersang Timur Tengah (lupa negaranya) yang pernah disiarkan oleh National Geographic channel. Semoga tidak muncul kelompok semacam ini di negeri kita. Amin

Sampai Jumpa, Bu Sri

Bukan karena pemuja atau penghujat maka ikut berkomentar, tapi karena sudah banyak ruang publik tersita oleh kasus yang berhubungan dengan beliaulah yang membuat terpancing utk menulis.

Bail-Out bank Century telah melambungkan nama Sri Mulyani menjadi bulan-bulanan para politisi, baik yang mendukung maupun yang menghujatnya, juga telah menyeret para pengamat sosial dan pendukung tokoh politik untuk turut meramaikannya, bahkan para penikmat sinetron yang apolitispun menjadi sangat familiar dengan sosok sang ibu ekonom ini.

Nama beliau ini mulai muncul dalam benak ketika menduduki jabatan tinggi di IMF, saat negari ini justru sedang berusaha untuk memutus hubungan dg kreditor dunia ini. Menjadi pertanyaan diam dalam diri saat itu “Mengapa ada ekonom Indonesia yg bersedia tidak populer, dg mengambil jabatan tinggi di IMF, yang sedang dihindari para negara2 debitor di Amerika Selatan, Afrika dan negara2 sedang berkembang lainnya?” Misi personal seperti apakah yg ingin diraih? Menaikkan tingkat pencapaian profesionalitas? Visi nasionalisme berdasar mazhab ekonomi yg diyakininya? Atau?

Tepat di hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2010) beliau secara resmi sudah ‘dipaksa’ meletakkan jabatan sebagai menteri Keuangan, menuju jabatan yang prestisius yang baru sebagai salah satu Direktur World Bank di Washington DC.. Dipaksa oleh siapa? DPR? Presiden? World Bank? Atau?

Banyak pertanyaan dalam diam yang masih berseliweran, adakah kaitan antara karir beliau sejak sekolah di AS, IMF, MenKeu dan World Bank versus mazhab ekonomi yang dianutnya? Atau bagaimana sejatinya nasionalisme menurut keyakinan ideologisnya? Mobil, pusat perbelanjaan dan perumahan mewah memang semakin banyak, tapi petani, nelayan, buruh, guru masih tetap susah kondisi hidupnya.

Selamat jalan dan sampai jumpa Bu Sri, anda dianggap tepat oleh pemimpin negeri ini untuk menjalankan kebijakan ekonomi berdasar keyakinan ideologisnya, namun justru harus pergi setelah babak-belur mengemban sikap loyal terhadapnya. “Revolusi memang memakan anak sendiri”, menurut Soekarno.

HOT, FLAT and CROWDED

Judul : Hot, Flat and Crowded

Penulis : Thomas L. Friedman

Tebal Buku : 582 halaman

Penerbit : PT. Gramedia

Tahun : 2008

Judul buku ini sudah memberikan gambaran umum yang jelas dari penulisnya, keprihatinan terhadap kondisi Lingkungan Global, seperti tertulis pada sampul belakang. Hot, karena kemajuan teknologi telah mempercepat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke angkasa; Flat, karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, yang memungkinkan siapapun, di manapun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah sehingga seolah-olah bumi berada di atas sebuah pinggan datar, dan Crowded, karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sedemikian cepat akibat keberhasilan upaya menekan angka kematian dan industrialisasi sehingga bertumpuk di kawasan perkotaan tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

Titik tolak pembahasan dalam buku ini sebetulnya adalah keprihatinan penulis terhadap kebijakan energi dan perubahan iklim negaranya (AS) yang menurutnya sangat kurang, bahkan cenderung mengabaikan visi lingkungan global. “Jika kita (AS) ingin mempertahankan kepemimpinan kita dalam teknologi, ekonomi dan moral serta agar planet ini tetap dapat dihuni, kaya dengan flora dan fauna, macan tutul dan singa, serta komunitas manusia yang bisa berkembang serta berkelanjutan, banyak hal yang harus diubah di sini, dan dengan segera”. Hal. 10

Dua hal penting yang mewarnai kebijakan negatif elit politik AS, adalah, sikap paranoid AS pasca 11 Sep dan sikap ‘semau gue’ terhadap problem nasional karena rasa percaya diri yang berlebih sehubungan hilangnya Perang Dingin; selain masih adanya kecenderungan positif bangsa AS yang ditunjukkan dengan karya inovatif dan idealis dalam hal ekonomi dan teknologi.

Konvergensi pemanasan global (hot) , perataan bumi (flat) dan penuh sesaknya bumi (crowded) mengantar kita pada lima masalah besar:

1. Tumbuhnya permintaan energi tak tergantikan

Menurut ASPOUSA, AS saat ini mengkonsumsi 810 juta gallon per hari, atau US$ 700 juta lebih. Royal Dutch Shell membuat prediksi, dalam laporan tahun 2008, bahwa konsumsi dunia untuk semua jenis energi akan setidaknya dua kali lipat antara sekarang dan tahun 2050.

Sesungguhnya AS sudah berusaha untuk melakukan efisiensi energi dengan munculnya Energy Policy and Conservation Act oleh kongres, 1975 sehingga jarak tempuh kendaraan ringan meningkat dari rata-rata 5,5 km/liter menjadi 11,5 km/liter pada tahun 1980. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan minyak yang signifikan hingga 1990an, yang juga turut andil sebagai penyebab runtuhnya Uni Soviet, yang saat itu sebagai produsen minyak ke-2 terbesar dunia. Sayangnya, justru Reagen menurunkan target standar penghematan menjadi 11 km/liter pada tahun 1986, bahkan memangkas anggaran sebagian besar program energi alternatif presiden Carter, juga membatalkan insentif pajak untuk perusahaan-perusahaan tenaga surya dan angin. Hal semacam inilah yang dimaksudkan penulis sebagai kebijakan ‘semau gue’ elit politik AS.

Detroit dan industri minyak memang secara konsisten melobi Kongres untuk menolak kenaikan pajak atas bahan bakar minyak. Hal ini ditunjukkan oleh Rick Wagoner, direktur dan CEO General Motors saat menjawab pertanyaan, mengapa perusahaannya tidak membuat mobil-mobil yang irit bahan bakar, “Kami membuat yang dikehendaki oleh pasar”, jawabnya. Dan ini didukung oleh elit politik AS dengan TIDAK menerapkan pajak tinggi untuk bahan bakar dan mesin seperti halnya di negara-negara Eropa. Denmark, setelah kelangkaan minyak dunia 1973, mengambil sikap efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan (surya dan angin) yang didukung dengan kebijakan energi pajak tinggi dan juga pajak CO2, sehingga masyarakat dengan sadar berusaha menggunakan energi di rumah secara efisien. Denmark yang pada tahun 1973 memperoleh 99% energi dari Timur Tengah, saat in, 2008, sudah tidak lagi melakukan import bahan bakar, 0% bahkan sepertiga dari semua turbin angin di dunia berasal dari Denmark.

Kenaikan harga bahan bakar fosil juga berakibat naiknya harga pangan dan industri tambang mineral dunia, juga semakin luasnya alokasi lahan yang dibutuhkan untuk keperluan lahan tanam Biofuel. BBC melaporkan bahwa Kenya (2008) hanya menanami sepertiga luas lahan dibanding tahun sebelumnya karena keperluan Biofuel.

Menurut Bank Dunia, 2007, Timur Tengah, Cina dan India menghabiskan US$ 50 milyar untuk subsidi minyak dalam negerinya. Bahkan Indonesia menghabiskan 30% Anggaran Belanja, dibanding 6% untik keperluan Pendidikan.

2. Transfer kekayaan yang masif kepada ‘petrodictator’

Tingginya permintaan energi fosil menyebabkan transfer kekayaan yang sangat tinggi karena juga harga yang tinggi. Statistik Fraser Institute menunjukkan bahwa kemakmuran negara penghasil minyak, akan diikuti dengan tingginya sikap represif pemerintah terhadap rakyatnya. Contoh yang paling baru adalah sikap Rusia untuk menutup jalur pipa gas ke negara2 Eropa Tengah dan Barat. Mengenai karakter Geopolitik negara pengekspor minyak, banyak terdapat di Bagian II dalam buku ini. Kalimat penutup yang bagus dari Bagian ini adalah: “ Anda tidak dapat menjadi idealis dalam kebijakan luar negeri yang efektif tanpa sekaligus menjadi pecinta lingkungan yang efektif dalam upaya menghemat energi.”

3. Perubahan iklim yang signifikan

Perubahan iklim di air teluk Mexico yang semakin hangat akibat pemanasan bumi menyebabkan Badai Katrina yang sangat dahsyat. Laporan IPCC 2007, (Intergovernmental Panel on Climate Change) berdasar pengamatan, menyimpulkan bahwa realitas pemanasan bumi sangat tidak diragukan bahwa kenaikan temperatur sejak 1950 ini terkait langsung dengan emisi-emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Tanpa upaya yang serius untuk menghentikan emisi CO2, pemanasan kumulatif pada 2100 akan berkisar 3°-5°C pada pada kondisi pra-industri. Ini akan memicu kenaikan muka air laut, bencana kekeringan dan banjir, yang akan mempengaruhi kelayakan sejumlah kawasan hunian manusia.

4. Kemiskinan energi

Bagi mereka yang telah menikmati listrik, kelangkaan energi dapat mengundang letupan politik, karena penggunaan energi dan Gross National Product memiliki korelasi sangat erat. International Energy Agency membuat proyeksi bahwa 1,4 milyar orang akan masih tidak dapat menikmati listrik dalam tahun 2030.

5. Percepatan hilangnya keaneka-ragaman hayati

Ketika dunia semakin panas, rata dan penuh sesak kita telah melampaui sebuah titik kritis keanekaragaman hayati. James Gustave Speth, penulis ‘The Bridge at the Edge of the World’ banyak menunjukkan bukti2 ini.

Kondisi bumi seperti inilah yang memacu kesepakatan negara-negara besar untuk membuat pakta-pakta lingkungan, mulai dari Komisi Bruntland, Protokol Montreal, Agenda 21 dan Protokol Kyoto. Ironisnya, justru AS tidak pernah bersedia menandatanganinya.

Lima puluh tahun lagi, bangsa AS akan menuntut orang tuanya: “Dad, saat bangsa kita kaya akan finasial, dan unggul akan teknologi dan sumber daya manusia, apa yang telah Anda lakukan dengan energi dunia?”

Penulis

Thomas L. Friedman adalah wartawan New York Times yang juga menulis ‘From Beirut To Jerusalem’, (resensinya juga ada di web ini juga) dan ‘The World is Flat’ yang keduanya sangat ‘inspiring’ bagi pemerhati Kedamaian dan Lingkungan.

Kecil

Dua minggu ‘cuti’ banyak diisi kegiatan tv ‘bibit-candra’, update Blog dan kontak/ngobrol dgn rekan yayasan YTI. Isu kondisi sosial saat ini seperti membuka kotak pandora.

Hormat sekali buat mereka yang secara sadar mampu mempertahankan nilai2 yang diyakininya tanpa terkooptasi oleh hegemoni kapitalistik dan berani menyuarakan ketidak-setujuannya, bahkan dengan resiko kekerasan dan penjara sekalipun.

Masyarakat perbankan, dunia bisnis pembiayaan/financing dan para pendukung SBY, dengan segala teori yang ‘mungkin’ dikuasainya, telah membabi-buta menyatakan ‘tidak ada yang salah dengan bailout bank Century’.

Di dunia kerja, hal ini spt perilaku karyawan yang sedemikian fokus dan sibuknya thd suatu pekerjaan, bahkan melupakan kondisi lingkungannya, namun ternyata hanya bagian kecil dari sistem induistrinya, terlebih bila dibandikan dengan dunia perdagangan dari hasil produksi bisnis yang ditekuninya. Celakanya, justru dampak kumulatif dari aktifitas yang ditekuninya seringkali tidak disadarinya akibat spesialisasi keahlian dan pola pikir yang sudah terkooptasi dan diterapkan oleh sistem management perusahaan, namun merasa dirinya sudah menguasai banyak hal tentang industrinya. Celaka … Hanya bagian kecil dari putaran roda bisnis yang mendunia, sudah lebih dulu bisa mengkooptasi sistem nilai yang selama ini masih jauh dari niatan kita untuk menguasainya.

Gelisah: Etika Profesional

Duduk di depan kamar lantai 3 pada ketinggian 1900 meter di kota tambang terasa dingin, segar. Sejauh mata memandang tampak hijau bergelombang, hutan heterogen, beberapa tempat menyela titik-titik kuning dari bunga yg mulai tumbuh, indah. Suara raungan mobil ber cc tinggi, sesekali menyelingi keheningan jaring kehidupan. Gerakan dalam otak mulai terjadi ‘Apa yang kita lakukan di sini sebenarnya?’ ‘Mencari penghidupan untuk keluargaku’ jawabku. ‘Sudah benarkah apa yg kau lakukan ini?’ Heemm mulai hangat dada rasanya karena gejolak darah yang memacu jantung untuk berdetak lebih cepat karena tindakan mulai dipertanyakan. ‘Benar sudah alasanmu, tapi sudahkah kau pikirkan akibat tindakanmu bagi yang lain?’, terhenyak aku dengan hentakan yang membangunkan ini.

Aku mulai memilih pisau untuk mengupas sistem jaringan hidup yang aku jalani. Bagian manakah yang harus dikupas dari keterlibatanku dalam industri ekstraksi sumber daya alam ini? Akan lebih mudah rasanya untuk mengelaborasi pertanyaan filosofis ini dengan menggunakan pisau analisa etika profesional. Menurut filsuf nasional (Romo Magnis?) Ada lima subjek kepada siapa seorang profesional perlu mempertanggungjawabkan aktifitas profesionalnya, yaitu:

1. Tuhan Yang Maha Esa,
Jelas, ini adalah rambu spiritual yang tentu bagi siapapun yag meyakininya, tak akan menegasikannya. Semua permasalahan industrial hendaknya dikaji secara holistik sebelum tindakan dan pengambilan keputusan dilakukan.

2. Bangsa dan Negara

National interest perlu menjadi pertimbangan penting dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan yang mungkin bisa merugikan atau menguntungkan bangsa dan negaranya. Dalam kaitannya dengan industri ekstraksi sumberdaya alam, perlu dijawab pertanyaan-pertanyaan seperti ‘seberapa jauh, secara financial, bisnis ini akan menguntung negara, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mengingat bahwa ini adalah industrii ‘non renewable’?’, ‘berapa jumlah produksi sebaiknya sehingga bisa menguntungkan semua pihak?’, ‘Dalam kaitannya dengan bidang usaha lain, sejauh mana bisnis ini akan mempengaruhi sektor industri lainnya, misalnya kehutanan, perikanan; mengingat pertambangan pasti berdampak pada kerusakan hutan dan bisa mengganggu biota laut krn pembuangan tailingnya?’.

3. Lingkungan fisik dan sosial

Lingkungan fisik jelas akan menerima dampak yang besar dalam aktifitas pertambangan, seperti misalnya perubahan bentang alam dan keanekaragaman hayati; belum lagi kemungkinan penyebaran mineral berat akibat pembuangan sampah tambang dsb. Uji valuasi kerusakan lingkungan akibat aktifitas industri perlu dillakukan sehingga dapat dihitung secara kuantitatif, dalam dollar misalnya, kehilangan kekayaan alam akibat penambangan. Ini penting karena seringkali perhitungan keuntungan Nasional hanya didasarkan pada perolehan pajak dan royalti, tanpa memperhitungan faktor kehilangan kekayaan alam lainnya. Akan lebih baik lagi bila kerusakan lingkungan menjadi komponen dalam perhitungan keuntungan per satuan berat produksi, yang akan masuk kembali ke kas negara sebagai pajak kerusakan lingkungan. Yang juga penting untuk mendapat perhatian lebih adalah persoalan lingkungan sosial, yang meliputi migrasi penduduk pencari kerja, ketimpangan pendidikan, pendapatan dan kesejahteraan, perbedaan kultur, HAM, belum lagi perilaku karyawan terhadap sesamanya atau bawahannya, dsb. Sering merasa risih bahwa berada dalam satu bangsa yg sama bisa terjadi perbedaan pendidikan dan kesejahteraan sedemikian besar antara para karyawa pendatan dengan masyarakat lingkar tambang. Mayoritas masyarakat lokal di sekitar wilayah Industri pertambangan, pada umumnya, adalah karyawan non-staff, itupun masih memerlukan banyak pengawasan dan bimbingan. Di Tembagapura misalnya, masih sering terlihat ibu dan anak yang duduk di lantai depan bangunan umum sambil makan sementara anak2 muda, karyawan baru berlalu-lalang dg earphone lekat di telinganya. Lompatan waktu? Menggelisahkan. Seorang karyawan pendatang tingkat madya berkata ‘kami akan tetap membimbingnya, namun itu semua bergantung pada semangat dan kesediaannya untuk dididik’. Pernyataan yang arogan. Ketidakpahaman akan nilai-nilai lokal telah membuatnya arogan dan rendah empati. Memberikan penyadaran akan perlunya pendidikan semestinya menjadi prioritas utama sebelum masuk ke dalam pendidikan itu sendiri.

4. Keluarga

Seringkali parameter keluarga sebagai bagian kesuksesan, disisihkan. Perusahaan sering kali mengabaikannya atau mereduksinya dg menganggapnya sbg komoditi yg bisa dibelinya, dg memberinya akomodasi spy sang suami sbg karyawan tdk perlu lagi risau meninggalkan keluarganya.

5. Perusahaan

Jelas, bahwa karyawan wajib untuk bertanggungjawab kepada perusahaan tempat dia bekerja krn dia akan mendapatkan gaji sebagai balasan jerih-payahnya.

Dari lima hal di atas, seharusnya dimengerti dan disadari sepenuhnya bahwa Perusahaan bukanlah satu-satunya subjek tempat karyawan mempertanggung-jawabkan semua pemikiran, keputusan dan tindakannya. Dengan sengaja atau tidak, sikap ‘maju tak gentar membela yang bayar’ perlu dipertanyakan etika profesionalnya. Masih banyak terlihat, kaum terdidik yang bekerja sedemikian fokusnya hingga tak terpikirkan pertanyaan2 seperti seberapa besar keuntungan bangsa dibanding investor, apa yang akan terjadi setelah investor pergi setelah cadangan terkuras habis atau kontrak pertambangan habis, apa saja yang sudah diperoleh masyarakat sekitar, dsb. Banyak tenaga ahli di negeri ini, tapi apakah sudah bertanggung-jawab sesuai etika profesionalitasnya?

The Hidden Connections

Judul                : The Hidden Connections

Penulis             : Fritjof Capra

Halaman           : 355

Penerbit            : Jalasutra

Tahun               : 2009

Seluruh kehidupan, mulai dari sel yang paling primitif, hingga masyarakat, korporasi, dan negara-bangsa, bahkan ekonomi global, ditata menurut pola dan prinsip dasar yang sama. Fritjof, penulis The Tao of Physics, menjelaskan berbagai sistem terpadu yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman hal ini akan sangat penting bagi keberlanjutan hidup manusia.

Berbeda dengan the Web of Life, (1996) yang berbicara tentang perkembangan teori sistem biologi, yaitu chaos, kompleksitas dan swa-kelola (self organization), The Hidden Connections berbicara lebih jauh pada tataran sosial dan bisa dianggap sbg buku tentang pembentukan kognisi, yang berawal dari sifat unik dan individual dari biologi dan fisika ‘otak’ manusia hingga pengaruh jaringan komunitas sosial.

Menurut Capra dalam The Turning Point (1986), paradigma fisika harus digantikan oleh suatu kerangka konseptual yang lebih luas, suatu visi atas realitas dimana ‘kehidupan’ ada di pusatnnya.Cara pandang ‘sistem’ atas kehidupan seperti yang ditulisnya, bukanlah suatu teori koheren tentang kehidupan, tetapi lebih merupakan cara baru untuk berpikir tentang kehidupan.

Tujuan penulisan buku ini seperti yang tertulis pada bagian Epilognya (hal. 292) adalah mengembangkan suatu kerangka konseptual yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif dan sosoal kehidupan. Suatu kerangka yang memungkinkan untuk memakai pendekatan sistemik terhadap beberapa permasalahan kritis jaman sekarang. Analisis sistem kehidupan dalam empat perspektif yang saling berhubungan, yaitu bentuk, materi, proses, dan makna memungkinkan diterapkannya suatu pemahaman yg utuh mengenai kehidupan terhadap fenomena di luar materi, dan juga fenomena pada dunia makna.

Buku The Hidden Connections ini dibagi menjadi dua bagian berurutan, yang pertama mengenai kerangka teoritis tentang Esensi Kehidupan, Esensi Pikiran dan Kesadaran, serta Esensi Realitas Sosial. Sedangkan bagian kedua mengenai penerapan praktis dari bagian pertama.

Tentang Esensi Kehidupan, Capra menyimpulkan bahwa kunci definisi sistemik kehidupan adalah jaringan2 kehidupan yang terus-menerus menciptakan atau membuat ulang diri mereka sendiri dengan mengubah atau mengganti komponen-komponen dirinya, disebut juga sbg sistem ‘autopietik’. Pandangan para ahli biologi molekular bahwa kehidupan, pada puncaknya, adalah molekul-molekul, tegas ditentangnya dan dianggapnya sangat reduksionis dan berbahaya, karena pandangan baru tentang Sistem Kehidupan adalah bersifat sistemik, tidak hanya didasarkan pada analisis struktur molekular semata namun juga analisis pola hubungan antar struktur dan proses-proses spesifik yang mendasari pembentukannya. Mengenai Pikiran dan Kesadaran, Capra memberi definisi bahwa Kesadaran adalah suatu jenis proses kognitif khusus yang muncul ketika kognisi mencapai tingkat kompleksitas tertentu, dan Kesadaran manusia bukan hanya sebagai suatu fenomena biologis semata, melainkan juga merupakan fenomena sosial. Tentang Realitas Sosial, Capra berpendapat bahwa pemahaman sistemik atas kehidupan dapat diperluas ke ranah sosial dengan menambahkan perspektif ‘makna’ terhadap tiga perspektif lainnya, yaitu bentuk, materi dan proses. Sampai di sini Capra telah mencoba memberikan penjelasan teoritis yang runut mulai dari kehidupan selular hingga pola sistemik realitas sosial.

Penerapan praktis dari konsep Realitas Sosial, yang berbasis Sistem Kehidupan, disajikan pada bab berikutnya, yang didahului kritik Capra terhadap sistem manajemen top-down dan mekanistik, karena bertentangan dengan sifat ‘autopietik’ jaring sosial, serta harus dilakukan pergeseran kekuasaan  dari ‘coercive power’ dan ‘compensatory power’ ke ‘conditioned power’ (hal.119); dilanjutkan dengan kritik Kapitalisme, yang menurutnya sudah semestinya dirubah, karena tidak dapat mengurangi kemiskinan bahkan menyebabkan peminggiran sosial. Ada perbedaan penting menurutnya, antara jaringan ekologis alam dan jaringan korporasi. Dalam suatu ekosistem, tak ada makhluk hidup yang terpinggirkan, sedangkan dalam dunia ‘kekayaan’  dan ‘kekuasaan’, bagian besar populasi dipinggirkan dari jaringan global dan dianggap tak relevan secara ekonomi. Hal terakhir mengenai Bioteknologi dan diakhiri dengan rekomendasi bagaimana menyiasatinya untuk kehidupan yang lebih baik.

Pemahaman sistemik pada kehidupan menjelaskan bahwa dalam tahun-tahun mendatang perubahan tidak hanya akan diperlukan bagi kesejahteraan organisasi manusia, tetapi juga untuk kelestarian dan keberlanjutan umat manusia secara keseluruhan dengan mengubah sistem nilai yang mendasari ekonomi global, untuk membuatnya cocok dengan kebutuhan martabat manusia dan keberlanjutan ekologis.

Tentang penulisnya, Fritjof Capra (lahir1 Feb 1939) adalah seorang ahli fisika dan teori sistem yang lahir di Austria dan berdomisili di AS, juga penulis buku ‘best seller’ The Tao of Physics (1975) dan The Turning Point (1982), yang keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

SNOW

orhan_snow1

Judul                 : Snow

Tebal buku        : 731 halaman

Pengarang         : Orhan Pamuk

Penerbit            : Serambi

Tahun               : 2008

Kisah warga Kars ini dimulai dengan kedatangan Ka di kota sunyi itu ketika gerilyawan Kurdi sedang membangun kekuatannya, sbg penduduk asli dan mantan tahanan politik, yang sudah meninggalkan kota ini selama 12 tahun dan menikmati budaya liberal di Jerman. Profesi Ka adalah wartawan sekaligus sastrawan puisi. Keahlian sebagai seorang sastrawan puisi ini sudah sangat dikenal di kota kecil ini, Kars. Alasan utama Ka untuk pulang ke Kars adalah menghadiri pemakaman ibunya, yang kemudian berkembang untuk melakukan investigasi atas banyaknya korban bunuh diri warga perempuan Kars, dan mengejar kisah asmara lama sebagai latar-belakang konflik cerita utama tentang tiga kelompok besar yang sedang membangun kekuasaan, konservatisme, sekularisme dan militerisme. Kekecewaan para siswi muslim, sebgai wakil kaum konservatif, yang tidak diijinkan menggunakan kerudung di sekolah membuahkan frustrasi sosial, ditunjukkan dengan meningkatnya feomena bunuh diri. Di lain pihak, kaum sekular memprovokasi masyarakat dengan cara membakar kerudung sebagai isu sentral pada pementasan teater liberal.

Membaca buku ini sejak halaman pertama, serasa dikepung kegetiran akut, sepi, dingin, redup dan sewenang-wenang. Kejadian bisa berubah tanpa alur linear dan ketidak-laziman cerita bisa terjadi kapan saja. Misalnya, penulis bisa menceritakan kekhusukan seorang gadis yang mau sholat hingga menuju ke tali gantungan dengan kesadaran diri yang tinggi; atau cerita guru yang ditembak di restoran ketika para tamu sedang makan siang, diawali dengan komunikasi yang panjang-lebar antara si eksekutor dan si korban. Absurd.

Ka mewakili sikap individu peragu yang mencoba mencari tahu akan ideologi Islam radikal, komunis dan sekular. Keinginan utk mendapatkan hasil maksimal dgn cara berkolaborasi dgn tiga kelompok yang berbeda, berbuahkan kegagalan. Pesan tersirat dr buku ini adalah ‘Kegamangan Islam menghadapi perkembangan jaman yang cenderung liberalistik’. Isu ini masih merupakan isu sentral saat ini di Turki.

Dari sisi penulisan, Snow relatif lebih cair mengalir dibanding dengan karya Pamuk sebelumnya My Name Is Red, yang berat untuk dibaca. Buku ini diterbitkan partama kali di Turki pada tahun 2002, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris 2004.