Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Anang sk’

Berita Perang

Setiap kali melihat saluran tv berita dan media sosial, selalu saja muncul disana informasi tentang perang Rusia-Ukraina. Sayangnya, berita televisi pada umumnya seragam dan mengacu pada media Barat. Lihat saja CNN, Fox, Bloomberg, BBC. Bahkan Aljazeera dan TRT (channel Turki) pun sama saja sumbernya. Hanya ada dua channel tv yang berbeda, yaitu tv China CCTV-4 di IndiHome (info teman) dan channel RT (Russian Today) di First Media, yang sempat hilang saat awal perang Ukraina terjadi.

Media sosial pun tak jauh beda, isu perang Rusia-Ukraina yang diwarnai pro-kontra masing-masing pendukungnya, juga seringkali muncul. Hanya saja, banyak terlihat posting di medsos twitter, facebook atau group whatsapp, sering disertai narasi dukungan yang berlebihan. Emosional. Seolah acuan info yang dipunyainya sudah paling valid.

Menurutku, konflik bersenjata Rusia-Ukraina tak ada yang layak dibenarkan. Begitu juga dengan negara-negara pendukungnya. Ini Perang yang didasari kekuasaan politik regional. Semua negara kuat yang terlibat di dalamnya punya sejarah buruk tentang Penguasaan terhadap yang lemah. Maka, akan lebih mencerahkan bila para pendukung Rusia ataupun Ukraina coba melihat atau membaca media elektronik/cetak dari kedua blok negara tersebut. 

Seperti halnya narasi iklan, semua terlihat benar dan indah adanya, dari sisi pengiklannya, tentunya. Memang tidak bohong, namun tidak lengkap informasinya. Coba saja nikmati channel tv CNN dan media Barat lainnya. Beritanya selalu kekejaman pihak Rusia yang mengakibatkan penderitaan rakyat Ukraina di daerah Mariupol, Donetsk dan Luhansk. Memilukan. Tapi, apa iya tidak ada korban di sisi tentara Rusia dan masyarakat Ukraina pro-Rusia? 

Di sisi lain channel RT, selalu menayangkan acara Dokumentasi tentang serbuan aparat Ukraina di wilayah masyarakat pro-Rusia di Donetsk dan Luhansk 2014. Korban jiwa dan kemarahan pro-Rusia, bangunan luluh lantak dan kelaparan yang memilukan, menjadi sajian yang terus berulang dari channel RT. Kejahatan kemanusiaan Nazi Jerman di tahun 1940an, peminggiran suku Indian di Amerika, penaklukan Irak dan sejarah imperialisme Eropa di masa lalu, menjadi materi iklan berulang di channel RT. Seakan mengatakan bahwa Ukraina dan Barat pun juga punya sejarah invasi yang brutal di masa lalu.

Sedihnya, sumber berita media kita sudah banyak mengacu pada media Barat sejak G30S 1965, sehingga cukup susah mendapatkan informasi yang seimbang. Apalagi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram ada dalam genggaman Barat, maka bisa dipahami bila kita akan kesulitan mendapatkan informasi positif tentang Rusia dalam kasus ini. Bahkan, buku yang menulis tentang sisi positif pemerintahan Putin pun sulit diperoleh. Atau memang tidak ada sisi positifnya? Penulis ada membuat resensi buku tentang Putin, yaitu Red Notice karya Bill Browder, The Man Without a Face karya Masha Gessen dan A Russian Diary karya Anna Politkovskaya. Semuanya hal buruk tentang Presiden Vladimir Putin. Namun tak sepenuhnya buku-buku tersebut adalah fakta hasil reportase, karena opini penulis banyak ditemukan di dalamnya. Ingin rasanya membaca tentang hal positif beliau. Ada yang tahu bukunya?

Kesimpulan

Tak perlu kiranya terlalu emosional mendukung ke salah satu peserta perang. Apalagi kalau hanya didasarkan pada informasi media yang diragukan netralitasnya, yang seperti iklan saja layaknya.

Terkait kehati-hatian dalam mengkonsumsi berita, Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertese, memberi saran bagus supaya melakukan beberapa hal dibawah ini:

  • Rendah hati. Mulai dengan asumsi bahwa penulis lebih memahami persoalan daripada konsumen berita
  • Variatif. Tidak mengkonsumsi berita dari sumber yang sama secara terus-menerus
  • Tidak sinis. Wartawan bisa salah karena tidak teliti dalam menyajikan informasi. Namun tidak bermaksud berbohong
  • Kritis. Siapa penulisnya? Apakah ada editornya? Apakah ini media berita atau politik? Apakah informasi bisa diverifikasi?Apakah ada media lain yang tidak sependapat dengan beritanya?

Sepakat rasanya dengan sikap RI yang ditunjukkan Menlu Retno Marsudi dalam podcast Deddy Corbuzier di channel Youtube, bahwa negara-negara di dunia perlu bergandeng-tangan untuk mengupayakan  berhentinya perang Rusia-Ukraina. Tanpa perlu menilai salah-benar terhadap mereka yang berperang. Karena perang ini akan merugikan semua pihak, juga terhadap negara-negara yang tak terlibat perang. Efek ekonomi sudah kita rasakan. Inflasi, harga komoditi sumberdaya alam, energi semakin tinggi.

Tautan

Dubes Rusia bicara

Bu Menlu Retno bicara

Guru Besar UI Kritik Kemlu RI soal Rusia Vs Ukraina

Connie Bakrie bicara

Connie – Helmy Yahya bicara

Why Russia attacked Ukraine

Refugees speak out about Ukrainian hypocrisy

Read Full Post »

Pembuka

Ketika menulis blog tentang konflik Timur Tengah dari buku Black Wave, yang bersamaan waktunya dengan menikmati film seri di Netflix “Homeland” yang bercerita tentang konflik Pakistan dan Afghanistan, tiba-tiba menyeruak berita tentang dikuasainya sebagian besar Afghanistan oleh Taliban dan kaburnya Presiden Ashraf Ghani dari Kabul pada 15 Agustus 2021. Membangkitkan keingintahuan lebih banyak tentang Afghanistan. Tak sampai satu bulan, muncul serial film dokumenter di Netflix “Turning Point“, tentang 9/11, dan liputan dokumenter National Geographic tentang hal yang sama. Afghanistan, atau Taliban khususnya, memang subyek menarik untuk dipelajari.

Buku berjudul Taliban karya Ahmed Rashid ini tentang Afghanistan dimasa Taliban, dalam kurun waktu antara setelah mundurnya Uni Soviet, 1989, hingga sebelum terjadinya peristiwa 9/11, 2001. Menjadi pilihan rujukan, karena dari penulusuran Google, menyebutkan bahwa penulisnya seorang jurnalis media internasional, yang sudah dikenal banyak bergumul dengan konflik Afghanistan. Buku ini menjadi Best Seller di New York Times selama 5 minggu dan telah diterjemahkan kedalam 22 bahasa. Dan sudah terjual lebih dari  1,5 juta buku, serta menjadi buku rujukan bagi siswa akademi-akademi militer di Amerika Serikat. Layak baca.

Buku ini dibuka dengan Bab Pendahuluan yang bercerita tentang praktek hukum syariah menurut penafsiran Taliban, di depan publik ketika telah menguasai Kandahar 1994, terhadap tersangka kriminal dan perselingkuhan. Tembak mati, potong tangan dan rajam hingga mati. Mengerikan. 

September 1996, setelah Kabul runtuh, mantan Presiden Afghanistan Mohammad Najibullah beserta saudaranya, tewas dianiaya dan jenazahnya digantung oleh Taliban. 

Peta politik regional Afghanistan saat itu adalah Russia, Iran, Turki dan Central Asia (Turkmenistan, Uzbekhistan, Tajikistan, Kyrgyzstan) di satu sisi pendukung anti-Taliban, atau biasa disebut NA (Northern Alliance), dan Pakistan, Arab Saudi di sisi lain sebagai pendukung Taliban. 

Musim panas 1998, setelah Taliban sukses menaklukkan wilayah Afghanistan Utara, ketegangan regional semakin memanas dengan ancaman Iran untuk invasi ke Afghanistan karena Pakistan mendukung Taliban. Sementara Amerika Serikat yang terkesan maju-mundur dalam konflik Afghanistan, ternyata sibuk mengurus bisnis pemipaan gas di Turkmenistan (Turkmenistan – Afghanistan – Pakistan – India).

Sejarah Etnik Afghanistan

Mulai dari bangsa Yunani Macedonian 329 BC, dibawah Alexander Agung, menaklukkan Afghanistan dan Central Asia. Kemudian kekuatan Arab pada 654 AD menyapu bersih hingga Afghanistan dan sampai sungai Oxus di perbatasan Central Asia sekarang. Mereka membawa agama Islam, yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan. Dengan cepat merambah seluruh wilayah.

Tahun 1219, Genghis Khan meluluh-lantakkan Afghanistan dengan menghancurkan kota-kota, seperti Balkh dan Herat. Bangsa Mongol meninggalkan warisan budaya modern, juga perkawinan campur dengan suku lokal. Dilanjutkan dengan keturunannya, Taimur, 1318, menaklukkan Herat, Afghanistan. Sebelumnya, Taimur memerintah dari ibukota kekaisaran baru Samarkand, yang membentang dari Russia hingga Persia.

Tahun 1405, Shah Rukh, putra Taimur, memindahkan ibukota kekaisaran Timurid ke Herat. Bangsa Timurid, adalah orang-orang Turki pembawa budaya nomaden Turki Asia Tengah dalam orbit peradaban Persia, membangun di Herat salah satu kota yang paling berbudaya di dunia. Perpaduan budaya Asia Tengah dan Persia ini merupakan warisan besar bagi masa depan kebudayaan Afghanistan. Satu abad kemudian kaisar Babur, keturunan Taimur, mengunjungi Herat dan menulis, ‘seluruh dunia yang layak huni, tidak memiliki kota seperti Herat’

Tahun 1500, Keturunan Taimur, Babur, meninggalkan lembah Ferghana, Uzbekistan, untuk menaklukkan Kabul pertama pada tahun 1504 dan kemudian Delhi.  Dia mendirikan dinasti Mogul yang memerintah India sampai kedatangan Inggris.

Pada saat yang sama kekuatan Persia menurun di barat dan Herat ditaklukkan oleh Uzbek Shaybani Khan.  

Abad 16 Afghanistan barat kembali dikembalikan ke pemerintahan Persia di bawah dinasti Safawi.

Berbagai perseteruan ini menghasilkan campuran etnis, budaya dan agama yang kompleks, yang membuat pembangunan bangsa Afghanistan menjadi semakin sulit.

Afganistan Barat didominasi oleh suku berbahasa Persia atau dikenal sebagai dialek Dari, Afganistan Persia. Dari, juga diucapkan oleh Hazara di Afghanistan tengah, suku yang dikonversi ke Syiah oleh bangsa Persia, sehingga menjadi kelompok Syiah terbesar di wilayah Sunni.  Di barat, bangsa Tajik, penyimpan budaya kuno Persia juga berbicara bahasa Dari.  Di Afghanistan utara, bangsa Uzbek, Turcomans, Kirgistan, dan lainnya berbicara bahasa Turki di Asia Tengah.  Dan di selatan dan timur bangsa Pashtun berbicara dengan bahasa mereka sendiri, Pashto. Campuran bahasa-bahasa Indo-Persi.

Pashtun selatan berperan besar dalam membentuk negara modern Afghanistan, ketika dinasti Safawi Persia di barat, Mogul di India dan dinasti Janid Uzbek, semuanya berada dalam periode kemunduran pada abad ke-18.

Suku Pashtun terbagi menjadi dua bagian besar, Ghilzai dan Abdali, yang kemudian menyebut diri mereka Durrani, yang sering bersaing satu sama lain.

Pashtun melacak silsilah mereka ke Qais, sahabat Nabi Muhammad. Kaum Durrani mengklaim keturunan dari putra sulung Qais, Sarbanar, sedangkan kaum Ghilzai mengklaim keturunan dari putra keduanya. 

Abad ke-6, sumber-sumber Cina dan India mengatakan bahwa bangsa Afghanistan/Pashtun tinggal di timur, Ghazni.  Suku-suku ini memulai migrasi ke barat ke Kandahar, Kabul dan Herat sejak abad ke-15.  Pada abad berikutnya, Ghilzai dan Durrani sudah saling bertarung memperebutkan sengketa tanah di sekitar Kandahar.

1709

Mir Wais, kepala suku Hotaki dari Ghilzai Pashtun di Kandahar memberontak melawan Safawi Shah, karena berupaya mengubah Pashtun Sunni menjadi Syiah – permusuhan historis yang muncul kembali dengan permusuhan Taliban terhadap Iran dan Syiah Afghanistan tiga abad kemudian.

1747

Ketika Ghilzai mulai lemah, rival mereka di Kandahar, Abdalis, membentuk konfederasi dan mengangkat Ahmad Shah Abdali sebagai raja. Mengubah nama Abdali menjadi Durani. Menyatukan semua suku-suku Pashtun dan penaklukan mulai dilakukan. Diantaranya adalah wilayah Pakistan sekarang ini.

1761

Ahmad Shah Durrani menaklukkan Hindu Mahrattas dan menangkapnraja Delhi dan Kashmir. Membentuk kekaisaran Afghan pertama kalinya. Dinasti Durani memerintah Afghanistan hingga 300 tahun. Ribuan bangsa Afghanistan masih mengunjungi meusoleumnya di Kandahar hingga kini, untuk menghormatinya sebagai Bapak Bangsa.

1772

Putra Ahmad Shah Durrani, Taimur Shah, memindahkan ibukota dari Kandahar ke Kabul. 

1780

Kaum Durrani bersepakat dengan Amir Bukhar penguasa Central Asia bahwa Sunga Amu Darya adalah garis batas antara Central Asia dan wilayah baru Pashtun Afghanistan.

1973

Keturunan Durrani menguasai Afghanistan hingga 200 tahun, hingga 1973, ketika ketika Raja Zahir Shah digulingkan oleh sepupunya, Mohammed Daud Khan dan Afghanistan dinyatakan sebagai Republik.

Permusuhan Pashtun antara Ghilzai dengan Durrani semakin intensif setelah invasi Soviet ke Afghanistan dan munculnya Taliban.

Raja Durrani perlu menahan kekuasaan Inggris di timur, dan Russia tetap di utara, Central Asia. The Great Game menjadi program politik Inggris dan Russia dengan Afghanistan sebagai pengaman diantara keduanya melalui sumbangan finansial yang menyebabkan ketergantungan dari Afghanistan. Dengan tujuan, Russia di Central Asia tidak menyerang British India melalui Afghanistan, dan Inggris tidak menembus Central Asia.

1893

Inggris membuat batas Duran Line, yang memisahkan Pashtun India dengan Pashtun Afghanistan.

1880-1901

Amir Abdul Rehman atau Iron Amir, didukung Inggris untuk menyatukan dan memperkuat Afghanistan. Menaklukkan para pemberontak Pashtun dan dengan kejam menaklukkan otonomi Hazaras dan Uzbekh di utara. Pembersihan etnis dilakukan dengan membantai non-Pashtun dan menempatkan Pashtun Selatan di utara untuk menguasai perkebunan. Kebijakan kejam ini juga dilakukan oleh Taliban setelah 1997.

19 Agustus 1919

Afghanistan merdeka dari Inggris.

1933

Raja Zahir Shah, dinasti Durrani, mulai memerintah. Kemudian digulingkan oleh  iparnya Mohammad Daoud Khan yang pro-Soviet. Zahir Shah diasingkan ke Roma. 

17 Juli 1973

Afghanistan dinyatakan sebagai Republik dan Mohammad Daoud Khan memerintah sebagai Presiden pertama Afghanistan.

Daud dibantu angkatan darat dan partai kecil Parcham yang dipimpin oleh Babrak Karmal, untuk menghancurkan gerakan fundamentalis Islam yang baru lahir.  

1975

Para pemimpin gerakan fundamentalis melarikan diri ke Peshawar dan didukung oleh Perdana Menteri Pakistan Zulfiqar Ali Bhutto untuk melawan Daud.  Para pemimpin tsb adalah, Gulbuddin Hikmetyar, Burhanuddin Rabbani dan Ahmad Shah Masud, yang kemudian memimpin Mujahidin.

27 April 1978

Mohammad Daoud Khan terbunuh bersama keluarga dan pengawalnya, dalam kudeta berdarah yang dipimpin oleh Partai Demokrasi Rakyat Afganistan, penganut Marxisme. Khan berrencana, memperjuangkan hak wanita dan modernisasi. Digantikan oleh Nur Mohammad Taraki, sebagai Presiden (27 April 1978).

Komunis terpecah menjadi dua faksi, Khalq dan Parcham.

14 September 1979

Presiden Nur Mohammad Taraki, dari faksi Khalq, terbunuh dalam kudeta oleh lawan politiknya di Partai Demokrasi Rakyat Afganistan. Digantikan oleh Hafizullah Amin sebagai Presiden.

27 Desember 1979

Hafizullah Amin terbunuh dalam kudeta oleh lawan politiknya, ketika Soviet invasi ke Afghanistan. Digantikan oleh Babrak Karmal sebagai Presiden, dari faksi Parcham.

30 September 1987 – 16 April 1992

Mohammad Najibullah sebagai Presiden, menggantikan Babrak Kamal. Selanjutnya terjadi perang sipil dan Taliban mulai berperan.

Sejarah Taliban

Perang Uni Soviet – Afghanistan, awal perlawanan Taliban

Uni Soviet menggelontorkan sekitar US$5 miliar per tahun ke Afghanistan untuk menaklukkan Mujahidin atau total US$45 miliar – dan tetap kalah.  AS memberikan bantuan sekitar $4-5 miliar antara 1980 – 1992 kepada Mujahidin.  Dana AS diimbangi oleh Arab Saudi dan bersama-sama dengan dukungan dari negara-negara Eropa dan Islam lainnya, Mujahiddin menerima total lebih dari US$10 miliar.

Tahun 1979 tentara Soviet memasuki Afghanistan melalui Turkmenistan, Herat di barat hingga Kandahar di selatan. Bantuan obat2an dan pengobatan dari AS dan Eropa melalui Pakistan, hanya sedikit mencapai Kandahar dan Durani Pashtun di selatan, dibanding yang ditujukan ke wilayah Pashtun Ghilzai di timur dan Kabul. Perlawanan di Kandahar terhadap tentara Soviet, pada awalnya dipimpin oleh para tetua suku Pashtun Durrani dan ulama, bukan kelompok islamis.

Di Peshawar ada 7 partai Mujahidin yang diakui oleh Pakistan dan mendapat bantuan dari CIA. Tak satupun dari Pashtun Durrani. Di Kandahar, ada 2 partai terkuat berdasar kesukuan, yaitu  Harakat-e-Inquilab Islami (Movement of the Islamic Revolution) dipimpin oleh Maulvi Mohammed Nabi Mohammedi dan Hizb-e-Islami (Party of Islam) yang dipimpin oleh Maulvi Younis Khalis. Keduanya mempunyai banyak madrassa di perbatasan Pakistan. Kelompok perlawanan lain yang juga terkenal namun dimusuhi oleh Pakistan dan AS adalah National Islamic Front, yang dipimpin oleh Pir Sayed Ahmad Gailani. Kelompok ini masih berharao kembalinya Raja Zahir Shah, yang telah diasingkan ke Roma oleh Mohammad Daoud Khan, presiden pertama.

Mullah Omar (kelak menjadi pimpinan Taliban) bergabung di Hizb-e-Islami dan Mullah Hassan (kelak menjadi Gubernur di Kandahar) dengan Harakat-e-Inquilab Islami.

27 December 1979, tentara Soviet memasuki Kabul. Presiden President Hafizullah Amin terbunuh di istana. Menguasai Kabul dan mengangkat Babrak Kamal sebagai Presiden.

Perselisihan internal Pashtun mulai terjadi ketika kelompok Islamis mulai meminggirkan struktur kepemimpinan masyarakat lokal Pashtun, demi ideologi Revolusi Islam Afghanistan. Hal ini melemahkan para mujahid Pashtun di masa perang. Para ulama sangat menghormati sejarah awal islami dan sangat jarang menentang struktur kepemimpinan lokal, yang dikenal sebagai Jirga. Dan mereka juga menghormati kaum minoritas. Tahun 1994, kaum tradisionalis dan kaum Islamis saling berperang, hingga kepemimpinan tradisional di Kandahar tersingkir dan gelombang baru kaum Islamis yang ekstrem, berkuasa. Taliban. Mohammed Omar atau lebih dikenal sebagai Mullah Omar, didaulat sebagai Pemimpin.

Asal kata Taliban:

A talib is an Islamic student, one who seeks knowledge compared to the mullah who is one who gives knowledge. By choosing such a name the Taliban (plural of Talib) distanced themselves from the party politics of the Mujaheddin and signalled that they were a movement for cleansing society rather than a party trying to grab power.

Kandahar adalah kota di padang pasir yang temperaturnya di musim panas sangat menyengat, tetapi di sekitar kota itu subur, ladang hijau dan kebun rindang yang menghasilkan anggur, melon, murbei, buah ara, persik, dan delima yang terkenal di seluruh India dan Iran.

Ketika 1990an para pengungsi kembali dari pengungsian di Peshawar, tak ada lagi pepohonan dan saluran irigasi karena sudah diluluh-lantakkan pasukan Uni Soviet. Opium menjadi pilihan usaha perkebunan yang menarik, cepat dan sangat menguntungkan secara finansial bagi banyak pihak dimasa krisis, terutama Taliban.

Uni Soviet mundur. 1989

Dengan mundurnya Soviet 1989, perlawanan tetap dilanjutkan terhadap rejim Najibullah hingga terguling dan tewas 1992. Dan Mujaheďin menguasai Kabul. Namun, kekuasaan tidak jatuh ke Pashtun yang berpusat di pengungsian Peshawar, Pakistan, melainkan ke angkatan perang yang lebih terorganisir, Tajik dibawah Burhanuddin Rabbani, dengan komandan tempurnya Ahmad Shah Masud dan tentara Uzbhek di utara dibawah kepemimpinan Jendral Rashid Dostum. Sangat menyakitkan bahwa Pashtun untuk pertama kalinya setelah selama 300 tahun, kehilangan kekuasaan di ibukota.

 Afghanistan tercabik-cabik sebelum Taliban muncul di akhir 1994. Wilayah terbagi menurut penguasa-penguasa lokal. Dan saling bertempur untuk mengamankan wilayah dan finansial.

Kabul dan lingkungannya serta wilayah timur laut, dikuasai pemerintahan Tajik, dibawah Burhanuddin Rabbani, sedangkan 3 propinsi di wikayah barat yang berpusat di Herat dibawah kekuasaan Ismael Khan. Dan 3 propinsi Pashtun di wilayah perbatasan timur Pakistan dalam kekuasaan konsul independen (Shura) Mujaheddin yang berpusat di Jalalabad. Sementara wilayah kecil di selatan dan timur Kabul dikuasai oleh Gulbuddin Hikmetyar.

Di utara, panglima perang Uzbhek, General Rashid Dostum, menguasai 6 propinsi. Januari 1994, Dostum meninggalkan pemerintahan Rabbani dan bergabung dengan Hikmetyar untuk menyerang Kabul. 

Di Afghanistan Tengah, kaum Hazaras menguasai Bamiyan. Sedangkan Afghanistan Selatan dan Kandahar, dikuasai para mantan panglima perang kecil eks-Mujahidin yang menjarah penduduk.

Pakistan  memberi bantuan militer untuk Hikmetyar. Tapi tidak kepada Durrani (Pashtun di selatan), karena Pashtun di selatan berperang satu sama lain. Tentang kekejaman Pashtun di selatan, Rashid menulis: 

The warlords seized homes and farms, threw out their occupants and handed them over to their supporters. The commanders abused the population at will, kidnapping young girls and boys for their sexual pleasure, robbing merchants in the bazaars and fighting and brawling in the streets.

Bahkan para pengungsi yang baru pulang dari Pakistan, kembali lagi meninggalkan Kandahar, menyeberang ke Quetta, Pakistan.

Taliban bermitra dengan Pakistan. Banyak anggota Taliban adalah siswa madrassa yang dipimpin Maulana Fazlur Rehman, dari partai fundamentalis Pakistan, Jamiat-e-Ulema Islam (JUI), yang sudah lama mendukung Pashtun di Baluchistan dan di wilayah North West Frontier Province (NWFP)

Sejak runtuhnya Uni Soviet, 1991, Pakistan mulai berharap dapat dibukanya jalan darat menuju Central Asia Republics (CARs), sebagai jalur perdagangan. Namun perang sipil membuat harapan tersebut terganggu dan menyebabkan Pakistan dalam dilema: 

  1. mendukung Hikmetyar supaya dapat membawa kelompok Pashtun berkuasa di Kabul dan bersahabat dengan Pakistan, atau 
  2. mendesak semua faksi Pashtun di Afghanistan supaya membuat kesepakatan pembagian kekuasaan, demi perdamaian dan kestabilan Afghanistan

Pilihan kebijakan Pakistan, dengan tujuan segera dapat dibukanya jalan ke Asia Tengah. Jalur tengah: Peshawar (Pakistan) – Kabul – Mazar-e-Sharif – Tirmez – Tashkent (Uzbekistan). Atau jalur barat: Quetta (Pakistan) – Kandahar –  Herat – Ashkhabad (Turkmenistan).

TALIBAN 1994

November 1994, Taliban menguasai Kandahar, kota terbesar ke-2 setelah Kabul, dan wilayah Selatan di perbatasan Spin Baldak – Chaman (Pakistan). Dan setelahnya, sekitar 20.000 warga Afghanistan dan ratusan siswa madrasah Pakistan, yang dikelola oleh mullah Afghan atau partai-partai fundamentalis Pakistan, melintas perbatasan dari kamp-kamp pengungsi di Baluchistan dan NWFP Pakistan, untuk bergabung dengan Mullah Omar. Mayoritas sangat muda – antara 14 dan 24 tahun – untuk ikut berperang. Rashid menggambarkan para pemuda ini berada dalam kehidupan yang muram dan getir, yang sejak lahirnya sudah berada dalam kondisi perang  :

They had no memories of the past, no plans for the future while the present was everything. They were literally the orphans of the war, the rootless and the restless, the jobless and the economically  deprived with little self-knowledge. They admired war because it was the only occupation they could possibly adapt to.

Januari 1995, Hikmetyar bergabung dengan panglima perang Uzbhek jendral Rashid Dostum, di utara dan di Hazaras, Afghanistan tengah, sebagian Kabul. 

5 September 1995, Ismail Kahn dan ratusan tentaranya melarikan diri dari Herat, melintas perbatasan barat memasuki Iran, karena serbuan Taliban. Pemerintah pusat di Kabul, President Rabbani, menyerang kedubes Pakistan karena marah, berhubung Pakistan telah membantu Taliban menaklukkan Herat.

Jatuhnya Herat adalah awal runtuhnya Kabul oleh Taliban. Walaupun pertahanan Masud telah mengakibatkan ratusan Taliban tewas.

Januari 1996, para opposan di utara, seperti Gulbuddin Hikmetyar di Sarobi, Jendral Rashid Dostum di Mazar-e-Sharif dan kelompok Hizb-e-Wahadat di Bamiyan, berkolaborasi dengan rejim Rabani untuk negosiasi perdamaian. Pashtun Taliban di selatan dan barat tetap melawan.

Pakistan khawatir dengan keberhasilan Rabbani dan berusaha merayu panglima perang tersebut diatas untuk bergabung dengan Taliban dan membentuk aliansi anti-Kabul.  ISI memanggil Hikmetyar, Dostum, para pemimpin Pashtun dari Syura Jalalabad dan beberapa pemimpin Hizbut Tahrir ke Islamabad untuk mengajaknya bersekutu dengan Taliban. Pakistan mengusulkan aliansi politik dengan serangan bersama ke Kabul. Taliban menyerang dari selatan, Hikmetyar dari timur dan Dostum dari utara. Namun Taliban menolak untuk berhubungan dengan mereka yang dianggapnya sebagai kafir komunis.

Maret 1996, Rabbani mulai mendekati negara-negara di utara (Turkmenistan, Uzbekhistan, Tajikistan) untuk mengajaknya beraliansi memerangi Taliban. Russia, Iran dan India sudah lama mendukung Kabul karena kekhawatiran menyebarnya fundamentalisme Islam. Iran mendirikan 5 kamp pelatihan di dekat Meshad untuk 5.000 pejuang yang dipimpin oleh mantan Gubernur Herat, Ismail Kahn. Sementara India membantu pembaruan penerbangan nasional Afghanistan, Ariana, yang berpusat di New Delhi, India, untuk kepentingan angkutan pertahanan. India juga membantu kelengkapan peralatan penerbangan, radar dan finansial.

Pakistan dan Arab Saudi banyak membantu Taliban untuk keperluan persenjataan. Juga, penyediaan telepon dan jaringan nirkabel, pembaruan bandara Kandahar, perlengkapan pesawat tempur dan persenjataan. Sementara, bantuan bahan bakar, amunisi dan roket, serta makanan tetap berlanjut. Arab Saudi juga banyak membantu Taluban dalam hal bahan bakar, mobil pick-up dan finansial. Bantuan Arab Saudi banyak dikirim melalui bandara Dubai.

Setelah menguasai Kandahar dan Herat, Taliban memilih Mulah Omar sebagai ‘Amir-ul Momineen’ atau Pemimpin Umat, dan selanjutnya bentuk pemerintahan berubah menjadi Emirate of Afghanistan. Dan pada 4 April 1996, Mullah Omar muncul di atap gedung di Kandahar dengan mengenakan Jubah Nabi Muhammad, yang tetap tersimpan lebih dari 250 tahun dalam museoleum Kirka Sharif, dan hanya diperlihatkan saat pergantian kepemimpinan. 

26 Juni, 1996, Hikmetyar memasuki Kabul untuk pertama kalinya setelah 15 tahun. Posisi Perdana Menteri yang ditawarkan Rabbani, diambilnya. Juga partainya menerima 9 posisi menteri dalam kabinet yang sedang berjalan. Jenderal Dostum juga menyetujui gencatan senjata dan bersedia membuka kembali Jalan Raya Salang yang menghubungkan Kabul dengan bagian utara Afghanistan itu setelah lebih dari setahun ditutup,

Taliban terus menyerang Kabul dengan roketnya. Selama 1996, Taliban telah meluncurkan 866 roket, yang membunuh 180 penduduk sipil. 

26 September 1996, Taliban memasuki Kabul, yang sudah ditinggalkan Menteri Pertahanan Ahmad Shah Massoud dan aparatnya. Ex-Presiden 1986-1992 Najibbullah yang tinggal di kompleks PBB, ditangkap di tempat, dianiaya, dibunuh dan digantung di tiang lampu lalulintas. Brutal.. Dostum, Rabbani dan Masud, selanjutnya menjadi target pembunuhan oleh Taliban. Masud sangat terkenal sejak perang melawan Soviet dan perlawanannya terhadap Taliban, hingga mendapat jukukan ‘Lion of Panjshir’.

Taliban memilih 6 wakil Shura, mayoritas Pashtun Durrani, dan tak satupun dari Kabuli, untuk menyusun pemerintahan di Kabul. Dipimpin oleh Mullah Mohammed Rabbani.

Kesimpulan

Buku yang sangat detail dalam menjelaskan sejarah awal Afghanistan dan Taliban. Dan juga didasarkan pada situasi antara saat mundurnya Uni Soviet 1989 hingga sebelum masuknya angkatan perang AS 2001 ini, bisa disimpulkan bahwa Afghanistan memang telah banyak persoalan, diantaranya:

  1. Perbedaan suku, yang saling berebut dominasi wilayah (war lord)
  2. Pendidikan tertinggal
  3. Perselisihan Sunni – Shiah
  4. Penyebaran Wahabi melalui kekerasan
  5. Campur-tangan negara lain, seperti Pakistan, Arab, AS, Uni Soviet, Iran dalam konflik internal
  6. Kepentingan bisnis AS terkait pemipaan gas dari Central Asia ke Pakistan melalui Afghanistan
  7. Kesulitan ekonomi hingga merebaknya perdagangan ophium

Masih banyak hal yang bisa diperoleh dari buku ini. Peringatan yang bagus disampaikan Ahmed Rashid di akhir bukunya, adalah sbb.:

The Taliban will remain a danger to the world until local Muslim governments and the West commit to the effort needed to combat extremism as well as to deal with the outstanding problems of poverty, economic malaise, lack of education and joblessness amongst the populations of the region. A vast new social and economic development programme is needed not just in Afghanistan but also in Pakistan and Central Asia if there is to be a long-term answer to the threat posed by the Taliban and Al Qaeda that emanates from the region.

Tak jelas lagi update berita tentang Afghanistan di tahun 2022, setelah AS hengkang dari Afghanistan. Semoga tak ada lagi bom meledak dan penembakan seperti kasus Malala, dan rakyat Afghanistan menjadi lebih aman makmur. 

Tautan

How Afghans’ Stern Rulers Took Hold

Rumblings that TAPI Will Commence in 2021

Ahmed Rashid

Presiden Mohammad Najibullah

Burhanuddin Rabbani

Mohammed Omar

Herat is the cultural heart of Afghanistan. Can it survive the Taliban?

Cloak of Muhammad

Ahmad Shah Massoud

Read Full Post »

Ini buku lama yang sudah dibaca, namun baru sekarang didokumentasikan dalam blog ini. Ingatan yang semakin buruk perlu dilatih dengan membaca ulang dan menulisnya :).

Momen perang Rusia-Ukraina menjadi kesempatan bagus untuk menyegarkan ingatan tentang Rusia. Setelah membaca buku A Russian Diary karya Anna Politkovskaya, menikmati film serial Netflix, The Last Czars tentang revolusi Russia, lalu film Stalin dan kemudian Trotsky, cukup membantu ingatan betapa getir kondisi sosial masyarakat Rusia saat itu. Film berdasar novel karya Boris Pasternak, Doctor Zhivago dan Anna Karenina karya Leo Tolstoy, juga sempat beberapa kali dinikmati, termasuk juga beberapa cerita pendek karya Anton Chekov, Nikola Gogol dan Fyodor Dostoevsky. Sebagai pencerah untuk memahami budaya di masanya. Sepertinya benar kata Sergei Magnitsky, korban pembunuhan aparat hukum Rusia, 2009, dalam buku Red Notice karya Bill Browder, “Russian stories never have happy endings”. Muram.

Kesewenang-wenangan kekuasaan, kegagalan penanganan penyanderaan di Sekolah Beslan dan Theater Moscow, yang memakan banyak korban jiwa, kegagalan penyelamatan Kapal Selam Nuklir Kursk, pengkhianatan, penyingkiran siapapun yang dicurigai sebagai rival, perampasan asset, hingga berbagai pembunuhan lawan politik, menjadi tumpukan daftar hitam yang dikenakan terhadap Putin dalam buku ini. Brutal. Benarkah? Baca bukunya… Baca buku Death of a Dissident tentang pembunuhan Alexander Litvinenko. Atau, baca juga dalam blog ini tentang pembunuhan Anna Politkovskaya, jurnalis perang.

Pembuka

Buku karya Masha Gessen yang diterbitkan pada 2012, berjudul “The Man Without a Face” ini menambah daftar cerita getir di masa perubahan Soviet – Rusia. Buku ini mencakup kisah di awal tahun 90an hingga 2011. Dimulai ketika Gessen masih berusia 24 tahun dan Rusia masih dalam kekacauan runtuhnya pemerintahan komunis Uni Soviet. Vladimir Putin menjadi tokoh utama buku ini, di dalam carut-marut panggung kekuasaan politik Rusia. 

Pembunuhan politis aktivis demokrasi dan anggota Duma, Galina Starovoitova, pada 20 November 1998, di luar gedung apartemennya, menjadi kasus pembuka dalam deretan daftar hitam Rusia, pasca runtuhnya Uni Soviet, yang diceritakan dalam buku ini. Galina adalah akademisi politik, yang mulai bersinar sebagai politisi sejak terjadinya konflik etnik Armenia di Azerbaijan. Punya kedekatan politis dengan Andrei Sakharov dan menjadi penasihat presiden Boris Yeltsin untuk urusan etnis.

Kemunculan Putin

Boris Yeltsin adalah Presiden pertama Rusia yang dipilih pertama kalinya pada tahun 1991. Memenangkan kembali pada pilpres 1996. Kekuasaan otoritarian, nepotisme dan inflasi tinggi di tahun 1998 serta hilangnya harapan perbaikan kesejahteraan, menyebabkan merosotnya kepercayaan publik terhadap Yeltsin. Bahkan hanya menyisakan 2% kepercayaan publik. 

Muncul partai Otechestvo—Vsya Rossiya (Fatherland—All Russia) pada 28 August 1999, yang disponsori oleh para presiden negara federal, gubernur dan walikota. Dipimpin oleh Yevgeny Primakov, Yury Luzhkov dan Vladimir Yakovlev. Sebagai Oposisi dari kekuasaan Yeltsin. Fatherland mendukung Vladimir Putin (Leningrad 1952) dalam pemilihan Presiden tahun 2000.

Boris Berezovsky, PhD. pengusaha kaya Rusia, yang bergerak dalam bidang perbankan, perminyakan, perdagangan mobil dan pemilik Channel One, televisi yang sangat populer di Rusia; turut berinvestasi untuk kesuksesan Yeltsin sebagai Presiden dalam pilpres 1996. Dia juga berperan sangat penting terkait munculnya Vladimir Putin sebagai kandidat Presiden. Berezovsky mengenal Putin pada tahun 1990, ketika berencana mengembangkan bisnisnya di Leningrad. Putin yang saat itu sebagai deputi dewan kota, membantunya. Kedekatan itu berlanjut di tahun 1996 ketika Putin mendapat jabatan administratif di Kremlin, Moscow. 

Putin, yang saat itu sebagai Kepala FSB—the Federal Security Service, berpangkat Kolonel, direkomendasikan oleh Berezovsky kepada kepala staf Presiden, Valentin Yumashev, untuk menggantikan Yeltsin sebagai Presiden. Sedangkan Yeltsin yang sedang khawatir akan tuntutan hukum karena kebangkrutan ekonomi, inflasi tinggi dan nepotisme, berharap Putin, yang loyal dan tidak berasal dari Partai Komunis, menjadi penggantinya. Dan mempercayainya bahwa tidak akan memperkusinya bila saatnya nanti mengundurkan diri sebagai Presiden Rusia. Pada 9 Agustus 1999, Yeltsin mengangkat Putin sebagai Perdana Menteri. Disetujui oleh Duma.

Mulai 31 Agustus 1999, banyak terjadi bom meledak di Rusia. Total tewas karenanya lebih dari 350 orang. Gerilyawan Chechnya menjadi tertuduh. Dengan anggapan sikap Yeltsin yang lunak terhadap Chechnya, pada 23 September 1999, banyak Gubernur Federal Rusia menyurati Presiden Yeltsin untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada Putin. Putin memerintahkan tentara Rusia mempersiapkan diri untuk menyerang Chechnya. Sikap tangan besi dan pidatonya yang tegas, menjadikannya popular. 

“We will hunt them down. Wherever we find them, we will destroy them. Even if we find them in the toilet. We will rub them out in the outhouse.”

Yeltsin pada 31 Desember 1999 mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Selanjutnya Putin sebagai Perdana Menteri, secara hukum menjadi Pelaksana Tugas Presiden.

Masa Muda Putin

Runtuhnya Berlin Wall

Putin lahir di Leningrad, 7 Oktober 1952. Lingkungan sosial Putin di masa mudanya, penuh dengan kekerasan. Lingkungan preman. Lulus SMA dengan nilai bagus. Melanjutkan di Universitas Leningrad. Tahun 1984 belajar intelijen di KGB Moscow.  Menikah di usia 31 tahun dengan Ludmila. Tahun 1985, Putin (35 thn) bersama istri dan kedua putrinya, ditugaskan di Direktorat S, Illegal Intelligence-Gathering Unit, Dresden, Jerman Timur.

Agustus 1989, ribuan penduduk Jerman Timur menuju Eropa Timur (Prague, Budapest, Warsawa) menggunakan kereta-api, mencoba menyeberang ke Barat via kedubes Jerman Barat di kota-kota tsb. Saat Putin berulang tahun yang ke-37, pada 7 Oktober 1989, kerusuhan besar terjadi di Berlin Timur. Lebih dari 1.000 orang ditahan. 

Pada 9 November 1989, Berlin Wall runtuh. Moscow diam. Tahun 1990, Putin kembali ke Leningrad, Rusia. Merasa dikhianati pemerintahnya.

Runtuhnya Komunis

Mikhail Gorbachev, Boris Yeltsin dan Vladimir Putin

Mikhail Gorbachev memimpin Uni Soviet 1985. Mencanangkan Perestroika (restrukturisasi) dua tahun kemudian. Desember 1986, penerima Nobel Perdamaian Andrei Shakarov dibebaskan kembali ke Moscow, setelah dalam pengasingan selama hampir 7 tahun di Gorky. Januari 1987, Gorbachev kembali mencanangkan jargon baru Glasnost (keterbukaan). Satu bulan kemudian, Gorbachev membebaskan 140 tahanan politik.

Perlu dipahami bahwa Gorbachev tidak bermaksud membubarkan Uni Soviet atau mengakhiri Partai Komunis, melainkan memodernisasikan ekonomi dan memperbaiki kondisi sosial masyarakat, tanpa secara radikal mengubah dasar negara. Namun tanpa disadarinya justru berakibat runtuhnya Uni Soviet. 

Ibarat bendungan besar yang menampung penuh air, Gorbachev telah membuat celah kecil Glasnost dan Perestroika yang menyebabkan air deras bertekanan besar menembusnya. Jebol. 

“We could no longer breathe among the lies, the hypocrisy, and the stupidity. There was no fear. And as soon as the first rays of light seemed to break through—as soon as people whose hands had been tied were allowed to move at least a few fingers—people started to move…”

Unjukrasa pada 10 Desember 1987 adalah aksi damai pertama kalinya yang tidak dibubarkan oleh polisi Leningrad (St. Petersburg). Selanjutnya, aksi Kebebasan Berekspresi berlangsung regular setiap Sabtu dengan sebutan Hyde Park di Mikhailov Gardens, Leningrad. Dengan aturan, setiap pembicara diberi waktu selama 5 menit. Topik bebas, namun tidak propaganda perang atau kekerasan. Karena belum ada kebebasan media massa, journalis dipersilahkan hadir namun tidak diijinkan menyebar-luaskan beritanya.

Tahun 1988 menjadi penting karena terbentuknya People’s Front, tersebar di lebih dari 30 kota di Uni Soviet. Organisasi yang dibentuk secara demokratis untuk misi demokratisasi, yang cukup longgar keanggotaannya. Disini muncul geologist perempuan demokratis yang dianggap tidak seperti lazimnya politisi Uni Soviet dan menjadi tenar, Marina Salye, PhD. Bujangan berusia 50 tahunan yang selalu muncul di depan pada setiap unjuk rasa. Impresif. Memimpin Komite Election-89. Sebuah komite yang melakukan pemilihan umum untuk menentukan wakil-wakil daerah.

Pada akhir tahun 1988 ini juga menjadi momen penting terjadinya konflik etnik masyarakat Armenia di daerah Nagorno-Karabakh, Azerbaijan yang ingin memisahkan diri dan bergabung dengan Armenia. Kaukasus Uni Soviet. Dalam kasus ini, People’s Front mulai berperan. Banyak aktivis demokrasi ditangkap aparat pemerintah Leningrad, Uni Soviet. Dalam momen ini aktifis Galina Starovoitova, ditembak di luar apartemennya. Tewas.

Transformasi Soviet lambat bergerak namun terus terjadi tak terbendung. Unjuk rasa masih terjadi, walaupun penangkapan juga terus berlangsung. Acak. Sensor media mulai kendor. Novel Dr. Zhivago karya Boris Pasternak mulai boleh diterbitkan. Namun sastrawan penerima Nobel 1970, Alexander Solzhenitsyn yang karyanya banyak mengkritisi Partai Komunis, masih tetap ditahan.

Partai Komunis di Leningrad kalah dalam Pemilu Maret 1989. Antropolog Galina Sarovoitova berada dalam satu kubu dengan Andrei Sakharov (wafat 14 Desember 1989) di fraksi pro-demokrasi, yang bertujuan mengakhiri Partai Komunis. Pro-demokrasi memenangkan 120 kursi, dari 400 kursi yang dipilih (30%). Fraksi lain adalah yang dipimpin Boris Yeltsin dan profesor hukum Anatoly Sobchak. 

Kudeta militer

Pada 19 Agustus 1991, penguasa distrik militer Leningrad, Jendral Viktor Samsonov sebagai representatif the State Committee for the State of Emergency in the USSR (GKChP SSSR) regional, menyatakan secara resmi di televisi bahwa negara dalam keadaan Darurat. Namun pimpinan Dewan Kota membantahnya karena tidak ada dokumen resmi. 

Gorbachev dinyatakan sakit, yang sejatinya berada dalam tahanan rumah peristirahatan di Laut Hitam, Foros. Kudeta militer. Sementara Yeltsin tetap berada di rumahnya, pinggir Moscow. Walaupun surat penangkapan telah disiapkan oleh Komite Darurat, namun tak pernah diterimanya. Aparat terpecah. 

Kudeta militer 1991

Sobchak, walikota Leningrad yang dilantik Juni 1991, mentor Putin dan Medvedev, sangat berperan dalam kekisruhan politik. Bermain dua kaki. Bersama Putin dia bekerjasama dengan aparat militer untuk meredam aksi demokrasi massa. Berbeda dengan Leningrad dibawah Sobchak, Dewan Kota Moscow justru sangat mendukung sikap Walikota untuk mematikan listrik, telepon dan air di gedung GKChP SSSR. Mendukung massa demokrasi. Kudeta militer gagal.

Tanggal 22 Agustus 1991, resmi bendera Russia adalah putih, biru, merah. Menggantikan bendera Uni Soviet, merah bergambar palu-arit.

Banyak menyisakan pertanyaan dari gagalnya kudeta tersebut.

So what was it? Why did the coup, so many months in the making, fall apart so easily? Indeed, why did it never really take off? Why were the democratic politicians, with the exception of Gorbachev, allowed to move around the country freely and have telephone contact? Why were none of them arrested? Why, in the three days that they ostensibly held power in the Soviet Union, did the hard-liners fail to capture the main communication or transportation hubs? And why did they fold without a fight? Was the coup simply a mediocre attempt by a group of disorganized failures? Or was there something more complicated and more sinister going on? Was there, as Salye ultimately came to believe, a carefully engineered arrangement that allowed Yeltsin to remove Gorbachev and broker the peaceful demise of the Soviet Union but also placed him forever in debt to the KGB?

Putin di Leningrad (St. Petersburg)

Sebagai deputi Walikota Leningrad, Putin berada pada Komite Hubungan Luar Negeri, yang bertanggungjawab untuk pengadaan makanan dari luar negeri. Mengingat ekonomi warisan Uni Soviet sedang terpuruk, inflasi tinggi dan nilai mata uang Rubble sangat rendah terhadap $, Leningrad tidak punya cukup uang untuk menghidupi dirinya. Namun, Rusia mempunyai banyak sumberdaya alam untuk dapat diperdagangkan ke luar negeri. 

Laporan Salye (Salye banyak menjadi rujukan dalam penulisan buku ini) yang ditujukan kepada Dewan Kota dan Presiden Yeltsin, menyatakan bahwa departemen Putin banyak mendapat kontrak ekspor yang nilainya bisa mencapai $92 miliar. Salye juga menemukan bukti-bukti bahwa beberapa ekspor komoditi sumberdayaalam seperti aluminium, minyak dan kapas, bernilai ratusan juta dollar, dilakukan tanpa mendapatkan hasil barter berupa makanan seperti yang telah direncanakan. Laporan tidak ditindaklanjuti.

Vladimir Putin membawakan kopor Walikota St. Petersburg Anatoly Sobchak (depan), 1992.

Gessen juga menceritakan bahwa para pejabat di masa kekacauan tersebut begitu bebasnya berbagi asset negara dikalangan mereka. Sebagaimanan Putin sebagai Deputi Walikota dan Sobchak, sang Walikota Leningrad melakukannya. 

Sobchak kalah dalam pemilu Walikota 1996. Putin sebagai manager kampanyenya. Di masa kepemimpinan Sobchak, tiga perempat penduduk Leningrad berada dibawah garis kemiskinan. Namun Putin sebagai Deputi yang juga berdarah KGB, berusaha untuk tetap mengelola Leningrad secara sentralisasi pada  sistem finansial, perdagangan luar negeri/domestik dan arus informasi media, pada kota terbesar kedua di Rusia tersebut. Tetap dalam model Uni Soviet. 

Sementara Sobchak, sang Mentor, lengser dari kursi Walikota dan menghadapi ancaman tuntutan pidana korupsi, Putin pindah posisi untuk mengelola istana Presiden di Moscow. Bidang yang rendah publisitas, namun akses ke kekuasaan semakin tinggi. Sobchak selamat dari tuntutan hukum. Dengan alasan kesehatan, Sobchak diselamatkan Putin untuk dirawat di Paris, Perancis.

Musim panas 1999, Sobchak kembali ke Russia. Menjadi manajer kampanye Putin sebagai kandidat Presiden. Meninggal di hotel, Kaliningrad, pada 20 Februari 2000 saat kampanye, karena serangan jantung. 

Tahun 2007 Arkady Vaksberg, dokter yang merawat Sobchak saat di Perancis, menerbitkan buku tentang kasus-kasus kematian politikus yang disebabkan karena keracunan di Uni Soviet dan Rusia. melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa kematian Sobchak akibat menghisap uap racun yang berasal dari bola lampu panas di sebelah tempat tidurnya. Beberapa bulan setelah terbitnya buku tersebut, mobil Vaksberg yang sedang berada dalam garasinya di Moscow, meledak. Selamat, karena dia tidak berada di dalamnya. 

Pemerintahan Presiden Putin

Pelantikan Putin, 7 Mei 2000

Pelantikan Putin sebagai Presiden Rusia ke-2 dilakukan pada tanggal 7 Mei 2000, setelah memenangkan Pilpres Rusia yang pertama (Yeltsin, presiden Rusia ke-1 memenangkan Pilpres saat masih berada pada pemerintahan Uni Soviet) dengan jumlah suara pemilih 52% pada putaran pertama. Gossen yang saat pemilihan sedang berada di Grozny, menulis tentang adanya banyak suara untuk Putin yang tidak sah, dalam bab 7 buku ini yang berjudul THE DAY THE MEDIA DIED. Mikhail Kasyanov, birokrat karir di era Yeltsin yang kemudian menduduki posisi tertinggi sebagai Menteri Keuangan, dipilih Putin sebagai Perdana Menteri.

Tanpa butuh waktu lama, setelah pelantikannya sebagai Presiden, Putin segera mengeluarkan beberapa Dekrit Presiden baru untuk menegaskan otoritasnya, yaitu:

  • Memberi impunitas terhadap Presiden Yeltsin terhadap tuntutan hukum
  • Menegaskan doktrin militer Rusia bahwa berhak menggunakan senjata nuklir untuk melawan agresor
  • Pelatihan sebagai tentara cadangan untuk mereka yang sehat
  • Pendidikan militer bagi anak sekolah
  • Peningkatan anggaran Pertahanan sebesar 50%

Dua hari setelah pelantikannya, penggerebekan dilakukan aparat polisi terhadap kantor pusat media cetak dan elektronik Media-Most, milik Vladimir Gusinsky. Tempat Masha Gessen bekerja sebagai jurnalis. Banyak dokumen diambil aparat. Vladimir Gusinsky ditangkap pada 13 Juni 2000 dengan tuduhan masalah privatisasi perusahaan Russkoye Video, yang sebelumnya dimiliki oleh Dmitry Rozhdestvensky. Tuduhan yang mengada-ada. 

Pada tanggal 29 Februari 2000, Masha Gessen menelepon kantor kejaksaan untuk mencari informasi tentang kasus Russkoye Video. Dijawab dengan ancaman, 

“Leave it alone. Believe me, Masha, you don’t want to get any deeper into this. Or you’ll be sorry.” Rozhdestvensky’s case did not meet the formal criteria for being a “very important case,” but it was clearly very important to a very important person.

Sepertinya ada kasus antara Dmitry Rozhdestvensky dengan Putin. Silahkan dibaca bukunya, mulai hal. 156.

Vladimir Gusinsky dipenjara selama 3 hari, untuk kasus tersebut diatas. Bebas dan melarikan diri ke luar negeri. Pengungsi pertama di pemerintahan Putin. Lima minggu setelah pelantikannya sebagai Presiden.

Penggerebekan yang dilakukan oleh banyak aparat bersenjata untuk mengambil paksa banyak dokumen resmi dari suatu kantor bisnis, Tujuan akhir adalah pengambil-alihan private bisnis oleh pemerintah. Sering terjadi di tahun 1990an. Dengan tuduhan yang sumir.

Kegagalan Rusia dalam menyelamatkan sandera di sekolah Beslan. Tewas 333 orang.

Kasus tragis yang juga terjadi pada periode pertama pemerintahan Putin adalah penyanderaan anak sekolah di Beslan pada 1 Seprember 2004. Korban tewas sebanyak 333 orang, termasuk 186 anak-anak, seperti ditulis dalam Wikipedia, Beslan school siege .

Kebijakan baru yang dicanangkan Putin setelah terjadinya penyanderaan anak sekolah di Beslan tersebut, adalah Gubernur dan Walikota Moscow, tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, namun dipilih oleh Presiden. Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipilih oleh Partai melalui Pemilu Partai. Persis seperti Indonesia dimasa yang lalu.

Channel One sebagai media televisi nomer satu di Rusia, milik Boris Berezovsky (mantan chief of staff Yeltsin) juga menjadi korban rampasan pemerintah. Pemberitaan tragedi kapal selam Kursk, yang cukup rinci diceritakan dalam buku ini, dianggap telah mempermalukan Putin, menjadi penyebabnya. Tiga bulan setelah pelantikan Presiden, dua pengusaha kaya Rusia telah disingkirkan dari bisnisnya. Tak sampai satu tahun pemerintahan Putin, tiga jaringan televisi swasta telah diambil pemerintah. Kesewenangan kekuasaan.

Kasus perampasan juga terjadi pada perusahaan minyak bercadangan sangat besar, Yukos. Milik Mikhail Khodorkovsky. Dengan alasan penyelewengan pajak, Platon Lebedev, CEO perusahaan induk Yukos, ditangkap pada tanggal 2 Juli 2003. Melarikan diri ke Israel. Khodorkovsky ditangkap di Moscow, 25 Oktober 2003 dan dikenai ancaman pidana 9 tahun penjara. Banyak pihak menganggap bahwa kesalahan Khodorkovsky bukan tentang pajak, melainkan karena dia mengungkap data korupsi pemerintahan Putin pada Februari 2003 dan menyumbang Partai Komunis. Rosneft, perusahaan minyak negara akhirnya menguasai Yukos melalui lelang dari pihak ketiga dengan harga sangat murah. Hal. 242-254.

Kasus bisnis yang menjadi sorotan media di Eropa dan Amerika Serikat pada periode kedua pemerintahan Putin, adalah kasus besar perampasan perusahaan manajemen aset di Moscow milik Bill Browder, Hermitage, yang berkantor pusat di London. Ini adalah tindak kriminal aparat pemerintah yang melibatkan instansi pajak, merampas uang setoran pajak Hermitage sebesar $230 juta, milik rakyat Rusia. Berujung pada tewasnya Sergei Magnitsky, konsultan pajak Hermitage di penjara. Setelah mengalami penyiksaan dan tanpa mendapat perawatan kesehatan. Sebagian cerita bisa dibaca dalam bab 10, berjudul INSATIABLE GREED. Sedangkan cerita lengkapnya bisa dibaca dalam buku Red Notice, karya Bill Browder, yang ringkasannya ada dalam blog ini juga, dengan judul yang sama, Red Notice.

Kasus yang cukup viral juga di media Barat saat periode kedua pemerintahan Putin adalah, tewasnya whistleblower, mantan letkol KGB (41 thn), Alexander Litvinenko di London pada tanggal 23 November 2006. Racun adalah penyebab kematian politis yang lazim terjadi dimasa itu. Kisah yang cukup rinci diceritakan dalam bab RULE OF TERROR.

The simple and evident truth is that Putin’s Russia is a country where political rivals and vocal critics are often killed, and at least sometimes the order comes directly from the president’s office.

Istana Putin bernilai miliaran dollar

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana Putin begitu rakusnya memperkaya diri menggunakan kekuasaannya. Korupsi. Skema bisnis diaturnya dengan melibatkan para pengusaha kaya seperti Roman Abramovich hingga berdirinya Istana Putin di Laut Hitam. Sergei Kolesnikov yang pada awal 1990an sebagai operator bisnis Putin, pada akhirnya membongkar kasus korupsi tersebut dan viral dengan judul Putin’s Palace. Tayang di youtube dengan judul A palace for putin. The story of the biggest bribe.

Kekecewaan para pro-demokrasi pada masa periode kedua Putin terus berlanjut hingga Medvedev menjadi Presiden dan Putin sebagai Perdana Menteri. Dan Masha Gessen pun berganti gaya perjuangan demokrasi di tahun 2012  dengan tulisan berikut ini,

Friends comforted me with assurances that telling the West about Russia was a better use of my time than placing my body in a Moscow street protest. Hal. 290.

Ternyata, kekuatan Putin bersama aparatnya memang tak tertandingi hingga saat ini, 2022.

Rekomendasi

Masha Gessen

Dalam bab 2 buku ini yang berjudul THE AUTOBIOGRAPHY OF A THUG, banyak ditemukan Logical Fallacy dari Gessen yang mengganggu, karena memberi kesan subjektivitas tinggi dalam menjelaskan suatu fakta. Misalnya: 

Hal. 41:

I could now believe the FSB had most likely been behind the deadly bombings that shook Russia and helped make Putin its leader.

Hal. 45:

The younger Vladimir Putin’s birth was another miracle, so unlikely that it has given life to the persistent rumor that the Putins adopted him.

Hal. 145

Putin had not made any political pronouncements—and this, he and his spin people seemed to think, was a virtue: he felt that dancing for his votes was beneath him.

Masih ada beberapa kalimat atau penjelasan dengan nada sejenis ditemukan dalam bab ini. Pengalaman buruk terhadap kehidupan sosial masa muda Putin melalui cerita ataupun fakta yang dituliskan dalam buku ini, sepertinya menyebabkan munculnya prasangka buruk penulis diatas. Mestinya fakta yang perlu disampaikan, bukan believe, rumor atau feel (Appeal to Emotion dan Appeal to Authority). Gessen juga bukan berlatar pendidikan psikologi yang punya pengetahuan tentang analisis karakter seseorang. Oleh karenanya, pembaca perlu berhati-hati bila menemukan hal yang sama di bagian lain.

Terlepas adanya banyak fakta sejarah kelam tentang sepak-terjang Putin yang ditunjukkan dalam buku ini, narasi kebencian yang menggiring persepsi pembaca ke ranah abu-abu, juga terasa dalam beberapa kalimat yang dipergunakan penulisnya.

Pada akhirnya, ‘kebencian’ Gessen terhadap Putin memang sangat mewarnai buku ini sehingga bisa disimpulkan bahwa buku ini bukan sepenuhnya Reportase, tapi lebih tepatnya adalah Opini atau bahkan propaganda buruk Gessen tentang Putin. Namun demikian, buku ini masih layak baca untuk mendapatkan fakta sejarah tentang Rusia pasca Uni Soviet dan gaya pemerintahan Putin, namun kehati-hatian pembaca masih sangat diperlukan untuk tidak terperangkap dalam opini penulisnya.

Tautan

Boris Yeltsin

1989 Soviet Union legislative election

Read Full Post »

Pengantar

Red Square

Eropa Timur entah kenapa, selalu menarik untuk dipelajari dan dikunjungi. Sejarahnya, arsitekturnya, bahasanya, orangnya dan cerita-cerita seram terkait kehidupan politiknya, semuanya terasa sexy untuk “dinikmati“. Beruntung sempat melancong ke Budapest, Bratislava, Praha, Warsawa dan Krakow di tahun 2017 dan mengunjungi Moscow serta Petersburg pada awal tahun 2020 sebelum era Covid-19. Sangat terasa bila akhir-akhir ini melihat siaran tv RT (Russian Today channel), sebelum ditutup channelnya. Berita tentang perang Rusia-Ukraina di channel RT sungguh berbeda dibanding saluran tv lainnya. Menarik channel RT ini, karena berbeda dengan keseragaman substansi berita dari channel tv lainnya yang cenderung berkiblat ke Barat, seperti CNBC, CNN, Fox, BBC dll. Sayang, channel RT yang bisa jadi satu-satunya penyeimbang berita dunia justru sempat ditutup. 

Setelah sempat membaca beberapa buku tentang perubahan politik era Gorbachev, Yeltsin dan Putin, seperti karya Masha Gessen yang berjudul The Man Without a Face, kemudian mengulas film serial Netflix The Last Czars tentang revolusi Russia dan buku A Russian Diary karya Anna Politkovskaya, kali ini blog menyajikan tulisan tentang buku berjudul Red Notice karya Bill Browder. Ini tentang kisah nyata penulisnya sebagai pengusaha investasi yang mengalami tindak kesewenang-wenangan kekuasaan pemerintah dan sekaligus kekuasaan oligarki bisnis di Russia paska USSR, bahkan hingga memakan korban tewas karena penyiksaan oleh aparat pemerintah.

Pendahuluan

Buku ini dibuka dengan bab kejadian saat Bill Browder tertahan di imigrasi bandara Sheremetyevo, Moscow, 13 November 2005. ketika kembali dari London. Setelah luntang-lantung di bandara tanpa penjelasan dari pihak imigrasi maupun Kedubes Inggris, selama 15 jam, akhirnya digiring oleh petugas keamanan masuk ke dalam pesawat penerbangan pertama menuju London. Deportasi. 

Browder lahir 1964, warga AS, lulusan MBA dari Standford University. Turunan keluarga pintar. Kakeknya adalah pimpinan Partai Komunis AS dan sempat menjadi kandidat Presiden tahun 1936 dan 1940. Kalah tentunya. Felix, ayahnya, lahir di Rusia dan masuk MIT di usia 16 tahun dan menyandang PhD di universitas Princeton pada bidang matematika di usia 20 tahun. Tahun 1999 Presiden Clinton menganugerahi National Medal of Science. Penghargaan tertinggi untuk bidang matematik. Ibunya, Eva, kelahiran Wina, juga alumni MIT. Kakaknya, Thomas, menyandang gelar PhD dari Universitas Chicago, bidang fisika partikel, di usia 19 tahun.

Pernah bekerja di Bain & Company, Boston, setelah lulus undergraduate dari Chicago University. Dan, Agustus 1989, Boston Consulting Group (BCG) menjadi tempat kerja Browder pertama kalinya setelah lulus dari Standford University. Eropa Timur adalah wilayah kerjanya dan BCG London menjadi kantor pusatnya. 

Cerita sukses

Cerita sukses dimulai pada Oktober 1990, dari proyek restrukturisasi perusahaan bus Autosan, di Sanok, Polandia. Autosan ini menjadi sumber pendapatan utama penduduk Sanok. Runtuhnya komunis menyebabkan banyak bangkrutnya perusahaan milik negara. Autosan yang menghasilkan pendapatan sebesar $160 juta tahun sebelumnya, ditawarkan pemerintah seharga $80 juta saja. Privatisasi yang disarankan BCG dan dengan sebagian subsidi pemerintah, berhasil menaikkan harga saham Autosan. Sukses.

Maret 1991, Browder pindah kerja ke Mergers & Acquisitions Europe atau M&A Europe. Robert Maxwell adalah pemiliknya, yang juga memiliki Daily Mirror. Berbagai negara bekas Uni Soviet telah dikunjungi dan ratusan kesepakatan bisnis juga telah dipelajarinya. Pilihan investasi menjadi tanggungjawabnya. Robert Maxwell ditemukan tewas dilaut. Cek £ 50.000 sebagai Bonus akhir tahun diperoleh Browder. Cek Kosong 😦 Dana Pensiun sebesar £460 juta telah digunakan Robert Maxwell untuk mendongkrak harga saham M&A. Sebanyak 32.000 pensiunan kehilangan simpanannya. Tragis. Maxwell’s was the biggest corporate fraud in British history.

Salomon Brothers yang sedang ditinggalkan karyawannya di pertengahan tahun 1992, karena tersandung masalah hukum, menjadi peluang baginya untuk berkarir. Meskipun bukan perusahaan yang cocok dengan mimpinya. 

My dream was to be an investor – the person deciding what shares to buy – not an investment banker, the guy organizing the sale of shares.

Murmansk Trawler Fleet, perusahaan perikanan di Murmansk, Russia, yang beroperasi 200 mill di sebelah utara lautan Artic. Ada seratusan kapal penangkap ikan buatan Jerman Timur berumur 7 tahun, masing-masing seharga  $ 20 juta, atau total seharga $ 2 miliar, dimiliki perusahaan ini. Mereka menawarkan 51% kepemilikan seharga $ 2.5 juta SAJA, untuk barang senilai $ 1 miliar. 

Di masa transisi dari era komunis ke kapitalis, Russia membagikan Voucher Privitasi untuk penduduknya yang berjumlah 150 juta orang. Harga pasar voucher tersebut adalah $ 20 per voucher. Atau Total = $ 3 milyar. Total voucher bernilai 30% kepemilikan semua perusahaan negara. Artinya, valuasi semua perusahaan negara HANYA bernilai $ 10 milyar. Bayangkan, itu sudah termasuk harga 24% cadangan gas alam dunia ($15T?), 9% cadangan minyak dunia ($15T?), 6,6 % produksi baja dunia. OMG. 

Salomon Brothers invest $25 Juta. Tidak lama kemudian, portofolio sudah naik 5 kalinya menjadi $125 Juta. Untung $100 Juta. Luar biasa. Browder menjadi pahlawan Salomon.

Tahun 1995, Browder keluar dari Salomon Brothers, membangun usaha investasi sendiri, Hermitage Capital. Edmond Safra, papan atas didunia private banking AS, pemilik Republic National Bank, New York, menjadi klien pertama yang bersedia untuk invest sebesar $25 juta. 

Di tahun ini adalah masa persiapan pilpres yang akan diselanggarakan pada tahun 1996. Boris Yeltsin mencalonkan diri lagi dengan kompetitor Gennady Zyuganov. Kondisi sosial masyarakat Russia sangat buruk. Hiperinflasi, unjuk-rasa, kekurangan makanan bahkan kriminal jalanan meningkat. Ada 22 oligarki menguasai 39% ekonomi Russia dan sisanya masyarakat miskin. Di Davos, dalam kesempatan World Economic Forum, Browder bertemu Boris Fyodorov, mantan Menteri Keuangan Russia 1993-1994, serta 3 oligar Boris Berezovsky, Vladimir Gusinsky dan Anatoly Chubais. Yang saat itu belum disadarinya dan ‘Deal with the Devil’ telah terjadi. Para oligar ini akan mengerahkan media dan seluruh sumber dananya dengan balasan mengelola semua aset negara yang belum diprivatisasi. 

Dengan naiknya posisi Yeltsin sebagai kandidat Presiden Russia, menjadi 28%, panic buying terjadi di pasar saham. Dalam tempo 3 minggu, saham Edmond Safra berharga beli $5 juta di Hermitage Capital telah meningkat 40% harganya. 

Hasil perhitungan pilpres putaran ke-2 pada tanggal 3 Juli 1996, dimenangkan Boris Yeltsin dengan selisih 14%. Harga saham melonjak pesat. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, telah meningkat 125%.

Perusahaan minyak Sidanco yang dimiliki oleh milyarder oligarki Vladimir Potanin, yang juga menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri, menjadi target investasi Hermitage berikutnya. Sidanco menawarkan 4% kepemilikannya dengan harga $36.6 juta. Dengan cadangan minyak Sidanco sebesar 6 Milyar barrel, maka harga perusahaan Sidanco adalah $915 Juta. Artinya, 4% kepemilikan atau 240 Juta barrel di dalam tanah itu dijual hanya dengan harga $0.15/barrel saja. Sedangkan harga minyak di pasar global saat itu $20/barrel. Wooww … Hermitage inves 1.2% ķepemilikan Sidanco, atau $11 juta.

British Petroleum (BP) pada Oktober 1997 membeli 10% saham Sidenco (dari 96%) dengan harga premium, 600% dari harga beli Hermitage di tahun sebelumnya. Browder untung besar.

Awal kekacauan

Januari 1998, Sidanco melakukan tindakan skema financial “dilutive share issue” dengan cara menerbitkan lebih banyak saham hingga 3x lipat. Ini berakibat kepemilikan Hermitage 2.4% terdilusi hingga hanya menjadi 0.9%. Atau kehilangan $87 juta. Skandal Sidanco di pasar saham Russia yang mendunia mulai tersebar cepat. Dimulai dari Financial Times, kemudian Reuters, Bloomberg, Wall Street Journal, Moscow Times dan media cetak dunia lainnya. Akhirnya, Russian Federal Securities and Exchange Commission (FSEC) membatalkan tindakan sepihak Sidanco. Awal kekacauan bisnis investasi paska Uni Soviet sedang dimulai.

Hermitage Fund menduduki peringkat the best-performing fund in the world in 1997, nilainya naik 235% di tahun 1997 dan 718% sejak awal investasi. Assetnya sendiri meningkat dari $25 Juta menjadi lebih dari $1 Milyar. 

Kondisi ekonomi Russia yang buruk sudah berlangsung beberapa tahun. Untuk bertahan, pemerintah melakukan gali lubang – tutup lubang dengan mengeluarkan Surat Hutang berjangka 3 bulan senilai $40 milyar. Setiap 3 bulan, pemerintah menjual Surat Hutang tersebut untuk menutup hutang $40 milyar tsb. Namun, bunga hutang 30% terus menumpuk. 

Kenaikan suku bunga obligasi dari 30% menjadi 40% untuk menarik investor, justru menyebabkan ketidakpercayaan publik. Pasar saham Russia merosot 33% di bulan Mei 1998, atau total 50% dari awal tahun. Juli 1998, suku bunga obligasi pemerintah mencapai 120%. Di bulan Juli itu juga, akhirnya IMF dan Bank Dunia memberi paket pinjaman $22.6 milyar. Tahap pertama sudah digelontorkan $4.8 milyar. Kondisi yang cukup memperbaiki pasar saham. Nilai investasi Hermitage kembali rebound 22%. Lumayan.

Paket bail-out ternyata disalah-gunakan oleh para oligark. Dollar senilai $6.5 milyar digunakan untuk menukar uang rubbel mereka. Kondisi ekonomi tidak berubah. Agustus 1998, nilai mata uang Rouble merosot tajam, 75% turun. Hermitage kehilangan $900 juta, atau turun 90% di pasar saham. Demikian juga obligasi juga merosot habis. Investor Hermitage, Edmond Safra, terpaksa menjual bank miliknya Republic National Bank ke HSBC, karena kalah diperdagangan obligasi pemerintah Russia.

Kehilangan

Januari 2020, Browder masih bertahan di Moscow, dengan alasan: I was going to make my clients’ money back no matter what it took. Investor dalam posisi bagus, khususnya di bidang oil and gas Russia. Perusahaan-perusahaan tersebut menjual minyak dan gas dalam dollar AS namun membayar biaya dalam Rouble. Penjualan tidak turun, tapi biaya turun 75% karena kurs Rouble yang nilainya merosot. Keuntungan dari perusahaan-perusahaan tersebut di dalam Hermitage diduga meningkat 100% – 700%, karena devaluasi. 

Hermitage telah kehilangan 90% nilai investasinya. Browder perlu mengamankan sisanya, yang menurutnya juga menjadi target pencurian selanjutnya. Fenomena bisnis aneh begini sering terjadi di Russia saat itu. Asset negara banyak dijual murah oleh pengurusnya. Mengapa? 

Gazprom, perusahaan minyak dan gas Russia bernilai $12 milyar (nilai oil company kelas menengah di AS) dengan cadangan 8x lebih besar daripada Exxon Mobil atau 12 x lebih besar daripada British Petroleum, dijual dengan diskon 99.7% pada tahun 2000. Kok bisa..?? Pada umumnya investor menduga bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah dicuri oleh pengurusnya sendiri.

Kompetitor Gazprom mengkonfirmasi adanya pencurian oleh manajemennya sendiri. Tarko Saley, salah satu blok gas Gazprom bercadangan 400 milyar kubik meter, setara dengan 2.7 milyar barrel minyak, senilai $9 milyar telah dikeluarkan dari kepemilikan Gazprom dan dijual oleh manajemen. Ternyata, manajemen Gazprom telah menjual tujuh blok gas utama antara tahun 1996 dan 1999 dengan harga yang sangat murah. Asset Gazprom telah dijadikan bancakan oleh manajemen dan keluarganya. Namun, banyak yang tidak mengetahui bahwa 90% cadangan gas masih dimilikinya. Tidak Dicuri. Aksi korporasi Gazprom tersebut dinyatakan wajar oleh PriceWaterHouse, sebagai auditornya. 

“This accounting firm was making millions of dollars a year off Gazprom as their auditor, so any indictment of Gazprom would have been an indictment of themselves. Sure enough, they also exonerated Gazprom’s actions”.

Fenomena Gazprom ini banyak terjadi di era runtuhnya Uni Soviet dan menambah dalamnya jurang antara kaya-miskin. Di tahun 2000, orang terkaya di Russia menjadi 250.000 kali lebih kaya dari si miskin. 

Browder menyebarkan informasi tentang skandal Gazprom ke berbagai pihak, dan media masa menggelorakannya. Hal ini berujung pada Presiden Putin yang dalam Rapat Tahunan Gazprom 30 Juni 2001, mengganti CEOnya. Esok harinya, saham Gazprom naik 134%. Tahun 2005, investasi Hermitage telah melambung ratusan kalinya sejak awal investasi.

Musuh bersama

Vladimir Putin

Ketika Vladimir Putin menjabat sebagai Presiden Federal Russia, Januari 2000, kekuasaan sedang berada di tangan para oligar, kelompok kriminal, dan para Gubernur. Untuk itu, Presiden perlu mulai berstrategi untuk mengambil alih kekuasaan. Browder yang saat itu gencar membongkar skandal korupsi korporasi, berada di “jalan yang sama” dengan Putin. Your enemy’s enemy is your friend. Gazprom, EUS (perusahaan listrik negara), Sberbank (bank simpanan nasional) menjadi isu korupsi nasional yang diviralkan oleh Browder dan ditindaklanjuti oleh Putin dengan mengamankan asetnya. 

Akhir tahun 2003, nilai investasi Hermitage telah naik lebih dari 1.200% sejak titik terendah, dan sudah menutup kerugian sejak 1998.

Oktober 2003, CEO Yukos, perusahaan minyak besar, Mikhail Khodorkovsky, ditahan pemerintah. Pemerintah Putin mengambil alih 36% kepemilikan Yukos. Preseden buruk dalam dunia pasar finansial. Menjadi isu global. Saham Yukos turun 27.7% dan pasar saham turun 16.5%. Publik berspekulasi bahwa Khodorkovsky telah melewati batas kelayakan politis yang digariskan Putin. ‘Stay out of politics, and you can keep your ill-gotten gains’. Dalam beberapa minggu Putin menangkap para pengurus partai-partai politik yang mendapat kucuran uang darinya. 

Juni 2004, Khodorkovsky dan partner bisnisnya, Platon Lebedev, dihukum 9 tahun penjara dengan tuduhan penipuan, pencurian dan pengingkaran pajak. Apakah pembersihan musuh bersama ini memang untuk perbaikan Russia?

Berpisah jalan

Setelah kasus Khodorkovsky, para oligark mulai bernegosiasi dengan Putin untuk keamanan dan kelancaran bisnisnya. Dan, tidak ada lagi musuh bersama dengan Bill Browder. ‘ … my interests and Putin’s were no longer aligned. He had made the oligarchs his ‘bitches’, consolidated his power and, by many estimates, become the richest man in the world’. Selanjutnya, Browder bukan lagi teman seperjalanan, tapi justru menjadi target ekonomi Putin.

Bandara Sheremetyevo-2

Sekembalinya ke Moscow dari London, 13 November 2005, Browder diberhentikan di VIP Lounge bandara Sheremetyevo-2. Diabaikan selama 15 jam dan akhirnya diterbangkan kembali ke London. Deportasi. Isu mendunia. Informasi yang diperoleh Kedutaan Besar Inggris di Moscow, 

‘the decision to close entry to the Russian Federation to a subject of Great Britain William Browder has been made by competent authorities in accordance with Section One, Article Twenty-seven, of the federal law.’

‘… Article Twenty-seven allows the Russian government to ban people whom they deem a threat to national security.’

Vadim, pimpinan penelitian di Hermitage, 27 tahun PhD dari universitas kenamaan di Moscow, terpaksa harus melarikan-diri dari Moscow ke London, karena bisa menjadi target penangkapan. 

Awal tahun 2006, sepuluh orang terkait dengan kasus Yukos telah dipenjara di Russia, belasan lainnya kabur dari Russia dan asset puluhan miliar dollar telah dibekukan oleh otoritas Russia. Browder berusaha mempertahankan Hermitage untuk tidak mengalami hal serupa. Dalam satu bulan, Browder sudah mengevakuasi tim dan keluarganya ke London. Namun masih susah untuk memindahkan assetnya. Bila broker dan spekulan mengetahui Hermitage akan menjual saham Gazprom, maka mereka akan menjualnya lebih dulu. Front-running. Dan harga bisa merosot tajam. Dengan cara mencicil penjualan saham hingga beberapa kali, akhirnya semua asset bernilai miliaran dollar tersebut bisa habis terjual habis dan memindahkan seluruh uangnya keluar dari Russia. Tanpa hambatan.

Deportasi menyebabkan kekhawatiran investor terhadap assetnya di Russia. Bulan Mei 2006, Hermitage kehilangan lebih dari 20% asset karenanya. Belum pernah terjadi sebelumnya. 

Dalam kesempatan press conference Pertemuan G8 di St. Petersburg 15 Juli 2006, wartawan Inggris dari Moscow Times, Catherine Belton, bertanya kepada Presiden Putin: 

‘Bill Browder was recently denied a Russian entry visa. Many investors and Western diplomats are concerned about this and don’t understand why this happened. Can you explain why he was denied an entry visa without any explanation?’

Putin menjawabnya:

Putin frowned and replied tartly, ‘Well, to be honest I don’t know for what reasons any particular individual may be denied entry into the Russian Federation. I imagine that man may have violated our country’s laws.’

Bisa diduga akibat selanjutnya. Agustus 2006, 215 klien Hermitage menarik dananya hingga total asset turun 30%. Browder cepat bertindak untuk menyelamatkan bisnisnya. Hermitage Global dibentuk tahun 2006 untuk investasi di Timur Jauh, Amerika Latin dan Turki. Prospek baru, setelah Russia tidak lagi aman untuk investasi.

Semena-mena

Letkol. Artem Kuznetsov

Letkol. Artem Kuznetsov dari Kementerian Dalam Negeri, yang seharusnya menangani kasus kriminal, bukan urusan visa, mengambil alih kasus keimigrasian Browder dan mengundangnya melalui surat yang diterima pada 19 Februari 2007, untuk bertemu di Moscow. Browder menolak. Kuznetsov selanjutnya menjadi tokoh sentral dalam representasi tindak kesewenangan pemerintah Rusia dalam kasus ini.

Juni 2007, 25 polisi bersama Artem Kuznetsov, menggeledah kantor Hermitage di Moscow. Mengambil semua dokumen. Sejumlah polisi yang sama juga menggeledah dan mengambil dokumen, komputer dan perlengkapan resmi perusahaan dari kantor Kameya, perusahaan Rusia yang menjadi klien Hermitage di Moscow, dengan menggunakan Surat Penggeledahan yang tidak valid. Maxim, pengacara muda di perusahaan Kameya dianiaya polisi karena mencoba mempertahankan kantor dari penggeledahan yang menurutnya dilakukan secara tidak legal. Dilarikan ke rumahsakit

Major Pavel Karpov

Menurut Browder, tidak ada file yang relevan atau rahasia, dan aset yang diambil oleh polisi. Segala sesuatu yang penting telah dipindahkan dengan aman dari Russia satu tahun sebelumnya. Namun demikian, Major. Pavel Karpov (30 thn) sebagai pimpinan penyidikan kepolisian tetap tidak bersedia menunjukkan file kasus yang dituduhkan, yang secara hukum Rusia seharusnya pengacara tersangka berhak melihatnya. Aneh.

Selanjutnya Letkol. Artem Kuznetsov dan Major. Pavel Karpov, diduga menjadi tokoh sentral dalam kisah tragis pencurian perusahaan ini. 

Pencurian perusahaan

Browder mengangkat Sergei Magnitsky (35 thn), ahli hukum pajak, sebagai pengacara Ivan Cherkasov, petugas pajak Kameya. Ivan dituduh melakukan tindak kriminal karena kurang membayar pajak dividen perusahaan sebesar $44 juta. Setelah mempelajari semua bukti dan dokumen pajak, Sergei berkesimpulan bahwa tidak ada kesalahan sedikitpun yang telah dilakukan oleh Ivan. Bahkan, pada 13 September 2007, Sergei mendapat informasi dari kantor pajak Moscow bahwa Kameya bahkan telah melakukan kelebihan pembayaran pajak sebesar $140.000.

Kuznetsov dan timnya juga memeriksa bank Credit Suisse, HSBC, Citibank dan ING untuk mencari jejak investasi Hermitage. Tidak ditemukan apapun.

Pada 15 Oktober 2007, kantor Hermitage London menerima informasi bahwa Pengadilan di Petersburg menyarakan ada kasus hukum di anak perusahaan Hermitage di Russia, Mahaon. Pengadilan ingin mengetahui status asset perusahaan. Semua kepemilikan saham di Rusia sudah dijual. Menurut pengadilan, perusahaan tsb masih punya kewajiban membayar hutang sebesar $71 juta. Membingungkan. 

Menurut Ivan, perusahaan Mahaon telah dicuri. Mahaon telah berganti nama menjadi Pluton, dengan semua kelengkapan legalitas perusahaan dikuasainya. Pemilik barunya adalah Viktor Markelov. Modus yang mulai lazim terjadi paska Uni Soviet. Dalam kasus Hermitage, ini terjadi ketika semua dokumen perusahaan digeledah dan dirampas oleh aparat pemerintah, sehingga dokumen fisik legalitas perusahaan tidak lagi dikuasai pemiliknya. Kejahatan terjadi dalam 2 modus, yaitu, ketika kepemilikan perusahaan dialih-namakan, dipindahkan lokasinya ke kota yang pengadilan dwn otoritas pajaknya lebih ramah terhadap para kriminal tersebut. Kemudian:

  1. Membuat Surat Pengakuan Utang (back dated) terhadap perusahaan cangkang kosong, yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Pengadilan berharap bisa merampas asset Hermitage untuk dibayarkan ke perusahaan cangkang tersebut, yang dimiliki para pencuri.
  2. Bekerjasama dengan otoritas pajak setempat, supaya bisa mengembalikan pembayaran pajak (tax return) ke perusahaan yang dicuri tersebut

Tindak kejahatan finansial ini melibatkan oknum kepolisian untuk membuat tuduhan kriminal palsu, oknum pengadilan untuk membuat Surat Penyitaan dan organisasi kriminal yang harus meminggirkan para penghambatnya. Tindakan terorganisasi yang dikenal dengan sebutan Russian raider attack.

Berbagai hal dilakukan Hermitage melalui pengacaranya untuk mempertahankan posisi legalnya di Rusia namun selalu menemui jalan buntu. Kekuasaan mengalahkannya. Komplain Hermitage tentang pencurian perusahaan dan pengambilan paksa dokumen oleh aparat pemerintah yang dipimpin oleh Letkol. Artem Kuznetsov, telah dilakukannya. Dan Pavel Karpov tetap menyimpan berkas kasusnya. Demikian juga dengan kasus Ivan, pengacara Hermitage yang dianggap bersalah karena tuduhan palsu penggelapan pajak. Tetap tidak ditunjukkan berkas kasusnya.

Total asset yang dikenai pajak dari 3 anak perusahaan Hermitage, menurut pengadilan St Petersburg terhadap kewajiban kena pajak Mahaon adalah sebesar $71 juta. Persis sesuai dengan keuntungan Mahaon di tahun 2006, $71 juta.  Penilaian terhadap Parfenion di Kazan adalah sebesar $ 581 juta, juga persis sama dengan keuntungan tahun 2006.  Demikian juga dengan perusahaan curian ketiga di Moskow, Rilend. Total, para konspirator telah membuat penilaian kena pajak sebesar $973 juta, yang persis sama dengan keuntungan riil perusahaan-perusahaan tersebut. Total tax-refund yang masuk ke dalam rekening tiga perusahaan curian tersebut, sebesar $230 Juta. Persis sama dengan total pajak yang telah dibayarkan oleh perusahaan aslinya. Pencurian uang pajak masyarakat Russia.

Dengan harapan masih ada pihak berwenang yang berkepentingan dengan bangsanya, Juli 2008, Browder mengajukan laporan ke berbagai otoritas hukum tentang penyelewengan tax-refund yang didukung aparat pemerintah. Selain itu, Browder juga menyebar-luaskan berita ke berbagai media Rusia dan internasional, tentang penggerebekan, pencurian perusahaan, keputusan pengadilan yang salah, keterlibatan mantan narapidana untuk menguasai perusahaan, keterlibatan polisi dan, yang paling penting, pencurian $230 juta uang pembayar pajak.

Perburuan

Tiga pengacara Hermitage masih berada di Moscow, Eduard, Vladimir dan Sergei Magnitsky. Surat panggilan dari Kementerian Dalam Negeri di Kazan sudah dilayangkan kepada Eduard dan Vladimir. Hermitage London minta keduanya supaya segera keluar dari Rusia, karena reputasi kepolisian Kazan yang terkenal kejam. Keduanya lolos setelah melalui perjuangan berat dalam proses pelariannya. Berkumpul di London. 

Seperti halnya Eduard dan Vladimir yang sebelumnya selalu merasa aman karena legally tidak bersalah, demikian juga dengan Sergei Magnitsky yang bersikukuh untuk tetap berada di Rusia, meskipun kantor London memaksanya untuk segera kabur. Idealismenya yang tinggi terhadap kepentingan bangsanya, membuat Sergei marah, bahkan mengajukan laporan beserta bukti-bukti ke Russian State Investigative Committee terkait pencurian uang pajak dan penipuan terstruktur aparat pemerintah yang melibatkan Kuznetsov dan Karpov.

Pagi 24 November 2008, Sergei dijemput oleh 3 orang bawahan Lieut Col. Artem Kuznetsov di apartemennya. Pamit pada istri dan kedua anaknya dengan janji pulang secepatnya. Tak terpenuhi janjinya. 

FSB (KGB di era Uni Soviet) bertanggungjawab terhadap penahanan Sergei. Tuduhan pengingkaran pajak. Namun maksud sesungguhnya adalah supaya Sergei menarik kesaksiannya terkait keterlibatan Kuznetsov dan Karpov. Sergei kukuh dengan sikapnya, dan tetap menyatakan kebenaran kesaksiannya, ‘I will expose those officers who have committed the crimes.’ Selanjutnya, cerita kelam yang terjadi pada Sergei di penjara, dengan penyiksaan dan larangan pelayanan kesehatan. Brutal.

Dukungan di Eropa dan AS

Pembelaan terhadap Sergei tidak mungkin lagi dilakukan dari dalam Rusia karena kekuasaan yang begitu otoriter. Penggalangan dukungan mulai dilakukan di Eropa dan AS. Lembaga-lembaga internasional dibidang Hukum dan Hak Asasi, menjadi target dukungan. Misalnya, Konsul Eropa yang menangani Hak Asasi internasional, International Bar Association dan UK Law Society. Masing-masing organisasi tersebut mengirim surat ke Presiden Medvedev dan Jaksa Agung Yuri Chaika, supaya membebaskan Sergei Magnitsky. Gagal.

Di Washington, Browder perentasi di depan US Helsinki Commission, badan independen yang memonitor isu Hak Asasi di negara-negara bekas Uni Soviet. Dan penyebaran artikel tentang kasus Sergei terus dilakukan melalui media cetak papan atas di AS. Media sosial Youtube pun mulai Browder gunakan untuk memviralkan kasus tersebut. 

Musim panas 2009, di tahanan Matrosskaya Tishina, Sergei didiagnosa menderita penyakit pancreatitis, gallstones dan cholecystitis. Alih-alih dilakukan operasi seperti  disarankan dokter, justru dipindah ke tahanan yang lebih buruk, Butyrka. 

“I’m in unbearable pain. I’ve asked over and over, but no doctor has examined me since I arrived last month”, keluh Sergei.

Sergei dan pengacaranya sudah mengirim surat resmi hingga 9 kali ke berbagai otoritas hukum Russia untuk mendapatkan tindakan medis berkaitan dengan penyakitnya yang samakin parah. Tak satupun mengijinkannya.

Di sini seorang pria yang tidak bersalah, Sergei Magnitsky dicabut komunikasinya dengan keluarganya, ditipu oleh hukum, ditolak oleh birokrasi, disiksa di dalam tembok penjara, menderita sakit parah.  Bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan ini, ketika dia memiliki alasan terbaik untuk memberikan apa yang diinginkan para penyiksanya, dia tetap tidak melakukannya.  Meskipun kehilangan kebebasannya, kesehatannya, kewarasannya, dan bahkan mungkin hidupnya, dia tetap tidak  berkompromi untuk menggadaikan idealismenya. Tidak menyerah.

Dalam buku hariannya yang ditulisnya di penjara, Sergei menulis, “Keeping me in detention, has nothing to do with the lawful purpose of detention. It is a punishment, imposed merely for the fact that I defended the interests of my client and the interests of the Russian state”.

Senin, 16 November 2009, Sergei Magnitsky (37 tahun) yang telah dipenjara selama 358 hari berakhir tewas karena siksaan di penjara Matrosskaya Tishina. Dia dibunuh karena idealismenya.  Dia dibunuh karena percaya pada hukum.  Dia dibunuh karena mencintai rakyatnya, dan dia dibunuh karena mencintai Rusia. 

Pada 28 Desember 2009, Moscow Public Oversight Commission (MPOC), organisasi non-pemerintah yang mandatnya adalah untuk menyelidiki kebrutalan dan kematian yang mencurigakan di penjara-penjara Moskow, mengeluarkan pernyataan bahwa Sergei ‘secara sistematis telah ditolak perawatan medisnya’;  bahwa dia mengalami siksaan fisik dan psikologis’;  bahwa ‘hak hidupnya telah dilanggar oleh negara’;  bahwa ‘penyelidik, jaksa dan hakim turut berperan dalam kondisinya yang menyiksa’;  dan akhirnya, bahwa ‘setelah kematiannya, pejabat negara telah berbohong dan menyembunyikan kebenaran tentang penyiksaan dan keadaan kematiannya’.

Proclamation 7750

Kampanye untuk mendapat keadilan terhadap tindak kriminal penipuan, pencurian, korupsi, pelanggaran HAM, bahkan pembunuhan, yang dilakukan oleh aparat pemerintah Rusia, terus dilakukan Browder melalui berbagai media, lembaga resmi maupun independen di Eropa dan AS. Pemerintah Inggris tempat Hermitage berada, sayangnya justru tidak bersedia melibatkan diri.

Pemerintahan Bush pada tahun 2004 membuat peraturan yang disebut  Proclamation 7750, yang mengijinkan pemerintah AS untuk tidak memberikan Visa bagi para koruptor Rusia. Browder berjuang ke berbagai lembaga pemerintah AS, untuk meminta supaya Proclamation 7750 bisa diimplementasikan sebagai ganjaran terhadap tindak korupsi para aparat pemerintah Rusia yang telah melakukan pengambilan uang pajak masyarakat Rusia sebesar $230 juta,  dan pembunuhan terhadap whistleblower. Selanjutnya upaya implementasi Proclamation 7750 dikenal sebagai Magnitsky Act.

Melalui bantuan Senator Cardin, melayanglah surat ditujukan ke Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, yang dalam kesimpulannya tertulis:

I urge you to immediately cancel and permanently withdraw the US visa privileges of all those involved in this crime, along with their dependents and family members. Doing so will provide some measure of justice for the late Mr Magnitsky and his surviving family and will send an important message to corrupt officials in Russia and elsewhere that the US is serious about combating foreign corruption and the harm it does.

Terlampir di dalamnya adalah 60 nama dan profil aparat pemerintah Rusia yang terlibat dalam penyelewengan pajak dan pembunuhan Sergei Magnitsky. Tentu nama Kuznetsov dan Karpov juga ada di dalamnya. Senator Cardin berharap bahwa Visa masuk ke AS tidak pernah diberikan kepada 60 orang tersebut secara permanen.

Sebelum ada respon dari Menteri Luar Negeri, Browder mendapat kesempatan audiensi di depan Komisi HAM DPR, dipimpin oleh Jim McGovern. Dalam kesempatan tersebut, Senator Cardin dari Demokrat memberi pendapat bahwa: 

‘Sergei Magnitsky is one individual case, but there are thousands upon thousands of other cases just like his. And the people who do these things will continue doing them unless there is some way of challenging them and showing them there is no impunity.’

‘I think people who commit murder should not have the right to travel here and invest in businesses here. There should be a consequence. So one of the things I would like to do, we will not only send a letter to Hillary Clinton, but I think we should introduce legislation and put those sixty people’s names down there and move it to the committee and make a formal recommendation from Congress, pass it on the floor, saying to the administration, this is a consequence. You have got to do this, because if you don’t, nothing is going to happen. You have my pledge that we will do that.’

Senator McCain dari Republik, dalam pertemuannya dengan Browder, memberikan janjinya:

‘Chris (assistant), please coordinate with Senator Cardin right away to make sure you get me on that Bill.’

‘You’ve been a real friend to Sergei. Not many people would do what you’re doing, and I deeply respect that. I will do everything in my power to help you get justice for Sergei. God bless you.’

Setelah melalui berbagai rintangan, termasuk upaya politik senator John Kerry menggagalkannya, pada 16 November 2012 Magnitsky Act berhasil disetujui DPR AS melalui voting. 365 – 43. Perjuangan telah membuahkan hasil.

Rekomendasi

Buku yang sangat layak dibaca untuk mengetahui kondisi bisnis dan politik di pasca Uni Soviet. Di dalam buku ini akan banyak ditemukan cerita persaingan permainan kekuasaan oligarki dalam mengatur bisnis. Pegawai pemerintah bisa sangat kaya raya, mempunyai banyak asset mahal di luar negeri. Bagaimana mendapatkannya? Kejam dan brutal. Detail cerita ada di dalamnya. Pemimpin Rusia saat ini masih sama dengan era tersebut, Vladimir Putin. Apakah masih sama juga permainannya? Entahlah …

Tautan

Killer Business in Russia

Major Russian Oil Firms Face Investigation of Abuse

Russia Annuls Sidanco Issue, Heartening Minority Investors

The Washington Post: ‘Raiding’ Underlines Russian Legal Dysfunction

Stop the Untouchables. Justice for Sergei Magnitsky.

Browder’s Youtube Channel: RussianUntouchables

Author Bill Browder on his book Red Notice

Hermitage Reveals Russian Police Fraud

Read Full Post »